• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab 2 Landasan Teori. Fuusui mempunyai dua karakter penulisan dalam huruf kanji yaitu huruf Fuu( 風 )

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Bab 2 Landasan Teori. Fuusui mempunyai dua karakter penulisan dalam huruf kanji yaitu huruf Fuu( 風 )"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

Bab 2 Landasan Teori

2.1 Konsep dan Pengertian Fengshui/Fuusui (風水)

Fuusui mempunyai dua karakter penulisan dalam huruf kanji yaitu huruf Fuu(

風

)

dan Sui(

水

) yang berarti angin dan air yang mengalir. Fuusui berasal dari Cina, dimana di Cina Fuusui disebut dengan kata Fengshui.

Dikatakan oleh Hao (1997:1), Fuusui adalah teknik tradisional Cina untuk memastikan sesuatu agar selaras atau harmonis dengan keadaan sekelilingnya, pengaturan benda-benda di suatu tempat dengan arah yang benar atau sesuai sehingga keharmonisan yang tercipta dapat memperkuat energi Chi (energi kehidupan) yang dalam bahasa Jepang ditulis dengan huruf kanji “

気

”.

Wong dalam Fransiska (2005:11) mengatakan bahwa Fuusui disebut juga pengetahuan geomatika bangsa Cina. Geomatika merupakan seni sekaligus pengetahuan yang berasal dari Cina kuno sekitar 3000 tahun yang lalu dan telah mengalami perkembangan. Tujuan dari penerapan Fuusui ini antara lain untuk peruntungan yang baik, kesehatan yang baik, kesejahteraan dan kebahagiaan bagi mereka yang menerapkannya.

Keyakinan terhadap Fuusui dikenal di Jepang pada abad ke-6 sampai abad ke-7, yaitu pada masa Dinasti Tang (Cina) atau pada masa periode Nara (Jepang). Peraturan dan prinsip Fuusui di Jepang hampir sama dengan prinsip Fuusui di Cina, namun terdapat sedikit perbedaan atau penyimpangan dalam sistem penerapannya. (Purawiardi,

(2)

2.2 Konsep Onmyoudou atau ajaran YinYang (陰陽)

Menurut Koh (2002:95), di dalam Fuusui terdapat prinsip “Yin” yang dalam bahasa Jepang disebut In (

陰

) dan “Yang”yang dalam bahasa Jepang disebut You(

陽

). In

dan You adalah prinsip dasar dari dualisme filsafat tradisional masyarakat Cina yaitu dua kekuatan yang saling berlawanan tetapi juga saling melengkapi. In dan You adalah prinsip positif dan negatif yang menguasai alam semesta.

In atau Yin (陰) melambangkan bumi, bulan, malam hari, kegelapan, lembah,

batu, kolam, macan, perempuan, angka ganjil, dingin dan negatif. Sedangkan, You atau

Yang melambangkan langit, matahari, siang hari, cahaya, air, tumbuhan, gunung, naga, laki-laki, angka genap, panas, dan positif. (Koh, 2002:95).

Engel (1959, 23) mengemukakan bahwa In dan You merupakan prinsip mengenai “Opposite (sesuatu yang saling berlawanan dan bertentangan)”, yaitu di dalam kelemahan ada kekuatan, di dalam kepasifan dan tanpa perlawanan ada kemenangan. Hal ini adalah keseimbangan dari terang dan gelap, sisi positif Yousei(

陽性

), dan sisi negatif Insei(

陰性

) yaitu In dan You. Apabila konsep “Opposite” ini diterapkan pada alam, kita tidak akan menemukan pertentangan melainkan kesatuan karena unsur yang satu saling melengkapi unsur yang lainnya.

Berikut adalah konsep mengenai In dan You yang dikemukakan oleh Nakanishi (1991, 87) :

陰陽道とはあらゆるものは陰(日かけ)と陽(日なた)の相応する二つ の気の調和する形で存在しているという考え方である。

Onmyoudou adalah suatu pola pikir yang menyatakan tentang bentuk keselarasan antara kedua energi kehidupan (Chi) yang saling mendukung, yaitu In

(3)

Miyamoto dalam Fransiska (2005:11) mengatakan bahwa di Asia terdapat sebuah pola pemikiran kuno yang menjadi kekuatan atau intisari yang menggambarkan semua hal dan merupakan pengejawantahan dari energi In dan You yang saling berkaitan yaitu pola pemikiran tentang Inyougogyousetsu atau sering juga disebut Gogyou (

五行

)

yang menjelaskan tentang lima unsur yang terdapat pada alam.

2.3 Konsep Lima Unsur Energi Atau Gogyou (

五行

)

Seperti yang telah penulis sebutkan dalam sub-bab sebelumnya, Miyamoto dalam Fransiska (2005:11) menjelaskan bahwa di Asia terdapat pola pemikiran kuno yang disebut Inyougogyousetsu, prinsip yang berasal dari Cina kuno yaitu prinsip mengenai lima unsur dasar yang terdiri dari air (水), api (火), tanah (土), emas atau logam (金), dan kayu (木) dimana dapat disimpulkan bahwa semua benda di dunia mempunyai sifat lima unsur.

Hal serupa juga dikemukakan oleh G.B Sansom (1931:113) :

In Gogyousetsu, all beings are considered to consists of five elements, moku (wood), ka (fire), do (earth), gon (metal), sui (water) and through the combination of some of these, good or ill fortune can be told. Onmyoist can foretell the fortune of directions, days, personal lives, social events, natural phenomena and other things which based on this Chinese way of thought.

Dalam Gogyousetsu, semua benda dianggap terdiri atas lima elemen, moku (kayu), ka (api), do (tanah), gon (logam), sui (air) dan dari kombinasi inilah, ramalan baik atau buruk dapat dilakukan. Para Onmyouji, dapat meramalkan tentang arah, hari, kehidupan pribadi, kejadian sosial, fenomena alam dan lain-lain berdasarkan pola pikir Cina ini.

(4)

Nakanishi (1991) mengemukakan tentang konsep Gogyou sebagai berikut :

五行

とは木、火、金、土、水の五つの属性で表せる万物形成の五気であ る。

Gogyou adalah lima energi kehidupan bermacam-macam benda yang dilambangkan dengan lima unsur.

Berikut adalah tabel penjabaran tentang konsep gogyou yang dikemukakan oleh Nakanishi (1991, 92) tersebut :

木

春。東を象徴する。物事の眼を見抜く洞察力と、行動力、精神 力を持つ。

火

夏。南を象徴する。燃え上がる情熱と、活動力、向上心を持 つ。

土

季節の変わり目、中央を象徴する。流動性と安定性を併せ持 ち、世界を支える土台なる。

金

秋。西を象徴する。磨くことによって、輝く原石のような華や かさを持つ。

水

冬。北を象徴する。流れる水のような柔軟性をもち、調和にも 破壊にも力を発揮する。

Kayu Melambangkan musim semi, dan arah timur. Mempunyai kekuatan mental, kekuatan gerak dan kemampuan penglihatan yang tajam. Api Melambangkan musim panas, dan arah selatan. Memiliki kekuatan

hati, kekuatan usaha dan hasrat yang membara.

Tanah Melambangkan pergantian musim, dan melambangkan bagian tengah. Menjadi lahan atau tanah yang menyangga dunia dengan menggabungkan sifat likuiditas dan stabilitas.

Logam Melambangkan musim gugur, dan arah barat. Jika digosok, akan memiliki kilauan indah bagai berlian.

Air Melambangkan musim dingin, dan arah utara. Mempunyai sifat yang lembut bagaikan air yang mengalir, selaras dengan itu, kekuatannya juga dapat membawa kehancuran.

(5)

Dari hasil pemikiran inilah, muncul suatu cara untuk memilih tanah yang memiliki pertanda keberuntungan yang baik, dilihat dari kondisi lansekap atau tanah yang memiliki eksistensi Shijin (empat dewa). Cara memilih tanah yang menggunakan keselarasan dewa-dewa tersebut disebut dengan Shijinsouou (keselarasan empat dewa).

2.4 Konsep dan Teori Shijinsouou (Keselarasan Empat Dewa)

Konon, ada empat ciptaan spiritual yang masing-masing menjadi penjaga langit dan bumi di empat arah mata angin. Setiap ciptaan itu dilambangkan dengan empat ekor hewan mistik yang tidak terdapat dalam dua belas zodiak Cina. (Animonster 79, 2005:50).

Keempat hewan tersebut masing-masing mewakili empat musim yaitu musim semi, musim panas, musim gugur, dan musim dingin. Keempat hewan itu juga mewakili warna, dan lima elemen dalam Fengshui

(風水)

yaitu kayu, api, air, tanah, dan logam; dimana setiap ciptaan itu masing-masing berhubungan dengan tujuh kumpulan bintang (Seishuku) yang didasarkan pada perputaran orbit bulan (Shuku) dalam semalam. (Murakami, 1987).

Menurut Morton (1975, 36), agama dan kepercayaan Budha masuk ke Jepang pada periode Asuka (552-710) dibawa oleh orang Korea yang datang berdagang ke Jepang dan agama ini berkembang pesat pada periode Nara (710-794). Mitologi ini juga mulai berkembang pesat di Jepang sekitar abad ke-7, tepatnya pada periode Nara (710-794) ini, dan berdasarkan pada perhitungan astrologi, diyakini bahwa kota Kyoto dilindungi oleh empat ekor hewan penjaga spiritual tersebut yang lebih dikenal dengan

(6)

istilah Shishin

(四神)

atau Shijin [Shi=empat, Jin=dewa]. Shijin itu antara lain Seiryuu, Byakko, Suzaku, dan Genbu.

Miyamoto dalam Fransiska (2005:11) mengemukakan konsep tentang pola pikir mengenai Shijinsouou yaitu :

アジアには、古来「陰陽五行」と呼ばれている思想があり、日本の道教、 神道、仏教などのあらゆる宗教に影響を与えましたが、そのなかに「四 神相応」という吉相の土地の選び方。これは東西南北にそれぞれ青龍、 白虎、朱雀、玄武、といった神に例えられた川、道、池、山のある土地 を吉相とする考え方です。

Di Asia, terdapat pola pemikiran kuno yang disebut dengan “Inyougogyou” yang memberikan pengaruh kepada bermacam-macam kepercayaan di Jepang seperti Taoisme, Shinto, Budha dan lain-lain. Salah satu diantaranya adalah tentang cara pemilihan tanah yang baik yang disebut dengan “Shijinsouou”. “Shijinsouou” adalah suatu pola pikir dimana tanah yang baik adalah tanah yang di arah timur, barat, selatan, utaranya terdapat sungai, jalan, kolam, dan gunung yang dilambangkan dengan dewa Seiryuu, Byakko, Suzaku, dan Genbu.

Menurut Nakanishi (1991, 117), yang dimaksud dengan Shijin adalah sebagai berikut :

四神とは南西東北にそれぞれの方角を守る守護神である。北に大山があ って玄武棲む、東に川流れ青龍棲む、南に大池あって朱雀棲む、西に大 道あって白虎棲む。

Yang disebut dengan Shijin adalah dewa penjaga yang menjaga tiap-tiap sudut arah. Di utara terdapat gunung besar tempat tinggal Genbu, di timur mengalir sungai tempat tinggal Seiryuu, di selatan terdapat kolam besar tempat tinggal

Suzaku, di barat terdapat jalan besar tempat tinggal Byakko.

Keane (2000:28) menuliskan bahwa Heian-Kyo yang sekarang merupakan kota Kyoto, dibangun dengan prinsip-prinsip yang terkandung dalam geomansi untuk menciptakan tempat kediaman yang harmonis. Kondisi ini menggunakan ekspresi lansekap yang terdiri dari empat dewa pelindung (Shijin).

(7)

Berikut adalah peta konsep tentang Shijin yang ada di kota Kyoto menurut Nakanishi (1991) :

Gambar 1

Peta konsep Shijin yang ada di Kyoto 2.4.1 Konsep Shijin Seiryuu

Seiryuu berasal dari huruf Sei=biru/hijau, dan Ryuu=naga yang dilambangkan dengan seekor naga hijau/biru yang menjaga arah timur kota Kyoto. Naga dipercaya mewakili musim semi, warna hijau atau biru dengan elemen Moku atau kayu. Didasarkan pada perhitungan Shuku (orbit bulan) dalam semalam, Seiryuu terdiri dari tujuh Seishuku (kumpulan bintang), yaitu : Su Boshi, Ami Boshi, Tomo Boshi, Soi Boshi, Nakago Boshi, Ashitare Boshi, dan Mi Boshi. (Murakami, 1987)

南 東 北 西 京都 南に大池 あって朱 雀棲む。 東に川流 れ清流棲 む。 北に大山 あって玄 武棲む。 西に大道 あって白 虎棲む。

(8)

2.4.2 Konsep Shijin Byakko

Byakko berasal dari huruf Haku=putih, dan Tora=harimau yang dilambangkan dengan seekor harimau putih. Byakko dipercaya mewakili arah barat kota Kyoto, musim gugur, warna putih dengan elemen Kin atau logam dan dapat berubah sosok menjadi seekor Kirin yang hanya akan muncul pada proses kelahiran dan kematian orang penting. Didasarkan pada perhitungan Shuku-nya, Byakko juga memiliki tujuh Seishuku antara lain : Tokaki Boshi, Tatara Boshi, Ekie Boshi, Subaru Boshi, Amefuri Boshi, Toroki Boshi, dan Kagasuki Boshi. (Murakami, 1987).

2.4.3 Konsep Shijin Genbu

Genbu berasal dari huruf Gen=hitam dan huruf Bu=ksatria/prajurit yang menjaga arah utara, mewakili musim dingin dan memiliki elemen Sui=air. Genbu dilambangkan dengan kura-kura hitam dan sering digambarkan dengan seekor ular legenda Jepang. Didasarkan pada perhitungan Shuku-nya, tujuh Seishuku Genbu terdiri atas berikut ini :

Hikitsu Boshi, Inami Boshi, Uruki Boshi, Tomite Boshi, Umiyame Boshi, Hatsui Boshi, dan Namame Boshi. (Murakami, 1987).

2.4.4 Konsep Shijin Suzaku

Suzaku berasal dari huruf Shu=merah tua dan huruf Zaku=burung gereja yang dilambangkan dengan seekor burung Phoenix merah. Suzaku bertugas menjaga arah selatan, mewakili musim panas, warna merah, dan memiliki elemen api. Berdasarkan perhitungan Shuku-nya, Suzaku juga terdiri atas tujuh Seishuku yang menjaga makhluk ciptaan tersebut, yaitu : Chichiri Boshi, Tamahome Boshi, Nuriko Boshi, Hotohori Boshi,

(9)

Kepercayaan terhadap adanya Shijin dapat dilihat dari banyaknya kuil-kuil kuno atau bangunan di kota Kyoto yang memiliki ornamen keempat dewa tersebut, misalnya lukisan naga di kuil Kencho-Ji dan ornamen Seiryuu di kuil Ryuutaku-Ji. Ada juga peninggalan bersejarah Suzaku-Mon atau gerbang Suzaku yang sekarang ini sudah hancur karena perang, dan di bagian selatan gerbang tersebut terdapat jalan raya yang dinamakan Suzaku-Oji. (Inumaru, 1991:77).

2.4.5 Konsep Warna Shijin Berdasarkan Konsep Gogyou

Nakanishi (1991, 121), juga mengemukakan konsep mengenai arti warna-warna yang terdapat pada Shijin bagi masyarakat Jepang terutama masyarakat Kyoto berdasarkan konsep Gogyou seperti berikut :

1. Warna hijau pada Seiryuu melambangkan kesuburan musim semi dan melambangkan warna kehidupan.

2. Warna putih pada Byakko melambangkan warna jernih bagaikan kilauan indah berlian yang bagi masyarakat Jepang, kilauan berlian melambangkan kecerdikan.

3. Warna hitam pada Genbu melambangkan ketidakadaan atau kehampaan musim dingin. Warna hitam juga dapat dilambangkan sebagai warna yang melambangkan kekuatan pertahanan.

4. Warna merah pada Suzaku melambangkan musim panas yang penuh hasrat dan membara. Selain itu juga merupakan lambang keagungan dan simbol api bagi masyarakat Jepang.

(10)

2.5 Konsep Kimon(鬼門)Atau Gerbang Setan

Kimon adalah nama dari gerbang setan tempat keluar-masuknya setan yang dipercaya berada di arah timur laut kota Kyoto. Menurut Keane (2000:28), Heian-Kyo yang sekarang merupakan kota Kyoto yang dibangun dengan memperhatikan aspek-aspek lansekap atau aspek-aspek lahan, dimana kesan atau pelukisan dari kura-kura hitam diartikan sebagai gunung yang bulat dan rendah yaitu Furaoka-Yama yang merupakan letak central dari poros kota. Pada saat membangun Heian-Kyo, di pojok sebelah timur laut yang terdapat lembah harus mempertimbangkan pintu masuknya setan-setan atau

Kimon, dimana setan-setan dapat keluar masuk dengan mudah, yang secara alami dilindungi oleh gunung yang menonjol yaitu Hiei-Zan.

Setan-setan yang keluar dari gerbang setan atau Kimon, biasanya disebut dengan istilah Jyuren (

十千

). Menurut Nakanishi (1991, 154), yang dimaksud dengan Jyuren

adalah sebagai berikut :

十千

とは陰陽道における日の順序を数える数調である木、火、土、金、 水を陰と陽に分けた「十千」が妖族に当てられていたのである。

Yang dimaksud dengan Jyuren adalah jumlah keselarasan urutan hari berdasarkan Onmyoudou yang dapat dihitung berdasarkan elemen kayu, api, tanah, logam, air dan “Jyuren” yang dibagi atas Yin dan Yang dapat dikategorikan sebagai setan/iblis.

Berikut adalah tabel pembagian Jyuren yang terbagi atas lima unsur dan energi Yin-Yang menurut Nakanishi (1991, 154) :

(11)

木 (Kayu) 火 (Api) 土 (Tanah) 金 (Logam) 水 (Air) 陽 (Yang) 甲 (コウ) (Kou) 丙 (ヘイ) (Hei) 戊 (ボ) (Bo) 庚 (コウ) (Kou) 壬 (ジン) (Jin) 陰 (Yin) 乙 (オツ) (Otsu) 丁 (テイ) (Tei) 己 (コキ) (Koki) 辛 (シン) (Shin) 発 (ハツ) (Hatsu)

Menurut masyarakat Jepang Oni adalah setan atau iblis raksasa yang bertanduk, yang memiliki warna tubuh yang beraneka ragam, memiliki tiga jari pada tangan dan kakinya, serta terkadang ditampilkan memiliki tiga mata. Mereka digambarkan sebagai karakter yang jahat. Ada beberapa cerita yang mengatakan bahwa beberapa Oni

bertanggung jawab atas terjadinya penyakit dan wabah. Ada juga versi yang mengatakan

Oni dulunya adalah wanita yang karena kesedihan dan kecemburuannya yang dalam lalu membuat dirinya berubah menjadi Oni. (Animonster 94, 2007:83).

2.6 Teori Asimilasi Budaya dan Akulturasi Budaya

Menurut Koentjaraningrat (1993, 20), yang dimaksud dengan budaya adalah hasil dari akal pikiran manusia yang diciptakan manusia untuk mengatur nilai-nilai yang ada dalam kehidupan interaksi sosial antara sesama manusia untuk mencapai kehidupan yang lebih baik dan teratur.

Asimilasi budaya dilihat dari sudut pandang kebudayaan manusia adalah suatu tahap tertentu dari proses pergeseran atau perubahan kebudayaan karena adanya

(12)

adanya kontak atau pergaulan antara dua atau lebih kelompok pendukung kebudayaan yang berbeda. Kontak tersebut berlangsung dalam jangka waktu yang panjang sehingga ciri khas unsur kebudayaan masing-masing menjadi berubah dan kemudian lahirlah kebudayaan campuran yang benar-benar baru. (Ensiklopedi Nasional Indonesia, 1988, 133).

Akulturasi budaya dilihat dari sudut pandang manusia adalah suatu tahap tertentu dari proses perubahan kebudayaan karena adanya percampuran antara 2 kebudayaan atau lebih namun dalam konteks akulturasi, kedua budaya yang bercampur tidak melebur menjadi sebuah budaya yang baru melainkan menjadi sebuah budaya campuran yang masih tetap memiliki nilai-nilai dasar dari salah satu budaya yang bercampur tersebut. (Koentjaraningrat, 1993, 25).

2.7 Konsep Masyarakat Jepang (Kyoto) Pada Masa Periode Nara (710-794)

Menurut Inumaru (1991, 45), bangunan tertua di daerah sekitar Kyoto adalah

Jinja atau kuil Shinto. Orang-orang Jepang pada zaman dahulu percaya bahwa jiwa-jiwa orang yang telah meninggal berubah menjadi roh-roh dan menempati laut, hutan, gunung dan perairan dalam. Tempat-tempat dengan karakteristik yang tidak alami, seperti air terjun, lembah dalam antara dua gunung, puncak gunung yang tidak dapat didaki dijadikan tempat pemujaan karena dipercaya sebagai tempat yang ditempati oleh roh-roh orang-orang yang telah meninggal tersebut.

Pada awalnya alamlah yang menjadi obyek pemujaan, tetapi seiring dengan berkembangnya kehidupan secara sosial dan ekonomi, obyek pemujaannya berubah menjadi roh-roh individu (tertentu), dewa-dewa lokal dan lain-lain yang memancing

(13)

Sejak masuknya ajaran Konfusianisme dan Budha yang berasal dari India, masyarakat Jepang mulai mengenal ajaran atau paham Shinto. Melalui ajaran Shinto ini, masyarakat Jepang mulai mengenal pola pikir mengenai keselarasan manusia dengan alam.

Masyarakat kota Kyoto periode Nara pun merupakan penganut dari konsep pola pikir tersebut. Hal ini dapat terlihat dari banyaknya kuil-kuil pemujaan yang dibangun di lokasi gunung-gunung yang misterius atau susah dicapai yang di dalamnya terdapat patung Budha dan banyaknya ukiran-ukiran patung berbentuk hewan yang dipercaya sebagai sosok yang mewakili wujud dewa (Inumaru, 1991, 46).

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan pokok dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah dalam pembangunan jalan di Nagari Pasir Talang Selatan Kabupaten Solok Selatan tersebut menerapkan

Komponen ini bertujuan untuk memperkenalkan petani terhadap teknologi dan inovasi pertanian untuk merespon permintaan pasar serta untuk memperkuat fungsi kelembagaan Balai

Di sisi lain, defisit pada Transaksi Berjalan (TB) tercatat meningkat relatif tinggi, terutama didorong oleh terus menurunnya ekspor karena perlambatan ekonomi global dan

Pada pemodelan persamaan terstruktur ada dua tahap pendekatan yang harus dilakukan, tahap pertama adalah dengan melakukan analisis faktor konfirmatori (confirmatory factor

• Target 2019: Meningkatkan Persentasi kab/kota yang mencapai 80% imunisasi dasar lengkap pada bayi dari 71,2 % menjadi 95%. • Target tsb untuk menjawab ketimpangan imunisasi

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pinjaman dana bergulir dari Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kota Semarang dapat membantu meningkatkan produk, omzet penjualan,

karakteristik jenis operasi sebelum dilakukan terapi back massage skala nyeri tertinggi yaitu skala 8 dirasakan oleh pasien dengan jenis operasi Herniotomy

Pemilihan topik dan tema dengan pendekatan Ekspresi Bentuk pada perancangan bangunan Concert Hall dikarenakan ingin mewujudkan suatu karakter spesifik dari sebuah fungsi