• Tidak ada hasil yang ditemukan

Promosi dan Survei Rumah Sehat dan PSN D

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Promosi dan Survei Rumah Sehat dan PSN D"

Copied!
45
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Rumah adalah salah satu kebutuhan primer manusia. Karena rumah adalah tempat untuk berlindung dari pengaruh keadaan alam sekitarnya (misalnya hujan, matahari dan lain-lainnya) serta tempat untuk beristirahat setelah bertugas memenuhi sehari-hari, rumah harus dapat memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani bagi penghuninya. Rumah yang baik untuk tinggal di dalamnya adalah rumah yang memenuhi syarat kesehatan.

Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual maupun social yang memungkinkan seseorang hidup produktif secara social dan ekonomis.Dengan kata lain, rumah sehat adalah bangunan tempat berlindung dan beristirahat serta sebagai sarana pembinaan keluarga yang menumbuhkan kehidupan sehat secara fisik, mental dan sosial, sehingga seluruh anggota keluarga dapat bekerja secara produktif.Rumah yang sehat berarti rumah yang bersih dan bebas dari sumber-sumber penyakit . Karena hal-hal tersebut , manusia perlu menjaga rumah agar selalu dalam keadaan sehat.

Banyak penyakit yang muncul bersumber dari sanitasi rumah yang tidak baik.Yaitu rumah yang tidak bersih, banyak bibit penyakit, dan tidak memenuhi kriteria rumah sehat. Salah penyakit yang sering muncul akibat sanitasi rumah yang tidak baik adalah Demam Berdarah Dengue (DBD).

Demam berdarah (DBD) merupakan suatu penyakit menular endemis dengan angka kematian yang cukup tinggi.Penyakit ini di tularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti.Di beberapa negara berkembang, kematian karena demam berdarah masih sangat tinggi. Karena itu pemerintah setempat melakukan berbagai cara untuk mengeliminasi nyamuk aedes sejak dalam fase jentik hingga dalam bentuk nyamuk sempurna.

Di Indonesia, rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai rumah sehat dan pemberantasan sarang nyamuk menjadi salah satu factor utama munculnya berbagai penyakit seperti Demam Berdarah Dengue yang juga merupakan penyakit yang menimbulkan persentase kematian cukup besar. Hal itu perlu perhatian yang cukup besar dari tenaga kesehatan, masyarakat dan pemerintah.Menyadari pentingnya rumah sehat dan pengendalian demam berdarah, kedua hal tersebut melatar belakangi penulis untuk melakukan penelitian mengenai rumah sehat dan PSN Demam Berdarah Dengue (DBD).

1.2 Rumusan Masalah

(2)

1.3 Tujuan Kegiatan a. Umum

Untuk melakukan promosi kesehatan tentang rumah sehat dan perilaku / cara pemberantasan jentik nyamuk dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) pada rumah tangga.

b. Khusus

1. Mengetahui tingkat pengetahuan dan persepsi warga mengenai pemberantasan sarang nyamuk dmeam berdarah.

2. Mengetahui pengaruh pengetahuan terhadap perilaku dalam memberantas sarang nyamuk dmeam berdarah.

3. Menilai komponen rumah warga berdasarkan pedoman rumah sehat dan melakukan komponen rumah yang kurang memenuhi syarat.

1.4 Manfaat Kegiatan

1. Melatih mahasiswa dalam melakukan promosi kesehatan di masyarakat

(3)

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.1 Penilaian Rumah Sehat

2.1.1 Pengertian Rumah Sehat

Rumah (menurut WHO) adalah tempat untuk berlindung dari pengaruh keadaan alam sekitarnya (misalnya hujan, matahari dan lain-lainnya) serta tempat untuk beristirahat setelah bertugas memenuhi sehari-hari.

Definisi perumahan (housing) menurut WHO adalah : suatu struktur fisik di mana orang menggunakannya untuk tempat berlindung, di mana lingkungan dari struktur tersebut termasuk juga semua fasilitas dan pelayanan yang diperlukan, perlengkapan yang berguna untuk kesehatan jasmani, rohani dan keadaan sosial yang baik untuk keluarga dan individu.

Menurut penulisan Aswar, dalam buku Pengawasan Penyehatan Lingkungan Pemukiman oleh Djasio Sanropie, rumah bagi manusia mempunyai arti :

a. Sebagai tempat untuk melepaskan lelah, beristirahat setelah penat melaksanakan kewajiban sehari-hari.

b. Sebagai tempat untuk bergaul dengan keluarga atau membina rasa kekeluargaan bagi segenap anggota keluarga yang ada.

c. Sebagai tempat untuk melindungi diri dari bahaya yang datang mengancam. d. Sebagai lambang status sosial yang dimiliki, yang masih dirasakan sampai saat ini.

e. Sebagai tempat untuk meletakkan atau menyimpan barang-barang yang dimiliki yang terutama masih ditemui pada masyarakat pedesaan.

Sedangkan menurut Direktorat Jenderal Cipta Karya Departemen Pekerjaan Umum, rumah bagi keluarga mempunyai arti sebagai berikut :

a. Tempat untuk berlindung.

Keluarga bertempat tinggal dalam rumah untuk melindungi diri dari panas, hujan dan gangguan lainnya sehingga dapat tinggal dengan rasa aman dan tenteram.

b. Tempat Pembinaan Keluarga

(4)

c. Tempat Kegiatan Keluarga

Rumah sebagai tempat pertemuan berbagai kegiatan keluarga, mempunyai arti penting dalam memberikan suasana yang menunjang kegiatan itu sendiri, sehingga dalam keluarga dapat menjalankan kegiatan dengan rasa senang, tenteram dan nyaman.Untuk mencapai keadaan ini, perlu disiapkan rumah sehat yang dapat menampung anggota keluarga dalam melakukan kegiatan dan kebiasaan dengan baik. Rumah yang sehat dan nyaman akan berpengaruh pada kesehatan jasmani dan rohani anggota keluarga itu.

2.1.2 Instrumen Penilaian Rumah Sehat

Dalam menentukan kriteria dan pembobotan instruman penilaian rumah sehat ini digunakan metode Professional Adjustment, dengan tetap mengacu pada beberapa teori yang ada seperti Derajat Kesehatannya Blum. Namun pada dasarnya pemberian bobot ini tetap mengacu pada asumsi dasar berupa tingkat signifikansi suatu Komponen pada besar kecilnya peran dalam menimbulkan masalah sanitasi serta kemungkinan peluang intervensi perbaikan sebagai tindak lanjut pengawasan. Instrument tersebut juga sesuai dengan Pedoman Teknis Penilaian Rumah Sehat Depkes RI Tahun 2007.

Penentuan nilai Nilai pada setiap parameter ditentukan sesuai jumlah kriteria yang ada, dengan range sesuai blangko SSD1.

Pembobotan terhadap kelompok komponen rumah, kelompok sarana sanitasi, dan kelompok perilaku didasarkan pada teori Blum, yang diinterpetasikan terhadap:

1. Lingkungan (45%) 2. Perilaku (35%)

3. Pelayanan Kesehatan (15%) 4. Keturunan (5%)

Dalam hal rumah sehat, prosentase pelayanan kesehatan dan keturunan diabaikan, sedangkan untuk penilaian lingkungan dan perilaku ditentukan sebagai berikut :

1 Bobot komponen rumah (25/80 x 100%) : 31 2 Bobot sarana sanitasi (20/80 x 100%) : 25 3 Bobot perilaku (35/80 x 100%) : 44

Penentuan kriteria rumah berdasarkan pada hasil penilaian rumah yang merupakan hasil perkalian antara nilai dengan bobot, dengan kriteria sebagai berikut :

1. Memenuhi Syarat :80 – 100% dari total skor 2. Tidak memenuhi syarat :< 80% dari total skor

Kriteria Rumah Sehat

(5)

menghabiskan sebagian besar waktunya.Bahkan bayi, anak-anak, orang tua, dan orang sakit menghabiskan hampir seluruh waktunya di rumah.

Pengertian Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1992, rumah adalah bangunan yang berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian dan sarana pembinaan keluarga. Sedangkan yang dimaksud dengan Sehat menurut World Health Organization (WHO) “Sehat adalah suatu keadaan yang sempurna baik fisik, mental, maupun Sosial Budaya, bukan hanya keadaan yang bebas dari penyakit dan kelemahan (kecacatan)”.

Berdasarkan pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa Rumah Sehat sebagai tempat berlindung atau bernaung dan tempat untuk beristirahat sehingga menumbuhkan kehidupan yang sempurna baik fisik, rohani maupun sosial budaya.

Persyaratan

Secara umum rumah dikatakan sehat apabila memenuhi kriteria sebagai berikut : (Pedoman Teknis Penilaian Rumah Sehat, Depkes RI, 2007)

1. Memenuhi kebutuhan psikologis antara lain privacy yang cukup, komunikasi yang sehat antar anggota keluarga dan penghuni rumah, adanya ruangan khusus untuk istirahat (ruang tidur), bagi masing-maing penghuni;

2. Memenuhi persyaratan pencegahan penularan penyakit antar penghuni rumah dengan penyediaan air bersih, pengelolaan tinja dan limbah rumah tangga, bebas vektor penyakit dan tikus, kepadatan hunian yang tidak berlebihan, cukup sinar matahari pagi, terlindungnya makanan dan

minuman dari pencemaran, disamping pencahayaan dan penghawaan yang cukup;

3. Memenuhi persyaratan pencegahan terjadinya kecelakaan baik yang timbul karena pengaruh luar dan dalam rumah, antara lain persyaratan garis sempadan jalan, konstruksi bangunan rumah, bahaya kebakaran dan kecelakaan di dalam rumah;

Rumah yang sehat harus dapat mencegah atau mengurangi resiko kecelakaanseperti terjatuh, keracunan dan kebakaran (Winslow dan APHA). Beberapa aspek yang harus diperhatikan dalam kaitan dengan hal tersebut antara lain :

a. Membuat konstruksi rumah yang kokoh dan kuat; b. Bahan rumah terbuat dari bahan tahan api; c. Pertukaran udara dalam rumah baik sehingga terhindar dari bahaya racun dan gas; d. Lantai terbuat dari bahan yang tidak licin sehingga bahaya jatuh dan kecelakaan mekanis dapat dihindari;

4. Memenuhi kebutuhan fisiologis antara lain pencahayaan, penghawaan dan ruang gerak yang cukup, terhindar dari kebisingan yang mengganggu;

Beberapa aspek yang berkaitan dengan rumah sehat dapat dijelaskan sebagai berikut :

A. Ventilasi

(6)

Tersedianya udara segar dalam rumah atau ruangan amat dibutuhkan manusia, sehingga apabila suatu ruangan tidak mempunyai sistem ventilasi yang baik dan over crowded maka akan menimbulkan keadaan yang dapat merugikan kesehatan (Gunawan et al., 1982).

Rumah yang memenuhi syarat ventilasi baik akan mempertahankan kelembaban yang sesuai dengan temperatur kelembaban udara (Azwar, 1990). Standart luas ventilasi rumah, menurut Kepmenkes RI No. 829 tahun 1999, adalah minimal 10% luas lantai. Menurut Frinck (1993) setiap ruang yang dipakai sebagai ruang kediaman sekurang-kurangnya terdapat satu jendela lubang ventilasi yang langsung berhubungan dengan udara luar bebas rintangan dengan luas 10% luas lantai. Ruangan yang ventilasinya kurang baik akan membahayakan kesehatan khususnya saluran pernapasan. Terdapatnya bakteri di udara disebabkan adanya debu dan uap air. Jumlah bakteri udara akan bertambah jika penghuni ada yang menderita penyakit saluran pernapasan, seperti TBC, Influenza, dan ISPA. Dalam pengertiaqn ventilasi ini dari aspek fungsi juga tercakup jendela. Luas ventilasi atau jendela adalah luas lubang untuk proses penyediaan udara segar dan pengeluaran udara kotor baik secara alami atau mekanis. Ventilasi atau jendela mempunyai peran dalam rumah untuk mengganti udara ruangan yang sudah terpakai.Fungsi utama ventilasi dan jendela antara lain (Subbin P2P&PL Dinkes Propinsi Jawa Timur). 1. Sebagai lubang masuk dan keluar angin sekaligus sebagai lubang pertukaran udara atau lubang ventilasi yang tidak tetap (sering berupa jendela atau pintu). 2. Sebagai lubang masuknya cahaya dari luar (sinar matahari).

Agar udara dalam ruangan segar persyaratan teknis ventilasi dan jendela ini sebagai berikut : 1. Luas lubang ventilasi tetap, minimum 5% dari luas lantai ruangan dan luas lubang ventilasi insidentil (dapat dibuka dan ditutup) minimum 5% luas lantai, dengan tinggi lubang ventilasi minimal 80 cm dari langit- langit.

2. Tinggi jendela yang dapat dibuka dan ditutup minimal 80 cm dari lantai dan jarak dari langit-langit sampai jendela minimal 30 cm.

3. Udara yang masuk harud udara yang bersih, tidak dicemari oleh asap pembakaran sampah, knaolpot kendaraan, debu dan lain-lain. 4. Aliran udara diusahakan cross ventilation dengan menempatkan lubang hawa berhadapan antara dua dinding ruangan.Aliran udara ini diusahakan tidak terhalang oleh barang-barang seperti almari, dinding, sekat-sekat, dan lain-lain. 5. Kelembaban udara dijaga antara 40% s/d 70%.

(7)

(Baling-baling) yang menghasilkan udara yang dialirkan ke depan. c. Exhauser, merupakan baling-baling penyedot udara dari dalam dan luar ruangan untuk proses pergantian udara yang sudah dipakai.

B. Pencahayaan

Penerangan ada dua macam, yaitu penerangan alami dan buatan. Penerangan alami sangat penting dalam menerangi rumah untuk mengurangi kelembaban. Penerangan alami diperoleh dengan masuknya sinar matahari ke dalam ruangan melalui jendela, celah maupun bagian lain dari rumah yang terbuka, selain berguna untuk penerangan sinar ini juga mengurangi kelembaban ruangan, mengusir nyamuk atau serangga lainnya dan membunuh kuman penyebab penyakit tertentu, misalnya untuk membunuh bakteri adalah cahaya pada panjang gelombang 4000 A sinar ultra violet (Azwar, 1990). Penyakit atau gangguan saluran pernapasan dipengaruhi oleh kondisi lingkungan yang buruk. Lingkungan yang buruk tersebut dapat berupa kondisi fisik perumahan yang tidak mempunyai syarat seperti

ventilasi, kepadatan penghuni, penerangan dan pencemaran udara dalam rumah. Lingkungan perumahan sangat berpengaruh terhadap terjadinya ISPA (Ranuh,1997).

Cahaya matahari disamping berguna untuk menerangi ruangan, mengusir serangga (nyamuk) dan tikus, juga dapat membunuh beberapa penyakit menular misalnya TBC, cacar, influenza, penyakit kulit atau mata, terutama matahari langsung.

Selain itu sinar matahari yang menga ndung sinar ultra violet baik untuk pertumbuhan tulang anak - anak (Suyono, 1985). Rumah sebagai tempat tinggal yang memenuhi syarat kesehatan dan kenyamanan dipengaruhi oleh 3 (tiga) aspek, yaitu pencahayaan, penghawaan, serta suhu udara dan kelembaban dalam ruangan.

Aspek-aspek tersebut merupakan dasar atau kaidah perencanaan rumah sehat dan nyaman. 1. Pencahayaan 2. Matahari sebagai potensi terbesar yang dapat digunakan sebagai pencahayaan alami pada siang hari.Pencahayaan yang dimaksud adalah penggunaan terang langit, dengan ketentuan sebagai berikut: 3. Cuaca dalam keadaan cerah dan tidak berawan, 4. Ruangan kegiatan mendapatkan cukup banyak cahaya, 5. Ruang kegiatan mendapatkan distribusi cahaya secara merata

Kualitas pencahayaan alami siang hari yang masuk ke dalam ruangan ditentukan oleh: a. Kegiatan yang membutuhkan daya penglihatan (mata), b. Lamanya waktu kegiatan yang membutuhkan daya penglihatan (mata), c. Tingkat atau gradasi kekasaran dan kehalusan jenis pekerjaan, d. Lubang cahaya minimum sepersepuluh dari luas lantai ruangan, e. Sinar matahari langsung dapat masuk ke ruangan minimum 1 (satu) jam setiap hari, f. Cahaya efektif dapat diperoleh dari jam 08.00 sampai dengan jam 16.00.

(8)

Kualitas udara dipengaruhi oleh adanya bahan polutan di udara. Polutan di dalam rumah kadarnya berbeda dengan bahan polutan di luar rumah. Peningkatan bahan polutan di dalam ruangan dapat pula berasal dari sumber polutan di dalam ruangan seperti asap rokok, asap dapur, pemakaian obat nyamuk bakar (Mukono, 1997).

Udara merupakan kebutuhan pokok manusia untuk bernafas sepanjang hidupnya. Udara akan sangat berpengaruh dalam menentukan kenyamanan pada bangunan rumah. Kenyamanan akan memberikan kesegaran terhadap penghuni dan terciptanya rumah yang sehat, apabila terjadi pengaliran atau pergantian udara secara kontinyu melalui ruangan- ruangan, serta lubang-lubang pada bidang pembatas dinding atau partisi sebagai ventilasi.

Agar diperoleh kesegaran udara dalam ruangan dengan cara penghawaan alami, maka dapat dilakukan dengan memberikan atau mengadakan peranginan silang (ventilasi silang) dengan ketentuan sebagai berikut: a. Lubang penghawaan m inimal 5% (lima persen) dari luas lantai ruangan. b. Udara yang mengalir masuk sama dengan volume udara yang mengalir keluar ruangan. c. Udara yang masuk tidak berasal dari asap dapur atau bau kamar mandi/WC. d. Khususnya untuk penghawaan ruangan dapur dan kamar mandi/WC, yang memerlukan peralatan bantu elektrikal -mekanikal seperti blower atau exhaust fan, harus memenuhi ketentuan sebagai berikut: e. Lubang penghawaan keluar tidak mengganggu kenyamanan bangunan f. Menghindari disekitarnya.

g. Lubang penghawaan keluar tidak mengganggu kenyamanan ruangan kegiatan dalam bangunan seperti: ruangan keluarga, tidur, tamu dan kerja.

D. Suhu dan kelembaban udara

Rumah dinyatakan sehat dan nyaman, apabila suhu udara dan kelembaban udara ruangan sesuai dengan suhu tubuh manusia normal.Suhu udara dan kelembaban ruangan sangat dipengaruhi oleh penghawaan dan pencahayaan. Penghawaan yang kurang atau tidak lancar akan menjadikan ruangan terasa pengap atau sumpek dan akan menimbulkan kelembaban tinggi dalam ruangan. Untuk mengatur suhu udara dan kelembaban normal untuk ruangan dan penghuni dalam melakukan kegiatannya, perlu memperhatikan : a. Keseimbangan penghawaan antara volume udara yang masuk dan keluar. b. Pencahayaan yang cukup pada ruangan dengan perabotan tidak bergerakperabotan yang menutupi sebagian besar luas lantai ruangan. (Pedoman Umum Rumah Sederhana Sehat)

Untuk pengukuran suhu udara dengan mempergunakan alat Phsycrometer, yang terbagi atas : 1. Suhu Kering, merupakan suhu udara yang ditunjukkan oleh thermometer basah dengan pembacaan suhu setelah diukur selama ± 15 menit dan umumnya berkisar antara 29°C-34°C 2. Suhu Basah, merupakan suhu yang menunjukkan bahwa udara telah jenuh yaitu antara 25°C - 28°C.

(9)

melakukan pertukaran udara setempat (kipas angin) atau dengan udara baru (AC/Exhauser).

Kelembaban merupakan kandungan uap air udara dalam ruang yang diukur dengan phsycrometer dan dinyatakan dengan satuan persen (%).Kelembaban ini sangat erat hubungannya dengan ventilasi. Apabila ventilasi kurang baik maka akan meningkatkan kelembaban yang disebabkan oleh penguapan cairan tubuh dan uap pernafasan. Beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat kelembaban dalam rumah antara lain : a. Rising Dump (Kelembaban yang naik dari tanah). Kelembaban yang disebabkan oleh proses kerja osmosis atau tenaga tarik kapiler dari bahan dinding yang mengadakan kontak dengan tanah yang lembab yang dapat naik kedalam dinding (mencapai ketinggian 3 – 4 meter). b. Percolation Dump (merembes melalui dinding). Disebabkan oleh infiltrasi hujan yang masuk kedalam dinding.c. Root Leaks (bocor melalui atap) Disebabkan karena atap atau genting yang tidak dapat menahan air (air hujan dapat merembes melalui celah-celahnya)

Udara yang kurang mengandung uap air maka udara terasa kurang nyaman dan berbau (pengab), sebaliknya jika udara mengandung banyak uap air maka udara basah yang dihirup akan berlebihan sehingga mengganggu fungsi paru-paru. Rumah yang lembab akan mudah ditumbuhi oleh kuman-kuman yang dapat menyebabkan penyakit infeksi, khususnya penyakit infeksi saluran pernafasan. Sesuai Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor : 829/Menkes/SK/VII/1999 kelembaban udara berkisar antara 40% -70%.

C. Indikator Dan Parameter Penilaian Rumah

Terdapat beberapa indikator penilaian rumah sehat yaitu : 1. Komponen Rumah 2. Sarana Sanitasi 3. Perilaku Penghuni

1. Indikator penilaian komponen rumah meliputi beberapa parameter sebagai berikut :

a. Langit-langit b. Dinding c. Lantai d. Jendela kamar tidur e. Jendela ruang keluarga f. Ventilasi g. Lubang asap dapur h. Pencahayaan i. Kandang j. Pemanfaatan Pekarangan k. Kepadatan penghuni.

Bahan bangunan dan kondisi rumah serta lingkungan yang tidak memenuhi syarat kesehatan, merupakan faktor resiko dan sumber penularan berbagai jenis penyakit. Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) dan tuberkulosis yang erat kaitannya dengan kondisi hygiene bangunan perumahan, berturut-turut merupakan penyebab kematian nomor 2 dan 3 di Indonesia (SKRT, 1995) (Pedoman Teknis Penilaian Rumah Sehat, Depkes RI, 2007) Ventilasi

(10)

Khususnya untuk penghawaan ruangan dapur dan kamar mandi/WC, yang memerlukan peralatan bantu elektrikal-mekanikal seperti blower atau exhaust fan, harus memenuhi ketentuan sebagai berikut: a. Lubang penghawaan keluar ҏ tidak mengganggu kenyamanan bangunan disekitarnya. b. Lubang penghawaan keluar ҏ tidak mengganggu kenyamanan ruangan kegiatan dalam bangunan seperti: ruangan keluarga, tidur, tamu dan kerja.

Bagi rumah dengan kelembaban, suhu, dan penerangan alami yang kurang baik ukuran dan letaknya, diharapkan bisa menambah genting kaca serta memperbaiki plafon, dan membuka pintu dan jendela setiap pagi hari. Pencahayaan

Kualitas pencahayaan alami siang hari yang masuk ke dalam ruangan ditentukan oleh: a. Kegiatan yang membutuhkan daya penglihatan (mata), b. Lamanya waktu kegiatan yang membutuhkan daya penglihatan (mata), c. Tingkat atau gradasi kekasaran dan kehalusan jenis pekerjaan, d. Lubang cahaya minimum sepersepuluh dari luas lantai ruangan, e. Sinar matahari langsung dapat masuk ke ruangan minimum 1 (satu) jam setiap hari,f. Cahaya efektif dapat diperoleh dari jam 08.00 sampai dengan jam 16.00.

Kepadatan Penghuni

Kepadatan penghuni merupakan luas lantai dalam rumah dibagi dengan jumlah anggota keluarga penghuni tersebut, kebutuhan ruangan untuk tempat tinggal tergantung pada kondisi keluarga yang bersangkuta. Menurut Kepmenkes RI (1999) luas ruangan tidur minimal 8 m2 dan tidak dianjurkan lebih dari 2 orang. Bangunan yang sempit dan tidak sesuai dengan jumlah penghuninya akan mempunyai dampak kurangnya oksigen dalam ruangan sehingga daya tahan tubuh penghuninya menurun, kemudian cepat timbulnya penyakit saluran pernafasan seperti ISPA. Ruangan yang sempit akan membuat nafas sesak dan mudah tertular penyakit oleh anggota keluarga yang lain. penghuni, maka kadar oksigen dalam ruangan menurun dan diikuti oleh peningkatan CO 2 ruangan dan dampak dari peningkatan CO2 ruangan adalah penurunan kualitas udara dalam rumah.

(11)

2. Indikator penilaian Sarana Sanitasi rumah meliputi beberapa parameter sebagai berikut : a. Sarana air bersih b. Jamban c. Sarana pembuangan air limbah d. Sarana pembuangan sampah.

Menurut laporan MDGs tahun 2007 terdapat beberapa kendala yang menyebabkan masih tingginya jumlah orang yang belum terlayani fasilitas air bersih dan sanitasi dasar. Di antaranya adalah cakupan pembangunan yang sangat besar, sebaran penduduk yang tak merata dan beragamnya wilayah Indonesia, keterbatasan sumber pendanaan.Pemerintah selama ini belum menempatkan perbaikan fasilitas sanitasi sebagai prioritas dalam pembangunan. Faktor lain yang juga menjadi kendala adalah kualitas dan kuantitas sumber air baku sendiri terus menurun akibat perubahan tata guna lahan (termasuk hutan) yang mengganggu sistem siklus air. Selain itu, meningkatnya kepadatan dan jumlah penduduk di perkotaan akibat urbanisasi.

Masalah kemiskinan juga ikut menjadi penyebab rendahnya kemampuan penduduk mengakses air minum yang layak. Terakhir adalah buruknya kemampuan manajerial operator air minum itu sendiri. Sedangkan dari sisi sanitasi, selain masih rendahnya kesadaran penduduk tentang lingkungan, kendala lain untuk terjadinya perbaikan adalah karena belum adanya kebijakan komprehensif yang sifatnya lintas sektoral, rendahnya kualitas bangunan septic tank, dan masih buruknya sistem pembuangan limbah. (Harian Kompas, Rabu, 19 Maret 2008)

Penyediaan air bersih dan sanitasi lingkungan yang tidak memenuhi syarat dapat menjadi faktor resiko terhadap penyakit diare dan kecacingan. Diare merupakan penyebab kematian nomor 4 sedangkan kecacingan dapat mengakibatkan produktifitas kerja dan dapat menurunkan kecerdasan anak sekolah, disamping itu masih tingginya penyakit yang dibawa vektor seperti DBD, malaria, pes, dan filariasis (Pedoman Teknis Penilaian Rumah Sehat, Depkes RI, 2007)

Menurut data Bank Pembangunan Asia tahun 2005 hanya terdapat 69 persen penduduk perkotaan dan 46 persen penduduk pedesaan (atau rata-rata 55,43) terlayani fasilitas sanitasi yang layak. Hal ini lebih rendah bila dibandingkan dengan dengan Singapura (100 persen), Thailand (96 persen), Filipina (83,06 persen), Malaysia 74,70 persen) dan Myanmar (64,48 persen).

Sarana air bersih Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak.Air minum adalah air yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum.

(12)

Jamban

Angka kesakitan penyakit diare di Indonesia masih tinggi.Salah satu penyebab tingginya angka kejadian diare adalah rendahnya cakupan penduduk yang memanfaatkan sarana air bersih dan jamban serta PHBS yang belum memadai.Menurut data dari 200.000 anak balita yang meninggal karena diare setiap tahun di Asia, separuh di antaranya adalah di Indonesia.

Metode pembuangan tinja yang baik yaitu dengan jamban dengan syarat antara lain sebagai berikut : a. Tanah permukaan tidak boleh terjadi kontaminasi b. Tidak boleh terjadi kontaminasi pada air tanah yang mungkin memasuki mata air atau sumur

c. Tidak boleh terkontaminasi air permukaan d. Tinja tidak boleh terjangkau oleh lalat dan hewan lain e. Tidak boleh terjadi penanganan tinja segar ; atau, bila memang benar- benar diperlukan, harus dibatasi seminimal mungkin. f. Jamban harus babas dari bau atau kondisi yang tidak sedap dipandang. g. Metode pembuatan dan pengoperasian harus sederhana dan tidak mahal.

Sarana Pembuangan Air Limbah dibuang dengan cara ditumpuk saja maka akan menimbulkan bau dan gas yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Apabila dibakar akan menimbulkan pengotoran udara. Kebiasaan membuang sampah disungai dapat mengakibatkan pendangkalan sehingga menimbulkan banjir.Dengan demikian sampah yang tidak dikelola dengan baik dapat menjadi sumber pencemar pada tanah, badan air dan udara.

Berdasarkan asalnya, sampah digolongkan dalam dua bagian yakni sampah organik ( sampah basah ) dan sampah anorganik ( sampah kering ). Pada tingkat rumah tangga dapat dihasilkan sampah domestik yang pada umumnya terdiri dari sisa makanan, bahan dan peralatan yang sudah tidak dipakai lagi, bahan pembungkus, kertas, plastik, dan sebagainya.

Dampak sampah terhadap kesehatan lingkungan, antara lain :

(13)

rembesan sampah yang masuk kedalam drainase atau sungai akan mencemari air, berbagai organisme termasuk ikan dapat mati sehingga beberapa spesies akan lenyap dan hal ini mengakibatkan berubahnya ekosistem perairan biologis. 3. Dampak Terhadap Sosial Ekonomi.Pengelolaan sampah yang kurang baik dapat membentuk lingkungan yang kurang menyenangkan bagi masyarakat, bau yang tidak sedap dan pemandangan yang buruk. Hal ini dapat berpengaruh antara lain terhadap dunia pariwisata dan investasi

Teknik pengelolaan sampah yang baik diantaranya harus memperhatikan faktor-aktor sebagai berikut :

a. Penimbulan sampah. Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi sampah adalah jumlah penduduk dan kepadatanya, tingkat aktivitas, pola kehidupan/tingkat sosial ekonomi, letak geografis, iklim, musim, dan kemajuan teknologi. b. Penyimpanan sampah. c. Pengumpulan, pengolahan dan pemanfaatan kembali. d. Pengangkutan e. Pembuangan

Dengan mengetahui unsur-unsur pengelolaan sampah, kita diketahui hubungan dan tingkat kepentingan masing-masing unsur tersebut agar dapat

memecahkan masalah-masalah ini secara efisien. Selain itu pada tingkat rumah tangga juga sudah harus dimulai penerapan prinsip-prinsip pengurangan volume sampah dengan menerapkan prinsip 4 R yaitu (Reduce, Reuse, Recycle dan Replace ).

3. Indikator penilaian Perilaku Penghuni Rumah meliputi beberapa parameter sebagai berikut : a. Kebiasaan mencuci tangan b. Keberadaan vektor tikus c. Keberadaan Jentik.

2.2 Pemberantasan Sarang Nyamuk 2.2.1 Pengertian Nyamuk

Nyamuk adalah serangga tergolong dalam order Diptera; genera termasuk Anopheles, Culex, Psorophora, Ochlerotatus, Aedes, Sabethes, Wyeomyia, Culiseta, dan Haemagoggus untuk jumlah keseluruhan sekitar 35 genera yang merangkum 2700 spesies. Nyamuk mempunyai dua sayap bersisik, tubuh yang langsing, dan enam kaki panjang; antar spesies berbeda-beda tetapi jarang sekali melebihi 15 mm.

Dalam bahasa Inggris, nyamuk dikenal sebagai "Mosquito", berasal dari sebuah kata dalam bahasa Spanyol atau bahasa Portugis yang berarti lalat kecil.Penggunaan kata Mosquito bermula sejak tahun 1583.Di Britania Raya nyamuk dikenal sebagai gnats.

(14)

menghisap darah.Agak rumit nyamuk betina dari satu genus, Toxorhynchites, tidak pernah menghisap darah. Larva nyamuk besar ini merupakan pemangsa jentik-jentik nyamuk yang lain.

2.2.2 Reproduksi Nyamuk

Nyamuk mengalami empat tahap dalam siklus hidup: telur, larva, pupa, dan dewasa. Tempo tiga peringkat pertama bergantung kepada spesies - dan suhu. Hanya nyamuk betina saja yang menyedot darah mangsanya dan itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan makan. Sebab, pada kenyataanya, baik jantan maupun betina makan cairan nektar bunga.Nyamuk betina perlu memberi nutrisi pada telurnya, berupa protein yang terdapat dalam darah untuk berkembang.

Fase perkembangan nyamuk dari telur hingga menjadi nyamuk dewasa sangat menakjubkan. Telur nyamuk biasanya diletakkan pada daun lembap atau kolam yang kering. Pemilihan tempat ini dilakukan oleh induk nyamuk dengan menggunakan reseptor yang ada di bawah perutnya.Reseptor ini berfungsi sebagai sensor suhu dan kelembapan.Setelah tempat ditemukan, induk nyamuk mulai mengerami telurnya.Telur-telur itu panjangnya kurang dari 1 mm, disusun secara bergaris, baik dalam kelompok maupun satu persatu.Beberapa spesies nyamuk meletakkan telur-telurnya saling berdekatan membentuk suatu rakit yang bisa terdiri dari 300 telur.

Selesai itu, telur berada pada masa periode inkubasi (pengeraman). Pada periode ini, inkubasi sempurna terjadi pada musim dingin. Setelah itu larva mulai keluar dari telurnya semua dalam waktu yang hampir sama. Anak Nyamuk atau ENCU Sampai siklus pertumbuhan ini selesai secara keseluruhan. Larva nyamuk akan berubah kulitnya sebanyak 2 kali.

Selesai berganti kulit, nyamuk berada pada fase transisi.Fase ini dinamakan "fase pupa".Pada fase ini, nyamuk sangat rentan terhadap kebocoran pupa.Agar tetap bertahan, sebelum pupa siap untuk perubahan kulit yang terakhir kalinya, 2 pipa nyamuk muncul ke atas air.pipa itu digunakan untuk alat pernapasan.

Nyamuk dalam kepompong pupa yang cukup dewasa dan siap terbang dengan semua organnya seperti antenaa, belalai, kaki, dada, sayap, perut, dan mata besar yang menutupi sebagian besar kepalanya.lalu kepompong pupa disobek di atas. Tingkat ketika nyamuk yang telah lengkap muncul ini adalah tingkat yang paling membahayakan.

(15)

Culex tarsalis bisa menyelesaikan siklus hidupnya dalam tempo 14 hari pada 20 °C dan hanya sepuluh hari pada suhu 25 °C. Sebagian spesies mempunyai siklus hidup sependek empat hari atau hingga satu bulan.Larva nyamuk dikenal sebagai jentik dan didapati di sembarang bekas berisi air.Jentik bernafas melalui saluran udara yang terdapat pada ujung ekor.Pupa biasanya seaktif larva, tetapi bernafas melalui tanduk thorakis yang terdapat pada gelung thorakis. Kebanyakan jentik memakan mikroorganisme, tetapi beberapa jentik adalah pemangsa bagi jentik spesies lain. Sebagian larva nyamuk seperti Wyeomia hidup dalam keadaan luar biasa.Jentik-jentik spesies ini hidup dalam air tergenang dalam tumbuhan epifit atau di dalam air tergenang dalam pohon periuk kera.Jentik-jentik spesies genus Deinocerites hidup di dalam sarang ketam sepanjang pesisir pantai.

2.2.4 Pengertian Penyakit Demam Berdarah Dengue

Demam Berdarah Dengue adalah penyakit febril akut yang ditemukan di daerah tropis, dengan penyebaran geografis yang mirip dengan malaria.

Penyakit demam berdarah dengue atau yang disingkat sebagai DBD adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang dibawa oleh nyamuk aedes aegypti betina lewat air liur gigitan saat menghisap darah manusia.

Selama nyamuk aides aigypti tidak terkontaminasi virus dengue maka gigitan nyamuk DBD tersebut tidak berbahaya. Jika nyamuk tersebut menghisap darah penderita DBD maka nyamuk menjadi berbahaya karena bisa menularkan virus dengue yang mematikan. Untuk itu perlu pengendalian nyamuk jenis aedes aegypti agar virus dengue tidak menular dari orang yang satu ke orang yang lain 2.2.5 Penyebab Penyakit Demam Berdarah Dengue

(16)

2.2.6 Gejala Demam Berdarah Dengue

Terdapat sepuluh gejala yang ditimbulkan oleh Demam Berdarah Dengue : 1. Demam tinggi yang mendadak 2-7 hari ( 38-40 derajat celsius ). 2. Perasaan menggigil, nyeri kepala, nyeri saat menggerakan bola mata

dan nyeri punggung pada awal gejala.

3. Tampak bintik- bintik merah ketika diperiksa dengan metoda uji torniquet.

4. Terjadi pembesaran hati ( hepatomegali).

5. Tekanan darah menurun sehingga menyebabkan syok.

6. Terjadi penurunan trombosit di bawah 100.000/mm3 dan terjadi peningkatan hematokrit di atas 20 %.

7. Pada tingkat lanjut terjadi mimisan dari hidung dan gusi.

8. Terjadinya melena (buang air dengan kotoran berupa lendir yang bercampur darah).

9. Tampak bintik-bintik merah sebagai bentuk dari pecahnya pembuluh darah.

10. Demam yang dirasakan menyebabkan pegal dan sakit pada sendi. Orang yang terindikasi terserang demam berdarah harus secepatnya diberi pertolongan medis dengan dibawa ke puskesmas, dokter atau rumah sakit untuk diobati. Terlambat memberi pertolongan pada penderita DBD dapat menyebabkan penderita meninggal dunia.

2.2.8 Pemberantasan Sarang Nyamuk

Pemberantasan nyamuk DBD diutamakan memakai cara yang efektif, efisien dan ramah lingkungan. Hal ini berfungsi menghilangkan tempat berkembangbiaknya nyamuk. Cara yang dimaksud adalah dengan 3M, yaitu Menguras, Menutup dan Mengubur barang-barang yang bisa menampung air seminggu sekali.

A. Menguras

(17)

B. Menutup

Ada 2 jenis cara untuk menutup tandon air agar tidak dipakai nyamuk berkembang biak :

1. Menutup tandon dengan rapat agar air yang disimpan tidak ada jentiknya. Jenis tendon ini antara lain : gentong, padasan, drum, reservoar, emberisasi dsb.

2. Menutup tandon agar tidak terisi air .Misalnya tonggak bambu dapat ditutup dengan pasir atau tanah sampai penuh.Sedangkan untuk ban, aki dsb dapat ditutupi dengan plastik agar tidak kemasukan air atau dimasukkan karung agar tidak tersentuh nyamuk.

C. Mengubur

Barang-barang bekas yang dapat menampung air dan tidak akan dimanfaatkan lagi sebaiknya disingkirkan yang mudah adalah dengan mengubur ke dalam tanah. Contoh barang bekas yang perlu dikubur : gelas, ember, piring pecah, kaleng dsb.

D. Memelihara Ikan

Selain dengan cara 3M, pada bak-bak air juga bisa dipelihara ikan pemakan jentik. Contoh : Betta sp.

E. Fogging

Bukan cara terbaik untuk memberantas nyamuk penular DBD, hanya membunuh nyamuk dewasa. Pada hari-hari berikutnya akan menetas nyamuk-nyamuk baru lagi, karena telur dan jentik-jentik tidak mati. Fogging berdampak buruk terhadap kesehatan karena menggunakan pestisida dan solar.

1. Pestisida merupakan racun yang dapat merusak syaraf dan beresiko penyebab kanker, kelahiran anak cacat , kerusakan genetik/ keturunan, keguguran dan kemandulan

(18)

BAB III

pengambilan data primer. Penulis melakukan penelitian dan penilaian secara langsung ke rumah-rumah.

Dalam penelitan ini, alat ukur yang digunakan oleh peneliti untuk mengukur variabel penelitian adalah dengan menggunakan kuesioner yang menurut Mardalis, 2004 merupakan teknik pengumpulan data melalui formulir yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang diajukan secara tertulis pada seseorang atau sekumpulan orang untuk mendapatkan jawaban atau tanggapan dan informasi yang diperlukan oleh peneliti. Kuesioner penelitian dari masing masing variabel disusun berdasarkan dimensi/kisi kuesioner, yang kemudian dituangkan dalam sebuah pertanyaan atau pernyataan tertutup.

3.3 Fokus Kajian/Definisi Konsep dan Operasional

(19)

Independent :

(20)

halaman rumah, membuang tinja ke jamban, membuang smpah ke tempat sampah)

Formulir penilaian rumah sehat yang digunakan terlampir (lampiran 1).

Kuesioner yang digunakanuntuk mengetahui pengetahuan dan sikap sampel terhadap Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) terlampir (lampiran 2)

3.4 Teknik dan Analisis Data

Analisis data dilakukan secara kualitatif yaitu dengan cara mencatat, mengorganisasikan, mengelompokkan dan mensintesiskan data selanjutnya memaknai setiap kategori data, mencari dan menemukan pola, hubungan- hubungan dan memaparkan temuan-temuan dalam bentuk deskripsi naratif maupun gambar-gambar yang bisa dimengerti dan pahami oleh orang lain.

1. Jalannya Penelitian

1) Persiapan penelitian meliputi : perijinan, mengumpulkan data sekunder, mempersiapkan kuesioner, pembentukan tim peneliti, menetapkan metode pengumpulan data berdasarkan variabel yang diteliti.

2) Rencana kerja penelitian : 2.1. Menentukan responden 2.2. Melatih tim pengambil data

2.3. Melakukan uji validitas dan reliabilitas kuesioner.

2.4. Melakukan wawancara dan penjelasan kepada responden tentang pengisian kuesioner

2.5. Melakukan pengumpulan data kuesioner untuk diolah

2. Cara Analisis Data

1) Pengkajian data (Editing)

Adalah mengkaji dan meneliti kembali kelengkapan pengisian kuesioner yang telah terkumpul untuk proses berikutnya.

2) Pemberian kode (Coding)

Adalah mengklasifikasikan jawaban responden menurut macamnya dengan memberi kode pada jawaban sesuai kategorinya dalam bentuk angka untuk kemudian dilakukan entry data dengan menggunakan komputer.

3) Analisis data

Data-data dalam penelitian ini diolah dan dianalisis secara kuantitatif dengan menggunakan fasilitas komputer program SPSS versi 22.

3.5 Hipotesis

(21)

1. Hipotesis Nol (H0) : tidak terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan, persepsi, dan perilaku dengan angka jentik nyamuk.

Hipotesis Kerja (H1) :terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan, persepsi, dan dengan angka jentik nyamuk.

2. Hipotesis Nol (H0) :penghuni yang memiliki pengetahuan dan persepsi yang baik tidak mengaplikasikan pada terciptanya sanitasi rumah yang baik. Hipotesis Kerja (H1) :penghuni yang memiliki pengetahuan dan persepsi yang

baik akan dapat mengaplikasikan pada terciptanya sanitasi rumah yang baik. 3. Hipotesis Nol (H0) : tidak terdapat hubungan antara sanitasi rumah dengan

angka bebas jentik.

Hipotesis Kerja (H1) :terdapat hubungan antara sanitasi rumah dengan angka bebas jentik.

(22)

4.1 Penilaian Rumah Sehat 4.1.1 Rumah I

Dari penilaian yang telah dilakukan, didapatkan bahwa rumah I memiliki komponen rumah, sanitasi, dan penghuni yang memenuhi kriteria rumah sehat. Untuk komponen rumah, semua sudah baik, kecuali bahwa tidak ada lubang asap dapur.

Sarana sanitasi semuanya dalam keadaan baik (skor maksimal).Semua sarana ada dan sudah memeuhi syarat kesehatan.

Perilaku penghuni sangat baik (skor maksimal) sehingga memenuhi syarat rumah sehat. 4.1.2 Rumah II

Dari penilaian yang telah dilakukan, didapatkan bahwa rumah II memiliki komponen rumah, sanitasi, dan penghuni yang memenuhi kriteria rumah sehat.Dari sisi komponen rumah, langit-langit, dinding, lanteai, dan jendela ruang keluarga memiliki nilai maksimal. Jendela kamar tidur dan lubang asap dapur tidak ada, serta ventilasi dan pencahayaan cukup.

Untuk sanitasi, didapatkan sarana pembuangan kotoran dan air limbah sangat baik (skor maksimal). Untuk sarana air bersih dan sarana pembuangan sampah aa, tetapi tidak memenuhi syarat kesehatan.

Penghuni sudah baik dalam menbuang tinja ke jamban dan membaung sampah ke tempatnya.Namun, kurang rajin dalam membersihkan dalam membersihkan halaman ruah.Sedangkan, jendela kamar dan ruang keluarga tidak pernah dibuka.

4.1.3 Rumah III

Dari penilaian yang telah dilakukan, didapatkan bahwa rumah III memiliki komponen rumah, sanitasi, dan penghuni yang memenuhi kriteria rumah sehat.Dari komponen rumah, langit-angit, dinding, lantai, jendela kamar tidur dan ruang keluarga memiliki nilai maksimal. Ssedangkan untuk ventilasi dan pencahayaan cukup,serta lubang asap dapur tidak ada.

Dari sisi sanitasi, sarana air bersih dan sarana pembuangan kotoran memiliki nilai maksimal.Sedangkan utnuk sarana pembuangan air limbah dan sarana pembuangan sampah memiliki nilai cukup.

Dari sisi perilaku penghuni, dalam hal membka jendela kamar dan jendela ruang keluarga,membersihkan halaman rumah, dan mebuang tinja ke jamban sudah sangat baik. Akan tetapi, pembuangan sampah dilakukan dengan dibuang ke kebun lalu dibakar, suatu perilaku yang kurang baik.

4.2 Pengetahuan, Persepsi, dan Perilaku terhadap Pemberantasan Sarang Nyamuk

(23)

bisa dilakukan oleh masyarakat untuk mencegah menularnya penyakit Demam Berdarah (PSN DBD).

Menurut Irwanto, 1997, Persepsi merupakan proses di mana rangsangan (obyek, kualitas, hubungan antar gejala maupun peristiwa) sampai rangsangan itu disadari dan dimengerti, karena persepsi bukan sekedar penginderaan, maka ada penulis yang menyatakan persepsi sebagai penafsiran pengalaman. Faktor yang mempengaruhi persepsi antara lain factor internal dan faktor eksternal. Menurut Walgito, 1999 faktor internal meliputi (1) alat indra, saraf dan pusat susunan saraf, (2) perhatian; sedangkan faktor eksternal meliputi (1) objek yang dipersepsi, (2) intensitas rangsangan (3) ukuran rangsangan, dan (4) perubahan rangsangan. Persepsi yang diteliti dalam penelitian ini adalah (1) penyebab dan vektor dari penyakit Demam Berdarah (2) siapa saja dan kapan seseorang akan terjangkit DBD (3) Gejala dan akibat fatal penyakit Demam Berdarah (4) Hal-hal yang bisa dilakukan oleh masyarakat untuk mencegah menularnya penyakit Demam Berdarah (PSN DBD).

4.2.1 Rumah I

Pengetahuan dan persepsi yang dimiliki penghuni rumah I mengenai PSN sudah cukup, sehingga penghuni rumah dapat mengaplikasikan tindakan PSN DBD dengan baik (terlihat dari skor perilaku yang termasuk kategori baik).

4.2.2 Rumah II

Pengetahuan yang dimiliki penghuni rumah II mengenai PSN tinggi.Persepsi terhadao PSN sudah cukup, serta penghuni rumah dapat mengpalikasikan tindakan PSN dengan baik.Namun, dalam penilaian terhadap komponen rumah, didapatkan bahwa komponen rumah, sanitasi, dan penghuni tidak memenuhi syarat rumah sehat.

4.2.3 Rumah III

(24)

1 2 3

Grafk 1. Pengetahuan, Persepsi, dan Perilaku

Rumah yang dikunjungi

S

k

o

r

Grafik ini menggambarkan total skor pengetahuan, persepsi, dan perilaku dari pemilik ketiga rumah yang dikunjungi. Tampak bahwa ketiga rumah memiliki pengetahuan persepsi, dan perilaku yang hampir sama baiknya, kecuali untuk pengetahuan, rumah 1 sedikit lebih rendah tingkat pengetahuannya. Dari sini terlihat bahwa tingkat pengetahuan dan persepsi tidak berpengaruh terhadap perilaku penghuni dalam memberantas sarang nyamuk demam berdarah.

1 2 3

Grafik 2. Skor Komponen Rumah, Sanitasi, dan Penghuni

Rumah

Sk

or

Grafik ini menggambarkan skor dari penilaian rumah sehat. Terlihat bahwa rumah 1 memiliki skor yang paling tinggi dibanding kedua rumah lainnya, sedangkan rumah 2 memiliki skor yang paling rendah dibanding kedua ruah lainnya.

Pengetahua

Perseps

i

(25)

1 2 3 0

200 400 600 800 1000 1200 1400

1218

805

1018

Grafk 3. Total Skor Penilaian Rumah Sehat

Rumah S

k o r

Grafik ini menggambarkan total skor penilaian rumah sehat. Tamapk bahwa rumah 1 memiliki skor paling tinggi (1218), sedangkan rumah 2 memiliki skor paling rendah (805).

Tabel 1. Tabulasi Silang Kategori Total Komponen * Angka Bebas Jentik

angka_bebas_je ntik

Total Negatif jentik

Kategori Total Komponen Tidak Memenuhi Syarat Count 2 2

% within Kategori Total

Komponen 100.0% 100.0%

% of Total 66.7% 66.7%

Memenuhi Syarat Count 1 1

% within Kategori Total

Komponen 100.0% 100.0%

% of Total 33.3% 33.3%

Total Count 3 3

% within Kategori Total

Komponen 100.0% 100.0%

% of Total 100.0% 100.0%

(26)

Tabel 2. Tabulasi SIlang Total Nilai Pengetahuan * Angka Bebas Jentik

angka_bebas_jentik

Total Bebas jentik

Total Nilai Pengetahuan 9 Count 1 1

% within Total Nilai Pengetahuan 100.0% 100.0%

1 3

Count 1 1

% within Total Nilai Pengetahuan 100.0% 100.0%

1 4

Count 1 1

% within Total Nilai Pengetahuan 100.0% 100.0%

Total Count 3 3

% within Total Nilai Pengetahuan 100.0% 100.0%

Tabel ini menunjukkan bahwa dari semua sampel yang diteliti, sampel dengnanberbagai skor pengetahuan memiliki memiliki negative jentik.

Total Nilai Persepsi * angka_bebas_jentik Crosstabulation

angka_bebas_jentik

% within Total Nilai Persepsi 100.0% 100.0%

5 4

Count 1 1

% within Total Nilai Persepsi 100.0% 100.0%

5 7

Count 1 1

% within Total Nilai Persepsi 100.0% 100.0%

Total Count 3 3

% within Total Nilai Persepsi 100.0% 100.0%

Tabel ini menunjukkan bahwa dari semua sampel yang diteliti, sampel dengan berbagai skor persepsi memiliki memiliki negatif jentik.

Total Nilai Perilaku * angka_bebas_jentik Crosstabulation

angka_bebas_jentik

% within Total Nilai Perilaku 100.0% 100.0%

1 1

Count 1 1

% within Total Nilai Perilaku 100.0% 100.0%

Total Count 3 3

% within Total Nilai Perilaku 100.0% 100.0%

(27)

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Dari data penelitian yang telah diolah dapat disimpulkan beberapa hal berikut, yaitu:

1. Tingkat pengetahuan dan persepsi warga mengenai pemberantasan sarang nyamuk demam berdarah termasuk kategori cukup, bahkan ada yang tergolong tinggi.

2. Pengetahuan tidak berpengaruh terhadap perilaku dalam memberantas sarang nyamuk demam berdarah.

3. Komponen rumah warga berdasarkan pedoman rumah sehat, didapatka 2 rumah belum memenuhi syarat kesehatan, sedangkan 1 rumah telah memenuhi syarat kesehatan.

5.2 Saran

Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan sebagai berikut :

1. Karena pengetahuan dan persepsi secara bermakna mempengaruhi perilaku responden dalam PSN DBD, maka sangat perlu dikembangkan upaya-upaya yanglebih tepat untuk meningkatkan pengetahuan responden utamanya pada kelompok masyarakat yang sudah berkeluarga, yaitu dengan melakukan kampanye PSN melalui berbagai iklan layanan media informasi, memfasilitasi terbentuknya gerakan masyarakat untuk secara berkala melakukan PSN, dan meningkatkan profesionalisme petugas kesehatan.

2. Mengingat di Kota Kediri adalah daerah yang endemis penyakit demam berdarah, maka harus lebih giat lagi mengembangkan upaya-upaya penanggulangan penyakit demam berdarah yaitu dengan cara peningkatan pemberdayaan masyarakat, serta membangun komitmen yang kuat antara pemerintah daerah dengan masyarakat untuk kegiatan PSN DBD misalnya dengan penerapan sanksi denda apabila ditemukan jentik disekitar rumah warga yang diatur dalam suatu Perda.

(28)

Lampiran 1.

Blangko Kuisioner

A. PENGETAHUAN TENTANG PSN DBD

1. Apakah penyebab penyakit demam berdarah dengue (DBD)? A. Kuman

B. Virus C. Bakteri D. Plasmodium E. Spora

2. Hewan apa yang dapat menularkan penyakit DBD? A. Kecoa

B. Tikus C. Lalat D. Nyamuk E. Bakteri

3. Melalui apakah penularan penyakit DBD dari satu orang ke orang lain? A. Bersin

B. Sentuhan kulit C. Gigitan nyamuk D. Suntikan E. Air liur

4. Penyakit DBD dapat menyerang pada siapa saja ? A. Bayi

B. Anak-anak C. Remaja D. Dewasa

E. Semua golongan umur

5. Kapankah penular penyakit DBD mulai menularkan pada manusia? A. Pagi hari

B. Malam hari C. Pagi – sore hari D. Siang – sore hari E. Sore – malam hari

6. Di tempat mana saja hewan penular penyakit DBD tidak suka bertelur? A. Bak mandi

B. Tempayan/gentong

C. Kaleng bekas yang tergenang air D. Tempat minum burung

E. Di selokan/ got

7.Berikut ini manakah yang bukan merupakan gejala penyakit demam berdarah? A. Mendadak panas tinggi 2 -7 hari

(29)

D. Gelisah, ujung jari tangan dan kaki dingin E. Sering buang air kecil

8. Apa yang tidak perlu dilakukan jika ada keluarga atau tetangga terdekat kita terkena penyakit DBD?

A. Beri banyak air minum B. Kompres dengan air dingin C. Beri obat turun panas D. Bawa ke Puskesmas

E. Menjauhkan dari orang sehat

9. Apakah akibat paling buruk/ fatal yang dapat terjadi pada penderita penyakit DBD?

10. Cara apakah yang paling mudah dan efektif untuk mencegah penularan penyakit DBD?

A. Pengasapan/fogging pada nyamuk dewasa B. Melalui imunisasi

C. Pemberantasan jentik/uget-uget nyamuk D. Menjauhkan dari penderita DBD

E. Tidak kontak/bersentuhan dengan penderita

11. Pemberantasan pada penular DBD yang efektif adalah pada stadium/fase apa? A. Telur

B. Larva/jentik C. Pupa

D. Nyamuk dewasa E. Kepompong

12. Kapan waktu yang paling tepat untuk melakukan PSN DBD? A. Bila ada warga yang menderita DBD

B. Setiap didatangi petugas kesehatan C. Secara rutin dan berkesinambungan D. Bila ada wabah penyakit DBD E. Kalau ada kerja bakti lingkungan

13. Manakah di bawah ini yang benar menurut Saudara? A. Menguras bak mandi tiap 1 minggu sekali

B. Menguras bak mandi tiap 2 minggu sekali C. Menguras bak mandi sekali per bulan

D. Menguras bak tidak perlu jika airnya masih bersih E. Menguras bak jika sempat

14. Selain menguras bak mandi, bagaimana cara tepat mencegah adanya jentik/ uget-uget?

(30)

C. Dikosongkan airnya D. Dibiarkan saja

E. Dibuang melalui bagian bawah saja

15. Berikut ini mana yang tidak termasuk program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN)?

A. Menguras, menutup dan mengubur B. Pengasapan/fogging

C. Memelihara ikan pemakan jentik D. Menaburi serbuk abate

E. Menguras bak mandi jika sempat

16. Kapan seharusnya pengasapan/ fogging pada nyamuk dewasa dilakukan? A. Seminggu sekali

B. 1 bulan sekali C. 2 kali dalam sebulan

D. Bila ada warga terkena DBD E. Bila ada permintaan warga

17. Menurut Saudara bak mandi yang sudah ditaburi abate harus diperlakukan bagaimana agar tida ada jentiknya?

A. Air dibiarkan dan tidak dikuras selama 1-2 bulan

B. Air dikuras dan dinding bak mandi digosok sampai bersih C. Air dikuras dan dinding bak mandi tidak digosok terlebih dahulu D. Air ditambah terus sampai tumpah tanpa dikuras

E. Air tidak perlu dikuras bila masih bersih

18. Di tempat penampungan air mana yang tidak perlu ditaburi serbuk abate? A. Bak mandi

B. Tempayan/gentong C. Tandon air

D. Jambangan bunga E. Sumur

19. Berapa lama daya lekat serbuk abate dapat bertahan menempel pada dinding tempat penampungan air setelah ditaburkan?

A. 1 – 7 hari B. 2 – 4 minggu C. 1 – 3 bulan D. 3 – 5 bulan E. > 1 tahun

20.Siapa saja yang berkewajiban melaksanakan pemberantasan sarang nyamuk? A. Petugas kesehatan

B. Kader kesehatan C. Kepala keluarga

(31)

B. PERSEPSI TENTANG PSN DBD Petunjuk Pengisian :

Pilihlah salah satu jawaban dari pernyataan di bawah ini sesuai pendapat dan pandangan Saudara dengan memberi tanda rumput (V) pada kolom :

Ø SS bilamana Sangat Setuju Ø S bilamana Setuju

Ø TS bilamana Tidak Setuju

Ø STS bilamana Sangat Tidak Setuju

NO. PERNYATAAN SS S TS STS

No. Pernyataan SS S TS STS

1 Menurut saya, semua jenis nyamuk dapat menyebabkan penyakit demam berdarah 2 Saya percaya bahwa penyakit DBD hanya

ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti 3 Menurut saya warna nyamuk Aedes aegypti

adalah bintik-bintik hitam putih

4 Saya yakin bahwa nyamuk Aedes aegypti senang bertelur di air got/parit

5 Menurut saya tempat-tempat yang bisa menjadi saran jentik adalah bak mandi, tempayan, tempat minum burung, ban bekas, perangkap semut 6 Saya yakin bahwa meskipun bak mandi bersih

(porselin/keramik) tetap bisa dihuni jentik

7 Menurut saya menguras bak mandi dilakukan bila airnya sudah kotor/keruh sekali

8 Saya yakin bahwa cara efektif untuk mencegah penyakit DBD adalah melalui pemberantasan sarang nyamuk (PSN)

9 Saya senang melakukan PSN setiap minggu agar terhindar dari penyakit DBD

10 Saya lebih senang menggunakan obat nyamuk untuk mencegah penyakit DBD daripada melakukan PSN

11 Saya masih khawatir tertular penyakit DBD sebelum dilakukan penyemprotan oleh petugas kesehatan

12 Saya percaya bahwa nyamuk Aedes aegypti hanya menggigit pada waktu pagi dan sore saja 13 Meskipun saya tahu manfaat PSN, namun saya malas untuk melaksanakan PSN setiap minggu 14 Menurut saya menaburkan bubuk abate pada bak

mandi sebaiknya tidak dilakukan karena sifatnya beracun dan mengotori air

(32)

16 Menurut saya yang dimaksud PSN dengan 3M adalah Menutup, Menguras tempat penampungan air, dan Mengubur barang-barang bekas

17 Saya percaya bahwa ban bekas, kaleng serta botol-botol bekas dapat menjadi tempat berkembang biak nyamuk Aedes aegypti, sehingga barang-barang tersebut harus dikubur 18 Saya tidak tertarik melakukan PSN secara rutin

apabila keluarga saya belum pernah terkena penyakit DBD

19 Menurut saya dalam melaksanakan PSN cukup dilakukan oleh petugas kesehatan saja tidak perlu melibatkan masyarakat

20 Meskipun masyarakat melaksanakan PSN secara rutin, saya masih khawatir di wilayah saya masih terancam DBD apabila ada sekolah yang tidak melakukan PSN

C. PERILAKU DALAM PSN DBD Petunjuk Pengisian :

(33)

pandangan Saudara dengan memberi tanda rumput (V) pada kolom Ya / Tidak

No. Pernyataan Ya Tidak

1 Saya senantiasa ikut serta dalam program

pemberantasan sarang nyamuk (PSN) yang dianjurkan oleh petugas Puskesmas

2 Saya ikut melaksanakan PSN setiap minggu sekali agar terhindar dari penyakit DBD

3 Air pada tempat minum burung tidak pernah saya ganti sebelum habis sama sekali

4 Dalam melaksanakan PSN saya juga melibatkan semua anggota keluarga saya

5 Saya hanya membuang air bak mandi saja tanpa menggosok dindingnya apabila bak mandi sudah ditaburi agar tidak terdapat jentik nyamuk

6 Saya lebih suka memakai obat nyamuk biasa untuk mencegah DBD daripada melakukan PSN

7 Saya selalu mengajak tetangga sekitar rumah untuk memeriksa jentik di bak mandi, WC dan tempayan di rumah masing-masing agar tidak ada jentiknya

8 Saya jarang sekali melakukan PSN secara rutin karena anggota keluarga saya belum pernah ada yang terkena penyakit DBD

9 Mengingat penyakit DBD dapat berakibat kematian saya harus lebih giat lagi melakukan PSN DBD secara rutin

10 Meskipun petugas kesehatan memberi abate maka saya tidak menaburkannya di tempat penampungan air karena efeknya beracun dan mengotori air

11 Saya senantiasa ikut serta dalam kerja bakti dengan melakukan 3 M di lingkungan rumah saya

12 Saya sudah mengusulkan diadakan kerja bakti secara rutin dengan melakukan PSN dalam rapat RT apabila ada warga yang menderita DBD

13 Saya memeriksa sendiri semua tempat penampungan air di rumah sendiri yang bisa dihuni jentik nyamuk

14 Saya segera menghubungi petugas kesehatan untuk minta disemprot saja apabila ada warga yang menderita DBD

15 Keluarga saya masih mempunyai kebiasaan menggantung pakaian di dalam rumah Formulir Penilaian Rumah Sehat

Berdasarkan Pedoman Teknis Penilaian Rumah Sehat (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2012)

NO ASPEK PENILAIAN KRITERIA NIL

AI

BOBOT

(34)

1. Langit langit a.tidak ada 0 b.ada, kotor,sulit dibersihkan dan rawan kecelakaan

1 c.ada, bersih dan tidak rawan

kecelakaan

2

2. Dinding a.bukan tembok (terbuat dari

anyaman bambu/ilalang)

1 b.semi permanen/setengah tembok/ pasangan bata atau batu yang tidak di plester/papan tidak kedap air

2

c.permanen (tembok/pasangan batubata yang di plester), papan kedap air

3

3. Lantai a.tanah 0

b.papan/anyaman bambu dekat dengan tanah/plesteran yang retak dan berdebu

1

C. di plester/ubin

/keramik/papan(rumah panggung) 2

4 Jendela kamar tidur a. Tidak ada 0

b. Ada 1

5 Jendela ruang keluarga a. Ada 0

b. Tidak ada 1

6 ventilasi a. Tidak ada 0

b. Ada, luas ventilasi permanen dapur <10% dari luas lantai

1 c. Ada, luas ventilasi permanen

>10% luas lantai

2

7 Lubang asap dapur a. Tidak ada 0

b. Ada, lubang ventilasi dapur

<10 % dari luas lantai dapur 1 c. Ada, lubang ventilasi dapur

>10 % dari luas lantai dapur (asap keluar dengan

sempourna), atau ada exhaust fan/ ada peralatan yang sejenis

2

8 pencahayaaan a. Tidak terang (tidak dapat digunakan untuk membaca)

0 b. Kurang terang, sehingga

kurang jelas untuk

dipergunakan membaca dengan normal

1

c. Terang dan tidak silau, sehingga dapat dipergunakan untuk membaca dengan normal

2

II Sarana Sanitasi 1. Sarana air bersih

(35)

tidak memnuhi syarat kesehatan

c. Ada, milik sendiri dan tidak memenuhi syarat kesehatan 2 d. Ada, bukan milik sendiri dan

memenuhi syarat kesehatan

3 e. Ada, milik sendiri, dan

memenuhi syarat kesehatan

4 2 Jamban (sarana

pembuangan kotoran)

a. Tidak ada 0

b. Ada, bukan leheer angsa, tidak ada tutup, disalurkan ke sungai atau kolam

1

c. Ada, bukan leher angsa, ada tutup (leher angsa), disalurkan kesungai atau kolam

2

d. Ada, bukan leher angsa, ada tutup, septik tank

3 e. Ada, leher angsa, septik tank 4 3 Saran pembuangan air

limbah (SPAL)

a. Tidak ada, sehingga tergenang tidak teratur dihalaman rumah

0 b. Ada, diresapkan tetpai

mencemari sumber air (jarak dengan sumber air <10 meter)

1

c. Ada, dialirkan ke selokan terbukan

2 d. Ada, diresapkan dan tidak

mencemari sumber air (jarak dengan sumber air >10 m)

3

e. Ada, disalurkan kesaluran tertutup (saluran kota) untuk diolah lebih lanjut

4

4 Sarana pembuangan sampah (tempat sampah)

a. Tidak ada 0

b. Ada, tapi kedap air dan tidak ada tutup

1 C. ada, kedap air, dan tidak bertututup

2 c. Ada, kedap air dan bertutup 3

III PERILAKU

PENGHUNI

44 1 Membuka jendela kamar

tidur

a. Tidak pernah dibuka 0

b. Kadang – kadang 1

c. Setiap hari dibuka 2 2 Membuka jendela ruang

keluarga a. Tidak pernah dibukab. Kadang - kadang 01 c. Setiap hari dibuka 2 3 Membersihkan halaman

rumah

a. Tidak pernah 0

b. Kadang - kadang 1

c.Setiap hari 2

(36)

balita ke jamban kebun/kolam/ sembarangan

b. Kadang kadang ke jamban 1 c. Setiap hari kejamban 2 5. Membuang sampah ke

tempat sampah

a. Dibuang ke

sungai/kebun/kolam/ sembarangan

0

b. Kadang kadang dibuang ketempat sampah

1 c. Setiap hari dibuang ketemoat

sampah

2 TOTAL HASIL PENILAIAN

Lampiran 3

(37)

Gambar 1.1 Tampak depan rumah

Gambar 1.2 Tampak dapur

Gambar 1.3 Tampak atap rumah

(38)

Gambar 1.5 Tampak ruang tamu

Gambar 1.6 Tampak kamar tidur

Gambar 1.7 Tampak kamar mandi

(39)

Gambar 2.1 Tampak depan rumah

(40)

Gambar 2.3 Tampak dapur

Gambar 2.4 Tampak tempat cuci piring

(41)

Gambar 2.6 Pemberian cinderamata kepada pemilik rumah

3. Gambar Rumah Ibu Ita

Gambar 3.1 Tampak luar rumah

(42)

Gambar 3.3 Tampak depan rumah

Gambar 3.4 Tampak ruang tamu

Gambar 3.5 Tampak dapur

(43)

Gambar 3.7 Tampak ruang makan

Gambar 3.8 Tampak tempat pembuangan limbah

Gambar 3.9 Tampak kamar mandi

(44)

Gambar 3.11 Tampak kamar tidur

(45)

Daftar Pustaka

_______. 2005. Pencegahan dan Pemberantasan Demam Berdarah di Indonesia. Jakarta : Ditjen

dddddP2M Depkes R.I., : 2-6

_______. 2006. Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue (PSN DBD) oleh Juru

dddddPemantau Jentik (Jumantik), Jakarta : Ditjen P2M Depkes R.I.

_______. 2003. Program Peningkatan Peran Serta Masyarakat dalam Pemberantasan Sarang

dddddNyamuk Demam Berdarah Dengue (PSN DBD) diKabupaten/Kota, Jakarta : Ditjen P2M

dddddDepkes R.I.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2007. Pedoman Teknis Penilaian Rumah Sehat.

dddddJakarta: Badan Penerbit Depkes.

Keputusan Menteri Kesehatan No. 829/Menkes/SK/VII/1999.Persyaratan Kesehatan

dddddPerumahan dan Lingkungan Pemukiman. Jakarta: Menkes.

Suroso, T. 1990. Pemberantasan Demam Berdarah Dengue.Depkes R.I. Jakarta: Badan

dddddPenelitian dan Pengembangan Kesehatan.

Gambar

Grafik ini menggambarkan total skor pengetahuan, persepsi, dan perilaku dari pemilik ketiga rumah yang dikunjungi
Tabel 1. Tabulasi Silang Kategori Total Komponen * Angka Bebas Jentik
Tabel 2. Tabulasi SIlang Total Nilai Pengetahuan * Angka Bebas Jentik
Gambar 1.1 Tampak depan rumah
+7

Referensi

Dokumen terkait

Saat ini, dosen PA dalam menjalani tugasnya sudah dibantu oleh sistem informasi PA, namun dirasa sistem yang dipakai masih belum dapat menghasilkan informasi yang maksimal,

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN STRATEGI KOPING PADA REMAJA.. DI SMAN

Induksi laserpunktur pada titik reproduksi ikan lele (Clarias sp) dapat meningkatkan profil kadar hormon gonadotropin (GtH-II) pada kondisi sebelum memijah dan

Tujuan dari penelitian ini adalah 1) Meningkatkan keaktifan mahasiswa dalam pembelajaran melalui pembelajaran model kooperatif TGT, 2) Meningkatkan kemampuan

PEMBEBASAN PAJAK BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN DAN RETRIBUSI IZIN MENDIRIKAN BANGUNAN RUMAH UMUM.. BAGI MASYARAKAT BERPENGHASILAN

Hubungan Tingkat Resiliensi Dengan Kecemasan Akademik Pada Mahasiswa Penerima Beasiswa Bidikmisi Upi Bandung1. Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu |

menilai kemungkinan adanya pengaruh-pengaruh dari pekerjaan seawal mungkin yang perlu dikendalikan dengan usaha-usaha pencegahan. 2) Semua perusahaan harus melakukan

SMA Negeri 1 Magetan memiliki 18 pegawai Tata Usaha, 6 orang bagian kesiswaan, 2 orang bagian keuangan yang bertugas di loket pembayaran siswa, 4 orang bagian keamanan, 2 orang