PEMBUATAN
GRAFT
KOPOLIMER
PTFE-g-DMAA
UNTUK
BAHAN DASAR POLIMER
MEMBRAN
FUEL CELL
Mirzan T. Razzakl,Agus Salimi Sri YadiaP Adjat Sudradjat2,Ambiyah Soeliwarno2 dan Idrus Kadir
IFakultas Sains dan Teknologi, UIN Syarif Hidayatullah
Jl. Ciputat Raya, Jakarta
2Puslitbang Teknologi Isotop dan Radiasi (P3TIR) - BATAN Jl. Raya Cinere Pasar Jumat, Jakarta
ABSTRAK
PEMBUATAN GRAFTKOPOLIMER PTFE-g-DMAA UNTUKBAHANDASARMEMBRANPOLIMER FUEL CELL. Pembuatan graft kopolimer PTFE-g-DMAA telah dilakukan dengan menggunakan teknik irradiasi simultan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan graft kopolimer PTFE-g-DMAA yang bersifat hidrofilik sehingga dapat dipakai sebagai bahan dasar untuk pembuatan membran elektrolit polimer dalam sistemfuel eel/. Film politetrafluoroetilen (PTFE) ditempatkan dalam ampul gelas khusus yang berisi monomer Di-methylacrylamide (DMAA) dan kemudian setelah divakumkan (dibebaskan dari udara) maka ampul itu diiradiasi dengan sinar gamma yang berasal dari isotop Kobalt-60. Didapatkan bahwa proses graft kopolimerisasi itu hanya dapat berlangsung secara berarti bila digunakan pelarut etilasetat atau pelarut aseton. Studi kinetika menunjukkan bahwa laju grafting awal adalah berbanding langsung dengan pangkat 0,55 dari laju dosis dan energi pengaktifan didapatkan sebesar 7,92 kkal/ mol. Persentase penangkapan air meningkat sebanding dengan meningkatnya kadar grafting dan juga distribusi rantai grafting dalam substrat film PTFE menunjukkan bahwa graft kopolimer PTFE-g-DMAA adalah bersifat hidrofilik.
Kata kunci : Kopolimer graft, politetrafluoro etilen (PTFE), dimethylaerylamide (PMAA) ABSTRACT
PREPARATION OF PTFE-g-DMAA GRAFT COPOLYMER FOR POLYMER BASE IN FUEL CELL MEMBRANE. The preparation ofPTFE-g-DMAA copolymer has been done by using an irradiation simultaneous technique. The purpose of the work was to obtain a hydrophilic graft copolymer of PTFE-g-DMAA that can be used as a polimer base for making a polymer membrane electrolytes in a fuel cell system.The polytetrafluoro ethylene (PTFE) film was placed in a special designed glass ampoule that containing Di-methylacrylamide (DMAA) monomer and than it was irradiated under vacuum by gamma rays from a Co-60 source.It was found that the graft copolymerizathn can be only significantly proceeded in the presence of either ethylacetate or acetone as a solvent. The kinetic study show that the initial grafting rate was proportional to 0.55 power of dose rate and the apparent activation energy was found to be 7.92 kcal/mole. The presentage of water up-take was increase linearly with the degree of grafting and also the distribution of grafting chain in the PTFE film substrate suggest that the graft copolymer ofPTFE-g-DMAA was a hydrophilic one.
Key words: Garft copolymer, polytetrafluoro ethylene (PTFE), di-methylacrylamide (DMAA)
PENDAHULUAN
Dalam sistem fuel cell jenis Proton
Exchange Membran Fuel Cell (P EMFC)
terdapat polimer membran yang bersifatelektrolit Polimer membran tersebut memisahkanAnoda dan Katoda. Gas hidrogen berinteraksi dengan anoda menghasilkan elektron dan proton (ion hidrogen) pada anoda. Melalui sirkuit listrik, elektron dialirkan ke katoda menghasilkan arus
listrik, sedangkan proton melalui membran elektrolit masuk ke katoda dan dengan adanya oksigen di katoda akan dihasilkan air ~ 0) dan panas hasil reaksi [1].
Sampai sekarang polimer membran elektrolit yang banyak dipakai adalah jenis fluoropolimer yang mengandung gugus asam sulfonat dengan nama dagang Nation. Banyak
penelitian telah dilakukan dalam upaya menggrafling DMAA padasubstrat PTFE yaitu mendapatkan polimermembranelektrolityang PTFE film dalam larutan DMAA diradiasi lebih baik atau lebih ekonomis [2,3]. Diantaranya secara simultan dengan sinar gamma dari isotop Ballard Advanced Materials telah Kobalt-60. Untuk itu sampel PTFE berukuran mengembangkansuatubahanmembranyangtidak 3,50 cm x 3,50 cm dimasukkan dalam ampul sepenuhnya fluoropolimeryang diharapkan lebih khusus yang seng~a didesain untuk keperluan ini. cocok untuk keperluanfuel cell automotive [2]. Kemudian larutan monomer DMAA yang terlebih W.L. Gore
&
Associates berhasil membuat dahulu di larutkan dalam pelarut etylasetat atau membran komposit yaitu dengan jalan pelarutasetonjugadimasukkankedalamampul mengimpregnasikan(PTFE) ke dalam--Iarutanpolytetrafluoroet!Jyle~~e~~ktrolit/ itu. ~onsentrasi DMAA dalam.pelarut tersebutberkIsar antara 20% sampat dengan 50%.perfluoronated !ulfonic acidJ3]. Baru baru ini, Kandungan oksigen dalam ampul dibuang
Masaru Yosliida [4] berhasil membuat membran dengan teknik vakum beku-cair yaitu ampul dengan cara radiasi grafting sulfonic styrene dibekukan dan dicairkan secara bergantian pada film PTFE berikatan silang. serta oksigen atau udara dalam ampul dibuang
Dalam makalah ini dilaporkan hasil at au ditarik keluar dengan menggunakan penelitian pembuatangraft kopolimer hidrofilik. pompa vakum. Kevakuman dari ampul gelas PTFE-g-DMAA yang dimaksudkan untuk dalam keadaan monomer beku adalah selanjutnya disulfonasi sehingga dapat dipakai mencapai 10-4Torr.
sebagai polimer elektrolit membran untuk Setelah vakum, ampul gelas tersebut
keperluanfuel cell. dibiarkan suhunya mencapai suhu kamar dan
monomer dalam ampul kembali dalam bentuk cairo Selanjutnyaampul diiradiasi dengan sinar gamma dalam irradiator Co-60 dengan dosis radiasi tertentu. Pengukuran dosis dilakukan dengan dosimeter Fricke (larutan ferrosulfat).
Sebagai catatan, oksigen atau udara dalam ampul dapat juga dibuang dengan teknik penjenuhan gas nitrogen.Artinya oksigen atau udara dalam ampul digantikan oleh gas inert nitrogenyangjuga sarna fungsinyayaitu mencegah adanya gangguan oksigen dalam proses grafting atau proses radiasi kopolimerisasi.
Setelah diirradiasi,sample film PTFE dikeluarkan dari ampul, dicuci bersih dengan air dan direndam dalam aquades (air distilasi) selama 5 jam agar supaya sisa monomer dapat terektraksi secara lebih sempurna at au homopolimer yang mungkin melekat pada permukaan sampel film dapat terlepas. Sampel film PTFE tersebut di keringkan dalam vakum selama minimal 12 jam pada suhu kamar dan akhimya ditimbang.
BAHAN DAN CARA KERJA
Polimer Substrat __
/
-
---Polytetrafluoroethylene (PTFE) film
dengan keteb'aian-50_lilll dan specific gravity
2,20 g/cm3 dibeli dari Baluka Industry
Co.Ltd.,Jepang. PTFE film tersebut dipotong potong menjadi sampel dengan ukuran 3,50 em x 3,50 cm. Sampel dicuci bersih dengan air dan deteIjen, dibilas berturut turut dengan air , alkohol dan aquades. Selanjutnya dikeringkan dalam vakum sekurang kurangnya selama 2 jam pada suhu kamar sebelum digunakan sebagai sampel. Monomer
N,N-Dimethylacrylamide (DMAA) cair dalam kemasan botol 500 mL, dibeli dari Kohjin CoJepang dan langsung digunakan tanpa pemurnian lebih lanjut. Pelarut dan bahan kimia lainnya sesuai kebutuhan dengan kualitas murni
(pure analysis) dan digunakan sebagaimana
adanya.
Prosedur Grafting
Pembuatan graft kopolimer
PTFE-g-DMAA dilakukan dengan cara
Perhitungan Persen Grafting
Persen grafting atau banyaknya graft kopolimer yang terbentuk dihitung menurut persamaan berikut.:
w-w
g 0
Persen Grafting (wt.%)
=----
x 100 %w
oDimana Wgdan W0masing-masing adalah berat
sampel sesudah dan sebelum grafting. Pengukuran Daya Serap Air
Sampel yang diketahui beratnya dimasukkan kedalam beker gelas yang berisi aquadest pada suhue kamar claD;direndam selama 24 jam. Setelah diusap dengan kertas saring, sample itu kemudian ditimbang.
Persentase daya serap air selanjutnya dihitung menurut persamaan berikut :
W-W
s g
(wt.%)
= ----
x 100%W
g
Dimana Wg dan Wsmasing-masing adalah
berat sample kering (awal) dan berat sampel basah (sesudah direndam).
Spektrum Infra Merah
Rekaman spektrum infra merah dari sample dilakukan dengan teknik attenuasi refleksi total (Attenuated total reflection) menggunakan instrument JASCO IRA-2 Grating Infrared
Spectrophotometer. Dalam hal ini sampel film
dipotong dalam ukuran 1.0 em x 2.0 em dan dipasang pada muka kristal KRS-5 dan dilapisi bantalan busa yang dibungkus dengan kertas timah. Kemudian susunan itu diapit dalam sampel
holder stainless steel ATR-6. Holder dengan
sample tersebut dipasang pada posisi pengukuran dengan sudut 450 dari sudut sinar dating, kemudian spektrum infra merahnya langsung direkam. Hasil rekaman ini digunakan untuk mengevaluasi distribusi rantai polimer dalam substrat PTFE [7].
HASIL DAN PEMBAHASAN Pemilihan Pelarut
Pada pereobaan pendahuluan, sudah diketahui bahwa grafting DMAA pad PTFE sarna sekali tidak terjadi atau dengan kata lain
graft kopolimer PTFE-g-DMAA tidak terbentuk,
bila radiasi PTFE dalam monomer DMAA
dilakukan tanpa zat pelarut. Oleh karena itu , telah dieoba dan dipilih beberapa pelarut yang tepat sehingga graft kopolimer PTFE-g-DMAA dapat terbentuk dengan kadar grafting yang memadai. Pada Tabell ditunjukkan kadar grafting yang didapat setelah digunakan beberapa maeam pelarut. Diantara pelarut yang digunakan, temyata pelarut etylasetat dan aseton dapat memberikan kadar grafting yang eukup tinggi. Oleh karena itu, kedua pelarut tersebut terutama digunakan dalam mempelajari kinetikagraft kopolomerisasi dari proses pembentukan graft kopolimer
PTFE-g-DMAA.
Tabell. Pengaruh pelarut pada grafting DMAA pada PTFE dengan teknik simultan .
No.Sampel Kadar GraftingPelarut (wt.%) GPT-l Air 0,68 GPT-I-2 Methanol 0,43 GPT-I-3 Ethanol 0,44 GPT-I-4 Methylethylketone0,76 GPT-I-5 Ety lasetat 9,86 zGPT-I-6 Carbontetrachlorida0,34 GPT-I-7 Aseton 6,60
Kondisi grafting (graft kopolimerisasi) adalah : Laju dosis radiasi = 1,50 kGy/jam
Total dosis radiasi =3,0 kGy
Konsentrasi DMAA dalam pelarut =23,1 Vol% Suhu irradiasi 270C
Untuk mengetahui alasan mengapa kadar grafting dalam pelarut etylasetat lebih besar dibandingkan dengan di dalam aseton, maka dilakukan test swelling PTFE dalam kedua pelarut tersebut. Pada Tabel 2, ditunjukkan hasil test swelling tersebut. Ternyata pada seluruh konsentrasi DMAA, kemampuan swelling PTFE jauh lebih besar dalam Pelarut etylasetat dibandingkan dengan dalam pelarut aseton. Hal ini menunjukkan bahwa pelarut etylasetat akan lebih mampu membawa monomer DMAA memprenetrasi susbtrat PTFE sehingga kemungkinan untuk interaksi
grafting atau pembentukan kopolimer akan
lebih besar.
Dari Tabel 2 dapat pula diketahui bahwa
swelling optimal pada konsentrasi an tara
2 4
Waktu iradiasi (jam)
Gambar 2. Pengaruh suhu pada radiasi grafting DMAA ke substrat PTFE.
Kondisi grafting: Laju dosis = 1,10kGy/jam, Konsentrasi DMAA : 23 Vol. % dalam pelarut etylasetat.
Pengaruh Suhu
Pengaruh suhu pada proses pembentukan
graft kopolimer PTPE-g-DMAA ditunjukkan
pada Gambar 2. Kadar grafting meningkat dengan kenaikan suhu. Hal ini menunjukkan bahwa kenaikan suhu berarti dapat meningkatkan difusi monomer dalam substrat PTPE dan juga meningkatkan mobilitas segmen rantai polimer PTFE yangpada gilirannya memberi kesempatan lebih banyak monomer DMAA untuk membentuk rantai graft kopolimer at au
tegraftingnya DMAA pada substrat PTPE.
Dengan demikian bertambah tinggi suhu berarti pula memberi kemungkinan pembentukan rantai
grafting yang lebih banyak.
Tabel2. Kemampuan swelling PTFE dalam berbagai konsentrasi monomer DMAA dalam pelarut etylasetat dan aseton selama 24 jam pada suhu kamar.
Kemampuan swelling Konsentrasi DMAA (wt.%) (vol.%) Etylasetat Aseton 10 0,57 0,39 30 0,77 0,47 50 0,57 0,29 70 0,39 0,20 90 0,19 0,10
itu dalam percobaan lebih lanjut konsentrasi DMAA dalam pelarut ditetapkan sekitar
23 Vol.%.
Pada Gambar 1ditunjukan hubungan antara waktu irradiasi dan kadar graft kopolimer (kadar
grafting) yang didapat dengan menggunakan
pelarut etylasetat dan aseton. Kadar grafting meningkat dengan bertambahnya waktu irradiasi dan pada setiap saat kadar grafting DMAA pada substrat PTPE selalu lebih tinggi bila digunakan pelarut etylasetate. Laju grafting dalam pelarut ethylacetate mencapai 2,25 wt.% dibandingkan dengan dalam aseton yang hanya 0,94 %. Dengan kata lain laju grafting awal dalam pelarut etylasetat mencapai lebih dari dua kali lipat dibandingkan dengan dalam aseton.
15
o 6
2 Waktu iradiasi (jam)
Gambar
1.
Kurva hubungan an tara kadar grafting dan waktu iradiasi.Kondisi grafting: Laju dosis = 1,50 kGy/jam, Konsentrasi DMAA : 23 Vol. % dalam pelarut Etylasetat atau aseton, Suhu iradiasi : 27°C
84
o 3
Pada Gambar 3 ditunjukkan kurva Arrhenius yang digunakan untuk menghitung energi aktivasi. Hubungan antara lajugrafting dengan energi aktivasi dapat dinyatakan dalam persamaan Arrhenius sebagai berikut:
R = A. e-EalRT p
Dimana :
R = Laju grafting,p Ea = Energi aktivasi
R
=
Tetapan gas (1,986 kal/ oK/mol) T = Suhu absolute,10
4.0
o 2 3 4 5
Gambar 3. Arrhenius plot pada radiasi grafting DMAA ke substrat PTFE.
Kondisi grafting: Laju dosis = 1,IOkGy/jam, Konsentrasi DMAA : 23 Vol. % dalam pelarut etylasetat.
Bentuk logarithmic dari persamaan Arrhenius tersebut dapat ditulis menjadi,
In Rp = - Ea/RT
+
In A ataulogRp =-Ea/2,303 R(lIT)
+
2,303 log A Hubungan log R p sebagai ordinat dan Iff sebagai absis akan menghasilkan kurva dengan bentuk garis lurns miring seperti ditunjukkan Gambar 3. Harga energi aktifasi selanjutnya dapat dihitung dari persamaanArrhenius dan didapatkan Ea = 7,92 kkal/mol.Pengaruh Laju Dosis
Pengaruh laju dosis dalam proses radiasi
grafting untuk pembentukan graft kopolimer
PTFE-g-DMAA dapat dilihat pada Gambar 4. Sebagaimana ditunjukkan oleh Gambar 4. kadar
grafting meningkat dengan bertambahnya waktu
irradiasi untuk semua kondisi laju dosis. Peningkatan kadar grafting tersebut cenderung menjadi jenuh dalam waktu irradiasi tertentu. Bertambah besar laju dosis, temyata bertambah cepat terjadinya kejenuhan. Dari Gambar 4 ini harga laju grafting pada setiap laju dosis dapat diketahui yaitu dengan jalan menarik garis singgung pada setiap kurva laju dosis, kemudian
Waktu iradiasi (jam)
Gambar 4. Kurva hubungan an tara kadar grafting dan waktu iradiasi.
Kondisi grafting: Laju dosis = 1,50 kGy/jam, Konsentrasi DMAA : 23 Vol.%dalam pelarut Etylasetat atau aseton, Suhu iradiasi : 27°C menghitung besamya kadar grafting per waktu irradiasi.
Hubungan lajugrafting dengan laju dosis dinyatakan dalam persamaan,
R
p=cP
Dimana : R p= Laju grafting c = Konstanta I = Laju dosis x = Angka ketergantunganLogaritma laju grafting ini akan menghasilkan persamaan garis lurus log R = x log Ip
+
c, sehingga dapat digambarkan dalam skala log-log sebagaimana ditunjukkan Gambar 5. Sebagaimana ditunjukkan Gambar 5 yang merupakan plating log-log dari lajugrafting dan laju dosis, maka ketergantungan
laju grafting terhadap laju dosis dapat segera dihitung yang diwakili oleh harga x. Untuk itu harga x merupakan tangensial dari sudut alfa yang nilainya adalah 0,55. Dengan demikian persamaan yang menyatakan ketergantungan laju grafting dengan laju dosis dapat ditulis menjadi R = c Ip 0,55 •
Artinya laju grafting berbanding langsung dengan laju dosis pangkat 0,55. Baik angka ketergantungan laju grafting
1"0
0.1
0.1 1
--'
10Laju dosis (kGy/jam )
Bilangan gelombang (em-I) Gambar 6. Spektrum IR dari graft kopolimer PTFE-g-DMAA dan substrat PTFE.
Menurut Reikichi Iwamoto dan Koji Ohta [7], rekaman spektrum in:&amerah tersebut dapat dijadikan indikator penting dalam mengevaluasi distribusi rantai grafting, khususnya distribusi
grafting pada permukaan susbtrat polimer. Hal
ini dapat dilakukan dengan mengevaluasi secara kuantitatif perbandingan (ratio) puncak absorpsi -CO dibandingkan dengan puncak absorpsi -CF dari setiap sampel yang mempunyai kadar
grafting berbeda. Sebagaimana ditunjukkan pada
Gambar 7, perbandingan absorpsl -COICF
Gambar 7. Hubungan antara puneak ratio -CO/CF dan kadar grafting pad a graft kopolimer PTFE-g-DMAA. -c.d> 1620 em-1t 50 800 em-l 40 30 20 Kadar grafting (wt%) 1600 1200 10 ) 2000 ,... •••• UI ~
6'
II UI'-'
dengan laju dosis terse but maupun hargaenergi aktivasi yang sudah dihitung sebelumnya, temyata angka-angka tersebut mengindikasikan bahwa proses radiasi grafting pada pembentukangraft kopolimer PTFE-g-DMAA berlangsung mengikuti kaidah mekanisme reaksi radikal bebas dan terminasi reaksi radikal bebas tersebut berlangsung secara reaksi bimolekuler [6].
Distribusi Rantai Grafting
Distribusi rantai grafting dievaluasi dengan melakukan pengamatan rekaman spectrum in:&a merah. Gambar 6 , menunjukkan hasil rekaman spektrum infra merah (IR) dari graft kopolimer PTFE-g-DMAA dan spektrum IR dari substrat PTFE sebagai pembanding. Sebagaimana dapat dilihat pada Gambar 6., graft kopolimer memberikan puncak absorpsi sekitar panjang gelombang 1620 cm-I.
Puncak absorpsi ini mewakili adanya stretching vibrasi dari gugus -C=O yang berasal dari DMAA. Sebaliknya pincak absorpsi pada panjang gelombang sekitar 1190 cm-I adalah
mewakili puncak absorpsi untuk gugus -CF dari substratpolimer PTFE. Hal ini memberi kejelasan bahwa telah teIjadi grafting DMAA pada substrat PTFE sehingga membentuk graft kopolimer PTFE-g-DMAA.
Gambar 5. Log-Iogplot laju grafting dan laju dosis pada radiasi grafting DMAA ke substrat PTFE . Kondisi grafting: Konsentrasi DMAA =23 YO\.% dalam etylasetat, Suhu iradiasi = 27°C.
meningkat dengan kenaikan kadar grafting. Hal ini menunjukkan bahwa distribusi rantai grafting akan lebih merata pada permukaan substrat polimer PTFE.
Temyata hasil evaluasi ini konsisten dengan hasil pengukuran daya serap air maupun hasil pengukuran sudut kontak dari sampel graft kopolimer PTFE-g-DMAA. Oleh karena itu evaluasidistribusirantaigrafting inidapat diterima. Daya Scrap Air
Daya serap air dari graft kopolimer PTFE-g-DMAA ditunjukkan pada Gambar 8. Sebagaiman dapat dilihat pada Gambar 8, daya serap air atau water uptake meningkat secara linear at au berbanding langsung dengan peningkatan kadar grafting. Dalam hal ini dapat pula diketahui bahwa laju dosis tidak banyak berpengaruh pada sisfat daya serap air ini. Artinya daya serap air semata-mata bergantung pada kadar grafiingyang dirnilikinya. Bertambah besar kadar grafting berarti akan memberikan daya serap air yang lebih besar pula. Dengan adanya kemampuan daya serap air ini,jelas bahwa graft kopolimer PTFE-g-DMAA mempunyai sifat hidrofilik.
50
KESIMPULAN
Graft kopolimer PTFE-g-DMAA telah berhasil dibuat dengan teknik radiasi grafting DMAA pada susbtrat PTFE secara simultan. Kinetika grafting telah dipelajari dengan baik dan juga hasil grafting yaitu graft kopolimer PTFE-g-DMAA telah dikarekterisasi.
Didapat kesimpulan bahwa graft
kopolimer PTFE-g-DMAA adalah hidrofilik. Untuk selanjutnya penelitian ini akan diteruskan dengan melakukan sulfonasi terhadap graft kopolimer PTFE-g-DMAA yang selanjutnyaakan diuji penggunaannya sebagai membran elektrolit bagi keperluanfuel cell.
UCAPAN TERIMAKASIH
Penulis mengucapkan terimakasih banyak kepada Kementrian Ristek yang melalui Lembaga Ilmu Pengetahuan (LIPI) telah bersedia menyandang sebagian dana penelitian.Demikian pula terimakasih pada Badan Tenaga Nuklir (BAT AN) dan Universitas Islam Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan kesempatan menggunakan fasilitas irradiasi dan laboratorium.Tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada Konsorsium Fuel Cell Indonesia (KFCI) yang telah memberikan dukungan moril sehingga penelitian ini dapat terlaksana dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA
Gambar 8. Water uptake versus kadar grafting dari graft kopolimer PTFE-g-DMAA.
Kondisigrafting: Konsentrasi DMAA = 23 vol.% dalam pelarut etyl asetat, Laju dosis bervariasi dari 0,10 - 1,50 kGy/jam, Suhu iradiasi = 27°C
/
/A
A/
/
~ ....lJi:A./
/.~
;:j) ~ ..11>:111 . ov;JU . I _ I I ) 10 20 30 Kadar grafting (wt%) 10 1 40 --' 50[1]. ANONYMOUS, Product information, Du Pont Nafion PFSA Membranes, DuPont the miracle of Science, NAE 101 a, Nov.2002. [2]. ANONYMOUS, Fuel Cell Fact Sheet, Environmental and Energy Study Institute, Washington DC, 20001, 202-628-1400, February 2000.
[3]. T.R.RALPH, Proton Exchange Membrane Fuel Cells, Platinum Metals Rev., 41 (3) (1997) 102-113.
[4]. MASARU YOSHIDA, Irradiation of Polymer Materials, Department of
Materials Development, Takasaki
Radiation Chemistry Research
[5]. ACHIAR OEMRY, Technology Fuel Cell, Diskusi interaksif Pemanfaatan Peluang Bisnis Teknologi Fuel Cell di Indonesia, Bandung, 9 November (200 1)
[6]. MIRZAN T.RAZZAK, YONEHO
TABATA, KAZUSHIGE OTSUHATA,
Modification ofNatural Rubber by Different
Grafting Technk;.ues.Rad.Phys. Chern., 42
(1-7) (1993) 57-60
[7]. REIKICHI IWAMOTO and KOJI OHTA,
Applied Spectroscopy, (1984) 38,3,359