Hasil evaluasi
Pelaksanaan ujicoba
SIM ONLINE P2KP
24 Januari 2005
Oleh : TA MONEV KMP Bagoes JoetartoEVALUASI HASIL PELAKSANAAN UJI COBA SIM ON LNE P2KP 24 JANUARI 2005 Oleh : TA MONEV KMP – Bagoes Joetarto
I. KUALITAS DATA HASIL UJI COBA SIM STATUS 24 Januari 2005.
Dari hasil uji coba SIM on line pada tanggal 24 Januari 2005, dari data yang telah diinput, secara umum dapat disimpulkan “belum tersedianya data yang cukup
lengkap” untuk melakukan entry data yang disebabkan antara lain oleh :
• Data lapangan belum direkam secara lengkap pada lembar entry.
• Penentuan lokasi/kelurahan yang akan dientry terlalu mendesak dan terdapat beberapa lokasi kelurahan yang cukup jauh, sehingga kelengkapan data entry menjadi kendala.
• Pemberitahuan dari KMW ke Tim Fasilitator yang akan dijadikan uji coba terlambat disampaikan (KMW-4) pemberitahuan ke Tim Fasilitator baru pada hari Senin (saat uji coba dilakukan).
II. RASIONALISASI DATA HASIL UJI COBA SIM.
Dari hasil input data yang telah dilakukan, sebagai dampak tidak cukup lengkapnya
data yang akan di entry, menyebabkan beberapa hasil pelaksanaan yang secara
rasionalitas perlu penjelasan lebih lanjut, diantaranya :
a. Hasil Pelaksanaan Rembug/Pertemuan Warga dalam rangka persiapan pemilihan utusan.
Input data terhadap proses pelaksanaan persiapan pemilihan utusan di masyarakat , memberikan gambaran terhapad proses pelaksanaan kegiatan sebagai berikut :
• Pemahaman masyarakat Kelurahan/Desa terhadap tujuan pelaksanaan kegiatan pembentukan BKM.
Pada beberapa kelurahan/desa persiapan pelaksanaan dalam upaya memberikan pemahaman kepada masyarakat terhadap tujuan pembentukan BKM belum
cukup optimal bahkan cenderung diragukan, hal ini disebabkan minimnya
kegiatan sosialisasi/pertemuan warga untuk membicarakan maksud, tujuan serta langkah-langkah persiapan yang harus dilakukan sebelum masyarakat melaksanakan pemilihan utusan, hal ini membawa dampak masyarakat hanya akan sekedar melaksanakan proses pemilihan orang tanpa mengetahui maksud dan tujuannya.
Kecenderungan ini dapat dilihat dari adanya sebagaian kelurahan/desa yang relatif sedikit melakukan pertemuan warga dalam persiapan pemilihan/pembentukan BKM, dari data terdapat 11 Kelurahan yang melakukan pertemuan warga dibawah jumlah Rt/Rw yang ada dikelurahan tersebut. (dibawah 10 kegiatan lihat lampiran 1/tabel pertemuan warga).
• Partisipasi Masyarat Kelurahan/Desa
Pertemuan-pertemuan warga dalam upaya persiapan pembentukan BKM diharapkan melibatkan masyarakat secara luas dalam kegiatannya, sehingga keberadaan BKM menjadi organisasi masyarakat warga, pada beberapa kelurahan keterlibatan warga sangat sedikit (cenderung eksklusif) dan cenderung terjadinya shortcut dalam arti mempersingkat waktu pelaksanaan persiapan, dimana persiapan pelaksanaan (perumusan tatatertib dan draft AD-BKM) kemungkinan besar hanya dipersiapan oleh panitia pendirian BKM tanpa melibatkan masyarakat untuk mendiskusikan hal tersebut, sebagai dampak dari hal ini (apabila benar terjadi), memungkinkan masyarakat tidak merasa memiliki dan tidak membutuhkan adanya BKM.
Kecenderungan ini dapat dilihat dari adanya sebagaian kelurahan/desa (3 kelurahan/desa yaitu Desa Dasan Griya Kab. Lombak Barat, Ampenan Tengah di Kota Mataram serta Desa Watulondo Kota Kendari) yang relatif sedikit masyarakat dilibatkan pada setiap pertemuan. (dibawah 15 orang disetiap pertemuan, lihat lampiran 1/tabel pertemuan warga)
• Partisipasi Perempuan.
Pada beberapa kelurahan/Desa yang dalam pelaksanaan pertemuan, strategi pelaksanaan tidak cukup memberi ruang dan waktu kepada perempuan untuk secara optimal terlibat dalam proses tersebut, hal ini terjadi pada 4 Kelurahan/Desa yaitu : Desa ungga Kab. Lomok Tengah (12%), Desa Nungga Kota Bima (5%), Desa Rontu (14%) dan desa Watulondo- Kota Kendari (20%),
b. Hasil Pelaksanaan Rembug/Pertemuan Warga dalam rangka persiapan
pemilihan utusan.
Input data terhadap proses pelaksanaan pemilihan utusan tingkat Rt , memberikan gambaran terhadap proses pelaksanaan kegiatan sebagai berikut :
• Partisipasi dan Keterwakilan masyarakat untuk memilih dan dipilih sebagai Utusan Rt
BKM sebagai organisasi masyarakat warga, harusnya merupakan representatisi dari masyarakat kelurahan/desa tersebut, sehingga semua masyarakat desa/kelurahan (khususnya penduduk dewasa) memiliki kesempatan yang sama untuk melakukan pemilihan dan dipilih sebagai utusan tingkat Rt yang akan memilih anggota BKM ditingkat kelurahan.
Dari hasil data yang diinput (dengan segala ketidak lengkapan data entry) dapat dilihat pada beberapa kelurahan terjadi kecenderungan adanya shortcut atau tidak dilibatkankanya masyarakat seara luas untuk melakukan proses pemilihan utusan, indikasi yang terlihat bahwa pelaksanaan (dimungkinkan) dilakukan pada tingkat RW/dusun bukan pada tingkat grassrout/Rt dan kecenderungan yang lebih buruk lagi pelaksanaan dilakukan hanya pada beberapa Rt tertentu saja. Apabila kecenderungan ini terjadi sangat dimungkinkan BKM kedepan bukan lagi menjadi organisasi masyarakat warga tetapi menjadi milik dari sekelompok orang yang ada
di Kelurahan/desa, sehingga BKM yang terbentuk tidak cukup layak untuk mewakili masyarakat kelurahan/desa tersebut.
Kecenderungan ini dapat dilihat dari adanya sebagaian kelurahan/desa yang (ada kecenderungan) melakukan Shortcut pada proses pemilihan utusan Rt, dari data terdapat 5 Kelurahan yang melakukan pemilihan pada rt-rt tertentu (dibawah jumlah Rt yang ada, lihat lampiran 2/tabel seleksi utusan masyarakat)
• Utusan Yang terpilih ditingkat Rt
Pada pelaksanaan pemilihan di tingkat Rt, masyarakat akan memilih orang (sesuai nilai-nilai universal kemanuasiaan) sebagai utusan masyarakat untuk melakukan pemilihan anggota BKM di tingkat Kelurahan/Desa.
Dari hasil data yang diinput terlihat masih banyak data yang tidak rasional mengingat jumlah utusan yang terpilih ditingkat Rt relatif sangat sedikit, data ini perlu diperbaiki dan di klarifikasi oleh Ass Mandat di KMW.
• Partisipasi Perempuan.
Pada beberapa kelurahan/Desa yang dalam pelaksanaan pemilihan tk Rt, strategi pelaksanaan yang dilakukan oleh para KMW dalam upaya melibatkan partisipasi Perempuan untuk melaksanakan haknya cukup baik, mengingat lebih dari 60% (dari data yang diinput) peserta pemilih adalah perempuan, data ini masih belum menunjukan korelasi terhadap jumlah utusan perempuan yang terpilih, mengingat data utusan terpilih masih perlu diklarifikasi ulang.
Namun demikina dari data yang ada ada kecenderungan pelaksanaan pemilihan utusan tingkat Rt dilakukan pada siang hari dan pada hari kerja effektif, sehingga perempuan (yang pada umumnya tidak bekerja pada bidang formal) dapat mengikuti pelaksanaan tersebut dan kaum Laki-laki lebih banyak yang melaksanakan aktifitas kerja sehingga reltif sedikit dibanding peserta dari unsur Perempuan.
c. Hasil Pelaksanaan Pemilihan anggota BKM.
Input data terhadap proses pelaksanaan pemilihan anggota BKM tingkat Kelurahan/Desa , memberikan gambaran terhadap proses pelaksanaan kegiatan sebagai berikut :
• Tingkat Kerelawanan Para Utusan RT terseleksi untuk melakukan pemilihan Anggota BKM.
Para utusan terpilih ditingkat Rt adalah pribadi-pribadi yang terseleksi berdarkan kriteria nilai-nilai universal kemanusiaan (jujur, relawan, ikhlas dsb), sebagai utusan terseleksi, maka para utusan ini mendapat amanah dan mandat dari masyarakat untuk melakukan pemilihan anggota BKM antar utusan terseleksi,
sehingga seharusnya para utusan melakukan amanah tersebut untuk kepentingan masyarakat kelurahan dalam membentuk BKM.
Tingkat kerelawanan para utusan ini dapat dilihat dari tingkat kehadiran mereka dalam melaksanakan proses pemilihan anggota BKM di Kelurahan, hasil ini belum dapat dilihat mengingat data jumlah utusan terseleksi ditingkat RT masih belum lengkap dan memerlukan klarifikasi dari KMW.
• Partisipasi Perempuan.
Pada beberapa kelurahan/Desa hasil pemilihan anggota BKM menunjukan indikasi, bahwa keberadaan perempuan dalam keanggotaan cenderung sebagai pelengkap saja, mengingat jumlah perempuan terpilih menjadi anggota BKM relatif sangat sedikit , kecuali di daerah Desa Kampung Jawa Kota Tomohon dan di desa Watulondo Kota Kendari, peran perempuan dalam keanggotaan BKM cukup signifkan.
Kecenderungan perempuan sangat sedikit terpilih menjadi anggota BKM dapat disebabkan oleh faktor budaya (alibi pada umumnya) atau tidak optimalnya partisipasi perempuan dilibatkan pada proses-proses sebelum pemilihan/pembentukan BKM (misal : dalam keanggotaaan sebagai Panitia, sebagai relawan, sebagai tim PS dsb) , hal ini menjadi bahan pertimbangan KMW pada kelurahan/desa yang belum melaksanakan proses pembentukan BKM agar peran Perempuan dalam pelaksanaan kegiatan tidak hanya sebagai peserta tetapi juga dilibatkan dalam hal-hal lainnya yang lebih terwujudnya partisipasi aktif perempuan dalam setiap kegiatan.
II. KETERLIBATAN PELAKU ( TA MONEV REGIONAL dan KMW).
Pada uji coba Sim on line ini peran TA Monev baik di KMW maupun di Regional pada umumnya melakukan validasi dan rasionalisasi terhadap data yang telah diinput oleh Tim Fasilitator, peran ini secara mum telah maksimal dilakukan oleh semua TA Monev di KMW maupun di Regional, namun demikina terdapat 1 TA Monev KMW (KMW-4) yang tidak dapat secara optimal melakukan peran tersebut disebabkan informasi pelaksanaan uji coba baru diketahui pada hari/saat uji coba.
Dari hasil unjuk kinerja terdapat beberapa hal yang belum dilakukan secara optimal, khususnya terkait dengan Validasi Data, hal ini disebabkan
• Para TA Monev KMW melakukan validasi data setelah data terinput secara on line oleh Tim fasilitator, seharusnya validasi dilakukan pada lembar sehingga data yang masuk telah melalui proses Validasi data.
• Disamping itu validasi yang dilakukan kurang optimal mengingat kelengkapan data yang masih kurang diinput oleh Tim Fasilitator, seharusnya Korkot dan Ass mandat melakukan klarifikasi dan mengecek kelengkapan data yang ada disetiap Fasilitator sebelum melakukan entry data.
Tingkat partisipasi para TA Monev dalam melakukan Validasi dan Kajian Rasionalitas dapat dilihat pada tabel berikut :
Kegiatan No. TA Monev
Validasi Analisis Data Koordinasi KETERLIBATAN
1. TA Monev Regional 4 Kalimantan YA PROSES DILAKUKAN AKTIF 2. TA MONEV KMW-1 YA PROSES DILAKUKAN PASIP 3. TA MONEV KMW-2 YA PROSES DILAKUKAN AKTIF 4. TA MONEV KMW-3 PERGANTIAN TA MONEV.
5. TA MONEV KMW-4 YA PROSES DILAKUKAN PASIP
6. TA MONEV REGIONAL 5 SULAWESI YA PROSES DILAKUKAN AKTIF 7. TA MONEV KMW-5 YA PROSES DILAKUKAN PASIP
8. TA MONEV KMW-6 YA SELESAI DILAKUKAN AKTIF
9. TA MONEV KMW-7 YA PROSES DILAKUKAN AKTIF 10. TA MONEV KMW-8 YA PROSES DILAKUKAN AKTIF 11. TA MONEV KMW-9 YA PROSES DILAKUKAN PASIP 12. TA MONEV REGIONAL 3 Surabaya YA PROSES DILAKUKAN PASIP 13. TA MONEV KMW-10 YA PROSES DILAKUKAN PASIP
Catatan :
1. Para TA Monev Regional tidak dibebankan melakukan kajian terhadap capaian indikator performance pelaksanaan mengingat data dasar kelurahan (jml penduduk, jumlah Rt dsb) tidak dimiliki
2. Para TA Monev KMW melakukan kajian terhadap capaian indikator yang akan diserahkan kepada TA Monev KMP (tembusan je Regional) paling lambat tanggal 27 Januari 2005 via E-Mail
Jakarta 25 Januari 2005
Bagoes Joetarto AP Monev - KMP