Strategi
Pembangunan
Kota
Surakarta
(CDS)
PERMASALAHAN KOTA SURAKARTA ¾ Masalah Tata Ruang & Lingkungan
- Belum familier bagi masyarakat - Belum pernah ada evaluasi
- Dalam proses masih bersifat Top Down - Belum ada penjabaran secara lokal - Tidak memperharikan publik domain
¾ Masalah Kemiskinan, Pengangguran & Sektor Informal - Rendahnya SDM
- Pesatnya arus urbanisasi sehingga menambah konsentrasi tenaga kerja - Ketersediaan lapangan kerja yang tidak memadai
- Pemahaman otda yang salah, sehingga membebani rakyat dalam hal retribusi & pajak untuk peningkatan PAD - Kapitalisme
- Krisis/ PHK yang mengakibatkan tumbuh pesat usaha di sektor informal ¾ Masalah Konflik Sosial & Kamtibmas
- Sering terjadi kerusuhan
- Banyak fasilitas umum yang hancur/ rusak
- Banyaknya aksi protes dalam bentuk demonstrasi - Rendahnya kepercayaan antar warga
PEMETAAN ISSU KOTA
Matriks : Issu Tata ruang dan Lingkungan
No Isu Kebijakan Tata
Ruang Issu-issu strategis Hub Antar wilayah Distribusi kegiatan Potensi & Permasalahan
1 PKL Perda belum
aspiratif Tidak jelas alokasi ruangnya Pendatang (imigran) Di Pusat keramaian - - Lapangan kerja + Retribusi + - Mengurangi + - kriminalitas +
- Kemacetan lalu lintas +
2 Parkir Kebijakan tata
ruang ada Belum tersistem Membebani jalan - - Lalu lintas macet Parkir liar
3 Pemukiman
liar Penegakan hukum lemah
(inkonsistensi) - Keselamatan - Kualitas lingkungan Pendatang - Bantaran sungai - Tanah Negara (-) (-) 4 Pemukiman
Kumuh Program KIP Rumah susun Merata kecamatan tiap Kesehatan lingkungan
5 Lalu Lintas (Transportasi ) - UU Lalu lintas - RUTRK - Trayek transportasi umum belum diatur - Perda tentang becak - Kemacetan - Keselamatan - Kecelakaan - Polusi Belum ada kebijakan antar wilayah Pusat Kota/pusat keramaian
6 Asessibilitas Dituntut semua kebijakan tata ruang Kemudahan & kenyamanan fasilitas umum untuk meningkatkan pelayanan
Niat baik setiap
daerah Ke semua ruang kota - - Keselamatan Kecepatan
7 Industri Rumah Tangga Kebijakan terhadap lingkungan blm jelas Pencemaran
lingkungan Ekonomi kota dan regional Pada kampung-kampung tertentu - - Lapangan kerja Ruang pemasaran - Potensi PAD
IDENTIFIKASI ISU UNTUK MEMPEROLEH ISU PRIORITAS DARI BIDANG KEMISKINAN DIMENSI KEMISKINAN
ISU - ISU
STRUKTURAL KULTURAL EKONOMI
DAMPAK TERHADAP KOTA ISU PRIORITAS Pesatnya pertumbuhan PKL • Kebijakan tata kota tidak jelas termasuk implementasi Perda • Sosialisasi Perda kurang • Belum berfungsinya lembaga secara optimal. • Minimnya akses modal pada lembaga keuangan (perbankan) • Karena PHK. • Faktor lingkungan. • Berportensi dalam pengembangan usaha mandiri. • Solo kota yang
tidak pernah tidur • Menjadi kota urban/banyak hiterland. • Kesempatan lapangan kerja kurang, • Tuntutan kebutuhan hidup • Akibat krisis ekonomi • Mengurangi pengangguran (+)* • Peningkatan PAD (+) • Terganggunya kebersihan kota (termasuk sampah) (-)** • Kemacetan lalulintas (-) • Ketidak teraturan tempat berusaha (-) • Terganggunya Kamtibmas (-) • Terganggunya fasilitas publik.(-) • Kurang berfungsinya pasar tradisi (-) • Kecemburuan social (pedagang) (-)
• Ketatnya kompetisi perniagaan (-) • Kenyamanan pemilik rumah yang ditempati PKL terganggu (-) • Punya potensi sbg pendukung pariwisata (+) Anak Jalanan 1. Pengamen 2. Pengemis 3. Pekerja Seks Komersial
Perda ada, tetapi kurang memadai untuk operasional lapangan
Jaminan sosial dari pemerintah salah sasaran dan kurang merata
Belum ada atau belum optimalnya lembaga sosial yang menangani Faktor keluarga dan lingkungan Tidak tersalurkannya skills yang ada
Mobilitas serkuler Malas bekerja Pengaruh lingkungan Pengaruh lingkungan Kesempatan kerja tidak ada/punya Tuntutan ekonomi Pengangguran Ketidak mampuan bekerja Tuntutan Mengurangi pengangguran (+) Mengganggu ketertiban dan kenyamanan (-) Terganggunya Kamtibmas (-) Bertambahnya beban kota, terutama di siang hari (-) Kumuhnya lingkungan kota (-) Penyebaran
4. Pedagang Asongan Mobilitas serkuler Budaya komsumtif Minimnya ketrampilan SDM Pengaruh lingkungan Mengembangkan potensi usaha Persaingan usaha pelayanan ekonomi keluarga Kesempatan
kerja tidak ada
Kesempatan kerja sudah berkurang PSM(penyakit seks menular) (-) Terganggunya estetika kota (-) Terganggunya Kamtibmas (-) Mengurangi pengangguran (+) Mempermudah konsumen mendapatkan barang (+) Mengganggu kenyamanan (-) Kecemburuan pedagang mapan (-) Becak (keberadaannya diperlukan di kota Solo) Perda transportasi kota diperjelas Perda pengaturan operasional becak belum jelas implementasinya berkenaan dengan -pembiayaan SIM dan STNK becak -belum terbentuknya forum paguyuban yang aspiratif Sebagai alat transportasi tradisional becak masih cukup disenangi Lemahnya SDM Pendapatan menurun , akibat persaingan dengan angkot lain Sulit mengakses kebutuhan dasar (kesehatan, perumahan, pendidikan) Konflik, karena persaingan alat transportasi (-) Tidak menimbulkan polusi Menambah lapangan pekerjaan.(+) Berpotensi sebagai asset wisata kota (+)
Ojek
-operasional kerja -trayek
Legalisasi ruang-ruang parkir untuk becak.
Belum ada perda perlindungan terhadap ojek Belum ada paguyuban ojek yang aspiratif Alat transportasi yang luwes dan terjangkau. Sebagai kerja sampingan. Minimnya penghasilan karena persaingan dengan sarana transportasi lain. Pasar tradisional yang termarginalkan Perda dan implementasinya tak jelas Transparansi alur retribusi tidak jelas Kurangnya perhatian pemerintah terhadap kehidupan pasar tradisional Adanya persaingan antar instansi (Pasar dan PKL) Tidak ada niatan
Pemda untuk menertibkan pasar Minimnya akses ke lembaga-lembaga keuangan Berkurangnya pembeli Kompetisi antar pelaku pasar Berubahnya
tradisis yang ada dalam masyarakat Ada budaya untuk membeli diluar pasar Ada perilaku untuk menangkap pembeli lebih mudah Komersialisasi lahan jualan Peralihan budaya tradisional ke Penghasilan pedagang menurun Kesejahteraan pedagang menurun. Peningkatan PAD (+) Kekumuhan di pasar-pasar tradisional (-) Keruwetan lalu-lintas di wilayah sekitar pasar (-)
modern
Budaya memakai jasa bank plecit Pengangguran
Pencari
kerja sektor formal Terbatasnya sector- Ada kelemahan terhadap perlindungan calon tenaga kerja SDM rendah Mobilitas tenaga kerja pada tingkat usia produktif rendah Ada keengganan untuk bekerja di luar daerah (terutama wanita) Akses terhadap kebutuhan dasar rendah Penjelasan :
* (+) : Dampak positif terhadap kota ** (-) : Dampak negatif terhadap kota
MATRIK PENJABARAN ISSU KONFLIK SOSIAL DAN KAMTIBMAS Analisis
N
o Masalah Perilaku Ekstern
al Internal Tujuan Penanga nan Strategi Penanga nan Capaia
n I Evaluasi Capaian II Pendukung/ Pelaksana 1 Molimo Madat narkoba Judi Minum Pelacuran Kriminalita Hukuman ringan Perda tidak ada Metode penanganan Moral Kemiskinan Pemenuhan kebutuhan ekonomi Merubah Perilaku Peraturan Penegasan peraturan Preemtif Preventif Ekstensif Perubah an Perilaku Tergantu ng Kondisi Perubah an Perilaku Eksekutif Legislatif Yudikatif Masyarakat -stakeholder
s Mafia Kultur masyarakat Kuratif Hukuman 2 Politik - Adu domba - Azas Pemanfaa tan - Premanis me - Pemerasa n Politik Tidak adanya aturan yang tegas 1. Moral 2. Etika 3. Pemenuh an kebutuh an ekonomi Merubah
Perilaku Peraturan Preventif Preventif Extensif Kuratif Hukuman Pendidika n Politik Perubah an Perilaku Tergantu ng Kondisi Perubah an Perilaku 1.Eksekutif 2.Legislatif 3.Yudikatif 4.Masyarak at-stakeholder 3 Pornograf i Tayangan / Artikel porno Belum adanya Perda yang mengatur tentang tata cara penayanga n / pemuatan artikel prono Moral Etika Pemenuha n kebutuhan ekonomi Merubah
Perilaku Peraturan Penegasan Peraturan Preemtif Preventif Ekstensif Kuratif Hukuman Perubah an Perilaku Tergantu ng Kondisi Perubah an Perilaku 1.Eksekutif 2.Legislatif 3.Yudikatif 4.Masyarak at-stakeholder 4 Lalin, PKL, Perparkir an Semrawut,
macet 1. Perda yang mengatur tidak tegas 2. Metode penangan an rancu antar instansi / Moral Etika Pemenuha n kebutuhan ekonomi Merubah
perilaku Peraturan Penegasan Peraturan Preemtif Preventif Ekstensif Kuratif Hukuman Merubah
perilaku Kondisional Perubahan perilaku 1.Eksekutif 2.Legislatif 3.Yudikatif 4.Masyarak at-stakeholder
dinas Suburnya mafianisme premanism e Kesadaran masyarakat kurang 4 Kelompok Kepenting an Kelompok -kelompok berbasis Politik dan Agama Eskalasi Politik Lokal,region al & Nasional , Politisasi Agama Persaingan
identitas Antisipasi disintegra si bangsa. Temu tokoh Preemtif Preventif Represif Kuratif Perubah an perilaku Kondisio nal Perubahan perilaku Tokoh Politik Tokoh Agama TOMAS Legislatif Eksekutif Yudikatif Masyarakat. 5 Lingkung
an Penyerobotan tanah Perda yang mengatur tidak tegas Methode penanganan rancu antar instansi / dinas Suburnya mafianisme premanism e 1. Moral 2. Etika 3. Pemenuhan kebutuhan ekonomi Merubah
perilaku Peraturan Penegasan Peraturan Preemtif Preventif Ekstensif Kuratif Hukuman Merubah
perilaku Kondisional Perubahan perilaku 1.Eksekutif 2.Legislatif 3.Yudikatif 4.Masyarak at-stakeholder
Kesadaran masyarakat kurang ISSU STRATEGIS
¾ Issu Strategis Tata Ruang
- Ketiadaan pemerataan dan keadilan dalam tata ruang
- Ketidakpercayaan masyarakat terhadap kebijakan tata ruang - Tuntutan transparansi terhadap kebijakan tata ruang
- Tata ruang tidak akomodatif ¾ Issu Strategis Kemiskinan
- Kemiskinan terjadi akibat proses marjinalisasi terhadap kaum lemah
- Terbatasnya ruang keterlibatan publik dan masyarakat bawah dalam pengambilan keputusan yang menyangkut hak untuk mendapatkan kehidupan yang layak.
¾ Issu Strategis Konflik Sosial & Kamtibmas
Rentannya masyarakat Surakarta terhadap Konflik Sosial yang ditandai dengan :
-
Kurang lancarnya komunikasi sosial, baik antar kelompok sosial masyarakat maupun antara masyarakat dengan pemerintah.-
Ketegangan antar kelompok sosial.-
Lemahnya penegakan hukumKONSEP & TUJUAN DALAM PENANGANAN ISSU KOTA
1. Konsep & Tujuan Penanganan Issu Tata Ruang
- Memperhatikan historis kota
- Mengintegrasikan perkembangan karakter fisik dan ekonomi sosial - Memperhitungkan konteks kewilayahan
- Berorientasi pada pembangunan kota yang berkelanjutan
2. Konsep & Tujuan Penanganan Issu Kemiskinan
Konsep kehidupan yang layak :
- Terdapat kerjasama antara pemerintah dan masyarakat. - Pendapatan yang cukup dalam standart hidup di kota. - Kesetaraan dalam hal pelayanan publik.
- Kesempatan dalam berusaha untuk meningkatkan taraf hidup Tujuan :
- Terwujudnya Perda yg aspiratif - Peningkatan SDM
- Terwujudnya kerjasama (networker) - Tumbuhnya ketaatan hukum
- Terciptanya lingkungan kota yg aman, nyaman, sehat. 3. Konsep & Tujuan Penanganan Issu Konflik
Konsep penanganan konflik sosial dan kamtibmas mengacu pada prinsip-prinsip kehidupan bermasyarakat yang harmonis, yaitu :
- kenyamanan
- ketersediaan ruang publik
- ketersediaan ruang untuk pengembangan jatidiri - Media untuk social catarsis
VISI ISSU
Visi Manajemen Tataruang
- Terciptanya tata ruang yang adil, sehat, nyaman, aman, berkarakter budaya dan berkelanjutan.
- Terciptanya tataruang yg mampu memberikan akses lahan, rumah dan pekarangan dasar yg terjangkau bagi permukiman penduduk gol ekonomi lemah, shg tercipta lingk yg aman, tertib, sehat dan produktif
- Terciptanya tataruang yg mampu mengakomodasikan kegiatan home industri, meminimalkan dampak lingk yg timbul shg tercipta lingk yg nyaman, aman, sehat, efisien, dan produktif.
- Terciptanya tataruang yg mampu melayani kebutuhan ruang parkir shg tercipta transportasi /lalulintas yg lancar, aman, tertib, nyaman dan sehat shg mampu mendukungfungsi & struktur ruang yg efisien, berkarakter dan berkelanjutan
- Terciptanya tataruang yg mampu memberi kemudahan bergerak dan berpindah tempat bagi kaum difabel secara aman, nyaman, sehat dan efisien.
VISI PENANGGULANGAN KEMISKINAN
Keberdayaan masyarakat dalam proses pengambilan kebijakan publik VISI PENANGANAN KONFLIK SOSIAL DAN KAMTIBMAS :
Terwujudnya hubungan yang harmonis antar warga dan antar SARA STRATEGI PENANGANAN ISSU
Strategi Penanganan Tataruang
- Kebijakan permukiman bagi golongan ekonomi lemah yg menjamin akses pada pemanfaatan/kepemilikan lahan dan rumah
- Advokasi kebijakan
- Mengintegrasikan kebijakan parkir dengan perencanaan transportasi dan land use
Strategi penanganan kemiskinan - Sosialisasi Kebijakan
- Perencanaan Partisipatif
- Monitoring & Evaluasi Kebijakan Strategi penanganan Konflik sosial
- Membentuk tim untuk mengevaluasi kerentanan masy. Surakarta thd konflik - Menyusun konsep tatanan relasi antar warga
- Menyusun draft reformasi kebijakan yg berperspektif resolusi konflik
- Pembangunan keimanan dan ketaqwaan
- Pembangunan ekonomi dan kesejahteraan social
VISI KOTA
Dari hasil SWOT analisis, maka antara lain dapat ditentukan bahwa visi yang tepat bagi Kota Surakarta adalah “Sala Kota
Budaya”, yaitu kota yang pengembangannya berwawasan budaya dalam arti luas, dengan masyarakat yang menjunjung
tinggi nilai-nilai luhur, mandiri, berkepribadian, demokratis, rasional, berkeadilan sosial, menjamin Hak Asasi Manusia serta menegakkan supremasi hukum yang disertai dengan kualitas pelayanan dan kesejahteraan masyarakat dalam tatanan masyarakat yang berke-Tuhan-an Yang Maha Esa.
Sebagai tujuan utama, maka visi dapat dicapai melalui sasaran-sasaran yang ada, antara lain Solo sebagai Kota Budaya, Sumberdaya manusia yang berkualitas, Perdagangan dan Industri Jasa termasuk Pariwisata di dalamnya.
MISI
Untuk mewujudkan Visi Kota Surakarta di masa depan, ditetapkan misi sebagai berikut :
a. Mengembangkan kota Surakarta sebagai kota budaya yang bertumpu pada perdagangan dan jasa, pendidikan, budaya dan pariwisata
b. Meningkatkan kualitas sumberdaya manusia yang memiliki kemampuan dalam penguasaan dan pendayagunaan ilmu pengetahuan serta teknologi, guna mewujudkan inovasi dan integritas masyarakat berlandaskan ke Tuhanan Yang Maha Esa
c. Menjadikan seluruh kekuatan ekonomi daerah sebagai pemacu tumbuh dan berkembangnya ekonomi rakyat yang
berdaya saing dengan mendayagunakan potensi budaya local dan teknologi terapan yang akrab lingkungan
d. Menjadikan hukum, supremasi hukum, pelksanaan hak asasi manusia dan demokrasi sebagai budaya masyarakat
termasuk para penyelenggara pemerintahan kota
e. Revitalisasi kemitraan dan partisipasi seluruh komponen stakeholder dalam semua bidang pembangunan, merekatkan kohesi sosial budaya dengan komitmen cinta kota yang berlandaskan pada nilai-nilai Sala Kota Budaya
MASALAH
KONFLIK SOSIAL
DAN KAMTIBMAS
1. Sering teradi kerusuhan 2. Banyak terjadi keributan 3. Banyak fasilitas umum
yang hancur
4. Banyaknya aksi protes dalam bentuk demonstrasi 5. Rendahnya kepercayaan
antar warga kota
KONSEP DAN TUJUAN DALAM
KEHIDUPAN BERMASYARAKAT :
- kenyamanan
- ketersediaan ruang publik
- ketersediaan ruang untuk pengembangan jatidiri
- Media untuk social catarsis
ISSUES STRATEGIS :
Rentannya masyarakat Surakarta terhadap Konflik Sosial yang ditandai dengan :
-
Kurang lancarnya komunikasisosial, baik antar kelompok sosial masyarakat maupun antara masyarakat dengan pemerintah.
-
Ketegangan antar kelompok sosial.-
Lemahnya penegakan hukumVISI PENANGANAN KONFLIK SOSIAL DAN KAMTIBMAS :
Terwujudnya hubungan yang harmonis antar warga dan antar
SARA
STRATEGI PENANGANAN ISSU
- Membentuk tim untuk mengevaluasi kerentanan masy. Surakarta thd konflik
- Menyusun konsep tatanan relasi antar warga
- Menyusun draft reformasi kebijakan yg berperspektif resolusi konflik
- Pembangunan keimanan dan ketaqwaan
- Pembangunan ekonomi dan kesejahteraan sosial
ALUR PIKIR PROSES PENYUSUNAN STRATEGI PENANGANAN ISSU
EKSPRESI MASALAH KONFLIK DAN KAMTIBMAS
- Jenis Konflik.
- Besaran pemicu konflik. - Detailing.
- Analisis faktor yang mempengaruhi (Faktor Eksternal & Faktor Internal)
MASALAH TATA
RUANG DAN LINGKUNGAN :
- Belum familier bagi masyarakat.
- Belum pernah ada evaluasi.
- Dalam proses masih bersifat Top Down.
- Belum ada penjabaran secara lokal.
-
Tidak memperhatikan publik domain.KONSEP TATA RUANG DAN LINGKUNGAN :
- Memperhatikan historis kota.
- Mengintegrasikan Perkembangan karakter fisik dan ekonomi soial.
- Memperhitungkan konteks kewilayahan. - Berorientasi pada Pembangunan Kota
yang berkelanjutan.
EKSPRESI MASALAH TATA RUANG DAN LINGKUNGAN :
- Issu
- Fakta da kecenderungan - Akar penyebab
- Ancaman yang ditimbulkan - Pengalaman yang berguna - Peluang yang dapat
dimanfaatkan
ISSUES STRATEGIS : 1. Ketiadaan pemerataan dan
keadilan dalam tata ruang.
2.
Ketidakpercayaan masyarakatterhadap kebijakan tata ruang.
3.
Tuntuan transparansiterhadap kjebijakan tata ruang
4.
Tata ruang tidak akomodatif.-
Marjinalisasi masyarakatekonomi lemah dari akses lahan, rumah dan pelayanan dasar yg terjangkau
-
Belum terintegrasinya parkirdengan landuse dan transportasi
-
Belum terakomodasinya kaumdifabel dalam kebijakan tataruang
VISI MANAJEMEN TATARUANG dan LINGKUNGAN
Terciptanya tataruang yang adil, sehat, nyaman, aman, berkarakter budaya dan berkelanjutan - Terciptanya tataruang yg mampu memberikan
akses lahan, rumah dan pekarangan dasar yg terjangkau bagi permukiman penduduk gol ekonomi lemah, shg tercipta lingk yg aman, tertib, sehat dan produktif
-
Terciptanya tataruang yg mampumengakomodasikan kegiatan home industri, meminimalkan dampak lingk yg timbul shg tercipta lingk yg nyaman, aman, sehat, efisien, dan produktif.
-
Terciptanya tataruang yg mampu melayani kebutuhan ruang parkir shg tercipta transportasi /lalulintas yg lancar, aman, tertib, nyaman dan sehat shg mampu mendukungfungsi & struktur ruang yg efisien, berkarakter dan berkelanjutan-
Terciptanya tataruang yg mampu memberikemudahan bergerak dan berpindah tempat bagi kaum difabel secara aman, nyaman, sehat dan efisien.
STRATEGI
PENANGANAN ISSU
- Kebijakan permukiman bagi golongan ekonomi lemah yg menjamin akses pada
pemanfaatan/kepemilikan lahan dan rumah
- Advokasi kebijakan
- Mengintegrasikan kebijakan parkir dengan perencanaan transportasi dan land use
- Penyusunan peraturan kebijakan yang menyangkut pengelolaan, pengaturan dan penertiban parkir.
MASALAH KEMISKINAN, PENGANGGURAN DAN SEKTOR INFORMAL :
-
SDM rendah.-
Arus urbanisasi pesat.-
Tidak tersedianya lapangan kerja di desa.-
Sindikat jaringan perdagangan.-
Pemahaman Otda yang salah.-
Kapitalism.-
Krisis / PHK.-
Kesempatan kerja yang kurang.KONSEP DAN TUJUAN DALAM PENANGANAN KEMISKINAN
Konsep kehidupan yang layak :
- Terdapat kerjasama antara pemerintah dan masyarakat.
- Pendapatan yang cukup dalam standart hidup di kota.
- Kesetaraan dalam hal pelayanan publik.
- Kesempatan dalam berusaha untuk meningkatkan taraf hidup Tujuan :
-
Terwujudnya Perda yg aspiratif- Peningkatan SDM
-
Terwujudnya kerjasama (networker)- Tumbuhnya ketaatan hukum
-
Terciptanya lingkungan kota yg aman, nyaman, sehat.EKSPRESI MASALAH KEMISKINAN,
PENGANGGURAN DAN SEKTOR INFORMAL
- Ketiadaan ruang gerak bagi tukang becak, pedagang asongan, dan pedagang kaku lima untuk memenuhi hak nya dalam pemenuhan kebutuhan yang layak.
- Karena ketiadaan ruang gerak tersebut, maka sangat kecil bagi mereka untuk mendapatkan akses sosial, ekonomi, maupun politik untukj meningkatkan taraf kehidupan mereka.
( lihat tabel analisis issu dasar kemiskinan)
ISSUES STRATEGIS :
-
Kemiskinan terjadi akibatproses marginalisasi terhadap kaum lemah.
-
Terbatasnya ruangketerlibatan publik dan masyarakat bawah dalam pengambilan keputusan yang menyangkut hak untuk mendapatkan kehidupan yang layak.
VISI PENANGGULANGAN KEMISKINAN
Keberdayaan masyarakat dalam proses pengambilan kebijakan publik
STRATEGI
PENANGANAN ISSU
- Sosialisasi Kebijakan - Perencanaan Partisipatif - Monitoring & Evaluasi Kebijakan