2.1 Pendapatan Negara
Menurut Undang undang Republik Indonesia Nomor 18 tahun 2016 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun 2017 Pendapatan Negara adalah adalah hak Pemerintah Pusat yang diakui sebagai penambah kekayaan bersih yang
terdiri atas Penerimaan Perpajakan, Penerimaan Negara BukanPajak, dan Penerimaan Hibah. Penerimaan Perpajakan adalah semua penerimaan negara yang
terdiri atas Pendapatan Pajak Dalam Negeri dan Pendapatan Pajak Perdagangan Internasional. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) adalah semua penerimaan Pemerintah Pusat yang diterima dalam bentuk penerimaan dari Sumber Daya
Alam (SDA), pendapatan bagian laba Badan Usaha Milik Negara (BUMN), PNBP lainnya, serta pendapatan Badan Layanan Umum (BLU). Penerimaan
Hibah adalah semua penerimaan negara baik dalam bentuk devisa dan atau devisa yang dirupiahkan, rupiah, jasa, dan atau surat berharga yang diperoleh dari pemberi hibah yang tidak perlu dibayar kembali dan yang tidak mengikat, baik
yang berasal dari dalam negeri maupun dari luar negeri.
2.2 Pajak
Soemitro dalam bukunya Mardiasmo (2016:1) mendefinisikan pajak sebagai iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang (yang dapat
dipaksakan ) dengan tiada mendapat jasa timbal (kontraprestasi) yang langsung
dapat ditunjukkan dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum. Menurut Prof. Dr. P. J. A. Andriani (dalam Waluyo, 2011:2) Pajak adalah iuran kepada negara (yang dapat dipaksakan) yang terutang oleh yang wajib
membayarnya menurut peraturan-peraturan, dengan tidak mendapat prestasi kembali, yang langsung dapat ditunjuk, dan yang gunanya adalah untuk
membiayai pengeluaran-pengeluaran umum yang berhubungan dengan tugas negara yang menyelenggarakan pemerintahan. Menurut Undang-undang Republik Indonesia Nomor 16 tahun 2009 pajak adalah kontribusi wajib kepada negara
yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan
digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa pengertian pajak adalah iuran yang wajib diberikan kepada negara dengan tidak mendapatkan imbalan yang
kemudian dapat digunakan untuk membayar pengeluaran umum.
2.3 Fungsi Pajak
Menurut Mardiasmo (2016), terdapat dua fungsi pajak yaitu budgetair dan regulerend. Fungsi Budgetair, yaitu pajak sebagai sumber dana bagi pemerintah
untuk membiayai pengeluaran-pengeluarannya. Fungsi Regulerend atau fungsi mengatur, pajak sebagai alat untuk mengatur atau melaksanakan kebijakan
pemerintah dalam bidang sosial dan ekonomi. Menurut Diana (2013:37) pajak memiliki 2 fungsi utama yaitu Fungsi Penerimaan (Budgeter) sebagai alat (sumber untuk memasukan uang sebanyak-banyaknya dalam Kas Negara dengan tujuan
Sebagai sumber pendapatan negara pajak berfungsi untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran negara. Fungsi Mengatur (Regulerend) Yaitu sebagai alat untuk mencapai tujuan tertentu di bidang keuangan, bidang ekonomi, politik,
budaya, pertahanan keamanan serta bidang-bidang yang lainnya. Contoh fungsi pajak sebagai regulerend Pajak yang tinggi dikenakan terhadap minuman keras
untuk mengurangi konsumsi minuman keras, pajak yang tinggi dikenakan terhadap barang-barang mewah untuk mengurangi gaya hidup konsumtif, tarif pajak untuk ekspor 0% untuk mendorong ekspor produk Indonesia di pasar dunia.
2.4 Asas-asas Perpajakan
Menurut Adam Smith sebagaimana dikutip oleh Nurmantu (2013), mengemukakaan 4 (empat) asas yang disebut sebagai four maxims atau four canons, diantaranya adalah equity, certainty, convenience, dan efficiency. Berikut
penjelasan masing masing asas.
a. Equity adalah supaya tekanan pajak antara subjek pajak masing-masing
hendaknya dilakukan seimbang dengan kemampuannya, yaitu seimbang dengan penghasilan yang dinikmatinya dibawah perlindungan negara.
b. Certainty, dimaksudkan supaya pajak yang harus dibayar seseorang harus
terang dan pasti tidak dapat dimulur-mulur atau ditawar-tawar.
c. Convenience, dimaksudkan supaya dalam memungut pajak pemerintah
hendaknya memperhatikan saat-saat yang paling baik bagi pembayar pajak. d. Efficiency, dimaksudkan supaya pemungutan pajak hendaknya dilaksanakan
sehemat-hematnya, jangan sampai biaya-biaya memungut lebih tinggi daripada
2.5 Jenis Pajak
Menurut Mardiasmo (2016), pajak dapat diklasifikasikan menurut golongan yang terdiri dari pajak langsung dan tidak langsung, berdasarkan sifatnya terdiri
dari pajak subjektif dan pajak objektif, sedangkan menurut lembaga pemungutannya pajak terdiri pajak pusat dan pajak daerah.
a. Menurut golongannya
Menurut golongan, pajak dibagi kedalam dua tipe yaitu pajak langsung dan pajak tidak langsung. Pajak Langsung, yaitu pajak yang harus dipikul sendiri
oleh wajib pajak dan tidak dapat dibebankan atau dilimpahkan kepada orang lain. Contoh: Pajak Penghasilan (PPh). Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).Pajak
Tidak Langsung, yaitu pajak yang pada akhirnya dapat dibebankan atau dilimpahkan kepada orang lain. Contoh: Pajak Pertambahan Nilai (PPN). PPn-BM/pajak penjualan atas barang mewah , BeaMaterai(BM) dan Cukai.
b. Menurut Sifatnya
Menurut sifatnya pajak dibagi kedalam dua tipe yaitui Pajak subjektif dan
Pajak Objektif. Pajak Subjektif adalah pajak yang berpangkal atau berdasarkan pada subyeknya, dalam arti memperhatikan keadaan diri wajib pajak. Sedangkan Pajak Objektif adalah pajak yang berpangkal pada obyeknya, tanpa
memperhatikan keadaan diri wajib pajak. c. Menurut Lembaga Pemungutannya
Menurut lembaga pemungutannya, pajak dibagi kedalam Pajak Pusat dan pajak Daerah. Pajak Pusat, yaitu pajak yang dipungut oleh pemerintah pusat dan digunakan untuk membiayai rumah tangga negara. Contoh: Pajak Penghasilan
Mewah (PPnBM), Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), dan Bea Materai. Pajak Daerah, yaitu pajak yang dipungut oleh pemerintah daerah dan digunakan untuk membiayai rumah tangga daerah. Pajak daerah terdiri atas pajak provinsi
dan pajak kabupaten.
2.6 Pengertian Cukai
Cukai menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 2007 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 adalah pungutan
Negara yang dikenakan terhadap barang-barang tertentu yang mempunyai sifat atau karakteristik yang ditetapkan dalam undang-undang. Barang-barang tertentu
yang mempunyai karakteristik tertentu yang dimaksudkan adalah barang yang perlu dikendalikan, peredarannya perlu diawasi, pemakaiannya dapat menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat atau lingkungan hidup atau
pemakaiannya perlu pembebanan pungutan Negara demi keadilan dan keseimbangan
2.7 Barang Kena Cukai
Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 2007
Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 Barang Kena Cukai terdiri dari Etil Alkohol atau Etanol dengan tidak mengindahkan bahan
yang digunakan dan proses pembuatannya, minuman mengandung Etil Alkohol dengan kadar berapa pun, dengan tidak mengindahkan bahan yang digunakan dan proses pembuatannya termasuk konsentrat yang mengandung Etil Alkohol, Hasil
pengolahan tembakau lainnya dengan tidak mengindahkan digunakan atau tidak bahan pengganti atau bahan pembantu dalam pembuatannya.
2.7.1 Etil Alkohol atau Etanol dan Minuman yang Mengandung Etil Alkohol
Etil alkohol dalah barang cair, jernih, dan tidak berwarna, merupakan
senyawa organikdengan rumus kimia C2H5OH, yang diperoleh baik secara peragian dan/atau penyulingan maupun secara sintesa kimiawi. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 2007 Tentang Perubahan Atas
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 menyatakan bahwa Minuman yang mengandung Etil Alkohol adalah semua barang cair yang lazim disebut minuman yang
mengandung etil alkohol yang dihasilkan dengan cara peragian, penyulingan, atau cara lainnya, antara lain bir, shandy, anggur, gin, whisky, dan yang sejenis, sedangkan yang dimaksud minuman mengandung konsentrat adalah bahan yang
mengandung etil alkohol yang digunakan sebagai bahan baku atau bahan penolong dalam pembuatan minuman yang mengandung etil alcohol
2.7.2 Cukai Hasil Tembakau
Cukai Hasil tembakau meliputi dari sigaret, cerutu, rokok daun,, tembakau
iris dan hasil pengolahan tembakau lainnya. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 2007 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11
Tahun 1995 menyatakan bahwa a. Sigaret
Sigaret adalah hasil tembakau yang dibuat dari tembakau rajangan yang dibalut
pengganti atau bahan pembantu yang digunakan dalam pembuatannya. Sigaret terdiri dari sigaret kretek, sigaret putih, dan sigaret kelembak kemenyan. Sigaret kretek adalah sigaret yang dalam pembuatannya dicampur dengan
cengkih, atau bagiannya, baik asli maupun tiruan tanpa memperhatikan jumlahnya. Sigaret putih adalah sigaret yang dalam pembuatannya tanpa
dicampuri dengan cengkih, kelembak, atau kemenyan. Sigaret putih dan sigaret kretek terdiri dari sigaret yang dibuat dengan mesin atau yang dibuat dengan cara lain, daripada mesin. Yang dimaksud dengan sigaret putih dan sigaret
kretek yang dibuat dengan mesin adalah sigaret putih dan sigaret kretek yang dalam pembuatannya mulai dari pelintingan, pemasangan filter,
pengemasannya dalam kemasan untuk penjualan eceran, sampai dengan pelekatan pita cukai, seluruhnya, atau sebagian menggunakan mesin. Yang dimaksud dengan sigaret putih dan sigaret kretek yang dibuat dengan cara lain
daripada mesin adalah sigaret putih dan sigaret kretek yang dalam proses pembuatannya mulai dari pelintingan, pemasangan filter, pengemasan dalam
kemasan untuk penjualan eceran, sampai dengan pelekatan pita cukai, tanpa menggunakan mesin. Sigaret kelembak kemenyan adalah sigaret yang dalam pembuatannya dicampur dengan kelembak dan/atau kemenyan asli maupun
tiruan tanpa memperhatikan jumlahnya. b. Cerutu
Cerutu adalah hasil tembakau yang dibuat dari lembaranlembaran daun tembakau diiris atau tidak, dengan cara digulung demikian rupa dengan daun tembakau, untuk dipakai, tanpa mengindahkan bahan pengganti atau bahan
c. Rokok Daun
Rokok daun adalah hasil tembakau yang dibuat dengan daun nipah, daun jagung (klobot), atau sejenisnya, dengan cara dilinting, untuk dipakai, tanpa
mengindahkan bahan pengganti atau bahan pembantu yang digunakan dalam pembuatannya.
d. Tembakau Iris
Tembakau iris adalah hasil tembakau yang dibuat dari daun tembakau yang dirajang, untuk dipakai, tanpa mengindahkan bahan pengganti atau bahan
pembantu yang digunakan dalam pembuatannya. e. Hasil Pengolahan Tembakau Lainnya
Hasil pengolahan tembakau lainnya adalah hasil tembakau yang dibuat dari daun tembakau selain yang disebut dalam huruf ini yang dibuat secara lain sesuai dengan perkembangan teknologi dan selera konsumen, tanpa
mengindahkan bahan pengganti atau bahan pembantu yang digunakan dalam pembuatannya.
2.8 Tarif Cukai
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 2007
Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 Barang Kena Cukai hasil Tembakau dikenai Cukai berdasar tarif paling tinggi yaitu sebesar dua
ratus tujuh puluh lima persen dari harga dasar apabila harga dasar yang digunakan adalah harga jual pabrik atau lima puluh tujuh persen dari harga dasar apabila harga dasar yang digunakan adalah harga jual eceran untuk semua barang yang
ratus tujuh puluh lima persen dari harga dasar apabila harga dasar yang digunakan adalah nilai pabean ditambah bea masuk atau lima puluh tujuh persen dari harga dasar yang digunakan adalah harga jual eceran. Barang Kena Cukai lainnya
dikenai cukai berdasarkan tarif paling tinggi sebesar seribu seratus lima puluh persen dari harga dasar apabila harga dasar yang digunakan adalah harga jual
pabrik; atau delapan puluh persen dari harga dasar apabila harga dasar yang digunakan adalah harga jual eceran. untuk yang diimpor seribu seratus lima puluh persen dari harga dasar apabila harga dasar yang digunakan adalah nilai pabean
ditambah bea masuk atau delapan puluh persen dari harga dasar apabila harga dasar yang digunakan adalah harga jual eceran.
2.9 Pelunasan Cukai
Berdasar Peraturan Menteri Keuangan No 108/PMK.04/2008 Tentang
Pelunasan Cukai, Cukai atas barang kena cukai yang dibuat di Indonesia harus dilunasi pada saat pengeluaran barang kena cukai dari pabrik atau tempat
penyimpanan, sedangkan cukai atas barang kena cukai yang diimpor dilunasi pada saat barang kena cukai diimpor untuk dipakai. Ada tiga cara pelunasan cukai, yakni pembayaran, pelekatan pita cukai, atau pembubuhan tanda pelunasan cukai
lainnya. Pelunasan Pita Cukai dengan cara pembayaran dilakukan dengancara membayar cukai sebelum barang kena cukai dikeluarkan dari pabrik,tempat
penyimpanan, tempat penimbunan sementara, atau tempat penimbunan berikat. Pelunasan cukai dengan cara pelekatan pita cukai dilakukan dengan melekatkan pita cukai yang seharusnya dan dilekatkan sesuai ketentuan, sebelum barang kena
berikat, atau di tempat pembuatan barang kena cukai di luar negeri. Pelunasan cukai dengan cara pembubuhan tanda pelunasancukai lainnya dilakukan dengan membubuhkan tanda pelunasan cukai lainnya yang seharusnya dan dibubuhkan
sesuai dengan ketentuan, sebelum barang kena cukai dikeluarkan dari pabrik, tempat penimbunan sementara, tempat penimbunan berikat, atau di tempat
pembuatan barang kena cukai di luar negeri.
2.9.1Pelunasan Cukai dengan Cara Pembayaran
Peraturan Menteri Keuangan No 108/PMK.04/2008 Tentang Pelunasan Cukai menyatakan bahwa Pelunasan Cukai dengan cara pembayaran dilakukan
atas barang kena cukai berupa Minuman Mengandung Etil Alkohol (MMEA) yang dibuat di Indonesia dan Etil Alkohol. Pembayaran Cukai Minuman Mengandung Etil Alkohol (MMEA) yang dibuat di Indonesia dilakukan melalui
Bank atau Pos Persepsi sedangkan Pembayaran Cukai Etil Alkohol yang berasal dari Impor dilakukan melalui Bank Devisa Persepsi atau Pos Persepsi.
Pembayaran Cukai dilakukan dengan membayar secara tunai kecuali bagi pengusaha pabrik yang mendapat kemudahan membayar secara berkala.
2.9.2Pelunasan Cukai dengan Pelekatan Pita
Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan No 108/PMK.04/2008 Tentang
Pelunasan Cukai, Pelunasan Cukai dengan cara Pelekatan Pita Cukai dilakukan atas barang kena cukai berupa hasil tembakau dan Minuman Mengandung Etil Alkohol (MMEA) yang diimpor untuk dipakai dalam daerah pabean. Pelekatan
impor dilakukan di negara asal barang kena cukai, di tempat penimbunan sementara, atau di tempat penimbunan berikat. Pita cukai yang dilekatkan pada kemasan penjualan eceran Minuman Mengandung Etil Alkohol (MMEA) yang
berasal dari impor harus sesuai dengan tarif cukai dan kadar etil alkohol pada isi Kemasan, merupakan hak importir barang kena cukai yang bersangkutan dan
sesuai dengan peruntukannya, utuh, tidak rusak, atau bukan bekas pakai, tidak lebih dari satu keping dan dilekatkan pada kemasan yang tertutup dan menutup tempat pembuka kemasan yang tersedia. Untuk Cukai Hasil Tembakau dilakukan
dengan cara melekatkan pita cukai yang seharusnya dan dilekatkan sesuai ketentuan, sebelum barang kena cukai dikeluarkan dari pabrik, tempat
penimbunan sementara, tempat penimbunan berikat, atau di tempat pembuatan barang kena cukai di luar negeri. Pelekatan cukai untuk hasil tembakau yang dibuat di Indonesia dilakukan di dalam pabrik. Sedangkan hasil tembakau yang
diimpor untuk dipakai dilakukan di negara asal barang kena cukai, di tempat penimbunan sementara atau di tempat penimbunan tempat berikat.
Pelekatan pita cukai yang dilekatkan pada kemasan penjualan eceran hasil tembakau harus sesuai dengan tarif cukai dan Harga Jual Eceran hasil tembakau yang ada di dalam kemasan, merupakan hak pengusaha pabrik atau importir
barang kena cukai yang bersangkutan dan sesuai dengan peruntukannya, utuh, tidak rusak, atau bukan bekas pakai, tidak lebih dari satu keping, dilekatkan pada
kemasan yang tertutup dan menutup tempat pembuka kemasan yang tersedia dan khusus untuk hasil tembakau berupa cerutu, pita cukai dapat dilekatkan per batang. Pita cukai hasil tembakau disediakan di Kantor Pusat Direktorat Jenderal
pengusaha pabrik atau importir barang kena cukai berupa hasil tembakau harus mengajukan permohonan penyediaan pita cukai kepada kepala kantor sesuai dengan contoh format sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Menteri
Keuangan. Setelah mengajukan permohonan penyediaan pita cukai pengusaha pabrik atau importir barang kena cukai berupa hasil tembakau melakukan
pemesanan pita cukai dengan menggunakan dokumen pemesanan pita cukai sesuai dengan contoh format sebagaimana ditetapkan. Dalam hal pengusaha pabrik atau importir barang kena cukai berupa hasil tembakau tidak
menrealisasikan seluruh pita cukai yang telah diajukan permohonan penyediaan pita cukai sampai akhir tahun, dikenakan biaya pengganti penyediaan pita cukai
atas pita cukai yang tidak direalisasikan. Pembayaran biaya pengganti penyediaan pita cukai dilakukan melalui bank persepsi atau pos persepsi.
2.10 Pemesanan Pita Cukai
Menurut Peraturan Direktur Jenderal bea dan Cukai Nomor
PER-24/BC/2015 Tentang Penyediaan dan Pemesanan Pita Cukai, Permohonan Penyediaan Pita Cukai Minuman Mengandung Etil Alkohol MMEA (P3CMMEA) adalah dokumen cukai yang digunakan pengusaha untuk mengajukan permohonan
penyediaan pita cukai sebelum pengajuan dokumen pemesanan pita cukai Minuman Mengandung Etil Alkohol (MMEA). Penyediaan Pita Cukai Hasil
Tembakau (P3CHT) adalah dokumen cukai yang digunakan pengusaha untuk mengajukan permohonan penyediaan pita cukai sebelum pengajuan dokumen pemesanan pita cukai hasil tembakau. Permohonan Pita Cukai Hasil Tembakau
permohonan pemesanan pita cukai Minuman Mengandung Etil Alkohol MMEA. Permohonan Pita Cukai Hasil Tembakau (CK-1) adalah dokumen cukai yang digunakan pengusaha untuk mengajukan permohonan pemesanan pita cukai hasil
tembakau. Jika pengusaha telah mengajukan P3CHT tetapi tidak direalisasikan dengan CK-1 maka pengusaha wajib membayar biaya pengganti. Untuk
menjalakankan kegiatan sebagai pengusaha pabrik, pengusaha tempat penyimpanan, importir barang kena cukai, penyalur atau pengusaha tempat penjualan eceran pengusaha wajib memiliki Nomor Pokok Pengusaha Barang
Kena Cukai (NPPBKC). Aplikasi yang dapat diakses oleh pihak berkepentingan adalah Sistem Aplikasi Cukai Sentralisasi (SAC-S). Bukti penerimaan negara
adalah dokumen yang diterbitkan oleh Bank atau Pos Presepsi atas transaksi penerimaan negara dengan teraan NTPN dan NTB atau NTP sebagai sarana administrasi lain kedudukannya disamakan dengan surat setoran. Syarat yang
harus dimiliki oleh pengusaha yang akan mengajukan permohonan pemesanan pita cukai hasil tembakau adalah telah memiliki Nomor Pokok Pengusaha Barang
Kena Cukai (NPPBKC) dan tidak dalam keadaan dibekukan, tidak memiliki utang cukai yang tidak dibayar pada waktunya, kekurangan cukai, atau sanksi administrasi berupa denda yang belum dibayar sampai dengan tanggal jatuh
tempo, telah melunasi biaya pengganti penyediaan pita cukai dalam waktu yang ditetapkan, tidak adanya dugaan melakukan pelanggaran pidana dibidang cukai
berdasarkan rekomendasi dari salah satu unit kerja di Lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.
Pita cukai hasil tembakau untuk pengusaha pabrik hasil tembakau disedikan
Permohonan Pita Cukai Hasil Tembakau bulan november tahun sebelumnya sampai dengan bulan oktober tahun berjalan lebih dari dua ratus lima puluh ribu lembar. Sedangkan pesanan yang jumlahnya dibawa dua ratus lima puluh ribu
lembar disediakan di kantor. Untuk pita cukai hasil tembakau untuk importir disediakan di kantor pusat. Untuk penyediaan pita cukai pengusaha wajib
mengajukan Permohonan Penyediaan Pita Cukai Hasil Tembakau (P3CHT) kepada Kepala Kantor melalui data elektronik maupun tulisan diatas formulir. Kepala Kantor meneruskan Permohonan Pemesanan Pita Cukai Hasil Tembakau
(P3CHT) ke Kantor Pusat dalam bentuk Elektronik jika Kantor telah menerapkan sistem SAC-S atau tulisan dalam bentuk formulir bila Kantor tidak menerapkan
SAC-S. Pengusaha yang telah mengajukan dokumen Penyediaan Pita Cukai Hasil Tembakau (P3CHT) dapat melakukan pemesanan pita cukai dengan mengajukan dokumen Permohonan Pita Cukai Hasil Tembakau (CK-1) kepada kepala kantor.
Pita Cukai Minuman Mengandung Etil Alkohol (MMEA) untuk pengusaha pabrik disediakan di Kantor sedangkan untuk importir disediakan di Kantor Pusat.
Untuk Penyediaan Pita Cukai pengusaha wajib mengajukan Permohonan Penyediaan Pita Cukai Pita Cukai Minuman Mengandung Etil Alkohol (P3C MMEA) kepada Kepala Kantor dalam bentuk elektronik maupun tulisan diatas
formulir. Kepala Kantor meneruskan Permohonan Penyediaan Pita Cukai Pita Cukai Minuman Mengandung Etil Alkohol (P3C MMEA) ke Kantor Pusat dalam
bentuk elektronik atau tulisan diatas formulir. Pengusaha yang telah mengajukan dokumen Penyediaan Pita Cukai Minuman Mengandung Etil Alkohol (P3C MMEA) dapat melakukan pemesanan pita cukai dengan mengajukan dokumen
2.11 Pembayaran atau Penyetoran Penerimaan negara.
Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 40/PMK.04/2016
Tentang Pembayaran atau Penyetoran Penerimaan Negara menyatakan bahwa Penerimaan Negara Dalam Rangka Kepabeanan dan Cukai meliputi penerimaan
negara dalam rangka 1mpor, penerimaan negara dalam rangka ekspor, penenmaan negara atas barang kena cukai, dan penenmaan negara yang berasal dari pengenaan denda administrasi atas pengangkutan barang tertentu yang dipungut
oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Bendahara Penerimaan adalah orang yang ditunjuk untuk menerima, menyimpan, menyetorkan, menatausahakan, dan
mempertanggungjawabkan uang pendapatan Negara atau Daerah dalam rangka pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) pada kantor atau satuan kerja
kementerian Negara atau lembaga pemerintah daerah. Bank Persepsi dan Pos Persepsi yang selanjutnya disebut Bank atau Pos Persepsi adalah penyedia
layanan penerimaan setoran Penerimaan Negara sebagai collecting agent dalam Sistem Penerimaan Negara menggunakan surat setoran elektronik. Kode Billing adalah kode identifikasi yang diterbitkan oleh sistem billing atas suatu jenis
Pembayaran atau Penyetoran yang akan dilakukan oleh Wajib Bayar atau Wajib Setor. Nomor Transaksi Pos (NTP) adalah nomor bukti transaksi penyetoran
penerimaan negara yang diterbitkan oleh Kantor Pos sebagai Pos Persepsi. Nomor Transaksi Bank (NTB) adalah nomor bukti transaksi penyetoran penerimaan negara yang diterbitkan oleh bank sebagai Bank Persepsi. Bukti Penerimaan
transaksi penerimaan negara dengan teraan NTPN dan Nomor Transaksi Bank (NTB) atau Nomor Transaksi Pos (NTP) sebagai sarana administrasi lain yang kedudukannya disamakan dengan surat setoran pabean, cukai, dan pajak. Nomor
Transaksi Penerimaan Negara (NTPN) adalah nomor tanda bukti transaksi Pembayaran atau Penyetoran ke Kas Negara yang tertera pada Bukti Penerimaan
Negara (BPN) yang diterbitkan oleh sistem settlement. Jenis jenis penerimaan negara meliputi Impor,Ekspor dan penerimaan negara dari barang kena cukai. Penerimaan negara Impor terdiri dari bea masuk, bea masuk anti dumping, bea
masuk imbalan, bea masuk tindakan pengamanan, bea masuk pembalasan, bea masuk dalam rangka Kemudahan Impor. Impor untuk tujuan Ekspor meliputi
denda administrasi pabean, pendapatan pabean lainnya, PPN Impor, PPh Pasal 22 impor, PPnBM impor, bunga penagihan PPN dan penerimaan negara bukan pajak. Jenis penerimaan negara Ekspor terdiri dari bea keluar, denda administrasi bea
keluar, bunga bea keluar, pendapatan pabean lainnya; dan penerimaan negara bukan pajak. Penerimaan Negara atas barang kena cukai terdiri dari cukai hasil
tembakau, cukai etil alcohol, cukai minuman mengandung etil alcohol, denda administrasi cukai, pendapatan cukai lainnya, pajak rokok dan penerimaan negara bukan pajak.
Pembayaran atau Penyetoran Penerimaan Negara dilakukan oleh Wajib Bayar atau Wajib Setor melalui Bank atau Pos Persepsi. Pembayaran Penerimaan
Negara atas impor atau ekspor barang yang dilakukan oleh penumpang, awak sarana pengangkut, dan pelintas batas, dapat dilakukan melalui Bendahara Penerimaan di Kantor Bea dan Cukai. Wajib Bayar atau Wajib Setor melakukan
menggunakan Kode Billing. Untuk memperoleh Kode Billing, dapat dilakukan dengan melakukan perekaman data ke sistem billing Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dengan ketentuan perekaman data oleh Wajib Bayar atau kuasanya atau
Pejabat Bea dan Cukai, dilakukan untuk setiap dokumen dasar Pembayaran Penerimaan Negara, perekaman data oleh Wajib Setor dapat dilakukan untuk
setiap dokumen dasar Pembayaran Penerimaan Negara. Pejabat Bea dan Cukai memberikan pelayanan kepabeanan dan cukai apabila NTPN diterima secara elektronik, dalam hal Wajib Bayar melakukan Pembayaran Penerimaan Negara
melalui Bank/Pos Persepsi atau Bendahara Penerimaan memberikan bukti Pembayaran Penerimaan Negara, dalam hal Wajib Bayar melakukan Pembayaran
Penerimaan Negara melalui Kantor Bea dan Cukai. Pembayaran Penerimaan Negara yang dilakukan oleh Wajib Bayar melalui Bank atau Pos Persepsi merupakan tanda bukti pelunasan kewajiban sesuai dengan tanggal bayar yang
tertera pada BPN.
2.12 Penatausahaan Penerimaan Negara
Menurut Peraturan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Nomor PER-06/BC/2017 tentang Tata Cara Penatausahaan Penerimaan Negara,
Penerimaan Negara adalah Penerimaan Negara dalam rangka impor, Penerimaan Negara dalam rangka ekspor, Penerimaan Negara atas barang kena cukai, dan
Penerimaan Negara yang berasal dari pengenaan denda administrasi atas pengangkutan barang tertentu yang dipungut oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Laporan Keuangan adalah bentuk pertanggungjawaban pemerintah atas
anggaran, neraca, laporan arus kas, laporan operasional, laporan perubahan ekuitas, laporan perubahan saldo anggaran lebih, dan catatan atas Laporan Keuangan. Bukti Penerimaan Negara (BPN) adalah dokumen yang diterbitkan
oleh Bank/Pos Persepsi atas transaksi Penerimaan Negara dengan teraan Nomor Transaksi Penerimaan Negara(NTPN) dan NTB atau NTP sebagai sarana
administrasi lain yang kedudukannya disamakan dengan surat setoran pabean, cukai, dan pajak. Nomor Transaksi Penerimaan Negara (NTPN) adalah nomor bukti transaksi penerimaan yang diterbitkan melalui modul Penerimaan Negara.
Nomor Transaksi Bank (NTB) adalah nomor bukti transaksi penerimaan yang diterbitkan oleh Bank Persepsi atau Bank Devisa Persepsi. Nomor Transaksi Pos
(NTP) adalah nomor bukti transaksi penerimaan yang diterbitkan oleh Pos Persepsi. Penatausahaan Penerimaan Negara atas data Penerimaan Negara yang diterima dan dipungut oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, meliputi
pencatatan Penerimaan Negara, validasi Penerimaan Negara, Rekonsiliasi Penerimaan Negara, pelaporan Penerimaan Negara. Pencatatan Penerimaan
Negara didasarkan pada laporan realisasi anggaran (LRA) berdasarkan tanggal NTPN (cash basis), laporan operasional (LO) berdasarkan tanggal dokumen dasar pembayaran (acrual basis). Pencatatan Penerimaan Negara dilakukan dengan cara
mengunduh data penerimaan dari Billing System dalam hal seluruh proses pembayaran dan penyetoran Penerimaan Negara sudah melalui Modul
Penerimaan Negara Generasi 2 (MPN-G2). Validasi Penerimaan Negara dilakukan dengan tujuan untuk meyakinkan bahwa data Penerimaan Negara telah tercatat pada kertas kerja penerimaan dan sesuai dengan Dokumen Sumber.
yaitu Rekonsiliasi Penerimaan Negara yang dilakukan oleh Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai atau Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai, tingkat wilayah, yaitu Rekonsiliasi Penerimaan Negara yang dilakukan oleh
Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai atau Kantor Wilayah bersama dengan Kantor Pelayanan dan tingkat pusat, yaitu Rekonsiliasi Penerimaan Negara yang
dilakukan oleh Kantor Pusat bersama dengan Kantor Wilayah dan Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai.
Hasil Rekonsiliasi Penerimaan Negara dilaporkan dengan ketentuan sebagai
berikut pada Rekonsiliasi Penerimaan Negara tingkat pusat, Kepala Subdirektorat yang menjalankan fungsi pelaksanaan di bidang penerimaan pada Direktorat yang
menjalankan fungsi evaluasi implementasi penerimaan menyampaikan kepada Kepala Bagian yang menjalankan tugas pelaksanaan urusan keuangan pada Sekretariat Direktorat Jenderal. pada Rekonsiliasi Penerimaan Negara tingkat
wilayah, Kepala Bidang yang menjalankan fungsi terkait penerimaan kepabeanan dan cukai menyampaikan kepada Kepala Bagian yang menjalankan tugas
pelaksanaan urusan keuangan. pada Rekonsiliasi Penerimaan Negara tingkat kantor dilaporkan dengan ketentuan untuk Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai disampaikan oleh Kepala Bidang yang mempunyai tugas pelayanan teknis
di bidang kepabeanan dan cukai kepada Kepala Bagian yang menjalankan tugas pelaksanaan urusan keuangan untuk Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan
Cukai Tipe Madya Pabean dan/atau Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Cukai disampaikan oleh Kepala Seksi yang menjalankan tugas melakukan pemungutan dan pengadministrasian bea masuk, bea keluar, cukai dan
urusan keuangan dan untuk Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Pratama Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Pratama disampaikan oleh Kepala Subseksi yang menjalankan tugas melakukan
pemungutan dan pengadministrasian bea masuk, bea keluar, cukai dan pungutan negara kepada Kepala Urusan yang menjalankan fungsi pelaksanaan urusan
keuangan. Pelaporan hasil Rekonsiliasi Penerimaan Negara dilakukan secara periodik. Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai menyampaikan hasil Rekonsiliasi Penerimaan Negara tingkat kantor Kepada Kantor Wilayah. Kantor
Wilayah menyampaikan hasil Rekonsiliasi Penerimaan Negara tingkat wilayah kepada Direktur yang menjalankan fungsi evaluasi implementasi penerimaan.