• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERBEDAAN TINGKAT KECEMASAN MAHASISWA 2 SEMESTER TERAKHIR DENGAN IPK DI BAWAH 3,50 DAN DI ATAS 3,50 UNTUK MENCAPAI CUM LAUDE SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERBEDAAN TINGKAT KECEMASAN MAHASISWA 2 SEMESTER TERAKHIR DENGAN IPK DI BAWAH 3,50 DAN DI ATAS 3,50 UNTUK MENCAPAI CUM LAUDE SKRIPSI"

Copied!
49
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

TERAKHIR DENGAN IPK DI BAWAH 3,50 DAN DI ATAS 3,50 UNTUK MENCAPAI CUM LAUDE

SKRIPSI

Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Kedokteran

Indah Puspitasari G.0009107

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET

Surakarta 2013

(2)

commit to user

(3)

commit to user

iii

Dengan ini menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan penulis juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Surakarta, Januari 2013

Indah Puspitasari NIM. G.0009107

(4)

commit to user

iv ABSTRAK

Indah Puspitasari, G0009107, 2013. Perbedaan Tingkat Kecemasan Mahasiswa 2 Semester Terakhir dengan IPK di Bawah 3,50 dan di Atas 3,50 untuk Mencapai Cum Laude. Skripsi. Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

Latar Belakang : Keberhasilan remaja sangat terkait dengan keberhasilannya pada prestasi belajar di sekolah. Begitu pula dengan keberhasilan mahasiswa di dunia perkuliahan. Mahasiswa cenderung mencari cara maupun alasan agar dirinya dapat lebih maju dan terdorong untuk dapat mencapai prestasi yang maksimal. Pada tingkat perguruan tinggi, penilaian prestasi akademik dinyatakan dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK). Tidak sedikit mahasiwa yang mempunyai tujuan lulus dengan predikat cum laude. Predikat cum laude dapat diraih apabila memperoleh IPK di atas 3,50. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tingkat kecemasan antara mahasiswa 2 semester terakhir dengan IPK di bawah 3,50 dan di atas 3,50 untuk mencapai cum laude.

Metode Penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional yang dilaksanakan pada bulan Juli 2012 di Fakultas Kedokteran Unversitas Sebelas Maret. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling. Sampel mengisi (1) Isian data pribadi, (2) Kuesioner L-MMPI (untuk mengetahui kejujuran responden dalam mengisi kuesioner), (3) Kuesioner T-MAS (untuk menilai skor kecemasan). Diperoleh data sebanyak 66 dan analisis data menggunakan uji normalitas data Kolmogorov-Smirnov dan uji-t independen melalui program SPSS 17.00 for Windows.

Hasil Penelitian : Penelitian ini menunjukkan bahwa rerata skor kecemasan pada mahasiswa dengan IPK di bawah 3,50 adalah 21,51 ± 6,87, sedangkan pada mahasiswa dengan IPK di atas 3,50 adalah 18,65 ± 4,77 dengan nilai p dari uji-t independen adalah 0,118. Nilai p ini menunjukkan tidak signifikan secara statistik.

Simpulan Penelitian : Terdapat perbedaan tingkat kecemasan antara mahasiswa 2 semester terakhir dengan IPK di bawah 3,50 dan di atas 3,50 untuk mencapai cum laude, namun perbedaan tersebut tidak signifikan secara statistik..

__________________________________________________________________ Kata Kunci : Kecemasan, Indeks Prestasi Kumulatif, Cum laude

(5)

commit to user

v

Indah Puspitasari, G0009107, 2013. The Difference of Anxiety Levels in Last Year Collegians whose GPA is Below 3,50 and Above 3,50 in Order to Achieve Cum Laude Title. Mini Thesis. Faculty of Medicine of Sebelas Maret University, Surakarta.

Background : The success of teenagers is associated with their achievement on their school year. Same thing happens when the teenagers study in colleage. Collegians tend to find ways and reasons for them to be more advance and motivated to gain maximum achievement. On the colleage level, the assessment of academic achievements expressed by Grade Point Average (GPA). Almost collegian want to be titled cum laude when they are graduated from colleage. Cum laude title can be achieved if collegians’ GPA is above 3,50. This study aim to determine the differences of anxiety levels in last year collegians whose GPA is below 3,50 and above 3,50 in order to achieve cum laude title.

Methods : The study was an analytical observational study using cross sectional method, held in July 2012 in Faculty of Medicine of Sebelas Maret University, Surakarta. The sample was taken using purposive sampling. The sample filled in (1) Curriculum vitae form, (2) L-MMPI questionnaire (to find out the respondent’s thruthfulness in filling in questionnaire), (3) T-MAS questionnaire (to measure anxiety score). There were 66 samples on this study and the datas were analyzed using Kolmogorov-Smirnov normality test and Independent T-test by SPSS 17.00 for Windows.

Results : This study showed the mean of the anxiety score for collegians whose GPA below 3,50 was 21,51 ± 6,87, as for collegians whose GPA is above 3,50 was 18,65 ± 4,77 with p value of independent t-test was 0,118. This p value is statistically not significant.

Conclusions : There was difference of anxiety levels in last year student with GPA below 3,50 and above 3,50 in order to achieve cum laude, but this difference was statistically not significant.

_______________________________________________________________ Keywords : Anxiety, GPA, Cum laude title

(6)

commit to user

vi PRAKATA

Alhamdulillahirabbil’alamin, puji syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat dan ridho-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Perbedaan Tingkat Kecemasan Mahasiswa 2 Semester Terakhir dengan IPK di Bawah 3,50 dan di Atas 3,50 untuk Mencapai Cum Laude”.

Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat kelulusan tingkat sarjana di Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta. Skripsi ini tidaklah dapat terselesaikan tanpa bantuan dari banyak pihak. Untuk itu perkenankan peneliti mengucapkan terima kasih kepada:

1. Prof. Dr. Zainal Arifin Adnan, dr., Sp.PD-KR-FINASIM selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta.

2. Mardiatmi Susilohati, dr., Sp.KJ(K) dan Bagus Wicaksono, Drs., M.Si, selaku Pembimbing Utama dan Pembimbing Pendamping atas segala bimbingan, masukan dan jalan keluar dari permasalahan yang timbul dalam proses penyusunan skripsi ini.

3. Prof. Dr. Aris Sudiyanto, dr., Sp.KJ(K) dan Margono, dr., MKK, selaku Penguji Utama dan Anggota Penguji atas segala masukan dan koreksi untuk berbagai kekurangan dalam skripsi ini.

4. Muthmainah, dr., M.Kes, selaku Ketua Tim Skripsi dan Enny N., SH., MH serta Mas Sunardi selaku Tim Skripsi Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta.

5. Bapak dan Mamah tersayang, Bapak Tugino dan Ibu Sudarmi, serta kakak tercinta, Nomita Indri Hapsari, atas segala doa dan penyemangatnya yang tidak pernah putus agar skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik.

6. Sahabat-sahabat terhebat; Arianto Adi, Junita Ayu, Diena Ashlihati, Gagat Ragil, Alva Putri, Annisa Rizki, Sekar Ayu, Nur Alfiani, Locoporta, M. Iqbal, dan Agiel Istin yang telah meluangkan waktu untuk membantu dan memberikan dukungan terus-menerus hingga selesainya skripsi ini.

7. Keluarga PMPA VAGUS yang selalu memberikan keceriaan agar peneliti selalu bersemangat.

8. Keluarga seperjuangan Pendidikan Dokter angkatan 2009, yang selalu mendukung dan mengingatkan untuk menyelesaikan skripsi.

9. Semua pihak yang telah membantu terselesainya skripsi ini, yang tidak dapat peneliti sebutkan satu persatu.

Meskipun tulisan ini masih belum sempurna, peneliti berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Saran, pendapat, koreksi, dan tanggapan dari semua pihak sangat diharapkan.

Surakarta, Januari 2013

(7)

commit to user

vii

PRAKATA ... vi

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... ix

DAFTAR GAMBAR... ... x

DAFTAR LAMPIRAN ... xi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Perumusan Masalah ... 4

C. Tujuan Penelitian ... 4

D. Manfaat Penelitian ... 4

BAB II LANDASAN TEORI ... 6

A. Tinjauan Pustaka ... 6

1. Kecemasan ... 6

a. Definisi ... 6

b. Etiologi ... 7

c. Gejala Klinis ... 11

2. Indeks Prestasi Kumulatif ... 13

3. Pencapaian Cum Laude ... 14

a. Definisi Cum Laude ... 14

b. Faktor yang Mempengaruhi Pencapaian Cum Laude .. 16

4. Hubungan Kecemasan dengan Pencapaian Cum Laude ... 18

B. Kerangka Pemikiran ... 20

C. Hipotesis ... 21

BAB III METODE PENELITIAN ... 22

A. Jenis Penelitian ... 22 B. Lokasi Penelitian ... 22 C. Subjek Penelitian ... 22 D. Teknik Sampling ... 23 E. Rancangan Penelitian ... 24 F. Identifikasi Variabel ... 25

G. Definisi Operasional Variabel ... 25

H. Instrumen Penilitian ... 26

I. Cara Kerja ... 27

J. Teknik Analisis Data ... 27

BAB IV HASIL PENELITIAN ... 28

BAB V PEMBAHASAN ... 34

BAB VI PENUTUP ... ... 38

(8)

commit to user

viii

B. Saran ... 38 DAFTAR PUSTAKA

(9)

commit to user

ix

Tabel 4.1 Distribusi Sampel Berdasarkan Jenis Kelamin………29 Tabel 4.2 Distribusi Hasil IPK Sementara pada Semester 5………...29 Tabel 4.3 Uji Normalitas Data dengan Kolmogorov-Smirnov Test...31 Tabel 4.4 Hasil Uji Homogenitas Levene’s Test untuk Mengetahui Varians

2 Kelompok………...32 Tabel 4.5 Hasil Uji-t Independen tentang Beda Mean Skor Kecemasan

antara Kelompok Mahasiswa dengan IPK > 3,50 dan IPK <

(10)

commit to user

x

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran……….20 Gambar 3.1 Skema Rancangan Penelitian………....24 Gambar 4.1 Diagram Perbandingan Jumlah Mahasiswa 2 Semester Terakhir

yang Menginginkan Lulus dengan Gelar CumL aude…………...28 Gambar 4.2 Boxplot Skor Kecemasan antara Kelompok Mahasiswa dengan

(11)

commit to user

xi

Lampiran 1. Surat Permohonan Izin Penelitian dari Fakultas Kedokteran UNS Lampiran 2. Isian Data Pribadi

Lampiran 3. Kuesioner L-MMPI

Lampiran 4. Kuesioner Penilaian Kecemasan Lampiran 5. Data Penelitian

Lampiran 6. Hasil Analisis Uji Normalitas Data Penelitian Lampiran 7. Hasil Analisis Statistik Uji-t Independen

(12)

commit to user 1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Keberhasilan remaja sangat terkait dengan keberhasilannya pada prestasi belajar di sekolah. Prestasi sangat penting bagi remaja karena remaja yang memiliki prestasi tinggi pada umumnya akan memperoleh status pekerjaan yang lebih tinggi di masa yang akan datang dibandingkan dengan remaja yang berprestasi rendah. Dengan demikian, jelaslah bahwa prestasi merupakan sarana dalam melatih kesempatan yang pada akhirnya makin terbuka kesempatan dalam dunia pekerjaan dan sebaliknya, remaja yang memiliki prestasi yang rendah maka akan semakin kecil kesempatan yang dimilikinya di dunia kerja (Gunarsa dan Yulia, 2004).

Begitu pula dengan keberhasilan mahasiswa di dunia perkuliahan. Dalam menjalankan perannya di dunia perkuliahan, para mahasiswa pada umumnya dihadapkan pada pemikiran tentang seberapa besar pencapaian yang telah diraih selama menjalani proses perkuliahan, apa saja yang telah didapatkan dalam perkuliahan. Berawal dari pemikiran-pemikiran tersebut, mahasiswa cenderung mencari cara maupun alasan agar mahasiswa dapat lebih maju dan terdorong untuk dapat mencapai prestasi yang maksimal. Pada saat memasuki universitas, para mahasiswa juga cenderung memiliki tujuan-tujuan yang hendak dicapai,

(13)

commit to user

misalnya memiliki target agar mendapat nilai baik dan lulus dengan baik pula. Sebagian mahasiswa lainnya ada juga yang memiliki target agar kuliahnya lancar dan lulus dengan cum laude.

Pada tingkat perguruan tinggi, penilaian prestasi akademik dinyatakan dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK). Indeks prestasi kumulatif merupakan angka yang menunjukkan prestasi atau kemajuan belajar mahasiswa secara kumulatif mulai dari semester pertama sampai dengan semester paling akhir yang telah ditempuh (PUPP UNPAD, 2005). Prestasi akademik merupakan perubahan dalam hal kecakapan tingkah laku ataupun kemampuan yang dapat bertambah selama beberapa waktu yang tidak disebabkan proses pertumbuhan, tetapi adanya situasi belajar sehingga dipandang sebagai bukti usaha yang diperoleh mahasiswa. Oleh sebab itu, kualitas mahasiswa dapat dilihat dari prestasi akademik yang diraihnya. (Sobur, 2006).

Tidak sedikit mahasiwa yang mempunyai tujuan lulus dengan predikat cum laude. Predikat cum laude dapat diraih apabila memperoleh IPK di atas 3,50 untuk program sarjana (Universitas Sebelas Maret, 2009). Bagi beberapa mahasiswa, lulus dengan predikat cum laude merupakan suatu kebanggaan tersendiri dan memiliki prestige yang tinggi di mata orang lain. Tidak hanya itu, lulus dengan predikat cum laude juga bisa membahagiakan orang tua serta orang-orang terdekat. Pada mahasiswa yang masa studinya sudah mencapai tahun terakhir, mahasiswa hanya mempunyai waktu dua semester lagi untuk mencapai IPK di atas 3,50. Bagi mahasiswa yang sudah mempunyai IPK di atas 3,50 pada

(14)

commit to user

3

waktu dua semester terakhir, akan berusaha untuk mempertahankan nilai tersebut agar tidak turun. Sedangkan mahasiswa yang IPK nya masih di bawah 3,50 pada waktu dua semester terakhir juga akan mengejar untuk mencapai angka lebih dari 3,50 agar bisa lulus dengan predikat cum laude.

Tujuan tersebut kadang justru menjadi beban bagi mahasiswa. Salah satu yang menjadi stresor dalam kehidupan mahasiswa adalah tuntutan dalam pendidikan. Keinginan untuk membahagiakan orang tua dengan cara lulus dengan predikat cum laude tidak hanya bisa memotivasi kinerja berprestasi mahasiswa tetapi juga bisa menghambat. Selain itu, ada beberapa orang tua yang menginginkan dan menuntut anaknya agar mencapai cum laude. Hal tersebut tanpa disadari dapat menimbulkan kecemasan pada mahasiswa. Kecemasan tersebut berupa kekhawatiran karena tidak dapat memprediksi atau mengontrol kejadian yang akan datang (Barlow dan Durand, 2006). Kecemasan merupakan kekhawatiran yang tidak jelas menyebar di alam dan terkait dengan perasaan ketidakpastian dan ketidakberdayaan (Stuart dan Laraia, 2005). Kecemasan lahir dari berbagai permasalahan yang dihadapi mahasiswa, antara lain mulai memikirkan masalah karir, masalah pendidikan lanjutan setelah mahasiswa lulus nantinya (Solomon dan Patch, 1974).

Dari latar belakang di atas, penulis ingin mengangkat topik penelitian tentang perbedaan tingkat kecemasan antara mahasiswa 2 semester terakhir dengan IPK di bawah 3,50 dan di atas 3,50 untuk mencapai cum laude.

(15)

commit to user B. Perumusan Masalah

Adakah perbedaan tingkat kecemasan antara mahasiswa 2 semester terakhir dengan IPK di bawah 3,50 dan di atas 3,50 untuk mencapai cum laude?

C. Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui adanya perbedaan tingkat kecemasan antara mahasiswa 2 semester terakhir dengan IPK di bawah 3,50 dan di atas 3,50 untuk mencapai cum laude.

D. Manfaat Penelitian

1. Aspek Teoritis

Penelitian ini dapat memberikan informasi mengenai perbedaan tingkat kecemasan antara mahasiswa 2 semester terakhir dengan IPK di bawah 3,50 dan di atas 3,50 untuk mencapai cum laude.

2. Aspek Aplikatif a. Bagi Mahasiswa

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi mahasiswa yang akan menyelesaikan masa studinya di tingkat universitas mengenai apa yang perlu mahasiswa persiapkan untuk mencapai cum laude pada saat kelulusan yang akan berguna dalam menyosong dunia kerja ataupun pendidikan lanjutan.

(16)

commit to user

5

b. Bagi Orang Tua dan Dosen

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi orang tua dan para dosen untuk memberikan saran dan nasihat membangun demi kemajuan prestasi anak dan anak didiknya. Hal ini untuk mengurangi kecemasan berprestasi.

(17)

commit to user 6 BAB II LANDASAN TEORI A. Tinjauan Pustaka 1. Kecemasan a. Definisi

Kecemasan atau dalam Bahasa Inggris “anxiety” berasal dari Bahasa Latin “angustus” yang berarti kaku, dan “ango, anci” yang berarti mencekik (Trismiati, 2004). Dalam Kamus Kedokteran Dorland Edisi 29, anxiety merupakan status perasaan tidak menyenangkan yang terdiri atas respons-respons psikofisiologis terhadap antisipasi bahaya yang tidak riil atau yang terbayangkan, secara nyata disebabkan oleh konflik intrapsikik yang tidak diketahui.

Kecemasan adalah sesuatu yang menimpa hampir setiap orang pada waktu tertentu dalam kehidupannya. Kecemasan merupakan suatu reaksi normal terhadap situasi yang sangat menekan kehidupan seseorang, dan karena itu berlangsung tidak lama. Kecemasan bisa muncul sendiri atau bergabung gejala-gejala lain dari berbagai gangguan emosi (Savitri, 2003).

Kecemasan adalah sebab dari resepsi dimana terdapat konflik emosional antara id dan super ego (Freud, 2002). Menurut Freud (dalam

(18)

commit to user

7

Alwisol, 2005) mengatakan bahwa kecemasan adalah fungsi ego untuk memperingatkan individu tentang kemungkinan datangnya suatu bahaya sehingga dapat disiapkan reaksi adaptif yang sesuai. Kecemasan berfungsi sebagai mekanisme yang melindungi ego karena kecemasan memberi sinyal kepada manusia bahwa ada bahaya dan kalau tidak dilakukan tindakan yang tepat maka bahaya itu akan meningkat sampai ego dikalahkan.

b. Etiologi

Ada beberapa teori mengenai penyebab kecemasan: 1) Teori Psikologis

Dalam teori psikologis terdapat 3 bidang utama yang telah menyumbangkan teori tentang penyebab kecemasan (Kaplan dan Sadock, 1997).

a) Teori psikoanalitik Freud

Freud menyatakan bahwa kecemasan adalah suatu sinyal kepada ego yang memberitahukan adanya suatu dorongan yang tidak dapat diterima dan menyadarkan ego untuk mengambil tindakan defensif terhadap tekanan dari dalam tersebut.

Pertama, kecemasan dapat disebabkan oleh ancaman-ancaman dari dunia luar, seperti masalah keuangan dan kegagalan. Kedua, Freud juga menyebutkan bahwa kecemasan

(19)

commit to user

dapat disebabkan oleh konflik internal terhadap ungkapan impuls-impuls “id”. Konflik dan kecemasan terjadi apabila “id” mencari pemuasan terhadap kebutuhan-kebutuhannya, tetapi dihalangi oleh “ego” dan “super ego”. Kecemasan ini disebut kecemasan moral. Ketiga, kecemasan disebabkan oleh “super ego” tidak efektif dalam mengekang “ego” dan akan terjadi tingkah laku yang tidak dapat diterima. Kecemasan tersebut dinamakan kecemasan neurotik (Semiun, 2010).

Idealnya, penggunaan represi sudah cukup untuk memulihkan keseimbangan psikologis tanpa menyebabkan gejala, karena represi yang efektif dapat menahan dorongan di bawah sadar. Namun jika represi tidak berhasil sebagai pertahanan, mekanisme pertahanan lain (seperti konversi, pengalihan, dan regresi) mungkin menyebabkan pembentukan gejala dan menghasilkan gambaran gangguan neurotik yang klasik (seperti histeria, fobia, neurosis obsesif-kompulsif) (Sadock dan Sadock, 2010).

b) Teori perilaku

Teori perilaku menyatakan bahwa kecemasan disebabkan oleh stimuli lingkungan spesifik. Pola berpikir yang salah, terdistorsi, atau tidak produktif dapat mendahului atau menyertai perilaku maladaptif dan gangguan emosional.

(20)

commit to user

9

Penderita gangguan cemas cenderung menilai lebih terhadap derajat bahaya dalam situasi tertentu dan menilai rendah kemampuan dirinya untuk mengatasi ancaman (Sadock dan Sadock, 2010).

c) Teori eksistensial

Teori ini memberikan model gangguan kecemasan umum dimana tidak terdapat stimulus yang dapat diidentifikasikan secara spesifik untuk suatu perasaan kecemasan yang kronis. Konsep pusat teori eksistensial adalah bahwa orang menyadari rasa kosong yang mendalam di dalam hidupnya. Kecemasan adalah respon diri terhadap kehampaan yang luas mengenai keberadaan dan arti (Sadock dan Sadock, 2010).

2) Teori Biologis

Peristiwa biologis dapat mendahului konflik psikologis namun dapat juga sebagai akibat dari suatu konflik psikologis.

a) Sistem saraf otonom

Stresor dapat menyebabkan pelepasan epinefrin dari adrenal melalui mekanisme seperti berikut ini. Ancaman dipersepsi oleh panca indera, diteruskan ke korteks serebri, kemudian ke sistem limbik dan Reticular Activating System (RAS), lalu ke hipotalamus dan hipofisis. Kemudian kelenjar

(21)

commit to user

adrenal mensekresikan katekolamin dan terjadilah stimulasi saraf otonom (Mudjaddid, 2006).

Hiperaktivitas sistem saraf otonom akan mempengaruhi berbagai sistem organ dan menyebabkan gejala tertentu, misalnya: kardiovaskuler (contohnya: takikardi), muskuler (contohnya: nyeri kepala), gastrointestinal (contohnya: diare), dan pernafasan (contohnya: nafas cepat) (Sadock dan Sadock, 2010).

b) Neurotransmiter

Tiga neurotransmiter utama yang terkait dengan kecemasan berdasarkan studi hewan dan respon terhadap obat adalah norepinefrin, serotonin dan asam gama-aminobutrat (GABA). Teori umum mengenai peran norepinefrin dalam gangguan kecemasan adalah bahwa pasien yang mengalami kecemasan memiliki sistem adrenergik yang buruk. Badan sel nor-adrenergik terutama terletak pada locus cerulens di pons pars rostralis dan percobaan pada primata menunjukkan bahwa stimulasi locus cerulens menghasilkan respon rasa takut dan ablasi pada area yang sama menghambat atau benar-benar menghalangi kemampuan membentuk respon rasa takut (Sadock dan Sadock, 2010).

(22)

commit to user

11

Badan sel pada sebagian besar neuron serotonergik berlokasi di nukleus raphe di batang otak rostral dan berjalan ke korteks serebral, sistem limbik, dan hipotalamus. Pemberian obat serotonergik pada binatang menyebabkan perilaku yang mengarah pada kecemasan. Beberapa laporan menyatakan obat-obatan yang menyebabkan pelepasan serotonin, menyebabkan peningkatan kecemasan pada pasien dengan gangguan kecemasan.

Saraf yang mengandung GABA merupakan sistem inhibisi utama di otak. Saraf yang demikian tersebut menurunkan aktivitas neuron lain termasuk neuron monoamin. Obat yang meningkatkan fungsi GABA merupakan anxiolitik yang poten (Maramis, 2009). Peran GABA dalam gangguan kecemasan paling kuat didukung oleh efektivitas benzodiazepin yang meningkatkan aktivitas GABA di reseptor GABA, di dalam terapi beberapa jenis gangguan kecemasan. Sejumlah pasien dengan gangguan kecemasan memiliki fungsi abnormal reseptor GABA. (Sadock dan Sadock, 2010).

c. Gejala Klinis

Keluhan dan gejala umum yang berkaitan dengan kecemasan dapat dibagi menjadi gejala somatik dan psikologis (Conley, 2006).

(23)

commit to user 1) Gejala somatik

a) Keringat berlebih.

b) Ketegangan pada otot skelet: sakit kepala, kontraksi pada bagian belakang leher atau dada, suara bergetar, nyeri punggung.

c) Sindrom hiperventilasi: sesak nafas, pusing, parestesi.

d) Gangguan fungsi gastrointestinal: nyeri abdomen, tidak nafsu makan, mual, diare, konstipasi.

e) Iritabilitas kardiovaskuler: hipertensi, takikardi.

f) Disfungsi genitourinaria: sering buang air kecil, sakit saat berkemih, impoten, sakit pelvis pada wanita, kehilangan nafsu seksual.

2) Gejala psikologis

a) Gangguan mood: sensitif sekali, cepat marah, mudah sedih. b) Kesulitan tidur: insomnia, mimpi buruk, mimpi yang

berulang-ulang.

c) Kelelahan, mudah capek. d) Kehilangan motivasi dan minat. e) Perasaan-perasaan yang tidak nyata.

f) Sangat sensitif terhadap suara, merasa tak tahan terhadap suara-suara yang sebelumnya biasa saja.

(24)

commit to user

13

h) Kikuk, canggung, koordinasi buruk.

i) Tidak bisa membuat keputusan: tidak bisa menentukan pilihan bahkan untuk hal-hal kecil.

j) Gelisah, resah, tidak bisa diam. k) Kehilangan kepercayaan diri.

l) Kecenderungan untuk melakukan segala sesuatu berulang-ulang.

m) Keraguan dan ketakutan yang mengganggu.

n) Terus-menerus memeriksa segala sesuatu yang telah dilakukan.

2. Indeks Prestasi Kumulatif

Prestasi belajar adalah hasil dari semua kegiatan yang dilakukan mahasiswa, baik dari belajar, pengalaman dan latihan dari suatu kegiatan. Untuk mengetahui hasil dari belajar ini dibuat suatu alat pengukur atau tes prestasi (achievment test). Hasil pengukuran melalui tes hasil belajar dapat dinyatakan dalam bentuk nilai yang bersifat kuantitatif dalam angka 4, 3, 2, 1, 0 atau A, B, C, D, E. Tingkatan nilai tes ini diatur menurut rangking dan diformulasikan dalam bentuk Indeks Prestasi (IP) (Siregar, 2006).

Indeks Prestasi (IP) yaitu Indeks Prestasi yang dihitung pada setiap akhir semester yang digunakan sebagai dasar untuk mengetahui keberhasilan belajar dari semua mata kuliah yang diikuti pada semester yang bersangkutan. Indeks Prestasi Kumulatif yaitu indeks prestasi yang dihitung

(25)

commit to user

pada akhir suatu program pendidikan lengkap atau pada akhir semester kedua dan seterusnya untuk seluruh mata kuliah yang diambilnya, yang dinyatakan dengan rentangan angka 0,00 – 4,00 (Siregar, 2006).

Dalam Peraturan Rektor Universitas Sebelas Maret No. 553/H27/PP/2009, Indeks Prestasi Kumulatif adalah tingkat keberhasilan mahasiswa pada akhir keseluruhan program pembelajaran yang merupakan rata-rata tertimbang dari seluruh mata kuliah/blok yang ditempuh.

3. Pencapaian Cum Laude

a. Definisi Cum Laude

Cum laude merupakan frasa Bahasa Latin yang berarti “dengan kehormatan”, yang secara harfiah berarti “dengan pujian”. Cum laude merupakan salah satu gelar kehormatan Latin yang digunakan oleh universitas di Amerika Serikat untuk menandakan pembedaan level akademis di mana gelar akademis diperoleh.

Biasanya ada tiga jenis penghormatan Latin. Dalam urutan kehormatan yang semakin tinggi yaitu sebagai berikut:

1) cum laude, "dengan kehormatan" (secara harfiah "dengan pujian") 2) magna cum laude, "dengan kehormatan besar" (secara harfiah

"dengan pujian besar")

3) summa cum laude, "dengan kehormatan tertinggi" (secara harfiah "dengan pujian tertinggi")

(26)

commit to user

15

Gelar-gelar kehormatan tersebut diberikan kepada pelajar sarjana dan pascasarjana yang meraih pencapaian akademik yang berbeda. Kehormatan ini biasanya tertulis dalam ijazah. Umumnya perguruan tinggi yang memberikan gelar tersebut mempunyai aturan yang jelas mengenai persyaratan mendapat gelar kehormatan bersangkutan, entah nilai minimum, tesis tertulis, dan persyaratan lainnya.

Penggunaan gelar kehormatan latin ini untuk tingkat sarjana tidak begitu umum di dunia, meski umum dipakai di Indonesia, Filipina, Amerika Serikat dan sejumput negara lain.

Untuk program sarjana di Universitas Sebelas Maret, sesuai dengan Peraturan Rektor Universitas Sebelas Maret No. 553/H27/PP/2009, mahasiswa yang telah menyelesaikan suatu program mendapat predikat kelulusan atas dasar prestasi yang dicapai dengan ketentuan sebagai berikut:

1) IP 2,00 - 2,75 : Lulus dengan Memuaskan

2) IP 2,76 - 3,50 : Lulus dengan Sangat Memuaskan

3) IP 3,51 - 4,00 : Lulus dengan Pujian (Cum laude), dengan masa studi maksimum yaitu n tahun (masa studi minimum) ditambah 1 tahun

(27)

commit to user

b. Faktor yang Mempengaruhi Pencapaian Cum Laude

Kajian tentang latar belakang yang dapat mempengaruhi prestasi belajar telah banyak dilakukan. Beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar antara lain adalah lingkungan, menurut Sihotang (dalam Siregar, 2006). Sedangkan menurut Haryati (dalam Siregar, 2006) adalah motivasi berprestasi dan motivasi profesi.

Lebih lanjut faktor-faktor tersebut dikelompokkan sebagai berikut : 1) Faktor-faktor yang bersumber dari dalam diri-sendiri

Faktor ini merupakan faktor yang sangat besar pengaruhnya terhadap kemajuan prestasi belajar mahasiswa. Seandainya para mahasiswa sadar akan tujuannya dalam belajar di perguruan tinggi dimana mahasiswa belajar, mahasiswa pasti belajar beraktivitas dengan sungguh-sungguh. Mahasiswa didorong untuk belajar aktif untuk menyelesaikan beban studi yang telah direncanakan terlebih dahulu untuk suatu jenjang pendidikan. Beberapa faktor yang mempengaruhi belajar siswa agar lebih berprestasi antara lain adalah minat, kebiasaan belajar, kecakapan dan bahasa (Siregar, 2006).

Widayatun (1999) menyatakan bahwa minat dan motivasi menjadi suatu hal yang penting karena merupakan faktor yang turut

(28)

commit to user

17

mempengaruhi sikap, sehingga ketika minat dan motivasi peserta didik tinggi, maka akan mendorong sikap postif peserta didik.

Sikap menjadi amat penting untuk diketahui karena menurut Attkinson (dalam Widayatun, 1999) sikap mempunyai fungsi instrumental, dimana apabila objek sikap dapat membantu individu mencapai tujuan, maka individu akan bersikap positif yang pada akhirnya akan mempermudah pencapaian prestasi akademik. Salah satu hal yang harus disikapi oleh peserta didik adalah mata kuliah yang harus dipelajari karena nilai yang diraih dalam mata kuliah merupakan salah satu parameter dalam menentukan prestasi akademik.

2) Faktor-faktor yang bersumber dari lingkungan pendidikan

Dari faktor lingkungan pendidikan, dapat dilihat dari segi keberadaan perpustakaan, keberadaan pengajar dalam memberikan kuliah, penyelenggaraan kuliah yang terlalu padat, susah mencari bahan bacaan yang sesuai dengan materi perkuliahan dan pengaruh lingkungan belajar sesama mahasiswa (Siregar, 2006).

3) Faktor-faktor yang bersumber dari lingkungan keluarga

Hal ini dilihat dari aspek kehidupan dalam keluarga, antara lain keadaan ekonomi keluarga, di mana dunia pendidikan membutuhkan banyak biaya, terutama biaya perkuliahan,

(29)

commit to user

pengadaan buku bacaan, perlengkapan laboratorium dan lain-lainnya (Siregar, 2006).

4) Faktor-faktor yang bersumber dari lingkungan masyarakat

Berbagai aspek yang dapat mempengaruhi prestasi belajar mahasiswa antara lain bekerja sambil kuliah, aktif berorganisasi, tidak dapat mengatur waktu, serta tidak mempunyai teman untuk belajar bersama (Siregar, 2006).

4. Hubungan Kecemasan dengan Pencapaian Cum Laude

Nurman dkk, (dalam Siregar, 2006) menyatakan bahwa Indeks Prestasi berguna membantu meramalkan keberhasilan mahasiswa di masa yang akan datang. Nilai yang diperolehnya dapat dipakai sebagai petunjuk untuk menetapkan suatu keputusan tentang diperkenankan atau tidak mahasiswa tersebut melanjutkan pelajaran pada semester atau tingkat yang lebih tinggi. Indeks prestasi juga dapat dimanfaatkan untuk menilai keberhasilan mahasiswa dalam menguasai kompetensi-kompetensi yang menjadi tujuan mata kuliah yang diambilnya. Lebih jauh lagi, prestasi mahasiswa di tingkat perguruan tinggi dapat turut menentukan kesempatan kerja yang lebih baik sekaligus menentukan masa depannya. Terlebih mahasiswa yang lulus dengan predikat cum laude akan memiliki rasa kebanggaan dan percaya diri yang lebih tinggi.

(30)

commit to user

19

Kecemasan dianggap sebagai salah satu faktor penghambat dalam belajar yang dapat mengganggu kinerja fungsi-fungsi kognitif seseorang, seperti dalam berkonsentrasi, mengingat, pembentukan konsep dan pemecahan masalah. Pada tingkat kronis dan akut, gejala kecemasan dapat berbentuk gangguan fisik (somatik), seperti: gangguan pada saluran pencernaan, sering buang air, sakit kepala, gangguan jantung, sesak di dada, gemetaran bahkan pingsan (Hutagalung, 2007).

Walaupun merupakan hal yang normal dialami namun kecemasan tidak boleh dibiarkan karena lama-kelamaan dapat menjadi neurosa cemas melalui mekanisme yang diawali dengan kecemasan akut, yang berkembang menjadi kecemasan menahun akibat represi dan konflik yang tak disadari. Adanya stres pencetus dapat menyebabkan penurunan daya tahan dan mekanisme untuk mengatasinya sehingga mengakibatkan neurosa cemas (Maramis, 2005).

(31)

commit to user B. Kerangka Pemikiran

: Variabel yang Diteliti

: Variabel yang Tidak Diteliti Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran

IPK

Faktor berprestasi : 1. Tujuan kuliah

2. Fasilitas pengajaran 3. Kebanggaan yang tinggi

bila lulus dengan predikat cum laude

4. Keinginan untuk

membahagiakan orang tua dan orang terdekat

Mahasiswa dengan masa studi 2 semester terakhir

Faktor sosial: a. Rasa bersaing tinggi b. Tuntutan orang tua c. Waktu yang tinggal

sedikit untuk mempertahankan atau mengejar IPK di atas 3,50 Predikat biasa: IPK < 3,50 1) Faktor biologis 2) Keadaan ekonomi 3) Kepribadian

4) Pola asuh orang tua

Perbedaan kecemasan

Predikat cum laude: IPK > 3,50

(32)

commit to user

21

C. Hipotesis

Terdapat perbedaan tingkat kecemasan antara mahasiswa 2 semester terakhir dengan IPK di bawah 3,50 dan di atas 3,50 untuk mencapai cum laude.

(33)

commit to user 22 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini adalah observasional analitik dengan pendekatan cross sectional, yaitu peneliti mempelajari hubungan antara variabel bebas (faktor risiko) dan variabel tergantung (efek) yang diobservasi hanya sekali pada saat yang sama (Taufiqurohman, 2004).

B. Lokasi Penelitian

Penelitian dilakukan di Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta.

C. Subjek Penelitian

Subjek yang diteliti adalah mahasiswa Pendidikan Dokter dan Psikologi FK UNS yang masa studinya tersisa 2 semester lagi, yaitu angkatan 2009. Sampel yang digunakan adalah mahasiswa yang pada semester 5 memiliki IPK di atas 3,50 dan di bawah 3,50 yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi sebagai berikut.

1. Kriteria Inklusi

(34)

commit to user

23

b. Bersedia menjadi responden

c. Skor kuesioner Lie Minnesota Multiphasic Personality Inventory (L-MMPI) jawaban “tidak” kurang dari atau sama dengan 10

2. Kriteria Ekslusi

a. Menderita penyakit kronis dan kecacatan

b. Sedang mengalami kematian salah satu anggota keluarga (ayah, ibu atau saudara kandung) dalam waktu 6 bulan terakhir

c. Pernah absen atau skorsing atau cuti kuliah

D. Teknik Sampling

Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling. Purposive karena sampel dipilih berdasarkan pertimbangan/ karakteristik tertentu (Sugiyono, 2005).

Besar sampel menurut patokan umum (rule of thumb), setiap penelitian yang datanya akan dianalisis secara statistik dengan analisis bivariat membutuhkan sampel minimal 30 subjek penelitian (Murti, 2006)

(35)

commit to user E. Rancangan Penelitian

Gambar 3.1 Skema Rancangan Penelitian Uji-t independen

Kuesioner T-MAS IPK > 3,50

Restriksi berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi

Isian data pribadi +

Kuesioner L-MMPI

IPK < 3,50

Kuesioner T-MAS Mahasiswa

Pendidikan Dokter dan Psikologi

(36)

commit to user

25

F. Identifikasi Variabel

1. Variabel bebas : Mahasiswa dengan IPK di atas 3,50 dan IPK di bawah 3,50 ketika semester 5

2. Variabel terikat : Tingkat kecemasan 3. Variabel luar :

Keadaan lain yang dapat menyebabkan kecemasan: a. Dapat dikendalikan : usia, jenis kelamin

b. Tidak dapat dikendalikan : kepribadian, pola asuh orang tua, stresor pribadi

G. Definisi Operasional Variabel 1. Variabel Bebas

IPK adalah prestasi belajar yang ditunjukkan dengan prestasi kumulatif mahasiswa, dapat dilihat dalam transkrip nilai yang diberikan kepada mahasiswa yang telah divalidasi oleh Bagian Kemahasiswaan Fakultas Kedokteran UNS. Dengan ketentuan dalam penelitian ini adalah IPK mahasiswa yang pada semester 5 di atas 3,50 dan di bawah 3,50.

Skala : Nominal 2. Variabel Terikat

Kecemasan adalah sesuatu yang menimpa hampir setiap orang pada waktu tertentu dalam kehidupannya. Kecemasan merupakan suatu reaksi normal terhadap situasi yang sangat menekan kehidupan seseorang, dan

(37)

commit to user

karena itu berlangsung tidak lama. Kecemasan bisa muncul sendiri atau bergabung gejala-gejala lain dari berbagai gangguan emosi (Savitri, 2003).

Kecemasan dalam penelitian ini adalah keadaan pada subjek penelitian yang diukur dengan Taylor Manifest Anxiety Scale (T-MAS).

Skala : Numerik

H. Instrumen Penelitian 1. Persetujuan penelitian. 2. Isian data pribadi

3. Lie Minessota Multiphasic Personality Inventory (L-MMPI), yaitu pertanyaan yang digunakan untuk skala kebohongan responden, terdiri dari 15 butir pertanyaan yang harus dijawab “ya” atau “tidak”. Informasi yang diberikan responden dinilai tidak dapat dipercaya apabila jumlah jawaban “tidak” melebihi 10.

4. Taylor Manifest Anxiety Scale (T-MAS), yaitu daftar pertanyaan untuk menilai kecemasan subjek yang berisi 50 pertanyaan, dengan dua pilihan “ya” dan “tidak”. Responden menjawab sesuai keadaan dirinya dengan memberi tanda (V) pada kolom jawaban “ya” atau “tidak”. Pada pertanyaan favorable jika diisi jawaban ”ya” maka diberi nilai 1, sedangkan pada pertanyaan unfavorable jika diisi jawaban ”tidak” maka diberi nilai 1. Responden dinyatakan cemas jika nilai total skor ≥ rata-rata dan tidak cemas jika nilai total skor < rata-rata.

(38)

commit to user

27

I. Cara Kerja

1. Tiap responden diberi isian data pribadi dan kuesioner L-MMPI secara bersamaan. Setiap data diminta untuk diisi secara lengkap sesuai petunjuk. 2. Responden diikutsertakan setelah direstriksi menggunakan kriteria inklusi

dan eksklusi.

3. Mengelompokkan responden ke dalam kelompok mahasiswa dengan IPK di atas 3,50 dan kelompok mahasiswa dengan IPK di bawah 3,50.

4. Kemudian tiap responden diberikan kuesioner T-MAS untuk mengukur angka kecemasan responden.

5. Menghitung skor dari kuesioner T-MAS untuk mengetahui angka kecemasan.

6. Menganalisis hasil penelitian dengan uji-t independen.

J. Teknik Analisis Data

Analisis data menggunakan uji-t independen. Uji ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan mean dua kelompok data independen dengan syarat variabel yang dihubungkan berskala numerik dan kategorik, data terdistribusi secara normal, tidak berpasangan, dan variansi kedua kelompok dapat sama atau berbeda (untuk 2 kelompok) (Dahlan, 2011). Setelah itu data akan diolah dengan bantuan perangkat lunak Statistical Product and Service Solution (SPSS) 17 for Windows.

(39)

commit to user 28 BAB IV

HASIL PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli 2012 pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran UNS Prodi Pendidikan Dokter dan Psikologi angkatan 2009. Sebelumnya dilakukan pendataan awal pada populasi sampel untuk mengetahui keinginan dari mahasiswa untuk lulus dengan gelar cum laude. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan isian data pribadi dan kuesioner LMMPI kepada 100 mahasiswa. Dari hasil pendataan tersebut didapatkan hasil bahwa 74 sampel menjawab ingin lulus dengan gelar cum laude, 7 sampel tidak ingin lulus dengan gelar cum laude, dan 19 sampel tidak mengembalikan kuesioner.

74 7 19 Ya Tidak Tidak menjawab

Gambar 4.1 Diagram Perbandingan Jumlah Mahasiswa 2 Semester Terakhir yang Menginginkan Lulus dengan Gelar Cum Laude

(40)

commit to user

29

Dari 74 sampel yang ingin lulus dengan gelar cum laude, 8 di antaranya tidak lolos skor LMMPI, yaitu jawaban tidak melebihi 10 sehingga isian kuesioner dianggap tidak valid. Oleh karena itu, penelitian dilakukan pada 66 sampel yang menjawab ingin lulus dengan cum laude dan lolos skor LMMPI, sesuai dengan kritera inklusi peneliti. Setelah itu, 66 sampel diberikan kuesioner TMAS.

Pada penelitian ini total sampel mahasiswa dengan IPK di atas dan di bawah 3,50 adalah sebanyak 66 mahasiswa. Dimana jumlah mahasiswa dengan IPK di atas 3,50 berjumlah 17 orang (25,76%) dan mahasiswa dengan IPK di bawah 3,50 berjumlah 49 orang (74,24%). Data ini ditunjukkan dalam Tabel 4.2. Jumlah sampel ini telah memenuhi kriteria minimal sampel atau rule of thumb.

Berikut distribusi sampel berdasarkan hasil isian data pribadi 66 sampel yang sudah direstriksi oleh kriteria inklusi maupun eksklusi.

Tabel 4.1 Distribusi Sampel Berdasarkan Jenis Kelamin

Jenis Kelamin Jumlah Persentase

Perempuan 48 72,73 %

Laki-laki 18 27,27 %

Jumlah 66 100,0 %

(41)

commit to user

Tabel 4.2 Distribusi Hasil IPK Sementara pada Semester 5

IPK Jumlah Persentase

Di Atas 3,50 (>3,50) 17 25,76 %

Di Bawah 3,50 (< 3,50) 49 74,24 %

Jumlah 66 100,0 %

Sumber : Data primer, 2012

Data penelitian yang telah diperoleh kemudian dianalisis dengan uji-t independen yang merupakan uji parametrik dengan program SPSS 17.00 for Windows. Uji ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan mean dua kelompok data independen dengan syarat data berskala numerik, terdistribusi secara normal, dan variansi kedua kelompok dapat sama atau berbeda (untuk 2 kelompok). Untuk mengetahui bahwa data terdistribusi normal atau tidak, maka dilakukan uji normalitas. Suatu data dikatakan mempunyai sebaran normal jika didapatkan nilai p > 0,05 pada masing-masing kelompok tersebut. Uji normalitas yang dilakukan pada masing-masing-masing-masing sebaran data dapat dilakukan dengan cara deskriptif ataupun analitik. Cara analitik memiliki tingkat objektivitas dan sensitivitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan deskriptif sehingga dalam penelitian ini dilakukan dengan uji Kolmogorov-Smirnov (Dahlan, 2011).

Tabel 4.3 menunjukkan sebaran data yang diuji normalitas datanya dengan menggunakan Kolmogorov-Smirnov Test, dengan ketentuan bila signifikan hitung > 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa data tersebut terdistribusi secara normal, demikian sebaliknya bila nilai signifikan hitung < 0,05 maka data tidak terdistribusi

(42)

commit to user

31

secara normal. Bila data tidak terdistribusi secara normal, data harus dinormalkan terlebih dahulu melalui proses transformasi. Apabila setelah ditransformasi sebaran data tetap tidak normal, maka penelitian ini tidak dapat menggunakan uji parametrik, uji-t independen, melainkan menggunakan uji alternatifnya yaitu uji non-parametrik Mann-Whitney (Dahlan, 2011).

Data pada Tabel 4.3 menunjukan bahwa nilai p = 0,200 untuk IPK di atas 3,50 dan p = 0,168 untuk IPK di bawah 3,50. Keduanya memiliki nilai p > 0,05, yang berarti data tersebut terdistribusi normal sehingga bisa dilakukan uji-t independen.

Tabel 4.3 Uji Normalitas Data dengan Kolmogorov-Smirnov Test

Sumber : Data primer, 2012

Hasil uji homogenitas dengan Levene’s Test dengan ketentuan bila signifikan hitung > 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa data tersebut diasumsikan homogen, demikian sebaliknya bila signifikan < 0,05 data diasumsikan tidak homogen atau mempunyai perbedaan varians.

Berdasarkan uji tersebut, pada Tabel 4.4 dapat diketahui bahwa F = 2,63 (p = 0,110). Karena p > 0,05 maka dapat dikatakan bahwa tidak terdapat perbedaan varians skor kecemasan antara sampel dengan IPK > 3,50 dan IPK < 3,50.

Data P Keterangan IPK >3,50 IPK < 3,50 0,200 0,168 Distribusi normal Distribusi normal

(43)

commit to user

Tabel 4.4 Hasil Uji Homogenitas Levene’s Test untuk Mengetahui Varians 2 Kelompok Data F P Keterangan IPK > 3,50 dan IPK < 3,50 2,63 0,110 Data homogen

Sumber: Data primer 2012

Gambar 4.2 Boxplot Skor Kecemasan antara Kelompok Mahasiswa dengan IPK > 3,50 dan Mahasiswa dengan IPK < 3,50

(44)

commit to user

33

Gambar 4.2 menunjukkan bahwa terdapat perbedaan rerata skor kecemasan antara sampel dengan IPK > 3,50 dan IPK < 3,50. Untuk mengetahui apakah perbedaannya bermakna secara statistik atau tidak, diuji dengan uji t-independen.

Tabel 4.5 Hasil Uji-t Independen tentang Beda Mean Skor Kecemasan antara Kelompok Mahasiswa dengan IPK > 3,50 dan IPK < 3,50

Data Mean SD T P

IPK > 3,50 18,65 4,77

1,59 0,118 IPK < 3,50 21,51 6,87

Sumber: Data primer 2012

Tabel 4.5 menunjukkan hasil uji-t independen memilliki nilai p = 0,118. Karena p > 0,05, maka perbedaan yang ada tidak bermakna secara statistik. Jadi dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan antara rerata nilai kecemasan pada mahasiswa dengan IPK > 3,50 dan IPK < 3,50 untuk mencapai cum laude. Tingkat kecemasan mahasiswa dengan IPK > 3,50 rata-rata lebih rendah daripada mahasiswa dengan IPK < 3,50, namun perbedaan tersebut secara statistik tidak signifikan. Dengan kata lain temuan yang menunjukkan terdapat perbedaan tingkat kecemasan antara kedua kelompok mahasiswa berdasarkan nilai IPK tersebut tidak konsisten.

(45)

commit to user 34 BAB V

PEMBAHASAN

Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli 2012 pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran UNS Prodi Pendidikan Dokter dan Psikologi angkatan 2009. Sampel yang digunakan adalah sebanyak 100 mahasiswa. Kemudian setelah direstriksi berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi didapatkan sampel sejumlah 66 mahasiswa. Analisis hasil data menggunakan uji-t independen, yang sebelumnya data sudah diuji normalitas dan homogenitasnya dengan menggunakan Uji Kolmogorov-Smirnov dan Uji Levene’s.

Sesuai dengan analisis penghitungan statistik pada Bab IV, penghitungan menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan tingkat kecemasan yang signifikan secara statistik antara mahasiswa 2 semester terakhir dengan IPK di bawah 3,50 dan di atas 3,50 untuk mencapai cum laude. Hal ini tidak sesuai dengan hipotesis yang menyebutkan bahwa terdapat perbedaan tingkat kecemasan antara mahasiswa 2 semester terakhir dengan IPK di bawah 3,50 dan di atas 3,50 untuk mencapai cum laude.

Menurut Sihotang (dalam Siregar, 2006) beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar antara lain adalah lingkungan, sedangkan menurut Gading (1990) tinggi rendahnya indeks prestasi sebagai perwujudan hasil proses belajar, dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti: 1) faktor lingkungan (keluarga, kampus, tempat tinggal,

(46)

commit to user

35

dan sosial); 2) keadaan jasmani dan kesehatan; 3) masalah-masalah pribadi; 4) masalah seks dan perkawinan; 5) masalah moral, sopan santun dan agama; 6) faktor psikologis (minat, kemampuan, motivasi dan kepribadian). Semua faktor-faktor tersebut yang menentukan besarnya prestasi akademik mahasiswa.

Prestasi belajar mahasiswa merupakan cerminan kualitas intelektual yang dimiliki oleh mahasiswa bahkan dipandang sebagai ukuran kualitas pribadi mahasiswa tersebut, juga mencerminkan ketekunan, kemampuan menghadapi tantangan dan kemampuan menyesuaikan diri (Gading, 1990).

Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Purwati (2008) yang menyatakan bahwa tidak terdapat perbedaan proporsi antara kejadian tingkat stres akademik terhadap indeks prestasi. Nilai cum laude diperoleh melalui usaha dan adaptasi. Untuk mendapatkan nilai tersebut mahasiswa perlu melakukan usaha dan adaptasi dengan memenuhi tanggung jawab yang diterima berupa penyelesaian tugas-tugas, mengikuti kegiatan perkuliahan dengan baik, dan tuntutan lainnya dari institusi pendidikan. Oleh karena itu, mahasiswa dapat memperoleh reward berupa nilai dalam kategori cum laude. Karena adanya beban tersebut maka mahasiswa dituntut harus mampu mengembangkan mekanisme pertahanan dan adaptasi terhadap stresor yang memicu terjadinya stres yang berasal dari kehidupan akademik (Smeltzer & Bare, 2008). Mahasiswa Fakultas Kedokteran pada umumnya memiliki mekanisme pertahanan dan respon adaptif yang lebih besar karena sudah terbiasa menerima beberapa tugas yang banyak dan sulit serta tanggung jawab lainnya. Selain itu, Budiharto (1998) juga mengemukakan bahwa mahasiswa termasuk individu dengan

(47)

commit to user

tingkat pendidikan tinggi sehingga mudah menyerap informasi. Hal ini semakin memperkuat alasan bahwa mahasiswa akan semakin mudah beradaptasi dengan stresor yang didapat dikarenakan penyerapan informasi yang diberikan tidaklah sulit.

Penelitian ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Marhaeni (2008) yang menyebutkan bahwa terdapat perbedaan kecemasan antara mahasiswa dengan hasil belajar tinggi dengan hasil belajar rendah. Mahasiswa dengan hasil belajar tinggi ditemukan memiliki kecemasan yang lebih rendah secara signifikan daripada mahasiswa dengan hasil belajar rendah. Hal ini disebabkan karena kecemasan pada mahasiswa dengan hasil belajar tinggi justru memacu untuk melakukan tugas dengan secepat-cepatnya dan sebaik-baiknya. Sebaliknya pada mahasiswa dengan hasil belajar rendah cenderung putus asa dan merasa tidak berdaya. Tingkat kecemasan yang relatif rendah hingga sedang akan berdampak konstruktif, sedangkan tingkat kecemasan tinggi akan berdampak destruktif dan non-adaptif (Elliot, 2000).

Selain itu, setiap responden memiliki reaksi yang berbeda terhadap masalah yang sedang dihadapinya. Tidak semua orang yang mengalami stresor psikososial akan menderita gangguan cemas, hal ini tergantung pada struktur kepribadiannya. Orang dengan kepribadian pencemas lebih rentan untuk menderita gangguan cemas. Atau dengan kata lain orang dengan kepribadian pencemas risiko untuk menderita gangguan cemas lebih besar daripada orang yang tidak berkepribadian pencemas (Maramis, 2005).

Kecemasan merupakan dampak dari adanya stresor pskologik, namun tidak semua orang yang mengalami stres akan mengalami kecemasan yang sama. Daya

(48)

commit to user

37

tahan terhadap stres setiap orang berbeda-beda. Hal ini bergantung pada keadaan somatopsikososial orang itu (Maramis, 2005).

Penelitian ini memiliki kelemahan yang dapat mempengaruhi hasil penelitian, di antaranya :

1. Kurang cermatnya pengukuran variabel terikat yang pengukurannya dilakukan dengan instrumen TMAS, karena metode yang digunakan adalah kuesioner di mana tingkat subjektivitasnya sangat tinggi. Jadi kemungkinan salah tafsir dalam mengartikan sebuah pertanyaan lebih besar.

2. Penilitian ini hanya menentukan apakah ada perbedaan kecemasan pada mahasiswa dengan IPK di atas 3,50 dan di bawah 3,50 untuk mencapai cum laude. Sehingga tidak dapat menentukan seberapa besar pengaruh IPK terhadap kecemasan, secara khusus dimanakah pengaruh IPK terhadap kecemasan, bagaimana cara kerja pengaruh IPK terhadap kecemasan dan pengaruh pencapaian cum laude itu sendiri terhadap kecemasan.

3. Jumlah sampel yang digunakan masih terlalu sedikit, terutama untuk sampel mahasiswa dengan IPK di atas 3,50. Hal ini dikarenakan terbatasnya jumlah mahasiswa yang ketika semester 5 memperoleh IPK di atas 3,50.

4. Tidak ditelitinya faktor-faktor lain yang juga mempengaruhi kecemasan dalam prestasi belajar, seperti jenis kelamin, kepribadian, masalah pribadi, lingkungan keluarga, tuntutan dari orangtua, lingkungan pendidikan, dan lingkungan masyarakat dikarenakan oleh keterbatasan peneliti.

(49)

commit to user

38 BAB VI

PENUTUP

A. Simpulan

Terdapat perbedaan tingkat kecemasan antara mahasiswa 2 semester terakhir dengan IPK di atas 3,50 dan di bawah 3,50 untuk mencapai cum laude, yaitu rata-rata skor kecemasan mahasiswa dengan IPK di atas 3,50 lebih rendah daripada mahasiswa dengan IPK di bawah 3,50, namun perbedaan tersebut secara statistik tidak signifikan.

B. Saran

1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai perbedaan tingkat kecemasan antara mahasiswa 2 semester terakhir dengan IPK di bawah 3,50 dan di atas 3,50 untuk mencapai cum laude dengan penyempurnaan yang memperhitungkan variabel-variabel lain (jenis kelamin, kepribadian, masalah pribadi, lingkungan keluarga, tuntutan dari orangtua, lingkungan pendidikan, lingkungan masyarakat) sehingga hasil yang diperoleh tidak bias.

2. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan jumlah responden yang lebih banyak agar hasil penelitian bisa digeneralisasikan ke tingkat populasi yang lebih luas.

Gambar

Tabel 4.1 Distribusi Sampel Berdasarkan Jenis Kelamin………………………29  Tabel 4.2 Distribusi Hasil IPK Sementara pada Semester 5………………........29  Tabel 4.3 Uji Normalitas Data dengan Kolmogorov-Smirnov Test.....................31  Tabel 4.4 Hasil Uji Homogenitas
Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran……………………………………………….20  Gambar 3.1 Skema Rancangan Penelitian……………………………………....24  Gambar 4.1 Diagram Perbandingan Jumlah Mahasiswa 2 Semester Terakhir
Gambar 3.1 Skema Rancangan Penelitian Uji-t independen
Gambar  4.1  Diagram  Perbandingan  Jumlah  Mahasiswa  2  Semester  Terakhir  yang  Menginginkan Lulus dengan Gelar Cum Laude
+6

Referensi

Dokumen terkait