JURNAL BERAJA NITI ISSN : 2337-4608 Volume 3 Nomor 3 (2014)
http://e-journal.fhunmul.ac.id/index.php/beraja © Copyright 2014
TINJAUAN YURIDIS TERHADAP KEPEMILIKAN DAN
PENJUALAN SATWA LANGKA TANPA IZIN DI INDONESIA
Muhammad Iqbal1
Mahendra Putra Kurnia2
Erna Susanti3
Abstrak
Bangsa Indonesia memiliki keanekaragaman alam di dalamnya, diantaranya mempunyai berbagai macam satwa, Satwa-satwa tersebar ke seluruh pulau-pulau yang ada di habitat wilayah Indonesia adalah ciri suatu pulau yang didiami satwa tersebut, karena ekosistem di dalamnya mendukung akan perkembangbiakan satwa tersebut di Indonesia sendiri, satwa-satwa tersebut sudah sangat langka untuk ditemui di habitat aslinya. Satwa langka yang telah sulit di temui di habitatnya kerena populasinya hampir punah, membuat Pemerintah menerbitkan peraturan perundang-undangan untuk perlindungan satwa langka dari kepunahan. Untuk pengaturan pelaksanaan mengenai satwa langka terdapat pada Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 1994 tentang Perburuan Satwa Buru, Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1994 tentang Pengusahaan Pariwisata Alam di Zona Pemanfaatan Taman Nasional, Taman Wisata Alam dan di Taman Hutan Raya; Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 1998 tentang Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam, Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1999 tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa.
Berdasarkan penelitian, penulis menyarankan untuk lebih meningkatkan kesadaran bagi masyarakat akan ekosistem sumber daya alam hayati, lebih menjaga populasi satwa-satwa langka di karenakan habitatnya yang hampir punah, memerhatikan izin kepemilikan satwa dan mengaplikasikan peraturan Perundang-undangan tepatnya Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Alam Hayati dan Ekosistemnya.
Kata Kunci: Satwa Langka, Kepemilikan, Penjualan
1
Mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Mulawarman
2
Dosen Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Mulawarman
3
JUDICIAL REVIEW OWNERSHIP AND SALE OF RARE ANIMALS
WITHOUT PERMISSION IN INDONESIA
Muhammad Iqbal4
Mahendra Putra Kurnia5
Erna Susanti6
Abstract
The Indonesian people have a diversity of nature in them, of which have a variety of animals, The animals scattered throughout the islands that exist in the habitat area of Indonesia is the hallmark of an island inhabited by these animals, because the ecosystem in which support will be breeding these animals in Indonesia alone , these animals have been very rare to be found in their natural habitat. Endangered species that has been difficult because they encounter in their habitat endangered population, making the Government published legislation for the protection of endangered species from extinction.
The problem here is is all about criminal responsibility and efforts that can be done to prevent the possession and sale of endangered species without permission in Indonesia in terms of Law No. 5 of 1990 on Conservation of Natural Resources and Ecosystems, for the implementation of the arrangements endangered species found on the Government Regulation Number 13 Year 1994 on Hunting animals Hunting, Government Regulation No. 18 Year 1994 concerning Natural Resources Tourism Use Zone of National Parks, Wildlife and Nature in the Forest Park; Government Regulation No. 68 Year 1998 on Nature Reserve Area and Conservation Areas, Government Regulation No. 7 of 1999 on the preservation of Flora and Fauna, Government Regulation No. 8 of 1999 on the Use of Plants and Animals.
This research uses normative research to include research approach is the approach of Laws and legislation. The data collected will then be analyzed in the form of a sentence descriptions regular, systematic and logical. Based on research, the authors suggest to further raise awareness for the community ecosystem of natural resources, preserving more of the population in the endangered animals endangered because of habitat, wildlife ownership and permission notice applies rules precisely Legislation Act No. 5 of 1990 on the Conservation of Natural Resources and Ecosystems.
Keywords: Rare Animals, Possession, Sale
4
Mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Mulawarman
5
Dosen Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Mulawarman
6
Pendahuluan
Bangsa Indonesia memiliki keanekaragaman kekayaan alam di dalamnya, di antaranya mempunyai berbagai macam satwa. Satwa-satwa tersebut tersebar ke seluruh pulau-pulau yang ada di Indonesia. Satwa yang ada di habitat wilayah Indonesia adalah ciri suatu pulau yang didiami satwa tersebut, karena ekosistem di dalamnya mendukung akan perkembangbiakan satwa tersebut di Indonesia sendiri satwa-satwa tersebut sudah sangat langka untuk ditemui di habitat aslinya. Satwa-satwa langka tersebut diantaranya yang sudah jarang ditemui di tempat aslinya, seperti harimau Sumatera, badak bercula satu, anoa, burung cendrawasih, gajah Sumatera, harimau Jawa, dan masih banyak lagi satwa-satwa yang hidup di daratan, perairan, dan di udara yang terancam punah.
Peraturan-peraturan lainnya yang berhubungan dengan satwa selain Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, antara lain Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 1994 tentang Perburuan Satwa Buru, Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1994 tentang Pengusahaan Pariwisata Alam di Zona Pemanfaatan Taman Nasional, Taman Wisata Alam dan di Taman Hutan Raya, Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 1998 tentang Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam, Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa juga Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1999 tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Perilaku masyarakat yang dapat mengancam kepunahan dari satwa langka yang mana ambisi manusia ingin memiliki tetapi tidak memperdulikan populasinya dihabitat asalnya. Kepunahan
satwa langka ini dapat dicegah dengan ditetapkan perlindungan hukum terhadap satwa langka yang dilindungi. Pencegahan ini bertujuan agar satwa-satwa langka yang hampir punah, hanya menjadi cerita bagi anak cucu yang nantinya karena keserakahan manusia dalam mengambil keuntungan dari yang diperolehnya. Kepunahan satwa langka ini bisa tidak terjadi apabila semua pihak menjaga kelestarian alam, yang mana didalam terdapat populasi satwa serta ekosistem yang berada di dalamnya, serta mencegah kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh alam atau perbuatan manusia sendiri. Satwa langka yang mengalami kepunahan sebaiknya tidak boleh dimiliki, ditangkap, diburu serta diperjualbelikan, hal ini untuk menjaga kelestarian satwa tersebut dari kepunahan yang disebabkan oleh manusia atau alam disekitarnya.
Contoh kasus yang baru-baru ini terjadi dimana Badan Reserse Kriminal Mabes Polri melakukan penangkapan terhadap pelaku kasus penjualan satwa yang dilindungi. Pelaku penjualan satwa langka tersebut ditangkap pada hari Rabu tanggal 18 September 2013 di Pasar Burung, Muntilan, Magelang. Pelaku melakukan transaksi jual beli satwa langka yang dilindungi tanpa izin terhadap masyarakat secara bebas dimana diantaranya yang diperjual belikan adalah Elang Brontok, Alap-alap Sapi (sejenis elang), Burung Bubu Sumantranis, Kucing Hutan, Anak Kijang, Landak Raya, Triggiling, Bajing Terbang, Musang Pandan, Anak Elang dan Anak Buaya Muara.
Pembahasan
A. Pertanggungjawaban Pidana Terhadap Kepemilikan dan Penjualan Satwa Langka Tanpa Izin di Indonesia
1. Kepemilikan
Kepemilikan satwa langka di Indonesia telah banyak dilakukan oleh orang-orang yang memiliki hobi atau keinginan tersendiri untuk mempunyai / mengoleksi satwa langka, berkenaan dengan hal tersebut, orang yang ingin memilik satwa langka yang dilindungi diwajibkan memiliki izin untuk dapat menyalurkan keinginannya dalam memiliki satwa langka yang diinginkan. Izin yang dimaksud adalah berdasarkan pasal 30 ayat 2 Kepmenhut No. 477/Kpts-II/2003 Tahun 2003 tentang Tata Usaha Pengambilan atau Penagkapan dan Peredaran Tumbuhan dan Satwa Liar dengan tata cara dan prosedur sebagai berikut :7
a) Hanya dapat dilakukan untuk tujuan pengkajian, penelitian dan pengembangan dan pengembangbiakan;
b) Permohonan diajukan oleh pemohon kepada Menteri Kehutanan, yang memuat diantaranya informasi mengenai jenis, jumlah, jenis kelamin, umur atau ukuran dan wilayah pengambilan serta dilengkapi dengan rencana kerja atau proposal dengan tembusan kepada Dirjen dan otoritas keilmuan;
c) Dalam hal permohonan tidak dilengkapi dengan rekomendasi dari otoritas keilmuan, maka Dirjen meminta rekomendasi dari otoritas
7 Mhariyanto, izin pengambilan/penangkapan satwa langka, di unduh dari :
http://blogmhariyanto.blogspot.com/2010/01/izin-pengambilanpenangkapan-tumbuhan.html?m=1 yang di akses pada hari Rabu, tanggal 5 februari 2014, pukul 23.00 WITA
keilmuan bahwa pengambilan atau penangkapan yang dimohonkan tidak akan merusak populasi dihabitat alam;
d) Berdasarkan permohonan dan penilaian kelengkapan sebagaimana dimaksud dalam huruf b dan huruf c, menteri dapat menyetujui atau menolak menerbitkan izin berdasarkan saran dari direktur jenderal dan rekomendasi dari otoritas keilmuan bahwa pengambilan atau penangkapan yang dimohonkan tidak akan merusak populasi di habitat alam.
Syarat-syarat dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) untuk mendapatkan izin kepimilikan satwa langka yang di lindungi sebagai berikut :8
1. Proposal Izin penangkaran
2. Foto copy KTP untuk individu/perseorangan dan akta notaris badan usaha
3. Surat keterangan Bebas Gangguan Usaha dari kecamatan setempat
4. Bukti tertulis asal usul indukan 5. BAP persiapan tekhnis
6. Dan Surat Rekomendasi dari kepala BKSDA setempat.
8
Regi, mengurus surat izin hewan langka, diunduh dari: http://ngurus.my.id/mengurus-surat-izin-hewan-langkah/ yang diakses hari Rabu, tanggal 5 februari 2014, pukul 23.00 WITA
Jika seseorang dalam menginginkan untuk memiliki satwa langka yang dilindungi oleh Pemerintah tanpa didasari dengan kepemilikan izin sesuai dengan syarat dan prosedur yang di sebutkan diatas maka hal tersebut merupakan suatu tindak pidana.
2. Penjualan
Penjualan satwa langka menyebabkan menurunnya tingkat keanekaragaman hayati di dunia. Penjualan satwa langka tanpa izin ini juga memegang posisi yang signifikan terhadap keberadaan sebuah spesies. Pada tahun 2008 mencatat pertambahan signifikan pada jumlah hewan di Indonesia yang alamnya kaya akan keanekaragaman hayati menjadi salah satu Negara yang menjadi sasaran bagi perdagangan liar dan penyelundupan spesies spesies yang dilindungi yang banyak terdapat di Indonesia. Selain penyelundupan seringkali penjualan atas spesies-spesies ini dilakukan secara terangterangan di toko-toko penjual hewan peliharaan. Hutan di Indonesia yang semakin berkurang setiap tahunnya, dikombinasikan menyebabkan spesies yang memiliki habitat di dalam hutan semakin terdesak. Spesies yang semakin terdesak tersebut menjadi sasaran empuk bagi para pemburu yang menangkap dan menjual spesies-spesies tersebut di pasar illegal. Pada dasarnya segala kegiatan yang dilakukan oleh manusia yang membawa pengaruh terhadap lingkungan tidak selalu dapat diprediksi. Akibatnya, segala tindakan manusia sebaiknya tidak dilakukan jika tindakan tersebut tidak atau belum diketahui resikonya. Prinsip ini mengharuskan adanya
pertimbangan sebelum sebuah tindakan dilakukan dan membuktikan bahwa tindakan tersbut tidak akan mengakibatkan kerusakan pada lingkungan. Pemanfaatan spesies bagi kehidupan manusia sebenarnya bukanlah hal yang terlarang, namun perlu diperhatikan bahwa kegiatan pemanfaatan spesies harus dengan menjamin keberadaannya untuk saat ini dan dimasa yang akan datang negara bertanggung jawab untuk memberikan hukuman dan denda terhadap pelaku perdagangan liar, serta penyitaan terhadap spesies yang diperdagangakan ataupun Produk-produknya. Negara juga memiliki tanggung jawab terhadap segala spesies yang disita akibat dari perdagangan ilegal dimana tanggung jawab tersebut dibebankan kepada Otoritas Manajemen yang kemudian dapat diserahkan kepada pihak-pihak yang lebih ahli dalam masalah penanganan spesies tersebut. Setiap negara harus mengetahui perdagangan atas kehidupan liar yang terjadi di negaranya secara detail.
B. Upaya Yang Dapat diLakukan Untuk Mencegah Terjadinya Kepemilikan Dan Penjualan Satwa Langka Tanpa Izin di Indonesia
1. Upaya Preventif
Berdasarkan pasal 27 ayat (4) Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 1999 tentang Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa menyebutkan :
Tindakan preventif meliputi: a. Penyuluhan ;
c. Penerbitan buku-buku manual identifikasi jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi dan yang tidak dilindungi.
Upaya Preventif yang dimaksud disini adalah upaya yang dilakukan oleh aparat-aparat penegak hukum khususnya di Balai Konservasi Sumber Daya Alam dalam penegakan atas penyimpangan yang terjadi pada satwa yang dilindungi oleh Pemerintah. Penyimpangan-penyimpangan yang terjadi seperti, kepemilikan satwa yang di lindungi tanpa izin, perburuan satwa yang dilindungi, penjualan satwa yang di lindungi secara ilegal dan pemanfaatan bagian-bagian tubuh satwa-satwa yang di lindungi untuk di jadikan obat atau hiasan.
Berdasarkan pasal 27 ayat (4) Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 1999 tentang Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa telah disebutkan tentang upaya preventif oleh aparat-aparat penegak hukum khususnya di balai konservasi sumber daya alam yakni yang pertama penyuluhan tentang larangan memelihara, memiliki, dan memperjual belikan satwa yang di lindungi tanpa izin, kedua pelatihan penegakan hukum bagi aparat-aparat penegak hukum di balai konservasi sumber daya alam dan yang ketiga penerbitan buku-buku manual identifikasi jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi dan yang tidak dilindungi. Salah satu usaha dalam melindungi satwa dari ancaman bahaya kepunahan adalah menetapkan jenis-jenis satwa yang dilindungi berdasarkan Undang-undang Nomor 5 Tahun
1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Pengertian satwa langka tidak ada dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tetapi dapat dikategorikan dalam satwa liar yang dilindungi . Pasal 1 angka 7 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 : “Satwa liar adalah semua binatang yang hidup di darat,di air, dan di udara yang masih mempunyai sifat-sifat liar, baik yang hidup bebas maupun yang dipelihara oleh manusia.”
Jadi pengertian dari satwa langka yaitu : “Semua jenis sumber daya alam hewani baik yang hidup di darat, di air, dan di udara yang mana sudah jarang ditemui di habitat aslinya dan terancam punah.” Perlindungan terhadap satwa umumnya ditujukan terhadap satwa yang cenderung punah. Kecenderungan itu dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
a. Nyaris punah, tingkat kritis atau habitatnya telah menjadi sempit sehingga jumlahnya dalam keadaan kritis.
b. Mengarah kepunahan, yakni populasinya merosot akibat ekploitasi yang berlebihan dan kerusakan habitatnya.
c. Jarang, populasinya berkurang.
Kepunahan suatu species adalah bagian dari proses evaluasi yang terjadi terus-menerus. Namun laju kepunahan species akibat tekanan dari manusia saat ini sudah sampai pada tingkat yang mengkhawatirkan. Kekhawatiran terhadap adanya kepunahan dapat diantisipasi dengan upaya pencegahan. Upaya itu dapat dilakukan dengan cara perlindungan terhadap satwa yang hampir punah. Sesuai
dengan pasal 11 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 Pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya dilaksanakan melalui kegiatan:9
a. Pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya ;
b. Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa. yang mana perlindungan dari bahaya kepunahan dengan cara pengawetan. Maksud pengawetan disini adalah usaha untuk menjaga agar keanekaragaman jenis satwa tersebut beserta ekosistemnya tetap terjaga dan tidak punah.
2. Upaya Represif
Berdasarkan pasal 27 ayat (5) Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 1999 tentang Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa menyebutkan: Tindakan represif sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) huruf b meliputi tindakan penegakan hukum terhadap dugaan adanya tindakan hukum terhadap usaha pengawetan jenis tumbuhan dan satwa. Contoh kasus yang dapat dilihat disini, terjadi penadahan dan penjualan kulit Harimau di Jakarta pada tanggal 27 Oktober 2011, terdakwa Afandi terbukti telah melakukan pelanggaran pasal 21 ayat (1) huruf a yakni : Setiap orang dilarang untuk mengambil, menebang, memiliki, mengangkut, dan memperniagakan hewan atau tumbuhan yang dilindungi atau bagian-bagianya dalam keadaan
9
Laden Marpaung, 1995, Tindak Pidana Terhadap Hasil Hutan dan Satwa, Penerbit Erlangga, Surabaya, halaman 155.
hidup ataupun mati, Undang-undang nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya. Dalam putusannya, Hakim Pengadilan Negeri Payahkumbuh menjatuhkan vonis 3 bulan penjara dan denda 3 juta rupiah karena terdakwa Afandi telah terbukti secara sah dan meyakinkan telah melanggar pasal yang di sebutkan diatas.10
Berdasarkan kasus diatas upaya represif yang di lakukan Pemerintah dalam hal perlindungan satwa langka kurang begitu memberi efek jera dikarenakan hukuman dan denda yang diberikan terlalu ringan sehingga membuat para pelaku kejahatan khususnya pada kejahatan kepemilikan dan penjualan satwa langka tanpa izin berkeinginan untuk mengulang kembali perbuatanya dikarenakan bisnis kepemilikan dan penjualan satwa langka tanpa izin dapat memberikan keuntungan yang sangat besar yang tidak sebanding dengan hukuman kepada pelaku jika tertangkap.
Penutup Kesimpulan
Berdasarkan analisa data yang telah diperoleh dari penelitian yang diuraikan pada bab sebelumnya, maka hasil dari penelitian tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut :
10
Profauna, Perdagangan dan Penyelundupan Satwa Liar di Indonesia Masih Tinggi, di unduh dari :
http://www.profauna.org/content/id/pressrelease/2010/perdagangan_dan_penyelundupan_satwa_liar _indonesia_masih_tinggi.html, yang di akses pada hari jumat, 7 februari 2014, pukul 22:00 WITA
1. Pertanggungjawaban Pidana
a. Pertanggungjawaban Pidana terhadap kepemilikan satwa langka tanpan izin
Berdasarkan Pasal 21 ayat (2) huruf a dan b Undang-undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya yang berbunyi :
Setiap orang di larang untuk :
a) Menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup.
b) Menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan mati. Yang apabila dilanggar dapat di ancam pidana dengan pidana kurungan paling lama 1(satu) tahun dan denda paling banyak Rp. 50.000.000 (Lima puluh juta rupiah) berdasarkan pasal 40 ayat 4 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.
2. Upaya yang dapat di lakukan untuk mencegah terjadinya kepemilikan dan penjualan satwa langka tanpa izin di Indonesia
a. Upaya Preventif 1) Penyuluhan
2) Pelatihan penegakan hukum bagi aparat-aparat penegak hukum
3) Penerbitan buku-buku manual identifikasi jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi dan yang tidak dilindungi.
b. Upaya Represif
Berdasarkan pasal 27 ayat (5) Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 1999 tentang Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa menyebutkan: Tindakan represif sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) huruf b meliputi tindakan penegakan hukum terhadap dugaan adanya tindakan hukum terhadap usaha pengawetan jenis tumbuhan dan satwa.
Saran
Dari hasil penelitian yang Penulis lakukan, ada beberapa saran yang kiranya dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan :
1. Sanksi pidana kepemilikan dan penjualan satwa langka tanpa izin tidak hanya ditujukan untuk kejahatan terhadap satwa langka, melainkan juga terhadap pelanggaran. Penyitaan satwa langka dapat dilakukan pada kepemilikan tanpa izin dan dikembalikan ke habitat aslinya atau ke daerah pengungsian satwa langka.
2. Hendaknya pengaturan tentang satwa yang dilindungi dapat diketahui dan dipahami oleh masyarakat, sehingga kepemilikan dan penjualan satwa langka tanpa izin dapat dihindari. Tugas pengawasan terhadap satwa langka dilakukan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam agar kepemilikan maupun penjualan satwa langka dapat disosialisasikan.
Daftar Pustaka A. Buku
Hadjon, Philipus M, 1999, Pengantar Hukum Administrasi Negara, Gadjah Mada Universitas Press, Yogyakarta ;
Hardjasoemantri, Koesnadi, 2009, Hukum Perlindungan Lingkungan
Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Edisi
Pertama, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta ;
Ichsan , Achmad, 1996, Hukum Perdata IA, Pembimbing Masa, Jakarta ; Kansil CST dan Christine Kansil, 2000, Pengantar Ilmu Hukum, Balai
Pustaka, Jakarta ;
Machmudin, Dudu Duswara, 2001, Pengantar Ilmu Hukum Sebuah Sketsa, P.T Refika Aditama, Bandung ;
Marzuki, Peter Mahmud, 2010, Penelitian Hukum, Penerbit Kencana, Jakarta ;
Moeljatno, 1993, Asas-Asas Hukum Pidana, Rineka Cipta, Jakarta ;
Muhammad, Abdulkadir, 2004, Hukum dan Penelitian Hukum, PT Citra Aditya Bakti, Jakarta ;
Raharjo, Satjipto, 2006, Ilmu Hukum, Liberty, Yogyakarta ;
Riyanto, Budi, 2004, Pengelolaan Kawasan Suaka Alam dan Kawasan
Pelestarian Alam, Lembaga Pengkajian Hukum Kehutanan dan
Lingkungan, Jakarta ;
Soekanto, Soerjono, 1984, Pengantar Penelitian Hukum, UI Pres, Jakarta ; Syahrani, Riduan, 1999, Rangkuman Intisari Ilmu Hukum, P.T. Citra Aditya
Bakti, Bandung ;
Tuwu, Alimudin, 1993, Pengantar Metode Penelitian , Cet. I, Universitas Indonesia, Jakarta ;
Adami Chazawi, 2002, Pelajaran Hukum Pidana, Raja Grafindo Persada, Jakarta, halaman 83.
Laden Marpaung, 1995, Tindak Pidana Terhadap Hasil Hutan dan Satwa, Penerbit Erlangga, Surabaya, halaman 155.
B. Peraturan Perundang-Undangan
Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Kitab Undang-undang Hukum Perdata.
Republik Indonesia, Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.
Republik Indonesia, undang Nomor 10 Tahun 1995 jo. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2006 Tentang Kepabeanan.
Republik Indonesia, Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 1994 tentang Perburuan Satwa Buru.
Republik Indonesia, Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1994 tentang Pengusahaan Pariwisata Alam di Zona Pemanfaatan Taman Nasional, Taman Wisata Alam dan di Taman Hutan Raya.
Republik Indonesia, Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 1998 tentang Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam.
Republik Indonesia, Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.
Republik Indonesia, Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1999 tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa.
Republik Indonesia, Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 460/Kpts-11/1998 tentang Perubahan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor Nomor 68/KPTS-II/1998 tentang Tata Usaha Peredaran Tumbuhan dan Satwa Liar.
Republik Indonesia, Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 477/Kpts-II/2003 Tahun 2003 tentang Tata Usaha Pengambilan atau Penagkapan dan Peredaran Tumbuhan dan Satwa Liar.