• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEDOMAN PERADILAN ADAT DI ACEH UNTUK PERADILAN ADAT YANG ADIL DAN AKUNTABEL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PEDOMAN PERADILAN ADAT DI ACEH UNTUK PERADILAN ADAT YANG ADIL DAN AKUNTABEL"

Copied!
80
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)
(4)

P

EDOMAN

P

ERADILAN

A

DAT

DI

A

CEH

U

NTUK

P

ERADILAN

A

DAT

YANG

A

DIL

DAN

A

KUNTABEL

D

AFTAR

I

SI

D

ISCLAMER

K

ATA

P

ENGANTAR

U

CAPAN

T

ERIMA

K

ASIH

A. P

ENDAHULUAN

B. A

SAS

-A

SASDALAM

P

ERADILAN

A

DAT

C. D

ASAR

H

UKUM

P

ERADILAN

A

DAT

D. B

ADAN

P

ENYELENGGARAAN

P

ERADILAN

A

DATDI

A

CEH

E. T

ANGGUNG

J

AWABDARI

P

ARA

P

EMIMPIN

A

DAT

F. J

ENIS

P

ERKARA

K

EWENANGAN

P

ERADILAN

A

DAT

G. P

ROSES

M

ENYELESAIKAN

P

ERKARA

H. P

UTUSAN

P

ERADILAN

A

DAT DAN

P

ELAKSANAANNYA

I. U

PAYA

B

ANDINGDALAM

P

ERADILAN

A

DAT

J. M

EKANISME

P

ELIMPAHAN

K

ASUS DARI

P

ERADILAN

A

DATKE

P

ERADILAN

F

ORMAL

K. K

ETERLIBATAN

P

EREMPUANDALAM

P

ROSES

P

ERADILAN

P

ERDAMAIAN

A

DAT

D

AFTAR

L

AMPIRAN

... i

... ii

... 1

... 2

... 5

... 7

... 10

... 13

... 15

... 17

... 27

... 29

... 30

... 31

... 32

(5)
(6)

i

DISCLAIMER

“The views expressed in this publication are those of the authors and do not necessarily represent those of the United Nations or UNDP.”

“Sudut pandang yang dikemukakan dalam buku ini adalah sudut pandang dari para penulis dan tidak berarti mewakili pandangan

(7)
(8)

iii

mengamankan negeri dengan adat”

K

ATA

P

ENGANTAR

P

edoman ini menjadi salah satu unsur mengatur kearifan lokal yang mengikat budaya adat Aceh dalam kehidupan hukum adat. Kondisi kerukunan hidup aman dan tentram merupakan bagian dari nilai-nilai keadilan dan kesejahteraan masyarakat adat. Perwujudan nilai-nilai ini, amat tergantung pada fungsi dan peran lembaga-lembaga adat dalam masyarakat Aceh yang tertampung dalam budaya dan struktur kemampuan gampong, mukim, dan lembaga-lembaga adat dalam wilayah masyarakat setempat.

Gambaran pranata adat tersebut, merupakan jiwa masyarakat adat yang masih hidup dan berkembang di Aceh. Pranata adat tersebut, mewajibkan pelaksanaan dan sinkronisasi penerapan hukum adat dalam sistem hukum nasional yang mencakup keanekaragaman hukum. Dalam konteks ini, bagi masyarakat dan Pemerintah Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) hukum adat membuka ruang pelaksanaan dan kedudukan yang istimewa melalui Undang-undang dan Qanun-qanun yang terkait dengan Adat.

Sejalan dengan sifat-sifat hukum tersebut, maka untuk menemukan dan menggali semaksimal mungkin asas-asas hukum adat, Majelis Adat Aceh (MAA) Propinsi NAD, pada tahun 2007, telah melakukan kerjasama penelitian dengan Proyek Keadilan Aceh dari lembaga internasional Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations Development Programme, UNDP). Hasil-hasil penelitian di lapangan, menunjukkan bahwa hukum dan peradilan adat masih hidup, bahkan berlaku dalam mendukung pembangunan asas-asas hukum baru dalam pemerintahan Aceh.

Penelitian ini, disadari masih ada banyak kekurangan, terutama menyangkut aspek-aspek khas dari beberapa kaum etnis masyarakat Aceh yang belum sempat diteliti. Namun, penelitian ini tetap penting karena digunakan dan dikembangkan untuk menjadi dasar-dasar Pedoman ini melalui proses konsultatif antara MAA, para anggota lembaga-lembaga adat Aceh, para anggota LSM-LSM Aceh (baik perempuan maupun laki-laki), dan UNDP. Proses ini pula telah mendorong pemberdayaan lembaga-lembaga adat Aceh.

Oleh karena itu, saya menganjurkan dan menyambut baik penyusunan “Pedoman Umum Peradilan Adat Aceh” yang dilakukan oleh Tim Kerjasama MAA NAD dengan UNDP, dapat disebarluaskan dalam masyarakat. Semoga buku ini dapat mendorong partisipasi masyarakat dalam menggali dan membenahi pembinaan peradilan adat yang efektif, akuntabel, dapat dipercaya dan adil. Khususnya untuk menangani hal yang melibatkan pihak perempuan. Buku pedoman ini juga diharapkan dapat menjadi sumber kajian di dalam perencanaan Qanun-qanun bagi pemerintahan Aceh maupun pemerintahan kabupaten dan kota. Kepada semua pihak, khususnya Tim Peneliti dan pihak UNDP, kami ucapkan terima kasih.

Banda Aceh, 1 Mei 2008 Badruzzaman Ismail, SH, M.Hum

Ketua Majelis Adat Aceh Nanggroe Aceh Darussalam

(9)
(10)

1

U

CAPAN

T

ERIMA

K

ASIH

edoman Peradilan Adat di Aceh adalah sebuah penelitian kerjasama dan proses konsultasi dalam skala yang luas, yang dilaksanakan pada tahun 2007-2008. Majelis Adat Aceh dan UNDP berterima kasih kepada tokoh-tokoh adat yang menjadi narasumber dalam penelitian ini dan semua pihak yang ikut serta di dalam pengembangan pedoman ini. Khususnya, ucapan terima kasih dihaturkan kepada Bapak Badruzzaman dan Tim MAA termasuk Bapak Abdurrahman, Bapak Muhammad Hamzah, Profesor Teuku Djuned, dan Bapak Zulfian atas bimbingan ahli dari beliau-beliau, serta umpan baliknya selama proses tersebut berlangsung. Kami juga berterima kasih kepada Bapak Taqwaddin dari UNSYIAH dan Afridal Darmi dari LBH Banda Aceh yang telah bertindak sebagai fasilitator pada sesi-sesi kerja selama konsultasi dengan para pemimpin adat.

Tim Proyek Keadilan Aceh UNDP, yang dipimpin oleh Ibu Sadaf Lakhani, termasuk Fakri Karim, Faisal Fuady, Ross Clarke dan Mercedes Chavez. Ucapan terima kasih teristimewa juga disampaikan kepada dua ahli peneliti utama – Nurdin Husin dan Arie Brouwer.

Secara khusus terima kasih juga kami haturkan kepada seluruh pimpinan adat dan para pihak yang berpartisipasi di dalam diskusi kelompok fokus dan lokakarya peninjauan ulang. Partisipasi dari para pemimpin adat, perwakilan masyarakat sipil, para ahli Aceh, para ilmuwan dan pejabat yang telah memastikan bahwa latar belakang penelitian yang membentuk landasan bagi pedoman ini. Pedoman ini sendiri mencerminkan konteks dan praktek adat Aceh yang berlangsung saat ini dan juga upaya yang sungguh-sungguh dari para pemimpin adat untuk meningkatkan akses keadilan yang diberikan melalui adat.

Pedoman ini adalah bagian dari proyek Bappenas - UNDP untuk Proyek Keadilan Aceh, yang didanai oleh Program Uni Eropa Dukung Aceh Damai.

(11)

2

T

UJUAN

U

TAMA

edoman ini bertujuan untuk memperlengkapi para tokoh adat dengan keterangan jelas dan menyeluruh yang akan medukung mereka untuk memenuhi perannya sebagai pengurus peradilan berdasarkan sebuah tata cara yang adil, akuntabel, dan efektif. Dengan memberikan satu set standar prosedur minimum, Pedoman ini kemudian bertujuan untuk mempertahankan hak-hak dari pihak-pihak yang bertikai dan mengembangkan pertanggungjawaban dan keadilan yang lebih bermakna dalam penyelenggaraan peradilan adat terhadap kaum perempuan, anak-anak, dan juga laki-laki.

U

NTUK

S

IAPA

?

Pedoman umum ini bertujuan untuk memudahkan para pemangku adat (atau, para pelaksana peradilan adat) dalam melaksanakan tugas penyelenggaraan peradilan adat baik di tingkat Gampong maupun di tingkat mukim. Pedoman ini juga berguna sebagai penyedia keterangan – keterangan untuk bahan-bahan pertimbangan peradilan formal seperti Pengadilan Tinggi, Pengadilan Negeri dan Mahkamah Syariah. Kemudian bagi orang-orang yang ingin mengerti prosedur adat dengan lebih baik, termasuk para anggota masyarakat yang mencari pertolongan dari para tokoh adat, juga organisasi-organisasi dan para pejabat pemerintahan yang terlibat dalam pekerjaan yang berhubungan dengan peradilan di tingkat masyarakat di seluruh propinsi Aceh.

M

ENGAPA

P

EDOMAN INI

P

ENTING

?

Sebagian besar dari masyarakat Aceh mencari dan mendapatkan keadilan melalui pemecahan masalah secara tradisional, secara adat. Akan tetapi, ada penelitian yang dilakukan oleh UNDP yang memperlihatkan bahwa anggota masyarakat seringkali tidak menyadari bagaimana pertikaian-pertikaian itu diselesaikan menurut adat1. Sifat-sifat dasar adat yaitu: mengalir, lisan dan tidak

terstruktur (uncodified) dikaitkan dengan perkembangan hukum di Aceh dan berlakunya sistem hukum formal (Pengadilan Negeri dan mahkamah Syariah) menyebabkan timbulnya berbagai pengertian baik mengenai lembaga adat maupun prosedur umum dari proses penyelesaian perselisihan secara adat. Kondisi tersebut diperparah oleh terjadi kevakuman dan hilangnya kepemimpinan adat yang disebabkan oleh pengungsian dan kematian akibat konflik dan tsunami. Akibat kevakuman dan hilangnya kepemimpinan adat terjadi keterbatasan dalam penyelesaian perselisihan secara adat dan membuahkan perlakuan yang tidak adil terhadap kelompok-kelompok yang tersisihkan dan rentan seperti perempuan, janda korban konflik, orang cacat, orang tua, yatim piatu, anak dan lain-lain.

Pedoman ini diharapkan bisa membahas akibat dan masalah ini dengan menjelaskan peran-peran yang sebenarnya dari para penyelenggara peradilan dan dengan memberikan seperan-perangkat standar prosedural untuk diterapkan pada semua perkara adat. Dengan meningkatkan kesadaran akan standar-standar ini, Pedoman ini berusaha memberikan kejelasan dan keadilan yang lebih baik dalam penyelesaian pertikaian adat untuk keuntungan para penyelenggara peradilan dan anggota masyarakat.

1 referensi UNDP, ‘Access to Justice in Aceh – Making the Transition to Sustainable Peace and

Development in Aceh’, 2006.

A. P

ENDAHULUAN

P

(12)

3

Pedoman umum ini, sangat penting dalam rangka menciptakan keseragaman pemikiran dan tindakan antara para pemangku adat seperti Keuchik, Tuha Peuet, Imeum Meunasah. Hal ini didasarkan pada temuan di lapangan yang menunjukkan bahwa masih ada kegamangan dalam penyelenggaraan peradilan adat, terutama di kalangan pemangku adat generasi sekarang ini. Disamping itu, juga bertujuan agar pedoman yang dibuat dalam bentuk tertulis ini dapat mudah dirujuk saat apapun dibutuhkan, pula dengan mencakup legislasi, para tokoh adat dapat melihat asas-asasnya peradilan adat. Oleh karena itu, pada akhirnya para penyelenggara peradilan adat diwajibkan menerapkan pedoman umum ini sehingga putusan yang mereka tetapkan tidak bertentangan dengan rasa keadilan dan sekaligus tidak bertentangan pula dengan hak asasi manusia.

M

ETODOLOGI

Pedoman Adat ini berdasarkan sebuah analisa dari hukum (legislasi) yang mengatur adat di Aceh dan sebuah penelitian lapangan yang rinci mengenai pelaksanaan peradilan adat yang nyata. Penelitian ini dilakukan di 17 Gampong, 10 kecamatan yang terletak dalam 4 kabupaten, yaitu: Aceh Besar, Aceh Utara, Aceh Tengah dan Aceh Selatan.

Pengumpulan data dilakukan melalui dua cara: (1) Penelitian kepustakaan yaitu dengan menganalisa berbagai bahan bacaan, hasil penelitian terdahulu, dan peraturan perundang-undangan (Qanun-Qanun) yang terkait dengan topik penelitian ini dan (2) Penelitian lapangan, yang datanya diperoleh melalui mewawancarai sejumlah responden yang menggunakan metode diskusi terfokus dan wawancara mendalam secara individu (satu persatu). Yang dipilih sebagai responden untuk penelitian ini adalah para tokoh adat yang terlibat dalam proses persidangan peradilan adat, yaitu Keuchik, Sekretaris Keuchik, Tuha Peuet, Imeum Meunasah, Keujruen Blang, Panglima Laot, dan Pawang Glee serta Peutua Seuneubok.

Materi pedoman ini disusun berdasarkan hasil temuan di lapangan dan lokakarya ilmiah pada tanggal 12 Nopember 2007 di Grand Nanggroe Hotel, Banda Aceh, NAD, yang dihadiri oleh Ketua Majelis Adat Aceh dan para perwakilan tokoh adat dari berbagai lokasi penelitian (Aceh Besar, Aceh Utara, Aceh Tengah dan Aceh Selatan). Kemudian pula dihadiri oleh Pengadilan Negeri dan Kejaksaan Negeri Banda Aceh, Mahkamah Syariah Banda Aceh, Dinas Syariat Islam Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam, perwakilan BRR, United Nations Food and Agricultural Organization (UN-FAO), Oxfam, Aceh Judicial Monitoring Institute (AJMI), International Development Law Organization (IDLO), Akademisi Universitas Syiah Kuala (UNSyiah), Jaringan Komunikasi Masyarakat Adat Aceh (JKMA), Lembaga Bantuan Hukum Aceh (LBH Aceh), dan Mitra Sejati Perempuan Indonesia (MISPI).

Pada 13 Nopember 2007 dilanjutkan dengan diskusi mendalam terbatas kepada para penyelenggara peradilan adat yang berasal dari lokasi penelitian. Dari diskusi tersebut, terungkap sejumlah perihal yang sangat penting yang berhubungan dengan proses penyelenggaraan peradilan adat di tingkat Gampong dan mukim. Perihal-perihal tersebut menjadi asas dan kerangka draf Pedoman ini.

Setelah diskusi tersebut, diselenggarakan sebuah lokakarya yang dilaksanakan pada tanggal 26 februari 2008 untuk memberikan kesempatan pada pihak-pihak yang terkait untuk memberikan masukan ke dalam draf Pedoman. Hal ini menyebabkan perubahan-perubahan penting, termasuk pemakaian bahasa yang disederhanakan dan memastikan bahwa Pedoman ini memang dirancang dengan tepat untuk masyarakat pedesaan.

(13)

4

Setelah itu, sebuah bacaan bersama dilakukan dengan beberapa anggota MAA, sekelompok kecil pemangku adat, dengan beberapa wakil pemangku adat untuk memastikan rancangan pedoman adalah mudah digunakan untuk mengimplementasikan sebuah percontohan awal yang kecil (test cetak). Proses ini memberikan kesempatan untuk mendapatkan umpan balik dari MAA juga beberapa pihak yang bersangkutan, termasuk para pemimpin adat tersebut, untuk kemudian diperhitungkan ke dalam isi dan rancangan terakhir.

Melalui proses ini, setiap usaha telah dilakukan untuk memastikan bahwa Pedoman ini telah dikembangkan dengan cara konsultatif, didorong oleh kebutuhan para tokoh adat, dan diterima oleh pihak-pihak yang terkait, misalnya MAA yang mencerminkan praktek umum secara tepat. Meskipun diakui bahwa penelitian terbatas yang menghasilkan Pedoman ini tidak merangkum kerumitan dan keanekaragaman dari peradilan adat di seluruh NAD, diharapkan dengan mengenali asas-asas dan pelaksanaan-pelaksanaan umum ini, standar minimum dan baku untuk peran dan prosedur dalam peradilan adat dapat dikenali.

K

ETERBATASAN

-K

ETERBATASAN

Penelitian dan hasilnya yang digunakan sebagai asas Pedoman dilaksanakan cenderung meliputi dan fokus pada daerah pesisir pantai NAD. Oleh karena itu, disadari sepenuhnya bahwa pedoman umum ini lebih banyak diwarnai oleh sistem hukum adat masyarakat pesisir Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Namun demikian, dalam banyak hal pedoman tersebut sangat membantu para tokoh adat yang berasal dari luar daerah pesisir Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Hal ini mengingat prinsip-prinsip dasar yang diterapkan dalam peradilan adat adalah sama rata untuk seluruh wilayah Propinsi NAD.

Maka dari itu, Pedoman ini terfokus pada proses atau prosedure peradilan adat dibandingkan pada substansi atau unsur. Meskipun perbedaan-perbedaan dalam proses pasti ada dari satu daerah ke daerah yang lain, Pedoman ini menjelaskan beberapa prinsip umum dan pedoman dasar yang masih relevan di seluruh Nanggroe Aceh Darussalam. Jadi, bukannya mencoba mengatur tindakan para pemimpin adat, akan tetapi Pedoman ini menyatukan seperangkat prinsip-prinsip umum yang bertujuan untuk membangun kepaduan/koherensi dan keadilan yang lebih baik dalam prosedur.

S

TRUKTUR

P

EDOMAN

U

MUM

P

ERADILAN

A

DAT

Pedoman umum di bidang peradilan adat ini menampung sejumlah hal penting misalnya: (1) Asas-Asas dalam Peradilan Adat, (2) Dasar Hukum Peradilan Adat, (3) Badan Penyelenggara Peradilan Adat, (4) Jenis Sengketa dan Prosedur Penyelesaiannya, (5) Teknik Bermusyawarah (mediasi dan negosiasi) dalam Peradilan Adat, (6) Putusan Peradilan Adat dan Pelaksanaannya, dan (7) Mekanisme Pelimpahan Kasus Dari Peradilan Adat Ke Peradilan Formal, (8) Keterlibatan Perempuan Dalam Proses Peradilan Perdamaian Adat.

(14)

5

2 Diperkirakan masih ada beberapa asas lainya yang belum diidentifikasikan ataupun diteliti.

B. A

SAS

-A

SAS

DALAM

P

ERADILAN

A

DAT

TANGGUNG JAWAB/ AKUNTABILITAS TERPERCAYA ATAU AMANAH KESETARAAN DIDEPAN HUKUM/ NON-DISKRIMINASI MUFAKAT KETERBUKAAN UNTUK UMUM JUJUR DAN KOMPETENSI CEPAT DAN TERJANGKAU IKHLAS DAN

SUKARELA PRADUGA TAK BERSALAH KEBERAGAMAN

BERKEADILAN PENYELESAIAN

DAMAI/KERUKUNAN (ULEUE BEK MATE RANTENG EK PATAH)

ASAS

ASAS

sas merupakan tatanan nilai sosial yang menduduki tingkat tertinggi dari berbagai sistem hukum, dan tidak boleh disimpangi oleh sistem hukum manapun juga. Dalam sistem hukum adat Aceh, dikenal sejumlah asas yang pada umumnya dapat diterima oleh berbagai sistem hukum lainnya. Sejauh ini, ada sejumlah asas yang telah dihimpun2 sebagai berikut:

(15)

6

1. Terpercaya atau Amanah (Acceptability)

Peradilan adat dapat dipercayai oleh masyarakat. 2. Tanggung Jawab/Akuntabilitas (Accountability)

Prinsip ini menggarisbawahi pertanggung jawaban dari para pelaksana peradilan adat dalam menyelesaikan perkara tidak hanya ditujukan kepada para pihak, masyarakat dan negara tetapi juga kepada Allah SWT.

3. Kesetaraan di Depan Hukum/Non-diskriminasi (Equality before the law/NonDiscriminaton) Peradilan adat tidak boleh membeda-bedakan jenis kelamin, status sosial ataupun umur. Semua orang mempunyai kedudukan dan hak yang sama dihadapan adat.

4. Cepat, Mudah dan Murah (Accessibillity to all Citizens)

Setiap putusan peradilan Gampong harus dapat dijangkau oleh masyarakat baik yang menyangkut dengan biaya, waktu dan prosedurnya.

5. Ikhlas dan Sukarela (Voluntary nature)

Keadilan adat tidak boleh memaksa para pihak untuk menyelesaikan perkaranya melalui peradilan adat.

6. Penyelesaian damai/ kerukunan (Peaceful Resolution)

Dalam bahasa Aceh, azas ini dikenal dengan ungkapan “Uleue bak mate ranteng ek patah”, tujuan dari peradilan adat adalah untuk menciptakan keseimbangan dan kedamaian dalam masyarakat.

7. Musyawarah/Mufakat (Consensus)

Keputusan yang dibuat dalam peradilan adat berdasarkan hasil musyawarah mufakat yang berlandaskan hukum dari para pelaksana peradilan adat.

8. Keterbukaan untuk Umum (Transparency)

Semua proses peradilan (kecuali untuk kasus-kasus tertentu) baik yang menyangkut pautkan penerimaan pengaduan, pemanggilan saksi, persidangan maupun pengambilan serta pembacaan putusan harus dijalankan secara terbuka.

9. Jujur dan Kompetensi (Competence/Authority)

Seorang pemimpin adat tidak boleh mengambil keuntungan dalam bentuk apapun baik material maupun non material dari penanganan perkara.

10. Keberagaman (Pluralism)

Peradilan adat menghargai keberagaman peraturan hukum yang terdiri dari berbagai sistem hukum adat dan berlaku dalam suatu masyarakat adat tertentu.

11. Praduga Tak Bersalah (Presumption of Innocence)

Hukum adat tidak membenarkan adanya tindakan main hakim sendiri. 12. Berkeadilan (Proportional Justice)

Putusan peradilan adat harus bersifat adil dan diterapkan berpedoman sesuai dengan berdasarkan parahnya perkara dan keadaan ekonomi para pihak.

(16)

7

C. D

ASAR

H

UKUM

P

ERADILAN

A

DAT

DI

A

CEH

3 Istilah yang ditulis dalam diagram ini ataupun istilah lain

elaksanaan peradilan adat yang dewasa ini didukung oleh sejumlah peraturan perundang-undangan. Dengan kata lain, payung hukum pemberdayaan lembaga-lembaga adat dan hukum adat sangat memadai. Di dalam berbagai peraturan perundang-undangan tersebut dinyatakan secara tegas bahwa penguatan hukum adat dan peradilan adat harus dimulai dari Gampong dan Mukim. Adapun badan-badan resmi yang menyelenggarakan peradilan adat yaitu Lembaga Gampong dan Lembaga Mukim.

Di bawah ini adalah hukum-hukum dan peraturan-peraturan utama yang mengatur pelaksanaan adat di Aceh:

1. Undang-Undang No. 44 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Keistimewaan Aceh, Pasal 3 dan 6 menegaskan bahwa:

Daerah diberikan kewenangan untuk menghidupkan adat yang sesuai dengan Syariat Islam. 2. Undang-Undang No. 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh, Bab XIII tentang Lembaga Adat mengatakan bahwa:

Penyelesaian masalah sosial kemasyarakatan secara adat ditempuh melalui Lembaga Adat [Pasal 98, Ayat (2)].

Lembaga-lembaga adat sebagaimana dimaksud di atas meliputi3

Pawang Glee Peutuwa Seuneubok Pawang Glee Peutuwa Seuneubok Majelis Adat Aceh Imeum Mukim Imeum Chiek Haria Peukan Keuchik Tuha Peuet Keujruen Blang Panglima Laot Tuha Lapan Imeum Meunasah Syahbanda

LEMBAGA-LEMBAGA

ADAT

P

(17)

8

3. Peraturan Daerah (Perda) Nomor 7 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Kehidupan Adat menegaskan bahwa:

”Lembaga Adat berfungsi sebagai alat kontrol keamanan, ketentraman, kerukunan dan ketertiban masyarakat.” Tugas lembaga adat adalah:

Menyelesaikan berbagai masalah sosial kemasyarakatan (Pasal 5)

Menjadi Hakim Perdamaian dan diberikan prioritas utama oleh aparat penegak hukum untuk menyelesaikan berbagai kasus (Pasal 6 dan 10)

4. Qanun No. 4 Tahun 2003 tentang Pemerintahan Mukim Dalam Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam memberikan wewenang kepada Mukim untuk:

Memutuskan dan atau menetapkan hukum

Memelihara dan mengembangkan adat

Menyelenggarakan perdamaian adat

Menyelesaikan dan memberikan keputusan-keputusan adat terhadap perselisihan dan pelanggaraan adat

Memberikan kekuatan hukum terhadap sesuatu hal dan pembuktian lainnya menurut adat

Menyelesaikan perkara-perkara yang berhubungan dengan adat dan adat istiadat

5. Qanun No. 5 Tahun 2003 tentang Pemerintahan Gampong Dalam Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam, menegaskan bahwa tugas dan kewajiban pemerintahan Gampong adalah:

Menyelesaikan sengketa adat

Menjaga dan memelihara kelestarian adat dan adat istiadat

Memelihara ketentraman dan ketertiban serta mencegah munculnya perbuatan maksiat dalam masyarakat

Bersama dengan Tuha peuet dan Imum Meunasah menjadi hakim perdamaian. 6. MoU antara Gubernur, Kapolda, dan MAA NO..., 2007

Perlu dicatat bahwa pada saat tulisan ini dipersiapkan, ada draf yang segera dipersiapkan untuk ditindak lanjuti, yaitu MoU antara Gubernur, Kapolda, dan MAA NO..., 2007. Bahkan dalam prakteknya, di beberapa daerah draf tersebut telah dijadikan sebagai pedoman dalam penyelenggaraan peradilan adat.

(18)

9

Dalam kaitannya dengan peradilan adat, draf MoU tersebut menegaskan bahwa, antara lain: (1) Mengakui bahwa lembaga Peradilan Adat sebagai lembaga Peradilan Perdamaian;

(2) Memberikan kesempatan terlebih dahulu kepada peradilan adat untuk menyelesaikan masalah sosial kemasyarakatan, dan jika gagal baru diajukan ke persidangan Mukim;

(3) Ada sengketa perkara yang bukan kewenangan Gampong/Mukim dan oleh karena itu harus diselesaikan oleh lembaga peradilan negara;

(4) Menghendaki adanya tertib administrasi peradilan adat. Perangkat Peradilan Adat/Hakim Perdamaian pada tingkat:

1. Gampong, terdiri atas: a. Keuchik, sebagai ketua;

b. Sekretaris Gampong, sebagai Panitera; c. Imeum Meunasah, sebagai anggota; d. Tuha Peuet, sebagai anggota;

e. Ulama, Tokoh adat/cendikiawan lainnya di Gampong yang bersangkutan (ahli di bidang nya), selain Tuha Peuet Gampong sesuai dengan kebutuhan.

2. Mukim terdiri atas:

a. Imeum Mukim, sebagai ketua; b. Sekretaris Mukim, sebagai Panitera; c. Tuha Peuet Mukim, sebagai anggota;

d. Ulama, tokoh adat/cendikiawan lainnya, selain Tuha Peuet Mukim sesuai dengan kebutuhan.

Dalam keputusan bersama tersebut juga ditegaskan bahwa:

(1) Proses peradilan adat dilakukan menurut mekanisme musyawarah;

(2) Adanya perangkat adat dan sistem administrasi peradilan adat yang tertib dan terdokumentasi; dan

(3) Putusan tersebut sebaiknya tidak diajukan lagi tuntutannya pada lingkungan peradilan formal.

(19)

10

4Istilah lain untuk jabatan yang ditulis didalam diagram ini juga berlaku. 5Kata lain, ex-oficio.

ada umumnya penyelengaraan Peradilan Perdamaian Adat dilakukan oleh Lembaga Gampong dan Mukim. Hal yang sama berlaku untuk seluruh Aceh. Hanya saja, di beberapa daerah tertentu, seperti Aceh Tengah dan Aceh Tamiang, mereka menggunakan istilah lain. Namun, fungsinya tetap yang sama, yaitu sebagai lembaga penyelesaian sengketa atau perkara adat.

D. B

ADAN

P

ENYELENGGARAAN

P

ERADILAN

A

DAT

DI

A

CEH

Para penyelenggara peradilan adat sebagaimana ditulis di atas tidak ditunjuk atau diangkat “secara resmi”, tetapi karena jabatannya sebagai Keuchik, Imeum Meunasah, Tuha Peuet, dan Ulee Jurong maka mereka secara otomatis menjadi para penyelenggara peradilan adat. Mereka “secara resmi5” menjadi penyelenggara peradilan adat justru dipercayai oleh masyarakat. Pada saat

ini, keanggotaan peradilan adat terbatas pada kaum lelaki, tetapi juga harus melibatkan kaum perempuan. Mereka terlibat dalam proses penyelenggaraan peradilan adat melalui jalur Tuha Peuet dimana salah satu unsur Tuha Peuet harus ada wakil dari kaum perempuan.

S

TRUKTUR

DAN

P

ERAN

P

ENYELENGGARA

P

ERADILAN

A

DAT

T

INGKAT

G

AMPONG

4

TUHA PEUET

sebagai Anggota

I

MEUM

M

EUNASAH sebagai Anggota

U

LAMA

,

C

ENDEKIAWAN

,

T

OKOH

A

DAT

,

DSB sebagai Anggota

SEKRETARIS

GAMPONG

sebagai Panitera

ULEE JURONG

sebagai Penerima Laporan awal

ULEE JURONG

sebagai Penerima Laporan awal

K

EUCHIK sebagai Ketua Sidang

P

(20)

11

6 Ulama, tokoh adat/cendikiawan lainnya, selain Tuha Peuet Mukim dan sesuai dengan kebutuhan.

Sementara itu, struktur penyelenggaraan peradilan adat di tingkat mukim dapat digambarkan sebagai berikut:

Badan perlengkapan peradilan adat di tingkat mukim dan mekanisme kerjanya hampir sama dengan tingkat Gampong.

Kasus yang tidak bisa diselesaikan pada tingkat gampong:

Kasus yang terjadi antar Gampong yang berada dalam

juridiksi Mukim Kasus banding

yaitu kasus yang telah

ditangani ditingkat Gampong, namun salah satu pihak merasa tidak puas terhadap putusan tersebut

1)

2)

S

TRUKTUR

DAN

P

ERAN

P

ENYELENGGARAAN

P

ERADILAN

A

DAT

T

INGKAT

M

UKIM

6

IMEUM MUKIM sebagai Ketua Sidang SEKRETARIS MUKIM sebagai Panitera IMEUM CHIEK sebagai Anggota TUHA PEUET MUKIM sebagai Anggota ULAMA, CENDIKIAWAN TOKOH ADAT, LAINNYA sebagai Anggota MAJELIS ADAT MUKIM sebagai Anggota

(21)

12

Peradilan

Adat Mukim

Tiada penyelesaian dan/atau perkara pidana berat

Lembaga

Peradilan

Negara

Hal ini senada dengan yang diperintahkan oleh Perda No. 7, Tahun 2000 bahwa:

Gampong diberi wewenang dalam masa 2 bulan dapat menyelesaikan persengketaan, bila tidak selesai dibawa ke rapat adat Mukim [pasal 11 ayat (2)]

Mukim diberi wewenang untuk menyelesaikan perkara selama 1 (satu) bulan terhitung sejak permohonan banding diajukan [pasal 15 ayat (1)]

Kewenangan Mukim untuk menyelenggarakan peradilan adat juga diperintahkan oleh Qanun No. 4, Tahun 2003 tentang Pemerintahan Mukim dalam Propinsi NAD, yang menegaskan bahwa:

Lembaga Mukim berwenang untuk memutuskan dan atau menetapkan hukum dalam hal adanya persengketaan-persengketaan atau perkara-perkara adat dan hukum adat (Pasal 4, Huruf e);

Majelis Adat Mukim berfungsi sebagai badan yang memelihara dan mengembangkan adat, menyelenggarakan perdamaian adat, menyelesaikan dan memberikan keputusan-keputusan adat terhadap perselisihan-perselisihan dan pelanggaraan adat, memberikan kekuatan hukum terhadap sesuatu hal dan pembuktian lainnya menurut adat [Pasal 12, Ayat (2)]. khususnya yang menyangkut dengan kasus yang diteruskan ke tingkat Mukim, Qanun 5 Tahun 2003 tentang Pemerintahan Desa Dalam Propinsi NAD menegaskan bahwa:

Pihak-pihak yang keberatan terhadap keputusan perdamaian sebagaimana dimaksud pada Pasal 12, Ayat (2), dapat meneruskannya kepada Imeum Mukim dan keputusan Imeum Mukim bersifat akhir dan mengikat [(Pasal 12 ayat (3)];

Peradilan Tingkat Mukim merupakan upaya terakhir untuk mendapatkan keadilan dalam jurisdiksi adat. Perkara-perkara pidana berat atau sengketa-sengketa yang tidak dapat diselesaikan pada tingkat Mukim, akan diselesaikan oleh lembaga Peradilan Negara sesuai dengan ketentuan undang-undang dan peraturan yang berlaku:

(22)

13

E. T

ANGGUNG

J

AWAB

DARI

P

ARA

P

EMIMPIN

A

DAT

Tangung jawab utama dari pemangku adat tersebut adalah : 1. Melaksanakan proses peradilan adat :

Para pemangku adat bertanggung jawab terhadap setiap tahapan peradilan adat, mulai dari menerima laporan, memeriksa duduk persoalan sampai pada tahap rapat persiapan sidang akhir dan sampai dengan pemberian putusan peradilan adat.

2. Memutuskan dengan adil :

Para pemangku adat harus memastikan bahwa setiap keputusan-keputusan yang diambil dari sebuah proses paradilan adat sedapat mungkin memenuhi rasa keadilan para pihak yang bersengketa, dimana keputusan yang diambil berdasarkan hasil proses pembuktian dan musyawarah, bukan berdasarkan kepentingan salah satu pihak yang bersengketa.

erlibat di dalam penyelesaian perkara adalah sebuah tanggung jawab yang besar. Para anggota masyarakat menaruh kepercayaan kepada para pemimpin adat untuk menyelesaikan pertikaian secara adil dan damai. Berikut ini adalah beberapa tanggung jawab para pemangku adat untuk memastikan bahwa prinsip-prinsip dalam peradilan adat dipegang teguh dalam setiap proses penyelesaian sengketa secara adat.

T

melindungi hak para pihak memutuskan dengan adil melaksanakan proses peradilan mencatat proses dan keputusan Mengarsipkan dokumen TANGGUNG JAWAB UTAMA PEMIMPIN ADAT

(23)

14

3. Melindungi hak-hak para pihak yang bersengketa

Para pemangku adat bertanggung jawab terhadap pemenuhan hak-hak para pihak yang bersengketa mulai dari proses menerima laporan, memeriksa duduk persoalan, proses persidangan sampai pada tahap pelaksanaan putusan-putusan di persidangan.

4. Mencatat Proses dan Keputusan Peradilan

Setiap proses dan keputusan-keputusan yang telah diambil harus dicatat secara akurat dalam dokumen administrasi peradilan adat.

5. Mengarsipkan berkas perkara.

Berkas perkara termasuk surat pejanjian yang berisi keputusan-keputusan adat harus disimpan atau diarsipkan secara aman oleh pemangku adat, hal ini penting dilakukan untuk menjamin dan mempelancar proses peradilan bagi kasus-kasus lain serta kasus yang sama terulang kembali, sehingga pemangku adat mempunyai referensi dalam melakukan proses peradilan dan mengambil keputusan-keputusan sengketa adat.

(24)

15

Berdasarkan rancangan konsep MOU antara gubernur, MAA dan Polda NAD bahwa perkara-perkara ringan yang memungkinkan diselesaikan di tingkat komunitas menjadi kewenangan paradilan adat. Di satu sisi pembagian kewenangan peradilan adat untuk perkara-perkara ringan atau sederhana, namun dalam realitasnya penanganan perkara-perkara ini jauh lebih rumit dilakukan. Hal ini karena ada perkara-perkara pada awalnya merupakan perkara ringan, namun pada tahap selanjutnya perkara ini menjadi perkara berat, atau pada awalnya perkara tersebut bersifat perdata misalnya perkara pertikaian batas tanah, dapat saja berkembang menjadi perkara yang bersifat pidana, karena terjadinya tindak kekerasan.

F. K

EWENANGAN

P

ERADILAN

A

DAT

D

I

L

UAR

K

EWENANGAN

P

ERADILAN

A

DAT

Pembunuhan

Perzinahan

Pemerkosaan

Narkoba, ganja dan sejenisnya

Pencurian (berat, eg. Kerbau, kendaraan bermotor dan lain-lain)

Suversif

Penghinaan terhadap pemerintah yang syah (Presiden dan Gubernur)

Kecelakaan lalu lintas berat (kematian)

Penculikan

Khalwat, dan

Perampokan bersenjata

K

EWENANGAN

P

ERADILAN

A

DAT

Batas Tanah

Pelanggaran ketentuan adat dalam bersawah dan pertanian lainnya

Kekerasan dalam rumah tangga yang bukan kategori penganiayaan berat

Perselisihan antar dan dalam keluarga

Pembagian harta warisan

Wasiat

Fitnah

Perkelahian

Pertunangan dan perkawinan

Pencurian

Ternak (ternak makan tanaman dan pelepasan ternak di jalan sehingga dapat mengganggu kelancaran lalu lintas)

Kecelakaan lalu lintas (kecelakaan ringan)

Ketidakseragaman turun ke sawah

eberapa kasus yang menjadi kewenangan peradilan adat (kompetensi) peradilan adat sebagaimana hasil temuan di lapangan dan hasil rapat koordinasi antara MAA dengan lembaga penegak hukum adalah sebagai berikut:

(25)

16

Sebagai hasilnya, sebuah tingkat keluwesan/fleksibilitas diperlukan pada waktu menentukan perkara mana yang sesuai untuk diselesaikan dalam forum yang mana. Secara khusus, pada waktu keselamatan dari pihak yang bertikai terancam lebih sesuai jika melibatkan pihak kepolisian. Hal ini seringkali terjadi ketika pertikaian tersebut merupakan kekerasan atau melibatkan seseorang yang rentan seperti seorang perempuan atau anak-anak. Dalam perkara-perkara seperti ini, pertimbangan khusus harus diberikan terhadap kewenangan seorang pemimpin adat untuk menyelesaikan perkara secara efektif sambil memastikan bahwa hak-hak semua pihak dijunjung. Jika kekhawatiran seperti ini muncul, sudah selayaknya untuk menghubungi pihak kepolisian dan meminta bantuan tambahan.

Lebih lanjut, tanggung jawab-tanggung jawab dari seorang tokoh adalah untuk memastikan bahwa para pihak telah diinformasikan mereka mempunyai pilihan untuk membawa kasusnya ke bidang penyelenggaran peradilan formal (merujuk ke bagian K untuk detail yang lebih rinci). Tokoh adat tersebut juga boleh merujuk para pihak ke Pos bantuan Hukum ataupun LSM-LSM yang sesuai, untuk didampingi.

Untuk kasus kekerasan terhadap perempuan khususnya kekerasan dalam rumah tangga yang bukan penganiayaan berat, jika perempuan menginginkan penyelesaian dengan peradilan adat, maka perlu diupayakan mekanisme perlindungan terhadap korban oleh pemangku adat, sehingga jika upaya damai telah dilakukan dan perempuan/istri telah kembali ke rumah suami/orang tuanya kekerasan terhadap perempuan/istri tidak terulang kembali

(26)

17

G. P

ROSES

M

ENYELESAIKAN

P

ERKARA

ukum adat tidak membedakan antara kasus perdata dan pidana. Namun untuk memudahkan penjelasan prosedur penanganannya, ada pertimbangan-pertimbangan dan prosedur-prosedur yang perlu diterapkan jika kasus pidana sedang ditangani dan diselesaikan. Kasus/perkara pidana yang paling umum jatuh dibawah payung adat adalah pencurian dan kekerasan. Untuk kasus-kasus tersebut, prosedur yang berlaku tercatat dibawah ini. Namun, ada pertimbangan-pertimbangan khusus, terutama jika perempuan dan/atau anak terlibat. Secara umum prosedur penyelesaian sengketa melalui peradilan perdamaian adat dilakukan dengan prosedur dan tahapan-tahapan sebagai berikut:

I. P

ENYELESAIAN

S

ENGKETA

Untuk sengketa perdata, maka para pihak yang merasa dirugikan dapat melakukan hal-hal sebagai berikut:

1. Pelaporan yang dilakukan oleh pihak korban atau kedua belah pihak kepada Kepala Dusun (Kadus) atau kepala lorong atau Peutuwa Jurong tempat dimana peristiwa hukum tersebut terjadi (asas teritorialitas). Namun tidak tertutup kemungkinan laporan tersebut dapat juga langsung ditujukan kepada Keuchik. Adakalanya kepala dusun atau Peutuwa Jurong itu sendiri yang menyelesaikannya, jika kasusnya tidak serius. Namun jika kasus tersebut sangat serius dan rumit serta melibatkan kepentingan umum, maka kepala dusun segera melapor kepada Keuchik; 2. Segera setelah Keuchik menerima laporan dari Kadus atau dari pihak korban, maka

Keuchik membuat rapat internal dengan Sekretaris Keuchik, Kepala Dusun, dan Imeum Meunasah guna menentukan jadwal sidang; Pelaporan tersebut tidak boleh dilakukan di sembarang tempat seperti pasar dan warung kopi, tetapi harus di rumah atau di Meunasah; 3. Sebelum persidangan digelar, Keuchik dan perangkatnya (Sekretaris Keuchik atau Sekretaris

Gampong, Imeum Meunasah dan Para Kadus atau Peutuwa Jurong) melakukan pendekatan terhadap kedua belah pihak. Pendekatan tersebut bertujuan untuk mengetahui duduk

perkara yang sebenarnya dan sekaligus menanyakan kesediaan mereka untuk diselesaikan secara damai. Pada saat pendekatan tersebut, para pelaksana peradilan adat akan menggunakan berbagai metode mediasi dan negosiasi, sehingga kasus itu dapat segera diselesaikan; 4. Pendekatan tidak hanya dilakukan oleh Keuchik dan perangkatnya, tetapi dapat juga dilakukan

oleh orang bijak lainnya. Untuk kasus yang sensitif yang korbannya kaum perempuan atau kaum muda, maka pendekatan biasanya dilakukan oleh istri Keuchik atau tokoh perempuan bijak lainnya;

5. Jika kesepakatan penyelesaian secara damai telah disetujui oleh kedua belah pihak, maka Sekretaris Keuchik akan mengundang secara resmi kedua belah pihak untuk menghadiri persidangan pada hari dan tanggal yang telah ditetapkan;

(27)

18

6. Pada saat persidangan berlangsung, para pihak dapat diwakili oleh walinya atau saudaranya yang lain sebagai juru bicara;

7. Persidangan bersifat resmi dan terbuka yang biasanya digelar di Meunasah atau tempat-tempat lain yang dianggap netral;

8. Forum persidangan terutama posisi/tata letak duduk para pihak dan para pelaksana peradilan adat disusun sedemikian rupa sehingga kelihatannya formil secara adat;

9. Penetapan tempat duduk adalah sebagai berikut: Keuchik, selaku Ketua Sidang, duduk dalam satu deretan dengan Tuha Peuet, Imeum Meunasah, Cendikiawan, Ulama dan Tokoh Adat

Gampong lainnya. Di sebelah kiri Keuchik, agak sedikit ke belakang, duduk Sekretaris Keuchik (sebagai Panitera). Di deretan depan atau di hadapan Keuchik merupakan tempat untuk para pihak atau yang mewakilinya. Sementara itu, para saksi mengambil tempat disayap kiri dan kanan forum persidangan. Di belakang para pihak, duduk sejumlah peserta atau pengunjung sidang yang terdiri dari masyarakat Gampong dan keluarga serta sanak saudara dari para pihak;

T

ATA

L

ETAK

S

IDANG

P

ERADILAN

A

DAT

G

AMPONG

PENGUNJUNG SIDANG

(Masyarakat Setempat dan Sanak Saudara Para Pihak)

SEKRETARIS DESA (Panitera) TUHA PEUET (Anggota Sidang) PARA PIHAK SAKSI ULAMA, CENDIKIAWAN, DAN TOKOH ADAT LAINNYA

(Anggota Sidang) SAKSI IMEUM (Anggota Sidang) K EUCHIK (Ketua Sidang)

(28)

19

10. Persidangan berlangsung dengan penuh khitmad dan Keuchik mempersilahkan para pihak atau yang mewakilinya untuk menyampaikan persoalannya yang kemudian dicatat oleh Panitera (Sekretaris Gampong);

11. Keuchik mempersilahkan para saksi untuk menyampaikan kesaksiannya dan biasanya, jika dirasa perlu, para saksi sebelum menyampaikan kesaksiannya akan diambil sumpah terlebih dahulu;

12. Keuchik memberikan kesempatan kepada Tuha Peuet atau Tuha Lapan menanggapi sekaligus menyampaikan alternatif penyelesaiannya;

13. Keuchik mempersilahkan para ulama, cendekiawan dan tokoh adat lainnya untuk menanggapi dan menyampaikan jalan keluar terhadap kasus tersebut;

14. Keuchik beserta seluruh anggota sidang memusyawarahkan putusan damai apa yang akan diberikan. Jika mereka telah sepakat tentang jenis putusan damai yang akan dijatuhkan, maka Keuchik menanyakan kembali kepada para pihak apakah mereka siap menerima putusan damai tersebut. Jika jawaban mereka adalah menerima putusan itu, maka panitera menulis diktum putusan tersebut yang sering disebut surat perjanjian perdamaian; 15. Apabila salah satu pihak atau kedua belah pihak tidak setuju terhadap putusan perdamaian,

maka para pihak dapat mengajukan ke forum persidangan Mukim. Ketidaksetujuan para pihak terhadap putusan peradilan adat Gampong juga harus dinyatakan dalam surat penetapan putusan dan berdasarkan surat penetapan tersebut kasus itu dapat diajukan ke persidangan Mukim;

16. Keuchik membaca putusan perdamaian dan meminta kepada para pihak untuk menandatangani akta perdamaian serta melaksanakan isi putusan itu dengan sungguh;

17. Putusan tersebut dan salinannya diberikan kepada para pihak, disimpan sebagai arsip baik di kantor Keuchik maupun di kantor Mukim;

18. Setelah putusan disepakati dan diterima oleh para pihak, maka pada pertemuan berikutnya putusan tersebut akan dieksekusi melalui suatu upacara perdamaian:

Kepada salah satu atau kedua belah pihak akan dikenakan sanksi, yang berat ringannya sangat tergantung pada jenis pelanggaran atau pidana adat yang mereka lakukan;

Pelaksanaan (eksekusi) itu dilakukan melalui upacara perdamaian dengan membebankan sesuatu pada para pihak atau pada satu pihak tergantung keputusan (ada hubungan dengan tingkat kesalahan);

Bila semua pihak sudah merasa puas, dengan rumusan penetapan putusan, maka barulah pada hari yang ditetapkan dilakukan eksekusi melalui suatu upacara perdamaian di Meunasah dihadapan umum. Terhadap perkara-perkara yang telah diputuskan dan telah diterima, maka pelaksanaan eksekusi dilakukan di Meunasah di depan umum, atau di tempat lain di rumah atau Mesjid (atas persetujuan bersama).

(29)

20

19. Putusan penyelesaian sengketa itu dicatat dalam sebuah buku induk registrasi kasus yang di dalam buku tersebut memuat hal-hal sebagai berikut:

a) Nomor

b) Tanggal pelaporan dan nama pelapor; c) Jenis kasus

d) Uraian singkat pokok perkara e) Tanggal penyelesaiannya

f) Uraian singkat putusan perdamaian (Merujuk ke Lampiran II Buku Induk Registrasi Kasus)

II. P

ENYELESAIAN

K

ASUS

Y

ANG

B

ERSIFAT

P

IDANA

Prosedur dan kerangka penyelesaian perkara pidana hampir sama dengan prosedur yang dijelaskan di atas. Hanya saja ada beberapa tindakan awal yang harus dilakukan oleh para pelaksana peradilan adat guna menghindari terjadinya sengketa yang lebih berat. Dengan demikian, prosedur penyelesaian kasus yang bersifat pidana biasanya diawali dengan langkah-langkah berikut:

a) Memberi pengamanan secepatnya melalui pemberian perlindungan, kepada kedua belah pihak, dengan jalan berikut ini:

1. Mengamankan pihak pelaku di suatu tempat yang dirahasiakan. Lembaga adat Gampong tidak mengenal rumah tahanan, penjara atau lembaga pemasyarakatan. Biasanya diamankan sementara di rumah keluarga atau rumah Keuchik, atau untuk sementara meninggalkan Gampong, pergi ke tempat lain yang aman dan terlindung.

2. Jika korban perempuan dan anak, maka pemangku adat juga harus memberikan perlindungan pada mereka dengan menempatkan korban di rumah salah satu pemangku adat sampai jangka waktu tertentu hingga perkara tersebut telah ada putusan dengan upaya damai atau korban dipastikan aman untuk pulang ke rumah.

3. Jika laporan perkara diterima berupa kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, maka pemangku adat meminta istri pemangku adat atau tokoh perempuan untuk melakukan penanganan awal perkara.

4. Mengkondusifkan suasana damai, terutama pihak keluarga yang dirugikan; 5. Perangkat Gampong berinisiatif dan proaktif menghubungi berbagai pihak;

6. Siapapun yang melihat/mengetahui/menyaksikan peristiwa pidana tersebut, tertangkap tangan, dapat segera melaporkan/mengadu kepada Keuchik untuk segera mengambil langkah-langkah pengamanan dan penyelesaian. Selanjutnya, pengaduan dapat terjadi atas pelaporan langsung para pihak atau oleh salah satu pihak kepada Keuchik (tidak terikat prosedural waktu dan tempat), tergantung bagaimana kondisi berat atau ringannya pelanggaran. Situasi pelaporan yang demikian dimaksudkan agar dapat diambil tindakan preventif (supaya tidak cepat meluas/berkembang korban). Misalnya, perkelahian,

(30)

21

b) Keuchik bersama perangkat Gampong, langsung melakukan penyelidikan dan penyidikan kepada para pihak, dengan berbagai cara pendekatan, diluar persidangan musyawarah formal. Keuchik harus sudah dapat menemukan prinsip-prinsip keputusan berasaskan “damai” Keuchik atau ‘ureung tuha gampong’ lainnya, seperti Tuha Peuet atau tokoh lain bersama Keuchik, terus mengusut, menyelidiki dan menyidik sesuai dengan kemampuan dan keyakinan yang dimilikinya terhadap sebab-sebab terjadi sengketa pada para pihak dan mencari bukti-bukti kebenaran pada pihak saksi lainnya yang mungkin mengetahui atau melihat proses sengketa tersebut. c) Selama proses penyelesaian tersebut seperti yang tertera pada poin di atas, orang-orang tua dari

keluarga para pihak harus terus berupaya membuat suasana damai dan sejuk terhadap para pihak melalui penyadaran atas segala perbuatan dan tingkah laku yang menyebabkan mereka bersengketa.

d) Membuka sidang penyelesaian di Meunasah. Apabila suasana sejuk dan kondusif telah mampu dipertahankan dan data-data pembuktian sudah lengkap, barulah para pihak, wakil keluarga beserta pihak “ureung-ureung tuha” dibawa ke sidang musyawarah di Meunasah (bila warga se Gampong) atau ke Mesjid (bila sengketa itu melibatkan warga antar Gampong yang berlainan). 1. Jika kasus tersebut merupakan kekerasan terhadap perempuan dan anak atau kasus yang

terkait dengan persoalan rumah tangga, maka persidangan perkara tersebut harus ditutup untuk masyarakat luas.

2. Jika kasus tersebut merupakan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, maka pemangku adat harus memastikan adanya pendamping bagi perempuan dan anak pada proses persidangan.

e) Penyelesaian sengketa dilakukan berdasarkan data/bukti yang telah diinventarisir dalam penjajakan awal dan berdasarkan prinsip perdamaian, sebagai landasan hukum pertama dalam penyelesaian perkara adat. Dalam proses perdamaian ini, diberikan kesempatan kepada masing-masing pihak secara formal dalam persidangan untuk menyatakan penerimaan atau penolakan terhadap proses proses dan hasil perdamaian.

f) Keputusan sidang perdamaian diambil berdasarkan pertimbangan yang matang dan bijak oleh semua anggota majelis peradilan adat agar dapat diterima oleh para pihak untuk

mengembalikan kedamaian dan keseimbangan dalam masyarakat.

g) Eksekusi (atau pelaksanaan) keputusan oleh Keuchik dilakukan dalam suatu upacara yang ditetapkan pada waktu yang telah disetujui bersama. Dalam upacara perdamaian tersebut

disiapkan surat perjanjian yang harus ditandatangani oleh para pihak yang berisikan perjanjian untuk tidak mengulangi lagi perbuatan yang menimbulkan sengketa. Jika kasus tersebut merupakan kekerasan terhadap perempuan dan anak, keputusan harus disertai dengan sebuah perjanjian tertulis yang didalamnya memuat pelaku tidak boleh melakukan kekerasan secara berulang, dan pelaku harus mengikrarkan kalimat tersebut di hadapan majelis adat. h) Pemangku adat harus melakukan pemantauan setelah proses eksekusi, karena setelah upacara damai, perkara dapat saja terjadi secara berulang, sehingga pemangku adat dapat mengambil langkah-langkah lain termasuk mengupayakan rujukan.

(31)

22

III. P

ERKARA

-

PERKARATERHADAP

P

EREMPUANATAU

A

NAK

Proses umum yang dijelaskan di atas dapat diaplikasikan terhadap hampir semua kasus di bawah kewenangan peradilan adat, namun ada perlakuan khusus terhadap kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Perlakuan khusus yang dimaksud adalah adanya upaya dari pemimpin adat agar tersedianya mekanisme perlindungan. Langkah-langkah perlindungan yang terpenting adalah adanya upaya untuk memastikan keselamatan korban mulai dari tahap pelaporan perkara, proses penyidikan dan penyelidikan, sidang peradilan adat sampai pada tahap setelah upaya damai dilakukan, dimana pemangku adat harus melakukan pemantauan terhadap kemungkinan terjadinya kekerasan yang berulang setelah proses damai.

Pada saat pemangku adat tidak mampu memberikan jaminan keselamatan terhadap korban atau adanya ancaman nyawa pada diri korban, maka pemangku adat harus melaporkan perkara tersebut kepada kepolisian untuk memastikan bahwa perlindungan terhadap korban bisa diberikan. Namun jika penyelesaian perkara-perkara kekerasan terhadap perempuan dan anak dapat dilakukan dengan prosedur mekanisme adat, maka keterlibatan perempuan dan anak dalam proses penyelesaian perkara tersebut merupakan suatu keharusan sehingga mereka tidak merasa terancam dan tertekan untuk menerima sebuah keputusan melalui prosedur adat. Namun tentunya keputusan tersebut mesti berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak baik korban ataupun pelaku, yang dituangkan dalam sebuah surat perjanjian damai yang isinya menitik beratkan agar pelaku tidak lagi melakukan tindak kekerasan, jika kekerasan terjadi secara berulang maka pemangku adat harus mengambil langkah-langkah yang dianggap penting dalam memberikan perlindungan pada korban, termasuk melaporkan perkara tersebut ke pihak kepolisian karena mekanisme adat sudah tidak mampu menyelesaikan perkara tersebut.

Pada saat ada pelaporan perkara dimana pihak yang terlibat atau korbannya adalah perempuan, seperti perkelahian antar perempuan atau pertengkaran dan kekerasan dalam rumah tangga maka laporan tersebut dapat saja disampaikan langsung pada istri pemangku adat atau tokoh perempuan setempat, dan mereka harus memberitahukan perkara tersebut pada pemangku adat bahwa penyelesaian awal dilakukan oleh istri pemangku adat atau tokoh perempuan, namun jika langsung dilaporkan pada pemangku adat yang biasanya semua laki-laki, maka pemangku adat harus menyerahkan perkara tersebut kepada istri-istrinya atau tokoh perempuan agar melakukan penanganan awal. Upaya ini menjadi penting karena penanganan awal yang dilakukan oleh perempuan untuk perkara tersebut akan memudahkan dalam proses komunikasi dan akan sangat membantu untuk mengetahui duduk persoalan perkara, dimana pengungkapan persoalan yang bersifat sangat pribadi akan lebih nyaman dilakukan sesama perempuan.

Jika penanganan awal telah dilakukan, namun tidak ada penyelesaian perkara, maka keterlibatan perempuan di dalamnya proses persidangan dan keputusan adat tersebut juga menjadi prioritas. Jika tidak ada perempuan dalam struktur adat, minimal harus ada pendampingan pada perempuan yang menjadi korban pada saat persidangan di lakukan.

(32)

23

IV. T

EKNIS

B

ERMUSYAWARAHDALAM

P

ERADILAN

A

DAT

Meskipun prosedur penanganan perkara-perkara di bawah peradilan adat memberikan kerangka kerja yang penting untuk menyelesaikan pertikaian, ada beberapa ketrampilan tambahan yang diperlukan oleh para pemimpin adat untuk secara efektif bisa memfasilitasi penyelesaian sebuah perkara secara bersama dan damai. Ketrampilan-ketrampilan ini termasuk bermusyawarah, mendengarkan dengan hati-hati, berbicara dengan jelas dan memastikan komunikasi secara efektif di antara semua pihak. Dalam praktek penyelenggaran peradilan perdamaian adat jelas kelihatan bahwa ada sebagian kasus yang tidak sanggup diselesaikan karena kurangnya keahlian bermusyawarah dari para tokoh adat. Oleh karena itu, kemampuan dan keahlian tata bermusyawarah sangat diperlukan untuk menyelesaikan berbagai persoalan kemasyarakatan.

Dua konsep yang dikenal dalam bahasa Inggris yaitu ‘mediation’ (mediasi) dan ‘negotiation’ (negosiasi) dimana kedua-duanya secara khusus berguna. Jika dilaksanakan di seluruh proses peradilan adat, ketrampilan-ketrampilan ini bisa membantu para pemimpin adat untuk menentukan masalah-masalah dalam perkara, mengenali kemungkinan-kemungkinan penyelesaian dan memfasilitasi persetujuan dari semua pihak.

S

KEMA

L

ANGKAH

-L

ANGKAH YANG

D

ILAKUKAN OLEH

P

EMANGKU

A

DAT

D

ALAM

M

ENANGANI

K

ASUS

K

EKERASAN

T

ERHADAP

P

EREMPUAN DAN

A

NAK

:

Menerima laporan perkara Menyerahkan penanganan awal pada perempuan Melindungi perempuan dengan menempatkan pada salah satu rumah pemangku adat jika kasus

tersebut pada tahap kekerasan

Menggali informasi pada kedua belah

pihak dan saksi

Melakukan upaya-upaya lain termasuk rujukan

perkara jika kasus berulang Melakukan pemantauan setelah upaya damai dilakukan Mendamaikan kedua belah pihak setelah ada

kesepakatan dengan surat perjanjian

Melakukan mediasi untuk jalan keluar dan memberitahu hak-hak mereka dalam hukum

(33)

24

Meskipun hal-hal ini adalah konsep-konsep dengan nama-nama asing, sebenarnya mirip sekali dengan bermusyawarah seperti yang diterapkan dalam peradilan adat. Perbedaannya adalah, bahwa mediasi dan negosiasi memberikan pendekatan yang lebih terstruktur dengan langkah-langkah tertentu. Namun, para pemimpin adat harus mempertimbangkan penjelasan berikut ini mengenai mediasi dan negosiasi karena berhubungan erat dengan bermusyawarah. Informasi di bawah menjabarkan konsep-konsep khusus ini dan para pemimpin adat seharusnya mencoba dan memakai strategi-strategi ini pada waktu berkomunikasi dengan pihak-pihak yang bertikai untuk menyelesaikan sebuah perkara.

Penggunaan teknis/tata bermusyawarah (mediasi dan negosiasi) dalam pelaksanaan peradilan adat mempunyai peranan yang sangat penting dan menentukan untuk dapat tidaknya peradilan tersebut diselenggarakan. Kasus serumit apapun punya kemungkinan untuk diselesaikan jika para pelaksana peradilan adat menerapkan teknik mediasi dan negosiasi secara tepat. Bermusyawarah (mediasi) adalah suatu proses dimana mediator dalam hal ini para pelaksana peradilan adat membantu para pihak yang bersengketa untuk dapat menyelesaikan persoalannya dengan hasil yang dapat memuaskan kedua belah pihak.

A . Karakteristik atau Sifat Perantara

Agar keberadaan mediator, atau perantara, dapat diterima maka yang bersangkutan harus mempunyai sifat-sifat berikut:

1. Amanah 2. Jujur

3. Tidak memihak

4. Tidak punya kepentingan pribadi

5. Bertekad untuk menyelesaikan pertikaian yang dapat diterima kedua belah pihak 6. Ramah dan percaya diri

7. Mampu mengendalikan emosi para pihak 8. Mampu memahami kehendak dan aspirasi para pihak

9. Mampu menerjemahkan keinginan pihak yang satu kepada pihak yang lainnya dengan menggunakan bahasa yang santun dan sejuk 10. Mampu melakukan pendekatan yang berunsur agama, sosial, dan psikologi 11. Piawai dalam menggunakan bahasa yang menyejukkan

12. Mampu menggunakan “hadih maja” secara tepat

(34)

25

B . Peran dan Fungsi Mediator

Peran dan fungsi mediator, atau perantara, dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Membantu para pihak untuk menyadari bahwa sengketa bukan sebuah pertarungan untuk dimenangkan, tetapi untuk diselesaikan

2. Menyusun dan mengusulkan alternatif pemecahan masalah

3. Membantu para pihak untuk menganalisis alternatif pemecahan masalah C . Tahapan Pertemuan Mediasi dan Proses yang harus ditempuh:

Tahapan mediasi dapat dibagi dalam tiga tahap yaitu:

Sementara itu proses mediasi yang harus ditempuh adalah: 1. Menjalin hubungan dengan para pihak yang bersengketa.

Dalam rangka menjalin hubungan tersebut, mediator harus:

Membangun kepercayaan para pihak yang bersengketa

Membangun citra diri

Memberikan wawasan dan pemahaman tentang pentingnya penyelesaian sengketa secara damai

2. Mengumpulkan dan menganalisis informasi latar belakang sengketa. Hal ini dapat dilakukan dengan cara:

Mengumpulkan data tentang konflik yang sedang terjadi

Menganalisis konflik 3. Menyusun rencana mediasi.

Hal-hal yang berkaitan dengan rencana mediasi yang harus ditetapkan adalah:

Siapa saja yang terlibat dalam perundingan

Dimana sebaiknya perundingan diselesaikan

Bagaimana pengaturan tempat duduk para peserta perundingan

Bagaimana aturan perundingan ditetapkan

Bagaimana kondisi psikologis para pihak

Tahap 1 Tahap 2 Tahap 3

Pertemuan bersama dalam rangka menciptakan kesepakatan bersama yang telah dicapai

dalam Tahap 1 dan 2. Pertemuan

dengan pihak 2 Pertemuan

(35)

26

4. Membangun kepercayaan.

Dalam hal ini, perantara berusaha mengatasi atau memecahkan masalah yang dapat menghambat jalanya proses mediasi dengan cara:

Mengadakan pertemuan secara terpisah dengan para pihak

Memodifkasikan pesan dalam bahasa yang mudah dimengerti

Membatasi pembicaraan yang sensitif dan dapat menyinggung perasaan pihak lain D . Strategi Pertemuan dengan Para Pihak yang Bersangkutan

Pertemuan dengan para pihak harus dilakukan secara terpisah dan isi pembicaraan bersifat rahasia bagi pihak lain. Tujuan petemuan terpisah itu adalah:

1. Untuk menjalin hubungan lebih intensif dengan para pihak

2. Membangun saling kepercayaan salah satu pihak untuk mengungkapkan kepentingan yang tidak ingin mereka ungkapkan di hadapan mitra rundingnya

3. Memungkinkan mediator untuk mencari informasi tambahan, mengetahui garis dasar dan menyelidiki agenda tersembunyi

4. Membantu mediator dalam memahami motivasi para pihak dan prioritas mereka dan membangun empati serta kepercayaan secara individual

5. Memberikan para pihak waktu dan kesempatan yang cukup untuk menyalurkan emosi kepada mediator tanpa membahayakan kemajuan mediasi

6. Memungkinkan mediator untuk menguji seberapa realistis pilihan-pilihan yang diusulkan

7. Memungkinkan mediator untuk mengarahkan para pihak guna melaksanakan perundingan yang berguna

8. Memungkin mediator dan para pihak untuk mengembangkan dan mempertimbangkan alternatif-alternatif baru

9. Memungkinkan mediator untuk meyakinkan para pihak untuk menerima penyelesaian 10. Menyediakan ruang dan waktu yang memadai kepada para pihak supaya dapat

menyampaikan persoalannya secara pribadi mengenai:

Apa yang sedang terjadi

Apa yang dirasakan

Bagaimana hal ini bisa diselesaikan

Apakah proses mediasi dengan pendekatan sama-sama menang (win-win) bisa membantu.

(36)

27

H. P

UTUSAN

P

ERADILAN

A

DAT

DAN

P

ELAKSANAANNYA

I. P

ELAKSANAAN

S

ANKSI

A

DAT

S

ANGAT

B

ERVARIATIF

Pelaksanaan sanksi adat segera dilakukan setelah putusan disampaikan oleh Keuchik, terutama terhadap sanksi adat yang berupa nasehat, peringatan, dan permintaan maaf. Untuk sanksi ganti rugi pelaksanaan putusannya lebih longgar yaitu tergantung kepada kemampuan ekonomi pelanggar untuk menyediakan ganti rugi tersebut. Demikian pula, dalam hal sanksi adat yang berupa pengusiran dari Gampong, maka pelaksanaannya tidak dilakukan segera setelah putusan tersebut dibacakan, tetapi kepada pelanggar norma adat itu masih diberikan waktu secukupnya untuk bersiap-siap meninggalkan kampung halamannya.

H

UKUMAN

ATAU

S

ANKSI

YANG

T

IDAK

B

ERLAKU

D

ALAM

H

UKUM

A

DAT

*/

B

UKAN

S

ANKSI

A

DAT

Dimandikan dengan air kotor

Ditenggelamkan ke sungai

Dikeroyok/dianiaya

Dicambuk

Dipukuli

H

UKUMAN

ATAU

S

ANKSI

YANG

M

ASIH

B

ERLAKU

D

ALAM

H

UKUM

A

DAT

Nasehat

Peringatan

Minta maaf di depan umum

Ganti rugi

Diusir dari Gampong

Pencabutan gelar adat

Dikucilkan dalam pergaulan

Diboikot

*Karena dianggap bertentangan dengan hak azasi manusia

(HAM), hukum Islam, dan hukum Nasional serta merendahkan harga diri manusia

utusan peradilan adat merupakan hasil musyawarah dalam rangka mencapai kedamaian di antara kedua belah pihak. Oleh karena itu putusannya berupa sanksi mulai dari sanksi yang sangat ringan seperti menasihati sampai pengusiran dari Gampong. Pada saat mencapai suatu keputusan pentinglah digarisbawahi bahwa kedua belah pihak harus menyetujui secara bebas dan mandiri sanksi atau hukuman yang akan diberikan.

(37)

28

II. P

UTUSAN YANG

T

ERTULIS

Dewasa ini ada keinginan kuat dari para penyelenggara peradilan adat bahwa sebaiknya penetapan putusan adat dibuat secara tertulis, karena dengan bentuk tertulis akan menambah bobot putusan itu sendiri. Di samping itu, pemantauan terhadap putusan tersebut akan lebih mudah diawasi. Diharapkan juga agar salinan putusan tersebut disampaikan kepada yang bersangkutan (para pihak), lembaga mukim, dan pihak kepolisian. Hal ini, bertujuan agar supaya mereka mengetahui kalau suatu perkara telah diselesaikan di tingkat peradilan Gampong dan mereka tidak perlu memeriksa kembali, kecuali dalam kasus-kasus tertentu yang memang bukan merupakan kewenangan Gampong. Jika perkara ini di kemudian hari akan dimintakan banding, sebuah keputusan tertulis akan menjadi bukti penting dalam penentuan perkara banding. (Sebuah contoh keputusan tertulis diberikan dalam Lampiran I).

Setelah putusan didokumentasikan, termasuk ditandatangani oleh semua pihak, detail-detail dan data mengenai kasus yang sedang ditangani harus dicatat dalam Buku Induk Registrasi. Detail-detail dan data yang perlu dicatat termasuk: nomor kasus, tanggal pelaporan, nama pelapor, jenis kasus, uraian singkat pokok perkara, tanggal penyelesaiannya (jika ada) dan uraian singkat putusan perdamaian (merujuk pada Lampiran II “Buku Induk Registrasi Kasus).

(38)

29

I. U

PAYA

P

ENYELESAIAN

S

ENGKETA

DI

T

INGKAT

M

UKIM

enyelesaian sengketa di tingkat mukim (Peradilan Adat Mukim) merupakan upaya terakhir bagi para pencari keadilan secara adat. Penyelesaian sengketa ini baru terjadi jika salah satu pihak tidak puas atas putusan yang telah diputuskan oleh peradilan tingkat Gampong. Hal ini seperti yang ditegaskan dalam Qanun No. 4 Tahun 2003 tentang Pemerintahan Mukim dalam Propinsi NAD, bahwa:

Lembaga Mukim berwenang untuk memutuskan dan atau menetapkan hukum dalam hal adanya persengketaan-persengketaan atau perkara-perkara adat dan hukum adat. (Pasal 4, huruf e).

Khususnya yang menyangkut dengan banding ke tingkat mukim, Qanun 5 Tahun 2003tentang Pemerintahan Desa Dalam Propinsi NAD menegaskan bahwa:

Pihak-pihak yang keberatan terhadap keputusan perdamaian sebagaimana dimaksud pada Pasal 12 ayat (2), dapat meneruskannya kepada Imeum Mukim dan keputusan Imeum Mukim bersifat akhir dan mengikat (Pasal 12, ayat 3).

Pengajuan penyelesaian sengketa ke tingkat Mukim oleh para pihak bisa dilakukan setelah putusan tingkat Gampong tidak bisa diterima/tidak disepakati oleh salah satu pihak atau para pihak. Pernyataan tidak dapat menerima putusan peradilan adat tingkat Gampong sebaiknya dibuat dalam bentuk tertulis dan berdasarkan penolakan itulah perkara tersebut dapat diterima ditingkat Mukim.

(39)

30

J. M

EKANISME

P

ELIMPAHAN

K

ASUS

DARI

P

ERADILAN

A

DAT

KE

P

ERADILAN

F

ORMAL

elimpahan kasus tidak hanya dapat dilakukan dari peradilan adat keperadilan formal tetapi juga sebaliknya, yaitu dari peradilan formal ke peradilan adat. Pelimpahan tersebut dapat terjadi karena beberapa hal:

1. Bukan kompetensi dan jurisdiksi adat;

2. Para pihak tidak mau menyelesaikannya melalui peradilan adat; dan 3. Hukum Adat tidak mampu menyelesaikannya;

Kasus-kasus yang bukan kewenangan (kompetensi) peradilan adat meskipun terjadi dalam jurisdiksi adat seperti pembunuhan, perzinahan, pemerkosaan, narkoba, ganja dan sejenisnya, pencurian (berat, eg. Kerbau, kenderaan bermotor dan lain-lain), suversif, penghinaan terhadap pemerintah yang syah (Presiden dan Gubernur), Kecelakaan lalu lintas berat (kematian), Penculikan, dan Perampokan bersenjata, maka dalam hal ini Keuchik segera memberitahukan kepada pihak kepolisian di tingkat kecamatan (polsek). Pemberitahuan tersebut dapat dilakukan secara lisan maupun tulisan.

Dalam hal para pihak tidak mau menyelesaikan perkaranya melalui peradilan adat Gampong, maka yang bersangkutan dapat membawa kasusnya ke pengadilan formal yang diikuti oleh surat keterangan pelepasan kasus dari Keuchik. Surat keterangan pelepasan kasus tersebut sangat penting sebagai dasar bagi peradilan formal untuk memeriksa kasus tersebut. Hal ini sesuai dengan perintah Perda No. 7 Tahun 2000 yang menegaskan bahwa: Aparat penegak hukum memberi kesempatan terlebih dahulu kepada Keuchik dan untuk menyelesaikan sengketa-sengketa/perselisihan di Gampong/Mukim masing-masing (Pasal 10).

Jika peradilan adat baik di tingkat Gampong dan mukim merasa bahwa ada perkara pidana berat yang tidak mungkin mereka selesaikan maka akan diselesaikan oleh lembaga peradilan negara sesuai dengan ketentuan undang-undang dan peraturan yang berlaku. (Pasal 1, draft MoU Tahun 2007).

(40)

31

K. K

ETERLIBATAN

P

EREMPUAN

DALAM

P

ROSES

P

ERADILAN

P

ERDAMAIAN

A

DAT

asa kini, kaum perempuan jarang dilibatkan dalam proses peradilan perdamaian adat karena beberapa pertimbangan yaitu: (1) Peradilan adat sering dilakukan pada malam hari dan menurut pandangan masyarakat perempuan tidak etis berada di luar rumah pada malam hari. (2) Perempuan kurang tegas dan tegar dalam menangani perkara. Namun hal tersebut tidak berarti bahwa perempuan tidak pernah dilibatkan dalam proses peradilan perdamaian adat. Tetapi justru mereka mempunyai peranan yang sangat penting dalam proses penyelenggaraan peradilan adat. Meskipun secara formal keberadaannya sebagai perangkat adat (informal justice providers) tidak terdapat dalam struktur pemerintahan Gampong, namun jasa mereka sering dipergunakan oleh Keuchik atau Tuha Peuet untuk bertindak sebagai mediator dalam menyelesaikan berbagai kasus terutama kasus kekerasan dalam rumah tangga.

Dalam workshop dua hari dengan para tokoh adat terungkap bahwa mulai saat ini tidak ada alasan lagi perempuan tidak dilibatkan dalam proses peradilan perdamaian adat dan bahkan keterwakilan mereka dalam Tuha Peuet wajib ada.

Peradilan adat tidak boleh diskriminatif. Artinya semua orang, apakah kaya, miskin, laki-laki atau perempuan mempunyai kedudukan yang sama di depan hukum adat. Dalam praktiknya, jika perempuan mempunyai persoalan hukum maka ia atau yang mewakilinya dapat secara langsung melaporkan kepada Keuchik atau peutua jurong. Kemudian Keuchik beserta perangkatnya akan segera menyelesaikan kasus tersebut. Semua kasus akan diselesaikan dengan tanpa melihat siapa pelakunya (laki-laki atau perempuan).

Referensi

Dokumen terkait