3 KARYA BUDAYA MITIS
Makalah ini adalah sebagian tugas mata kuliah Tinjauan Desain Dosen pengampu Rudy Irawanto
LESTARI PUJI ASTUTIK 110253417558
UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS SASTRA DESAIN KOMUNIKASI VISUAL
DAFTAR ISI
Cover . . . .. . . Daftar isi. . . . . .
BAB I. PENDAHULUAN : . . .
BAB II. KARYA BUDAYA MISTIS. . . .. . . . .
BAB I
PENDAHULUAN
Desain bermula saat munculnya adat istiadat, di saat era prasejarah Desain selalu berkaitan dengan Mitos, ketika masa tahap perkembangan tahap budaya Mitis ( tahap perkembangan kebudayaan yang pada saat itu pola fikir manusia berpangkal pada Mitos) mulailah manusia beraktifitas kesenian dan mengenal desain sebagai bagian dari aktifitas ritual. Manusiapun mulai membuat karya-karya mistis, berikut contoh-contoh karya budaya mistis : Patung Budha, Keris dan Pagoda.
BAB II
KARYA BUDAYA MITIS
1. Patung Budha
Dari masa lampau hingga saat ini, masyarakat sering mengira agama Budha menyembah patung. Padahal sebenarnya Patung adalah satu produk budaya Buddhis untuk menghormat kepada Hyang Buddha, yang digunakan sebagai simbol. Lalu
masyarakat sering mencampur-adukkan antara agama dan budaya. Sehingga terjadilah salah persepsi dalam penggunaan patung.
Sejarah Patung Budha
bentuk manusia, yang telah membantu membentuk kanon seni dan terutama teknik perpatungan Buddha di seluruh benua Asia sampai sekarang.
Interaksi antara budaya Yunani dan Buddha berkembang di daerah Gandhara, yang sekarang terletak di Pakistan bagian utara, sebelum menyebar lebih lanjut ke India,
mempengaruhi kesenian Mathura, dan kemudian kesenian Buddha kekaisaran Gupta, yang juga menyebar ke Asia Tenggara.
Pengaruh seni Buddha-Yunani juga menyebar ke utara menuju Asia Tengah, dan dengan kuat membentuk kesenian dataran rendah Tamin di pintu gerbang ke Cina, dan akhirnya pengaruhnya mencapai Cina, Korea, dan Jepang.
Konsep Patung Budha
Konsep patung budha banyak dipengaruhi dari kesenian Yunani. Seni Buddha-Yunani menggambarkan kehidupan Hyang Buddha dalam sebuah cara visual, banyak
menggunakan model-model realistic yang dipengaruhi pada masa itu.Para Boddhisattva digambarkan sebagai bangsawan India yang memakai perhiasan dan telanjang dada. Sementara para Buddha digambarkan seperti raja-raja Yunani yang memakai busana mirip toga.
Gaya seni Buddha-Yunani mulai dari sangat halus dan realistic, seperti nampak pada patung-patung Buddha yang berdiri. Lalu gaya ini kehilangan realism tingkat tinggi,
kemudian menjadi semakin simbolis dan dekoratif pada abad-abad yang mendatang.Kurang lebih antara abad pertama S.M. hingga abad pertama, perwujudan Buddha dalam
Di Jepang, kesenian Buddha mulai berkembang setelah Negara ini memeluk agama Buddha pada tahun 548. Beberapa ubin dari periode Asuka, periode pertama setelah rakyat jepang mulai memeliuk agama Buddha, menunjukan gaya klasik yang menonjol, dengan penggunaan pakaian gaya Helenistik secara meluas dan pelukisan anatomi tubuh secara realistik, yang merupakan cirri khas gaya seni Buddha-Yunani.
Karya seni lainnya menggunakan beberapa variasi pengaruh Cina dan Korea, sehingga seorang pemeluk Buddha Jepang sangat bervariasi dalam berekspresi.
Kebudayaan India terbukti sangat berpengaruh pada perkembangan kebudayaan Asia Tenggara. Banyak Negara mengambil aksara India dan budayanya, bersamaan dengan agama Hindu dan Buddha Mahayana. Pengaruh seni Buddha-Yunani masih nampak pada kebanyakan pelukisan Buddha di Asia Tenggara, meski mereka biasanya cenderung berbaur dengan kesenian Hindu-India dan kemudian mengambil unsur-unsur local. Itulah mengapa patung Buddha di Borobudur berbeda dengan patung Buddha dari Thailand yang memakai mahkota.
2. Keris
Keris adalah senjata tikam golongan belati yang berujung runcing dan tajam pada kedua sisinya. Yang memiliki banyak fungsi budaya, dikenal di kawasan Nusantara bagian barat dan tengah. Bentuknya khas dan mudah dibedakan dari senjata tajam lainnya karena tidak simetris di bagian pangkal yang melebar, seringkali bilahnya berliku-liku, dan banyak di antaranya memiliki pamor (damascene), yaitu guratan-guratan logam cerah pada helai bilah.
Asal-usul dan fungsi
sebagai senjata dalam duel/peperangan, sekaligus sebagai benda pelengkap sesajian. Pada penggunaan masa kini, keris lebih merupakan benda aksesori (ageman) dalam berbusana, memiliki sejumlah simbol budaya, atau menjadi benda koleksi yang dinilai dari segi estetikanya.
Penggunaan keris tersebar pada masyarakat penghuni wilayah yang pernah terpengaruh oleh Majapahit, seperti Jawa, Madura, Nusa Tenggara,Sumatera, pesisir Kalimantan, sebagian Sulawesi, Semenanjung Malaya, Thailand Selatan, dan Filipina Selatan (Mindanao).Awal mula: Pengaruh India-Tiongkok
Senjata tajam dengan bentuk yang diduga menjadi sumber inspirasi pembuatan keris dapat ditemukan pada peninggalan-peninggalan perundagian dari Kebudayaan Dongson. Dugaan pengaruh kebudayaan Tiongkok Kuna dalam penggunaan senjata tikam, sebagai cikal-bakal keris, dimungkinkan masuk melalui kebudayaan Dongson (Vietnam) yang merupakan "jembatan" masuknya pengaruh kebudayaan Tiongkok ke Nusantara. Sejumlah keris masa kini untuk keperluan sesajian memiliki gagang berbentuk manusia (tidak distilir seperti keris
modern), sama dengan belati Dongson dan menyatu dengan bilahnya.
Para sejarawan umumnya bersepakat, keris dari periode pra-Singasari dikenal sebagai "keris Buda", yang berbentuk pendek dan lurus, dan dianggap sebagai bentuk awal (prototipe) keris.Beberapa belati temuan dari kebudayaan Dongson memiliki kemiripan dengan keris Buda dan keris sajen. Keris sajen memiliki bagian pegangan dari logam yang menyatu dengan bilah keris.Keris merupakan salah satu nama dari sekian banyak nama dan definisi dari jenis senjata pertahanan diri, yang terciptakan melalui suatu proses untuk pemenuhan kebutuhan manusia. Manusia yang memiliki insting membunuh meciptakan beragam jenis senjata. Senjata – senjata tersebut mempunyai arti alat bantu untuk tercapainya satu kebutuhan dasar manusia, yaitu terhindarnya rasa lapar di perut.
Manusia yang hidup dan belajar dari alam, mengolah dan mengembangkan pemikirannya. Mereka meciptakan alat – alat untuk berburu dengan bahan – bahan yang telah tersediakan oleh alam.
Berawal dari batu, kayu, hingga mengenal peradaban perunggu, sampai pada material besi dan baja. Alat – alat yang awalnya hanya untuk berburu, berkembang menjadi alat untuk
terus mengolah peradabannya. Alat – alat yang mereka gunakan, atau yang kemudian berkembang nama dan fungsinya menjadi senjata terus mereka upayakan untuk menjadi alat beladiri yang sempurna.
Di Pulau Jawa sendiri jenis senjata – senjata tersebut berkembang, ada yang berupa berang, bendho, arit, kudi, cenggereng, golok, pangot, wedhung, pedang, tombak, hingga keris. Untuk pedang sendiri dapat digolongkan menjadi banyak nama sesuai dengan bentuknya, ada sabet, suduk maru lameng dan lain – lain.Senjata di Pulau Jawa memiliki keunikan pada teknologi pembuatannya. Senjata – senjata tersebut dibuat dengan teknik penempaan, bukan dicor. Teknik penempaan disertai pelipatan berguna untuk mencari kemurniaan besi, yang mana pada waktu itu bahan – bahan besi masih komposit dengan materi – materi alam lainnya.
Perkembangannya teknologi tempa tersebut mampu menciptakan satu teknik
tempa Tosan Aji ( Tosan = besi, Aji= berharga) yang lebih sempurna, seirin perjalanan waktu. Salah satu Tosan Aji yang akan kita bicarakan adalah yang berupa keris. Karena keris saya rasa dari segi pembuatanya memili keunikan yang mampu mewakili tosan aji lainya.
Keris terdiri dari tiga unsur bahan pembuatnya. Baja, besi dan pamor. Pada perkembangan berikutnya keris bukan hanya sekedar senjata, tapi menjadi piandel (suatu alat untuk
meningkatkan kepercayaan diri) juga menjadi simbol untuk mewakili status sosial pemakainya. Bahkan keris layak untuk menjadi pengganti si pemilik dalam berbagai situasi. Semisal
pernikahan ataupun duta negara.
3. PAGODA
Vietnam, pagoda adalah istilah yang lebih umum digunakan untuk tempat ibadah,
meskipun pagoda bukan kata yang akurat untuk menggambarkan sebuah kuil Buddha.Pagoda modern adalah evolusi dari stupa Nepal Kuno, struktur makam-relik suci seperti di
mana bisa tetap aman dan dimuliakan. Struktur arsitektur stupa telah menyebar di seluruh Asia, mengambil bentuk yang beragam sebanyak rincian spesifik untuk daerah yang berbeda
dimasukkan ke dalam desain secara keseluruhan.
Sejarah
Asal Pagoda dapat ditelusuri di stupa India pada abad ke 3 SM.Tujuan awal pagoda adalah untuk rumah dan peninggalan tulisan-tulisan suci. Tujuan
ini dipopulerkan karena upaya misionaris Buddhis, peziarah, penguasa, dan umat biasa untuk mencari, mendistribusikan, dan memuji secara simbolisme.
Konsep pembuatan
Pagoda dapat menarik sambaran petir karena bentuknya yang tinggi.Kecenderungan ini membuat peran dalam persepsi mereka sebagai tempat rohani
dikenakan. Banyak pagoda finial dihiasi di bagian atas struktur. Pagoda
dirancang sedemikian rupa agar memiliki arti simbolis dalam Buddhisme, misalnya, termasuk mewakili simbol teratai. Tiang pada atapnya juga berfungsi sebagai penangkal petir, dan dengan demikian membantu untuk kedua menarik petir dan melindungi pagoda dari
kerusakan petir. Awal pagoda dibangun dari kayu, lalu berkembang dengan bahan yang lebih kuat, yang membantu melindungi terhadap kebakaran Pagoda tradisional memiliki tingkat ganjil.
PENUTUP
Pada saat tahap perkembangan budaya di tahap Mitis, karya budaya desain dibuat berdasarkan tujuan simbolik untuk hal-hal religi, manusia pada masa itu hidup dan belajar dari alam, mengolah dan mengembangkan karya sesuai pemikirannya. Selain itu pembuatannya juga didasari dari fungsinya.