• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG HYGIENE TERHADAP PERILAKU ORANG TUA DALAM MELAKUKAN HYGIENE PADA ANAK DIARE DI BANGSAL ANAK RSUD WONOSARI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG HYGIENE TERHADAP PERILAKU ORANG TUA DALAM MELAKUKAN HYGIENE PADA ANAK DIARE DI BANGSAL ANAK RSUD WONOSARI"

Copied!
36
0
0

Teks penuh

(1)

STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA

PERPUSTAKAAN

i

PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG HYGIENE TERHADAP PERILAKU ORANG TUA DALAM MELAKUKAN

HYGIENE PADA ANAK DIARE DI BANGSAL ANAK

RSUD WONOSARI

SKRIPSI

Diajukan Sebagian Salah Satu Syarat Mencapai Gelar Sarjana Keperawatan STIKES Achmad Yani Yogyakarta

Disusun oleh :

I MADE BUDHI MUSTIKA 08/3208076/PSIK

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN

JENDERAL ACHMAD YANI YOGYAKARTA

(2)

STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA

PERPUSTAKAAN

(3)

STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA

PERPUSTAKAAN

iii

PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG HYGIENE TERHADAP PERILAKU ORANG TUA DALAM MELAKUKAN

HYGIENE PADA ANAK DIARE DI BANGSAL ANAK

RSUD WONOSARI

I Made Budhi Mustika1, Atik Badi’ah2, Dwi Susanti3

INTISARI

Latar Belakang : Terjadinya diare pada anak tidak terlepas dari faktor perilaku

hygiene (mencuci tangan menggunakan sabun) orang tua yang menyebabkan terjadinya penyebaran kuman pada anak. Hasil studi pendahuluan di Bangsal Anak RSUD Wonosari diketahui bahwa sebagian besar orang tua belum mengetahui cara melakukan cuci tangan yang baik dan benar.

Tujuan : Untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan tentang hygiene

terhadap perilaku orang tua dalam melakukan hygiene pada anak diare di Bangsal Anak RSUD Wonosari.

Metode : Desain penelitian adalah quasi eksperiment dengan rancangan one

group pretest-posttest design. Lokasi penelitian di Bangsal Anak RSUD Wonosari tahun 2012. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik sampling jenuh dengan responden sebanyak 56 responden. Teknik analisa data menggunakan paired t test dengan tingkat kemaknaan α<0,05.

Hasil : Perilaku orang tua melakukan hygiene pada saat pretest sebaian besar

adalah kurang (dengan score ≥56%) sebanyak 51 responden (91,1%), sedangkan perilaku orang tua melakukan hygiene pada saat melakukan posttest sebagian besar adalah baik (dengan score 75-100%) sebanyak 50 responden (89,3%). Dibuktikan uji paired t test didapatkan nilai p = 0,000 (p<0,05).

Kesimpulan: Terdapat pengaruh pendidikan kesehatan tentang hygiene terhadap

perilaku orang tua dalam melakukan hygiene pada anak diare di Bangsal Anak RSUD Wonosari. Hal ini ditunjukkan dengan signifikansi 0,000.

Kata Kunci : Pendidikan Kesehatan, Hygiene, Perilaku

1

Mahasiswa S1Ilmu Keperawatan STIKES Jendral Achmad Yani Yogyakarta 2

Dosen POLTEKKES KEMENKES Yogyakarta 3

(4)

STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA

PERPUSTAKAAN

iv

EFFECT OF HEALTH EDUCATION REGARDING HYGIENE ON PARENTS BEHAVIOR TO HYGIENE THE CHILDREN

WITH DIARRHEA IN PEDIATRIC ROOM WONOSARI GENERAL HOSPITAL

I Made Budhi Mustika1, Atik Badi’ah2, Dwi Susanti3

ABSTRACT

Background: The occurrence of diarrhea in children is not independent of

behavioral factors hygiene (hand washing with soap) parents who caused the spread of germs in children. The results of preliminary studies at Pediatric Ward Wonosari General Hospital known that most parents do not know how good hand washing and correct.

Objectives: The aim of this research is to determine the effect of health education

about hygiene on the parents' behavior in performing hygiene in children diarrhea in Pediatric Ward Wonosari General Hospital.

Methods: Research design is quasi experiment with the design of one group

pretest-posttest design. Research sites in Pediatric Ward Wonosari General Hospital in 2012. Sampling technique used saturation sampling with 56 respondents. Data analysis techniques usied a paired t test with significance level α<0.05.

Results: The parents behavior to hygiene at the time of pretest was in najority is

less (with a score of ≥ 56%) of 51 respondents (91.1%), while the parents behavior to hygiene at the time of posttest was in majority good (with a score of 75 - 100%) of 50 respondents (89.3%). Paired t test demonstrated obtained test p- value = 0.000 (p <0.05).

Conclusion: There were effects of health education about hygiene on the parents

behavior in performing hygiene in child diarrhea in Pediatric Ward Wonosari General Hospital. This is indicated by the significance 0.000.

Keywords: Health Education, Hygiene, Behavior

1

Student Of Nursery Study Programme Achmad Yani Yogyakarta, School Of Sciences 2

Lecturer Of Nursery Study Programme POLTEKKES KEMENKES Yogyakarta 3

(5)

STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA

PERPUSTAKAAN

v

HALAMAN PERNYATAAN

Yang bertanda tangan dibawah ini Nama : I Made Budhi Mustika NPM : 3208076

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam SKRIPSI ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar S1 Keperawatan atau kesarjanaan lain di suatu perguruan tinggi. Sepanjang pengetahuan saya, juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain kecuali secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebut sebagai daftar pustaka.

Yogyakarta, Agustus 2012

(6)

STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA

PERPUSTAKAAN

viii

KATA PENGANTAR

Om Swastiastu

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Ida Sang Hyang Widhi Waca, Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat-Nya kepada penulis sehingga penulis bisa menyelesaikan skripsi penelitian yang berjudul: Pengaruh Pendidikan Kesehatan Tentang Hygiene Terhadap Perilaku Orang Tua Dalam Melakukan Hygiene Pada Anak Diare Di Bangsal Anak RSUD Wonosari.

Skripsi penelitian ini telah dapat diselesaikan, atas bimbingan, arahan, dan bantuan berbagai pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu, dan pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. dr. I. Edy Purwoko, Sp. B, Selaku Ketua STIKES A. Yani Yogyakarta.

2. Dwi Susanti,S.Kep.,Ns, Selaku Ketua Prodi Keperawatan dan Selaku Pembimbing II atas segala bimbingan dan arahan sehingga terselesaikan Proposal Karya Tulis ini.

3. Atik Badi’ah,S.Pd.,S.Kp.,M.Kes, Selaku Pembimbing I atas segala bimbingan dan arahan sehingga terselesaikan Proposal Karya Tulis ini.

4. Ayah, Ibu, Nenek, Kakak, dan Adik-adikku tersayang dan seluruh keluarga yang telah memberikan Do’a, kasih sayang, dan semangat kepada penulis dalam menyelesaikan proposal ini, karena tanpa mereka penulis tidak akan sampai pada tahap sekarang ini.

5. Ni Putu Trisna Sari, adikku tercinta semoga tenang dalam damai disana, terima kasih do’a, kasih sayang dan semangat kepada penulis.

6. Adik-adiku Adhi Permana, Zendy Vina yang kusayangi dan Glory yang kucintai yang telah memberikan doa, semangat, dukungan serta kebersamaan kepada penulis.

7. Sahabat-sahabat yang telah memberikan masukan, semangat serta dukungan kepada penulis.

8. Kepada semua pihak yang terlibat dalam penulisan yang tidak bisa disebutkan satu persatu, terimakasih atas dukungan, bantuan dan Do’anya.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan Proposal ini masih terdapat banyak kesalahan dan masih jauh dari sempurna. Sehingga masih perlu perbaikan dan saran dari para pembaca.

Om Santhi, Shanti, Shanti, Om

(7)

STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA

PERPUSTAKAAN

ix DAFTAR ISI Hal HALAMAN JUDUL... HALAMAN PENGESAHAN... INTISARI... ABSTRACT... HALAMAN PERNYATAAN... MOTTO... HALAMAN PERSEMBAHAN... KATA PENGANTAR... i ii iii iv v vi vii viii DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN... ix x xii xiii BAB I PENDAHULUAN... 1 A. Latar Belakang... 1 B. Rumusan Masalah... 5 C. Tujuan Penelitian... 5 D. Manfaat Penelitian... 6 E. Keaslian Penelitian... 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA... 9

A. Landasan Teori... 9 B. Kerangka Teori... C. Kerangka Konsep... D. Hipotesis …………... 24 25 26 BAB III METODE PENELITIAN... 27

A. Rancangan Penelitian... 27 B. Lokasi dan Waktu Penelitian...

C. Populasi, Sampel dan Teknik Sampel...

27 28 D. Variabel penelitian... E. Definisi Operasional... 29 31 F. Alat dan Metode Pengumpulan Data...

G. Validitas dan Reliabilitas... H. Metode Pengolahan Data dan Analisa Data... I. Etika Penelitian... J. Rencana Jalanya Penelitian...

32 34 34 37 38

(8)

STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA

PERPUSTAKAAN

x

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN... 40 A. Hasil Penelitian... B. Pembahasan... C. Keterbatasan Penelitian... 40 44 51

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN... 52 A. Kesimpulan... B. Saran... 52 53 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN

(9)

STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA

PERPUSTAKAAN

xi

DAFTAR TABEL

Hal

Tabel 3.1 Definisi Operasional... 31 Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Responden Di Bangsal Anak RSUD

Wonosari Berdasarkan Karakteristik Umur, Pendidikan Dan

Pekerjaan Orang TuaPada Bulan Juni-Juli 2012 ………. 41 Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Responden Di Bangsal Anak RSUD

Wonosari Berdasarkan Perilaku Orang Tua Sebelum Diberikan

Pendidikan Kesehatan (Pre-test) Pada Bulan Juni-Juli 2012 ... 42 Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Responden Di Bangsal Anak RSUD

Wonosari Berdasarkan Perilaku Orang Tua Setelah Diberikan

Pendidikan Kesehatan (Post-test) Pada Bulan Juni-Juli 2012 ... 43 Tabel 4.4 Perbandingan Kriteria Perilaku Orang Tua Melakukan Hygiene

Sebelum Dan Sesudah Diberikan Pendidikan Kesehatan Tentang

Hygiene ……….... 43 Tabel 4.5 Uji Paired t-test Perilaku Orang Tua Melakukan Hygiene Sebelum

(10)

STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA

PERPUSTAKAAN

xii

DAFTAR GAMBAR

Hal

Bagan 2.1 Kerangka teori... 24 Bagan 2.2 Kerangka konsep...

Bagan 3.1 Rancangan Penelitian………...

25 27 Bagan 3.1 Skema Hubungan Antar Variabel... 30

(11)

STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA

PERPUSTAKAAN

xiii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Jadwal Penyusunan Skripsi Mahasiswa Tahun Akademik 2011/2012 Lampiran 2. Permohonan Menjadi Responden

Lampiran 3. Pernyataan Kesediaan Menjadi Responden

Lampiran 4 Satuan Acara Penyuluhan Mencuci Tangan Menggunakan Sabun Lampiran 5 Materi Mencuci Tangan Menggunakan Sabun

Lampiran 6 Leaflet Mencuci Tangan Menggunakan Sabun

Lampiran 7 Chek List Perilaku Orang Tua Melakukan Cuci Tangan Menggunakan Sabun

Lampiran 8 Lembar Bimbingan Skripsi Lampiran 9 Hasil Penelitian

Lampiran 10 Surat Ijin Studi Pendahuluan

Lampiran 11 Surat Keterangan Ijin Studi Pendahuluan

Lampiran 12 Surat Keterangan Telah Melakukan Studi Pendahuluan di RSUD Wonosari

Lampiran 13 Surat Ijin Penelitian

Lampiran 14 Surat Keterangan Ijin Penelitian

Lampiran 15 Surat Keterangan Telah melakukan Penelitian di RSUD Wonosari Lampiran 16 Surat Keterangan Mengambil Data di Badan Pusat Statistik DIY

(12)

STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA

PERPUSTAKAAN

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Menurut WHO tahun 2006 diare merupakan salah satu penyakit yang paling sering menyerang bayi dan anak di dunia. Diperkirakan 4 milyar kasus terjadi di dunia dan 2,2 juta di antaranya meninggal, sebagian besar anak-anak dibawah umur lima tahun. Hal ini sebanding dengan 1 anak meninggal setiap 15 detik setiap hari. Di negara berkembang, diare masih merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada anak (Palupi, 2009).

Di Indonesia diare masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat utama. Hal ini disebabkan masih tingginya angka kesakitan dan menimbulkan banyak kematian terutama pada bayi dan balita, serta sering menimbulkan kejadian luar biasa. Penyakit diare menempati urutan pertama dari 10 penyakit terbanyak pada pasien rawat inap di rumah sakit di Indonesia tahun 2010 dengan jumlah total kasus 71.889. Terjadi pada laki-laki sebanyak 37.281 kasus, pada perempuan sebanyak 34.608 kasus, dengan jumlah pasien keluar rumah sakit sebanyak 71.889, jumlah pasien meninggal sebanyak 1.289 orang dan case fatality rate (CFR) 1,79%. Sedangkan pada 10 penyakit terbanyak pada pasien rawat jalan di rumah sakit di Indonesia tahun 2010 penyakit diare menempati urutan kelima dengan 53.389 kasus pada laki-laki, 51.890 kasus pada perempuan, jumlah kasus terbaru sebanyak 105.279 kasus dengan 141.556 kunjungan (KeMenKes RI, 2011). Pada tahun 2005 dilaporkan bahwa secara keseluruhan rata-rata anak mengalami 1,3 episode diare dengan 3,2 juta kematian per tahun dan frekuensi kejadian luar biasa (KLB) penyakit diare sebanyak 92 kasus dengan 3865 orang penderita, 113 orang meninggal, dan case fatality rate (CFR) 2,92% (Depkes RI, dalam Adisasmito, 2007).

Laporan profil kabupaten/ kota Daerah Istimewa Yogyakarta menunjukkan bahwa selama kurun tahun 2007 jumlah balita yang menderita diare dan memeriksakan ke sarana pelayanan kesehatan mencapai 16.598, sementara tahun 2008 mencapai 31.394, sedangkan tahun 2009 sejumlah 15.678 balita

(13)

STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA

PERPUSTAKAAN

dilaporkan menderita diare. Penyakit diare dan gastroenteritis oleh penyebab infeksi tertentu (kolitis infeksi) menempati urutan pertama dalam 10 besar pola penyakit rawat inap di rumah sakit di DIY tahun 2009. Total kasus 4286 kasus terjadi pada balita dan anak dengan umur kurang dari 28 hari sebanyak 11 kasus, umur kurang dari 1 tahun sebanyak 699 kasus, umur 1-4 tahun sebanyak 1294 kasus, dan umur 5-14 tahun sebanyak 416 kasus (DinKes DIY, 2010).

Menurut Dinas Kesehatan Kabupaten Gunung Kidul diare menempati urutan ke 4 dalam 10 besar penyakit menurut jenis penyakit menular Di Kabupaten Gunung Kidul tahun 2010 dengan jumlah kasus sebanyak 23.111 kasus dengan presentase 5,20% (Badan Pusat Statistik Kabupaten Gunung Kidul, 2011).

Diare adalah penyakit yang terjadi ketika terjadi perubahan konsistensi feses selain dari frekuensi buang air besar. Seseorang dikatakan menderita diare bila feses lebih berair dari biasanya, atau bila buang air besar tiga kali atau lebih, atau buang air besar yang berair tapi tidak berdarah dalam waktu 24 jam (KeMenKes RI, 2011).

Terjadinya diare pada anak tidak terlepas dari peran faktor perilaku yang menyebabkan penyebaran kuman enterik terutama yang berhubungan dengan interaksi perilaku ibu dalam mengasuh anak dan faktor lingkungan dimana anak tinggal. Faktor perilaku yang menyebabkan penyebaran kuman enterik dan meningkatkan resiko terjadinya diare yaitu tidak memberikan ASI ekslusif secara penuh pada bulan pertama kehidupan, memberikan susu formula dalam botol bayi, penyimpanan makanan masak pada suhu kamar, menggunakan air minum yang tercemar, tidak mencuci tangan pada saat memasak, makan atau sebelum menyuapi anak atau sesudah buang air besar dan sesudah membuang tinja anak, dan tidak membuang tinja dengan benar. Faktor lingkungan yaitu sarana air bersih dan pembuangan tinja. Kedua faktor ini akan berinteraksi dengan perilaku manusia (Depkes RI, dalam Nasili, 2011).

Diare penyebab infeksi terutama ditularkan secara fekal oral. Hal ini disebabkan masukan minuman atau makanan yang terkontaminasi tinja ditambah dengan ekskresi yang buruk, makanan yang tidak matang, bahkan yang disajikan tanpa dimasak. Penularanya adalah transmisi dari orang ke orang melalui

(14)

STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA

PERPUSTAKAAN

aeorosolisasi (Norwalk, Rotavirus), tangan yang terkontaminasi (Mansjoer, dkk 2001). Khusus untuk kasus diare, maka kuman- kuman diare ikut keluar bersama kotoran/feses dan mudah berpindah ketangan saat orang tua membantu anak cebok, setelah membuang kotoran anak. Setelah menceboki anak, membuang kotoran anak, dan setelah buang air besar jika tidak mencuci tangan dengan benar menggunakan sabun, maka kuman-kuman bisa berpindah ke benda-benda yang telah disentuh termasuk makanan/minuman yang mungkin akan dikonsumsi juga oleh anak/orang lain. Dengan begitu akan terjadi penularan penyakit diare baik kepada diri sendiri, kepada anak dan kepada orang lain. Jika dalam merawat anak diare orang tua tidak mencuci tangan dengan sabun setelah menceboki anak, setelah membuang kotoran anak, setelah buang air besar, sebelum menyusui, sebelum menyuapi anak,dan sebelum menyiapkan makanan buat anak maka akan terjadi penularan penyakit diare pada anak yang dapat memperpanjang masa diare pada anak, dan dapat menyebabkan diare berulang pada anak (Khairani, 2009). Kebersihan diri adalah perawatan-perawatan diri secara positif mempengaruhi kesehatan manusia yang dilakukan sebagai aktivitas kehidupan sehari-hari. Personal hygiene berarti tindakan memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang dan merupakan suatu upaya untuk mewujudkan derajat kesehatan yang tinggi. Tujuan umum dari perawatan diri (personal hygiene) adalah untuk mempertahankan perawatan diri baik secara sendiri maupun dengan bantuan, dapat melatih hidup sehat/bersih dengan memperbaiki gambaran atau persepsi terhadap kesehatan dan kebersihan, serta menciptakan penampilan yang sesuai dengan kebutuhan kesehatan serta membuat rasa nyaman dan relaksasi yang dapat dilakukan untuk mencegah infeksi, dan mempertahankan integritas pada jaringan (Sarwono, 2004).

Salah satu bentuk perawatan diri atau kebersihan diri (personal hygiene) adalah kebersihan tangan yang dilakukan dengan mencuci tangan. Sebagian masyarakat mengetahui akan pentingnya mencuci tangan menggunakan sabun, namun dalam kenyataanya masih sangat sedikit (hanya 5%) yang tahu bagaimana cara melakukanya dengan benar. Di dalam praktiknya sebagian besar masyarakat menganggap mencuci tangan dengan air saja sudah cukup untuk mencegah

(15)

STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA

PERPUSTAKAAN

penyakit, padahal mencuci tangan dengan air saja tidak cukup. Mencuci tangan dengan sabun secara tepat harus dilakukan sebelum makan, sebelum menyusui, sebelum menyiapkan makanan, setelah buang air besar, setelah menceboki anak- anak, setelah membuang kotoran anak-anak, setelah menyentuh binatang dan setelah habis bermain dan memegang uang. Mencuci tangan menggunakan sabun yang tepat mengurangi resiko terjadinya penyakit seperti diare dan dapat mengurangi resiko diare diantara anak-anak lima tahun kebawah hingga 45%. Mencuci tangan menggunakan sabun cukup paling lama 2 menit saja. Motto “cukup 2 menit saja “ menunjukkan untuk cuci tangan tidak memerlukan waktu lama tetapi memiliki dampak besar terhadap pencegahan penyakit menular (Siswanto, 2010).

Pengetahuan tentang hygiene akan mempengaruhi praktik hygiene. Namun, hal ini saja tidak cukup, karena motivasi merupakan kunci penting dalam pelaksanaan hygiene. Kesulitan internal yang mempengaruhi akses praktik hygiene adalah ketiadaan motivasi karena kurangnya pengetahuan. Hal ini bisa diatasi dengan mengetahui kebutuhan klien dan memberikan informasi yang tepat. Berikan materi yang mendiskusikan kesehatan sesuai dengan perilaku yang ingin dicapai, termasuk konsekuensi jangka panjang dan pendek bagi klien. Klien berperan penting dalam menentukan kesehatan dirinya karena perawatan diri merupakan hal yang paling dominan pada kesehatan masyarakat kita. Banyak keputusan pribadi yang dibuat tiap hari yang membentuk gaya hidup dan lingkungan sosial dan fisik (Pender dkk dalam Potter dan Perry, 2009).

Dalam melakukan asuhan keperawatan anak, perawat mempunyai berbagai peran dan fungsi. Salah satunya adalah perawat berperan sebagai pemberi perawatan. Dalam hal ini peran utama perawat adalah memberikan pelayanan keperawatan anak, sebagai perawat anak, pemberian pelayanan keperawatan dapat dilakukan dengan memenuhi kebutuhan dasar anak seperti kebutuhan asah/stimulasi, asih, dan asuh (Hidayat, 2005). Dalam memenuhi kebutuhan asuh anak, perawat mempunyai peran sebagai edukator. Peran perawat sebagai edukator dapat dilakukan dengan membantu klien dalam meningkatkan tingkat pengetahuan kesehatanya, misalnya dengan memberikan penyuluhan kesehatan

(16)

STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA

PERPUSTAKAAN

mengenai permasalahan kesehatan yang ada di daerah tersebut sehingga terjadi perubahan perilaku setelah diberikan pendidikan kesehatan (Potter dan Perry, 2005).

Berdasarkan hasil studi pendahuluan Di RSUD Wonosari yang telah dilakukan oleh peneliti pada tanggal 26 Januari 2012 didapatkan data jumlah pasien rawat inap dengan penyakit diare dari tanggal 01 Januari sampai 31 Desember 2011 dengan umur 0-28 hari sebanyak 2 kasus, umur 28 hari- 1 tahun sebanyak 93 kasus, umur 1-4 tahun sebanyak 176 kasus, umur 5-14 tahun sebanyak 59 kasus, umur 15-24 tahun sebanyak 22 kasus, 25-44 tahun sebanyak 72 kasus, umur 45-64 tahun sebanyak 91 kasus, dan umur lebih dari 65 tahun sebanyak 120 kasus dengan jumlah total kasus 635 kasus dan pasien meninggal sebanyak 9 kasus sedangkan data register pasien rawat inap di Bangsal Anak RSUD Wonosari didapatkan data pada Bulan Nopember 2011 terdapat kasus pasien dengan diare sebanyak 17 kasus dan pada Bulan Desember sebanyak 18 kasus.

Hasil wawancara pada 5 orang tua yang memiliki anak diare di Bangsal Anak RSUD Wonosari didapatkan bahwa 5 responden (100%) belum mengetahui cara melakukan cuci tangan yang baik dan benar, sebagian besar orang tua tidak mencuci tangan menggunakan sabun sebelum makan, sebelum menyusui, sebelum menyuapi anak, setelah buang air besar, setelah menceboki anak, setelah membuang kotoran anak. Mereka mengatakan bahwa mencuci tangan menggunakan air saja sudah cukup untuk menghilangkan kuman penyebab penyakit dan mereka mencuci tangan dengan sabun jika tangan mereka dianggap masih bau atau kotor. Sebagian besar dari mereka juga belum pernah mendapatkan pendidikan kesehatan tentang kebersihan diri (personal hygiene) khususnya cuci tangan.

Berdasarkan uraian tersebut di atas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Pengaruh Pendidikan Kesehatan Tentang Hygiene Terhadap Perilaku Orang Tua Dalam Melakukan Hygiene Pada Anak Diare Di RSUD Wonosari”.

(17)

STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA

PERPUSTAKAAN

B. Rumusan Masalah

Dengan melihat latar belakang masalah diatas, maka peneliti merumuskan masalah yang akan diteliti yaitu : “ Apakah ada pengaruh pendidikan kesehatan tentang hygiene terhadap perilaku orang tua dalam melakukan hygiene pada anak diare di Bangsal Anak RSUD Wonosari?”

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Diketahuinya pengaruh pendidikan kesehatan tentang hygiene terhadap perilaku orang tua dalam melakukan hygiene pada anak diare di Bangsal Anak RSUD Wonosari.

2. Tujuan Khusus

a. Diketahuinya perilaku orang tua dalam melakukan hygiene pada anak diare di Bangsal Anak RSUD Wonosari sebelum diberikan pendidikan kesehatan.

b. Diketahuinya perilaku orang tua dalam melakukan hygiene pada anak diare di Bangsal Anak RSUD Wonosari setelah diberikan pendidikan kesehatan.

c. Diketahuinya perbedaan perilaku orang tua dalam melakukan hygiene pada anak diare sebelum dan setelah diberikan pendidikan kesehatan.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Secara teoritis hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan masukan atau sebagai dasar dan perbandingan bagi penelitian selanjutnya untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta untuk menambah referensi khususnya tentang hygiene.

2. Manfaat Praktis a. Bagi Profesi

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan ataupun sebagai bahan pertimbangan dalam memberikan asuhan keperawatan pada anak

(18)

STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA

PERPUSTAKAAN

terkait dengan penyakit diare dan informasi kesehatan secara menyeluruh khususnya yang berhubungan dengan hygiene.

b. Bagi Peneliti

Dapat menambah pengetahuan dan wawasan tentang pendidikan kesehatan PHBS khususnya masalah hygiene pada anak.

c. Bagi RSUD Wonosari

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan atau sebagai bahan pertimbangan dalam rencana asuhan keperawatan yang berhubungan dengan pendidikan PHBS khususnya masalah hygiene pada anak.

d. Bagi orang tua di bangsal anak RSUD Wonosari

Penelitian ini diharapkan dapat memberi gambaran tentang hygiene sehingga dapat memotivasi orang tua untuk menjaga anak dari perilaku tidak sehat sehingga diare pada anak tidak terjadi atau berulang.

e. Bagi penelitian selanjutnya

Sebagai bahan acuan bagi peneliti selanjutnya dalam kajian penelitian yang berhubungan dengan perilaku hygiene orang tua pada anak diare.

E. Keaslian Penelitian

Penelitian tentang pengaruh pendidikan kesehatan tentang hygiene terhadap perilaku orang tua dalam melakukan hygiene pada anak diare, sepengetahuan penulis belum pernah dilakukan tetapi penulis mencatat terdapat penelitian dengan ruang lingkup yang serupa dengan penelitian ini, yaitu penelitian dari : 1. Lestari, dkk (2011) yang meneliti tentang “Hubungan Perilaku Menjaga

Personal Hygiene Dengan Kejadian Keputihan (Leukorea/Flour Albus) Pada Remaja Putri Kelas X Di SMK Sawunggalih Kutoarjo”. Penelitian ini dilakukan dengan subyek penelitian siswi SMK Sawunggalih Kutoarjo kelas X. Jenis penelitian ini adalah non eksperimen, menggunakan metode penelitian survei analitik dengan pendekatan cross-sectional. Hasil dari penelitian ini menunjukkan ada hubungan perilaku menjaga personal hygiene dengan kejadian keputihan (leukorea/flour Albus) pada Remaja Putri Kelas X Di SMK Sawunggalih Kutoarjo. Persamaan penelitian ini dengan penelitian

(19)

STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA

PERPUSTAKAAN

yang akan dilaksanakan adalah pada variabel independen penelitian tersebut sama dengan variabel dependen penelitian yang akan dilaksanakan. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang akan dilaksanakan adalah tujuan penelitian, metode penelitian, lokasi dan subyek penelitian.

2. Ferianto, dkk (2011) yang meneliti tentang “ Pengaruh Pendidikan Kesehatan Tentang Pijat Bayi Terhadap Perilaku Ibu Melakukan Pijat Bayi Di Desa Trimurti Srandakan Bantul Yogyakarta.” Jenis penelitian ini adalah eksperimen, metode yang digunakan adalah eksperimen kuasi (Quasi Experiment) dengan rancangan one group pretest – posttest design. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat pengaruh pendidikan kesehatan tentang pijat bayi terhadap perilaku ibu melakukan pijat bayi di Desa Trimurti Srandakan Bantul Yogyakarta. Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang akan dilaksanakan adalah variabel dan metode penelitian. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang akan dilaksanakan adalah tujuan penelitian, lokasi dan subyek penelitian.

3. Khairani, dkk (2009) yang meneliti tentang “Promosi Kesehatan Mecuci Tangan Menggunakan Sabun Melalui Metode Ceramah, Demontrasi Dan Latihan Dibandingkan Dengan Media Leaflet Pada Siswa Sekolah Dasar Di Kota Jambi.” Jenis penelitian ini adalah eksperimen, metode yang digunakan adalah eksperimen semu (Quasi Experiment) dengan rancangan non-equivalent control group design with pre-test and posttest. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada pengaruh peningkatan pengetahuan dan sikap siswa sekolah dasar setelah diberikan promosi kesehatan melalui metode ceramah, demontrasi dan latihan. Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang akan dilaksanakan adalah metode penelitiannya. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang akan dilaksanakan adalah tujuan penelitian, variabel penelitian, lokasi dan subyek penelitian.

(20)

STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA

PERPUSTAKAAN

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Gambaran Umum Tempat Penelitian

Rumah Sakit Umum Daerah Wonosari terletak di Kabupaten Gunungkidul. Kabupaten Gunungkidul merupakan daerah perbukitan kapur / KARST atau yang lebih dikenal sebagai kawasan Gunung Seribu. Kabupaten Gunungkidul masuk dalam wilayah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dengan batas wilayah sebagai berikut: sebelah timur berbatasan dengan wilayah Kabupaten Wonogiri dan Pacitan, sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Klaten dan Sleman, Sebelah barat berbatasan dengan kabupaten Bantul sementara sebelah selatan dibatasi oleh Samudera Indonesia, luas wilayah Kabupaten Gunungkidul secara keseluruhan mencapai 1.485,36 km2 atau sekitar 46,63% dari keseluruhan wilayah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pelayanan RSUD Wonosari terutama bangsal anak (bangsal Dahlia) adalah ruang rawat inap untuk pelayanan penyakit anak, bedah, dan THT yang terdiri dari 18 kamar diantaranya 14 kamar untuk kelas 3 dan 4 kamar untuk kelas 1. Untuk kasus diare di bangsal Dahlia tercatat dari tanggal 01 Januari sampai 31 Desember 2011 dengan umur 0-28 hari sebanyak 2 kasus, umur 28 hari- 1 tahun sebanyak 93 kasus, umur 1-4 tahun sebanyak 176 kasus dan umur 5-14 tahun sebanyak 59 kasus dengan jumlah total kasus 330 kasus per tahun dengan rata-rata 28 kasus per bulan.

2. Karakteristik Responden

Responden dalam penelitian ini adalah orang tua yang memiliki anak diare yang menjalani perawatan Di Bangsal Anak RSUD Wonosari, orang tua yang merawat anak selama Di Bangsal Anak RSUD Wonosari, berpendidikan minimal SD, dan bersedia menjadi responden.

Dalam penelitian ini jumlah responden sebagai subyek penelitian sebanyak 56 orang. Responden diberikan perlakuan dengan melakukan cuci

(21)

STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA

PERPUSTAKAAN

tangan, kemudian diberikan penyuluhan dan demonstrasi hygiene (mencuci tangan menggunakan sabun).

Karakteristik responden dalam penelitian ini meliputi umur orang tua, pendidikan orang tua, dan pekerjaan orang tua yang dilaksanakan pada tanggal 20 Juni sampai 23 Juli 2012 didapatkan responden sebanyak 56 responden. Berdasarkan hasil penelitian, maka didapatkan hasil sebagai berikut:

Karakteristik responden Di Bangsal Anak RSUD Wonosari berdasarkan umur, pendidikan dan pekerjaan orang tua

Tabel 4.1

Distribusi Frekuensi Responden Di Bangsal Anak RSUD Wonosari Berdasarkan Karakteristik Umur, Pendidikan Dan Pekerjaan Orang Tua

Pada Bulan Juni-Juli 2012

Kategori Frekuensi Persentase (%)

Umur <30 tahun 30-40 tahun >40 tahun 42 13 1 75.0 23.2 1.8 Pendidikan SD SMP SMA 0 18 38 0 32,1 67,9 Pekerjaan Tani Buruh Pedagang IRT 6 7 9 34 10,7 12,5 16,1 60,7 Jumlah 56 100 Sumber: Data Primer, 2012

Berdasarkan distribusi frekuensi yang tergambar dalam tabel diatas menunjukkan bahwa sebagian besar responden mempunyai umur kurang dari 30 tahun sebanyak 42 responden (75,0%), sedangkan responden yang paling sedikit mempunyai umur lebih dari 40 tahun sebanyak 1 responden (1,8%). Dari tingkat pendidikan, sebagian besar responden berpendidikan SMA sebanyak 38 responden (67,9%), sedangkan tidak ada responden yang berpendidikan SD. Dari tingkat pekerjaan, sebagian besar responden adalah IRT sebanyak 34 responden (60,7%), sedangkan responden yang paling sedikit adalah Tani sebanyak 6 (10,7%).

(22)

STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA

PERPUSTAKAAN

3. Analisa Univariat

a. Perilaku Responden Di Bangsal Anak RSUD Wonosari Sebelum Diberikan Pendidikan Kesehatan Tentang Hygiene (Mencuci Tangan Menggunakan sabun).

Tabel 4.2

Distribusi Frekuensi Responden Di Bangsal Anak RSUD Wonosari Berdasarkan Perilaku Orang Tua Sebelum Diberikan Pendidikan

Kesehatan (Pre-test) Pada Bulan Juni-Juli 2012

Perilaku Orang Tua Frekuensi Persentase (%) Kurang (≤ 56%) Cukup (56-75%) Baik (75-100%) 51 5 0 91,1 8,9 0 Total 56 100,0

Sumber: Data Primer 2012

Pada tabel diatas dapat dilihat bahwa perilaku responden melakukan hygiene (mencuci tangan menggunakan sabun) sebelum diberikan pendidikan kesehatan tentang hygiene (mencuci tangan menggunakan sabun) sebagian besar responden masuk dalam kategori “Kurang (≤56%)“ sebanyak 51 responden (91,1%).

b. Perilaku Responden Di Bangsal Anak RSUD Wonosari Setelah Diberikan Pendidikan Kesehatan Tentang Hygiene (Mencuci Tangan Menggunakan sabun).

Tabel 4.3

Distribusi Frekuensi Responden Di Bangsal Anak RSUD Wonosari Berdasarkan Perilaku Orang Tua Setelah Diberikan Pendidikan Kesehatan

(Post-test) Pada Bulan Juni-Juli 2012

Perilaku Orang Tua Frekuensi Persentase (%) Kurang (≤ 56%) Cukup (56-75%) Baik (75-100%) 0 6 50 0 10,7 89,3 Total 56 100,0

Sumber: Data Primer 2012

Pada tabel diatas dapat dilihat bahwa perilaku responden melakukan hygiene (mencuci tangan menggunakan sabun) setelah diberikan pendidikan kesehatan tentang hygiene (mencuci tangan menggunakan sabun) sebagian besar responden masuk dalam kategori “Baik (75-100%)“ sebanyak 50 responden (89,3%).

(23)

STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA

PERPUSTAKAAN

4. Analisa Bivariat

Hipotesis dalam penelitian ini adalah “terdapat pengaruh pendidikan kesehatan tentang hygiene terhadap perilaku orang tua dalam melakukan hygiene pada anak diare yang berupa perubahan perilaku orang tua dalam melakukan hygiene”. Pengujian hipotesis dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Uji Paired T Test dengan taraf signifikansi 5%.

Tabel 4.4

Perbandingan Kriteria Perilaku Orang Tua Melakukan Hygiene Sebelum Dan Sesudah Diberikan Pendidikan Kesehatan Tentang Hygiene

Kegiatan Mean N Std. Deviation

Pre Test Post Test Perbedaan 4,8929 10,1964 5,3035 56 1,27463 0,81842 0,45621 Sumber: Data Primer 2012

Dari data diatas dapat diketahui bahwa rata-rata perilaku responden melakukan hygiene (mencuci tangan menggunakan sabun) sebelum diberikan pendidikan kesehatan tentang hygiene adalah 4,8929 dengan standar deviasi 1,27463, sedangkan rata-rata perilaku responden melakukan hygiene (mencuci tangan menggunakan sabun) setelah diberikan pendidikan kesehatan tentang hygiene adalah 10,1964 dengan standar deviasi 0,81842. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan perilaku responden melakukan hygiene (mencuci tangan menggunakan sabun) sebelum dan setelah diberikan pendidikan kesehatan tentang hygiene. Hal ini juga menunjukkan adanya peningkatan perilaku orang tua melakukan hygiene Di Bangsal Anak RSUD Wonosari sebesar 5,3035 dengan standar deviasi 0,45621.

Untuk mengetahui perbedaan perilaku orang tua dalam melakukan hygiene antara sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan tentang mencuci tangan dengan sabun dengan menggunakan uji paired test. Hasil uji paired t-test sebagai berikut :

(24)

STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA

PERPUSTAKAAN

Tabel 4.5

Uji Paired t-test Perilaku Orang Tua Melakukan Hygiene Sebelum Dan Sesudah Diberikan Pendidikan Kesehatan Tentang Hygiene Paired t-test Mean Std.

Deviation t df

Sig. (2-tailed) Perilaku orang tua

melakukan hygiene (setelah) - Perilaku orang tua melakukan

hygiene (sebelum)

5.30357 1.23465 32.145 55 0.000

Sumber: Data Primer 2012

Berdasarkan tabel diatas, diketahui nilai signifikan kurang dari 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh pendidikan kesehatan tentang hygiene terhadap perilaku orang tua dalam melakukan hygiene Di Bangsal Anak RSUD Wonosari Yogyakarta.

B. Pembahasan Penelitian

1. Karakteristik Responden

Dalam penelitian ini sebagian besar umur responden berusia kurang dari 30 tahun yaitu 42 orang (75%). Usia seseorang dapat mempengaruhi perilaku melakukan hygiene, semakin bertambah usia tentunya akan memiliki pengalaman yang lebih dibandingkan dengan yang memiliki usia muda. Semakin bertambah usia akan semakin berkembang pola pikirnya. Sehingga perilaku praktik hygiene yang dilakukan semakin membaik (Mubarok,W.I., dkk, 2007).

Pendidikan respoden dalam penelitian ini mayoritas berpendidikan SMA yaitu 38 respoden (67,9%). Pendidikan membentuk pola pikir hingga memberikan kemudahan dalam penerimaan informasi atau pemberian pendidikan kesehatan tentang hygiene oleh petugas kesehatan. Lembaga pendidikan meletakkan konsep pengertian sehingga semakin tinggi pendidikan seseorang akan semakin baik pengetahuan. Hal ini juga sesuai dengan teori Suliha (2002) yang menyatakan perilaku juga dipengaruhi oleh pendidikan.

(25)

STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA

PERPUSTAKAAN

Dalam penelitian ini sebagian besar responden tidak bekerja atau sebagai ibu rumah tangga yaitu 34 responden (60,7%). Mayoritas ibu yang tidak bekerja atau sebagai ibu rumah tangga lebih banyak waktu luangnya untuk mencari informasi kesehatan sehingga bisa berperilaku baik. Hal ini sesuai dengan teori yang Notoatmodjo (2003) yang menyatakan pekerjaan mempengaruhi perilaku.

2. Perilaku Orang Tua Melakukan Hygiene Sebelum Diberikan Pendidikan Kesehatan

Pada penelitian ini didapatkan hasil bahwa sebelum dilakukan pendidikan kesehatan tentang hygiene berdasarkan observasi diketahui nilai rata-rata 4,8929 dengan standar deviasi 1,27463. Perilaku responden melakukan hygiene sebelum diberikan pendidikan kesehatan tentang hygiene sebagian besar responden masuk dalam kategori “Kurang (≤56%)“ sebanyak 51 responden (91,1%) dan tidak ada responden yang mempunyai perilaku melakukan hygiene dalam kategori “Baik (75-100%)”. Hasil menunjukkan sebagian besar perilaku hygiene sebelum dilakukan pendidikan kesehatan dengan kategori “Kurang (≤56%)”. Perilaku melakukan hygiene sebelum diberikan pendidikan kesehatan dapat dipengaruhi pengetahuan dan informasi seseorang. Pengetahuan dapat diperoleh dari informasi-informasi tentang cara-cara mencapai pola hidup sehat, cara pemeliharaan, cara menghindari penyakit, dan sebagainya. Selanjutnya dengan pengetahuan-pengetahuan tersebut menimbulkan kesadaran dan akhirnya akan menyebabkan orang berperilaku sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya (Notoatmodjo, 2003).

Rendahnya nilai perilaku orang tua melakukan hygiene Di Bangsal Anak RSUD Wonosari dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah tingkat pengetahuan, fasilitas kesehatan, tradisi atau kebudayaan dan peran petugas kesehatan. Berdasarkan hasil wawancara pada 5 orang tua yang memiliki anak diare Di Bangsal Anak RSUD Wonosari didapatkan bahwa 5 responden (100%) belum mengetahui cara melakukan

(26)

STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA

PERPUSTAKAAN

cuci tangan yang baik dan benar, sebagian besar orang tua tidak mencuci tangan menggunakan sabun sebelum makan, sebelum menyusui, sebelum menyuapi anak, setelah buang air besar, setelah menceboki anak, setelah membuang kotoran anak. Mereka mengatakan bahwa mencuci tangan menggunakan air saja sudah cukup untuk menghilangkan kuman penyebab penyakit dan mereka mencuci tangan dengan sabun jika tangan mereka dianggap masih bau atau kotor. Dan berdasarkan wawancara dengan perawat Di Bangsal Anak RSUD Wonosari didapatkan data bahwa sudah pernah memberikan pendidikan kesehatan tentang kebersihan namun pelaksanaannya tidak rutin pada setiap pasien yang menjalani rawat inap Di Bangsal Anak RSUD wonosari, khususnya untuk kasus diare.

Rendahnya perilaku orang tua dalam melakukan hygiene di Bangsal anak RSUD Wonosari juga disebabkan karena kurangnya fasilitas kesehatan untuk melakukan hygiene seperti sabun, lap, dan tempat mencuci tangan (wastapel) yang dekat atau terjangkau oleh pasien sehingga dapat mendukung proses berperilaku orang tua.

Dalam penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden mempunyai umur kurang dari 30 tahun sebanyak 42 responden (75%), pendidikan responden sebagian besar SMA sebanyak 38 orang (67,9%) dan pekerjaan responden sebagian besar IRT sebanyak 34 orang (60,7%). Tinggi rendahnya tingkat pendidikan, usia dan pekerjaan orang tua mempengaruhi perilaku orang tua melakukan hygiene (mencuci tangan menggunakan sabun), namun perilaku orang tua melakukan hygiene (mencuci tangan menggunakan sabun) juga dipengaruhi oleh peran petugas kesehatan.

Hasil penelitian ini didukung teori Green (1980) menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku antara lain 1) faktor predisposisi meliputi pendidikan, ekonomi atau pendapatan, hubungan sosial, 2) faktor pendukung meliputi lingkungan fisik, fasilitas kesehatan, 3) faktor penguat meliputi petugas kesehatan dan tokoh masyarakat (Notoatmodjo, 2003).

(27)

STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA

PERPUSTAKAAN

3. Perilaku Orang Tua Melakukan Hygiene Setelah Diberikan Pendidikan Kesehatan

Perilaku responden melakukan hygiene setelah diberikan pendidikan kesehatan tentang hygiene diketahui nilai rata-rata 10,1964 dengan standar deviasi 0,81842 dan sebagian besar responden masuk dalam kategori “Baik (75-100%)” sebanyak 50 responden (89,3%), hanya sebagian kecil responden yang masuk dalam kategori “Cukup (56-75%) sebanyak 6 responden (10,7%) dan tidak ada responden yang mempunyai perilaku melakukan hygiene dalam kategori “Kurang (≥56%)”.

Perilaku orang tua melakukan hygiene setelah diberikan pendidikan kesehatan sebagian besar sudah dapat melakukan hygiene sesuai dengan teknik, dengan memperhatikan materi yang diberikan, menanyakan kepada petugas kesehatan jika ada kesalahan dan mengulang terus materi hygiene melalui media leaflet serta mempraktikan sehingga orang tua dapat memahami dengan baik tentang materi dan melakukan hygiene sesuai teknik.

Hal ini sesuai dengan teori proses perubahan perilaku “unfreezing to refrrezing” menurut Lewin (1951) yang dikutip Notoatmodjo (1997) yang berlangsung dalam 5 tahap, yaitu: fase pencarian, fase diagnosa masalah, fase penentuan tujuan, fase tingkah laku baru dan fase pembekuan ulang. Pada fase pencarian orang tua akan mulai mempertimbangkan penerimaan yaitu berupa pendidikan kesehatan yang diberikan, selanjutnya orang tua menganalisa kekuatan-kekuatan yang mendukung perlunya perubahan (fase diagnosa) yang berupa pengetahuan yang didapat dari pendidikan kesehatan, selanjutnya apabila masalahnya sudah dipahami maka orang tua akan menentukan tujuanya sesuai perubahan yang diterimanya (fase penentuan tujuan), setelah itu orang tua akan mulai mencoba perilaku baru dan membandingkanya (fase tingkah laku baru) dan apabila dianggap berguna, maka orang tua akan mencapai pada fase pembekuan ulang dimana perubahan akan dijadikan tingkah laku yang permanen (Suliha, 2002).

(28)

STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA

PERPUSTAKAAN

Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Khairani (2009) yang menyatakan bahwa terdapat peningkatan pengetahuan dan sikap setelah diberikan pendidikan kesehatan melalui metode ceramah, demonstrasi dan latihan.

Menurut Notoatmodjo (2007) perilaku perorangan yang erat hubunganya dengan masalah kesehatan pada dasarnya adalah respon seseorang terhadap stimulus yang berkaitan dengan sakit, pelayanan kesehatan, makanan serta lingkungan. Pemberian pendidikan kesehatan tentang hygiene sangat diperlukan untuk pemberian pengetahuan agar seseorang termotivasi meningkatkan kebersihan dengan melakukan cuci tangan menggunakan sabun dengan teknik yang sesuai dan menjaga kesehatannya dengan tindakan preventif sejak dini.

4. Pengaruh Pendidikan Kesehatan Tentang Hygiene Terhadap Perilaku Orang Tua Melakukan Hygiene

Perilaku responden melakukan hygiene (mencuci tangan menggunakan sabun) sebelum diberikan pendidikan kesehatan tentang hygiene adalah 4,8929 dengan standar deviasi 1,27463, sedangkan rata-rata perilaku responden melakukan hygiene (mencuci tangan menggunakan sabun) setelah diberikan pendidikan kesehatan tentang hygiene adalah 10,1964 dengan standar deviasi 0,81842. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan perilaku responden melakukan hygiene (mencuci tangan menggunakan sabun) sebelum dan setelah diberikan pendidikan kesehatan tentang hygiene. Hal ini juga menunjukkan adanya peningkatan perilaku orang tua melakukan hygiene Di Bangsal Anak RSUD Wonosari sebesar 5,3035 dengan standar deviasi 0,45621.

Uji Paired t test ( uji beda dua kelompok dependen) menggambarkan hal yang sama. Hal ini dapat dilihat dari nilai signifikan kurang dari 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh pendidikan kesehatan tentang hygiene terhadap perilaku orang tua dalam melakukan hygiene Di Bangsal Anak RSUD Wonosari Yogyakarta.

(29)

STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA

PERPUSTAKAAN

Keikutsertaan orang tua dalam pendidikan kesehatan berkaitan dengan hygiene dapat meningkatkan perilaku orang tua melakukan hygiene sesuai teknik sehingga meningkatkan kebersihan anak khususnya penularan kuman melalui tangan dengan mencuci tangan menggunakan sabun. Mencuci tangan menggunakan sabun adalah suatu tindakan yang harus dilakukan karena tangan merupakan faktor utama yang menjadi sumber infeksi terhadap diri sendiri atau lingkungan (Khairani, 2009).

Khusus untuk kasus diare, kuman-kuman diare akan sangat rentan berpindah ketangan pada saat orang tua menceboki anak, membuang kotoran anak dan setelah buang air besar jika tidak mencuci tangan dengan benar menggunakan sabun, maka kuman-kuman bisa berpindah ke benda-benda yang telah disentuh termasuk makanan/minuman yang mungkin akan dikonsumsi juga oleh anak/orang lain. Dengan begitu akan terjadi penularan penyakit diare baik kepada diri sendiri, kepada anak dan kepada orang lain (Khairani, 2009).

Hasil penelitian ini sesuai dengan teori Suliha (2002) menyatakan bahwa pendidikan kesehatan merupakan komponen program kesehatan yang terdiri atas upaya terencana untuk mengubah perilaku individu, kelompok maupun masyarakat yang merupakan perubahan berfikir, bersikap, dan berbuat dengan tujuan membantu pengobatan, rehabilitasi, pencegahan penyakit dan promosi hidup sehat. Pendidikan kesehatan merupakan proses belajar pada individu, kelompok atau masyarakat yang tidak tahu tentang nilai kesehatan menjadi tahu, dan dari tidak mampu mengatasi masalah kesehatan sendiri menjadi mandiri. Dengan demikian pendidikan kesehatan merupakan usaha/kegiatan untuk membantu individu, kelompok dan masyarakat dalam meningkatkan kemampuan baik pengetahuan, sikap, maupun ketrampilan untuk mencapai hidup sehat secara optimal.

Perilaku melakukan hygiene dapat dipengaruhi oleh faktor usia, pendidikan dan pengetahuan (Notoatmodjo, 2003). Usia responden dapat mempengaruhi perilaku melakukan hygiene, semakin bertambah usia

(30)

STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA

PERPUSTAKAAN

tentunya akan memiliki pengalaman yang lebih dibandingkan dengan yang memiliki usia muda. Semakin bertambah usia akan semakin berkembang pola pikirnya. Sehingga perilaku praktik hygiene yang dilakukan semakin membaik. Hasil tersebut dapat diketahui sebagian besar responden mempunyai umur kurang dari 30 tahun yaitu 42 orang (75%).

Perilaku melakukan hygiene yang tidak sesuai teknik sebelum dilakukan pendidikan kesehatan dapat disebabkan oleh kurangnya informasi tentang hygiene dan tingkat pendidikan responden yang sebagian besar berpendidikan SMA sebanyak sebanyak 38 responden (67,9%), sehingga banyak orang tua yang belum tepat melakukan hygiene sesuai teknik.

Berdasarkan pekerjaan responden dapat diketahui sebagian besar responden mempunyai pekerjaan sebagai IRT sebanyak 34 responden (60,7%). Sehingga waktu bersama anak lebih banyak dan dapat melakukan hygiene pada anak lebih optimal.

Peningkatan signifikan terjadi setelah responden diberikan pendidikan kesehatan tentang hygiene oleh peneliti secara individual dengan metode bimbingan dan demonstrasi serta penyuluhan menggunakan alat bantu leaflet Di Bangsal Anak RSUD Wonosari, sehingga memberi keleluasaan pada responden secara pribadi bertanya dan mendemonstrasikan hygiene. Pemberian pendidikan kesehatan oleh petugas kesehatan berpengaruh terhadap perilaku melakukan hygiene, hasil tersebut diketahui terdapat peningkatan perilaku orang tua melakukan hygiene. Peran petugas kesehatan tentang kesehatan sangat penting untuk peningkatan pengetahuan, wawasan dan perubahan perilaku orang tua melakukan hygiene. Bimbingan secara terus menerus dalam pemberian pendidikan kesehatan sangat berpengaruh terhadap perubahan perilaku individu. Dengan usaha pemberian pendidikan kesehatan yang terus menerus, diharapkan nilai-nilai kesehatan tertanam dengan baik, derajat kesehatan menjadi baik dan akhirnya orang tua dapat secara mandiri dalam mengatasi masalah kesehatan.

(31)

STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA

PERPUSTAKAAN

Hasil analisis sesuai dengan hipotesis pada penelitian ini yaitu terdapat pengaruh pendidikan kesehatan tentang hygiene terhadap perilaku orang tua dalam melakukan hygiene pada anak diare Di Bangsal Anak RSUD Wonosari.

C. Keterbatasan Penelitian

Pelaksanaan penelitian ini masih jauh dari sempurna dan memiliki keterbatasan dan kelemahan, diantaranya:

1. Dalam melakukan post-test perilaku orang tua melakukan hygiene, peneliti hanya dapat mengobservasi orang tua dalam melakukan hygiene tidak secara langsung karena keterbatasan ruang observasi (sebagian besar responden melakukan hygiene di kamar mandi) sehingga peneliti melakukan post test dengan menanyakan kembali urutan mencuci tangan menggunakan sabun kepada responden dengan mengobservasi terlebih dahulu perilaku hygiene responden.

2. Alat dan metode pengumpulan data yang digunakan hanya berupa chek-list, sehingga keakuratan dalam pengukuran penelitian masih lemah.

3. Terbatasnya fasilitas kesehatan yang berada di Bangsal Anak RSUD Wonosari yang menyebabkan kesulitan bagi orang tua Di Bangsal Anak RSUD Wonosari untuk melakukan hygiene dengan baik dan benar.

(32)

STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA

PERPUSTAKAAN

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan Di Bangsal Anak RSUD Wonosari maka peneliti memberikan kesimpulan sebagai berikut: 1. Perilaku orang tua melakukan hygiene sebelum diberikan pendidikan

kesehatan tentang hygiene termasuk dalam kategori “Kurang (≥56%). 2. Setelah diberikan pendidikan kesehatan, nilai perilaku orang tua

melakukan hygiene meningkat menjadi ke dalam kategori “Baik (75-100%).

3. Berdasarkan hasil analisis menggunakan uji paired t test dengan taraf kesalahan (α) 0,05 terbukti bahwa ada pengaruh signifikan antara pemberian pendidikan kesehatan tentang hygiene terhadap perilaku orang tua melakukan hygiene. Hal ini dibuktikan dengan nilai p yaitu 0,000 (p<0,05).

B. Saran

1. Bagi tenaga Keperawatan

Petugas kesehatan (perawat) di rumah sakit agar lebih berperan dalam memberikan penyuluhan atau informasi kesehatan terhadap orang tua yang memiliki anak diare terkait dengan perilaku orang tua melakukan hygiene, serta diadakan tindak lanjut seperti evaluasi, agar tujuan dari hygiene itu benar-benar tercapai.

2. Bagi para Orang Tua

Para orang tua perlu menambah wawasan lagi tentang hygiene untuk meningkatkan perilaku orang tua dalam melakukan hygiene sesuai dengan teknik yang benar, misalnya dengan membaca buku, mencari informasi pada petugas kesehatan terdekat dan lain-lain. Hal ini sangat berarti bagi orang tua dan anak untuk meningkatkan perilaku melakukan hygiene sehingga meningkatkan kebersihan dan kesehatan anak.

(33)

STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA

PERPUSTAKAAN

3. Bagi peneliti selanjutnya

a. Diharapkan bagi peneliti selanjutnya, dapat menggunakan metode penelitian dengan menggunakan kelompok kontrol/pembanding untuk mendapatkan hasil yang lebih signifikan.

b. Diharapkan bagi peneliti selanjutnya, dapat meneliti dan menggali faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan perilaku orang tua melakukan hygiene.

(34)

STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA

PERPUSTAKAAN

DAFTAR PUSTAKA

Adisasmito, Wiku. (2007) Faktor Resiko Diare Pada Bayi Dan Balita Di Indonesia: Systematic Review Penelitian Akademik Bidang Kesehatan Masyarakat.Jurnal Makara Kesehatan Vol.11, No. 1. Depok: Universitas Indonesia.

Arikunto Suharsimi. (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Revisi VI. Jakarta: Rineka Cipta.

______.(2010). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Edisi Revisi 2010. Jakarta: Rineka Cipta.

Asmadi. (2008). Konsep Dasar Keperawatan. Edisi pertama. Jakarta : EGC. Badan Pusat Statistik Kabupaten Gunung Kidul. Gunung Kidul Dalam Angka

2011.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2001). Buku Pegangan Pemberantasan Penyakit Diare Dalam Repelita V. Jakarta : Dirjen PPM & PLP.

______. (2002). Profil Kesehatan Indonesia 2002. Jakarta: Depkes RI 2002. ______. (2005). Pedoman penelitian program pemberantasan penyakit diare. Jakarta : Dirjen PPM & PLP.

Dinas Kesehatan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. (2010). Profil Kesehatan Provinsi D.I. Yogyakarta Tahun 2009.

______.(2011). Seksi Promosi Kesehatan Dan Kemitraan.

Ferianto.( 2011). Pengaruh Pendidikan Kesehatan Tentang Pijat Bayi Terhadap Perilaku Ibu Melakukan Pijat Bayi Di Desa Trimurti Srandakan Bantul Yogyakarta. Yogyakarta : Skripsi Jurusan Ilmu Keperawatan Stikes A. Yani Yogyakarta. (tidak Diterbitkan).

Hidayat, Aziz Alimul. (2005). Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Edisi Pertama. Jakarta: Salemba Medika.

Khairani Wittin.(2009).Promosi Kesehatan Mecuci Tangan Menggunakan Sabun Melalui Metode Ceramah, Demontrasi Dan Latihan Dibandingkan Dengan Media Leaflet Pada Siswa Sekolah Dasar Di Kota Jambi. Yogyakarta. Tesis Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Jurusan Ilmu-ilmu Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.(Tidak Diterbitkan).

(35)

STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA

PERPUSTAKAAN

Kementrian Kesehatan Indonesia. 2011. Profil Kesehatan Indonesia 2010. Jakarta Lertari, Mambrah. 2011. Hubungan Perilaku Menjaga Personal Hygiene Dengan

Kejadian Keputihan (Leukorea/ Flour Albus) Pada Remaja Putri Kelas X Di SMK Sawunggalih Kutoarjo. Yogyakarta : Skripsi Jurusan Ilmu Keperawatan Stikes A. Yani Yogyakarta. (tidak Diterbitkan).

Machfoedz, I., Sutrisno, ES., Santosa, S.(2005). Pendidikan Kesehatan Bagian dari Promosi Kesehatan, Penerbit Fitramaya, Jakarta.

Mansjoer Arif, Triyanti Kuspuji, Savitri Rakhmi , Wardhani Wahyu Ika, Setiowulan Wiwiek , . (2001). Kapita Selekta Kedokteran. Edisi ketiga jilid pertama. FKUI: Media Aesculapius

Mubarak dan Chayatin. (2009). Ilmu Kesehatan Masyarakat: Teori dan Aplikasi. Jakarta: Salemba Medika

Mubarok, W.I., dkk. (2007) Promosi Kesehatan: Sebuah Pengantar Proses Belajar Mengajar Dalam Pendidikan. Edisi Pertama. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Nasili, Thaha M. Ridwan , Seweng Arifin. (2011). Perilaku Pencegahan Diare Anak Balita Di Wilayah Bantaran Kali Kelurahan Bataraguru Kecamatan Wolio Kota Bau-bau. Jurnal Makara Kesehatan Vol.15, No. 1. Depok: Universitas Indonesia.

Notoatmodjo, S.(2003). Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta

______ . (2005). Metodologi Penelitian Kesehatan. Cetakan Ketiga, Jakarta : Rineka Cipta.

______. (2007). Kesehatan Masyarakat: Ilmu dan Seni. Jakarta : Rineka Cipta ______. (2007). Promosi Kesehatan & Ilmu Perilaku. Jakarta: Rineka Cipta Nursalam. (2003). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu

Keperawatan: Pedoman skripsi, Tesis, dan Instrumen Penelitian Keperawatan. Edisi 1. Jakarta: Salemba Medika

______. (2008). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan: Pedoman skripsi, Tesis, dan Instrumen Penelitian Keperawatan. Edisi 2. Jakarta: Salemba Medika

(36)

STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA

PERPUSTAKAAN

Nursalam, dkk. (2008). Asuhan Keperawatan Bayi dan anak (untuk Perawat dan Bidan). Cetakan kedua. Jakarta: Salemba Medika

Palupi Astya, Hadi Haman, Soenarto Sri Suparyanti. (2009). Status Gizi dan Hubunganya Dengan Kejadian Diare Pada Anak Diare Akut di Ruang Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Jurnal Gizi Klinik Indonesia. Vol. 6, No. 1. Yogyakarta.

Potter dan Perry. (2005). Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses, dan praktik. Edisi 4. Jakarta: EGC

______. (2009). Fundamental Keperawatan. Buku 2. Edisi 7. Jakarta: Salemba Medika

Riwidikdo, H.(2010). Statistik Kesehatan: Belajar Mudah Tehnik Analisis Data Dalam Penelitian Ksehatan. Jogjakarta: MITRA CENDIKA Press.

Sarwono, S. (2004). Sosiologi Kesehatan.Yoygakarta: GMU Press.

Siswanto Hadi. (2010). Pendidikan Kesehatan Anak Usia Dini. Yogyakarta : Pustaka Rihana

Sugiono. (2007). Statistika Untuk Penelitian. Cetakan keduabelas, Bandung: CV ALFABETA.

______. (2010). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: EGC

Suharsini, (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Edisi Revisi VI. Jakarta: Rineka Cipta.

Suliha Uha, Herawani, Sumiani, Resnayati Yeti. (2002). Pendidikan Kesehatan dalam Keperawatan. Jakarta: EGC

Tietjen, L.(2004). Panduan Pencegahan Infeksi Untuk Fasilitas Pelayanan Kesehatan Dengan Sumber Daya Terbatas, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta.

Referensi

Dokumen terkait

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir yang berjudul “Analisis

Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan di Kecamatan Sungai Rumbai Kabupaten Dharmasraya pada bulan Maret 2019, Tujuan kegiatan ini adalah untuk 1) mempeibaiki tata

Untuk menambah wawasan dan pengetahuan yang telah didapat dari perkuliahan mengenai pengaruh debt to equity ratio , profitability , ukuran perusahaan ( size ), umur

Hampir semua kabupaten/kota di Bandung Raya mengalami perlambatan ekonomi, kecuali Kabupaten Sumedang yang tum- buh positif dan lebih tinggi dari LPE 2014, yaitu meningkat dari

Apabila tidak terdapat wakil penawar yang hadir pada saat pembukaan, panitia menunda pembukaan kotak/tempat pemasukan dokumen penawaran sampai dengan batas

Tujuan dari penelitian ini adalah (a) Untuk menjelaskan seberapa besar respon siswa terhadap penerapan strategi pembelajaran reciprocal teaching pada pemahaman membaca

Berdasarkan permasalahan di atas maka peneliti berminat untuk melakukan penelitian dengan tujuan ingin mengetahui sejauh mana pengaruh yang dihasilkan dari penerapan

Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan data Statistik Perbankan Syariah