HAKIKAT MANUSIA MENURUT FILSAFAT
EKSISTENSIALISME dan FUNGSIONALISME
DISUSUN UNTUK MEMENUHI SALAH SATU TUGAS FILSAFAT
DISUSUN OLEH ANGGI SEPTIYANI
BAB I PENDAHULUAN
A. Pendahuluan
Dalam filsafat dibedakan antaraesensia dan eksistensia. Esensia membuat benda, tumbuhan, binatang dan manusia. Oleh esensia, sosok dari segala yang ada mendapatkan bentuknya. Oleh esensia, kursi menjadi kursi. Pohon mangga menjadi pohon mangga. Harimau menjadi harimau. Manusia menjadi manusia. Namun, dengan esensia saja, segala yang ada belum tentu berada. Kita dapat membayangkan kursi, pohon mangga, harimau, atau manusia. Namun, belum pasti apakah semua itu sungguh ada, sungguh tampil, sungguh hadir. Di sinilah peran eksistensia.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Eksistensialisme
Eksistensialisme yaitu suatu usaha untuk menjadikan masalah menjadi konkret karena adanya manusia dan dunia. Menurut Sartre eksistensialisme yaitu filsafat yang memberi penekanan eksistensi yang mendahului esensi. Memandang segala gejala yang ada berpangkal kepada eksistensi. Dengan adanya eksistensi akan penuh dengan lukisan-lukisan yang konkret dengan metode fenomenologi (cara keberadaan manusia).
Eksistensi sendiri yaitu eks artinya keluar, sintesi artinya berdiri; jadi eksistensi adalah berdiri sebagai diri sendiri. Menurut Heideggard “Das wesen des daseins liegh in seiner Existenz” , da-sein adalah tersusun dari dad an sein. “da” disana. Sein berarti berada. Jadi artinya manusia sadar dengan tempatnya. Menurut Sartre adanya manusia itu bukanlah “etre” melainkan “ a etre” yang artinya manusia itu tidak hanya ada tetapi dia selamanya harus dibentuk tidak henti-hentinya.[1]
Menurut Parkey (1998) aliran eksistensialisme terbagi menjadi 2, yaitu; bersifat theistic(bertuhan) dan atheistic. Menurut eksistensialisme sendiri ada 3 jenis; tradisional, spekulatif dan skeptif.
Eksistensialisme sangat berhubungan dengan pendidikan karena pusat pembicaraan eksistensialisme adalah keberadaan manusia sedangkan pendidikan hanya dilakukan oleh manusia.
Seperti juga halnya, perasaan anda yang tertekan tidak bereksistensi, meskipun perasaan itu nyata ada dan terjadi dalam diri anda. Apa yang bersifat public kiranya selalu menempati ruang dan terjadi dalam waktu. Oleh karena itu eksistensi sering dikatakan berkenaan dengan objek-objek yang merupakan kenyataan dalam ruang dan waktu.
B. Latar Belakang Lahirnya Eksistensialisme
Filsafat eksistensialisme adalah salah satu aliran filsafat yang mengguncangkan dunia walaupun filsafat ini tidak luar biasa dan akar-akarnya ternyata tidak dapat bertahan dari berbagai kritik.
Filsafat selalu lahir dari suatu krisis. Krisis berarti penentuan. Bila terjadi krisis, orang biasanya meninjau kembali pokok pangkal yang lama dan mencoba apakah ia dapat tahan uji[7]. Dengan demikian filsafat adalah perjalanan dari satu krisis ke krisis yang lain.
Begitu juga filsafat eksistensialisme lahir dari berbagai krisis atau merupakan reaksi atas aliran filsafat yang telah ada sebelumnya atau situasi dan kondisi dunia, yaitu:
1. Materialisme
Menurut pandangan materialisme, manusia itu pada akhirnya adalah benda seperti halnya kayu dan batu. Memang orang materialis tidak mengatakan bahwa manusia sama dengan benda, akan tetapi mereka mengatakan bahwa pada akhirnya, jadi pada prinsipnya, pada dasarnya, pada instansi yang terakhir manusia hanyalah sesuatu yang material; dengan kata lain materi; betul-betul materi. Menurut bentuknya memang manusia lebih unggul ketimbang sapi tapi pada eksistensinya manusia sama saja dengan sapi.
2. Idealisme
Aliran ini memandang manusia hanya sebagai subyek, hanya sebagai kesadaran;
menempatkan aspek berpikir dan kesadaran secara berlebihan sehingga menjadi seluruh
manusia, bahkan dilebih-lebihkan lagi sampai menjadi tidak ada barang lain selain pikiran.
3. Situasi dan Kondisi Dunia
Munculnya eksistensialisme didorong juga oleh situasi dan kondisi di dunia Eropa Barat yang secara umum dapat dikatakan bahwa pada waktu itu keadaan dunia tidak menentu. Tingkah laku manusia telah menimbulkan rasa muak atau mual. Penampilan manusia penuh rahasia, penuh imitasi yang merupakan hasil persetujuan bersama yang palsu yang disebut konvensi atau tradisi. Manusia berpura-pura, kebencian merajalela, nilai sedang mengalami krisis, bahkan manusianya sendiri sedang mengalami krisis. Sementara itu agama di sana dan di tempat lain dianggap tidak mampu memberikan makna pada kehidupan.
C. Ciri-ciri Aliran
Eksistensialisme merupakan gerakan yang sangat erat dan menunjukkan pemberontakan tambahan metode-metode dan pandangan-pandangan filsafat barat. Istilah eksistensialisme tidak menunujukkan suatu sistem filsafat secara khusus. Meskipun terdapat perbedaan-perbedan yang besar antara para pengikut aliran ini, namun terdapat tema-tema yang sama sebagai ciri khas aliran ini yang tampak pada penganutnya. Mengidentifikasi ciri aliran eksistensialisme sebagai berikut :
a. Eksistensialisme adalah pemberontakan dan protes terhadap rasionalisme dan masyarakat modern, khususnya terhadap idealisme Hegel.
b. Eksistensialisme adalah suatu proses atas nama individualis terhadap konsep-konsep, filsafat akademis yang jauh dari kehidupan konkrit.
c. Eksistensialisme juga merupakan pemberontakan terhadap alam yang impersonal (tanpa kepribadian) dari zaman industri modern dan teknologi, serta gerakan massa.
e. Eksistensialisme menekankan situasi manusia dan prospek (harapan) manusia di dunia.
f. Eksistensialisme menekankan keunikan dan kedudukan pertama eksistensi, pengalaman kesadaran yang dalam dan langsung.
D. Tokoh-tokoh Eksistensialisme dan Pemikirannya
Aliran filsafat eksistensilisme tidak lepas dari hasil pemikirn dari para filosof pada masa itu. pelor dan tokoh-tokoh eksistensialisme diantaranya:
1. Soren Aabye Kiekegaard
Kierkegaard lahir di Kopenhagen, Denmark pada 5 Mei 1813, sebagai anak bungsu dari tujuh bersaudara. Ayahnya, Michael Pedersen Kierkegaard, merupakan pedagang grosir yang menjual kain, pakaian, dan makanan. Setelah mengenyam pendidikan di sekolah putra yang prestisius di Borgerdydskolen, ia melanjutkan pendidikan tingginya di Universitas Kopenhagen. Di sini pria yang bernama lengkap Soren Aabye Kierkegaard ini mempelajari filsafat dan teologi. Sejumlah tokoh seperti F.C. Sibbern, Poul Martin Moller, dan H.L. Martensen menjadi gurunya di sana.
Karya-karya Kierkegaard dapat dikelompokkan dalam dua periode. Periode pertama ditulis antara 1841 dan 1845. Sebagian besar bernuansa filosofis dan estetis, beberapa ditulis dalam nama samaran, Johannes Climacus. Karya-karya dalam periode
ini ialahThe Conceptof Irony with Constant Reference
to Socrates (1841), Either/Or( 1843), Fear andTrembling( 1842),The Conceptof Dread( 1844), Stageson Life's Way( 1844), Philosophical Fragments(1844), Concluding Unscientific Postscript to the Philosophical Fragments (1846).
2. Karl Jaspers
filsafat, tetapi baru pada usia 38 tahun ia dapat sepenuhnya memenuhi panggilan filosofisnya.
Selama tiga semester ia belajar hukum di Universitas Heidelberg dan Munchen, tetapi ia mengubah haluan dengan memilih studi kedokteran yang dijalankan di Berlin, Gottingen dan Heidelberg. Di Universitas Heidelberg ia mengambil spesialiasi psikiatri. Tetapi ia tetap tertarik dengan filsafat, antara lain melalui Max Weber, ahli ekonomi, sejarawan dan sosiolog terkenal yang dikaguminya.
Jaspers menulis buku Allgemeine Psychopathologie (Psikologi umum) pada tahun 1910. Di buku ini, ia tidak melukiskan penyakit-penyakit, tetapi menyoroti manusia yang sakit. Ia menggunakan metode deskripsi fenomenologis Husserl. Pada 1916 ia menjadi profesor psikologi di Heidelberg. Lalu pada 1919 ia menulis buku Psychologie der Weltanschauungen (Psikologi Tentang Pandangan-Pandangan Dunia). Di buku ini, ia melukiskan berbagai sikap yang diambil manusia terhadap kehidupan. Dua buku ini ditulis berdasarkan pengalamannya sebagai psikiater dan menunjukkan betapa kentalnya ketertarikan Karl Jaspers pada filsafat.
Karl Jaspers mencurahkan seluruh perhaStiannya pada filsafat mulai tahun 1921, setelah ia menerima gelar profesorat filsafat di Heidelberg. Ada yang tak setuju dengan pemberian gelar ini, sebab ia dianggap bukan filsuf profesional. Namun, setelah menerima gelar penghargaan itu, ia menulis banyak sekali karya, antara lain karya besar yang terdiri dari tiga jilid,Philosophie (1932). Jilid I berjudulWeltori enti er ung (Orientasi Dalam Dunia), jilid II berjudulE xi st enz er hell ung (Penerangan Eksistensi), dan jilid III Met aphy si k (Metafisika).
3. Martin Heidegger
dalam realitasnya being (sein) tidak sama sebagai ‘being´ ada pada umumnya, sesuatu yang mempunyai ada dan di dalam ada, dan hal tersebut sangat bertolak belakang dengan ada sebagai pengada. Heidegger menyebutbei ng sebagai eksistensi manusia, dan sejauh ini analisis tentang ‘being´ biasa disebut sebagai eksistensi manusia (Dasein).Das ei n adalah tersusun darida dans ei n. ‘Da´ disana (there), ‘sein´ berarti berada (to be/being). Artinya manusia sadar dengan tempatnya.
4. Jean Paul Sartre
Jean-Paul Sartre (lahir di Paris, Perancis, 21 Juni 1905 ± meninggal di Paris, 15 April 1980 pada umur 74 tahun) adalah seorang filsuf dan penulis Perancis. Ialah yang dianggap mengembangkan aliran eksistensialisme.Sartre menyatakan, eksistensi lebih dulu ada dibanding esensi (L'existence précède l'essence). Manusia tidak memiliki apa-apa saat dilahirkan dan selama hidupnya ia tidak lebih hasil kalkulasi dari komitmen-komitmennya di masa lalu. Karena itu, menurut Sartre selanjutnya, satu-satunya landasan nilai adalah kebebasan manusia (L'homme est condamné à être libre).
Eksistensi mendahului esensi´, begitulah selalu filosof-filosof eksistensialis berkata, ´dan cara manusia bereksistensi berbeda dengan cara beradanya benda-benda. Karenanya masalah ³Ada´ merupakan salah satu tema terpenting dalam tradisi eksistensialisme. Bagi Sartre, manusia menyadari Ada-nya dengan meniadakan (mengobjekkan) yang lainnya. Dari Edmund Husserl ia belajar tentang intensionalitas, yakni kesadaran manusia yang tidak pernah timbul dengan sendirinya, namun selalu merupakan ³kesadaran akan sesuatu´. Baik kita ajukan contoh: Saat ini saya menyadari tengah duduk dalam sebuah forum diskusi, bersama dengan orang lain, serta benda-benda lain, sekaligus menyadari ahwa saya berbeda dengan orang lain, dan juga bukan sekedar benda. Saya meniadakan (mengobjekkan orang dan benda lain). Begitulah kira-kira titik tolak filsafat Sartre.
Untuk memperjelas masalah ini,ia menciptakan dua buah istilah; être-en-soi, danêtre-pour-soi. Dengan ini pula ia membedakan cara ber-Adanya manusia dengan cara beradanya benda-benda.
potensi di luar konsepsi awalnya. Sebuah komputer sebelum dirakit, telah dikonsepsikan sebagai alat mempermudah pekerjaan manusia. Karena itu ia tergeletak begitu saja tanpa kesadaran, tak punya potensi untuk melampui keadaannya yang sekarang; eksistensinya mampat karena esensinya mendahului eksistensi. Sementara manusia, dengan Ada yang bersifatêtre-pour-soi, eksistensi yang mendahului esensi, selalu punya kapasitas untuk melampaui dirinya saat ini, dan menyadari Ada-nya. Misalnya seorang yang esensinya kita identifikasi sebagai pelajar, ketika ia lulus, maka esensinya sebagai pelajar menjadi tidak relevan lagi. Atau bisa jadi, esok hari ia kedapatan mencuri, maka ia kembali didefinisikan sebagai pencuri. Begitu seterusnya, sampai ia mati.
E. Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa:
1. Meski bermacam-macam pandangan dan metode dan sikap dalam gerakan
eksistensialisme, para filsuf dari kelompok ini senantiasa memperhatikan kedudukan manusia. Titik sentral pembicaraan mereka adalah soal keterasingan manusia dengan dirinya dan dengan dunia.
2. Gerakan eksistensialisme ini muncul sebagai protes atau reaksi dari aliran filsafat terdahulu, yaitu materialisme dan idealisme serta situasi dan kondisi dunia pada
Fungsionalisme
BAB l
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Fungsionalisme adalah orientasi dalam psikologi yang menekankan pada proses mental dan menghargai manfaat psikologi serta mempelajari fungsi-fungsi kesadaran dalam menjembatani antara kebutuhan manusia dan lingkungannya. Maksudnya,
Fungsionalisme memandang bahwa masyarakat adalah sebuah sistem dari beberapa bagian yang saling berhubungan satu sama lain dan tak bisa dipahami secara terpisah.
Fungsionalisme adalah sebuah studi tentang operasi mental, mempelajari fungsi-fungsi kesadaran dalam menjembatani antara kebutuhan manusia dan lingkungannya.
Fungsionalisme menekankan pada totalitas dalam hubungan pikiran and perilaku. Dengan demikian, hubungan antar manusia dengan lingkungannya merupakan bentuk manifestasi dari pikiran dan perilaku.
Fungsionalisme memandang bahwa pikiran, proses mental, persepsi indrawi, dan emosi adalah adaptasi organisme biologis. Fungsionalisme lebih menekankan pada
fungsifungsi dan bukan hanya fakta-fakta dari fenomena mental, atau berusaha
menafsirkan fenomena mental dalam kaitan dengan peranan yang dimainkannya dalam kehidupan.
Fungsionalisme juga memandang bahwa psikologi tak cukup hanya mempersoalkan apa dan mengapa terjadi sesuatu (strukturalisme) tetapi juga mengapa dan untuk apa
B. Rumusan Masalah
Masalah yang yang dibahas dalam makalah ini dirumuskan sebagai berikut
1. Apa yang dimaksud dengan aliran fungsionalisme? 2. Apa latar belakang fungsionalisme?
3. Apa ciri – ciri dari aliran fungsionalisme?
4. Ada beberapa aliran yang terdapat pada aliran fungsionalisme?
BAB ll
PEMBAHASAN
A. Fungsionalisme
Fungsionalisme merupakan orientasi dalam psikologi yang menekankan pada proses mental dan menghargai manfaat psikologi serta mempelajari fungsi-fungsi kesadaran dalam menjembatani antara kebutuhan manusia dan lingkungannya. Maksudnya, Fungsionalisme memandang bahwa masyarakat adalah sebuah sistem dari beberapa bagian yang saling berhubungan satu sama lain dan tak bisa dipahami secara terpisah.
Fungsionalisme adalah sebuah studi tentang operasi mental, mempelajari fungsi-fungsi kesadaran dalam menjembatani antara kebutuhan manusia dan lingkungannya.
Fungsionalisme menekankan pada totalitas dalam hubungan pikiran and perilaku. Dengan demikian, hubungan antar manusia dengan lingkungannya merupakan bentuk manifestasi dari pikiran dan perilaku.
Fungsionalisme memandang bahwa pikiran, proses mental, persepsi indrawi, dan emosi adalah adaptasi organisme biologis. Fungsionalisme lebih menekankan pada
menafsirkan fenomena mental dalam kaitan dengan peranan yang dimainkannya dalam kehidupan.
Fungsionalisme juga memandang bahwa psikologi tak cukup hanya mempersoalkan apa dan mengapa terjadi sesuatu (strukturalisme) tetapi juga mengapa dan untuk apa
(fungsi)suatu tingkah laku tersebut terjadi. Fungsionalisme lebih menekankan pada aksi dari gejala psikis dan jiwa seseorang yang diperlukan untuk melangsungkan kehidupan dan berfungsi untuk penyesuaian diri psikis dan social.
B. Latar Belakang
Aliran Fungsional adalah sebuah aliran dalam sosiologi modern yang dikembangkan oleh B. Malinowski, Merton, persons 7 P.A. Sorokin. Aliran ini menganggap masyarakat sebagai sebuah sistem sosial tunggal dimana masing-masing unsurnya menjalankan suatu fungsi definitif yang saling terkait. Sistem ini tidak memiliki dasar tunggal yang bersifat menentukan.
penekanan tentang bagaimana konsep abstrak ini dipakai dalam analisis sosiologi. Sehingga yang di dapat adalah organisasi konsep dalam bentuk sistem analisa yang mencakup persoalan dunia tanpa terganggu oleh detail empiris.
C. Ciri – Ciri dari Fungsionalisme
Aliran fungsionalisme memiliki beberapa ciri khas, yaitu :
1. Menekankan pada fungsi mental dibandingkan dengan elemen-elemen metal. 2. Fungsi-fungsi psikologis adalah adaptasi terhadap lingkungan sebagaimana
adaptasi biologis Darwin. Kemampuan individu untuk berubah sesuai tuntutan dalam hubungannya dengan lingkungan adalah sesuatu yang terpenting.
3. Sangat memandang penting aspek terapan atau fungsi dari psikologi itu sendiri bagi berbagai bidang dan kelompok manusia.
4. Aktivitas mental tidak dapat dipisahkan dari aktivitas fisik, maka stimulus danbrespons adalah suatu kesatuan.
5. Psikologi sangat berkaitan dengan biologi dan merupakan cabang yang berkembang dari biologi. Maka pemahaman tentang anatomi dan fungsi fisiologis akan sangat membantu pemahaman tentang fungsi mental. 6. Menerima berbagai metode dalam mempelajari aktivitas mental manusia,
meskipun sebagian besar riset dilakukan di Univ. Chicago ( pusat perkembangn fungsionalisme) menggunakn metode eksperimen, pada dasarnya aliran
fungsionalisme tidk berpegang pada satu metode inti. Metode yang digunnakan sangat tergantung dari permasalahan yang dihadapi.
Beberapa Aliran Fungsionalisme
Fungsionalisme mempunyai 2 (dua) aliran, namun pendiri fungsionalisme itu sendiri
adalah :
1. William James (1842-1910)
James termasuk pendukung aliran evolusionalisme dan bersamaan John Dewey
mendirikan aliran fungsionalisme. James tergolong orang yang berpikiran bebas. Yaitu bebas mengeluarkan dan mengembangkan ide atau kritik yang orisinil. Salah satu cirri jalan pikirannya adalah berusaha sedekat mungkin dengan kenyataan. Teori emosi menjelaskan tentang hubungan antara perubahan fisiologis dengan emosi, Emosi identik dengan perubahan-perubahan peredaran darah, Emosi adalah hasil dari persepsi
seseorang tentang perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuh terhadap rangsang dari luar dan Membantah pernyataan bahwa emosilah yang menyebabkan perubahan pada tubuh.
2. Aliran Fungsionalisme Chicago
Terdapat banyak tokoh Fungsionalisme di Universitas Chicago sehingga dapat dikatakan menjadi aliran tersendiri yang disebut Fungsionalisme Chicago. . John Dewey (1859-1952)
Pada tahun 1886 menulis buku yang berjudul “Psychology” dan dalam bukunya ini
beliau mengenalkan cara orang Amerika belajar ppsikologi yaitu melalui cara pragmatisme
Sarjana-sarjana di Amerika kurang tertarik dengan pertanyaan “Apakah jiwa itu?”
tetapi lebih tertarik pada pertanyaan “Apakah kegunaan jiwa?”
John Dewey juga menganjurkan metode yang Ia sebut dengan Learning by doing
Dewey berpendapat bahwa segala pemikiran dan perbuatan harus selalu mempunyai
tujuan, oleh karena alasan itulah ia menentang teori elementarisme.
b. James Rowland Angell
James memiliki tiga pandangan terhadap fungsionalisme, yaitu:
Fungsionalisme adalah psikologi tentang “mental operation” (aktivitas bekerjanya
jiwa) sebagai lawan dari psikologi tentang elemen-elemen mental,
Fungsionalisme adalah psikologi tentang kegunaan dasar-dasar kesadaran. Ini juga
disebut sebagai teori emergensi dari kesadaran,
Fungsionalisme adalah psiko-phisik, yaiitu psikologi tentang keseluruhan organisme
yang terdiri dari badan dan jiwa.
2. Aliran Fungsionalisme Columbia
Selain di Chhicago, Fungsionalisme juga mempunyai banyak tokoh di Teachers College Columbia yang disebut aliran Columbia. Ciri aliran ini adalah kebebasannya meneliti tingkah laku yang dianggap sebagai kesatuan yang tak dapat dipisahkan dan psikologi tak perlu ersifat deskriptif karena yang penting adalah korelasi tingkah laku dengan tingkah laku lain.
a. James MC Keen Cattel (1866-1944)
Keen Cattel mengusung teori mengenai kebebasan dalam mempelajari tingkah laku. Ia mempunyai dua pandangan mengenai aliran fungsionalisme, yaitu:
Fungsionalisme tidak perlu menganut paham dualisme karena manusia dianggap
sebagai keseluruhan yang merupakan suatu kesatuan,
Fungsionalisme tidak perlu deskriptif dalam mempelajari tingkah laku, karena yang
(korelasi) antara satu tingkah laku dengan tingkah laku lainnya.
Dapat dikatakan bahwa semua cabang-cabang psikologi modern
merupakan perkembangan dari fungsionalisme. Dalam percobaanya Cattel menemukan “kapasitas individual” kemudian ia menciptakan alat-alat untuk mengukur kapasitas, kemampuan individual yang sekaran kita kenal sebagai psikotes / mental test.
b.Edward Lee Thorndike (1874-1949)
Edward Lee pernah bekerja di “Teachers College of Columbia” dibawah kepemimpinan James Mc. Keen Cattel. Thorndike lebih menekankan penelitiannya pada cara dan dasar belajar. Dasar pembelajaran yaitu asosiasi dan cara coba-salah (trial and error). Ia merumuskan beberapa prinsip:
The Law of Effect yaitu hukum yang menyatakan intensitas hubungan antara
stimulus-respons akan meningkat jika mengalami keadaan yang menyenangkan, sebaliknya akan melemah jika keadaan tak menyenangkan.jika terjadi suatu keadaan akan terjadi asosiasi dengan keadaan yang sebelumnya yaitu hubungan stimulus-respon atau responsrespons.
The Law of Exercise atau The Law of use and disuse adalah hukum bahwa
stimulus-respons dapat timbul atau didorong dengan latihan berulangulang. Jika tak dilatih hubungan tersebut akan melemah dan kemudian menghilang.
1. Tokoh fungsionalisme tradisional
Auguste comte
adalah paham positivisme, pembagian antara statistika sosial, dan dinamika sosial.
Herbert spencer
Positivisme dan organisisme kita jumpai lagi dalam karya ahli sosiologi dari inggris yakni, Herbert spencer, spencer pun melakukan perbandingan antara organisme individu dengan organisme sosial dan mengamatinya, sebagaimana organisme biologis. Masyarakat manusia pun berkembang secara evolusioner dari bentuk sederhana ke bentuk kompleks.
Emile durkheim
Durkheim merupakan tokoh sosiologi klasik yang secara rinci membahas tentang konsep fungsi dan menggunakan analisa terhadap berbagai pokok pembahasannya. Dalam bukunya the division of labour society selaim membahas konsep fungsi dirinya pun, membahas fungsi pembagian kerja dalam masyarakat.
2. Tokoh Fungsionalisme modern
Talcot Parsons
Talcot parsons lahir tahun 1902 di colorado springs, colorado. Dia lahir di kalangan keluarga yang intelek dan taat; ayahnya seorang pendeta gereja konggresional, seorang profesor, dan presiden dari sebuah kampus kecil. Parsons mendapat gelar sarjana dari Amherst college, pada tahun 1924, dan kuliah pasca sarjana di London School of Economics. Di tahun berikutnya dia pindah ke Heidelberg, jerman. Max webber menghabiskan sebagian kariernya di heidelberg, meskipun dia wafat lima tahun sebelum kedatangan parson, webber tetap meninggalkan pengaruhnya di kampus itu. Parson sangat dipengaruhi oleh webber, bahkan disertasi doktoralnya di heildelberg membahas karya webber.
mempublikasi bukunya yang bejudul, The structur of social action, satu buku yang tidak hanya memperkenalkan teoretisi sosial utama semisal Webber kepada sosiolog lain, namun juga menjadi dasar bagi pengembang teori parson itu sendiri,
BAB lll
KESIMPULAN
Fungsionalisme adalah orientasi dalam psikologi yang menekankan pada proses mental dan menghargai manfaat psikologi serta mempelajari fungsi-fungsi kesadaran dalam menjembatani antara kebutuhan manusia dan lingkungannya. Maksudnya,
Fungsionalisme memandang bahwa masyarakat adalah sebuah sistem dari beberapa bagian yang saling berhubungan satu sama lain dan tak bisa dipahami secara terpisah.
Fungsionalisme adalah sebuah studi tentang operasi mental, mempelajari fungsi-fungsi kesadaran dalam menjembatani antara kebutuhan manusia dan lingkungannya.
DAFTAR PUSTAKA
Hadiwijono, Harun, Sari Sejarah Filsafat II, Kanisius, Yogyakarta, 1980 Katsof, Louis O., Pengantar Filsafat, Tiara Wacana, Yogyakarta, 2004
Muzairi, Eksistensialisme Jean Paul Sartre, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2002 Wiramihardja, Sutardjo A., Pengantar Filsafat, PT Refika Aditama, Bandung, 2006
[1] Muzairi. Eksistensialisme Jean Paul Sartre, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002)
[2] Louis O.Katsof, Pengantar Filsafat, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2004)
[3] Ibid.