TINJAUAN PUSTAKA
Potensi Ampas Kelapa sebagai Pakan Ternak
Kelapa (Cocos nucifera Lin) adalah komoditas sosial yang mudah tumbuh di daerah tropis dan merupakan tanaman yang penting dan melibatkan jutaan masyarakat tani di negara - negara Asia Pasifik. Pertanaman kelapa di Indonesia mencapai luas 3.759.397 ha. Sekitar 92,40% diantaranya berupa kelapa dalam yang diusahakan sebagai perkebunan rakyat, sedangkan kelapa hibrida baru sekitar 4%. Oleh karena itu Indonesia disebut sebagai negara produsen kelapa kedua setelah Philipina, tentu dilihat dari segi total areal maupun potensi produksinya (Putri, 2010).
Kelapa (Cocos nucifera L.) termasuk dalam genus Cocos dan dapat tumbuh dengan mudah di daerah tropis. Tanaman kelapa banyak ditemukan di daerah pantai karena memerlukan kelembaban yang tinggi. Buah kelapa berbentuk bulat panjang dengan ukuran kurang lebih sebesar kepala manusia (Tekpan, 2006). Komposisi buah kelapa terdiri dari sabut 30%, air 25%, daging buah 30% dan tempurung 15% (Suhardiman, 1999).
Gambar 1. Komposisi buah kelapa
Ampas kelapa merupakan hasil samping pembuatan santan, daging buah kelapa yang diolah menjadi minyak kelapa dari pengolahan cara basah akan
diperoleh hasil samping ampas kelapa (Putri, 2010). Dengan cara perasan, diperoleh santan sedikit lebih daripada 50% berat daging buah kelapa parutan mula-mula (Suhardikono, 1995).
Gambar 2. Alur perolehan ampas kelapa (Putri, 2010)
Gambar 3. Buah kelapa
Untuk pengolahan minyak kelapa cara basah, dari 100 butir kelapa diperoleh ampas 19,50 kg. Ampas kelapa dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan tepung. Tepung ampas kelapa adalah tepung yang diperoleh dengan cara menghaluskan daging ampas kelapa (Yulvianti et al., 2015).
Parutan daging buah kelapa
Ditambah air
Diperas hingga keluar santan
Hasil analisa yang dilakukan oleh Miskiyah et al. (2006), menunjukkan bahwa terjadi peningkatan kadar protein ampas kelapa setelah fermentasi dari 11,35% menjadi 26,09% atau sebesar 130% dan penurunan kadar lemak sebesar 11,39%. Kecernaan bahan kering dan bahan organik meningkat masing-masing dari 78,99% dan 98,19% menjadi 95,1% dan 98,82%.
Ampas kelapa mempunyai kandungan protein kasar 4,89% dan serat kasar 28,72%, selulosa, hemiselulosa dan lignin yang merupakan fraksi utama dari
dinding sel tanaman dan tergolong ke dalam senyawa polisakarida (Hidayati, 2011).
Karakteristik dan Potensi Ternak Kelinci
Kelinci mulai dikenal sebagai ternak alternatif penghasil daging karena keunggulan reproduksi yang tinggi, pertumbuhan yang baik dan mampu beradaptasi dengan pakan lokal. Selain itu, kualitas daging yang dicerminkan dengan kandungan nutrisi seperti protein yang tinggi dengan kandungan lemak dan kolesterol rendah menjadikan daging kelinci sebagai daging sehat. Hal ini mendorong perkembangan ternak kelinci menjadi ternak penghasil daging di beberapa daerah sentra kelinci seperti Berastagi Medan, Lembang Bandung dan Batu Malang serta daerah lainnya (Brahmantyo et al., 2014).
Ada beberapa keuntungan bila kelinci digunakan sebagai penghasil daging. Pertama kemampuan kelinci baik sekali dalam mengubah pakan menjadi daging dan tiap kilogram berat hidup kelinci akan menghasilkan daging yang lebih banyak dibandingkan dengan jenis hewan lainnya. Kedua, kelinci mudah
dipelihara tanpa modal atau peralatan yang besar nilainya (Blakely and Blade, 1998).
Daging kelinci memiliki kadar gizi yang tinggi yaitu protein sebesar 20,8% dan lemak yang rendah sebesar 10,2% dibandingkan dengan ternak lain seperti yang tertera dalam Tabel 1.
Tabel 1. Kadar gizi daging kelinci dibandingkan ternak lainnya
Jenis Ternak Protein (%) Lemak (%) Kadar Air (%) Kalori (%)
Kelinci 20,8 10,2 67,9 7,3 Ayam 20,0 11,0 76,6 7,5 Anak sapi 18,8 14,0 66,0 8,4 Kalkun 20,1 28,0 58,3 10,9 Sapi 16,3 22,0 55,0 13,3 Domba 15,7 27,7 55,8 13,1 Babi 11,9 40,0 42,0 18,9 Sumber : Sarwono (2001)
Kemampuan produksi dan reproduksi yang tinggi ditandai dengan pertambahan berat badan yang tinggi, cepat berkembang biak (litter size 6 - 7 ekor) interval kelahiran yang pendek (40 -60 hari), prolifikasi yang sangat tinggi (6 kali kelahiran per tahun) dan cepat dewasa kelamin (5 - 6 bulan ), lama bunting 30 hari, conception rate 70 %, persentase karkas 50-55 %, meat edible (70-80 % dari berat karkas), sex ratio 1:1 dan bila semua anak betina dijadikan induk, maka dari 100 induk betina pada akhir tahun kedua, dapat dihasilkan 90.000 ekor kelinci pada berbagai tingkat umur, dan lebih dari 60 persen berumur kurang dari 1 bulan (Yurmiaty, 2005).
Rex (ermine rex) merupakan jenis kelinci baru. Rex mulai dikenal di
Amerika Serikat sejak tahun 1980-an, sebagai binatang kontes. Awalnya, kelinci ini adalah jenis kelinci hias karena memiliki bulu yang sangat halus seperti beludru, apalagi jika dipelihara di lingkungan yang bersuhu sekitar 5-15oC. Warna bulu bervariasi, mulai dari putih (white rex), biru (blue rex), hitam (black rex) dan bertotol (dalmatian rex). Belakangan, rex mulai diminati sebagai kelinci tipe
pedaging karena rasa dagingnya sangat lezat. Kelinci ini mempunyai postur tubuh yang bongsor. Bobot hidupnya rata-rata mencapai 5 kg (Masanto dan Agus, 2010). Selain penghasil fur kelinci rex dapat juga dimanfaatkan sebagai penghasil daging dengan berat potong 2,5 – 3 kg (Yurmiaty, 2005).
Tabel 2. Produksi dan reproduksi kelinci Rex
Data Keterangan
Lama penyapihan 6-8 minggu
Umur dewasa kelamin 2 bulan
Umur dewasa tubuh 4 bulan
Lama bunting 29-32 hari
Lama produksi 1-3 tahun
Bobot dewasa 2,7-3,6 kg
Sumber : Kartadisastra (1997)
Gambar 4. Kelinci Rex
Kebutuhan Pakan dan Nutrisi Ternak Kelinci
Semua makhluk hidup termasuk kelinci mengalami pertumbuhan fisik. Untuk menunjang pertumbuhan tersebut, diperlukan asupan gizi yang seimbang. Zat gizi yang diperlukan kelinci di antaranya protein, karbohidrat, lemak, vitamin, serat kasar, mineral dan air. Zat-zat tersebut terdapat di dalam berbagai jenis
pakan kelinci seperti hijauan atau sayuran, rumput, konsentrat dan pelet (Priyatna, 2011).
Pakan kelinci pada umumnya berupa umbi-umbian dan sayur-mayur serta tumbuhan lain. Kelinci merupakan hewan herbivora yang rakus. Hewan yang satu ini tidak mengenal kata kenyang. Pasalnya, setiap makanan yang diberikan seperti sayuran, rumput, umbi, biji-bijian, dan pelet pasti segera dilahapnya. Meskipun demikian, tetap harus memberi makanan kelinci secara teratur sesuai pola pemberian pakan. Pakan yang diberikan pun harus dipilih dan diperhitungkan agar kelinci tidak mengalami gangguan pencernaan (Priyatna, 2011).
Untuk mendukung kecukupan gizi yang seimbang pemberian hijauan seimbang pemberian hijauan perlu diimbangi dengan konsentrat. Pada peternakan kelinci intensif hijauan diberikan 60-80%, sisanya konsentrat. Ada juga yang memberikan 60% konsentrat dan sisanya hijauan ( Sarwono, 2007).
Tabel 3. Kebutuhan zat gizi pakan pada kelinci
Status Kebutuhan gizi (%)
Protein Lemak Serat kasar
Bunting 15-17 3-6 12-16
Menyusui 24-26 3-6 12-16
Dewasa 12-15 2-4 16-22
Muda 16-18 3-6 12-16
Sumber : Ensminger (1991)
Jumlah pakan yang diberikan harus memenuhi jumlah yang dibutuhkan oleh kelinci sesuai dengan tingkat umur/bobot badan kelinci. Pemberian pakan ditentukan berdasarkan kebutuhan bahan kering. Jumlah pemberian pakan bervariasi bergantung pada periode pemeliharaan dan dan bobot badan kelinci. Kebutuhan bahan kering pakan berdasarkan periode pemeliharaan berturut-turut muda bobot badan 1,8−3,2 kg (112−173 g/ekor/hari), dewasa bobot badan 2,3−6,8 kg (92−204 g/ekor/hari), induk bunting bobot badan 2,3−6,8 kg (115−251 g/ekor/hari) dan induk menyusui dengan 7 anak bobot badan 4,5 kg (520 g/ekor/hari) (Ensminger, 1991).
Sistem Pencernaan Kelinci
Sistem pencernaan kelinci dapat dibandingkan dengan kuda. Sistem itu merupakan sistem pencernaan yang sederhana dengan caecum dan usus yang besar. Hal ini memungkinkan kelinci dapat makan dan memanfaatkan bahan-bahan hijauan, rumput dan sejenisnya. Bahan-bahan-bahan itu dicerna oleh bakteri di
saluran cerna bagian bawah seperti yang terjadi pada saluran cerna kuda (Blakely and Bade, 1998).
Kelinci termasuk jenis ternak pseudo-ruminant, yaitu herbivora yang tidak dapat mencerna serat-serat dengan baik. Binatang ini memfermentasi pakan di usus belakangnya. Fermentasi hanya terjadi di caecum, yaitu bagian pertama dari usus besar. Kapasitas terbesar (50%) dari saluran pencernaan kelinci berada disini (Masanto dan Agus, 2010).
Tidak seperti halnya hewan mamalia yang lain, kelinci mempunyai kebiasaan memakan feses yang sudah dikeluarkan. Sifat ini disebut coprophagy. Keadaan ini sangat umum terjadi pada kelinci dan hal ini terjadi berdasar pada konstruksi saluran pencernaannya. Sifat coprophagy biasanya terjadi pada malam atau pagi hari berikutnya. Feses yang berwarna hijau muda dan konsistensi lembek itu dimakan lagi oleh kelinci. Feses yang dikeluarkan pada siang hari dan telah berwarna coklat serta mengeras, tidak dimakan. Hal ini memungkinkan kelinci itu memanfaatkan secara penuh pencernaan bakteri di saluran bagian bawah, yaitu mengkonversi protein asal hijauan menjadi protein bakteri yang berkualitas tinggi, mensintesis vitamin B dan memecahkan selulose atau serat menjadi energi yang berguna. Jadi sifat coprophagy sebenarnya memang menguntungkan bagi proses pencernaan (Blakely and Bade, 1998).
Gambar 5. Sistem pencernaan kelinci
Fermentasi
Fermentasi bahan pangan adalah sebagai hasil kegiatan beberapa jenis mikroorganisme baik bakteri, khamir, dan kapang. Mikroorganisme yang memfermentasi bahan pangan dapat menghasilkan perubahan yang menguntungkan (produk-produk fermentasi yang diinginkan) dan perubahan yang merugikan (kerusakan bahan pangan). Dari mikroorganisme yang memfermentasi bahan pangan, yang paling penting adalah bakteri pembentuk asam laktat, asam asetat, dan beberapa jenis khamir penghasil alkohol (Suprihatin, 2010). Selama proses fermentasi mikroba akan mengeluarkan enzim dimana enzim tersebut adalah protein dan mikroba itu sendiri juga merupakan sumber protein sel tunggal (Howard et al., 2003).
Dalam industri fermentasi diperlukan substrat yang murah, mudah tersedia dan efisien penggunaannya. Beberapa faktor yang mempengaruhi pemilihan
substrat untuk fermentasi adalah tersedia dan mudah didapat, sifat fermentasi, harga dan faktor harga (Suprihatin, 2010).
Enzim selulase termasuk sistem multienzim yang terdiri dari tiga komponen yaitu endoglukanase, yang mengurai polimer selulosa secara random untuk menghasilkan oligodekstrin dengan panjang rantai yang bervariasi, eksoglukanase yang mengurai selulosa dari ujung pereduksi dan non-pereduksi untuk menghasilkan selulosa ikatan pendek atau selobiosa, dan β-glukosidase yang mengurai selobiosa untuk menghasilkan glukosa (Ikram et al., 2005).
Gambar 6. Proses pemecahan selulosa
Lipase merupakan kelompok enzim yang secara umum berfungsi dalam hidrolisis lemak, mono-, di-, dan trigliserida untuk menghasilkan asam lemak bebas dan gliserol. Enzim lipase merupakan enzim yang dapat menghidrolisis rantai panjang trigliserida. Enzim ini memiliki potensi untuk digunakan memproduksi asam lemak (Dali et al., 2009).
Gambar 7. Pemecahan trigliserida oleh enzim lipase
Tabel 4. Kandungan kimiawi ampas kelapa tanpa fermentasi dan dengan fermentasi kapang Aspergillus niger dan ragi tape
Zat Nutrisi
Kandungan Tanpa Fermentasi Fermentasi
A.niger Fermentasi Ragi Tape BK (%) 90,12 94,74 94,05 PK (%) 2,10 5,59 4,54 SK (%) 26,31 23,74 24,17 LK (%) 40,12 16,07 18,34 ME (kkal/kg) 4696 2953 4548
Sumber : Laboratorium Pengujian Mutu Pakan Loka Penelitian Kambing Potong (2016)
Aspergillus niger
Aspergilus niger adalah kapang anggota genus Arpergillus, family Eurotiaceae, ordo Eutiales, subclass Plectomycetetidae, kelas ascomycetes,
subdivisi ascomycotina dan divisi amastigmycota. Aspergillus niger dalam pertumbuhannya berhubungan langsung dengan zat makanan yang terdapat dalam medium. Aspergillus niger menghasilkan beberapa enzim ekstraseluler seperti
amylase, amiloglukosidase, pektinase, selulase, katalase dan glukosidase (Hardjo, et al., 1998). Lehninger (1991) menambahkan Aspergillus niger
menghasilkan enzim urease yang memecahkan urea menjadi asam amino dan CO2
yang selanjutnya digunakan untuk pembentuk asam amino.
Aspergillus niger bersifat aerob, sehingga membutuhkan oksigen untuk
– 370
C. Kisaran pH antara 2,0-8,5 dengan pH optimum antara 5,0-0,7 dan membutuhkan kadar air media antara 65-70%. Aspergillus niger mempunyai cirri yaitu berupa benang tunggal yang disebut hifa berupa kumpulan benang-benang padat menjadi suatu bahan yang disebut miselium, tidak mempunyai klorofil dan hidupnya heterotrof serta berkembang biak secara vegetative dan generative (Fardiaz, 1989).
Pada proses fermentasi terjadi reaksi dimana senyawa komplek diubah menjadi senyawa yang lebih sederhana dengan bantuan enzim dari mikroorganisme. Miskiyah et al. (2006) melakukan penelitian ampas kelapa dengan Aspergillus niger dapat meningkatkan protein sebanyak 130% lemak turun 11,39%.
Hasil penelitian Muhsafaat et al. (2015) menunjukkan bahwa ampas sagu yang difermentasi Aspergillus niger dengan penambahan urea dan zeolit mengalami peningkatan protein dari 1,39% menjadi 15,49% dengan penambahan urea dan zeolit masing-masing 5% dari bahan kering ampas sagu.
Semakin tinggi populasi Aspergillus niger akan menghasilkan besaran enzim selulase yang semakin tinggi pula sehingga kuantitas serat kasar yang dirombak oleh enzim selulase semakin tinggi (Laskin dan Hubert, 1973). Enzim selulase yang akan mengubah serat kasar (selulosa) menjadi molekul yang lebih sederhana sehingga tidak lagi sebagai polisakarida (Wardani, 2014).
Enzim lipase yang dihasilkan A.niger dapat memecah lemak menjadi asam lemak dan gliserol, kemudian asam lemak dan gliserol digunakan oleh A.niger sebagai sumber energi untuk proses pertumbuhannya (Kurniawan, 2016).
Ragi Tape
Ragi tape adalah produksi rumah tangga berbentuk bolus dengan diameter 1,5 sampai 2,5 cm. Penggunaan ragi tape menyebabkan bakteri dan mikroorganisme yang bersifat toksik akan kalah dengan berkembangnya mikroorganisme pada ragi tape (Dradjat et al., 2013).
Ragi tape adalah suatu bahan yang dapat berperan sebagai probiotik yang terdiri dari inokulum padat yang mengandung berbagai jenis kapang, khamir dan bakteri. Walaupun telah terisolasi berbagai mikroba di dalam ragi tape tetapi telah diketahui jenis yang dominan adalah Aspergillus niger dari jenis kapang dan
Sacharomyces cereviceae dari jenis khamir. Dalam proses fermentasi Aspergillus niger dapat mensekresi enzim selulase yang berfungsi mencerna serat kasar,
sedangkan Sacharomyces cereviceae berperan menfermentasi glukosa menjadi alkohol (Filawati, 2008).
Ragi tape terdiri dari kapang (Rhizopus oryzae, Mucor), khamir (Sacharomyces cerevisiae, Sacharomyces verdomanni, Candida utilis) dan bakteri (Pediococcus sp.dan Bacillus sp.) (Gandjar, 2003).
Penelitian yang dilakukan oleh Hidayati et al. (2013), memperoleh bahwa kadar protein meningkat selama proses fermentasi oleh ragi tape yaitu dari 3,99% menjadi 4,95% yang disebabkan adanya aktivitas mikroorganisme optimal melakukan pemecahan karbohidrat pada kulit singkong.
Teknologi Pakan Berbentuk Pelet
Ransum bentuk pelet dapat meningkatkan konsumsi pakan ternak, mengurangi jumlah pakan yang terbuang, membuat pakan lebih homogen, dapat memusnahkan pertumbuhan mikroorganisme yang merugikan, memperpanjang
penyimpanan, mempermudah pengangkutan dan menjamin keseimbangan zat nutrisi pakan yang terkandung dalam komposisi pakan (Suryanagara, 2006).
Proses pembuatan pelet dibagi menjadi tiga tahap, yaitu: 1) pengolahan pendahuluan meliputi pencacahan, pengeringan, dan penggilingan, 2) pembuatan pelet meliputi pencetakan, pendinginan, dan pengeringan, dan 3) perlakuan akhir meliputi sortasi, pengepakan dan penggudangan. Tujuan pembuatan pakan dalam bentuk pelet adalah untuk meringkas volume bahan, sehingga mudah
dalam proses pemindahan, dan menurunkan biaya pengangkutan (Tjokroadikoesoemo, 1986).
Semakin halus ukuran partikel bahan yang akan dicetak, semakin kuat pelet yang akan dihasilkan. Semakin halus ukuran partikel tersebut, semakin luas juga permukaan kontak antar partikel sehingga ikatan yang terbentuk semakin kuat (Suryanagara, 2006).
Bobot Potong
Bobot potong merupakan bobot hidup akhir seekor ternak sebelum dipotong/disembelih. Semakin tinggi bobot sapih pada seekor ternak maka semakin tinggi pula bobot potong. Bobot potong yang tinggi akan menghasilkan bobot karkas yang tinggi pula. Semakin tinggi bobot potong maka semakin tinggi persentase bobot karkasnya. Hal ini disebabkan proporsi bagian-bagian tubuh yang menghasilkan daging akan bertambah selaras dengan ukuran bobot tubuh (Muryanto dan Prawirodigdo, 1993).
Bobot tubuh ternak berbanding lurus dengan tingkat konsumsi pakan (Kartadisastra, 1997). Scott et al. (1982) menyatakan bahwa terdapat hubungan yang erat antara pertumbuhan dengan konsumsi pakan. Konsumsi pakan yang
semakin tinggi akan mengakibatkan kenaikan konsumsi protein sehingga pertumbuhan ternak semakin baik dan akan meningkatkan bobot potong yang dihasilkan. Pada peningkatan bobot berat terdapat indikasi kegemukan, persentase lemak, lemak ginjal dan lemak pelvis meningkat (Subekti, 2007).
Sebelum penyembelihan dilakukan, sebaiknya dilakukan starving yaitu perlakuan terhadap kelinci, dimana kelinci tersebut tidak diberi pakan selama 6-10 jam. Tujuan dari perlakuan ini adalah untuk mengosongkan usus yang akan menentukan besarnya persentase karkas. Perlu diperhatikan bahwa untuk mencegah terjadinya dehidrasi dan penurunan berat badan khususnya pada daerah tropis, maka selama perlakuan ini kelinci harus mendapatkan air minum yang cukup baik kualitas maupun kuantitasnya. Penyembelihan pada kelinci prinsipnya adalah sama dengan ternak lainnya yakni memutuskan saluran darah balik (Vena
jugularis) pada bagian antara kepala dan leher untuk menghasilkan daging dan
kulit yang berkualitas tinggi (Kartadisastra, 1997).
Karkas dan Persentase Bobot Karkas
Karkas pada ternak kelinci adalah bagian tubuh yang sudah disembelih dipisahkan kepala, jari sampai pergelangan kaki, kulit, ekor, jeroan (usus, jantung, hati dan ginjal) (Kartadisastra, 1998). Karkas terdiri atas tiga jaringan utama yaitu tulang, daging, dan lemak (Soeparno, 1994). Distribusi lemak sangat mempengaruhi proporsi jaringan otot karkas sebab proporsi daging dan tulang akan berkurang sedangkan komponen lemak bertambah dengan meningkatnya bobot karkas (Seebeck dan Tulloh, 1968). Ransum yang dikonsumsi oleh ternak diasimilasikan untuk perbaikan dan sintesa jaringan baru atau produksi daging (Tillman et al., 1991).
Persentase karkas adalah perbandingan antara bobot karkas dan bobot hidup yang mempunyai faktor penting dalam produksi ternak potong sebenarnya, karena dalam bobot hidup masih terdapat saluran pencernaan dan organ dalam yang beratnya untuk masing-masing ternak berbeda. Persentase karkas dipengaruhi oleh bertambahnya umur serta bobot hidup dan akan diikuti dengan peningkatan bobot karkas yang dihasilkan, selain itu persentase karkas juga dipengaruhi oleh umur potong dan jenis kelamin (Soeparno, 1994).
Faktor yang mempengaruhi persentase karkas adalah umur potong dan jenis kelamin. Kelinci jantan umur 5 bulan menghasilkan karkas sebesar 46% dan betina 44%. Kelinci jantan umur 8 bulan menghasilkan karkas sebesar 50% dan betina 55%. Seekor kelinci jantan dapat menghasilkan karkas sebanyak 43-52% dan betina 50-59% dari berat hidupnya (Farel dan Raharjo, 1984).
Lemak Abdominal
Komposisi pakan merupakan faktor yang mempengaruhi kandungan lemak tubuh. Pembentukan lemak abdominal terjadi karena adanya kelebihan energi yang dikonsumsi. Energi yang digunakan tubuh umumnya berasal dari karbohidrat dalam tubuh mampu memproduksi lemak tubuh yang disimpan di sekeliling organ dalam dan di bawah kulit (Setiawan dan Sujana, 2009). Lemak abdominal merupakan kombinasi lemak abdomen dan lemak yang melekat pada ampela. Lemak abdomen ini merupakan indikasi tidak efisien dalam pemanfaatan ransum (Soeparno, 1994).
Pengukuran bobot lemak abdomen dilakukan dengan cara menimbang lemak yang didapat dari lemak yang berada pada sekeliling gizzard dan lapisan yang menempel antara otot abdomen serta usus dan selanjutnya ditimbang.
Persentase lemak abdomen diperoleh dengan membandingkan bobot lemak abdomen dengan bobot hidup dikalikan 100 (Witantra, 2011). Perlemakan subkutan dan abdomen kelinci akan tinggi dengan bobot potong yang tinggi (Brahmantiyo dan Raharjo (2009).
Lemak abdominal sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan, perkembangan dan kelebihan lemak akan menyebabkan kelebihan energi di dalam tubuh yang tidak bisa dimanfaatkan dengan sempurna. Kelebihan lemak ini bisa disebabkan beberapa faktor diantaranya pemberian pakan yang mengandung energi yang berlebih dan aktivitas/gerak yang sedikit (Noviana et al., 2015).