• Tidak ada hasil yang ditemukan

The Value Of Social Education Of The Community In The Story Of Makassar Jayalangkara Societies

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "The Value Of Social Education Of The Community In The Story Of Makassar Jayalangkara Societies"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

1493

The Value Of Social Education Of The Community In The Story

Of Makassar Jayalangkara Societies

Nensilianti1, Nurliah2, Mahmudah3, Nurhusna4 Universitas Negeri Makassar

Email: [email protected]

Abstract. This study aims to describe the value of social education contained in the folklore

of Makassar Jayalangkara. This research is a qualitative research. The data of this research are statements or quotes that describe the value of social education contained in the folklore Makassar of Jayalangkara, while the data source is the folklore of Makassar Jayalangkara which has been recorded by Arief and Nappu (1985). The research data collection was carried out by using documentation techniques. The research data were analyzed using qualitative analysis techniques. The results showed that the value of social education found in the Jayalangkara story includes: the value of affection, hospitality, forgiveness or not being vindictive; devotion to parents and love for the motherland; helpful, compassionate, and keeping promises; honest and obedient to parental advice; know returning the favor; as well as being responsible.

Key words: the value of education, social community, folklore, Jayalangkara

PENDAHULUAN

Makassar sebagai salah satu daerah budaya di Indonesia memiliki kekayaan sastra yang beragam (Rustan, 2018). Sastra Makassar merupakan bagian dari kebudayaan yang tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat Makassar dan diwariskan turun-temurun sebagai milik bersama. Ragam sastra Makassar bukan hanya berfungsi sebagai alat penghibur, pengisi waktu luang, serta penyalur perasaan bagi penutur dan pendengarnya, melainkan juga sebagai pencerminan sikap, pandangan, dan angan-angan kelompok, alat pendidikan anak, serta sarana pemeliharaan norma-norma masyarakat.

Pada umumnya sastra daerah Makassar berbentuk sastra lisan. Karya sastra daerah Makassar bermacam-macam, baik ditinjau dari segi bentuk maupun isinya. Salah satu karya sastra Makassar yang masih terus dipelihara sampai sekarang adalah

pau-pau (cerita rakyat). Nilai-nilai yang terkandung dalam cerita rakyat ini masih

banyak dijadikan acuan dan panutan masyarakat Makassar yang layak direfleksikan menjadi jati diri dan ketahanan bangsa. Nilai-nilai budaya yang terdapat dalam cerita rakyat itu masih dimungkinkan dapat memberikan inspirasi tatkala diekspresikan secara baru di tengah-tengah pergeseran budaya yang sedang berlangsung dewasa ini.

(2)

1494

Cerita rakyat Makassar sebagai bagian dari khazanah sastra tidak lepas dari pengaruh budaya yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat. Dipandang dari sudut antropologi, cerita rakyat tergolong sebagai tradisi masyarakat Makassar. Hal ini berarti bahwa di dalam cerita rakyat terdapat nilai-nilai yang pernah dianut oleh masyarakat penciptanya (Nensilianti, 2018).

Jika dilihat dari laras pengungkapannya, cerita rakyat mempunyai ciri umum yang tergolong sastra tradisional yang telah ada jauh sebelum ekspresi tulis berkembang. Opini yang disebarkan melalui cerita rakyat amat sukar tergeser karena tertanam kuat dalam masyarakat. cerita rakyat ini berlaku secara alamiah di tengah masyarakat penikmatnya (Masyhuri, Suharto, & Winarsih, 2015). Cerita rakyat yang ada merupakan salah satu kekayaan rohani suku bangsa tertentu (Maknun, 2018). Di dalam cerita rakyat terdapat ibarat, kiasan, dan perumpamaan yang berguna bagi kehidupan manusia, baik sebagai pribadi, kelompok masyarakat, maupun suatu bangsa. Peristiwa yang ada dalam karya sastra itu bukan semata-mata khayalan belaka atau imajinasi pengarang tanpa pijakan realita, melainkan peristiwa yang ditampilkan sesuai kenyataan sebenarnya yang dikemas dan diwujudkan oleh pengarang dalam bentuk karya sastra (Endraswara, 2003: 78).

Salah satu cerita rakyat Makassar yang sangat populer dan telah didokumentasikan (dibukukan) adalah cerita Jayalangkara. Pau-pau ini tergolong cerita terjemahan ke dalam sastra Makassar. Meskipun cerita ini bukan cerita asli daerah Makassar, proses penyerapan atau pemasukannya ke dalam sastra dan budaya Makassar yang sudah sangat lama menyebabkan karya ini telah menyatu dan beradaptasi dalam kehidupan masyarakat Makassar. Bahkan, dalam perkembangan selanjutnya cerita ini telah mengalami persesuaian-persesuaian dan perubahan-perubahan mengikuti warna dan corak kehidupan masyarakat Makassar. Dalam proses adapatasi tesebut telah terjadi penuangan nilai-nilai luhur budaya Makassar ke dalam karya sastra tersebut. Tidak heran jika dalam cerita ini terkandung banyak nilai-nilai budaya Makassar, termasuk nilai-nilai pendidikan.

Jayalangkara merupakan salah cerita rakyat masyarakat Makassar yang

tergolong mitos. Cerita rakyat ini cukup populer di kalangan masyarakat Makassar. Hal ini disebabkan sebelum masyarakat Makassar mengenal pedidikan formal seperti sekarang ini, cerita ini termasuk cerita rakyat Makassar digunakan sebagai salah sarana yang efektif sebagai alat pendidikan dan pengajaran untuk mengangkat sejumlah nilai dan norma-norma sosial (Hamid, 1996: 27). Bahkan dalam perkembangan selanjutnya, cerita Jayalangkara ini diungkapkan atau disajikan dalam bentuk nyanyian yang diiringi oleh musik (sinrilik). Oleh karena itu, ada yang beranggapan bahwa cerita Jayalangkata ini tergolong sinrilik. Menurut Hamid (1996: 27), cerita ini banyak memunculkan kandungan budaya khas Makassar yang sangat berguna bagi anak-anak dan remaja. Untuk mengugkap nilai budaya khususnya nilai pendidikan sosial kemasyarakatan yang terkandung dalam cerita Makassar

(3)

1495 KAJIAN TEORI

Nilai Pendidikan dalam Karya Sastra

Nilai pendidikan merupakan nilai yang lahir berkenaan dengan proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, dan perbuatan mendidik (Priyatna, 2017). Pada hakikatnya, pendidikan merupakan proses sosialisasi yang dialami oleh generasi muda (Ruyadi & Si, 2010). Dalam proses sosialisasi itu terjadi internalisasi nilai-nilai yang dijunjung dalam masyarakat untuk diteruskan ke generasi muda secara turun-temurun (Kartikawati, 1994: 17). Secara sederhana, pendidikan dapat diartikan sebagai usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai yang terdapat dalam masyarakat dan kebudayaan. Bagaimanapun sederhananya peradaban suatu masyarakat, di dalamnya berlangsung suatu proses pendidikan. Lodge (dalam Ghoni, 1982: 6) mengemukakan bahwa pendidikan mempunyai fungsi tertentu dalam masyarakat yaitu sebagai sarana penyerahan adat istiadat (tradisi) dan pandangan hidup masyarakat kepada warga masyarakat generasi berikutnya dan demikian seterusnya (Emelia, 2018).

Nilai dalam karya sastra merupakan tuangan kemampuan pengarang mengekspresikan situasi yang ada pada zamannya. Sastra mencerminkan norma, yakni ukuran perilaku yang oleh anggota masyarakat diterima sebagai cara yang benar untuk bertindak dan menyimpulkan sesuatu (Kasmin, 2016). Sastra juga mencerminkan nilai-nilai yang dapat diformulasikan dan diusahakan oleh setiap individu dalam masyarakat (Rosmana, 2010). Aspek-aspek yang terdapat dalam karya sastra dapat berupa aspek pendidikan, moral, kepercayaan/agama, kemanusiaan, perjuangan dan keberanian, sikap patriotisme, dan sebagainya. Aspek-aspek ini dibarengi dengan munculnya nilai-nilai budaya yang terkandung dalam karya sastra. Nilai-nilai budaya itu dapat berupa nilai edukatif (pendidikan), nilai religius, nilai kasih sayang, nilai keberanian (patriotisme), konsekuen (teguh pada pendirian), tabah, nilai kejujuran, nilai kebenaran, nilai kesabaran, nilai keadilan, dan sebagainya (Kurniawan, 2013).

Pau-Pau

Pau-pau merupakan salah satu bentuk karya sastra yang berusaha

mengungkapkan realitas yang ada di masyarakat Makassar (Nurhalimah, 2016).

Pau-pau termasuk jenis prosa dalam sastra Makassar, namun dalam sastra Indonesia

dikategorikan sebagai Hikayat. Pau-pau/hikayat adalah cerita yang bentuk prosa (Hooykas dalam Kembong Daeng, 2004). Pada masa sekarang ini pau-pau/hikayat dipergunakan dalam arti kisah yang melukiskan celah-celah kehidupan manusia.

Pau-pau/hikayat juga memberikan ide, wawasan yang lebih luas dari pada

sekedar fakta yang hanya bersifat menggambarkan. Dari pau-pau/hikayat mungkin kita akan mendapatkan nilai-nilai yang mungkin diluar jangkauan kita (Riadi, 2019). Nilai-nilai yang dimaksudkan dalam pau-pau/hikayat adalah persepsi dan beberapa pengertian yang diperoleh pembaca lewat sastra, seperti nilai-nilai pendidikan yang mencakup aspek moral, agama, kemasyrakatan, patriotisme dan sebagainya.

(4)

1496

Dalam pau-pau/hikayat yang berbentuk prosa juga ditemukan nilai-nilai yang hidup, yang dimiliki oleh pelaku-pelakunya di antaranya sifat kepahlawanan, keteguhan hati, dapat menjadi cermin atau perbandingan yang bermanfaat bagi kehidupan manusia zaman sekarang. jadi, pau-pau dalam kesusastraan Makassar merupakan hikayat yang sarat dengan nilai-nilai pendidikan. Untuk mengkajinya tidaklah cukup dengan memahami yang tersurat, tetapi juga harus dapat meneropong yang tersirat.

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang didesain secara deskriptif. Dalam penerapan desain penelitian ini, penulis mula-mula mengumpulkan data, mengolah, dan selanjutnya menyajikan data secara objektif atau apa adanya. Jadi, peneliti sekaligus sebagai instrumen kunci. Data penelitian ini adalah pernyataan atau kutipan yang menggambarkan nilai pendidikan sosial kemasyarakatan yang terkandung dalam cerita rakyat Makassar Jayalangkara yang telah dibukukan oleh Arief dan Nappu (1985). Data yang terkumpul melalui dokumentasi dianalisis melalui tahapan reduksi data, penyajian analisis data dan penarikan kesimpulan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Nilai pendidikan yang bernuansa sosial kemasyarakatan sangat terkait dengan hubungan keluarga dan hubungan seseorang dengan orang lain sebagai sesama anggota masyarakat. Dalam Cerita Jayalangkara ditemukan nilai pendidikan sosial kemasyarakatan berupa: penanaman sifat atau karakter penyayang dan ramah tamah; pemaaf dan tidak pendendam; kasih sayang pada orang tua dan patuh pada nasihat; jujur dan bertanggung jawab; suka menolong, menepati janji, dan tahu membalas budi; cinta pada tanah air.

Kasih Sayang

Peristiwa yang dikisahkan dalam cerita ini adalah peristiwa dua orang bersaudara yang iri hati dan dengki atas keberuntungan saudara tirinya. Mukaddang dan Mukaddeng iri hati kepada Jayalangkara yang memiliki nasib peruntungan yang sangat menakjubkan. Mukaddang dan Mukaddeng memfitnah Jayalangkara agar tidak disenangi oleh baginda. Dilaporkannya kepada baginda bahwa kehadiran Jayalangkara akan mendatangkan malapetaka bagi rakyat. Baginda terlalu percaya kepada kedua putranya itu. Akibatnya, baginda bermaksud membunuh Jayalangkara. Menghadapi hal itu, Sakamadaya, ibunya, yang sangat sayang kepada putranya tak menyetujui hal itu terjadi. Ia lebih sudih mati bersama putranya daripada hidup tanpa Jayalangkara. Kecintaan dan kasih sayang permaisuri yang amat dalam terhadap putranya itu tercermin dalam cuplikan cerita berikut.

“Punna tena tanibunona anakku bajikannganga kipasibunonak, kapunna nibuno anakku na kutanibunoa inakke ammantang bawanjak pakrisik pakmaik taena pareparekanna sallang na takubuno todong kalengku. “(Jayalangkara, 1985:106)

(5)

1497

karena bila anak dibunuh, aku tidak dibunuh, aku akan tinggal sakit hati tidak ada putus-putusnya, pada suatu waktu aku akan bunuh diri).

Mendengar perkataan permaisuri, baginda mengurungkan niatnya untuk membunuh putranya. Akan tetapi, ia membuang putranya itu di sebuah hutan rimba yang amat jauh dari keramaian. Permaisuri pun enggan putranya diperlakukan seperti itu. Karena keinginan baginda tak boleh ditawar-tawar lagi, permaisuri yang sangat sayang pada putranya itu rela hidup bersamanya di hutan tak bertuan tersebut. Walaupun segalanya serba sulit, permaisuri mampu mengasuh, membesarkan, dan mendidik putranya itu dengan baik.

Berdasarkan kutipan tersebut, terungkap bahwa seorang ibu yang baik bukan hanya harus memiliki sifat peyayang dalam membesarkan dan mendidik anakanya ke jalan yang lurus, melainkan juga harus memiliki sifat-sifat yang terpuji, seperti ramah dan tidak pendendam kepada orang lain.

Kasih sayang orang tua juga ditunjukkan oleh seorang ayah. Seorang ayah yang baik pasti akan memberikan segala sesuatu kepada anaknya jika dimintanya. Apalagi jika yang dikehendaki itu yang menyebabkan sang anak jatuh sakit. Peristiwa seperti ini terjadi pada diri Raja Perancis dengan anak tunggalnya, Putri Ratna Kumala. Ia merasa kasihan dan bersedih melihat putrinya sakit karena menghendaki ingin melihat bunga kuma-kuma. Karena sangat mengasihi dan menyayangi putrinya, Baginda berusaha sesuai dengan kemampuannya memenuhi kehendak putrinya itu. Hal itu dapat diketahui dalam kutipan cerita berikut ini.

“Lannasak dudumi karaenga susah dudumi pakmaikna allangereki erokna anakna. Nammantammo garrinna anakna nirurungang ri bone ballaka, battui antama nacinikmi anakna attungkusuk bongonna. Nanakiok-kiokmo anakna. Nakanamo anakna, O, Manggeku! Tamambaungakri katin roangku punna takisuro alleangak bunga kuma-kuma.” Nanapauwammo manggena kananna tau toaya ilalang passoakanna. Nanalannasak dudumo bapakna allanngereki anjo bunga kuma-kumaya. Nana kamaseang dudumo anakna ka anak sitau-tau. Lekbakki nakanamo karaenga, “Ambbangummako anak nakumange assuro

pakboyangko bunga kuma-kuma kebok antu nupakkanaia.”

(Jayalangkara,1985:132)

(Amat kasihanlah baginda dan susahlah hatinya mendengar kehendak Tuan Putri. Masuklah Baginda ke bilik. Tampaklah Tuan Putri berselubung kudungnya. Dipanggil-panggillah anaknya. Berkata Tuan Putri, “Wahai ayahanda! Aku tidak mau bangun, jika ayahanda menyuruh pergi mengambil bunga kuma-kuma putih.” Diceritakanlah kepada ayahandanya kata-kata orang tua dalam mimpinya. Takjublah Baginda mendengar nama bunga kuma-kuma itu. Sangat dikasihanilah anaknya, karena anak tunggal. Berkata baginda, “Wahai, Anakda! Bangunlah anakku sayang! Kemudian aku suruh pergi mencarikan bunga kuma-kuma putih yang kau katakan itu.”)

Untuk mendapatkan bunga kuma-kuma itu, baginda Perancis mengerahkan pasukannya secara besar-besaran, yaitu delapan puluh buah kapal yang dimuati

(6)

1498

prajurit dan perlengkapan perangnya. Maksud Baginda memberikan upeti kepada Raja Mesir itu adalah agar Raja Mesir merasa heran dan lupa menugaskan prajuritnya mencari Putri Ratna Kasiah di puncak gunung Mesir. Selanjutnya, empat puluh buah kapal yang memuat prajurit dan perlengkpan senjata itu diperintahkan untuk langsung mencari Putri Ratna Kasiah di puncak Gunung Mesir.

Siasat baginda Perancis cukup jitu. Para prajuritnya berhasil mendapatkan Putri Ratna Kasiah yang sementara menggenggam bunga kuma-kuma. Setelah para prajurit membujuknya, ia pun rela menuju Kerajaan Perancis membawakan bunga kuma-kuma putih buat Putri Baginda Perancis.

Sikap kasih-sayang kepada anak juga ditunjukkan oleh Raja Mesir. Anaknya, Putri Ratna Dewi juga memimpikan bunga kuma-kuma putih. Dilihatnya bunga kuma-kuma putih itu amat indah warnanya dan baunya harum. Tiap tangkaianya memiliki tujuh warna yang setiap harinya berubah pula warnanya sebanyak tujuh kali, yaitu merah, putih, ungu, jingga, biru, hijau dan kuning. Bunga kuma-kuma itu dilihatnya sudah dimiliki oleh Putri Raja Madinah bernama Putri Ratna Kasiah dan Putri Raja Perancis yang bernama Putri Ratna Kumala. Melihat dalam mimpi bunga kuma-kuma tersebut amat mempesona dan sudah dimiliki oleh sesamanya anak raja, ia pun ingin memilikinya. Sejak itu Putri Ratna Dewi bertingkah aneh. Ia tidak mau makan dan tidak mau bangun dari peraduannya.

Melihat sang Putri bertingkah aneh, baginda dan permaisuri amat bersedih sebab selama ini putrinya itu tak pernah berperilaku seperti itu. Baginda dan Permaisuri kemudian mendatangi putrinya, lalu menanyakan sebab musabab kesedihannya. Diceritakanlah oleh Tuan Putri apa yang dilihatnya dalam mimpi dari awal hingga akhir. Setelah itu, iapun kembali tidur dan tak mau bangun-bangun lagi. Karena sangat mengasihi anaknya dan menyayangi putrinya, baginda berjanji untuk mencarikan bunga kuma-kuma tersebut. Hal itu dapat dilihat dari kutipan cerita berikut.

“Nakanamo karaenga, “E, anakku, rapponna pakmaikku, cahayana matangku! Ambangummako naku mange assuro alleangko antu nupakkanaia.”

(Jayalangkara, 1985:134) (Bersabda baginda. “Wahai andakda, buah hatiku, cahaya mataku! Bangunlah anakda! Saya akan suruh pergi mengambil apa yang kau katakan.”)

Sebenarnya, baginda merasa tidak yakin dapat menemui Putri Ratna Kasiah di atas puncak gunung Mesir sebab selain tempat itu berhutan lebat dan dihuni binatang-binatang buas juga untuk mendaki puncak gunung itu amatlah sulit dan membahayakan jiwa. kaki gunung itu kecil dan puncaknya besar. Akan tetapi, demi membahagiakan sang Putri, Baginda tetap mengusahakannya sesuai dengan kemampuannya. Karena itu, baginda kemudian memerintahkan Mangkubumi dan Perdana Menteri menyiapkan tiga puluh orang hulubalang untuk melaksanakan tugas kepuncak Gunung Mesir, menemui Putri Ratna Kasiah.

(7)

1499

Usaha Baginda tidak membuahkan hasil. Pasukan Perancis yang juga mencari Putri Ratna Kasiah telah membawanya ke Perancis karena Putri Raja Perancis juga amat menghendaki bunga kuma-kuma tersebut.

Baginda kemudian mengundang Putri Ratna Kasiah agar berkunjung ke negeri Mesir dengan membawa bunga kuma-kuma putihnya karena putrinya juga sangat mendambakan bunga tersebut. Usaha itu membuahan hasil, Putri Ratna Kasiah dan tiga orang sahabatnya, yakni Jayalangkara, Mukaddang, dan Mukaddeng memenuhi undangan tersebut. Baginda pun sangat gembira dan kegembiraannya itu semakin bertambah tatkala putrinya, Putri Ratna Dewi, tampak sehat kembali setelah Putri Ratna Kasiah memberikan bunga kuma-kuma itu.

Ramah Tamah

Sikap ramah merupakan sikap yang mencerminkan perangai yang baik. Sikap itu dimiliki oleh Putri Ratna Kumala. Ketika Putri Ratna Kasiah menemuinya Putri Ratna Kumala menjemputnya dengan penuh keramahan. Bahkan, tangan Putri Ratna Kasiah dibimbingnya lalu diantarkannya kehadapan ayahandanya. Selanjutnya, selama Putri Ratna Kasiah berada di Kerajaan Perancis, Putri Ratna Kumala memperlakukan Putri Ratna Kasiah melebihi saudaranya. Hal itu tersirat dalam kutipan cerita (28) berikut.

“Naanjo bakuk niakna ri Paranggi Puttiri Ratna Kasiah tinang sisaklakkai Puttiri Ratna Kumala punna annganrei siagangi annganre, punna tinroi siagangi attinro, punna akjenekki siagangi akjenek. Kammaminjo pauanna Puttiri Ratna Kasiah siagang Puttiri Ratna Kumala.” (Jayalangkara, 1985:143) (“Selama Tuan

Putri Ratna Kasiah di Perancis tidak pernah berpisah dengan Putri Ratna Kumala. Bila makan sama-sama makan, bila tidur sama-sama tidur, bila mandi sama-sama mandi. Begitulah kisah Putri Ratna Kasiah dengan Putri Ratna Kumala.”)

Dalam cerita ini keramahan juga tercermin pada diri Putri Ratna Dewi. Ketika Putri Ratna Kasiah dan Jayalangkara datang memenuhi undangan ayahanda Putri Ratna Dewi, Putri Ratna Dewi menjemputnya dengan penuh keramahan. Ia mengajak Putri Ratna Kasiah untuk duduk bersama lalu mengajaknya bersaudara. Hal itu tercermin dalam kutipan cerita (30) berikut ini.

“Lekbakki nalanngerek kananna karaenga, Puttiri Ratna Dewi lintakmi mange antakgalaki limanna Puttiri Ratna Kasiah na nakna, “E, Sakribattangku Putri Ratna Kasiah! Maemako ammempo ri empoangku! Naikau kuparek sakribattang ri nakke kasallo duduma nakku ri kau.” (“Mendengar kata-kata baginda,

segeralah Putri Ratna Dewi menjabat tangan Putri Ratna Kasiah kemudian berkata, “ Wahai saudaraku Putri Ratna Kasiah! Sudi kiranya saudaraku duduk di tempatku ini, Anda kujadikan saudara tua. Sudah lama aku rindu kepada Anda.”).

Begitulah senangnya bertemu dengan Putri Ratna Kasiah, Putri Ratna Dewi selalu bersamanya sehingga tidur pun ia bersama.

(8)

1500 Pemaaf dan tidak pendendam

Nilai edukatif yang juga ingin disampaikan dalam cerita ini adalah suka memaafkan. Salah satu ciri orang yang baik adalah orang yang suka memaafkan kesalahan siapa pun. Seperti halnya Jayalangkara meskipun ia sering kali dihianati oleh saudara tirinya, Mukaddang dan Mukaddeng, ia tidak mempunyai rasa dendam kepadanya. Ia tetap mau menolong kedua kakak tirinya yang sedang dalam keadaan bahaya, yaitu ingin dibunuh oleh naga raksasa karena mendorong Jayalangkara ke laut. Hal itu tersirat dalam cuplikan cerita (13) berikut.

“E, naga! Karaenna sikamma olok-olok! Teako bunoiMukaddang-Mukaddeng, inakkemo pacciniki nanupammopporang kasalahanna ri nakke. Kamma eroka nakodiang, tanakullei punna teai lekbak takakderekku kammaya. Naia jia manna naapa kalenna Mukaddang-Mukaddeng erok ancilakaiak punna taena takakderek lacilakaku takubuntuki cilakaya. “(Jayalangkara, 1985: 147)

(“Menjawab Jayalangkara, “Hai naga! Raja seluruh binatang! Mukaddang mukaddeng jangan dibunuh! Ingatlah kepadaku. Walaupun dia mencelakakan aku, tidak mungkin terjadi jika bukan takdirku. Akan tetapi, bagaimana juga usaha Mukaddang-Mukaddeng mau mencelakakanku, aku tidak dapat celaka kalau bukan takdirku”)

Orang yang pemaaf disenangi dan suka ditolong. Jayalangkara terbawa arus ketika didorong oleh saudara tirinya dan terdampar di sebuah pulau. Cukup lama ia berada di pulau itu sehingga ia sangat rindu kepada kakak tirinya dan putri Ratna Kasiah. Ia ingin mencarinya tetapi tak kuasa lagi berenang. Lagi pula, ia tak tahu di mana mereka berada. Ia bingung apa yang harus dilakukannya. Berkat pertolongan naga raksasa, Jayalangkara dapat meninggalkan pulau itu dan dibawa ke Perancis untuk mencari kedua kakak tirinya dan Putri Ratna Kasiah. Perhatikan cuplikan cerita berikut ini.

Akanamo nagaya, “Naikko ri dongkokku naku erangki mange ri Paranggi. Numange amboyai puttirik Rarna Kasiah. Niakia antu ri paranggi Mukaddang-Mukaddeng nipantamak ri tarungkua karaeng ri paranggi. Mangeko bajik ri Paranggi. Lebbaki tukgurukmi jeknek matanna Jayalangkara anngukrangi sakribatanna nitarungku. Nakanamo rinagaya, “Punna niak panngamaseannu eramma mange ri Paranggi”. Na naikmo Jayalangkara ridongkokna nagaya siagang meong lekleng meong kebok antamak ri collina nagaya. Na makjappamo nagaya mange ri Paranggi.” (Jayalangkara, 1985: 148) (“Berkata

naga, “Naiklah dibelakangku” supaya kubawa ke Perancis, agar engkau pergi mencari Putri Ratna Kasiah, juga Mukaddang-Mukaddeng ada di Perancis dipenjara oleh Raja Perancis. Lebih baik engkau pergi ke Perancis.”Jatuhlah air mata Jayalangkara ketika mengenang saudaranya di penjara. Berkatalah Jayalangkara kepada naga, “Bila engkau merasa kasihan bawalah aku ke Perancis” Naiklah Jayalangkara di punggung naga itu dan kucing hitam dan kucing putih di lubang telinga naga itu. Berangkatlah naga itu ke Perancis”)

(9)

1501

Sifat pemaaf Jayalangkara diwarisi dari ibunya, Sakamadaya. Sakamadaya adalah seorang ibu yang tidak pendendam. Suatu waktu Mukaddang dan Mukaddeng mengunjungi di tempat pengungsiannya untuk meminta tolong kepada Jayalangkara. mereka ingin Jayalangkara menemani mencarikan obat kuma-kuma baginda. Sakamadaya menerima dan menyambut kedua anak tirinya itu dengan ramah walaupun ia tahu bahwa keterisolasiannya bersama anaknya karena fitnah kedua anak tirinya itu. Dalam hatinyapun tak terbetik atau terpikirkan untuk dendam kepada Mukaddang dan Mukaddeng. Padahal jika saja Sakamadaya ingin balas dendam untuk melenyapkan keduanya, hal itu sangatlah gampang. Jayalangkara dapat memerintahkan binatang-binatang buas teman sepermainannya di hutan untuk menerkam keduanya. Dengan hati yang tulus, Sakamadaya mengizinkan Jayalangkara untuk menemani kedua saudara tirinya itu mencari bunga kuma-kuma. Keramahan Sakamadaya terhadap Mukaddang dan Mukaddeng digambarkan dalam cuplikan cerita berikut.

“E, anakku Mukaddang-Mukaddeng! Apa nakunjungi nubattu kammanne mae ri pammantangang macanya?”

“Annyombami Mukaddang-Mukaddeng angkana, E” bondaku! Iami kubattu mae anrinni ri anringku Jayalangkara kakaraeng nabattui garring sarro dudu bajik punna tallasak, ka kulik mami anrokok bukunna na tatassiarak kulakbammo kuboya sanroa, tabika, ia lalang pakrasangnga na taena niak sanro akkulle ampakabajiki ri garrinna…”

Lebbaki nilanngerek kana-kananna Mukaddang-Mukaddeng ri Jayalangkara baklalo mangei ridallekanna anronna na nakana ri anronna, E, ammakku punna kamma antu paleng innnnakke anakna Raja Ajang anngapai nakiniak kammanne mae ammantang ri romange?” Takbangkami ammakna nanakan pakmaikna, “punna kupauwangko ponggaukanna sakribattannu nubunoi sallang. Apaji nanakanamo bondana, “E, anakkurapponna pakmaikku lisereknna matangku teamako kutaknanggiak. Lakbu bawangi pakrisikku. Lekbak sikamma tongi inakke takakderekki ri Allah Taala siangan I kau.” (Jayalangkara, 1985:120)

(“Wahai anakda Mukaddang-Mukaddeng! Apa gerangan laytmu maka engkau datang kemari di tempat singa?” Sujudlah Mukaddang-Mukaddeng mengatakan, “Wahai bundaku! Kami datang kemari mengunjungi adikku Jayalangkara karena baginda sakit keras. Untunglah bila masih hidup, karena tinggal kulit pembalut tulang maka tidak terhambur tulangnya. Di dalam kerajaan dan di luar kerajaan kami cari dukun dan tabib akan tetapi tak ada dukun yang bisa menyembuhkan penyakitnya…” Setelah cerita Mukaddang dan Mukaddeng didengar, pergilah Jayalangkara ke hadapan ibunya dan bertanya, “Kalau demikian aku ini adalah putra Raja Ajang, mengapa kita tinggal di hutan ini?” Terkejutlah ibunya lalu berkata dalam hatinya. Bila kuberitahukan perbuatan saudaranya jangan sampai ia membunuh saudaranya. Sebab itu ia berkata, “Hai anakku buah hatiku, cahaya mataku! Janganlah hal itu ditanya

(10)

1502

kepadaku! Nanti-nanti berkepanjangan kesedihanku, ya, begitulah nasib dan takdirku dari Allah Taala bersama engkau”)

Kasih-sayang pada Orang Tua dan Cinta Tanah Air

Nilai edukatif yang ingin juga disampaikan dalam cerita ini adalah kasih sayang pada orang tua dan cinta pada tanah air. Orang yang memiliki sifat seperti ini adalah Putri Ratna Kasiah. Ia sangat mengasihi dan menyayangi orang tuanya. Ketika ayahandanya sakit, ia beberapa kali mengutus pengawal kerajaan ke negeri Mesir untuk memetik bunga kuma-kuma sebagai obat ayahandanya. Namun, pengawal kerajaan itu selalu gagal mendapatkan bunga kuma-kuma tersebut. Karena sangat mengasihi dan menyayangi orang tuanya, Putri Ratna Kasiah berangkat ke Negeri Mesir dengan ditemani Perdana Menteri dan beberapa orang pengawal kerajaan. Sebagai gambaran tindakan Putri Ratna Kasiah yang sangat mengasihi dan menyayangi orang tuanya tercermin dalam cuplikan cerita (15) berikut.

“Namanmentemmo tuang puttirik makjappa nirurungang ri paradana menteri nilema-nilema bone ballak karaeng. Battui naung ri bangkenna sapanaya, naikmi ri bulekanna namammonok ngasemmo bone ballaka antamak. Na nakanamo tuang puttiri, “E, sikamma bone ballaka! Jagai bajik-bajik karaeng ri bokoku.” (Jayalangkara, 1985:114) (“Berdirilah tuan Putri dan berjalan diiringi

perdana menteri, dieluk-elukkan oleh penghuni istana. Berjalanlah ia turun di tangga, kemudian naik di usungan. Kembalilah inang pengasuh dan penghuni masuk ke istana. Berkatalah tuan Putri, “Wahai penghuni istana! Jagalah baik-baik Baginda selama aku tinggalkan).

Dalam perjalanan ke negeri Mesir, para pengawal Putri Ratna Kasiah mati semua. Tinggallah Putri Ratna Kasiah dan Perdana Menteri. Karena Putri Ratna Kasiah ingin melihat orang tuanya sembuh dari penyakitnya, ia tetap bertekad untuk melanjutkan perjalanan sampai mendapatkan bunga kuma-kuma putih tersebut. Selanjutnya, Perdana Menteri sudah ragu-ragu melanjutkan perjalanan setelah ditinggal oleh para pengawal. Mengetahui sikap Perdana Menteri, Putri Ratna Kasiah memutuskan untuk menyuruh Perdana Menteri kembali ke Kerajaan Madina menjaga ayahandanya dan negerinya. Selain itu, keputusan itu ia lakukan karena sejak meninggalkan negerinya tidak ada lagi yang memimpin pemerintahan. Hal ini tergambar dalam cuplikan cerita berikut ini.

“Nakanamo tuan puttiri, “E, Bapakku paradana manteri apamo narapik nawa-nawannu?” nakanamo paradana mantari, “Taena narapik nawa-nawangku pasangngalinna ri Masserek na bella dudu inji nateamo joatta. Ambanianginji pammoteranta na ia pamangeanta ri Masserek. “Lekbakki nakanamo tuan puttiri, “Punna kammantu Bapak, barang bajikmako ammoterek anciniki pakrasanganga na ni jagai bajik-bajik karaenga. Onjongammi kusakring ricuna tau cakdia punna taenaki amparentai kakaraengaji nakamallakang nakaraengamo garring. Na anne nakke Bapak Pattawakkalang mama ri Allah Taala lataena kuerok ammoterek punna takkugappangi pakballe karaenga takkugappang todong pakballe, bajikangngi kusakring matea na ia attallasakka.”

(11)

1503

(Jayalangkara, 1985:115) (“Berkatalah Tuan Putri, “Wahai Pamanda Perdana Menteri. Bagaimana pikiran paman?” Menyahutlah Perdana Menteri, “Tak ada lagi yang dapat saya pikirkan. Terserah kehendak Tuanku! Apa yang Tuanku kehendaki itulah yang saya laksanakan sebab negeri Mesir masih jauh. Sekarang sudah tak ada pengawal kita. Lebih dekat bila kita kembali dari pada meneruskan ke tanah Mesir. Berkatalah Tuan Putri, “Bila demikian pikiran Pamanda, lebih baik Pamanda kembali menjaga negeri kita. Saya harapkan agar Baginda dijaga baik-baik. Makin gelisalah rakyat bila Pamanda tidak ada memerintah, “ Baginda saja yang ditakuti, tetapi dialah yang garing, dan saya wahai Pamanda, serahkan saja kepada Allah Taala. Aku tak mau pulang bila tak mendapatkan obat Baginda. Pengiringku mati semuanya, aku tidak memperoleh pula obat Baginda. Lebih baik aku mati daripada hidup.”)

Demi cinta dan kasih sayangnya kepada Baginda, Putri Ratna Kasiah berjalan sendirian menyelusuri hutan, tanpa mempertimbangkan keselamatan jiwanya. Ia berjalan begitu saja tanpa mengetahui jalan yang sebenarnya harus ditempuh. Karena tak tahu jalan, Putri Ratna Kasiah tersesat di tengah hutan. Dalam keadaan bingung, Putri Ratna Kasiah tiba-tiba bertemu dengan seekor naga raksasa. Naga raksasa itu menolong Putri Ratna Kasiah dari kesesatan. Setelah Putri Ratna Kasiah menceritakan dari awal hingga berada di hutan itu, naga raksasa pun memberi petunjuk kepada Putri Ratna Kasiah mengenai arah jalan yang harus dilalui menuju negeri Mesir. Setelah itu, ia menyarankan agar tidak sendirian menuju negeri Mesir sebab hanya Jayalangkaralah yang dapat mendaki puncak gunung Mesir. Jayalangkara juga amat membutuhkan bunga kuma-kuma putih dan sementara ini dalam perjalanan. Atas petunjuk dan saran naga raksasa itu, Putri Ratna Kasiah rela menunggu Jayalangkara. Ia kemudian diisap oleh naga raksasa lalu disimpan dalam perutnya. Setelah itu, mereka berangkat ke suatu tempat untuk menunggu Jayalangkara.

Cukup lama Putri Ratna Kasiah menunggu, barulah Jayalangkara datang. Jayalangkara datang dengan ditemani oleh kakak tirinya bernama Mukaddang dan Mukaddeng. Mereka kemudian berempat ke puncak gunung Mesir mencari bunga kuma-kuma putih. Dalam perjalanan ke puncak gunung Mesir, Putri Ratna Kasiah banyak menghadapi cobaan, tantangan, dan rintangan. Akan tetapi, berkat bantuan Jayalangkara dan naga raksasa itu, Putri Ratna Kasiah mampu menggapai harapannya. Bunga kuma-kuma putih yang akan dijadikan penawar penyakit ayahandanya sudah berada di tangannya.

Suka Menolong, Belas Kasihan, dan Menepati Janji

Sikap suka menolong, belas kasihan, dan menepati janji adalah sikap yang perlu ditanamkan dalam diri setiap orang. Orang yang memiliki sikap seperti ini selalu disenangi. Dalam cerita ini naga raksasa amat disenangi karena suka menolong, belas kasihan, dan menepati janji. Ketika Putri Ratna Kasiah tersesat dalam hutan, naga raksasa menolongnya. Dia menunjukkan jalan yang harus dilalui dan memberitahukan tempat tumbuhnya bunga kuma-kuma itu, lalu menyarankan

(12)

1504

agar menunggu sebab hanya dialah yang mampu mendapatkan bunga kuma-kuma putih itu. Sikap terpuji naga raksasa tercermin dalam kutipan cerita berikut.

“Lebbaki lannasa dudumi naga lompoa nalanngereki bicaranta tuang putri Nammakkalakmi naga lompoa na lanngerekna lamangei ri Masserek akboya bunga kuma-kuma kebok.. naanjo sakranna nagaya kammai gunturuk, manngulappaka sakranna kammai jangang akkokoa eroka akbayao sakranna nagaya tekrekek-rekek. Nakanamo nagaya ri tuang puttiri! Akmatu-matui batena ammanak tau toanu naik anjo ri monconga empang massukkarak dudu. Ia kukana bajik ammantangki riolo anrinni ri nakke nanutayang anjo burakne niarenga Jayalangkara anakna karaenga ri Ajang. Kaanjo karaenga ri Ajang nataba todong garring, ia todong antu pakballea naballeangi nainampa akkulle gassing. Inakkepa amparekko anak siagang Jayalangkara antulungko ri pakrisiknu. Apaji nammantammo tuang puttiri ri nagaya.” (Jayalangkara,

1985:116-117) (Mendengar cerita Tuan Putri, amat sedihlah naga raksasa itu. Kemudian tertawalah naga itu mendengar Tuan Putri akan pergi ke Mesir mencari bunga kuma-kuma putih. Adapun suara naga itu bagai halilintar bergemuruh, bagai ayam betina berkokok hendak bertelur. Suara naga terkekeh-kekeh. Berkatalah naga itu kepada Tuan Putri, “Hai Tuan Putri tidak sia-sia itu asuhan orang tuamu, apalagi engkau seorang perempuan bersungguh-sungguh melaksanakan suatu kewajiban yang seharusnya dilakukan oleh laki-laki. Adapun tempat bunga kuma-kuma putih di atas puncak gunung Mesir. Bila air pasang ada di puncaknya dan bila air surut tumbuh di tengah laut. Jauhnya gunung itu dari kedudukan ini kira-kira empat puluh malam diterbangi burung. Engkau tak bisa sampai ke sana, bila tidak bersama-sama laki-laki yang dinamai Jayalangkara. Dia juga yang bisa naik di puncak gunung itu sebab tempat gunung amat berbahaya. Yang saya anggap baik, lebih baik engkau tinggal saja bersama saya di sini dan kau tunggu laki-laki yang bernama Jayalangkara, Putra Raja Ajang. Adapun Raja Ajang itu ditimpa juga penyakit dan obat itulah pula obatnya baru bisa sembuh dari penyakitnya. Engkau kuanggap anak kandungku bersama-sama Jayalangkara. Aku akan menolongmu dari kesusahan. Tinggallah Tuan Putri pada naga itu).

Naga raksasa itu tidak hanya baik hati kepada Putri Ratna Kasiah, melainkan juga baik hati kepada Jayalangkara. Setelah naga raksasa rela menunggu Jayalangkara sekian lama, Jayalangkara pun tiba di tempat itu. Disambutnya Jayalangkara dengan ramah lalu dipertemukannya dengan Putri Ratna Kasiah. Sebelum mereka berangkat, naga raksasa itu tak lupa memberi wejangan kepada Jayalangkara agar menjaga Putri Ratna Kasiah selama dalam perjalanan. Setelah itu, naga berjanji akan selalu menolong jika mereka menemui kesulitan. Karena menyadari bahwa perjalanan ke puncak gungung Mesir amat berbahaya, naga juga memberikan beberapa ilmu kepada Jayalangkara, antara lain ilmu azimat dan ilmu hikmat.

(13)

1505

Janji naga raksasa bukanlah asal janji atau omongan manis tanpa kenyataan, melainkan janjinya itu ia patuhi. Ketika Jayalangkara dan Putri Ratna Kasiah telah sampai di kaki gunung Mesir, mereka kesulitan mendakinya karena gunung itu besar dan tinggi. Di samping itu, lerengnya kecil tetapi puncaknya besar dan lebar. Dalam keadaan bingung, dipanggillah naga raksasa itu untuk menolong. Naga raksasa kemudian menepati janjinya, seperti tampak dalam cuplikan cerita berikut.

“E, naga! Karaenna sikamma nagaya! Iami anne kukiokangko ka ereoka natulung na nupanaika anne ritompokna anne monconga. “ nakanamo nagaya, “Naik ngasemmako ri tompokna muncengku”. (Jayalangkara, 1985:127) (“Hai

naga! Pemimpin seluruh binatang? Saya panggil karena aku mau minta tolong. Naikkanlah aku dipuncak gunung ini. Berkata naga, Naiklah kalian di atas moncongku.”)

Berkat pertolongan naga raksasa, akhirnya Jayalangkara, Putri Ratna Kasiah, dan Mukaddang-Mukaddeng dapat sampai di puncak gunung Mesir. Setelah berhasil mendapatkan bunga kuma-kuma putih, Jayalangkara terkena musibah. Ia didorong oleh saudara tirinya, Mukaddang-Mukaddeng ke dalam jurang. Akibatnya, Jayalangkara terbawa arus laut dan terdampar di sebuah pulau yang tak bertuan. Menghadapi musibah tersebut, naga raksasa datang menolong Jayalangkara lalu membawanya ke Kerajaan Perancis untuk mempertemukan kembali Jayaalangkara dengan Putri Ratna Kasiah dan kakak tirinya Mukaddang-Mukaddeng. Namun, belum sempat bertemu dengan Putri Ratna Kasiah dan kedua kakak tirinya itu, Jayalangkara sudah mendapat lagi rintangan dan tantangan baru. Ia dikeroyok bahkan ingin dibunuh oleh rakyat Perancis karena ia ingin mengislamkan negeri tersebut. Pada mulanya Jayalangkara berhasil mengatasi perlawanan rakyat Perancis dan berhasil membakar habis perumahan rakyat. Namun, ketika Raja Perancis mengerahkan pasukannya secara besar-besaran untuk membunuhnya, Jayalangkara menjadi kewalahan. Untuk menyelamatkan jiwanya, Jayalangkara meminta bantuan kepada naga raksasa. Dengan teriakan, datanglah naga raksasa memporak-porandakan pasukan Perancis. Jayalangkara kemudian selamat dan dapat mengislamkan Kerajaan Perancis. Selain itu, ia juga berhasil bersatu kembali dengan Putri Ratna Kasiah dan kakaknya, Mukaddang-Mukaddeng.

Naga raksasa amat menyenangi Jayalangkara karena ia selalu berbuat baik. Karena itu, setiap kali Jayalangkara memohon bantuannya, ia selalu memenuhinya. Demikian halnya, ketika Jayalangkara meminta tolong kepadanya agar memperlihatkan dirinya kepada Raja Perancis, naga raksasa memenuhinya dengan senang hati. Hal itu terungkap dalam cuplikan cerita berikut.

“Lebbaki nalanngerek Jayalangkara kananna karaenga, aklampami mange ri birinna kassika angkioki nagana. Nanaikmo nagana ri bontoa. Nasakgenna napaklolokia akjari kalorok ngasengi. Lekbaki battui assuluk ri paranga ammadammi nagaya kamma tau niak natyang. Nacinikmo ri karaeng siagang ri tau jai. Na lannasak ngasemmo taua anciniki nagaya, nanakan ngaseng, “Koasa tojengi Jayalangkara akkulle napattujui anne nagaya sikamma lompona siagang

(14)

1506

gassinna.” (Jayalangkara, 1985:156) (“Mendengar titah Baginda, pergilah

Jayalangkara ke pantai memanggil naga raksasa itu. Naiklah naga itu ke darat. Seluruh yang dilalui menjadi sungai. Sampailah di lapangan. Berhentilah naga itu seperti ada yang ditunggu. Tampaklah oleh Baginda dan seluruh penduduk. Takjublah, mereka berkata, “Jayalangkara sungguh-sungguh kuasa. Bagaimana caranya memerintah naga yang begini besarnya dan kuatnya.”)

Naga raksasa selalu membantu Jayalangkara ke mana pun Jayalangkara pergi. Setelah meninggalkan Kerajaan Perancis, Jayalangkara kemudian melanjutkan perjalanan ke Kerajaan Mesir. Ia pergi ke kerajaan itu dalam rangka memenuhi undangan Raja Mesir karena putrinya juga ingin melihat bunga kuma-kuma putih. Untuk mempermudah perjalanan ke Kerajaan Mesir, Jayalangkara meminta bantuan naga raksasa untuk menumpanginya. Demikian pula, setelah Jayalangkara dan Putri Ratna Kasiah meninggalkan Kerajaan Madina, naga raksasa dengan setia mengantarnya sampai ke tempat tujuan.

Sifat naga raksasa sebagai penolong sudah melekat dalam dirinya. Terakhir, ia menolong Jayalangkara saat hendak menikahi Putri Ratna Kasiah. Sebelum pesta pernikahan itu dilaksanakan, Jayalangkara terlebih dahulu menjemput ibunya dalam gua, memohon doa restunya, dan sekaligus mengajaknya menyaksikan pesta pernikahan tersebut. Akan tetapi, tatkala Jayalangkara berada dalam gua itu, datang Mukaddang-Mukaddeng membakar gua itu. Akibatnya, Jayalangkara dan ibunya lemas dan hampir tak sadarkan diri. Karena merasa jiwanya terancam, Jayalangkara memohon pertolongan naga untuk mengeluarkannya dari dalam gua. Cara naga raksasa menyelamatkan Jayalangkara dan ibunya terlukis dalam bagian cerita berikut ini.

“Lebbaki tabbaka naukrangimi nagaya.nacitami nagaya. Lekbaki battumi nagaya, “Apa seng nupakkiokang ri nakke?” nakanamo Jayalangkara “Eroka nupallapasak assuluk anne ri leanga. “lekbaki nakanamo nagaya, “teana lakbusukna lanapanraki sakribattannu, cilakana manna lakbak nusare bajik nakaluppaiji bajiknu. Lekbak ngasemmi nupakbaine, erokkinji ri bainennu.” Nakanamo Jayalangkara, “E, naga manna passibilanngang erok ancilakaiak punna teai lekbak sarengku takubuntuluki kacilakanga, mingka inakke memang todong niak takakderek kammaku takkulle tonganngai takucinik.” Lekbaki naallemi nnapaokek ingkonna nagaya nasakgenna tarrusukmo monconga antakle I bakleang moncong. Anjoremmi assuluk Jayalangkara.” (Jayalangkara,

1985: 176) (Bertanya naga, “Mengapa aku dipanggil lagi?” Menjawab Jayalangkara, “Saya ingin dilepaskan dari gua ini.” Berkata naga, “Tidak habis-habisnya engkau dicelakakan oleh saudaramu. Engkau memberikan jasa yang baik, dilupakan jasamu. Engkau sudah dikawinkan, merea masih menginginkan istrimu.” “Berkata Jayalangkara, “Hai naga! Walau seratus kali orang mau mencelakan diriku, bila bukan takdirku, pasti tidak kutemui kecelakaan itu, demikian juga sebaliknya, bila memang nasibku, pasti pula menimpa diriku.

(15)

1507

“Sesudah itu mulai naga melubang dengan ekornya sampai tembus gua batu itu kesebelahnya. Keluarlah Jayalangkara dan ibunya).

Naga itu tidak hanya mengeluarkan Jayalangkara dan ibunya dari gua tersebut, melainkan juga sekaligus menolongnya ke kerajaan Madina. Untuk menyukseskan pesta perkawinan itu, naga raksasa pun turun tangan. Ia pergi ke beberapa kerajaan tetangga, antara lain kekerajaan Perancis, Mesir, dan Cina Sumpeng untuk mengundangnya sekaligus memohon agar para raja tersebut rela mengantar Jayalangkara ke istana melangsungkan pernikahan dengan Putri Ratna Kasiah.

Jujur dan Mematuhi Semua Nasihat

Orang yang jujur adalah orang yang tidak memutarbalikkan fakta. Jika benar ia akan katakan benar, jika salah ia akan katakan salah. Orang yang berperilaku jujur selalu disenangi oleh setiap orang. Sebaliknya, orang yang tidak jujur dan suka berbohong dibenci oleh setiap orang. Dalam cerita ini Mukaddang dan Mukaddeng digambarkan sebagai orang yang tidak jujur. Dia diberi amanat oleh ayahandanya, Raja Ajang agar menemui ahli hukum karena ingin mengetahui nasib peruntungan Jayalangkara. Dihadapan ahli hukum, dia mendapatkan informasi bahwa adiknya itu amat bertuah. Tak satu pun orang yang mampu menyamainya. Dia amat cerdas. Kelak panjang usianya, di akan menjadi Raja Agung. Segala sesuatu yang tak dapat dilihat orang, dia mampu melihatnya. Semua yang tidak diperbuat orang dia akan melakukannya. Selain itu, Jayalangkara murah rezeki. Padi akan jadi. Barang dagangan akan murah. Semua tanaman akan tumbuh dengan subur. Para pedagang akan berdatangan. Banyak kapal singgah berlabuh. Segala kebutuhan penduduk terpenuhi karena segalanya jadi. Selanjutnya, cahaya yang terdapat pada ubun-ubunnya diumpamakan matahari. Bila mana matahari tidak ada, gelap dunia ini. Apabila dunia gelap penghuninya akan susah hati.

Mengetahui adiknya, Jayalangkara, bernasib mujur, Mukaddang dan Mukaddeng amat iri kepadanya. Timbullah dalam hatinya prasangka bahwa Jayalangkara dan Ibunya kelak akan lebih dicintai daripada dirinya sendiri. Agar tidak terjadi hal itu terhadap dirinya, Mukaddang dan Mukaddeng melaporkan kepada Baginda dengan memutarbalikkan apa yang didengarnya dari ahli hukum, seperti tercermin dalam kutipan berikut.

“Mannyombami Mukaddang-Mukaddeng angkana, “O, karaengku! Iami kunumera sabak tammaka-makai bedeng cilakanna andikku Jayalangkara. Nakna hakinga, bala lompoi nibolik ilalang pakrasanganga. Napunna niak lalang pakrasanganga. Napunna niak lalang pakrasangang tamanjaria asea, tamattimboi lamung-lamunga, tana battuai padanggang pakrasangnga, makakjalak ngasengi apa-apanya, mate cipuruki bonena pakrasangang, tamassallomi na battu balaya ri karaenga.” (Jayalangkara, 1985:105)

(“Menyembalah Mukaddang-Mukaddeng. Mereka mengatakan, “Kami bersedih, karena alangkah celaka dan buruk nasib peruntungan adikku Jayalangkara, kata hakim. Bahaya dan malapetaka yang besar yang akan menimpa apabila

(16)

1508

dibiarkan berada di negeri ini. Bila masih ada di negeri ini, padi tidak menjadi, tanaman-tanaman tidak naik, pedagang tidak datang, seluruh barang-barang mahal, rakyat banyak mati kelaparan. Tidak lama lagi Baginda akan ditimpa malapetaka.”)

Ketidakjujuran Mukaddang-Mukaddeng itu menyebabkan adiknya, Jayalangkara, hidup sengsara. Ia dan ibunya di buang ke hutan yang tidak bertuan.

Salah satu sikap lagi yang harus dimiliki setiap orang agar orang lain menyenangi kita adalah berbudi baik dan mematuhi setiap nasihat. Dalam cerita ini dilukiskan bahwa selain Mukaddang dan Mukaddeng tidak jujur, mereka juga adalah orang yang tidak berbudi dan tidak mematuhi setiap nasihat. Ketika Baginda sakit keras, Mukaddang-Mukaddeng terpaksa menemui Jayalangkara karena menganggap hanya Jayalangkaralah yang mampu mendapatkan obat kuma-kuma putih. Sangat menggembirakan hati Mukaddang-Mukaddeng karena Jayalangkara bersedia membantunya. Karena itu, mereka kemudian pergi mencari bunga tersebut di puncak gunung Mesir. Di sebuah hutan mereka bertemu dengan Putri Ratna Kasiah yang juga hendak ke puncak gunung Mesir untuk memetik bunga kuma-kuma putih karena ayahandanya juga dalam keadaan sakit keras. Oleh karena itu, mereka berempat pergi mencari bunga kuma-kuma di atas puncak gunung Mesir.

Sejak melihat Putri Ratna Kasiah, di hati Mukaddang dan Mukaddeng sudah mulai muncul niat jahat. Dia ingin memperkosa Putri Raja Madina itu. Direncanakan niat jahatnya itu akan dilaksanakan jika Putri Ratna Kasiah terlelap. Karena kemalaman dalam perjalanan, mereka pun tertidur di dalam hutan. Pada saat tengah malam bangunlah Mukaddang dan Mukaddeng untuk melampiaskan nafsunya. Namun, perbuatan bejat itu tak sampai terjadi karena Jayalangkara terbangun. Mengetahui Mukaddang dan Mukaddeng akan berbuat tak senonoh kepada Putri Ratna Kasiah, Jayalangkara melarang dan memberinya nasihat. Bunyi nasihat Jayalangkara tergambar dalam cuplikan cerita (22) berikut ini.

“Naia tannga bannginamo ammumbami Mukaddang ambangun tommi Mukaddeng para erok angkoliki puttiri Ratna Kasiah. Tambangkammi Jayalangkara. na nakanamo Jayalangkara, E, sakribattang teako pakkammai pakmaiknu ka antu gauka ta nangai Allah Taala. Gauk pappisangkang nabbia salallahu alaihisalam.” (Jayalangkara,1985:126) (“Tengah malam bangunlah

Mukaddang-Mukaddeng masing-masing mengerayangi Tuan Putri Ratna Kasiah. Terkejutlah Jayalangkara kemudian berkata, “Hai Saudaraku! Janganlah turutkan nafsumu, karena perbuatan demikian tidak disukai Allah Taala. Perbuatan yang dilarang oleh Nabi Muhammad Salallahu Alaihi Wasallam.”)

Mukaddang-Mukaddeng adalah sosok manusia yang tidak peduli pada nasihat. Jika dinasihati, nasihat itu masuk di telinga kanan tetapi dikeluarkan di telinga kiri. Itulah yang mewarnai perilaku Mukaddang-Mukaddeng. Karena itu, ketika mereka bermalam di atas puncak gunung Mesir menunggu air pasang, Mukaddang dan Mukaddeng melakukan lagi tindakan yang tidak senonoh pada Putri Ratna Kasiah, yaitu ingin menggerayaninya. Akan tetapi, niat jahatnya itu gagal lagi

(17)

1509

sebab penjaga Tuan Putri yaitu kucing putih dan hitam yang dikeluarkan dari telinga naga raksasa sebelum meninggalkan tempat tersebut bersuara harimau jika Mukaddang dan Mukaddeng mendekati Tuan Putri. Suara itu kemudian mengagetkan Tuan Putri dan Jayalangkara sehingga terbangun dari tempat tidurnya. Perbuatan Mukaddang dan Mukaddeng selalu dilakukan setiap malam jika Jayalangkara dan Putri Ratna Kasiah terlelap. Akan tetapi, pada saat Mukaddang dan Mukaddeng melakukan aksinya, kucing putih dan hitam itu selalu bersuara harimau sehingga membangunkan Jayalangkara dan Putri Ratna Kasiah.

Kegagalan Mukaddang dan Mukaddeng melampiaskan nafsunya kepada Putri Ratna Kasiah membuat dia dendam kepada Jayalangkara. Dianggapnya kegagalan itu terjadi disebabkan Jayalangkara yang selalu menghalang-halanginya. Karena itu, timbullah dalam hatinya niat untuk melenyapkan nyawa Jayalangkara. Niat itu kemudian dibuktikan ketika Putri Ratna Kasiah berhasil memetik bunga kuma-kuma putih. Saat itu dia menyuruh Jayalangkara meminta bunga kuma-kuma itu pada Putri Ratna Kasiah. Ketika Jayalangkara berjalan menuju Putri Ratna kasiah, Mukaddang dan Mukaddeng pun mengikutinya lalu mendorong Jayalangkara. Akibatnya, Jayalangkara terjatuh ke dalam jurang. Melihat adiknya terjatuh, Mukaddang dan Mukaddeng amat bergembira. Dia menganggap bahwa adiknya itu tak mungkin hidup kembali sehingga tidak ada lagi yang menghalang-halangi untuk mendapatkan bunga kuma-kuma putih itu dan Putri Ratna Kasiah. Namun, meskipun telah mencelakakan dirinya, impian Mukaddang dan Mukaddeng tetap tak kesampaian karena setiap kali Mukaddang-Mukaddeng mendekati Putri Ratna kasiah, bunga kuma-kuma putih itu ingin diremas-remasnya. Tindakan Putri Ratna Kasiah itu cukup jitu. Mukaddang dan Mukaddeng enggan mengikuti Putri Ratna Kasiah sebab jika bunga kuma-kuma itu hancur, orang tuanya akan mati pula.

Tahu Membalas Budi

Membalas budi baik orang dengan budi baik pula adalah perbuatan yang terpuji, sedangkan membalas budi baik orang dengan kejahatan adalah perbuatan yang tercela. Dalam cerita ini Mukaddang dan Mukaddeng digambarkan sebagai orang yang tak tahu membalas jasa baik orang lain. Dalam perjalanan kembali dari puncak gunung Mesir, Mukaddang dan Mukaddeng mengalami nasib sial. Dia ditangkap dan dipenjarakan oleh Raja Perancis. Cukup lama dia berada dalam penjara sehingga tampak kurus kering dan amat pucat. Melihat kondisinya cukup memprihatinkan, Jayalangkara merasa iba kepadanya. Ia ingin berbaik hati kepada kakak tirinya itu meskipun mereka pernah mencelakakannya. Karena itu, Jayalangkara memohon kepada Baginda Raja Perancis untuk membebaskannya. Jasa baik Jayalangkara itu membuahkan hasil. Baginda Raja Perancis mengabulkan permohonan Jayalangkara.

Jayalangkara selalu berbuat baik dan bijaksana kepada kakak tirinya, Mukaddang-Mukaddeng. Ketika Baginda menawarkan kepada Jayalangkara agar mengawini putrinya yang bernama Putri Ratna Kumala, Jayalangkara menolak. Ia menolak karena ingin melihat kakaknya bahagia lebih dulu. Karena itu, niat baik

(18)

1510

baginda itu Jayalangkara limpahkan kepada kepada kakaknya, Mukaddang. Keinginan Jayalangkara itu diterima baik Baginda. Bagi Baginda hal itu bukanlah persoalan. Dalam hatinya raja berkata, baik Jayalangkara maupun Mukaddang sama saja, karena Mukaddang mempersunting Putri Ratna Kumala.

Seperti halnya di tanah Perancis, berkat perlakuan terpuji Jayalangkara, Baginda Mesir menawarkan kepada Jayalangkara agar mengawini putrinya, Putri Ratna Dewi. Tawaran itu juga ditolak oleh Jayalangkara jika kakaknya tidak bahagia lebih dahulu. Oleh karena itu, Jayalangkara memohon agar niat baik itu dilimpahkan kepada kepada kakaknya Mukaddeng. Permohonan itu kemudian dikabulkan Baginda Mesir. Dengan demikian berkat jasa baik Jayalangkara, Mukaddeng juga dapat mempersunting Putri Ratna Dewi.

Setelah melepaskan diri dari penjara kemudian mengawinkannya, bukannya Mukaddang dan Mukaddeng ingin membalas kebaikan adiknya itu dengan kebaikan pula. Mereka malah ingin membalasnya dengan kejelekan, yaitu membunuh Jayalangkara lalu merampas calon istrinya Putri Ratna Kasiah. Keinginan Mukaddang-Mukaddeng diwujudkan ketika Jayalangkara ingin melangsungkan perkawinannya dengan Putri Ratna Kasiah. Sebelum perkawinan itu dilaksanakan, Jayalangkara terlebih dahulu menjemput ibunya dalam gua. Pada saat Jayalangkara dan ibunya berada dalam gua, datanglah Mukaddang-Mukaddeng membakar mulut gua itu. Namun keinginan Mukaddang-Mukaddeng agar Jayalangkara terbunuh tidak menjadi kenyataan sebab naga raksasa sahabatnya segera datang menolongnya. Sifat Mukaddang-Mukaddeng yang jahat dan tak tahu membalas jasa baik orang tercermin dalam cuplikan cerita berikut.

“Lekbaki anne Mukaddang-Mukaddeng battunamo mange rilaenga nasuro tongkokmi bawana laenga nanasuro tambungi kayu kalotorok. Ia lekbaknamo natambungi kayu kalotorok natunumi. Lekbaki natunu assulukmi ambua lalang ri leanga. Lekbakki nasakokmi umbu Jayalangkara sanggenna takullea akmai napakamma umbu. Lekbaki piti lari-larimi mange-mange siangan ammakna. Na nakanamo, “E, karaengku pallappasak laloi atannu ri pammanrakinna balinna,” lekbaki takbaka naukrangimi nagaya. Nacintami nagaya. Lekbaki battumi nagaya. Nakanamo nagaya “Apa seng nupakkiokang ri nakke?” Nakanamo, “Eroka nupallappasak assuluk anne rileanga… lekbaki na allemi napaokek ingkonna nagaya nasakgenna tarrusukmi moconga antakle I bakleang moncong. Anjoremmi assuluk Jayalangkara siagang ammakna.” (Jayalangkara, 1985:176)

(Setelah Mukaddang-Mukaddeng tiba di gua, ditimbunlah mulut gua itu dengan kayu kering. Selesai ditutupi kayu kering dibakarlah. Bertebaranlah asap penuh gua. Lemaslah Jayalangkara dan ibunya oleh asap. Tak dapat lagi bernapas disebabkan sesaknya asap. Berjalan ke mana-mana Jayalangkara dan ibunya di dalam gua. Setelah ia tidak tahu ke mana akan dituju. Berdoalah Jayalangkara, “wahai Tuhan! Lepaskan hambamu dari perbuatan jahat musuhnya! Tiba-tiba teringat kepada naga. Dikenanglah naga itu. Datanglah naga itu. Bertanya naga, “Mengapa aku dipanggil lagi?” Menjawab

(19)

1511

Jayalangkara, “saya ingin dilepaskan dari gua ini”…Sesudah itu, mulai naga melubang dengan ekornya sampai tembus gua batu itu ke sebelah. Keluarlah Jayalangkara dan ibunya.”)

Karena Mukaddang dan Mukaddeng tak henti-hentinya berperilaku jelek, Jayalangkara membeberkan segala tindak tanduknya dari awal hingga akhir di depan orang banyak. Akibatnya, mereka pun dibenci dan merasa malu. Pada saat itu barulah mereka sadari dan sesali segala kekeliruannya. Mereka pun meminta maaf kepada Jayalangkara dan bertobat sekaligus berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatannya.

Bertanggung Jawab

Sikap bertanggung jawab itu harus ditanamkan di dalam diri setiap orang. Seorang kepala keluarga tidak boleh melalaian kewajibannya untuk mengurusi keluarganya, baik dalam keadaan suka maupun duka agar mereka hidup tenang dan penuh kedamaian. Dalam cerita ini Raja Ajang tidak bertanggung jawab terhadap istrinya, Sakamadaya. Sakamadaya ditinggalkannya begitu saja karena tidak memberikan keturunan. Ia kemudian mengawini seorang gadis. Dari perkawinannya itu, ia mendapatkan dua orang anak lelaki yang bernama Mukaddang dan Mukaddeng. Sejak kelahiran kedua anaknya itu, ia tidak pernah lagi memberikan nafkah kepada Sakamadaya. Akibatnya, Sakamadaya menderita lahir batin. Tindakan seperti itu merupakan tindakan yang tidak bertanggung jawab sebagaimana tergambar dalam kutipan berikut ini.

“Naia puttiri Sakamadaya tammaka tongangangmi susana pakmaikna nisayu ri buraknena lanri taenana anakna. Naanjo naasennamo kalenna nisayu sabak tamammanakna ammanta karosok-rosokang tamannganre, tamannginung nappalak doang ri Allah Taala ri allo ri banngi tamatappu ampatara palak limanna. (Jayalangkara, 1895:102) (“Sementara itu, permaisuri Sakamadaya

sangat susah hatinya karena dilalaikan oleh suaminya sebab tiada anaknya. Setelah tahu dirinya diabaikan dan disia-siakan sebab tidak ada anaknya tinggallah ia kurus kering, tidak makan, tidak minum kemudian berdoa kepada Allah Taala siang malam.”)

Sakamadaya menerima dengan sabar perbuatan Raja Ajang yang tidak bertanggung jawab terhadap dirinya itu. Ia kemudian tak henti-hentinya berdoa kepada Allah agar diberikan pula keturunan. Doanya itu kemudian dikabulkan Tuhan. Raja Ajang kembali kepadanya dan tidak lama kemudian dia pun hamil, lalu melahirkan seorang anak laki-laki bertuah yang diberi nama Jayalangkara.

KESIMPULAN

Cerita Jayalangkara sarat akan nilai pendidikan sosial kemasyarakatan sehingga menjadi buku cerita rakyat yang layak dibaca oleh generasi muda. Nilai pendidikan yang bernuansa sosial kemasyarakatan yang ditemukan dalam Cerita

Jayalangkara meliputi: nilai kasih sayang, keramahtamahan, pemaaf atau tidak

(20)

1512

kasihan, dan menepati janji; jujur dan patuh pada nasihat orang tua; tahu membalas budi; serta bertanggung jawab.

DAFTAR PUSTAKA

Emelia, T. W. (2018). Model Revitalisasi Kearifan Lokal Dalam Tradisi Lisan Berpantun Masyarakat Melayu Labuhan Batu Sumatera Utara. Kumpulan Penelitian Dan

Pengabdian Dosen, 1(1).

Endraswara, S.. (2003). Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Widyatama. Ghoni, M. D. (1982). Nilai Pendidikan. Surabaya: Surabaya Usaha Nasional.

Hamid, H.. (1996). Glosarium Bahasa dan Sastra. Bandung: Angkasa. Kartikawati, E. (1994). Materi Pokok Profesi. Jakarta: Depdikbud.

Kasmin, K. (2016). Nilai-Nilai Ungkapan Tradisional Masyarakat Ciacia di Kabupaten Buton. JURNAL BASTRA, 2(1).

Kembong, D. (2004). “Apresiasi Prosa Fiksi dan Drama Makassar”. Diktat. Makassar: FBS UNM.

Kurniawan, D. A. (2013). Kajian nilai-nilai edukatif dalam budaya jawa sebagai bentuk inventarisasi dan transformasinya bagi penguatan karakter (studi kasus di lingkungan keluarga priyayi di Surakarta).

Maknun, L. K. (2018). Perancangan Batik Dengan Sumber Inspirasi Cerita Rakyat dan Flora Fauna Indonesia. Ornamen Jurnal Kriya Seni ISI Surakarta, 15(2).

Masyhuri, H., Suharto, V. T., & Winarsih, E. (2015). Analisis Kumpulan “100 Cerita Rakyat Nusantara” Karya Dian Kristiani (Kajian Nilai Edukasi Dan Nilai Budaya).

Widyabastra: Jurnal Ilmiah Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, 3(2),

93-133.

Nensilianti. (2017). Cerita Fabel Rakyat Bugis. Prosiding Seminar Nasional" membangun Indonesia melalui hasil riset". LP2M Universitas Negeri Makassar. hal. 987-990, ISBN 9786026883933.

Nurhalimah, R. (2016). Kemampuan Menulis Kembali Sinopsis Pau-Paunna “I Jayalangkara” Siswa Kelas VIII SMP Askari Pallangga.

Priyatna, M. (2017). Pendidikan karakter berbasis kearifan lokal. Edukasi Islami: Jurnal

Pendidikan Islam, 5(10).

Riadi, S. (2019). Latoa: Antropologi Politik Orang Bugis Karya Mattulada “sebuah Tafsir Epistemologis”.

Rosmana, T. (2010). Mitos dan Nilai dlam Cerita Rakyat Masyarakat Lampung.

Patanjala, 2(2), 191-206.

Rustan, E. (2018). Pembelajaran Bahasa dan Sastra Daerah Berbasis Multikultural dalam Mewujudkan Pendidikan yang Berkarakter di Era Globalisasi.

Ruyadi, Y., & Si, M. (2010). Model pendidikan karakter berbasis kearifan budaya lokal: penelitian terhadap masyarakat adat Kampung Benda Kerep, Cirebon, Provinsi Jawa Barat untuk pengembangan pendidikan karakter di sekolah. In

Proceedings of The 4th International Conference on Teacher Education (pp.

Referensi

Dokumen terkait