DIREKTORAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN
2014
INTEGRITAS
SEKTOR PUBLIK
INDONESIA
TAHUN 2013
DIREKTORAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN
2014
INTEGRITAS
SEKTOR PUBLIK
INDONESIA
TAHUN 2013
SEKTOR PUBLIK
INDONESIA
TAHUN 2013
FAKTA KORUPSI DALAM LAYANAN PUBLIK
Disusun oleh Direktorat Penelitian dan
Pengembangan Kedeputian Bidang
Pencegahan Komisi Pemberantasan Korupsi.
Diterbitkan oleh Direktorat Penelitian
dan Pengembangan Kedeputian Bidang
Pencegahan Komisi Pemberantasan Korupsi.
ISBN 978-602-17231-6-6
Integritas Sektor Publik Indonesia Tahun 2013
Fakta Korupsi dalam Layanan Publik
188 hlm + viii
Kegiatan Survei Integritas Sektor Publik 2013
didanai oleh APBN
www.kpk.go.id
Jl. H.R. Rasuna Said Kav. C-1
Jakarta Selatan - Indonesia
Telp. (021) 2557 8300
P
uji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas terselesaikannya
buku
Integritas Sektor Publik Indonesia Tahun 2013: Fakta Korupsi dalam Layanan
Publik
. Buku ini adalah bagian dari rangkaian survei integritas sektor publik yang
telah rutin dilaksanakan oleh Direktorat Penelitian dan Pengembangan Kedeputian
Bidang Pencegahan Komisi Pemberantasan Korupsi sejak tahun 2007.
Survei tahun 2013 dilakukan terhadap 20 instansi pusat, 5 instansi vertikal pada 33
kota/ibu kota provinsi dan 60 pemerintah daerah kabupaten/kota dengan total 484
unit layanan yang memberikan pelayanan kepada publik (masyarakat, perusahaan,
maupun layanan antar-lembaga). Responden dalam survei ini adalah pengguna
layanan langsung (bukan calo atau biro jasa) dari layanan yang disediakan dari
instansi tersebut. Survei dilaksanakan pada Mei–September 2013. Seluruh data
yang diperoleh dalam laporan survei ini adalah data primer yang bersumber dari
hasil wawancara secara langsung dengan responden di lapangan.
Kami menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan
dukungan maupun bantuan dalam pelaksanaan survei serta dalam penyusunan
buku ini. Semoga buku ini memberikan dampak yang bermanfaat bagi peningkatan
integritas sektor publik di Indonesia.
Jakarta, Mei 2014
Pimpinan
Komisi Pemberantasan Korupsi
v
Daftar Isi
Kata Pengantar
iii
1 PENDAHULUAN
1
1.1 LATAR BELAKANG
2
1.2 TUJUAN
3
1.3 METODOLOGI
4
1.3.1 Unit Layanan dan Lokasi 6
1.3.2 Karakteristik Responden 9
1.3.3 Variabel, Indikator, Sub-Indikator, dan Struktur Pertanyaan 10
1.4 ANALISIS DATA
12
2 INTEGRITAS SEKTOR PUBLIK TINGKAT NASIONAL
13
2.1 INDEKS INTEGRITAS TINGKAT NASIONAL (IIN)
14
2.2 PENGALAMAN INTEGRITAS DI LAYANAN PUBLIK TINGKAT NASIONAL 17
2.2.1 Pengalaman Korupsi di Layanan Publik Tingkat Nasional 19 2.2.2 Cara Pandang Terhadap Korupsi di Layanan Publik Tingkat Nasional 21
2.3 POTENSI INTEGRITAS DI LAYANAN PUBLIK TINGKAT NASIONAL
24
2.3.1 Lingkungan Kerja di Layanan Publik Tingkat Nasional 26 2.3.2 Sistem Administrasi di Layanan Publik Tingkat Nasional 30 2.3.3 Perilaku Individu di Layanan Publik Tingkat Nasional 32 2.3.4 Pencegahan Korupsi di Layanan Publik Tingkat Nasional 35
2.4 INDEKS INTEGRITAS TOTAL PUSAT
38
2.5 INDEKS INTEGRITAS TOTAL DAERAH
39
3 INTEGRITAS SEKTOR PUBLIK TINGKAT PUSAT
41
3.1 INDEKS INTEGRITAS TINGKAT PUSAT
42
3.2 PENGALAMAN INTEGRITAS DI LAYANAN PUBLIK TINGKAT PUSAT
45
3.2.1 Pengalaman Korupsi di Layanan Publik Tingkat Pusat 46 3.2.2 Cara Pandang Terhadap Korupsi di Layanan Publik Tingkat Pusat 50
3.3.2 Sistem Administrasi di Layanan Publik Tingkat Pusat 62 3.3.3 Perilaku Individu di Layanan Publik Tingkat Pusat 66 3.3.4 Pencegahan Korupsi di Layanan Publik Tingkat Pusat 69
4 INTEGRITAS SEKTOR PUBLIK TINGKAT VERTIKAL
73
4.1 INDEKS INTEGRITAS LEMBAGA VERTIKAL
74
4.2 PENGALAMAN INTEGRITAS DI LAYANAN PUBLIK TINGKAT VERTIKAL 77
4.2.1 Pengalaman Korupsi di Layanan Publik Tingkat Vertikal 78 4.2.2 Cara Pandang Terhadap Korupsi di Layanan Publik Tingkat Vertikal 82
4.3 POTENSI INTEGRITAS DI LAYANAN PUBLIK TINGKAT VERTIKAL
85
4.3.1 Lingkungan Kerja di Layanan Publik Tingkat Vertikal 87 4.3.2 Sistem Administrasi di Layanan Publik Tingkat Vertikal 93 4.3.3 Perilaku Individu di Layanan Publik Tingkat Vertikal 96 4.3.4 Pencegahan Korupsi di Layanan Publik Tingkat Vertikal 995 INTEGRITAS SEKTOR PUBLIK TINGKAT DAERAH
103
5.1 INDEKS INTEGRITAS TINGKAT DAERAH
104
5.2 PENGALAMAN INTEGRITAS DI LAYANAN PUBLIK TINGKAT DAERAH 107
5.2.1 Pengalaman Korupsi di Layanan Publik Tingkat Daerah 108 5.2.2 Cara Pandang Terhadap Korupsi di Layanan Publik Tingkat Daerah 112
5.3 POTENSI INTEGRITAS DI LAYANAN PUBLIK TINGKAT DAERAH
115
5.3.1 Lingkungan Kerja di Layanan Publik Tingkat Daerah 117 5.3.2 Sistem Administrasi di Layanan Publik Tingkat Daerah 123 5.3.3 Perilaku Individu di Layanan Publik Tingkat Daerah 127 5.3.4 Pencegahan Korupsi di Layanan Publik Tingkat Daerah 131
6 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
135
LAMPIRAN 139
1. Indeks Integritas Nasional (IIN), Pengalaman Integritas, dan
Potensi Integritas Berdasarkan Instansi
140
2. Indeks Integritas Nasional (IIN), Pengalaman Integritas, dan
vii
3. Indeks Integritas Total Pusat (IITP), Pengalaman Integritas, dan
Potensi Integritas Berdasarkan Instansi
153
4. Indeks Integritas Pusat (IIP), Pengalaman Integritas, dan
Potensi Integritas Berdasarkan Instansi
154
5. Indeks Integritas Pusat (IIP), Pengalaman Integritas, dan
Potensi Integritas Berdasarkan Unit Layanan
154
6. Indeks Integritas Vertikal (IIV), Pengalaman Integritas, dan
Potensi Integritas Berdasarkan Instansi
156
7. Indeks Integritas Vertikal (IIV), Pengalaman Integritas, dan
Potensi Integritas Berdasarkan Unit Layanan
156
8. Indeks Integritas Vertikal (IIV), Pengalaman Integritas, dan
Potensi Integritas Berdasarkan Instansi Kota
156
9. Indeks Integritas Vertikal (IIV), Pengalaman Integritas, dan
Potensi Integritas Berdasarkan Unit Layanan Kota
157
10. Indeks Integritas, Pengalaman Integritas, dan Potensi Integritas
Kepolisian Republik Indonesia
163
11. Indeks Integritas, Pengalaman Integritas, dan Potensi Integritas
Badan Pertanahan Nasional
164
12. Indeks Integritas, Pengalaman Integritas, dan Potensi Integritas
Kementerian Hukum dan HAM
165
13. Indeks Integritas, Pengalaman Integritas, dan Potensi Integritas
Kementerian Agama
166
14. Indeks Integritas, Pengalaman Integritas, dan Potensi Integritas
Mahkamah Agung
167
15. Indeks Integritas, Pengalaman Integritas, dan Potensi Integritas
Unit Layanan Surat Izin Mengemudi (SIM)
168
16. Indeks Integritas, Pengalaman Integritas, dan Potensi Integritas
Unit Layanan Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK)
169
17. Indeks Integritas, Pengalaman Integritas, dan Potensi Integritas
Unit Layanan Peningkatan Hak atas Tanah
170
18. Indeks Integritas, Pengalaman Integritas, dan Potensi Integritas
Unit Layanan Peralihan Hak atas Tanah
171
19. Indeks Integritas, Pengalaman Integritas, dan Potensi Integritas
Unit Layanan Paspor
172
20. Indeks Integritas, Pengalaman Integritas, dan Potensi Integritas
Unit Layanan Lembaga Pemasyarakatan
173
21. Indeks Integritas, Pengalaman Integritas, dan Potensi Integritas
23. Indeks Integritas Total Daerah (IITD), Pengalaman Integritas, dan
Potensi Integritas
176
24. Indeks Integritas Daerah (IID), Pengalaman Integritas, dan
Potensi Integritas Berdasarkan Instansi
177
25. Indeks Integritas Daerah (IID), Pengalaman Integritas, dan
Potensi Integritas Berdasarkan Unit Layanan
179
26. Indeks Integritas, Pengalaman Integritas, dan Potensi Integritas
Unit Layanan Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP)
183
27. Indeks Integritas, Pengalaman Integritas, dan Potensi Integritas
Unit Layanan Kesehatan Dasar Puskesmas
185
28. Indeks Integritas, Pengalaman Integritas, dan Potensi Integritas
O
utput
dari tugas pokok dan fungsi
instansi/lembaga pemerintah adalah
layan an yang diberikan kepada masyarakat.
Instansi/lem
baga pemerintah yang dalam
melaksana kan tugas dan fungsinya dibiayai
oleh pajak masyarakat sudah sewajarnya
untuk selalu berusaha memberikan layanan
publik yang sesuai harapan masyarakat.
Transparansi dan akuntabilitas dalam proses
Fakta layanan publik di Indonesia menunjukkan
bahwa sektor ini masih rawan korupsi dalam
bentuk penyuapan, peme
rasan, gratifikasi
ataupun penyalahgunaan wewenang.
Walau
pun nilai korupsi tidak se
lalu besar,
korupsi yang terjadi pada layanan publik
akan memengaruhi citra instansi/lembaga
pemerintah di mata masyarakat luas. Tingkat
kepercayaan masyarakat akan jatuh kepada
lembaga pemerintah yang memiliki layanan
3
1. PENDAHULUAN
kepercayaan masyarakat sudah rendah,
memulihkan nama baik instansi/lembaga
pemerintah di mata masyarakat bukanlah hal
yang mudah.
Dalam rangka mencegah secara efektif
terjadinya korupsi, hendaknya tidak cukup
dilaku
kan pengukuran yang
semata-mata bertujuan untuk mendeteksi pelaku
korupsi dan menghukumnya. Penting untuk
menempat kan strategi pencegahan korupsi
dengan tujuan untuk mengeliminasi
faktor-faktor penyebab terjadinya korupsi sejak
awal. Demikian halnya pada sektor publik,
dalam menetapkan strategi pencegahan
korupsi, perlu diidentifikasi dan dianalisis
faktor-faktor yang menjadi akar penyebab
yang berkontribusi menimbulkan korupsi
pada layanan publik.
Menilai tingkat integritas layanan publik
merupakan salah satu upaya yang perlu
dilakukan untuk memastikan faktor penyebab
terjadinya korupsi di layanan publik. Penilaian
yang dilakukan juga dapat menggambarkan
sifat-sifat korupsi di layanan publik tersebut.
Hasil dari indeks integritas mencerminkan
apakah unit layanan pada lembaga/instansi
pemerintah sudah menjalankan tugasnya
sesuai dengan yang diharapkan masyarakat.
Survei Integritas Sektor Publik oleh Komisi
Pemberantasan Korupsi dilakukan dalam
rangka hal tersebut.
Penilaian yang dilakukan berdasarkan sudut
pengguna layanan publik diharapkan mampu
mengubah perspektif layanan dari orientasi
pada penyedia layanan (
supply
) menjadi
perspektif pengguna layanan (
demand
). Hasil
ini juga diharapkan akan mendorong sektor
publik secara sukarela melakukan
upaya-upaya pemberantasan korupsi dalam layanan
publiknya. Upaya tersebut bila dilakukan
secara komprehensif pada akhirnya akan
menaikkan integritas layanan publik yang
bersangkutan dan meningkatkan kepercayaan
masyarakat pada sektor publik.
1.2 TUJUAN
S
urvei Integritas Sektor Publik dilakukan
dalam rangka mendapatkan data primer
terkait unsur-unsur integritas sektor publik
dan bagaimana unsur tersebut dimiliki dan
diterapkan oleh layanan publik menurut
penilaian pengguna layanan publik.
Tujuan dari Survei Integritas Sektor Publik
adalah sebagai berikut.
S
urvei Integritas Sektor Publik 2013
merupakan upaya mendapatkan
penilaian dari masyarakat pengguna layanan
terhadap unsur-unsur integritas dalam
layanan publik. Penilaian diarahkan untuk
men jaring pengalaman langsung responden
selama mengurus layanan. Oleh karena itu,
responden yang dipilih adalah yang mengurus
langsung layanan dalam kurun waktu satu
tahun terakhir.
Pelaksanaan kegiatan didahului dengan
penen
tuan variabel, indikator, dan
sub-indikator penyusun nilai integritas. Acuan
yang dipakai berasal dari
Anti-Corruption and
Civil Rights Commission of Korea
(dahulu
Korea
Independent Commission Against
Corruption-KICAC
). Dalam perkembangannya, instrumen
tersebut dikembangkan oleh KPK sesuai
dengan kebutuhan dan kondisi pelayanan
publik di Indonesia. Bobot variabel, indikator,
dan sub-indikator mengacu pada bobot yang
ditetapkan pakar yang berlatar belakang sosial
politik, kebijakan publik, sosiologi, psikologi,
komunikasi sosial, statistik, dan praktisi.
Varia
bel, indikator, dan sub-indikator yang
telah ditetapkan selanjutnya diterjemahkan
ke dalam pertanyaan-pertanyaan tertutup
yang dituangkan dalam kuesioner. Sebelum
survei dilakukan ke semua daerah penelitian,
terlebih dahulu dilakukan uji coba kuesioner
untuk melihat validasi dan keandalannya. Isian
kuesioner yang ditanyakan kepada responden
adalah kuesioner yang telah disesuaikan
berdasarkan hasil uji coba.
Nilai integritas dalam survei ini berkisar antara
0–10. Nilai ini menunjukkan bahwa semakin
mendekati 10, integritas untuk layanan
semakin baik dan sebaliknya jika mendekati 0,
integritas layanan semakin buruk. Penjelasan
umum mengenai metodologi pelaksanaan
survei dijelaskan pada tabel berikut.
1.3 METODOLOGI
1. Memetakan tingkat integritas layanan publik.
2. Menyampaikan tingkat integritas tersebut
kepada lembaga/instansi pemerintah
yang memiliki layanan publik tersebut dan
masyarakat luas.
3. Menyampaikan rekomendasi perbaikan
ke
pada tiap-tiap unit layanan publik
berdasarkan nilai indeks integritas yang
dicapainya.
5
1. PENDAHULUAN
Tabel 1.1
Metodologi Pelaksanaan Survei Integritas Sektor Publik
No. Item Uraian
1 Waktu pelaksanaan survei Survei dilaksanakan pada bulan Mei hingga September 2013
2 Lokasi survei
Unit layanan instansi pusat dilakukan di Jakarta dan sekitarnya Unit layanan instansi vertikal dilakukan di 33 kota/ibu kota provinsi Unit layanan pemerintah daerah dilakukan di 60 kabupaten/kota
3 Jumlah instansi dan unit layanan yang disurvei
Instansi pusat : 40 unit layanan pada 20 instansi pusat Instansi vertikal : 264 unit layanan pada 5 instansi vertikal Pemerintah daerah : 180 unit layanan pada 60 kabupaten/kota
4 Responden
Pengguna layanan yang merasakan langsung layanan dalam 1 tahun terakhir dan telah menjalani seluruh prosedur layanan, individu/mewakili perusahaan/instansi.
Khusus responden pada unit layanan Pengadaan Barang dan Jasa (PBJ) ditambahkan kriteria bahwa responden adalah perusahaan yang pernah mengikuti tender/lelang di instansi/pemerintah daerah dan memiliki peringkat 3 besar pada tahapan akhir proses tender/lelang.
Total Responden : 15.000 dengan jumlah minimal responden per unit layanan 30 a. Instansi pusat : 1.200 responden
b. Instansi vertikal : 8.160 responden c. Pemerintah daerah : 5.640 responden
5 Komponen yang dinilai
Variabel 1. Pengalaman Integritas 2 . Potensi Integritas
Indikator
1. Pengalaman Korupsi 2 . Cara Pandang Terhadap Korupsi 3. Lingkungan Kerja 4. Sistem Administrasi 5. Perilaku Individu 6. Pencegahan Korupsi Sub-Indikator 1. Jumlah/Besaran Gratifikasi 2. Frekuensi Pemberian Gratifikasi 3. Waktu Pemberian Gratifikasi 4. Arti Pemberian Gratifikasi 5. Tujuan Pemberian Gratifikasi 6 Kebiasaan Pemberian Gratifikasi 7. Kebutuhan Pertemuan di Luar Prosedur 8. Keterlibatan Calo
9. Fasilitas di Sekitar Lingkungan Pelayanan 10. Suasana/Kondisi di Sekitar Pelayanan 11. Kepraktisan SOP
12. Keterbukaan Informasi 13. Pemanfaatan Teknologi Informasi 14. Keadilan dalam Layanan
15. Ekspektasi Petugas Terhadap Gratifikasi 16. Perilaku Pengguna Layanan 17. Tingkat Upaya Anti-Korupsi 18. Mekanisme Pengaduan Masyarakat
No. Item Uraian
6 Metode pengukuran
Pembobotan variabel, indikator, dan sub-indikator oleh pakar melalui Focus Group Discussion (FGD) dengan menggunakan metode Analytical Hierarchical Process (AHP)
Penilaian dengan instrumen pertanyaan dalam kuesioner yang dijawab langsung oleh responden
7 Instrumen pengumpulan data 1 . Wawancara
2 . Pengamatan deskriptif unit layanan
8 Nilai Sebaran : 0 –10
Arti : Semakin mendekati nilai 10, maka indeks integritas semakin baik
Penilaian integritas sektor publik tahun 2013
dilakukan terhadap 484 unit layanan dengan
perincian sebagai berikut:
Tabel 1.2
Jumlah Unit Layanan Survei Integritas Sektor Publik 2013
No. Instansi Jumlah Unit Layanan
1 Pusat 40 unit layanan Kementerian/ Lembaga
2 Vertikal 264 unit layanan 3 Pemerintah Daerah 180 unit layanan
Di tingkat pusat, survei dilakukan terhadap
unit layanan instansi/lembaga yang berlokasi
di Jakarta dan sekitarnya. Pada lembaga/
instansi vertikal, survei dilakukan terhadap
5 unit layanan yang berlokasi di 33 kota/
ibu kota provinsi. Di instansi daerah, survei
dilakukan pada 3 unit layanan, yaitu SIUP,
layanan kesehatan dasar, dan layanan
pengadaan barang dan jasa yang tersebar di
60 pemerintah kabupaten/kota.
1.3.1 U
NITL
AYANAN DANL
OKASITabel 1.3
Unit Layanan Survei Integritas Sektor Publik 2013
No. Instansi Unit layanan
1 Pusat
1 Kementerian
2 Lembaga Non-Kementerian
Catatan: Nama Unit layanan berbeda setiap instansi
2 Vertikal
1 Kepolisian RI Pembuatan SIM Pembuatan SKCK
2 Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia
Pembuatan dan Perpanjangan Paspor Layanan Lembaga Pemasyarakatan 3 Kementerian Agama Administrasi Pernikahan di KUA 4 Mahkamah Agung Administrasi Sidang di Pengadilan Agama
5 Badan Pertanahan Nasional Peningkatan Hak Atas Tanah Peralihan Hak Atas Tanah
3 Pemerintah Daerah
1 Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) 2 Layanan Kesehatan Dasar di Puskesmas
7
1. PENDAHULUAN
Nama unit layanan sampel tingkat pusat ditunjukkan dalam tabel berikut.
Tabel 1.4
Nama Instansi dan Unit Layanan Sampel Tingkat Pusat pada Survei Integritas 2013
No. Instansi No. Unit Layanan
1 Kementerian Perdagangan 1 Nomor Pengenal Importir Khusus 2 Pengadaan Barang dan Jasa
2 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 1 Bantuan Penelitian 2 Pengadaan Barang dan Jasa
3 Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral 1 Surat Keterangan Terdaftar 2 Pengadaan Barang dan Jasa
4 Kementerian Keuangan 1 Administrasi Sengketa Pajak 2 Pengadaan Barang dan Jasa
5 Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi 1 Rencana Penggunaan Tenaga Kerja Asing (RPTKA) 2 Pengadaan Barang dan Jasa
6 Kementerian Perhubungan 1 Izin Penyelenggaraan Angkutan Pariwisata 2 Pengadaan Barang dan Jasa
7 Kementerian Komunikasi dan Informatika 1 Pengujian Perangkat Telekomunikasi 2 Pengadaan Barang dan Jasa
8 Kementerian Perindustrian 1 LS Pro Pustan SNI 2 Pengadaan Barang dan Jasa
9 Kementerian Kelautan dan Perikanan 1 Izin Penangkapan Ikan 2 Pengadaan Barang dan Jasa
10 Kementerian Kesehatan 1 Izin Edar Alat Kesehatan 2 Pengadaan Barang dan Jasa
11 Kementerian Pertanian 1 Rekomendasi Izin Impor Beras Jenis Tertentu 2 Pengadaan Barang dan Jasa
12 Kementerian Kehutanan 1 Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan 2 Pengadaan Barang dan Jasa
13 Kementerian Lingkungan Hidup 1 Jasa Pengolahan Limbah B3 2 Pengadaan Barang dan Jasa
14 Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif 1 Tanda Pendaftaran Pembuatan Film Iklan 2 Pengadaan Barang dan Jasa
15 Kementerian Luar Negeri 1 Izin Exit Permit
2 Pengadaan Barang dan Jasa
16 Badan Pengawas Obat dan Makanan 1 Pendaftaran Izin Edar Makanan 2 Pengadaan Barang dan Jasa
17 Badan Koordinasi Penanaman Modal 1 Izin Usaha
2 Pengadaan Barang dan Jasa 18 Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI 1 Kartu Tenaga Kerja Luar Negeri (KTKLN)
2 Pengadaan Barang dan Jasa
19 RSUP Fatmawati 1 Layanan Rawat Inap Non-Jaminan 2 Pengadaan Barang dan Jasa
20 RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo 1 Layanan Rawat Inap Non-Jaminan 2 Pengadaan Barang dan Jasa
Di tingkat vertikal, unit layanan yang disurvei
men
cakup 33 provinsi yang diwakili oleh
la
yan
an vertikal di 33 ibu kota provinsi,
yaitu Samarinda, Denpasar, Tanjungpinang,
Gorontalo, Mamuju, Bandar Lampung, Mataram,
Manado, Palu, Ternate, Padang, Banda Aceh,
Banjarmasin, Kupang, Ambon, Jambi, Makassar,
Surabaya, Yogyakarta, Kendari, Pangkalpinang,
Pontianak, Palangkaraya, Semarang, Serang,
Pekanbaru, Bandung, DKI Jakarta, Palembang,
Bengkulu, Medan, Manokwari, Jayapura.
Pada tingkat daerah, survei dilakukan di
60 pemerintah kota/kabupaten. Dari 60
pemerintah kota/kabupaten tersebut, 33 di
antaranya adalah ibu kota provinsi yang juga
dijadikan lokasi sampel unit layanan vertikal.
Dua puluh tujuh lainnya merupakan pemko/
pemkab yang dipilih dengan alasan intensitas
pelayanan publik yang tinggi di kota/
kabupaten ter sebut. Tabel berikut menjelaskan
nama 60 pemerintah kota/kabupaten yang
menjadi sampel survei integritas sektor
publik, spesifik pelayanan publik SIUP, layanan
kesehatan dasar, dan layanan PBJ.
Tabel 1.5
Lokasi Survei Integritas Sektor Publik 2013
Korwil No. Provinsi Pemerintah Daerah
I
1 Aceh Pemko Banda Aceh
2 Aceh Pemko Lhokseumawe
3 Sumatera Utara Pemko Medan 4 Sumatera Utara Pemko Binjai 5 Sumatera Utara Pemko Pematangsiantar
6 Riau Pemko Dumai
7 Riau Pemko Pekanbaru
8 Sumatera Barat Pemko Bukittinggi 9 Sumatera Barat Pemko Padang
II
10 Kepulauan Riau Pemko Tanjungpinang 11 Kepulauan Riau Pemko Batam 12 Kepulauan Bangka Belitung Pemko Pangkalpinang
13 Bengkulu Pemko Bengkulu
14 Sumatera Selatan Pemko Lubuklinggau 15 Sumatera Selatan Pemko Palembang
16 Jambi Pemko Jambi
17 Lampung Pemko Metro
18 Lampung Pemko Bandar Lampung
III
19 DKI Jakarta Pemko Jakarta
20 Banten Pemko Serang
21 Banten Pemko Cilegon
22 Banten Pemko Tangerang
IV
23 Jawa Barat Pemko Depok
24 Jawa Barat Pemko Bandung
25 Jawa Barat Pemko Bogor
26 Jawa Barat Pemko Cirebon
27 Jawa Barat Pemko Bekasi
28 Jawa Tengah Pemko Semarang 29 Jawa Tengah Pemko Surakarta 30 Jawa Tengah Pemko Pekalongan 31 Jawa Tengah Pemkab Banyumas 32 DI Yogyakarta Pemko Yogyakarta
Korwil No. Provinsi Pemerintah Daerah
V
33 Jawa Timur Pemko Surabaya 34 Jawa Timur Pemkab Sidoarjo
35 Jawa Timur Pemko Malang
36 Jawa Timur Pemkab Jember
37 Jawa Timur Pemko Kediri
38 Jawa Timur Pemko Madiun
39 Kalimantan Barat Pemko Pontianak 40 Kalimantan Timur Pemko Samarinda 41 Kalimantan Timur Pemko Balikpapan 42 Kalimantan Tengah Pemko Palangkaraya 43 Kalimantan Selatan Pemko Banjarmasin 44 Kalimantan Selatan Pemko Banjarbaru
VI
45 Bali Pemko Denpasar
46 Nusa Tenggara Barat Pemko Mataram 47 Nusa Tenggara Barat Pemko Bima 48 Nusa Tenggara Timur Pemko Kupang
VII
49 Sulawesi Selatan Pemko Makassar 50 Sulawesi Selatan Pemko Parepare 51 Sulawesi Barat Pemkab Mamuju 52 Sulawesi Tengah Pemko Palu 53 Sulawesi Tenggara Pemko Kendari 54 Sulawesi Utara Pemko Manado 55 Sulawesi Utara Pemko Bitung
56 Gorontalo Pemko Gorontalo
VIII
57 Maluku Utara Pemko Ternate
58 Maluku Pemko Ambon
59 Papua Pemko Jayapura
9
1. PENDAHULUAN
Total jumlah responden pada survei integritas
tahun 2013 adalah 15.000 orang. Responden
tersebut merupakan individu atau perwakilan
suatu institusi yang mengurus layanan secara
langsung pada unit layanan di instansi daerah,
instansi vertikal, maupun instansi pusat
dalam kurun waktu 12 bulan terakhir. Jumlah
responden di setiap unit layanan adalah 30
responden. Profil responden ditunjukkan pada
tabel berikut.
Tabel 1.6
Profil Responden Nasional
Kelompok Umur 17–19 tahun 4,7% 20–29 tahun 32,3% 30–39 tahun 32,2% 40–49 tahun 21,9% 50 tahun ke atas 8,9% Total 100,0%
Status dalam Rumah Tangga
Kepala Rumah Tangga 40,7% Istri Kepala Rumah Tangga 33,1%
Anak 26,2%
Total 100,0%
Pekerjaan Saat Ini
Wiraswasta 31,5%
Karyawan Swasta 29,7% Ibu Rumah Tangga 15,3% Pelajar/Mahasiswa 9,1% PNS/TNI/Polri 4,4% Buruh/Petani/Nelayan 2,7% Pengajar/Dosen 1,8% Profesional 1,0% Pensiunan/Purnawirawan 0,8% Lainnya 3,7% Total 100,0% Gender Laki-laki 55,3% Perempuan 44,7% Total 100,0%
Pendidikan yang Ditamatkan
Tidak Sekolah/Tidak Tamat SD 0,6%
SD 3,6% SLTP 8,0% SLTA 52,1% Akademi/Diploma 9,1% D-4/Sarjana 24,3% Pasca-Sarjana 2,3% Total 100,0% Kelompok Pengeluaran Kurang dari Rp750.000 5,1% Rp750.000 s.d. Rp1.250.000 29,7% Rp1.250.001 s.d. Rp2.000.000 13,8% Rp2.000.001 s.d. Rp3.500.000 1,0% Rp3.500.001 s.d. Rp5.000.000 14,1% Rp5.000.001 s.d. Rp7.500.000 32,0% Rp7.500.001 s.d. Rp10.000.000 4,0% Lebih dari Rp10.000.000 0,3% Total 100,0%
Persentase responden secara nasional lebih
didominasi laki-laki (55,3%), usia 20–29 tahun
(32,3%), pendidikan yang ditamatkan SLTA
(52,1%), pekerjaan wiraswasta (31,5%), dan
rata-rata pengeluaran rumah tangga per bulan
Rp5.000.001 s.d. Rp7.500.000 (32,0%).
1.3.3 V
ARIABEL, I
NDIKATOR, S
UB-I
NDIKATOR,
DANS
TRUKTURP
ERTANYAANTerdapat dua variabel utama dalam
menentukan tingkat integritas suatu unit
layanan dan instansi, (1) Pengalaman Integritas
dan (2) Potensi Integritas. Kedua variabel
utama tersebut diturunkan ke dalam beberapa
indi kator dan sub-indikator untuk kemudian
di jabarkan ke dalam 26 pertanyaan tertutup.
Tabel 1.7
Variabel, Indikator, dan Sub-Indikator berdasarkan Bobot Penilaian
Integritas Variabel Indikator Sub-Indikator
Integritas Total (1,00)
Pengalaman Integritas (0,667)
Pengalaman Korupsi (0,250)
Jumlah/Besaran Gratifikasi (0,210)
Frekuensi Pemberian Gratifikasi (0,550)
Waktu Pemberian Gratifikasi (0,240)
Cara Pandang Terhadap Korupsi (0,750)
Arti Pemberian Gratifikasi (0,250)
Tujuan Pemberian Gratifikasi (0,750)
Potensi Integritas (0,333)
Lingkungan Kerja (0,127)
Kebiasaan Pemberian Gratifikasi (0,392)
Kebutuhan Pertemuan di Luar Prosedur (0,164)
Keterlibatan Calo (0,221)
Fasilitas di Sekitar Lingkungan Pelayanan (0,100)
Suasana Kondisi di Sekitar Pelayaan (0,123)
Sistem Administrasi (0,280)
Kepraktisan SOP (0,281)
Keterbukaan Informasi (0,584)
Pemanfaatan Teknologi Informasi (0,135)
Perilaku Individu (0,280)
Keadilan dalam Layanan (0,413)
Ekspektasi Petugas Terhadap Gratifikasi (0,327)
Perilaku Pengguna Layanan (0,260)
Pencegahan Korupsi (0,313)
Tingkat Upaya Anti-Korupsi (0,750)
Mekanisme Pengaduan Masyarakat (0,250)
11
1. PENDAHULUAN A. Identifikasi/Pengenal Kuesioner 1 Nomor kuesioner 2 Unit layanan 3 Kode instansi B. Identitas Responden 1 Nama 2 Pekerjaan 3 Pendidikan C. Identitas Perusahaan 1 Nama 2 Alamat D. Pengalaman Korupsi1 Sesuai/tidaknya biaya dengan ketentuan/biaya resmi
2 Jumlah biaya tambahan yang dibayarkan
3 Berapa kali memberikan biaya tambahan
4 Kapan biaya tambahan diberikan
5 Bentuk-bentuk biaya tambahan yang diberikan
E. Cara Pandang Terhadap Korupsi
1 Pendapat tentang biaya tambahan/gratifikasi
2 Tujuan memberikan biaya tambahan
3 Alasan utama memberikan biaya tambahan
F. Lingkungan Kerja
1 Intensitas praktik pemberian uang tambahan di unit layanan
2 Bagaimana pemberian uang tambahan di unit layanan
3 Pernah/tidak melakukan pertemuan di luar prosedur saat mengurus layanan
4 Berapa kali pertemuan di luar prosedur dilakukan
5 Tujuan melakukan pertemuan di luar prosedur
6 Melihat ada/tidaknya keberadaan perantara di luar prosedur beroperasi
7 Siapakah yang menjadi perantara di luar prosedur
8 Berapa jumlah perantara di luar prosedur di unit layanan
9 Pengaruh dari keberadaan perantara di luar prosedur dalam unit layanan
10 Bagaimana cara perantara di luar prosedur beroperasi
11 Bagaimana kondisi fasilitas (sarana dan prasarana) di lingkungan layanan
12 Bagaimana suasana/kondisi fasilitas di lingkungan layanan
G. Sistem Administrasi
1 Mudah/sulit prosedur (tahapan) pengurusan layanan
2 Mudah/sulit persyaratan pengurusan layanan
3 Tepat waktu/lambat waktu penyelesaian pengurusan layanan
4 Bagaimana biaya yang dibayar dalam pengurusan layanan
5 Tingkat keterbukaan informasi di unit layanan
6 Kejelasan informasi yang diperoleh di layanan
7 Kondisi dari sistem teknologi informasi (sistem antrean, sistem informasi) pada unit layanan
8 Tujuan utama menggunakan teknologi informasi
9 Kapan teknologi informasi tersebut digunakan
H. Perilaku Individu
1 Penilaian pengguna layanan terhadap petugas yang melayani
2 Ada/tidaknya pembedaan perlakukan petugas dalam memberi layanan
3 Dasar pengguna layanan berinisiatif memberikan uang tambahan
4 Siapa berinisiatif memberikan uang tambahan
5 Cara petugas meminta uang tambahan
I. Pencegahan Korupsi
1 Ada/tidaknya kampanye/media antikorupsi di layanan
2 Bentuk kampanye/media antikorupsi yang tersedia
3 Berapa banyak kegiatan/media antikorupsi di layanan
4 Tingkat aksesibilitas media pengaduan/pengajuan komplain
5 Media pengaduan apa yang ada di unit layanan
6 Tindak lanjut/respons petugas dari pengaduan yang disampaikan
Struktur pertanyaan yang digunakan dalam kuesioner Survei Integritas 2013 dapat dilihat pada
tabel berikut.
Tabel 1.8
1.4 ANALISIS DATA
P
roses pengolahan data menggunakan
apli kasi
R-Statistical Analysis Package
,
SPSS for Advanced Analysis
, dan
Excel
. Aplikasi
ini digunakan untuk membantu menerapkan
formula sesuai dengan ketentuan skoring yang
telah ditetapkan. Hasil dari pengolahan data
adalah nilai-nilai yang telah diproses mengikuti
semua formula yang telah ditentukan.
Sumber data adalah
file
SPSS yang merupakan
hasil inputan dari jawaban responden. Data
selanjutnya diolah secara bertahap ke dalam
sub-indikator, indikator, dan variabel hingga
menghasilkan indeks integritas unit layanan,
pemda, instansi vertikal, instansi pusat, sampai
nasional. Hasil pengolahan data disajikan
dalam skala nilai 0–10, menunjukkan bahwa
semakin mendekati nilai 10 maka indeks
integritas semakin baik yang menggambarkan
baiknya pelayanan sektor publik terhadap
masyarakat saat pengurusan layanan.
INTEGRITAS SEKTOR
PUBLIK TINGKAT
2.1 INDEKS INTEGRITAS TINGKAT NASIONAL (IIN)
T
ahun 2013 Indeks Integritas Nasional
yang menunjukkan nilai integritas
layanan publik secara nasional berada di posisi
6,80. Nilai ini meningkat dibandingkan
tahun-tahun sebelumnya. Pada skala 0–10, indeks
integritas nasional tahun 2013 sudah berada
di atas nilai standar minimal yang ditetapkan
KPK (6,00).
2013 2012 2011 2010 2009 2008 2007 5,34 5,53 5,96 5,87 4,86 5,97 5,34 6,37 6,89 7,19 6,80 6,02 6,31 6,48 5,42 5,70 6,50 6,71 6,84 7,21 6,00 4 5 6 7 8 Pengalaman Integritas Potensi Integritas Nilai IIN Gambar 2.1Perkembangan Indeks Integritas Nasional (IIN) Tahun 2007–2013
Dalam kurun waktu 7 tahun terakhir, IIN
mengalami fluktuasi pada
range
nilai antara
5,42–6,84. Nilai IIN sempat meningkat pada
tahun 2008, kemudian menurun sampai
tahun 2010. Pada tahun 2011, IIN kemudian
mengalami peningkatan hingga tahun 2013.
(
Gambar 2.1
)
Indeks Integritas Nasional disusun
berdasarkan variabel, indikator, dan
sub-indikator komponen integritas dari 40 unit
layanan di 20 instansi pusat, 264 unit layanan
pada 5 instansi vertikal, dan 180 unit layanan
pada 60 instansi pemerintah daerah.
15
2. INTEGRITAS SEKTOR PUBLIK TINGKAT NASIONAL
INDEKS INTEGRITAS
Pengalaman Integritas
Pengalaman Korupsi
Cara Pandang Terhadap Korupsi
Lingkungan Kerja Sistem Administrasi Perilaku Individu Pencegahan Korupsi Potensi Integritas 6,80 7,19 7,25 7,17 7,70 6,35 6,60 4,54 6,02
Nilai di bawah 6 (di bawah standar minimum integritas) Keterangan:
Jumlah/Besaran Gratifikasi Frekuensi Pemberian Gratifikasi Waktu Pemberian Gratifikasi 6,93
7,36 7,29
Kepraktisan SOP Keterbukaan Informasi Pemanfaatan Teknologi Informasi 7,04
6,20
5,56
Keadilan dalam Layanan
Ekspektasi Petugas Terhadap Gratifikasi Perilaku Pengguna Layanan 7,42
6,32
5,64
Arti Pemberian Gratifikasi Tujuan Pemberian Gratifikasi 7,05
7,22
Tingkat Upaya Anti-Korupsi Mekanisme Pengaduan Masyarakat
4,55 4,51
Kebiasaan Pemberian Gratifikasi Kebutuhan Pertemuan di Luar Prosedur Keterlibatan Calo
Fasilitas di Sekitar Lingkungan Pelayanan Suasana/Kondisi di Sekitar Lingkungan Pelayanan 6,62 9,70 8,22 7,65 7,58 Gambar 2.2
Indeks Integritas Nasional (IIN) dan Komponen Penyusunnya
Dari 18 sub-indikator penyusun IIN, hanya 4
sub-indikator yang nilainya di bawah 6,00.
Empat belas sub-indikator sudah berada di
atas standar 6,00. Peningkatan skor IIN pada
tahun ini menunjukkan telah ada
upaya-upaya perbaikan layanan sektor publik yang
dilakukan oleh layanan publik di daerah,
vertikal, maupun pusat.
Nilai Pengalaman Integritas memberikan
kontribusi yang baik dalam meningkatkan nilai
IIN, sedangkan nilai Potensi Integritas hanya
sedikit berada di atas nilai standar minimal.
Pada potensi integritas, nilai yang masih
rendah terdapat pada indikator Pencegahan
Korupsi (4,54), dan sub-indikator Pemanfaatan
Teknologi Informasi (5,56), Perilaku Pengguna
Layanan (5,64), Tingkat Upaya Anti-Korupsi
(4,55), dan Mekanisme Pengaduan Masyarakat
(4,51).
Peringkat indeks integritas tingkat nasional
Tahun 2013 dari 60 pemerintah daerah, 5
instansi vertikal, dan 20 instansi pusat yang
disurvei KPK ditunjukkan pada
Tabel 2.1
.
Tabel 2.1
Peringkat Nasional Integritas Tingkat Nasional Tahun 2013
No. Instansi/Pemda Integritas
1 Pemko Parepare 7,71 2 Badan Pengawas Obat dan Makanan 7,69 3 Kementerian Lingkungan Hidup 7,64 4 Pemko Surabaya 7,61 5 RS Fatmawati 7,58 6 Badan Koordinasi Penanaman Modal 7,57 7 Pemko Bitung 7,54 8 Pemko Tanjungpinang 7,50 9 Pemko Gorontalo 7,49 10 Kementerian Pertanian 7,49 11 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 7,46 12 RS Cipto Mangunkusumo 7,45 13 Kementerian Kesehatan 7,41 14 Kementerian Komunikasi dan Informatika 7,41 15 Pemko Pematangsiantar 7,41 16 Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi 7,40 17 Kementerian Keuangan 7,38 18 Pemko Mataram 7,36 19 Kementerian Perindustrian 7,32 20 Kementerian Energi Sumber Daya Mineral 7,31 21 Pemko Denpasar 7,30 22 Pemko Bogor 7,29 23 Kementerian Perdagangan 7,28 24 Pemko Yogyakarta 7,28 25 Pemko Samarinda 7,27 26 Kementerian Luar Negeri 7,24 27 Kementerian Perhubungan 7,23 28 Pemko Cilegon 7,20 29 Pemkab Sidoarjo 7,20 30 Pemko Pekalongan 7,18 31 Kementerian Kehutanan 7,17 32 Pemko Lhokseumawe 7,13 33 Kementerian Kelautan dan Perikanan 7,12 34 DKI Jakarta 7,10 35 Mahkamah Agung 7,10 36 BNP2 – TKI 7,09 37 Pemko Pangkalpinang 7,05 38 Pemko Bandung 7,01 39 Pemko Makassar 7,00 40 Pemko Kupang 7,00 41 Pemko Serang 6,99 42 Pemko Padang 6,99 43 Kementerian Hukum dan HAM 6,99
No. Instansi/Pemda Integritas
44 Pemko Bekasi 6,97 45 Pemko Banjarmasin 6,94 46 Pemko Banda Aceh 6,93 47 Pemko Jambi 6,90 48 Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif 6,88 49 Pemko Bukittinggi 6,83 50 Pemko Depok 6,82 51 Pemko Madiun 6,81 52 Pemko Metro 6,79 53 Pemko Manado 6,75 54 Pemko Batam 6,74 55 Pemko Binjai 6,73 56 Pemko Cirebon 6,72 57 Pemko Palembang 6,72 58 Pemkab Banyumas 6,70 59 Pemko Ambon 6,67 60 Pemko Medan 6,65 61 Kepolisian Republik Indonesia 6,63 62 Pemko Malang 6,63 63 Pemko Tangerang 6,60 64 Pemko Kendari 6,59 65 Pemko Dumai 6,59 66 Pemkab Mamuju 6,58 67 Pemko Pontianak 6,58 68 Kementerian Agama 6,54 69 Pemko Kediri 6,53 70 Pemkab Manokwari 6,50 71 Pemko Lubuklinggau 6,47 72 Pemko Ternate 6,47 73 Pemko Surakarta 6,41 74 Pemko Banjarbaru 6,40 75 Pemko Bandar Lampung 6,38 76 Badan Pertanahan Nasional 6,36 77 Pemkab Jember 6,31 78 Pemko Semarang 6,29 79 Pemko Balikpapan 6,19 80 Pemko Palu 6,16 81 Pemko Bima 6,10 82 Pemko Pekanbaru 6,05 83 Pemko Bengkulu 6,04 84 Pemko Palangkaraya 5,97 85 Pemko Jayapura 5,66
17
2. INTEGRITAS SEKTOR PUBLIK TINGKAT NASIONAL
Peringkat terbaik integritas di tingkat nasional
Tahun 2013 dicapai oleh Pemko Parepare.
Sementara itu, dua instansi yang memiliki nilai
di bawah standar minimal yang ditetapkan
KPK adalah Pemko Palangkaraya dan Pemko
Jayapura.
2.2 PENGALAMAN INTEGRITAS DI LAYANAN
PUBLIK TINGKAT NASIONAL
P
engalaman Integritas memiliki bobot
lebih tinggi (0,667) dibandingkan potensi
integritas (0,333). Nilai pengalaman integritas
disusun dari indikator Pengalaman Korupsi
dan Cara Pandang terhadap Korupsi.
Pengalaman Integritas
Pengalaman Korupsi
Cara Pandang terhadap Korupsi 7,19
7,25
7,17 Arti Pemberian Gratifikasi
Tujuan Pemberian Gratifikasi 7,05
7,22
Jumlah/Besar Gratifikasi Frekuensi Pemberian Gratifikasi Waktu Pemberian Gratifikasi 6,93
7,36 7,29
Gambar 2.3
Nilai Variabel Pengalaman Integritas dan Komponen Penyusunnya di Layanan Publik Tingkat Nasional
Nilai variabel Pengalaman Integritas Nasional
adalah 7,19. Nilai tersebut dan komponen
penyusunnya berada pada posisi di atas nilai
standar minimal (6,00). Nilai Pengalaman
Integritas secara nasional ditunjukkan pada
Tabel 2.2
Peringkat Nasional Berdasarkan Pengalaman Integritas di Layanan Publik Tingkat Nasional Tahun 2013
No. Instansi/Pemda Pengalaman Inte gritas
1 RS Fatmawati 7,99 2 Pemko Lhokseumawe 7,95 3 Badan Pengawas Obat dan Makanan 7,95 4 Pemko Surabaya 7,93 5 Pemkab Sidoarjo 7,90 6 Pemko Gorontalo 7,89 7 Pemko Tanjungpinang 7,87 8 Kementerian Lingkungan Hidup 7,85 9 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 7,85 10 Pemko Parepare 7,83 11 Badan Koordinasi Penanaman Modal 7,80 12 Pemko Pematangsiantar 7,79 13 RS Cipto Mangunkusumo 7,79 14 Kementerian Kesehatan 7,75 15 Pemko Mataram 7,75 16 Pemko Pekalongan 7,73 17 Kementerian Pertanian 7,71 18 Pemko Denpasar 7,67 19 Pemko Bogor 7,66 20 Pemko Bitung 7,66 21 Pemkab Mamuju 7,66 22 Kementerian Keuangan 7,64 23 Pemko Cilegon 7,64 24 Pemko Samarinda 7,62 25 Mahkamah Agung 7,62 26 Pemko Padang 7,60 27 Kementerian Energi Sumber Daya Mineral 7,60 28 Kementerian Kehutanan 7,60 29 Kementerian Komunikasi dan Informatika 7,58 30 Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi 7,57 31 Pemko Jambi 7,57 32 Pemko Yogyakarta 7,56 33 Pemko Pangkalpinang 7,56 34 Kementerian Luar Negeri 7,52 35 Pemko Serang 7,51 36 Pemko Makassar 7,51 37 Kementerian Perindustrian 7,49 38 DKI Jakarta 7,47 39 Pemko Banda Aceh 7,46 40 Pemko Kupang 7,43 41 Kementerian Perdagangan 7,42 42 Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI 7,41 43 Kementerian Hukum dan HAM 7,40
No. Instansi/Pemda Pengalaman Inte gritas 44 Pemko Bandung 7,39 45 Pemko Cirebon 7,39 46 Pemko Banjarmasin 7,38 47 Pemko Madiun 7,38 48 Pemko Medan 7,32 49 Pemko Bukittinggi 7,31 50 Kementerian Perhubungan 7,30 51 Pemko Bekasi 7,27 52 Kementerian Kelautan dan Perikanan 7,24 53 Pemko Binjai 7,19 54 Pemko Depok 7,19 55 Pemko Metro 7,19 56 Pemkab Banyumas 7,18 57 Pemko Lubuklinggau 7,15 58 Pemkab Manokwari 7,12 59 Pemko Ambon 7,09 60 Pemko Malang 7,06 61 Pemko Palembang 7,04 62 Pemko Batam 7,04 63 Kementerian Agama 7,03 64 Pemko Dumai 7,03 65 Kepolisian Republik Indonesia 6,99 66 Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif 6,96 67 Pemko Kendari 6,96 68 Pemko Manado 6,96 69 Pemko Ternate 6,95 70 Pemko Kediri 6,89 71 Pemko Tangerang 6,88 72 Pemko Pontianak 6,83 73 Pemko Palu 6,80 74 Pemko Bima 6,77 75 Pemko Bandar Lampung 6,75 76 Badan Pertanahan Nasional 6,67 77 Pemko Banjarbaru 6,62 78 Pemkab Jember 6,58 79 Pemko Bengkulu 6,51 80 Pemko Surakarta 6,46 81 Pemko Semarang 6,39 82 Pemko Pekanbaru 6,34 83 Pemko Balikpapan 6,31 84 Pemko Palangkaraya 6,28 85 Pemko Jayapura 5,80
19
2. INTEGRITAS SEKTOR PUBLIK TINGKAT NASIONALPeringkat terbaik nilai Pengalaman Integritas
di tingkat nasional adalah RS Fatmawati.
Adapun yang nilai pengalaman integritasnya
masih di bawah standar minimal integritas
adalah Pemko Jayapura.
2.2.1 P
ENGALAMANK
ORUPSI DIL
AYANANP
UBLIKT
INGKATN
ASIONALPengalaman Korupsi yang merupakan
indikator dari pengalaman integritas adalah
praktik atau kejadian korupsi di unit layanan
publik yang dirasakan langsung oleh
masyarakat pengguna layanan. Pengalaman
korupsi ditunjukkan dalam bentuk biaya-biaya
tambah an (gratifikasi) yang harus dibayarkan
oleh pengguna layanan di luar biaya
resmi yang ditetapkan. Tiga sub-indikator
pengalaman korup si adalah Jumlah/Besaran
Gratifikasi, Frekuensi Pemberian Gratifikasi,
serta Waktu Pemberian Gratifikasi.
Pengalaman Korupsi
Jumlah/Besar Gratifikasi
Frekuensi Pemberian Gratifikasi
Waktu Pemberian Gratifikasi
7,25
6,93
7,36
7,29
Gambar 2.4
Nilai Indikator Pengalaman Korupsi dan Sub-Indikator Penyusunnya di Layanan Publik Tingkat Nasional
Nilai indikator Pengalaman Korupsi di tingkat
nasional adalah 7,25 yang disusun dari 3
sub-indikator dengan nilai masing-masing sudah di
atas standar minimal yang ditetapkan oleh KPK
sebesar 6,0. Bagian selanjutnya menjelaskan
detail sub-indikator dari indikator Pengalaman
Korupsi.
Nilai sub-indikator Jumlah/Besaran Gratifikasi
adalah 6,93. Dengan nilai ini, masih ada peng guna
layanan yang mengeluarkan biaya tidak resmi
dalam mengurus layanan. Berdasarkan hasil
survei, terdapat 15% pengguna layanan publik
menyatakan bahwa biaya yang dikeluarkan tidak
sesuai dengan biaya resmi. Biaya tambahan yang
dikeluarkan cukup bervariasi, namun sebagian
besar me ngeluarkan biaya tambahan lebih dari
50% dari biaya resmi yang ditetapkan (
Gambar
2.5
).
Memberi 15%
Memberi dengan nilai > 50% dari biaya resmi
Memberi dengan nilai < 50% dari biaya resmi
Tidak sesuai Tidak memberi 85% 86% 14% Gambar 2.5
Jumlah/Besaran Gratifikasi di Layanan Publik Tingkat Nasional
Nilai sub-indikator Frekuensi Pemberian Gratifikasi
adalah 7,36. Nilai ini menunjukkan seberapa sering
pemberian uang tambahan dilakukan oleh 15%
pengguna layanan yang memberi kan gratifikasi.
Sebagian besar (66%) di antaranya melakukan hal
itu setidaknya satu kali pada saat proses pengurusan
layanan. Sisanya mengaku memberikan 2 kali,
bahkan lebih dari 2 kali (19%). (
Gambar 2.6
)
1 kali 66% Tidak memberi 85% Memberi 15% 2 kali 15%
Memberi Lebih dari 2 kali 19%
Gambar 2.6
Frekuensi Pemberian Gratifikasi di Layanan Publik Tingkat Nasional
B. Frekuensi Pemberian Gratifikasi di Layanan Publik
Tingkat Nasional
21
2. INTEGRITAS SEKTOR PUBLIK TINGKAT NASIONAL
C. Waktu Pemberian Gratifikasi di Layanan Publik Tingkat Nasional
Sub-indikator Waktu Pemberian Gratifikasi
meng-informasikan kapan pemberian biaya tambah
an
dilakukan oleh pengguna layanan. Dengan nilai 7,29,
responden yang menyatakan pernah memberikan
biaya tambahan, 40%-nya mengaku memberikan
pada saat akhir pengurusan. (
Gambar 2.7
)
Memberi Pada awal pengurusan layanan
Pada saat pengurusan layanan Pada akhir pengurusan layanan Kombinasi 2 atau 3 tahap
Tidak memberi 85% Memberi 15% 26% 24% 40% 10% Gambar 2.7
Waktu Pemberian Gratifikasi di Layanan Publik Tingkat Nasional
Gambar 2.7
juga menjelaskan bahwa terdapat
26% pengguna layanan yang memberi biaya
tambahan pada awal pengurusan layanan
dan 24% di tengah/pada saat pengurusan
layanan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa
terdapat gratifikasi antara pengguna dan
petugas layanan terkait pengurusan layanan
publik. Bahkan, 10% pengguna layanan
menyatakan memberi biaya tambahan lebih dari
1 kali.
2.2.2 C
ARAP
ANDANGT
ERHADAPK
ORUPSI DIL
AYANANP
UBLIKT
INGKATN
ASIONALUpaya meningkatkan integritas tidak
hanya dapat dilakukan oleh pihak pemberi
layanan, tetapi bisa juga memerlukan peran
pengguna layanan. Masyarakat sebagai
peng
guna layanan seharusnya mengubah
atau mem
perbaiki cara pan
dang mereka
terhadap korupsi, khususnya terhadap praktik
pemberian gratifikasi. Cara pandang terhadap
gratifikasi ini akan memengaruhi sikap dan
keputusan seseorang untuk tidak memberi
gratifikasi.
Arti Pemberian Gratifikasi Tujuan Pemberian Gratifikasi
7,22 Cara Pandang terhadap Korupsi
7,05 7,17
Gambar 2.8
Nilai Indikator Cara Pandang Terhadap Korupsi dan Sub-Indikator Penyusunnya di Layanan Publik Tingkat Nasional
Nilai indikator Cara Pandang terhadap Korupsi
di tingkat nasional adalah 7,17, disusun dari
sub-indikator Arti Pemberian Gratifikasi
(7,05) dan Tujuan Pemberian Gratifikasi
(7,22) (
Gambar 28
). Bagian selanjutnya akan
menjelaskan tiap sub-indikator dari indikator
Cara Pandang terhadap Korupsi.
A. Arti Pemberian Gratifikasi di Layanan Publik Tingkat Nasional
Arti Pemberian Gratifikasi menunjukkan
bagaimana masyarakat mengartikan biaya
tambahan atau imbalan yang mereka keluarkan,
apakah tergolong gratifikasi atau tidak. Dengan
nilai 7,05 menunjukkan bahwa secara umum
masyarakat memahami bahwa tindakan memberi
gratifikasi kepada petugas layanan publik
adalah sesuatu yang melanggar hukum, harus
dilaporkan serta perbuatan yang memalukan
dan tercela (74,0%). Namun, masih terdapat
23,7% yang menyatakan bahwa gratifikasi boleh
dilakukan kalau terpaksa dan boleh dilakukan
asal tidak terlalu sering. Yang harus mendapat
perhatian adalah masih terdapat 2,3% pengguna
layanan yang menyatakan bahwa gratifikasi dan
layanan publik adalah perbuatan yang harus
dilakukan dalam setiap layanan serta boleh dan
sering dilakukan.
Perbuatan yang melanggar hukum dan harus dilaporkan 43,0%
Perbuatan yang memalukan dan tercela 31,0%
Perbuatan yang hanya boleh dilakukan kalau terpaksa 14,2%
Perbuatan yang boleh dilakukan asalkan tidak terlalu sering 9,5%
Perbuatan yang harus dilakukan dalam setiap layanan 1,2%
Perbuatan yang boleh dan sering dilakukan 1,1%
23
2. INTEGRITAS SEKTOR PUBLIK TINGKAT NASIONAL
B. Tujuan Pemberian Gratifikasi di Layanan Publik Tingkat Nasional
Nilai sub-indikator Tujuan Pemberian Gratifikasi
adalah 7,22, menggambarkan tujuan dan alasan
yang membuat pengguna layanan memberikan
uang tambahan kepada petugas. Dari responden
yang mengaku pernah mem
berikan biaya
tambahan, sebagian besar tujuannya adalah
untuk mem percepat waktu pengurusan (40,2%).
Selain itu, responden beralasan biaya tambahan
ter sebut diberikan karena merasa puas dengan
layanan petugas (34,3%). (
Gambar 2.10
)
Mempercepat waktu pengurusan 40,2%
Tidak ada tujuan tertentu 19,6%
Memastikan pengurusan tepat waktu 19,5%
Menghindarkan perlakuan semena-mena petugas 11,1%
Meluluskan pengurusan walaupun syarat tidak terpenuhi 9,6%
Karena merasa puas dengan layanan petugas 34,3%
Karena petugas meminta kepada saya 27,6%
Karena petugas mempersulit saya 18,6%
Karena petugas bersikap ramah kepada saya 10,0%
Karena petugas malas-malasan melayani saya 7,1%
Karena kasihan kepada petugas yang gajinya kecil 2,4%
TUJUAN PEMBERIAN GRATIFIKASI
ALASAN PEMBERIAN GRATIFIKASI
Gambar 2.10
Tujuan dan Alasan Pemberian Gratifikasi di Layanan Publik Tingkat Nasional
Alasan pemberian gratifikasi oleh 34,3%
pengguna layanan adalah karena merasa
puas dengan layanan petugas. Yang harus
menjadi perhatian adalah alasan pemberian
yang dilakukan karena berdasar permintaan
petugas, yaitu karena petugas mempersulit
atau bermalas-malasan melayani. Data tentang
pengalaman integritas yang dihasilkan dalam
survei ini mencerminkan kondisi riil dari unit
layanan berdasarkan pengalaman yang langsung
dirasakan pengguna layanan saat mengurus
layanan dalam kurun waktu satu tahun terakhir.
2.3 POTENSI INTEGRITAS DI LAYANAN PUBLIK
TINGKAT NASIONAL
P
otensi Integritas merupakan variabel
yang memberikan bobot kontribusi
sebesar 0,333 terhadap indeks integritas.
Variabel Potensi Integritas penting dinilai
dalam rangka mencegah atau memperkecil
peluang terjadinya tindak pidana korupsi
pada masa mendatang. Potensi Integritas
disusun dari indikator Lingkungan Kerja,
Sistem Administrasi, Perilaku Individu, dan
Pencegahan Korupsi. Nilai setiap indikator
dan sub-indikator ditunjukkan pada
Gambar
2.11
.
Lingkungan Kerja 7,70 Pencegahan Korupsi 4,54 POTENSI INTEGRITAS 6,02Nilai di bawah 6 (di bawah standar minimum integritas) Keterangan:
Kepraktisan SOP Keterbukaan Informasi Pemanfaatan Teknologi Informasi 7,04 6,20 5,56 7,42 6,32 5,64
Keadilan dalam Layanan
Ekspektasi Petugas Terhadap Gratifikasi Perilaku Pengguna Layanan
Tingkat Upaya Anti-Korupsi Mekanisme Pengaduan Masyarakat
4,55 4,51 Perilaku Individu 6,60 Sistem Administrasi 6,35
Kebiasaan Pemberian Gratifikasi Kebutuhan Pertemuan di Luar Prosedur Keterlibatan Calo
Fasilitas di Sekitar Lingkungan Pelayanan Suasana/Kondisi di Sekitar Lingkungan Pelayanan 6,62 9,70 8,22 7,65 7,58 Gambar 2.11
Nilai Variabel Potensi Integritas dan Komponen Penyusunnya di Layanan Publik Tingkat Nasional
Nilai variabel Potensi Integritas Nasional
adalah 6,02. Nilai ini menunjukkan bahwa
peluang korupsi pada layanan publik di
Indonesia masih rawan terjadi apabila tidak
ada program-program pencegahan korupsi
yang dilakukan oleh pemerintah daerah,
instansi vertikal, maupun instansi pusat dalam
layanan publiknya. Berdasarkan
Gambar
2.11
, hal yang perlu diperhatikan untuk
yaitu dengan meningkatkan Pemanfaatan
Teknologi Informasi (5,56), mengubah Perilaku
Pengguna Layanan (5,64), meningkatkan
Upaya Anti-Korupsi (4,55), dan memperjelas
Mekanisme Pengaduan Masyarakat (4,51).
Tabel 2.3
berikut menjelaskan urutan
nilai Potensi Integritas Tahun 2013 dari 60
pemerintah daerah, 8 instansi vertikal, dan 20
instansi pusat yang disurvei KPK.
25
2. INTEGRITAS SEKTOR PUBLIK TINGKAT NASIONAL
Tabel 2.3
Peringkat Nasional Berdasarkan Potensi Integritas di Layanan Publik Tingkat Nasional Tahun 2013
No. Instansi/Pemda Potensi Integritas
1 Pemko Parepare 7,46 2 Pemko Bitung 7,29 3 Kementerian Lingkungan Hidup 7,23 4 Badan Pengawas Obat dan Makanan 7,17 5 Badan Koordinasi Penanaman Modal 7,11 6 Kementerian Perhubungan 7,09 7 Kementerian Komunikasi dan Informatika 7,07 8 Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi 7,06 9 Kementerian Pertanian 7,03 10 Kementerian Perdagangan 6,99 11 Kementerian Perindustrian 6,99 12 Pemko Surabaya 6,98 13 Kementerian Kelautan dan Perikanan 6,88 14 Kementerian Keuangan 6,86 15 RS Fatmawati 6,77 16 Pemko Tanjungpinang 6,77 17 RS Cipto Mangunkusumo 6,75 18 Kementerian Kesehatan 6,73 19 Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif 6,73 20 Kementerian Energi Sumber Daya Mineral 6,73 21 Pemko Yogyakarta 6,71 22 Pemko Gorontalo 6,70 23 Kementerian Luar Negeri 6,70 24 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 6,69 25 Pemko Pematangsiantar 6,63 26 Pemko Samarinda 6,57 27 Pemko Denpasar 6,56 28 Pemko Mataram 6,56 29 Pemko Bogor 6,54 30 Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI 6,45 31 DKI Jakarta 6,36 32 Pemko Bekasi 6,36 33 Pemko Cilegon 6,34 34 Pemko Manado 6,34 35 Kementerian Kehutanan 6,32 36 Pemko Surakarta 6,31 37 Pemko Bandung 6,26 38 Kementerian Hukum dan HAM 6,17 39 Pemko Kupang 6,14 40 Pemko Batam 6,14 41 Pemko Semarang 6,10 42 Pemko Pekalongan 6,08 43 Pemko Pontianak 6,08
No. Instansi/Pemda Potensi Integritas 44 Pemko Depok 6,08 45 Mahkamah Agung 6,06 46 Pemko Palembang 6,06 47 Pemko Banjarmasin 6,05 48 Pemko Tangerang 6,05 49 Pemko Pangkalpinang 6,02 50 Pemko Metro 6,00 51 Pemko Makassar 5,99 52 Pemko Serang 5,96 53 Pemko Balikpapan 5,96 54 Pemko Banjarbaru 5,95
55 Kepolisian Republik Indonesia 5,90
56 Pemko Bukittinggi 5,88
57 Pemko Banda Aceh 5,86
58 Pemko Kendari 5,85 59 Pemko Ambon 5,84 60 Pemko Kediri 5,82 61 Pemkab Sidoarjo 5,79 62 Pemko Binjai 5,79 63 Pemko Padang 5,77 64 Pemkab Jember 5,76 65 Pemko Malang 5,76 66 Pemkab Banyumas 5,76
67 Badan Pertanahan Nasional 5,72
68 Pemko Dumai 5,70
69 Pemko Madiun 5,68
70 Pemko Bandar Lampung 5,64
71 Kementerian Agama 5,55 72 Pemko Jambi 5,55 73 Pemko Ternate 5,51 74 Pemko Lhokseumawe 5,47 75 Pemko Pekanbaru 5,46 76 Pemko Cirebon 5,39 77 Pemko Jayapura 5,36 78 Pemko Palangkaraya 5,35 79 Pemko Medan 5,30 80 Pemkab Manokwari 5,26 81 Pemko Lubuklinggau 5,12 82 Pemko Bengkulu 5,09 83 Pemko Palu 4,88 84 Pemko Bima 4,74 85 Pemkab Mamuju 4,42
Tabel 2.3
menjelaskan terdapat 58,8%
atau 50 instansi/pemerintah daerah yang
memiliki nilai variabel Potensi Integritas di
atas standar minimal yang telah ditetapkan
(6,00). Dari 41,2% atau 35 instansi/pemerintah
daerah yang masih di bawah standar minimal
integritas, 32 di antaranya adalah pemerintah
daerah dan 3 lainnya adalah instansi vertikal.
2.3.1 L
INGKUNGANK
ERJA DIL
AYANANP
UBLIKT
INGKATN
ASIONALLingkungan kerja yang baik tentu saja akan
menimbulkan suasana kerja yang baik pula.
Apabila lingkungan kerja tidak didukung oleh
fasilitas yang memadai, suasana pelayanan
yang tidak nyaman bahkan jika ditambah
dengan prosedur yang berbelit-belit akan
mendorong responden untuk melakukan
penyimpangan dalam proses layanan. Jenis
penyimpangan bisa dalam bentuk pertemuan
di luar prosedur dan pemberian gratifikasi
untuk memperlancar proses pengurusan.
Lingkungan Kerja
7,70
Kebiasaan Pemberian Gratifikasi Kebutuhan Pertemuan di Luar Prosedur Keterlibatan Calo
Fasilitas di Sekitar Lingkungan Pelayanan Suasana/Kondisi di Sekitar Lingkungan Pelayanan 6,62 9,70 8,22 7,65 7,58 Gambar 2.12
Nilai Indikator Lingkungan Kerja dan Sub-Indikator Penyusunnya di Layanan Publik Tingkat Nasional
Nilai indikator Lingkungan Kerja di tingkat
nasional adalah 7,70. Dibanding dengan
indikator lain, lingkungan kerja mendapatkan
skor yang lebih baik. Lima sub-indikatornya
juga mendukung perolehan nilai tersebut.
Hanya sub-indikator Kebiasaan Pemberian
Gratifikasi yang nilainya di bawah 7, sedangkan
lainnya mendekati 8. Bagian selanjut nya akan
menjelaskan tiap sub-indikator dari indikator
Lingkungan Kerja.
27
2. INTEGRITAS SEKTOR PUBLIK TINGKAT NASIONAL
A. Kebiasaan Pemberian Gratifikasi di Layanan Publik Tingkat
Nasional
Kebiasaan pengguna dan petugas layanan
dalam memberi maupun meminta biaya
tam bahan
(gratifikasi)
dalam
layanan
publik masih saja terjadi. Nilai sub-indikator
Kebia
saan Pemberian Gratifikasi (6,62)
menunjukkan masih terdapat 39,4%
pengguna layanan publik mengetahui
ada praktik pemberian uang tambahan/
gratifikasi (
Gambar 2.13
).
Tidak pernah terjadi 60,6% 27,9% 9,0% 2,5% Kadang-kadang terjadiSering terjadi Selalu terjadi
Gambar 2.13
Kebiasaan Pemberian Gratifikasi di Layanan Publik Tingkat Nasional
B. Kebutuhan Pertemuan di Luar Prosedur di Layanan Publik Tingkat
Nasional
Secara umum, kebutuhan pengguna layanan
untuk melakukan pertemuan di luar prosedur
sudah sangat baik. Nilai sub-indikator yang
9,70 menunjukkan hal tersebut. Namun,
masih ada 4% yang mengaku pernah
melakukannya dengan intensitas paling
dominan 1 kali (42,2%). (
Gambar 2.14
)
Pertemuan di luar prosedur dilakukan oleh
pengguna layanan dengan tujuan untuk
mempercepat waktu pengurusan (31,7%)
(
Gambar 2.15
).
Pernah Pernah 42,2% 25,2% 32,6% Lebih dari 2 kali 2 kali 1 kali Tidak pernah 96% 4% Gambar 2.14Mempercepat waktu pengurusan 31,7%
Melengkapi sejumlah persyaratan 26,8%
Menegosiasikan persyaratan yang tidak bisa dipenuhi 24,3%
Menegosiasikan biaya yang harus dibayar 17,2%
Gambar 2.15
Tujuan Pertemuan di Luar Prosedur di Layanan Publik Tingkat Nasional
C. Keterlibatan Perantara Tidak Resmi di Layanan Publik Tingkat
Nasional
Nilai sub-indikator Keterlibatan Calo adalah
8,22. Berdasarkan hasil survei, terdapat 14%
pengguna layanan publik yang menyatakan
pernah melihat calo saat mengurus layanan.
Dari responden yang mengaku pernah
melihat calo, 49,6%-nya menyatakan calo
yang dilihat adalah orang luar (eksternal
sebagai perseorangan). Apabila dilihat
cara kerja calo beroperasi, sebagian besar
melakukannya dengan cara
sembunyi-sembunyi. (
Gambar 2.16
)
Orang luar
Kombinasi 2 atau lebih perantara/calo
Petugas lain yang bekerja di instansi tersebut
Orang yang bekerja di sekitar unit layanan
Petugas langsung yang mengurus layanan Sembunyi-sembunyi
Terang-terangan
Tidak melihat calo
Tidak melihat calo 86% 49,6% 20,3% 11,8% 10,3% 8,0% 8% 6% 86% MELIHAT CALO Melihat calo 14% Gambar 2.16
29
2. INTEGRITAS SEKTOR PUBLIK TINGKAT NASIONAL
D. Fasilitas di Sekitar Lingkungan Pelayanan di Layanan Publik
Tingkat Nasional
Keberadaan fasilitas dalam unit layanan
merupakan salah satu sebab pengguna
layanan mengambil keputusan mengurus
sendiri layanannya atau memilih
menggunakan jasa calo. Sebagian besar
pengguna layanan (90,7%) menyatakan
bahwa fasilitas yang tersedia di unit layanan
yang didatangi sudah memadai dan 9,3%
yang menyatakan sebaliknya. (
Gambar
2.18
)
Tidak memadai Kurang memadai Memadai 83,7% 7,6% 1,7% 7,0% Sangat memadai Gambar 2.18Fasilitas di Sekitar Lingkungan Pelayanan di Layanan Publik Tingkat Nasional
E. Suasana/Kondisi di Sekitar Pelayanan di Layanan Publik Tingkat
Nasional
Suasana/kondisi sekitar pelayanan di tingkat
nasional oleh lebih dari 85,0% pengguna
layanan dinilai sudah cukup baik. Kondisi
tersebut ditunjukkan oleh tahapan layanan
yang teratur, ruangan yang teratur dan rapi,
serta suasana yang tenang dan nyaman.
Meski secara dominan responden menilai
suasana/kondisi sekitar pelayanan sudah
cukup mendukung dalam menciptakan
layanan yang bersih dan transparan, instansi/
pemerintah daerah tetap perlu melakukan
peningkatan kualitas lingkungan kerja untuk
semakin meminimalisasi potensi korupsi di
layanan publik.
0% 20% 40% 60% 80% 100%
Nyaman 14,9% 85,1%
Tenang 11,7% 88,3%
Ruangan teratur dan rapi 8,8% 91,2%
Tahapan layanan teratur 7,0% 93,0%
Tidak Ya
Gambar 2.19
2.3.2 S
ISTEMA
DMINISTRASI DIL
AYANANP
UBLIKT
INGKATN
ASIONALSistem administrasi yang baik dan transparan
akan memudahkan pengguna layanan dalam
mengurus layanan. Sistem Administrasi
disusun dari 3 sub-indikator, yakni Kepraktisan
SOP, Keterbukaan Informasi, dan Pemanfaatan
Teknologi Informasi.
Sistem Administrasi
6,35
Nilai di bawah 6 (di bawah standar minimum integritas) Keterangan:
Kepraktisan SOP Keterbukaan Informasi Pemanfaatan Teknologi Informasi
6,20
5,56
7,04
Gambar 2.20
Nilai Indikator Sistem Administrasi dan Sub-Indikator Penyusunnya di Layanan Publik Tingkat Nasional
Nilai indikator Sistem Administrasi di tingkat
nasional adalah 6,35. Dari 3 sub-indikator
pembentuknya, Pemanfaatan Teknologi
Informasi merupakan sub-indikator yang
masih memer lukan perbaikan karena nilainya
di bawah standar minimal. Walaupun demikian,
nilai keterbukaan informasi juga masih perlu
un tuk ditingkatkan. Bagian selanjutnya akan
men jelaskan tiap sub-indikator dari indikator
Sistem Administrasi.
A. Kepraktisan SOP di Layanan Publik Tingkat Nasional
Kepraktisan SOP mencerminkan tingkat
efek
tivitas prosedur pengurusan layanan,
syarat, biaya, dan waktu pengurusan
layanan. Berdasarkan hasil survei, terdapat
pengguna layanan yang menyatakan
kesulitan dan tidak jelas prosedur layanan
(7,8%), persyaratannya (7,1%), lambat dan
tidak jelas waktu pengurusan (16,8%), serta
mahal dan tidak jelas biaya pengurusan
(11,3%). (
Gambar 2.21
)
63,7% 28,5% 65,8% 27,1% 14,3% 72,9% 10,3% 70,7% 18,0% 1,5% 6,3% 1,3% 5,8% 2,5% 2,5%8,8%Prosedur Persyaratan Waktu Biaya
Tidak jelas Sulit Wajar Mudah Tidak jelas Sulit Wajar Mudah
Tidak jelas Lambat
Tepat waktu Lebih cepat Tidak jelas
31
2. INTEGRITAS SEKTOR PUBLIK TINGKAT NASIONAL
B. Keterbukaan Informasi di Layanan Publik Tingkat Nasional
Dalam rangka memberikan informasi terkait
prosedur, persyaratan, biaya, dan waktu
pengurusan layanan, maka ketersediaan
informasi di setiap unit layanan menjadi
penting. Tingkat keterbukaan informasi
layanan di jelaskan pada
Gambar 2.22
.
13,8% 22,4% 19,3% 31,7% 12,8% 7,0% 18,8% 20,8% 41,5% 11,9% 4,5% 22,1% 22,9% 38,5% 12% 8,4% 20,6% 21,1% 37,4% 12,5%
Tidak ada pengumuman/penjelasan petugas Dijelaskan petugas hanya jika ditanya Dijelaskan petugas tanpa ditanya Diumumkan terbuka Diumumkan terbuka dan dijelaskan petugas tanpa ditanya
Prosedur
Tidak ada pengumuman/penjelasan petugas Dijelaskan petugas hanya jika ditanya Dijelaskan petugas tanpa ditanya Diumumkan terbuka Diumumkan terbuka dan dijelaskan petugas tanpa ditanya
Persyaratan
Tidak ada pengumuman/penjelasan petugas Dijelaskan petugas hanya jika ditanya Dijelaskan petugas tanpa ditanya Diumumkan terbuka Diumumkan terbuka dan dijelaskan petugas tanpa ditanya
Waktu
Tidak ada pengumuman/penjelasan petugas Dijelaskan petugas hanya jika ditanya Dijelaskan petugas tanpa ditanya Diumumkan terbuka Diumumkan terbuka dan dijelaskan petugas tanpa ditanya
Biaya
Gambar 2.22
Keterbukaan Informasi di Layanan Publik Tingkat Nasional
Berdasarkan informasi pada
Gambar 2.22
,
ter lihat bahwa masih terdapat unit layanan
yang tidak mengumumkan/menjelaskan
biaya, waktu, persyaratan, dan prosedur
la
yanan publiknya kepada pengguna
layanan. Kondisi ini akan membuka peluang
pengguna layanan ataupun petugas untuk
melakukan pengurusan di luar prosedur
yang sarat dengan peluang penyuapan dan
pemerasan.
C. Pemanfaatan Teknologi Informasi di Layanan Publik Tingkat
Nasional
Nilai sub-indikator Pemanfaatan Teknologi
Informasi adalah 5,56. Nilai ini berada
di
bawah standar minimal KPK dan
menunjukkan bahwa teknologi informasi
belum banyak dimiliki dan dimanfaatkan
layanan publik di Indonesia. Berdasarkan
hasil survei, hanya terdapat 12% pengguna
layanan yang menyatakan pernah
memanfaatkan teknologi informasi di unit
layanan. Bagi yang pernah menggunakan
Teknologi informasi, oleh responden
digunakan dengan tujuan utama untuk
memproses layanan (55,7%).
Tidak memerlukan
Tidak ada teknologi informasi
Tidak tahu cara penggunaannya Tidak berfungsi Memproses layanan Mengetahui informasi yang diurus Mengetahui status penyelesaian pengurusan 55,7% 31,5% 12,8% 54,5% 39,7% 4,3% 1,5% Tidak pernah 88% Pernah 12% Gambar 2.23
Pemanfaatan Teknologi Informasi di Layanan Publik Tingkat Nasional