• Tidak ada hasil yang ditemukan

GEDUNG PUSAT PAMERAN DAN PUS^HNf!0I^ASf=

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "GEDUNG PUSAT PAMERAN DAN PUS^HNf!0I^ASf="

Copied!
128
0
0

Teks penuh

(1)

HADI4H/BEL.1

NO. JUDUL NO 1NV. NO. lNOUK.

•Ji' ' •''r:fL-l-/t/ "~V

GEDUNG PUSAT PAMERAN DAN PUS^HNf!0I^ASf=

£Srr^r3£3al

KERAJ1NAN KERAMIK DI YOGYAKARTA

5-' x**c^<?oo '

LANDASAN KONSEPSUAL PERANCANGAN

TUGAS AKHIR

/m/ y/) ( Wf-^'t l>f

Di susua Oteh : EPWARFRANKY No. Mhs: 97 512 008 Jurusan Arsitektur

Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan

Universitas Islam Indonesia

Yogyakarta

2001

]

(2)

LEMBAR PENGESAHAN

GEDUNG PUSAT PAMERAN DAN PUSAT INFORMASl

KERAJINAN KERAMIK DI YOGYAKARTA

Di susun Oleh :

EDWAR FRANK Y

No. Mhs: 97 512 008

Yogyakarta, Mei 2001

Do^fremr>mibing

(Ir. H. Munichy B. Edrees, M. Arch )

Dosen Pembimbing II

Ir. Arif

Jurusan Arsitekiur

Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan

Universitas Islam Indonesia

Yogyakarta

J^^aTTurusan

(3)

ABSTRAKSI

Perkembangan kegiatan pameran kerajinan keramik di Yogyakarta pada tahap

berikutnya membutuhkan sarana yang lebih terkondisi sehingga tidak hanya dapat

memfasilitasi kegiatan pameran tetapi juga kegiatan penunjang yang berhubungan

dengan kegiatan pameran kerajinan keramik, minsalnya kegiatan pelatihan.

Di dalam pembahasan nanti akan ditinjau pola transisi kebutuhan ruang gedung

pusat pameran dan pusat informasi kerajinan keramik yang diharapkan dapat

meningkatkan produksi kegiatan yang terjadi didalamnya. Suasana ruang pameran yang

dapat membentuk nuansa promosi yang komunikatif dan rekreatif antara pengunjung dan

objek pameran itu sendiri.

Bertolak dari kenyataan bahwa gedung pusat pameran dan pusat informasi

kerajinan keramik sebagai suatu fasilitas umum, maka penekanan ungkapan fisik

bangunan yang memiliki karakter mengundang, dalam hal ini pendekatan pragmatik

digunakan sebagai dasar pembentukan konsep dasar perencanaan dan perancangan,

dimana itu semua diupayakan untuk memperoleh suatu rancangan yang optimal dan

(4)

KATA PENGANTAR

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang dengan rahmat dan hidayahnya, sehingga karya tulis ini dapat diselesaikan padawaktunya.

Karva dengan judul "Gedung Pusat Pameran dan Pusat Informasi Kerajinan Keramik di Yogyakarta " ini disusun untuk memenuhi persyaratan kelulusan jenjang

pendidikan strata-1 pada jurusan teknik arsitektur Universitas Islam Indonesia

Yogyakarta.

Tidak lupa penulis ucapkan terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada semua

pihak yang telah membantu selama proses penulisan tugas akhir ini, yakni kepada :

1. Bpk. Ir. H. Munichy B. Edrees, M. Arch, selaku ketua jurusan teknik Arsitektur

Universitas Islam Indonesia.

2. Bpk. Ir. H. Munichy B. Edrees, M. Arch, selaku dosen pembimbing utama yang telah memberikan bimbingan dengan kesabaran yang lebih, serta acuan-acuan penalaran. 3. Bpk. Ir. Arif Wismadi, selaku dosen pembimbing pendamping atas motivasi dalam

menggali potensi.

4. Orang tua yang tercinta (papa & mama), terimakasih atas doa dan restunya.

5. Kedua adikku yang yang tercinta (litis dan nelvi), terima kasih atas doa dan

motivasinya.

6. Sobat dan temen deketku yang tersayang, Novi Kartika Sari. Terima kasih atas doa

dan motivasinya.

7. Sahabatku deketku, Henni. K, terima kasih atas doanya.

8. Rekan-rekan KKn SL-38 (2001) : EdinyaSeffiya, ZoelnyaSanti, ViviennyaDewo, Arienyalna, ShintanyaWondo, Dewi, Jumadi, Iwan.

9. Anak-anak mojo III : IwannyaErika, IkanyaAgung, DendinyaSasa, YudhienyaRani,

(5)

10. Bpk. Iwan, selaku staff Mavindo organizer.

11. Rekan-rekan arsitek angkatan-97.

12. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu

Wasallamu'alaikum Wr, Wb.

(6)

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

I. Latar Belakang Permasalahan I

1.1 Event Pameran di Yogyakarta 1

II. Permasalahan

2.1 Permasalahan Umuin 7

2.2 Permasalahan Khusus 8

III.Tujuan dan Sasaran

3.1 Tujuan 8

3.2 Sasaran 8

IV. Lingkup Pembahasan 8

V. Metodologi Pembahasan 9

VI. Keaslian Penulisan 9

Vll.Sistematika Pembahasan 10

BAB II TINJAUAN UMUM PUSAT PAMERAN DAN PUSAT INFORMASI KERAJINAN KERAMIK DI YOGYAKARTA

2.1 Pengertian ; 13

2.2 Tinjauan Tata Peragaan Pameran 14

2.3 Tinjauan Pusat Informasi 18

2.4 Potensi dan Perkembangan Kerajinan Keramik di Yogyakarta

21

2.4.1 Potensi Kerajinan Keramik di Yogyakarta 21

2.4.2 Perkembangan Kerajinan Keramik di Yogyakarta

22

2.3 Permasalahan Dalam Perkembangan Kerajinan Keramik di

Yogyakarta 23

2.4 PusatPameran dan Pusat Informasi Kerajinan Keramik di

Yogyakarta 24

(7)

di Yogyakarta

24

2.6 Masa Depan Pameran Hasil kerajinan Keramik di Yogyakarta 25

2.7 Prospek Masa Depan Gedung Pusat Pameran dan Pusat Informasi

Kerajinan Keramik di Yogyakarta

BAB III ANALISA

3.1 Analisa Pemakai Bangunan -'

3.2 Analisa Fungsi dan Tujuan

-^

3.3 Analisa Bentuk Kegiatan 29

A. Kegiatan Produksi 29

B. Kegiatan Pelatihan 30

C. Kegiatan Penjualan 37

3.4 Analisa Pola Transisi Kebutuhan Ruang dari Kegiatan Penjualan/Pameran,

Produksi dan Pelatihan

3.4.1 Ruang Pameran

41

3.4.2 Ruang Produksi 4J

3.4.3 Ruang Pelatihan

44

3.5 Analisa Aspek Ekonomi

3.5.1 Analisa Finansial Gedung Pamer

4"

3.5.2 Analisa Material dan Tekstur Bahan Bangunan

47

3.6 Analisa Bentuk Ruang

3.7 Analisa Nuansa pada Pusat Pameran dan Pusat Informasi Kerajinan Keramik

3.7.1 Pembentuk Nuansa pada Wadah Kegiatan Pusat Pameran dan Pusat Informasi Kerajinan keramik

3.7.2 Ekspresi dan Citra Ruang 53

3.7.3 Unsur-Unsur Pembentuk Nuansa pada Wadah Kegiatan 54

3.7.4 Implementasi Nuansa Kegiatan Berdasarkan Unsur-unsur Pembentuk

(8)

3.7.5 Penunjang Nuansa pada Kegiatan Pusat Pameran dan Pusat Informasi

Kerajinan Keramik

5'

3.7.5.1 Kenyamanan Visual, Pencahayaan dan Penghawaan 57

D. Kenyamanan Visual

57

E. Kenyamanan Pencahayaan

57

F. Kenyamanan Penghawaan

59

3.7.5.2 Sistem Sirkulasi antar Ruang dan di dalam Ruang

A. Sirkulasi dan Pembentukan Suasana ^

B. Tipe Sirkulasi pada Ruang Pamer

60

3.8 Analisa Penentuan Kawasan 63

3.9 Analisa Pemilihan Lokasi Tapak 64

3.10 Analisa Pemilihan Tapak 66

3.11 Analisa Penentuan Site 68

3.12 Analisa Pengolahan Tapak

69

3.13 Zoning

70

71

3.14 Orientasi Bangunan

3.15 Analisa sistem operasional J

3.16 Analisa sistem struktur

BAB IV KONSEP DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

75

4.1 Konsep Dasar Perencanaan u

4.1.1 Konsep Dasar Kondisi Tapak

'5

A. Batas Tapak 75

B. Luas tapak 75

C. Topografi 75

D. Koefisien Dasar Bangunan

75

E. Ketinggian Bangunan

75

F. Tata Guna Lahan J

4.1.2 Konsep Dasar Ruang Terbuka dan Jalur Pergerakan

76

4.1.3 Konsep Dasar Orientasi Bangunan

76

77

4.1.4 Konsep Dasar Aksesbihtas

(9)

4.2.1 Konsep Nuansa Kegiatan 77

4.2.1.1 Kegiatan Pameran/Promosi 77

4.2.1.2 Kegiatan Pelatihan 78

4.2.1.3 Kegiatan Produksi 78

4.2.2 Konsep Dasar Tata Ruang Luar 78

4.2.3 Konsep Dasar Tata Ruang Dalam 78

4.2.4 Konsep Dasar Sirkulasi 79

4.2.5 Bentuk Dasar Penampilan bangunan 79

A. Bentuk Massa Bangunan

80

B. Gubahan Massa 81

• C. Perletakan Massa Bangunan 82

4.2.6 Konsep Dasar Peruangan 83

A. Pendekatan Konsep Program dan Besaran Ruang

1. Ruang Kegiatan Pelayanan Umum

83

2. Ruang Kegiatan Utama 83

3. Ruang Kegiatan Produksi 83

4. Ruang kegiatan Pelatihan 84

5. Ruang Kegiatan tambahan 84

B. Konsep Dasar Pengelompokan Ruang

,84

1. Berdasarkan Sifat Kegiatan 84

2. Berdasarkan Pola Hubungan Ruang 85

4.2.7 Kenyamanan Visual 85

4.2.8 Kenyamanan Pencahayaan 85

(10)

Daftar Tabel

halaman

I.

Tabel 1.1, frekuensi pelaksanaan pameran kerajinan kecil

\

II.

Tabel 1.2, presentase kunjungan wisatawan ke indonesia

2

III.

Tabel 2.1, jumlah unit usaha kerajinan keramik, D.I. Y

7?

IV.

Tabel 2.2, presentase jumlah perusahaan sub-sektor industri

23

V.

Tabel 3.1, kegiatan dan karakteristik kegiatan

VI.

Tabel 3.2, warna dan kesan yang ditimbulkannya

VII. Tabel 3.3, jenis material dan kesan penampilannya

55

VIII. Tabel 3.4, transformasi nuansa kegiatan

57

IX. Tabel 3.5, hubungan kegiatan dengan ekspresi pola dan bentuk sirkulasi

59

X.

Tabel 3.6, Knteria penilaian tapak

XL

Tabel 3.7, alternatif orientasi bangunan

XII. Tabel 4.1, kompleksitas dan kontradiksi bentuk bangunan

XIII. Tabel 4.2, kompleksitas dan kontradiksi gubahan massa

XIV. Tabel 4.2, kompleksitas dan kontradiksi perletakan massa bangunan

82

53 55 69 73 80 81

(11)

Daftar Gambar

I. Gambar 2.1, Sistem peragaan statis II. Gambar 2.2, Sistem peragaan dinamis III. Gambar 2.3, Sistem peragaan demonstratif

IV. Gambar 2.4, Media tiga dimensi V. Gambar 2.5, Media dua dimensi

VI. Gambar 2.6, Media Khusus

VII. Gambar 2.7, Bentuk dasar ruang pamer

VIII. Gambar 2.8, Alternatif pencahayaan aiami IX. Gambar 2.9, Alternatif pencahayaan buatan

X. Gambar 2.10, Gambar gedung kuliah

XI. Gambar 2.11, Gambar dapur pembakaran dan pengolahan keramik

XII. Gambar 3.1, Pengeringan tanah liat XIII. Gambar 3.2, Pembentukan keramik hias XIV. Gambar 3.3, Pengeringan keramik XV. Gambar 3.4, Pembakaran keramik XVI. Gambar 3.5, Pembakaran keramik

XVII.Gambar 3.6, Persyaratan aspek perencanaan gedung pameran XVIIIGambar 3.7, Pemanfaatan cahaya aiami

XIX. Gambar 3.8, Pemanfaatan cahaya buatan

XX. Gambar 3.9, Pola sirkulasi pada ruang pamer XXI. Gambar 3.10,Sirkulasi dari koridor ke ruang-ruang XXII. Gambar 3.12,Sirkulasi dari sebuah pusat ke ruang-ruang XXIllGambar 3.13,Sirkulasi dari ruang penghantar yang cukup luas XXIVGambar 3.14,Karakter kawasan yogyakarta

XXV. Gambar 3.15,Alternatif lokasi tapak

XXVI. Gambar 3.16,Zoning berdasarkan tingkat kebisingan

halaman 14 14 15 15 16 16 16 17 17 18 19 31 32 33 34 36 42 58 59 60 61 62 61 64 65 70

(12)

XXVII. Gambar 3.17, Zoning horizontal berdasarkan sifat kegiatan 70

XXVIIIGambar 3.18, Zoning vertikal berdasarkan sifat kegiatan 7]

XXIX. Gambar 3.19, Alternatif orientasi bangunan

XXX. Gambar 4.1, Kondisi tapak

XXXI. Gambar 4.2, Ruang terbuka dan jalur pergerakan 76

XXXII. Gambar 4.3, Orientasi bangunan 76

XXXIII Gambar 4.4. Aksesbilitas 77

XXXIV Gambar 4.5, Perwujudan nuansa kegiatan pameran 77

XXXV.

Gambar 4.6, Perwujudan nuansa kegiatan pelatihan

78

XXXVI. Gambar 4.7, Perwujudan nuansa kegiatan produksi

79

XXXVII. Gambar 4.8, Ide kompleksitas bangunan

81

XXXVIII. gambar 4.9, ide kompleksitas dan kontradiksi gubahan massa

82

XXXIX. gambar 4.10, Ide kompleksitas dan kontradiksi perletakan massa

bangunan 82

72

(13)

ArSlteKtur

Terpikirkan

Seperti

Apa

(14)

BAB I

PENDAHULUAN

I. Latar Beiakang Permasalahan LI Event Pameran di Yogyakarta

Yogyakarta adalah Ibukota Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta saat ini memiliki jumlah penduduk + 3.264.942 jiwa. Dimana kota Yogyakarta sendiri memiliki 861.361 jiwa, dengan laju pertumbuhan 1,15% pertahunnya l).

Sub sektor industri kecil dari kayu, rotan dan keramik dari tahun 1995 s/d 1999,

sub sektor ini mengalami pertumbuhan sebesar 27.99%.

Untuk itu Daerah Istemewa Yogyakarta melalui Kanwil Perdagangan telah melakukan berbagai kegiatan promosi kegiatan perdagangan secara rutin antara lain 2). :

a Pameran Priduk Eksport Daerah ( PPED ) yang dilaksanakan setiap tahunnya. Kegiatan ini berupa pasar seni yang berlokasi disekitar Benteng Vredeburg. Pasar seni inilah yang merupakan satu-satunya kesempatan emas bagi pengrajin keramik di Yogyakarta untuk memamerkan dan promosi hasil produk kerajinan mereka.dab sangat di sayangkan kegiatan pasar seni ini hanya dilakukan setiap satu tahun

sekali. Sedangkan beberapa fasilitas pameran, seperti Malioboro Mall atau Hotel-hotel di

yogyakarta hanya dapat dinikmari sebagian pengrajin keramik saja, tidak semuanya.

Untuk daerah kasongan saja terdapat ± 15.000 jiwa yang terdiri dari 3426 kepala

keluarga, dengan perincian 40 %bermata pencaharian sebagai pengrajin, 30 %sebagai

petani dan sisanya bermata pencaharian sebagai pegawai/guru dan buruh. Dan 40 %

pengrajm hanya 10 % pengrajin saja yang bisa mengoptimalkan hasil kerajinan mereka

dengan cara memamerkan hasil kerajinan mereka di beberapa tempat komersial yang ada

di yogyakarta, sedangkan sisanya belum mendapat kesempatan karena keterbatasan dana.

Berikut ini merupakan tabel frekuensi pelaksanaan pameran kerajinan kecil di Yogyakarta, yang pada umumnya menggunakan tempat-tempat komersial •yang ada di

Yogyakarta:

1.) Kantor BPS Propinsi DI Y, Yogyakarta Dalam Angka

(15)

Tabel 1.1

N

0

Tahun Macam Pameran Tempat Pameran Penyeleggara 1. 1999 D Anyaman Mendong a Malioboro Mall • Asperasi

• Perak D Malioboro Mall Q Asephi

a Gerabah a Benteng Vredeburg a Malioboro Mall Q Matahari Malioboro

a Asephi

Dan Api

2. 2000 a Anyaman Mendong a Malioboro Mall Q Benteng Vredeburg

• Asperasi

a Gerabah/keramik a Benteng Vredeburg

a Galena a Malioboro Mall Q Matahari Malioboro Q Ramai Mall Q Gardena Q Asephi Dan Api

a Meubel • Malioboro Mall Q Asperi

ndo

Sumber : Mavindo Organizer

Selama ini pusat/event pameran yang hanya terkonsentrasi pada kerajinan keramik di Yogyakarta belum ada. Padahal Daerah Istimewa Yogyakarta khususnya Kabupaten Bantul kaya akan daerah/desa yang memiliki potensi hasil kerajinan keramik, minsalnya daerah Kasongan, Santanan, Kajen dll.hal ini dapat dilirik sebagai satu potensi untuk memperkenalkan produk kerajinan keramik yang ada di Yogyakarta, melalui suatu pusat

pameran kerajinan keramik yang dilengkapi dengan pusat informasi kerajinan keramik itu

sendiri.

Dari persentase angka kunjungan wisatawan ke Yogyakarta, kunjungan ke obyek wisata budaya dan pameran seni dari tahun ketahun tetap berada pada urutan yang paling banyak pengunjungnya. Hal mi dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 1.2

Jenis Kunjungan 1996 1999

Wisman Wisnus Jumlah Wisman Wisnus Jumlah

Obyek Wisata 823.497 5.320.174 6.143.671 523.420 4.283.504 4.806.744 Budaya/ Pameran seni Museum 273.194 1.574.107 1.847.301 429.033 2.281.414 2.710.447 Obyek Wisata 75.600 222.097 297.697 98.811 337.722 437.533 Kesenian

Sumber : Dinas Pariwisata D.I. Yogyakarta

Jika konteks ini di tarik ketanah air, sebut saja yogyakarta. Yogyakarta sebagai kota pendidikan, perjuangan dan budaya serta kota wisata merupakan daerah yang

(16)

potensial untuk event-event pameran. Pameran akan jadi salah satu produk unggulan

pariwisata Yogya dan sinergisitas antara produk kerajinan dengan pariwisata. Di yogya

sangat banyak event Organizer atau Exhibition Organizer dan ada wadah asosiasinya.

Apabila dilihat di mall-mall di Yogya hampir tidak pernah sepi pameran. Bahkan menurut beberapa penyelenggara pameran, mall-mall tersebut sekarang cendrung komersial dan 'bertingkah'. Karena mereka merasa dibutuhkan, lantas pasang tarif sewa tinggi dengan persyaratan yang macam-macam. Bahkan menurut beberapa penyelenggara pameran ada satu kota di Indonesia yang menerapkan sistem lelang untuk bisa mendapatkan tempat menggelar pameran di mall. Bisa dibayangkan berapa sewa yang hams dibayar organizer, dan berapa sewa yang hams dibayar para tenant. Di sini tampak bahwa pemilik mall atau tempat-tempat pameran yang dinilai ramai dan menjual, melihat

dari satu sisi saja, yakni keuntungan. Mereka belum banyak yang punya komitment pada pengembangan Yogyakarta khususnya dikaitkan dengan pariwisata. Padahal pameran produk, khususnya yang terkait dengan produk kerajinan akan sangat potensial dijual

untuk wisatawan, khususnya wisatawan mancanegara. Memang bisa saja para organizer

tadi memakai tempat di hotel-hotel berbintang sebagai alternatif pengganti mall-mall,

namun tentunya dengan cost yang lebih tinggi.

Yogya kaya akan berbagai produk, khususnya produk kerajinan dan kekayaan

klias yogya untuk dipamerkan dan dijual kepada wisman. Masalah memang terbentur

pada kebutuhan ruang atau gedung pameran yang benar-benar representatif Oleh karena

itu, dirasa menjadi kebutuhan yang mendesak bagi yogya untuk menghadirkan gedung

terpadu sebagai pusat eksibisi yang akan diarahkan untuk konsumsi mendukung

pariwisata 3).

Kegiatan yang berlangsung pada gedung Pameran ini di bagi dalam tiga katagori

kegiatan yang memungkinkan gedung Pameran ini tidak sepi dari kegiatan pameran,

yaitu:

1. Pameran tetap, dimana waktu penyelenggaraannya menerus dalam jangka

waktu yang lama dan biasanya bersifat tetap, diikuti oleh peserta dari

komunitas pengrajin keramik Yogyakarta yang memamerkan hasil kerajinan

keramik dari D.I. Yogyakarta.

(17)

2. Pameran berkala, dimana frekuensi waktu penyelenggaraan secara

berkala/periodik dan biasanya dalam jangka waktu yang relatifsingkat,

umumnya diikuti peserta yang rutin menyelenggarakan pameran hasil

kerajinan keramik pada waktu tertentu karena pertimbangan tertentu pula,

minsalnya kalangan pemerintah, kalangan pendidikan. perusahaan tertentu,

dsb.

3. Pameran temporer, dimana waktu penyelenggaraannya tidak rutin dan dalam jangka waktu yang relatih singkat serta biasanya bersifat msidental, umumnya diikuti peserta, baik dari komunitas pengrajin keramik Yogyakarta maupun

pengrajin keramik dari luar, karena adanya event tertentu

Di Yogya sudah terbentuk federasi asosiasi yang anggotaina antara lain terdiri dari asosiasi penyelenggara pameran, yakni Asperapi; Asosiasi Konggres dan Konvensi Indonesia (Akkindo); serta asosiasi kerajinan, seperti Asephi. Api dan Iain-lain. Dengan memadukannya dengan beberapa asosiasi praktisi pariwisata lamina akan sangat ideal untuk menggagas terwujudnya exhibition hall atau gedung pameran yang didambakan

tersebut.

Gedung pameran ini dikelola oleh swasta yang pelaksanaannya dilaksanakan sepenuhnya oleh suatu badan usaha yang profesional dalam bidang pameran. Dalam pembangunan dan pengelolaannya melibatkan pihak swasta lain (dalam hal pemilikan sahamnya) dan pengembaliannya dapat dilakukan dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan perjanjian. Sedangkan lingkup kegiatannya direncanakan mencakup taraf regional dan nasional. Dan agar dalam pengelolaannya dapat teratur maka perlu dibentuk strutur organisasi pengelolaan yang rapi, dimana masing-masing memiliki fungsi dan peran yang berbeda-beda.

Dalam suatu proyek dikenal adanya biaya investasi total, dimana biaya tersebut

terdiri dari4):

1. Biaya tanah, yakni biaya langsung dan tidak langsung yang dikeluarkan untuk pengadaan tanah ditambah beban bunga sejak pembelian hingga gedung

menghasilkan pendapatan.

(18)

2. Biaya bangunan, yaitu besarnya adalah luasan lantai kotor dikali harga satuan

gedung (per M2).

3. Biaya tidak langsung, kelompok biaya ini berupa :

Biaya perencanaan Biaya konsultan Biaya hukum

Untuk sistem pemodalan terdiri dari dua sumber modal, yaitu :

1. Modal sendiri, yakni jumlah modal yang ditanamkan padsa suatu proyek untuk membiayai pekerjaan-pekerjaan pra-konstruksi seperti pengadaan tanah, perencanaan, penasehat, biaya hukum, besarnya modal ini lebih kurang 25%

dari biaya investasi total.

2. Modal pinjaman, yakni pembiayaan proyek yang berasal dan :

Kredit langsung dari bank Dana dari pasar modal

Kawasan yang menunjang keberadaan gedung pusat pameran dan pusat infonnasi

hasil kerajinan keramik ini memenuhi aspek criteria sebagai berikut:

1. Aspek kesesuaian, yaitu keterkaitan dengan rencana detil tata ruang kota, tata

guna tanah dan peruntukannya, dan peraturan daerah setempat.

2. Aspek interelasi kegiatan, yaitu terletak pada kawasan bisnis dan komersial,

yang menunjang keberadaan gedung puasa pameran dan pusat informasi

kerajinan keramik

Yogyakarta,

meliputi

kawasan

perdagangan dan

perkantoran.

3. Aspek aksesibilitas, yaitu kestrategisan, kedekatan, kemudahan dan keamanan

pencapaian yang didukung adanya akses jaringan arteri kota dan jalur

transportasi umum.

4. Aspek fasilitas, yakni adanya jaringan infrastruktur kota yng lengkap dan

memadai.

Salah satu sasaran kegiatan disektor perdagangan dan industri adalah usaha

pemasaran bagi hasil-hasil produk yang dihasilkannya. Karena betapapun bagusnya

kualitas dan kuantitas suatu produk, tetapi tanpa dukungan oleh pemasaran yang baik

semuanya akan sia-sia belaka5).

5) Lawson, Fred, Conference, Convention and Exhibition Facility, Design Handbook for Planning

And Management, Mc, Grew Hill Book Co, New York 1987

(19)

Gedung Pameran ini adalah wadah untuk memamerkan atau memperlihatkan atau

mempertunjukkan suatu materi baik berapa benda maupun jasa yang bersifat terbuka,

intim dan menarik. Kerajinan keramik adalah suatu proses memilah-milah lebih pada suatu bahan sehingga menjadi barang baru yang mempunyai nilai guna dan fungsi yang lebih tinggi, bersifat dinamis dan selalu berubah sesuai dengan tuntutan zaman dan persaingan yang semakin kompetitif

Pameran merupakan satu media yang cukup efektif dibandingkan dengan media promosi lainnya, karena didalam suatu pameran inemungkinkan para pengunjung untuk

dapat melihat, mendengarkan, bahkan meraba produk yang sedang dipamerkan6>.

Kecendrungan Tourism pada seni kerajinan keramik saat ini bukan hanya sekedar ingin melihat dan membeli, namun lebih jauh juga mengamati, mencennati dan mempelajari baik cara pengolahan/pembuatannya dan pemasarannya7'.

Sebagai fasilitas komersial fasilitas ini membutuhkan frekuensi pengunjung dan

penyewa yang banyak, untuk itu fasilitas ini tidak hanya digunakan sebagai fasilitas pamer dan promosi saja namun dilengkapi dengan sarana-sarana yang menunjang fungsi,

selama sarana tersebut dapat diatur menjadi satu kesatuan kegiatan operasional, sarana tersebut di bagi dalam tiga kelompok kegiatan yaitu :

1. Kegiatan produksi 2. Kegiatan pelatihan

3. Kegiatan penjualan (pamer dan promosi)

Antara kegiatan produksi, pelatihan dan penjualan, masing-masing mempunyai intensitas kegiatan yang berbeda-beda. Dalam memenuhi kebutuhan ruang dari masing kegiatan tersebut perlu diperhatikan pola transisi kebutuhan ruang dari masing-masing kegiatan (produksi, pelatihan dan penjualan). agar fasilitas pamer dan promosi ini dalam pengoperasiannya ruang-ruang yang tercipta dapat saling mendukung kegiatan

yang terjadi dalam satu wadah.

Suatu hubungan ruang yang saling berkaitan yang terdiri lebih dari dua buah ruang yang kawasannya membentuk suatu daerah ruang bersama, jika lebih dari dua buah ruang tersebut membentuk volume berkaitan seperti ini maka masing-masing ruang mempertahankan identitasnya dan batasan sebagai suatu ruang dengan tetap saling mendukung setiap kegiatan yang terjadi*.

6) Lawson. Fred. Conference. ("omentum .md I vhihition I »i i!m. Dc-m^ii 1l.uit)l~~.k t..> I'Unnin* And Management, Mc, Grav. Hill IkxA Co. Sew. YikV T'X7

(20)

Dengan demikian fasilitas pamer dan promosi ini dalam pengoperasiannya dilengkapi dengan fasilitas penunjang baik yang mendukung fungsi utama untuk kelancaran kegiatan dalam satu wadah, maupun fasilitas penunjang yang secara tidak langsung mendukung fungsi utama, antara lain dengan menggabungkan fungsi komersial dengan informasi edukatifyang rekreatif.

Pada skala suatu tapak bangunan, ada bermacam-macam strategi untuk

menghubungkan suatu bentuk bangunan terhadap ruang yang mengelilinginya, yaitu

suatu bangunan dapat9):

1. Membentuk dinding disepanjang sisi tapak dan membentuk ruang-ruang luar

yang positif

2. mengelilingi dan menutup suatu halaman atau ruang atrium didalam ruang yang ada.

3. menyatukan ruang interiornya dengan ruang luar pada sutu tapak. 4. Memasukkan sebagian tapaknya sebagai ruang luar.

5. Berdiri sebagai bentuk yang tegas didalam ruang atau mendomonasi tapak. 6. Melebar keluar dan menciptakan suatu permukaan yang luas dan menjadi

sesuatu yang menarik pada tapak tersebut.

7. Berdiri bebas pada suatu tapak dan menciptakan ruang luar yang tertutup sebagai bagian dari ruang interiornya.

Ruang-ruang perlu direncanakan secara cermat sesuai dengan penataan modul dan tuntutan teknik presentasi dari masing-masing kegiatan, agar tata ruang dapat ikut

mendukung maksud pencapaian.

Pemikiran diatas kemudian ditransformasikan kedalam suatu perancangan fisik berupa gedung pusat pameran dan pusat informasi kerajinan keramik di Yogyakarta, dimana konsep perancangan dapat dikaji sebagai berikut:

Gedung pusat pameran dan pusat infonnasi kerajinan keramik sebagai wadah untuk

kegiatan produksi, pelatihan dan promosi dengan menggabungkan fungsi komersial

dengan informasi edukatif yang rekreatif.

II. Permasalahan

II.l Permasalahan Umum

Secara garis besar dapat ditarik :

8) Ching. DK, Arsitektur Bentuk, Ruang dan Susunannya, 1991

(21)

1. Menyediakan fasilitas yang dapat menampung penyelenggaraan pameran

kerajinan keramik dan promosi yang dilengkapi dengan pusat infonnasi

kerajinan keramik

2. Penyewa mendapatkan suatu kelayakan tempat dalam memamerkan dan

mempromosikan produknya.

3. Pengunjung mendapatkan kelayakan, kenyamanan dan kejelasan dari apa yang dilihat, apakah yang sedang dilihat itu acara pameran atau promosi dari

produk yang dipamerkan.

II.2 Permasalahan Khusus

1. Bagaimana mewujudkan perubahan pola transisi kebutuhan ruang dari

kegiatan produksi, pelatihan dan penjualan.

2. Gedung Pameran dan Pusat Informasi yang dapat membentuk nuansa promosi yang komunikatif dan rekreatif.

III. Tujuan dan Sasaran

111.1 Tujuan

Mewujudkan bentuk dan pola transisi kebutuhan ruang serta suasana ruang

pameran yang dapat mendukung peningkatan kegiatan yang terjadi, yaitu kegiatan

produksi, pelatihan dan pemasaran (pameran/promosi).

111.2 Sasaran

Sasaran dari pembahasan ini adalah sebuah landasan konseptual perencanaan dan perancangan yang akan ditransformasikan kedalam bentuk fisik gedung pusat pameran

dan pusat informasi kerajinan keramik. Landasan ini juga akan mendasari terbentuknya penetapan langkah-langkah perencanaan dan perancangan gedung pusat pameran dam

pusat informasi kerajinan keramik.

IV. Lingkup Pembahasan

1. Perencanaan dan perancangan sarana untuk mewadahi kegiatan pameran hasil kerajinan keramik yang antisipatif terhadap kebutuhan kuantitatif dan

kualitatif.

2. Pada lingkup pembahasan yang kedua dibatasi pada pembahasan tentang perencanaan dan perancangan fisik arsitektural dimana penekanan

(22)

perancangan di titik beratkan pada pengolahan mang yang ada sebagai

apresiasi ekspresi kegiatan pameran kerajinan keramik.

V. Metodologi Pembahasan

Metodologi pembahasan dilakukan dengan cara :

1. Tahap pengumpulan data. Tahap pengumpulan data ini dilakukan dengan cara wawancara dan observasi. Wawancara dilakukan secara langsung dengan

pihak-pihak yang terkait langsung dengan bidang pengelolaan dan operasional

suatu pameran, antara lain dengan Asperasi ( asosiasi penyelenggaraan pameran ), Akkindo ( asosiasi konggres dan konvensi indonesia ), asosiasi kerajinan seperti; Asephi, Api. Selain itu juga dilakukan studi literature yaitu

studi yang ada kaitannya dengan pengumpulan data.

2. Tahap pemecahan masalah. Merupakan tahap penjelasan potensi dan

permasalahan dalam perwujudan design gedung Exhibition Hall, antara lain menyangkut:

a Pengolahan pola tata ruang yang mendukung kelancaran sirkulasi dan

suasana ruang pameran.

a Penentuan lokasi site bangunan. Penentuan lokasi site ini didasarkan atas

analisa kriteria-kriteria dengan mempertimbangkan unsur positif dan negatifnya. Sehingga diperoleh suatu site yang terbaik dari beberapa

alternatif site yang ada.

VI. Keaslian Penulisan

1. Nama Mahasiswa No. Mahasiswa

Judul

Windya Deddy Dam Cahya

90 340 032

Gedung Pameran Perdagangan dan Promosi di

Yogyakarta. Permasalahan Umum :

a Menyediakan fasilitas yang mampu menampung penyelenggaraan pameran dan promosi perdagangan di

(23)

a Menjadikan bangunan pamer yang dapat memberi nilai

tambah baik bagi pemilik, pengunjung maupun

penyewa.

Permasalahan Khusus :

a Bagaimana penataan lokasi dan site yang mampu menunjang terwujudnya ungkapan fisik bangunan komersial, yang pada akhirnya bangunan yang direncanakan akan mempunyai daya tarik yang tinggi bagi masyarakat sebagai pemakai/pengunjung.

2. Nama Mahasiswa : Rahmansya No. Mahasiswa : 89 340 051

Judul : Gedung Pameran Furniture di Semarang

Permasalahan :

a Bagaimana mewujudkan pola dan tata mang gedung pameran sehingga dapat mendukung kegiatan yang

diwadahi.

a Bagaiman mewujudkan suasana mang pameran yang dapat menciptakan kondisi komunikatif antara pengunjung dan abyek pameran.

VII. Sistematika Pembahasan

BAB I PENDAHU'LUAN, berisi latar belakang permasalahan, permasalahan, tujuan

dan sasaran, lingkup pembahasan, dan metodologi pembahasan serta sistematika

pembahasan.

BAB II TINJAUAN KERAJINAN KERAMIK DAN PAMERAN HASIL KERAJINAN KERAMIK DI YOGYAKARTA, mengungkapkan tinjauan tentang

kondisi dan perkembangan sektor kerajinan keramik dan pameranhasil kerajinan keramik di Yogyakarta beserta potensi yang menunjang keberadaan Exhibition Hall sebagai wadah pameran hasil kerajinan keramik di Yogyakarta.

(24)

BAB

HI

ANALISA, merupakan analisa

tentang tinjauan exhibition hall di

yogyakaita, serta kegiatan-kegiatan yang ada dalam exhibition hall sebagai landasan

untuk menentukan kebutuhan ruangan dan peruangannya.

BAB IV KONSEP DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN , berisi konsep dasar perencanaan dan perancangan sebagai dasar transformasi design.

(25)

Produksi

KERANGKA POLA PIKIR

a

Latar lielakanji

Yogyakarta kaya akan hasil kerajinan keramik

Sebagian bcsar pengrajin belum mempunyai kesempalan untuk mcmperkenalkan produknya

secara komersial kepada konsumen

Kecendrungan Tourism pada seni kerajinan

keramik pada saat ini bukan hanya sekcdar

ingin melihat dan membeli, namun lebih jauh

juga mengamati, mencermati dan mempelajarii c e n

Permasalahan Umum

Menyediakan fasilitas yang dapat menampung penyelenggaraan pameran kerajinan keramik dan promosi yang dilengkapi dengan pusat

informasi kerajinan keramik

Penyewa mendapat suatu kelayakan tempat

dalam memamerkan dan mempromosikan

produknya

Pengunjung mendapat kelayakan, kenyamanan

dan kejelasan dan apa yang dilihat

Permasalahan Khusus

i z.

Bagaimana mewujudkan pola transisi kebutuhan ruang dan kegiatan produksi, pelatihan dan

penjualan yang mempertimbangkan aspek biaya

• Gedung pusat pameran dan pusat infonnasi yangi

dapat membentuk nuansa promosi yang komunikatif dan rekreatif

+

Pelatihan - R. Seminar

- R. Pengelola - R. Multimedia dan Internet

R. Penyimpanan - R. Persiapan - R. Pembuatan - R. Pengeringan - R. Pembakaran

+

Penjualan Pemasaran - R. Pamer - R Display - R Transaksi - R. Informasi Pemasaran

Analisa dan Sintesa

Menganalisa dan sintesa pola transisi kebutuhan ruang

dari kegiatan produksi, pelatihan dan penjualan yang meliputi:

Q Bentuk ruang

Q Perletakan massa bangunan Q Gubahan massa

Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan

n u a n s a :

Q Jenis kegiatan : promosi, komumkasi dan

rekreasi

Q Kenyamanan : visual, pencahayaan, dan penhawaan

• Ekspresi ruang : bentuk, skala, hubungan an tar ruang

Q Sistem sirkulasi

\

Q jenis-jenis kegiatan 0 Pengguna bangunan

P Kebiasaan-kebiasaan pengguna bangunan

T

Konsep

Q Konsep dasar perencanaan dan perancangan pada pola transisi kebutuhan ruang yang meliputi : kebutuhan ruang, besaran ruang, sirkulasi dalam bangunan serta perletakan dan gubahan massa

bangunan.

Q Konsep dasar perencanaan dan perancangan pembentukan nuansa bangunan meliputi aspek : Jenis kegiatan : promosi, komunikasi dan rekreasi

Kenyamanan : visual, pencahayaan dan penghawaan Ekspresi ruang : bentuk, skala dan hubungan antar ruang

(26)

BAB II

TINJAUAN UMUM PUSAT PAMERAN DAN PUSAT INFORMASI

KERAJINAN KERAMIK DI YOGYAKARTA

2.1 Tinjauan Pengertian

Menurut Klaus Frank, pengertian pameran atau Exhibisi adalah :

a To exhibition means to choose, to display, to present asample or an example.

The inparting of information is the aim of every exhibition and such

information may be adidactic, commercial or representational nature. '>

Sedangkan menurut W.J.S. Purwodaminto, pengertian pameran adalah:

• Pertunjukan ( memperlihatkan lukisan, senjata, hasil bumi, hasil industri

sandang dan sebagainya ).2)

Pengertian dari industri (pengolahan) diklasifikasikan Biro Pusat Stat.stik Propinsi

D.I. Yogyakarta, sebagai berikut:

"suatu kegiatan ekonomi yang mengubah barang dasar menjadi barang jadi atau setengah

jad. atau yang barang yang kurang nila.nya menjadi barang yang lebih tinggi nilainya

sehingga lebih dekat ke konsumen akhir3'.

Kata pusat diartikan sebagai pokok, pangkal atau yang menjadi pumpunan.

Defenisi ini kemudian diartikan lagi yang berarti beberapa kelompok yang tersebar dalam

suatu tempat dimana bentuk pelayanan dan sistem pelayanan dan manajemennya diatur

bersama4),:

A. Pusat Pameran

Pusat pameran didefenisikan sebagai wadah tetap yang berupa bangunan atau mang

terbuka atau gabungan dari keduanya yang bertujuan untuk mengenalkan,

menunjukkan dan memamerkan secara temporer permanen obyek tertentu.

B. Pusat Promosi

Pusat promosi adalah suatu fasilitas yang berupa wadah tetap kegiatan yang dibuat

untuk menarik miiiat orang lain akan sebuah obyek untuk menciptakan suatu sikap

tertentu, minsalkan transaksi.

1) Frank, Klaus, Exhibition Asurvey of international Design, New York th 1961 hal I3

2 Purwodaminto.W.J.S Kamus Umura Bahasa Indones.a, Balai Pustakajakarta th 1986

n

3) Biro Pusat Statistik Propinsi D.I. Yogyakarta ' 4) Alex S. Nitisemeto, Drs. Marketing, hal 42

(27)

C. Pusat Informasi

Pusat pelayanan informasi ini bempa pelayanan yang infonnasinya ditujukan kepada

masyarakat umum, pemerhati dan pengusaha mengenai apa yang akan dipamerkan,

baik yang menyangkut macam klasifikasi mutu, harga, lokasi pembuatan, proses

produksi maupun hasil-hasil produknya.

2.2 Tinjauan Tata Peragaan Pameran

Adalah teknik Presentasi/penyajian produk, sebagai berikut :

A. Sistem peragaan, diklasifikasikan berdasarkan aktifitas pengunjung dan materi

pameran :

1. Statis, dimana pengunjung hanya dapat melihat dan mengamati saja tanpa

berinteraksi langsung dengan materi pameran.

Gambar 2.1

Sistem peragaan statis

Sumber : Exhibition, A Survey Of International Design dan Pemikiran

2. Dinamis, dimana pengunjung dapat melihat, mengamati danb berinteraksi

langsung dengan materi pameran dengan menyentuh, meraba, dsb.

Gambar 2.2

Sistem Peragaan Dinamis

(28)

3. Demonstratif, dimana pengunjung dapat melihat dan mengamati materi pameran

yang diperagakan oleh peserta pameran.

Gambar 2.3

Sistem Peragaan Demonstratif

'JU

/ /

\

" \

A^Jh

vV^^L^-1

Ju

\ Y 'HL=3T*

Iv«jI VBtgfci^g-^-^ _

Sumber: Exhibition, A Survey of International Design

B. Metode Peragaan, berdasarkan metode pendekatan presentasi materi pameran : 1. Estetik, lebih menonjolkan segi estetika dan fisik dari produk yang dipamerkan. 2. lntelektual, lebih menonjolkan segi fungsional produk yang dipamerkan. 3. Romantik, menonjolkan suasana yang mendukung produk yang dipamerkan. C. Media Peragaan, diklasifikasikan berdasarkan teknik presentasi materi pamerandan

media yang diinginkan :

1. Media penyajian tiga dimensi, minsalnya etalase Gambar 2.4

Media tiga Dimensi

Sumber : Exhibition, A Survey of International Design

(29)

2. Media Penyajian dua Dimensi, minsalnya panil

Gambar 2.5

Media dua Dimensi

Sumber : Exhibition, ASurvey ofInternational Design

3 Media Khusus, minsalnya peralatan audiovisual dan elektronik

Gambar 2.6

Media Khusus

Sumber : Exhibition, ASurvey ofInternational Design

D. Ruang Pameran, berdasarkan bentuk dasar ruang pamer, dapat diklasifikasikan dalam

4tipe, yaitu terbuka pada satu, dua, tiga atau keempat sisinya.

Gambar 2.7 Bentuk Dasar Ruang Pamer

'

9-%

0 8»

LI I I

£«

* ©*•• - -

-Sumber : Exhibition, ASurvey of International Design

(30)

E. Pencahayaan

Terdapat dua aspek tuntutan kebutuhan yang dicapai dari tata pencahayaan, yaitu

aspek fungsional dan aspek estetika.

Tuntutan aspek fungsional dipenuhi lewat pencahayaan aiami dan ditunjang oleh

pencahayaan buatan bila sudah tidak memungkinkan, sedangkan tuntutan aspek

estetika dipenuhi melalui pencahayaan buatan untuk mencapai efek visual seperti

yang dikehendaki.

Gambar 2.8

Alternatif Pencahayaan Aiami

k^i

a

IC71

El

4

A

/ ^ss /

h

/

I

w

. /

A

<-.

\ / .

V

- rv

Sumber : Exhibitio, A Survey of International Design dan Pemikiran Gambar 2.9

Alternatif pencahayaan Buatan

(31)

2.3 Tinjauan Pusat Informasi

Disamping sebagai pusat pameran gedung ini juga berfungsi sebagai pusat informasi yang meliputi dua kegiatan utama yaitu :

A. Ruang Kelas

Pada masa lalu kebutuhan ruang dan biaya awal pembangunan ruang kelas dan

gedung pertunjukkan dinilai terlalu tinggi dibanding dengan pemakainnya, sehingga ruang kelas dan gedung pertunjukkan didesain sedemikian rupa sehingga mampu menampung/berfungsi untuk kegiatan lain. Ruang-ruang ini dapat digunakan sebagai

ruang kuliah, pemutaran film, untuk peragaan keahlian, dan kegiatan panggung lainnya. Untuk dapat menampung pengunjung dalam jumlah yang berbeda dengan

jalan membaginya dalam beberapa ruangan, biasanya dengan menggunakan sistem

tempat duduk yang dapat di dorong bersusun kebelakang, sedan ruang kelas yang luas dapat diubah menjadi ruang pertemuan"'1'"

Luas minimum/orang :

A. 0.46m" (kursi dapat dipmdahkan, tanpa tangan kursi, jarak dan

titik pusat kursi ke titik pusat kursi berikutnya 450)

B. 0,6 in" (kursi terpancang dan berlengan kursi, jarak dari titik pusat kursi ke titik pusat kursi berikutnya500)

Gambar 2.10

Proyektor gambar, gedung kuliah Urletak dl belakang; gambar yang dlhasllkan tidak setajam bila proyeksl terletak dl depan layar teoertl nada aeduna .llah besar. tetaol untuk kuliah cukup memadal dan cukup cahaya bagi mahasiswa untuk menulls bahan kuliah P

(32)

Studio Perancangan

Studio perancangan sebaiknya letaknya berdekatan dengan bengkel kerja atau

ruang kerja, tetapi pertimbangkan juga debu dan kebisingan yang ditimbulkannya. Ruang untuk penyinipanan lembaran ganibar-gambar rencana sebaiknya disatukan dengan peralartan penyalin gambar dan dokumcn walau sebaiknya aiat ini diletakkan terpusat. Disamping itu segi pencahayaan hams baik, pencahayaan

buatan maupun pencahayaan alamiah'l Gambar 2.11

3. Ruang Perpustakaan

Dapur pembakaran keramik

kocll

900-1200 1000-1300 >

-Ruang yang dlbutuhkan un

tuk roda pengolah keramik

Dalam perpustakaan terdapat 3 elemen penting : bahan bacaan, pembaca dan pegawai perpustakaan yang berhubungan dengan cara yang berbeda-beda tergantung pada kebijakan organisasi perpustakaan. Pada saat-saat tertentu akan banyak pengunjung yang berkeliaran diantara rak-rak buku sambil sesekali membaca-baca buku yang menarik. Perpustakaan yang lebih besar tennasuk perpustakaan universitas cendrung untuk menggunakan sistem penyinipanan buku

secara rumpukan terbuka dan dilengkapi dengan ruang baca didekatnya, dan bukan diantara rak-rak. Cara lain adalah dengan pola tertutup, disini pembaca

6) Ernst Neufert, Data Arsitek, Edisi ke Dua

(33)

tidak dapat mengambil sendiri buku yang dimginkan melainkan harus melaalui

petugas dan buku yang dicari berdasarkan katalog yang tersedia7).

Gambar 2.12 B. Kegiatan Produksi 1 tuU [ ^ p u i t i k a i n 2 b»gl*n rtmjjj J plntu rruiuk 4 OUd*ng tXJku 5cUpur kjcll 6 r. rxturtiin 7 m*J« pu.Uk*w* & tUlk limpu dl

linoJt-langlt

9 rak rxngun

txiku 10t » k txinnj

Perpustakaan Cabang kecil dl Worcotter, Inggerls. 96m1 550 Duku. Arsitek: T. Lewis.

1. Ruang Penyimpanan

Metoda penyimpanan berbagai benda dan bahan yang diperlukan dalam kegiatan studi harus benar-benar teliti karena kadang diperlukan tempat untuk menyimpan

barang-barang yang akan dipamerkan atau barang-barang yang telah dipamerkan. Setiap tempat penyimpanan/gudang harus terlctak didekat bengkel kerja yang hams dilayani. Perhatikan suhu dan kelembaban tempat penyimpanan karena faktor ini mungkin dapat merusak bahan yang disimpan didalam gudang, cara lain adalah dengan memberikan batasan yang masuk akal minsalnya untuk kayu,

lempung dan plaster8'.

Gambar 2.13 kcrt*k funOuk«n lurl h4 h*fl £> Dc M k - M k k o t * k - k o t * k IKI-IKI p t n . n l u i n mo<HI m«rvfl. • o u k t*n*h

qJ

btnpku/mtjj rod* p«mutir rak-rik o«kof*il agn

D

0 tunjku/m^ tMk-Otk Uai*fW»m«rl f i k - d k

tan kegiatan pembuatan barang-barang keramik

7) Ernst Neufert, Data Arsitek, Edisi ke Dua

8) Ernst Neufert, Data Arsitek, Edisi ke Dua

0e

l«mptt p t m b w i r m r*k-rlk

(34)

2.4 Potensi dan Perkembangan Kerajinan Keramik di Yogyakarta 2.4.1 Potensi Kerajinan Keramik di Yogyakarta

Dalam hal ini Keramik dapat digambarkan sebagai barang-barang pelengkap mang

baik mmah maupun kantor yang terbuat dari tanah liat9). Sebagai kota budaya Yogyakarta memiliki banyak potensi kerajinan seni. Ada tiga potensi dasar yang memacu perkembangan kerajinan seni di Yogyakarta :

1. Sumber daya manusia, Yogyakarta memiliki banyak pekerja seni , memiliki institusi pendidikan yang mempelajari kerajinan seni, banyaknya kios-kios

tetap maupun kaki lima.

2. Sumber daya alam, sebagai aset penyediaan bahan dasar yang melimpah, yang

juga unuk dan khas.

3. Sebagai kota budaya Yogyakarta memiliki kekayaan ragam sosial budaya, yang dalam hal kerajinan keramik adalah sumber acuan / referensi desain kerajinan keramik yang tidak akan peniah habis.

Maraknya industri kerajinan seni keramik baik tradisional maupun modem ini mempakan akibat dari banyaknya wisatawan yang datang dan membutuhkan cendramata untuk dibawa pulang ke negaranya maupun ke daerah asalnya. Jadi seni kerajinan keramik ini memberikan konstribusi tersendiri bagi dunia wisata,

yaitu sebagai daya tank tersendiri bagi wisatawan.

Sedangkan sebagai pusat dunia seni modem, Yogyakarta merupakan kota dengan suasana khas yang banyak memberikan inspirasi bagi seniman-seniman muda yang datang dari berbagai daerah di Indonesia. Yogyakarta juga merupakan tempat yang kondusif bagi kelangsungan hidup berkesenian dan mempunyai iklim yang mendukung seniman untuk berkarya. Hal inilah yang juga mempengamhi

maraknya perkembangan seni di Yogyakarta.

Potensi sumber daya manusia dalam bidang seni di Yogyakarta cukup baik. Dari segi kualitas sudah adanya institusi pendidikan yang berkaitan dengan seni yaitu : Sekolah Menengah Seni Rupa di Yogyakarta, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut seni Rupa Indonesia dan Iain-lain.,U)

9) Pola Hidup dan Produk Kerajinan keramik Kasongan Yogyakarta, Depdikbud, 1985 10) Kantor BPS D.I.Yogyakarta, th 1994

(35)

2.4.2 Perkembangan Seni Kerajinan Keramik di Yogyakarta

Perkembangan seni membuat barang-barang kerajinan keramik di daerah

Yogyakarta diperoleh dari warisan generasi sebelumnya yang secara turun

temurun menjadi tradisi. Sejalan dengan itu maka produk-produk yang umum

dibuat oleh para pengrajin adalah:10

a Barang-barang gerabah keperluan dapur

Barang-barang gerabah untuk keperluan dapur ini antara lain alat-alat untuk

memasak seperti : kuali, pengaron, kendil, dandang. kekep dsb.

b Produk bahan bangunan

Bahan-bahan bangunan yang terbuat dari keramik yang dihasilkan oleh

pengrajm keramik antara lam berupa: batu bata merah, gendeng, plempen dan

gulu banyak untuk septiktank.

c Barang-barang hias

Benda-benda hias dari keramik sesungguhnya telah dikenal oleh masyarakat

pengrajin cukup lama, antara lain berbentuk : mantenan, pot-pot bunga,

tempat makanan, kendi, teko dsb. d Barang-barang mainan

Barang-barang keramik semacam ini pun telah dikenal oleh pengrajin dalam

kurun waktu yang telah turun menurun, minsalnya alat-alat bunyian seperti

katak, topeng, celengan dsb.

Pertumbuhan sektor kerajinan keramik di D.I. Yogyakarta cukup pesat,

terlihat dari indikator jumlah pengrajin, penyerapan tenaga kerja, besarnya nilai

tambah bruto, serta besarnya konstribusi terhadap produk domestik regional

bruto.

Dalam kurun waktu 5 tahun industri kerajinan keramik di Yogyakarta

rata-rata mengalami pertumbuhan sebesar 1.17 % pertahun, yaitu dari 30.651 unit

usaha pada tahun 1995 menjadi 50.446 unit usaha pada tahun 1999.

Tabel II. 1

Jumlah Unit Usaha Kerajinan Keramik di Propinsi D.I. Yogyakarta, 1995-1999

Golongan Industri 1995 1996 1997 1998 1999

Besar dan Sedang 199 215 247 243 263

(36)

Kecil Kerajinan Rumah Tangga 2.680 40.382 3.392 51.518 3.411 52.456 3.421 54.304 3.397 55.676

Sumber : BPS, Kantor Statistik Propinsi DIY, 1999

Dari tabel diatas dapat dilihat secara keseluruhan terjadi peningkatan unit usaha temtama dari golongan besar dan sedang, serta kerajinan mmah tangga.

Tabel II.2

Persentase Jumlah Perusahaan menurut Sub sektor industri

Di Propinsi D.I Yogyakarta tahun 1996-1998

No

2.

3.

6.

8.

Sub Sektor Industri

Makanan

Tekstil, kulit dan Keramik Gerabah

Kayu

Kertas

Galian non logam Barang dari logam Pengolahan lainnya Jumlah Banyaknya Perusahaan 1996 1997 1998 17,87% 18,97% 19,83 36.12% 33,10% 28,77% 9.89% 10,69% 13,69 6.49% 6,21% 6,15%o 10,27% 12,07% 12,01% 9,89% 8,62% 7,54% 5.32% 5,52% 6,42% 100% 100% 100%

Sumber: Kantor Statistik Propinsi D.I.Y, 1999

Dari komposisi sub sektor industri pada tabel diatas menunjukkan bahwa industri

kerajinan tekstil, gerabah/keramik dan kulit mendominasi industri di D.I.Yogyakarta

dalam beberapa tahun belakangan ini. Dari ketiga jenis industri diatas industri kerajinan

keramik yang juga menjadi andalan industri kecil dan kerajinan mmah tangga merupakan

primadona etnik Yogyakarta sebagai kota wisata dan budaya, karena mampu

menggambarkan etnik Yogyakarta dalam suatu hasil kerajinan khas daerah yang unik dan

eksotik dibandingkan dengan kedua sektor industri lainnya yaitu industri tekstil dan kulit

yang banyak terdapat didaerah lain.

2.5 Permasalahan Dalam Perkembangan Kerajinan Keramik di Yogyakarta

Sektor kerajinan keramik, sebagaimana juga sektor industri kerajinan lain di

Yogyakarta selama ini mengalami beberapa permasalahan yang cukup mempengaruhi

perkembangannya. Permasalahan yang cukup mendasar diantaranya adalah dalam hal

(37)

pemasaran hasil kerajinan, terutama pemilihan sarana untuk mengenalkan proauiz-a kepada masyarakat luas.

Pemasaran merupakan salah satu aspek yang penting dalam pengembangan saxr industri kerajinan sebagai upaya pengenalan produk unggulan maupun bam ker^ca masyarakat luas untuk pencapaian dan perluasan pasar.

Sebenarnya kegiatan yang menunjang kegiatan pemasaran hasil kerajinan >_^i: banyak dilaksanakan, baik oleh pemerintah dalam hal ini Departemen Perindusmai ^ir. Perdagangan beserta Kadin maupun pihak swasta, diantaranya dalam bentuk par^i:: hasil kerajinan, baik hasil kerajinan keramik maupun hasil kerajinan lainnya yang ___:n

dilaksanakan setiap tahunnya maupun insidentil.

Parut disayangkan upaya untuk mengatasi permasalahan di sektor ini ks^.2 didukung adanya sarana dan prasarana yang memadai sehingga belum bisa dicapa: ^i::!

yang optimal.

Tempat-tempat yang selama ini digunakan untuk menyelenggarakan ker.r.in pameran hasil kerajinan keramik, sebenarnya tidak dikhususkan untuk mewaz^hi spesifikasi dan tuntutan kegiatan yang ada sehingga kurang mendukung pelaksanaarj:;.a.

Untuk itulah keberadaan sarana dan prasarana khusus untuk kegiatan pameran 'nasil kerajinan keramik, diperlukan untuk lebih menunjang perkembangan sektor kera.inan keramik di Yogyakarta.

2.6 Fungsi Pusat Pameran dan Pusat Informasi Kerajinan Keramik

Secara umum fungsi pusat pameran dan pusat informasi kerajinan keramik ini yaitu:

1. Sebagai fasilitas untuk mengembangkan eksistensi kerajinan keramik yang bersifat global.

2. mewujudkan kerjasama dan komunikasi dengan perancang, dunia usaha dan

industri, serta kelompok masyarakat profesional lainnya yang relevan dalam pengembangan seni kerajinan keramik di Yogyakarta yang dikemas dalam.

bentuk workshop.

3. Sebagai fasilitas untuk melaksanakan sistem dokumentasi dan pengembangan informasi seni kerajinan keramik sebagai upaya pengenalan

(38)

perkembangan budaya, sejarah, teknologi dan seni kerajinan keramik itu

sendiri.

4.

Sebagai fasilitas untuk lebih memperkenalkan perkembangan, sejarah,

teknologi, proses pembuatan, dan produk-produk seni kerajinan keramik

kepada masyarakat.

5.

Sarana promosi hasil-hasil seni kerajinan keramik.

2.7 Masa Depan Pameran Hasil Kerajinan Keramik di Yogyakarta

Dari segi kuantitas dapat diperkirakan frekuensi pameran hasil kerajinan keramik

di Yogyakarta akan terns meningkat dimasa mendatang. Asumsi ini sering muncul seiring

dengan semakin tumbuhnya kesadaran untuk mengadakan hubungan komunikasi (kontak

dagang) yang lebih baik dan efektif antara pihak produsen selaku peserta/penyelenggara

pameran dengan konsumen selaku pengunjung pameran, yang berarti pula adanya

prospek masa depan yang cerah bagi keberadaan gedung pameran hasil kerajinan

keramik di Yogyakarta.

Dalam hal ini pameran merupakan solusi yang terbaik dan ideal karena merupakan

komunikasi timbal balik 2 arah yang saling menguntungkan keduabelah pihak, dimana

dengan semakin seringnya frekuensi komunikasi dalam konteks ini berupa pameran hasil

kerajinan keramik diharapkan akan terjalin hubungan (kontak dagang) yang semakin baik

pula.

Sedangkan apabila ditinjau dari segi kualitas kegiatan, adanya kecendrungan

semakin dikelolanya suatu penyelenggaraan pameran hasil kerajinan keramik secara lebih

baik dan profesional akan menimbulkan pengaruh yang positif yang lebih

menguntungkan, baik bagi pameran itu sendiri maupun pihak-pihak yang terkait

didalamnya.

Di satu pihak mutu penyelenggaraan pameran ini menguntunkan pihak

peserta/penyelenggara pameran karena menimbulkan asumsi citra yang baik pula pada

produk yang dipamerkan, disamping juga pesan/tujuan yang ingin disampaikan melalui

media pameran dapat lebih komunikatif dan representatif serta menimbulkan kesan

positif pada pengunjung. Di samping itu peserta pameran bisa mendapatkan informasi

balik dari pengunjung sebagai masukan positif untuk lebih meningkatkan kualitas

produknya sesuai dengan kebutuhan dan keinginan konsumen.

(39)

BAB III ANALISA

3.1 Analisa Pemakai Bangunan

Pemakai bangunan atau pihak yang berkompeten dengan gedung pameran hasil

kerajinan keramik Yogyakarta dapat digolongkan sebagai berikut:

A. Peserta pameran

Adalah pihak produsen/pengusaha yang memamerkan produk atau jasa, dapat

diklasifikasikan kedalam beberapa kelompok sebagai berikut:

1. Pemerintah

Yaitu lembaga atau instansi pemerintah daerah, semisal koperasi, kanwil

perdagangan dan perindustrian, dinas pariwisata, ataupun lainnya, yang

memamerkan hasil dan kemajuan yang telah dicapai, khususnya dalam sektor

kerajinan keramik, serta berrujuan menjalin hubungan dengan mitra dagang

dengan pihak swasta, dalam pameran yang bersifat komersial yang edukatif,

komunikatif dan rekreatif. 2. Swasta

Yaitu perusahaan swasta, khususnya dari D.I.Yogyakarta yang memamerkan

hasil kerajinan keramik sebagai upaya memperluas pangsa pasar dan

membuka peluang terjalinnya kontak dagang baik dengan pihak pemerintah

maupun dengan pihak swsta yang lain dalam pameran yang bersifat komersial

yang komunikatif, edukatif dan rekreatif.

B. Pengunjung pameran

Adalah pihak yang mengunjungi dan melihat pameran selaku calon konsumen,

baik dari kalangan pemerintah, swsta, pendidikan, maupun kalangan masyarakat luas

lainnya, dengan maksud mengadakan kontak dagang dengan produsen, pengusaha selaku

peserta pameran, menambah wawasan, ilmu pengetahuan, informasi, temtama yang

berkaitan dengan hasil kerajinan keramik.

C. Penyelenggara pameran

Adalah pihak yang menyelenggarakan pameran, dapat dibedakan sebagai berikut:

(40)

1. Langsung

Dimana penyelenggaraan suatu pameran dilakukan sendiri oleh peserta pameran melalui suatu panitia pelaksana yang khusus dibentuk untuk menangani atau mengums penyelenggaraan pameran tersebut.

2. Tidak langsung

Dimana penyelenggaraan suatu pameran dan segala sesuatu yang terkait didalamnya dilakukan dan dikoordinasi oleh suatu organisasi professional,

biasa disebut dengan Exhibit Organizer, yang bidamng kerjanya khusus

menangani dan mengums penyelenggaraan suatu pameran. D. Pengelola bangunan

Adalah pihak yang bertanggung jawab atas pengelolaan manajemen dan operasional gedung pamerandan informasi di Yogyakarta terdiri atas bagian kerja sebagai

berikut:

1. Direksi

Bertanggung jawab mengelola operasional bangunan secara umum dan

mengendalikan menajemen perusahaan.

2. Administrasi dan keuangan

Bertanggung jawab menangani urusan yang berhubungan dengan administrasi

dan keuangan baik kedalam maupun keluar.

3. Informasi dan pemasaran

Bertanggung jawab menangani urusan yang berhubungan dengan pemasaran,

promosi dan iklan, pencarian dana dan sponsor, serta penyampaian informasi

keberadaan gedung pusat pameran dan pusat informasi kerajinan keramik di Yogyakarta dan kegiatan yang diselenggarakan kepada masyarakat umum

maupun komunitas pengrajin keramik. 4. Teknis dan operasional

Bertanggung jawab menangani urusan yang berhubungan dengan hal-hal yang bersifat teknis (mekanikal-elektrikal) dan operasional (panil, display, dsb)

penyelenggaraan kegiatan, baik utama (pameran) maupun penunjang

(kegiatan produksi dan pelatihan). 5. Pelayanan (service) dan pemeliharaan

(41)

Bertanggung jawab menangani urusan yang berhubungan dengan pelayanan

kepada selumh pengguna bangunan pada umumnya, bempa fasilitas yang memberikan kemudahan dan kenyamanan, serta pemeliharaan sarana dan

fasilitas yang ada.

3.2 Analisa Bentuk Kegiatan

Kegiatan yang ada dapat digolongkan sebagai berikut:

1. Kegiatan produksi

Apa yang dimaksud dengan kegiatan produksi kerajinan keramik disini adalah suatu

mata rantai terjadinya produk kerajinan keramik mulai dari adanya inisiatif sebagai

penanggung jawab kegiatan produksi yang mengatur jalannya kegiatan usaha,

termasuk sistem pengadaan dan pengolahan bahan-bahan, proses pembentukan dan

pengeringan, berikut sistem pembakaran dan pemasarannya. Jadi proses pembuatan

keramik dari awal hingga jadi tidak berlangsung di gedung ini, gedung ini

menampung seluruh hasil kerajinan keramik yang sudah siap dipamerkan/dipasarkan. Segala kegiatan yang berhubungan dengan perihal kerajinan keramik diatur dari sini.

Aturan ini dipemntukkan bagi selumh pengrajin yang menjadi anggota asosiasi

gedung pusat pameran dan pusat informasi kerajinan keramik Yogyakarta.

Untuk kegiatan produksi yangdilakukan dapat dikelompokkan menjadi:

A. Kegiatan ekstren, bempa :

1. Mempromosikan gedung pameran beserta fasilitasnya

2. Mengadakan kerjasama dengan perusahaan-perusahaan terkait, contoh : biro perjalanan,perhotelan, professional exhibit organizer dan Iain-lain.

B. Kegiatan internal

1. Memanagement jalannya kegiatan usaha gedung pusat pameran dan

pusat informasi ini.

2. Mengatur sistem pengadaan dan pengolahan bahan-bahan baku.

3. Mengadakan rapat intern.

4. Memberikan pelayanan informasi pada pemakai bangunan.

5. Menjaga keamanan dan ketertiban di dalam maupun diluar gedung. 6. Menyediakan kesekretariatan sebagai pihak penyelenggara.

(42)

7. Petemuan bempa seminar, meeting, diskusi, ceramah atau sarasehan yang

biasanya berkaitan dengan tema pameran atau pertemuan evaluasi

penyelenggaraan yang sedang berlangsung antara pihak penyelenggara

dengan peserta pameran.

Struktur organisasi pengelola

£

Kabag. Pemasaraniran

Staff Penjualan

Datang

Pimpinan Bagian Produksi |

• sekretariat

Kabag. Informasi

dan Pengembangan

I

Staff Penenmaan Barang

Pekerja/karyawan Kegiatan

Pameran)-,J Penenmaan Barang]-•

^ Persiapan _ - ^ PenyimpananBarang \-: Kegiatan Pengelola

Jumlah pengelola untuk unit produksi adalah :

1. Pimpinan bagian produksi

: 1 orang

2. Sekretaris : 1 orang

3. Staff penerimaan barang

: 2 orang

4. Staff penjualan

: 2 orang

5. Staffpenjagaan

: 4 orang

2. Kegiatan pelatihan

H

Kabag. Administrasi dan Keuangan pergi — T -I Staff Penjagaan * 30

(43)

Untuk mempelajari dan mendalami ilmu seni kerajinan keramik dapat ditempuh disini, mulai dari :

a Penentuan jenis/sample bahan baku yang digunakan

Bahan baku yang digunakan adalah tanah liat dan pasir yang diambil dari sungai/ladu. Tanah liat yang sudah tersedia kemudian dijemur, selanjutnya dipadatkan, pemadatan ini dapat dilakukan dengan menggunakan aiat atau hanya di injak-injak sampai lumat dengan dicampuri bahan dari ladu 2 : 1 yaitu 2 bagian

tanah liat dan 1 bagian ladu dengan sedikit demi sedikit dicampur dengan air tanah. Tanah liat tersebut dilumatkan dengan di injak-injak, kemudian untuk sementara bahan tersebut dilembabkan selama ± 3 s/d 6 jam.

Gambar 3.1

. Tanah liai yang sedang dikeringkan

b Proses pembentukan dengan berbagai motif

Proses pembentukan keramik pada pelatihan ini menggunakan cara tradisional yaitu dengan menggunakan alat-alat yang sederhana, yang terdiri dari meja untuk tempat aiat pemutar, kerok yaitu bahan dari bilah bambo.

(44)

Gambar 3.2

Pembentukan keramik hias. Pembentukan keramik hias.

c Proses pengeringan

Pada tahap selesai pembentukan umumnya keramik tersebut cukup diangin-anginkan saja, bam setelah agak kering dan akan dibakar kemudian keramik tersebut dijemur dibawah sinar matahari langsung. Kliusus untuk barang-barang seni, umumnya cukup diangin-anginkan saja,sampai betul-betul kering. Sebab

(45)

jika tidak dcmikian akan beiakibat fatal yaitu pada waktu dibakar keramik tersebut akan bisa pecah bahkan bisa meledak pada saat pembakaran.

Gambar 33

Cara pengeringan hasil produksi.

Proses pembakaran

Pembakaran barang-barang keramik dapat dipilahkan kedalam dua kelompok : yaitu, pembakaran secara tradisional dengan menggunakan sisa-sisa jerami dan sisa-sisa batang kayu yang telah kering. Dan yang kedua yaitu pembakaran dilakukan didalam tungku dengan menggunakan minyak tanah.

Pembakaran secara tradisional dilakukan disebuah peralatan terbuka dimana keramik-keramik tersebut disusun dan diatur diatas sebuah kohi keramik yang

telah dipersiapkan, kemudian di sela-sela susunan tersebut hams ada lubang-lubang untuk memasukkan bahan bakar yang terletak dibagian paling bawali.

(46)

inenggunakan uwuh, atau kayu-kayu kering yang akan digunakan sebagai media

pembakaran.

Sedangkan pembakaran dengan menggunakan tungku menggunakan minyak

tanah sebagai media pembakaran.

Gambar 3.4

Tungku-pe:-;:akaran yang kurang

dim,w.,:!kjn.

e Proses finishing

Proses finishing ini adalah pemberian corak hias dan warna pada keramik yang

telah selesai dibakar.

Struktur Organisasi Pengelola

Pimpinan Bagian Pelatihan

sekretariat w >r 1 r i r y T ir Staff Pengadaan Bahan Staff Pengolahan Bahan Staff Penyajian Pelatihan Staff Perpustakaan ^ r ^ r i r i r Pekerja/karyawan 34

(47)

Kegiatan pelatihan ini dipemntukkan untuk semua kalangan (masyarakat umum, pelajar, pemerhati, dan Iain-lain). Waktu penyelenggaraan kegiatan pelatihan ini

dilakukan secara intensif selama 1 bulan, yang terdiri dari : 1. Diklat kerajinan keramik

Mempelajari materi-materi dasar tentang kerajinan keramik ; asal usul

kerajinan keramik, jenis-jenis kerajinan keramik yang ada diseluruh dunia,

cara-cara pengolahan dan pemasarannya. 2. Paket 5 in 1 kerajinan keramik

Mempelajari secara tuntas dan praktek langsung cara-cara pembuatan keramik

: penentuan jenis bahan baku yang digunakan, proses pembentukan dengan berbagai motif, proses pengeringan , proses pembakaran dan proses finishing.

Untuk mendukung proses kegiatan pelatihan tersebut maka pusat pelatihan ini dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas pendukung seperti:

• Ruang kelas, untuk 1 kelas 20 orang a Perpustakaan

• Ruang penyimpanan bahan baku

• Ruang studio design

a Ruang untuk proses pengeringan

a Ruang untuk proses pembakaran

Datang

— r ^

> Diklat Kerajinan Keramik

Perpustakaan

Kegiatan Praktek

-> Pengolahan Data

Pergi

} Penyajian Data y

Kegiatan peserta pelatihan

Kegiatan pengelola

Penyampaian Data

(48)

Sistem pelayanan kegiatan pelatihan dilakukan secara :

1. Lisan : kegiatan diklat dan praktek

2. Tulisan : brosur, book let, diagram/gambar, buku 3. Sifat kegiatan : komunikatif, menarik

Jumlah pengelola untuk unit pelatihan ini adalah : 1. Pimpinan bagian pelatihan

2. Sekretaris

3. Staff pengadaan bahan

4. Staff pengelolaan bahan 5. Staff penyajian pelatihan

6. Staff perpustakaan *••!- 'in- ^e e* __~--r-" : 1 orang : 1 orang :2 orang : 3 orang :3 orang :3 orang G ambn r3.5

(49)

3. Kegiatan pameran

Yaitu bempa kegiatan pameran dan promosi hasil kerajinan keramik, yang dapat

diklasifikasikan berdasarkan: A. Materi pameran

1. Pameran umum (general exhibition), diikuti beberapa pengrajin keramik

dengan materi berbagai jenisproduk hasil kerajinan keramik.

2. Pameran tunggal (solo exhibition), diikuti oleh satu pengrajin keramik saja

dengan materi satuatau berbagai jenis produk kerajinan keramik.

3. Pameran khusus (spesifik exhibition), diikuti satu atau berbagai pengrajin keramik dengan materi satu jenis produk kerajinan keramik.

B. Waktu penyelenggaraan 1. Pameran tetap

Dimana waktu penyelenggaraannya menerus dalam jangka waktu yang lama

dan biasanya bersifat tetap, diikuti oleh peserta dari berbagai komunitas pengrajin keramik Yogyakarta dan sekitarnya yang memamerkan hasil

kerajinan keramik. Untuk kegiatan pameran tetap ini diwadahi berbentuk

retail, sehingga kegiatan transaksi dapat langsung terjadi pada kegiatan ini.

2. Pameran berkala

Dimana frekuensi waktu penyelenggaraannya secara berkala/periodik dan biasanya dalam jangka waktu yang relatif singkat, umumnya diikuti oleh peserta yang rutin menyelenggarakan pameran hasil kerajinan keramik pada waktu tertentu dengan pertimbangan tertentu pula minsalnya pemerintah, kalangan pendidikan, dan Iain-lain.

3. Pameran temporer

Dimana waktu penyelenggaraannya tidak rutin dan dalam jangka waktu yang relatif singkat serta biasanya bersifat insidental, umumnya diikuti oleh peserta, baik dari komunitas pengrajin keramik Yogyakarta maupun pengrajin keramik

dari luar karena adanya event tertentu.

Kegiatan pameran ini dilengkapi dengan kegiatan penunjang, merupakan kegiatan yang mendukung ataupun terkait dengan penyelenggaraan pameran, sebagai berikut:

(50)

a Kegiatan seremonial, bempa peresmian, pembukaan, penutupan,

peluncuran produk bam (produk launching), dan Iain-lain)

a Kegiatan

pertemuan,

bempa

seminar,

diskusi

panel,

ceramah,

pertemuan/negoisasi bisnis, dan Iain-lain

Kegiatan pemakai bangunan, mempakan kegiatan yang dilakukan oleh kelompok

pemakaibangunan, sebagai berikut: a Kegiatan peserta

Pada dasarnya melakukan dua macam aktifitas, yaitu aktifitas utama mengikuti pameran hasil kerajinan keramik dan aktifitas lain yang

berkaitan dengan fasilitas penunjang yang ada.

a Kegiatan pengunjung

Pada dasarnya melakukan dua aktifitas, yaitu aktifitas pertama melihat

pameran hasil kerajinan keramik dan aktifitas lam yang berkaitan dengan

fasilitas penunjang yang ada.

Pameran Tetap Pameran Berkala Pameran Temporer Datang ^ Penerimaan Barang —? persiapan penyimpanan barang : Kegiatan Pengunjung Kegiatan Pengelola

Struktur Organisasi Pengelola

Pimpinan Bagian Pameran

Pergi

Sekretariat

Staff Penerimaan Barang

T

(51)

Staff Persiapan

"f

I StaffPameran Tetap 1 IStaffPameran Berkala 1 [ StaffPameran Temporer]

Sistem pelayanan kegiatan pameran ini dilakukan secara :

1. Pameran produk kerajinan

2. Peragaan : proses produksi 3. Audio visual

4. Sifat kegiatan : komunikatif, rekreatifdan menarik. Jumlah pengelola untuk unit kegiatan pameran ini adalah : 1. Pimpinan bagian pameran : 1 orang

2. Sekretaris : 1 orang

3. Staff penerimaan barang : 2 orang

4. Staff persiapan : 3 orang

5. Staff pameran tetap : 3 orang

3.3 Analisa Fungsi Dan Tujuan

Fungsi dan tujuan Gedung Pusat Pameran dan Pusat Informasi Kerajinan Keramik

di Yogyakarta secara umum adalah :

1. Sebagai sarana yang memadai untuk menyelenggarakan suatu pameran hasil kerajinan keramik yang optimal dan profesional sebagai sarana komunikasi (kontak dagang) dua arah timbal balik antara produsen/pengusaha selaku

pengunjung pameran.

2. sebagai sarana untuk menambah wawasan, ilmu pengetahuan, hiburan dan

informasi, temtama yang berkaitan dengan dunia kerajinan keramik.

3.4 Analisa Pola Transisi Kebutuhan Ruang dari Kegiatan Penjualan/Pameran,

Produksi dan Pelatihan

Berdasarkan pola kegiatan dan kebutuhan ruang pada gedung Pusat Pameran dan

Pusat Informasi Kerajinan keramik ini, hubungan ruang-ruang yang ada

mempertimbangkan :

a Kelancaran sirkulasi

a Kenyamanan

Gambar

Gambar 2.1 Sistem peragaan statis
Gambar 2.4 Media tiga Dimensi
Gambar 2.5 Media dua Dimensi
Gambar 2.12 B. Kegiatan Produksi 1 tuU [ ^ p u i t i k a i n2 b»gl*n rtmjjjJplntu rruiuk4 OUd*ng tXJku5cUpur kjcll6r
+6

Referensi

Dokumen terkait

Bahan Makanan Warga Binaan Lembaga Pemasyarakatan Narkotika Kelas IIA Jayapura Tahun Anggaran 2017 , telah menghasilkan perusahan

Metode ini dilakukan dengan menganggap bahwa setiap stasiun hujan dalam suatu daerah mempunyai luas pengaruh tertentu dan luas tersebut merupakan faktor koreksi bagi hujan

Minyak goreng berulang kali atau yang lebih dikenal dengan minyak jelantah adalah minyak limbah yang bisa berasal dari jenis-jenis minyak goreng seperti halnya minyak jagung,

Berdasarkan pada paparan konteks penelitian diatas, maka penelitian ini akan difokuskan pada aspek perilaku kepemimpinan kepala madrasah yang meliputi kegiatan

Aplikasi toko buku dengan katalog buku, yang dimana sering adanya ketidak cocokan persediaan buku yang dijual dengan data buku yang ada pada katalog buku sehingga pembeli merasa

Kepala Madrasah Mengajak Bawahan dalam Meningkatkan Mutu Madrasah di MTsN 1 Tulungagung dan MTsN Bandung Tulungagung ... Implikasi Teoritis

Kita bisa menggunakan mikrofon (jenis transducer yang mengubah energi suara menjadi sinyal listrik) untuk mempelajari sinyal suara dengan memasangnya ke Osiloskop... Aplikasi

yang memiliki komunitas anti narkoba ini/ dimulai dengan kampanye pada bulan februari/ lomba cipta lagu anti narkoba. bulan maret/ lomba nyanyi lagu anti narkoba bulan april//