LAPORAN KEGIATAN
REMBUK NASIONAL BIDANG REMBUK 8
LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN
MEMPERJUANGKAN MASA DEPAN LINGKUNGAN HIDUP DAN
KEHUTANAN YANG LEBIH BAIK
Samarinda, 11 Oktober 2017
UNIVERSITAS MULAWARMAN
SAMARINDA
2017
DAFTAR ISI
A. LATAR BELAKANG ... 1
B. TUJUAN ... 2
C. RUANG LINGKUP ... 2
D. TEMPAT DAN WAKTU PELAKSANAAN ... 3
E. PESERTA KEGIATAN ... 3
F. MATERI DAN NARA SUMBER ... 3
G. GAGASAN KUNCI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN ... 5
H. PENUTUP ... 8
LAMPIRAN 1. PEMAPARAN NARA SUMBER ... 9
LAMPIRAN 2. HASIL DISKUSI KELOMPOK ... 15
LAMPIRAN 3. DAFTAR HADIR ... 33
LAPORAN KEGIATAN
REMBUK NASIONAL BIDANG REMBUK 8
LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN
MEMPERJUANGKAN MASA DEPAN LINGKUNGAN HIDUP DAN
KEHUTANAN YANG LEBIH BAIK
Samarinda, 11 Oktober 2017
A. LATAR BELAKANG
Tanggung jawab sektor Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) meliputi wilayah lingkungan hidup di seluruh wilayah RI dan kawasan Hutan meliputi luas 120,77 juta hektare (64,32% luas daratan). Untuk mengurus sektor LHK, Presiden menugaskan kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), yang mempunyai 13 Program yang dipimpin 13 Pejabat Eselon I, didukung Program Pendukung yang dipimpin Sekjen dan Program Pengawasan yang dipimpin oleh Irjen Rincian Program dan Pejabat Eselon I. Saat ini terdapat 71,94% kawasan hutan yang masih berhutan (86,88 juta hektare), dan 11,39% kawasan non kehutanan yang masih berhutan (7,63 juta hektare). Hingga Juli 2017, telah ditetapkan 87,47 juta hektare sebagai hutan negara (status hukum legal), namun masih terdapat kawasan hutan masih ada penguasaan tanah oleh pihak ketiga yang belum clear dan clean.
Pembangunan Nasional Indonesia memiliki visi “Terwujudnya Indonesia yang Berdaulat, Mandiri dan Berkepribadian Berlandaskan Gotong Royong”, dengan misi: (1) Mewujudkan keamanan nasional yang mampu menjaga kedaulatan wilayah, menopang kemandirian ekonomi dengan mengamankan sumber daya maritim, dan mencerminkan kepribadian Indonesia sebagai negara kepulauan; (2) Mewujudkan masyarakat maju, berkeseimbangan dan demokratis berdasarkan negara hukum, dan; (3) Mewujudkan Indonesia menjadi negara maritim yang mandiri, maju, kuat dan berbasiskan kepentingan nasional.
KLHK memiliki peran untuk: (1) mewujudkan pembangunan berkelanjutan; (2) menjaga luasan dan fungsi hutan untuk menopang kehidupan, menyediakan hutan untuk kegiatan sosial, ekonomi rakyat, dan menjaga jumlah dan jenis flora dan fauna serta spesies dilindungi, dan; (3) memelihara kualitas LH, menjaga hutan, dan merawat keseimbangan ekosistem dan keberadaan sumber daya. Terdapat beragam pemangku kepentingan yang terlibat dalam sektor LHK, antara lain: Kementerian lain, Seluruh Gubernur, Seluruh Bupati, Kepala Desa sekitar hutan, Swasta (240 pemegang IUPHHK-HA dan 200 pemegang IUPHHK-HT, Pemegang Ijin Pinjam pakai), BUMN (Perum Perhutani dan PT Inhutani I-V), Lembaga Internasional, masyarakat umum, masyarakat adat dan LSM.
Dalam upaya pemenuhan komitmen Nationally Determined Contributions Indonesia, KLHK memiliki aksi mitigasi:
1. Pembangunan yang dilakukan pada kenyataannya masih memperluas kerusakan sumber daya alam dan menurunkan kualitas lingkungan hidup
2. Peningkatan penerapan prinsip pengelolaan hutan berkelanjutan, baik di hutan alam (penurunan degradasi) maupun di hutan tanaman*.
3. Rehabilitasi 12 juta ha lahan terdegradasi pada tahun 2030 atau 800,000 ha/tahun dengan survival rates sebesar 90% .
4. Restorasi 2 juta ha gambut pada tahun 2030 dengan tingkat kesuksesan sebesar 90%. Hingga 2016, KHLK telah mencapai kinerja Indeks Kualitas Lingkungan Hidup 62,96 atau 99,15%, Kawasan Konservasi yang memiliki nilai Indeks METT (nilai efektivitas pengelolaan) 70% ada 40 unit dari rencana 100 unit, KPH yang memproduksi barang dan jasa 135 unit dari 149 unit rencana, realisasi Perhutanan Sosial seluas 779.271 ha (6,14%) dari rencana 12,7 juta hektare, 7 Provinsi yang dapat dilindungi dari bahaya kebakaran, Penerimaan Negara Bukan Pajak sebesar Rp. 4,52 T (132,94%), Ekspor Olahan USD 9,2 M (123,96%), dan Tumbuhan dan Satwa Liar Rp 6,5 T (130,95%). Pertanyaan kritisnya adalah Apakah angka-angka yang terpapar dalam laporan kinerja tersebut dapat menggambarkan realitas lapangan? Faktanya:
1. Mempercepat pelaksanaan pembangunan berkelanjutan
2. Keanekaragaman hayati dan Ekosistem sebagai penyangga kehidupan manusia masih berada dalam ancaman.
3. Bisnis kehutanan menuju penurunan.
4. Perubahan iklim masih belum direspons secara progresif.
Namun demikian, harus tetap membangun optimisme dengan semangat juang pantang menyerah sesuai dengan Nawacita Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Karenanya Rembuk Nasional dan Rembuk Daerah dilaksanakan untuk memperjuangkan masa depan lingkungan hidup dan kehutanan yang lebih baik. Hal yang melingkupinya meliputi: 1. Percepatan pembangunan berkelanjutan dan pengendalian perubahan iklim yang progresif 2. Pengembangan Model Bisnis Baru Sektor Kehutanan dan Jasa Lingkungan. 3. Memperkuat implementasi adaptasi dan mitigasi Perubahan Iklim. Adapun isu-isu penting pada sektor Lingkungan Hidup dan Kehutanan, diantaranya adalah: 1. Bahaya laten Kebakaran lahan dan hutan 2. Penyelamatan Hutan Hujan Tropis Yang tersisa 3. Penyelamatan Keanekaragaman Hayati 4. Pengembangan Jasa Lingkungan, termasuk Wisata Alam Sektor Kehutanan 5. Peningkatan Kualitas lingkungan di Perkotaan 6. Penyelamatan Daerah Aliran Sungai sebagai penyangga hidrologi 7. Reformasi agraria dan penyelesaian konflik tenurial kehutanan 8. Membelokkan bisnis kehutanan yang saat ini menuju ke sunset
B. TUJUAN
Merembuk (membahas dengan spirit gotong royong dan musyawarah) dengan tujuan:1. Mengidentifikasi dan memetakan hal-hal krusial yang menghambat capaian kinerja Bidang Lingkungan, Kehutanan dan Agraria dalam 2 tahun terakhir Pemerintahan Jokowi-JK.
2. Mengidentifikasi area/elemen pengungkit terbesar untuk mendongkrak kinerja dalam waktu 2 tahun tersisa
2. Mendorong Pemerintah lebih progresif dalam masa 2 tahun tersisa Kabinet Kerja, sekaligus meletakkan fondasi yang lebih kuat, cermat dan realistis untuk kelanjutan/Kesinambungan Pemerintahan 2019-2024.
D. TEMPAT DAN WAKTU PELAKSANAAN
Kegiatan dilaksanakan di Gedung Bundar Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman, Kampus Gunung Kelua Samarinda, pada hari Rabu tanggal 11 Oktober 2017 pukul 08.30-17.30
wita.
E. PESERTA KEGIATAN
Kegiatan diikuti dengan peserta sejumlah XXX orang, yang berasal dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, Perguruan Tinggi, Organisasi Non Pemerintah, Mitra Kerjasama Internasional, dan Masyarakat.
F. MATERI DAN NARA SUMBER
1. Perhutanan Sosial sebagai salah satu Instrumen Penyelesaian Konflik Kawasan Hutan, Ir. H. Wahyu Widhi Heranata, M.P., Kepala Dinas Kehutanan Kalimantan Timur. 2. Penguatan KPH dan Pembangunan Hutan Masa Depan, Tunggul Butarbutar, M.Sc., GIZ-Forclime3. Menata Puzzle Kelola Hutan Indonesia, Erma Wulandari, M. Si., Mitra SETAPAK Kalimantan Timur
4. Pengembangan Wisata Alam dan Jasa Lingkungan sebagai Sektor Unggulan Masa depan LHK, Ir. Listya Kusuma Wardhani, M. Sc., Ditjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Direktur Pemolaan Sekaligus Plt. Pemanfaatan Jasa Lingkungan)
5. Pemantauan Pencemaran dan Pengrusakan Lingkungan Hidup dan Hutan (termasuk Kebakaran Hutan dan Lahan), Dr. Y Budi Sulistioadi, Pusat Pengembangan Infrastruktur Informasi Geospasial Unmul 6. Membelokkan Bisnis Kehutanan dari Sunset, Dr. Indroyono Susilo, Ketua Umum Asosiasi Pengusahaan Hutan Indonesia 7. Bisnis Kehutanan Masa Depan, Joko Sardjito, WWF 8. Pengelolaan Lahan Gambut dan Kebun Kayu Desa Muara Siran, Abdul Agus Nuraini , Ketua PSDA Desa Muara Siran, Kab. Kutai Kartanegara 9. Pengembangan Energi berbasis Biomassa Hutan, Dr. Rudianto Amirta, Dekan Fakultas Kehutanan Unmul 10. Pengembangan Industri Biofarmaka Hutan, Prof. Dr. Enos Tangke Arung, LP2M UNMUL 11. Pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu dalam pengelolaan KPH, Dr Irawan Wijaya
Kusuma, ULS TESD Unmul
Moderator: Dr. Haryadi Himawan
Resume Informasi Nara Sumber
1. Melihat Nawacita point 7 “menggerakan ekonomi sektor strategis” konsep perhutanan sosial juga adalah upaya untuk mengubah paradigma masyarakat yang selama ini memandang hutan hanya sebatas pengelolaan kayu namun lebih daripada itu dimana pemanfaatan hutan dapat dioptimalkan dalam kerangka pembangunan yang lebih berkelanjutan yang tidak hanya bertopang pada hasil hutan kayu. Perhutanan Sosial juga sebagai resolusi konflik karena ada kehadiran dari pemerintah, ada private sektor dan pihak
masyarakat, semua pihak mempunyai keterlibatan dalam pengelolaan pembangunan hutan.
2. KPH adalah sebuah jawaban tidak hanya sebagai persoalan ekonomi, tidak hanya soal pemantapan kawasan, tapi juga masalah iklim, pembangunan berkelanjutan, KPH hadir lalu bagaimana agar adanya kepastian kawasan terhadap wilayah yang dikelola, lalu bagaimana pembuatan perencanaan dilakukan, lalu bagaimana Perhutanan Sosial dapat diimplementasikan dan memastikan soal kelestarian lingkungan juga dimasukkan. Permasalahan saat ini adalah dorongan terhadap KPH juga belum terlalu kuat, juga ada tantangan baru, dimana secara kebijakan juga dituntut pasca adanya UU pemerintah daerah. Untuk menjawab tantangan, KPH harusnya mempunyai kewenangan yang jelas, mempunyai struktur organisasi yang kuat, finansial yang kuat, sumber daya manusia kuat, kompetensinya kuat dan perencanaan kelembagaan yang kuat.
3. Masih belum ada kesadaran secara kolektif dalam keterbukaan informasi di institusi pemerintahan, seperti data spasial dalam kawasan hutan yang masih dianggap tertutup KLHK menyatakan bahwa informasi geospasial berupa peta dengan format shapefile (shp) merupakan informasi dikecualikan, Dokumen Ijin masih tertutup, dan sebagian besar Instansi penerbit ijin menyatakan sebagai Informasi Dikecualikan. Keterbukaan dapat menjadi jaminan untuk penyelesaian konflik, memastikan kepastian kawasan masyarakat, sebagai informasi terhadap dampak kebijakan dan perijinan untuk masyarakat. Perlu adanya percepatan penyelesaian konflik di sektor kehutanan, sebagian besar konflik yang terjadi adalah konflik tenurial. 4. Terhambatnya pengembangan konservasi karena masih diparadigmakan sebagai kawasan yang cenderung “terlarang” paradigma tersebut dikarenakan masih kurangnya sosialisasi terhadap kawasan konservasi padahal dasar-dasar penggunanya sudah lengkap.
5. Pemantauan permasalahan kehutanan dapat dipantau melalui ruang atas, sehingga inventarisasi permasalahan dapat diidentifikasi cukup mudah. Pemantauan dapat dilakukan terhadap tutupan hutan, deforestasi, ekosistem karst, mangrove dan gambut, serta pembukaan kawasan hutan dan lahan untuk kepentingan ekonomi lain.
6. Melalui pemerintah, Jokowi memandatkan agar adanya terobosan baru dalam bidang kehutanan. Dalam menjawab terobosan Jokowi telah dilakukan konfigurasi: industri berbasis kayu, agroforestry (20% ijin dari tanaman kehidupan) , ekowisata (crushied-kapal yang wisata yang bisa diakses singgah ke Kalimantan untuk pengoptimalan sektor wisata) , jasa lingkungan (11,3 juta ha untuk stock carbon), bioenergi (sebagai upaya tidak timpang pada usaha kayu semata). Harapannya dari semua transformasi peran dalam sektor usaha kehutanan dapat mengurangi kecenderungan dalam pembangunan kehutanan ada peningkatan kinerja IUPHHK, peningkatan PNBP dan kontribusi PDB, penurunan konflik lahan, pengembangan UMKM, penguatan kemandirian pangan
7. Peluang kayu pasar domestik sangat besar dikarenakan belum ada angka publikasi yang pasti, namun dengan adanya usaha dagang produksi kayu besar. Hal tersebut menjadi indikasi konsumsi kayu domestik cukup besar.
8. Dalam tata kelola desa, desa Muara Siran sudah membuat peraturan penunjang pengelolaan tingkat desa seperti pembentukan tata ruang desa, ada juga pengoptimalan potensi gambut yang dikembangkan untuk meningkatkan potensi jasa lingkungan. Ada pengoptimalan untuk pengelolaan potensi kayu namun selama ini masih terkendala untuk aspek perijinan. Berkaitan dengan usaha masyarakat desa Muara Siran masih yang cukup berpotensi seperti usaha nelayan masyarakat, pertanian, keramba dan sarang burung walet. Tantangan pemanfaatan kayu oleh masyarakat di wilayah APL secara kolektif adalah
9. Harus ada pengoptimalan biomassa sektor hutan, sudah ada pembelajaran terhadap beberapa kelompok tanaman untuk melakukan bioclavural, dan dari pembelajaran sudah teridentifikasi sudah ada beberapa tanaman yang mempunyai nilai bioenergi (ada potensi biomassa tanaman kehutanan yang relatif signifikan sampai angka 20%) dengan memanfaatkan energi biomassa hutan setidaknya sudah dapat menghidupkan beberapa titik wilayah rendah infrastruktur kelistrikan. Dengan adanya pemanfaatan biomassa hutan sudah ada upaya pengalihan kebutuhan masyarakat ke energi yang terbarukan.
10. Beberapa daerah yang ditemukan tanaman obat, salah satu yang berpotensi untuk mempunyai nilai ekonomis adalah di wilayah KPH Berau Barat yaitu potensi jamur. Sudah ada produk obat dari tanaman hutan yang memunyai brand dengan omset yang cukup tinggi. Sudah ada identifikasi tanaman hutan untuk memproduksi kosmetik, sudah ada 20 jenis produk untuk bedak kecantikan. Pengolahan produk yang cukup strategis saat ini sudah ada pengembangan produk kosmetik cream kecantikan yang bersinergi dengan Perusahaan. Untuk menunjang maka perlu survey pemanfaatan hutan, survey produk lokal berbasis hutan untuk biofarmaka, perlu zonasi industri biofarmaka, perlu kerja sama dengan bermacam pihak utamanya untuk pengembangan produk dan validasi temuan yang sudah ada.
11. Strategi pemanfaatan HHBK melalui kebijakan yang mendorong HHBK menjadi penting, serta pengoptimalan sumber daya HHBK. Tahapannya adalah perlu identifikasi tahapan mulai dari produksi sampai pasca produksi HHBK.
G. GAGASAN KUNCI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN
Berdasarkan diskusi kelompok dengan 4 topik diskusi, yaitu: (1) Konflik Kehutanan, Kerusakan Lingkungan dan Masyarakat Tempatan/Adat, (2) Aksi Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim dalam Pemenuhan Nationally Determined Contributions, (3) Bisnis Masa Depan Kehutanan, dan (4) Penguatan Kesatuan Pengelolaan Hutan, masukan melalui lembar gagasan dan masukan dari form online yang disediakan, maka diperoleh gagasan prioritas, yaitu:
No BIDANG MASALAH STATUS CAPAIAN INSTITUSI PENANGGUNG JAWAB USULAN PENYELESAIAN KATEGORI PENYEBAB FAKTOR ATAU LEMBAGA KEMENTERIAN LEVEL JABATAN
1. Konflik kehutanan dan tenurial yang belum juga terselesaikan
B
D2
KLHK Dirjen Planologi dan Tata Hutan Membangun kelembagaan penyelesaian konflik yang lintas sektor dan memiliki kewenangan dan pendanaan untuk penyelesaian konflik yang bersifat proaktif 2. Tata batas kawasan hutan yang hanya pada batas luar dan belum 100%B
D3
KLHK Planologi dan Dirjen Tata Hutan Percepatan penyelesaian/penuntasan tata batas kawasan hutan dan memberikan tugas kepada KPH untuk menyelesaikan permasalahan dalam kawasan hutan di areal KPH dengan disertai dukungan pendanaan3. Belum adanya peraturan turunan dan prosedur operasional baku untuk
penyelesaian konflik yang lintas sektor
B
D3
KLHKDirjen Planologi dan
Tata Hutan
Penjabaran dan turunan lebih lanjut dari Perpres 88 tahun 2017 hingga prosedur operasional baku di tingkat lapangan
4. Penggunaan Energi Fosil (Diesel) yang tinggi dari sektor Pertambangan
B
D2
Kementerian ESDM MenteriPeraturan untuk pembatasan penggunaan energi fosil (Revisi/baru) dan perlunya badan independen yang bertugas mengawasi distribusi bahan bakar (solar) sehingga bisa terkendali 5. Peningkatan produksi listrik yang tinggi
(10%/ tahun) menggunakan bahan
bakar fosil (batu bara)
B
D2
Kementerian ESDM MenteriRencana terpadu pengembangan energi terbarukan di pedesaan pedalaman dan sekitar hutan yang sesuai dengan potensi wilayah
No BIDANG MASALAH KATEGORI STATUS CAPAIAN FAKTOR INSTITUSI PENANGGUNG JAWAB USULAN PENYELESAIAN PENYEBAB ATAU LEMBAGA KEMENTERIAN LEVEL JABATAN
lingkungan) harus mendapat
percepatan dengan melibatkan peran dan kontribusi semua Eselon I untuk bersinergi dan berkonvergensikan program
verifikasi/pengakuan wilayah masyarakat hukum adatDukungan kebijakan, akses modal dan bantuan teknis bagi peningkatan nilai HHBK , Jasa lingkungan dan Pemanfaatan Kawasan
7. Belum kuatnya implementasi
instrumen lingkungan hidup (KLHS, Ijin
Lingkungan) pada perencanaan
pembangunan dan investasi sektor
B
D3
KLHK DirjenPenguatan pelaksanaan instrumen lingkungan hidup (KLHS dan Ijin Lingkungan) ke dalam Perencanaan pembangunan dan investasi sektor kehutanan dan sumberdaya alam lainnya
8. Kurangnya pemanfaatan limbah kayu hutan alam (HA) dan hutan tanaman
industri (HTI), sehingga tidak
optimalnya pendapatan hasil hutan.
B
D2
KLHK DirjenPengurangan/penghapusan PSDH DR untuk kayu limbah bagi pengembangan usaha Mikro dan Kecil
H. PENUTUP
Meskipun pelaksanaan Rembuk Bidang 8 Lingkungan Hidup dan Kehutanan hanya dilaksanakan di Samarinda, Kaltim, tetapi hasil Rembuk Nasional Bidang 8 Lingkungan Hidup dan Kehutanan ini diharapkan telah dapat mencerminkan kondisi/kebutuhan secara nasional, dengan pertimbangan: (1) Kaltim salah satu barometer Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nasional; (2) Isu yang dibahas mencakup keseluruhan isu LHK Nasional; dan (3) Keikutsertaan para pihak Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang cukup lengkap. Kekuranglengkapan hasil Rembuk Bidang 8 Lingkungan Hidup dan Kehutanan diharapkan dapat disempurnakan pada Rembuk Nasional di Jakarta pada tanggal 23 Oktober 2017.
LAMPIRAN 1. PEMAPARAN NARA SUMBER
Pemaparan Narasumber sesi I - dimoderatori oleh Dr. Haryadi Himawan
• Moderator menjelaskan pada sesi penyampaian materi akan ada 3 isu besar yang disampaikan, yaitu : Kawasan, Konservasi SDA, dan Pembangunan Berkelanjutan Wahyu Widhi Heranata, Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Timur • Semenjak IUPHHK diberikan pada sektor swasta maka ketika itu memulai terjadi gap yang terjadi pada pengelolaan hutan antara pengusaha dan masyarakat di sekitar hutan • Dilandasi atas dasar terjadinya gap tersebut pemerintah Jokowi memasukkan konsep konsep pelibatan masyarakat dalam pengelolaan kehutanan atau diterjemahkan dalam program perhutanan sosial • Melihat Nawacita point 7 “menggerakkan ekonomi sektor strategis” konsep perhutanan sosial juga adalah upaya untuk mengubah paradigma masyarakat yang selama ini memandang hutan hanya sebatas pengelolaan kayu namun lebih daripada itu dimana pemanfaatan hutan dapat dioptimalkan dalam kerangka pembangunan yang lebih berkelanjutan yang tidak hanya bertopang pada hasil hutan kayu.
• Praktik baik penerapan konsep Perhutanan Sosial di Desa Kendilo Kabupaten Paser, dimana terjadi relasi yang baik antara unit manajemen, pemerintah dan masyarakat (pemutaran video) • Selama ini pemerintah belum mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sendiri, maka oleh sebab itu dalam pengimplementasian kebijakan untuk menunjang kebijakan-kebijakan itu perlunya melibatkan private sektor dan berbagai pihak • Perhutanan Sosial juga sebagai resolusi konflik karena ada kehadiran dari pemerintah, ada private sektor dan pihak masyarakat, semua pihak mempunyai keterlibatan dalam pengelolaan pembangunan hutan. Tunggul Butarbutar, GIZ – Forclime
• Ada kesan kuat dari lingkungan rimbawan bahwa sektor kehutanan sedang sunset padahal era sekarang adalah kesempatan untuk sektor kehutanan dapat bertumbuh, sekarang saja sudah dapat menyalurkan 150 komoditi yang ada di pasar, keadaan sunset itu dikarenakan penjualan kayu-kayu mahal yang dijual untuk plywood produk murah, disini kepentingan KPH hadir sebagai perwakilan negara, konflik dan masalah ekonomi sering terjadi karena tidak ada pengelolaan ditingkat tapak • KPH adalah sebuah jawaban tidak hanya sebagai persoalan ekonomi, tidak hanya soal pemantapan kawasan, tapi juga masalah iklim, pembangunan berkelanjutan, KPH hadir lalu bagaimana agar adanya kepastian kawasan terhadap wilayah yang dikelola, lalu bagaimana pembuatan perencanaan dilakukan, lalu bagaimana Perhutanan Sosial dapat diimplementasikan dan memastikan soal kelestarian lingkungan juga dimasukkan • Ketika ada institusi di tingkat tapak maka ada peningkatan, dimana yang pada fase awal suatu wilayah yang mempunyai potensi sangat rendah dapat ditingkatkan potensinya, KPH hadir untuk menjawab persoalan di kehutanan • Permasalahan saat ini adalah dorongan terhadap KPH juga belum terlalu kuat, juga ada tantangan baru dimana secara kebijakan juga dituntut pasca adanya UU pemerintah daerah
• Untuk menjawab tantangan, KPH harusnya mempunyai kewenangan yang jelas, mempunyai struktur organisasi yang kuat, finansial yang kuat, sumber daya manusia kuat, kompetensinya kuat dan perencanaan kelembagaan yang kuat.
• KPH bisa jadi media transformasi ekonomi ke depan yang tidak dimana kehutanan sudah tidak lagi dipandang sebagai salah satu sumber yang berpotensi untuk menghasilkan revenue • Kalau KPH hadir secara nasional KPH bisa menyediakan sekitar 7 juta lebih tenaga kerja, secara ekonomi KPH punya keleluasaan untuk berbisnis tidak harus mengurus bisnis sendiri tapi juga bisa mengorganisir bisnis atau mengajak investor
• Ditingkat KPH juga harus ada perubahan paradigma, dimana yang dulu pengelolaan sumber daya hanya dilekatkan pada kayu kini belum ditransformasikan pada sektor lain di kehutanan
Erma Wulandari, Yayasan Bumi
• Ada 3 permasalahan besar, yaitu : Belum adanya transparansi ijin kehutanan, lalu masih terjadi kesenjangan yang tinggi dari pengelolaan hutan yang berdampak terhadap konflik, Kebijakan yang multi tafsir olek pelaksana kebijakan
• Masih belum ada kesadaran secara kolektif dalam keterbukaan informasi di institusi pemerintahan, seperti data spasial dalam kawasan hutan yang masih dianggap tertutup KLHK menyatakan bahwa informasi geospasial berupa peta dengan format shapefile (shp) merupakan informasi dikecualikan, Dokumen Ijin masih tertutup, dan sebagian besar Instansi penerbit ijin menyatakan sebagai Informasi Dikecualikan.
• Keterbukaan dapat menjadi jaminan untuk penyelesaian konflik, memastikan kepastian kawasan masyarakat, sebagai informasi terhadap dampak kebijakan dan perijinan untuk masyarakat
• Perlu adanya percepatan penyelesaian konflik di sektor kehutanan, sebagian besar konflik yang terjadi adalah konflik tenurial selama ini model penyelesaian konflik di Kalimantan Timur pada khususnya hanya terfokus pada masing-masing sektor, melalui Perpres No. 88/2017 model penyelesaian konflik harus menjadi konsen pemerintah daerah yang harus segera dilakukan, selain memastikan ketersediaan alokasi anggaran untuk penyelesaian konflik
• Dalam level pengimplementasian kebijakan perbuatan sosial Proses administrasi PS cenderung lama dan fungsi koordinasi terlalu sentralistik, harusnya ada proses yang mudah seperti pemberian perijinan bisa dilakukan melalui KPH atau pihak pemprov, juga dukungan alokasi pembiayaan untuk PS yang sangat minim ditingkat provinsi
Listya Kusuma Wardhani, Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan Dirtjen KSDAE :
• Potensi kehutanan terutama dalam kawasan konservasi masih belum dimanfaatkan secara optimal;
• Secara keseluruhan ada 552 unit kawasan konservasi di Indonesia, Sudah ada 54 taman nasional
• Terhambatnya pengembangan konservasi karena masih diparadigmakan sebagai kawasan yang cenderung “terlarang” paradigma tersebut dikarenakan masih kurangnya sosialisasi terhadap kawasan konservasi padahal dasar-dasar penggunanya sudah lengkap
• Di Kaltim ada BKSDA yang berwenang untuk mengelola sekitar 175000 ha kawasan konservasi sumber daya alam
• IKK melakukan prioritas dalam 2015-2019 antara lain pengoptimalan KPHK, pengangkatan wisatawan ke kawasan konservasi, peningkatan populasi 25 spesies terancam punah, penguatan kemitraan KK
Yohanes Budi Sulistioadi, Phd, Pusat Pengembangan Informasi Geospasial Unmul
• Pemantauan permasalahan kehutanan dapat dipantau melalui ruang atas, sehingga inventarisasi permasalahan dapat diidentifikasi cukup mudah
• Deforestasi dan degradasi tahun 2006, 2009, 2011, 2012,2013,2014, 2015 (tampilan peta)
• Dari 1996 -2000 Kaltim mengalami deforestasi yang sangat besar, puncak tertinggi di tahun 2000
• Tutupan lahan : hutan cenderung menurun dan yang naik adalah kawasan perkebunan, • Identifikasi lubang tambang dan lahan terganggu akibat pertambangan : lahan
terganggu banyak didapati mulai tahun 2004 sapai 2016
• Estimasi luas lahan terbakar à 5200 ha terbakar dengan puncak tingginya kebakaran hutan terjadi di tahun 2015
• Pemanfaatan ekosistem karst, Mangrove dan gambut (tampilan peta) ada sebagian kawasan karst yang sudah menjadi areal konsesi
• Pemanfaatan drone untuk kualitas tambak : ada indikasi senyawa pirit yang diduga menurunkan kualitas air sangat signifikan (tampilan citra satelit) Diskusi – Pertanyaan/Masukan : • Topan – Apindo :terkait pernyataan bahwa rendahnya potensi kayu di kehutanan yang berarti ada potensi lainnya, apakah data tersebut diperoleh dari hasil penelitian atau sumber-sumber yang valid? • Ari – Rimbawan : 1. Dalam kerangka perhutanan sosial bagaimana proses/mekanisme sebelum kawasan hutan dilepas karena ada indikasi kawasan yang akan dilepas sangat luas. 2. bagaimana mekanisme setelah kawasan hutan dilepas. 3. Jangka waktu pola penyelesaian lahan pada kawasan lindung ada 20 tahun, harus ada batasan terhadap waktu penguasaan lahan, seperti luasan untuk lahan garapan, harusnya ada batasan dalam penggunaan lahan garapan, oleh karena itu ada regulasi untuk pembatasan lahan, 4. KPH – dari semua KPH 8 KPH saja masih belum terlalu kuat secara kelembagaan bagaimana dukungan terhadap KPH secara keseluruhan nanti • Indro Siswongko – APHI : 1. perhutanan sosial - bagaimana mendorongnya? Usulan – pentingnya akses dimana ada areal penguasaan HTI 20%, 2. kenapa areal konflik yang dikelola tidak dijadikan areal penyelesaian konflik. • Firdaus Noor - : KPH – KPH tidak lepas dengan UU pemda, tidak hanya ada konsekuensi dari kewenangan tapi juga pertanyaan masalah pendaan yang menjadi krusial dengan banyaknya HPH yag dikelola sebelumnya di kabupaten kini di kelola provinsi, seberapa besar dukungan pusat terhadap KPH, bagaimana bisa mensinergikan UPTD pusat dengan KPH yang ada, yang patut menjadi perhatian adalah dimana semuanya dilakukan dapat secara inline, Kaltim sudah ditetapkan sebagai project carbon fund, ini harus menjadi project bersama • Taufik – TNC : Perhutanan sosial, 12,7 juta ha diberikan dengan 5 skema dan 600 ribu hutan di Kaltim dan 100 ribu lebih yang sudah direalisasikan, ada problem pada pasca pengelolaan dimana masyarakat tetap harus dikawal, masyarakat masih mendapatkan ketidakpastian perijinan PS, perlu sinergi antar semua pihak. Harusnya, ada penguatan penataan lahan masyarakat, akses teknologi hutan yang berbasis potensi (di beberapa tempat masih bias) perencanaan pengelolaan : pemodalan.
Tanggapan
• Wahyudi Widhi – Dsihut Kaltim : Data penggunaan kayu yang hanya 5-10% adalah berdasarkan hasil beberapa penelitian, hal ini bukan sebagai pengucilan terhadap hasil hutan kayu tapi sebagai pemicu untuk pengoptimalan hasil hutan bukan kayu sehingga pengoptimalan hutan dapat dilakukan. Terkait adanya saran dimana pemerintah harus hadir ditingkat tapak - KPH sedang menjalankan fungsi-fungsi operasional mulai 1 Maret, sementara Dishut Provinsi hanya menjalankan fungsi administrasi. Terkait pendanaan KPH, banyak pihak yang memandang hal yang paling krusial adalah bagaimana implementasi KPH ke depan
• GIZ – Forclime : tidak ada dana APBN melalui OPD yang masuk dalam unit-unit KPH artinya ada 60% kawasan yang tertangani terkait anggaran.
• Idealnya persoalan kewenangan belum sepenuhnya clear tanpa dukungan terhadap kinerja KPH jika KHP adalah pengelola kawasan yang paling penting adalah terkait kewenangan dan tata hubungan KPH dengan instansi lain sehingga tidak ada lagi kasus KPH ditolak IUPHK
• Erma – Yayasan Bumi : Terkait minimnya pembiayaan untuk menunjang program kehutanan yang strategis ada peluang pembiayaan program pembangunan melalui alokasi DBH DR
Sesi II - Waktu : 14.30 WITA
APHI
• Secara nasional sektor kehutanan tidak lagi dijadikan sebagai tumpuan dalam pendapatan negara
• Kontribusi agrobisnis, yang paling dominan adalah industri hulu, dimana PDBnya cenderung besar • Melalui pemerintah, Jokowi memandatkan agar adanya terobosan baru dalam bidang kehutanan • Belajar dari Finlandia pendapatan dari sektor kayu menyumbang sebesar 2% dari ekspor kayu, hanya dengan ketersediaan lahan 20 juta ha hutan. • Perlu pembuatan roadmap secara jangka panjang dalam lingkup pengusaha industri di Indonesia • Dalam menjawab terobosan Jokowi telah dilakukan konfigurasi: industri berbasis kayu, agroforestry (20% ijin dari tanaman kehidupan) , ekowisata (crushied-kapal yang wisata yang bisa diakses singgah ke Kalimantan untuk pengoptimalan sektor wisata) , jasa lingkungan (11,3 juta ha untuk stock carbon), bioenergi (sebagai upaya tidak timpang pada usaha kayu semata)
• Harapannya dari semua transformasi peran dalam sektor usaha kehutanan dapat mengurangi kecenderungan dalam pembangunan kehutanan ada peningkatan kinerja IUPHHK, peningkatan PNBP dan kontribusi PDB, penurunan konflik lahan, pengembangan UMKM, penguatan kemandirian pangan Joko Sarjito, Forest Commodity and Market Transformation Strategic Leader - WWF Indonesia • Throwback - antara tahun 1980 sampai 2000 jumlah HPH mencapai 500-600 unit (tahun 1980-2000), produksi kayu bulat di Indonesia menentukan harga log pasar global dan sangat jarang terjadi konflik
• Sekarang - jumlah HPH menurun sampai tahun 2015 hanya 277 unit HPH, dan cenderung terjadi konflik baik konflik sosial maupun pada level kebijakan, dan harga log dalam negeri anjlok
• Menurut FAO kebutuhan kayu dalam pasar global maupun domestik akan terus meningkat, namun harusnya ada titik balik di bidang kehutanan, sudah ada 39 unit usaha kehutanan FSC sertifikat, lalu Indonesia berpeluang mengisi produk kayu ke Eropa karena SVLK diakui sebagai FLEG license • Peluang kayu pasar domestik sangat besar dikarenakan belum ada angka publikasi yang pasti, namun dengan adanya usaha dagang produksi kayu besar seperti Informa dan Ikea hal tersebut menjadi indikasi konsumsi kayu domestik cukup besar Agus Nuraini, Lembaga Pengelola Sumber Daya Alam - Desa Muara Siran
• Dalam tata kelola desa, desa Muara Siran sudah membuat peraturan penunjang pengelolaan tingkat desa seperti pembentukan tata ruang desa, ada juga pengoptimalan potensi gambut yang dikembangkan untuk meningkatkan potensi jasa lingkungan
• Ada pengoptimalan untuk pengelolaan potensi kayu namun selama ini masih terkendala untuk aspek perijinan
• Berkaitan dengan usaha masyarakat desa Muara Siran masih yang cukup berpotensi seperti usaha nelayan masyarakat, pertanian, keramba dan sarang burung walet
Dr. Rudianto Amirta, Kelompok Peneliti Energi dan bahan Alam – Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman
• Transformasi di sektor kehutanan, dimana hutan tidak lagi dianalogikan sebagai penghasil kayu saja tapi sebagai penghasil pangan, hutan sebagai lumbung energi, jasa lingkungan dan sarana pendidikan
• Namun masih ada realita dimana daerah yang memiliki kawasan hutan cukup besar namun infrastrukturnya masih terbatas, pada Desember 2014 Bappenas masih menyatakan masih terjadi krisis listrik yang cukup besar, daerah yang paling signifikan tidak teralirkan energi listrik adalah kabupaten Mahakam Ulu
• Infrastruktur ketenagalistrikan diwilayah pedesaan masih sangat kurang dan membutuhkan biaya tinggi
• Melihat kondisi sekarang, transformasi peran sektor hutan di Indonesia sudah beragam, seperti fosil energi, kimia dan jasa lingkungan, biomasa hutan energi
• Harus ada pengoptimalan biomassa sektor hutan, sudah ada pembelajaran terhadap beberapa kelompok tanaman untuk melakukan bioclavural, dan dari pembelajaran sudah teridentifikasi sudah ada beberapa tanaman yang mempunyai nilai bioenergi (ada potensi biomassa tanaman kehutanan yang relatif signifikan sampai angka 20%) dengan memanfaatkan energi biomassa hutan setidaknya sudah dapat menghidupkan beberapa titik wilayah rendah infrastruktur kelistrikan
• Dengan adanya pemanfaatan biomassa hutan sudah ada upaya pengalihan kebutuhan masyarakat ke energi yang terbarukan
• Inisiasi project pengembangan biomassa di Kabupaten Mahakam Ulu masih menjadi tantangan dimana ada daerah yang dikelilingi oleh potensi bio masa tanaman hutan namun tidak mempunyai infrastruktur kelistrikan yang memadai
• Pengembangan biomasa menggunakan pendekatan partisipatif oleh masyarakat
Prof. Enos Tangke Arung, Laboratory of Forest Products Chemistry Forestry Faculty, Universitas Mulawarman • Indonesia mempunyai potensi beberapa kekayaan seperti mamalia yang mencapai 12%, reptil 16%, 17% burung dan 25% dari populasi ikan secara global, Selain itu ada juga potensi stock carbon, jasa lingkungan, dan tanaman obat, • Faktor penghilang biodiversitas hutan antara lain seperti perkembangan pembangunan kelapa sawit dan pengembangan batubara
• Ada potensi tanaman yang sering ditemukan dalam lingkungan sekitar untuk penggunaan obat ataupun produk kosmetik
• Di dalam Permenhut p.35 2007 sudah menyebutkan ada kelompok tanaman yang digolongkan dalam tanaman obat, dan di dalam roadmap HHBK sudah ada menyebutkan peruntukan tanaman untuk obat-obatan (Biofarmaka) dengan mempunyai variable masing-masing (WHO : masih banyak masyarakat tradisional yang menggunakan obat-obatan tradisional)
• Beberapa daerah yang ditemukan tanaman obat, salah satu yang berpotensi untuk mempunyai nilai ekonomis adalah di wilayah KPH Berau Barat yaitu potensi jamur • Sudah ada produk obat dari tanaman hutan yang memunyai brand dengan omset yang
cukup tinggi
• Sudah ada identifikasi tanaman hutan untuk memproduksi kosmetik, sudah ada 20 jenis produk untuk bedak kecantikan
• Pengolahan produk yang cukup strategis saat ini sudah ada pengembangan produk kosmetik cream kecantikan yang bersinergi dengan Marta Tilaar
• Untuk menunjang maka perlu survey pemanfaatan hutan, survey produk lokal berbasis hutan untuk biofarmaka, perlu zonasi industri biofarmaka, perlu kerja sama dengan bermacam pihak utamanya untuk pengembangan produk dan validasi temuan yang sudah ada. • Dr Irawan Wijaya Kusuma, ULS TESD Unmul • Sudah ada inventarisasi awal HHBK di beberapa lokasi di Kukar seperti madu, sarang walet dan rotan • Inventarisasi HHBK di Kendilo : produksi buah-buahan hutan seperti durian, cempedak, mata kucing, langsat, rotan, bambu. • Strategi pemanfaatan HHBK à kebijakan yang mendorong HHBK menjadi penting à pengoptimalan sumber daya HHBK à tahapan perlu identifikasi tahapan mulai dari produksi sampai pasca produksi HHBK
LAMPIRAN 2. HASIL DISKUSI KELOMPOK
Hasil diskusi kelompok ditampilkan dalam bentuk tabel, dengan mengisikan Permasalahan, Kategori Capaian Kinerja, Analisa Faktor Penyebab Ketidaktercapaian, Institusi/Lembaga Penanggung Jawab dan Solusi Penyelesaian. Kategori capaian kinerja, diisikan dengan: A Kondisi capaian sesuai target atau lebih cepat dari rencana semula dan perlu apresiasi dan disosialisasikan B Kondisi capaian diperkirakan akan sesuai target namun perlu pengawasan dalam sisa waktu 2 tahun ke depan. Masukan diperlukan kepada K/L C Kondisi capaian diperkirakan akan melewati 2019 dimana diperlukan penataan ulang atau perlakukan khusus. Masukan sangat diperlukan kepada K/L D Kondisi capaian sangat kritis. Perlu analisa faktor penyebab dan siapkan penjelasan kepada publik kenapa bisa terjadi?
Adapun analisa faktor penyebab ketidaktercapaian, diisikan:
D1 Kesalahan perencanaan atau ketidak-sesuaian dengan kebutuhan atau kondisi di lapangan
D2 Hambatan kebijakan yang tumpang tindih atau regulasi yang tidak mendukung program D3 Rendahnya komitmen pejabat/organisasi atau entitas yang dipercaya menangani atau mengeksekusi D4 Masalah pembiayaan dikaitkan dengan kapasitas fiskal pemerintah (pusat dan daerah) D5 Masalah pembebasan lahan dan atau masalah sosial-politik D6 Program atau proyek dikhawatirkan dapat menyebabkan dampak lingkungan serius Adapun hasil diskusi masing-masing kelompok dapat dilihat pada bagian berikut:
HASIL DISKUSI KELOMPOK 1. Konflik Kehutanan, Kerusakan Lingkungan dan Masyarakat Tempatan/Adat No BIDANG MASALAH STATUS CAPAIAN INSTITUSI PENANGGUNG JAWAB USULAN PENYELESAIAN KATEGORI PENYEBAB FAKTOR ATAU LEMBAGA KEMENTERIAN LEVEL JABATAN
AKSES
1. Akses pengelolaan masyarakat terhadap
hutan masih rumit, lama dan mahal C D2 KLHK Dirjen PSKL Penyederhanaan urusan birokrasi dan regulasi
Integrasi layanan berbasis online 2. Komunitas yang hidup di sekitar
kawasan hutan masih kurang
pengetahuan terutama dalam cara pengelolaan kawasan hutan yang berkelanjutan C D1 KLHK Dirjen PSKL • Percepatan penetapan kawasan MHA yang sudah memenuhi syarat dengan SK Bupati • Pengawalan terhadap MHA lebih sederhana • Adanya badan atau dinas khusus untuk mensosialisasikan ke MA • Peningkatan SDM secara teknik untuk meningkatkan produksi ekonomi 3. Hutan masih dirasakan belum memberikan manfaat langsung terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar kawasan hutan C D1
KLHK Dirjen PSKL Peningkatan kesadaran (kampanye,
kurikulum dll)
4. Keterbatasan akses informasi masyarakat terhadap pengelolaan
hutan masih sangat rendah B D3
KLHK Dirjen PSKL Pendampingan komunitas masyarakat
untuk meningkatkan kapasitas dalam pengelolaan kawasan hutan
No BIDANG MASALAH KATEGORI STATUS CAPAIAN FAKTOR INSTITUSI PENANGGUNG JAWAB USULAN PENYELESAIAN PENYEBAB ATAU LEMBAGA KEMENTERIAN LEVEL JABATAN
menetap (kebun kopi, lada, karet, wisata alam) sehingga mereka tidak membuka lahan lagi
7. Tidak makmurnya masyarakat pada
kawasan hutan/ di luar kawasan C D3 KLHK Dirjen PSKL Pemerataan langsung menyentuh pembangunan masyarakat, yang
sebuah kegiatan yang nyata dan tidak sekedar seremonial
8. Belum jalannya amanat UUD 1945 Pasal
33 C D2 KLHK Dirjen Planologi dan Tata Hutan Sinkronisasi penggunaan lahan dengan perencanaan tata ruang
REGULASI
9. Tumpang tindih regulasi dan perijinan (konflik)
D D2
KLHK Dirjen Planologi
dan Tata Hutan • FPIC • Percepatan program one map • Perlu keterlibatan aktif pemerintah memediasi konflik • Inventarisasi konflik • Pembuatan SOP atau protokol penyelesaian konflik 10. • Kecenderungan ketertutupan (tidak transparan) Informasi Publik Kehutanan • Terbatasnya akses Informasi masyarakat B D3 KLHL Setjen Meningkatkan keterbukaan Informasi kehutanan yang dibutuhkan oleh publik 11. • Minimnya regulasi yang berpihak pada masyarakat • Konflik kepentingan regulasi dibuat untuk kepentingan kelompok/private B D2
KLHK Dirjen PSKL Membuka akses lebih luas bagi
masyarakat untuk memanfaatkan hutan diserta peningkatan pengetahuan akan azas kelestarian dan pemanfaatan teknologi
No BIDANG MASALAH KATEGORI STATUS CAPAIAN FAKTOR INSTITUSI PENANGGUNG JAWAB USULAN PENYELESAIAN PENYEBAB ATAU LEMBAGA KEMENTERIAN LEVEL JABATAN
12. Tidak mengertinya dan faham tentang
konservasi (secara fungsi global) C D3 KLHK Dirjen KSDAE Perlu adanya dukungan dan sosialisasi tentang konservasi dan wisata
lingkungan 13. • Terlalu banyak peraturan yang melemahkan daya saing dan sering tidak konsisten dalam pelaksanaan • Perubahan Peraturan Pemerintahan dan Perundangan yang tidak stabil (Inkonsistensi kebijakan perundangan disektor LHK dan sektor SDA lainnya) • Masih adanya aturan yang tumpang tindih B D2 KLHK Biro Hukum • Konsistensi pemerintahan sampai dengan pemerintahan lanjutan • Perlu roadmap kehutanan • Ekspor kayu bulat secara selektif dan terbatas • Ekspor saw timber dan perluasan penopang untuk produk wood working/moulding • Perlu adanya deregulasi peraturan dan perundangan di bidang lingkungan hidup dan kehutanan 14. Birokrasi dan proses perizinan yang panjang dan memakan waktu lama sehingga sangat menghambat operasional di bidang kehutanan. B D2 KLHK Biro Hukum Proses perizinan lebih disederhanakan dan waktunya dipercepat 15. Tumpang tindih perizinan dan kawasan B D2 KLHK Dirjen Planologi dan Tata Lingkungan • Pembangunan berbasis spasial • Hak ekonomi di dasarkan pada UUD 1945 Pasal 33 KEBIJAKAN
16. Kurangnya perhatian terhadap
No BIDANG MASALAH KATEGORI STATUS CAPAIAN FAKTOR INSTITUSI PENANGGUNG JAWAB USULAN PENYELESAIAN PENYEBAB ATAU LEMBAGA KEMENTERIAN LEVEL JABATAN
dibandingkan dengan sumber daya hutan yang dikelola • Tidak adanya sanksi serius terhadap pelanggaran perhutanan. • Perkuat lembaga KLHK dan lembaga penegak hukum
18. Pengelolaan LH dan Kehutanan belum
menjadi utama pembangunan di Kaltim B D3 Bappeda Kaltim Kepala Integrasi pengelolaan DAS dalam RPPLH dan Kehutanan dan KPH
19. Koordinasi dalam pengelolaan LH dan
Kehutanan masih lemah B D3 KLHK P3E Penetapan DAS prioritas dan rehabilitasi dan kawasan strategis provinsi
20. Perijinan yang tidak mendasar pada
kebutuhan masyarakat adat B D2 KLHK Dirjen Dukungan kebutuhan-kebutuhan masyarakat adat pemerintah terhadap
21. Tata ruang wilayah dan perijinan yang
tak terkontrol B D2 KLHK Dirjen Planologi dan Tata Hutan Mendorong pengelolaan Masyarakat Hukum Adat dan Hutan Adat
22. Tata Ruang disusun dengan buruk. Scientific community tidak banyak atau kurang dilibatkan karena memang terkesan sengaja dibuat tertutup agar kepentingan oknum elit aman. Pengendalian tata ruang jauh lebih buruk. B D2 KLHK Dirjen Planologi dan Tata Hutan Percepatan implementasi Portal Data Geospasial di setiap Kabupaten Kota sebagai wujud transparansi dan pengendalian ruang yang bertanggungjawab dan bertanggung gugat. Pelanggaran tata ruang harus di-branding sebagai tindak kejahatan khusus agar menimbulkan efek jera bagi oknum yang menyepelekan tata ruang. 23. Pemerintah diharapkan turun langsung memfasilitasi konflik kawasan dengan masyarakat B D3 KLHK Dirjen PSKL Penyadaran dan penegakan hukum harus lebih tegas 24. Begitu rumitnya perijinan/akses publik terhadap kegiatan bidang LHK B D3 KLHK Dirjen Planologi dan Tata Hutan Penyederhanaan birokasi dan akses publik yang luas dan bertanggung jawab 25. Kurang maksimalnya pemberdayaan
No BIDANG MASALAH KATEGORI STATUS CAPAIAN FAKTOR INSTITUSI PENANGGUNG JAWAB USULAN PENYELESAIAN PENYEBAB ATAU LEMBAGA KEMENTERIAN LEVEL JABATAN
26. Kementerian dipimpin oleh wakil partai bukan dari kalangan profesional/pejabat karir sehingga arah haluan kementerian lebih berat pada kepentingan politik golongan tertentu C D2 Presiden Rencana Pengelolaan Hutan Nasional perlu direvitalisasi dan diperbaharui serta perlu dilaksanakan secara murni dan konsekuen sehingga prinsip pemanfaatan hutan yang lestari dapat terwujud
27. Kebijakan dan pendanaan B D4 KLHK Setjen Pendanaan
28. Aparatur pemerintahan yang tidak
bersih B D3 KLHK Setjen Aparatur pemerintahan yang bersih
29. Kewenangan Kehutanan untuk daerah dari Pusat masih setengah hati. Biarkan provinsi mengelola hutan dengan baik sesuai kaidah-kaidah SFM. Pengelolaan hutan yang menjadi ujung tombak adalah pemerintah daerah dan masyarakat setempat/lokal, bukan dari Jakarta/Manggala. B D2 KLHK Setjen Berikan kewenangan penuh pada provinsi untuk mengelola hutannya. Hapus semua peraturan perundangan dalam pengelolaan hutan yang diatur oleh kementerian. Yang diatur hanya prinsip2 kelestarian, tapi cara dan prosedur pengelolaan hutan lestari serahkan kepada daerah. Serahkan asset hutan kepada pemerintah provinsi. Buat penegakan hukum yang keras terhadap pengrusak prinsip-prinsip kelestarian hutan. 30. Ketegasan dan komitmen dalam menerapkan regulasi yang terkait lingkungan hidup dan kehutanan masih belum maksimal Pengimplementasian kebijakan perhutanan yang masih absurd. B D3 KLHK Pemerintah dan aparat harus tegas menjalankan regulasi yang terkait lingkungan hidup dan kehutanan, tindak tutup mata terhadap korporasi besar
No BIDANG MASALAH KATEGORI STATUS CAPAIAN FAKTOR INSTITUSI PENANGGUNG JAWAB USULAN PENYELESAIAN PENYEBAB ATAU LEMBAGA KEMENTERIAN LEVEL JABATAN
konteks permasalahan yang ada di
lapangan jangan ada kebijakan antar dirjen yang konflik
32. Kelembagaan, Inklusivitas Dukungan Finansial, dan Aturan kebijakan yang saling berbenturan B D4 KLHK • Penguatan Kelembagaan serta Fokus pada perhutanan sosial sebagai dukungan lain dari penguat kelembagaan (bottom-up / community base - institusion base), • Secara bertahap memperbaiki aturan kebijakan yang saling berbenturan dalam upaya mendukung sinergitas pembangunan antar sektor • Dukungan finansial yang fokus dan terarah mengingat kondisi finansial nasional dan daerah yang menurun ANCAMAN
33. Masuknya perusahaan sawit karena perubahan status kawasan
B D2
KLHK Dirjen Planologi
dan Tata Hutan • Optimalisasi lahan perkebunan dengan luasan lahan yang sudah ada tapi menghasilkan hasil perkebunan yang lebih produktif dengan bibit unggul atau proses lainnya • Pemerintah tidak lagi mengeluarkan ijin HGU yang baru • Perlu penciutan ijin HGU yang sedang berjalan
34. Percepatan Infrastruktur mengancam
No BIDANG MASALAH KATEGORI STATUS CAPAIAN FAKTOR INSTITUSI PENANGGUNG JAWAB USULAN PENYELESAIAN PENYEBAB ATAU LEMBAGA KEMENTERIAN LEVEL JABATAN
35. • Kurangnya bahan-bahan dalam pelaksanaan upacara adat akibat masifnya kerusakan hutan • Kurangnya bahan obat-obatan dari tanaman hutan (termasuk bahan kerajinan rotan kurang) C D4
KLHK Dirjen PSKL Realiasasi pengakuan, pengembangan
dan perlindungan hutan adat
36. Pemburuan liar dan pembukaan lahan
(penebangan liar) B D3 KHLK Dirjen Gakkum Peningkatan dan biaya pencegahan penebangan untuk pemukiman liar
37. Banyaknya AMDAL terlalu dipaksakan karena dukungan agar investasi tidak
terhambat B D3
KLHK Dirjen Gakkum Terus menciutkan HGU, HPH, HTI yang
telah banyak diberikan di dalam kawasan hutan
38. Tidak tersedianya daya dukung dan daya tampung lingkungan secara cukup di
Kaltim C D3 KLHK Dirjen Gakkum Pemetaan daya dukung dan daya tampung LH dan Kehutanan 39. Konflik tenurial kawasan B D3 KLHK Dirjen Planologi dan Tata Hutan Optimalisasi serius dalam implementasi program perhutanan sosial 40. Besarnya tingkat eksploitasi hutan yang berlebihan dan alih fungsi hutan menjadi perkebunan semakin menurunkan tingkat produktivitas hasil hutan kayu/non kayu C D2 KLHK Dirjen Planologi
dan Tata Hutan Peran pemerintah dalam pengelolaan hutan yang berkelanjutan agar produktivitas hasil hutan semakin meningkat dan kesadaran masyarakat akan pentingnya hutan dibidang sektor perkebunan.
PENDANAAN
41. Kurang dana pembinaan terhadap lembaga adat (lembaga adat WEHEA)
B D4
KLHK Dirjen PSKL • Peningkatan SDM untuk lembaga
No BIDANG MASALAH KATEGORI STATUS CAPAIAN FAKTOR INSTITUSI PENANGGUNG JAWAB USULAN PENYELESAIAN PENYEBAB ATAU LEMBAGA KEMENTERIAN LEVEL JABATAN
• Pendanaan untuk lembaga adat WEHEA
42. Kurangnya pembiayaan untuk
konservasi (patroli dan fasilitas - WEHEA)
B D4 KLHK Dirjen Gakkum Peningkatan program dan konservasi berbasis masyarakat
43. Minimnya pembiayaan program
pembangunan hutan yang strategis (perhutanan sosial) B D4 KLHK Dirjen PSKL • Optimalisasi Dana Desa • Revisi PP No. 35/2002 tentang DR • Skema pembiayaan untuk Program Perhutanan Sosial masuk dalam rancangan UU APBN 2018 • Optimalisasi ADD untuk program kehutanan
44. Pengalokasian anggaran yang tidak
proporsional. Seharusnya anggaran berada pada tingkat tapak bukan pada
UPT C D4 KLHK Setjen • Mohon anggaran DBH DR dapat dimanfaatkan untuk kegiatna PS dan RHL, persyaratan menyulitkan akan berdampak hukum • Persyaratan dana pendamping APBD tidak disyaratkan
45. Tidak adanya anggaran untuk
mendukung kegiatan yang berhubungan dengan masyarakat di tingkat daerah C D4 KLHK Dirjen PSKL Diberikannya anggaran untuk daerah dengan jumlah yang proporsional sehingga terwujud kesejahteraan masyarakat TATA BATAS
46. Belum ada batas kampung atau batas wilayah dalam sebuah komunitas yang
dapat memicu konflik, dimana
masyarakat akan mudah diadu domba B D4
Kemdagri / Pemkab • Inventarisasi ijin dan batas wilayah
No BIDANG MASALAH KATEGORI STATUS CAPAIAN FAKTOR INSTITUSI PENANGGUNG JAWAB USULAN PENYELESAIAN PENYEBAB ATAU LEMBAGA KEMENTERIAN LEVEL JABATAN
• Harus ada peta batas wilayah ditingkat kampung yang jelas dan di SK kan oleh pemerintah Kabupaten 47. Belum teridentifikasi luas hutan yang
tersisa B D4 KLHK Dirjen Planologi dan Tata Hutan Percepatan program one map Inventarisasi hutan dan lahan 48. Belum termanfaatkan lahan B D2 KLHK Dirjen Planologi dan Tata Hutan Green Investment 49. Adanya kepentingan kelompok dalam
suatu wilayah C D3 KLHK Dirjen PSKL Pererat kerja sama instansi dan masyarakat adat
HASIL DISKUSI KELOMPOK 2. Aksi Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim dalam Pemenuhan Nationally Determined Contributions
No BIDANG MASALAH KATEGORI STATUS CAPAIAN FAKTOR INSTITUSI PENANGGUNG JAWAB USULAN PENYELESAIAN PENYEBAB
KEMENTERIAN
ATAU LEMBAGA LEVEL JABATAN
50. Tidak adanya transparansi terhadap
manajemen energi B D2 KESDM Dirjen`
51. Pengelolaan habitat/ekosistem penting dan satwa liar langka dan hampir punah belum menjadi prioritas dalam dokumen-dokumen rencana pembangunan C D2 Bappenas Dirjen
Ekosistem penting harus terintegrasi dalam perencanaan pembangunan dan dokumen-dokumen perencanaan lain terkait perubahan iklim dan pengelolaan KPH
52. Masih ada gap pengetahuan/ informasi tentang emisi dan isu-isu perubahan iklim baik nasional dan sub nasional atau di sub nasional sendiri.
B D3 Bappenas
Peningkatan SDM dan sosialisasi beberapa dokumen tentang emisi/ isu terkait (RAN-GRK, Masterplan Perubahan Ilkim, ERPIN, ERPD, dll)
No BIDANG MASALAH KATEGORI STATUS CAPAIAN FAKTOR INSTITUSI PENANGGUNG JAWAB USULAN PENYELESAIAN PENYEBAB ATAU LEMBAGA KEMENTERIAN LEVEL JABATAN
Bahan bakar diesel • Pemakaian bahan bakar (Solar) subsidi yang sangat tinggi sampai melebihi kuota • Perlu ada badan independen yang bertugas mengawasi distribusi bahan bakar (solar) sehingga bisa terkendali 54. Peningkatan produksi listrik yang tinggi (10%/ tahun) menggunakan bahan bakar fosil (batu bara) C • Energi baru terbarukan belum berkembang • Feed in tarif (Harga beli) yang rendah dari PLN
KESDM PLN, ESDM, & Pemprov Rencana terpadu pengembangan energi terbarukan di pedesaan yang sesuai dengan kemampuan 55. Implementasi kebijakan bidang kehutanan sangat kuat, tapi aplikasinya masih lemah. Ditambah kepentingan lainnya tentang kehutanan dan juga politik tanpa mengembangkan sektor bisnisnya. Dan sistem perbaikan bagi kelestarian lingkungan dan C D2 KLHK Perlu ditingkatkan perannya, khususnya kebijakan yang tepat sasarannya kepada masyarakat dan lingkungan hidup dengan semangat kebersamaan multipihak kearah rehabilitasi sehingga hutan dan lahan menuju restorasi, sehingga hutan menjadi lestari dan
No BIDANG MASALAH KATEGORI STATUS CAPAIAN FAKTOR INSTITUSI PENANGGUNG JAWAB USULAN PENYELESAIAN PENYEBAB ATAU LEMBAGA KEMENTERIAN LEVEL JABATAN
ekonomi untuk masyarakat sekitar hutan.
56. Disharmoni kebijakan pembangunan
C D2 Bappenas Harus ada transformasi ekonomi ke arah berkelanjutan yang tidak tergantung
dengan tambang dan migas
57. Khusus Kaltim masih tergantung sektor
ekonomi pada tambang dan migas C D2 Bappeda Penyelarasan peraturan agar tidak tumpang tindih.
58. Aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim belum sepenuhnya menjadi mainstream dalam rencana pembangunan, baik di tingkat OPD maupun di tingkat masyarakat. Pemahaman tentang isu ini hanya sampai pada sedikit pejabat pemerintah pada level kepala dinas dan pada kelompok NGO/lembaga kerjasama internasional. Kondisi ini mengakibatkan terjadinya gap antara gagasan/deklarasi pencapaian aksi penurunan emisi dan realita pada pelaksanaan program pembangunan. B D3 KLHK Dirjen PPI 1) Melakukan peningkatan kapasitas secara serius bagi pemegang/pelaksana program. 2) Mengalokasikan sumberdaya manusia yang mempunyai kapasitas menjadi leader dalam isu ini. 3) Mengalokasikan anggaran dengan jumlah yang memadai untuk point 1 & 2. 59. Perizinan tambang, capaian reklamasi, revegetasi tambang pada kawasan hutan B D3 KLHK Inventarisir kegiatan perizinan tambang, bukaan, reklamasi dan revegetasi 60. Perbedaan pendapat tentang sistem pendanaan untuk mengatasi B D2 KLHK Pendanaan dalam negeri yang memadai
No BIDANG MASALAH KATEGORI STATUS CAPAIAN FAKTOR INSTITUSI PENANGGUNG JAWAB USULAN PENYELESAIAN PENYEBAB ATAU LEMBAGA KEMENTERIAN LEVEL JABATAN
kebijakan secara menyeluruh hingga tingkat daerah
HASIL DISKUSI KELOMPOK 3. Bisnis Masa Depan Kehutanan
No BIDANG MASALAH KATEGORI STATUS CAPAIAN FAKTOR INSTITUSI PENANGGUNG JAWAB USULAN PENYELESAIAN PENYEBAB ATAU LEMBAGA KEMENTERIAN LEVEL JABATAN
62. Keterlibatan pasar domestik kita saat ini
belum digarap secara maksimal.
C D2 LKPP, BAPENAS, Presiden, BPK Eselon I
Presiden perlu menerbitkan kebijakan yang mewajibkan semua penggunaan dana APBN/APBD terkait pengadaan kayu wajib menggunakan kayu ber-SVLK. Hal ini diikuti juga dengan kebijakan lainnya yang mesupport hal tersebut. Misalnya aturan audit dari BPK terkait penggunaan anggaran pengadaan kayu VLK, kebijakan percepatan industri pengolahan kayu kecil dan menengah untuk mendapatkan sertifikat VLK. 63. Ketidaktersediaannya database komplit
dalam memetakan segala
potensi-potensi yang dimiliki sektor kehutanan. C D3
Menyusun database potensi Indonesia secara detail
64. Kurangnya pemanfaatan limbah kayu hutan alam (HA) dan hutan tanaman industri (HTI), sehingga tidak optimalnya pendapatan hasil hutan.
B D2
Penghapusan/Pengurangan PSDH bagi
usaha mikro dan kecil yang
memanfaatkan kayu limbah 65. Mindset masyarakat yang lebih tertarik
pada sektor selain hutan. C D3
Meningkatkan atraktifitas /skema
kegiatan kehutanan bagi masyarakat (Aturan yang sederhana)
No BIDANG MASALAH KATEGORI STATUS CAPAIAN FAKTOR INSTITUSI PENANGGUNG JAWAB USULAN PENYELESAIAN PENYEBAB ATAU LEMBAGA KEMENTERIAN LEVEL JABATAN
66. Menurunnya produktivitas HHK dan
HHBK. C D3 Mengurangi laju deforestasi dan degradasi (Evaluasi pemegang ijin)
67. Pengeksploitasian hutan tidak terkendali
(Dipertimbangkan dihapus) C D3 Sama dengan 75
68. Semakin minimnya lahan pertanian hutan yang mulai menghilang dan
beralih fungsi. (Dipertimbangkan
dihapus)
C D2 Badan Litbang dan Inovasi
69. Kebijakan RTRW yang tumpang tindih.
(Dipertimbangkan dihapus) D D2
Penetapan perda RTRW harus clear 70. Implementasi masterplan pembangunan
ekonomi berbasis Hutan dan LH.
(Dipertimbangkan dihapus) B D3
71. Untuk wilayah Kaltim, HPH hanya
berbasis pada ekonomi kayu saja. C D3 • Kebijakan khusus, kewajiban dalam pengembangan HHBK di HPH berdasarkan potensi masing-masing; • Pembuatan Pilot Project HHBK di setiap HPH; • Kerjasama masyarakat dan HPH dalam pengembangan HHBK (di dalam/di luar kawasan)
72. Pembudidaya gaharu yang belum optimal. Harga gaharu mahal, budidaya gaharu sudah banyak dilakukan namun belum berhasil dalam inokulasi-hingga
C D3
• Kebijakan khusus bagi implementasi pengembangan HHBK.
• Riset-inokulasi tepat guna untuk pemanenan gaharu;
No BIDANG MASALAH KATEGORI STATUS CAPAIAN FAKTOR INSTITUSI PENANGGUNG JAWAB USULAN PENYELESAIAN PENYEBAB ATAU LEMBAGA KEMENTERIAN LEVEL JABATAN
73. Rotan (furniture) dan minim SDM yang terampil. Harga rotan yang dulu mahal, tapi saat ini sangat murah sekali C D3 • Identifikasi pasar rotan • Mendorong penyediaan pasar rotan untuk dalam negeri dan ekspor • Pelatihan dan pendampingan pembudidaya rotan 74. Modal yang sangat minim dalam HHBK
Madu namun tuntutannya tinggi dan minim promosi.
C D4 Bantuan modal usaha bagi pengusaha kecil
75. Pembiayaan khusus dari pemerintah terkait pengimplementasian semua kebijakan di LHK, kehutanan hanya dianggap sebagai sektor “komoditas”, (Dipertimbangkan dihapus)
C D4
76. Kurangnya pemanfaatan akan konsep hutan konservatif seperti TNK, TAHURA,
dan lain-lain. C D3
Meningkatkan ekowisata, keterampilan, penyediaan sarana, dan lain-lain 77. Kurangnya perhatian/fokus para praktisi ilmu kehutanan/LH pada kemajuan pembangunan LHK yang berdaya saing dan lestari C D3 Mengembalikan/menyerahkan kembali fungsi-fungsi praktisi keilmuan (dosen/pengajar) yang saat ini di kawasan sangat menurun (jangan mempolitisasi lembaga pendidikan) 78. Orientasi bisnis kehutanan harus fokus ke bisnis kayu HTI, tumbuhan obat dan satwaliar, selama ini tidak fokus C D2 Membangun sentra bisnis tersebut segera atau meneruskan yang sudah ada 79. • Peningkatan sumber daya manusia dalam pengelolaan sumberdaya hutan dan lingkungan diluar industri perkayuan, seperti jasa lingkungan, C D4 • Peningkatan alokasi dana APBN atau dari pihak lain yang tidak mengikat yang lebih tepat sasaran dan mengarah pada penguatan industri
No BIDANG MASALAH KATEGORI STATUS CAPAIAN FAKTOR INSTITUSI PENANGGUNG JAWAB USULAN PENYELESAIAN PENYEBAB ATAU LEMBAGA KEMENTERIAN LEVEL JABATAN
wisata dan pengelolaan limbah kehutanan • Pendanaan: tingkat kerjasama dengan para pihak untuk pendanaan pengelolaan kehutanan di luar kegiatan perkayuan, peningkatan pendanaan untuk daerah dalam pengelolaan dan perlindungan hutan, khususnya dalam kerangka perubahan iklim; • Peningkatan kerjasama dengan para pihak di bidang kehutanan dan lingkungan hidup • Peningkatan dan penguatan kebijakan dibidang kehutanan dan lingkungan hidup - khususnya penegakan hukum di bidang lingkungan HASIL DISKUSI KELOMPOK 4. Penguatan Kesatuan Pengelolaan Hutan
No BIDANG MASALAH KATEGORI STATUS CAPAIAN FAKTOR INSTITUSI PENANGGUNG JAWAB USULAN PENYELESAIAN PENYEBAB ATAU LEMBAGA KEMENTERIAN LEVEL JABATAN
80. Ketidakjelasan dukungan dari
Pempus/KLHK alokasi untuk penguatan
KPH dalam APBN B D4 KLHK
Nasional dan Propinsi
Dishut Provinsi & KLHK menghitung nilai anggaran secara keseluruhan untuk pengantar KPH, hingga mencapai KPH yang mandiri
No BIDANG MASALAH KATEGORI STATUS CAPAIAN FAKTOR INSTITUSI PENANGGUNG JAWAB USULAN PENYELESAIAN PENYEBAB ATAU LEMBAGA KEMENTERIAN LEVEL JABATAN
dokumen-dokumen rencana
pembangunan termasuk RP KPH dokumen rencana pembangunan, termasuk dipertimbangkan dalam
pemberian ijin lingkungan
82. Belum dapat dipastikan keberadaan
multi fungsi kawasan hutan dijamin secara legal jangka panjang sebagai dasar pembangunan multi fungsi hutan
dan lingkungan secara berkelanjutan; B D3 KLHK
Dirjen Planologi dan Tata Hutan
Perlu adanya percepatan pelaksanaan ”pengukuhan kawasan muti fungsi hutan” sehingga seluruh kawasan multi fungsi hutan benar-benar telah ”Clear dan Clean” sebagai dasar pengelolaan hutan dan lingkungan berkelanjutan ke depan;
83. Pembangunan lingkungan hidup dan
kehutanan dirumuskan berdasarkan fungsi hutan (Eselon I : Dirjen PHPL à
HP+HPT; Dirjen KSDAEà Hutan
Konservasi, dst) yang tidak
mempertimbangkan diperlukannya
”sinergisitas dan konvergensitas”
program sebab setiap fungsi hutan (HP-Hkdan HL) memiliki manfaat Ekonomi – ekologi dan sosial à Jangan mengkotak-kotakan peran-fungsi dan kontribusi Eselon I berdasarkan fungsi hutan dalam pengelolaan multi fungsi sumberdaya hutan berkelanjutan
C D3 KLHK Dirjen
Perlu segera dilakukan pemetaan dan
perlindingan serta pengamanan
kawasan multi fungsi hutan yang telah dikukuhkan untuk menghindari adanya kawasan multi fungsi hutan yang ”open akses”
84. Belum dapat diwujudkannya
optimalisasi peran masyarakat sebagai
”aktor” pengelola multi fungsi
sumberdaya hutan; C D3 KLHK Dirjen PSKL
Segera dilakukan MONEV terhadap kinerja pemegang IUPHHK-HA/HK serta
menyusun rencana aksi untuk
percepatan kepastian bahwa hutan produksi dikelola berdasarkan prinsip –
No BIDANG MASALAH KATEGORI STATUS CAPAIAN FAKTOR INSTITUSI PENANGGUNG JAWAB USULAN PENYELESAIAN PENYEBAB ATAU LEMBAGA KEMENTERIAN LEVEL JABATAN
dilakukan dengan ”memobilisir dan memerankan potensi para pihak yang berkompetensi dan berkomitmen, termasuk program bantuan kerjasama LN;
85. Masih belum diberikannya dan
diposisikannya Pemerintah Daerah untuk dapat berperan dan berkontribusi dalam pengelolaan multi fungsi hutan, utamanya Hutan Konservasi yang ke depan memiliki nilai ekonomi yang tinggi pula;
C D2 KLHK Dirjen KSDAE
Segera dilakukan percepatan untuk memosisikan dan memerankan hasil hutan non kayu (HHNK) dan jasa
lingkungan dengan melakukan
identifikasi – pemetaan – memvaluasi-nya dan memanfaatkannya. Pola-pola kemitraan dan kolaborasi serta
memerankan masyarakat dalam
pengelolaan HHBK dan Jaslinghut
86. Pembangunan dan pengembangan
peran KPH (sebagai garda terdepan pembangunan sumber daya hutan dan lingkungan) harus mendapat percepatan dengan melibatkan peran dan kontribusi semua Eselon I untuk bersinergi dan berkonvergensikan program
B D3 KLHK Dirjen Planologi dan Tata Hutan
Percepatan penguatan keberadaan KPHP/L/K dalam kelembagaan dan
kemampuan merupakan langkah
strategis untuk mengopersionalkan
program dan rencana aksi
pembangunan multi fungsi sumber daya hutan berkelanjutan di tingkat tapak