• Tidak ada hasil yang ditemukan

Karya Para Ahli Hubungan Internasional

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Karya Para Ahli Hubungan Internasional"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

A. Immanuel Kant dengan Karyanya berjudul Perpetual Peace

Menuju Perdamaian Abadi Sebuah Sketsa Filosofi

Seorang filsuf berkebangsaan Jerman, Immanuel Kant telah merumuskan sebuah tawaran tentang konsep perdamaian di dunia. Konsep yang ditulis sekitar dua ratus tiga belas tahun yang lalu yang menetapkan Sembilan pasal menuju perdamaian abadi, terdiri dari enam pasal pendahuluan dan tiga pasal definitive.

Pasal pendahuluan:

1. Tidak boleh ada perjanjian perdamaian yang dianggap absah, apabila didalamnya terkandung maksud tersembunyi untuk mempersiapkan perang di masa depan. Maksud dari pasal ini sebuah perjanjian dibuat bukan untuk menghentikan perang untuk sementara karena kelelahan, akantetapi sebuah perjanjian dibuat untuk mengakhiri perang secara total sehingga tercipta kedamaian abadi. Perjanjian damai juga tidak boleh dibangun atas dasar hitungan untung rugi jika melakukan perang ata damai.

2. Tidak ada Negara yang berdaulat, baik besar maupun kecil, dapat dikuasai atau dialihtangankan oleh Negara lain melalui pewarisan, pertukaran, pembelian dan pemberian. Sebuah Negara yang telah memiliki unsur-unsur Negara secara mutlak tidak boleh dikuasai atau dijajah oleh Negara lain.

3. Tidak boleh ada perlombaan senjata. Maksudnya tentara tetap harus dihapus secara berangsur-angsur karena tentara yang bersiap perang malahan akan menimbulkan perang. Ada tiga kekuatan penting yang dapat mendorong terjadinya perang yaitu:kekuatan militer, kekuatan aliansi, kekuatan uang.

4. Tidak boleh dibenarkan sebuah Negara berhutang untuk biaya perang. Karena akan terjadi goncangan ekonomi yang menyebabkan krisis dan akan merobohkan system financial Negara.

5. Tidak boleh dibenarkan sebuah Negara mencampuri urusan Negara lain menyangkut konstitusi atau pemerintahan. Karena hal tersebut membuat otonomi Negara menjadi rusak, karena kepentingan Negara lain.

6. Tidak boleh dibenarkan dua Negara yang sedang berperang melakukan tindakan yang mengakibatkan hilangnya perdamaian yang mungkin terjadi di masa yang akan datang. Misalnya pemanfaatan pembunuh bayaran, penggunaan racun untuk membunuh, hasutan untuk berkhianat.

Nama : Maulana Hanif Rahman

NIM : 12040284023 ( Sejarah A, angkatan 2012 )

(2)

Menurut kant dalam karyanya Perpetual Peace , sebuah perdamaian bukan hal yang alami, akan tetapi perdamaian adalah suatu keadaan yang harus diciptakan di dunia ini. Ada tiga pasal definitive untuk menciptakan intsitusi perdamaian abadi yaitu:

Konstitusi sipil setiap Negara harusnya berbentuk republic

Menurut Kant hanya Negara yang berbentuk republic yang dapat menciptakan perdamaian abadi, karena di dalam Negara republic semua keputusan berasal dari rakyat yang memilih wakilnya di parlemen. Negara republic membagi kekuasaan menjadi tiga yaitu: eksekutif, legislative, yadikatif. Lawan dari Republic adalah Despotic, yaitu sebuah Negara diperintah secara otoriter oleh penguasa. Dan yang menarik adalah Kant menyebut depostik sama dengan demokrasi.

Hukum bangsa-bangsa harus didirikan diatas suatu federasi Negara-negara merdeka

Sebuah bangsa yang merdeka haruslah bersatu atau membentuk suatu federasi atau perkumpulan yang diikat oleh hukum bangsa-bangsa seperti PBB. Dengan terbentuknya suatu serikat atau federasi akan membuat Negara-negara yang bersangkutan terjaga dan patuh terhadap hokum atau peraturan yang telah dibuat bersama-sama.Hal itu dilakukan untuk menciptakan rasa aman perdamaian diantara bangsa-bangsa.

Hukum kosmopolitan harus terbatas pada persyaratan keramahtamahan universal

Seseorang yang datang ke Negara lain haruslah menghormati hukum Negara yang ia datangi sebaliknya Negara yang didatangi harus bersikap ramah.prinsip yang ditanamkan oleh Kant yaitu prinsip keramahtamahan menitik beratkan pada hak singgah atau berkunjung ke Negara lain, karena pada dasarnya bumi, tanah, laut adalah milik semua manusia di dunia yang diciptakan oelh tuhan untuk kita. Maka akan terjadi sikap saling menghormati, toleransi, dan saling melindungi, jadi pada intinya Kant sangatlah membenci kolonialisme.

Pendapat Penulis Mengenai Pemikiran Kant Mengenai Perdamaian Abad

Setelah penulis cermati dan berusaha memahami pemikiran Immanuel Kant, penulis menyimpulkan bahwa Kant adalah seorang Idealis. Hal itu dapat dilihat dari pemikiran tersebut yang semuanya adalah sebuah keinginan seorang filsuf yang tak memiliki kekuatan untuk mewujudkannya karena ia berada di sebuah Negara yang absolute yaitu prusia atau jerman.

Pada pasal pendahuluan mengenai penghapusan tentara tetap, disini penulis kurang setuju. Karena tentara dibutuhkan sekali untuk menjaga terirorial sebuah Negara dari serangan Negara tetangga ataupun pemberontakan dari dalam Negara itu sendiri. Memang solusi ang ditawarkan oleh Kant yaitu konsep pertahanan sipil yang berarti wajib militer dapat menggantikan peran tentara, namun yang menjadi masalah adalah apabila rakyat yang wajib militer tersebut tak memiliki kesadaran ataupun rasa nasionalisme.

(3)

merealisasikan semuanya khususnya masalah persenjataan sebuah Negara yang tak mungkin menghapus peran tentara tetap.

Konsep Kant dalam Perpetual Peace

1. Cosmopolitan right, suatu tatanan yang diatur oleh suatu hokum atau prinsip-prinsip tertentu atau lebih tepatnya lagi, hak kepemilikan bersama terhadap bumi.

2. Despotic, adalah bentuk pemerintahan dengan satu penguasa atau oligarki.

3. Republicanism, paham atau pandangan bahwa sebuah republic adalah bentuk pemerintahan terbaik.

4. Representative, sistem perwakilan dimana rakyat memiih wakilnya untuk duduk di dewan.

5. League of peace, perkumpulan Negara yang menginginkan perdamaian abadi. 6. Treaty of peace, perjanjian damai diakhir suatu perang.

7. Federal, bentuk suatu pemerintahan dimana beberapa Negara bagian bekerjasama dan membentuk Negara kesatuan.

B. Norman Angell dalam Karyanya berjudul The Great Ilusion

The great illusion adalah buku atau karya ciptaan Norman Angell, karya ini pertama kali terbit di Inggris pada tahun 1909 dengan judul Optical Illusion Eropa hingga 1910 diperbarui menjadi The Great Illusion. Dalam karyanya ini Norman Angell berpendapat bahwa perang antar negara-negara Industry adalah sia-sia, karena penaklukan membayar. Negara-negara yang mempunyai persenjataan militer saling ketergantungan ekonomi antara negara-negara industri berarti perang akan ekonomis berbahaya bagi semua negara-negara yang terlibat didalamnya. Apalagi jika kekuatan yang menaklukan menyita berbagai properti wilayah-wilayah insentif untuk menghasilkan ( penduduk setempat ) akan melemahkan dan daerah ditaklukan dianggap tidak berharga. Sehingga menimbulkan biaya penaklukan dan penduduk.

The Great Illusion is a book by Norman Angell, first published in the United Kingdom in 1909 under the title Europe's Optical Illusionand republished in 1910 and subsequently in various enlarged and revised editions under the title The Great Illusion

Angell berpendapat bahwa perang antara negara-negara industri itu sia-sia karena penaklukan tidak membayar. J.D.B. Miller menulis: "The 'Illusion Besar' adalah bahwa negara-negara yang diperoleh oleh konfrontasi bersenjata, militerisme, perang, atau penaklukan."Saling ketergantungan ekonomi antara negara-negara industri berarti bahwa perang akan ekonomis berbahaya bagi semua negara yang terlibat. Apalagi jika kekuatan menaklukkan menyita properti di wilayah itu disita, "insentif untuk menghasilkan [penduduk setempat] akan melemahkan dan daerah ditaklukkan dianggap tidak berharga. Dengan demikian, untuk meraih kekuasaan harus meninggalkan properti di tangan penduduk setempat sambil menimbulkan biaya penaklukan dan pendudukan.

(4)

internasional, pengadilan dunia, dimana isu-isu akan ditangani secara logis dan damai akan menjadi rute untuk perdamaian. Edisi baru dari The Illusion Besar diterbitkan pada tahun 1933; itu menambahkan "tema pertahanan kolektif." [2] Angell dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian pada tahun 1933. Dia menambahkan keyakinannya bahwa jika Perancis, Inggris, Polandia, Cekoslowakia, dll telah mengikatkan diri bersama-sama untuk melawan semua agresi militer, termasuk bahwa Hitler, dan untuk menarik keadilan dunia untuk solusi untuk keluhan negara-negara ', maka massa besar Jerman yang wajar akan melangkah dan berhenti Hitler dari memimpin negara mereka menjadi perang dimenangkan, dan perang Dunia II akan dihindari.

Penerimaan Kritis

Kadang-kadang dikatakan bahwa pecahnya Perang Dunia I menyangkal pendapat Angell di The Great Illusion, tapi Angell tidak menyatakan bahwa perang tidak mungkin, bukan bearti itu akan menjadi sia-sia. Meskipun beberapa aspek argumen Malaikat telah tanggal, pembahasannya tentang saling ketergantungan ekonomi "adalah penting dan inovatif.

Dalam Budaya Populer

The Grand Illusion disebutkan dalam Death novel Pahlawan oleh Richard Aldington. Itu digunakan sebagai bukti oleh karakter utama yang Perang Dunia kedatangan saya tidak akan terjadi.

C. E.H.Carr dalam Karyanya dengan judul The Twenty Year’s crisis

Edwin Hallet Carr (1892 –1982) adalah salah satu tokoh yang berperan dalam perkembangan ilmu hubungan internasional pada zaman modern ini. Saat mudanya Carr merupakan penganut Lloyd-George liberal yang percaya akan perdagangan bebas dan reformasi sosial. Namun pada awal 1930-an, Great Depression meyakinan dia bahwa kapitalisme tidak bisa lagi digunakan dan mengubah beliau pun mengubah pandangannya. Ia kemudian mencari tatanan baru yang cocok untuk digunkan di Abad ke-20.

Berikut Beberapa Konsep HI Menurut E.H Carr dalam The Twenty Year’s Crisis Realism menurut Carr

‘The Twenty Years’ Crisis’ merupakan salah satu karya terbaik oleh Edwin Hallet Carr. Buku tersebut selesai dikerjakannya pada musim panas tahun 1939 dalam suasana perang yang tengah terjadi di Eropa. Tidak dapat dipungkiri bahwa buku tersebut mencerminkan bahwa Carr sendiri telah terpengaruh oleh pemikiran Hobbes dan Machiavelli tentang realism. ‘The Twenty Years’ Crisis’ sebenarnya memilki dua edisi dan telah dicetak ulang sebanyak 19 kali. Terdapat beberapa perbedaan antara edisi pertamanya dan edisi keduanya.

(5)

sekaligus untuk mencegah terjadinya kembali perang. Maka dari itu karakteristik dari studi Hubungan Internasional didominasi oleh elemen ‘harapan’, ‘tujuan’, dan ‘kebutuhan’.

Carr sebagai seorang realist memilki pemikiran yang bersebrangan dengan utopian. Menurut Carr utopian kurang atau bahkan tidak menganilis fakta dan makna. Padahal dalam penelitian ilmiah yang baik tidak seharusnya mengabaikan fakta yang terjdi di lapangan. Carr menganggap bahwa utopian cenderung ingin menghilangkan perang, buakannya ingin mengatasi perang dan mengubah tatanan fenomena demi menghilangkan perang dan menggantinya dengan public consent yang kemudian akan diartikulasikan dalam kebijakan luar negeri. Sayangnya utopian mengabaikan permasalahan dari fenomena tersebut. Maka dari itu lewat bukunya Carr ingin mengubah cara pandang dunia terhadap suatu fenomena. Ia beranggapan bahwa keadaan akan berbahaya jika idealisme terus dipakai sebagai cara untuk memandang suatu fenomena. Ia kemudian menciptakan cara pandang baru yang lebih sistematis dan lebih ‘nyata’dalam menganalisis masalah dengan level analisa inter state dimana tujuan dari ilmu HI di bawa ke dalam realita, yang secara singkat dalam ilmu politik disebut pengakuan akan pentingnya power, yaitu aliran realism.

Carr menganggap bahwa kegagalan pemimpin dunia pada waktu itu untuk memahami dunia menjadi penyebab terjadinya berbagai peristiwa yang tidak diinginkan, seperti Perang Dunia II. Kaum idealis mendirikan Liga Bangsa Bangsa sebagai alat untuk mewujudkan perdamaian. Namun pada kenyataannya negara anggota LBB justru saling menyerang sehingga menyebabkan Perang Dunia II. Carr menganggap bahwa LBB merupakan salah satu keputusan yang didasarkan pada dasar yang salah, yaitu idealisme.

Dalam buku Twenty Years’ Crisis, Carr juga menyatakan 4 kunci yang dapat membedakan dan utopian-idealis. Perbedaan yang pertama yaitu kaum idealis-utopian mengharapkan perubahan yang ideal melalui act of will, namun mereka tidak mengetahui langkah-langkah untuk mencapai perbahan idela tersebut. Sedangkan kaum realist cenderung pesimis akan terjadinya perubahan realitas. Perbedaan kedua adalah perbedaan pada teori dan praktik, ketiga adalah perbedaan antara golongan ‘kiri’(radikal) dan ‘kanan’(konservatif). Golongan radikal cenderung ideaslis dan utopis, sedangkan golongan konservatif cenderung realis. Yang terakhir adalah perbedaan antara etika dan politik. Kaum idealis-utopian cenderung percaya akan kekuatan etika. Sedangkan menurut realis etika muncul karena ada relasi kekuasaan. Oleh karena itu kaum realis lebih percaya pada politik.

Moralitas dalam Politik

(6)

membutuhkan power sebagai dasar dalam kekuasaan, namun moralitas juga diperlukan sebagai dasar dari perizinan dari pemerintah, sehingga power tidak dapat dijadikan dasar sendiri.

Carr tidak mengabaikan moral dalam politik. Ia menyetakan bahwa apabila hanya power yang bermain, maka tidak akan pernah tercapai pada tatanan internasional yang baru. Dengan moral maka tatanan internasional yng baru diharapkan dapat tercapai.

Carr juga menegaskan bahwa karena moralitas harus dijaga, maka prinsip menjga dalam hubungan internasional haruslah ‘kebaikan untuk semua’. Namun demikian ia berpesan bahwa tatanan moral internasional yang baru tidak dan tidak dapat menjmin adanya kedamain yang tercipta. Carr menjelaskan bahwa yang ia maksud dengan moralitas berbeda dengan moralitas antar individu. Standar moralitas antar negara tidak sama dengan standar moralitas yang ada pada antar individu, hal itu disebabkan oleh empat sebab. Yang pertama tidak mudahnya mengungkapkan emosi seperti cinta atau benci pada suatu negara. Maka dari itu sulit untuk menyatakan bahwa negara harus menyatakan kedermawanannya misalnya. Hal-hal tersebut dipandang terlalu subjektif untuk dinyatakan sebagai international behaviour.

Kedua, walaupun ada beberapa perilaku moral yang tidak dapat dijalankan oleh sebuah negara. Ada pula perilaku moral yang hanya dilaksanakan oleh sebuah negara. Contohnya saat sebuah negara memperjuangkan mati-matian kesejahteraan rakyatnya meski harus berhadapan dengan negara lain.

Ketiga adalah tidak mudah untuk menemukan konteks dalam moralitas antar negara. Dalam bermasyarakat kita dapa mengekspresikan perilaku moral kita terhadapa orang lain. namun lain halnya dengan negara. Tidak mudah untuk megekspresikan hal tersebut. Keempat adalah apa yang dipandang baik oleh negara belum tentu dipandang baik juga oleh individu. Meskipun demikian moralitas antar negra dan antar individu berjalan seiringan.

Konsep Carr tentang moralitas tidak lepas dari kritikan para pemikir lainnya. Kritik yang diutarakan antara lain Carr tidak dapat menemukan standar moralitas dalam hubungan internasional.1 situasi tentu akan berubah dan dibutuhkan moral dalm

menyikapi masalah-masalah tersebut, namun apabila tidak ada standar moralitas dalam hubungan internasional maka menimbulkan kesulitan dalam berhubungan antar negara. Sehingga seperti halnya moralitas yang dimiliki oleh individu, moralitas oleh negara juga harus fleksibel mengikuti situasi dan kondisi yang ada.

Kesimpulan

E. H. Carr dengan segala konsep dan pemikirannya tentang HI merupakan tokoh yang patut dihormati. E. H. Carr mampu memunculkan konsep-konsep baru tentang realism, power, moralitas, power politics yang mendukung akan perkembangan ilmu HI. Tidak dapat dipungkiri bahwa pemikiran Carr tidak jauh dari latar belakang peristiwa semasa ia hidup. Carr berusaha berpikir untuk menjawab

(7)

tantangan permasalah Hubungan Internasional pada masanya. Pemikiran-pemikiran tersebut juga masih relevan untuk digunakan hingga saat ini.

D. Hans J. Morgenthau dalam Karyanya dengan judul Politics Among Nations:The Struggle for Power and Peace

Politics Among Nations: Perjuangan Merebut Kekuasaan dan Perdamaian adalah sebuah buku ilmu politik karya Hans Morgenthau, yang diterbitkan pada tahun 1948. Buku ini memperkenalkan konsep realisme politik, menyajikan pandangan realis politik kekuasaan. Konsep ini memainkan peran utama dalam kebijakan luar negeri Amerika Serikat, yang membuatnya menjalankan kekuasaan dunia-mencakup pada periode Perang Dingin. Konsep ini juga menyerukan rekonsiliasi politik kekuasaan dengan etika idealis diskusi Amerika sebelumnya tentang kebijakan luar negeri.

Kutipan

Negarawan harus berpikir dalam kerangka kepentingan nasional, dipahami sebagai kekuasaan di antara kekuatan-kekuatan lain. Pikiran populer, tidak menyadari perbedaan halus berpikir negarawan itu, alasan lebih sering daripada tidak dalam istilah moralistik dan legalistik sederhana baik mutlak dan absolut jahat.

Realisme menyatakan bahwa prinsip-prinsip moral yang universal tidak dapat diterapkan pada tindakan negara-negara. Individu mungkin berkata untuk dirinya sendiri." Biarkan keadilan dilakukan, bahkan jika dunia harus binasa ", tetapi negara tidak memiliki hak untuk mengatakan sehingga atas nama orang-orang yang dalam perawatan nya.Sementara individu memiliki hak moral untuk mengorbankan dirinya dalam membela suatu prinsip moral, negara tidak memiliki hak untuk membiarkan celaan moral dari pelanggaran (bahwa prinsip moral) menghalangi aksi politik yang sukses, dirinya terinspirasi oleh prinsip moral kelangsungan hidup nasional.

Masterpiece dalam studi hubungan internasional. Buku ini dianggap sebagai titik tolak bangkitnya “realisme dari dominasi idealisme yang menguasai studi hubungan internasional paska Perang Dunia ke I”. Dalam Politics Among Nations: Struggle For Power and Peace, HJ.Morgenthau menuliskan enam prinsip realisme politik., dan berikut ini rangkuman enam prinsiprelisme politik HJ.Morgenthau yang ditulis oleh J.Ann Tickner : A Critique of Morgenthau’s Principles of Political Realism,

1. Politics like society in general, is governed by objective laws thet have their roots in human nature, which unchanging ; therefore it is possible to develop a rational theory that reflects these objective laws.

(8)

3. Realism assumes that interst defined as power is an objectve category which is universally valid but not with a meaning that is fixed once and for all.Power is control of man over man.

4. Political realsm is aware of the moral significance of political actions. It is also aware of the tension between moral command and the requirements of successful political actions.

Terjemahan

1. Politik seperti masyarakat pada umumnya, diatur oleh tujuan hukum tertentu yang memiliki akar dari sifat manusia itu sendiri, yang tidak berubah. Oleh karena itu dimungkinkan untuk mengembangkan sebuah teori rasional yang mencerminkan hukum-hukum ini objektif

2. Tanda utama dari realisme politik adalah konsep yang menarik yang didefinisikan dalamm istilah kekuasaan yang menjiwai urutan rasional ke subyek politik, dan dengan demikian memungkinkan adanya pemahaman mengenai teoritis politik. Realisme politik menekankan rasional, objektif dan tidak emosional

3. Realisme mengasumsikan bahwa interst ( antar negara atau celah ) didefinisikan sebagai daya yang masuk dalam kategori objektif yang berlaku Universal tetapi tidak dengan makna yang tetap sekali dan untuk semua. Kekuatan adalah kontrol manusia atas manusia

Referensi

Dokumen terkait