• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kilas Memahami Check And Balance Lembaga

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Kilas Memahami Check And Balance Lembaga"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

Nama : Fiat Modjo

Jurusan : SPPI

NIM : 1520310059

Judul : Check and Balances Lembaga Tinggi Negara

A. Pendahuluan

Check and Balances secara umum bagi para sarjana selalu mengacu pada

gagasan Montesquieu1 yang menjelaskan bahwa alat-alat kelengkapan negara selalu terkait dengan tiga cabang kekuasaan, yaitu legislatif, eksekutif dan yudikatif. Sehingga menjadi lumrah bila kita selalu mendengar ungkapan-ungkapan dari kebanyakan para sarjana mengenai konsep lembaga negara yang selalu merunut pada ketiga cabang kekuasaan itu. Padahal konsep lembaga negara diberbagai negara lainnya termasuk di Indonesia akan berbeda berdasarkan pilihan politiknya. Itu artinya tidak ada sistem ketatanegaraan yang murni kerena semuanya adalah penafsiran sekaligus menuntut kreatifitas masing-masing negara dalam melihat kebutuhannya masing-masing.2

Pun demikian, gagasan Montesquieu terkait trias politica merupakan spirit dalam menerapkan sistem check and balances antar lembaga-lembaga negara. Gagasan ini lahir sebagai hasil dari ajaran klasik tentang pemisahan kekuasaan

(separation of power), dan pertama kali diadopsi kedalam konstitusi negara oleh

Amerika Serikat (US Constitution 1789). Berdasarkan ide ini, suatu negara

dikatakan memiliki sistem checks and balances yang efektifjika tidak ada satupun cabang pemerintahan yang memiliki kekuasaan dominan, serta dapat dipengaruhi oleh cabang lainnya. Dengan kata lain, Montesquieu menegaskan bahwa jika ketiga fungsi kekuasaan itu terhimpun dalam satu badan saja, niscaya kebebasan akan terancam.3 Ide inilah yang menurut hemat penulis sudah tidak relevan lagi yang mana satu organ hanya boleh menjalankan satu fungsi dan tidak boleh saling mencampuri urusan masing-masing dalam arti yang mutlak. Sementara bila melihat

1 Nezar Patria dan Andi Arief, Antonio Gramsci, “Negara Dan Hegemoni”, (Cet; IV,

Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2015), h. 93

2 Moh. Mahfud MD, Konstitusi Dan Hukum Dalam Kontroversi Isu, (Cet; III, Jakarta:

PT. Raja Grafindo Persada, 2012), h. 362

3 Jimly Asshiddiqie, Perkembangan Dan Konsolidasi Lembaga Negara Pasca Reformasi,

(2)

kenyataannya pada saat ini, maka sudah tidak mungkin lagi hubungan antar cabang kekuasaan itu tidak saling bersentuhan, dan bahkan ketiganya bisa dikatakan sederajat serta saling mengawasi sesuai dengan prinsip check and balances.

Secara etimologis, checks and balances memiliki dua suku kata, yakni checks dan balances. Komponen pertama mengandung arti adanya hak untuk ikut memeriksa / menilai / mengawasi / mencari informasi dan konfirmasi terhadap

suatu keadaan (the right to check); sedangkan komponen kedua merujuk pada alat untuk mencari keseimbangan. Instrumen ini dinilai sangat penting mengingat secara alamiah manusia yang mempunyai kekuasaaan cenderung menyalahgunakan, dan manusia yang mempunyai kekuasaan tak terbatas pasti akan menyalahgunakannya. Tegasnya, dalam perspektif Inu Kencana Syafiie, checks and

balances merupakan model kebijakan dalam kelembagaan yang jika hal itu terjadi

akan melahirkan demokrasi.4

Uraian di atas memberi pemahaman kepada kita semua betapa pentingnya

checks and balances dapat terjadi melalui lembaga-lembaga negara di Indonesia.

Tujuan utamanya guna mewujudkan Indonesia yang berdemokrasi dan menghindarkan dari munculnya tirani. Oleh karena itu pembahasan ini akan menyoroti checks and balances Lembaga-Lembaga Tinggi Negara di Indonesia baik sebelum dan sesudah amandemen UUD 1945.

Apapun yang penulis bahas dalam makalah ini masih sangat membutuhkan masukan-masukan yang konstruktif dari pembaca sebagai bahan evaluasi kedepan. Akhirnya penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya bagi pembaca yang mau menyumbangkan gagasanya dalam rangka membenahi isi makalah ini.

B. Check and balances Lembaga-Lembaga Tinggi Negara di Indonesia pra

amandemen UUD’45

Pada bagian ini penulis akan mengungkap beberapa permasalahan pokok mengenai checks and balances Lembaga-Lembaga Tinggi Negara pra amandemen

(3)

UUD’45. Tentu tidak secara mendalam penulis akan mengurainya, dan akan lebih melihat ketimpangan-ketimpangan yang terjadi antar lembaga tinggi negara tersebut disertai dengan alasan-alasannya. Karena itu sangat besar harapan penulis agar pembaca dapat mendalaminya melalui referensi-referensi lainnya yang berkaitan dengan permasalahan ini.

1. Orde lama (1945-1965)

Pada masa ini keadaan negara tidak stabil karena secara maksimal energi para tokoh-tokoh bangsa dihabiskan untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesa. Sehingga checks and balances lembaga-lembaga negaranya pun belum maksimal. Salah satu alasan penting misalnya dengan melihat pengalaman Indonesia selama 350 tahun dijajah oleh Belanda memberikan pengaruh secara psikologis pada tokoh-tokoh besar bangsa Indonesia khususnya pada Soekarno sebagai presiden yang merasa telah diinjak-injak harga dirinya. Sehingga kebutuhan untuk dapat dihargai (prestige)5 terimplementasi dalam berbagai kebijakan-kebijakan yang terkesan dadakan bahkan cenderung mengarah pada otoritarianisme seperti lahirnya demokrasi terpimpin.

Bila diamati prinsip checks and balances lembaga-lembaga negara di era orde lama, maka ringkasnya dapat dibagi menjadi dua masa, pertama, masa demokrasi konstitusional (1945-1959). Kembali melihat sejarah sehari setelah

Indonesia menyatakan kemerdekaannya, maka PPKI mengadakan sidang yang secara aklamatif Soekarno dan Hatta terpilih sebagai presiden dan wakil presiden, serta dihari yang sama pula Indonesia mengesahkan UUD. Bisa dimaklumi dengan keadaan negara yang baru merdeka menyebabkan presiden Soekarno disebut-sebut sebagai diktator konstitusional sebagaimana yang tercantum dalam pasal IV “Sebelum MPR, DPR, dan DPA dibentuk berdasarkan UUD ini, segala kekuasaan dijalankan oleh presiden dengan bantuan sebuah Komite Nasional”.6 Jadi lembaga-lembaga yang ada termasuk Komite Nasional

pun hanya sebagai pembantu presiden.

5 Ganewati Wuryandari, dkk, Politik Luar Negeri Indonesia Di Tengah Pusaran Politik

Domestik, (Cet; 1, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2008), h. 97

6 Afan Gaffar, Politik Indonesia Transisi Menuju Demokrasi, (Cet; VI, Yogyakarta:

(4)

Namun kekuasaan presiden yang begitu besar tidak berlansung lama setelah keluarnya Maklumat Wakil Presiden No. X yang diusulkan oleh KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat) pada 16 Oktober 1945 yang isinya menyatakan “Bahwa KNIP, sebelum terbentuknya MPR dan DPR, diserahi kekuasaan legislatif dan ikut menetapkan GBHN.” Lebih lanjut KNIP mengusulkan dengan argument-argumennya agar kabinet bertanggung jawab

kepada parlemen, dalam hal ini KNIP, tepat pada 11 November 1945. Yang kemudian usulan-usulan itu langsung mendapatkan respon yang positif dari Soekarno. Sehingga gaya presidensial berubah menjadi gaya perlementer tepat pada 14 November 1945 ketika presiden membubarkan kabinetnya dan sekaligus menjadi perdana menteri. Dengan demikian kedudukan presiden hanya bersifat simbolik dan seremonial.7

Sulit untuk dideteksi alasan-alasan yang valid terkait perubahan sistem presidensial ke parlementer yang begitu cepat. Ada yang menduga kalau Belanda ketika itu selalu mendeskreditkan Indonesia sebagai negara yang baru lahir dengan menyatakan Soekarno adalah sosok presiden yang diktator. Atau mungkin saja pada waktu itu Soekarno dan Hatta bersama para “pembentuk negara” merupakan sosok demokrat sejati.8 Bahkan secara lebih jelas bisa saja karena Belanda saat itu begitu muak untuk berunding dengan Soekarno mengenai kemerdekaan Indonesia. Sebagaimana dalam ungkapan Prof. Logeman menteri asal Belanda mengatakan “Praten met Soekarno is even onwaardig als onvruchthbar”, yang berarti “Berunding dengan Soekarno adalah hina sekaligus tanpa guna”.9 Jadi bisa dipahami kalau perubahan sistem

presidensial ke parlementer sebagai bagian dari strategi agar Belanda mau berunding dengan pemerintah Indonesia melalui Sutan Sjahrir sebagai Kepala Pemerintahannya, serta sebagai upaya menggiring opini pada dunia

internasional bahwa Indonesia sangat mengedepankan semangat demokrasi guna meraih dukungan sebagai negara yang berdaulat.

7 Ibid, h. 56-58

8 Ibid, h. 56

(5)

Selanjutnya masih banyak tugas yang harus ditempuh Indonesia, utamanya melalui jalur diplomasi guna mendapatkan status negara merdeka dimata Internasional. Mengingat upaya diplomasi berupa perundingan dengan Belanda seperti perjanjian Linggardjati, Renville dan Van Roijen-Roem tidak memberikan hasil yang maksimal. Nanti setelah Indonesia menggunakan bantuan pihak ketiga, seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa maka Belanda setuju

untuk menyelenggarakan Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Agustus-September 1949. Pada saat itulah Indonesia mendapatkan kedaulatannya sebagai negara yang merdeka pada 27 Desember 1949 yang kemudian Indonesia berubah dari NKRI menjadi Republik Indonesia Serikat. Wilayah-wilayahnya mencakup seluruh jajahan Belanda dengan pengecualian Irian Barat.10

Dengan begitu situasi ini yang semula UUD’45 sudah tidak diberlakukan secara resmi melalui Maklumat No. X Tahun 1945 pada 1949 UUD’45 diganti secara resmi dengan berubahnya bentuk negara dari kesatuan menjadi federal (RIS) yang kemudian memberlakukan Konstitusi Republik Indonesia Serikat (KRIS 1949). Setelah berlakunya KRIS, maka sejara de jure Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia dan berlaku sejak 29 Desember 1949. Dimana Konstitusi RIS 1949 dapat dipandang secara resmi menganut sistem parlementer.11

Lagi-lagi sangat disayangkan bila pengakuan Belanda atas kedaulatan Indonesia dengan syarat harus berbentuk negara federal hanyalah strategi memecah belah bangsa Indonesia. Untuk mengantisipasi perpecahan yang semakin besar, maka mencuatlah seruan Natsir yang dinyatakan dalam usulan yang disebut “Mosi Integral Natsir”. Tidak membutuhkan waktu lama maka keputusan untuk kembali menjadi NKRI terlaksana dengan membubarkan NRIS. Perubahan tersebut dibuat melalui UU Federal No. 7 Tahun 1950 yang

diberlakukan sejak 17 Agustus 1945 dan pada pokoknya berisi dua hal. Pertama, bentuk Negara Indonesia diubah menjadi Negara kesatuan; kedua, Konstitusi RIS1949 diganti dengan UUDS Tahun 1950. Dengan demikian, walaupun tanpa

10 Ibid, h. 76-79

(6)

persetujuan Belanda, pada hakekatnya Indonesia telah kembali menggunakan UUD’45. 12Ringkasnya dapat dipahami bahwa UUDS’50 adalah perantara untuk

kembali pada UUD’45.

Dalam UUDS’50 ditetapkan keharusan adanya pemilu untuk memilih wakil rakyat berupa DPR maupun dengan membentuk konstituante (Pasal 134 UUD’50). Ketentuan inilah yang menjadi dasar penyelenggaraan pemilu tahun 1955 untuk memilih DPR dan anggota Konstituante menurut UU No. 7 Tahun 1953.13

Konstituante hasil pemilu pada tahun 1955 yang mulai bersidang di Bandung sejak maret 1956 guna membahas UUD yang akan ditetapkan sebagai UUD permanen justru menjadi kacau balau. Dalam konstituante muncul dua kelompok besar yang mana salah satu kelompok menghendaki dasar negara kebangsaan dan kelompok yang satunya lagi menghendaki dasar negara Islam. Fenomena ini yang membuat Soekarno secara sigap mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 dengan ketentuan: pertama, Membubarkan Konstituante;

Kedua, Mencabut berlakunya UUDS 1950 dan memberlakukan kembali UUD

1945; ketiga, (Janji) pembentukan MPRS dan DPAS.14 Akhirnya sistem

pemerintahan parlementer berhasil ditumbangkan oleh Soekarno berdasarkan dekrit presiden.

Kedua, masa demokrasi terpimpin (1959-1965). Kilas mengulas

sebab-sebab munculnya dekrit presiden yang dikeluarkan oleh Soekarno pada 5 Juli 1959. Terdapat beberapa alasan mengapa Soekarno mengeluarkan dekrit presiden tersebut diantaranya; Pertama, adanya perubahan cara pandang Soekarno setelah mengunjungi Amerika Serikat dengan melihat keadaan masyarakatnya yang dianggap tidak sejalan dengan pola pembangunan masyarakat Indonesia. Sehingga Soekarno berpikir haruslah ia bisa sama seperti

pemimpin Cina Mao Tse-tsung. Dimana dalam hal ini Soekarno memikirkan konsepsi politik yang menuntut perlunya penataan ulang lembaga-lembaga

(7)

politik, dan membentuk pemerintahan yang sesuai dengan kehidupan masyarakat baik ekonomi, politik dan kebudayaan Indonesia melalui pengendalian seorang tokoh.15

Kedua, Konsepsi pemikiran Soekarno sudah dimulai sejak 27 Februari

1957 yang merupakan masa transisi dari demokrasi parlementer ke era demokrasi terpimpin. Saat-saat itu telah menunjukkan kekesalan Soekarno yang

amat mendalam terhadap Konstituante yang dianggapnya gagal menetapkan konstitusi baru. Sehingga Soekarno menunjuk perdana menteri baru bernama Djuanda Kartawidjaya sebagai perdana menteri baru pada April 1957. Ketiga, tidak bisa juga dipungkiri bahwa dekrit presiden terlahir oleh karena mundurnya Hatta sebagai wakil presiden pada 20 Juli 1956. Dalam pidato perpisahannya Hatta mengecam perilaku partai yang didasarkan pada kepentingan pribadi. Pada dasarnya Hatta maupun Soekarno memliki persamaan atas ketidaksukaannya terhadap partai-partai politik. Hanya saja perbedaannya kalau Hatta masih percaya asalkan partai membenahi keadaan internalnya, sementara Soekarno memilih untuk memisahkan dari partai-partai.16 Dan sering Soekarno membahasakan dengan adanya “Penyakit kepartaian”. Selain alasan-alasan ini masih banyak alasan lain misalnya Soekarno memandang dirinya memiliki popularitas yang lebih kuat dikalangan masayarakat dibandingkan dengan kepala pemerintahan yakni Perdana Menteri. 17

Lebih lanjut bila diamati sistem checks and balances lembaga-lembaga negara di era demokrasi terpimpin, maka hal itu tidak benar-benar tercermin dalam konstitusinya. Secara umum ciri-ciri dari periode ini ialah kekuasaannya didominasi oleh presiden, terbatasnya peranan partai, berkembangnya pengaruh komunis, dan ABRI memiliki peran yang signifikan sebagai unsur sosial-politik.18 Apalagi dengan adanya pembubaran DPR dan terbentuknya DPRS

sesuai keinginan presiden telah menghilangkan peran DPR dalam mengawasi

15 Ganewati Wuryandari, dkk, Politik Luar Negeri Indonesia, h. 90-91 16 Ibid, h. 91-92

17 Ibid, h. 84-85

18 Miriam Budiardjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, (Cet; V, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka

(8)

presiden.19 Beberapa ketentuan dalam konstitusi yang mencerminkan tidak dihendakinya sistem checks and balances misalnya Ketetapan MPRS No. III/1963 yang menyatakan Soekarno sebagai presiden seumur hidup, UU No. 19/1964 presiden diberi wewenang untuk campur tangan dibidang yudikatif, Peraturan Presiden No. 14/1960 presiden juga bisa mencampuri urusan-urusan legislatif dan masih banyak lagi aturan-aturan yang menyimpang utamanya

terkait dengan pembredelan media-media informasi.20

2. Orde baru

Orde baru dikenal dengan era demokrasi pancasila. Karena itu pada masa ini landasan formalnya adalah pancasila, UUD’45, serta ketetapan-ketetapan MPRS.21 Slogan orde baru yang sangat popular yakni melaksanakan UUD’45 secara murni dan konsekuen. Dengan mengsakralkan UUD’45 maka era orde baru sudah melahirkan kesalahan sejarah ketatanegaraan yang fundamental.22 Beberapa permasalahan yang mengemuka dan tidak sesuai dengan prinsip-prinsip checks and balances diantaranya: Pertama, adanya penafsiran dari Soeharto beserta kaki tangannya terkait Pasal 27 UUD’45, bahwa tidak menjadi masalah berapa kali masa jabatan presiden, dan tentunya presiden dapat dipilih kembali setiap lima tahun.23Kedua, Pasal 14(1) dan Pasal 2(1) UU No. 1 Tahun 1985 tentang Partai Politik membuat Soeharto mampu mengontrol partai. Aturan-aturan ini ringkasnya merupakan cara mengebiri partai dan membuat partai berada dalam ceengkraman Soeharto.24Ketiga, Adanya UU No. 14 Tahun

1970 tentang Kekuasaan Kehakiman harusnya menjadi poros penerapan sistem

checks and balances antar lembaga-lembaga negara. Namun sayangnya aturan

itu menjadi tidak berfungsi karena Soehartolah yang mengendalikan rekrutmen

19 Carlton Clymer, dkk, Introduction to Political Science, terj. Zulkifly Hamid, Pengatar

Ilmu Politik, (Cet; X, Jakarta: Rajawali Pers, 2013), h. 484

20 Miriam Budiardjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, h. 130 21 Ibid

22 Ni’matul Huda dkk, Teori Dan Hukum konstitusi, (Cet; 11, Jakarta: Rajawali Pers,

2013), h. 103

23 “Presiden dan Wakil Presiden memegang jabatan selama masa lima tahun, dan

sesudahnya dapat dipilih kembali”. (Lihat Denny Indrayana, Amandemen UUD’45, “Antara Mitos

Dan Pembongkaran, (Cet; I, Bandung: Mizan Pustaka, 2007), h. 157)

(9)

hakim. 25 Begitu halnya dengan MPR yang harusnya berdasarkan penjelasan tentang Sistem Pemerintahan Negara Bagian IV UUD 1945 menyebutkan “...Lembaga inilah yang memegang kekuasaan tertinggi, sedangkan Presiden harus menjalankan haluan negara menurut Garis-Garis Besar yang telah ditetapkan oleh Majelis. Presiden yang diangkat oleh Majelis tunduk dan bertanggung jawab kepada Majelis....”, akan tetapi dalam prakteknya tidak demikian, bahwa MPR justru berada dibawah kendali Soeharto melalui rekrutmen anggota MPR. Alasannya jelas dari kaburnya aturan mengenai rekrutmen anggota tersebut26.

Dapat disimpulkan bahwa pada masa ini, sekalipun konstitusinya menyebutkan bahwa presiden memiliki kedudukan sejajar dengan lembaga tinggi negara lainnya, seperti DPR, MA, BPK, dan DPA, tapi dalam prakteknya justru presedenlah yang sepenuhnya berkuasa. Sehingga lembaga-lebaga tinggi negara lainnya hanya sebagai stempel dan tidak menampakkan adanya sistem

checks and balances.

Perlu juga diketahui, bahwa Soeharto dalam melancarkan aksi-aksi bejatnya (propaganda) selalu ditopang oleh media, utamanya melalui stasiun TVRI yang memiliki jaringan terluas hampir diseluruh wilayah NKRI saat itu.27

Selain itu, alasan lainnya yang menghendaki era Orde lama maupun era Orde Baru menjadi sangat otoriter karena konsep negara integralistik yang diusung oleh Soepomo. Dan berangkat dari gagasan negara integralistik inilah yang membuat checks and balances tidak muncul ke permukaan atau terjadi pada lembaga-lembaga negara.

C. Perwujudan prinsip check and balances Lembaga-Lembaga Tinggi Negara di Indonesia (pasca amandemen)

Amandemen UUD Tahun 1945 ternyata telah mengubah kekuasaan dan kewenangan serta pola hubungan antara lembaga tinggi negara, antara pemegang

25 Ibid, h. 147-149

26 Denny Indrayana, Amandemen UUD’45, h. 154-155

(10)

kekuasaan legislatif, eksekutif dan yudikatif, sehingga sederajat dan saling mengontrol satu sama lain sesuai dengan prinsip checks and balances. Pola hubungan tersebut melibatkan lembaga-lembaga tinggi negara yakni DPR, DPD, Presiden, MA dan MK, serta KY. Dan pada kesempatan kali ini penulis tidak akan mengulasnya secara rinci atau mendalam. Namun terdapat beberapa hal yang penting mengenai checks and balances lembaga-lembaga tinggi negara pasca amandemen UUD’45 yang penulis sajikan dan masih bersifat sebagai pengantar. Oleh karena itu, penulis sangat berharap agar pembaca dapat mendalaminya melalui referensi-referensi lainnya yang terkait.

Beberapa lembaga tinggi negara yang mengalami perubahan pasca amandemen UUD 1945 diantaranya: Pertama, Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) tidak lagi sebagai satu-satunya lembaga tertinggi negara. Sebagaimana telah dilakukan penyempurnaan isi dari Pasal 1 ayat (2) yang lama dan membuat kewenangan MPR berkurang. Selanjutnya mengenai perekrutan anggota MPR juga telah diubah dengan menghapus unsur utusan golongan dan mengubah utusan daerah menjadi DPD (perubahan Pasal 2 ayat (1)), serta yang sebelumnya MPR berjumlah 1000 orang dikurangi menjadi 700 orang.28 Tak lupa pula fungsi-fungsi DPR juga ikut mengalami perubahan dan sekan-akan menjadi lebih kuat (legislative

heavy) dibanding presiden; Kedua, Lembaga eksekutif utamanya mengenai jabatan

Presiden dan Wakil Presiden dengan tegas dinyatakan melalui Tap MPR No. XIII Tahun 1998 sehingga mengubah interpretasi Pasal 7 UUD 1945.29 Perubahan

tersebut menghendaki terjadinya checks and balances dan menghindarkan dari adanya dominasi dari lembaga presiden (executive heavy) seperti pada masa Soeharto; Ketiga, Lembaga yidukatif dalam hal ini Mahkamah Konstitusi (MK) dan Mahkamah Agung (MA) mendapat porsi-porsi yang lebih baik dari sebelumnya walaupun masih ada kekurangan-kekurangannya yang perlu untuk dibenahi lagi

kedepan. Lembaga konstitusi dilembagakan tersendiri di luar MA karena keduanya memang berbeda. Jikalau MA lebih merupakan pengadilan keadilan, sedangkan

28 Ni’matul Huda, Lembaga Negara Dalam Masa Transisi Demokrasi, (Cet; I,

Yogyakarta: UII Press, 2007), h. 95-96

(11)

MK lebih berkenaan dengan lembaga pengadilan hukum yang pada dasarnya kedua lembaga tersebut juga termasuk pelaku kekuasaan kehakiman menurut ketentuan Pasal 24 ayat (2) UUD 1945.30

Sejauh yang penulis amati dengan adanya amandemen UUD’45 tersebut belum bisa menjamin checks and balances antar lembaga-lembaga tinggi negara dapat bekerja secara efektif. Melihat dari adanya beberapa ketentuan dalam

konstitusi yang saling melemahkan kekuasaan salah satu lembaga tinggi negara, misalnya dalam Pasal 14 menyebutkan “Presiden memberi amnesti dan abolisi dengan memperhatikan pertimbangan DPR”. Pasal ini jelas-jelas membuat amnesti dan abolisi bukanlah hak perogratif dari Presiden.31 Adapun rumusan dalam Pasal 20 ayat (5) membuat Presiden tumbang dengan sendirinya bila tidak mengesahkan undang-undang yang telah disepakati DPR.32 Dan yang paling berbahayanya jika terjadi Impeachment di tingkat MPR yang sekurang-kurangnya disetujui oleh 2/3 dari 3/4 anggota MPR yang hadir.33 Ketentuan-ketentuan semacam ini memperlihatkan kalau lembaga presiden semakin dilemahkan.

Sebaliknya dipihak lain, lembaga legislative dapat dengan leluasa bergerak nyaris tanpa control. Karena menurut UUD 1945 hasil amandemen tersebut membuat DPR memiliki akses kekuasaan pengaturan perundangan yang besar. Bahkan akan sangat tragis bila terjadi kolusi antara Presiden dan DPR yang berpotensi memandulkan peran strategis dari MK. Cara mainnya dengan mengintervensi MK melalui perubahan Undang-Undang MK yang dibuat oleh presiden bersama DPR. Bahkan bisa sampai intervensi fungsi melalui pengusulan calon hakim MK yang juga tidak lepas dari pengaruh DPR dan presiden.34

Sementara bila mengamati lembaga yudikatif, maka ada beberapa ketentuan dalam konstitusi yang ikut membuat sistem checks and balances tidak

30 Siti Fatimah, Praktik Judicial Review DI Indonesia , (Cet; I, Yogyakarta: Pilar Media,

2005), h. 91

31Ni’matul Huda, Lembaga Negara Dalam Masa Transisi Demokrasi, h. 124 32 Ibid, h. 105

33 Moh. Mahfud MD, Perdebatan Hukum Tata Negara Pasca Amandemen Konstitusi,

(Cet; I, Jakarta: Rajawali Pers, 2010), h. 73

34 Denny Indrayana, Negara antara Ada Dan Tiada , (Jakarta: PT. Kompas Media

(12)

bekerja secara maksimal. Misalnya Kewenangan Komisi Yudisial berdasarkan UU tentang KY (UU No. 22 Tahun 2004) dan UU tentang Kekuasaan Kehakiman (UU No. 4 tahun 2004) hampir seluruhnya dipangkas oleh MK setelah digugat melalui uji meteri. Sehingga KY hanya dapat mengawasi hakim agung dan tidak dapat mengawasi hakim konstitusi.35

Dari seluruh pembahasan yang telah penulis paparkan mengenai checks

and balances Lembaga-Lembaga Tinggi Negara pasca amandemen UUD 1945,

tentu belum secara rigid dapat diulas dalam makalah ini. Mengingat masih banyak aturan-aturan lainnya yang tidak terbahaskan secara detil dalam makalah ini. Karena itu semula penulis menyampaikan kalau makalah ini hanya bersifat pengantar dan berharap agar pembaca dapat mendalaminya lebih lanjut melalui literatur lain yang berhubungan dengan masalah ini.

D. Kesimpulan

Checks and balances Lembaga-Lembaga Tinggi Negara di Indonesia baik

sebelum maupun sesudah amandemen UUD Tahun 1945 banyak memiliki perbedaan. Di era orde lama checks and balances lembaga-lembaga negara belum terlihat ideal karena memang keadaan negara yang labil, atau masih rentan terhadap ancaman-ancaman baik secara internal maupun eksternal. Sementara pada masa Orde Baru justru kekusaan presiden lebih ditonjolkan dibanding dengan lembaga-lembaga negara lainnya. Berbeda dengan era reformasi yang mana konstitusinya telah tertata lebih baik lagi dari sebelumnya. Akan tetapi, tidak bisa dipungkiri bahwa lembaga legislatif dinilai memiliki kekuasaan yang nyaris tanpa kontrol dibanding dengan lemabaga-lembaga negara lainnya. Sehingga lembaga legislatif berpotensi untuk melemahkan lembaga-lembaga tinggi negara lainnya.

Adapun yang menjadi pemicu dari tidak munculnya checks and balances

pada masa Orde Lama dan Orde Baru karena konsep negara integralistik. Sementara pada masa reformasi isu mengenai HAM menguat menyebabkan

(13)
(14)

Daftar Pustaka

Asshiddiqie, Jimly, Perkembangan Dan Konsolidasi Lembaga Negara Pasca

Reformasi, (Cet; I, Jakarta: Sinar Grafika, 2010)

Budiardjo, Miriam, Dasar-Dasar Ilmu Politik, (Cet; V, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2012)

Clymer, Carlton, dkk, Introduction to Political Science, terj. Zulkifly Hamid,

Pengatar Ilmu Politik, (Cet; X, Jakarta: Rajawali Pers, 2013)

Fatimah, Siti, Praktik Judicial Review DI Indonesia, (Cet; I, Yogyakarta: Pilar Media, 2005)

Gaffar, Afan, Politik Indonesia Transisi Menuju Demokrasi, (Cet; VI, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006)

Huda, Ni’matul, Lembaga Negara Dalam Masa Transisi Demokrasi, (Cet; I, Yogyakarta: UII Press, 2007)

---, Teori Dan Hukum konstitusi, (Cet; 11, Jakarta: Rajawali Pers, 2013) Indrayana, Denny, Amandemen UUD’45, “Antara Mitos Dan Pembongkaran, (Cet;

I, Bandung: Mizan Pustaka, 2007)

---, Negara antara Ada Dan Tiada, (Jakarta: PT. Kompas Media Nusantara, 2008)

MD, Moh. Mahfud, Konstitusi Dan Hukum Dalam Kontroversi Isu, (Cet; III, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2012)

---, Perdebatan Hukum Tata Negara Pasca Amandemen Konstitusi, (Cet; I, Jakarta: Rajawali Pers, 2010)

Patria, Nezar dan Andi Arief, Antonio Gramsci, “Negara Dan Hegemoni”, (Cet; IV, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2015)

Syafiie, Inu Kencana, Ilmu Pemerintahan, (Cet; I, Jakarta: Bumi Aksara, 2013)

S, Arief Adityawan, Propaganda Pemimpin Politik Indonesia, “Mengupas Semiotika Orde Baru”, (Cet; I, Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia, 2008) Wuryandari, Ganewati, dkk, Politik Luar Negeri Indonesia Di Tengah Pusaran

Referensi

Dokumen terkait