• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hematologi_Prof. Dr. Pengarapen Tarigan, Sp. PD, KGEH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Hematologi_Prof. Dr. Pengarapen Tarigan, Sp. PD, KGEH"

Copied!
139
0
0

Teks penuh

(1)

HEMATOLOGI

I. HEMOPOESIS = proses pembuatan darah.

RES ( Medulary / SST dan extra medulary ( hati, limpa, jaringan lemak, paraspinal). SST 20-30% , membentuk sel darah, extra medulary : terlihat darah mengandung bentuk anisositosis

polikilositosis dan sel2 muda.

Sel darah / induk multipotensial, uni potensial, sel matang (eritrosit, granulosit, trombosit, limfosit D/T, normosit)

- darah berbentuk/butir darah (eritrosit / leukosit / trombosit).

- darah tanpa berbentuk / plasma (molekul air, protein, lemak, CHO, vitamin, enzim yang larut dalam plasma)

(2)

Komponen atau kompartemen :

1. Sel darah (sel induk, sel bakal, sel matur)

2. Stroma atau lingkungan mikrohemopoetik (LMH)

K1 = benih, K2 = tanah, K3. benih dan tanah

3. Zat pemicu menstimulasi sel darah untuk berproliferasi,

diferensiasi, berfungsi sesuai tugas yg sudah direncanakan

hemopoetic growth factors (HGF) – FPH (faktor pertumbuhan

hemopoetik)

FPH / HGF : - akhiran CSF-GMCSF-GCSF- MCSF (colony

stimulating factor)

- awalan IL:IL-1,IL-2,memakai nama khusus : Stem Cell

Factor (SCF), eritropoeitin, trombopoeitin.

(3)

II. PENDEKATAN PASIEN ANEMIA

Defenisi :

“massa eritrosit”(hemoglobin,hematokrit,hitung eritrosit) ketiga

parameter bisa tidak sejalan (dehidrasi, kehamilan, perdarahan).

WHO HB < 13 gr % untuk ♂, dewasa tdk hamil 12 gr%, hamil 11gr%, klinik HB < 10 gr%,(berat<6 gr%,sedang<8 gr%) angka ini dipengaruhi oleh (kelamin, umur, kehamilan, ketinggian tempat tinggal diatas permukaan laut). Debilitas kronik  kesejahteraan sosial dan ekonomi & fisik.

Anemia ringan : asimtomatik  sering tidak dikenali ! Anemia : - bukan peny. tersendiri (disesase)

- gejala berbagai penyakit dasar /underlying disease, dispepsia (tukak & non tukak)

- anemia ec ? : peny. Kronik, def. besi, aplastik, dsb.

Masalah medik yang paling sering dijumpai, masalah kesehatan negara

berkembang (30% penduduk atau +1500 juta terkena anemia terutama tropik )

Patofisiologi:“anoksia organ” dan meningkatnya mekanisme kompensasi akibat kurangnya oksigen - takikardi + RR 

(4)

“Klasifikasi Anemia“

Penyebab / Etiologi dan Morfologi

1. Etiopatogenesa

1.1. Gangguan pembentukan eritrosit dalam SST

1. Defisiensi besi, folat, vit B 12

2. Ggn penggunaan besi : penyakit kronik, sideroblastik.

3. Kerusakan SST: - aplastik

- mieloptisikk

- keganasan hematologik

- diseritropoietik

- sindroma mielodiplastik

- anemia peny. ginjal/kekurangan eritropoietin

1.2. anemia akibat hemoragi : akut & kronik

1.3. Anemia hemolitik : intrakorpuskular & ekstrakorpuskuler

1.4. Idiopatik

(5)

2. Klasifikasi anemia berdasarkan morfologi & Etiologi “Wintrobe”

2.1. Anemia hipokromik mikrositer MCV < 80 fl, MCH < 27 g.

2.2. Anemia normokromik normositer MCV 80 – 95 fl, MCH 27-34 g 2.3. Anemia Makrositer:megaloblastik & non megaloblastik MCV > 95 fl

Klasifikasi anemia berdasarkan morfologi & Etiologi

I. Anemia hipokromik mikrositer : a. Anemia def. besi,

b. Thalassemia major,

c. Anemia akibat peny. Kronik d. anemia sideroblastik

II. Anemia normokronik normositer : a. anemia pasca perdarahan akut b. Anemia aplastik

c. Anemia hemolitik didapat

d. Anemia akibat penyakit kronik e. Anemia pada gagal ginjal kronik f. Anemia pd sindrom mielodisplastik g. Anemia pd keganasan hematologik III. Anemia makrositer

a. Bentuk megaloblastik (a.def besi asam folat,a.def B12 termasuk a pernisiosa) b. Bentuk non megaloblastik ( a.pada peny. hati kronik, a. pada

(6)

1. Klinik / gejala anemia :

- Gejala umum anemia : simtomatik Hb < 7 gr % : 1. anoksia organ,

2. mekanisme kompensasi (akibat kurangnya daya angkut O2). Takikardi, RR 

Berat ringannya : Hb, kecepatan penurunan Hb, usia, kel. jantung dan paru sebelumnya.

”Sindroma anemia”: lemah, lesu, cepat lelah, tinitus, berkunang kunang, kaki dingin, sesak nafas, dispepsia

pemeriksaan:pucat (conjungtiva pal inferior,telapak tangan,jaringan dibawah kuku,mukosa mulut.

Gejala khas : - anemia defisiensi besi : disfagia, atrofi papil lidah, stomatitis angularis, kuku sendok (koilonychia).

- a. megalobalstika : glositis, ggn neurologik (vit B 12) - a. hemolitik : ikterus, splenomegali dan hepatomegali - a. aplastik : perdarahan dgn tanda infeksi.

- Gejala peny.dasar : cacing tambang–sakit perut,pembengkakan parotis. Warna kuning telapak tangan, penyakit sendi/AR (Tidak spesifik

(7)

2. Lab:

-

Skrining anemia ( Hb, indeks, Ht, hitung, eritrosit, hapusan

darah tepi)

anemia dan jenis morfologik

-

Pemeriksaan darah seri anemia (leukosit, trombosit, hitung

retikulosit, LED)

(Automatic Hematology Analyzer)

-

SST sistem hemotopoesis ( aplastik / megaloblastik)

-

Khusus :

def. besi ( TIBC, SI, saturasi transferinm,serum feritin

megaloblastik : serum folat / vit B 12 / Schiling tes

hemolitik : bilirubin serum, tes Coomb, elektroforesis Hb

Aplastik : biopsi sumsum tulang

(8)

Pendekatan Diagnosis anemia : 1. adanya anemia 2. jenis

3. etiologi / peny. dasar 4. penyakit penyerta

1. Tradisional : - anamnese fisik - Lab rutin

2. Morfologik / darah tepi, fisiologik, probabilistik / pola etiologi  diagnosa anemia

3. Pendekatan klinis :

a. kecepatan timbul : cepat : - perdarahan akut, - hemolitik

- leukemia, - krisis aplastik - hemolitik kronik

pelan : def.besi., def. folat / B 12, penyakit kronik b. beratnya anemia - def. besi, aplastik, leukemia, hemolitik/thalasemia

mayor paska perdarahan akut , GGK c. gejala menonjol

“Ideal” : klinis & Lab !

(9)

3. Terapi : 1. Berdasarkan diagnosis definitif

2. pemberian hematinik tanpa indikasi tidak dianjurkan 3. Pengobatan anemia

3a. Keadaan darurat perdarahan akut yg mengancam jiwa pasien a.aplastik - perdarahan akut disertai ggn hemodinamik - TD < 100, Nadi > 100,

- Hb < 10, Ht < 30 3b. Supoprtif

3c. Khas masing - masing anemia 3d.Kausal / penyakit dasar

4. Diagnosa belum definitip : exjuvantivus

5. Transfusi - perdarahan akut dgn ggn hemodinamik

- kronik : - bila simtomatis – payah jantung PRC - Dapat diberi diuretika / furosemid

(10)

III JENIS ANEMIA

1. Anemia aplastik

a. anemia aplastik (hipoplastik, refrakter), kegagalan

hemopoiesis jarang ditemukan bisa berpotensi mengancam,

jiwa !

-

Pansitopenia

, hipoplasia berat / aplasia SST tanpa ada

penyebab primer yang menginfiltrasi SST: - Akusita

- Herediter

Insidensi 2-6 kasus 1 juta

jarang

!

variasi geografis !.

Timur > Barat 15 – 25 tahun , > 60 thn puncak ke 2

♂ > berat dari pada ♀

(11)

Klasifikasi anemia aplastik :

klasifikasi Kriteria

Anemia aplastik berat

 selularitas sumsum tulang < 25 %

 sitopenia sedikitnya 2 dari  hitung neutrofil < 500 / L 3 seri sel darah  hitung trombosit <20.000/L  hitung retikulosit absolut < 60.000/L

Anemia aplastik sangat berat sama seperti diatas kecuali neutrofil

< 200 / L

Anemia aplastik tidak berat Sumsum tulang hiposelular namun

sitopenia tdk memenuhi kriteria

berat

Angka kematian setelah 2 thn perawatan supportif + 80 %.Kematian karena infeksi jamur dan sepsis bakteria. Aplastik tidak berat tidak memerlukan terapi .

(12)

- Etiologi : dahulu a.aplastik dianggap paparan bahan kimia/obat (Chloramphenicol / benzena) hipersensitifitas / over dosis, (radiasi,kemoterapi, obat2an), genetik, infeksi, imunologik, penyakit (leukemi dan idiopatik)

- Peny. Infeksi : hepatitis Non A,B,C (EBV,CMV,HIV/AIDS, DBD, TBC milier)

A. aplastik timbul selama kehamilan sementara, karena

estrogen disertai predisposisi genetik sembuh setelah terminasi kehamilan dan berulang pada kehamilan berikutnya.

A. aplastik tanpa diketahui sebelumnya disebut idiopatik sebagian besar.

Patogenesa : - “Defisiensi stem cell”  pembuktian penderita a. aplastik sembuh dengan transplantasi SST !

- Kegagalan hemopoeitik (SST kosong). Pemeriksaan MRI SST di isi dgn jaringan lemak

- Mekanisme imunologi (baik dgn terapi imunosupresi !)

- Destruksi imun - limfosit menekan homopoesis dengan faktor penghambat interferon .

- Direct toksisitas dan defisiensi faktor pertumbuhan hemopoeitik tidak dijumpai

(13)

Keluhan pasien anemia aplastik (n=70) (Salonder 1983)

Jenis keluhan

%

Perdarahan

83

Badan lemah

30

Pusing

69

Jantung berdebar

36

Demam

33

Nafsu makan berkurang

29

Pucat

26

Sesak nafas

23

Penglihatan kabur

19

Telinga berdengung

13

- Manifestasi klinik: - beberapa hari / mendadak / akut, berminggu berbulan / kronik

- pucat,fatiq,dispneu,takikardia, tombositopenia: (mudah memar, perdarahan mukosa),neutropenia

(14)

Pemeriksaan fisik pada pasien a.aplastik (N=70) (salonder 1983)

Jenis pemeriksaan

%

Pucat

100

- Perdarahan

63

Kulit

34

Gusi

26

Retina

20

Hidung

7

Saluran cerna

6

Vagina

3

- Demam

16

- Hepatomegali

7

- Splenomegali

0

(15)

Laboratorium: Pansitopenia stadium awal tidak selalu dijumpai.

Jenis anemia = “normokrom normositer”, makrositosis,

anisositosis, poikolositosis. Bila dijumpai eritrosit dan

lekosit muda darah tepi menandakan bukan anemia

aplastik.

LED

, faal hemostatis memanjang, retraksi bekuan

buruk (trombositopenia, SST a. aplastik)

Radiologi :

- MRI / luasnya perlemakan SST

- Bone Marrow Scanning (luasnya kelainan SST)

DD

- anemia Fanconi (biasanya anak2)

- Myelodisplasia Hiposellular

- Leukemia Limfositik Granular Besar

(16)

Terapi :

Imunosupresif atau transplantasi SST

- Usia pasien muda donor saudara yg cocok faktor risiko infeksi aktif atau beban transfusi dianjurkan transplantasi SST atau immunosupresi .

- TST (umur muda neutrofil ) imunosupresi (umur tua, neutrofil ) - Imunosupresi ATG ( Anti thymocyte globulin) / kuda & kelinci lebih unggul dpCsA, kombinasi lebih baik !

- ALG ( antilymphocyte globulin)

- G-CSF ( granulocyte colony stimulating factor) memulihkan neutopenia - CsA (cyclosporin A)

ATG kelinci 3-5 mg / Kg / hr  5 hr + CsA (12-15 mg/Kg bid) Respon terhadap ATG + CsA = prognosa baik !

Siklofosfamid dosis tinggi lini pertama. Kasus2 tertentu !

Tidak respon CsA : salah diagnosa, under treatment, patogenesis non imun kelelahan cadangan sel2 asal sebelum pemulihan hemopoeitik.

- Steroid anabolik

Kombinasi : steroid + ATG remisi 46 %, ATG + Steroid + CsA : 70 %

Dosis : methil prednisolon 5 mg oral / /Kg BB / hr selama 3 bln, seminggu berangsur dikurangi selama 3 minggu dosis CsA 6 mg oral / Kg/BB / hr selama 3 bln.

(17)

Anemia Aplastik Berat

Transplantasi SST Terapi imunosupresif

Turunkan CsA dlm 6 bln Ulangi pemberian ATG/ALG

Ulangi terapi imunosupresif

Faktor pertumbuhan hematopoietik atau androgen atau matched

unrelated transplant Follow up

teratur

Tidak kambuh

Tidak ada respon ada respon

Kambuh

Tidak ada respon ada respon

Usia < 35 thn dengan HLA matched sibling

Usia > 35 thn atau tidak ada HLA matched sibling

(18)

ATG atau ALG :

1. A. aplastik tidak berat

2. tidak ada donor SST cocok

3. A. aplastik berat umur > 20 thn, tanpa infeksi/perdarahan atau

granulosit >200 mm

3

mencegah alergi

steroid 1mg/kgBB.

Penggunaan ALG dapat meningkatkan keganasan sekunder/

leukemia akut, mielodisplasia, hepatoma, PNH.

Respon TST :

1. Remisi komplit (bebas transfusi, granulosit > 2000/mm

3

,

trombosit > 100.000 / mm

2

2. Remisi sebagian (granulosit<2000/mm

3

,trombosit<100.000/mm

3

3. Refrakter : tidak ada perbaikan

Relaps ATG + CsA

induksi + dosis pemeliharaan CsA diikuti

reinduksi relaps 35 % selama 7 thn dng prognosa baik.

ATG kelinci lebih baik dari ATG kuda.

(19)

Penyebab Kegagalan Terapi dan Relaps Pada Anemia Aplastik

Penyebab

Etiologi yang mungkin

- Kelelahan cadangan sel asal

Anemia aplastik diperantarai

imun

- Imunosupresi tidak cukup

Serangan imun persisten

Salah diagnosa

- Kegagalan sumsum tulang

Patogenesa non – imun

(20)

Supoortif : - simtomatik transfusi PRC HB > 8 gr%

- indikasi transfusi trombosit : - perdarahan

- trombosit < 20.000 (profilaksis)

transfusi trombosit konsentrat berulang  zat anti terhadap trombosit donor. Sensititasi  donor diganti dengan yang cocok HLA (saudara / oarng tua

kandung atau donor tunggal)

Internasional Aplastik Anemia Study Group : 1. Hitung neutrofil < 500 mm3

2. Persentase reticulosit yg dikoreksi terhadap Ht kurang dari 1 % 3. Hitung trombosit kurang dari 20.000.

SST Hiposelularitas berat

Hiposelularitas sedang dgn sel2 hemopoetik yg tersisa kurang dari 3%

Prognosa :

1. Remisi sempurna  jarang kecuali iatrogenik akibat kemoterapi atau radiasi 2. † 1 tahun (sebagian besar)

3. 20 thn bertahan hidup (1 & 3 ringan , 2 berat )

Pemakaian imunosupresi meningkatkan keganasan sekunder (leukemia akut, mielodisplasia, PNH, hepatoma ! )

(21)

2. ANEMIA DEFISIENSI BESI / ADB

Klinik Hb < 10gr% ringan < 8 gr%, sedang, kurang 6 gr %, berat , WHO < 13 gr %, “anemia hipokromik mikrositer”.

a. Cadangan besi kosong (SI ), TIBC  , besi / Fe(trace element) : Hb, mioglobin, enzim. Transport (transferin), cadangan (feritin, hemosiderin, fungsional (Hb,Mioglobin,Enzim).Besi berasal dari hewan/heme, sekarang dari nabati/non heme tapi perangkat absorbsi besi tidak mengalami evolusi  kekurangan besi !. Absorbsi(faktor daging) + vit C, absorbsi  (transport tanat, phytat dan serat)

b. Peny. Kronik  pelepasan besi dari RES  berkurang  SI N

c. Anemia sideroblastikggn mitokondria inkorporasi besi kedlm heme terganggu 1/3 penduduk dunia (negara bekembang) menderita anemia ! Sosek

!

Etiologi :

1. Intake / makanan kurang 2. Gangguan absorpsi

3. Perdarahan kronik (tukak, cacing, hemorhoid, keganasan) 4. Kebutuhan meningkat

(22)

Gejala umum / sindroma anemia :

khas : - koilonychia ( kuku sendok), - atrofi papil lidah

- stomatitis angularis (cheilosis) - disfagia

- atrofi mukosa gaster

- pica (ingin makan tanah liat, lem dll) penyakit dasar  menstruasi pada wanita, cacing tambang  dispepsia, parotis,membengkak,kulit telapak tangan kuning/jerami  kanker kolon = “alteration in bowel habit “

(23)

Mekanisme regulasi besi :

- Regulator dietetik : hewani , non hewani / nabati 

- Regulator simpanan:cadangan sedikit /  absorpsi Fe,cadangan banyak /

absorpsi Fe

- Regulator eritropietik : absorpsi besi tergantung kecepatan eritropoesis. Lab :

Kadar Hb : klinik 6-8-10 gr % berat/sedang/ ringan. WHO 13 gr %

MCV dan MCH . “Hipokromia mikrositosis. Darah tepi anisositosis tanda awal dan poikilositosis tanda lanjutan MCV < 78 fl.

Konsentrasi besi : SI , TIBCSI < 50 gr / dl

TIBC > 350 gr/dl

saturasi transferin<16-18%(SI/TIBC)

SST hiperplasi normoblastik ringan sampai sedang normoblast kecil2

pengecatan SST – cadangan besi negatif Diagnosa ADB : anamnese + fisik.

1. Tahap I : Pemeriksaan Hb + Ht ( klinis 10gr%. WHO < 13 gr%)

2. Tahap II : Memastikan adanya defisiensi besi SI, TIBC, Saturasi feritin 3. Tahap III : Menentukan penyebab ADB (cacing tambang, mentruasi)

(24)

MODIFIKASI KRITERIA KERLIN ET AL : MCV < 80 fl, MCHC < 31 %

dua dari tiga : - Besi serum < 50 mg / dl

- TIBC > 350 mg / dl

- Saturasi transferin : 15 % atau

Serum feritin < 20 mg / l

Pengecatan SST cadangan besi

Pemberian sulfas ferosus 3 x 200 mg / hr selama 4 minggu kenaikan

Hb 2 gr /dl

DD. Anemia hipokromik mikrositer lainnya : 1. Anemia penyakit kronik 2. Trait thalasemia

3. Anemia sideroblastik

Gol.penyakit S1 TIBC ST % Feritin Header

1. Thalasemia  N /  > 15    

2. Ggn Sin Hema N /  N /  > 15  

3. A Sideroblastik N /  N /  > 15   

4. Penyakit Kornik N /  N /  > 15  

(25)

TERAPI :

a. Kausal: cacing tambang , hemoroid, pengobatan menohargia b. Pemberian pereparat besi !

 oral : - “efektif,murah & aman“(sulphat ferrous,gluconate, succinate) - sulfas ferosus 3 x 200 mg GIT / dispepsia

- lambung kosong ! Efek samping  setelah makan dosis pemeliharaan 3-12 bulan setelah Hb normal untuk mengisi cadangan besi (SI). Dosis pemeliharaan 100 mg / hr preparat Vit C   absorbsi besi !.

parenteral : efektif, resiko besar dan mahal. Indikasi tdk berhasil dgn oral

1. Intoleransi, 2. Kepatuhan

3. Ggn pencernaan

4. Penyerapan /gastrektomi

5. Kehilangan darah banyak (telengiectasiherediter hemoragik) 6. Kebutuhan besi banyak

(26)

Preparat tersedia :

1. iron dextran complex, 2. iron sorbitol citric acid complex 3. iron ferric gluconate (terbaru aman )

4. iron sucrose (lebih aman)

Rumus: (15-Hb sekarang) x BB x 2,4 + 500 / 1000 - pengobatan lain : - Diet tinggi protein / hewani - Vit C 3x100 gr, absorpsi besi!

- Transfusi indikasi:PJA,anemia dgn simtom berat PRC ! - perlu pengobatan Hb cepat, kehamilan smester 3

- IM /nyeri !

- Anafilaksis jarang 0,6% plebitis

Response terhadap terapi besi : Reticulositosis (  retikulosit ) minggu I,

puncak pada hari ke 10, normal lagi hari ke 14. Kenaikan Hb 0,15 gr/hr atau 2 gr /dl. Hb normal setelah 4 minggu. Bila tdk respon: - tidak patuh makan obat, - dosis kurang

- masih ada perdarahan/penyebab, - ada penyakit kronis - diagnosa salah

 evaluasi kembali !

insidensi anemia : pencegahan !

Pencegahan :

- Pendidikan kesehatan : - alas kaki, jamban, kesehatan lingkungan, gizi - Pemberantasan cacing tambang.

- Pemberian preparat besi : ibu hamil & anak balita - Mencampurkan zat besi pada makanan susu ( fortifikasi besi)

(27)

3. ANEMIA PENYAKIT KRONIK

( lemah, demam, pucat, BB , anoreksia ) / kronik, akut dan neoplasma

Infeksi :

TBC, Pneumonia, Sifilis, HIV / AIDs, AR / Peny. Kolagen, Kanker, Kolitis Ulserosa. Gambaran anemia. “Normokrom normositer”. Gejala timbul 1-2 bulan paska infeksi.

Gambaran anemia :

Hb 7-11 gr%, SI , TIBC ,cadangan Fe produksi eritrosit , pemendekan masa hidup eritrosit (ekstra korpuskuler) , ggn metaboloisme besi, ggn

produksi eritrosit akibat tidak efektif rangsangan eritropoietin .

Inflamasi, / infeksi / kanker  sitokin  (IL -1 + TNF, IFN)  sekuestrasi makrofag mengikat banyak zat besi meningkat destruksi eritrosit di limpa :

1. menekan produksi eritropoietin di ginjal 2. perangsangan inadekuat eritropoiesis SST

- Malnutrisi ,transform T 4T 3 hipotiroid fungsional   kebutuhan Hb yang mengangkut O2 sintesa eritropoietin 

(28)

Perbedaan Parameter Fe pada orang Normal, Anemia Defisiensi Besi

dan Anemia Penyakit Kronis

Normal

Anemia

Anemia penyakit

Defisiensi Fe kronis

Fe Plasma (mg/L)

70-90

30

30

TIBC

250-400

> 450

< 200

% Saturasi

30

7

15

Fe di Makrofag

++

-

+++

Serum Feritin

20-200

10

150

Reseptor Serum

8-28

> 28

8-28

transferin

Etiologi :

1. pemendekan massa hidup eritrosit

2. ggn metabolisme zat besi

(29)

Gambaran klinik :

- Tertutup oleh penyakit dasar / asimtomatik walaupun (Hb : 7-11 gr / dl), bila disertai demam atau debilitas fisik meningkat  simtomatik !

- “Lab normokrom – normositer anemia”, bisa hipokrom mikrositer. (hipokrom MCHC < 31 gr / gk, mikrositer, MCV ( 80 fl )

Terapi :

- Penyakit dasar / infkesi (tidak ada terapi efektif)

- Transfusi bila ada ggn hemodinamik WB,PRC TD,Nadi,Takikardi,Hb, Ht. Transfusi agak lebih proaktif bila mengancam jiwa penderita (MCI,

kanker ) menurunkan angka kematian secara bermakna

- Praparat besi (kontroversial) pendukung pemberian : mencegah

pembentukan TNF  belum direkomendasi eritropoetin (kanker, GGK, mieloma multiple, HIV, AR) eritropoetin (,) dan darbopoetin)

menghindaridari transfusi menekan inflamasi (TNF alfa,interferon gamma)

ES : proliferasi sel sel kanker ginjal, serta meningkatkan rekurensi kanker kepala dan leher 

Hati 2 !

. Hb 10-11 gr %

(30)

4. ANEMIA MEGALOBLASTIK

Anemia ditandai sel megaloblastik “defisiensi vit B12 & asam folat “ ggn sintese DNA dan ggn hemopoietik. Selularitas SST produksi sel darah merah “eritropoitik tidak efektip”.

Peny.usus halus + hati (ggn sirkulasi enterohepatik)  gangguan absorbsi asam folat

Klasifikasi :

Defisiensi Kobalamin

- Asupan kurang “ vegeatrian “ (jarang ) - Malabsorbsi

- Achlorhidria gaster, gastrektomi

- Anemia pernisiosa / gastrektomi total - Ggn ileum terminalie

- Obat PAS, kolkisin, neomicin

- Lain2 : NO anesthesia > 6 jam terutama berulang-ulang

Defisiensi asam folat

- Asupan tidak adekuat ( peminum alkohol, usia muda / bayi) - Keperluan meningkat malabsorbsi dan metabolisme terganggu. - Obat 2an : mengganggu metabolisme DNA 5 FU merkatopurin,

azatioprin, acyclovir

- Malabsorbsi sprue tropical dan non tropical

obat : phenytoin, ethanol, barbiturat, terapi 8 minggu  1/ kebutuhan meningkat hamil, bayi, keganasan

(31)

Diagnosis :

Fisik + Lab (Hb, Ht, retikulosit, lekosit, trombosit, hitung jenis , LED) + SST+ Vit B 12, serum folat , MCV > 100 fl.

SST : hiperseluler, penurunan rasio mieloid/eritroid dan berlimpah besi

Terapi :

Def kobalamin :

- Oral kurang baik ( tidak patuh / compliance )

- IM 1000 ug kobalamin / minggu  8 minggu  / bulan selama hidup Retikulosis  mulaihari ke 4 , puncak hari ke 7)

Asam folat :

- Oral 1 mg / hari atau 5 mg /hari . Retikulosis hari ke 4 parenteral tidak perlu

Kesimpulan : - klasifikasi def. Kobalamin / folat

- Def. vit B 12 / folat metabolisme intraselular  gangguan sintesa DNA  hemopoiesis anemia megaloblastik. Diagnosa : klinik + lab.

(32)

5. ANEMIA HEMOLITIK AUTOIMUN

Anemi akibat penghancuran sel eritrosit lebih cepat dari pada

kemampuan SST.

Patogenesa :

aktifasi sistem komplemen, aktifasi mekanisme

selular, atau kombinasi sehingga timbul anti bodi

terhadap sel eritrosit sehingga umur eritrosit

memendek. Aktifasi sistem komplemen akan

menghancurkan membran sel eritrosit, hemolisis

intravaskular

hemoglobinemia & hemoglobinuria.

Aktifasi sistem komplemen melalui jalur klasik dan

alternatif. Aktivasi selular sel darah merah akan

dihancurkan oleh sel

2

retikuloendotelial atau

“imuno adherence”

Etiologi :

belum jelas, kemungkinan timbul gangguan

“central tolarence”

dan gangguan proses

(33)

Klasifikasi Anemia Hemolitik Imun

I. Anemia Hemolitik Auto Imun (AIHA)

A. AIHA tipe hangat

a. idiopatik

b. sekunder (karena cll, limfoma, SLE)

B. AIHA tipe dingin

a. idiopatik

b. sekunder (infeksi mycoplasma, mononucleosis, virus,

keganasan limforetikuler

II. Paroxysmal Cold Hemoglobinuri

a. idiopatik

b. sekunder (viral, sifilis)

III. AIHA Atipik

a. AIHA tes antiglobulin (-)

b. AIHA kombinasi tipe hangat dan dingin

AIHA diindulsi obat

AIHA diinduksi aloantibodi

IV. Reaksi hemolitik Transfusi

(34)

Diagnosa :

- Direk Antiglobulin Test (Direct Coomb’s Test) : sel eritrosit dicuci dari protein2 yg melekat dan direaksikan dgn antiserum anti bodi

monoclonal terhadap imunoglobulin dan fraksi komplemen, IgG dan C3d, bila pada permukaan sel terdapat salah satu atau kedua IgG dan CD3  aglutinasi

- Indirect Antiglobulin Test (Indirect Coomb’s Test) : untuk mendeteksi autoantibodi yg terdapat pada serum direaksikan sel2

reagen, imunoglobulin pada serum akan melekat pada sel2 reagen

dapat dideteksi dgn antiglobulin sera dengan terjadinya aglutinasi.

AHA tipe Hangat

70 % kasus AHA tipe hangat, autoantibodi bereaksi optimal pada

suhu 37

0

C. + 50 % disertai penyakit lain

Gejala dan Tanda :

Awitan peny.tersamar,gejala anemia perlahan -

lahan (ikterik, demam), nyeri abdomen

mendadak, anemia berat, hemoglobinuri. 40 %

ikterik, 50-60% splenomegali, 30%

hepatomegali, 25 % limfadenopati. 25% pasien

(35)

Lab :

- dijumpai Hb < 7 g/dl, Coomb direk (+), autoantibodi

hangat ditemukan dalam serum dan dapat dipisahkan

dari sel

2

eritrosit dan berasal dari kelas IgG bereaksi dgn

semua sel eritrosit normal dan antigen eritrosit eritrosit

pasien sendiri.

Prognosis dan survival :

Sebagian kecil penyembuhan komplit dan sebagian memiliki

perjalanan penyakit yang berlangsung kronik. Survival 10 thn 70 %.

Anemia, DVT, emboli pulmo, infark lien, kardiovaskular lain.

Mortalitas 5-10 thn sebesar 15-25%. Prognosis AIHA sekunder

tergantung penyakit yang mendasarinya.

Terapi :

• Kortikosteroid : 1-1,5 mg/kgBB/hr, 2 minggu respon klinis baik. Ht ,

retikulosit

, tes coombs direk (+/-) lemah, tes coombs indirek(-)).

Normal pada hari ke-30-90,bila ada tanda respon terhadap

steroid, dosis diturunkan tiap minggu 10-20 mg/hr. Terapi steroid

dosis < 30mg/hr diberikan selang sehari.

• Splenektomi. Bila steroid tdk edequat tdk bisa dilakukan

tappering dosis

selama 3 bln maka dipertimbangkan splenektomi .

Remisi komplit pasca splenektomi 50-70%, tdk bersifat permanen.

(36)

• Imunosupresi,Azatioprin 50-200mg/hr (80mg/m2),siklofosfamid 50-150

mg/hr (60mg/m2)

• Terapi lain : danazol 600-800 mg/hr dengan steroid biasa terjadi perbaikan, steroid diturunkan atau dihentikan dan dosis danazol diturunkan menjadi 200-400 mg/hr.

• Imunoglobulin:400 mg/kg BB/hr selama 5 hr perbaikan beberapa pasien • Plasmafaresis : kontroversial !

• Terapi transfusi : Bukan kontraindikasi mutlak. Kondisi mengancam jiwa (misal Hb < 3g/dl). Transfusi diberikan, sambil menunggu steroid & imunoglobulin untuk berefek.

AHA tipe Dingin

Terjadinya hemolisis diperantarai Ab dingin / aglutinin dingin dan Ab Donath – Landstainer.

Gambaran klinis : Aglutinasi pada suhu dingin, hemolisis berjalan kronik. Laboratorium : anemia ringan, sferositosis, polikromatosia, tes Coombs (+), anti-I, anti-I, anti –Pr, anti – M, atau anti –P.

Prognosis dan survival : pasien dgn sindrom kronik akan memiliki survival yg baik dan cukup stabil.

Terapi : menghindarai udara dingin yg dapat memicu hemolisis, Prednison dan splenektomi tidk membantu. Klorambucil 2-4 mg/hr. Plasmaferesis utk mengurangi Ab IgM bisa mengurangi hemolisis, namun sukar dilakukan .

(37)

162.

DASAR TD : - Komponen darah - Risiko

- Indikasi

- Pencegahan dan penanganan “komplikasi” - Donor darah /resipien

“Imunohematologi” : Interaksi antara Hematologi dan Imunologi / Ag-Ab sel darah merah. Penerapan imunologi, mempelajari kelainan hematologi / operasional penanganan reaksi antigen anti bodi sel darah merah pada TD. “Transfusion medicine” / ilmu kedokteran transfusi Blood banking

(imunologi,serologi dan genetik) Imunohematologi dibagi dua :

1 Terkait reaksi dgn genetik : serologi transfusi, penyakit hemolitik pada bayi lahir, “Graft Versus Host” imunomodulasi dan petanda genetik darah.

2 Tidak terkait dengan genetik : autoimunitas, anemia hemolitik akibat obat, anemi hemolitik diinduksi neuraminidase.

(Imunologi transplantasi

(38)

Transfusi dimulai 1667 berkembang pesat PD I dan PD II

- Perbedaan genetik antara individu

- Perkembangan anti koagulan, pengawetan, sterilisasi

memungkinkan penyimpanan darah.

- Tehnik pemisahan darah / afaresi sehingga memungkinkan

komponen darah yang diperlukan saja yang transfusi, sedang sisa

dikembalikan pada donor.

Resiko Transfusi

I. Risiko / komplikasi transfusi : 6,6% resipien (55% demam, 14 %

menggigil tanpa demam, 20 % alergi urtikaria, 6 % hepatitis

serum positif, 4 % hemolitik, 1 % overload sirkulasi )

(39)

1. Demam : antibodi leukosit / trombosit atau senyawa pirogen

Mencegah : cross match antara leukosit donor dengan serum resipien pada transfusi lekosit.

- sedikit lekosit > 90 % jumlah leukosit dibuang

- mikrofiltrasi leukosit pori 40 mm  jlh leukosit berkurang 60%

- pemberian prednison 50 mg atau lebih sehari atau 50 mg kortison oral setiap 6 jam / 48 jam sebelum transfusi,aspirin 1 gr saat mulai menggigil atau 1 jam sebelum TD  mencegah demam

2. Allergi : ringan 3 % utikaria. Renjatan anafilaksis 1 pada 20.000 TD. Anafilaksis berat akibat interaksi IgA donor dgn anti IgA darah spesifik plasma resipien

3. Hemolitik : - destruksi SDM paska transfusi akibat darah “inkompatible”

- transfusi eritrosit yang rusak akibat paparan D5, injeksi air kedalam sirkulasi

- transfusi darah yg lisis, - pemanasan darah berlebihan transfusi darah beku, terinfeksi, transfusi darah dgn tekanan tinggi.

(40)

Patogenesa:

Eritrosit donor dgn resipien berbeda atau ibu dan janin

memiliki eritrosit berbeda terbentuk antibodi pada

resipien atau janin reaksi antigen eritrosit dgn antibodi

plasma

reaksi hemolitik

melepaskan Hb bebas ke

dalam plasma kerusakan ginjal, toksemia dan meninggal.

Pemahaman mengenai antigen sel darah merah dan

implikasi klinisnya sudah maju namun reaksi hemolitik

dijumpai pada setiap 250-1 juta transfusi - separuh

kematian

inkompatibilitas ABO akibat kelalaian

administratif. Reaksi transfusi lambat dan nyata.

Sekitar 1 dari 1000 manifestasi reaksi transfusi darah

lambat, 1 dari 260000 hemolitik nyata

anemia bulan

sabit

(41)

Bakteri dapat mengkontaminasie eritrosit dan trombosit penyebab lain infeksi dan sepsis pada TD.

5. Bakteri : Yersinia enterocolitica di USA / Selandia Baru 1 per 1 juta s el darah merah dan 1 per 65000 unit sel darah merah. Resiko berhubungan langsung dgn lamanya penyimpanan, Resiko sepsis akibat transfusi

trombosit 1 per 12000, lebih besar bila menggunakan konsentrat dari

beberapa donor dibandingkan dgn donor tunggal (Staphylococus aureus, Klebsiella pneumoniae, Serratia marcesens dan Stahpyococcus epidermidis) dapat menyebabkan kematian.

6. Cedera paru / TRALI = Transfusi Related Acute Lung Injury

mirip ARDS / Acute Respiratory Distress Syndrome

Klinik : Hipoksemi akut dan oedema paru bilateral ( timbul 6 jam setelah TD), menggigil, panas, nyeri dada, sianosis.

- klinis: dispnea, takipneu, demam, takikardia, hipo / hipertensi

leukopeni akut sementara ( 1 dari 1.200 – 25.000 TD) - Radiologi : oedem paru

- Patogenesa : reaksi neutrofil resipien dgn anti bodi donor yg mempunyai HLA atau antigen neutrofil spesifik menyebabkan peningkatan permeabilitas kapiler sirkulasi mikro paru.

4. Penularan penyakit ( HIV (1982), Hep B/C, virus lainnya. Skrining donor terhadap HIV/AIDs / perilaku resiko tinggi seks.

(42)

INDIKASI : Risiko cukup besar pertimbangkan indikasi yg jelas dan tepat agar manfaat lebih besar dari pada risiko / mudarat (rasional dan efisien)

WB / darah merah & plasma  perdarahan aktif / kehilangan darah lebih 25 - 30 % volume darah total.

Resusitasi lebih memerlukan “pemulihan volume darah” dari pada komponen darah! (waktu penyediaan darah!).

KONTRA INDIKASI :

- WB tidak diberikan pada anemia - kronik yang normo volemik atau hanya untuk meningkatkan sel darah merah (infeksi cacing tambang !) - Tidak ada indikasi TD untuk profilaksis :

Ambang batas untuk transfusi untuk “tindakan operasi” : a. Hb 7-8 gr% kecuali penyakit kritis

b. ambang batas kasus operasi Hb 8 gr%, 10 gr % untuk kasus iskemia - 1 unit WB akan meningkatkan Hb sekitar 1 gr / dl atau Ht 3 - 4 %.

Tetesan setiap unit + 4 jam. 6 jam paska TD belum ada perubahan kapasitas pengiriman oksigen (ICU)

(43)

Anti Rh0(D) Kontrol Rh Tipe Rh

Positif Negatif D+ Negatif Negatif D- (d)

Positif Positif Harus diulang atau diperiksa dgn Rh0(D) typing (saline tube test)

PENGGOLONGAN DARAH BERDASARKAN SISTEM RHESUS: Golongan darah Antigen Anti bodi

A A Anti B

B B Anti A

AB A dan B (-)

O (-) Anti A, Anti B, Anti A,B

PENGGOLONGAN DARAH BERDASARKAN SISTEM ABO :

GOLONGAN DARAH :

- 25 sistem ABO,250 antigen gol darah terindentifikasi (ABO,MNS dll) - Antigen belum termasuk kedalam sistem gol. darah  “koleksi

golongan darah” antigen yang belum termasuk sistem golongan darah atau koleksi golongan darah dinamakan “seri golongan darah”.

(44)

DONASI DARAH

Syarat :

1. KU baik, usia 17 - 65 thn, BB > 50 Kg. Tanda vital : N, lesi kulit (-). TD 100/50 sampai di 180/90

2. Donasi terakhir minimal 8 minggu

3. TBC aktif (-) / asma (-), paska bedah besar > 6 bln, 3 hari setelah ekstraksi gigi / bedah mulut

4. Riwayat kejang / epilepsi (-) 5. Riwayat perdarahan (-)

6. Penyakit menular melalui darah (-) ( malaria, Hep B/C, HIV / AIDs)

Paska Imunisasi / vaksinasi :

tanpa gejala vaksin Hep A & B dapat

diterima sebagai donor

- cacar air 2 minggu setelah timbul imun lesi bekas suntikan mereda

- campak Jerman 2 bulan setelah imunisasi terakhir

(45)

Malaria :

6 bulan setelah kembali dari daerah endemik tanpa

menunjukkan gejala / tanpa makan obat anti malaria.

Penderita malaria setelah 3 tahun penyakit asimtomatik.

Informed Concern (resiko transfusi darah harus diuji terhadap hepatitis sifilis dan HIV)

Uji Darah Donor :

1. Penetapan gol darah ABO

2. Penetapan gol darah berdasarkan Rhesus

3. Uji terhadap antibodi yg tdk diharapkan, dilakukan pada darah dari donor yang pernah mendapat TD atau hamil

4. Uji terhadap penyakit infeksi HBsAg, anti HCV, Sifilis anti bodi HIV

Reaksi selama dan sesudah transfusi pada donor / jarang :

Sinkop  lemas, RR , pusing, pucat dan mual

- jarang kejang, kehilangan kesadaran, berkemih / defekasi involunter

(46)

Tehnik pengambilan darah : Hemaferesis dan plasmaferesis

- Hemaferesis: pengambilan WB dari seorang donor / pasien,

pemisahan menjadi komponen darah, penyimpanan

komponen yang diinginkan dan pengembalian elemen

yang sisa ke donor / pasien.

- Plasmaferesis: ambil WB pisahkan plasma

fresh frozen plasma

fraksinasi (albumin/imuno globulin).Infus kembali sel

darah merah ke donor dpt dilakukan dgn multi bag

sistem atau separasi darah sentrifugal

- Sitoferesis : mengambil lekosit dan trombosit dari donor tunggal

dgn sentrifugasi aliran internmitten / kontinyu.

- Plateleferesis / tromboferesis : pemisahan trombosit dari WB dengan

sentrifugasi

- Leukoferesis / granulositaferesis :mengambil granulosit dan

pengembalian sisa ke donor.

(47)

Transfusi darah autologus :

- Tranfusi darah dgn produk darah berasal dari resipien. Prosedur ini

untuk menyingkirkan adanya infeksi HIV

Kelemahan autologus :

1. Tidak meghilangkan kontaminasi bakteri dan overload volume

2. Tidak mengurangi resiko kesalahan administratif / inkompatibilitas

ABO

3. Biaya lebih tinggi dari transfusi homolog / allogenik

4. Ada sisa darah yang terbuang

5. Menimbulkan anemia perioperatif & meningkatkan kebutuhan

transfusi

Indikasi autologus :

1. Penderita yg menunjukkan reaksi transfusi dgn pemberian semua

darah homolog

2. Punya gol. darah sangat jarang dgn antibodi yg tdk diharapkan

3. Menolak transfusi dari donor lain dengan alasan kepercayaan

(48)

“UJI COCOK SILANG” / CROSS MATCH / UJI KOMPATIBILITAS

Prosedur yang harus dilakukan sebelum TD untuk memastikan seleksi

darah yg tepat untuk seorang pasien dan mendeteksi antibodi ireguler

serum resipien yg mengurangi atau mempengaruhi ketahanan hidup

SDM donor paska TD

Mayor : menguji reaksi antara sel darah merah donor dgn serum

resipien. Tes Pratransfusi ! Menunjukkan antibodi aglutinasi,

sensititasi, hemolisis, tes anti globulin.

Minor : menguji reaksi antara serum donor dgn sel darah merah

resipien . Tes rutin darah donor setelah pengumpulan darah

bukan protransfusi.

Kombinasi beberapa prosedur dapat dilakukan untuk uji cocok silang.

Komponen darah :

Darah dan Plasma darah yang ditransfusikan

hanya yang diperlukan resipien . Tehnik salin

albumin, enzim anti globulin, direk, indirek

(49)

TD : pemberian darah atau komponen darah dari donor ke resipien

bisa “penyelamat jiwa” bisa “membahayakan jiwa”

Sentrifugasi darah darah lengkap (WB) donor dapat

dipisahkan menjadi

sel darah merah pekat SDMP / eritrosit ,

trombosit, granulosit)

plasma segar beku / Fresh Frozen Plasma

fraksinasi

(albumin imunoglobulin faktor VIII & IX pekat ).

Rhesus imunoglobulin, Rhesus ekspander sintetik.

Kriopresipitat

Kemajuan tehnik aferesis : pelayanan transfusi dapat lebih tepat

memenuhi kebutuhan komponen darah

yang diinginkan dapat meminimalisasi

resiko transfusi penyakit disebabkan

(50)

163. DARAH, KOMPONEN DARAH, KOMPOSISI, INDIKASI

DAN CARA PEMBERIAN TRANSFUSI DARAH

TD rasional dan efisien, berikan yg dibutuhkan (komponen darah /

derifat plasma).

Pemikiran : banyak komponen darah yang seluler , nonm seluler dan

derifat plasma. Bisa dipisahkan, berikan yg dibutuhkan

dan kembalikan sisa atau disimpan utk kasus resipien

lain.

TD bisa menyelamatkan atau bisa membahayakan.

Komponen darah :

bagian darah yg dipisahkan dgn cara fisik /

mekanik (sentrifugasi).

Fraksi plasma: bagian darah yg diperoleh dgn cara kimia, fraksinasi

dgn menggunakan sejumlah plasma yg diprodusi di

pabrik.

(51)

MACAM

2

KOMPONEN DARAH (SELULER DAN PLASMA )

SELULER - Darah utuh(WB)

- Sel darah merah pekat (PRC)

SDMP Sedikit Leukosit (PRC Leukosit Reduced) SDMP Cuci (PRC Washed)

SDMP Beku (PRC Frozen)

- Trombosit Pekat (Concentrate Platelets)

Trombosit dgn sedikit lekosit / Platelet Leukosit Reduce) - Granulosit Feresis (Granulocyte Pheresis)

NON SELULER - Plasma Segar Beku (Fresh Frozen Plasma)

- Plasma Donor Tunggal (Single Donor Plasma) - Kresipitat Faktor Anti Hemofilia (Crecypitat Ahf)

MACAM DERIFAT PLASMA : - Albumin

- Imunoglobulin

- Faktor VIII & IX pekat - Rh imunoglobulin

(52)

“Darah lengkap”

(Whole Blood)

– SDM, lekosit, trombosit, plasma, granulosit.

Satu kantong darah : 250 cc darah + 37 cc anti koagulan suhu simpan 1-6 0 C atau 350 cc darah dgn 49 cc anti koagulan.

Lama simpan tergantung anti koagulan . Citrat posfat dektrose / CPD 21 hr, CPDA (adenin) 35 hr. “darah segar” agar lama simpan 2 hr (trombosit,

faktor V, VII cukup) “darah baru” 5 hr (molekul mempermudah pelapasan O2 mulai menurun). Indikas: kehilangan darah 25-30% volume darah total penting pada

resusitasi “pemulihan volume darah” “bukan komponen darah“ (waktu penyediaan darah )

KI : anemia kronik yg normovolemik meningkatkan SDM (cacing tambang!)

Dosis dan cara pemberian : dewasa : 1 unit   Hb 1 gr%, Ht 3-4 %, anak : 8 ml/Kg   Hb 1gr/dl

(53)

SEL DARAH MERAH PEKAT / PRC berisi eritrosit, lekosit,tombosit sedikti plasma diperoleh dgn memisahkan palsma dari WB, nilai Ht 60-70% massa sel darah merah 100-200 ml dari 150-300 cc kantong darah, anti koagulan. CPDA + 35 hr / Ht 70-80%, CPD + 21 hr,larutan tambahan buffer dextrose + adenin manitol 42 hr, Ht 52-60 %.

Indikasi : meningkatkan SDM dari GGK atau anemia keganasan, anemi dgn CHF fungsi oksigenasi tanpa overload (1 unit meningkatkan Hb 1 gr/dl, Ht 3-4 %) pemberian melalui filter standard.

Kontra indikasi : hipervolemia bila pemberian cepat dan banyak

SDM PEKAT SEDIKIT LEKOSIT (PRC, leukosit, reduced) mengandung 1-3x109 lekosit SDM pekat sedikit lekosit kurang dari 5 x 106 lekosit / unit,

diperoleh dgn sentrifugasi, pencucian dgn garam fisiologis, filtrasi atau degliserolisasi sel darah merah beku.

Sel darah merah yg disimpan, kandungan SDM berkurang akibat sentrifugasi, suhu simpan 1-60 C, masa simpan tergantung cara pembuatan.

Indikasi : - transfusi ulang

- sering mendapat reaksi transfusi panas / alergi, protein plasma atau AB leukosit.

Perhatian - tidak mencegah “Graft Versus Host Disease”  komponen darah diradiasi (mencegah GVHD)

(54)

SEL DARAH MERAH PEKAT CUCI (Packed red blood cell washed)

SDM yg dicuci dgn NaCl 0,9 memiliki Ht 70-80 % vol 180 cc, membuang seluruh plasma (98%), menurunkan konsentrasi leukosit, trombosit serta debris24 jam /1-60 C (karena pembuatan sistem terbuka)

Indikasi : - mencegah allergi berat/ allergi berulang - transfusi neonatal / intrauteri

Pemrosesan terbuka - infeksi hepatitis / CMV - timbul GHVDleukosit yg viable Pemberian : transfusi melalui filter darah

SEL DARAH MERAH PEKAT BEKU YANG DICUCI (Packed Red Blood Cell Frozen Deglycerolized )

Dibuat dgn penambahan gliserol / krioprotektif terhadap darah usia kurang 6 hr, dibekukan suhu – 65 0C atau – 200 0C 10 thn !

Kandungan SDM 80% dari SDM pekat beku Ht 70-80%, penyimpanan 1-60 C

/gunakan segera < 24 jam / pembuatan terbuka - Indikasi “menyimpan darah langka”

- Terbuka kontaminasi bakteri / hepatitis tanpa CMV

- Dosis / pemberian melalui filter darah, SDM rendah/hilang waktu peroses pembuatan.

(55)

TROMBOSIT PEKAT (Concentrate Platelets)

Berisi trombosit, leukosit, sel darah merah dan plasma, diperoleh dgn sentrifuge WB segar atau tombofaresis.satu kantong trombosit pekat berasal dari 450 cc WB donor berisi 5,5 x1010 trombosit volume 50 ml

Satu kantong dgn cara tromboferesis 3x 10 11 trombosit setara dgn 6

kantong trombosit dari donor biasa, dapat disimpan 20-24 0 C dgn kantong darah biasa diletakkan pada alat rotator / agitator selalu bergoyang / berputar = 3 hr, kantong darah khusus = 5 hr

Indikasi : Pendarahan dgn trombositopenia < 50000/cc,

trombositopenia kongenital

operasi / prosedur invasif (< 50.000)

Profilaksis : semua kasus dgn trombosit 5-10.000uL

hipoplasi SST akibat kemoterapi

invasi tumor atau aplasia primer SST

Pemberian iv dgn fltrasi darah diberikan pada gol darah

sama (ABO).

Kontra indikasi dan perhatian : tidak efektif

(56)

KI : diberikan hanya pada perdarahan aktif / tombositopenia

disebabkan sepsis atau hipersplenisme biasanya refrakter terhadap

trombosit. Menggigil, panas dan reaksi alergi jangan beri aspirin /

menghambat agregasi trombosit !. Trnafusi berulang dari trombosit

alloimunisasi terhadap ALH dan antigen lainnya

refrakter

ditandai tidak adanya peningkatan trombosit. Pemberian jumlah

cepat oveload

Dosis dan cara pemberian :

Dosis 1 unit / 10 kg BB

5-7 unit dewasa,1 kantong trombosit

450 mL

trombosit

9000-11.000 / ul/ m

2

luas tubuh, dewasa

70 Kg

5000 -10000/uL

keberhasilan transfusi trombosit dipantau dengan menghitung CCI (

Concentrate Count Increment) 1 jam paska transfusi dimana CCI >

7,5 -10 x 10

9

/L atau 18-24 jam dimana CCI > 4,5 x 10

9

/L paska

(57)

TROMBOSIT DGN SEDIKIT LEKOSIT (Platelets Leukocytes

Reduced)

Trombosit sedikit lekosit hanya 8,3x10

5

/unit trombosit, biasa 0,5-1 x 10

8

/ unit

Indikasi : Mencegah alloimunisasi HLA terutama penderita kemoterapi

jangka panjang

Kontra indikasi :

tidak dapat mempercepat pemulihan jumlah trombosit. Untuk mendapat hasil baik dilakukan “uji cocok seri”

Timbulnya reaksi transfusi : Lamanya penyimpanan akibat

dilepaskannnya sitokin oleh leukosit

selama penyimpanan. Pemberian dgn

filter khusus trombosit. Granulosit faresis

Sitoferesis dari donor tunggal berisi

granulosit,limfosit,SDM & sedikit plasma.

1 unit = 1x10

10

granulosit, limfosit,

trombosit, 25-50 cc SDM dgn volume

200 - 300 cc. Suhu simpan 20-24

0

C segera

(58)

Indikasi : meningkatkan granulosit pasien sepsis dgn leukopeni

yang tidak menunjukkan perbaikan dgn antibiotik

terhadap hipoplasi SST.

Kontra indikasi:

AB tepat + faktor pertumbuhan hemotopoetik

lebih efektif. Bila timbul efek samping

utikaria dan menggigil transfusi tdk

dihentikan tapi diperlambat dan berikan anti

histamin + steroid

Cara pemberian : Filter darah standard, ABO cocok, 4 hr paska

transfusi baru telihat hasil.

(59)

PLASMA SEGAR BEKU (Fresh Frozen plasma).

Dipakai mengganti kehilangan faktor koagulasi, berisi plasma, faktor pembekuan stabil / labil, dipisahkan dari WB, dibekukan 8 jam setelah pengambilan darah donor, disimpan < 180 C 1 thn / volume 200-300 cc

Indikasi : ggn proses pembekuan bila tidak tersedia faktor

pembekuan pekat atau kreopresipitat seperti defesiensi faktor pembekuan multiple (peny hati, KID, TTP, dan dilusi koagulopati akibat transfusi masif)

Kontra indikasi : tidak diberikan untuk mempertahankan ekspansi

volume  transmisi penyakit . Lebih aman albumin fraksi protein plasma, koloid, kristaloid (tanpa

penularan penyakit)

Dosis dan cara pemberian : 6 jam setelah pencairan dgn filter cocok ABO sistem dgn resipien .

Pengganti faktor koagulasi Dosis : 10-20 cc / Kg 4-6 unit dewasa, dapat meningkatkan faktor koagulasi 20-30 % ,  faktor VIII 2 % (1 unit / kg) Efek samping : demam , menggigil, hipervolemi

(60)

KONSENTRAT FAKTOR VIII (Factor VIII Concentrate)

- Dibuat dari plasma manusia / melalui rekombinan teknologi. Fraksinasi dari plasma yang dibekukan segera setelah pengambilan darah (steril, stabil,

murni dan beku kering) mendapatkan F VIII bebas virus dgn menurunkan resiko penularan infeksi.

- Pasteurisasi atau memakai cairan pelarut tri (n-butil) fosfat.

- Sediaan kemurnian menengah, tinggi dan bebas imunoafinitas. Kemurnian paling tinggi (90% ) kromatografi imunoafinitas menggunakan anti bodi monoklonal

Indikasi : Pengobatan atau pencegahan

penderita hemofilia A

dgn

defisiensi FVIII sedang sampai berat atau pasien deng inhibitor F VIII titer rendah yang kadarnya tidak lebih dari 5-10

Bethesda units/ml.

Kontra indikasi : ES : malaise, demam, menggigilkemurnian tinggi konsentrat FVIII lebih jarang menimbulkan efek samping

Dosis dan cara Pemberian : International Unit (IU) adalah jumlah aktivitas FVIII, koagulan dalam 1 unit ml plasma normal. Tiap unit F1VIII/kg bb meningkatkan 2 % / 0,02 iu/cc

Pemberian melalui : 1. Infus dgn saringan / filter standard atau

(61)

IMUNOGLOBULIN :

Dibuat melalui fraksinasi dgn etanol dingin dari plasma yang

dikumpulkan.

1. IMIG : kelemahan pemberiannya diperlukan 4-7 hr untuk mencapai

kadar puncak plasma dosis maksimal dibatasi oleh massa otot &

menimbulkan nyeri hanya profilaksis – steril dgn konsentrasi protein +

16,5 g/dl.

2.IVIG :

meminimalisasi IMIG – cepat capai puncak

waktu paruh IMIG dan IVIG 18-31 hr

Indikasi : Profilaksis antibodi secara pasif yang rentan penyakit tertentu

dan sebagai terapi pengganti pada org dgn imunodefisisensi

primer (Sindrom Wiskot Aldrich).

IVIG digunakan dengan imunomodulator pada pasien dgn

kelainan autoimun ITP akut / kronik pada anak dan dewasa.

Trombositopenia pada HIV, purpura paska transfusi dan

Sindrom Guillan Barre serta profilaksis GVHD penerima

cangkok SST.

(62)

KI : Riwayat def IgA (dgn anti IgA) atau terjadinya reaksi anafilaksis

berat terhadap plasma. Sediaan IM jarang diberikan IV/ karena

mengandung agregat imunoglobulin yg mengaktifkan komplemen

serta sistem kinin

reaksi anafilaktik.!

Dosis dan cara pemberian tergantung indikasi, karakter pasien serta

sediaan yg digunakan (IM/IV) :

- ITP & penyakit autoimun lainnya iv 400 mg /kg/hr / 2-5 hr atau

0,8-1,0 g/kg/hr / 1-2 hr

- def IG kongenital : IM : 0,7 mL/kg/bulan, IV : 200-800 mg/kg/bulan

- Profilaksis : hepatitis

A : IM 0,02 – 0,04 mL/Kg

B : 0,06 mL/Kg IM diulang 1 bulan

-

Varicella Zooster

-

Virus CM

- profilaksis 100-150 mg/Kg, pengobatan infeksi

200/kg

(63)

Rh IMUNO GLOBULIN (Rh Ig):

Dibuat dari plasma yang dikumpulkan mengandung IgG anti D. IV dosis 120 ug dan 300 ug  supresi imun terhadap antigen D dan terapi ITP.

IM 300 ug dan 59 ug . Sediaan 300 ug RhIG (IV & IM) – melindungi efek imun lebih baik dari 15 cc darah dengan anti D positif  semua sediaan aman dari transmisi penyakit infeksi dan virus dipakai mencegah terjadinya penyakit hemolitik bayi baru lahir disebabkan antigen Rh D.

Indikasi dan dosis :

Sebelum persalinan: wanita dengan Rh D negatif, 50 ug IM RhIG dapat

melindungi terjadinya aborsi atau terminasi kehamilan ektopik yg terjadinya 12 minggu kehamilan. Setelah 12 minggu kehamilan dosis penuh IM RhIG dapat diberikan. Juga dosis penuh setelah amniosentesis.

Paska persalinan : semua wanita dengan RhD negatif yang melahirkan bayi dgn D positif diberi 300 ug RhIG secara IM atau 120 ug IV (72 jam paska persalinan).

(64)

Sumber darah :

1. Konvensional atau darah keluar saat operasi atau trauma <

450 cc atau 12 % dari estimasi vol darah dan kadar

Hb 11 gr % atau lebih

2. Donasi frekwensi minimal 4 hr sekali.

3. 8 unit WB dapat diambil dari seseorang dalam 20 hari tanpa

manifestasi klinik apapun dgn pemberian suplemen besi oral

kepada donor.

4. Darah yang “diselamatkan” selama operasi atau setelah

trauma dikumpulkan dari dalam tubuh dengan alat dan

dikembalikan pada pasien setelah filtrasi bila belum

ditransfusikan segera unit darah dikumpulkan dan diproses

secara steril dgn alat koleksi darah intra operatif dicuci dgn

(65)

165. AFARESIS

:

suatu tindakan pengambilan komponen darah tertentu dari seseorang melalui penyandapan dan pengembalian komponen darah lainnya dgn alat separasi sel.

Afaresis Donor : mengambil sebagian komponen darah untuk diberikan pada orang lain.

Afaresis Terapeutik : mengurangi jumlah komponen darah yang

berlebihan didalam tubuh seperti kolesterol LDL yg tinggi persisten/kelainan genetik refrakter terhadap pengobatan dilakukan 2 x sebulan dgn mesin “sel separator”

Jenis Afaresis : - plasme afaresis  multiple myeloma

terapeutik - cytopharesis (leukofaresis, trombofaresis, eritrofaresis) - Imuno adsorbsion (IgG, Plasma Circulating Immune Complex)

Indikasi afaresis terapeutik :

- Kelainan hematologi onkologi

- Neurologi : “acute inflammatory dismieleiting polineuropati” - Kelainan metabolik (LDL) afaresis

- Penyakit autoimun dan Reumatologi

(66)

Komplikasi afaresis :

aman !

“vaskuler access “ : -perubahan hemodinamik

-problem mekanik / instrumentasi

-deplesi komponen sel darah & plasma

-reaksi terhadap cairan pengganti /

anti koagulan

-alergi / infeksi

Paling sering : hipoklasemi, kesemutan bibir dan jari

tangan,dada tertekan,pandangan gelap

berikan suntikan

kalsium

!

Kontra indikasi : Calon donor nilai Hb, Ht, lekosit, trombosit

dibawah normal, ABO / Rhesus tidak cocok,

reaksi silang cocok serasi (+), HBsAg (+), anti

HCV, HIV/AID’s, VDRL, malaria, BB

, usia

anak / lansia, penyakit ginjal/ jantung

Kontra indikasiafaresis terapeutik : - Ggn hemodinamik nyata

- Keadaan umum yg jelek.

(67)

COBE SPECTRO

Jenis mesin aferesis

COBE SPECTRO

Alat muktahir disposible, darah donor ditransfusikan pada

pasien :

- Afaresis terapeutik penukaran atau deplesi komponen

darah

- Pengambilan granulosit dan sel mononukleus

PBSCT

RSKD Jakarta

Trombofaresis dari donor tunggal untuk trombofaresis dan

ditransfusikan pada pasien kanker dengan trombositopenia

(68)

AFEREAIS PADA PBSCT

PBSCT ( Periferal Blood Stem Cell Transplantation)/BMT/UCT

Pemulihan sel asal / stem cell (PBSCT) pada tubuh pasien yang

mengalami kehancuran oleh radiasi dan kemoterapi dosis tinggi.

Tindakan ini agar penderita kanker lebih dapat menerima dosis

radiasi dan kemoterapi lebih maksimal. (Leukemia, Sindrom

Meilodisplasia, LNH, LH, Multiple Mieloma, Kanker padat

(myeloblastoma dan payudara) , anemia apalstik / fanconi

imunodefisiensi kongenital (sumber darah tepi dan tali pusat bayi

baru lahir = PBSCT & UCT).

- Autologus :

darah pasien sendiri yg diambil & disimpan sebelum

terapi dosis tinggi (kemo dan radiasi)

- Singenic : sel asal / induk berasal dari darah saudara kembar

- Allogenic (saudara / orang tua kandung atau orang lain) yg cocok

HLA nya !

(69)

Penyakit donor cangkok versus host ( Graft Versus Host Disease)

Sel darah mengandung “immuno kompeten T lymphocyte

resipien”

non imunokompeten

sel lymphocyte T memperbanyak diri

menyebabkan reaksi penolakan donor transplan

Reaksi penolakkan :

- demam, rash, kulit / eritema, makula papula mulai sentral ke tepi

- gg faal hati, nausea, diare berdarah lekopeni diikuti pansitopenia :

2-3 minggu semenjak ada keluhan pertama

Diagnostik : klinik, biopsi kulit

Terapi :

steroid, globulin, anti timosit , siklosporin & GFH

hasil kurang memuaskan !

(70)

Allogenic : Efek : GVHD sel darah putih donor mengenali sel kanker

yg tersisa ditubuh pasien dan menghancurkannya.

- sebelumnya diberikan 5

g / Kg rh6-CSF / hr sub kutan

selama 5 hr

- untuk memperoleh jumlah sel asal lebih banyak pada

darah tepi (PBSC)

Kemoterapi dosis tinggi

”Autologus”

5

gr/Kg BB rh 6-CSF

Leukosit 2 juta / cc

Leuofaresis diulang 5 x utk

memperoleh CD 34 total 2

juta / cc

...

1-5 hr

(71)

“KOMPLIKASI NON IMUNOLOGIK” :

1. Kelebihan cairan

Transfusi pada anemia waktu 6 jam gagal jantung kelebihan cairan “oedem paru” transfusi pada orang tua 2 cc darah / Kg/BB / jam ). 2. Transfusi masif.

Metabolik :

a. Darah simpanan ditransfusikan dgn cepat – ion K  pada GGK, syok

dgn asidosis, hemolisis  komplikasi TD !

b. Hipotermia : darah dingin diinfuskan : asidosis, hipoksemia,

hipotermia, hipokalsemi. Hipo & hiperkalemia dapat terjadi dgn resiko aritmia jantung.

c. Pengenceran : pemberian transfusi darah menyebabkan pengenceran

darah resipien (trombosit, faktor koagulasi yang labil).

Bila pasien sepsis renjatan dan koagulasi intravaskuler penyakit bertambah berat.

d. - Emboli udara : terutama wadah darah gelas bila plastik tidak

dijumpai reaksi ini

- Flastik dari bahan PVC / dijumpai reaksi ini – phthalate lifolitik  keracunan !

(72)

180. TROMBOSIS

Defenisi : proses pembentukan trombus atau adanya trombus / bekuan

darah (fibrin dan sel darah) dalam 1. pembuluh darah arteri/putih (“fibrin” + trombus), 2. “vena”/merah (fibrin + sel darah merah), 3. ruang jantung atau 4. mikrosirkulasi dgn komplikasi obstruksi atau emboli. Trombosis pada organ paru, jantung dan otak.

Harus dipahami “dasar hemostasis“. Penyebab kematian di USA 2 juta kematian / thn akibat trombosis arteri, vena dan komplikasi 60.000 emboli paru. (1 per 2000 atau lansia 1 per 500).

- Darah bentuk cair (sel darah + plasma darah) oleh pengaruh faktor

hemostatis primer / sekunder / tersier. Bila timbul ggn pembuluh darah atau darah terjadi perdarahan / keluar darah dari pembuluh darah atau pembekuan darah / trombosis.

Primer : (trombosit & pembuluh darah)  vasokontriksi pembuluh darah dan pembentukan trombosit plak menutup luka sementara perdarahan berhenti.

(73)

Sekunder : faktor pembekuan dan anti pembekuan, aktifasi

koagulasi melalui jalur ekstrinsik & intrinsik / jaringan

terlepas terikat pada FV II

FV a

FX – FXa + FV + PF3

kompleks protrombinase

( protrombin

trombin

memecah fibrinogen

fibrin !

perbaikan luka.

Anti pembekuan : AT III, Protein C, Protein S

,

mikroglobulin

2.

Tersier :

pengaktifan sistem fibrinolisis dan menyebabkan lisis

dari fibrin dan endotel menjadi utuh (14 hari)

(74)

PENYEBAB TROMBOSIS

Gangguan pada

Arteri

Gangguan pada Vena Gangguan pada Darah Trombosit Aterosklerosis Merokok Hipertensi Diabetes Melitus Kolesterol LDL Hipertrigliserida Riwayat trombosis pada keluarga

Gagal jantung kiri Kontra sepsis oral Estrogen Lipoprotein (a) Polisitemia Sindrom Hiperviskositas Sindrom Leukostasis Operasi (umum) Operasi Ortopedi Artroskopi Trauma Keganasan Imobilisasi Sepsis

Gagal jantung kongestif Sindrom nefrotik Obesitas Varicose vain Sindrom pascaflebitis Kontrasepsi oral Estrogen

Sindrom anti fosfolipid

Resistensi protein C )faktor V leiden

Sticky platelet syndrome Gangguan protein C

Gangguan protein S Gangguan anti trombin

Gangguan heparin kofaktor II Gangguan plasminogen

Gangguan plasminogen activator inhibitor

Gangguan faktor XII Hemosostenemia

(75)

Patogenesa : trombosis gangguan keseimbangan “faktor stimulasi trombogenik “ dan “faktor proteksi trombogenik “. Proses pembekuan aktivasi, tromboplastin terbentuk trombus dari protrombin, terbentuknya fibrin dari fibrinogen .

Triad Virchow: 1. ggn aliran darah / stasis

2. ggn keseimbangan faktor prokoagulan dan anti koagulan  aktifasi faktor pembekuan  koagulasi darah !

3. Ggn dd pembuluh darah /endotel yang mengeluarkan prokoagulan

Trombosis arteri : - endotel pembuluh darah tdk utuh - menempel trombosit  TROMBOSIS !

- Faktor risiko (enzim, trombin, oksidan dll  tombosis !) Stres

hemodinamik

Bakteri & virus

Sitokin Enzim Rokok ADA Endotoksin Kompleks imun Kolesterol

ENDOTEL

(76)

PATOGENESA TROMBOSIS

MEKANISME PROTEKSI

STIMULASI TROMBOGENIK

TROMBOSIS

Mekanisme stimulasi trombogenik

1. Stimulasi berlebihan disertai mekanisme Proteksi N  Trombus!

2. Stimulasi trombogenik N disertai mekanisme proteksi   Trombus Trombus arteri: - umur & obesitas - inflamasi, CRP

- genetik, kelamin - Kondisi sistemik,

- merokok,diet,kurang OR hipertensi,hiperlipidemia

- Faktor lokal, DM

Trombosis a serebral : TIA dan stroke iskemik a. coronari : AP, MCI

Referensi

Dokumen terkait