Peran Pemerintah Kota Pekalongan
dalam Mengatasi
Dampak Negative “Pasar Tiban”
A. Pendahuluan
Pasar tiban adalah pasar atau tempat jual beli yang terjadi secara tiba-tiba (tiban).Pasar ini sendiri juga tidak menetap di suatu tempat atau berpindah-pindah. Bisa dibilang pasar ini tiba-tiba datang dan tiba-tiba pergi.Lokasinya ada di beberapa tempat di Kota Pekalongan, diantaranya ada di jalan kusumabangsa (didepan Pabrik Rokok)setiap sabtu sore, di Jalan Veteran (depan RSUD Kraton)setiap kamis sore, dan di landungsari (depan MAN 3 Pekalongan)setiap jumat sore. Selain itu keunikan lain dari pasar ini adalah dibuka mulai dari sore hari mulai pukul 16.00 sampai dengan malam hari pukul 21.30.
Fenomena ini muncul pada saat home industry di Kota Pekalongan mengalami kelesuan dan terjadi PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) di Industri yang berada di Pekalongan sekitar 2000an awal. Awalnya muncul di depan pabrik rokok untuk mengantisipasi karyawan pabrik yang pulang sore dan baru gajian. Namun, lama-kelamaan penjual di pabrik itu meluas hingga di depan STAIN pekalongan bahkan hari ini sudah sampai di depan pemakaman beji atau menempati daerah sekitar 300 meter sepanjang jalan Kusuma Bangsa. Setelah itu pun, fenomena ini tidak hanya ada di Jalan Kusuma bangsa melainkan juga berpindah-pindah ke Jalan Veteran dank e tempat lain. Pada akhirnya di Kota Pekalongan sendiri tidak ada hari tanpa pasar tiban. Seakan-akan penjual dan pembeli sudah hapal kapan dan dimana “pasar tiban” berada setiap harinya.
Pada satu sisi keberadaan “pasar tiban” menguntungkan pembeli dan penjual karena lebih dekat lokasinya. Selain itu juga mengatasi fenomena pengangguran di Kota Pekalongan. Namun, pada satu sisi juga member dampak negative diantaranya adalah lokasi berjualan “pasar tiban” seringkali memakai bahu jalan sehingga mengakibatkan kemacetan di wilayah tersebut pada saat terjadi pasar tiban. Kesumpekan juga menjadi dampak yang tidak bisa dihindari dari keberadaan “pasar tiban” tersebut.
peraturan daerah yang digunakan adalah pembuatan peraturan daerah nomor 5 tahun 2013 tentang Ketertiban Umum di Sepanjang Jalan. Dengan adanya perda ini Pemerintah Kota Pekalongan punya dasar untuk melakukan pelarangan dan penggusuran terhadap para pedagang yang memakai bahu jalan. Tentu saja hal ini ditolah oleh para pedagang, karena beranggapan bahwa “pasar tiban” adalah bagian dari kearifan local Kota Pekalongan yang seharusnya tidak dilarang melainkan justru harus diberdayakan. Demo pun terjadi menentang hal itu pada 1 April 20141.
Relokasi juga diusahakan oleh pemerintah Kota Pekalongan dengan memindahkan lokasi berjualan “pasar tiban” di Pekalongan timur ke Pasar Sorogenen. Namun, hal itu ditolak oleh para pedagang karena lokasinya berjauhan dan tidak menguntungkan. Apalagi lapangan sorogenen seringkali dipakai kegiatan pasar malam sehingga tumpang tindih dengan aktivitas “pasar tiban”
Sampai hari ini, Pemerintah Kota Pekalongan belum mampu mengatasi dampak negative dari keberadaan “pasar tiban”. Lokasi “pasar tiban” justru malah bertambah semakin banyak bahkan pedagangnya pun bertambah. Tentu saja berakibat pada kemacetan yang semakin parah dan kesumpekan di lokasi “pasar tiban”.
B. Pembahasan
Dari penjelana di atas kecenderungan Pemerintah Kota Pekalongan melakukan kebijakan yang bersifat Top down artinya tidak melibatkan unsur pedagang dalam mengatasi masalah yang timbul secara bersama-sama. Selain itu, Pemerintah Kota Pekalongan juga hanya melihat “pasar tiban” sebagai dampak negative tanpa mengkaji dampak positif yang ditimbulkan diantaranya adalah mengatasi pengangguran dan meningkatkan gairah UKM di Kota Pekalongan. Seharusnya Pemerintah Kota Pekalongan melakukan pemberdayaan dan pembinaan terhadap “pasar tiban”