• Tidak ada hasil yang ditemukan

RATNA WULANDARI AKADEMI KEBIDANAN PALUTA HUSADA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "RATNA WULANDARI AKADEMI KEBIDANAN PALUTA HUSADA"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

51

PENGARUH FAKTOR INTERNAL DAN EKSTERNAL TERHADAP KEIKUTSERTAAN

PASANGAN USIA SUBUR DALAM PROGRAM KELUARGA BERENCANA DI WILAYAH

KERJA PUSKESMAS TANJUNG BOTUNG KABUPATEN PADANG LAWAS TAHUN 2015

RATNA WULANDARI

AKADEMI KEBIDANAN PALUTA HUSADA

ABSTRACT

Keep participating as productive aged in a Family Planning (KB) coverage Puskesmas Tanjung Botung is noted lower yet seen about 28.13%. This indicated that a gaining target in KB program not achieved as goal that has been made by Dinas Pemberdayaan Perempuan and Keluarga Berencana (PP dan KB) unit service for rate of 85%. The objective of this study is to analyze the influence of internal factor (family supports, religion encouraged and personnel behavior) against their participation in productive aged on the program noted for 2015.

This study is an analytical survey research with cross sectional design method involved the population as all subject productive aged listed and living around the coverage Puskesmas Tanjung Botung serviced area for 2015, totally 263 respondents, to determine them in random sampling technique and taken 73 as sample. In analyzing the data is with multiple logistic regression test.

Bases to data of statistic analysis as done, noted that the internal factor influence (knowledge p = 0.004 and attitude p = 0.031) and external factor (family support with p = 0.002), religion support with p = 0.004 and attitude p = 0.031) while attitude factor of personnel have no influence (p=0.165), further the analysis of multi-variant with multiple logistic regression test known that the most dominant factor influencing those participants is such as factor of knowledge with the output gained with p-value = 0.004 and Exp (B) = 36.619.

It is suggestible that personnel should be more improving their quality of services to public and take actively participate in serving KB publicly, also encourage to establish and activate Posyandu unit post for each village administration and make socialization about the existence of KB program.

Keywords : Internal And External Factor, Participated Productive Aged

PENDAHULUAN

Penduduk merupakan modal dasar dalam mewujudkan tujuan pembangunan suatu bangsa dan negara. Penduduk yang besardan berkualitas merupakan investasi yang berharga bagi suatu negara dengan produktifitasnya yang tinggi. Namun sebaliknya penduduk yang besar namun tidak berkualitas hanya akan menjadi beban negara, karena produktivitas ditentukan oleh pendidikan, status kesehatan, gizi dan penghasilan.

Masalah pertumbuhan penduduk yang tinggi mempunyai implikasi yang luas terhadap tujuan pembangunan nasional, mulai dari pendidikan, kesehatan, tenaga kerja, sandang, pangan dan papan serta keamanan. Pertumbuhan penduduk yang baik merupakan keseimbangan dinamis antara faktor yang menambah (kelahiran) dan mengurangi jumlah penduduk (kematian), berarti salah satu faktor pertumbuhan penduduk ditentukan oleh kelahiran, kematian dan migrasi yang dilakukan oleh penduduk. Pemerintah telah menyusun kebijaksanaan untuk mengendalikan laju pertumbuhan penduduk. Pengendalian ini merupakan suatu upaya atau kegiatan membatasi pertumbuhan penduduk, dengan mengurangi jumlah kelahiran. Kebijaksanaan kependudukan ini dikenal dengan program Keluarga Berencana (KB).

Menurut BKKBN, masalah utama dalam pencapaian target program KB adalah rendahnya keikutsertaan PUS khususnya partisipasi pria/ suami dalam pelaksanaan program KB, baik mendukung istri dalam penggunaan kontrasepsi, sebagai motivator/ promotor, merencanakan jumlah anak pemeliharaan kesehatan ibu dan anak sebagai upaya dini pencegahan

(2)

52

kematian maternal. Beberapa faktor yang diduga menjadi penyebab utama rendahnya keikutsertaan PUS dalam ber-KB adalah: 1) Kondisi lingkungan sosial, budaya, masyarakat dan keluarga yang masih menganggap partisipasi pria belum atau tidak penting dilakukan. 2) Rendahnya pengetahuan dan kesadaran maupun sikap pria dan keluarga dalam ber-KB. 3) Keterbatasan penerimaan dan keterjangkuan pelayanan kontrasepsi pria. 4) Adanya anggapan,kebiasaan serta persepsi dan pemikiran yang salah yang masih cenderung menyerahkan tanggung jawab ber-KB sepenuhnya kepada para istri ataupun perempuan.

Berdasarkan survei awal yang dilakukan peneliti di kantor Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (PP dan KB) Kabupaten Padang Lawas diketahui, bahwa rekapitulasi data target pencapaian program KB secara umum dapat dilihat pada gambar berikut :

Berdasarkan Gambar 1.1 di atas dapat disimpulkan, bahwa keikutsertaan PUS dalam program KB selama 6 (enam) tahun terakhir (2009-2014), masih sangat rendah sehingga berdampak negatif, seperti tidak tercapainya target pencapaian program KB yang telah ditetapkan oleh Dinas PP KB yaitu sebesar 85%.

Tabel 1. Pencapaian Target Program KB Berdasarkan Keikutsertaan PUS Dalam Ber-KB Di 7 Puskesmas Kabupaten Padang Lawas

No. Nama Puskesmas Target sasaran Target Pencapaian Frekuensi % 1. Pasar Sibuhuan 2.367 1.964 82,97 2. Latong 2.015 1.671 82,92 3. Paringgonan 2.109 1.853 87,86 4. Huragi 1.897 1.021 53,82 5. Binanga 2.128 1.723 80,96 6. Huristak 735 287 39,04 7. Tanjung Botung 263 74 28,13 Dikutip dari: Dinas PP KB Kab. Padang Lawas.

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, peneliti tertarik untuk melakukan sebuah penelitian mengenai rendahnya pencapaian target program KB di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Botung, dengan judul penelitian “Pengaruh Faktor Internal dan Eksternal terhadap Keikutsertaan PUS dalam Program KB di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Botung Kabupaten Padang Lawas Tahun 2015”.

Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk menanalisis pengaruh faktor internal (pengetahuan dan sikap) dan eksternal (dukungan keluarga, dukungan agama dan sikap petugas) terhadap keikutsertaan PUS dalam program KB di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Botung Kabupaten Padang Lawas tahun 2015.

0 5000 10000 15000 20000 25000 30000 35000 40000 45000 50000 Tahun 2009 Tahun 2010 Tahun 2011 Tahun 2012 Tahun 2013 Tahun 2014 Jumlah PUS Akseptor KB

(3)

53

METODOLOGI PENELITIAN

Jenis penelitian ini bersifat analitik survei dengan menggunakan pendekatan sekat silang (cross sectional) yang bertujuan untuk menganalisis dinamika korelasi dan keterpengaruhan faktor internal dan eksternal terhadap keikutsertaan PUS dalam program KB yang dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Botung Kabupaten Padang Lawas pada bulan Oktober 2015 sampai dengan Januari 2016. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh PUS yang terdaftar dan bertempat tinggal di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Botung yaitu, berjumlah 263 pasangan. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik

random sampling (secara acak) dan penentuan besar sampel di ambil menggunakan rumus Slovin, diperoleh sebanyak 73

responden. Metode analisis data pada penelitian ini dilakukan melalui beberapa tahapan analisis antara lain, analisis univariat, bivariat dan multivariat.

HASIL PENELITIAN Analisis Univariat

Berdasarkan hasil analisis univariat dapat diketahui distribusi karakteristik responden. Adapun beberapa karakteristik responden yang dimaksud adalah, umur, pendidikan dan pekerjaan sebagai berikut; dari 73 responden diketahui sebanyak 17 orang (23,3%) dengan kategori umur <21 tahun, sebanyak 39 orang (53,4%) pada kategori umur 21-35 tahun, dan sebanyak 17 orang (23,3%) kategori umur >35 tahun. Responden dengan kategori pendidikan dasar (SD, SMP Sederajat) sebanyak 35 orang (47,9%), pendidikan menengah (SMA Sederajat) sebanyak 24 orang (32,9%) dan 14 orang (26,0) responden lagi dengan kategori pendidikan tinggi. Sedangkan responden dengan kategori tidak bekerja/ IRT sebanyak 28 orang (38,4%), bekerja sebagai petani 17 orang (23,3%) dan wiraswasta/ pegawai swasta 15 orang (20,5%) serta responden dengan pekerjaan PNS, TNI/ Polri berjumlah 13 orang (17,8%).

Berdasarkan analisis univariat faktor internal dan eksternal PUS diperoleh hasil sebagai berikut, mayoritas responden dengan kategori pengetahuan kurang sebanyak 48 orang (65,8%). Mayoritas sikap responden negatif yaitu, 45 orang (61,6%). Mayoritas responden menyatakan tidak memeroleh dukungan keluarga yaitu, sebanyak 52 orang (71,2%). Mayoritas responden menyatakan bahwa agama tidak mendukung program KB yaitu, sebanyak 47 orang (64,4%) serta mayoritas responden menyatakan bahwa sikap petugas negatif dalam pelayanan kesehatan atau KB berjumlah 43 orang (58,9%).

Analisis Bivariat

Hasil analisis data bivariat dengan uji chi-square pada α = 0,05. Analisis yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui ada atau tidak hubungan faktor pengetahuan, sikap, dukungan keluarga, dukungan agama dan sikap petugas terhadap keikutsertaan PUS dalam program KB dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 2. Hasil Analisis Bivariat Dengan Menggunakan Uji Chi-Square

No.

Variabel Penelitian

p-value

1. Pengetahuan

0.000

2. Sikap

0.004

3. Dukungan Keluarga

0,000

4. Dukungan Agama

0,001

5. Sikap Petugas

0,002

Berdasarkan Tabel 2 di atas diketahui, bahwa keseluruhan variabel pada penelitian ini memiliki hubungan yang signifikan dengan keikutsertaan PUS dalam program KB di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Botung. Hal ini dapat dilihat dari hasil uji

(4)

54

Analisis Multivariat

Adapun hasil analisis tersebut di atas dapat dilihat pada tabel beikut :

Tabel 2. Hasil Analisis Multivariat dengan Uji Regresi Logistik Ganda

No. Variabel Penelitian p-value Exp(B)

1. Pengetahuan

0,004 36,619

2. Sikap

0,031 13,282

3. Dukungan Keluarga 0,002 31,944

4. Dukungan Agama

0,031 11,161

5. Sikap Petugas

0,165 4,464

6. Nilai Konstanta

0,000 0,000

Berdasarkan Tabel 2 di atas diketahui, bahwa dari 5 (lima) variabel independen pada penelitian ini terdapat 4 (empat) variabel yang berpengaruh secara signifikan (p < α = 0,05) terhadap keikutsertaan PUS dalam program KB yaitu, variabel pengetahuan (p-value = 0,004), sikap (p-value = 0,031), dukungan keluarga (p-value = 0,002) dan dukungan agama (p-value = 0,031). Sedangkan variabel sikap petugas tidak berpengaruh terhadap keikutsertaan PUS dalam program KB dikarenakan nilai p-value = 0,165 yang berarti p > α = 0,05.

Hasil analisis multivariat dengan uji regresi logistik ganda diperoleh nilai Exp (B) variabel pengetahuan (Exp (B) =

36,619

), sikap (Exp (B) =

13,282

), dukungan keluarga (Exp (B) =

31,944

), dukungan agama (Exp (B) =

11,161

) dan sikap petugas (Exp (B) =

4,464

). Dalam menentukan variabel independen yang paling dominan memengaruhi variabel dependen penelitian ini ditentukan melalui nilai Exp (B) tertinggi dari seluruh variabel yang diteliti. Maka variabel yang paling dominan memengaruhi keikutsertaan PUS dalam program KB di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Botung Kabupaten Padang Lawas tahun 2015 adalah variabel pengetahuan PUS dengan nilai Exp(B) = 36,619.

PEMBAHASAN

Pengaruh Pengetahuan terhadap Keikutsertaan PUS dalam Program KB

Hasil analisis statistik dengan uji regresi logistik ganda diperoleh nilai p-value = 0,004 (p < α =0,05) dan nilai Exp(B) = 36,619. Artinya ada pengaruh pengetahuan terhadap keikutsertaan PUS dan nilai Exp (B) = 36,619 menunjukkan bahwa responden dengan pengetahuan baik memiliki peluang 36,619 kali lebih besar dibandingkan responden dengan pengetahuan kurang untuk ikut serta dalam program KB di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Botung Kabupaten Padang Lawas tahun 2015.

Hal tersebut dapat dipahami karena mayoritas responden dengan kategori pendidikan dasar (47,9%). Pendidikan merupakan suatu kegiatan formal dan non formal sebagai suatu upaya mengembangkan pola pikir, kepribadian dan kemampuan seseorang baik di dalam maupun luar sekolah serta pengalaman hidup yang berlangsung seumur hidup. Pendidikan individu yang rendah akan memengaruhi pemahamannya terhadap informasi yang diperolehnya, sehingga berdampak terhadap tindakan yang akan dilakukan orang tersebut selanjutnya. Hal ini menunjukkan bahwa seseorang dengan kategori tingkat pendidikan rendah cenderung lebih susah menerima dan keliru dalam menafsirkan informasi yang diterimanya.

Menurut Cecep, pengetahuan merupakan tahap awal di mana subjek mulai mengenal gagasan dan ide-ide baru serta belajar memahami sesuatu yang berdampak pada perubahan perilaku. Pengetahuan akan sangat menentukan kemampuan seseorang dalam mengatasi masalah di lingkungan kerja dan sosial. Semakin tinggi pengetahuan tentang kesehatan maka orang tersebut semakin membutuhkan pelayanan kesehatan sebagai tempat berobat bagi diri sendiri dan keluarganya sehingga individu termotivasi untuk melakukan kunjungan ke unit-unit pelayanan kesehatan untuk memeroleh informasi maupun layanan kesehatan yang lebih baik.

Pengetahuan yang baik mengenai program KB dan alat kontrasepsi akan memudahkan PUS dalam menentukan pilihan. Pengetahuan PUS mengenai program KB akan memengaruhi mereka memilih metode atau alat kontrasepsi yang akan digunakan termasuk keleluasaan atau kebebasan pilihan, kecocokan, pilihan efektif tidaknya, kenyamanan dan keamanan, juga dalam memilih tempat pelayanan yang lebih sesuai dan lengkap, karena memiliki wawasan sudah lebih baik. Pengetahuan yang baik tentang KB diharapkan berdampak positif pada peningkatan keikutsertaan PUS dalam ber-KB.

(5)

55

Berdasarkan uraian dan data-data tersebut di atas, peneliti menyimpulkan bahwa responden dengan pendidikan tinggi mempunyai pemahaman yang baik terhadap informasi yang diterima akan berdampak pada peningkatan pengetahuan mengenai program KB menjadi lebih baik, sehingga dapat mendorong perubahan perilaku respoonden untuk ikut serta mensukseskan program tersebut dan berlaku sebaliknya apabila responden dengan pengetahuan kurang maka akan semakin rendah pula keikutsertaan PUS dalam program KB di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Botung Kabupaten Padang Lawas tahun 2015.

Pengaruh Sikap Terhadap Keikutsertaan PUS Dalam Program KB

Hasil analisis multivariat dengan uji regresi logistik ganda diperoleh nilai p-value = 0,031 (p<α=0,05) dan Exp (B) = 13,282. Hal ini berarti ada pengaruh sikap terhadap keikutsertaan PUS dalam program KB dan responden dengan kategori sikap positif memiliki peluang 13,282 kali lebih besar dibandingkan responden yang bersikap negatif untuk ikut serta dalam program KB di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Botung tahun 2015.

Penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan Pardosi, yang menyatakan, terdapat hubungan yang bermakna antara sikap dengan tingkat kemandirian akseptor KB aktif dalam pemanfaatan program KB mandiri, diperoleh nilai Sig =0,000 (Sig< α=0.05), yang berarti semakin baik sikap individu terhadap program KB maka semakin tinggi keikutsertaannya menjadi akseptor KB aktif. Hal tersebut didukung dengan pendapat Agung, yang menyatakan bahwa mayoritas (97,2%) PUS memiliki sikap yang negatif terhadap alat kontrasepsi dalam program KB yang berdampak rendahnya keikutsertaan PUS untuk ber-KB.

Sikap seseorang dipengaruhi oleh aspek pengetahuan yang berisikan aspek positif ataupun negatif dari suatu hal. Misalnya, seseorang melihat program KB lebih banyak aspek yang positif dari pada aspek negatif, dan aspek yang positif tersebut lebih penting dari aspek negatif, maka akan tumbuh sikap yang positif terhadap program KB dan berlaku sebaliknya untuk sikap negatif. Sikap merupakan reaksi yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Sikap mencerminkan kesenangan atau ketidaksenangan seseorang terhadap sesuatu. Sikap berasal dari pengalaman atau dari orang dekat dengan kita. Mereka dapat mengakrabkan diri kepada sesuatu atau menyebabkan kita menolak sesuatu tersebut.

Sikap yang merupakan reaksi penerimaan oleh responden terhadap tujuan yang ditawarkan dalam program KB diantaranya, keuntungan, manfaat dan juga kegunaan pemakaian alat kontrasepsi. Pendidikan, orang lain dan sosial budaya dan lingkungan tempat tinggal responden merupakan beberapa faktor memengaruhi responden dalam penentuan keputusan serta bersikap dalam menghadapi program KB. Dalam mewujudkan suatu sikap positif, PUS harus memiliki pengetahuan yang baik mengenai program KB sehingga akan mewujudkannya dalam bentuk tindakan nyata, seperti keikutsertaannya dalam program KB serta memilih menjadi akseptor KB aktif.

Berdasarkan uraian dan data hasil analisis statistik yang dilakukan peneliti menyimpulkan sikap responden yang negatif diikuti dengan rendahnya keikutsertaan PUS dalam progam KB. Hal ini menunjukkan responden yang memberi penilaian kurang baik terhadap program KB akan melakukan tindakan yang negatif pula terhadap program KB tersebut, seperti tidak menggunakan dan menolak untuk ber-KB.

Pengaruh Dukungan Keluarga Terhadap Keikutsertaan PUS Dalam Program KB

Hasil analisis multivariat dengan uji regresi logistik ganda diperoleh nilai signifikasi p-value=0,002 (p<α=0,05), yang berarti ada pengaruh dukungan keluarga terhadap keikutsertaan PUS dan diperoleh nilai Exp (B) = 31,944, artinya responden yang memeroleh dukungan keluarga memiliki peluang 31,944 kali lebih besar dibanding dengan responden yang tidak memeroleh dukungan keluarga untuk ikut serta dalam program KB di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Botung Kabupaten Padang Lawas tahun 2015.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Masro, yang mana hasil uji statistik dengan menggunakan uji chi-square diperoleh nilai p = 0.000, (p < α =0,005) yang berarti ada hubungan yang bermakna antara dukungan keluarga dengan perilaku akseptor KB dengan nilai Odds Ratio (OR) = 3,09. Artinya responden yang keluarganya mendukung perilaku untuk menjadi akseptor KB berpeluang 3,09 kali lebih besar dibandingkan dengan responden yang tidak mendapat dukungan keluarga.

Menurut Hartanto, salah satu faktor yang memengaruhi keikutsertaan PUS dalam program KB adalah dukungan keluarga terdekat (suami). Dukungan suami diperoleh responden melalui komunikasi pasangan suami istri dalam menentukan pengambilan suatu keputusan, seperti keikutsertaan PUS dalam program KB. Tidak adanya dukungan keluarga dapat

(6)

56

berarti seseorang tersebut tidak berani untuk melanjutkan maupun memutuskan berbuat sesuatu untuk dirinya, misalnya dalam pengambilan keputusan untuk ber-KB, PUS akan mendiskusikan serta mencari dukungan keluarga untuk menyakinkan tindakan yang dilakukan benar.

Berdasarkan uraian data tersebut di atas peneliti menyimpulkan dukungan keluarga merupakan faktor yang sangat memengaruhi terhadap keikutsertaan PUS dalam program KB. Hal ini dikarenakan dorongan ataupun motivasi yang pertama yang dapat meyakinkan serta mengubah perilaku PUS adalah keluarga khususnya suami sebagai pasangan hidupnya. Hal tersebut menunjukkan semakin tinggi dukungan keluarga terhadap program KB akan berdampak pada semakin tinggi pula keikutsertaan PUS dalam program KB dan akan berlaku sebaliknya, apabila keluarga tidak mendukung. Hal ini disebabkan peran dukungan keluarga sangat penting dalam pengambilan keputusan. Keputusan yang diambil oleh PUS merupakan hasil dari musyawarah dengan anggota keluarga lainya sehingga PUS tidak terbebani oleh rasa takut akibat keputusan maupun tindakan yang dilakukannya.

Pengaruh Dukungan Agama Terhadap Keikutsertaan PUS Dalam Program KB

Hasil analisis multivariat dengan uji regresi logistik ganda diperoleh nilai signifikansi dukungan agama adalah p-value = 0,031 (p < α = 0,05), yang berarti ada pengaruh dukungan agama terhadap keikutsertaan PUS dalam program KB dan nilai Exp(B) = 11,161. Perolehan nilai Exp (B) sebagai hasil analisis data yang kemudian diartikan bahwa responden yang menyatakan agama mendukung program KB memiliki peluang 11,161 kali lebih besar dibanding responden yang menyatakan bahwa agama tidak mendukung keikutsertaan PUS dalam program KB di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Botung Kabupaten Padang Lawas tahun 2015.

Hasil penelitian ini berbanding terbalik dengan hasil penelitian Rahma, di mana hasil analisis bivariat diperoleh nilai p = 0,266 (p > α=0,005) yang berarti tidak ada pengaruh dukungan agama dengan pemilihan kontrasepsi dalam program KB. Hal ini didukung oleh Radita K, yang menyebutkan bahwa pada dasarnya setiap agama membolehkan umatnya untuk ber-KB dengan alasan tertentu seperti, menjaga kesehatan ibu, mengatur jarak diantara dua kelahiran, menjaga keselamatan jiwa, kesehatan atau pendidikan anak, sehingga tidak terdapat keterkaitan hubungan maupun pengaruh agama terhadap program KB.

Program KB bukan hanya masalah demografi dan klinis akan tetapi juga mempunyai dimensi sosial-budaya dan agama, khususnya perubahan sistim nilai dan norma masyarakat. Oleh karena itu program KB perlu mendapat dukungan masyarakat termasuk tokoh agama. Walaupun awalnya mendapat tantangan akhirnya program KB didukung oleh tokoh agama dengan pemahaman bahwa KB tidak bertentangan dengan agama. Adanya dukungan agama terhadap program KB diharapkan dapat mengubah persepsi dan menghilangkan anggapan di masyarakat bahwa ber-KB haram dan dilarang oleh agama, dengan menunda kehamilan berarti menolak rezeki dan amanah yang diberikan Tuhan, sehingga program KB dapat di terima oleh masyarakat sebagai suatu upaya dalam mensejahterakan keluarga.

Rendahnya pencapaian target program KB di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Botung dapat dipahami dengan mengingat masyarakat masih memegang teguh adat istiadat maupun pituah orang tua dan pandangan agama yang negatif ataupun salah terhadap program KB. Misalnya kalimat yang menyatakan bahwa anak itu titipan Tuhan dan itu merupakan rezeki yang diberi Tuhan Yang Maha Esa, dengan ber-KB berarti membunuh bayi ataupun menghalangi kehendak Tuhan sehingga kita harus menerima segala yang menjadi kehendak Tuhan. Keyakinan dan pemahaman agama yang salah oleh responden seperti hal tersebut di atas akan berdampak pada rendahnya keikutsertaan PUS untuk ber-KB.

Berdasarkan uraian data tersebut di atas peneliti menyimpulkan semakin besar responden meyakini responden mendapat dukungan agama terhadap program KB maka semakin tinggi pula keikutsertaannya dalam program KB, akan tetapi pada penelitian ini berlaku sebaliknya di mana responden meyakini bahwa agama melarang untuk ber-KB. Hal tersebut dapat dilihat dari rendahnya keikutsertaan PUS dalam program KB di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Botung Kabupaten Padang Lawas tahun 2015.

Pengaruh Sikap Petugas Terhadap Keikutsertaan PUS Dalam Program KB

Hasil analisis multivariat dengan uji regresi logistik ganda diperoleh nilai signifikasi p-value = 0,168 (p > α =0,05), yang berarti bahwa sikap petugas tidak berpengaruh secara signifikan terhadap keikutsertaan PUS dalam program KB di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Botung Kabupaten Padang Lawas tahun 2015.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas responden menyatakan sikap petugas negatif dalam memberikan pelayanan KB (58,9%). Hal ini disebabkan ketidakpuasan PUS terhadap pelayanan KB yang diberikan petugas, sehingga

(7)

57

responden cenderung enggan untuk ikut serta dalam program KB dikarenakan responden tidak percaya petugas tersebut dapat membantu menyelesaikan masalah yang sedang dialaminya.

Sikap tenaga kesehatan dalam melayani hendaknya menunjukkan karakter baik dan bermartabat dengan memperlakukan pasien/ klien dengan baik, membangun interaksi antara petugas dengan pasien/ klien, memberikan informasi yang dibutuhkan dengan baik dan benar dan menghindari pemberian informasi yang berlebihan, serta membahas rencana tindak lanjut pengobatan, sehingga pasien/ klien mengerti dan memahami terkait masalah kesehatan yang dialaminya serta termotivasi untuk merubah perilaku sebagai upaya pencegahan terhadap risiko kesakitan yang mungkin akan dideritanya. Berdasarkan uraian data tersebut di atas peneliti menyimpulkan rendahnya keikutsertaan PUS dalam program KB dikarenakan ketidakpuasan responden terhadap sikap petugas yang negatif dalam memberikan pelayanan. Hal ini disebabkan karena responden merasa pelayanan yang diterimanya belum optimal dalam mengatasi masalah yang dialaminya sehinggaresponden menganggap tenaga kesehatan tidak dapat membantu memecah masalahnya mengenai KB dan tidak terjalin interaksi yang baik antara petugas dan responden akibat proses pelayanan kesehatan yang dilakukan sangat singkat disertai dengan masih kurangnya kemampuan petugas memberikan pelayanan maupun informasi yang dibutuhkan PUS mengenai program KB sehingga tidak dapat memotivasi untuk mengubah perilaku dan persepsi responden untuk ikut serta dalam program KB.

Implikasi Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan mengubah perilaku PUS terhadap keikutsertaan dalam program KB, oleh karena itu diperlukan dukungan maupun peran serta tokoh agama dan adat sebagai panutan di masyarakat yang diharapkan dapat memotivasi masyarakat dalam meningkatkan keikutsertaan PUS dalam program KB sebagai salah satu upaya mewujudkan keluarga kecil berkualitas, bahagia dan sejahtera.

Selanjutnya dapat menjadi referensi bagi kepala puskesmas untuk menjalin kerja sama lintas sektoral dan para tokoh masyarakat sehingga informasi terkait program KB dapat diterima masyarakat dengan baik.

Keterbatasan Penelitian

Pada saat melakukan penelitian, terdapat banyak responden yang tidak mengerti tentang manfaat program KB, hal ini dapat dilihat pada saat menjawab kuesioner banyak responden yang kesulitan, ketidakterbukaan responden dalam menjawab pertanyaan yang diajukan, sehingga harus menjelaskan tiap item pertanyaan dan melakukan pendekatan dalam menggali jawaban yang diharapkan. Selain hal tersebut masih banyak faktor lain yang memengaruhi keikutsertaan PUS dalam program KB yang tidak diangkat oleh peneliti.

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis data mengenai pengaruh faktor internal dan eksternal terhadap keikutsertaan PUS dalam program KB di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Botung Kabupaten Padang Lawas tahun 2015, maka peneliti menarik beberapa kesimpulan dari penelitian ini antara lain :

1) Ada hubungan antara faktor internal (pengetahuan p=0,000 dan sikap p= 0,004) dan faktor eksternal (dukungan keluarga p=0,000, dukungan agama p =0,001 dan sikap petugas p=0,002) terhadap keikutsertaan PUS dalam program KB.

2) Ada pengaruh faktor internal (pengetahuan p =0,002 dan sikap p = 0,009) dan faktor eksternal (dukungan keluarga p=0,001 dan dukungan agama dengan nilai p =0,016) terhadap keikutsertaan PUS dalam program KB.

3) Tidak ada pengaruh faktor sikap petugas terhadap keikutsertaan PUS dalam program KB, dimana nilai (p = 0,165) yang berarti p > α= 0,05.

4) Faktor paling dominan memengaruhi keikutsertaan PUS dalam program KB di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Botung Kabupaten Padang Lawas tahun 2015 adalah faktor pengetahuan, dimana nilai Exp (B) =36,619.

(8)

58

Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, maka sebagai bahan informasi dalam rangka meningkatkan target capaian program KB di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Botung Kabupaten Padang Lawas dengan ini peneliti menyarankan :

1) Kepada responden maupun PUS diharapkan agar lebih proaktif dalam mencari informasi dalam rangka peningkatan pengetahuan mengenai program KB sehingga dapat memotivasi PUS untuk ikut serta dalam program KB.

2) Kepada keluarga khususnya suami agar berpartisipasi serta memberikan dukungun baik berupa psikis, fisik, sosial dan spiritual serta materi kepada pasangan mengenai tujuan dan manfaat program KB.

3) Diharapkan kepada para tokoh agama dan masyarakat untuk dapat proaktif dalam mendukung program KB sehingga masyarakat dapat menerima tanpa ada keraguan yang diakibatkan adanya stigma negatif tentang KB.

4) Diharapkan kepada pemerintah daerah khususnya Puskesmas Tanjung Botung dan seluruh tenaga kesehatan agar lebih meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan yang diberikan dan berperan aktif dalam pelayanan KB dengan mengaktifkan posyandu di setiap desa serta melakukan sosialisasi tentang manfaat program KB sehingga target cakupan program KB yang telah ditetapkan dapat tercapai.

DAFTAR PUSTAKA

BKKBN. Kebijakan program pokok dan kegiatan bidang layanan KB dan kesehatan reproduksi. Jakarta; 2012.

BKKBN. Arah kebijakan program KB nasional tahun 2005-2009 dan refleksi 2 tahun pelaksanaan program KB dalam era desentralisasi. Direktorat Pelayanan Informasi dan Dokumentasi BKKBN. Jakarta; 2010.

BKKBN. Buku profil pendataan keluarga serta program kependudukan dan KB nasional. Jakarta; 2011.

Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana. Rekapitulasi pelaporan capaian program KB. PLKB/ PKB. Kabupaten Padang Lawas; 2014.

Notoadmojo S. Metodologi penelitian kesehatan. Jakarta: Rhineka Cipta; 2012.

Freddy R. Mengukur efektifitas program promosi kesehatan dan analisis kasus menggunakan software program SPSS. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama; 2009.

Notoadmojo S. Promosi kesehatan dan ilmu perilaku. Jakarta: Rhineka Cipta; 2014.

Triwibowo C. Pengantar dasar ilmu kesehatan masyarakat. Cetakan I. Yogyakarta: Nuha Medika; 2015.

Purwoko. Penerimaan PUS terhadap metode kontrasepsi vasektomi dan sterilisasi tuba. [Tesis]. Semarang: Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro; 2010.

Pardosi TI. Analisis faktor-faktor yang berhubungan dengan tingkat kemandirian akseptor KB aktif dalam pemanfaatan program KB mandiri di wilayah kerja Puskesmas PB Selayang [Tesis]. Medan: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara; 2012.

Agung. Kajian rendahnya partisipasi suami pasangan usia subur sebagai akseptor KB di desa Tanjung Sari tahun 2014. Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan. Universitas Lampung Bandar Lampung; 2015.

Hamilton. Dasar-dasar keperawatan maternitas. Edisi Keenam Revisi. Jakarta: EGC; 2010.

Nasution M. Faktor-faktor yang memengaruhi perilaku akseptor KB aktif pria di wilayah kerja Puskesmas Ambacang Kota Padang Tahun 2012. [dokumen di internet]. [diunduh 10 September 2015]. Tersedia dari: http:// repository.unand.ac.id. Hartanto. Keluarga berencana dan kontrasepsi. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan; 2013.

Vasra. Hubungan pengetahuan dan sikap suami dengan keikutsertaan dalam ber-KB di Sukarami Palembang tahun 2009 [e-journal]. 2009 [diunduh 10 September 2015]; 26 (13). Tersedia dari: http://www. medicastore.com.

Gambar

Tabel 1.   Pencapaian  Target  Program  KB  Berdasarkan  Keikutsertaan  PUS  Dalam  Ber-KB  Di  7  Puskesmas  Kabupaten Padang Lawas

Referensi

Dokumen terkait

Bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 110 ayat (1) huruf i, Undang- Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, retribusi

Mereka hanya mengetahui bahwa si Bungsu sudah mati ditebas Saburo dan anak buahnya sekitar dua tahun yang lalu!. Apakah si Bungsu menyangka bahwa kebocoran rahasia

Pola defleksi menurut metode Broms (1964) berbanding lurus dengan kelipatan pembebanan, sedangkan pola defleksi menurut metode elemen hingga dan metode beda hingga (p-y curve)

Ketika suatu plat rata vertical dipanaskan maka akan akan terbentuklah suatu lapisan batas konveksi bebas,Profil kecepatan pada lapisan batas ini tidak seperti profil kecepatan

Graf disini digunakan bukan untuk mencari alur tercepat dalam penyusunan dan eksekusi materi dan metode dalam kaderisasi, tetapi digunakan agar hasil akhir yang diharapkan

Namun begitu, apabila sumber daya dimiliki secara nasional, masyarakat yang tinggal di dekat lokasi ekstraksi lazimnya tidak memiliki klaim yang melekat terhadap bagian

Tindakan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pemberian reward dan punishment kepada guru mengenai kedisiplinan guru dalam kehadiran dikelas dalam proses

Pembelajaran yang dilakukan perlu melatihkan keterampilan-keterampilan sains sehingga peserta didik terbiasa melakukan hal-halyang berhubungan dengan kegiatan seperti: