• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN KASUS. Posterior Elbow Joint Dislocation

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LAPORAN KASUS. Posterior Elbow Joint Dislocation"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN KASUS

Posterior Elbow Joint Dislocation

Oleh

Dr. A.A. Ngurah Rai Kusuma Putra

Pembimbing

dr. AA Gede Yuda Asmara, Sp.OT (K)

PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS PROGRAM STUDI ILMU BEDAH

UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR

(2)

UCAPAN TERIMAKASIH

Pertama perkenankan penulis memanjatkan puji syukur kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, karena atas karunia-Nya, maka laporan kasus yang berjudul : “Posterior Elbow Joint Dislocation” dapat terselesaikan.

Penulis menyadari bahwa tanpa bimbingan, pengarahan, sumbangsih pikiran, dorongan semangat, dan bantuan lainnya yang sangat berharga dari semua pihak, usulan penelitian tesis ini tidak akan terlaksana dengan baik dan lancar. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan rasa terima kasih yang setulusnya dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada:

1. Pembimbing Prof. Dr. dr. Ketut Siki Kawiyana, Sp B, Sp OT(K).

2. Rektor Universitas Udayana, Prof. Dr. dr. A.A. Raka Sudewi, SpS dan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Dr. dr. I Ketut Suyasa, SpB, SpOT (K) Spine.

3. Kepala Departemen Ilmu Bedah, Dr. dr. I Nyoman Semadi, Sp.B, Sp.BTKV dan Ketua Program Studi Ilmu Bedah, dr. I Ketut Wiargitha, Sp.B(K) Trauma.

4. Direktur Utama RSUP Sanglah, dr. I Wayan Sudana, M.Kes, beserta staf dan jajarannya. 5. Rekan sejawat PPDS-I Ilmu Bedah dan Bedah Orthopaedi, semua pihak, keluarga,

sahabat, rekan paramedis, dan non paramedis yang tidak bisa penulis sebutkan satu per satu.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa laporan kasus ini jauh dari sempurna dan penulis mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan karya tulis ini, serta mohon petunjuk untuk perbaikan karya tulis ini.

Denpasar,26 maret 2019

(3)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena rahmat-Nya, penulis dapat menyelesaikan Laporan Kasus yang merupakan salah satu tugas dalam Program Pendidikan Dokter Spesialis Bedah FK Unud/RSUP Sanglah Denpasar. Laporan Kasus ini membahas tentang Posterior Elbow Joint Dislocation

Adapun tujuan penulisan laporan kasus ini adalah untuk memperdalam wawasan tentang dislocation di region hand serta melatih kemampuan membuat tulisan ilmiah dan prasyarat dalam mengikuti pendidikan bedah dasar di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana – Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar.

Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada

1. dr. I Ketut Wiargitha, Sp.B(K) Trauma sebagai Ketua Program Studi Ilmu Bedah FK Unud/RSUP Sanglah yang telah memberikan motivasinya.

2. dr. AA Gede Yuda Asmara, Sp.OT(K) sebagai pembimbing yang telah dengan tulus memberikan saran dan masukan baik akademik maupun moril sampai laporan kasus ini dapat diselesaikan dengan tepat waktu.

Saya menyadari bahwa dalam penyusunan laporan kasus ini masih jauh dari sempurna, baik dari segi penyusunan, bahasan, ataupun penulisannya. Oleh karena itu dengan segala keredahan hati penulis menerima saran dan kritik untuk perbaikan laporan kasus ini

(4)

DAFTAR ISI

JUDUL ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... iii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

BAB II LAPORAN KASUS ... 2

BAB III TINJAUAN PUSTAKA ... 7

3.1 Anatomi elbow ... 7

3.2 Dislokasi Sendi Bahu ... 14

3.3 Klasifikasi elbow dislocation ... 15

3.4 Gambaran Klinis ... 16

3.5 Tatalaksana ... 18

3.6 Komplikasi ... 19

BAB IV PENUTUP ... 20

(5)

BAB I PENDAHULUAN

Dislokasi adalah terjadinya pergeseran tulang dari permukaan yang disebabkan tertariknya kapsul (Preace, 2009). Dislokasi sendi terjadi ketika tulang bergeser dari posisinya pada sendi. Dislokasi sendi biasanya terjadi setelah trauma berat, yang mengganggu kemampuan ligament menahan tulang ditempatnya. (Corwin, 2007).

Dislokasi elbow adalah lepasnya hubungan sendi pada siku yang sering disebabkan oleh suatu cidera akibat trauma tidak langsung atau trauma langsung pada siku (Helmi, 2012).

Penanganan dislokasi dapat dilakukan dengan reduksi. Reduksi dilakukan dengan melakukan traksi longitudinal pada lengan bahwa dengan traksi lawan pada lengan atas. Setelah reduksi lakukan imobilisasi lengan dengan gips posisi felksi siku >90 derajad selama 3 minggu (Madjid, 2012). Akibat yang ditimbulkan post pemasangan gips selama 3 minggu adalah gangguan berupa imperment, fungctional limitation, dan disability. Impairment misalnya spasme otot penggerak sendi siku, nyeri, keterbatasan lingkup gerak sendi elbow joint, serta penuruanan kekuatan otot penggerak sendi siku. Fungsional limitation berupa ganggaun self care seperti mandi, makan dan berpakaian. Disability berupa ketidakmampuan pasien untuk melakukan aktifitas atau hobi sesuai dengan usia dan perannya.

(6)

BAB II LAPORAN KASUS

Identitas

 Nama : Ni Gusti Ayu Agung Kartika  Jenis Kelamin : Perempun

 Tanggal Lahir : 3 april 1973  Usia : 46 yo

 Alamat : BR. Tegal Tamu, Batubulan- Gianyar  No MR : 19009535

Anamnesis (Anamnesis dilakukan secara auto anamnesis)

Keluhan Utama : Nyeri pada sendi siku kanan

Pasien datang sadar ke IGD dengan keluhan nyeri pada siku kanan sejak 6 jam SMRS. Pasien sebelumnya mengendarai sepeda motor dan terpeleset terjatuh kearah kanan, dan dikatakan siku membentur aspal. Setelah kejadian tersebut, siku kanan pasien menjadi sulit digerakan, terasa nyeri, dan bentuk siku menjadi tidak simetris. Pasien masih bisa merasakan seluruh jari dan lengan, masih bisa menggerakan lengan, tangan dan jari namun terbatas karena nyeri.

Riwayat bergesernya sendi siku kanan sebelumnya (-) riwayat pengobatan sebelumnya hanya dipijat dirumah. Riwayat tindakan operasi sebelumnya disangkal. Riwayat penyakit serupa pada keluarga disangkal.

Primary Survey A: Clear

B: Spontaneus, RR: 22x/min

C: Stabil, BP:110/70 mmHg, HR: 110 x/min D: Alert

(7)

Secondary Survey GCS : E4V5M6

Kepala : Cephalhematome (-)

Leher : Nyeri (-), Jejas (-), step off (-)

Mata : Refleks cahaya +/+ isokor, Konjungtiva anemis -/- THT : Otorrhea -/-, rhinorrhea -/-

Maxillofacial : Jejas (-), Bengkak (-), malocclusion (-) Thorax :

Insp : Simetris , Jejas (-) Palp : Nyeri (-), Krepitasi (-) Perc : Sonor/sonor

Aus : S1S2 Tunggal reguler murmur (-) Po: Ves +/+, rh -/-, wh -/-

Abdomen:

Insp : jejas (-), distensi(-) Aus : BS (+)

Palp : defans (-) Per : timhani

Pelvis : jejas (-), pelvis stabil

Regio elbow Dextra

L : Bengkak (+), Deformitas (+) angulation (+)

F : Nyeri (+) Pada siku, A. Radialis (+) teraba, CRT < 2”, sensasi normal SaO2 98, %, Hypoesthesia (-)

M: ROM aktif elbow terbatas karena nyeri ROM aktif Wrist 0/90

(8)

Assessment

Dislocation of Right Elbow Joint dd/ CF Right Olecrano, CF Right Head Radius

Radiologi

(9)

Right Elbow X-Ray AP/ Lateral View (Ganesha Hospital (2/3/19)

Diagnosis

Posterior Dislocation of Right Elbow Joint Tatalaksana

Analgetik

Closed reduction under GA refused Closed reduction under LA + immobilization with backslab

(10)

Right Elbow X-Ray Jones View/Lateral View

Post Closed Reduction + Immobilization with Backslab Sanglah Hospital (2/3/19

(11)

RESUME KASUS

Pasien perempuan usia 46 tahun datang sendiri ke RSUP Sanglah. Pasien datang sadar mengeluh nyeri pada siku kanannya setelah kecelakaan sepeda motor 6 jam SMRS. Pasien sebelumnya mengendarai sepeda motor dan terpeleset terjatuh kearah kanan, dan dikatakan siku membentur aspal. Setelah kejadian tersebut, siku kanan pasien menjadi sulit digerakan, terasa nyeri, dan bentuk siku menjadi tidak simetris. Pasien masih bisa merasakan seluruh jari dan lengan, masih bisa menggerakan lengan, tangan dan jari namun terbatas karena nyeri. sebelumnya pasien ke RS ganesa dan di lakukan pemeriksaan radiologi dan diberikan penghilang nyeri.

Riwayat tidak sadar (-), mual (-), muntah (-). Nyeri pada perut (-). Sesak (-). Dari pemeriksaan fisik Regio elbow Dextra didapatkan Look : Bengkak (+), Deformitas (+) angulation (+) Feel : Nyeri (+) Pada siku, A. Radialis (+) teraba, CRT < 2”, sensasi normal SaO2 98,%, Hypoesthesia (-)M:ROM aktif elbow terbatas karena nyeri, ROM aktif Wrist 0/90.

Di RS Ganesa pasien dilakukan foto elbow AP/Lat. Pasien didiagnosa dengan Posterior Dislocation of Right Elbow Joint diberikan penghilang nyeri dan pasien memutuskan untuk pulang paksa, 6 jam setelah pulang pasien mengeluh nyeri dan datang ke RS sanglah, di RSUP Sanglah pasien dilakukan tindakan Closed Reduction + Immobilization with Backslab, observasi 2 jam dan pulangkan untuk kontrol ke poliklinik Bedah Ortopedi

(12)

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA DAN PEMBAHASAN

3.1 Anatomi SIku / Elbow

Elbow joint atau sendi siku merupakan gabungan dari 3 sendi. Dua sendi pertama adalah sendi yang secara tradisional dianggap sebagai pembentuk siku: sendi humeroulnar (sendi engsel dengan artikulasi antara troklea dari kondilus humeri dan trochlear notch dari ulna) dan sendi humeroradial (sendi antara kapitulum kondilus humeri dan cekungan superior dari kepala radius). Sendi yang ketiga adalah artikulasi antara kepala radius dan insisura radius ulna. Sendi siku terdiri dari ujung distal tulang humerus dan ujung proksimal tulang radius dan ulna.1

Ketiga sendi ini, memungkinkan fleksi dan ekstensi siku, serta supinasi dan pronasi lengan bawah dan pergelangan tangan. Ketika siku berada dalam posisi anatomis, axis panjang dari lengan bawah biasanya memiliki kecenderungan lateral atau valgus di siku sekitar 19º dari axis panjang humerus. Sudut ini menunjukkan tidak ada perbedaan antara pria dan wanita, tetapi meningkat signifikan seiring bertambahnya usia menjadi dewasa.

Humerus memiliki lekukan kecil tepat pada superior dari anterior kondilus, fosa radial (lateral) dan fosa koronoideus (medial) memungkinkan humerus untuk menempel dengan kepala radius dan prosesus koronoideus ulna ketika melakukan fleksi penuh. Pada bagian sentral dari humerus posterior di atas troklea dari kondilus humeri terdapat fosa olecranon, yang memungkinkan humerus untuk menempel dengan olecranon ulna ketika melakukan ekstensi.

Sendi siku memiliki membran sinovial yang melapisi kapsul sendi yang berdampingan antara sendi engsel dan sendi radioulnar. Lapisan sinovial menutupi permukaan internal dari

(13)

kapsul sendi dimulai dari superior fossa koronoideus dan olekranon dan berlanjut ke bagian inferior, melapisi hingga proksimal artikulasi radius-ulna.

Di medial, kapsul sendi menebal untuk membentuk ligamen kolateral medial atau ulnaris, yang memanjang dari epikondilus medialis humerus ke koronoid dan olekranon ulna. Ligamen kolateral ulna adalah penebalan segitiga dengan tiga pita utama.

Gambar 1. Ligamen sendi siku pada posisi fleksi 90° tampak medial dan lateral

Elbow atau siku dibentuk oleh tiga tulang yaitu distal humeri, proximal ulna dan proximal radius.

a. Os Humerus

Merupakan tulang terpanjang pada anggota gerak atas. Ujung atas os humerus terdiri dari sebuah caput humeri yang membuat persendian dengan rongga glenoidalis scapula dan merupakan bagian dari persendian bahu. Di bagian bawah caput terdapat bagian yang ramping di sebut collum anatomicum dan di sebelah luar terdapat tuberositas mayor serta bagian dalam terdapat tuberositas minor. Di antara kedua tuberositas terdapat celah, yaitu sulcus intertubercularis.

Pada Batang os humerus terdapat tuberositas deltoid, yaitu tempat melekatnya insersio otot deltoideus. Disebelah dorsal dari tuberositas deltoid terdapat sulcus yang membelit disebut sulcus nerve radialis.

(14)

radius. Pada kedua sisi persendian ujung bawah os humerus terdapat dua epicondylus, yaitu epicondilus lateral dan medial.

b. Os Radius

Tulang radius terletak di sisi lateral pada lengan bawah. Merupakan tulang yang lebih pendek di bandingkan dengan os ulna. Mempunyai sebuah batang dan dua ujung atas, yaitu caput yang berbentuk kancing. Dibawah terdapat sebuah tuberositas radii.

c. Os Ulna

Tulang ulna terletak di sisi medial pada lengan bawah yang terdiri atas sebuah batang dan dua ujung. Ujung os ulna masuk dalam persendian siku yang disebut processus olecranon. Processus ini menonjol keatas di sebelah posterior dan masuk ke dalam fosa olecrani os humerus. Processus coronoideus os ulna menonjol di depannya dan tempat masuk di dalam fosa coronoid os humerus, bila siku di bengkokkan. Batang os ulna semakin ke bawah semakin mengecil dan memberi kaitan pada otot yang mengendalikan gerak sendi pergelangan tangan dan jari-jari. Ujung bawah os ulna terdiri dari caput ulna yang bersendian dengan os radius dan processus styloideus yang menonjol ke bawah.

(15)

Gambar 2 Tulang Pada Sendi Siku

Ligamentum Sendi Siku

Untuk menghubungkan tulang humerus dengan tulang ulna dan radius, maka diperkuat oleh ligamentum-ligamentum yang terletak pada sendi siku. Ligamen-ligamen itu terdiri dari :

 Ligamen collateral ulnare yaitu ligamen yang bersal dari epicondylus medial humerus dan memperkuat sendi humeroulnaris di sisi medial.

 Ligamen collateral radial yaitu ligamen yang terbentang dari epicondylus lateral humeri ke ligamen anular radii menuju os ulna. Memperkuat sendi humeroradial di sisi lateral.

 Ligamen anular radii yaitu ligamen yang bersama dengan ligamen collateral radial menahan capitulum humeri pada tempatnya.

(16)

Gambar 3 Ligamentum Sendi Siku

Di lateral, ligamen kolateral lateral atau radial memanjang dari epikondilus lateral dan distal humerus yang menyatu ke ligamen anular radius. Ligamen anular radius membungkus kepala radius dan menempel pada anterior dan posterior ulna. Permukaan ligamen anular dilapisi membran sinovial dan memungkinkan kepala radius untuk memutar ke dalam selama supinasi dan pronasi, dengan tetap menjaga stabilitas sendi ulna-radius.

Tiga bursae utama terletak di sendi siku. Pertama adalah bursa olekranon subkutan, yang ditemukan dalam jaringan ikat di atas olecranon, kedua adalah bursa olecranon intratendinous yang ditemukan di tendon trisep brachii, dan ketiga adalah bursa olekranon subtendinous, yang mengurangi gesekan antara tendon trisep dan proksimal olecranon ke insersinya pada olecranon.

Otot-otot

Otot-otot yang berfungsi dalam gerakan sendi siku terdiri dari otot fleksor-ekstensor, pronator dan supinator

1) Otot-otot fleksor a) Otot Biceps Brachii

(17)

Insersio : Tuberositas radii.

Persarafan : N. Musculocutaneus (C5,C6).

Fungsi Utama : Supinasi lengan bawah dan fleksi siku.

b) Otot Brachialis

Origo : Proximal supracondylaris lateralis. Insersio : Tuberositas ulna.

Persarafan : N. Musculocutaneus (C5,C6). Fungsi Utama : Fleksi siku.

c) Otot Brachioradialis

Origo : Tuberculum infiaglenoidale scapula Insersio : Tuberositas radii.

Persarafan : N. Radialis (C6,C7) Fungsi Utama : Fleksi siku.

2) Otot-otot ekstensor a) Otot triceps brachialis

Origo : Caput longum pada tuberositas glenoidalis, Caput medial pada septum intermuscular, Caput lateral melekat pada dorsal sulcus nervus radialis.

(18)

b) Otot Anconeus

Origo : Epicondylus lateral humeri. Insersio : Permukaan posterior ulna. Persarafan : N. Radialis (C6,C7)

Fungsi Utama : Extensi siku

3) Otot-otot Pronator dan Supinator a) Otot Pronator Teres

Origo : Epicondylus medialis humeri. Insersio : Permukaan lateral radius Persarafan : N. Medianus (C6,C7) Fungsi Utama : Pronasi siku

b) Otot Pronator Quadratus

Origo : ¼ distal permukaan anterior ulna Insersio : ¼ distal permukaan anterior radius Persarafan : N. Medianus (C6,C7)

(19)

Gambar 2. Gambaran otot yang berperan pada posisi pronasi dan supinasi

Artikulasi humeroulnar dan humeroradial dari sendi siku dipersarafi oleh nervus muskulokutaneus, radialis, dan ulnaris. Di bagian anterior, sisi lateral sendi siku diliputi oleh dermatom C6, wilayah yang lebih medial diliputi oleh dermatom C5 dan T1, dan aspek medial diliputi oleh dermatom C8. Di bagian posterior, sisi lateral diliputi oleh dermatom C6 dan dermatom C8 di medial dibagi di tengah oleh dermatom C7.

Nervus kutaneus lateralis inferior di lengan dan nervus kutaneus posterior di lengan bawah adalah saraf sensorik dari siku lateral. Saraf kutaneus medial di lengan bawah, melalui cabang ulnarisnya (posterior) dan cabang anteriornya, memberikan sensasi pada sisi medial siku. Di sepanjang sisi anterior dari siku, di fosa kubiti, diberi sensasi oleh cabang sensorik dari saraf muskulokutan (nervus kutaneus lateralis di lengan bawah).

(20)

ditemukan pada orang dewasa, jarang ditemukan pada anak-anak (Apley, 2010) dimana 71,8% laki-laki yang mengalami dislokasi, 46,8% penderita berusia antara 15-29 tahun, 48,3% terjadi akibat trauma seperti pada kegiatan olahraga. Tingkat dislokasi yang lebih tinggi terlihat pada perempuan yang berusia >60 tahun. Penyebab tersering didapatkan 58,8% akibat jatuh. Kasus fraktur penyerta komponen sendi 16% terjadi pada kasus dislokasi sendi bahu (Zachilli dan Owens, 2010). Dislokasi sendi merupakan salah satu dari cedera muskuloskeletal yang cenderung terus meningkat dan akan mengancam kehidupan (Rasjad, 2003). Dislokasi sendi umumnya jarang menyebabkan kematian, namun dapat menimbulkan penderitaan fisik, stress mental, dan kehilangan banyak waktu. Oleh karena itu, pada kasus dislokasi sendi akan meningkatkan angka morbiditas dibanding angka mortalitas (Salter, 1999).

Dislokasi siku biasanya terjadi saat seseorang terjatuh dan terjadi saat tangan teregang. Ketika tangan menyentuh tanah, tekanan sampai ke siku. Biasanya terjadi gerakan balik pada gaya ini. Dislokasi siku ini bisa terjadi saat kecelakaan mobil dan siku terputar keluar dari persendiannya. Dislokasi siku bisa terjadi pada kecelakaan mobil ketika penumpang menahan. Tekanan diteruskan ke lengan sehingga bisa terjadi dislokasi pada siku.

Kestabilan dari siku ditunjang oleh beberapa komponen yang ada disekitar siku yaitu antara lain permukaan tulang, ligament dan otot. Ketika terjadi dislokasi pada siku maka banyak struktur yang cedera pada derajat yang berbeda.

Beberapa orang yang memiliki ligament yang besar dan lemah pada sikunya akan beresiko lebih besar untuk terjadinya dislokasi pada siku. Begitu juga pada orang yang memiliki alur ulna yang dangkal pada sendi engsel siku juga memiliki resiko yang besar terjadinya dislokasi pada siku.

(21)

Gambar 3. Dislokasi Elbow Komplit

3.2 Klasifikasi elbow dislocation

Pada Dislokasi yang simple tidak terjadi cedera pada tulang yang utama, sedangkan pada dislokasi yang kompleks akan terjadi cedera yang parah pada tulang dan ligament. Pada dislokasi yang parah, pembuluh darah dan saraf yang melewati siku kemungkinan bisa terjadi cedera, jika ini terjadi maka beresiko untuk kehilangan siku.

 Dislokasi posterior: siku dalam keadaan fleksi yang berlebihan pada tonjolan olecranon. Pada palpasi, didapatkan olecranon terpisah dari bidang epicondilus. Sebagai contoh seseorang yang jatuh dari sepatu roda, jatuh ke belakang, dan dapat menyebakan dislokasi posterior. Dislokasi ini dapat berhubungan dengan cedera neurovaskular.

(22)

 Dislokasi anterior: siku dalam keadaan ekstensi yang berlebihan, pada lengan bawah terjadi pemendekan, sementara lengan bawah terjadi pemanjangan dalam keadaan supinasi. umumnya terkait dengan gangguan arteri brakialis dan / atau cedera pada saraf median.

3.3 Gambaran Klinis

 Saat setelah kejadian penderita Menyanggah lengan bawahnya dengan tangan yang lainnya.

 Deformitas dan pembengkakan pd siku biasanya sangat nyata.

 Penderita mempertahankan sikunya untuk tidak bergerak dalam posisi fleksi.

 Arah dislokasi paling sering ke posterior namun dapat pula terjadi ke arah lateral atau medial.

 Pada dislokasi yang paling besar terjadi kerusakan jaringan lunak berupa : robekan kapsul sendi bahkan arteri brachialis, juga dapat terjadi fraktur.

Anamnesis

Anamnesis dari dislokasi siku meliputi, mekanisme dari cedera tipe dan lokasi dari nyeri, disfungsi, pengobatan sebelum datang ke unit gawat darurat, waktu efusi muncul dan perjalanan terjadinya cedera.

 Mekanisme : saat terjatuh dan terjadi ekstensi dan abduksi pada lengan (posterior) atau terjadi fleksi langsung pada siku (anterior)

 Nyeri, fokus disekitar sendi siku

(23)

 Dislokasi posterior: siku dalam keadaan fleksi yang berlebihan pada tonjolan olecranon. Pada palpasi, didapatkan olecranon terpisah dari bidang epicondilus.

 Dislokasi anterior: siku dalam keadaan ekstensi yang berlebihan, pada lengan bawah terjadi pemendekan, sementara lengan bawah terjadi pemanjangan dalam keadaan supinasi.

 Fungsi neurovascular harus diperhatikan sebelum dan sesudah reduksi.

Pemeriksaan dilakukan di lengan. Pemeriksaan dilakukan yaitu pemeriksaan nyeri, bengkak dan deformitas. Lakukan evaluasi terhadap kulit dan sirkulasi pada lengan. Pulsasi pada pembuluh darah juga harus di cek. Jika arteri cedera pada saat dislokasi, maka tangan akan terasa dingin dan berubah menjadi pucat.

Pemeriksaan Radiologis

Radiografi

X-ray diperlukan untuk menentukan apakah ada cedera tulang. X-ray juga dapat membantu menunjukkan arah dislokasi. Sinar-X merupakan cara terbaik untuk memastikan adanya dislokasi sendi. Tetapi untuk menentukan tulang secara detail sulit untuk identifikasi pada sinar X, dapat dilakukan pada computed tomography (CT) scan. Jika diperlukan untuk mengevaluasi ligamen, magnetic resonance image (MRI) dapat membantu.

(24)

3.5 Tatalaksana

Suatu dislokasi siku harus dianggap cedera darurat. Tujuan pengobatan langsung dari dislokasi siku adalah mengembalikan siku untuk penyelarasan normal. Tujuan jangka panjang adalah untuk mengembalikan fungsi lengan.

Terapi Non Bedah

Penyesuaian siku normal biasanya dapat dipulihkan di bagian gawat darurat di rumah sakit. Sebelum ini dilakukan, biasanya akan diberikan obat penenang dan obat nyeri. Tindakan mengembalikan keselarasan ke siku disebut manuver reduksi. Manuver reduksi dilakukan dengan cara menggunakan Metode Closed Reduction atau Rduksi Tertutup dngan Anestesi. Ada 2 cara, yaitu :

1. Puller.

Reduksi dengan cara ini dilakukan dengan cara pasien posisi supine dengan elbow joint fleksi 90o , Kekuatan diberikan dari arah anterior dari lengan atas dengan satu tangan sambil satu tangan lain menarik pergelangan tangan. Bisa juga dilakukan traksi dengan cara melingkarkan kain pada dada dibawah axilla sambil dilakukan penarikan ke arah yang berlawanan.

(25)

2. Meyn Quegley

Pasien dalam posisi Prone, Sendi siku diletakkan di ujung sambil disanggah dengan satu tangan kemudian secara bersamaan mendorong ujung proximal olecranon sambil menarik pergelangan tangan. (Meyn Quegley)

(26)

Dalam dislokasi siku kompleks, operasi mungkin diperlukan untuk mengembalikan keselarasan tulang dan perbaikan ligamen. Ini bisa sulit untuk mengembalikan kembali dislokasi siku kompleks dan untuk menjaga sendi sejalan. Setelah operasi, siku dapat dilindungi dengan engsel eksternal. Perangkat ini melindungi siku dari dislokasi lagi. Jika pembuluh darah atau saraf cedera berhubungan dengan dislokasi siku, operasi tambahan mungkin diperlukan untuk memperbaiki pembuluh darah dan saraf serta perbaikan tulang dan cedera ligamen.

Bedah rekonstruksi akhir berhasil dapat mengembalikan gerakan untuk beberapa siku kaku. Operasi ini menghilangkan jaringan parut dan pertumbuhan tulang tambahan. Hal ini juga menghilangkan hambatan untuk gerakan.

Seiring waktu, ada peningkatan risiko untuk arthritis di sendi siku jika pengembalian tulang tidak baik, siku tidak bergerak dan memutar secara normal, atau siku terus dislokasi.

3.6 Komplikasi

Komplikasi dislokasi siku :

• Cedera arteri brakialis , medial dan ulnaris • Fraktur secara bersamaan

• Avulsi dari triceps mekanisme penyisipan (dislokasi anterior saja) • Jebakan fragmen tulang dalam ruang sendi

• Kekakuan sendi dengan penurunan ROM (terutama dalam ekstensi) • Myositis ossificans

(27)

BAB IV PENUTUP

Kesimpulan

Dislokasi adalah keluarnya atau terlepasnya kepala sendi dari mangkuknya. Dislokasi merupakan suatu kedaruratan yang memerlukan pertolongan segera. Dislokasi sendi siku sebagian besar disebabkan oleh trauma. Dislokasi posterior yang paling banyak terjadi. Kasus ini paling sering melibatkan pasien yang berusia kurang dari 20 tahun. Dislokasi siku kebanyakan terjadi pada sendi ulnohumeral. Jatuh pada tangan dapat menimbulkan dislokasi sendi siku kearah posterior. Reposisi di lanjutkan dengan membatasi gerakan dengan sling atau gips selama tiga minggu untuk memberikan kesembuhan pada sumpai sendi/kebanyakan pasien dislokasi siku memiliki prognosis yang baik setelah penatalaksanaan.

(28)

DAFTAR PUSTAKA

1. Apley, A. Graham. Ortopedi Dan fraktur Sistem Apley. Edisi Ketujuh. Jakarta: Widya Medika. 1995.

2. Rasjad, Chairuddin. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Jakarta: Yarsif Watampone. 2007.

3. Sjamsuhidajat, R dan Wim de Jong. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi Kedua. Jakarta: EGC. 2004 859-60.

4. Reksoprojo, S.1995. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Binarupa Aksara. Jakarta

5. King SW, Cowling PD. Management of first time shoulder dislocation. Journal of Arthroscopy and Joint Surgery. 2018 May;5(2):86–9.

6. Cutts S, Prempeh M, Drew S. Anterior Shoulder Dislocation. The Annals of The Royal College of Surgeons of England. 2009 Jan;91(1):2–7.

Gambar

Gambar 2 Tulang Pada Sendi Siku
Gambar 3 Ligamentum Sendi Siku
Gambar 2. Gambaran otot yang berperan pada posisi pronasi dan supinasi
Gambar 3. Dislokasi Elbow Komplit

Referensi

Dokumen terkait