• Tidak ada hasil yang ditemukan

KRISIS IDENTITAS POLITIK KEBANGSAAN PEMB

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KRISIS IDENTITAS POLITIK KEBANGSAAN PEMB"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

! !

KRISIS IDENTITAS POLITIK KEBANGSAAN, PEMBANGUNAN KETAHANAN NASIONAL, DAN ISU RADIKALISME ISLAM

DI INDONESIA

LENI WINARNI

Universitas Sebelas Maret, Surakarta, Indonesia

Paper ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara identitas politik kebangsaan, pembangunan ketahanan nasional dengan isu aktual terkait radikalisme Islam di Indonesia. Meskipun gerakan radikal Islam sebenarnya telah ada sejak pra kemerdekaan, namun pemahaman mengenai radikalisme Islam telah mengalami proses transformasi, sehingga kemunculannya saat ini tidak hanya disebabkan oleh radikalisme pemahaman lokal tetapi juga dikarenakan pengaruh gerakan Islam radikal yang berasal dari luar Indonesia. Begitu pula dengan identitas politik kebangsaan tidak lepas dari transformasi yang dipengaruhi oleh berbagai faktor diluar identitas itu sendiri. Bagaimanapun, krisis identitas politik kebangsaan tidak terjadi begitu saja tetapi ia melalui proses yang bersamaan dengan perjalanan Indonesia sebagai negara yang merdeka.

Afiliasi gerakan radikal Islam dengan menyatakan dukungan terhadap gerakan yang berakar dari luar seperti ISIS, menyebabkan perlunya memperkuat identitas politik kebangsaan sebagai bagian penting dalam membangun keamanan dan ketahanan nasional. Topik diskusi pada paper ini adalah menjelaskan mengapa paham radikalisme Islam tetap eksis di negara sekuler seperti Indonesia? Bagaimana korelasi antara krisis identitas politik kebangsaan dan dampaknya terhadap berkembangnya radikalisme agama? Mengapa gerakan Islam radikal justru lebih tampak eksis di orde reformasi paska berakhirnya rejim orde baru pada tahun 1998?

Bagaimanapun terjadinya krisis identitas politik kebangsaan berpengaruh pada pembangunan ketahanan nasional, sebab lahirnya ide-ide radikal merupakan ancaman bagi pembangunan nasionalisme seutuhnya. Tantangan kedepan sebuah bangsa bukan saja ancaman berupa keutuhan teritorial tetapi ancaman dari upaya-upaya penyebaran radikalisme agama. Isu Radikalisme atas nama agama agaknya akan masih menjadi tantangan bagi identitas politik kebangsaan Indonesia serta upaya-upaya preventif guna mencegah tersebar luasnya pemahaman sempit atas nama agama.

(2)

Pendahuluan

Perjalanan Indonesia menjadi sebuah bangsa merdeka tidaklah mudah

tetapi ia melewati jalan yang panjang dan menciptakan sejarahnya sendiri, seperti bangsa-bangsa lainnya yang baru merdeka paska Perang Dunia II, yang berarti pula berakhirnya era kolonial di negara-negara jajahan. Sebagai negara baru, Indonesia dihadapkan pada sejumlah persoalan tidak hanya berjuang mempertahankan eksistensi dan kedaulatan negara, namun juga berusaha menjaga stabilitas keamanan dalam negeri dari ancaman disintegrasi nasional. Ritme politik yang tidak stabil, keadaan ekonomi yang tidak kondusif, dan gangguan keamanan baik dari luar dan dalam negeri mendeskripsikan Indonesia sebagai negara baru yang rapuh. Persoalan identitas politik kebangsaan kemudian mengemuka diawal kemerdekaan Indonesia dengan menjadikan Pancasila sebagai satu-satuya pandangan hidup dan upaya mempertahankannya hingga saat ini.

Paper ini akan membahas beberapa permasalahan terkait dengan isu krisis identitas politik kebangsaan sebagai dampak dari penyebarluasan paham radikalisme agama dengan menggunakan paradigma identitas kolektif. Analisis mengenai isu ini akan difokuskan pada beberapa hal, pertama,

menjelaskan hubungan antara identitas politik kebangsaan dengan kehidupan toleransi agama dan nasionalisme di Indonesia. Kedua, analisis komparatif dengan menggunakan perspektif historis gerakan radikal di Indonesia sebelum dan sesudah peristiwa peledakan World Trade Center (WTC) 11 September

2001. Penjelasan yang terakhir berkenaan dengan transformasi gerakan radikalisme Islam sebagai bentuk ancaman bagi keutuhan negara. Pembahasan mengenai isu ini juga akan menfokuskan pada perspektif generasi muda Indonesia terhadap radikalisme agama.

Radikalisme, Identitas dan Nasionalisme: Kajian Pustaka

(3)

radikalisme Islam sendiri sering dikaitkan dengan ajaran teologi Islam yang dipopulerkan oleh Muhammad Ibnu Abdul-al Wahhab yang kemudian lebih dikenal dengan Wahhabisme, yang berbasis pada pemahaman Salafi tentang pemurnian Islam kembali. Wahhabisme dan Salafisme adalah dua hal yang berkaitan serta diisukan sebagai basis pemahaman jihad yang digunakan oleh gerakan terroris atau radikal Islam guna menciptakan kembali kekhalifahan Islam (Angel et al.2004). Padahal pemahaman jihad dalam Islam tidak hanya berkutat pada jihad fisik semata seperti peperangan, tetapi pemaknaan jihad mengandung pemaknaan serta perenungan yang dalam dan senantiasa terhubung dengan kepercayaan ummat Islam akan alam akhirat, kehidupan setelah meninggalkan dunia.

Selanjutnya, Tim Krieger dan Daniel Meierrieks dalam papernya yang berjudul What causes terrorism? mengemukakan adanya korelasi antara tingginya populasi, pemerintahan otoriter yang tidak demokrastis dengan sebab-sebab berkembangnya terrorisme. Krieger dan Meierrieks juga

berpendapat bahwa populasi yang tinggi di suatu negara dengan tingkat perekonomian yang maju dan penerapan politik terbuka tetapi dalam banyak aspek negara tersebut tetap tidak stabil, tetap saja negara dengan kondisi demikian merupakan target bagi berkembangnya terrorisme (2011:27). Deskripsi tersebut hampir mendekati dengan kondisi Indonesia. Disatu sisi proses transisi dari rejim otoriter ke demokrasi berjalan dengan dinamis diikuti dengan peningkatan perekonomian yang belum signifkan, sementara disisi lain konflik kepentingan elit politik, korupsi terstruktur, dan keamanan yang kurang kondusif menjadikan Indonesia sebagai target bagi penyebarluasan radikalisme agama sebagai imbas dari berkurangnya rasa nasionalisme dan krisis identitas kebangsaan sebagai bagian dari euforia kebebasan paska rejim otoriter.

Krisis identitas politik kebangsaan dapat dinilai sebagai isu yang mengawali separatisme, konflik etnis-relijius, kerusuhan Mei 1998 hingga bermunculannya fenomena gerakan moral ideologi yang menghendaki negara Islam Indonesia, seperti Majelis Mujahidin Indonesia, Hizbut Tahrir hingga

(4)

Islam (FPI). Bahkan krisis identitas itu terus berlanjut dengan bergabungnya warga negara Indonesia dalam organisasi terrorisme global yang lebih ekstrim seperti ISIS.

Identitas politik atau apapun yang melekat dengannya adalah sesuatu yang dinamis dan selalu bertransformasi. Menurut Alexander Wendt dalam

Social Theory of International Politics, identitas bukanlah bersifat given tetapi merupakan proses transformasi yang terus berlangsung dan dinamis yang dipengaruhi oleh faktor-faktor diluar identitas itu sendiri (1999). Sama halnya dengan identitas politik kebangsaan Indonesia, meskipun Pancasila sebagai lambang negara tidak pernah berubah sejak 1945 tetapi identitas masyarakat tentunya mengalami transformasi yang dipengaruhi oleh faktor internal

maupun faktor eksternal sebagai efek globalisasi. Pertukaran ide, penyebaran paham berbasis online, mengharuskan perlunya penguatan identitas nasional.

Selain itu, pemahaman identitas dapat bersifat bias. Identitas dapat berubah seiring dengan kondisi dan situasi yang dialami oleh pihak tertentu.

Dalam suatu kesempatan, identitas dapat saja diartikan sebagai nasionalisme, agama, gender, atau status sosial. Sedangkan, menurut Marranci (2006), proses identitas pada manusia dapat berfungsi dikarenakan dua hal: pertama, identitas memberikan kesempatan individu untuk mendapatkan pengalaman akan potret diri mereka sendiri;kedua, indentitas memberikan kesempatan setiap individu untuk mengekspresikannya melalui simbol-simbol tertentu. Jika demikian, maka dapat diartikan bahwa representasi individu akan Pancasila adalah ekspressi simbol identitas politik kebangsaan Indonesia. Sedangkan, representasi simbol-simbol gerakan radikal seperti bendera juga dapat diartikan sebagai ekspressi simbol ideologi mereka. Namun, secara tegas harus ada pembedaan antara Islam dan gerakan radikal yang menggunakan simbol-simbol Islam adalah dua hal yang berbeda. Sebab, simbol-simbol-simbol-simbol yang mereka gunakan sama sekali tidak mengekspressikan identitas ummat Islam keseluruhan.

Dalam paper berjudul The Psychological Dynamics of Terrorism yang ditulis oleh Jerrold M. Post (2006), dengan mempertimbangkan aspek

(5)

D

nasionalis-separatis, revolusi sosial, dan fundamentalisme agama-yang kemudian terbagi lagi menjadi terrorisme-plural-dan terroris psikologi-plural. Ia mengatakan bahwa walaupun psikologi memainkan peran yang krusial dalam memahami terrorisme tetapi tetap diperlukan pemahaman yang komprehensif dari pendekatan berbagai displin ilmu, dari politik, budaya, ekonomi, ideologi, dan agama. Terlebih lagi pendekatan keilmuan psikologi individual belumlah cukup untuk menyingkap mengapa seseorang mau terlibat dalam terrorisme, apalagi melakukan suicide terrorism.

Selain itu Post juga menganalisis bagaimana hubungan dinamika sosial antar generasi sebagai alasan keterlibatan mereka dalam terrorisme.

Figur 1. Post: Social and Generational Dynamics (Richardson et al. 2006)

Berdasarkan tabel di atas, Post mendeskripsikan bagaimana hubungan orang tua dengan rejim berkuasa dapat mempengaruhi keterlibatan generasi muda dalam gerakan terrorisme. Jika orang tua memiliki loyalitas terhadap

(6)

dimungkinkan anak akan terlibat dalam gerakan nasionalis-terrorisme separatis. Sebaliknya, jika orang tua loyal terhadap rejim tetapi anak tidak loyal terhadap orang tua mereka, maka kemungkinan anak dapat terlibat dalam revolusi sosial-terrorisme. Justifikasi Post tentang keterlibatan generasi muda dalam gerakan radikal secara psikologi ditentukan oleh bagaimana hubungan mereka dengan para orang tua namun hal ini juga tidak dapat digeneralisir.

Jika Post melihat hubungan antar individual punya peranan yang kuat dalam memotivasi kecenderungan radikal seseorang, maka dengan menggunakan analisis gerakan sosial politik yang dikemukakan Haferkamp dan Smelser (1992), radikalisme adalah fenomena dari gerakan sosial yang lahir pada abad 20. Gerakan sosial politik menyebutkan bahwa eksistensi

mereka merupakan ekspresi anti globalisasi. Selain itu, gerakan sosial politik juga mengakibatkan lahirnya kelompok-kelompok masyarakat yang eksklusif, yang punya kecenderungan ekstrim bila berhadapan dengan kelompok diluar komunitas mereka. Gerakan radikal Islam dapat diasumsikan sebagai fenomena

gerakan sosial politik paska Perang Dingin sebagai bentuk perlawanan hegemoni Barat. Sebab dalam banyak kasus, gerakan radikal Islam melakukan target penyerangan terhadap simbol-simbol Barat.

Beberapa kasus pemboman oleh gerakan radikal Islam di Indonesia juga memperlihatkan kecenderungan simbol-simbol Barat sebagai target, misalnya peristiwa bom Bali, peledakan hotel JW Marriot, peledakan restoran cepat saji McDonald. Tetapi target mereka semakin sporadis dengan menjadikan tempat peribadatan sebagai sasaran, tidak hanya gereja namun juga masjid, misalnya saja peristiwa bom bunuh diri di Masjid Al Dzikro di Komplek Mapolresta Cirebon pada tahun 2011 lalu.

(7)

Metodelogi

1. Jenis Penelitian

Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif dan akan memetakan tentang faktor-faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya krisis identitas yang dikaitkan dengan isu radikalisme dewasa ini. Selain itu akan memetakan bagaimana tingkat pemahaman generasi muda itu sendiri tentang radikalisme agama.

2. Sumber Penelitian

Data diperoleh dari data primer maupun data sekunder. Data primer berasal dari responden yang akan ditetapkan secara purposive dan melalui pengamatan lapangan. Sedangkan, informasi mengenai isu radikalisme dan

krisis identitas politik kebangsaan didapatkan dari para informan terdiri dari para akademisi, praktisi dibidang keagamaan, para rohaniwan, ulama, dan aktivis keagamaan. Data sekunder yang dikumpulkan melalui metode kepustakaan, dengan mengumpulkan data-data dari media massa, buku,

jurnal, dan internet. 3. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan teknik analisa interaktif (interactive model of analysis), berdasarkan Miles dan Hubermen (1994) dalam Punch dengan bukunya yang berjudul “Introduction to Social Research, Quantitative, and Qualitative Approaches” (2005). Teknik ini meliputi tiga komponen, yaitu:

(8)

dipilih mana yang sesuai dengan asumsi dasar bahwa ada kecenderungan mahasiswa pada umumnya untuk mencari kebenaran intelektual yang terkadang justru membuat mereka terjerumus dengan paham atau ideologi radikal (Sarsito, Winarni, dan Yudiningrum 2014)

2. Data display atau data penyajian adalah suatu informasi yang memungkinkan dapat dilakukan, seperti matriks, gambar, grafik, dan lain sebagainya.

3. Conclusion drawing atau penarikan kesimpulan, yaitu metode pengorganisasian atau pengumpulan data berdasarkan klasifikasi yang telah ditentukan sebelumnya sehingga dapat ditarik

kesimpulan

4. Pada awal pengumpulan data, peneliti berupaya memahami pattern atau pola sebab-akibat, konfigurasi-konfigurasi, dan proposisi-proposisi. Peneliti bersifat terbuka dan skeptis, sehingga kesimpulan

yang pada mulanya kurang jelas dapat memiliki landasan yang kuat dan argumentative (Sarsito, Winarni, dan Yudiningrum 2014).

Krisis Identitas Politik: Persimpangan di antara Ideologi

(9)

Kenyataan tentang adanya perekrutan anggota gerakan terroris internasional di Indonesia mengemuka sejak terjadinya bom Bali 2002 hingga saat ini. Integritas nasional dan krisis identitas politik kebangsaan pun dipertanyakan kembali jika melihat kenyataan di lapangan bahwa pemberitaan mengenai warga negara Indonesia yang berperang membela negara lain atas nama jihad bukanlah kebetulan tetapi dilakukan dengan penuh kesadaran, seperti kasus 16 warga negara Indonesia yang diduga bergabung dengan ISIS untuk berperang di Syuriah setelah menghilang di Turki.

Tetapi bila menengok kembali sejarah tentang militansi Islam atau gerakan radikal di Indonesia sebenarnya telah ada sejak era kolonial, ia adalah warisan masa lampau. Pada masa awal pos kolonial, kelompok-kelompok

Islam ekstrim melakukan perlawanan gerilyawan terhadap Belanda dengan memobilisasi para ulama dan santri untuk ikut di medan perang. Di Jawa Barat, politisi Masyumi Sekarmadji Maridjan Kartosuwirjo memimpin kelompok militan Darul Islam, yang kemudian dideklarasikannya menjadi

Tentara Islam Indonesia (TII) dan menolak kewenangan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dibawah Komando Jendral Sudirman, Mietzner (2008:87). Bersamaan itu pula Kartosuwirjo dan kelompoknya bertekad memisahkan diri dari Republik kesatuan Indonesia dan hendak mendirikan negara Islam. Namun, gerakan radikal paska kemerdekaan hendaknya dicermati dengan perspektif yang berbeda. Konstelasi politik dalam negeri dan tingkat global pada masa itu tentu berbeda dengan kondisi dan situasi saat ini. Manipulasi politik sangat kental di era itu, terutama atas ketidaksetujuan gerakan radikal terhadap ketidakjelasan sistem pemerintahan yang mengadopsi demokrasi yang merupakan simbol Barat. Gerakan-gerakan radikal di Indonesia selanjutnya merupakan bentuk protes terhadap sistem pemerintahan baik itu sistem komunis maupun kapitalis karena dinilai tidak sesuai dengan pemahaman Islam yang mereka anut.

Pada masa Orde Baru, Soeharto naik ke tampuk kekuasaan dan meskipun ia seorang Muslim tetapi dalam banyak literatur ia cenderung mempraktekkan aliran kepercayaan Jawa di awal masa pemerintahannya,

(10)

shaman (dukun) yang bernama Kiai Daryatmo, yang menggabungkan Al Qur’an dan aliran kepercayaan Jawa (meditasi dan mistisme, semedi, dan kebatinan) sejak ia anak-anak (Aspinall and Fealy 2010). Tidak mengherankan apabila Soeharto menggabungkan Pancasila dengan nuansa Jawa yang sangat kuat. Selain itu, di era Soeharto pula, partai-partai politik Islam dilebur menjadi Partai Persatuan Pembangunan (PPP), sehingga otomatis menggerus kekuatan Islam di Indonesia, sekaligus mampu menekan kekuatan Islam di akar rumput dan kekuatan militan Islam yang tidak setuju dengan sistem kapitalisme dan sekulerisme yang diusung pemerintah Soeharto. Tetapi disatu sisi, di era Soeharto, kebangkitan nasionalisme melalui program propaganda di media (TVRI), program-program masyarakat hingga pendidikan berjalan

dengan efektif. Meskipun terkesan represif, tetapi identitas politik kebangsaan benar-benar masuk ke dalam sendi kehidupan bangsa dan bernegara.

Ibarat bangunan yang tampak kokoh dari luar, peristiwa 1998 yang bermula dari krisis moneter dengan cepat mampu membalikkan keadaan.

Represif dan kontrol pemerintah pusat ternyata tidak mampu membendung semangat kebebasan masyarakat yang terprovokasi oleh kesulitan ekonomi. Setelah Soeharto mengundurkan diri, stabilitas politik, ekonomi, dan keamanan di Indonesia belumlah membaik. Gerakan separatisme, konflik etnis-agama, dan terrorisme terjadi selama awal Orde Reformasi bergulir.

Peristiwa-peristiwa yang mengawali masa transisi demokrasi sangat menguji keberagaman di Indonesia (Bhinneka Tunggal Ika). Bahkan disebutkan oleh Clifford Geertz, “the call to national unity in the name of a shared ideal seems to be wasting asset”, Farhadian (2005:3). Indonesia adalah negara yang multikultur, multietnis, dan memiliki keberagaman agama, tentu tidaklah mudah untuk mempertahankan kesatuan di tengah keberagaman. Sehingga identitas adalah faktor yang urgen dalam menjaga keutuhan suatu negara dari segala bentuk ancaman disintegrasi termasuk radikalisme agama.

Fenomena radikalisme tidak hanya lahir dalam agama Islam saja tetapi ia ada dalam banyak agama, seperti Hindu, Nasrani, dan Yahudi. Huston Smith, seorang ahli perbandingan agama yang menyebutkan bahwa golongan

(11)

agama Kristem, Hindu dan agama-agama lain dalam sejarah disebabkan ketidaktahuan tentang keyakinan mereka sendiri, Ruth (2010:50).

Hingga satu dekade berlalu paska runtuhnya gedung kembar WTC pada tahun 2001 lalu, isu mengenai radikalisme Islam belum juga mereda. Bahkan fenomena radikalisme dirasa semakin meningkat dengan bermunculannya deklarasi gerakan-gerakan radikal agama terutama di negara-negara benua Asia dan Afrika. Mereka menyebarluaskan paham radikal, terutama pada generasi muda. Mereka tidak hanya direkrut menjadi anggota, tetapi juga disiapkan untuk melakukan aksi suicide terrorism atau bom bunuh diri. Padahal dalam Islam, aksi bunuh diri sangat dilarang kecuali dalam situasi konflik di Palestina yang masih diperdebatkan oleh para ulama hingga saat ini.

Salah satu penyebab anarkisme dan fanatisme sempit adalah terjadinya pergeseran identitas dikarenakan adanya proses transformasi yang dipengaruhi oleh banyak faktor. Proses transisi demokrasi dari rejim otoriter membawa perubahan yang sangat cepat. Memaksa Indonesia melakukan politik terbuka

tetapi diikuti oleh instabilitas keamanan yang bermula dari krisis ekonomi yang mengalami puncaknya pada tahun 1998. Masyarakat beropini bahwa krisis di negara mereka tidak semata-mata disebabkan oleh krisis ekonomi global, melainkan terkikisnya perekonomian nasional yang lebih diakibatkan oleh korupsi, kolusi, dan nepotisme pada jaman Orde Baru. Hal ini memicu ternjadinya krisis kepercayaan terhadap nasionalisme dan ke-Indonesia-an yang diikuti dengan sejumlah kasus konflik etnis-agama serta isu separatisme di berbagai wilayah di Indonesia.

Disamping itu pula, kerusuhan Mei 1998 dan peristiwa yang menyertainya berimbas lebih signifikan terhadap krisis identitas budaya di Indonesia. Sebab pada pertengahan 1990-an dampak globalisasi berperan lebih dari sebelumnya saat. Berakhirnya era Soviet berdampak pada sistem kapitalisme yang menggurita dimana Indonesia ikut serta didalamnya, memungkinkan segala aspek, termasuk budaya menjadi komoditas kapitalis seperti yang diungkapkan oleh Melani Budianta (2010:511).

Globalisasi menyebabkan arus informasi berjalan dengan ritme yang

(12)

dengan mudah didapatkan melalui media internet, termasuk penyebaran paham radikal. Disamping itu pula kondisi diperparah dengan kurangnya pemahaman nasionalisme pada generasi muda dewasa ini dan pemaknaan simbol-simbol negara.

Terkait dengan isu radikalisme, dalam sebuah survei terhadap 150 responden yang berusia di antara 17-24 tahun, menunjukkan bahwa mereka memiliki keterbatasan pengetahuan mengenai istilah radikal. Istilah tersebut antara lain: a)Liberalisme; b)Kapitalisme; c) Radikalisme; d) Wahhabisme; e) Fanatisme; f) Suicide Terrorism; g)Neo-marxis; h)Utopis; i)Fundamentalisme; j)Terrorisme; k)Marxisme.

Figur 2. Jumlah responden yang tidak mengetahui istilah radikalisme lebih dari tiga

Figur 3. Jumlah responden yang tidak mengetahui istilah radikalisme kurang dari tiga

23%!

2%!

16%!

20%! 13%!

10%! 11%!

5%!

26%$

38%$ 9%$

5%$ 6%$

5%$

(13)

Meskipun hasil survei dari responden tersebut tidak dapat mewakili pendapat semua generasi muda tentang radikalisme, setidaknya hal ini memberikan gambaran bahwa ternyata minimnya pengetahuan mereka akan paham radikalisme juga dapat dijadikan salah satu indikator mengapa mereka ingin terlibat dalam gerakan radikal. Namun lebih dari 30 persen responden mengatakan bahwa paham radikalisme perlu dicegah dengan penguatan identitas politik kebangsaan.

Figur 4. Pandangan Responden Mengenai Radikalisme

Perlu dicegah penyebarannya 32%

Tidak baik 27%

Tidak selalu negatif 13%

Identik dengan agama tertentu 8%

Hanya Istilah saja 7 %

Biasa-biasa saja 5 %

Sesat 5%

Tidak memberikan jawaban 4%

Kesimpulan

Tidak dapat dipungkiri bahwa transisi menuju demokrasi dari rejim otoriter telah membawa dampak yang sangat signifikan terhadap kehidupan bernegara bangsa Indonesia. Di satu sisi, perubahan tersebut memberikan dampak yang positif dengan lahirnya perpolitikan yang terbuka sehingga masyarakat dapat berpendapat, berpolitik, dan berekspressi secara bebas tanpa kekhawatiran seperti di masa Orde Baru yang cenderung militeristik.

Tetapi di sisi lain, kehidupan bebas itu juga memberi ruang bagi penyebarluasan paham-paham ekstrimis atas nama agama dengan

membungkusnya dalam hak asasi manusia. Penyebarluasan paham radikal dewasa ini harus dibedakan dengan kondisi radikalisme yang terjadi pada era kolonial maupun pos colonial diawal kemerdekaan Indonesia. Jelas keduanya mengusung dua hal yang berbeda walaupun sama-sama menentang sekuralisme

(14)

radikal lokal, melainkan merupakan bagian dari organisasi terrorisme internasional yang terstruktur secara terorganisir, dari segi perencanaan target, pendanaan, hingga persenjataan yang mereka miliki.

Salah satu upaya untuk membatasi penyebarluasan paham radikal Islam adalah melalui penguatan identitas politik kebangsaan khususnya terhadap generasi muda, yang tentunya merupakan tugas seluruh komponen bangsa. Selain itu faktor kurangnya pengetahuan mengenai paham radikalisme juga menjadi sebab mengapa generasi muda lebih mudah terpengaruh dengan isu-isu semacam ini.

Rekomendasi

Cara memperkuat identitas politik kebangsaan khususnya pada generasi muda adalah melalui pendidikan. Dengan memberikan pengetahuan yang memadai seperti mengadakan workshop, seminar ataupun penyuluhan, penanaman rasa nasionalisme sejak dini, maka akan memperkuat pemahaman generasi muda bahwa merekalah yang akan membangun Indonesia di masa yang akan datang. Selain itu hal-hal yang berkenaan dengan keterbukaan dan menghargai orang lain akan mempersempit ruang gerak radikalisme. Termasuk didalamnya hubungan didalam keluarga, antara para orang tua dan anak-anak mereka.

Daftar Pustaka

Abbas, Tahir.,ed. 2007. Islamic Political Radicalism: A European Perspective. Edinburgh University Press.

Angel, Rabasa., eds. 2004. The Muslim World After 9/11. Santa Monica: CA RAND Cooperation. Diakses tanggal 5 April 2015(www.dtic.mil/get-trdoc/pdf?AD =ADA429 640& Location=U2...)

Aspinall, Edward and Greg Fealy.,eds. 2010. Soeharto’s New Order and its Legacy Essays in honour of Harold Crouch. ANU E Press The Australian National University.

Chen, Kuan-Hsing. 2007.The Inter-Asia Cultural Studies. Routledge.

(15)

Krieger, Tim and Daniel Meierrieks. 2011. “What Causes Terrorism?” Public Choice. 147 (1/2): 3-27.

Lombardi, Marco. 2015. Violent Radicalisation Concern in Euro-Mediterranian Region. Proceedings of NATO Advance Research Workshop on Countering Violent Extremism Among Youth to Prevent Terrorism Milan, Italy. IOS Press BV: 83-100.

Mietzner, Marcus. 2008.Military Politics, Islam and the State in Indonesia

From Turbulent Transition to Democratic Consolidation. Singapore:Institute of Southeast Asian Studies.

Mille, David L. 2013. Introduction to Collective Behavior and Waveland Press, Inc.

Ruth, Dyah Madya. 2010. Memutus Mata Rantai Radikalisme. Lazuardi Birru. Jakarta.

Solo Pos. 2015. Wni Gabung Isis, Antisipasi ISIS, Warga Solo Diawasi Sampai Tingkat RT. Diakses tanggal 6 April (http://www.solopos.com/2015/03/ 27/wni-gabung-isis-antisi pasi-isis-warga-solo-diawasi-sampai-tingkat-rt-588921)

Solo Pos. 5 Warga Sukoharjo Diduga Terlibat ISIS. Diakses tanggal 6 April

2015(http://www.solopos.com/2014/08/07/isis-di-solo-5-warga-sukoharjo-di duga-terlibat-isis-524438)

Suara NTB. 2015. Antisipasi Gerakan Radikal. Diakses tanggal 7 April 2015 (http://suarantb.co.id/20150410/antisipasi-gerakan-radikal.html)

Surahman, Susilo dan Retno Pangastuti. 2015. “Kekerasan dengan Praktik Integrasinya dalam Perspektif Radikalisme Agama.” Jurnal Penelitian Agama dan Humaniora. 3(2): 55-74.

Tan, Andrew T.H., ed. 2007. A Handbook of Terrorism and Insurgency in Southeast Asia. Edward Elgar Publisher.

Tempo Interaktif. 2011. Polisi Pastikan Syarif Pelaku Bom Bunuh Diri Cirebon. Diakses tanggal 5 April 2015 (http://www.tempo.coread/news/ 2011/0418/ 063328324/Polisi-Pastikan-Syarif-Pelaku-Bom-Bunuh-Diri-Cirebonan M Syarif sebagai tersangka pelaku bom bunuh diri.)

(16)

Waspada Gerakan Radikalisme. Diakses tanggal 7 April 2015 2015. (http://sukoharjokab.go.id/2015/03/09/waspada-gerakan-radikalisme/)

Winarni, Leni, Totok Sarsito, dan Firdastin Ruthnia Yudiningrum. 2014.

Mencegah Berkembangnya Ideologi Radikal di Kalangan Mahasiswa

UNS. Hasil Penelitian LPPM UNS. Surakarta.

Referensi

Dokumen terkait