• Tidak ada hasil yang ditemukan

halo PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM INDONESIA NTERNIS Edisi XXVII, Agustus 2017 KORIDOR PENGABDIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "halo PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM INDONESIA NTERNIS Edisi XXVII, Agustus 2017 KORIDOR PENGABDIAN"

Copied!
80
0
0

Teks penuh

(1)

halo

NTERNIS

KORIDOR

PENGABDIAN

PERHIMPUNAN

DOKTER SPESIALIS

PENYAKIT DALAM

INDONESIA

(2)
(3)

SALAM REDAKSI

3

Edisi XXVII, Agustus 2017

//

HALO INTERNIS

halo

INTERNIS

PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM INDONESIA

SUSUNAN REDAKSI

Penanggung Jawab:

Prof. Dr. dr. Idrus Alwi, SpPD, K-KV, FINASIM, FACC, FESC, FAPSIC, FACP

Pemimpin Redaksi:

dr. Nadia A. Mulansari, SpPD, K-HOM, FINASIM

Bidang Materi dan Editing:

dr. Wismandari, SpPD, K-EMD, FINASIM dr. Arif Mansjoer, SpPD, KIC, FINASIM, M.Epid

dr. Elizabeth Merry Wintery, SpPD, FINASIM Tim Pendukung:

Faizah Fauzan El.M, SPi, MSi, Ari Utari, S. Kom, M. Nawawi, SE, M. Giavani Budianto

Koresponden PAPDI:

Cabang Jakarta Raya, Cabang Jawa Barat, Cabang Surabaya, Cabang Yogyakarta, Cabang Sumatera Utara, Cabang Semarang,

Cabang Sumatera Barat, Cabang Sulawesi Utara, Cabang Sumatera Selatan, Cabang Makassar, Cabang Bali, Cabang Malang, Cabang Surakarta, Cabang Riau, Cabang Kalimatan Timur dan Kalimantan Utara, Cabang Kalimantan Barat, Cabang Provinsi

Aceh, Cabang Kalimantan Selatan Tengah, Cabang Sulawesi Tengah, Cabang Banten, Cabang Bogor, Cabang Purwokerto, Cabang

Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang Gorontalo,

Cabang Cirebon, Cabang Maluku, Cabang Tanah Papua, Cabang Maluku Utara, Cabang

Nusa Tenggara Barat, Cabang Depok, Cabang Bengkulu, Cabang

Sulawesi Tenggara Sekretariat PB PAPDI: Muhammad Muchtar, Husni Amri, Oke Fitia, Dilla Fitria, Normalita Sari,

Yunus, Supandi Alamat: PB PAPDI

Jl. Salemba I No.22-D, Kel. Kenari, Kec. Senen, Jakarta Pusat 10430

Telp. 021-31928025, 31928026, Fax: 021-31928028, 31928027

SMS: 085695785909 Email: [email protected]

Website: www.pbpapdi.org Redaksi menerima masukan dari sejawat, baik

beru-pa kritik, saran, kiriman naskah/artikel dan foto-foto kegiatan PAPDI di cabang, yang dapat dikirimkan ke: REDAKSI HALO INTERNIS

SEKRETARIAT PB PAPDI

Jl. Salemba I No.22-D, Kel. Kenari, Kec. Senen, Jakarta Pusat 10430 Telp. 021-31928025, 31928026 Fax: 021-31928028, 31928027 SMS: 085695785909 Email: [email protected] Website: www.pbpapdi.org

Sejawat nan terhormat,

Pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan yang berkaitan dengan praktik kedokteran dan peningkatan kualitas pelayanan kesehatan di Indonesia. PAPDI mendukung dan turut berkontribusi agar kebijakan-kebijakan tersebut dapat terealisasi dengan baik.

Terkait dengan kebijakan-kebijakan pemerintah, ada beberapa hal yang menjadi concern PAPDI sekarang ini. Di antaranya, menyosialisasikan kepada

seluruh anggota PAPDI masalah gratifikasi

di bidang kedokteran, evaluasi program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), dan pelaksanaan Wajib Kerja Dokter Spesialis (WKDS). Redaksi merangkum tiga hal penting ini dalam sajian Rubrik Fokus Utama dengan judul “Koridor Pengabdian”.

Pembahasan tentang gratifikasi di bidang

kedokteran difokuskan pada masalah pemberian sponsorship oleh kalangan farmasi kepada dokter maupun institusi tempat para dokter bertugas. Sosialisasi

tentang mekanisme sponsorship yang benar terus disebarluaskan agar para anggota PAPDI tidak tersandung masalah hukum di kemudian hari. Artikel tentang Evaluasi Program JKN membahas peran penting dokter dalam menjaga kelangsungan Program JKN. Dokter merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan di lapangan, sehingga saran dan masukan dari dokter terhadap pelaksanaan JKN sangat perlu dipertimbangkan demi terbentuknya pelayanan kesehatan yang betul-betul berkualitas. Mengenai Program Wajib kerja Dokter Spesialis (WKDS), PAPDI sangat mendukung, karena program ini sejalan dengan rencana staretegis PAPDI untuk memeratakan distribusi Dokter Spesialis Penyakit Dalam ke seluruh wilayah Indonesia.

Pada edisi ini, Redaksi juga menyajikan informasi terkini mengenai pengobatan Hepatitis C. Telah ditemukan terapi obat terbaru dengan daya kerja lebih efektif dan biaya lebih ringan bagi pasien. Rubrik Kabar PAPDI menginformasikan kegiatan-kegiatan PB PAPDI baru-baru ini, termasuk Konferesi Kerja XIV PAPDI di Malang yang terselenggara pada 13 – 16 Juli 2017. Sebagai selingan, Rubrik Jeda

menayangkan artikel ringan tentang Pesona Bromo dan Mengenal Karakter Wayang yang menginspirasi untuk diaktualkan dalam kehidupan sehari-hari.

(4)

Hal. 8

TITIK TERANG

DILEMA SPONSORSHIP

Hal. 44

PAPDI FORUM

MERAIH KESEMPURNAAN PUASA

Hal. 36

SALING MENGHORMATI

DALAM MENJAGA MUTU

PENDIDIKAN SPESIALIS

Hal. 7-20

FOKUS UTAMA

• Koridor Pengabdian

• Titik Terang Dilema Sponsorship • Menjaga Kelangsungan JKN • Solusi Untuk Negeri

• Jangan Lelah Mencintai PAPDI

Hal. 25-42

SOROT

• Metode Terbaru Pengobatan Hepatitis C • Ketika Pasien Dihantui Rumor

Hal. 40

PROFIL

• Prof. Dr. dr. Siti Setiati, SpPD, K-Ger, FINASIM, M.Epid

Hal. 43-54

KABAR PAPDI

• Aksi Sosial dan Beragam Kegiatan Ilmiah PAPDI Riau • PKB XXXII IPD 2017 Surabaya, Meningkatkan Kompetensi

Sejawat di Era JKN

• PAPDI Sumatera Barat, Pertemuan Ilmiah Berkala ke 17 • Rakerda PAPDI Bali

• Mengelola Pasien Dengan Panduan Medik Terkini • PAPDI Jambi, Dokter Jangan Ketinggalan Teknologi • Pelantikan Pengurus PAPDI Cabang NTB Periode 2015-2018

(5)

DAFTAR ISI

5

Edisi XXVII, Agustus 2017

//

HALO INTERNIS

Hal. 40

PROFIL

Prof. Dr. dr. Siti Setiati,SpPD, K-Ger, FINASIM, M.Epid

Hal. 55 INFO CABANG

Hal. 69 JEDA

Hal. 55-65

INFO CABANG

• Aksi Sosial & Beragam Kegiatan Ilmiah Papdi Riau • Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan XXXII IPD 2017

Surabaya

• PAPDI Cabang Sumatera Barat Pertemuan Ilmiah Berkala Ke 17

• Rakerda PAPDI Bali

• PAPDI Cabang Purwokerto, Mengelola Pasien Dengan Panduan Medik Terkini

• PAPDI Cabang Jambi, Dokter Jangan Ketinggalan Teknologi • Pelantikan Pengurus PAPDI Cabang Nusa Tenggara Barat

Periode 2015 – 2018

Hal. 66-67

NAMA DAN PERISTIWA

• Beda Suku Beda Kondisi Lambung • UNILA Akan Buka PPDS Penyakit Dalam • Aplikasi Wajib Notifikasi TB

Hal. 68

AGENDA

• Agenda Kegiatan Ilmiah Bidang Ilmu Penyakit Dalam Tahun 2017

Hal. 69-78

JEDA

• BROMO, “The Famous Sunrise” • Yuk Mengenal Karakter Wayang • Humor

MENGENAL

(6)

Profesional

Amanah

Peduli

Dedikasi

Integritas

SEKRETARIAT PB PAPDI

Jl. Salemba I No.22-D, Kel. Kenari, Kec. Senen, Jakarta Pusat 10430

Telp. 021-31928025, 31928026, Fax Direct: 021-31928028, 31928027

(7)
(8)

KORIDOR

PENGABDIAN

Sebagai mitra pemerintah, PAPDI senantiasa mendorong

anggotanya menerapkan kebijakan-kebijakan yang berimplikasi

positif bagi pembangunan kesehatan nasional. PAPDI juga

menghadirkan solusi untuk mengatasi berbagai permasalahan

pelayanan kesehatan di negeri ini.

(9)

FOKUS UTAMA

9

Edisi XXVII, Agustus 2017

//

HALO INTERNIS

B

eberapa waktu belakangan ini Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) menghadapi beberapa kebijakan dari pemerintah. Tiga di antaranya menjadi hal utama untuk disebarluaskan ke semua anggota PAPDI di seluruh Indonesia karena termasuk koridor yang harus ditempuh dalam melaksanakan pengabdian. Hal ini menjadi materi pokok yang dibahas secara detil dalam acara Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PB PAPDI) dan Semua PAPDI Cabang yang berlangsung pada tanggal 18 – 19 Maret 2017 di Hotel Harris Kelapa Gading Jakarta.

Tiga kebijakan termasuk pembahasan yang diproritaskan dalam Rakernas PAPDI ini adalah mengenai:

1. Sosialisasi Gratifikasi di Bidang

Kedokteran

2. Evaluasi Pelaksanaan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)

3. Pelaksanaan Wajib Kerja Dokter Spesialis (WKDS)

Ketua Umum PB PAPDI, Prof. Dr. dr. Idrus Alwi, SpPD, K-KV, FINASIM, FACC, FESC, FAPSIC, FACP dalam sambutannya pada acara pembukaan Rakernas PB PAPDI dan Semua PAPDI Cabang tanggal 18 Maret 2017 menyampaikan “Sosialisasi

Gratifikasi di Bidang Kedokteran” penting

dibahas karena menyangkut mekanisme pemberian sponsorship oleh perusahaan farmasi kepada dokter.

Walau isu tentang Gratifikasi di Bidang

Kedokteran ini sudah cukup lama tersiar, menurut Idrus, masih banyak kalangan dokter yang belum memahami tata cara pemberian sponsorship yang diperbolehkan

dan aman dari indikasi gratifikasi yang bisa

berujung pada masalah hukum. PB PAPDI sudah menyusun mekanisme pemberian sponsorship yang sesuai dengan peraturan yang berlaku. Namun, seringkali teknis di lapangan tidak sesederhana mekanisme di atas kertas. “Banyak yang bertanya teknis pemberian sponsorship, karena itu (perlu) untuk menghindari KPK,” terang Idrus. Mengenai pelaksanaan Program JKN, di lapangan ditemukan persoalan-persoalan yang menyebabkan pelayanan kesehatan kepada pasien menjadi tidak optimal. Semisal, dalam penulisan resep obat, BPJS memiliki kriteria tersendiri dalam pemberian obat untuk pasien. Ada kalanya dokter tidak dapat menuliskan resep obat tertentu karena tidak memenuh kriteria yang ditetapkan BPJS, sementara tinjauan medis menunjukkan pasien membutuhkan obat tersebut.

Tidak terpenuhinya kebutuhan pasien ini berdampak pada penilaian terhadap kualitas pelayanan kesehatan yang diberikan dokter maupun rumah sakit yang menjadi mitra

BPJS. PAPDI mendorong agar berbagai masalah yang berkaitan dengan kualitas pelayanan dievaluasi, supaya ke depan masyarakat benar-benar merasakan manfaat program JKN ini bagi kesehatan diri dan keluarganya. “Jangan lupa kendali terhadap kualitas pelayanan. Jangan hanya evaluasi anggaran saja. Juga evaluasi pelayanan,” ujar Idrus.

Adapun program WKDS perlu disosialisasikan ke anggota PAPDI karena hal ini sejalan dengan rencana strategi PAPDI yang ingin mewujudkan pelayanan kesehatan penyakit dalam yang merata di seluruh Indonesia. Di lapangan, pelaksanaan WKDS juga melibatkan PAPDI Cabang, khususnya dalam melakukan visitasi ke lokasi-lokasi penempatan internis di daerah.

PB PAPDI dalam Rakernas ini

menghadirkan narasumber dari Inspektorat Jenderal Kementerian Kesehatan, Komisi Pemberantasan Korupi (KPK), Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), dan Badan Penyelenggara Kesejahteraan Sosial (BPJS) Kesehatan untuk menjelaskan secara rinci kebijakan yang berlaku. Informasi yang tersaji dari pihak-pihak yang kompeten ini sangat membantu para perwakilan PAPDI Cabang yang hadir dalam Rakernas memahami mekanisme dan aturan yang semestinya dilakukan. Dengan begitu akan lebih mudah mensosialisasikannya kepada seluruh anggota PAPDI di wilayah kerja masing-masing. haloINTERNIS

(10)

TITIK TERANG

DILEMA SPONSORSHIP

Pemberian

sponsorship

oleh farmasi kepada profesional dokter termasuk dalam

“daerah abu-abu” yang rawan praktik suap

.

Menteri Kesehatan melalui Permenkes

Nomor 58 Tahun 2016 memberikan panduan agar semua

clear

dan selamat.

(11)

FOKUS UTAMA

11

Edisi XXVII, Agustus 2017

//

HALO INTERNIS Irjen Kemenkes, Drs. Apt, MM, ME menjadi narasumber dalam Rakernas PB PAPDI dan PAPDI Cabang 2017, dengan moderator dr. Ika Prasetya Wijaya, SpPD, K-KV, FINASIM, FACP, FICA.

J

agad kedokteran Indonesia galau. Permenkes Nomor 14 Tahun 2014

tentang Pengendalian Gratifikasi

di Lingkungan Kementerian Kesehatan memberikan sinyal agar para dokter berhati-hati menerima sponsorship dari kalangan farmasi, karena bisa jadi sponsorship tersebut dikategorikan

sebagai gratifikasi yang memuat

unsur-unsur praktik korupsi. Si penerima bisa berpotensi terseret kasus hukum yang bakal membawanya meringkuk di balik jeruji besi.

Jelas saja kabar ini membuat geger. Selama

ini, kalangan dokter biasa menerima dukungan dari farmasi, khususnya untuk mengikuti perlatihan-pelatihan dan seminar yang membutuhkan biaya tidak sedikit. Dengan dikaitkannya sponsorship sebagai

gratifikasi, maka ruang gerak dokter untuk

meningkatkan kompetensinya menjadi terbatas. Karena mengikuti seminar dan pelatihan di dalam maupun di luar negeri dengan mengandalkan dana sendiri, akan sangat memberatkan.

Dokter berbeda dengan profesi yang lain. Sekalipun sudah menyandang gelar akademisi di depan maupun di belakang namanya, setiap dokter dituntut untuk senantiasa meng-update pengetahuannya dan meng-upgrade kompetensi diri di bidang keilmuan yang digeluti. Sebab, ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran berkembang sangat pesat.

Inspektur Jenderal Kementerian Kesehatan Drs. Purwadi, Apt, MM, ME yang menjadi narasumber pertama dalam acara Rakernas PB PAPDI dan Semua PAPDI Cabang pada tanggal 18 Maret 2017 di Jakarta menjabarkan keharusan bagi para dokter untuk terus belajar dilandasi oleh Undang-Udang No. 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran. UU Praktik Kedokteran Pasal 28 mencantumkan setiap dokter yang berpraktik wajib mengikuti pendidikan dan pelatihan kedokteran berkelanjutan (P2KB) yang diselenggarakan oleh organisasi profesi dan lembaga lain yang diakreditasi oleh organisasi profesi dalam rangka penyerapan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran. P2KB haruslah dilaksanakan sesuai dengan

standar yang ditetapkan oleh organisasi profesi kedokteran

Namun, kewajiban mengikuti program P2KB yang umumnya direalisasikan dalam bentuk simposium maupun pelatihan, tidak disertai dengan pengucuran dana dari pemerintah, karena anggaran negara terbatas. Ini menimbulkan dilema. Tanpa ada dukungan dana, sulit bagi para dokter untuk terus menerus mengikuti kegiatan-kegiatan ilmiah demi meningkatkan kompetensinya. Di sisi lain, tidak mengikuti program P2KB berarti melanggar amanat Undang-Undang Praktik Kedokteran. Bukan hanya itu, P2KB termasuk poin penting yang diperhitungkan dalam perpanjangan Surat Tanda Registrasi (STR). Tidak mengikuti P2KB bisa pula menghambat perpanjangan STR atau izin praktik yang harus diperbaharui setiap lima tahun.

PERKEMENKES NO. 58 TAHUN 2016

Bagaimanapun, sponsorship dari farmasi menjadi bagian dari solusi untuk membantu para dokter melaksanakan amanat UU Praktik Kedokteran. Begitu pula farmasi membutuhkan para tenaga kesehatan dalam mempromosikan produk obat yang dibutuhkan masyarakat. Untuk mengatasi dilema sponsorship ini dan bertujuan agar para dokter dan kalangan farmasi tidak salah langkah dan terjebak dalam kerja sama yang memuat unsur-unsur pelanggaran hukum, Menteri Kesehatan Republik mengeluarkan Permenkes Nomor 58 tahun 2016 tentang Sponsorship Tenaga Kesehatan.

(12)

WAJIB LAPOR KPK

G

ratifikasi menurut penjelasan Pasal 12B UU No. 20 Tahun 2001 adalah pemberian dalam arti luas, yakni meliputi pemberian uang, barang, rabat (discount), komisi, pinjaman tanpa bunga, tiket perjalanan, fasilitas penginapan, perjalanan wisata, pengobatan cuma-cuma, dan fasilitas lainnya. Gratifikasi tersebut baik yang diterima di dalam negeri maupun di luar negeri dan yang dilakukan dengan menggunakan sarana elektronik atau tanpa sarana elektronik.

Setiap gratifikasi kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara dianggap pemberian suap, apabila berhubungan dengan jabatannya dan

berlawanan dengan kewajiban atau tugasnya. Namun anggapan ini gugur dengan sendirinya bila penerima melaporkan gratifikasi yang diterimanya kepada KPK.

Nah, pasal 10 Permenkes Nomor 58 tahun 2016 mengatur mekanisme pelaporan

sponsorship agar Tenaga Kesehatan tidak jatuh pada tindak pidana korupsi. Hal-hal yang harus dipenuhi adalah: 1. Penerima dan pemberi sponsorship harus melaporkan kepada KPK dan ditembuskan kepada kementerian kesehatan. 2. Penerima sponsorship

Khusus bagi Tenaga Kesehatan Pegawai Aparatur Sipil

Negara maupun pegawai swasta,

sponsorship

diberikan

melalui institusi tempat bekerja, dengan ketentuan haruslah

mendapatkan penugasan dari pimpinan dan sesuai dengan

keahliannya.

Andi Purwana, Deputi Pencegahan

Gratifikasi Komisi Pemberantasan Korupsi.

foto: http://www

.victorynews.id

Purwadi menjelaskan, Permenkes ini memandu batasan-batasan sponsorship yang diperbolehkan menurut aturan yang berlaku. Ini diawali dengan menetapkan

definisi. Permenkes Nomor 58 Tahun 2016 mendefinisikan bahwa sponsorship adalah pemberian dukungan dalam segala bentuk bantuan dan/atau kegiatan dalam rangka peningkatan pengetahuan yang dilakukan, diorganisir atau disponsori oleh perusahaan/industri farmasi, alat kesehatan, alat laboratorium kesehatan dan/atau perusahaan/industri lainnya yang dapat dipertanggungjawabkan secara transparan dan akuntabel.

Adapun Tenaga Kesehatan didefinisikan

sebagai setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan. Permenkes Nomor 58 Tahun 2016 menyatakan sponsorship dapat diberikan kepada Tenaga Kesehatan dengan status Pegawai Aparatur Sipil Negara (ASN), non pegawai ASN alias pegawai swasta, juga tenaga kesehatan praktik perorangan. Selain itu, sponsorship juga dapat diberikan kepada institusi, organisasi fasilitas pelayanan kesehatan dan/atau organisasi profesi sebagai penyelenggara kegiatan

menunjang profesi tenaga kesehatan, seperti seperti seminar, pertemuan ilmiah dan pelatihan atau pendidikan.

Khusus bagi Tenaga Kesehatan Pegawai Aparatur Sipil Negara maupun pegawai swasta, sponsorship diberikan melalui institusi tempat bekerja, dengan ketentuan haruslah mendapatkan penugasan dari pimpinan dan sesuai dengan keahliannya. Sedangkan bagi Tenaga Kesehatan praktik perorangan, ketentuan yang berlaku, sponsorship diberikan dalam mengikut kegiatan yang sesuai dengan keahlian yang bersangkutan.

Sponsorship kepada Tenaga Kesehatan diberikan sebagai peserta, narasumber atau

moderator. Sebagai peserta diperbolehkan mendapatkan dukungan bentuk biaya registrasi (pendaftaran), tiket perjalanan, dan akomodasi. Adapun sponsorship untuk Tenaga Kesehatan yang menjadi narasumber maupun moderator, selain mendapat biaya registrasi (pendaftaran), tiket perjalanan, dan akomodasi, juga mendapatkan honor atas tugas yang diembannya (honor sebagai moderator maupun sebagai narasumber). Besaran sponsorship yang diterima oleh tenaga kesehatan sebagai peserta, narasumber atau moderator sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan atau unit cost yang berlaku pada asosiasi/ perusahaan pemberi sponsorship.

Sangat ditegaskan, baik pemberi (farmasi) maupun penerima sponsorship (Tenaga Kesehatan atau Organisasi Profesi) wajib melaporkan sponsorship yang yang dilaksanakan kepada Komisi

Pemberantasan Korupsi (KPK). Agar semua terdata dan dapat dipertanggungjawabkan sebagaimana mestinya.

(13)

FOKUS UTAMA

13

Edisi XXVII, Agustus 2017

//

HALO INTERNIS

PRINSIP

SPONSORSHIP

K

omponen yang boleh dibiayai oleh sponsorship bagi Tenaga Kesehatan harus memenuhi prinsip:

 tidak mempengaruhi independensi dalam pemberian pelayanan kesehatan;

 tidak dalam bentuk uang atau setara uang;

 tidak diberikan secara langsung kepada individu;

 sesuai dengan bidang keahlian;

 diberikan secara terbuka; dan

 dikelola secara akuntabel dan transparan.

Sumber: Pasal 4, UU No. 56 Tahun 2016 Tentang Sponsorship Bagi Tenaga Kesehatan

harus melaporkan kepada KPK. Bagi Tenaga Kesehatan yang menerima sponsorship melalui institusi, melaporkan sponsorship

kepada institusi, selanjutnya institusi melaporkan kepada KPK. Pelaporan

sponsorship paling lambat 30 hari kerja.

3. Pemberi sponsorship harus melaporkan kepada KPK dalam bentuk rekapitulasi pemberian

sponsorship selama periode 1 bulan berjalan paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya.

4. Laporan disampaikan melalui email : [email protected] dan

[email protected]. Pelaporan disampaikan dalam bentuk excel

(softcopy) dan format pdf.

Tidak patuh pada ketentuan “Wajib Lapor” ini akan mengundang risiko, pidana penjara seumur hidup atau penjara paling singkat 4 tahun dan paling lama 20 tahun, dan pidana denda paling sedikit Rp 200 juta dan paling banyak Rp 1 miliar.halo

INTERNIS

AUDIENSI MENKES - KPK

Menurut Purwandi, lahirnya peraturan tentang sponsoship ini merupakan hasil audiensi Menteri Kesehatan dengan KPK, yang tujuannya untuk melindungi Tenaga Kesehatan dari perbuatan yang melanggar hukum. “Dokter perlu dana untuk mengembangkan ilmu. Farmasi perlu promosi obat karena tidak boleh promosi ke masyarakat. Dokter punya otoritas untuk menentukan obat. (Karena itu) perlu diatur agar sponsorship tidak menjadi gratifikasi

yang mengarah suap,” terangnya. Pencegahan praktik suap di bidang kesehatan sangat penting dilakukan, sebab menurut Andi Purwana, Deputi Pencegahan

Gratifikasi Komisi Pemberantasan Korupsi,

korupsi di bidang jasa kesehatan menempati level 3.3, di bawah Polisi yang menempati level 4.5. “Level 3.3 menurut kami lumayan tinggi,” tutur Andi pada acara Rakernas PB PAPDI dan Semua PAPDI Cabang tanggal 18 Maret 2017 di Jakarta. “Awalnya,

gratifikasi adalah normal pemberian hadiah.

Tapi konteks ke sininya praktik pemberian terkait dengan jabatan. Konteks pemberian hadiah jadi berubah,” imbuh Andi. Kini jelas sudah, Tenaga Kesehatan, khususnya para profesional dokter, tidak perlu khawatir mengikuti berbagai kegiatan ilmiah dan program-program pendidikan dengan dukungan sponsorship dari farmasi. Payung hukum yang melindungi sudah ada. Selama memenuhi prosedur dan ketentuan yang ditelah ditetapkan, sponsorship bukan

termasuk gratifikasi, sehingga tidak akan

mengundang masalah di belakang hari. Mari, laksanakan tugas dengan semangat. Pengabdian sejawat dalam melayani kesehatan masyarakat akan tercatat dalam sejarah pembangunan kesehatan negeri ini.

halo

(14)

BATASAN – BATASAN

SPONSORSHIP

IPMG telah menetapkan batasan-batasan dalam

pemberian sponsorship, termasuk besaran biaya

maksimum yang ditanggung pihak sponsor.

Semua diukur berdasarkan batas kewajaran.

(15)

FOKUS UTAMA

15

Edisi XXVII, Agustus 2017

//

HALO INTERNIS

P

ada 14 Juni 2017 lalu, Perkumpulan International Pharmaceutical Manufacturer Group (IPMG) mengundang seluruh organisasi profesi kedokteran untuk duduk bersama membahas soal sponsorship. Dalam pertemuan yang berlangsung di Jakarta ini, Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) diwakili oleh Ketua Umum PB PAPDI, Prof. Dr. dr. Idrus Alwi, SpPD, K-KV, FINASIM, FACC, FESC, FAPSIC, FACP.

Idrus mengungkapkan, melalui kegiatan ini IPMG memaparkan rule (aturan) yang mereka buat tentang pemberian

sponsorship untuk para dokter dengan mengacu pada Permenkes Nomor 58 Tahun 2016 tentang Sponsorship Tenaga Kesehatan. Secara detil IPMG menjelaskan batasan-batasan yang diperbolehkan dan mana yang tidak. Koridornya adalah kegiatan ilmiah, yang terkait dengan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) atau Continuing Professional Development (CPD), juga

Continuing Medical Education (CME). “Intinya adalah yang dianggap boleh mendapatkan sponsorhip adalah kegiatan yang dalam konteks berkaitan dengan

Continuing Professional Development (CPD) atau Continuing Medical Education CME. Itu bukan dianggap gratifikasi,” ujar Idrus. Yang diperolehkan untuk diberikan

sponsorship adalah:

• Registrasi kegiatan ilmiah

• Transportasi

• Akomodasi

• Honor speaker, moderator, dan

advisory board

Semua biaya yang ditanggung

sponsorship dibayarkan langsung ke

pihak penyelenggara. Prinsipnya, tidak ada uang yang langsung diterima dokter dari pemberi sponsorship. Termasuk juga kegiatan ke luar negeri, biaya yang diperlukan dibayarkan kepada travel agent yang mengelolanya. “Dokter tidak terima uang. Langsung terima tiketnya. Uang registrasi langsung dibayarkan ke penyelenggara,” kata Idrus. Selain untuk keperluan registrasi, transportasi, akomodasi, dan honor, sponsorship juga diperkenankan untuk kegiatan jamuan makan malam. “Dengan catatan, asalkan tidak berlebihan,” imbuh Idrus.

IPMG juga menetapkan batasan atau limit dalam pemberian sponsorship. Berikut di antaranya:

- Honorarium untuk speaker,

moderator maupun advisory board

maksimum Rp12 juta net per hari. Pembayaran dilakukan melalui transfer bank atau cek (cheque).

- Untuk kegiatan di dalam negeri, akomodasi dibatasi maksimum Rp2,5 juta per malam di luar pajak dan servis hotel. Sedangkan untuk akomodasi di luar negeri paling tinggi hotel bintang empat. - Transportasi yang ditanggung

adalah menggunakan pesawat kelas ekonomi.

- Lamanya mengikuti kegiatan dihitung dari H-1 sampai H+1. - Sponsorship tidak diperkenankan

untuk digunakan sebagai kompensasi waktu yang

digunakan dokter untuk kegiatan, alias sebagai pengganti uang harian karena tidak berpraktik selama mengikuti kegiatan. halo

INTERNIS

“Intinya adalah yang

dianggap boleh

mendapatkan sponsorship

adalah kegiatan yang

dalam konteks berkaitan

dengan Continuing

Professional Development

(CPD) atau Continuing

Medical Education (CME).”

(16)

I

nternational Pharmaceutical Manufacturer Group (IPMG) membuat aturan tentang pemberian sponsorship sebagai implementasi Permenkes Nomor 58 Tahun 2016. PB PAPDI menyambut dengan positif. Langkah cepat antisipasi untuk mencegah praktik

gratifikasi di kalangan anggota PAPDI di

seluruh Indonesia terus dilakukan. Ketua Umum PB PAPDI, Prof. Dr. dr. Idrus Alwi, SpPD, K-KV, FINASIM, FACC, FESC, FAPSIC, FACP memaparkan hal ini kepada Redaksi Halo Internis di ruang kerjanya di Jakarta, tanggal 13 Agustus 2017. Berikut petikannya.

Kabarnya IPMG sudah mengeluarkan aturan terkait dengan implementasi Permenkes Nomor 58 Tahun 2016

tentang Pemberian Sponsorship Tenaga

Kesehatan. Apa saja poin-poin aturan tersebut?

IPMG membuat suatu rule terkait apa saja yang boleh dan tidak boleh. Poin-poinnya hampir sama dengan Permenkes Nomor 58 Tahun 2016 karena acuan mereka juga Permenkes tersebut. Yang diperbolehkan untuk sponsorship adalah untuk registrasi kegiatan ilmiah, transportasi, akomodasi, dan honor sebagai pembicara maupun moderator. Hal ini disampaikan dalam pertemuan dengan seluruh perhimpunan (profesi kedokteran) yang diprakarsai oleh IPMG pada pertengahan Juni 2017.

Seperti apa mekanisme pemberian

sponsorship yang ditetapkan oleh IPMG?

Prinsipnya, tidak ada uang yang langsung diterima dokter. Termasuk juga kegiatan ke luar negeri, (biaya) diberikan kepada travel agent. Dokter tidak terima uang. Langsung terima tiketnya. Uang registrasi langsung dibayarkan (oleh farmasi) ke penyelenggara. Begitu juga dengan biaya hotel.

Bagaimana tanggapan PB PAPDI dengan dikeluarkannya Permenkes Nomor 58 Tahun 2016?

Saya kira baik sekali. Regulasi ini sebenarnya merupakan rambu-rambu. Penting buat kita, jangan sampai kita salah melangkah. Dengan Permenkes ini semua jadi transparan dan akuntabel. Kita tidak berburuk sangka.

Permenkes ini mengesankan sponsorship

sebagai sesuatu yang penting bagi kemajuan dunia kedokteran Indonesia. Mengapa demikian?

Permenkes ini terkait dalam konteks bahwa seorang dokter harus selalu meng-update ilmunya agar bisa memberikan layanan paling baik untuk pasien. Ini merupakan amanah UU Praktik Kedokteran. Untuk bisa mencapai itu harus mengikut kegiatan ilmiah Continuing Professional Development (CPD). atau Continuing Medical Education (CME). Kegiatan ini memerlukan biaya. Sementara negara belum hadir untuk men-support dokter. Kalau mengandalkan dana pribadi belum tentu bisa. Makanya ada sponsorship. Di luar negeri juga diperbolehkan. Tapi prinsipnya, dokter bisa menjaga independensi dalam meresepkan obat.

Sponsorship disorot KPK karena

rawan gratifikasi. Bagaimana peran

PAPDI dalam membina anggota terkait

gratifikasi?

PAPDI sangat concern menangani masalah

gratifikasi. Kita dari perhimpunan sudah

jauh-jauh hari mengantisipasi ini. Kita sudah melakukan pembinaan kepada anggota. Setiap kali Raker (Rapat Kerja), dan sudah beberapa kali Raker, selalu

ada tema gratifikasi. Kita mengundang

narasumber terkait dari Kementerian Kesehatan, IDI, dan KPK untuk menjelaskan hal ini.

GERAK CEPAT ANTISIPASI

GRATIFIKASI

Apakah ada tim khusus yang menangani

pencegahan gratifikasi dalam organisasi

PAPDI?

Sebelum ada regulasinya (Permenkes Nomor 58 Tahun 2016), kita dari perhimpunan sudah membentuk bidang

sendiri untuk pencegahan gratifikasi.

Namanya Bidang Pendidikan dan Pelatihan (Diklat), karena ini konteksnya terkait dengan program Continuing Professional Development (CPD). Kita ada bagan pelaporan sponsorship. Kita sudah mengeluarkan edaran ke seluruh cabang panduan untuk pelaporan ini. Dan terakhir kita mengacu pada Permenkes Nomor 58 Tahun 2016. Bagan pelaporan perlu

dimodifikasi sedikit, karena pelaporan

dokter praktik mandiri langsung ke KPK, bukan ke perhimpunan.

Bagaimana sosialisasi kepada anggota di daerah?

Sosialisasi sudah berjalan sebelum Permenkes Nomor 58 Tahun 2016 keluar. Saya kira sejak 3-4 tahun lalu kita sudah

mulai mengantisipasi gratifikasi. Setiap ke

daerah kita selalu menyampaikan ini.halo

(17)

FOKUS UTAMA

17

Edisi XXVII, Agustus 2017

//

HALO INTERNIS

(18)

MENJAGA

KELANGSUNGAN JKN

Program Jaminan Kesehatan Nasional nyata memberikan manfaat

bagi masyarakat Indonesia. Berbagai kekurangan yang ada akan

terus dibenahi sehingga kualitas dan jangkauan pelayanan yang

diberikan semakin baik. Mari jaga kelangsungan JKN. Jangan

biar-kan perilaku-perilaku curang menggerus dan membuat program ini

tersendat di tengah jalan.

(19)

FOKUS UTAMA

19

Edisi XXVII, Agustus 2017

//

HALO INTERNIS

PAPDI diharapkan dapat turut menjaga keberlangsungan JKN.” Pesan dan harapan ini dilontarkan Direktur Pelayanan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, Maya Amiarny Rusady ketika menjadi pembicara dalam diskusi “Evaluasi Program JKN” dalam rangkaian Rakernas PB PAPDI dan Semua PAPDI Cabang yang diselenggarakan pada 18 Maret 2017 di Jakarta.

PAPDI memiliki porsi yang penting dalam mendukung kesuksesan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), mengingat lebih dari 30% klaim pengobatan yang dibayarkan BPJS Kesehatan diperuntukkan untuk membiayai pengobatan kasus-kasus penyakit dalam.

Menurut Maya, total manfaat yang sudah dibayarkan oleh BPJS selama periode 2014 – 2016 mencapai Rp166 triliun. Sekitar Rp58 triliun dari total biaya tersebut untuk membayar manfaat pengobatan di bidang penyakit dalam. Jumlah ini akan terus meningkat karena dalam setiap bulan peserta yang memanfaatkan program JKN ini semakin banyak.

Peran profesional dokter sangat vital dalam menjaga keberlangsungan JKN ini. Karena dokter bersentuhan langsung dengan masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan. Dan yang pasti, lewat coretan tangan dokterlah, rumah sakit dapat mengumpulkan berkas untuk pengajuan klaim kepada BPJS Kesehatan. Dalam hal ini para dokter diharapkan bukan saja memberikan pengobatan, melainkan juga melakukan edukasi kepada masyarakat untuk mencegah agar penyakit tidak bertambah parah, atau mencegah lingkungan keluarga tidak mengalami penyakit yang sama dengan pasien. Seperti edukasi tentang gagal ginjal yang membuat pasien terpaksa menjalani cuci darah (hemodialisis).

Menurut Maya, belakangan ini pasien yang menjalani cuci darah bertambah banyak dan klaim untuk tindakan hemodialisis terus mengalami peningkatan dengan jumlah yang tak sedikit. “Setiap bulan ada sekitar 2.000 gagal ginjal baru,” ujarnya. Setidaknya ada dua hal yang disorot dari kasus gagal ginjal. Pertama, hemodialisis

yang diperlukan oleh pasien cuci darah membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Catatan BPJS Kesehatan menunjukkan hemodialisis merupakan tindakan rawat jalan dengan biaya tertinggi. Kedua, kini banyak pasien yang menjalani hemodialisis di usia relatif muda. Sangat disayangkan, usia yang semestinya diisi dengan produktivitas kerja yang prima, terpaksa dilalui dengan rutinitas cuci darah ke rumah sakit. Edukasi tentang menjaga kesehatan ginjal akan dapat membantu pasien yang untuk mempertahankan kualitas hidup, sekaligus dapat menekan pengeluaran biaya untuk cuci darah. “Ini PR kita, promotif dan preventif,” ujar Maya.

STANDAR KODING

Maya mengingatkan agar para dokter, khususnya anggota PAPDI, untuk teliti dalam mendiagnosis penyakit pasien. BPJS Kesehatan telah menetapkan standar koding penyakit dalam untuk diikuti. Standar koding ini diperlukan untuk

mengklasifikasikan penyakit pasien. Dari klasifikasi ini dapat ditentukan

pilihan-pilihan pengobatan yang akan dijalani. Diagnosis penyakit dan pilihan pengobatan

(20)

berkait erat berkaitan dengan klaim yang diajukan rumah sakit kepada BPJS

Kesehatan. Bila standar koding klasifikasi

dari BPJS ini tidak diikuti, rumah sakit berisiko mengalami kendala dalam pengajuan klaim nanti.

Standar koding ini merupakan salah satu cara untuk mencegah terjadi klaim palsu

atau klaim fiktif dari oknum-oknum rumah

sakit yang ingin berlaku curang. Komisi Pemberatasan Korupsi (KPK) sudah melihat adanya indikasi kecurangan dalam pelaksanaan JKN yang dilakukan oleh fasilitas kesehatan. Pada semester pertama tahun 2015, diperkirakan ada sekitar 175 ribu klaim dari fasilitas pelayanan kesehatan kepada BPJS dengan nilai mencapai Rp 400 miliar yang terdekteksi ada unsur kecurangan. Di awal tahun 2017 jumlahnya meningkat menjadi 1 juta klaim. “Sekarang ada sekitar 1 juta klaim yang terdeteksi. Oleh karena itu, kita pikir secara sistematik kita harus bangun sistem pengendalian fraud (penyimpangan). Pencegahan harus jelas,” ungkap Deputi Pencegahan KPK Pahala Nainggolan kepada wartawan di Jakarta, 22 Februari lalu.

Klaim palsu adalah sebuah pengkhianatan terhadap upaya pemerataan pelayanan kesehatan bagi seluruh masyarakat Indonesia, dan berakibat mengganggu kelangsungan JKN yang telah lama

dirindukan negeri ini. Karenanya, pemerintah sangat serius menangani kasus klaim palsu ini. Maya mengatakan telah dibentuk Satgas Pencegahan Fraud dan Penindakan Kerugian, dengan personel terdiri dari perwakilan Kementerian Kesehatan, KPK, dan BPJS Kesehatan. KPK sudah melontarkan peringatan keras agar segala bentuk kecurangan dalam pelaksanaan program JKN dihentikan. Jika sebelumnya pihak yang terbukti berlaku curang dituntut mengembalikan uang yang sudah diambil, ke depan akan dikenakan sanksi hukum yang lebih tegas. “Tantangan BPJS Kesehatan adalah pencegahan kecurangan. KPK sudah menyatakan ditahun 2018 akan ada sanksi secara legal,” tutur Maya.

KENDALA DI LAPANGAN

Ketatnya penerapan standar konding juga menimbulkan masalah di lapangan. Sejumlah dokter mengeluhkan sistem yang berlaku membuat pasien tidak tertangani secara optimal. BPJS Kesehatan membatasi obat atau terapi dengan jumlah atau kriteria tertentu. Pasien tidak bisa mendapatkannya karena tidak memenuhi kriteria BPJS, sementara dari sisi klinis mereka masih sangat membutuhkan obat dan terapi tersebut.

Contohnya, unit farmasi sebuah rumah sakit swasta di kawasan Jakarta

Barat menginformasikan bahwa BPJS membolehkan dokter penyakit dalam meresepkan obat penurun kolesterol untuk pasien dengan kondisi LDL di atas 123 mg/ dl, sementara batas LDL normal adalah di bawah 100 mg/dl. Pasien dengan kadar kolesterol di bawah 123 mg/dl namun di atas normal tidak bisa mendapatkan obat kolesterol, padahal membutuhkannya. Pada akhirnya, pasien terpaksa membeli sendiri obat-obat yang mereka perlukan. Untuk obat dengan harga terjangkau, mungkin tidak begitu bermasalah.

Lain halnya pada kasus spesifik,

seperti kemoterapi bagi pasien kanker. Kemoterapi merupakan tindakan medis yang sangat penting untuk mendukung kesembuhan pasien kanker. Pada kasus tertentu, adakalanya pasien membutuhkan kemoterapi lebih dari tiga kali, namun untuk kasus tersebut pula BPJS hanya menanggung biaya untuk tiga kali kemoterapi. Ini tentu memberatkan bagi pasien yang secara ekonomi kekurangan, karena biaya kemoterapi tidaklah murah. Dalam Rakernas PB PAPDI dan Semua PAPDI Cabang, Ketua Bidang Pengembangan Profesi PB PAPDI Dr. dr. Lugyanti Sukrisman, SpPD, K-HOM, FINASIM menyampaikan harapan agar BPJS melakukan tinjauan ulang untuk

tindakan-tindakan spesifik agar pasien

benar-benar tertangani secara baik dan tuntas. “Kami harapkan beberapa tindakan

medis spesifik untuk ditinjau kembali,”

kata Lugyanti yang juga pakar di bidang pengobatan kanker.

Semoga BPJS Kesehatan

mempertimbangkan usulan pengurus PAPDI ini untuk perbaikan kualitas pelayanan kesehatan ke depan. Tentunya agar tujuan serta manfaat program JKN benar-benar dirasakan secara utuh oleh masyarakat. halo

INTERNIS

Maya Amiarny

KPK sudah melontarkan

peringatan keras

agar segala bentuk

kecurangan dalam

pelaksanaan program

JKN dihentikan.

(21)

FOKUS UTAMA

21

Edisi XXVII, Agustus 2017

//

HALO INTERNIS

Kualitas pelayanan kesehatan belum merata.

Standarisasi Puskemas salah satu solusinya. PAPDI

diharapkan turut mendukung pembinaan tenaga

kesehatan di level primer agar memiliki kualitas yang

memenuhi standar.

T

anggal 1 Januari 2017 lalu, tepat 3 tahun dilaksanakannya Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Program ini resmi berjalan seiring dengan mulai beroperasinya Badan Penyelenggara Kesejahteraan Sosial (BPJS) Kesehatan pada tanggal 1 Januari 2014. BPJS Kesehatan merupakan badan hukum publik hasil transformasi dari PT Askes (Persero)  yang diberi tugas menyelenggarakan JKN.

Dalam Penjelasan Umum UU Nomor 40 Tahun 2016 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) diterangkan tiga kriteria yang harus terpenuhi dalam penyelenggaraan program jaminan sosial, termasuk Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Tiga kriteria tersebut adalah:

1. Kemampuan untuk memberikan perlindungan yang adil dan memadai kepada para peserta.

2. Kemampuan untuk menjangkau kepesertaan yang lebih luas.

3. Kemampuan memberikan manfaat yang lebih besar bagi peserta.

Mengacu kepada kriteria di atas, dalam masa tiga tahun ini BPJS Kesehatan sudah mencapai beberapa hal. Menurut dr. Kalsum Komaryani, MPPM, Kepala Pusat Pembiayaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), dari segi penjangkauan peserta, BPJS telah berhasil menghimpun lebih dari 170 juta jiwa. Awalnya, pada 1 Januari 2014 jumlah peserta JKN tercatat sebanyak 133.423.653. Terhitung 1 Juli 2017 jumlah peserta JKN mencapai sebanyak 178.384.288 peserta, atau sama dengan 71,35% dari 250 juta

EVALUASI

TIGA TAHUN JKN

orang penduduk. Dari total jumlah peserta tersebut, sebanyak 91.998.200 orang merupakan peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI). Angka peserta JKN ini diupayakan terus bertambah hingga ditargetkan capai universal health coverage yang meliputi seluruh rakyat Indonesia pada tahun 2019.

Dari segi kemampuan memberikan manfaat kepada peserta, juga sudah terlihat hasilnya. Menurut Direktur Pelayanan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, Maya Amiarny Rusady—yang juga menjadi pembicara dalam diskusi “Evaluasi Program JKN” dalam rangkaian Rakernas PB PAPDI dan Semua PAPDI Cabang—total manfaat yang sudah dibayarkan oleh BPJS Kesehatan selama periode 2014 – 2016 mencapai Rp166 triliun. MALDISTRIBUSI

Namun diakui masih banyak yang perlu dibenahi dalam penyelenggaraan JKN. Evaluasi tiga tahun JKN memperlihatan, walau kuantitas peserta menunjukkan perkembangan yang menggembirakan, dari sisi pelayanan masih belum merata dan perlu pembenahan. Kalsum Komaryani mengatakan di berbagai tempat terjadi maldistribusi pelayanan kesehatan.

Semestinya setiap peserta di seluruh pelosok tanah air terjamin memperoleh pelayanan kesehatan perseorangan secara sama dan merata tanpa membedakan besaran iuran yang dibayarnya, baik membayar iyuran secara swadana ataupun dibayar oleh pemerintah. Kenyataannya, di berbagai daerah perdesaan akses terhadap pelayanan kesehatan perseorangan belum memadai, karena faktor geografi, keterbatasan fasilitas kesehatan, dokter, tenaga kesehatan, dan obat-obatan. Hal ini dibenarkan oleh Maya Amiarny yang mengatakan pelayanan BPJS masih terpusat di daerah Jawa. “Sekarang ini mayoritas pelayanan BPJS di Pulau Jawa,” ujar Maya.

Soal rujukan dalam pelayanan kesehatan berjenjang juga disorot. Fasilitas Kesehatan (Faskes) lapis pertama, seperti puskesmas, perlu diperkuat sehingga betul-betul dapat menangani pasien secara maksimal. “Jangan sampai kasus sederhana ditangani di rumah sakit,” ujar Kalsum. Saat ini kondisi masing-masing puskesmas tidak sama, sehingga kemampuan melayani pasien pun berbeda. Untuk menyeragamkan standar pelayanan kesehatan level primer, Kementerian Kesehatan mengupayakan adanya standarisasi Puskemas. “Targetnya tahun 2018 terdapat 5000-an Puskesmas yang diakreditasi. Di setiap kecamatan ada Puskemas yang diakreditasi,” tutur Kalsum.

Dalam hal ini, PAPDI diharapkan turut andil mewujudkan faskes primer yang terstandarisasi dengan melakukan pembinaan kepada dokter-dokter di layanan primer. “Kami harapkan dukungan untuk membina dokter-dokter layanan primer sehingga kasus-kasus yang bisa ditangani di level primer dapat diselesaikan di pelayanan primer,” tandas Maya. haloINTERNIS

dr. Kalsum Komaryani, MPPM,

foto: PB.P

(22)

P

erhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) telah lama menaruh perhatian terhadap permasalahan tidak meratanya sebaran dokter spesialis, khususnya Dokter Spesialis Penyakit Dalam, di Indonesia. Banyak kasus-kasus penyakit dalam di daerah tidak tertangani dengan baik dan benar lantaran ketiadaan Internis disana. Kondisi ini amat memprihatinkan dan menggugah PAPDI untuk menempatkan pemerataan sebaran Internis ke dalam rencana strategis (renstra) organisasi.

Langkah awal sudah dilakukan. PAPDI melakukan mapping atau pemetaan sebaran

Internis di seluruh Indonesia, sehingga diketahui daerah-daerah mana yang kekurangan dan membutuhkan tenaga Internis. Sebagian besar keberadaan dokter Spesialis Penyakit Dalam masih terpusat di DKI Jakarta dan Jawa Barat dengan jumlah “melimpah” sementara daerah lain masih kekurangan, seperti Papua, Maluku Utara, dan Sulawesi Tengah. Bahkan, menurut Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PB PAPDI), Prof. Dr. dr. Idrus Alwi, SpPD, K-KV, FINASIM, FACC, FESC, FAPSIC, FACP masih ada beberapa daerah yang belum terjangkau Spesialis Penyakit Dalam.

“Kalau kita lihat renstra PAPDI, kita ingin berikan pelayanan yang merata. Kita tahu sebaran dokter Spesialis Penyakit Dalam belum merata. PAPDI sudah petakan sebaran Internis di seluruh Indonesia,” kata Idrus dalam acara pembukaan Rakernas PB PAPDI dan Semua PAPDI Cabang tanggal 18 Maret 2017 di Hotel Harris Kelapa Gading, Jakarta.

PERPRES NO 4 TAHUN 2017 Rupanya, renstra PAPDI ini sejalan dengan kebijakan Pemerintah yang ingin meningkatkan kualitas dan penjangkauan pelayanan kesehatan yang merata ke seluruh pelosok Indonesia. Tanggal 12 Januari 2017 Pemerintah mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun 2017 tentang Wajib Kerja Dokter Spesialis (WKDS). Perpres ini merupakan solusi untuk mengatasi persoalan minimnya Tenaga Kesehatan spesialistik di daerah-daerah, terutama di daerah tertinggal, perbatasan, dan kepulauan (DTPK). Wajib Kerja Dokter Spesialis (WKDS) dilaksanakan secara bertahap. Tahap pertama diprioritaskan bagi lulusan 5 program pendidikan spesialis, terdiri dari bidang spesialis empat dasar yaitu program Spesialis Ilmu Penyakit Dalam, Spesialis Obstetri dan Ginekologi, Spesialis Ilmu Kesehatan Anak, Spesialis Bedah ditambah dengan Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif. Data Rekapitulasi Kekurangan Dokter Spesialis 4 Dasar dan Anestesi Tahun 2017 menunjukkan sebanyak 937 rumah sakit di Indonesia kekurangan tenaga dokter spesialis 4 dasar dan anestesi.

SOLUSI

UNTUK NEGERI

Bak gayung bersambut. PAPDI telah menyusun rencana strategis untuk memeratakan

sebaran internis di Indonesia. Pemerintah mengeluarkan program WKDS yang membuka

jalan terwujudnya rencana tersebut. Kini penugasan dokter Spesialis Penyakit Dalam ke

daerah-daerah yang membutuhkan sudah dimulai terealisir.

(23)

FOKUS UTAMA

23

Edisi XXVII, Agustus 2017

//

HALO INTERNIS Ketentuan WKDS berlaku bagi semua

dokter spesialis 5 bidang di atas yang lulus setelah tanggal 12 Januari 2017, sesuai dengan tanggal di keluarkannya Perpres No. 4 Tahun 2017 tersebut. WKDS

Penyakit Dalam akan meluluskan 310 Internis. Merekalah yang mengisi pos-pos pelayanan Spesialis Penyakit Dalam di rumah sakit daerah yang selama ini kosong atau kurang. Penugasan peserta WKDS

Jumlahnya lebih banyak dari peserta didik Spesialis Penyakit Dalam yang akan lulus tahun 2017 ini. Diperlukan strategi untuk mengatur penempatan peserta WKDS agar semua rumah sakit daerah kebagian tenaga dokter spesialis yang mereka butuhkan.

MENGGANDENG PAPDI

Sejak awal Pemerintah menggandeng PAPDI dan organisasi profesi terkait untuk menyukseskan program WKDS. Perwakilan PAPDI (Prof. Dr. dr. Idrus Alwi, SpPD, K-KV, FINASIM, FACC, FESC, FAPSIC, FACP) dan perwakilan Kolegium Ilmu Penyakit Dalam (dr. Sumariyono, SpPD,

K-R, FINASIM) turut dilibatkan dalam Komite Penempatan Dokter Spesialis (KPDS). KPDS berfungsi menyusun perencanaan pemerataan dokter spesialis; menyiapkan wahana untuk kesiapan Wajib Kerja Dokter Spesialis (WKDS); memberikan masukan dalam menyusun rencana tahunan; membantu pengawasan dan pembinaan terhadap penyelenggaraan WKDS; serta melakukan pencatatan dan pelaporan penyelenggaraan WKDS.

Melalui KPDS ini PAPDI dapat

memperjuangkan hak-hak Dokter Spesialis Penyakit Dalam selama menunaikan tugas WKDS, seperti hak mendapatkan uang insentif dan fasilitas pendukung. PAPDI Cabang juga dilibatkan dalam pelaksanaan di lapangan, khususnya dalam melakukan visitasi untuk memastikan tersedianya kelengkapan sarana dan prasarana bagi internis muda yang akan bertugas.

Yang jelas, program WKDS telah membuka jalan bagi PAPDI merealisasikan renstra organisasi untuk memeratakan sebaran Internis di seluruh wilayah Indonesia. “Program WKDS ini membantu PAPDI memenuhi kebutuhan untuk penyebaran Dokter Spesialis Penyakit Dalam. PAPDI mendukung dengan ketentuan hak Internis (peserta WKDS) dipenuhi,” jelas Idrus.haloINTERNIS

“Kalau kita lihat renstra PAPDI, kita ingin berikan

pelayanan yang merata. Kita tahu sebaran Dokter

Spesialis Penyakit Dalam belum merata. PAPDI sudah

petakan sebaran Internis di seluruh Indonesia.”

merupakan syarat untuk mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) yang diperlukan untuk mengurus izin praktik kelak. Dengan begitu, dokter spesialis yang baru lulus tidak akan bisa mengurus izin praktik sebelum menyelesaikan tugas WKDS selama setahun di daerah yang ditetapkan. Pada pelaksanaan tahun 2017, program WKDS menugaskan sebanyak 1.000 – 1.250 dokter spesialis. Pada gelombang pertama Maret lalu, Kolegium Ilmu Penyakit Dalam mengirim 18 Internis. Menyusul gelombang berikutnya 11 Internis. Secara keseluruhan diprediksikan pada tahun 2017 ini Program Studi Ilmu

bersifat bergulir. Setelah menjalani masa tugas selama satu tahun, masing-masing peserta akan kembali ke daerah asal. Posisi mereka akan digantikan oleh adik-adik kelasnya, yakni para Internis muda yang baru lulus dari pendidikan.

Jumlah lulusan Spesialis Penyakit Dalam masih belum memadai dari yang dibutuhkan. Data RS Online tanggal 10 Januari 2017 yang tercantum dalam Makalah Wajib Kerja Dokter Spesialis menyebutkan kekurangan Dokter Spesialis Penyakit Dalam di 937 rumah sakit daerah yang menjadi sasaran program WKDS tahun 2017 adalah sebanyak 388 Internis.

foto: http://www

.internafkui.or

.id

Diperkirakan pada tahun 2017, Prodi Ilmu Penyakit Dalam meluluskan 310 Internis. Mereka akan menjalani program WKDS.

(24)

Jangan pernah lelah untuk mencintai PAPDI.” Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PB PAPDI), Prof. Dr. dr. Idrus Alwi, SpPD, K-KV, FINASIM, FACC, FESC, FAPSIC, FACP menyampaikan pesan ini dalam sambutannya pada pembukaan Rapat kerja Nasional (Rakernas) PB PAPDI dan Semua PAPDI Cabang pada 18 Maret 2017 di Jakarta.

Roda organisasi akan dapat berjalan dengan baik selama para pengurus dan anggotanya memiliki komitmen dalam melaksanakan visi dan misi organisasi. Begitu pula dengan PAPDI. Sebagai sebuah organisasi profesi yang bergerak secara profesional, PAPDI dapat berjalan karena pengurus pusat, pengurus cabang, dan para anggota punya komitmen yang kuat dalam memajukan organisasi yang dicintai ini.

Banyak rapat-rapat yang melelahkan dilaksanakan, yang membutuhkan waktu, tenaga, dan pemikiran. Semua itu dilakukan untuk kepentingan organisasi, yang segala

benefitnya berpulang kepada anggota

PAPDI sendiri, juga masyarakat luas yang menerima pelayanan kesehatan dari anggota PAPDI.

Seperti Rakernas yang digelar pada bulan Maret lalu, diselenggarakan selama dua hari di akhir minggu, di waktu yang semestinya dimanfaatkan para Internis untuk beristirahat dan berkumpul bersama keluarga, setelah menjalankan rugas rutin harian dari pagi hingga malam hari yang cukup melelahkan. Namun waktu yang sangat berharga itu pun rela dikorbankan untuk kepentingan PAPDI.

Idrus mengatakan Rakernas ini memiliki makna strategis dan penting bagi jalannya roda organisasi. Dalam Rakernas inilah

JANGAN LELAH

MENCINTAI PAPDI

berbagai hal terkait kelangsungan

organisasi dan kepentingan anggota PAPDI dibicarakan, dan dicarikan solusi atas setiap permasalahan yang ada.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh pengurus dan anggota. Jangan pernah lelah untuk mencintai PAPDI. Memang banyak rapat-rapat yang melelahkan,” ucap Idrus.

PAPDI sebagai organisasi profesi memiliki misi memberikan sumbangsih kesehatan masyarakat dan turut menunjang program pemerintah dalam pembangunan di bidang kesehatan. Sejatinya, mengikuti rapat dan mencurahkan waktu, tenaga serta pikiran untuk kemajuan PAPDI, tidak lain juga adalah bentuk pengabdian kepada masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia dalam lingkup yang lebih luas. halo

(25)

Sorot

(26)

Metode Terbaru

Harapan baru bagi penderita Hepatitis C. Peluang sembuh

terbuka lebar. Pasien tidak perlu pusing lagi dengan biaya

obat yang mahal, karena pemerintah memberikannya

secara gratis. Panduan penatalaksanaannya pun

sudah tersedia, memudahkan para Internis untuk

mengaplikasikan pengobatan ini di seluruh Indonesia.

PENGOBATAN HEPATITIS C

(27)

SOROT

27

Edisi XXVII, Agustus 2017

//

HALO INTERNIS Jangan cintai kekasihmu dengan sepenuh

jiwa, tapi cintailah dia dengan sepenuh hati...

Karena bila ditinggalkannya kamu cuma sakit hati,bukan sakit jiwa !!!

H

ati sering sekali dijadikan objek candaan. Andai saja yang bercanda paham bahwa organ hati mempunyai fungsi yang luar biasa penting, tentu kata-kata di atas tidak akan pernah tercetus. Ketua PB Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI), dr. Irsan Hasan, SpPD, K-GEH, FINASIM menerangkan organ hati atau liver merupakan salah satu organ paling penting di dalam tubuh manusia. Ada lebih dari 500 fungsi hati, di antaranya sebagai penyimpan lemak, gula, vitamin dan nutrisi lain yang dibutuhkan tubuh untuk bergerak maju. Organ ini juga membantu tubuh membersihkan diri dari racun dan infeksi darah, mengeluarkan bahan kimia berbahaya dari tubuh dan membersihkan darah dari produk-produk limbah, obat-obatan, dan zat beracun lainnya.

Hati juga berfungsi untuk memerangi infeksi, menghasilkan faktor imun untuk memerangi infeksi, membantu pencernaan, memroduksi zat yang disebut “empedu” untuk membantu mencerna makanan dan menyerap nutrisi, menyimpan vitamin dan mineral serta menyimpan energi. Jadi bisa dibayangkan kalau hati kita terganggu maka efeknya akan kemana-mana.

Salah satu penyakit yang sering menyerang hati adalah hepatitis, atau peradangan hati. Penyebabnya bisa karena virus (hepatitis, dengue, herpes, ameba, malaria), alkohol, obat-obatan, perlemakan dan Malaria. Dan kalau orang sudah mengidap hepatitis, namun tidak ditangani, bisa berkembang menjadi sirosis dan akhirnya kanker hati. Virus penyebab hepatitis sendiri ini ada berbagai macam, yakni A, B, C, D, E. Namun penamaan virus itu bukan menujukan kelas. Misalnya bukan menganggap B lebih berat dar A, atau C lebih berat dari B dan seterusnya. Ini hanya nama saja. Karena genom-nya berbeda dan sifatnya beda.

Menurut Irsan, di Indonesia Hepatitis telah menjadi masalah besar, karena 1 dari 10 orang di negeri ini mengidap hepatitis kronik. Yang paling tinggi sebenarnya pengidap Hepatitis B, angkanya sekitar 8% dan banyak terdapat di pedesaan.

Sementara Hepatitis C yang angkanya sekitar 1 - 2 persen kebanyakan terdapat di daerah perkotaan. “Saat ini hepatitis C menjadi menarik karena ada perkembangan mengenai obat baru,” ujar Irsan.

Virus Hepatitis C (VHC) merupakan virus RNA (asam ribonukleat) dari keluarga Flaviviridae. Saat ini VHC mempunyai 7 genotipe dengan 67 subtipe. Akan tetapi belum ada kesepakatan secara internasional hal ini, Indonesia tetap menggunakan pembagian 6 genotipe dengan 50 subtipe. Pemeriksaan genotipe berguna untuk menentukan durasi dan memperkirakan respon terapi.

“Genotipe ini kalau dianalogikan dengan manusia adalah suku. Ada suku Batak, Jawa, Sunda dan lain-lain. Sekali seseorang

terinveksi genotipe 1, akan selalu di genotipe ini, kecuali dia terivensi virus baru. Korelasinya dengan pengobatan. Misal ketika pengobatan masih dengan menggunakan interferon, genotipe 1 ini yang paling susah diobati. Pengobatannya pun harus disuntik tiap mingu selama satu tahun. Sementara genotipe 2 hanya selama 6 bulan. Jadi memang genotipe perlu dicek untuk tahu respons terapi,” ujar Irsan. Secara umum, genotipe 1a dan 1b adalah yang paling banyak dijumpai, meliputi hampir 60 persen infeksi VHC, dan dominannya di wilayah Eropa, Amerika Utara dan Jepang. Di Indonesia sendiri (RSCM) genotipe 1 juga merupakan subtipe yang paling banyak pengidapnya, yakni sekitar 72,2% (genotipe 1a sebanyak 6,7%, genotipe 1b sebanyak 47,3%, genotipe 1c sebanyak 18%).

“Jadi kalau ada pengguna narkotika suntik di

Indonesia, kemungkinannya dia mengidap Hepatitis

C lebih tinggi dibandingkan terinfeksi HIV

(human

immunodeficiency virus).”

(28)

Penularan virus hepatitis biasanya melalui transfusi darah, jarum suntik (narkoba), tato, hubungan seksual. Penularan melalui transfusi dan pemakaian narkoba suntik lah yang paling banyak terjadi. “Jadi kalau ada pengguna narkotika suntik di Indonesia, kemungkinannya dia mengidap Hepatitis C lebih tinggi dibandingkan terinfeksi HIV (human immunodeficiency virus). Orang takutnya HIV, padahal Hepatitis C yang tinggi. Hepatitis B kecil,” ujar Irsan. Seseorang yang terinfeksi virus hepatitis tidak akan segera merasakan keluhan, atau dalam hitungan bulan langsung mengalami sirosis. Inilah yang harus diwaspadai. Hepatitis C ini sekitar 80% muncul tanpa gejala. Makanya, orang sering menyebutnya sebagai silent killer. Kalaupun ada, gejala yang muncul sifatnya sangat umum tidak

spesifik, seperti letih atau capek. Padahal

capek bisa disebabkan oleh berbagai hal. Bisa karena bergadang, bekerja, atau karena kurang istirahat. Hal inilah yang membuat penyakit ini sering terabaikan.

Perjalanan penyakit ini juga cukup panjang. Proses menjadi sirosis membutuhkan waktu belasan atau bahkan sampai 20 tahun. Setelah itu, ada yang berkembang menjadi karsinoma hepatoselular (KHS) alias kanker hati. Angka mortalitas akibat komplikasi penyakit sirosis hati terkait infeksi Hepatitis C kronik, tercatat sekitar 4 persen per tahun. Siapa saja yang mungkin sampai pada fase lanjut dari penyakit ini? Kata Irsan, kondisi sirosis atau kanker hati bisa mengenai orang-orang yang dengan kondisi terinfeksi virus Hepatitis C di usia lanjut, pengidap HIV, juga Hepatitis B, dan pengonsumsi alkohol.

SKRINING ANTIHCV

Untuk mengetahui apakah sesorang terkena infeksi virus Hepatitis C atau tidak, perlu dilakukan screening antiHCV. Setelah periksa anti-HCV-nya harus pula dicek virusnya, yang dinamakan HCV RNA. Dari pemeriksaan ini dapat dinilai tingkat kesembuhan pasien. Orang terkena Hepatitis C, antiHCV-nya akan terus ada, sekalipun yang bersangkutan sudah sembuh. Pasien bisa dinyatakan sembuh ketika HCV RNA-nya sudah tidak ada. Untuk melihat kerusakan hati yang diakibatkan oleh infeksi virus Heptitis C ini perlu dilakukan biopsi hati.

Kekhawatiran terhadap dampak lanjutan dari penyakit Hepatitis C ini sekarang bisa diredam, karena menurut Irsan penyakit ini sudah bisa diobati. Bahkan sudah ada

metode pengobatan baru yang disebut Direct Acting Antiviral (DAA) dengan hasil sangat menggembirakan.

Sebelum ada DAA, pengobatan hepatitis masih mengandalkan interferon, pasien harus disuntik tiap minggu selama 6 – 12 bulan, tergantung genotipe-nya. Kalau genotipe 1, berarti terapinya dilakukan selama satu tahun. artinya pasien harus disuntik 48 kali.

Banyak masalah yang timbul dengan pengobatan lama ini. Pertama, dan ini biasanya menjadi masalah utama, yakni biaya. Bayangkan, sekali suntik pasien harus merogoh kocek sebesar Rp 2,5 juta. Berarti dalam setahun seorang penderita Hepatitis C harus mengeluarkan biaya sekitar Rp 120 juta.

Kedua, pasien seringkali malas disuntik. Maklum, karena harus rutin dilakukan setiap minggu selama setahun. Hal itu tentu sangat merepotkan, apalagi bagi pasien yang takut dan trauma dengan jarum suntik. Ketiga, respon terapi cukup lama. Terakhir, efek samping dari penggunaan obat

interferon ini mirip dengan kemoterapi dalam skala mini, dimana pasien mengalami mual, nafsu makan turun, depresi,

trombosit turun dan Hb turun. Pasien juga bisa menjadi susah tidur dan gampang tersinggung. “Dokternya juga pusing menghadapinya. Bahkan ada seorang pasien saya yang akan bunuh diri karena bikin depresi,” ujar Irsan. Sudah begitu, lanjut Irsan, susah payah disuntik, ternyata untuk genotipe1, tingkat keberhasilannya hanya 66 persen.

DIRECT ACTING ANTIVIRUS

Obat Hepatitis C terbaru yang dinamakan Direct Acting Antivirus Antiviral (DAA) bekerja lebih cepat dan memberikan hasil yang lebih efektif. Antivirus ini langsung bekerja menghambat replikasi virus Hepatitis C. Berbeda dengan interferon yang bekerjanya secara tidak langsung. Interferon akan meningkatkan sistem imun, kemudian sistem imun inilah yang akan menyerang virus Hepatitis C.

Kelebihan DAA, dapat menjanjikan tingkat kesembuhan hingga 87 - 98 persen. Selain itu, tersedia dalam sediaan oral, memiliki

(29)

SOROT

29

Edisi XXVII, Agustus 2017

//

HALO INTERNIS efek samping yang lebih sedikit, dan masa

terapi yang lebih pendek. Untuk genotipe 1 misalnya, hanya perlu waktu terapi 3 bulan. Bandingkan dengan interferon yang waktunya cukup lama, yaitu 1 tahun. Irsan menguraikan, ada tiga golongan besar dari DAA. Ini bisa dikenali dari nama belakangnya, yakni previr, asvir, dan buvir. Sehigga kemudian ada obat yang namanya Simeprevir, Sofosbuvird, aklatasvir, dan lain-lain.

Nah, salah satu tulang punggung dalam terapi Hepatitis C ini adalah obat Sofosbuvir. Ini merupakan tablet 400 miligram, diminum 1 kali sehari dan dikombinasikan dengan obat lain. Irsan menganalogikannya seperti Film James Bond. Dalam mengalahkan musuh-musuhnya, James Bond selalu berpasangan, hanya saja kalau awalnya pasangannya banyak, sekarang hanya satu. Nah dalam kasus ini, Sofosbuvir adalah James Bondnya. Untuk hasil yang lebih efektif, Sofosbuvir dipasangkan dengan obat lain, misalnya dengan formula sebagai berikut:  Sofosbuvir + Velpatasfir angka

keberhasilannya 96%.

Sofosbuvir + Simeprevir angka keberhasilannya 93%

Sofosbuvir + Ledipasvir angka keberhasilannya 98%

Sofosbuvir + Daclatasvir angka keberhasilannya 98%

“Ini yang saya sampaikan pada Maret 2016, dimana obat-obat itu yang tersedia di Indonesia. Waktu itu Sofosbuvir saja, belum ada yang lain. Waktu itu dianjurkan digabung dengan yang lama,

Ribafirin. Tetapi hasilnya 60%. Jadi dianjurkan tetap menggunakan interferon. Kelebihannya, kita hanya berikan hanya 3 bulan (dari sebelumnya 1 tahun ), angka keberhasilannya 85%,” jelas Irsan.

KENDALA BIAYA

Masalah sudah selesai? Belum! Ada kendala yang menghambat pengobatan ini. Yang jadi masalah ternyata adalah harga DAA yang tidak murah, bahkan bisa dikatakan sangat mahal. Sofosbuvir dengan nama dagang Sofaldi, untuk 1 tabletnya dihargai USD 1000 (Rp13 juta). Kalau pengobatannya dilakukan selama 3 bulan berarti biaya yang harus dikeluarkan pasien sekitar Rp1 miliar. Wajar bila ramai orang sedunia memrotes harga obat yang sangat mahal ini.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) turun tangan mencarikan solusi. WHO membuat perjanjian, bahwa untuk negara-negara miskin, DAA ini boleh diedarkan dalam bentuk generik (tiruan). Karena sebetulnya dalam dunia pengobatan itu ada peraturan, bahwa farmasi yang menemukan obat mempunyai hak paten memproduksi obat tersebut selama 10 tahun. Tidak boleh ada pihak lain yang membuat dan mengedarkan tiruannya. Bagi yang mengedarkan tiruan obat ini bisa dituntut. khusus untuk Sofosbuvir, peraturan ini ditiadakan. Karena Indonesia masih masuk dalam kategori negara miskin, maka diperbolehkan mengedarkan tiruan Sofosbuvir.

“Inilah tiruan yang sudah masuk ke Indonesia. Sekitar Desember 2015. Harga pengobatan saat ini sekitar Rp5,8 juta per bulan. Berarti kalau pengobatannya 3 bulan, biayanya Rp18 juta. Tentu jauh lebih murah dibanding yang Rp1 miliar tadi. Makanya, mulailah pasien-pasien dari negara tetangga seperti Malaysia, Singapura pada datang (berobat) ke Indonesia,” kata

Irsan.

Menurut Irsan, obat Hepatitis C yang sekarang sudah mendapat izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM) dan sudah beredar di pasaran adalah kombinasi Sofosbuvir dan Simeprevir. Selain itu ada pula jenis obat yang sudah disetujui Badan POM namun belum tersedia di apotik, yaitu kombinasi Sofosbuvir + Ledipesvir yang sudah jadi satu tablet. Kemungkinan obat ini baru akan tersedia di apotik pada Januari 2018. Obat lain yang sudah disetujui pula oleh Badan POM adalah Elbasvir dan Grazoprevir.

Di luar itu ada obat bernama Special Access Shceme (SAS). Obat ini belum ada di Indonesia. Organisasi atau rumah sakit meminta Kementerian Kesehatan untuk mengimpornya. “Itu yang saya bilang pada Maret lalu sudah ada di Indonesia adalah SAS. Belum dijual di apotik, makanya belinya di apotik RSCM,” tambahnya. Hanya saja, Irsan berpesan, harus hati-hati dalam memberikan obat Hepatitis C ini, karena berbagai kombinasi yang sebut di atas adalah untuk genotipe 1. Bisa saja efektif di genotipe 1 tapi lemah di genotipe lain. Tetapi, untuk memudah para dokter penyakit dalam menangani pasien, Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI) telah mambuat Konsensus 2017 tentang terapi Hepatitis C dengan menggunakan DAA. Sudah seharusnya semua dokter penyakit dalam di Indonesia mengacu pada konsensus ini dan mengikuti panduan yang sudah disediakan.

Satu lagi yang menurut Irsan masih menjadi kendala dalam pengobatan Hepatitis C ini. Kemenkes memang telah membuat program gratis untuk obat baru ini. Namun, sebelum dokter memberikan terapi DAA, pasien terlebih dahulu melakukan pemeriksaan HCV RNA. Untuk sekali pemeriksaan HCV RNA dibutuhkan biaya sekitar Rp 2 juta – 2,5 juta. Bagi sebagian besar pasien, biaya ini sangat memberatkan. Banyak yang tidak mampu membayarnya. Ke depan diharapkan, ada solusi bagi pasien-pasien tidak mampu untuk dapat menjalani pemeriksaan HCV RNA secara gratis atau dengan biaya yang terjangkau, agar sasaran pengobatan Hepatitis C yang bersifat menyeluruh bagi seluruh masyarakat Indonesia maupun warga dunia yang membutuhkan, dapat tercapai adanya. halo

(30)

Berikut ini cupilikan panduan pemilihan terapi Hepatitis C berdasarkan Konsesus Nasional Penatalaksanaan Hepatitis C Di Indonesia

Tahun 2017.

Tabel Pemilihan Regimen Terapi Pada Infeksi VHC Tanpa Sirosis

Genotipe PegIFN,

RBV

PegIFN,RBV,

Sofosbuvir VsimeprevirPegIFN, RB- Sofosbuvir, RBV Sofosbuvir, Simeprevir Sofosbuvir, Ledipasvir Sofosbuvir, Daclatasvir Grazoprevir, Elbasvir Sofosbuvir, Velpatasvir

1 12 minggu 24 - 48 minggu* - 12 minggu 12 minggu 12 minggu 12 minggu** 12 minggu 2 12 minggu - 12 minggu - 12 minggu 12 minggu - 12 minggu 3 Response

Guided 12 minggu - 12 minggu - - 12 minggu - 12 minggu 4 12 minggu 24 - 48 minggu* - 12 minggu 12 minggu 12 minggu 12 minggu** 12 minggu 5 12 minggu - - - 12 minggu 12 minggu - 12 minggu 6 12 minggu - - - 12 minggu 12 minggu - 12 minggu

* Diberikan selama 12 minggu. Dilanjutkan PegIFN & RBV 12 minggu (pasien naïve atau relapsers) atau 12 minggu, dilanjutkan PegIFN & RBV 36 minggu (pasien partial atau null responders);

** Dengan syarat tidak ditemukan NS5A RAV terhadap Elbasvir pada genotipe 1a dan genotipe 4; diberikan 16 minggu dikombinasikan dengan Ribavirin bila ditemukan NS5A RAV atau kadar RNA VHC800 ≥ 800.000 IU/mL.

Sumber: Buku Konsesus Nasional Penatalaksanaan Hepatitis C di Indonesia, diterbitkan oleh Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia, 2017

Tabel Pemilihan Regimen Terapi Pada Infeksi VHC Dengan Sirosis Kompensata

Genotipe PegIFN,

RBV

PegIFN, RBV,

sofosbuvir PegIFN, RBV Simeprevir Sofosbuvir,RBV Sofosbuvir, Simeprevir Sofosbuvir, Ledipasvir Sofosbuvir, Daclatasvir Grazoprevir, Elbasvir Sofosbuvir, Velpatasvir

1 12 minggu 24 - 48 minggu* -12 minggu (dengan RBV) Atau 24 minggu (tanpa RBV) 12 minggu (dengan RBV) Atau 24 minggu (tanpa RBV) 12 minggu (dengan RBV) atau 24 minggu (tanpa RBV) 12 minggu** 12 minggu

2 12 minggu - 16 - 24 minggu - 12 minggu 12 minggu - 12 minggu 3 Response

Guided 12 minggu - 24 minggu -

-24 minggu (dengan atau tanpa RBV -12 minggu (dengan Riba-virin) 4 12 minggu 24 – 48 min-ggu*

-12 minggu (dengan RBV) atau 24 minggu (tanpa RBV) 12 minggu (dengan RBV) atau 24 minggu (tanpa RBV) 12 minggu (dengan RBV) atau 24 minggu (tanpa RBV) 12 minggu** 12 minggu 5 12 minggu - - - 12 minggu (dengan RBV) atau 24 minggu (tanpa RBV) 12 minggu (dengan RBV) atau 24 minggu (tanpa RBV) - 12 minggu 6 12 minggu - - - 12 minggu (dengan RBV) atau 24 minggu (tanpa RBV) 12 minggu (dengan RBV) atau 24 minggu (tanpa RBV) - 12 minggu

PANDUAN PENATALAKSANAAN

TERAPI HEPATITIS C

(31)

SOROT

31

Edisi XXVII, Agustus 2017

//

HALO INTERNIS * Diberikan selama 12 minggu. Dilanjutkan PegIFN & RBV 12 minggu (pasien naïve

atau relapsers) atau 12 minggu, dilanjutkan PegIFN & RBV 36 minggu (pasien

partial atau null responders);

** Dengan syarat tidak ditemukan NS5A RAV terhaap Elbasvir pada genotipe 1a dan genotipe 4; diberikan 16 minggu dikombinasikan dengan Ribavirin bila ditemukan NS5A RAV atau kadar RNA VHC800 ≥ 800.000 IU/mL.

Sumber: Buku Konsesus Nasional Penatalaksanaan Hepatitis C di Indonesia, diterbitkan oleh Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia, 2017

Tabel Pemilihan Regimen Terapi Pada Infeksi VHC Dengan Sirosis Dekompensata

Genotipe PegIFN,

RBV

PegIFN, RBV,

Sofosbuvir PegIFN, RBV Simeprevir Sofosbuvir, Simeprevir Sofosbuvir, RBV Sofosbuvir, Ledipasvir Sofosbuvir, Daclatasvir Grazoprevir, Elbasvir Sofosbuvir, Velpatasvir

1 - 12 minggu (+RBV) atau 24 minggu (-RBV) 12 minggu (+RBV) atau 24 minggu (-RBV) 12 minggu (+RBV) atau 24 minggu (-RBV) 2 16-20 minggu - 12 minggu (+RBV) atau 24 minggu (-RBV) 12 minggu (+RBV) atau 24 minggu (-RBV) 3 Kontra Indikasi Kontra Indikasi Kontra Indikasi Kontra Indikasi - - 12 minggu

(+RBV) atau

24 minggu (-RBV)

Kontra Indikasi 12 minggu (+RBV) atau 24 minggu (-RBV) 4 12 minggu 12 minggu (+RBV) atau 24 minggu (-RBV 12 minggu (+RBV) atau 24 minggu (-RBV) 12 minggu (+RBV) atau 24 minggu (-RBV) 5 - 12 minggu (+RBV) atau 24 minggu (-RBV 12 minggu (+RBV) atau 24 minggu (-RBV) 12 minggu (+RBV) atau 24 minggu (-RBV) 6 - 12 minggu (+RBV) atau 24 minggu (-RBV 12 minggu (+RBV) atau 24 minggu (-RBV) 12 minggu (+RBV) atau 24 minggu (-RBV)

Gambar

Foto bersama peserta Rakernas PAPDI 2017 di Jakarta.
Tabel Pemilihan Regimen Terapi Pada Infeksi VHC Dengan Sirosis Kompensata
Tabel Pemilihan Regimen Terapi Pada Infeksi VHC Dengan Sirosis Dekompensata
Foto bersama panitia Pertemuan Ilmiah Berkala (PIB) di Pangeran’s Beach Hotel Padang.

Referensi

Dokumen terkait