• Tidak ada hasil yang ditemukan

Termodinamika Cinta Termodinamika Cinta Termodinamika Cinta

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Termodinamika Cinta Termodinamika Cinta Termodinamika Cinta"

Copied!
57
0
0

Teks penuh

(1)

Termodinamika Cinta

By : RimbaSadewo

(2)

Prakata

Cinta?. Entahlah gimana bentuknya kata tersebut tetapi percayalah bahwa itu nyata. Cinta memang banyak bentuknya tergantung bagaimana kita memaknainya. Begitupun ketika termodinamika dihubungkan dalam hal cinta. Saya rasa merupakan hal yang sah-sah saja. Karena memang cinta tidak ada teorinya dan begitulah adanya.

Saya hanya ingin novel ini dapat menjadi kenangan mengukir nama kita, mengingatkan kita yang pernah belajar bersama di jurusan kimia. Tidak mudah memang menggambarkan semua sesuai imajinasi. Saya hanya mengungkapkan imajinasi saya terserah diterima atau tidak. Yang pasti jadikan kenangan bahwa semua kebersamaan kita telah tertulis indah.

Mungkin angkatan kita adalah angkatan yang tak dipenuhi cinta. Karena memang tidak ada yang akhirnya menjadi kekasih dalam satu angkatan. Tapi menjadi rahasia umum jika ada seseorang diantara kita saling suka dan saling cinta. Entah mengapa tidak terwujudkan dalam hubungan nyata. Tapi inilah uniknya walaupun tidak ada yang menjalin hubungan asmara saya akan mengambil dari sudut berbeda untuk membuatnya menjadi angkatan yang sempurna. Untukmu chemist 09.

(3)

tertawa. Berkaca tentang diri kita dan beginilah kita. Kita bukan orang sempurna tapi dengan menerima kita apadanya membuat kita bahagia berjuang bersama.

Saya sih ingin ini tak berbentuk novel saja. Semoga ada sutradara yang tertarik mewujudkan menjadi FTV atau minimal film lah. Ya, walaupun hanya ada beberapa nama yang tertera saya berterimakasih pada semua telah menumbuhkan imajinasi saya mencipta tulisan cinta dalam sebuah kata. Kalau ada salah dan kurang pas saya mohon bantuannya menyempurnakan cerita dalam imajinasi saya mewujudkan dalam bentuk cerita bagi penikmat yang dapat dirasa dalam bentuk bahasa.

(4)

langkahku biar suaraku selalu menggema ditelingamu”. Hehehe…. “Lalu kalau aku gak menghargai novel karyamu ini kamu akan gimana, sakit hati gak?”. “Gak lah Fer, kan tinggal diubah aja namamu dalam cerita ini”. “Hu, nyebelin”. “Iya dong Fer, jangan jadi perempuan yang hanya bisa nanya seberapa besar cintamu ke aku?”. “Tetapi aku sebagai laki-laki juga perlu bukti sebesar apa balasanmu akan cintaku”. “Udah gak zaman cinta bertepuk sebelah tangan Fer”. Hahaha….

Ucapan maaf yang pertama saya sampaikan kepada Hisyam karena terlalu jauh melenceng dari dunia sebenarnya. Setidaknya kami tahu dan bukan rahasia lagi Hisyam memiliki hubungan asmara dengan teman satu angkatan. Sebenarnya untuk cerita saya ingin memasangkan Ikrima dengan Hisyam, tapi Ikrima kan

wanita sholeha yang selalu menjunjung tinggi nilai agama. “Tidak mungkin juga Ikrima suka sama kamu Syam?.” “Laki-laki macam kamu mana pantas dengan wanita kalem dan sholeha kayak dia?.” Sebenarnya juga saya ingin memasangkan Hisyam dengan Rossa, ya Mama Rossa. Kan tambah menarik dengan muka Mama Rossa yang agak judes sangat cocok sebagai pemeran antagonis. Namun, saya kurang suka dengan pemeran antagonis dalam cerita ini. Nanti juga saya bisa

dimarahin Mama Rossa kalau saya paksakan masuk ke dalam cerita ini. “Maaf mama Rossa saya tidak kuasa mendurhakaimu.” Biarlah pemeran antagonis dalam

(5)

Ucapan maaf juga saya sampaikan kepada riskon yang tak hadir dalam cerita. Cuma Huda aja yang sedikit menyinggung nama riskon dalam cerita ini. Mungkin dapat dipaksakan namun sayang sekali benar-benar tiada tempat untukmu. Memaksakan untuk menulismu hanya akan ada cerita penuh hinaan yang mengurangi manis dan romantisnya cerita ini. Ah, kamu sih terlihat sok suci tapi bagiku kamu bagai setitik noda yang dapat meluruhkan semua cerita cinta yang ku

buat ini. Sekali lagi mohon maaf ya riskon. Haha…

Novel ini terispirasi dari film ada apa dengan cinta walaupun saya gak pernah melihatnya, ya Cuma sedikt ngintip wajah dian sastro waktu muda itu dan juga terinspirasi film 5 cm. jika ada kesamaan alur cerita saya mohon maaf yang sebenar-benarnya. Tapi itulah inspirasi saya untuk membuat cerita ini.

Nanung (Rimbasadewo)

(6)

Wawancara Ngawur

”Kita akan mengupas sedikit tentang novel berjudul Termodinamika Cinta yang katanya ditulis oleh seorang penulis gila dengan nama pena Rimbasadewo”.

“Saya Sakinah Jawas, reporter Besuki Galau melaporkannya untuk anda”.

Sakin : “Apa kabar Mas Rimba?”.

Rimba : “Alhamdulillah, kabar saya baik dan sehat Mbak Sakin.” Sakin : “Loh kok kamu Nung?”.

Rimba : “Iya, saya Rimbasadewo”.

Sakin : “Kita akhiri laporan kali ini, karena kita benar-benar bertemu

dengan orang gila.”

Kring, kring, Suara becak. Ternyata bukan suara becak tapi dering telepon

seluler milik Sakin. Sakin segera mengangkat telpon tersebut. “Telpon dari bos ini” ucap Sakin. “Iya bos, ada apa?”.“Hasil wawancara dengan Rimbasadewo mohon

segera dikirim, kita kekurangan berita untuk mengispirasi pasien rumah sakit jiwa

yang mulai mengamuk”. Besstttt….. tut, tut, tut… “Aduh, saya kentut Nung?”. “Gak apa-apa Kin, kentutnya sopan kok”.

“Saya Sakinah jawas dengan terpaksa melanjutkan wawancara yang tidak berguna ini”. “Semoga tidak makin sesat dari wawancara yang tidak bermanfaat

ini”.

Sakin : “ Boleh saya lanjutkan Mas Rimba, atau aya panggil Nanung saja?” Nanung : “Panggil Nanung saja biar lebih akrab, Rimbasadewo kan Cuma

nama pena saya atau sebutlah itu nama gila saya”. Sakin : “Bukankah kamu memang sudah gila Nung?”.

Nanung : “Orang gila pun pasti marah jika dipanggil gila, apalagi jika orang

(7)

orang gila selama masih bisa kembali dalam kewarasan mental dan mampu hidup dengan orang-orang yang merasa waras

disekelilingnya”.

Sakin : “Kamu merasa gila atau waras sebenarnya nung?”.

Nanung : “Seniman tidak akan peduli dipanggil gila atau waras, karena mereka berada pada titik setimbang. Disatu sisi mereka larut dalam

kegilaannya tetapi tetap dapat mempertahankan kewarasannya”. “Contohnya Si Dalang Edan, keedanan dari gaya dan pemikiran

eksentriknya tetap jadi panutan orang-orang yang ngaku masih merasa waras”. “Jika seni diartikan pada hasil, cipta, dan rasa maka

penulis juga gak masalah jika disebut seniman bukan?”

Sakin : “Saya semakin tidak paham nung, bisa dijelaskan lebih rinci?”. Nanung : “Ehm, ditinjau dari karyanya seniman memiliki pemikiran lebih,

terkadang diluar nalar, bahkan gak masuk akal dari logika kewarasan manusia. Dengan pemikiran yang diluar nalar itu

walaupun ngaku dewa pada akhirnya ya disebut orang gila bukan?’.

Sakin : “kesimpulan tentang seniman gila itu gimana terus nung?’

Nanung : “Kesimpulannya, seniman sendiri tetap menyadari kodratnya sebagai manusia yang secara fisik dan mental masih dalam kewarasan manusia biasa. Namun, kemampuan pemikiran dan imajinasinya menyelami sisi yang tidak biasa membuat mereka

disebut gila”.“Anggaplah seniman itu orang yang sakit mental tetapi

memiliki penawarnya.” Kenapa tetap dibilang gila?. Yak karena

mereka tetap dianggap sakit bukan sakin”

(8)

Nanung : “Saya sebenarnya pingin buat novel dengan tema science fiction,

didalamnya saya menghubungkan tentang ilmu termodinamika dengan proses mencari cinta. Setting ceritanya saya buat di lingkungan kampus dengan teman-teman saya sebagai

pemerannya”.

Sakin : “Jika ini fiksi berarti imajinasi saja dong nung, gak ada bagian yang kamu benar-benar mengalaminya kah?. Apa kamu sudah ijin teman-temanmu memasukkan nama asli mereka dalam cerita?.

Nanung : “Ya hanya imajinasi saja dan gak perlu diperdebatkan teori termodinamikanya karena saya sendiri juga tidak terlalu

menguasainya”.

“Ada sedikit yang merupakan pengalaman pribadi tetapi dengan

tokoh yang tidak dalam dengan cerita dan itu rahasia yang saya tidak ingin membahasnya. Pastinya pengalaman pribadi dan pengalaman orang lain menjadi inspirasi yang menumbuhkan imajinasi saya

membuat cerita”.

“Gak usah ijin mereka, toh saya hanya menggunakan nama saja yang akan mereka sadari bahwa itu bukan mereka. Kalaupun ada yang tidak terima, mereka harus menerimanya walaupun dengan

terpaksa”.

Sakin : “Mengapa perlu pengalaman pribadi ditambah pengalaman orang

lain untuk menumbuhkan imajinasimu?”.

(9)

Sakin : “Egois sekali memaksa temanmu menerima cerita ini, apakah tidak ada diskusi dulu sebelum pembuatan cerita. Lalu bagaimana kamu menceritakan cerita itu sesuai kepribadian mereka?”

Nanung : “Ya, itulah keegoisan saya dan secara tatap mata langsung saya tidak pernah mendiskusikannya dengan mereka.” “Saya tidak pernah berharap itu sesuai dengan kepribadian mereka secara

nyata”.

Sakin : “Lalu bagaimana cara kamu menggambarkan watak mereka

Nung?”.

Nanung : “Dengan ritual pemanggil jiwa tentunya”. Sakin : “Ritual apa itu nung?”

Nanung : “Saya panggil jiwa atau bayangan mereka untuk berdiskusi, mengerti watak mereka, dan kemudian menggambarkannya. Enaknya ritual tersebut saya bisa menggambarkan mereka sesukanya, karena sifat bayangan itu selalu nurut mengikuti objek yang sebenarnya dan sengaja saya buat menuruti keinginan saya”.

“Contohnya, saya memanggilmu khusus untuk membuat wawancara

ini menjadi lebih nyata”.

Sakin : “Jahat banget kamu nung melakukan ritual pemanggil jiwa kepada teman-temanmu?”

Nanung : “Kamu lebih jahat kin, dengan tidak sengaja memanggil jiwaku yang membuatku cinta kamu”.

Sakin : “Makin jijik aku sama kamu Nung, jika itu yang kamu rasakan saya kecewa kenapa saya masuk dalam cerita hanya sebagai ilusi saja?”. Nanung : “Karena kamu hilang begitu saja dari hadapanku. Tetapi aku

(10)

sebagai tokohnya, karena saya tidak ingin ada tokoh lain mencemarinya dan mengganggu kita”.

Sakin : “Di dalam prakata kamu memohon maaf kepada riskon kalo aku gak salah, dia tidak dimasukkan dalam cerita karena kamu takut

menghina. Apa maksudnya itu?”

Nanung : “Tolong jangan bahas nama itu, perasaan jijikku kepadanya melebihi perasaan jijikmu ketika melihatku Kin”. “Intinya menghina itu tidak boleh dilakukan karena perbuatan tidak baik, yang boleh kita lakukan adalah membullynya, tetapi tidak dalam cerita ini”. Sakin : “Terserah kamu dah nung”. “Kalau begitu apa arti teman bagimu

jika kamu tega melakukan ritual pemanggil jiwa pada mereka?”. Nanung : “Yang pasti teman tidak sekedar kenal nama mereka, jika ada

pribahasa tak kenal maka tak sayang, maka sebagai teman kita harus mengenal kelebihan, kekurangan, sifat, dan watak mereka, mengerti, memahami, serta menerima mereka apa adanya. Jika kita makin dekat maka disitulah kita akan menemukan arti sahabat.

Sakin : “Kembali ke novel, gaya nulismu kan agak mesum dan erotis biasanya, gimana novel ini apa masih mesum?”.

Nanung : “Sesuatu yang erotis itu selalu eksotis kin. Ada sedikit sih sebenarnya yang juga kelemahan dari novel ini. Di novel ini aku sadari terlalu banyak kata Ah, Ih, Uh, Eh, Oh. Jangan artikan kata itu sebagai bantahan Ah pada orang tua, karena itu dosa. Saya berharap kata-kata itu bukan kelemahan tapi desahan yang tetap

menyimpan keerotisan dari novel ini”.

Sakin : “Jelaskan kekurangan dan kelebihan dari novel ini nung lebih

rinci?”.

(11)

tentunya. Sebenarnya saya ingin novel ini berbentuk prolog seperti wawancara kita karena memang banyak pembicaraan langsung dari tokoh-tokohnya. Namun, karena terlanjur jadi paragraf ya apa boleh buat saya pun terlalu malas untuk mengubahnya. Kalo kelebihannya mungkin tidak ada dan terkesan biasa, tetapi saya berharap pembaca tidak usah terlalu dalam memikirnya. Namun, membuat pembaca tersenyum dan tertawa itu lebih dari cukup bagi saya.

Sakin : “Oke, pertanyaan terkhir karena saya sudah benar-benar tidak betah, menurutmu apa arti cinta Nung?.

Nanung : “Saya mungkin akan plin-plang menjawab kata itu dan akan terus memberi jawaban berbeda jika kamu tanya hal itu pada tiap kesempatan. Menurut saya cinta itu akan sulit dipahami, dibayangkan, dimengerti, dan merupakan petualangan sepanjang hidup kita untuk mencarinya. Karena itulah selamanya cinta tidak akan pernah musnah,selalu abadi, dan menarik untuk diperbincangkan. Yang kita lakukan hanyalah percaya bahwa cinta itu nyata jika kita dapat merasakannya.

Sakin : “Saya rasa cukup wawancara kita, saya rasa gak usah saya ucapkan terimakasih karena saya yakin kamu tidak rela saya akhiri

perbincangan membosankan ini”.

Nanung : “Ya, Saya hanya rela jika takdirmu adalah saya kin.”

“Saya akhiri perbincangan ini, walaupun tidak menginspirasi semoga juga tidak menimbulkan emosi. Saya Sakinah Jawas melaporkan untuk Besuki Galau,

(12)

Daftar Isi

Bagian 1. Di Kampus ini

Bagian 2. Kuliah Oh Kuliah

Bagian 3. Sistem Reaksi Kimia

Bagian 4. Hukum Pertama Termodinamika

Bagian 5. Hukum Kedua Termodinamika

Bagian 6. Hukum Ketiga Termodinamika

Bagian 7. Ku Menanti Jawaban Disaat Kelulusan

Bagian 8. Jawaban dari Penantian

(13)

Bagian 1. Dikampus Ini

“Ah, panasnya hari ini!”. “Kuliah siang dimana kalor sinar matahari cukup menyengat membakar kulitku yang putih ini”. “Enak tidur siang di kostan, dibawah kipas angin dengan es jus sirsak yang manis asam”. “Demi cita-cita aku rela berjuang”. Nanung seorang mahasiswa jurusan kimia dengan sifatnya penyendiri dan masih bingung tentang arti cinta, sebenarnya banyak wanita yang mendekatinya namun dia belum percaya arti cinta karena cinta abstrak tak bisa diterima logika dan tidak ada teori yang melandasinya. Gayanya selalu necis, kadang gembel, ya sesukanya pokoknya. “Hai om Ridho!”. Beberapa adik angkatan menyapanya karena perawakannya yang mirip Ridho Roma dengan rambut keriting putih dan cukup beribawa. “Ah wanita usil aja panas-panas gini”. “Cuekin aja lah, hemat energi bro!”. hahaha….

“Hai Nanung”, sambut Ferisa dengan menepukkan tangannya di pundak Nanung. “Cemberut aja, tuh banyak cewek-cewek yang menyapamu”. “Mana?”.

“Setel budek aja”. “Ah kamu gak peka banget paling gak senyumin dikit lah”. “Ah males Fer”. Ferisa seorang gadis cantik dan menarik sahabat baik Nanung, cantik penuh pesona yang menyimpan hati kepada Nanung walaupun nanung selalu menganggapnya hambar, Ferisa selalu mencoba membuat Nanung mengerti arti cinta. “Eh, mana Huda?”. “Kan sekostan tuh kenapa gak bareng, kuliah kita kan sama”. “Ah dia lagi sakit perut”. “Kutinggal aja lah, aku kan selalu tepat waktu, takut terlambat aku”. “Ih jahat banget kamu sih, walaupun kayak gitu dia kan sering nolongin kita dan ngasi nasihat yang baik”. “Ah, biarin lah bareng terus dikira homo nanti aku”. Hahaha… (tertawa bersama)

(14)

tapi jangan tanya yang macem-macem termasuk nyangkut-nyangkutin pelajaran sama cinta”. “Teori kan harus diaplikasikan Reg, ah kamu ini”. “Terserah lah kamu selalu nanya hal yang ngaco Nung”. Rega Anggraini seorang yang kalem penyimpan sejuta rahasia dan pintar dekat dengan Nanung karena dapat mengajarinya pelajaran kuliah, tetapi dia tidak bisa menjawab pertanyaan Nanung yang selalu tidak biasa, diluar nalar logika, dan membuat Rega selalu kewalahan untuk mencoba menjawabnya.

“Woi bro!”, sambil berlari. “Belum mulai kuliahnya?”. “Gak lambat kan aku?”. Hahaha…. Huuuuu… Semua orang menyorakin Hisyam yang tiba-tiba datang. “Pasti ada yang bangunin ya?”, tanya Rega. “Mana ada orang suka bangkong kayak kamu tepat waktu?”. Hehehe… Hisyam pun tertawa. Hisyam seorang siswa teladan pandai, gayanya ceplas-ceplos, apa adanya, sedikit keras kepala, dan arogan kadang-kadang. Hisyam selalu digilai wanita dan benar-benar seorang pecinta. “Syam mana si Iis pacarmu kok gak keliatan?”. “Eh iya, mana ya?”. “Ketinggalan diparkiran mungkin Fer”, jawab Hisyam enteng. “Kok mau sih dia ama kamu?”. “Salah dia aja yang mau ama aku”. Hahaha….

Tiba- tiba datang seorang wanita penuh emosi dan yang luntur dandananya akibat mandi keringat. Melayanglah buku kuliah mengenai kepala Hisyam,

ciattttt… “Aduh”, Hisyam pun merintih kesakitan. “Apa-apaan sih Is?”. “Ah kamu ini kunci dibiarin gantung di sepeda, gimana kalau hilang sepedanya?”. “Tadi pak satpam manggil kamu eh malah langsung lari aja”. “Eh, sorry aku kelupaan”.

“Kelupaan atau kebiasaan?”, “Kamu tau kan bedanya?”. “Tuh jidatmu kok gak kelupaan”. Iis pacar Hisyam yang cukup menarik centil dan selalu menikmati cinta sebagaimana dia rasa. Walaupun Hisyam pandai tapi dia ceroboh dan seenaknya kadang terlihat sangat egois tetaapi Iis selalu mencintainya.

(15)

pegang perut terus?”, tanya Ferisa. “Iya Fer, tuh gara-gara mienya si Nanung yang campur sayur”. “Kan sehat Hud, campur sayur daripada mie doang Cuma karbohidrat?”. “Sehat apanya Fer?, aku pikir sayur, ternyata rumput dihalaman yang dipotong-potong mirip sayur”. Nanung senyum-senyum geli melihat kesuksesan menjahili Huda. Langsung saja tangan Ferisa menjewer telinga Nanung.

“Ih, sakit tau Fer gerutu Nanung”. “Kamu jahat banget sih ke temen sendiri, udah satu kostan masih aja dijahilin”. “Iya, ampun deh Fer”. “Gak akan aku ulangi lagi”.

“Kalo nakal lagi bilang aja ke aku Hud!”, ucap Ferisa. “ Biar ku hajar nih anak”.

“Kapok!!!”, jawab mereka serempak.

“Hai teman teman apa kabar?”, seorang laki-laki turun dari mobil mewah warna merah dikuti seorang gadis kemudian mereka berpisah begitu saja. “Eh, Yusril”, jawab Rega. “Mobil baru bro Tanya Hisyam penasaran, lengkap sama supirnya pula kayak bos saja”. “Weh, iya nih biasanya tetep naek motor walaupun anak bos” sahut Huda. Yusril mahendra mahasiswa biasa-biasa saja yang menjadi sahabat mereka, kaya, royal, dan suka mentraktir. Bokapnya yang tajir dipastikan dia akan mewarisi harta kekayaan dengan jumlah kotor ratusan dolar, penghasilan bersihnya paling 5 ratus ribu doang sebulan. Hahaha… Entahlah, gak pernah hitung kekayaan soalnya. Bokapnya yang bos juga membuat kenalannya juga anak-anak bos. Tetapi kelebihan Yusril adalah dia masih mau menerima kita sebagai sahabatnya walau beda kasta diantara kita. Dia tidak membedakan teman-temannya bahkan sering mengundang teman-temannya dirumah besar yang menurutnya sederhana. “Motor tetep ada kok”, jawab Yusril, “tapi bokap lagi ke luar negeri”.

(16)

soal jodoh”. “Jadi santai aja masalah jodoh”. Yusril menjawab dengan penuh bijaksana dan teman-teman mereka pun mengangguk tanda mengerti.

“Eh, udah lewat 5 menit nih”, ucap Rega memotong obrolan mereka. “Kita kan kuliah termo hari ini”. “Dosennya agak judes loh, kalo lambat lebih 15 menit gak boleh masuk nih kita”. “Ayo-ayo ke ruang kuliah”, jawab mereka serempak dan segera menuju ruang kuliah.

Nanung, Ferisa, Rega, Hisyam, Iis, Huda, dan Yusril adalah mahasiswa jurusan kimia suatu universitas terkenal yang cukup disegani. Entah karena takdir atau hanya kebetulan mereka dapat bertemu dan berkumpul dalam satu angkatan. Memang masih banyak teman-teman lain yang mewarnai cerita mereka. Namun, cerita ketujuh sahabat ini yang nampaknya lebih bermakna.

Di ruang kuliah terik siang hari yang menyengat membuat keringat bercucuran tidak terasa. Hembusan AC dalam ruangan membuat mahasiswa seakan ngantuk dalam heningnya suara kuliah. Hisyam dan Iis lebih suka duduk di pojok ruang kuliah. Memang terlihat seperti sepasang kekasih tetapi memadu kasih di ruang kuliah rasanya bukan pemandangan yang tepat untuk diungkap. Nanung Huda dan Yusril duduk dibangku tengah seakan setengah ngantuk sambil memaksakan memperhatikan pelajaran kuliah. Sementara Rega dan Ferisa duduk didepan kelas dengat raut wajah serius memperhatikan pelajaran. Huda pun tiba-tiba nyeletuk, “ah kuliah termo kayaknya bukan waktu yang cocok deh di siang-siang kayak gini”. “udah panas, materinya tentang panas pula, otakku jadi makin panas”. Yusril pun menambahi, “ah iya bro aku yang terbiasa di ruang AC pun seakan AC diruangan ini tak bekerja maksimal, gerah nih gara-gara pelajaran”. “Eh Nung, ngelamun aja kamu, denger apa yang kita bicarain gak?”, Tanya huda.

“Bicarain apa?” Nanung dengan wajab bingungnya. “Weh kamu merhatikan pelajaran atau sapa?”, Tanya Yusril. “Ngelamun nih anak”, celetuk Huda. Tiba-tiba sang dosen pun menunjuk Nanung. “Jelaskan yang dimaksud termodinamika?”.

(17)

marah hari ini. “Mulai besok kalian harus belajar, saya akan menunjuk satu-satu mahasiswa untuk mengerjakan”. “Yang tidak bisa akan mendapat hukuman”.

“Kuliah hari ini saya akhiri!” tutup bu dosen. Kelas kembali gaduh. “Wah bencana ini, hukumannya sih gak masalah tapi gengsi dan malunya nih muka taruh mana?” ucap Yusril. “Kalo waktu SD sih biasa, nih udah tuwir dihukum kayak anak SD kan malu” jawab Huda. Akhirnya kelas pun sepi ditinggalkan para mahasiswa. Demikian ketujuh sahabat tadi saling mengingatkan untuk belajar sebelum ucapan dosen menjadi kenyataan di pertemuan kuliah berikutnya.

Mereka berkumpul diparkiran setelah bersama di ruang kuliah termodinamika, Ferisa dan Rega segera mengendarai sepedanya menuju kostan tercinta. Si Hisyam dan Iis bingung mencari kunci yang ternyata lagi-lagi tertinggal di ruang kuliah. Yusril segera memasuki mobil jemputannya dan Nanung bersama Huda segera pergi menuju kostannya. Dalam perjalanan Huda dan Nanung yang megnendarai sepedanya masing-masing berbincang. “Udah punya materi gak Nung?”. “Eh iya tau gitu mampir perpus dulu, tapi dah sore nih”. “Eh aku inget Rega udah punya materi ayo mampir kostannya dulu trus kita fotokopi materinya”, ajak Nanung kepada Huda. Cap cus deh…

Di kostan Rega, “eh kalian kok disini buntuti aku ya?”. “Enak aja, aku pinjem materi, bencana besar kalau kita gak belajar”. “Oh iya ini fotokopiin juga Ferisa, Hisyam, Iis, dan Yusril, mereka tadi SMS suruh ngopiin”. “Nih bukunya besok pagi balikin terus jangan lupa kasikan kopiannya ke mereka”. “Oke makasih Reg”, jawab Nanung. “Capsus fotokopi Hud”. “Oke Nung!’. Lanjut…

Ya begitulah kehidupan kampus penuh dilema. Kalau tidak di kampus kehidupan lain ya dikostan bertemu dengan orang-orang aneh. Untung Huda tipe babu. Punya temen kostan kayak dia tuh banyak enaknya. Nanung yang dikit jorok selalu bersih kamarnya kalau Huda yang bersihin. “Bersabarlah Huda, pasti Tuhan membalasnya. Aminnnn!”. “Sialan kamu Nung, aku dibilang babu, udah tau gitu temenmu ini masih dianiaya, diracun mie campur rumput itu balesanmu ke aku?”.

“Ah masih untung gak dicampur racun tikus Hud” jawab nanung nyengir. hahaha…

(18)

Bagian 2. Kuliah Oh Kuliah

Pagi yang cerah seakan memberi energi untuk semangat kuliah hari ini. Walaupun bensin dalam tangki motor tinggal setetes tak menyurutkan semangat untuk kuliah. Setelah mandi dan mempersiapkan segalanya dan sedikit perdebatan dengan Huda tentang motor siapa yang akan kita bawa ke kampus cukup membuat kalang kabut. Ya maklum sangu yang pas-pasan ciri anak kostan membuat kita harus pintar mengatur keuangan. Akhirnya diputuskan untuk jalan kaki menikmati hari ini. “Ayo berangkat Nung”, teriak Huda. “Iya, gak bikin mie lagi Hud?”. “Ah marung aja, kalo sarapan sekarang pasti nanti lapar lagi abis jalan kaki”. “Oke, logis juga pikiranmu”.

Kampus terlihat megah hari ini, semegah semangat mahasiswa yang menempuh kuliah hari ini. Huda segera nyelonong meninggalkan Nanung yang nampaknya sudah ngos-ngosan akibat jalan kaki yang lumayan jauh dari kostan menuju kampus. Nanung berjalan dengan gontai menghadapi nasib perkuliahan yang mungkin cukup buruk. “Ah semester berapa ini?”. “Nilai gak cukup bagus, mau jadi apa nanti ya?”. “Apa salah jurusan milih kimia ya?”. Dengan merenung Nanung menghampiri Huda yang telah memesan semangkuk soto dan teh hangat. Sang pemilik warung pun menghampiri sedikit berbasa basi sebelum menanyakan menu yang akan dipesan. “Kuliah jurusan apa mas?”, tanya pemilik warung.“Kimia

(19)

sawah buat kuliah”. “Yang sabar mas, ibu doain sukses jadi orang”. “Amin bu”, jawab kami dalam hati.

“Eh gimana Hud kuliahnya nanti, kita kan belum belajar?” tanya Nanung.

“Udah sarapan dulu, aku gak bisa mikir kalo perut belum diisi”. “Ah otakmu di perut apa?”. “Otak kan butuh asupan energi Nung, kita abis jalan kaki, energi kita udah abis nih”. “Jangan bikin emosi deh!”. “Oke?”, pesananpun datang. Dengan rakusnya Huda menyantap makanan yang dipesan. Sementara Nanung masih menikmati asap panas semangkuk soto dan teh hangat yang menari-nari bagai penari perut di timur tengah. “Hud, sakin lagi nari tuh”. “Mana?”. “Tuh asap soto dan teh panas”. Sakin adalah wanita keturunan arab dikelas kami, sengkatan dengan kami, dengan wajah cantik dan bodi yang aduhai, hidung mancung, yang menjadi idaman laki-laki. “Hud tau gak aku dan Hisyam sering bayangin sakin pakai bikini terus pakai bando kelinci kayak wanita majalah playboy tuh”. “Udah cepet makan pikiranmu mulai gak waras”. Hehehe… “Haduh, punya temen kok gak waras”, gerutu Huda. “Liar juga pikiranmu bayangin sakin gitu, kayaknya cocok deh sakin kalo didandanin gitu terus tari perut”. “Ah, udah Hud aku gak mau kamu bayangin Sakin, gak rela aku tubuh sakin kamu bayangin!”. “Kan kamu Nung yang mancing imajinasiku”. “Dah lupakan anggep aku gak pernah ngomong”. Haha…(Huda

terawa). “Sensi banget sih kamu Nung?”. “Cowoknya sakin pasti lebih marah kalau tau sakin kamu bayangin gitu Nung”. “Ya mangkanya lupakan saja”. Hahaha….

“Hoi lagi makan?’ bentak Hisyam. “Weh ngagetin aja untung gak aku semprot soto” ucap Nanung sedikit marah. ‘Mana fotokopian materi kuliah Nung”.

(20)

pura-pura gak tau”. “Aku kan emang belum menemukan arti cinta sebenarnya”.

“Dah cepet abisin makananmu Nung”.

Yusril pun datang, “fotokopiannya bro”. “Oh nih. Nih bro buat ganti plus buat bayar makanan minumanmu”. “Gak usah repot Yus”, ucap Nanung. “Udah sini kata Huda”, sambil mengambil uang lima puluh ribu. “Aku kasian liat kalian”, ucap Yusril. “Jarang-jarang liat kalian berdua ke warung”. “Udah abis mie campur rumput kayak yang kemaren itu”. “Sialan kamu Yus”, sahut Huda sedikit tersindir.

Hahaha… “Kok betah sih sekostan sama Nanung kamu Hud?”. “Dia bukan nganggep kamu temen tapi nganggep kamu kambing sampek disuguhin mi campur rumput”. “Udah Hud sabar aja, kan gak pernah kamu punya temen nyebelin kayak aku”, sahut Nanung. “Makin sabar pahalamu makin besar”. “Kampret kamu Nung!!”. “Udah gak usah tengkar, aku tinggal ke bengkel dulu, bokapku nyuruh aku ngambil mobil nih”. “Nanti kita ketemu lagi di ruang kuliah”. “Oke, makasih Yus”. “Oke, sama-sama udah motokopiin materi”. “Padahal beli buku aslinya kan

mampu kamu yus?”, tanya Huda. “Kan enak fotokopi bisa jadi catetan bagian belakangnya”. “Kaya-kaya pelit juga loh bro”. “Balikin 50 ribunya!” sakit hati aku.

hahaha…. (Nanung tertawa). “Udah iklasin aja, sana cepet ke bengkel” sahut Nanung. “Dasar kalian semua”… hahaha

“Hai ngelamun aja Rega membuyarkan suasana’. “Ayo, kalian gak belajar termodinamika, kuliah nanti lo, nanti ditanya gak bisa jawab”. “Ya, tapi males kuliah ah”. “Itung-itungan teorinya juga sulit”. “Udahlah ayo kalo gak paham kita belajar bareng”. “Tuh Ferisa selalu semangat”. “Ah dia kan selalu semangat selalu ceria, sedihpun gak kira ketahuan”. Ferisa menyela, “emang aku robot penuh senyum, gini-gini aku wanita yang perasa”. “Kalo ngambek banjir tuh kamar tidurku”. “Tisu bertebaran deh”. “Ih curhat, sapa yang Tanya”. “Hu, dasar jomblo gak perasa maunya sendiri”. “Ah perhatian banget kalo aku jomblo”. “Emang kamu bukannya jomblo juga?”. “LDR tau”. “Lupa Di Rantau itu”. “Udah deh gak usah bahas hubungan asamara masih ada tujuan yang ingin kucapai”, ucap Ferisa.

(21)

daripada ngerumpi aja kerjaan kita”. “Udah jangan ribut ayo belajar di taman depan kampus tuh mumpung masih cerah nih”, ajak Rega.

Di bangku taman Rega mengawalinya acara belajar bersama kita. “Kuliah kemarin kita kan bahas energi”. Nanung dan Huda hanya mlongo. “Huh, dengar materi kuliah kemarin gak sih?”. Ferisa hanya tersenyum geli melihat ekpresi culun Nanung dan Huda serta ekpresi sebel Rega. “Ah mereka masak dengerin Reg, udah jelasin aja dari awal biar mereka mengerti”. “Oke deh”. “Termodinamika itu kan ilmu yang untuk menghitung perubahan panas atau perubahan bermacam energi lainnya”. “Karena kita kuliah kimia maka dipelajari termokimia yaitu perubahan energi yang menyertai reaksi kimia”. “Paham gak Hud, Nung?”. “Iya. Inti dari kuliah termodinamika itu pastinya energy”. “Energi itu kemampuan untuk melakukan kerja”. Dengan sigap Rega menuliskan rumusnya.

(22)

Yusril pun datang dengan mobil barunya, “ayo kuliah jangan sok belajar deh kalo akhirnya bingung juga”. “Lagi semangat banget kuliah bro, abis dapat

mobil baru nih kayaknya?.”. “Mobil lama bokap bro baru dibenerin dari bengkel, aku disuruh membawanya”. “Ya sudah aku bawa saja”. “Kamu kayaknya gak semangat kuliah Yus, paling di kelas bayangin naik mobil barumu sama

cewek-cewek”. “Udah pasti bro… hidup harus dinikmati”. Hisyam dan Iis pun datang,

“ayo kuliah”. “Kita mojok dibangku belakang aja sambil pacaran”. “Hahaha lu sih pinter bro mau kuliah sambil blowjob pasti dapat nilai A” ucap Yusril. Iis pun menjawab, eh kurang ajar kita tuh pacaran islami masih ada norma-norma yang kita pegang”. “Cinta tuh komitmen bro saling menjaga pikiran kalian itu yang jorok” jawab Hisyam. “Ferisa dan Rega pun bertanya blowjob apaan sih?”. “Ah sudah itu bahasanya tante mira” jawab Huda. Tante mira mahasiswa binal nan sensual seangkatan kami walaupun sering menggoda dengan bodi sensualnya dia tergolong wanita pintar. Huda menengahi “ayo kuliah dah telat nih”, tiba tiba pantat Huda ada yang meremas. “Tante Mira” ucap Huda terkejut. “Ngomongin aku ya?, jangan bayangin bodiku yang seksi ya”. Hueek ekpresi Hisyam, Yusril, dan Nanung memalingkan muka. “Eh Nanung” ucap tante mira. “Kita sekelompok praktikum loh, kamu gak mau praktik lainnya sama aku?”, tanya tante mira menggoda. Nanung hanya diam dan Ferisa menimpalinya, “tuh Nung digoda Tante Mira”..teman-teman lain pun cekikikan sendiri. “Udah lah Fer anggap sponsor saja”. “Hu dasar, ayo cepet kuliah telat nanti lo” ajak tante Mira.

(23)

Bagian 3. Sistem Reaksi Kimia

Pelajaran mata kuliah sudah sampai sistem. Diruang kuliah Bu In dengan semangat menjelaskan tentang sitem kimia. Slide power point terpampang dengan cahaya proyektor yang bersinar, dengan sabar dan penuh semangat Bu In menjelaskan materi sistem. “Perubahan energi dapat ditentukan dari system”. “Kita harus tau sistem apa saja dalam reaksi kimia” tegas Bu In. “Sistem reaksi dibagi menjadi tiga bagian yaitu sistem tertutup, terbuka dan terisolasi”. “Sistem terbuka tidak hanya dapat mentransfer energi tapi perubahan massa”. “Sistem tertutup hanya akan memungkinkan terjadinya transfer energy, serta sistem terisolasi tidak akan ada massa dan energi yang tertransfer”. Semua mahasiswa pun memperhatikan dengan seksama. Dipojok ruang kuliah Hisyam tiba-tiba tengkar dengan Iis membuat gaduh suasana. Bu In pun menyindirnya, “Hei Syam, kencan tau tempat dong, kencan aja di tabung reaksi dalam sistem terisolasi biar transfer energinya reaksinya tidak mempengaruhi konsentrasi siswa yang sedang serius menerima pelajaran ini”. Sempat juga Hisyam menyela, tapi kan gak terlihat transfer perubahan massanya bu?, berarti saya kencan dalam sistem tertutup?”.

“Tuh lihat sendiri kamu jadi makin kurus dan Iis pun juga begitu, itu kan juga transfer massa, biar gak ada transfer massa dan kalian bisa gemukan dikit makanya pakai sistem terisolasi saja”. Ruangan pun ramai sorakan dan penuh tawa dan Hisyam pun tampak malu. “Oke besok quis ya dari energi hingga sistem ya,” ucap Bu In mengakhiri kuliah hari ini

“Wah gimana nih?’, Yusril mendekat dan kita bertujuh pun berkumpul.

(24)

lembur tugas kemaren”. “Sebagai ucapan terimakasih udah boleh nginep dikostan kalian ayo gantian kalian yang main dan nginep di rumahku”. “Oke bro?”. “Oke lah”.

Sore hari mereka berkumpul dikostan Ferisa, Nanung dengan sepeda revo merahnya dan Huda dengan supra kesayangannya. Dandanan Nanung agak gembel dengan celana jeans yang dipotong selutut dengan kaos oblong ala kadarnya tetapi tetap keren karena perawakan Nanung yang lebih berisi dari teman-temannya yang lain. Huda tampak rapi dengan hem hitam yang dia kenakan jam tangan ditangan dengan kacamata bening yang biasanya dia kenakan. Bersama Rega yang Nampak elegan dengan sepatu gunung dan tas ransel yang dia kenakan dengan topi coklat khas pendaki gunung. Ferisa pun keluar menuju gerbang kostan dengan tas punggung yang lucu khas wanita kaos lengan panjang serta celana ¾ tak mengurangi wajah cantiknya. Huda melihat jam tangan, “weh mana nih si Hisyam kebiasaan telat tuh kok belum dating”. “Ah dia pasti nungguin Iis dandan mungkin”. Nanung pun menyela pembicaraan, “Reg, dandananmu tuh kayak mau daki gunung”. “Kita kan Cuma ke rumah Yusril”. “Ih, biarin kata Rega”. Rega memang suka mendaki gunung dan dia bercita-cita menjadi penulis dan traveler. Rega

membalas sindiran Nanung “Kamu tuh Nung gayamu kayak tukang ojek aja celana compang camping dan kaos oblong gitu”. “Iya nih Nanung gak sopan banget” sela Ferisa. “Dia macak gitu karena mau ngojekin kamu tuh Fer” jawab Huda. “Mau ojek kemana non, abang anterin, gratis deh!:, Goda Nanung ke Ferisa. “Ih mukamu loh Nung, jangan genit gitu, mana ada tukang ojek genit gitu pelanggannya kan kabur semua”, ucap Ferisa sinis. Nanung hanya tersenyum geli sambil mengedipkan pandangan matanya yang genit ke Ferisa. Hisyam pun datang bersama Iis, “sory bro telat”, “iya nih Hisyam bangkong lagi” sela Iis. “Ayo berangkat” merekapun berangkat bersama.

Mereka pun tiba di komplek lembah pertiwi berderet rumah megah disana.

(25)

terpental dari boncengan Hisyam bagai beban tak bermassa. “Oy pelan pelan banyak anak main dikomplek” teriak satpam komplek. Iis pun mencubit Hisyam.

“Tuh denger nih rame jangan main tancap gas seenaknya”.

Tiba di rumah megah nomer 7a mereka berhenti. Terlihat seseorang dengan celana pendek menyiram halaman rumahnya. Nanung pun turun dari sepeda dan menegur orang tersebut. “Eh mas pembantu panggilin majikanmu cepat!”. “Sana panggilin den Yusril!”. Nanung emang sengaja karena dia tau sebernarnya yang sedang nyiram adalah Yusril. Tiba-tiba semprotan air mengenai muka Nanung.

“Kurang ajar kamu Nung, temenmu dibilang pembantu”. “Aku kan cuma bercanda

Yus”, cengir Nanung dengan memeras kaos oblongnya yang basah. “Ah Nanung kebiasaan bercandanya gak tau aturan” kata Ferisa. “Orang kaya kok masih sempet nyiram halaman Yus?”, tanya Huda. “Ya, kita harus ngerasain juga bersih-bersih”.

“Gak usah malu-malu mentang mentang kaya”. “Kebetulan pak sopir yang biasanya nyiram halaman nganterin papa ke luar kota dan si Mbok Rista tugasnya bersihin ruangan bagian dalam”. “Oh gitu” jawab mereka serempak. “Ayo masuk, sepeda kalian masukin di garasi”. “Yus bajuku basah” gerutu Nanung. “Kamu gak bawa salinan?”. “Nih kaos satu-satunya”. “Dasar kamu jorok banget, mandi lagi sana, ada pakaian ganti, nanti aku siapin”.

(26)

setelah mereka sholat isyak bersama Yusril mengingatkan “Ayo katanya mau belajar jangan males-malesan. “Kumpul di ruang belakang ya”. “Ada taman terbuka dipinggir kolam renang”. Dengan gajebo dipinggir-pinggir kolam dan lampu lentera yang menyala mengelilingi kolam menambah romantis suasana malam itu. “Udah disiapin makan malam sama Mbok Rista, kita belajar di bangku panjang pinggir kolam disitu terang lampunya”. “Setelah belajar kalian terserah deh mau ngapain”. “Kalo mau renang juga boleh”. Belajar bersama pun dimulai Hisyam dan Rega yang pandai pun menjelaskan dengan serius tentang materi sistem.

Hisyam menjelaskan tentang sistem mengulang apa yang dijelaskan Bu In pada pertemuan kuliah tadi pagi. setelah Hisyam menjelaskan saatnya acara diskusi sahut Rega. Hisyam lalu izin, “aku mojok bentar”. “Jarang-jarang kencan ditempat

romantic”. “Kamu aja Reg yang pimpin diskusi mereka”. “Hu, kencan terus kamu gak ikut diskusi”. “Makin sesat aku kalo diskusi sama kalian pasti akhir-akhirnya merembet ke yang aneh-aneh”. Mereka pun saling Tanya jawab. Tiba-tiba Nanung bertanya. “Eh ingat gak Hisyam tadi kan disindir Bu In, gimana kalo bahas tentang sistem yang dihubungin dengan cinta”. Rega langsung menyahut “sudah Nung belajar sama Hisyam saja sana!”. “Kamu meracuni diskusi ini nanti”. Nanung pun pergi menemui Hisyam.

“Hisyam, Sudah belum?”, teriak Nanung. “Aku gak mau maen sembunyi-sembunyian Nung kayak anak kecil aja”. “Weh aku mau tanya-tanya nih, udah dong kencannya”. “Ganggu aja sih teriak Hisyam”. Iis pun berjalan meninggalkan Hisyam. “Udah sana Nung kalo mau tanya materi kuliah ke Hisyam aku mau kumpul ke anak-anak ikut diskusi mereka”. “Gak enak dilihat tujuannya belajar malah ngajak kencan tuh Hisyam”.

(27)

cintamu mirip sistem tertutup”. “Ya menurutku sih begitu, karena kan gak ada transfer massa”. “Aku kan emang kurus masak gara-gara kencan jadi kurus?”. “Aku pikir gak lah, kalo kurusku akibat pacaran”. “Kalo sistem terisolasi gimana Syam?”.

“Menurutmu gimana Nung?, kok balik tanya sih”. Nanung pun menjawab, “ya menurutku sitem terisolasi adalah pergelutan hati saat kita menemukan jati diri siapa aku dan siapa dia”. “Memang ada sih perubahan energi tapi karena kita menyendiri jadi kita sendiri yang merasakan dan tidak mempengaruhi lingkungan sekitar”. “Kalo kamu suka sistem tertutup energinya masuk atau keluar Syam?”.

“Endoterm atau eksoterm maksudnya”. “Kalau tadi sih eksoterm kayaknya ya karena mempengaruhi teman teman lainnya”. “Kamu sadar dong kalo itu memberi energi negatif, yang lain kan bisa ngomong jelek ke kamu nantinya Syam?”. “Terus gimana caranya kalau dibikin reaksi endoterm Nung?”. “Ya kamu harus menyerap energi dari lingkungan”. “Bagaimana caranya ya? apa aku harus mengerti orang sekitarku dan kencanku tidak mengganggu”. “Betul itu, kamu harus menerapkan kencan yang bermartabat”. “Sialan kamu Nung”. “Kalo sistem terbuka Syam?”.

“Ah pasti ada transfer massa lagi nyinggung kekurusanku kamu”. “Berarti kamu belum paham kesetimbangan Syam!”. “Emang kamu paham Nung?”. “Gak juga sih”, jawab Nanung ambil tertawa. Hahaha… “Yang aku pahami ketika reaktan menghasilkan produk sehingga terjadi perubahan massa kamu juga harus memikirkan asupan gizimu untuk menambah massa reaktan agar setimbang Syam”.

“Nih beneran ngejek aku kamu Nung”. “Ya aku sih berharap pada reaksi terbuka cinta bisa melepaskan energi positif”, “lalu transfer massanya gimana Nung?”.

“Gimana kalau berupa produk lain, contohnya seperti buku cinta atau film cinta Ainun dan Habibi yang merupakan produk dari reaksi cinta yang membuat orang

terispirasi”. “Kamu mau tanya apa mau ceramahin aku?”. “Dua-duanya”. “Ah lupakan gak nyambung semuanya Nung!”, jawab Hisyam berlalu.

(28)

Pagi hari mereka Nampak segar setelah mandi pagi. “Eh kalian mau sarapan apa?” tanya Yusril. “Biasanya aku cukup roti dan segelas susu”. “Susu Mbok Rista Yus?”. “Ngawur kamu Syam”. “Kalo kalian mau buat nasi goreng nasinya ada di rice cooker, bumbunya ada dikulkas tinggal buat aja”. “Ambil aja bahan yang kalian butuhin”. “Oke aku yang masak” teriak Nanung penuh semangat. “Wah bahaya ini” kata Huda. Lalu Ferisa menemani Nanung, “tenang Hud kalo macem-macem aku getok wajan dia”. “Aku yang buat bumbunya Nung” ucap Ferisa. Mereka memperhatikan dimeja depan dapur yang dibentuk mirip bar. “Nah ini harus dijauhin” ucap Huda, “nanti nasi gorengnya gak ditaburin bawang goreng malah ditaburin meisses coklat sambil menjauhkan se kaleng meisses dari jangkauan Nanung”. “Katanya enak masakannya Nanung Hud?”, tanya Rega. “Ya enak sih kalo lagi waras dan bener”. “Kemarin dia buat mie soto campur nangka, haduh rasanya kayak kolak soto”. Mereka tertawa. “Tau gak praktikum kemaren dia masak mie pakai Bunsen di lab”. “Dia bilang mie spageti, mienya ada kuah putih ternyata campur susu bubuk basi”. “Untung aku gak sakit perut, abis aku lapar aku abisin tuh mienya” ujar Hisyam. Merekapun tertawa. Yusril pun nyeletuk, “weh cocok gitu kamu sama Ferisa Nung”. Ferisa pun menjawab “seharusnya Hisyam dan Iis nih yang masak, kita kan pingin tau kekompakannya masak liat mereka tengkar terus”. “Udah, banyak piring pecah nanti!” sahut Iis. Disambut tawa teman teman mereka. Setelah sarapan merekapun berkemas pulang untuk segera menghadapi quis siang harinya. “Makasih Yus”, ucap mereka serempak. “Oke ketemu langsung di ruang kuliah nanti ya!”.

Siang hari berlalu dan quis termodinamika pun berjalan dengan lancar. Tampaknya tidak ada contek-contekan karena Bu In mengawasi dengan ketat. Suasana pun seperti suasana ujian yang sunyi senyap dan tingkah mahasiswa ang macam macam. Ada yang mengangguk, ada yang memainkan bolpoint nya, ada yang sibuk menghapus jawaban. Ada yang diam saja, ada yang terus melihat jam.

“Oke waktu habis, segera kumpulkan terdengar suara Bu In dari belakang ruang kampus sambil menuju depan kelas”. “Belajar materi besok ya seru Bu In”. dan mahasiswa pun keluar meninggalkan ruangan. “Gimana bisa quisnya?” tanya Huda.

(29)
(30)

Bagian 4. Hukum Pertama Termodinamika

Malam ini terasa sunyi dengan hujan yang turun dengan derasnya. “Uh, bosan belajar”, ucap Nanung. “SMS Ferisa ah, godain dia dikit”. “Fer dikosantmu juga hujan?”. “Iya hujan, aku gak enak badan nih”. Nanung segera melompat dari kasur kostannya. Terlihat Huda sedang merapikan buku yang telah dia baca. “Hud, Ferisa sakit”. “Sakit apa?”. “Aku keluar dulu beliin obat sama makan malam”. Huda tampak bengong. Terdengar suara deru motor dari parkiran kostan dan Nanung pun menghilang dilebatnya hujan. “Bro jas hujannya”, teriak Huda, tetapi sudah terlambat Nanung keburu menghilang. “Weh main ngepot aja tuh anak gerutu Huda”. “Emang sakit apa sih Ferisa, aku SMS Ferisa aja ah”. “Sakit apa Fer?”.

“Tau dari Nanung ya, cuma meriang aja kok Hud, biasa perubahan cuaca”. “Weh Nanung kok khawatir banget ya dia, dia kekostanmu mau beliin obat dan makan malam katanya”. “Ih masak sih Hud?”. “Tunggu aja didepan kostanmu pasti dia

dating”. “Aku loh gak nyuruh Hud?”. “Mulai perhatian dia kayaknya ke kamu, jangan-jangan dia suka kamu Fer”. Hihihi… “Ih kamu Hud, ada-ada aja”. Segera Ferisa mengirim pesan ke Nanung. “Gak usah Nung aku gak apa-apa kok”. Suara HP bergetar disebelah huda. “Wah gak dibawa tuh hp nih anak”. Terlihat pesan dari Ferisa, Huda pun terpaksa membalasnya. “Aku Huda Fer, percuma HP’nya gak dibawa. Udah tungguin aja dikostanmu. Jangan sia-siain perhatiannya”. wkwkwkwk

Di kediaman Ferisa. “Fer ini obat sama makan malam”. “Nanung kan hujan apotik loh tuh didepan kostan, makan kan tinggal titip teman”. “Kamu kok sampek segitunya rela ujan-ujanan”. “Tuh basah kayak gini”. “Ya udah Fer aku pulang”.

(31)

Sampai dikosan Nanung menggigil kedinginan Huda pun ngejek. “Ah perhatian banget”. “Kostan Ferisa kan dekat apotik, kenapa kamu tiba-tiba perhatian gitu?”. “Kamu suka dia ya Nung? Tanya Huda penasaran”. “Udahlah aku cuma khawatir” jawab Nanung. “Cinta itu berlangsung spontan loh bro”. “Spontan kepalamu penyok”. “Itu bagian dari perhatian Nung!”. “Gak urus”. “Jangan bohongi hati bro”. “Saya gak membohongi kok”. “Berarti kamu aja yang belum mengerti”. “Udah menggigil nih aku”. “Tuh ada teh anget yang baru kubuat sana

cepet ganti baju” ucap Huda. Nanung segera mengganti bajunya dan tidur sambil menggigil menahan dingin. “Weh kenapa bro, cuma ujan ini belum kena badai udah kayak mau sekarat gitu?”. “Panas banget tanganmu bro, makanya jangan keburu nafsu jangan lansung nyelonong nerobos ujan”. “Udah deh aku mau tidur” jawab Nanung sambil menarik selimut.

Dua hari Nanung tidak ngampus gara-gara sakit. Dikampus Ferisa pun

bertanya ke Huda “dimana Nanung Hud, kok gak kelihatan?”. “Sedang sakit dia Fer”, jawab Huda. “Sakit apa?”. “Kecapek’an kayaknya” jawab Huda mengedipkan mata. “Ah pasti gara-gara hujan nganterin aku obat dan makan malam ya Hud?”.

“Udah Fer Nanung pasti marah kalau perhatiannya disinggung”. “Kamu biasa saja jangan merasa berdosa”. “Aku seneng kok kalo Nanung sakit”. “Jadi gak aneh-aneh tingkah dia kalo sakit”. Hehehe… “Gimana kuliahnya kan gak bisa titip absen dosennya selalu periksa absennya”. “Tenang aja Fer, udah aku fotokopiin surat dokter kok”. “Emang parah sakitnya sampek ke dokter segala?”. “Enggak sih, cuma butuh istirahat aja kata dokter Huda”, sahut Huda sambil tertawa. “Hu, paham aku, tuh surat dokter abal-abal”. “Stt nanti ketahuan Fer”, bisik Huda.

(32)

Yusril. “Gak jadi deh bawa buah dan rotinya”. “Bilang aja gak niat jenguk”, jawab Nanung ketus. “Kata Huda sih cuma butuh istirahat, ya udah kita biarin kamu istirahat”. “Bener nanti kita jenguk malah tambah parah”, tambah Iis. Ferisa hanya diam antara senang melihat Nanung sudah sehat tetapi masih merasa berdosa Nanung sakit akibat dirinya.

Bu In pun datang dan segera membuka kuliah dengan salam. “Kali ini akan bahas hukum pertama termodinamika”. “Nanung, hukum pertama tentang apa?”.

“Kekekalan energi bu”, jawab Nanung kurang semangat. “Ya benar”. Hisyam pun berbisik kepada Huda dan Yusril. “Weh beneran udah sembuh dan waras Nanung”.

“Tuh bisa jawab”. “Emang sakitnya membawa berkah ya”. “Eh, dengerin Syam nanti kita disindir Bu In lagi”, ucap Iis. “Hukum kekekalan energi menyatakan bahwa energi tidak bisa diciptakan dan dimusnahkan tetapi energi dapat diubah bentuknya”. Bu In menjelaskan dengan panjang lebar. “Kalian sudah belajar energi pertemuan kemarin bahwa energi sulit dihitung, paling mudah adalah menghitung perubahannya”. “Dalam hukum pertama dikenal suatu fungsi termodinamika yang disebut entalpi”. “Entalpi adalah kuantitas atau jumlah termodinamika yang digunakan untuk menggambarkan perubahan panas atau kalor pada tekanan konstan”. “Dalam reaksi kimia kita dapat menghitung perubahan entalpi dari perbandingan entalpi produk dan reaktan”. “Ketika reaksi mengkonsumsi energi maka reaksi kimia tersebut tergolong reaksi endoterm dan jika reaksi melepas energi maka tergolong reaksi eksoterm”. “Perubahan entalpi dapat menentukan reaksi tergolong dalam reaksi eksoterm dan endoterm tetapi tidak cukup membuktikan bahwa reaksi spontan karena menurut penelitian tidak semua reaksi eksoterm tergolong reaksi spontan”. “Maka kita perlu mempelajari hukum kedua termodinamika yang akan kita bahas pada pertemuan berikutnya”, tutup Bu In.

(33)

“Makasih tapi ya Nung obat dan makan malamnya”. “Eh katanya Huda, kamu suka aku Nung?”, kata Ferisa menggoda. “Huda bilang apa sih?”, jawab Nanung. “Udah jujur aja, daripada kamu simpen nanti persahabatan kita jadi renggang karena kamu selalu menutupi perasaanmu”. “Ya, kamu cantik dan ceria aku suka kamu Fer”. “Ah itu jawaban biasa Nung”. “Mau jawab apa aku terus?, ya kamu tau sendiri aku orangnya bosenan dan moody”. “Tapi melihatmu seakan aku percaya bahwa hukum kekekalan energi itu benar adanya”. “Keceriaanmu membuat energiku serasa gak pernah habis Fer, sulit sih mengungkapkan tapi kayaknya itu yang aku rasakan”.

“Kamu suka atau cinta Nung?”. “Apa bedanya ya?”. “Kalo cinta berarti melebihi suka, aku belum menemukan spontanitas cinta itu Fer’. “Jadi aku belum tau apakah aku cinta atau tidak”. “Kok Tanya gitu sih?”. “Ya penasaran aja”. “Oke, aku selalu menunggumu hingga kamu memahaminya dan mengungkapkannya ke aku Nung’, ucap Ferisa manja dan berdiri untuk segera meninggalkan Nanung. “Eh Fer” teriak Nanung menghentikan langkah Ferisa. “Mengungkapkan apa?’. “Mengungkapkan teori gilamu lah Nung”. “Kamu kok gak paham sih?”, ucap Ferisa sambil mengerutkan alisnya.

“Ayo nung pulang”, suara Huda mengagetkan. “Ayo mana spedamu Hud?”.

“Aku jalan kaki’. “Kamu juga gak bawa speda Nung?”. “Tadi kan dijemput Rega sekalian jemput buku yang aku pinjem kemaren”. “Pantesan bisa jawab pertanyaan Bu In kamu tadi”. Hahaha… iyalah. “Ya udah kita jalan kaki aja, biar kamu tambah sehat”. “Tuh sakit karena kurang olah raga”. Oke, oke… “Hud, apakah cinta memenuhi hukum kekekalan energi?”. “Ah mulai aneh kamu”. “Gak deh kayaknya”. “Alasanya Hud?”. “Banyak orang bilang cinta akhirnya jadi benci”.

(34)
(35)

Bagian 5. Hukum Kedua Termodinamika

Kuliah termo hari ini makin dinantikan Nanung, untuk menjawab semua rasa penasarannya. “Hai Nung kok udah dating?, kuliah masih satu jam lagi”, ucap Rega. “Semangat sekali ya”, ujar Ferisa yang juga datang bersama dengan Rega.

“Gak tau tuh dia lagi semangat” ujar Huda menimpali. “Aku jadi ikutan smangat ini, tapi belum mandi gara-gara terlalu semangat”, sambil mencium bajunya sendiri.

“Ah kamu kan selalu jorok Hud”, suara Yusril mengagetkan. “Loh kok sudah datang juga Yus?”, tanya Huda. “Iya, nganterin anak temen papa yang kemarin kalian lihat itu, dia ada jadwal kuliah lebih pagi”. Tiba-tiba Hisyam pun datang dengan Iis. “Hai bro, aku sudah gak bangkong lagi nih”.“Gak bangkong apanya? pasti subuh kelewat lagi” sambut Iis. Mereka pun tertawa.

Menit demi menit telah berlalu mereka berkumpul di ruang kuliah dengan kesibukan masing-masing. Hari ini ruang kuliah tidak digunakan sebelum pelajaran termo dimulai, sehingga mereka dapat menggunakan berkumpul dan bersama diruangan ini. Tepat jam 8.50. Bu In terlihat melewati lorong kampus. “Eh, Bu In sudah dating”, teriak Hisyam yang biasa duduk di pojok belakang dekat jendela. Mereka pun mengatur duduknya untuk siap menerima pelajaran pagi hari ini.

“Apa kabar kalian, sapa Bu In”. “Baik bu” jawab kelas dengan serempak.

“Makin semangat aja ikut kuliah ibu ya keliatannya”. “Membuat ibu makin semangat juga”. “Oke”, sambil membuka laptop berwarna merah kesayangannya Bu In menghidupkan layar monitor. Bu In pun berdiri didepan kelas. “Oke, kita akan lanjutkan pelajaran kita hari ini”. Bu In sedikit mereview kuliah kemarin.

(36)

proses eksoterm dan tidak akan berubah pada keadaan setimbang”. “Entropi keseluruhan dapat dilihat dari entropi sistem dan lingkungan”. “Entropi diartikan sebagai ukuran sebaran energi pada suatu system”. Dengan panjang lebar Bu In menjelaskan hingga tidak terasa jam kuliah pun berakhir. Kelas pun segera bubar.

“Eh bentar lagi ujian” kata Ferisa, “aku mau ikut Rega ke perpus”. “Kalian gak ikut?”. “Ah kita biasanya kan cukup fotokopi aja”, kata Yusril. “Eh enaknya aja kalian ya”. Hisyam dan Iis pun lalu berkata “oke aku ikut”. Rega pun melirik dengan pandangan curiga. “Kalian gak niat pacaran di perpus kan?”, tanya Rega.

“Udah ayo kalo mau ke perpus”, ajak Ferisa. “Kamu Nung, kamu Hud gimana gak ikut?”. “Aku dan Nanung belum sarapan Fer, duluan aja dah nanti kita nyusul”, jawab Huda. “Aku pulang aja deh”, teriak Yusril, “ditelpon papa ini”. Mereka pun akhirnya berpisah. Tinggal lah Huda dan Nanung di ruang kuliah. Tiba-tiba Huda berdiri, “ayo Nung pulang”. “Katanya makan dulu terus nyusul ke perpus”.

“Mendung ini, jemuranku belum aku ambil”. “Oke ayo!”. Tiba dikostan hujan langsung turun dengan derasnya.

“Kan bener langsung hujan”, ucap Huda. “Daripada bosan kejebak hujan di perpus”. “Uh tapi kita gak belajar”, gerutu Nanung. “Udah makan dulu kalo reda kita balik ke perpus”. Huda membuka bungkusan nasi yang dibeli saat perjalanan pulang kekostan tadi. Nanung pun segera menemani Huda untuk menyantap nasi bungkusan yang mereka beli. Selesai makan mereka tampak melamun melihat hujan. “Hud sampek sore nih hujannya”. “Gak jadi ke perpus kita?”. “Aku sudah SMS Rega kok kalo kita gak jadi nyusul ke perpus karena kita kejebak ujan”.

“Kamu bilang kalo kita udah dikostan?”. “Enggak lah, aku bilang masih di kampus, biar kelihatan rajin”. “Nanti mereka jemput kita ke kampus gimana?”, tanya Nanung. “Gak mungkin, Rega bilang akan langsung pulang kekostan kalau ujan udah reda”.

“Eh, daripada ngelamun, kamu kemarin tanya spontanitas reaksi Nung?”.

(37)

pengaruh sistem terhadap lingkungan”. “Ah bener atau tidak yang aku pahami, entropi itu ukuran tersebarnya energi suatu sistem”. “Kemudian apakah sistem melepas energi itu atau menyerap energi ke lingkungan”. “Jika tidak terjadi perubahan energi berarti sistem setimbang”. “Apa hubungannya dengan pemikiran cintamu Nung?”. “Kenapa kamu jadi tertarik gitu Hud, aku udah bosan membahasnya”. “Ayo aku ingin tau rumus ngawurmu”, Huda mulai tak sabar mendengarkan Nanung. Nanung pun mulai tertarik untuk sedikit membahasnya.

“Ehm, gimana ya Hud, tadi kayaknya dijelasin kalo tiap reaksi akan terjadi sebaran energi sehingga jumlah perubahan entropi keseluruhan adalah jumlah perubahan entropi sistem dan perubahan entropi lingkungan”. “Untuk menghitung perubahan entalpi lingkungan dirumuskan negatif entalpi dibagi temperature”. “Kalau dihubungkan dengan cinta berarti tidak hanya entropi sistem hatiku aja Hud yang harus diukur, tapi aku harus tau perubahan entropi lingkunganku”. “Gimana maksudnya Nung?”, tanya Huda. “Kayaknya harus ada perubahan energi juga di lingkungan sekitarku”. “Kalo kamu sebagai lingkunganku seharusnya kamu juga merasakan perubahan energinya Hud, kayaknya sih gitu kalo teorinya dipaksakan”.

“Berarti kamu harus dengar pendapatku Nung, tanpa aku sadari reaksi hatimu berpengaruh positif loh ke aku dan aku menyimpulkan besar entropi di lingkungan cukup besar dan positif sehingga perubahan jumlah entropi keseluruhannya positif juga yang menandakan reaksi hatimu spontan Nung”. Paksa Huda menyampaikan pendapatnya. “Ah lupakan Hud, kayaknya ku harus belajar peka terhadap hatiku”.

(38)

Bagian 6 Hukum Ketiga Termodinamika

Hukum ketiga tentang energi bebas Gibbs dijelaskan Bu In dengan seksama pada hari ini kelas Nampak lengah. “Ini pertemuan terakhir yang akan membahas hukum ketiga yang merupakan hukum terakhir termodinamika”. “Kalian sudah belajar hukum pertama dan kedua”. “Sekarang kita mulai materi hukum ketiga, hukum ketiga ini menjelaskan spontanitas reaksi lebih tepat daripada hukum sebelumnya, fungsi dalam hukum ketiga ini adalah energi bebas Gibbs”. “Hukum sebelumnya kita lebih berkonsentrasi belajar tentang apa yang terjadi dalam suatu sistem partikuler”. “Nah fungsi ini kita akan belajar untuk memahami apa yang terjadi pada sistem itu sendiri”. “Nah energi Gibbs ini diartikan sebagai energi yang tersedia untuk melakukan kerja”. Bu In menjelaskan dengan panjang lebar dan diakhiri dengan ucapan selamat belajar untuk menghadapi ujian.

Selesai kuliah Huda pun menghampiri Nanung. “Gimana makin galau teori termodinamika cintamu Nung?”. “Ya, makin gelap”. Hahaha…” Ya Nung reaksi hati kan gak seperti reaksi di tabung reaksi”. “Kamu sih kurang kerjaan menghubungkan cinta sama ilmu termodinamika”. “Udah lah ayo pulang aku harus mencari cinta dengan cara berbeda nampaknya”, sahut Nanung lesu.

Perkulihan pun berlalu begitu cepat jadwal ujian sudah tertempel dan minggu tenang bukan menjadi waktu belajar, tapi bagi mahasiswa adalah waktunya pulang dan bersenang-senang. Rega pun memiliki ide untuk menghabiskan minggu tenang melakukan camping untuk sedikit menenangkan hati dan pikiran. Merefresh otak yang penat menjalani masa kuliah. Dan menyiapkan mental untuk menghadapi ujian. Ya begitulah Rega yang suka dengan alam dan suka kegiatan petualangan.

(39)

tidur menurutnya. Tapi semngat teman-teman lain mempengaruinya membuatnya terpaksa mengatakan kata setuju.

Perjalanan pun telah dilaksanakan pada hari itu melewati perkebunan karet menuju sisi ujung pulau jawa, diindah nya pantai selatan. Ya kita akan pergi ke pantai. Jalan terjal tak menghalangi laju sepeda motor kami melindas kerikil jalanan. Tibalah kami di sebuah tempat yang seakan jauh dari peradaban. Mereka mempersiapkan tenda dan mencari kayu bakar untuk membakar makanan yang mereka siapkan. Tak terasa senja pun datang. Api unggun dinyalakan. Tampak Yusril, Iis, dan Huda mengeluarkan bekal untuk disantap. Mereka sibuk sendiri, sendiri. Nanung duduk di api unggun, ya emang tugas Nanung mengumpulkan kayu bakar dan membuat api unggun. Nanung duduk dengan buku dan pena ditangan. Tampak beberapa kalimat yang penuh coretan dalam buku itu. “Nulis apa Nung?”, tanya Rega. “Cuma ingin cerita perjalanan hari ini dan menulis alam”. “Udah jadi?”. “Gak bisa tergambarkan terlalu penat pikiranku”. “Udah nung gak usah dipaksakan, menulis alam itu keahlianku, kamu gak usah ikut-ikut”. “Lah terus aku nulis apa Reg?”. “Ya terserah kamu Nung”. “Ah emang aku gak bakat nulis”, ucap Nanung dalam hati. Di buku itu tergambar segitiga dan huruf G besar. Ferisa menghampiri Nanung. “Hei nulis apa kamu Nung?”. “Gak ada!”, jawab Nanung lesu. “Eh ini kan symbol energi gibbs ya?”. “Ya Fer, energi yang tersedia untuk melakukan kerja”. “Kok lemes gitu kamu Nung?, kamu pernah bilang kalo keceriaanku membuat energimu terasa tak pernah habis”. “Nih aku senyum” goda Ferisa menunjukkan senyum manisnya. Hehe… “Hei sedang ngomongin apa?”, lagi-lagi Huda ngagetin. “Eh aku dengar omongan kalian barusan loh”, kata Huda.

(40)

menatap Ferisa dan memaksakan senyumnya. “Ih mukamu nyebelin Nung”, teriak Ferisa. Minggu tenang itu mereka habiskan untuk berlibur, namun tetap tidak lupa untuk belajar mempersiapkan ujian.

Ujian pun satu demi satu tlah terlewati. Udah waktunya pengumuman nilai hasil ujian diberikan. Tampak didinding tembok kampus ramai dikerumuni mahasiswa. “Wah nilai termo keluar!”, teriak Rega. Mereka bertujuh menghampiri dan melihat hasilnya. Rega, Ferisa, Iis, dan Hisyam mendapat nilai A. Huda dan Yusril mendapat nilai B. sementara Nanung tertunduk lesu melihat nilainya yang ternyata lebih buruk dari teman-temannya. “Huh dapat C”, jerit Nanung dalam hati. Mereka berusaha menghibur Nanung. Tapi Hisyam sedikit mengejek. ‘Kamu sih Nung hubungin ilmu termo dengan cinta dapat jelek jadinya”. Huda pun tambah mengejeknya, “Nung kamu gak gambar wajah Ferisa di lembar jawabanmu kan?”.

“Ih kok bisa Hud?, tanya Ferisa”. “Diam-diam dia sering gambar seorang wanita Fer”. “Wanita yang mirip wajahmu, aku yakin itu kamu”. “Udah deh jangan digodain terus, dia kan lagi sedih ayo dihibur” ucap Yusril. “Udah Nung mata kuliah lainnya kamu kan dapat bagus, absenmu kan dibawahku” hibur Ferisa. “Tadi aku sempet liat, bahkan ada yang lebih bagus dari punyaku Nung” ucap Ferisa menghibur. “Aku ada yang dapat nilai D loh tetep gak masalah, biasa aja Nung”, celetuk Yusril. “Jangan ditiru Nung si Yusril” ucap Rega. “Dia sih seneng-seneng aja dapat nilai D, baginya nilai D tu kan Duiiitttt”…. Mereka semua pun tertawa.

(41)

Bagian 7. Ku Menanti Jawaban Disaat

Kelulusan

Beberapa semester pun berlalu begitu saja. Persahabatan tetap terjaga walau tak seindah dan seerat saat kuliah termodinamika bersama-sama. Kesibukan skripsi dengan judul berbeda membuat mereka jarang bertemu. Jadwal dosen yang berbeda juga membuat mereka ke kampus dengan jadwal masing masing untuk melakukan bimbingan. Nampaknya kesibukan skripsi menenggelamkan kenangan indah saat kebersamaan mereka.

Mereka kadang bertemu tapi pembicaraan jauh lebih serius dari masa sebelumnya. Nanung yang biasanya jahil dan selalu meramaikan suasana. Selalu bercerita tentang mimpi-mimpinya dan rencana menggapai cita-citanya. Namun, ada satu yang kurang, mereka tak pernah membicarakan pasangan hidup tambatan hati ketika siap nanti. Begitupun Hisyam yang biasanya sering kencan larut dalam kesibukannya, semuanya Nampak sibuk dengan diri mereka masing-masing. Ferisa terlihat murung kehilangan keceriaannya, tetapi tidak ada satupun diantara teman-teman mereka yang menyadarinya. Ketika berkumpul Ferisa memandang Nanung dengan tatapan kosong. Nanung seakan berubah, menjadi lebih serius. Dalam hati, Ferisa selalu bertanya. “Ingatkah Nanung akan kejadian waktu lalu saat dia mengatakan suka padaku dan akupun mengatakan suka padanya?”. “Apakah Nanung lupa bahwa dia berjanji akan menemukan cinta dan mencintainya dan aku siap menunggu jawabannya”. Hati Ferisa menjerit ketika memikirkannya.

(42)

menggodanya. Perhatian Nanung yang spontanitas dan sifatnya yang dinamis membuat hidup Ferisa terasa penuh makna. Cukup banyak perhatian yang ditunjukkan Nanung. Tapi apakah Nanung menyadarinya bahwa semua yang dilakukannya membekas dalam relung hati Ferisa. Terngiang jelas dalam benak Ferisa ketika mereka belajar bersama Nanung melukis wajahnya, ya walaupun dilukisan tersebut ada tulisan Ferisa jelek tapi ferisa tetap menyukainya. Teringat ketika tiba-tiba tertulis sebait puisi untuk Ferisa ketika belajar bersama. Teringat ketika Nanung menulis dengan pena yang terukir nama Ferisa. Walaupun tak pernah memberi sekuntum bunga, saat berkumpul bersama Nanung melukis bunga pada gelas milik Ferisa. Semua tergambar jelas dan menjadi cukup bermakna.

Kelulusan ada didepan mata Nanung belum menemukan jawaban dan belum menyampaikan isyarat yang diberikan Ferisa. Dalam diarynya Ferisa pun menuliskan keluh kesahnya. Pergelutan Ferisa makin menjadi, disatu sisi dia ingin menanyakannya tetapi tidak ingin mengganggu konsentrasi dan keseriusan Nanung mengejar cita-citanya. Perasaan itupun tertuang dalam sebuah diary yang Ferisa tulis dengan meneteskan air mata.

“Perpisahan ada di depan mata’

“Dan kau belum Tampak nyata DihaDapan maTa” “Aku selalu setia menanti jawabannya

“Apakah kau belum menemukannya?” “Apakah penantianku seakan sia-sia?”

“Tapi kesempatanmu selalu ada dalam hatiku yang selalu terbuka” “Mungkin bukan saat ini, tetapi nanti disaat tak terduga

“Apakah akan menjadi sekedar cerita?”

“Tidak, aku ingin takdir mendengarnya untuk menyatukan kita” “Nanung, tahukah kamu aku selalu merenungkanmu??

(43)

Mereka wisuda bersama dan bergembira bersama, seakan lupa akan kisah mereka. Di suatu sudut Ferisa sendiri memikirkan segalanya dan Nanung pun menghampirinya. “Apa kamu sudah menemukan jawabannya Nung?”. “Jawaban apa Fer?”. “Ah lupakan jika kamu tak mengingatnya Nung, mau kemana kamu setelah ini Nung?”. “Aku mau kerja, kemarin sudah diterima lamaran kerjaku?”.

“Gak mau melamar yang lain?”. “Maksudnya apa Fer?”. “Ah kalo melamar wanita belum kayaknya, saya masih bingung, cinta belum tampak nyata bagi saya”. “Ow begitu ya Nung”. “Bagaimana rencanamu setelah kelulusan ini Fer?”. “Aku mau ngajar nerusin ibukku”. “Oh gitu ya, moga sukses Fer”. “Nanti kita akan bertemu dan bersama lagi”. “Aku ke anak-anak dulu ya”. “Ehm bersama kayak apa Nung?”.

“Kamu gantung terus perasaan ini”, jerit Ferisa dalam hati. “Kurang sabar apa saya?”. “Ya, moga kamu sukses Nung, doaku selalu menyertaimu”.

Rega segera tanggap melihat Ferisa, segera dia memeluknya dan segera menghiburnya. “Ini bukan akhir Fer”. “Dia mungkin belum menemukan jati dirinya atau sedang mengejar kesuksesannya”. “Kita akan selalu disisimu selalu menemanimu”. “Mungkin kamu berharap lebih, tapi cinta itu banyak bentuknya seperti persahabatan kita,.teguhkan hatimu siapkan dirimu untuk sebuah jawaban menyenangkan atau mengecewakan sekalipun”. “Jalan kita masih panjang dan mungkin akan terasa terjal dan tajam yang akan membentuk kita makin hebat dan kuat”. “Makasih Reg”, jawab Ferisa. “Ayo kumpul sama mereka”. “Ayo jawab Ferisa”.

“Eh berapa nilai IPK ijazah kalian”, tanya Hisyam. “Kayaknya punyaku tertukar atau salah cetak”. “Kok jadi jelek gini ya?”. “Padahal aku kan bagus terus ujiannya”. “Ah, protes kok sekarang” teriak Yusril. “Kamu kencan terus kerjaannya”. Iis hanya tersenyum. “Ya terima aja lah Syam”, ucap Huda berlagak bijaksana. “Gak begitu penting ijazah tergantung bagaimana kita nanti, keberuntungan kita dan takdir Tuhan”. “Lihat punya mu Nung, kok kayaknya lebih bagus”, tanya Hisyam penasaran. “Wah kayaknya ketukar ama punya Nanung nih nilai punyaku, dia termo kan dapat C”. “Eh, kuliah lain Nanung dapat nilai bagus”.

(44)

klepek-klepek”, bela Ferisa. “Ih kamu kok belain Nanung sih Fer, jangan jangan kamu korban kepuitisannya”. “Ah basi di puitisin Nanung”, jawab Ferisa sambil memalingkan muka.

Akhirnya perpisahan hari itu menjadi nyata. Rasanya tak kuasa meninggalkan sahabat yang telah lama bersama. Walau cucuran air mata tak terungkap di ruangan itu. Namun rasanya dada seakan ingin meledak mengungkap kata tidak rela. Begitupun hati Ferisa yang campur aduk melihat teman-temannya khususnya Nanung yang telah membekas dihatinya. Lubuk hatinya bicara.

“Matahariku mungkin malu untuk bersinar hari ini dikala mendungku sedang menutup kalbuku, ataukah matahariku telah benar-benar tenggelam?”. Tapi aku masih mengharap sebuah harapan, matahariku akan membangunkan pagiku dengan ceria bersinar menyapaku, membangunkanku dari lelapnya mimpiku menyambut cerita nyata yang bahagia”. Ferisa mencoba menghibur diri dan menguatkan hati.

(45)

Bagian 8. Jawaban dari Penantian

Dua tahun berlalu sejak kelulusan. Dan mereka tak pernah bertemu namun masih tetap berhubungan via telpon dan lainnya. Akhirnya undangan dari Yusril yang kini menjabat jadi derektur salah satu perusahaan ayahnya menjadi momen yang penting untuk menyatukan mereka.

Malam itu digedung yang megah tempat acara pernikahan Yusril yang berlangsung cukup meriah. Dengan gaya modern resepsi Yusril digelar. Jas hitam yang dikenakan Yusril, tampak pas dikenakan dia sebagai pengusaha muda, istrinya yang merupakan anak rekan bisnis papanya cukup cantik dengan gaun putih. Konsep acara yang mengusung tema resmi nan santai membuat acara lebih semarak. Mempelai bebas berjalan berkeliling menemui tamunya. Ucapan selamat dan obrolan-obrolan hangat tercipta seakan menghangatkan suasana. Alunan lagu jazz dengan saxsofonnya yang indah mengalun mendendangkan harmoni nada yang sempurna.

(46)

dengan tamu lainnya”. “Tuh kantong celana Hisyam kembung pasti bawa kresek buat bungkus makanan”. “Malu-maluin aja”. “Kalo bungkus tinggal kedapur Syam”, ejek Yusril.

“Gimana kabarnya Fer?”. “Baik Syam, kamu gimana sama Iis?”. “Ya begini-begini aja”. “Tetep sering tengkar”. “Sibuk apa kalian?”. “Aku punya sampingan bisnis otomotif, ada beberapa bengkel yang lumayan lah”. “Capek jadi pegawai, kalo usaha sendiri kan banyak waktu luang”. “Iis gimana?”. “Ah dia bosenan, sekarang sih bisnis kosmetik, aku saranin jadi penyedia alat dan bahan kimia”. “Alumni kuliah kita dulu kan banyak yang kerja di lab tuh, bisa jadi prospek yang bagus”. “Eh Huda tuh sama Rega”. “Hai kawan lama tak jumpa kita ya”.

Hehehe…. “Gimana kabarnya pak bos agensi perjalanan, gak ada tiket umroh gratis buat bokap nyokapku Hud?”, tanya Hisyam ke Huda. “Bisa diatur, mau aku diskon berapa?”. “Gratis lah hud”, goda Ferisa. “Tanggung umroh, sekalian haji lah, aku diskon nanti dan aku siapkan jadwal biar sekalian ortu kita bisa bareng”. “Masak cuma kita yang temenan?”.” Kan seneng juga kalo orang tua kita bisa saling kenal”.

“Ide bagus itu Hud”, sahut Iis. “Eh kalian gak mau nyapa aku?”, celetuk Rega. “Eh beneran kamu Rega, kok makin item gitu?”. “Aku habis ke gurun sahara, biasa traveler”. “Kayaknya perjalanan yang seru tuh”, jawab mereka kagum. Ferisa Nampak kebingungan. “Nyari sapa Fer?’, tanya Rega. “Ah pasti Nanung ya?”, tanya Huda. “Eh, enggak kok”, jawab Ferisa bohong. “Eh iya, biasanya Nanung gak pernah telat kok belum datang ya?”. “Cie kok perhatian dan khawatir gitu Fer?, masih menyimpan rasa ternyata?”. “Eh kalian emang gak khawatir?”. “Enggak”, jawab mereka serempak. “Temen nyebelin kayak Nanung udah jangan dipikirin, orang banyak dosa pasti panjang umur dia Fer, gak mungkin kenapa-kenapa”.

Dengan jeans putih garis-garis dan jas senada ditambah sepatu coklat mengkilat datanglah seorang pria. Topi koboinya membuatnya makin beda diantara tamu lainnya. Sambil melirik tamu wanita, pria itu berjalan dengan sejuta pesona.

Referensi

Dokumen terkait