BAB I PENDAHULUAN. Pada bab ini akan dibahas mengenai hal-hal mendasar yang berkaitan dengan

Teks penuh

(1)

1 BAB I

PENDAHULUAN

Pada bab ini akan dibahas mengenai hal-hal mendasar yang berkaitan dengan preferensi peneliti untuk mengambil judul penelitian meliputi latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi konsep. Berikut diuraikan mengenai poin-poin tersebut.

A. Latar Belakang.

Pemilihan kepala daerah (pilkada) langsung diharapkan akan menghasilkan figur kepemimpinan yang aspiratif, berkualitas dan legitimate. Pilkada langsung akan mendekatkan pemerintah dengan yang diperintah dan akuntabilitas kepala daerah benar-benar tertuju kepada rakyat (Dahlan Thalib dalam Sudaryanti, 2005:200). Di samping itu pilkada langsung merupakan tuntutan dan desakan rakyat yang menghendaki bahwa kepala daerah tidak lagi dipilih oleh DPRD tetapi rakyat dapat menggunakan hak politiknya secara langsung seperti pada pemilihan presiden. Dengan demikian suara rakyat tidak lagi digadaikan kepada politisi di DPRD dan anggota Dewan tidak dapat sepenuhnya memainkan dan memonopoli suara rakyat di daerah.

Perubahan sistem pemilihan kepala daerah membuat partai politik dan tim sukses harus melakukan pendekatan terhadap kekuatan lokal yang memiliki pengaruh serta pada masyarakat itu sendiri. Selain itu aspek lokalitas masing-masing daerah juga membuat partai politik pengusung kandidat dan tim sukses membuat strategi pemenangan yang menyesuaikan lokalitas daerah pemilihan itu sendiri.

(2)

2 Pilkada langsung dilaksanakan sebagai wujud nyata pelaksanaan demokrasi, dan mengajarkan masyarakat untuk melihat dan berpikir secara objektif terhadap fenomena politik di tingkat daerah, sehingga masyarakat tidak semata-mata terfokus pada pola pikir dan perilaku politik para elite politik yang berkompetisi dalam pilkada. Semarak pilkada langsung hendaknya dijadikan semarak program-program yang menyentuh kepentingan masyarakat luas, bukan semarak bagi-bagi uang dari para calon pemimpin daerah. Asumsi bahwa money politic muncul pada tiap momentum pilkada langsung harus dilawan tiap individu yang memiliki kesadaran politik. Jika kondisi perpolitikan daerah tetap diwarnai money politic, politik hanya dikuasai oleh sekelompok oligarki daerah, dan kesejahteraan rakyat makin jauh dari harapan.

Sulaiman (2008:45-46) menjelaskan dalam peristiwa Pilkada, tidak jarang para politikus atau bakal calon mencuri start kampanye dengan tampil di media televisi, baik berperan seperti seorang penyanyi yang melantunkan syair-syair lagu pembangunan dan kepedulian terhadap daerah, serta rakyat. Biasanya ia tampil intens di televisi lokal dengan syair lagu daerah agar bisa menyentuh simpati tataran grassroot (rakyat bawah). Kemudian dikuatkan oleh tampilnya beberapa artis yang sudah dikenal masyarakat untuk ikut andil, diselingi oleh jargon-jargon politik yang mudah diingat oleh khalayak. Politikus atau bakal calon, berperan sebagai aktor dalam sebuah segmen cerita pendek mengenai profil bakal calon dengan menampilkan peran-peran yang menggugah simpati publik, seperti wacana cinta tanah air, nasionalisme, kedaerahan, penegakan keadilan, peduli kemiskinan, lingkungan, pertanian, kesejahteraan, pendidikan dan

(3)

3 kesehatan, serta isu dan wacana lainnya yang lagi menjadi realita yang dihadapi masyarakat pemilih.

Salah satu yang menarik untuk diamati dalam proses pilkada adalah bagaimana komunikasi politik yang dilakukan para kandidat dalam merebut simpati publik. Sebagaimana yang kita lihat selama ini, rangkaian proses pilkada biasanya akan diramaikan dengan berbagai aksi tebar pesona oleh para kandidat. Ini dilakukan bahkan jauh hari, bisa dua tahun sebelum pilkada digelar. Hampir di seluruh ibu kota Provinsi dan Kabupaten/kota yang akan menggelar pilkada, selalu diramaikan dengan poster, spanduk dan baliho yang menampilkan wajah-wajah para tokoh yang akan maju.

Komunikasi merupakan aktivitas yang tidak terpisahkan dari keseharian manusia di berbagai bidang, termasuk dalam aktivitas politik. Berbagai fenomena modern menunjukkan kepada kita, peran dan fungsi komunikasi politik yang semakin penting, Heryanto (2010:3). Politik merupakan salah satu kegiatan penting bagi manusia, karena suatu Negara yang memiliki masyarakat yang beragam atau bermacam-macam kebudayaan, suku, dan bahasa seperti Indonesia ini, dituntut untuk memiliki struktur organisasi kepemimpinan yang langsung. Ada pula Asep Saiful Muhtadi (2008:145) menyatakan pemilihan umum telah dilakukan berulang kali di Indonesia. Tetapi, proses yang dilaluinya dalam rentang waktu sejak orde lama, orde baru, hingga orde reformasi, tampak memperlihatkan kualitas komunikasi politik yang bervariasi.

Institusi partai politik menjadi sarana bagi proses komunikasi politik, dan diperlukan strategi yang tepat agar dapat tercapai sasaran komunikasi politik,yaitu merawat ketokohan dan memantapkan kelembagaan, Anwar Arifin (2003:145).

(4)

4 Artinya ketokohan seorang politikus dan kemantapan lembaga politiknya (partai politik) dalam masyarakat akan memiliki pengaruh tersendiri dalam berkomunikasi politik. Selain itu juga diperlukan kemampuan dan dukungan lembaga dalam menyusun pesan politik, menetapkan metode dan memilih media politik yang tepat.

Pada hakikatnya, suatu strategi dalam komunikasi politik adalah keseluruhan keputusan kondisional pada saat ini tentang tindakan yang akan dijalankan guna mencapai tujuan politik pada masa depan. Dalam hal ini merawat ketokohan (pemimpin politik atau politisi) dan memantapkan kelembagaan politiknya (partai politik) akan merupakan keputusan yang paling tepat bagi komunikator politik untuk mencapai tujuan politik ke depan.

Suatu fenomena yang dapat dilihat dalam dunia politik salah satunya yakni fenomena mengenai pemilihan baik itu Pemilihan Umum (Pemilu), Pemilihan Legislatif, maupun Pemilihan Kepala Derah (Pilkada). Fenomena politik yang sangat tampak terlihat bagaimana masing-masing individu atau para calon berusaha untuk menarik simpatik masyarakat, berusaha untuk memengaruhi masyarakat untuk kemudian memilih mereka. Masing-masing mencoba menyampaikan pesan-pesan politik, berorasi, menyampaikan setiap ide, gagasan terhadap suatu hal baru yang mungkin belum pernah ada sebelumnya di mana itu semua memiliki satu tujuan yakni untuk menarik simpati hingga suara masyarakat hingga pada saat pemilihan berlangsung.

Pemilihan kepala daerah (Pilkada) langsung merupakan momentum politik dan bagian dari “sejarah masa depan” demokrasi Indonesia. Keputusan penyelenggaraan pilkada langsung tidak dapat dilepaskan dari serangkaian

(5)

5 keputusan politik penting di era reformasi. Bahwa hajatan politik demokrasi langsung tidak berlaku di tingkat nasional terkhusus pemilihan presiden (pilpres) secara lansung, tetapi terjadi juga di daerah-daerah.

Seorang kepala daerah seperti halnya Gubernur, Bupati dan Walikota adalah pejabat eksekutif yang memegang peranan yang amat penting di suatu daerah. Ia bertindak bukan hanya sebagai pengambil keputusan eksekutif, melainkan juga sebagai inovator atau pencipta kebijakan baru untuk menunaikan semua tugasnya. Begitu pula, ia adalah pengendali utama dalam memutar roda organisasi pemerintah daerah, pembangunan dan pembinaan kemasyarakatan, serta dalam menghadapi konflik, gejolak, problem pemerintah di daerah, Agust Riewanto (2007:187).

Musim kampanye, ialah salah satu fase dalam proses pemilihan umum. Pada fase tersebut, memunculkan sejumlah fenomena-fenomena menarik di masyarakat. Pergantian era kepemimpinan memunculkan kewajiban untuk mencari pemimpin baru. Tidak heran, sistem pemilihan hadir untuk memberikan solusi sebagai cara untuk mendapat pemimpin baru yang sesuai dengan kehendak rakyat. Muncullah tokoh-tokoh yang ”mencoba” untuk menjadi pemimpin daerah yang mencoba menarik simpati pemilih dan memperoleh dukungan suara. Oleh sebab itu, musim kampanye ini dipandang sebagai saat yang tepat untuk mengucapkan janji-janji politik, menebar pesona dalam usaha untuk memperoleh penilaian positif oleh masyarakat di daerah pemilihan. Mencermati keadaan di atas, muncul sejumlah usaha-usaha yang dilakukan oleh calon pemimpin tersebut untuk memperoleh dukungan suara rakyat, salah satunya melakukan proses komunikasi politik melalui surat kabar.

(6)

6 Dalam iklan politik yang penuh dengan persaingan terbuka dan transparan, kontestan membutuhkan suatu metode yang dapat memfasilitasi mereka dalam memasarkan inisiatif politik, gagasan politik, isu politik, ideologi partai, karakteristik pemimpin partai, dan program kerja partai kepada masyarakat. Agar suatu kontestan memenangkan pemilihan umum, ia harus dapat membuat pemilih berpihak dan memberi suaranya. Marketing dapat bermanfaat bagi partai politik dan calon presiden untuk membangun hubungan dengan pemilih, dalam Firmanzah (2008:38). Dalam hal ini fungsi tim sukses sangat berpengaruh besar terhadap kesuksesan suatu calon kepala daerah. Bagaimana mereka (tim sukses) bekerja dengan strategi masing-masing yang akan diterapkan, sehingga keberadaan tim sukses ini juga tidak terlepas dari hubungan antara calon kepala daerah dengan tim sukses itu sendiri.

Keberadaan tim sukses akan menjadi pilihan utama oleh para calon kepala daerah. Sebelum masa kampanye atau sedang berlangsung masa kampanye, tim sukses bergerak melakukan upaya-upaya memenangkan pasangan calon yang menungganginya. Ketatnya persaingan dalam pilihan kepala daerah membuat tim sukses harus memeras keringat dan otaknya, karena para lawan tim sukses lain juga mempersiapkan strategi-strategi jitu dalam memenangkan masing-masing calon kepala daerah. Hal ini membuat segala macam upaya yang akan dilakukan oleh tim sukses agar calonnya menang.

Kampanye merupakan hal yang sangat esensial dalam pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. Selama masa kampanye yang dilaksanakan dalam jangka waktu 14 hari dan berakhir tiga hari sebelum pemungutan suara, pasangan calon kepala daerah bersama tim suksesnya akan berusaha memperkenalkan

(7)

7 dirinya serta memaparkan visi-misi mengenai rancangan kebijakan pembangunan daerah selama lima tahun ke depan masa kepemimpinannya jika terpilih.

Kota Malang dikenal sebagai kota terbesar kedua di Jawa Timur setelah Surabaya, maka dinamika politik lokal tentunya tak bisa lepas dari kota yang sangat kental dengan nuansa politiknya, selain itu juga merupakan kota yang sarat dengan nuansa intelektualnya, karena selain kota pariwisata kota ini juga sering disebut sebagai kota pendidikan. Ada yang menarik lagi ketika wajah-wajah calon lama akan berhadapan dengan wajah-wajah calon baru yang begitu kuatnya. Apalagi sempat terjadi perebutan kedaraan (partai) untuk mengusung masing-masing calon dalam putaran pilkada tahun 2013 ini. Dengan demikian, akan terjadi bervairiatif komunikasi politik yang dilakukan oleh masing-masing calon tersebut.

Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kota Malang, Jawa Timur, menetapkan enam pasangan calon yang lolos untuk mengikuti Pilkada Kota Malang periode 2013-2018 yang digelar pada 23 Mei 2013. Seusai mendapatkan nomor urut, tiap-tiap pasangan memercayai angka yang didapat adalah angka keramat alias angka keberuntungan. Berdasarkan hasil penetapan nomor urut pasangan calon yang melalui undian secara acak, pasangan H. Dwi Cahyono-H Nuruddin mendapatkan nomor urut 1, pasangan Sri Rahayu-Priyatmoko Oetomo nomor urut 2, Heri Pudji Utami-Sofyan Edi Jarwoko mendapatkan nomor urut 3, Mujaiz-Yunar Mulya nomor urut 4, Dono-Arif HS nomor urut 5, dan pasangan M Anton-Sutiaji mendapatkan nomor urut 6.

Ada pula pasangan dari masing-masing calon yang diusung dari berbagai paorpol maupun independen yaitu pasangan urut 1 mencalonkan diri melalui jalur

(8)

8 independen, Pasangan urut 2 diusung melalui partai berlambangkan banteng moncong putih yaitu PDI Perjuangan, selanjutnya pasangan nomer urut 3 diusung dari Partai Golkar dan PAN, ada pula pasangan nomer urut 4 yang sama halnya dengan pasangan nomer urut satu yaitu melalui jalur independen, sementara itu pasangan dengan nomer urut 5 diusung dari Partai Demokrat dan PKS, sedangkan pasangan nomer urut 6 diusung oleh PKB dan Partai Gerindra.

Sisi menarik bagi peneliti dalam pemilihan Walikota Malang adalah pada pasangan nomor urut enam yang ikut mendaftar menjadi walikota di Kota Malang yakni H. Moch. Anton berasal bukan dari politisi melainkan dari pengusaha. Pasangan berjargon ‘Peduli wong cilik’ ini bisa dikatakan pasangan dengan wajah-wajah baru dibandingkan dengan pasangan-pasangan lainnya.. Adapula keterlibatan beliau dalam berorganisasi yaitu sebagai bendahara NU (Nadhatul Ulama) Kota Malang dan Ketua PITI (Persatuan Islam Tionghoa Indonesia) Kota Malang.

Pasangan-pasangan calon kepala daerah yang dicalonkan itu diharapkan mampu membawa dan mewujudkan visi dan misi kota Malang dan mampu mensinergikan potensi yang dimiliki sehingga dapat dibentuk suatu pasangan yang solid yang bisa seiring sejalan dan merupakan figur yang marketable di Malang. Artinya karena masyarakat memilih langsung maka figur yang dipilih adalah sosok yang bisa menjual dirinya sendiri kepada masyarakat Malang sehingga calon dengan segala karakteristiknya akan menjadi unsur yang sangat penting.

(9)

9 B. Rumusan Masalah.

Sebagaimana dijelaskan dalam latar belakang, pilihan kepala daerah kota Malang pada tahun 2013 ini dirasa tensi yang begitu panas dikarenakan wajah-wajah calon lama berhadapan dengan wajah-wajah-wajah-wajah calon baru yang begitu kuatnya. Dengan demikian peneliti ingin mengambil judul penelitian “Komunikasi Politik Dalam Pilihan Kepala Daerah Kota Malang 2013 (Studi pada Tim Sukses Pasangan AJI dalam Pilihan Kepala Daerah Kota Malang 2013)” dan menarik rumusan masalah sebagai berikut.

1. Bagaimana komunikasi politik tim sukses pasangan AJI dalam pilihan kepala daerah Kota Malang 2013 ?

2. Media massa apa saja yang digunakan pasangan AJI dalam menyampaikan pesan politiknya ?

3. Pesan apa saja yang disampaikan pasangan AJI dalam masa kampanye ? C. Tujuan Penelitian.

1. Ingin mengetahui bagaimana komunikasi politik tim sukses pasangan AJI dalam pilihan kepala daerah Kota Malang 2013.

2. Ingin mengetahui media massa apa saja yang digunakan pasangan AJI dalam menyampaikan pesan politiknya.

3. Ingin mengetahui pesan apa saja yang disampaikan pasangan AJI dalam masa kampanye.

D. Manfaat Penelitian. D.1. Manfaat Teoritis

a Dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan konsep komunikasi politik.

(10)

10 b Dapat menambah kajian sebagai literatur ilmiah yang berkenaan

dengan Komunikasi Politik dan Sosiologi Politik. D.2. Manfaat Praktis

a Dapat dijadikan bahan masukan bagi masyarakat khususnya para anggota partai politik dalam praktik komunikasi politik.

b Dapat dijadikan bahan masukan bagi Tim Sukses politisi maupun parpol dalam menyalurkan pesannya ke masyarakat.

E. Definisi Konsep

Agar memperoleh kejelasan tentang arti dari berbagai konsep dalam penelitian ini maka diperlukan adanya definisi konsep yang memberikan arahan dan ruang lingkup penelitian sehingga mempermudah dalam mengadakan penelitian, untuk itu dapat digunakan beberapa konsep untuk batasan-batasan atau definisi secara jelas.

Mendefinisikan komunikasi politik memang tidak cukup hanya dengan menggabungkan dua definisi, “komunikasi” dan “politik”. Ia memiliki konsep tersendiri, meskipun secara sederhana merupakan gabungan dari dua konsep tersebut. Komunikasi dan politik dalam wacana ilmu pengetahuan manusia merupakan dua wilayah pencarian yang masing-masing dapat dikatakan relatif berdiri sendiri. Namun keduanya memiliki kesamaan-kesamaan sebab memiliki objek material yang sama yaitu manusia. Kesamaan objek material ini membuat kedua disiplin ilmu itu tidak dapat menghindari adanya pertemuan bidang kajian. Hal ini disebabkan karena masing-masing memiliki sifat interdisipliner, yakni sifat yang memungkinkan setiap disiplin ilmu membuka isolasinya dan mengembangkan kajian kontekstualnya. Komunikasi mengembangkan bidang

(11)

11 kajiannya yang beririsan dengan disiplin ilmu lain, seperti sosiologi dan psikologi, dan hal yang sama berlaku pula pada ilmu politik (Nina W. Syam, 2002:18).

Kajian keilmuan sinergi antara komunikasi dan politik, atau yang bisa disebut dengan komunikasi politik kian hari menjadi kajian yang menarik, sebagai sebuah disiplin ilmu, komunikasi politik memang tergolong baru, namun sesungguhnya penelaahan komunikasi dan politik, serta pemanfaatan komunikasi untuk kepentingan politik telah berlangsung sangat lama (Dan Nimmo, 2000:7). Kajian komunikasi politik menurut Nina W. Syam (2002:2) berada dalam satu pohon komunikasi, Komunikasi politik adalah salah satu cabang komunikasi organisasional berdasarkan pendekatan publik. Artinya komunikasi politik berlangsung dalam konteks organisasi dan dalam situasi publik.

Komunikasi Politik menurut Maswadi Rauf dalam Rochajat Harun dan Sumarno, (2006:3) menempatkan komunikasi politik sebagai objek kajian ilmu politik, karena pesan-pesan yang disampaikan dalam proses komunikasi bercirikan politik, yaitu berkaitan dengan kekuasaan politik negara, pemerintahan dan aktifitas komunikator dalam kedudukan sebagai pelaku kegiatan politik. Lanjut Maswadi Rauf, komunikasi politik dapat dilihat dalam dua dimensi, yaitu komunikasi politik sebagai sebuah kegiatan dan sebagai kegiatan ilmiah. Komunikasi sebagai kegiatan politik merupakan penyampaian pesan-pesan bercirikan politik oleh aktor-aktor politik kepada pihak lain. Kegiatan ini bersifat empirik karena dilakukan secara nyata dalam kehidupan sosial. Sedangkan sebagai kegiatan ilmiah maka komunikasi politik adalah salah satu kegiatan politik dalam sistem politik.

(12)

12 Lebih lanjut Rochajat Harun dan Sumarno (2006:5) menjelaskan komunikasi politik adalah suatu proses dan kegiatan-kegiatan membentuk sikap dan perilaku politik yang terintegrasi ke dalam suatu sistem politik dengan menggunakan simbol-simbol yang berarti. Ada pula menurut Dan Nimmo (1989:10) komunikasi politik adalah kegiatan komunikasi yang dianggap komunikasi politik berdasarkan konsekuensi-konsekuensi actual maupun potensial yang mengatur perbuatan manusia di dalam kondisi-kondisi konflik. Berbeda dengan Lord Windlesham, komunikasi politik adalah suatu penyampaian pesan politik yang secara sengaja dilakukan oleh komunikator kepada komunikan dengan tujuan membuat komunikasi berperilaku tertentu dalam Effendy (1992:158).

Menurut Muis (1990) dalam (Arifin, 2010:75) menjelaskan bahwa istilah komunikasi politik menunjuk pada pesan sebagai objek formalnya sehingga titik berat konsepnya terletak pada komunikasi dan bukan pada politik. Pada hakikatnya komunikasi politik mengandung informasi atau pesan tentang politik.

Meadow (1980) dalam (Arifin, 2010:78) selanjutnya mengemukakan bahwa komunikasi politik meliputi segala bentuk pertukaran simbol atau pesan yang sampai tingkat tertentu dipengaruhi atau memengaruhi berfungsinya sistem politik.

Komunikasi politik tidak hanya sekedar bagaimana komunikator menyampaikan pesan kepada komunikan mengenai pesan-pesan politik, lebih dari itu komunikasi politik juga bermakna pada efek yang ditimbulkan dari komunikasi tersebut. Menurut kadarnya, efek komunikasi terdiri dari tiga jenis, yakni efek kognitif, efek afektif dan efek konatif/behavioral (Effendy, 2004:159).

(13)

13 Efek merupakan salah satu unsur dalam suatu formula yang dirumuskan oleh Lasswell (dalam Effendy, 2004:154) yakni who, says what, to whom, with what channel and with what effect (siapa, berkata apa, kepada siapa, melalui saluran apa, dan bagaimana efeknya. Who yakni menyangkut komunikator politik yang menyampaikan pesan-pesan politik (says what) kepada komunikan/khalayak (to whom) melalui media politik apa (with what channel) dan apa efek politiknya (with what effect).

Selain itu komunikasi dapat juga diartikan sebagai proses menghubungi atau mengadakan perhubungan dengan menggunakan bahasa, gerak-gerik, badan, system isyarat, kode dan lain-lain. Definisi yang menekankan persamaan arti, ditemukan antara lain dari rumusan Gode (1969:5) yaitu “komunikasi adalah suatu proses yang membuat adanya kebersamaan bagi dua atau lebih orang yang semula dimonopoli oleh satu atau beberapa orang”. Perumusan ini dimaksud bahwa komunikasi yang baik atau efektif, adalah komunikasi yang mampu menciptakan kebersamaan arti bagi orang-orang yang terlibat. Tanpa persamaan arti, sukar dipikirkan adanya komunikasi.

Selain pengertian komunikasi politik menurut para ahli di atas, ada pula pengertian komunikasi politik yang dapat dilihat dari dua sisi yaitu menurut Harsono Suwardi (1997:12) komunikasi politik dapat dilihat dari arti sempit maupun luas. Dalam arti sempit komunikasi politik adalah setiap bentuk penyampaian pesan baik dari lambang maupun lisan hingga tulisan, atau pun dalam bentuk isyarat yang mempengaruhi kedudukan seseorang yang ada dalam suatu struktur kekuasaan tertentu. Sedangkan dalam arti luas komunikasi politik

(14)

14 adalah setiap jenis penyampaian pesan khususnya yang bermuatan info politik dari suatu sumber kepada sejumlah penerima pesan.

Ada beberapa definisi yang mempertegas eksistensi komunikasi politik dalam Pilkada. Seperti menurut Liliweri (2000:3) bahwa komunikasi politik merupakan proses aktivitas dan kegiatan komunikasi yang berkaitan dengan masalah politik. Dengan kata lain, komunikasi politik adalah proses pertukaran pesan-pesan politik di mana komunikator politik (masyarakat), propaganda, atau kampanye politik. Komunikasi politik lebih merupakan kebijaksanaan umum untuk menentukan bagaimana seharusnya mengelola atau memanage komunikasi. pengertian komunikasi politik lainnya, yaitu dari Mark Roelofs dan Barn Lund dalam Sumarno (2006:5) “Politic is talk or to put the metter, more exactly the activity of politic (politicking) is talking”, artinya komunikasi politik lebih memusatkan kajiannya pada materi yang berisi pesan-pesan politik, isu politik, peristiwa dan perilaku politik individu-individu, baik sebagai penguasa maupun yang barada dalam asosiasi-asosiasi kemasyarakatan atau asosiasi politik.

Jadi, komunikasi politik yang dimaksud dalam penelitian ini adalah :

Berbagai upaya atau tindakan yang menyangkut penyampaian simbol atau pesan politik oleh subyek (Tim sukses/ Pemenang Pilkada) kepada masyarakat Kota Malang yang tentunya mengakibatkan suatu efek dalam sistem politik.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di