PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MANDIRI MANDIRI P E R K O T A A N
LOKASI SIKLUS TAHUN KE 3
BB.02
KUMPULAN BAHAN
SERAHAN
Bahan Serahan | Pelatihan Penguatan BKM tahun ke 2 1
Bagaimana Melakukan Monev?
Sebagaimana dengan sebuah rencana kerja, rencana monev pun harus mudah dipahami oleh orang yang berkepentingan. Karenanya, rencana monev perlu dengan lengkap menjelaskan: a) siapa yang akan me-monev; b) apa yang dimonev; c) bagaimana cara memonev; d) kapan monev dilakukan; dan e) dimana monev dilakukan.
Pertanyaan-pertanyaan berikut dapat kita pegang untuk menyusun rencana monev. 1. Apa yang perlu di monev?
2. Tolok ukur (indikator) apa yang dipakai?
3. Siapa yang mengendalikan dan mengkoordinasi proses monev? 4. Siapa yang perlu dilibatkan dalam monev? Apa perannya?
5. Kapan dan dimana masing-masing langkah monev akan dilaksanakan? 6. Bagaimana monev akan dilakukan (pilihan bentuk, cara dan alat)? 7. Bagaimana kita akan mengemas hasil monev?
8. Kepada siapa kita akan membagikan hasil monev? 1. Apa yang dimonev?
Hal-hal yang akan dimonev sangat tergantung tujuan monev itu sendiri.
;
Perencanaan, apakah perencanaan program telah dilakukan bersama-sama (mengundang banyak pihak yang akan dilibatkan dalam program)?;
Kegiatan, apakah kegiatan yang direncanakan telah terlaksana dengan baik (tepat waktu, sesuai anggaran, partisipasi semua pihak, dll);
Penggunaan sumber daya, apakah penggunaan sumber daya sudah cukup baik? (tidak boros, tidak berlebihan)?;
Pelaku kegiatan, apakah masing-masing penanggung jawab kegiatan sudah berperan sesuai kesepakatan? Apakah kita telah melibatkan pihak-pihak terkait (masyarakat lain, LSM, pemerintah, donor, dll) sesuai kesepakatan?;
Hasil, apakah hasil yang diharapkan telah tercapai atau belum?;
Tujuan dan manfaat, apakah tujuan program sudah tercapai? Apakah masyarakat bisa merasakan manfaat dari program?2
Bahan Serahan | Pelatihan Penguatan BKM tahun ke 22. Indikator yang digunakan
Indikator digunakan untuk memudahkan dalam menilai keberhasilan, kegagalan atau kondisi suatu program. Indikator yang biasa dipakai untuk mengevaluasi sebuah program:
;
Ketersediaan sarana untuk mencapai tujuan yang diinginkan;
Apakah hasil proyek sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai;
Apakah sarana atau kegiatan yang dibuat benar-benar dapat dicapai atau dimanfaatkan oleh orang-orang yang benar-benar membutuhkannya;
Apakah sarana yang disediakan benar-benar digunakan untuk tujuan semula;
Berapa persen jumlah atau luas sasaran sebenarnya yang dapat dijangkau oleh program;
Bagaimana mutu pekerjaan dan sarana yang dihasilkan program (kualitas hidup, kualitas tanaman yang ditanam);
Berapa banyak sumber daya (tenaga, barang, dana) yang sudah digunakan (diinvestasikan) untuk mencapai tujuan;
Apakah sumber daya dan kegiatan yang dilakukan benar-benar dimanfaatkan secara maksimal;
Apakah kegiatan yang dilakukan benar-benar memberikan masukan terhadap perubahan yang diinginkan3. Siapa yang melakukan monev
Sebelum menjawab pertanyaan siapa yang melakukan monev, maka kita perlu membedakan dua pertanyaan berikut:
a. Siapa yang mengendalikan dan mengkoordinasikan proses monev? b. Siapa yang perlu dilibatkan dalam monev? Perannya apa?
Seperti dalam permainan sepakbola, pertanyaan pertama adalah sama dengan siapa yang menjadi kapten. Pertanyaan kedua adalah sama dengan siapa yang menjadi pengatur serangan, penjaga gawang, penyerang, dsb.
Jika monev dibuat dengan tujuan sebagai media untuk belajar dari pengalaman, maka pada prinsipnya semakin banyak pihak yang melakukan monev, semakin baik. Namun demikian pihak yang paling merasakan dampak program lah yang harus menjadi pengendali proses monev, dan mereka berhak menentukan siapa saja yang perlu dilibatkan.
Bahan Serahan | Pelatihan Penguatan BKM tahun ke 2 3 4. Kapan dan dimana dilakukan?
Pada prinsipnya monev dilakukan kapan saja, dan menjadi bagian tidak terpisahkan seiring dengan berjalannya kegiatan atau program. Namun demikian, seringkali kegiatan monev menjadi terlupakan karena tidak ditetapkan waktunya. Guna menetapkan waktu yang paling cocok, pertimbangkan saat strategis sesuai program kerja. Pilihannya adalah:
;
Awal, pertengahan dan akhir program;
Terus menerus, perbulan, perkuartal, pertahunan;
Beberapa bulan setelah program atau proyek selesai;
Mengikuti alur kegiatan yang disepakati bersamaPenentuan tempat monev, tergantung apa yang dimonev dan cara yang dipilih. Secara umum:
;
Untuk pengamatan secara langsung, monev perlu dilakukan di tempat pelaksanaan kegiatan;
Untuk diskusi dan pelaporan sebaiknya dilakukan di tempat yang nyaman dan gampang dijangkau oleh semua pihak yang perlu terlibat.Sumber:
Monitoring & Evaluasi: Sebagai Media Belajar,
DFID, 2001
4
Pandua
Peserta Bahan Serahan Meman
an | Pelatihanndu Monev
•
Meng berpa masy•
Meng meng•
Meng kegia•
Mend peng dan k•
Kerta•
Spid•
Kerta Pertemua Pertemua kegiatan dan pen pemandu IDENTI1.
Samp kegia perte2.
Buatl dalam rapat meny dsb.3.
Salin kegi mem kegia n Penguatan BKv Partisipa
gidentifikasi artisipasi d yarakat misk gidentifikasi gambil keput gidentifikasi atan. diskusikan ambilan kep kaum perem as plano, se ol warna-wa as metaplan an warga in an kecil ini , terutama ngelola keg u monev par FIKASI & A paikan tuju atan. Pastika emuan ini. lah daftar ra m pelaksan t, menceta yediakan ko lah contoh atan ke ahami kelo atan. KM tahun ke 2atif di Mas
dan me dalam keg kin dan kaumdan me tusan dalam dan men cara untu putusan dan mpuan. lotip kertas arni n warna warn ni diadakan dihadiri ole perempua giatan (pa rtisipatif ini. ANALISIS P uan kita m an warga ya angkaian su aan kegiata ak undanga onsumsi, me matriks S dalam ker ompok oran
syarakat
enganalisis giatan, khu m perempuan enganalisis m kegiatan. nganalisis uk mening n kepuasaan ni setelah sa eh pihak-pih an miskin, nitia). Rela PARTISIPA melakukan ang hadir m b-kegiatan y an, termasu an, menye empersiapka Siapa berp rtas plano. ng yang b siapa saj ususnya p n. siapa saj penerima gkatkan pa n masyaraka atu kegiatan hak yang ikulaki-laki awan dapat ASI monev pa memahami k yang telah d uk misalnya ebarkan un an tempat k partisipasi Pastikan berpartisipas a yang artisipasi a yang manfaat artisipasi, at miskin n selesai. ut dalam miskin, menjadi artisipatif kegunaan dilakukan a rapat-ndangan, kegiatan, dalam peserta si dalam
Bahan Serahan | Pelatihan Penguatan BKM tahun ke 2 5 Daftar
Sub-Kegiatan
Siapa Berpartisipasi dalam Kegiatan? 1 2 3 4 5 6 1. 2. 3. Keterangan:
Kelompok 1 : Pihak luar desa/kelurahan (faskel, proyek, dll). Kelompok 2 : Aparat pemerintahan (kades, lurah, dsb) Kelompok 3 : Tokoh masyarakat laki-laki
Kelompok 4 : Tokoh masyarakat perempuan Kelompok 5 : Warga miskin laki-laki
Kelompok 6 : Warga miskin perempuan. Kelompok 7 : dan lain-lain.
4.
Persilahkan setiap orang untuk memberi suara (gunakan tanda X atau lingkaran) pada kelompok yang mereka pikir terlibat dalam masing-masing sub-kegiatan.5.
Setelah semua memberikan suara, diskusikan bersama kelompok mana yang paling banyak berpartisipasi (terlibat kegiatan) dan mengapa. Hal ini penting untuk memahami mengapa kelompok tertentu dominan atau absen melakukan sub-kegiatan tertentu. Misalnya, perempuan hanya berperan sebagai penyedia makanan-minuman.6.
Cermati bersama, apakah warga miskin dan perempuanbanyak terlibat dalam kegiatan. Keterlibatan ini penting karena pada dasarnya kegiatan yang dilakukan terutama ditujukan untuk memberdayakan warga miskin dan perempuan.
7.
Diskusikan apakah situasi ini perlu dirubah dan bila perlu, bagaimana melakukannya.6
Bahan Serahan | Pelatihan Penguatan BKM tahun ke 2IDENTIFIKASI & ANALISIS PENGAMBILAN KEPUTUSAN
8.
Buatlah daftar seluruh keputusan yang telah diambil dalampelaksanaan kegiatan, termasuk misalnya penentuan jenis kegiatan, waktu atau lokasi, pembentukan panitia, penentuan penerima manfaat, dsb.
9.
Salinlah contoh matriks Pengambil Keputusan ke dalam kertas plano. Pastikan peserta memahami kelompok orang pengambil keputusan.Daftar
Keputusan Pengambil Keputusan?1 2 3 4 5 6 1.
2. 3.
Keterangan:
Kelompok 1 : Pihak luar desa/kelurahan (faskel, proyek, dll). Kelompok 2 : Aparat pemerintahan (kades, lurah, dsb) Kelompok 3 : Tokoh masyarakat laki-laki
Kelompok 4 : Tokoh masyarakat perempuan Kelompok 5 : Warga miskin laki-laki
Kelompok 6 : Warga miskin perempuan. Kelompok 7 : dan lain-lain
10.
Persilahkan setiap orang untuk memberi suara (gunakan tanda X atau lingkaran) pada kelompok yang mereka pikir pengambil keputusan untuk masing-masing keputusan.11.
Setelah semua memberikan suara, diskusikan bersamapeserta kelompok mana saja yang paling banyak berperan dalam pengambilan keputusan. Sangat penting untuk memahami mengapa kelompok tertentu (seperti warga miskin dan perempuan) tidak berperan dalam pengambilan keputusan.
Tak jarang kita menemukan bahwa keputusan sebenarnya ditentukan oleh pihak luar. Kondisi ini menunjukkan
Bahan Serahan | Pelatihan Penguatan BKM tahun ke 2 7 masyarakat, terutama miskin, belum memiliki kesempatan untuk memutuskan hal-hal yang berkaitan dengan dirinya.
12.
Diskusikan apa yang dapat dilakukan sehingga warga miskindan perempuan dapat lebih berperan dalam pengambilan keputusan.
IDENTIFIKASI & ANALISIS PENERIMA MANFAAT
13.
Buatlah daftar manfaat apa saja yang diperoleh dalam pelaksanaan kegiatan, baik berupa barang/fisik maupun non-fisik seperti peningkatan pengetahuan, dsb.14.
Salinlah contoh matriks Penerima Manfaat ke dalam kertas plano. Pastikan peserta memahami kelompok orang penerima manfaat.Jenis Manfaat Penerima Manfaat?1 2 3 4 5 6 1.
2. 3.
Keterangan:
Kelompok 1 : Pihak luar desa/kelurahan (faskel, proyek, dll). Kelompok 2 : Aparat pemerintahan (kades, lurah, dsb) Kelompok 3 : Tokoh masyarakat laki-laki
Kelompok 4 : Tokoh masyarakat perempuan Kelompok 5 : Warga miskin laki-laki
Kelompok 6 : Warga miskin perempuan. Kelompok 7 : dan lain-lain
15.
Persilahkan setiap orang untuk memberi suara (gunakan tanda X atau lingkaran) pada kelompok yang mereka pikir penerima manfaat pada masing-masing jenis manfaat.16.
Setelah semua memberikan suara, diskusikan bersama peserta siapa saja yang sebenarnya mengambil manfaat paling banyak dari pelaksanaan kegiatan. Cermati seberapa banyak warga miskin dan perempuan menerima manfaat dari kegiatan.8
Bahan Serahan | Pelatihan Penguatan BKM tahun ke 217.
Diskusikan apa yang dapat dilakukan sehingga warga miskin dan perempuan benar-benar menerima manfaat dari pelaksanaan kegiatan.USULAN DARI MASYARAKAT - tindakan yang bisa dilakukan
untuk meningkatkan partisipasi warga miskin, untuk menjamin kepuasan kelompok sasaran, untuk meningkatkan pembelajaran di masyarakat, dan keberlanjutan
Menurut Perempuan Menurut Laki-laki
(
Panduan ini diadaptasi dari Organisational Development Snapshot Tool, ACCESS, 2007,
dikembangkan untuk membangun kultur monev partisipatif di masyarakat melalui program
PNPM Mandiri Perkotaan
).Bahan Serahan | Pelatihan Penguatan BKM tahun ke 2 9
Memahami Sumberdaya Penguatan BKM
Oleh : Budi Supriatna
Untuk mencapai visi/misi keberadaan BKM, yaitu mendorong terjadinya perubahan sosial di komunitasnya, BKM perlu memperkuat kelembagaannya. Tanpa itu, amanat komunitas yang diembankan pada BKM besar kemungkinan akan gagal diwujudkan.
Memperkuat kelembagaan berarti BKM memiliki kesediaan dan kemampuan untuk “menjadi lebih baik”. Secara umum, ada 2 pengertian yang terkandung di dalam “menjadi lebih baik”, yaitu memperbaiki, dan meningkatkan. Memperbaiki berhubungan dengan berbagai kelemahan yang ada pada tubuh BKM. Melalui proses ini, BKM menghilangkan, mengurangi terus-menerus berbagai kelemahannya, serta menumbuhkan berbagai hal yang belum tersedia guna meningkatkan kwalitas maupun kwantitas layanan bagi komunitasnya. Sedangkan Meningkatkan berhubungan dengan berbagai kekuatan yang dimiliki oleh BKM. Melalui proses ini, BKM mempertahankan serta menumbuh-kembangkan berbagai hal yang selama ini dipandang memberi faedah bagi perubahan sosial. Memperkuat kelembagaan akan berlangsung terus-menerus. Oleh karena itu, BKM perlu memiliki kesediaan dan kemampuan untuk belajar terus-menerus (organisasi belajar).
Sumberdaya Dan Penguatan Kelembagaan BKM
Agar dapat memperkuat kelembagaannya, BKM perlu memiliki kemampuan menggalang dan mengelola sumberdaya yang tersedia di dalam kelembagaannya. Sumberdaya merupakan faktor yang fundamental bagi keberadaan BKM atau organisasi-organisasi lainnya. Suatu organisasi tidak bisa berdiri tanpa dukungan sumberdaya. Lemah-kuatnya atau sehat-sakitnya suatu organisasi ditentukan pula oleh ketersediaan sumberdaya.
Sumberdaya dan Daya Hidup BKM
Sumberdaya merupakan faktor yang menentukan daya hidup BKM. BKM yang tidak memiliki suatu sumberdaya akan menjadi bergantung pada pihak-pihak lain. Semakin tinggi tingkat ketergantungannya, besar kemungkinan akan semakin besar pula resiko BKM tersebut kehilangan otonomi dan independesinya. Semakin tidak memiliki sumberdaya vital yang merupakan “nyawa” bagi kehidupannya, BKM cepat tapi pasti akan menuju kematiannya.
Dengan adanya sumberdaya, BKM dapat mempertahankan daya hidupnya serta menjalankan berbagai kegiatan untuk mencapai visi/misi keberadaannya. Selain itu, dengan adanya sumberdaya BKM dapat:
• membangun dan mengembangkan jaringan; memelihara hubungan dengan kelompok, komunitas, serta pihak-pihak lainnya
• memperkuat kelembagaannya melalui berbagai peningkatan keterampilan dan pengetahuan, peningkatan kemampuan kepemimpinan, pengembangan kemampuan manajemen, pengembangan “organisasi belajar”
BKM yang memiliki daya hidup berarti akan dapat secara terus-menerus menyelenggarakan berbagai kegiatan dalam waktu yang panjang. Dengan demikian, memungkinkan mencapai tujuan utama keberadaannya, yaitu mendorong perubahan sosial yang lebih baik bagi komunitasnya.
10
Bahan Serahan | Pelatihan Penguatan BKM tahun ke 2Daya hidup bukanlah semata kemampuan untuk menggalang atau memperoleh sumberdaya, melainkan juga kemampuan untuk mengelola sumberdaya.
Aspek-aspek Sumberdaya untuk Memperkuat Kelembagaan BKM
Ada banyak pengertian tentang apa yang dimaksud dengan sumberdaya. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar pendapat yang mengatakan bahwa sumberdaya adalah suatu aspek tertentu saja, misalnya, uang/dana. Sumberdaya sama dengan uang/dana. Bahkan, tidak jarang pula kita temui kalangan yang menempatkan uang adalah segalanya.
Dalam perspektif pengembangan kelembagaan BKM, sumberdaya tidaklah semata hanya uang atau suatu aspek tertentu saja. Sumberdaya adalah berbagai aspek yang dibutuhkan dan didayagunakan---meliputi orang, uang, peralatan, sistem manajemen, informasi, dan waktu yang dikerahkan--- untuk mencapai visi/misi keberadaan BKM.
Ada 5 aspek sumberdaya untuk memperkuat kelembagaan BKM, yaitu:
1. Visi/Misi Keberadaan BKM: Apa yang ingin dicapai oleh BKM? Untuk apa dan kenapa BKM didirikan?
BKM mesti memiliki visi/misi keberadaan serta tujuan yang jelas. Visi/misi keberadaan serta tujuan BKM merupakan panduan arah bagi keseluruhan kerja yang dilakukan BKM. Ketika BKM tidak memiliki kejelasan arah tentang yang hendak dicapai dan ditujunya, bisa dipastikan BKM tidak akan mampu bertahan untuk waktu yang panjang.
2. Pengembangan Kapasitas: Apa kapasitas lembaga untuk menjalankan berbagai kegiatan? Pengembangan kapasitas merupakan jantung di dalam kelembagaan BKM. Pengembangan kapasitas mampu mendorong dan mengaktifkan berbagai sumberdaya lainnya. Di dalam penguatan kelembagaan BKM, pengembangan kapasitas mencakup, antara lain spirit tim, loyalitas, gaya kepemimpinan, berbagai pengetahuan dan keterampilan kerja, kapasitas dan proses pengambilan keputusan, pengembangan dan penguatan nilai-nilai.
3. Struktur organisasi dan Sistem Manajemen: Bagaimana struktur dan mekanisme untuk menjalankan berbagai kegiatan?
Struktur mengacu pada komposisi di dalam organisasi BKM yang meliputi DPK, …..atau keseluruhan pengelola dalam berbagai tingkatan. Di dalam penguatan kelembagaan BKM, penting untuk mempertimbangkan struktur organisasi
BKM perlu memiliki prosedur dan cara kerja yang efektif untuk mengelola berbagai sumberdayanya. Sistem manajemen ini mencakup perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi, proses pengambilan keputusan, saluran komunikasi dan informasi, berbagai mekanisme, aturan, dan panduan kerja.
4. Uang dan peralatan: Bagaimana penggelolaan dan penggalangan dana serta perangkat kerja untuk menjalankan berbagai kegiatan?
Penguatan kelembagaan BKM ditentukan pula oleh kemampuan BKM dalam menggalang dan mengelola pendanaan. Efisiensi dan efektifitas pemanfaatan dana, dengan mengacu pada transparansi dan akuntabilitas, diperlukan untuk menciptakan BKM yang sehat dan kuat. 5. Hubungan dan Jaringan: Apakah BKM membangun hubungan dan jaringan dengan
pihak-pihak lain untuk menjalankan berbagai kegiatannya?
Memelihara koordinasi, hubungan, dan jaringan dengan pihak lain merupakan aspek penting di dalam penguatan kelembagaan BKM. BKM bukanlah organisasi yang ekslusif serta mengisolasi diri. Hubungan dan jaringan akan membantu peningkatan kapasitas BKM untuk
Bahan Serahan | Pelatihan Penguatan BKM tahun ke 2 11 Pengembang an Manusia Pengelola & Kader Pengelola KSM Komunitas
melaksanakan berbagai kegiatan secara efektif. Kemiskinan tidaklah bisa dihadapi dan ditangani oleh BKM secara sendirian.
Pengembangan
Kapasitas Struktur & Sistem Manajemen Uang & Peralatan Hubungan & Jaringan
• Keterampilan • Pengetahuan • Kepemimpinan • Dan lain-lain • Struktur Organisasi • Administrasi • Keuangan • Komunikasi & Informasi • Kaderisasi • Dan lain-lain • Pengelolaan dan Penggalangan Dana • Perangkat • Kelompok • Komunitas • Organisasi Sejenis • Pihak-pihak lain (NGO, Swasta, Pemerintah)
Pendekatan untuk Pengembangan Sumberdaya dalam Penguatan Kelembagaan BKM
Dari semua aspek sumberdaya, pengembangan kapasitas manusia merupakan substansi dalam memperkuat dan mengembangkan daya hidup kelembagaan BKM. Pengembangan manusia merupakan jantung bagi proses penguatan daya hidup kelembagaan BKM. Pengembangan manusia tidak hanya mencakup peningkatan kapasitas keterampilan dan pengetahuan para pengelola BKM, KSM, serta komunitas. Namun, meliputi juga penciptaan kondisi di dalam kelembagaan BKM, KSM, serta komunitas yang mampu menumbuhkan nilai-nilai universal kemanusiaan. Suatu penciptaan kondisi yang juga mampu mendorong terbentuknya ruang bagi BKM, KSM, serta komunitas untuk mengakses dan memiliki kontrol terhadap pengelolaan berbagai sumberdaya melalui proses-proses pembangunan.
Pendekatan yang berorientasi pada pengembangan kapasitas manusia dengan berbasis pada nilai-nilai merupakan kaidah dalam penguatan kelembagaan BKM. Pendekatan ini bukanlah pendekatan yang anti terhadap pertumbuhan
modal (ekonomi) serta kesejahteraan. Meskipun demikian, pendekatan ini berbeda dengan pandangan yang mengedepankan pertumbuhan ekonomi sebagai fundamen utama bagi pengembangan manusia melalui “efek tetesan ke bawah”; suatu pandangan yang dianut oleh para pemeluk faham neoliberilasasi. Pendekatan yang berorientasi pada pengembangan manusia
Visi/Misi BKM
12
Bahan Serahan | Pelatihan Penguatan BKM tahun ke 2Secara umum, ada pola kecenderungan dalam menggalang sumberdaya bagi penguatan kelembagaan organisasi berbasis volunteer, misalnya LSM dan organisasi masyarakat sipil. Pola kecenderungan ini menunjukan bahwa keduanya masih belum optimal dalam penggalangan sumberdaya.
Untuk penggalangan sumberdaya pendanaan, banyak organisasi berbasis volunteer cenderung mengandalkan pada pihak-pihak eksternal yang berada di luar komunitas dan organisasinya
Kecenderungan Penggalangan Pendanaan
Bagan Kecenderungan Penggalangan Sumberdaya Pendanaan
Pihak Sumberdaya Pendanaan Peruntukan Penerima Manfaat
Pemerintah Pajak dari Warga Negara Pelayanan publik Publik Swasta Investor, Pelanggan/ Pengguna produk atau jasa Produk dan Jasa Layanan Pelanggan/ Pengguna produk atau jasa Organisasi V l t Pemerintah Funding P Eksternal Komunitas Internal
Pihak Pemilik Sumberdaya
dengan berbasis pada nilai-nilai juga berbeda dengan pandangan yang meletakkan manusia sebagai alat untuk meningkatkan pendapatan, kekayaan, dan perluasan produksi; suatu pandangan yang lazim dipakai dalam HRD (human resources development). Pendekatan yang berorientasi pada pengembangan manusia dengan berbasis pada nilai-nilai juga berlainan dengan pandangan yang lebih mengutamakan kesejahteraan dan pemenuhan kebutuhan dasar. Suatu pandangan yang melihat dan menempatkan masyarakat sebagai “penerima manfaat” ketimbang pelaku aktif dalam proses-proses pembangunan.
Ketiadaan sumberdaya serta ketergantungan yang sedemikian tinggi pada pihak-pihak lain di luar diri dan komunitasnya, pada gilirannya hanya akan membuat BKM kehilangan otonomi dan independensinya. BKM perlu secara kritis mencermati dan menilai kembali strategi pengembangan sumberdayanya.
BKM perlu menyusun strategi bagi pengembangan manusia, baik bagi pengelola BKM, KSM, serta bagi komunitas. Suatu strategi yang secara sistematik dan bertahap dapat memutus mata rantai ketergantungan BKM terhadap banyak pihak yang berada di luar diri dan komunitasnya.
Menggalang dan Mengelola Sumberdaya
Menggalang dan mengelola sumberdaya adalah satu-satunya jalan untuk mempertahankan dan memperkuat kelembagaan BKM. BKM perlu merumuskan strategi, baik bagi penggalangan
sumberdaya maupun untuk pengelolaannya.Suatu strategi yang mampu
menjawab tersedianya sumberdaya serta sekaligus secara sistematis dan bertahap dapat mendorong BKM menuju otonomi dan kemandirian.
Berbagai sumberdaya yang tersedia pada berbagai pihak, komunitas maupun pihak-pihak eksternal di luar komunitas, hanya bisa diakses manakala BKM mampu menunjukkan dirinya adalah pihak yang memiliki kecakapan dan kredibilitas. Kecakapan berhubungan dengan tingkat kinerja BKM dalam menjalankan dan mengelola kegiatan-kegiatannya. Kredibilitas berhubungan dengan aspek nama baik, reputasi, keterpercayaan. Tanpa itu, proses yang ditempuh dalam menggalang sumberdaya akan berat dan
Bahan Serahan | Pelatihan Penguatan BKM tahun ke 2 13
Kemampuan BKM dalam mengelola sumberdaya yang telah diperoleh merupakan faktor terpenting atau bahkan modal utama dalam menjajaki dan
mengembangkan penggalangan sumberdaya. Pada aspek pengelolaanlah,
kecakapan dan kredibilitas BKM sesungguhnya dipertaruhkan. Pengelolaan selain berhubungan dengan efesiensi dan efektifitas dalam mengelola sumberdaya untuk memperoleh manfaat sebesar-besarnya bagi pengembangan komunitas, juga menyangkut transparansi dan akuntabilitas.
Komunitas adalah Sumberdaya Terbesar yang Dimiliki BKM
Kita telah memahami bahwa komunitas adalah “pemilik” BKM. Daya dukung komunitas merupakan fundamen yang akan menentukan kekokohan pilar-pilar kelembagaan BKM. Semakin tinggi tingkat dukungan komunitas akan menjadi semakin kuatlah keberadaan BKM.
Menggalang hubungan dan dukungan komunitas serta memeliharanya secara terus-menerus perlu mendapat perhatian dan curahan energi terbesar dalam pelaksanaan berbagai kegiatan BKM sehari-hari. Dinamika proses penguatan daya hidup BKM sesungguhnya terletak di dalam kemampuan BKM untuk terus-menerus menggalang dan mengelola hubungan serta dukungan komunitasnya. Komunitas adalah sumberdaya terbesar yang dimiliki BKM.
Adalah sebuah kekeliruan manakala menempatkan komunitas sebagai “pemilik pasif yang hanya menerima manfaat semata” (penerima manfaat). Cara pandang tersebut masih sedemikian rupa mewarnai berbagai program yang mengusung “pemberdayaan”. Implikasi dari cara pandang tersebut, dalam prakteknya, akan menggali sebuah jurang keterpisahan antara BKM dan komunitasnya. Pada gilirannya, akan membuat BKM kehilangan sumberdaya terbesarnya, yaitu komunitasnya itu sendiri.
Jalan apa yang mesti ditempuh BKM dan komunitas agar dapat memenuhi berbagai kebutuhan sumberdaya untuk memperkuat BKM serta sekaligus mengurangi tingkat ketergantungannya pada pihak lain?
Kita kemudian menyebut jalan yang ditempuh itu sebagai Partisipasi. Partisipasi bukanlah sekedar memperoleh dukungan tanda tangan dari warga. Atau terkungkung pada sebatas ruang pertemuan yang dihadiri warga. Partisipasi adalah interaksi terus-menerus antara warga dan BKMnya. Di dalamnya berlangsung keterlibatan warga mulai dari pengambilan keputusan maupun penyelenggaraan kegiatan. Partisipasi pun mencakup juga rasa kepemilikan dan memperoleh manfaat bersama dari keberadaan BKM.
Sedangkan untuk penggalangan sumberdaya nondana, banyak organisasi berbasis volunteer lebih bertumpu pada kemampuan dan kreativitas para pengelolanya ketimbang pada pihak lokal, komunitas, maupun pihak eksternal. Bahkan tidak jarang masa depan suatu organisasi kemudian bergantung hanya pada segelintir pengelolanya. Kecenderungan Penggalangan Sumberdaya Nonpendanaan Eksternal Komunitas Internal
14
Bahan Serahan | Pelatihan Penguatan BKM tahun ke 2 Komunitas Sumberdaya Terbesar Penerima Manfaat Pelaku Aktif PemilikBKM perlu sedemikian rupa membuka berbagai ruang dialog dan keterlibatan sang pemilik. Selain mengembangkan berbagai kegiatan yang memadai---untuk dialog dan keterlibatan komunitas---BKM perlu mengembangkan suatu sistem, aturan main, serta manajemen agar ruang dialog dan keterlibatan komunitas tersebut dapat terjaga keberlangsungannya.
Partisipasi komunitas bukanlah hendak mengabaikan pentingnya membangun kerjasama antara BKM dengan pihak-pihak lainnya yang berada di luar komunitas. Justru sebaliknya, melalui partisipasi komunitas, BKM dapat memastikan bahwa kerjasama dengan berbagai pihak lain adalah seiring-sejalan dengan kepentingan pengembangan komunitas. Pada gilirannya, hal itu akan memperkuat kepercayaan dan jalinan kerjasama yang akan dan sedang dijalankan.
Bahan Serahan | Pelatihan Penguatan BKM tahun ke 2 15
Penilaian Perkembangan Organisasi BKM/LKM
Seiring perjalanan waktu, BKM/LKM akan mengalami perubahan-perubahan baik yang direncanakan maupun tidak. Perubahan ini bisa didorong oleh faktor-faktor dari dalam (internal) maupun dari luar (eksternal). Konsistensi dan kreativitas pengurus BKM/LKM akan merubah BKM. Begitupun, ketidak-aktifan pengurus BKM/LKM akan membawa perubahan. Masyarakat yang merasa penting akan keberadaan BKM/LKM sehingga termotivasi untuk berkontribusi juga akan membawa perubahan terhadap BKM/LKM. Begitupun sebaliknya. Perubahan BKM/LKM adalah keniscayaan. Karenanya, sangat penting bagi pengurus BKM/LKM untuk mengenali perubahan.
Perubahan BKM/LKM yang cukup besar mungkin akan terjadi tatkala pendampingan program berakhir. Pengurus BKM/LKM mulai saat ini harus mulai membayangkan bagaimana jalannya BKM/LKM tatkala tak ada lagi ‘suntikan’ dana BLM, tak ada lagi fasilitator dan rombongan konsultan pendamping, tak ada lagi berbagai aktivitas pengembangan kapasitas yang diterima gratis, tak ada lagi berbagai kewajiban dan tekanan pelaporan, dan sebagainya. Mungkin akan menjadi perubahan yang menyenangkan. Mungkin juga titik kematian organisasi dimulai di masa itu. Untuk itu, mulai saat ini, pengurus BKM/LKM perlu disiapkan untuk menghadapi berbagai perubahan. Ini merupakan tanggung jawab program.
Alat penilaian perkembangan organisasi BKM/LKM ini dimaksudkan untuk menyiapkan pengurus BKM (termasuk unit pengelola dan relawan lainnya) menghadapi tantangan perubahan organisasi. Perangkat manajemen ini tak lebih adalah alat bantu musyawarah untuk mengembangkan mimpi organisasi berikut tahapan-tahapan yang akan menunjukkan jalan menuju mimpi. Jadi, pertama, BKM/LKM harus memiliki visi atau cita-cita atau mimpi organisasi. Kedua, menurunkan mimpi menjadi tahapan-tahapan perkembangan organisasi yang bergerak maju.
Apa pentingnya? Dengan kata lain sebenarnya kita sedang merencanakan perubahan sehingga lebih siap menghadapi perubahan. BKM/LKM secara sadar dapat mengontrol gerak, kesesuaian sumber daya, pilihan cara dan saling menjaga kinerja di antara para anggota dan unit pengelola. Dengan kata lain, penilaian perkembangan organisasi BKM/LKM merupakan alat untuk mengetahui bahwa BKM/LKM sedang menuju ke arah yang benar.
Arah yang Hendak Dituju?
Pertanyaan ini hanya boleh dijawab oleh para pengurus BKM/LKM. Pun, ketika harus memutuskan, pengurus BKM/LKM harus bertanya kepada berbagai pihak yang berkepentingan terhadap BKM/LKM terutama masyarakat miskin. Kalau saat ini ada tujuh ribuan BKM/LKM maka kemungkinan akan ada tujuh ribuan variasi arah pengembangan BKM/LKM.
Meski begitu, dua hal yang tak boleh berubah dari semua variasi arah pengembangan BKM/LKM adalah pertama, cita-cita awalnya sebagai motor penanggulangan kemiskinan, dan kedua, pilihan bentuk organisasinya sebagai organisasi masyarakat warga (civil society organization).
16
Bahan Serahan | Pelatihan Penguatan BKM tahun ke 2Berangkat dari alasan dan bentuk keberadaan tersebut, program ini mengembangkan tahapan pengembangan organisasi BKM/LKM yang bersifat generik sebagai berikut.
BKM/LKM Awal terbentuk BKM/LKM Berdaya BKM/LKM Mandiri BKM/LKM menuju Madani
Ciri utama dari tahapan ini adalah perubahan organisasi yang bergerak maju dari satu organisasi yang didorong pembentukannya oleh program menjadi organisasi yang sepenuhnya milik masyarakat. Konsisten dengan orientasi tersebut, selayaknya semakin maju BKM/LKM maka intervensi program akan semakin kecil dan akhirnya berakhir. Masyarakatlah yang harus terus mengurus dan merawat BKM/LKM.
Apa itu Penilaian Perkembangan Organisasi BKM/LKM?
Metode penilaian perkembangan organisasi BKM/LKM ini diadaptasi dari IDF (Institutional Development Framework – Kerangka Pengembangan Organisasi), suatu perangkat manajemen yang dirancang untuk menilai tingkat perkembangan suatu organisasi. Alat ini telah digunakan di banyak tempat dan berhasil membantu organisasi, terutama organisasi masyarakat sipil, untuk meningkatkan kinerja organisasi, memperkuat dampak, meningkatkan daya tahan organisasi bekerja bersama masyarakat, dan meningkatkan efisiensi agar organisasi lebih efektif. Penggunaan alat ini membantu organisasi menyadari faktor-faktor yang mendorong keberhasilan, mengenali kekuatan dan kelemahan, memiliki prioritas rencana kerja yang lebih akurat untuk memperbaiki kelemahan dan memperkuat kekuatan, dan mengukur tingkat capaian terhadap tujuan.
Kekuatan metode ini terletak pada sifatnya yang partisipatif, menilai diri sendiri (self assessment) dan penilaian berkala. Proses penilaian perkembangan organisasi ini dilakukan
dalam diskusi (musyawarah) yang diikuti oleh seluruh pengurus BKM/LKM (termasuk unit pengelola dan relawan lainnya). Semakin banyak pelaku organisasi yang terlibat maka hasil penilaian akan semakin baik. Dengan demikian hasil penilaian merupakan kesepakatan seluruh
pelaku BKM/LKM. Penilaian juga harus dilakukan berkala (setiap tahun) untuk mengukur tingkat kemajuan organisasi sesuai kriteria (indikator) yang disepakati.
Sebagai satu alat evaluasi, penilaian perkembangan organisasi ini mudah, murah dan efektif. Setiap anggota BKM/LKM atau relawan yang telah dilatihkan dapat menjadi fasilitator proses ini, dan tentu saja mempersiapkan diri. Penilaian ini tidak membutuhkan biaya yang besar untuk peralatan, tenaga ahli dan sebagainya. Cukup dibutuhkan satu ruang pertemuan ditambah konsumsi yang enak. Efektif karena hasil penilaian ini dapat langsung digunakan untuk merumuskan program kerja tahun berikutnya.
Perangkat Penilaian Perkembangan Organisasi BKM/LKM
Penilaian perkembangan organisasi BKM/LKM ini telah jauh mengalami penyederhanaan dari perangkat IDF. Pertimbangan utama adalah kemudahan penggunaan di lapangan.
Salah satu perangkat utama adalah Matriks Tingkat Perkembangan Organisasi BKM/LKM. Matriks ini merupakan jantung dari alat penilaian perkembangan organisasi ini. Matriks ini berbentuk tabel dengan beberapa kolom dan banyak baris. Secara praktis, tujuan dari diskusi kelompok adalah mengisi nilai dari setiap aspek perkembangan organisasi secara bersama-sama.
Bahan Serahan | Pelatihan Penguatan BKM tahun ke 2 17
Berbeda dengan metode asli IDF yang memberikan matriks kosong kepada peserta, peserta musyawarah penilaian perkembangan organisasi BKM/LKM tidak perlu lagi merumuskan isi matriks penilaian kelembagaan BKM/LKM. Sehingga dalam pelaksanaannya, anggota BKM/LKM tinggal mendiskusikan dan menyepakati nilai/skor tingkat perkembangan organisasi.
Kolom pertama Matriks penilaian berisi 6 bidang/sumber daya organisasi yaitu statuta organisasi, kepemimpinan, sistem manajemen, sumberdaya keuangan, sumberdaya manusia, dan hubungan eksternal. Setiap bidang memiliki bobot yang berbeda yang menunjukkan tingkat kepentingan terhadap jalannya organisasi. Masing-masing bidang diuraikan lebih lanjut dalam
aspek-aspek organisasi. Dalam pengisian matriks, aspek-aspek inilah yang ditentukan nilai
“tingkat perkembangannya”.
Tahap perkembangan organisasi dirumuskan secara kualitatif, yang mencakup empat tahap
perkembangan yaitu awal, berdaya, mandiri dan menuju madani, dan seluruh tahap dinilai secara kuantitatif pada rentang nilai dari 25 sampai 400. Setiap tahap perkembangan nilainya dibagi empat sehingga gradasi setiap tahap dapat diperhalus.
Tahap Perkembangan BKM/LKM Nilai Awal 25 – 50 – 75 – 100 Berdaya 125 – 150 – 175 – 200 Mandiri 225 – 250 – 275 – 300 Menuju Madani 325 – 350 – 375 – 400
Dalam penilaian tahap perkembangan, setiap aspek organisasi diteliti mengenai kondisi obyektifnya. Dalam kolom-kolom tahap perkembangan tersedia indikator yang menunjukkan tingkat perkembangan organisasi. Meski begitu, harus disadari rumusan indikator ini memiliki keterbatasan untuk mencakup realitas yang ada. Karenanya, pertajamlah indikator ini melalui diskusi sehingga menghasilkan nilai perkembangan.
Contoh pengisian aspek Visi-Misi
Perhatian pertama ditujukan melihat narasi (indikator) Tahap Perkembangan: Awal,
18
Bahan Serahan | Pelatihan Penguatan BKM tahun ke 2apakah kondisi obyektif BKM/LKM saat ini telah mencapai kondisi “Visi-Misi disusun oleh panitia pembangunan BKM, sebagaimana tertulis dalam AD/ART BKM”.
Kalau ya, maka periksa narasi perkembangan Berdaya, diskusikan apakah kondisi obyektif BKM/LKM saat ini telah mencapai kondisi “Visi-Misi dipahami oleh anggota BKM/UP sebagai cita-cita BKM ke depan menyangkut perubahan sosial yang diinginkan”.
Apabila kondisi ini belum tercapai, misalnya masih ada anggota BKM/LKM yang tidak mengetahui visi-misi BKM/LKM, diskusikan berapa banyak anggota yang tidak paham, atau berapa banyak yang baru sekedar tahu tetapi tidak paham bahwa visi-misi adalah cita-cita bersama, dst.
Berangkat dari hasil diskusi, sepakati berapa Nilai perkembangan BKM/LKM antara 125 – 175. Kalau dirasa masih banyak anggota yang tidak paham, maka pilihannya bisa jatuh pada 125. Terakhir, beri nilai dalam kotak yang telah disediakan.
Jangan terjebak pada sekedar mengisi Nilai. Alat ini adalah media bantu diskusi untuk merefleksikan kondisi obyektif BKM/LKM. Anggota BKM/LKM harus kritis mempertanyakan mengapa kita berada dalam penilaian seperti itu, apa yang dapat kita lakukan untuk memperbaiki kondisi, dst.
Skor di kolom paling kanan diisi dengan cara “nilai tahap perkembangan” (Y) dibagi “total nilai
bidang organisasi” dikali “bobot bidang organisasi”. Setelah semua aspek organisasi dihitung skornya, lakukan penjumlahan dan didapatlah total skor organisasi.
Contoh penghitungan skor.
Disepakati nilai aspek “visi misi” sebesar 125. Karena “visi misi” berada pada bidang “statuta organisasi” dengan total nilai bidang organisasi sebesar 800 (nilai maksimal “visi misi” 400 ditambah nilai maksimal “struktur organisasi” 400) dan bobot 10%, maka skor aspek “visi misi” adalah: 125/800 X 10% = 1,5 %
Contoh lain, disepakati nilai aspek “pemilihan anggota BKM” sebesar 200. Karena “pemilihan anggota BKM” berada pada bidang “kepemimpinan” dengan total nilai bidang organisasi sebesar 2400 (nilai maksimal semua (6) aspek dikali 400) dan bobot 20%, maka skor aspek “pemilihan anggota BKM” adalah: 200/2400 X 20% = 1,7 %.
Total Skor Tahap Perkembangan
BKM/LKM Tafsir Perkembangan BKM/LKM
≤ 25% Awal BKM/LKM baru memulai kegiatan dan membangun hubungan baik ke dalam antaranggota maupun ke luar. Bagi BKM/LKM yang telah bertahun-tahun berdiri, perlu mempertimbangkan kembali tujuan keberadaannya.
> 25% – 50% Berdaya BKM/LKM telah memiliki tujuan dan rencana serta perangkat organisasi. BKM/LKM sudah memiliki basis yang cukup kuat untuk berkembang, namun masih sangat perlu meningkatkan kinerja untuk mencapai perkembangan yang lebih tinggi. > 50% – 75% Mandiri BKM/LKM telah memiliki gagasan inovatif dan pandangan ke
depan.
Bahan Serahan | Pelatihan Penguatan BKM tahun ke 2 19 mempertahankan eksistensinya menuju kemandirian dan keberlanjutan.
Perangkat penting lainnya dari metode ini adalah adalah profil perkembangan organisasi
BKM/LKM yang berbentuk diagram batang. Profil ini merupakan visualisasi dari hasil penilaian
perkembangan organisasi.
Bagian akhir dari penggunaan perangkat pemetaan organisasi ini adalah rekomendasi penguatan/perbaikan organisasi BKM/LKM. Aspek-aspek organisasi yang skornya rendah (dibawah 200) merupakan prioritas pengembangan kelembagaan BKM/LKM.
Referensi: Mark Renzi. 1996. An integrated Toolkit for institutional development. Public Administration and Development, Vol. 16, 469-483. John Wiley & Sons, Ltd
20
Bahan Serahan | Pelatihan Penguatan BKM tahun ke 2Kisi-Kisi Tingkat Perkembangan Organisasi BKM/LKM
BIDANG /SUMBERDAYA
ORGANISASI ASPEK
TAHAP PERKEMBANGAN BKM/LKM
KISI-KISI
AWAL BERDAYA MANDIRI MENUJU MADANI
STATUTA ORGANISASI Visi-Misi Visi-Misi, sebagaimana tertulis dalam AD/ART BKM, disusun oleh panitia pembangunan BKM Visi-Misi dipahami oleh anggota BKM/UP sebagai cita-cita BKM ke depan menyangkut perubahan sosial yang diinginkan. Visi-Misi menjadi acuan dalam penyusunan program dan kegiatan BKM. Visi-Misi BKM dipahami oleh masyarakat dan dijadikan cita-cita bersama menyangkut perubahan sosial yang diinginkan.
Hal yang hendak diukur dari indikator ini adalah (1)
pemahaman pelaku mengenai visi misi; dan (2) apakah visi misi menjadi acuan penyusunan program. Visi misi bukanlah rangkaian kata-kata yang hanya terdapat di AD/ART BKM. Visi misi sesungguhnya menunjukkan untuk apa BKM itu ada. Sebagai cita-cita bersama, visi misi BKM harus dipahami oleh semua pihak yang berkepentingan terhadap BKM. Secara konkrit, visi misi mestilah menjadi acuan dalam penyusunan program. Struktur Organisasi Struktur organisasi BKM mengikuti kerangka PNPM
Struktur dan tupoksi organisasi BKM dipahami dan mampu dijalankan oleh anggota BKM/UP BKM mampu mengkaji ulang struktur organisasi sesuai kebutuhan kerja penanggulangan kemiskinan di daerahnya Struktur organisasi BKM ditetapkan oleh BKM/UP, KSM, masyarakat, pemerintah lokal dan kelompok peduli lainnya sesuai kebutuhan
Hal yang hendak diukur adalah (1) apakah pelaku memahami struktur dan tupoksi BKM; (2) kemampuan mengkaji struktur terhadap kebutuhan kerja organisasi.
Struktur organisasi mestinya mengikuti kebutuhan kerja organisasi. Seiring perkembangan peran BKM, BKM dapat
memutuskan struktur organisasi seperti apa agar kerja optimal. Sebagai organisasi masyarakat warga, perubahan hal-hal
Bahan Serahan | Pelatihan Penguatan BKM tahun ke 2 21
fundamental seperti struktur organisasi seharusnya diputuskan bersama seluruh pihak yang berkepentingan terhadap BKM/LKM. KEPEMIMPINA N Legitimasi Pemilihan Anggota BKM Pemilihan dilakukan sesuai mekanisme yang ditetapkan oleh PNPM dan diikuti sedikitnya 30% penduduk dewasa Pemilihan dilakukan sesuai mekanisme yang diadopsi dari PNPM, tepat waktu dan diikuti sedikitnya 50% penduduk dewasa Pemilihan dilakukan sesuai mekanisme yang diadopsi dari PNPM, tepat waktu dan diikuti sedikitnya 70% penduduk dewasa Pemilihan dilakukan sesuai mekanisme yang disepakati bersama BKM/UP, KSM, masyarakat, pemerintah lokal dan kelompok peduli lainnya, tepat waktu dan diikuti sedikitnya 90% penduduk dewasa
Kata kunci dari indikator ini adalah legitimasi. Semakin banyak penduduk yang ikut memberikan suara dalam pemilihan anggota BKM, akan membuat BKM semakin mengakar di masyarakat. Pengambil an Keputusan Semua keputusan berdasarkan arahan dari PNPM Ada konsultasi antara BKM dan PNPM Ada konsultasi antara BKM/UP kepada KSM dan masyarakat Keputusan berdasarkan musyawarah BKM, KSM, masyarakat dan pemerintah kelurahan
Hal yang hendak diukur adalah (1) kemandirian dalam pengambilan keputusan, lepas dari ‘bayang-bayang’ PNPM; (2) kemampuan BKM menyerap aspirasi dari masyarakat. Perempua n dlm Pengambil an Keputusan Tidak terdapat perempuan dalam keanggotaan BKM atau hanya sekedar tercantum namanya Anggota BKM perempuan hadir dalam rapat-rapat pengambilan keputusan meskipun suaranya seringkali masih diabaikan Seluruh anggota BKM memiliki penghargaan yang sama terhadap setiap pendapat yang muncul baik dari anggota laki-laki maupun perempuan.
Semua orang, laki-laki atau perempuan, anggota BKM/UP, KSM, masyarakat, aparat pemerintahan, dsb., berhak mengemukakan pendapat dalam musyawarah BKM.
Kata kunci dari indikator ini adalah kesetaraan peran laki-laki dan perempuan. Mekanism e Minta Usulan Masyaraka t
Tidak ada Ada mekanisme tetapi tidak digunakan Ada mekanisme dan digunakan untuk mendapatkan masukan Tersedia berbagai mekanisme yang disepakati bersama dengan masyarakat
Hal yang hendak diukur adalah kemampuan BKM menggali aspirasi dari masyarakat.
22
Bahan Serahan | Pelatihan Penguatan BKM tahun ke 2Anggota
BKM anggota BKM yang meluangkan waktu ikut dalam pengelolaan BKM anggota BKM ikut dalam pengelolaan BKM dan menunjukkan kapasitas kepemimpinannya anggota BKM aktif mengelola BKM sesuai pembagian tugas yang disepakati BKM aktif mengelola BKM sesuai kapasitas, minat dan pembagian tugas yang disepakati.
adalah keaktifan anggota BKM mengelola organisasi, sesuai kapasitas dan pembagian tugas yang disepakati. Pertemuan BKM Pertemuan dilakukan hanya ketika ada kebutuhan pelaksanaan program Pertemuan rutin terjadual meski tidak selalu terealisasi Pertemuan rutin dilakukan dan dihadiri oleh hampir seluruh anggota BKM, hasilnya dituangkan dalam risalah pertemuan Pertemuan rutin dilakukan sesuai jadual dan melibatkan masyarakat, hasilnya dituangkan dalam risalah pertemuan.
Hal yang hendak diukur adalah keaktifan BKM. Organisasi yang aktif dapat diukur dari
kemampuannya mengelola pertemuan. Apalagi BKM saat ini berbentuk kepemimpinan kolektif, dimana keputusan semestinya diambil dalam pertemuan.
SISTEM MANAJEMEN Perencana an Hanya menjalankan aktivitas-aktivitas yang direncanakan oleh PNPM BKM memiliki rencana kerja meski belum sistematis
BKM & UP memiliki rencana kerja yang disusun berdasarkan PJM dan Renta Pronangkis.
BKM & UP memiliki rencana kerja yang disusun dgn melibatkan masyarakat berdasarkan PJM dan Renta Pronangkis.
Kata kunci dari indikator ini adalah (1) kemampuan merencana; (2) konsistensi perencanaan BKM/UP thd
rencana masyarakat (PJM & Renta Pronangkis). Menurut ahli
manajemen, 70% keberhasilan program ditentukan oleh perencanaannya. Bekerja tanpa rencana yang jelas akan sulit mengukur apakah berhasil atau gagal. Dalam penyusunan program kerja BKM/UP harus merujuk pada PJM dan Renta Pronangkis.
Monitoring Evaluasi
Dilakukan atas permintaan PNPM dan sesuai format PNPM Mulai mengembangkan monev atas kebutuhan sendiri dengan menggunakan metode dan format sendiri, diluar yang
Mulai mengembangkan monev partisipatif atas semua kegiatan yang dilakukan. Perencanaan monev terintegrasi dalam perencanaan program, dilakukan terencana dan rutin serta partisipatif.
Hal yang hendak diukur adalah kemampuan BKM melakukan monitoring evaluasi secara partisipatif terhadap berbagai kegiatan yang dilakukan. Monev tidak dilakukan untuk mencari kesalahan, tetapi untuk mendapat pembelajaran baik dari
Bahan Serahan | Pelatihan Penguatan BKM tahun ke 2 23 ditetapkan oleh
PNPM keberhasilan maupun kegagalan. Kalau berhasil, mengapa berhasil
dan kalau gagal mengapa gagal. Dokument asi Informasi Tidak memiliki sistem dokumentasi informasi Dilakukan tetapi
tidak sistematik Dilakukan secara sistematik dan mudah diakses Dokumentasi dilakukan sistematik, mudah diakses dan uptodate.
Hal yang hendak diukur adalah kemampuan BKM
mendokumentasikan informasi seperti arsip, hasil-hasil kegiatan, hasil evaluasi, dsb. Penangan an Pengadua n Masyaraka t (PPM) Mekanisme PPM yang dirancang PNPM dipahami oleh anggota BKM Mekanisme PPM diketahui dan digunakan oleh BKM/UP, masyarakat, pemerintah dan pihak lain untuk menyelesaikan masalah terkait program. Minimal 90% pengaduan yang diterima BKM dapat diselesaikan BKM telah memiliki mekanisme mandiri untuk menyelesaikan setiap masalah, ditandai dengan media pengaduan yang efektif, sistem dokumentasi yang up-date serta respon atas pengaduan yang efektif
Kata kunci dari indikator ini adalah penanganan pengaduan masyarakat. PNPM
mengembangkan mekanisme PPM yang diharapkan dapat dijadikan pembelajaran bagi BKM untuk mengembangkan
kemampuan menangani masalah dan menyelesaikan konflik.
Penerima Manfaat Kegiatan/ Program Minimal 50% rumah tangga miskin (RTM) di desa/kelurahan tersebut telah menjadi penerima manfaat kegiatan, sebagaimana terdapat dalam data pemetaan swadaya Minimal 70% RTM di desa/kelurahan tersebut telah menjadi penerima manfaat kegiatan, sebagaimana terdapat dalam data pemetaan swadaya. Minimal 90% RTM di desa/kelurahan tersebut telah menjadi penerima manfaat kegiatan, sebagaimana terdapat dalam data pemetaan swadaya 100% RTM di desa/kelurahan tersebut telah menjadi penerima manfaat kegiatan, sebagaimana terdapat dalam data pemetaan swadaya.
Kata kunci dari indikator ini adalah legitimasi. Selalu ingat, BKM ada untuk penanggulangan kemiskinan. SUMBERDAYA KEUANGAN Sumber pendanaa n PNPM menjadi satu-satunya sumber dana Sumber dana berasal dari PNPM dan sumber lain (masyarakat, pemerintah daerah,
Sumber dana darI PNPM lebih kecil dibandingkan dengan sumber lain (masyarakat, pemerintah Sumberdana berasal dari masyarakat, pemerintah daerah,
Kata kunci dari indikator ini adalah kemandirian pendanaan, lepas dari dana PNPM untuk selanjutnya menggali dana dari masyarakat, pemerintah daerah,
24
Bahan Serahan | Pelatihan Penguatan BKM tahun ke 2swasta, dsb) daerah, swasta,
dsb) swasta, dsb. swasta dan pihak peduli lainnya.
Rencana Keuangan Mengikuti kerangka PNPM Mampu menyusun perkiraan kebutuhan keuangan untuk menjalankan 1-2 kegiatan. Mampu menyusun perkiraan kebutuhan keuangan untuk menjalankan kegiatan 1 tahun ke depan serta rencana sumberdaya Mampu menyusun perkiraan kebutuhan keuangan, serta strategi dan metode pengumpulan dana untuk memenuhi visi-misi program 3 tahun ke depan
Hal yang hendak diukur adalah kemampuan BKM menyusun rencana keuangan seiring penyusunan rencana program.
Laporan Keuangan
Disusun sesuai standar PNPM, meski seringkali tidak lengkap dan tidak tepat waktu
Disusun sesuai standar PNPM, semua bukti pemasukan dan pengeluaran ada dan tercatat, tersedia tepat waktu. Dilakukan audit independen terhadap laporan keuangan. Hasil audit independen terhadap laporan keuangan menunjukkan tidak ditemukan penyalahgunaan keuangan atau kesalahan dalam pengelolaan keuangan.
Kata kuncinya adalah akuntabilitas pengelolaan keuangan. Pertanggu ngjawaban Lebih disiapkan untuk pelaporan kepada PNPM, memberitahukan laporan keuangan kepada masyarakat hanya jika ditanya Mengumumkan laporan keuangan secara terbuka kepada masyarakat. Laporan keuangan dan hasil audit diumumkan secara terbuka kepada masyarakat. Terdapat forum bersama masyarakat, pemerintah, dsb., untuk pertanggungjawaba n keuangan dan hasil audit
Kata kunci indikator ini adalah akuntabilitas dan transparansi.
SUMBERDAYA MANUSIA Pengemba ngan kapasitas Hanya mengakses menu pengembangan kapasitas yang tersedia dalam Muncul kebutuhan-kebutuhan pengembangan kapasitas untuk menjawab tantangan kegiatan Mampu mengidentifikasi dan menyusun rencana pengembangan kapasitas sendiri, Rencana pengembangan kapasitas disusun secara sistematis, bersama-sama perencanaan
Hal yang ingin diukur adalah kemampuan BKM
mengidentifikasi kebutuhan pengembangan kapasitas dirinya (anggota BKM/UP/ relawan), menyusun rencana
Bahan Serahan | Pelatihan Penguatan BKM tahun ke 2 25 PNPM yang semakin meningkat, meski belum mampu mengakses sumberdaya lain di luar PNPM serta memiliki akses pengembang kapasitas selain PNPM program, dan memiliki akses kepada berbagai pengembang kapasitas
pengembangan kapasitas serta mencari sumber-sumber pengembangan kapasitas. Pengembangan kapasitas ini ditujukan agar pelaku dapat menjalankan berbagai program yang telah direncanakan.
Kaderisasi Tidak memiliki agenda kaderisasi Telah mulai melakukan kaderisasi namun belum memiliki sistem BKM menetapkan sistem dan mekanisme kaderisasi Makanisme kaderisasi berjalan efektif
Kata kunci indikator ini adalah kaderisasi kepemimpinan. Kaderisasi ini tidak hanya soal pemilihan anggota BKM setiap 3 tahun sekali. Lebih besar dari itu BKM terus memproduksi orang-orang yang berperan sebagai agen perubahan sosial di wilayahnya. Dengan kata lain, anggota BKM mereplikasi dirinya
(memperbanyak orang seperti dirinya). HUBUNGAN EKSTERNAL KSM Komunikasi BKM-KSM terbatas pada pertanggungjawab an penggunaan BLM Komunikasi BKM-KSM meliputi berbagai masalah dan perkembangan KSM BKM-KSM membangun komunikasi timbal balik mendiskusikan berbagai masalah dan perkembangan KSM dan BKM BKM dan KSM mengembangkan komunikasi multi arah untuk membicarakan masalah masyarakat
Kata kunci dari hubungan eksternal adalah komunikasi. Komunikasi tidak serta merta terjadi kalau tidak diciptakan. Keberhasilan pengentasan kemiskinan sangat ditentukan kemampuan pendampingan BKM terhadap KSM.
Masyaraka
t Komunikasi BKM-masyarakat bersifat satu arah (sosialisasi) BKM mengembangkan mekanisme untuk menarik masukan dari masyarakat terhadap perkembangan BKM BKM mengembangkan media warga untuk membangun komunikasi timbal balik BKM dan masyarakat BKM dan masyarakat mengembangkan komunikasi multi arah untuk membicarakan masalah masyarakat
Kata kunci dari indikator ini adalah organisasi masyarakat warga. BKM merupakan organisasi masyarakat warga, organisasi yang hidup dari, oleh dan untuk masyarakat.
Masyarakat merupakan pember mandat keberadaan BKM. Karena itu hubungan antara pemberi mandat yang dimandati tidak
26
Bahan Serahan | Pelatihan Penguatan BKM tahun ke 2boleh putus. Selain itu bagi BKM, masyarakat merupakan
sumberdaya tak terbatas.
Pemerinta h
Sosialisasi untuk apa dan apa yang akan dilakukan BKM BKM menjadi agen komunikasi antara pemerintah dan masyarakat untuk menyelesaikan persoalan kemiskinan di desa/kelurahan Ada koordinasi untuk menyelesaikan persoalan kemiskinan di desa/kelurahan Ada program bersama untuk menyelesaikan persoalan kemiskinan di desa/kelurahan
Kata kunci dari indikator ini adalah pengakuan. BKM dan pemerintah harus bekerjasama menanggulangi kemiskinan di wilayahnya. Organisasi non-pemerinta h Tidak ada komunikasi Komunikasi tentang kegiatan yang dilakukan masing-masing. Kesepakatan kerjasama jangka panjang untuk menanggulangi kemiskinan Ada program bersama di wilayah BKM
Kata kunci dari indikator ini adalah kesamaan tujuan dan sumberdaya. BKM harus mendorong pihak-pihak non pemerintah seperti LSM, ormas, swasta, perguruan tinggi untuk bersama-sama menanggulangi kemiskinan.
Bahan Serahan | Pelatihan Penguatan BKM tahun ke 2 27
MATRIKS TINGKAT PERKEMBANGAN ORGANISASI BKM/LKM
BIDANG / SUMBERDAYA ORGANISASI ASPEK BOBO T TAHAP PERKEMBANGAN BKM/LKM S K O R
AWAL BERDAYA MANDIRI MENUJU MADANI
25 50 75 100 125 150 175 200 225 250 275 300 325 350 375 400 STATUTA ORGANISASI Visi-Misi 10% Visi-Misi, sebagaimana tertulis dalam AD/ART BKM, disusun oleh panitia pembangunan BKM
Visi-Misi dipahami oleh anggota BKM/UP sebagai cita-cita BKM ke depan menyangkut perubahan sosial yang diinginkan.
Visi-Misi menjadi acuan dalam penyusunan program dan kegiatan BKM.
Visi-Misi BKM dipahami oleh masyarakat dan dijadikan cita-cita bersama menyangkut perubahan sosial yang diinginkan
Struktur Organisasi
Struktur organisasi BKM
mengikuti kerangka PNPM Struktur dan tupoksi organisasi BKM dipahami dan mampu dijalankan oleh anggota BKM/UP
BKM mampu mengkaji ulang struktur organisasi sesuai kebutuhan kerja penanggulangan
kemiskinan di daerahnya
Struktur organisasi BKM ditetapkan oleh BKM/UP, KSM, masyarakat, pemerintah lokal dan kelompok peduli lainnya sesuai kebutuhan KEPEMIMPI NAN Legitimasi Pemilihan Anggota BKM 20%
Pemilihan dilakukan sesuai mekanisme yang
ditetapkan oleh PNPM dan diikuti sedikitnya 30% penduduk dewasa
Pemilihan dilakukan sesuai mekanisme yang diadopsi dari PNPM, tepat waktu dan diikuti sedikitnya 50% penduduk dewasa
Pemilihan dilakukan sesuai mekanisme yang diadopsi dari PNPM, tepat waktu dan diikuti sedikitnya 70% penduduk dewasa
Pemilihan dilakukan sesuai mekanisme yang
disepakati bersama BKM/UP, KSM,
masyarakat, pemerintah lokal dan kelompok peduli lainnya, tepat waktu dan diikuti sedikitnya 90% penduduk dewasa Pengambila
28
Bahan Serahan | Pelatihan Penguatan BKM tahun ke 2Keputusan PNPM masyarakat masyarakat dan
pemerintah kelurahan Perempuan dlm Pengambila n Keputusan
Tidak terdapat perempuan dalam keanggotaan BKM atau hanya sekedar tercantum namanya
Anggota BKM perempuan hadir dalam rapat-rapat pengambilan keputusan meskipun suaranya seringkali masih diabaikan
Seluruh anggota BKM memiliki penghargaan yang sama terhadap setiap pendapat yang muncul baik dari anggota laki-laki maupun perempuan.
Semua orang, laki-laki atau perempuan, anggota BKM/UP, KSM, masyarakat, aparat pemerintahan, dsb., berhak mengemukakan pendapat dalam musyawarah BKM. Mekanisme Minta Usulan Masyarakat
Tidak ada Ada mekanisme tetapi
tidak digunakan Ada mekanisme dan digunakan untuk mendapatkan masukan Tersedia berbagai mekanisme yang disepakati bersama dengan masyarakat Partisipasi Anggota BKM
Hanya beberapa anggota BKM yang meluangkan waktu ikut dalam pengelolaan BKM
Lebih dari separuh anggota BKM ikut dalam pengelolaan BKM dan menunjukkan kapasitas kepemimpinannya
Hampir seluruh anggota BKM aktif mengelola BKM sesuai pembagian tugas yang disepakati
Seluruh anggota BKM aktif mengelola BKM sesuai kapasitas, minat dan pembagian tugas yang disepakati.
Pertemuan BKM
Pertemuan dilakukan hanya ketika ada kebutuhan pelaksanaan program
Pertemuan rutin terjadual meski tidak selalu terealisasi
Pertemuan rutin dilakukan dan dihadiri oleh hampir seluruh anggota BKM, hasilnya dituangkan dalam risalah pertemuan
Pertemuan rutin dilakukan sesuai jadual dan
melibatkan masyarakat, hasilnya dituangkan dalam risalah pertemuan. SISTEM MANAJEMEN Perencanaa n 20% Hanya menjalankan aktivitas-aktivitas yang direncanakan oleh PNPM BKM memiliki rencana kerja meski belum sistematis
BKM & UP memiliki
rencana kerja yang disusun berdasarkan PJM dan Renta Pronangkis.
BKM & UP memiliki
rencana kerja yang disusun dgn melibatkan
masyarakat berdasarkan PJM dan Renta Pronangkis. Monitoring
Evaluasi
Dilakukan atas permintaan PNPM dan sesuai format PNPM
Mulai mengembangkan monev atas kebutuhan sendiri dengan
menggunakan metode
Mulai mengembangkan monev partisipatif atas semua kegiatan yang dilakukan.
Perencanaan monev terintegrasi dalam perencanaan program, dilakukan terencana dan
Bahan Serahan | Pelatihan Penguatan BKM tahun ke 2 29 dan format sendiri, diluar yang ditetapkan oleh PNPM
rutin serta partisipatif.
Dokumenta si Informasi
Tidak memiliki sistem
dokumentasi informasi Dilakukan tetapi tidak sistematik Dilakukan secara sistematik dan mudah diakses
Dokumentasi dilakukan sistematik, mudah diakses dan uptodate. Penangana n Pengaduan Masyarakat (PPM) Mekanisme PPM yang dirancang PNPM dipahami oleh anggota BKM Mekanisme PPM
diketahui dan digunakan oleh BKM/UP,
masyarakat, pemerintah dan pihak lain untuk menyelesaikan masalah terkait program.
Minimal 90% pengaduan yang diterima BKM dapat diselesaikan
BKM telah memiliki mekanisme mandiri untuk menyelesaikan setiap masalah, ditandai dengan media pengaduan yang efektif, sistem
dokumentasi yang up-date serta respon atas
pengaduan yang efektif
Penerima Manfaat Kegiatan/
Program
Minimal 50% rumah tangga miskin (RTM) di
desa/kelurahan tersebut telah menjadi penerima manfaat kegiatan, sebagaimana terdapat dalam data pemetaan swadaya
Minimal 70% RTM di desa/kelurahan tersebut telah menjadi penerima manfaat kegiatan, sebagaimana terdapat dalam data pemetaan swadaya.
Minimal 90% RTM di desa/kelurahan tersebut telah menjadi penerima manfaat kegiatan, sebagaimana terdapat dalam data pemetaan swadaya
100% RTM di
desa/kelurahan tersebut telah menjadi penerima manfaat kegiatan, sebagaimana terdapat dalam data pemetaan swadaya. SUMBERDAYA KEUANGAN Sumber pendanaan 10% PNPM menjadi
satu-satunya sumber dana Sumber dana berasal dari PNPM dan sumber lain (masyarakat, pemerintah daerah, swasta, dsb)
Sumber dana darI PNPM lebih kecil dibandingkan dengan sumber lain (masyarakat, pemerintah daerah, swasta, dsb)
Sumberdana berasal dari masyarakat, pemerintah daerah, swasta, dsb.
Rencana Keuangan
Mengikuti kerangka PNPM Mampu menyusun
perkiraan kebutuhan keuangan untuk menjalankan 1-2 kegiatan. Mampu menyusun perkiraan kebutuhan keuangan untuk menjalankan kegiatan 1 tahun ke depan serta
Mampu menyusun perkiraan kebutuhan keuangan, serta strategi dan metode pengumpulan dana untuk memenuhi
visi-30
Bahan Serahan | Pelatihan Penguatan BKM tahun ke 2rencana sumberdaya misi program 3 tahun ke
depan
Laporan Keuangan
Disusun sesuai standar PNPM, meski seringkali tidak lengkap dan tidak tepat waktu
Disusun sesuai standar PNPM, semua bukti pemasukan dan pengeluaran ada dan tercatat, tersedia tepat waktu.
Dilakukan audit independen terhadap laporan keuangan.
Hasil audit independen terhadap laporan keuangan menunjukkan tidak ditemukan
penyalahgunaan keuangan atau kesalahan dalam pengelolaan keuangan.
Pertanggun gjawaban
Lebih disiapkan untuk pelaporan kepada PNPM, memberitahukan laporan keuangan kepada masyarakat hanya jika ditanya
Mengumumkan laporan keuangan secara terbuka kepada masyarakat.
Laporan keuangan dan hasil audit diumumkan secara terbuka kepada masyarakat.
Terdapat forum bersama masyarakat, pemerintah, dsb., untuk
pertanggungjawaban keuangan dan hasil audit
SUMBERDAYA MANUSIA Pengemban gan kapasitas 20%
Hanya mengakses menu pengembangan kapasitas yang tersedia dalam PNPM
Muncul kebutuhan-kebutuhan
pengembangan kapasitas untuk menjawab
tantangan kegiatan yang semakin meningkat, meski belum mampu mengakses sumberdaya lain di luar PNPM
Mampu mengidentifikasi dan menyusun rencana pengembangan kapasitas sendiri, serta memiliki akses pengembang kapasitas selain PNPM
Rencana pengembangan kapasitas disusun secara sistematis, bersama-sama perencanaan program, dan memiliki akses kepada berbagai pengembang kapasitas
Kaderisasi
Tidak memiliki agenda
kaderisasi Telah mulai melakukan kaderisasi namun belum memiliki sistem
BKM menetapkan sistem
dan mekanisme kaderisasi Makanisme kaderisasi berjalan efektif
HUBUNGAN EKSTERNAL KSM 20% Komunikasi BKM-KSM terbatas pada pertanggungjawaban penggunaan BLM Komunikasi BKM-KSM meliputi berbagai masalah dan perkembangan KSM BKM-KSM membangun komunikasi timbal balik mendiskusikan berbagai masalah dan perkembangan KSM dan BKM BKM dan KSM mengembangkan komunikasi multi arah untuk membicarakan masalah masyarakat
Bahan Serahan | Pelatihan Penguatan BKM tahun ke 2 31 Masyarakat
Komunikasi BKM-masyarakat bersifat satu arah (sosialisasi)
BKM mengembangkan mekanisme untuk menarik masukan dari masyarakat terhadap perkembangan BKM
BKM mengembangkan media warga untuk membangun komunikasi timbal balik BKM dan masyarakat
BKM dan masyarakat mengembangkan komunikasi multi arah untuk membicarakan masalah masyarakat
Pemerintah
Sosialisasi untuk apa dan apa yang akan dilakukan BKM BKM menjadi agen komunikasi antara pemerintah dan masyarakat untuk menyelesaikan persoalan kemiskinan di desa/kelurahan
Ada koordinasi untuk menyelesaikan persoalan kemiskinan di
desa/kelurahan
Ada program bersama untuk menyelesaikan persoalan kemiskinan di desa/kelurahan Organisasi non-pemerintah
Tidak ada komunikasi Komunikasi tentang
kegiatan yang dilakukan masing-masing.
Kesepakatan kerjasama jangka panjang untuk menanggulangi kemiskinan
Ada program bersama di wilayah BKM
32
Bahan Serahan | Pelatihan Penguatan BKM tahun ke 2Contoh Profil Perkembangan Organisasi BKM/LKM
PROFIL PERKEMBANGAN ORGANISASI BKM SEJAHTERA 2007
BIDANG ASPEK AWAL BERDAYA TAHAP PERKEMBANGAN BKM/LKM MANDIRI MENUJU MADANI MANAJEMEN STRATEGIS Visi-Misi Struktur Organisasi KEPEMIMPINAN Legitimasi Pemilihan Anggota BKM Pengambilan Keputusan Perempuan dlm Pengambilan Keputusan Mekanisme Minta Usulan Masyarakat Partisipasi Anggota Pertemuan BKM SISTEM MANAJEMEN Perencanaan Monitoring Evaluasi Dokumentasi PPM Penerima Manfaat Kegiatan SUMBERDAYA KEUANGAN Sumber Pendanaan Rencana Keuangan Laporan Keuangan Pertanggungjawaban SUMBERDAYA MANUSIA Pengembangan Kapasitas Kaderisasi HUBUNGAN EKSTERNAL KSM Masyarakat Pemerintah Organisasi Nonpemerintah
Total Skor Organisasi tahun 2007………… %
Bahan Serahan | Pelatihan Penguatan BKM tahun ke 2
33
Parameter Transparansi Dan Akuntabilitas Keuangan BKM/LKM
dan UP
Parameter transparansi antara lain:
a. Dana yang diterima LKM dan pengalokasiannya diumumkan kepada masyarakat minimal di 5 papan pengumuman
b. Laporan keuangan ditempel di 5 tempat strategis dan disampaikan kepada pihak-pihak terkait selambat-lambatnya setiap tanggal 5 untuk posisi keuangan bulan sebelumnya.
c. KSM/Panitia “penerima daftar tunggu” dan telah mendapat prioritas LKM diumumkan kepada warga minimal pada 5 papan pengumuman
d. Rekening Bank atas nama LKM dan ditandatangani oleh 3 orang anggota LKM
e. Adanya papan informasi kegiatan pembangunan/perbaikan lingkungan, minimal berisi tentang: nama kegiatan, volume kegiatan, lokasi kegiatan, nilai bantuan langsung masyarakat (BLM), Swadaya, sumber dana lain, tanggal pelaksanaan, nama KSM pelaksana.
f. Penetapan kebijakan keuangan didasarkan pada rembug bersama.
Parameter akuntabilitas antara lain:
a. UP-UP mengelola kegiatan secara aktif sesuai dengan rencana atau program.
b. LKM rutin melakukan pertemuan guna membahas progres dan kualitas kegiatan serta pengelolaan keuangan maupun pembukuan.
c. Pembukuan telah dilaksanakan dengan benar dan sesuai standar P2KP PNPM Mandiri Perkotaan. d. Tidak ada penyalahgunaan/pemotongan dana/korupsi baik terhadap BOP maupun penyaluran
dana ke KSM/panitia kegiatan sosial dan lingkungan, penerima manfaat, dan anggota KSM peminjam bergulir.
e. Penarikan dana dari rekening bank LKM ditandatangani 3 orang anggota LKM. f. Kegiatan yang dilaksanakan KSM sesuai dengan usulan yang disetujui oleh LKM.
g. LPJ KSM lingkungan dan sosial telah lengkap dan benar termasuk di dalamnya rincian swadaya masyarakat yang dapat direalisasikan.
h. Capaian tingkat pengembalian pinjaman (RR) minimal 90%.
i. 100% penerima manfaat dan proposal kegiatan ekonomi bergulir dan sosial adalah KK miskin yang terdaftar dalam pemetaan swadaya daftar KK Miskin (PS2).
Bahan Serahan | Pelatihan Penguatan BKM tahun ke 2
35
KELOMPOK SWADAYA MASYARAKAT (KSM)
Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat akan menghadapi berbagai persoalan dimana persoalan tersebut bisa diselesaikan secara individu namun juga perlu diselesaikan secara bersama-sama. Ketika persoalan diselesaikan dengan banyak orang akan memunculkan banyak gagasan sehingga akan banyak alternatif pemecahan. Sebab pada dasarnya warga masyarakat mempunyai niat baik untuk membantu sesama, sehingga masalah yang dihadapi oleh orang-perorang akan dirasakan sebagai persoalan bersama jika dalam kelompok. Selain itu setiap orang mempunyai motivasi, pengalaman, serta potensi-potensi yang lain yang pada umumnya belum dimanfaatkan secara maksimal. Jika dihimpun dalam kelompok maka potensi tersebut akan menjadi kekuatan besar yang bisa digunakan untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Ibarat seikat sapu lidi maka jika satu lidi potensi dan manfaatnya sangat kecil serta gampang dipatahkan. Namun ketika diikat menjadi sapu lidi maka menjadi lebih kuat serta lebih bermanfaat. Oleh karena itu ketika dalam bermasyarakat orang-perorang perlu menghimpun diri dalam kelompok ketika menghadapi masalah ataupun dalam mengembangkan potensi.
Kelompok-kelompok yang tumbuh di masyarakat dikarenakan kebutuhan tersebut, sering disebut dengan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) yaitu kumpulan orang yang menghimpun diri secara sukarela dalam kelompok dikarenakan adanya ikatan pemersatu yaitu adanya Visi, kepentingan dan kebutuhan yang sama sehingga dalam kelompok tersebut memiliki kesamaan tujuan yang ingin dicapai bersama.
Dalam penanggulangan kemiskinan, visi yang menjadi ikatan pemersatu. Kelompok swadaya masyarakat (KSM) berorientasi pada penanggulangan kemiskinan sehingga harus dipastikan warga miskin terdaftar dan terlibat dalam kegiatan kelompok dan merupakan penerima manfaat primer sebagai kelompok sasaran dari program-program yang sudah dikembangkan dalam PJM Pronangkis. Manfaat yang dirasakan dapat berupa peningkatan pengetahuan dan kemampuan serta peningkatan kualitas hidup seperti kualitas pendidikan, kesehatan, peningkatan ekonomi, permukinan dan lainnya. Posisi KSM adalah independent, artinya KSM bukan bawahan BKM/LKM atau unit pengelola (UO). Hubungan KSM dan BKM/LKM dan UP merupakan hubungan kemitraan, karena itu pengembangan KSM tidak boleh berorientasi semata-mata mengakses dana yang ada di BKM/LKM, KSM harus mengembangkan kegiatan mandiri atau mengembangkan akses sumber daya sendiri. Semua ini dilakukan agar KSM dapat menjadi kelompok pemberdaya baik bagi anggota KSM maupun masyarakat umum. Pemberdayaan ini dilakukan melalui proses berbagi pengalaman, bertukar informasi dan mendiskusikan berbagai persoalan kemasyarakatan. Karena BKM/LKM menjalankan tugas dan fungsinya merupakan amanah (mandat) dari masyarakat untuk menjamin tercapainya kualitas kehidupan warga, khususnya warga miskin, maka KSM harus mampu berperan melakukan monitoring dan evaluasi terhadap kinerja BKM/LKM, KSM juga mempunyai tanggung jawab untuk terlibat dalam keseluruhan siklus yang harus berlanjut dan difasilitasi oleh BKM/LKM sehingga dapat dijamin anggota KSM ikut dalam proses-proses pengambilan keputusan dalam setiap tahapan siklus.