• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEHADIRAN NEMATODA PADA TEGAKAN Gmelina arborea ROXB DI AREAL POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA SITI AMINAH NIM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KEHADIRAN NEMATODA PADA TEGAKAN Gmelina arborea ROXB DI AREAL POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA SITI AMINAH NIM"

Copied!
46
0
0

Teks penuh

(1)

KEHADIRAN NEMATODA PADA TEGAKAN

Gmelina arborea ROXB DI AREAL

POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA

Oleh :

SITI AMINAH

NIM. 070500029

PROGRAM STUDI MANAJEMEN HUTAN

JURUSAN PENGELOLAAN HUTAN

POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA

SAMARINDA

(2)

KEHADIRAN NEMATODA PADA TEGAKAN

Gmelina arborea ROXB DI AREAL

POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA

Oleh :

SITI AMINAH

NIM. 070500029

Karya Ilmiah Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Sebutan Ahli Madya

Pada Program Diploma III Politeknik Pertanian Negeri Samarinda

PROGRAM STUDI MANAJEMEN HUTAN

JURUSAN PENGELOLAAN HUTAN

POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA

SAMARINDA

(3)

HALAMAN PENGESAHAN

Judul Karya Ilmiah : KEHADIRAN NEMATODA PADA

TEGAKAN Gmelina arborea ROXB DI

AREAL POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA

Nama : Siti Aminah

NIM : 070500029

Program Studi : Manajemen Hutan

Jurusan : Pengelolaan Hutan

Menyetujui,

Pembimbing, Penguji I,

Dyah Widyasasi, S.Hut, MP Ir. Emi Malaysia, MP

NIP. 19710103 199703 2 001 NIP. 19650101 199203 2 002

Penguji II,

Dwinita Aquastini, S.Hut, MP NIP. 19700214 199703 2 002

Mengesahkan Direktur,

Politeknik Pertanian Negeri Samarinda

Ir. Wartomo, MP NIP. 19631028 198803 1 003

(4)

ABSTRAK

SITI AMINAH. Kehadiran Nematoda Pada Tegakan Gmelina arborea ROXB di Areal Politeknik Pertanian Negeri Samarinda (dibawah bimbingan Dyah Widyasasi).

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tipe-tipe dan jenis-jenis nematoda

yang terdapat pada tegakan Gmelina arborea ROXB. Hasil penelitian ini

diharapkan dapat memberikan informasi tentang jenis-jenis dan tipe-tipe nematoda yang terdapat pada tegakan G. arborea, sehingga dapat dilakukan usaha pengendalian nematoda yang efisien dan optimal.

Pene litian dilaksanakan di areal jurusan Pengelolaan Hutan dan Laboratorium Konservasi Politeknik Pertanian Negeri Samarinda selama 3 bulan mulai bulan Juni 2010 sampai bulan Agustus 2010. Metode yang digunakan untuk meneliti nematoda ini adalah metode Bearme n untuk memperoleh larutan ekstrak tanah dan akar dari G. arborea.

Hasil- hasil dari penelitian ini adalah dapat diketahui bahwa pada pohon G. arborea ditemukan 5 (jenis) jenis nematoda, yaitu Nematoda A, Nematoda B, Pratylenchus sp., Nematoda C, dan Heterodera sp. Dari kelima jenis nematoda yang ditemukan, diketahui bahwa 2 jenis nematoda dapat diidentifikasi, yaitu Heterodera sp. dan Pratylenchus sp. sedangkan jenis nematoda tidak dapat diidentifikasi, yaitu Nematoda A, Nema toda B dan Nematoda C. Nematoda yang

ditemukan pada G. arborea, sebanyak 4 jenis nematoda, yaitu Nematoda A,

Pratylenchus sp., Nematoda C, dan Heterodera sp. ditemukan pada tanah dan pada akar sedangkan 1 jenis nematoda, yaitu Nematoda B hanya ditemukan pada akar. Tipe-tipe nematoda yang ditemukan adalah nematoda endoparasit, yaitu Pratylenchus sp. dan Heterodera sp. Sedangkan tiga jenis nematoda yaitu Nematoda A, Nematoda B dan Nematoda C belum dapat digolongkan ke dalam tipe endoparasit dan ektoparasit karena belum teridentifikasi.

(5)

RIWAYAT HIDUP

Siti Aminah lahir pada tanggal 20 Juli 1988 di Samarinda, merupakan anak pertama dari dua bersaudara dari pasangan Bapak Bambang Hartono dan Ibu Sunartiyani.

Tahun 1994 memulai masuk pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah Al-Mujahidin Samarinda dan lulus tahun 2000. Pada tahun 2000 melanjutkan ke Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) Negeri 10 Samarinda dan memperoleh ijazah pada tahun 2003. Pada tahun 2003 melanjutkan ke Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 8 Samarinda dan lulus pada tahun 2006. Pendidikan tinggi dimulai pada tahun 2007 di Politeknik Pertanian Negeri Samarinda Jurusan Pengelolaan Hutan Program Studi Manajeman Hutan.

Pada tanggal 10 Maret sampai dengan 10 Mei 2010 melaksanakan Praktek Kerja Lapang (PKL) di PT. Ratah Timber, Camp Mamahak Teboq, Kecamatan Long Hubung Kabupaten Kutai Barat Propinsi Kalimantan Timur.

(6)

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat ALLAH SWT, atas berkat dan rahmat-Nya maka penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah ini tepat pada waktunya.

Karya ilmiah ini disusun berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan selama 3 bulan berlokasi di areal Politeknik Pertanian Negeri Samarinda, sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan tugas akhir di Politeknik Pertania n Negeri Samarinda dan mendapat sebutan Ahli Madya.

Tak lupa dalam penyusunan laporan karya ilmiah ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Kedua orang tua beserta adik tercinta.

2. Ibu Dyah Widyasasi, S.Hut, MP, selaku Dosen Pembimbing yang

telah banyak mengarahkan penulis dalam penyusunan karya ilmiah.

3. Ibu Ir. Emi Malaysia, MP dan Ibu Dwinita Aquastini, S.Hut, MP

selaku dosen penguji yang telah banyak memberikan masukan-masukan yang berharga.

4. Ibu Fatimah dan Ibu Asma Wati, yang telah banyak membantu

penulis.

5. Bapak ibu dosen beserta staf pengajar Politeknik Pertanian Negeri

Samarinda.

6. Saudara-saudari penulis, Dwi Sukma Hadiyati, Fatimah, Maya

Marinda, Nur Indra Dinata, Al Hamidi, Alfiansyah, Agus Nur Zaman, yang sudah mendukung penulis dengan sepenuh hati.

7. Rekan mahasiswa Politeknik Pertanian Negeri Samarinda khususnya

angkatan 2007 serta semua pihak yang telah membantu hingga selesainya penyusunan karya ilmiah ini yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan Karya Ilmiah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran dari

(7)

pembaca yang bersifat menyempurnakan laporan ini. Semoga apa yang tertulis dalam karya ilmiah ini dapat bermanfaat bagi mereka yang memerlukannya.

Penulis

Kampus Sei Keledang, 20 Agustus 2010

(8)

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR... i

DAFTAR ISI ... iii

DAFTAR TABEL ... iv

DAFTAR GAMBAR ... v

I. PENDAHULUAN ... 1

II. TINJAUAN PUSTAKA A.Penyakit Hutan... 3

B.Nematoda ... 5

C.Risalah Jenis Gmelina arborea ROXB ... 15

III. METODE PENELITIAN A.Tempat dan waktu... 19

B.Alat dan bahan ... 19

C.Prosedur Kerja ... 21

D.Pengolahan Data ... 23

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A.Hasil ... 24

B.Pembahasan ... 29

V. KESIMPULAN DAN SARAN A.Kesimpulan ... 31

B.Saran ... 32

DAFTAR PUSTAKA ... 33

(9)

DAFTAR TABEL

Nomor Halaman

Tubuh Utama

1. Tally Sheet Pengamatan Nematoda……...……….. 20

2. Jenis-jenis Nematoda yang Ditemukan pada Pohon Gmelina arborea ROXB di Areal Jurusan Politeknik Pertanian Negeri Samarinda…… 22

Lampiran 3. Data Keliling dan Tinggi Tegakan Gmelina……… 33

DAFTAR GAMBAR Nomor Halaman Tubuh Utama 4. Nematoda Pratylenchus sp. (pembesaran 400 x)…………...…… 23

5. Nematoda Heterodera sp. (pembesaran 400 x)…………... 25

6. Nematoda A (perbesaran 400 x)….………..….. 26

7. Nematoda B (perbesaran 400 x)……..………... 27

8. Nematoda C (perbesaran 400x)……….. 27

Lampiran 9. Pengambilan Contoh Tanah pada Tegakan Gmelina………. 35

10.Sampel Tanah dan Akar Gmelina yang Telah Diambil…………. 35

11.Proses Penjenuhan Tanah………... 36

12.Penyaringan Tanah………. 36

13. Pemanasan Selama 24 jam………. 37

14. Pengendapan Tanah dan Akar……… 37

(10)

I. PENDAHULUAN

Gmelina arborea ROXB merupakan salah satu tanaman fast growing yang memiliki nilai ekonomis cukup tinggi. Pada umumnya kayu ini dikenal sebagai penghasil energi, karena menghasilkan arang yang berkualitas baik dan kurang asap serta mudah terbakar. Selain itu digunakan untuk pembuatan papan partikel, korek api, kayu lapis, peti kemas dan bahan kerajinan kayu (Rudyansyah, 2000). Lain dari itu dinyatakan oleh Bratawinata (1987) bahwa kayu G. arborea ini digolongkan ke dalam kelas awet menengah, kadar air kayu 12 - 15% dengan berat jenis 0,4.

Dengan berbagai kelebihan yang dimiliki oleh jenis G. arborea ini, maka pembudidayaan jenis ini sangat disarankan, ditunjang pula oleh kebijakan pemerintah saat ini dimana hutan kemasyarakatan sedang digalakkan. Kebijakan pemerintah ini yang sangat berperan adalah masyarakat karena mereka menanam pada lahan- lahan yang mereka miliki.

Dalam membudidayakan G. arborea banyak hal harus dipahami, terutama

dalam pengendalian hama dan penyakit. Pengendalian hama dan penyakit sangat diperlukan untuk dapat menghasilkan kayu yang berkualitas baik. Salah satu penyakit yang menyerang tanaman adalah nematoda. Serangan nematoda dapat mengakibatkan tanaman kerdil, rusaknya tajuk, puru akar, dll.

Sebagaimana telah diketahui bahwa nematoda merupakan salah satu penyebab biotik dari penyakit hutan. Sebelum melakukan pengendalian maka

(11)

harus diidentifikasi dahulu tipe nematoda apa yang terdapat pada tegakan, sehingga akan dapat dilakukan pengendalian dengan efisien dan optimal.

Dengan melakukan pengendalian yang efisien dan optimal, maka akan dapat

menghindarkan G. arborea dari kerusakan dan hasil kayu yang didapat akan

maksimal dari segi kualitas.

Tujuan penelitian ini dilakukan adalah untuk mengetahui tipe-tipe dan jenis-jenis nematoda yang terdapat pada tegakan G. arborea.

Hasil yang diharapkan dari penelitian ini adalah dengan mengetahui tipe-tipe

dan jenis-jenis nematoda yang terdapat pada tegakan G. arborea maka bisa

dilakukan usaha pengendalian yang efisien dan optimal terhadap serangan nematoda.

(12)

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Penyakit hutan

Menurut Fatah (2009), penyakit tanaman adalah suatu perubahan atau

penyimpangan dalam satu atau lebih bagian dari rangkaian proses fisiologis penggunaan energi yang mengakibatkan hilangnya koordinasi didalam tanaman inang. Termasuk di dalamnya gangguan dan kemunduran aktivitas yang biasanya ditunjukan oleh perubahan morfologis tanaman inang yang disebut gejala.

Ilmu penyakit hutan adalah ilmu yang mempelajari tentang hal – hal yang menyebabkan:

1. Hal-hal yang menyebabkan pohon hutan jadi sakit (biotik dan kondisi

lingkungan).

2. Mekanisme faktor- faktor tersebut sehingga menyebabkan penyakit.

3. Interaksi antara inang dan pathogen atau penyebab lain (faktor fisik atau

lingkungan).

4. Metode pengendalian atau pencegahan dan pengurangan kerugian akibat

penyakit.

Berdasarkan penyebabnya, penyakit di bagi menjadi dua faktor yaitu :

1. Penyakit biotik terdiri dari komponen inang, patogen (penyebab penyakit),

dan lingkungan.

(13)

Selanjutnya Fatah (2009) juga menyatakan bahwa serangan penyebab penyakit dapat mengganggu fungsi fisiologis, diantaranya dalam proses :

1. Pembentukan cadangan bahan dalam bentuk biji, akar dan tunas.

2. Pertumbuhan juvenil baik pada semai pada perkembangan tunas.

3. Perpanjangan akar dalam usaha untuk mendapatkan air dan mineral.

4. Transportasi air. 5. Fotosintesis dan

6. Translokasi fotosintat oleh sel.

Indikasi penyakit secara garis besar dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu : 1. Gejala, ialah kelainan atau penyimpangan penyakit dari keadaan normal yang

ditujukan oleh tanaman itu sendiri sebagai reaksi dari adanya patogen. 2. Tanda (sign), yaitu indikasi patogen misalnya: tubuh buah, hifa dan spora.

Menurut letak gejalanya, penyakit juga dapat dibagi menjadi dua yaitu :

1. Gejala lokal adalah gejala gejala yang timbul hanya terbatas pada

bagian-bagian tertentu pohon yang terserang, misalnya penyakit pada daun , batang, buah, dan akar.

2. Gejala sistemik adalah gejala yang timbul karena penyebab penyakit

menyerang seluruh bagian tanaman.

Dilihat dari posisi patogennya, gejala penyakit dapat dibedakan menjadi dua yaitu:

1. Gejala primer, jika patogennya berada langsung pada bagian tanaman yang

(14)

2. Gejala sekunder, apabila patogennya tidak berada langsung pada bagian tanaman yang bergejala.

B. Nematoda

Menurut Fitri (2009), nematoda berasal dari bahasa Yunani yang berarti

benang, berbentuk memanjang seperti tabung, kadang-kadang seperti kumparan yang dapat bergerak seperti ular. Nematoda ini ada yang hidup bebas dan ada yang sebagai parasit.

Kebanyakan nematoda parasitik tanaman adalah kecil berbentuk cacing dengan panjang kira – kira 1 mm sampai 10 mm, yang jantan tumbuh dengan panjang kira – kira 2-3 mm dan lebar 0,3 mm yang memperlihatkan garis – garis melintang yang tegas pada tubuhnya, yang mirip seperti cacing gelang biasa. Nematoda yang betina mirip dengan buah pear, atau berbentuk tetes – tetes yang mempunyai ukuran lebih kecil, tetapi lebarnya sampai 0,75 mm. Siklus hidup nematoda parasit tumbuhan itu hampir sama. Telur – telur menetas dan keluarlah larva, yang bentuk dan strukturnya biasanya sama dengan nematoda biasa.

Nematoda bertelur (300-600 per ekor betina) di dalam jaringan tanaman yang terserang. Larvanya tumbuh dari telur yang sering masuk kedalam tanah dan dapat bergerak aktif serta dapat masuk ke dalam akar-akar yang tidak rusak

(Djafarudin, 1995 dalam Rudyansyah, 2000).

Semua nematoda parasit tumbuhan mempunyai struktur khusus yang disebut spear (lembing) atau stylet (jarum). Spear mirip dengan tabung yang berlubang, terletak di ujung kepala nematoda dan digunakan untuk makan. Stylet mempunyai ujung yang sangat runcing dan digunakan untuk melekat pada

(15)

jaringan tanaman (Sumardi dan Wi dyastuti, 2004 dalam Widyasasi, dkk, 2007).

Lain daripada itu dinyatakan bahwa, nematoda ektoparasit adalah nematoda yang pada saat memarasit tanaman tubuhnya tetap berada di luar akar dan hanya sebagian kecil dari tubuh nematoda yang masuk ke dalam jaringan tubuh inang. Sedangkan nematoda endoparasit adalah nematoda yang disaat memarasit tanaman, tubuhnya masuk, merusak dan melakukan reproduksi di dalam akar tanaman.

1. Tipe -tipe Nematoda

Mardji (1992), membagi nematoda atas empat kelompok, yaitu:

a. Nematoda saprofit, dicirikan dengan ukurannya yang kecil dengan lubang mulut untuk memakan bahan-bahan organik dan menelannya kedalam perut.

b. Nematoda parasit pada binatang besar, dicirikan dengan ukurannya yang

bervariasi, mulutnya mempunyai alat penghisap (stylet) untuk menghisap cairan sel didalam tubuh binatang

c. Nematoda predator pada binatang-binatang kecil, yang tidak bertulang

belakang yang berada didalam tanah, mempunyai mulut bergerigi dan alat penghisap.

d. Nematoda parasit pada tumbuhan, panjangnya antara 0,5-2,5 mm,

(16)

Sedangkan menurut cara makannya, nematoda terbagi atas dua kelompok:

a. Nematoda ektoparasit, yaitu nematoda yang melukai dinding sel,

menghisap makanan atau cairan sel dengan styletnya dan hidupnya berpindah-pindah setelah melukai dinding sel dan menghisapnya.

b. Nematoda endoparasit, yaitu nematoda yang tetap tinggal didalam bagian tumbuhan tempat pertama kali masuk.

2. Morfologi Nematoda

Menurut Subagiya (2009), ciri – ciri morfologi ne matoda adalah: a. Tubuhnya tidak bersegmen.

b. Bentuknya silindris memanjang, kecuali pada beberapa genera yang

berjenis kelamin betina. c. Simetris bilateral.

d. Merupakan binatang yang mempunyai tiga lapisan (triploblastik) atau

terdiri dari tiga lapis blastula (lapisan ini terbentuk dan berkembang di dalam telur).

e. Mempunyai rongga tubuh semu.

f. Tubuhnya transparan (dan tidak berwarna).

g. Memiliki sistem organ tubuh lengkap, yang berupa sistem pencernaan

(memanjang dengan bentuk esofagus yang bervariasi) sistem ekskresi, sistem syaraf, sistem pengeluaran, dan sistem reproduksi. Tidak memiliki sistem peredaran darah.

(17)

3. Cara nematoda menyerang tumbuhan.

Menurut Mardji (1995) dalam Widyasasi, dkk (2007):

a. Stylet digunakan untuk menusuk dinding sel tumbuhan, cairan ludahnya disemprotkan kedalam sel dan cairan sel diisap masuk kedalam stylet dan masuk kedalam perutnya.

b. Nematoda biasanya menyerang akar dan umbi- umbian, sehingga

tumbuhan dapat terganggu pertumbuhannya. Nematoda menyebabkan luka-luka pada kulit akar dan umbi- umbian, dimana luka- luka itu menjadi tempat masuknya jamur dan bakteri.

c. Nematoda sebagai vektor virus. Penyakit noda cincin (ringspot) pada daun

disebabkan oleh virus yang ditularkan melalui nematode Xiphinema

americanum.

d. Nematoda juga sebagai parasit jamur mikoriza, sehingga tumbuhan bisa

merana karena jamur yang bersimbiosis dengannya dimakan nematoda. Contoh: Hoplolaimus galeutus.

Menurut Subagiya (2009), gejala serangan nematoda terbagi atas dua

kelompok:

a. Gejala serangan di atas permukaan tanah:

1) Pertumbuhan tidak normal yang diakibatkan oleh luka pada tunas, titik tumbuh dan primordial bunga.

a) Tunas mati.

Kadang-kadang serangan nematoda menyebabkan matinya tunas atau titik tumbuh tanaman, sehingga tanaman tidak dapat

(18)

hidup. Contoh kasus ini terjadi pada tanaman strawberry yang terserang Aphelenchoides.

b) Batang dan daun mengkerut

Serangan nematoda pada titik tumbuh tanaman, kadang-kadang tidak sampai menyebabkan tanaman mati dan masih memungkinkan batang, daun, atau stuktur lain dapat berkembang. Perkembangan organ-organ tersebut tidak sempurna sehingga menyebabkan terjadinya pengerutan atau pemuntiran. Contoh tanaman gandum terserang larva Anguina tritici pada daerah titik tumbuhnya.

c) Puru biji

Biji tanaman rumputan atau biji-bijian yang terserang Anguina tritici. Setelah bunga terbentuk, nematoda yang telah tumbuh sempurna mulai masuk dan menyerang pada bagian ini sampai nematoda dewasa. Di tempat inilah nematoda berkembang biak. Akibatnya primordial bunga akan membentuk puru yang di dalamnya berisi sejumlah besar larva nematoda, nematoda ini mampu hidup pada waktu yang cukup lama.

2) Pertumbuhan tidak normal sebagai akibat terjadinya luka pada bagian dalam batang dan daun.

a) Nekrosis

Nekrosis adalah gejala kerusakan berupa kematian sel-sel jaringan tanaman. Kematian jaringan tanaman biasanya di dahului

(19)

dengan adanya perubahan warna dari hijau ke kuning kemudian menjadi coklat atau kemerah- meraha n akibat serangan pathogen. b) Becak dan luka daun.

Nematoda yang menyerang daun, kadang-kadang makan dan merusak parenkim. Nematoda tersebut masuk melalui stomata.

Contoh: Aphelenchoides ritzmabosi yang menyerang daun

Chrysantemum.

c) Puru pada daun

Anguina balsamophila dan Anguina millefolli menyebabkan terjadinya puru pada daun yang terserang nematoda ini.

b. Gejala serangan di bawah permukaan tanah. 1) Puru akar

Gejala ini tampak apabila suatu tanaman terserang nematoda puru akar. Contoh nematoda yang menyebabkan puru akar yaitu Ditylenchus radicicola. Nematoda tersebut membentuk puru pada akar tanaman oat, barley dan jenis rerumputan lain.

2) Busuk

Nematoda yang masuk pada tanaman menyebabkan luka. Terjadinya luka ini mula- mula disebabkan oleh cucukan nematoda, namun kerusakan yang lebih berat yang terjadi selanjutnya mungkin diakibatkan oleh serangan organisme lain yang masuk sebagai hama sekunder. Contoh : gejala busuk oleh Ditylenchus destructor pada umbi kentang.

(20)

3) Nekrosis pada permukaan

Nematoda yang makan akar tanaman dari luar, mungkin akan menyebabkan matinya sel-sel yang terdapat di permukaan jaringan. Keadaan ini selanjutnya akan mengakibatkan terjadinya perubahan warna pada bagian tersebut. Apabila populasi nematoda yang menyerang tinggi dapat menyebabkan matinya sel-sel epidermis, sehingga akar-akar yang masih muda akan berubah warnanya menjadi kekuningan sampai kecoklatan.

4) Luka

Gejala ini terjadi apabila cucukan nematoda menyebabkan terjadinya luka yang berukuran kecil sampai sedang. Contoh : Radopholus similis pada akar pisang.

5) Percabangan akar yang berlebihan (excessive root branching)

Adanya serangan nematoda dapat memicu terbentuknya akar-akar kecil di sekitar ujung akar. Contoh : serangan Trichodorus sp.

6) Luka atau kematian ujung akar

Setelah nematoda makan pada akar, mengakibatkan ujungnya akan terhenti pertumbuhannya, demikian pula terhentinya pertumbuhan cabang-cabang akar, sehingga akan timbul gejala:

a) Stubby root, yaitu cabang-cabang akar yang berukuran kecil akan

(21)

b) Coarse root, yaitu apabila pertumbuhan akar yang menyamping terhenti, beberapa diantaranya berukuran pendek, sistem perakaran utama lebih besar dan tidak banyak dijumpai akar-akar yang kecil. c) Curly tip, yaitu luka ya ng terjadi pada sisi akar dekat ujung, yang

mungkin akan menghambat pertumbuhan dan pemanjangan akar pada bagian sisi tersebut dan akibatnya akar akan memuntir.

4. Pengendalian Nematoda

Menurut Subagiya (2009), ada beberapa teknik pengendalian nematoda,

yaitu:

a. Teknik bercocok tanam

1) Pengolahan Tanah

a) Membalik tanah pada kedalaman 30 cm. Dengan demikian tanah di bagian bawah terangkat ke atas sehingga nematoda akan mati di daerah permukaan.

b) Partikel tanah terpecah menjadi kecil sehingga nematoda yang ada dala m bongkahan tanah, kemungkinannya akan terlepas dan terkena sinar matahari langsung.

2) Rotasi tanaman

Pada prinsipnya rotasi tanaman adalah mengganti tanaman dengan jenis lain yang bukan merupakan inang nematoda, sebagai

contoh untuk mengendalikan Hirchmaniella tanaman padi dapat

(22)

3) Pemupukan bahan organik

Pengendalian ini bertujuan memperbaiki struktur tanah sehingga tanaman menjadi tumbuh subur. Tanaman yang sehat dan kuat lebih tahan terhadap serangan hama dan penyakit. Pupuk organik terutama pupuk kandang/kompos banyak berkembang mikroorganisme yang dapat berperan sebagai musuh alami nematoda.

4) Penggenangan

Pada umumnya nematoda membutuhkan oksigen untuk melangsungkan hidupnya. Penggenangan dapat menyebabkan berkurangnya kadar oksigen di dalam tanah, karena kedudukannya

didesak oleh air. Berkurangnya kandungan O2 di dalam tanah

menyebabkan nematoda sukar hidup atau bahkan dapat mati. b. Menggunakan panas dari uap air dan air panas (fisik)

Pada dasarnya nematoda parasit dapat mati pada suhu 45 oC. Sterilisasi tanah dapat dilakukan dengan cara pemberian uap panas yang dialirkan melalui pipa-pipa. Cara ini dilakukan pada tanah sebelum disebari biji/benih. Pencelupan bahan tanaman ke dalam air panas ditujukan pada nematoda endoparasit yang menyerang akar atau pada biji padi sebelum ditebar, suhu yang digunakan antara 50 - 55oC, selama ± 15 menit.

(23)

c. Dengan menggunakan moulching

Menutup permukaan tanah dengan mulching menyebabkan terjadinya peningkatan suhu di bawah mulching, yang mungkin tidak cocok bagi kehidupan nematoda. Penutupan tanah dapat pula mencegah masuknya nematoda ke bedengan tempat tanaman dibudidayakan.

d. Menggunakan tanaman perangkap

Tanaman yang digunakan adalah tanaman yang sangat peka. Untuk mengendalikan Heterodera pada kentang dapat dilakukan dengan dengan tanaman perangkap tomat. Pencabutan tanaman tomat dilakukan setelah tanaman berumur 1,5 bulan kemudian dibakar, pada saat dicabut diharapkan nematoda belum menghasilkan telur dan bila telah menghasilkan telur, telur nematoda belum masak.

e. Pengendalian hayati

Dengan memanfaatkan agens hayati yang dikenal untuk mengendalikan nematoda, misal berupa cendawan, bakteri atau predator. Predator nematoda biasanya dari kelompok Dorylaimidea, Monchidea, dan Diplogasteroidea.

f. Fumigasi tanah

Dengan fumigasi baik dilakukan pada tanah tempat menanam tanaman atau bahan yang akan dikonsumsi/ dibuat benih. Dengan nematisida pada tanaman yang terserang nematoda. Sebaiknya digunakan nematisida yang bersifat sistemik.

(24)

g. Karantina

Merupakan upaya pencegahan masuknya jenis nematoda dari negara lain ke Indonesia, dilakukan oleh Dinas Karantina. Setiap bahan/ tanaman /bagian tanaman yang masuk ke Indonesia harus diperiksa mengenai kesehatannya. Kalau didapati serangan maka dapat dilakukan proses kimiawi ataupun fisis sehingga tanaman tersebut bebas dari jenis nematoda yang menyerang.

C. Risalah Jenis Gmelina arborea ROXB 1. Ciri – ciri botani

Gmelina arborea ROXB termasuk jenis pohon menggugurkan daun, juga termasuk jenis pionir sekunder, pada masa dewasa mencapai tinggi 20-30 m

dengan diameter bisa mencapai 60-80 cm (Whitmore, 1975 dikutip oleh

Bratawinata, 1987). Warna kulit pohon pada waktu muda umumnya coklat kehijau-hijauan. Pada umur 5-8 tahun, warna batang keabu-abuan dengan kulit retak-retak. bentuk batang meruncing, bentuk daun agak lebar dan berbentukoval, pinggir daun bergerigi. Bentuk daun agak lebar dan berbentuk oval, pinggir daun bergerigi. Bentuk buah bulat dengan ukuran diameter 0,5-2 cm, tiap buah berisi 2-3 biji (Bratawinata, 1987).

2. Penyebaran

G. arborea adalah tumbuhan yang termasuk dalam famili Verbenaceae dan merupakan jenis yang cepat tumbuh. Di Negara lain jenis ini dikenal dengan nama Yemane (Myanmar), Gambar (India), Ganar (Bangladesh). Secara alamiah jenis ini dijumpai di hutan India, Bangladesh, Srilanka, Myanmar, Asia tenggara

(25)

dan dataran tinggi Cina bagian selatan. G. arborea mempunyai kecepatan tumbuh yang tinggi pada tanah subur serta mempunyai rotasi pendek sekitar 6-10 tahun

(Bratawinata, 1987). 3. Tempat tumbuh

G. arborea tumbuh didaratan rendah pada ketinggian antara 0-1000 diatas permukaan laut, sedangkan pertumbuhan terbaik adalah pada ketinggian 0-800 di atas permukaan laut. Untuk mendapatkan pertumbuhan yang baik, jenis ini membutuhkan tanah subur, drainase baik, tidak tergenang air dengan pH tanah masam sampai netral dan solum yang asam serta lembab. Tidak cocok pada tanah berpasir yang kering dan tanah gambut yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Begitu pula pada tanah yang kedap air dan lapisan humusnya sangat tipis. Pada tanah kurang subur pohon ini masih dapat tumbuh, tetapi produktivitasnya

lebih rendah dibandingkan dengan tanah yang subur (Alrasyid dan Widiarti,

1990 dalam Rudyansyah, 2000). 4. Iklim

Menurut Alrasyid dan Widiarti (1990) dalam Rudyansyah (2000), rataan

curah hujan yang dibutuhkan minimal 1.000 mm pertahun dengan jumlah bulan kering enam sampai tujuh bulan pertahun dan terbaik antara 1.778-2.286 m per tahun dengan bulan kering 2-4 bulan per tahun. Rataan suhu udara tahunan yang

dikehendaki berkisar antara 21-28oC, sedangkan suhu maksimum dan minimum

antara 24-35oC. Jenis pohon ini termasuk intoleran, yaitu membutuhkan banyak

cahaya untuk pertumbuhannya. Sementara menurut Bratawinata (1987),

(26)

bulan kering 3-5 bulan, suhu minimum 18oC dan maksimum 35oC dengan curah hujan antara 1.750-2.300 mm per tahun pada daerah subur dan mempunyai drainase yang baik.

5. Hama

Menurut Semat (1979) dalam Rudyansyah (2000), hama G. arborea adalah

binatang pemakan tumbuhan seperti rusa. Di India, tumbuhan yang berumur

empat tahun diserang oleh serangga pemakan daun Calapapla leavana yang juga

memakan tunas dan ranting yang masih muda. Di Amerika Tengah dan Utara, semut Atta spp. menyebabkan kayu lapuk. Di Afrika terutama di Ivory Coast, Xylopherta pisces menyerang bagian batang. Sedangkan hama yang biasa

menyerang semai G. arborea menurut Qunoines dan Zamora (1987) dalam

Rudyansyah (2000) antara lain: Gargara varicolor Stal. (Homoptera:

Membracidae), Cicadella suturella Stal. (Homoptera: Membracidae),

Bathrogonia sp. (Homoptera: Membracidae), Nisia sp. (Homoptera: Meenoplidae), Eupterote fabia Cram. (Lepidoptera: Eupterotidae), Ozola minor Moore. (Lepidoptera: Geometridae), Acherontia lachesis Fabr. (Lepidoptera:

Sphingidae), Hemisphaerius tringularis Melichar. (Coleoptera:

Phacyrrhynchidae).

6. Penyakit

Agmata (1979) dalam Rudyansyah (2000) menyatakan, bahwa benih G. arborea di dalam penyimpanan di Filiphina terserang jamur Aspergillus spp. (25,0 %) dan Penicillium sp. (2,5 %).

(27)

Penyakit noda daun Cercospora dilaporkan oleh Menurut Quiniones dan Dayan (1981) dalam Rudyansyah (2000) menyatakan bahwa penyakit noda daun menyerang semai G. arborea di Ind ia, penyebabnya ialah jamur Cercospora ranjita Chowdury. Menurut Gibson (1975) dalam Rudyansyah (2000), jamur ini ditemui menyerang semai di Brasil, India, Kenya dan Uganda. Gejala yang ditunjukan oleh semai yang terserang adalah timbulnya noda-noda hitam relative kecil, kalau kondisi lingkungannya sesuai, yaitu pergantian udara lembap dan kering, maka noda-noda itu membesar dan membentuk noda-noda yang tak beraturan bentuknya dengan warna keputihan sampai keabuan ditengahnya yang dibatasi dengan warna coklat tua di pinggirnya. selanjutnya jamur itu akan membentuk konidiofora (tangkai spora) dan konidia (spora) di tengah noda itu. Serangan berat dari jamur ini akan menyebabkan gugurnya daun.

(28)

III. METODE PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu

Penelitian ini dilaksanakan selama 3 bulan mulai bulan Juni 2010 sampai bulan Agustus 2010, meliputi kegiatan : persiapan penelitian, pengamatan dan pengumpulan data, pengolahan data dan penyusunan laporan penelitian.

Penelitian ini dilaksanakan di Areal Jurusan Pengelolaan Hutan dan di Laboratorium Konservasi Politeknik Pertanian Negeri Samarinda.

B. Alat dan Bahan

Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah: 1. G. arborea, untuk diamati akar dan medianya.

2. Air, digunakan dalam semua proses mengeluarkan nematoda dari akar

maupun tanah.

3. Kertas tissue, untuk mengeringkan dan menyaring akar. 4. Kain kasa, untuk menyaring tanah.

5. Label, untuk penomoran pohon.

6. Kertas saring, untuk menyaring tanah.

7. Lampu 150 watt, untuk menerangi tanah yang disaring selama 24 jam agar

nematodanya turun ke baki penampung.

8. Kantung plastik, untuk menyimpan contoh tanah dan akar.

Alat yang digunakan pada penelitian ini, antara lain adalah:

1. Gunting, untuk memotong- motong contoh akar.

(29)

3. Timbangan, untuk menimbang contoh akar yang diamati. 4. Blender, untuk menghaluskan contoh akar yang akan diamati. 5. Beaker glass 500 ml, untuk proses penyaringan.

6. Beaker glass 100 ml, untuk menyimpan air hasil saringan tanah dan akar.

7. Saringan 325 mesh, untuk menyaring contoh akar.

8. Saringan 40 mesh, untuk menyaring contoh akar.

9. Saringan plastik, untuk menyaring contoh tanah.

10. Piring plastik/seng, untuk menyaring contoh akar dan penjenuhan contoh

tanah.

11. Corong plastik, untuk penyaringan contoh tanah.

12. Baki plastik, untuk menampung air hasil penyaringan contoh tanah.

13. Pipet, untuk mengambil contoh hasil saringan dan meletakkannya di atas

objek glass.

14. Objek glass, untuk pengamatan di bawah mikroskop. 15. Cover glass, untuk pengamatan di bawah mikroskop.

16. Lampu duduk, untuk meletakkan lampu yang digunakan menyinari contoh

tanah.

17. Kamera digital, untuk dokumentasi penelitian.

18. Alat tulis menulis, untuk mencatat data selama penelitian. 19. Cangkul, untuk pengambilan tanah.

(30)

C. Prosedur Kerja

1. Orientasi lapangan untuk menentukan dan mempersiapkan lokasi penelitian. 2. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan selama kegiatan penelitian.

3. Memberi nomor pada pohon dengan label.

4. Mengukur tinggi dan keliling gmelina,dan mengambil sampel dari 10 %

populasi, jadi dari 47 pohon yang diamati diambil 5 pohon sebagai sampel. (Lihat pada lampiran 1, tabel 3)

5. Mengambil sampel pada 5 pohon yang menunjukan gejala adanya serangan

nematoda. (Lihat pada Lampiran 2, gambar 6)

6. Membawa sampel ke laboratorium Konservasi Politani

7. Melakukan pengamatan nematoda pada pohon G. arborea dengan ekstraksi

contoh pada akar dan pada tanah menggunakan metode Bearmen. Cara kerja ekstraksi contoh akar dengan metode Bearmen:

a. Contoh akar dipisahkan dari sisa-sisa tanah, kotoran lain yang melekat dan dicuci sampai bersih.

b. Contoh akar dikering anginkan, kemudian dipotong ± 0,5 cm dengan

gunting.

c. Hasil potongan akar ditimbang sebanyak 10 gr, dimasukkan kedalam

beaker glass kemudian ditambahkan air sebanyak ± 100 ml. Selanjutnya diblender sebanyak 2 kali, penghalusan pertama dan kedua masing-masing selama 15 detik.

(31)

d. Hasil penghalusan disaring ke dalam saringan 40 mesh yang telah dipasang kertas tissue diletakkan di atas piring plastik dan diendapkan selama 24 jam.

e. Air endapan disaring dengan 2 saringan 325 mesh. Hasil saringan

diendapkan selama 1 jam.

f. Hasilnya dapat langsung diamati atau disimpan di dalam lemari

pendingin (kulkas) apabila belum diamati.

Cara kerja ekstraksi contoh tanah dengan metode Bearmen:

a. Contoh tanah dipisahkan dari akar dan kotoran lain sampai bersih.

b. Setelah contoh tanah benar-benar bersih kemudian diambil dengan

beaker glass 100 ml, selanjutnya dituangkan ke dalam piring plastik dan ditambahkan air sebanyak 500 ml dan dihancurkan dengan jari tangan hingga tercampur rata. (Lihat pada Lampiran 2, gambar 8)

c. Contoh tanah yang telah tercampur rata dituangkan kedalam corong

yang telah diberi saringan plastik yang dilapisi dengan kain kasa dan kertas saring. (Lihat pada Lampiran 2, gambar 9)

d. Contoh tanah dipanasi dengan lampu 150 watt selama 24 jam. (Lihat

pada Lampiran 2, gambar 10)

e. Air yang terkumpul pada baki penampung di bawah dituangkan ke

dalam beaker glass.

f. Contoh air dapat langsung diamati atau disimpan dalam lemari

(32)

8. Pengumpulan data dan mencatat jenis-jenis nematoda yang dapat menyerang pohon G. arborea dalam tally sheet seperti pada Tabel 1 berikut.

Tabel 1. Tally Sheet Pengamatan Nematoda.

No. No. pohon

Jenis nematoda yang terdapat pada

Keterangan

Akar Tanah

9. Menggambar nematoda yang ditemukan pada pohon G. arborea.

D. Pengolahan Data

Pengolahan data penelitian adalah:

1. Mengetahui kehadiran nematoda pada setiap contoh tanah dan akar dari

pohon G. arborea dengan cara mengamati hasil ekstraksi contoh tanah dan akar dengan mikroskop.

2. Menggambar nematoda yang ditemukan pada setiap ekstraksi contoh tanah

dan akar pohon G. arborea.

3. Berusaha mengidentifikasi tipe-tipe dan jenis-jenis nematoda yang ditemukan pada setiap ekstraksi contoh tanah dan akar poho n G. arborea dengan cara membandingkan gambar nematoda yang ditemukan dengan buku-buku literatur nematoda yang ada.

(33)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Hasil pengamatan nematoda pada tegakan G. arborea di areal Jurusan

Pengelolaan Hutan, menunjukan bahwa dapat ditemukan dan diketahui beberapa jenis nematoda, baik yang terdapat pada media (tanah) maupun yang terdapat pada akar. Lebih jelasnya hasil pengamatan tersebut dirangkum dalam Tabel 2 berikut.

Tabel 2. Nematoda yang Ditemukan pada Pohon G. arborea.

No. No.

Pohon

Nematoda yang Terdapat pada

Keterangan

Tanah Akar

1 20 Nematoda A Nematoda A Tidak teridentifikasi

2 18 - Nematoda B Tidak teridentifikasi

3 22 Pratylenchus sp. Pratylenchus sp. -

4 34 Nematoda C Nematoda C Tidak teridentifikasi

5 5 Heterodera sp. Heterodera sp. Tidak teridentifikasi

Berdasarkan Tabel 2 diatas, dapat diketahui bahwa pada pohon G. arborea

ditemukan lima jenis nematoda, yaitu Nematoda A, Nematoda B, Pratylenchus

sp., Nematoda C, dan Heterodera sp. Dari kelima jenis nematoda yang

ditemukan, diketahui bahwa dua jenis nematoda dapat diidentifikasi, yaitu Heterodera sp. dan Pratylenchus sp. sedangkan jenis nematoda tidak dapat diidentifikasi, yaitu Nematoda A, Nematoda B dan Nematoda C.

Dari Tabel 2 diatas juga dapat diketahui bahwa nematoda yang ditemukan

pada G. arborea, sebanyak empat jenis nematoda, yaitu Nematoda A,

(34)

pada akar sedangkan satu jenis nematoda, yaitu Nematoda B hanya ditemukan pada akar.

Berikut ini dijelaskan tentang jenis – jenis nematoda yang dapat diidentifikasi yaitu:

1. Pratylenchus sp.

Pratylenchus sp. ditemukan pada pohon contoh pengamatan G. arborea, jenis ini ditemukan pada tanah dan akar. Lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 1 berikut ini.

Gambar 1. Nematoda Pratylenchus sp. (pembesaran 400 x)

Menurut Sunarko (2008), nematoda luka akar (Pratylenchus sp.) memiliki banyak jenis dan bersifat kosmopolit, sehingga dapat ditemui pada semua jenis tanaman.

Klasifikasi Pratylenchus sp. menurut Anonim (a) (2007) adalah sebagai berikut :

a. Kingdom : Animalia

b. Filum : Nematoda

c. Kelas : Adenophorea

(35)

e. Ordo : Tylenchida

f. Super Famili : Tylenchoidea

g. Famili : Pratylenchidae

h. Genus : Pratylenchus

i. Spesies : Pratylenchus sp.

2. Heterodera sp.

Heterodera sp. ditemukan pada 2 pohon contoh pengamatan G. arborea, jenis ini ditemukan pada tanah dan akar. Lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 2 berikut ini.

Gambar 2. Nematoda Heterodera sp. (pembesaran 400 x)

Klasifikasi Heterodera sp. menurut Anonim (b) (2007) adalah sebagai berikut :

a. Kingdom : Animalia

b. Filum : Nematoda

(36)

d. Sub Kelas : Diplogasteria

e. Ordo : Tylenchida

f. Super Famili : Tylenchoidea

g. Famili : Heteroderidea

h. Sub Famili : Heteroderinae

i. Genus : Heterodera

j. Spesies : Heterodera sp.

Berikut ini dijelaskan tentang jenis – jenis nematoda yang tidak teridentifikasi, yaitu:

1. Nematoda A

Nematoda A ini ditemukan pada satu contoh pengamatan G. arborea, jenis ini ditemukan pada tanah dan akar. Ciri – ciri Nematoda A berdasarkan pengamatan di bawah mikroskop adalah sebagai berikut: hanya dijumpai sebagian badan dari nematoda, organ dalam yang tampak hanya seperti gelembung – gelembung menyatu yang diduga adala h bagian dari sistem pencernaan. Lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 3 berikut ini.

(37)

2. Nematoda B

Nematoda B ini ditemukan pada contoh pengamatan G. arborea, jenis

nematoda ini ditermukan pada akar. Ciri – ciri Nematoda B yang ditemukan pada saat pengamatan yang terlihat adanya mulut, stylet dan beberapa gelembung menyatu yang diduga adalah bagian dari sistem pencernaan. Lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 4 berikut ini.

Gambar 4. Nematoda B. (perbesaran 400 x)

3. Nematoda C

Nematoda C ini ditemukan pada contoh pengamatan G. arborea, jenis ini

ditemukan pada tanah dan akar. Ciri – ciri nematoda C yang ditemukan pada saat pengamatan memiliki tubuh seperti botol dan bergaris- garis, dan terdapat gelembung-gelembung kecil yang menyebar. Gambaran lebih jelas dari nematoda ini dapat dilihat pada Gambar 5 berikut.

(38)

Gambar 5. Nematoda C. (perbesaran 400x)

B. Pembahasan

Berdasarkan hasil penelitian pada pohon G. arborea ini, dapat diketahui bahwa ada 5 jenis nematoda yaitu, Nematoda A, Pratylenchus sp., Nematoda C, dan Heterodera sp. dan Nematoda B. 2 jenis dapat diidentifikasi yaitu Pratylenchus sp. dan Heterodera sp., sedangkan 3 jenis belum teridentifikasi yaitu Nematoda A, Nematoda B dan Nematoda C.

Berdasarkan hasil penelitian juga dapat diketahui 4 jenis nematoda yaitu Pratylenchus sp., Heterodera sp.,Nematoda A dan Nematoda Cditemukan pada tanah dan pada akar sedangkan 1 jenis nematoda, yaitu Nematoda B hanya ditemukan pada akar.

Dua jenis nematoda yang terdapat pada tanah dan akar yaitu Pratylenchus sp. dan Heterodera sp., dapat dikategorikan termasuk ke dalam tipe nematoda endoparasit, karena dapat hidup di tanah dan dapat pula menyerang ke dalam akar tanaman.

(39)

Menurut Sari (2010), nematoda endoparasit adalah nematoda yang saat memarasit tumbuhan, tubuhnya masuk, merusak dan melakukan reproduksi di dalam akar tanaman.

Tiga jenis nematoda yaitu Nematoda A, Nematoda B dan Nematoda C tidak bisa dikategorikan ke dalam endoparasit dan ektoparasit karena ketiga nematoda tersebut belum teridentifikasi.

Pohon-pohon yang digunakan sebagai contoh pengamatan nematoda ini adalah pohon-pohon yang menunjukan gejala serangan nematoda, salah satunya pertumbuhan pohon yang terhambat (dari segi tinggi dan diameter jauh tertinggal dari pohon-pohon sehat di sekitarnya).

(40)

V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Dari pengamatan yang telah dilaksanakan pada G. arborea, maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut:

1. Pada G. arborea ditemukan lima jenis nematoda. Dua jenis nematoda dapat

teridentifikasi, yaitu Heterodera sp. dan Pratylenchus sp. sedangkan jenis nematoda tidak dapat teridentifikasi, yaitu Nematoda A, Nematoda B dan Nematoda C.

2. Nematoda yang ditemukan pada G. arborea sebanyak 4 jenis nematoda, yaitu

Nematoda A, Pratylenchus sp., Nematoda C, dan Heterodera sp. ditemukan pada tanah dan pada akar, sedangkan 1 jenis nematoda yaitu Nematoda B hanya ditemukan pada akar.

3. Tipe-tipe nematoda yang ditemukan adalah nematoda endoparasit, yaitu

Pratylenchus sp. dan Heterodera sp. Sedangkan tiga jenis nematoda yaitu Nematoda A, Nematoda B dan Nematoda C belum dapat digolongkan ke dalam tipe endoparasit dan ektoparasit karena belum teridentifikasi.

B. Saran

Perlu adanya pene litian lanjutan pada jenis G. arborea yang ada di areal Politeknik Pertanian Negeri Samarinda, agar dapat diketahui apakah jenis – jenis nematoda yang ditemukan pada penelitian ini ditemukan juga pada penelitian berikutnya.

(41)

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 1972. (a) Descriptions of Plant-parasitic Nematodes. Set 1, No. 1. William Clowes and Sons Ltd, London.

Anonim. 1972. (b) Descriptions of Plant-parasitic Nematodes. Set 2, No. 16. William Clowes and Sons Ltd, London.

Anonim. 1972. (c) Descriptions of Plant-parasitic Nematodes. Set 3, No. 31. William Clowes and Sons Ltd, London.

Anonim. 2007. (a) Heterodera. En.m.wikipedia.org (diunduh pada tanggal 1 Agustus 2010)

Anonim. 2007. (b) Pratylenchus. En.m.wikipedia.org (diunduh pada tanggal 1 Agustus 2010)

Bratawinata, A. A, 1987. Beberapa Catatan dari Pohon-pohon Tanaman Industri Cepat Tumbuh. Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman, Samarinda.

Fatah, A. 2009. Penyakit Tanaman Hutan. theblues68.blogspot.com (diunduh pada tanggal 2 September 2010)

Fitri, E. 2009. Ektraksi dan Identifikasi Nematoda yang Berasal Dari Tanah dan Akar Tanaman. elysafit08.student.ipb.ac.id (diunduh pad tanggal 2 September 2010)

Mardji, D. 1992. Ilmu Penyakit Hutan : Diagnosis, Biologi dan Pengendalian Penyakit. Bahan Kuliah Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman, Samarinda.

Rudyansyah, M. 2000. Inventarisasi Hama dan Penyakit pada Semai Gmelina Arborea. Di Persemaian PT. Surya Hutani Jaya, Sebulu, Samarinda.

Sari. 2010. Daslintan. my.opera.com/irmasmall (diunduh pada tanggal 1 Agustus 2010)

Suna rko. 2009. Nematoda Luka Akar. Herrysoenarko.blogspot.com. (diunduh pada tanggal 1 Agustus 2010)

Subagiya, 2009. Nematoda. http: //mail.uns.ac.id (diunduh pada tanggal 22 Maret 2010)

Widyasasi, D, E. Malaysia, Noorhamsyah, Z. Muttaqin, R. Djatmiko. 2007. Studi Tentang Kehadiran Nematoda Pada Semai Meranti Tembaga (Shorea leprosula Miq).

(42)

Lampiran 1. Tabel Data Keliling dan Tinggi Tegakan Gmelina.

Tabel 3. Data Keliling dan Tinggi Tegakan Gmelina

No. Keliling (cm) Tinggi (m) Keterangan

1 2 3 4 1 84,5 6 2 91 8 3 96 6 4 87,3 7 5 52,4 6 Sampel 6 114,5 10 7 84,8 8 8 74,3 9 9 135,4 13 10 57,5 7 11 67,5 7 12 111,8 9 13 180,9 12 14 86,2 10 15 138 13 16 53,5 8 17 70,5 8 18 37,8 5 Sampel 19 45,8 7 20 23,4 5 Sampel 21 47,2 11 22 42,6 5 Sampel 23 45,9 9 24 110,8 14 25 75,8 8 26 55,3 7 27 113,5 14 28 51,4 8 29 47,3 9 30 48,7 7 31 112,5 14 32 61,5 9 33 119,3 14 34 48,4 9 Sampel 35 115,8 13

(43)

Lanjutan Tabel 3. 1 2 3 4 36 153 13 37 51,5 2,5 38 106 12 39 82,5 11 40 19,5 5 41 42,9 8 42 52,3 9 43 142,4 15 44 94,3 12 45 90 11 46 153,5 13 47 111,8 12

(44)

Lampiran 2

Gambar 6. Pengambilan Contoh Tanah pada Tegakan Gmelina.

(45)

Gambar 8. Proses Penjenuhan Tanah.

(46)

Gambar 10. Pemanasan selama 24 jam.

Gambar

Tabel 1.  Tally Sheet Pengamatan Nematoda.
Tabel 2.  Nematoda yang Ditemukan pada Pohon G.  arborea.
Gambar 1.  Nematoda Pratylenchus sp.  (pembesaran 400 x)
Gambar 2.  Nematoda Heterodera sp.  (pembesaran 400 x)
+7

Referensi

Dokumen terkait