©Musamus Fisheries and Marine Journal, Vol. 2 No. 1 Oktober 2019, Pages: 24-34 24 Studi Awal Pemeliharaan Oryzias sp. Asal Pulau Tunda, Indonesia, Pada Kondisi
Laboratorium
Preliminary Study Rearing of Oryzias sp. from Tunda Island, Indonesia, Under Laboratory Condition
Muh. Herjayanto1*, Annisa Misykah Mauliddina1,5, Esa Rama Widiyawan1,5, Nugroho Agung Prasetyo1,5, Lukman Anugrah Agung1,2, Magfira3, Abdul Gani4
1
Jurusan Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa 2
Laboratorium Budidaya Perairan, Fakultas Pertanian, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa 3
Program Studi Biologi Reproduksi, Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor 4
Program Studi Akuakultur, Fakultas Perikanan, Universitas Muhamadiyah Luwuk 5
Himpunan Mahasiswa Perikanan (HIMAPI), Universitas Sultan Ageng Tirtayasa *
Korespondensi: [email protected]
ABSTRAK
Oryzias sp. asal Pulau Tunda, Indonesia berpotensi sebagai organisme model di Laboratorium dan juga ikan hias. Informasi dasar terkait pemeliharaan saat adaptasi pascapengangkutan dari habitatnya di alam, inkubasi embrio dan pemeliharaan larva sangat dibutuhkan sebagai dasar untuk kegiatan pengembangbiakannya. Sehingga, tujuan penelitian untuk mengkaji teknik pemeliharaan awal, respons aklimatisasi, performa penetasan telur dan sintasan larva Oryzias sp. asal Pulau Tunda, Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Oryzias sp. asal Pulau Tunda dapat beradaptasi, memijah dan menghasilkan total telur 262 (diameter 0,88-1,02 mm) di lingkungan terkontrol. Telur hasil pemijahan di alam mulai menetas pada hari inkubasi ke 11, puncak penetasan terjadi pada hari ke 13 dengan lama waktu proses penetasan 9 hari (4-9 hari) pada suhu 25-27oC. Tingkat penetasan telur berkisar 57,14-100,00% dan sintasan larva umur 5 hari setelah menetas yaitu 72,73-57,14-100,00%. Teknik pengangkutan pada penelitian ini belum dapat untuk menekan kematian ikan selama pemeliharaan pascapengangkutan. Kata kunci: Embrio; Larva; Oryzias sp.; Pemeliharaan pascapengangkutan
ABSTRACT
Oryzias sp. from Tunda Island, Indonesia has the potential as a model organism in laboratories and also ornamental fish. Basic information regarding maintenance during adaptation post-transportation from its habitat in nature, embryo incubation and maintenance of larvae is needed as a basis for breeding activities. So, the aim of research is examine the initial maintenance techniques, acclimatization response, performance of hatching eggs and survival larvae of Oryzias sp. from Tunda Island, Indonesia. The results showed that Oryzias sp. from Tunda Island can adapt, spawning and produce a total 262 eggs (diameter 0.88-1.02 mm) in a controlled environment. Eggs from spawning in nature begin to hatch on the 11th incubation day, the hatching peak occurs on the 13th day with a hatching process 9 days (4-9 days) at 25-27oC. The hatching rate ranges from 57.14-100% and the survival of 5 days old lavae after hatching is 72.72-100.00%. The transportation technique in this study has not been able to suppress fish mortality during post-transportation rearing.
©Musamus Fisheries and Marine Journal, Vol. 2 No. 1 Oktober 2019, Pages: 24-34 25 PENDAHULUAN
Oryzias memiliki sebaran yang luas, secara alami hidup di perairan tawar dan payau di Asia Tengah, Asia Selatan, Asia Tenggara, serta kepulauan Indo-Melayu-Filipina sampai ke Timor (Parenti, 2008). Saat ini tercatat terdapat 33 spesies Oryzias di dunia. Indonesia memiliki lebih dari setengah spesies Oryzias, yang tersebar di Sumatera, Jawa, Kalimantan dan sebagian besar hidup endemik di Pulau Sulawesi (Parenti, 2008, Mokodongan et al., 2014, Mandagi et al., 2018).
Spesies Oryzias yang telah digunakan sebagai organisme model antara lain medaka O. latipes (Wittbrodt et al., 2002, Shima & Mitani, 2004, Parenti, 2008, Leaf et al., 2011), O. melastigma (Dong et al., 2004) dan O. javanicus (Puspitasari & Suratno, 2007). Ekspedisi yang dilakukan di Pulau Tunda pada Maret 2019 berhasil menemukan Oryzias sp. di perairan rawa mangrove. Seperti spesies Oryzias lainnya, ikan ini memiliki potensi dikembangkan sebagai organisme model di Laboratorium dan juga sebagai ikan hias karena memiliki corak warna biru pada mata dan warna merah-orange pada pinggir dan ujung sirip ekor.
Pengembangbiakan ikan liar memerlukan aklimatisasi sehingga dapat beradaptasi di lingkungan terkontrol (Jayadi et al., 2016). Pemeliharaan pascapengangkutan merupakan tahap awal proses adaptasi yang masih dipengaruhi oleh stres akibat penanganan dan pengangkutan (Tjakrawidjaja & Subagja 2009, Nirmala et al., 2012, Hadiroseyani et al., 2016). Kematian yang terjadi pada fase tersebut dikenal dengan delayed mortality syndrome (Hadiroseyani et al. 2016). Sebagai biota uji, informasi dasar terkait inkubasi embrio dan pemeliharaan larva sangat penting sebagai dasar untuk pengembangbiakan di wadah terkontrol yang kontinu (Puspitasari & Suratno, 2017). Penelitian bertujuan untuk mengkaji teknik pemeliharaan awal, respons aklimatisasi, performa penetasan telur dan larva Oryzias sp. asal Pulau Tunda, Indonesia. Penelitian bertujuan untuk mengkaji teknik pemeliharaan awal, respons aklimatisasi, performa penetasan telur dan sintasan larva Oryzias sp. asal Pulau Tunda, Indonesia. Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi informasi dasar kegiatan domestikasi ikan liar khususnya Oryzias.
©Musamus Fisheries and Marine Journal, Vol. 2 No. 1 Oktober 2019, Pages: 24-34 26 METODE PENELITIAN
Pengangkutan dan uji pemeliharaan pascapengangkutan
Oryzias sp. diperoleh dari perairan rawa mangrove, Pulau Tunda, Kabupaten Serang, Provinsi Banten, Indonesia (5°48’54.35”S 106°16’34.44”E). Metode penangkapan ikan berdasarkan Herjayanto et al. (2018), menggunakan jaring (seine net). Setelah ditangkap, ikan diberok selama 23 jam di dalam wadah yang dilengkapi aerator portable. Ukuran panjang total ikan yaitu 3,0-3,4 cm.
Pengangkutan ikan menggunakan jeriken yang diisi air sebanyak 2,5 L yang kemudian diisi ikan sebanyak 29 ekor. Jeriken dilengkapi aerator portable untuk menyuplai oksigen terlarut selama 11 jam pengangkutan. Sebelum dan setelah pengangkutan dilakukan pengukuran suhu, pH dan oksigen terlarut (OT). Pengamatan sintasan dilakukan pada akhir pengangkutan.
Uji pemeliharaan dilakukan di Laboratorium Budidaya Perairan, Jurusan Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Pemeliharaan menggunakan tiga buah akuarium berukuran 30 cm × 30 cm × 30 cm yang diisi air tawar 9,5 cm dan diberi aerasi pelan. Ikan dimasukkan sebanyak 4 ekor per akuarium. Pakan alami yang digunakan yaitu cacing sutra hidup dan kutu air beku. Pakan buatan yang digunakan yaitu pakan komersil yang mengandung protein 48,0%, serat 3,0%, lemak 8,0%, kadar air 5,0%. Pakan diberikan dua kali sehari (pagi dan sore). Selama 16 hari pemeliharaan dilakukan penyifonan untuk membersihkan feses dan sisa pakan. Pengukuran suhu, pH dan OT dilakukan sebelum menebar ikan dan setelah akhir pemeliharaan. Sintasan dan tingkah laku ikan diamati setiap hari. Tingkah laku yang diamati secara kualitatif yaitu pola renang (aktif atau pasif) (Wahyu et al. 2015), tingkah laku berkelompok (schooling) dan respons terhadap pakan yang diberikan. Penilaian schooling dan respons terhadap pakan (alami dan buatan) Oryzias sp. berdasarkan tiga kriteria, yaitu ada banyak (++), ada sedikit (+) dan tidak ada (-).
Inkubasi embrio dan pemeliharaan larva
Embrio diperoleh dari lima ekor Oryzias sp. betina yang sedang membawa telur saat koleksi di lapangan. Telur membentuk kelompok seperti buah anggur yang
©Musamus Fisheries and Marine Journal, Vol. 2 No. 1 Oktober 2019, Pages: 24-34 27
terhubung oleh filamen (attaching filaments) ke urogenital betina (Gambar 1.A). Embrio kemudian dipisahkan dari induk (Gambar 1.B) dan diinkubasi pada lima buah wadah berukuran 19,5 cm × 13,5 cm × 8,5 cm yang diisi air tawar 2 cm. Wadah inkubasi tidak diberi aerasi. Embrio diamati sampai menetas dan kemudian dilanjutkan dengan pemeliharaan larva. Stadia embrio diamati menggunakan mikroskop dengan perbesaran 40 kali. Diameter telur dan panjang larva diukur menggunakan aplikasi ImageJ. Sintasan larva diamati pada saat larva berumur 5 hari setelah menetas.
Gambar 1. Oryzias sp. asal Pulau Tunda. A. betina dengan telur pada sirip perut (tanda panah) dan B. kelompok telur yang diinkubasi (Foto oleh M. Herjayanto)
Analisis Data
Data sintasan dan kualitas air yang diperoleh saat pengangkutan dan pemeliharaan pascapengangkutan serta tingkah laku selama adapatasi dianalisis secara deskriptif. Data kurva penetasan, tingkat penetasan telur dan sintasan larva umur 5 hari setelah menetas (hsm) dianalisis secara deskriptif. Data tersebut disajikan dalam bentuk tabel dan gambar.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Sintasan Selama Pengangkutan dan Pascapengangkutan
Pengangkutan sistem terbuka yang digunakan pada penelitian ini menghasilkan sintasan Oryzias sp. yang tinggi (Tabel 1). Kualitas air selama pengangkutan yaitu suhu 25oC, pH 8,25 dan OT 6,6 mg L-1.
Keberhasilan pengangkutan ikan liar dilihat pada kemampuan adaptasi saat awal pemeliharaan. Telah dilaporkan bahwa stres akibat pengangkutan berdampak sampai
©Musamus Fisheries and Marine Journal, Vol. 2 No. 1 Oktober 2019, Pages: 24-34 28
sekitar dua minggu pada awal pemeliharaan (Nirmala et al. 2012). Kematian akan terjadi pada ikan yang tidak mampu pulih dari pengaruh stres akibat pengangkutan (Wahyu et al., 2015, Hadiroseyani et al., 2016).
Tabel 1. Sintasan dan tingkah laku Oryzias sp. selama pengangkutan dan pemeliharaan pascapengangkutan Tahap Hari ke- Rata-rata Sintasan (%)
Deskripsi tingkah laku Pola renang schoolin g Respons pakan alami Respons pakan buatan Pengangkutan 0 97 pasif − − − Pemeliharaan Pasca-pengangkutan 1 100 pasif ++ − − 2 100 pasif ++ − − 3* 100 pasif ++ + − 4 100 pasif ++ + − 5 100 aktif ++ + − 6 100 aktif ++ + − 7 100 aktif ++ ++ − 8 100 aktif ++ ++ − 9 100 aktif + ++ + 10 100 aktif + ++ + 11* 92 aktif + ++ + 12 92 aktif ++ ++ + 13 58 aktif + ++ + 14 33 pasif + + + 15 25 pasif + + + 16 25 pasif + + +
Keterangan: *waktu penyifonan, −: tidak ada, +: ada sedikit, ++: ada banyak
Pada penelitian ini, kematian Oryzias sp. mulai terjadi pada hari pemeliharaan ke 11, sehingga pada akhir pemeliharaan pascapengangkutan diperoleh rata-rata sintasan 25% (Tabel 1). Hadiroseyani et al., (2016) menyebut fenomena ini sebagai delayed mortality syndrome. Pada belut, Monopterus albus kematian terkonsentrasi tinggi di dua minggu awal pemeliharaan pascapengangkutan dengan sistem terbuka.
Oryzias sp. telah dapat memijah selama pemeliharaan pascapengangkutan. Kualitas air selama pemeliharaan yaitu suhu 25-27oC, pH 8,73-8,89 dan DO 5,6-5,7 mg L-1. Pada akhir pemeliharaan diperoleh total telur sebanyak 262 butir. Telur ditemukan berkelompok (seperti buah anggur) yang disatukan dengan filamen panjang (attaching filaments), beberapa telur juga ditemukan terpisah di dasar akuarium dan menempel di
©Musamus Fisheries and Marine Journal, Vol. 2 No. 1 Oktober 2019, Pages: 24-34 29
batu aerasi. Telur memiliki diameter 0,88-1,02 mm. Spesies ikan padi O. latipes memiliki diameter telur 1,25 mm (horizontal) dan 1,17 mm (vertikal) (Iwamatsu, 2004). Pada spesies ikan padi Sulawesi yang hidup di danau memiliki diameter telur 1,3 mm untuk O. soerotoi (Mokodongan et al., 2014), O. nigrimas yaitu 1,50 mm dan Adrianichtys oophorus 2,0-02,10 (Kottelat, 1990). Pada spesies ikan padi yang hidup di sungai O. eversi diameter telur yaitu 1,4 mm (Herder et al., 2012) dan O. dopingdopingensis yaitu 1,5 mm (Mandagi et al., 2018).
Gambar 2 Telur Oryzias sp. asal Pulau Tunda: A. telur yang baru dipijahkan, dan B. telur mati. fi: fili, j: jamur
Seluruh permukaan korion terdapat fili (non-attaching filaments) (Gambar 2.A). Telur yang hidup terlihat bening, sedangkan yang mati berwarna putih susu yang kemudian ditumbuhi jamur (Gambar 2.B). Ciri ini juga dilaporkan pada spesies O. javanicus memiliki fili halus dan filamen (Puspitasari & Suratno, 2017). Pada O. latipes rata-rata jumlah fili yaitu 200,3±4,7 telur-1 yang terdistribusi di seluruh permukaan telur. Kemudian rata-rata filamen panjang 29,6±1,3 telur-1 yang menempel pada permukaan telur di kutub vegetal (Iwamatsu, 2004).
Penetasan Telur
Sebelum menetas menjadi larva, telur Oryzias sp. mengalami beberapa tahap perkembangan embrio (Gambar 3.A-D). Fase perkembangan embrio, yaitu pembelahan sel (cleavage), kemudian morula, blastula, gastrula dan organogenesis (Herjayanto et al. 2017).
A B
fi
fi
©Musamus Fisheries and Marine Journal, Vol. 2 No. 1 Oktober 2019, Pages: 24-34 30
Gambar 3 Embriogenesis Oryzias sp. asal Pulau Tunda: A organogenesis awal, B: organogenesis akhir (bintik mata), C: embrio menetas, dan D: Larva. e: ekor, f: filamen, fi: fili, m: mata, mu: mulut, o: oil droplet, tb: tulang belakang, y: yolksac
Gambar 4 Kurva rata-rata penetasan embrio Oryzias sp. asal Pulau Tunda pada suhu inkubasi 25-27oC
Telur Oryzias sp. mulai menetas pada hari inkubasi ke 11. Puncak penetasan terjadi pada hari ke 13. Setelah hari ke 19 tidak ditemukan telur yang menetas, sehingga rata-rata lama proses penetasan yaitu 9 hari (4-9 hari) (Gambar 4). Lama waktu yang dibutuhkan untuk menetas dipengaruhi oleh spesies dan kondisi lingkungan terutama
0,00; 1,33; 20,24; 33,26; 12,97; 9,29; 6,64; 6,30; 5,15; 4,82; 0.00 0 10 20 30 40 50 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Pen et as an ( % )
Hari inkubasi ke- o y A B C D fi fi f m m o o y e e m y tb mu
©Musamus Fisheries and Marine Journal, Vol. 2 No. 1 Oktober 2019, Pages: 24-34 31
suhu. Spesies O. javanicus membutuhkan waktu 11 hari untuk menetas (suhu 25-26oC) (Puspitasari & Suratno 2017), O. nigrimas 12 hari (25oC) (Kottelat, 1990), O. dopingdopingensis 11-13 hari (26oC) (Mandagi et al., 2018), O. soerotoi 14 hari (25oC) (Mokodongan et al., 2014), O. eversi 18-19 hari (24-25oC) (Herder et al., 2012), O. sarasinorum 18-19 hari (25oC) (Iwamatsu et al., 2007).
Tingkat penetasan telur Oryzias sp. pada penelitian ini berkisar 57,14-100,00% (Tabel 2). Larva yang menetas diawali oleh gerakan embrio yang semakin aktif dan kemudian ekor akan merobek korion telur. Panjang total (PT) larva yang baru menetas yaitu 4 mm (Gambar 3.C). Panjang total larva pada spesies yang lain, misalnya O. latipes 3,8-4,2 mm (Iwamatsu 2004), O. javanicus 4,10 mm, O. dancena 5,00 mm, O. mekongensis 4,95 mm, O. minutillus 5,28 mm (Termvidchakorn & Magtoon 2008). Setelah menetas gelembung renang kemudian mengembang (Iwamatsu 2004). Gelembung renang berfungsi sebagai organ yang membantu pergerakan larva terutama berenang mencari makan (Herjayanto et al., 2017). Pada penelitian ini sintasan larva Oryzias sp. umur 5 hari setelah menetas yaitu 72,73-100,00% (Tabel 2).
Tabel 2 Tingkat penetasan telur dan sintasan larva Oryzias sp. umur 5 hari setelah menetas
Nomor wadah Jumlah telur (butir) Tingkat penetasan telur (%) Sintasan larva (%) 1 15 100,00 93,33 2 13 84,62 72,73 3 11 100,00 81,82 4 14 57,14 100,00 5 12 100,00 83,33 Rata-rata 13 88,35 86,24 KESIMPULAN
Oryzias sp. asal Pulau Tunda dapat beradaptasi, memijah dan menghasilkan total telur 262 (diameter 0,88-1,02 mm) di lingkungan terkontrol. Telur hasil pemijahan di alam mulai menetas pada hari inkubasi ke 11, puncak penetasan terjadi pada hari ke 13 dengan lama waktu proses penetasan 4-9 hari pada suhu 25-27oC. Tingkat penetasan telur berkisar 57,14-100,00% dan sintasan larva umur 5 hari setelah menetas yaitu 72,73-100,00%
©Musamus Fisheries and Marine Journal, Vol. 2 No. 1 Oktober 2019, Pages: 24-34 32 UCAPAN TERIMA KASIH
Ucapan terima kasih disampaikan kepada Pak Forcep Rio Indaryanto, S.Pi., M.Si selaku Kepala Laboratorium Budidaya, Jurusan Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA). Pak Mas Bayu Syamsunarno, S.Pi., M.Si atas saran dan masukan. Keluarga Pak Sunta dan masyarakat pantai barat Pulau Tunda atas bantuannya selama ekspedisi. Novita Rahmayanti, Novitasari Irianingrum, Vianka Nafisa Salsabila, Etin Nurkhotimah, rekan-rekan tim ekspedisi ke-1 dan ke-2 HIMAPI, UNTIRTA serta tim Ekspedisi Riset Akuatika (ERA) Indonesia atas kerjasama yang baik.
DAFTAR PUSTAKA
Dong, S., Kang, M., Wu, X., Ye, T. 2004. Development a promising fish model (Oryzias melastigma) for assessing multiple response to stresses in the marine environment. BioMed Research International, 2014: 1-17.
Hadiroseyani,Y., Sukenda., Surawidjaja, E.H,, Utomo, N.B.P., Affandi, R. 2016. Survival rate of transported ricefield eels Monopterus albus (Synbranchidae), in open and closed system at water salinity level of 0 and 9 g L-1. AACL Bioflux, 9(3): 759-767.
Herder, F., Hadiaty, R.K., Nolte, A.W. 2012. Pelvic-fin brooding in a new species of riverine ricefish (Atherinomorpha: Beloniformes: Adrianichthyidae) from Tana Toraja, Central Sulawesi, Indonesia. The Raffles Bulletin of Zoology, 60(2): 467-476.
Herjayanto, M., Carman, O., Soelistyowati ,D.T. 2017. Embriogenesis, perkembangan larva dan viabilitas reproduksi ikan pelangi Iriatherina werneri Meinken, 1974 pada kondisi laboratorium. Jurnal Akuatika Indonesia, 2(1): 1-10.
Herjayanto, M., Waris, A., Suwarni, Y., Halia, M., Gani, A., Findayani, N., Cahyani, R. 2018. Studi habitat dan pengangkutan sistem tertutup pada ikan rono Oryzias sarasinorum Popta, 1905 endemik Danau Lindu sebagai dasar untuk domestikasi. Jurnal Akuatika Indonesia, 3(2): 103-109.
Iwamatsu, T. 2004. Stage of normal development in the medaka Oryzias latipes. Mechanismes of Development, 121(2004): 605-618.
©Musamus Fisheries and Marine Journal, Vol. 2 No. 1 Oktober 2019, Pages: 24-34 33
Iwamatsu, T., Kobayashi, H., Shibata, Y., Sato, M., Tsuji, N., Takakura, K.I. 2007. Oviposition cycle in the oviparous fish Xenopoecilus sarasinorum. Zoological Science, 24: 1122-1127.
Jayadi, Husma, A., Nursahran., Ardiansyah., Sriwahidah. 2016. Domestication of Celebes rainbowfish (Marosatherina ladigesi). AACL Bioflux, 9(5): 1067-1077. Kottelat, M. 1990. Synopsis of the endangered Buntingi (Osteichthyes:
Adrianichthyidae and Oryziidae) of lake Poso, Central Sulawesi, Indonesia, with a new reproductive guild and descriptions of three new species. Ichthyological Exploration of Freshwaters, 1(1): 49-67.
Leaf, RT., Jiao, Y., Murphy, B.R., Kramer, J.I., Sorensen, K.M., Wooten, V.G. 2011. Life-history charesteristics of Japanese Medaka Oryzias latipes. Copeia, 2011(4): 559-565.
Mandagi, I.F., Mokodongan, D.F., Tanaka, R., Yamahira, K. 2018. A new riverine ricefish of the genus Oryzias (Beloniformes, Adrianichthyidae) from Malili, Central Sulawesi, Indonesia. Copeia, 106(2): 297-304.
Mokodongan, D.F., Tanaka, R., Yamahira, K. 2014. A new ricefish of the genus Oryzias (Beloniformes, Adrianichthyidae) from lake Tiu, Central Sulawesi, Indonesia. Copeia, 2014(3): 561-567.
Nirmala, K., Hadiroseyani, Y., Widiasto, R.P. 2012. Penambahan garam dalam air media yang berisi zeolit dan arang aktif pada transportasi tertutup benih ikan gurami Osphronemus goramy Lac. Jurnal Akuakultur Indonesia, 11(2): 190-201. Parenti, L.R. 2008. A phylogenetic analysis and taxonomic revision of ricefishes, Oryzias and relatives (Beloniformes, Adrianichthyidae). Zoological Journal of the Linnean Society, 154(3): 494-610.
Puspitasari, R., Suratno. 2017. Studi awal perkembangan larva Oryzias javanicus di Indonesia. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, 9(1): 105-112.
Shima, A., Mitani, H. 2004. Medaka as a research organism: past, present and future. Mechanism of Development, 121(2004): 599-604.
Termvidchakorn, A., Magtoon, W. 2008. Development and identification of the ricefish Oryzias in Thailand. ScienceAsia, 34: 416-423.
©Musamus Fisheries and Marine Journal, Vol. 2 No. 1 Oktober 2019, Pages: 24-34 34
Tjakrawidjaja, A.H., Subagja, J. 2009. Teknik pengangkutan dan pengadaptasian ikan tambra dari habitat alaminya DAS Hulu Barito Kalimantan Tengah. Editor Haryono, Rahardjo MF. Proses domestikasi dan reproduksi ikan tambra yang telah langka menuju budidaya. LIPI Press. 37-49 p.
Wahyu, Supriyono, E., Nirmala, K., Harris, E. 2015. Pengaruh kepadatan ikan selama pengangkutan terhadap gambaran darah, pH darah, dan kelangsungan hidup benih ikan gabus Channa striata (Bloch, 1793). Jurnal Iktiologi Indonesia. 15(2): 165-177.
Wittbrodt, J., Shima, A., Schartl, M. 2002. Medaka – a model organism from far east. Nature Reviews Genetics, 3(1): 53-64.