• Tidak ada hasil yang ditemukan

SUMBERDAYA TERBARUKAN : SUMBERDAYA HUTAN. Luh Putu Suciati

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "SUMBERDAYA TERBARUKAN : SUMBERDAYA HUTAN. Luh Putu Suciati"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

SUMBERDAYA

TERBARUKAN :

SUMBERDAYA

HUTAN

(2)

sumber daya hutan

SDA bersifat dapat pulih (renewable resource) dan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan bila

pemanfaatannya memperhatikan keterbatasan kapasitas daya regenerasinya dalam daur hidup tegakan pohon2 dalam hutan yang bersangkutan. Hutan memiliki multiguna yang memiliki nilai lain (non use value) seperti pelindung panas, pemecah angin dan pelindung tanah dari erosi, mengatur tata air, selain sebagai habitat bagi satwa dan hewan lain untuk menjaga keseimbangan ekosistem dan

(3)

Berdasarkan fungsinya digolongkan :

Hutan lindung  krn sifat alamnya diperuntukkan guna pengaturan tata air dan pencegahan bajir dan menahan erosi serta memelihara kesuburan tanah

Hutan produksi diperuntukkan guna keperluan masyarakat pada umumnya dan khususnya untuk keperluan industri ekspor. Dibagi menjadi

Hutan produksi dengan penebangan terbatas 

dapat dieksploitasi dengan tebang pilih

Hutan produksi dengan penebangan bebas

dapat diekploitasi dengan ebang pilih atau tebang habis disertai pembibitan alam atau pembibitan buatan.

Hutan suaka alam perlindungan hayati dibagi menjadi Cagar alam dan Suaka margasatwa

Hutan wisata  kepentingan pariwisata atau perburuan

(4)

LUAS KAWASAN HUTAN JAWA TIMUR Luas Kawasan Hutan (Ha)

Perum Perhutani PKA

HUTAN PRODUKSI HUTAN LINDUNG Suaka Alam+ Hutan Wisata 809.959,7 326.519,7 227.343,9

LUAS KAWASAN HUTAN JAWA TIMUR

59% 24%

17%

HUTAN PRODUKSI HUTAN LINDUNG Hutan Wisata Suaka Alam+

(5)

No K P H PKA Jumlah Produksi Jumlah Suaka Alam+ (8 + 9) Jati Rimba Jumlah (6 + 7) Hutan Wisata

1 2 4 5 6 7 8 9 10 1 Padangan 27.826,2 0,0 27.826,2 4,4 27.830,6 0,0 27.830,6 2 Bojonegoro 49.094,0 0,0 49.094,0 1.051,4 50.145,4 0,0 50.145,4 3 Parengan 17.442,4 0,0 17.442,4 194,7 17.637,1 3,0 17.640,1 4 Jatirogo 18.623,6 0,0 18.623,6 140,1 18.763,7 0,0 18.763,7 5 Tuban 28.202,4 0,0 28.202,4 400,1 28.602,5 4.556,6 33.159,1 6 Ngawi 45.906,9 0,0 45.906,9 5,3 45.912,2 0,0 45.912,2 7 Madiun 26.543,5 3.561,3 30.104,8 1.117,1 31.221,9 0,0 31.221,9 8 Saradan 35.709,9 0,0 35.709,9 2.224,7 37.934,6 0,0 37.934,6 9 Nganjuk 20.010,1 0,0 20.010,1 1.263,0 21.273,1 0,0 21.273,1 10 Jombang 36027,90 0,0 36.027,9 1415,10 37.443,0 2.864,7 40.307,7 11 Mojokerto 23.723,6 7.941,9 31.665,5 252,9 31.918,4 0,0 31.918,4 12 Madura 25.247,4 0,0 25.247,4 21.873,8 47.121,2 366,1 47.487,3 13 Lawu Ds 0,0 25.718,1 25.718,1 26.538,2 52.256,3 218,4 52.474,7 14 Kediri 12.069,8 67.449,5 79.519,3 37.816,4 117.335,7 19,0 117.354,7 15 Blitar 42.191,8 0,0 42.191,8 14.982,1 57.173,9 0,0 57.173,9 16 Malang 22.275,0 23.710,8 45.985,8 44.978,2 90.964,0 28.233,5 119.197,5 17 Pasuruan 6.840,3 13.461,9 20.302,2 11.659,2 31.961,4 21.148,4 53.109,8 18 Probolinggo 20.595,1 31.169,6 51.764,7 33.205,5 84.970,2 33.993,1 118.963,3 19 Jember 15.216,0 15.754,7 30.970,7 42.068,5 73.039,2 45.697,1 118.736,3 20 Bondowoso 17.149,0 23.284,3 40.433,3 48.424,0 88.857,3 3.168,9 92.026,2 21 Bwi.Selatan 39.574,4 0,0 39.574,4 7.636,1 47.210,5 64.605,3 111.815,8 22 Bwi.Utara 52.188,3 0,0 52.188,3 2.011,7 54.200,0 20.750,3 74.950,3 23 Bwi.Barat 0,0 15.450,0 15.450,0 27.257,2 42.707,2 1.719,5 44.426,7 JUMLAH 582.457,6 227.502,0 809.959,7 326.519,7 1.136.479,4 227.343,9 1.363.823,3

LUAS KAWASAN HUTAN JAWA TIMUR Luas Kawasan Hutan (Ha)

Lindung Perum Perhutani

(6)

Jumlah 1 PADANGAN 3.751,70 2.625,80 2.263,50 55,90 8,90 8.705,80 2 BOJONEGORO 518,80 - 952,50 1.537,00 8,00 3.016,30 3 PARENGAN 2.243,45 366,40 341,70 393,75 31,70 3.377,00 4 JATIROGO 450,70 - 735,40 41,90 89,20 1.317,20 5 TUBAN 380,70 1.181,50 934,40 3.826,70 441,90 6.765,20 6 NGAWI 6.946,90 2.948,25 1.996,90 979,65 700,16 13.571,86 7 MADIUN 452,80 428,55 717,72 2,10 21,50 1.622,67 8 SARADAN 1.657,10 214,80 4.669,50 1.253,00 1,20 7.795,60 9 LAWU DS 3.127,95 9,50 650,80 485,80 47,40 4.321,45 10 NGANJUK - - - - - -11 JOMBANG 203,80 2.666,60 2.653,90 262,80 62,40 5.849,50 12 MOJOKERTO 958,10 286,20 540,30 128,00 - 1.912,60 13 KEDIRI 4.393,37 8.599,43 154,00 3.562,32 922,90 17.632,02 14 BLITAR 4.021,10 3.904,30 1.524,30 43,30 1.756,50 11.249,50 15 MALANG 9.100,10 562,80 985,85 - 2.350,40 12.999,15 16 PASURUAN 1.951,00 68,70 40,10 78,10 72,00 2.209,90 17 MADURA 1.080,30 3.675,85 1.354,50 - 749,30 6.859,95 18 PROBOLINGGO 249,40 2.476,41 273,70 159,00 6.139,50 9.298,01 19 JEMBER 2.212,80 - 98,50 61,70 746,60 3.119,60 20 BONDOWOSO 3.410,20 - 449,60 399,10 19,30 4.278,20 21 BWI UTARA 21,70 - 207,00 109,26 299,60 637,56 22 BWI SELATAN 3.638,15 - 17,10 - 1.833,70 5.488,95 23 BWI BARAT 211,83 - 96,80 290,90 190,30 789,83 50.981,95 30.015,09 21.658,07 13.670,28 16.492,46 132.817,85 CATATAN:

Tidak termasuk Hutan Lindung ( HL ) yang rusak

Masih Tdpt

Tegakan Lain-lain

JUMLAH TOTAL

DATA TANAH KOSONG ( JATI + RIMBA ) PERUM PERHUTANI UNIT II

No KPH

Kosong Blong Grumbulan Semak

LUAS TANAH KOSONG ( HA ) Trubusan

(7)

Tipe hutan berdasarkan potensi

pengelolaannya

1. Hutan Pegunungan Campuran (Mixed Hill Forests)

• Jenis hutan ini sangat penting berkenaan dengan hasil

kayunya. Ini meliputi sekitar 65% dari seluruh hutan alam

Indonesia.

• Di Sulawesi, Kalimantan, dan Sumatera hutan ini didominasi oleh suku dipterocarpaceae, jenis kayu terpenting di Indonesia.

• Di Nusa Tenggara, Maluku dan Irian Jaya yang bersifat lebih

kering, jenis-jenis penting adalah

Pometia spp., Palaquium spp., Instia palembanica dan

(8)

Hutan Sub-montana, Montana dan

Pegunungan

• Hutan ini terdapat di daerah daerah Indonesia dengan ketinggian antara 1.300 m sampai 2.500 m di atas permukaan laut di mana spicies Dipterocarpaceae jumlahnya lebih sedikit. • Suku yang dominan adalah Lauraceae dan Fagaceae.

(9)

Savana/Hutan Bambu/Hutan Luruh/Hutan

Musim Pegunungan

• Jenis hutan ini tidak luas wilayahnya.

• Padang rumput savana alami terdapat di Irian Jaya, berasosiasi dengan Eucalyptus spp, di Maluku berasosiasi denga Melauleca dan di Nusa Tenggara berasosiasi dengan

Eucalyptus alba.

• Hutan luruh terdapat pada ketinggian sekitar 100 m, memiliki genera yang tidak ada di hutan hujan seperti Acacia, Albizia dan Eucalyptus.

• Pembakaran berabad-abad telah

menghasilkan spesies dominan tunggal seperti jati (Tectona grandis) di Jawa,

Melauleca leucadendron di Maluku dan Irian Jaya, serta Timonius sericeus, Borassus flabellifer dan Corypha utan di Nusa

Tenggara.

• Hutan jati di Jawa dibangun hampir 100 tahun yang lalu. Hutan musim pegunungan terdapat pada ketinggian di atas 100 m.

(10)

Hutan Rawa Gambut

• Terdapat hanya di daerah-daerah yang iklimnya selalu basah khususnya di Sumatra, Kalimantan, dan Irian Jaya yang mencakup luas 13 Juta ha atau 10 % dari luas seluruh

hutan.

• Spesies yang terpenting adalah Gonystylus

bancanus di Kalimantan dan Camnospermae

(11)

Hutan Air tawar

• Luasnya sekitar 5,6 juta ha, terdapat di pesisir Timur Sumatra, pesisir Barat Kalimantan dan di beberapa wilayah di Irian Jaya.

• Generanya sama dengan hutan hujan bukan rawa. Di Irian Jaya rumpun

pada hutan jenis ini didominasi oleh sagu.

(12)

Hutan mangrove adalah hutan yang

tumbuh di muara sungai, daerah pasang surut atau tepi laut.

mangrove bersifat unik karena merupakan gabungan dari ciri-ciri

tumbuhan yang hidup di darat & laut. Umumnya mangrove mempunyai sistem perakaran yang menonjo yang disebut akar nafas (pneumatofor).

Sistem perakaran ini merupakan suatu cara adaptasi terhadap keadaan tanah yang miskin oksigen atau bahkan

anaerob. Hutan mangrove juga

merupakan habitat bagi beberapa satwa liar yang diantaranya terancam punah, dan tempat persinggahan bagi burung-burung migran.

(13)

Perbedaan pengelolaan SD hutan & SD ikan

• SD hutan kebanyakan tidak bersifat common property resources.  dikuasai oleh pemerintah dan hak

pengelolaan hutan diberikan kepada individu atau

swasta melalui mekanisme perizinan, diperkuat psl 33 ayat 3 UUD 1945.

• Perbedaan lain adalah :

Skala waktu : hutan memiliki skala waktu

pertumbuhan yang sangat panjang, mulai saat ditanam sampai ditebang (bbrp jenis pohon bisa

tumbuh smp 100 tahun, lebih lama dari spesies ikan).

Lahan hutan memiliki nilai pilihan (option value)

apakah akan konservasi atau ditebang u/ budidaya tanaman lain

Harga per unit diharapkan meningkat tergantung

umur pohon dan volume kayu

konflik pemanfaatan, misalnya pemanfaatan hutan

(14)

Perbedaan yg berkaitan dg analisis :

Ikan : basis analisis pengelolaan ikan adalah

pertumbuhan agregat, dimana variabel pertumbuhan seperti kelahiran dan kematian mewakili seluruh

kelompok umur ikan (cohort). Meskipun tiap spesies memiliki siklus hidup yang berbeda, fungsi

pertumbuhan dinyatakan dengan F(x).

Hutan : setiap individu pohon dapat diperlakukan sebagai unit analisis yang berbeda dan

pertumbuhannya bisa dimonitor serta tingkat

kematangannya bisa dicatat dalam periode waktu yang tepat

Prinsip umum pengelolan hutan yang efisien : bagaimana atau kapan waktu yang tepat untuk menebang hutan yang menghasilkan manfaat ekonomi yang tinggi.

(15)

Kegagalan2 dalam sistem

manajemen kehutanan

(1) Kegagalan di bidang kebijaksanaan ekonomi (economic policy failure);

(2) Kegagalan dalam institusi yang tidak atau kurang memperhatikan perlunya perubahan institusi

(institutional changes) kehutanan; dan (3) Kegagalan karena tidak atau kurangnya

memperhatikan peningkatan bidang teknologi dalam pengelolaan hutan, karena belum dikuasai

(16)

Kegagalan menyangkut

teknologi

Kurangnya pengetahuan yang menyangkut informasi

tingkat laju pertumbuhan atau tiap hutan (forest

growth) untuk berbagai jenis kayu yang hidup

berasosiasi bersama dalam hutan tropik dan

pemahaman mengenai kompleksitas dari hutan

hujan tropik; disertai kelemahan dalam perencanaan, pengendalian dan pelaksanaan dari pemanenan

tegakan hutan (Tree harvesting), dan

lemahnya pendekatan penelitian hutan serta

pemanfaatan hasil-hasil penelitian yang sudah dilakukan

(17)

Dasar2 Fungsi Produksi

Biologi Hutan

suatu pohon yang diukur dalam volume kayu (wood

volume)

 Kurva pada gambar 1 menggambarkan hubungan antara volume kayu dan umur pohon, disebut kurva VAC

(volume against age curve). Pada periode awal, volume kayu akan mengalami pertumbuhan yang cepat sampai titik T*, dimana setelah periode tersebut laju

pertumbuhan volume kayu mengalami perlambatan sampai mencapai titik maksimum pada periode Tmax . setelah melewati titik tersebut volume kayu akan

menurun, baik karena faktor alamiah seperti proses pelayuan, penyakit, predasi maupun faktor lain. Kurva VAC dapat direkonstruksi seperti gambar 2 yang mirip kurva pertumbuhan biologi ikan

(18)

gambar 1 hubungan antara volume kayu dan umur pohon, disebut kurva VAC (volume against age curve).

) (T

 Laju pertumbuhan lambat Laju

pertumbuhan cepat VAC

T* Tmax T

Pada periode awal, volume kayu akan mengalami pertumbuhan yang cepat sampai titik T*, dimana setelah periode tersebut laju

pertumbuhan volume kayu mengalami perlambatan sampai mencapai titik maksimum pada periode Tmax . setelah melewati titik tersebut

volume kayu akan menurun, baik karena faktor alamiah seperti proses pelayuan, penyakit, predasi maupun faktor lain. Kurva VAC dapat

direkonstruksi seperti gambar 2 yang mirip kurva pertumbuhan biologi ikan

(19)

t T  ( ) ) (Tmax(T)

gambar 2. Hubungan antara laju pertumbuhan dengan volume kayu

• menampilkan hubungan antara laju pertumbuhan kayu dan volume

kayu itu sendiri, dimana laju

pertumbuhan akan mengalami titik maksimum pada yang identik dengan periode Tmax pada

gambar 1.

 Berdasarkan pedekatan biologis semata, pengelolaan hasil kayu dapat ditentukan dengan cara memperoleh volume kayu yang paling maksimum

Pada ekonomi kehutanan istilah tersebut ekuivalen dengan normal

forest, dimana setiap pohon mengalami siklus hidup yang sama selama

periode rotasi (interval antara periode menebang).

t T

 ( )

= laju pertumbuhan kayu

) (Tmax

(20)

 Waktu tebang menentukan lamanya periode rotasi setiap pohon.

 Konsep normal forest misalnya ada 100 pohon dan rotasinya 100 tahun, setiap tahun satu pohon ditebang, jika periode rotasinya 50 tahun maka tiap tahun 2 pohon yang ditebang dst.

 Pada pendekatan biologi, tujuan pemanfaatan hutan adalah memilih periode rotasi yang akan menghasilkan produksi yang lestari  MSY (Maksimum sustainable yield)

 Gambar 3 menjelaskan kurva MAI (mean annual increament) dalam istilah kehutanan menggambarkan rata-rata volume tahunan. Dari sisi pendekatan biologi semata, pengelolaan hutan berusaha

memaksimumkan MAI. T vol MAI = T T W( ) CAI = t T W   ( ) Tmsy rotasi (T)

Gambar 3. MSY untuk kehutanan

CAI = current annual

increment= pertumbuhan marginal dari volume kayu Rotasi yg memaksimumkan MAI akan diperoleh pada saat produksi marginal = produksi rata2

(21)

Kelemahan Pendekatan

pengelolaan hutan dg MSY

1. Mengabaikan aspek ekonomi sperti harga,

biaya ekstraksi (biaya penebangan)

2. Aspek waktu penebangan

3. Biaya opportunity

(22)

Model Fisher

 Once and for all forest

 Menentukan kapan menebang dan setelahnya tidak dapat digunakan lagi. Masalah yg dihadapi: bagaimana

menentukan waktu menebang yg tepat

 Penebangna yg tepat dilakukan pada saat menghasilkan manfaat yg optimal.

 Model Fisher menyatakan bahwa hutan harus ditebang

pada saat laju pertumbuhan manfaat yang diperoleh sama dengan biaya opportunitas dari aset atau kapital.

 Dalam kerangka waktu yang kontinu, permasalahan yang dihadapi pemilik hutan adalah bagaimana memilih waktu tebang (T) yang tepat yang akan memaksimumkan

(23)

Rp/ha

iso PV

TFI Tmax T

W(T) atau VAC

• menjelaskan rotasi optimum model fisher, yang menggambarkan hubungan antara kurva VAC yang ditandai dengan W(T) dengan

present value. Kurva present value disebut iso PV. Kurva tersebut

berbentuk eksponensial dan meningkat terhadap discount rate. Titik persinggungan pada gambar disebut sebagai rotasi optimal fisher • Model Fisher kemudian disempurnakan oleh Faustmann karena

(24)

Model Faustman

• Model on going forest

• Pengelolaan hutan yg terus menerus

• Ketika hutan ditebang, penanaman dilakukan kembali shg proses tanam dan tebang dapat dilakukan kembali • Penebangan ini sering disebut sequent harvest

T W(T)

Model penebangan berurutan

(25)

TERJADINYA LAHAN KRITIS

•Politik •Ekonomi •Sosial •Hukum •Keamanan •Demografi •Geografis •Internal Prsh •Penjarahan •Pencurian •Perencekan •Penggembalaan •Bibrikan • Bencana Alam •Kebakaran Htn Lahan kritis : •Ekonomis •Hidrologis •Permanen

(26)

AKIBAT LAHAN KRITIS KAWASAN

HUTAN :

Penurunan daya dukung lahan

Penurunan kualitas lingkungan :

Sedimentasi di waduk-waduk strategis

Banjir (situbondo), banjir lumpur (Mojokerto) Kekeringan

Longsor Kesuburan

Penurunan Biodiversitas

Peningkatan biaya sosial dan biaya

lingkungan

(27)

UPAYA

REHABILITASI

LAHAN KRITIS

(28)

1. Community Based Forest Management (CBFM):

Masyarakat merupakan subjek dan objek pengelolaan Sumberdaya hutan. Partisipasi masyarakat dan kemanfaatan

hutan bagi masyarakat menjadi kunci kinerja pengelolaan hutan.

2. Resource Based Forest Management (RBFM):

Pengelolaan hutan ditujukan untuk kemanfaatan ekonomi, sosial, dan lingakungan dari seluruh sumberdaya yang ada dalam kawasan hutan, tidak hanya untuk menghasilkan kayu dan hasil hutan non kayu.

3. Good Corporate Governance (GCG) :

Pengelolaan hutan dan pengelolaan perusahaan harus memenuhi kriteria transparansi, akuntabel, fairness, kewajaran, dan tidak ada Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN).

mewujudkan Pengelolaan Hutan Lestari

(29)

KERANGKA PENGELOLAAN SDH MANFAAT SOSIAL EKSTERNALITAS MANFAAT EKOLOGIS (+) (+) (+) (-) INPUT : SDM BUDAYA TEKNOLOGI  MANAJEMEN STRUKTUR KEPEMIMPINAN STRATEGI KEUANGAN, Dan Lain-Lain SDH sebagai Public Goods. MANFAAT EKONOMIS KESEJAHTERAAN MASYARAKAT

mewujudkan Pengelolaan Hutan Lestari

Intinya: Penciptaan nilai tambah

Gambar

gambar 1 hubungan antara volume kayu dan umur pohon,  disebut kurva VAC (volume against age curve)
gambar 2. Hubungan antara laju pertumbuhan dengan  volume kayu

Referensi

Dokumen terkait