• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LAPORAN SKRIPSI"

Copied!
231
0
0

Teks penuh

(1)

PERHITUNGAN SUMBERDAYA BIJIH BESI

DENGAN BLOCK MODEL REGULAR DAN BLOCK MODEL NON REGULAR

MENGGUNAKAN ESTIMASI INVERSE DISTANCE WEIGHTING

PT KOTABESI IRON MINING KECAMATAN TELAWANG

KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

SKRIPSI

Untuk Memenuhi Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Teknik

Pada Program Studi Teknik Pertambangan

Oleh:

FANTRY ABDI ANDREANO

NIM. H1C108066

PROGRAM STUDI PERTAMBANGAN

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

BANJARBARU

(2)

ii

SKRIPSI

PERHITUNGAN SUMBERDAYA BIJIH BESI

DENGAN BLOCK MODEL REGULAR DAN BLOCK MODEL NON REGULAR

MENGGUNAKAN ESTIMASI INVERSE DISTANCE WEIGHTING

PT KOTABESI IRON MINING KECAMATAN TELAWANG

KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

Oleh:

Fantry Abdi Andreano

NIM. H1C108066

Telah dipertahankan didepan Dewan Penguji pada Hari Rabu tanggal 10 Mei

2014 dan dinyatakan Lulus

Pembimbing I,

Susunan Dewan Penguji

1. Uyu Saismana, MT

NIP. 19731013 200312 1 001

Nurhakim, MT

2. Selvy Haryati, ST

NIP. 19730615 200003 1 002

NIP.

3. Hafidz Noor Fikri, MT

Pembimbing II,

NIP.

Riswan, MT

NIP. 19731231 200812 1 008

Banjarbaru, Mei 2014

Ketua Program Studi

Fakultas Teknik Unlam

Teknik Pertambangan,

Pembantu Dekan I

Riswan, MT

Dr. Ir. Syahril Taufik MSc Eng

(3)

iii

LEMBAR PENGESAHAN

PERHITUNGAN SUMBERDAYA BIJIH BESI

DENGAN BLOCK MODEL REGULAR DAN BLOCK MODEL NON REGULAR

MENGGUNAKAN ESTIMASI INVERSE DISTANCE WEIGHTING

PT KOTABESI IRON MINING KECAMATAN TELAWANG

KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

KALIMANTAN TENGAH

Oleh :

FANTRY ABDI ANDREANO

NIM. H1C108066

Telah dipertahankan di depan Tim Penguji Skripsi dan dinyatakan LULUS

pada tanggal : 10 Mei 2014

Tim Penguji

Nama

Tanda Tangan

1. Ketua

: Nurhakim, MT

1. _________

2. Sekretaris : Riswan, MT

2. _________

3. Anggota

: Uyu Saismana, MT

3. _________

4. Anggota

: Selvy Haryati, ST

4. _________

5. Anggota

: Hafidz Noor Fikri, MT

5. _________

Program Studi Teknik Pertambangan

Ketua,

RISWAN, MT

(4)

iv

LEMBAR PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi ini benar-benar karya saya

sendiri. Sepanjang pengetahuan saya tidak terdapat karya atau pendapat yang

ditulis atau diterbitkan orang lain kecuali sebagai acuan atau kutipan dengan

mengikuti tata penulisan karya ilmiah yang lazim.

Banjarbaru, 10 Mei 2014

Yang menyatakan,

(5)

v

HALAMAN PERSEMBAHAN

Puji Syukur kepada Yesus Kristus

Telah menjadi Sahabat, Guru dan Juru Selamat

Selalu menuntunku sejak dulu, sekarang sampai selamanya.

Kepada Pak Berman dan Bu Dare

Terima kasih telah menjadi Orang Tua yang baik, sangat baik

Dengan sabar menanti kelulusanku, selama 6 Tahun

Begitu pula Saudaraku Ari Bayu Suryadinata

Maaf karena masa SMP – SMAmu tidak sebaik temanmu yang lain

Karena sebagian hakmu kurenggut untuk biaya kuliah selama ini

Bagiku, Ayah adalah motivator, Ibu adalah cambuk, Adik adalah penguatku.

Khusus untuk Filla dan Yosep

Terima kasih kalian menjadi teman yang setia dalam menjalani usaha

Meski sering merugi kalian tetap bertahan, semoga usaha kita terus berlanjut.

Terima kasih untuk Jossi, Jonedi, Bahrurrusyidi, Ijay_AZ, Bernadez Audric, Rudi

Frianto, Hana Muslimah, Mitha Afryana, Mas Lukman. Kalian orang dekat bagiku,

selalu mau mendengar panjangnya ceritaku.

Terima kasih kepada Ka Hafidz dan Dimas Aditya, telah membantu banyak

dalam menyelesaikan laporan TA ini. Begitu pula Pak Nurhakim, Pak Riswan,

Pak Untung, Bu Anisa, Pak Uyu, Pak Adip, Pak Romla, Bu Selvy, Pak Agus, Ka

Sarmel, Ka Sigit, Ka Mukhlis dan semua yang membantu saya dalam kuliah.

Terima kasih kepada Pak Jacky Wang dan Pak Nono yang menanamkan rasa

percaya diri untukku masuk ke dalam dunia kerja.

Serta semua kawan-kawan angkatan semasa Kuliah dan SMA. Terima kasih

kawan, meski tidak kusebutkan satu per satu percayalah bahwa kaliah mendapat

posisi terhormat dalam setiap catatan hidupku sampai masa yang akan datang.

(6)

vi

ABSTRAK

Fantry Abdi A. : Perhitungan Sumberdaya Bijih Besi dengan Block Model

Regular dan Block Model Non Regular Menggunakan Estimasi

Inverse Distance Weighting

PT Kotabesi Iron Mining

Kecamatan Telawang, Kabupaten Kotawaringin Timur,

Kalimantan Tengah.

Blok II pada PT Kotabesi Iron Mining memiliki luas area sebesar 699.3

hektar yang sebelumnya telah dilakukan kegiatan eksplorasi lanjutan, yaitu

pemboran inti batuan. Sebagai rumusan dalam menghitung sumberdaya pada

blok ini, perusahaan menggunakan metode perhitungan “luas area × tebal

rata-rata”, yaitu luas area pada Blok II dan tebal rata-rata dari hasil pemboran. Hal ini

menjadi latar belakang penulis untuk membuat perhitungan sumberdaya dengan

metode lain sebagai pembanding perhitungan sebelumnya. Penelitian ini yaitu

melakukan perhitungan sumberdaya dengan model menggunakan metode Block

Regular berukuran 100×100 meter. Dilakukan juga permodelan Block Non

Regular dengan membuat variasi ukuran blok 100×100 meter, 100×50 meter dan

100×25 meter. Kemudian masing-masing diestimasi dengan metode IDS dan

IDC. Hasil perhitungan sumberdaya pada lapisan gravel berkisar 1,957,920 ton

sampai 1,988,640 ton dengan 52% kadar Fe, sedangkan pada lapisan boulder

berkisar dari 14,365,800 ton sampai 14,388,480 ton dengan 42% kadar Fe.

Berdasarkan hasil penelitian diketahui nilai estimasi masih mendekati data

aktualnya. Namun pada beberapa titik terlihat selisih cukup signifikan yang

memperlihatkan nilai estimasi lebih tinggi dari data aktualnya. Hal ini akan

mempengaruhi jumlah sumberdaya bijih besi yang dihitung. Terlihat dari deviasi

antara Block Regular dengan Block Non Regular yang menunjukan deviasi pada

Lapisan Gravel lebih besar dibandingkan pada Lapisan Boulder. Namun nilai

deviasi masih cukup kecil, sehingga permodelan dengan Block Model yang

diestimasi dengan metode IDS dan IDC masih cukup baik untuk digunakan pada

penelitian ini.

Kata Kunci : sumberdaya bijih besi, block begular, block non regular,

(7)

vii

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur dipanjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas Berkat

Kasih dan Karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan Tugas

Akhir ini untuk memenuhi tugas yang telah diberikan.

Penyusunan Laporan Tugas Akhir ini tidak dapat tersusun dengan baik

apabila tidak didukung dan dibantu oleh banyak pihak yang telah memberikan

dorongan, bimbingan dan arahannya. Oleh karena itu, penulis mengucapkan

terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Bapak Dr. Ing. Yulian Firmana Arifin, MT selaku Dekan Fakultas Teknik

Universitas Lambung Mangkurat

2. Bapak Riswan, MT selaku Ketua Program Studi S1 Teknik Pertambangan

Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat dan Dosen Pembimbing

Laporan Tugas Akhir.

3. Bapak Nurhakim, MT selaku Dosen Pembimbing Laporan Tugas Akhir

dan Pembantu Dekan III Fakultas Teknik Universitas Lambung

Mangkurat.

4. Bapak Ir. Dindin Hasanudin, selaku Kepala Teknik Tambang PT Kotabesi

Iron Mining.

5. Semua pihak yang telah membantu hingga selesainya kegiatan Tugas

Akhir Mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat 2013/2014.

Penulis menyadari akan ketidaksempurnaan Laporan Tugas Akhir yang

telah disusun ini. Hal ini dikarenakan oleh keterbatasan waktu, kemampuan,

pengetahuan, pengalaman. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat

membangun dari semua pihak sangat diharapkan.

Akhir kata, penulis mengharapkan agar Laporan Tugas Akhir Mahasiswa

Universitas Lambung Mangkurat 2014 ini bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Banjarbaru, Januari 2014

(8)

viii

DAFTAR ISI

Halaman

COVER...

i

SKRIPSI ...

ii

LEMBAR PENGESAHAN ...

iii

LEMBAR PERNYATAAN...

iv

HALAMAN PERSEMBAHAN ...

v

ABSTRAK...

vi

KATA PENGANTAR ...

vii

DAFTAR ISI...

viii

DAFTAR GAMBAR...

xi

DAFTAR TABEL...

xii

BAB I. PENDAHULUAN ...

1-1

1.1. Latar Belakang ...

1-1

1.2. Rumusan Masalah...

1-2

1.3. Batasan Masalah...

1-2

1.4. Tujuan Penelitian...

1-2

1.5. Manfaat Penelitian...

1-2

BAB II. TINJAUAN UMUM...

2-1

2.1. Lokasi dan Kesampaian Daerah...

2-1

2.2. Sejarah dan Struktur Organisasi...

2-3

2.2.1. Sejarah PT Kotabesi Iron Mining ...

2-3

2.2.2. Struktur Organisasi PT Kotabesi Iron Mining...

2-3

2.3. Iklim dan Cuaca...

2-4

2.4. Keadaan Geologi...

2-4

2.4.1. Geologi Regional...

2-4

2.4.2. Geologi Lokal ...

2-8

2.5. Sistem Penambangan dan Peralatan yang Digunakan... 2-11

BAB III. KAJIAN PUSTAKA ...

3-1

3.1. Sumberdaya dan Cadangan...

3-1

3.2. Endapan Bijih Besi ...

3-3

(9)

ix

3.3. Bauksit ...

3-5

3.4. Penaksiran Cadangan ...

3-6

3.5. Model Blok Teratur (Regular Block Model) ...

3-7

3.6. Estimasi dengan Inverse Distance Weighted (IDW)...

3-8

BAB IV. METODOLOGI PENELITIAN ...

4-1

4.1. Diagram Alir Penelitian ...

4-1

4.2. Teknik Pengumpulan Data ...

4-2

4.3. Teknik Analisa Data...

4-2

BAB V. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ...

5-1

5.1. Data Penelitian ...

5-1

5.1.1. Data Penelitian...

5-2

5.1.2. Statistik Data...

5-2

5.2. Permodelan dan Perhitungan ...

5-2

5.2.1. Penentuan Block Model ...

5-2

5.2.2. Estimasi Inverse Distance Weighting (IDW) ...

5-3

5.2.3. Cross Validation Data Aktual Kadar dengan Hasil Estimasi ...

5-3

5.2.4. Hasil Perhitungan Sumberdaya ...

5-5

5.2.5. Deviasi Sumberdaya pada Block Regular terhadap Block Non Regular5-6

5.3. Pembahasan ...

5-6

BAB VI. PENUTUP...

6-1

6.1. Kesimpulan...

6-1

6.2. Saran...

6-1

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN A. HASIL PENGAMATAN AKTUAL

LAMPIRAN B. DATA BOR

LAMPIRAN C. STATISTIK DATA

LAMPIRAN D. PLOTTING PETA

LAMPIRAN E. BLOCK MODEL REGULAR

LAMPIRAN F. BLOCK MODEL NON REGULAR

LAMPIRAN G. DATA HASIL PERMODELAN

LAMPIRAN H. ESTIMASI TEBAL MENGGUNAKAN ESTIMASI IDS

LAMPIRAN I. ESTIMASI KADAR MENGGUNAKAN ESTIMASI IDS

LAMPIRAN J. ESTIMASI TEBAL MENGGUNAKAN ESTIMASI IDC

LAMPIRAN K. ESTIMASI KADAR MENGGUNAKAN ESTIMASI IDC

(10)

x

LAMPIRAN L. PERBANDINGAN TEBAL DAN KADAR AKTUAL DENGAN HASIL

ESTIMASI

(11)

xi

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 2.1 Peta Kesampaian Daerah ...

2-2

Gambar 2.2 Struktur Organisasi PT Kotabesi Iron Mining...

2-4

Gambar 2.3 Peta Geologi Regional PT Kotabesi Iron Mining...

2-5

Gambar 2.4 Korelasi Satuan Peta Geologi ...

2-6

Gambar 2.5 Penampang A-A’...

2-7

Gambar 2.6 Keadaan Morfologi WIUP PT Kotabesi Iron Mining ...

2-8

Gambar 2.7 Keadaan Morfologi WIUP PT Kotabesi Iron Mining ...

2-9

Gambar 3.1 Model Endapan Blok...

3-7

Gambar 3.2 Metode Pembobotan dengan Jarak Terbalik...

3-7

Gambar 5.1 Grafik Cross Validation terhadap Estimasi IDS ...

5-4

Gambar 5.2 Grafik Cross Validation terhadap Estimasi IDC ...

5-5

(12)

xii

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 2.1 Koordinat Ijin Usaha Pertambangan PT Kotabesi Iron Mining...

2-1

Tabel 2.2 Kolom Litologi pada PT Kotabesi Iron Mining... 2-10

Tabel 3.1 Klasifikasi Sumberdaya Mineral dan Cadangan ...

3-2

Tabel 3.2 Mineral-mineral Bijih Bernilai Ekonomis ...

3-5

Tabel 5.1 Statistik Data dengan Parameter Tebal dan Kadar ...

5-2

Tabel 5.2 Hasil Estimasi Inverse Distance Square (IDS) ...

5-3

Tabel 5.3 Hasil Estimasi Inverse Distance Cubic (IDC)...

5-3

Tabel 5.4 Hasil Perhitungan Sumberdaya Berdasarkan Estimasi IDS ...

5-5

Tabel 5.5 Hasil Perhitungan Sumberdaya Berdasarkan Estimasi IDC ...

5-6

Tabel 5.6 Deviasi Sumberdaya pada BR terhadap BNR...

5-8

(13)

1-1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Perhitungan sumberdaya berperan penting dalam mengurangi resiko

dalam penentuan jumlah dan memberi kemudahan dalam eksploitasi secara

komersial dari suatu endapan. Perhitungan sumberdaya yang baik dapat

membantu menentukan investasi yang akan ditanam investor, penentuan

sasaran produksi, cara penambangan yang akan dilakukan bahkan dalam

memperkirakan waktu yang dibutuhkan oleh perusahaan dalam melaksanakan

usaha penambangannya.

Dalam penaksiran kadar dan perhitungan sumberdaya telah

dikembangkan berbagai metode. Secara garis besar, metode penaksiran kadar

dan perhitungan sumberdaya dapat dikelompokkan menjadi metode klasik

(konvensional) dan metode yang lebih modern berbasis geostatistika.

Kegiatan penambangan pada Blok I PT KIM hampir selesai ditambang,

sehingga perlu direncanakan kegiatan penambangan pada lokasi yang baru. Hal

ini menjadi latar belakang penulis untuk melakukan perhitungan sumberdaya bijih

besi di Blok II PT Kotabesi Iron Mining, Kecamatan Telawang, Kabupaten

Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah.

Permodelan dan perhitungan sumberdaya bijih besi pada area penelitian,

yaitu Blok II menggunakan Metode Blok Regular dan Blok Non Regular untuk

permodelan, Metode Estimasi yang digunakan adalah Metode Estimasi Inverse

Distance Square dan Inverse Distance Cubic untuk tebal dan kadar Fe bijih besi.

1.2. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penentuan perhitungan sumberdaya bijih besi

sebagai judul skripsi adalah sebagai berikut:

1) Endapan bijih besi di Blok II terdiri dari dua lapisan dengan karakteristik yang

berbeda.

(14)

1-2

2) Perhitungan sumberdaya yang dilakukan perusahaan sangat konvensional.

yaitu dengan mengalikan luas area pengamatan dengan ketebalan rata-rata

bijih besi. Sehingga perlu dilakukan permodelan dan perhitungan

sumberdaya yang lebih modern agar didapatkan hasil yang lebih akurat.

1.3. Batasan Masalah

Batasan masalah penelitian ini adalah:

1) Perhitungan sumberdaya dilakukan di Blok II pada batas IUP PT Kotabesi

Iron Mining.

2) Berat jenis rata-rata yang digunakan adalah 4.8 ton/m

3

, berdasarkan

informasi yang diberikan oleh pihak perusahaan.

3) Lapisan terbagi menjadi 2 bagian, yaitu lapisan 1 (gravel) dan lapisan 2

(boulder).

4) Menghitung sumberdaya menggunakan model blok regular dan blok non

regular dengan metode estimasi IDS dan IDC.

1.4. Tujuan Penelitian

Tujuan dilakukannya perhitungan sumberdaya bijih besi di lokasi ini

adalah sebagai berikut:

1) Mengetahui karakteristik bijih besi yang terdapat di Blok II.

2) Menghitung statistik data titik bor blok II untuk menentukan nilai minimum,

maksimum, rata-rata dan standar deviasi dari tebal dan kadar setiap lapisan.

3) Memodelkan endapan bijih besi di Blok II.

4) Mengestimasi tebal dan kadar lapisan bijih besi di Blok II.

5) Menentukan jumlah sumberdaya di Blok II.

1.5. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi gambaran dan bahan

pertimbangan perhitungan sumberdaya di PT Kotabesi Iron Mining. Serta dapat

menjadi literatur yang bermanfaat bagi pembaca, baik itu untuk Mahasiswa

maupun sebagai referensi umum.

(15)

2-1

BAB II

TINJAUAN UMUM

2.1. Lokasi dan Kesampaian Daerah

Wilayah IUP PT Kotabesi Iron Mining secara administratif terletak di Desa

Kenyala Kecamatan Kotabesi Kabupaten Kotawaringin Timur Provinsi

Kalimantan Tengah. Secara geografis wilayah ini dibatasi oleh 02

0

18’07,0”LS

sampai dengan 02

0

21’10,0”LS dan 112

0

36’30,1”BT sampai dengan

112

0

38’40,1”BT, (Tabel 2.1) seluas ± 1380Ha.

Tabel 2.1

Koordinat Ijin Usaha Pertambangan PT Kotabesi Iron Mining

Titik

0

BUJUR TIMUR

LINTANG SELATAN

0

KIM1

112

37

40,1

02

18

07,0

KIM2

112

38

40,0

02

18

07,0

KIM3

112

38

40,1

02

20

10,0

KIM4

112

37

40,1

02

20

10,0

KIM5

112

37

40,1

02

21

10,0

KIM6

112

36

51,1

02

21

10,0

KIM7

112

36

51,1

02

20

31,0

KIM8

112

36

43,1

02

20

31,0

KIM9

112

36

43,1

02

19

58,0

KIM10

112

36

36,1

02

19

58,0

KIM11

112

36

36,1

02

19

19,0

KIM12

112

36

30,1

02

19

19,0

KIM13

112

36

30,1

02

19

07,0

KIM14

112

37

40,1

02

19

07,0

Sumber: PT Kotabesi Iron Mining

Untuk mencapai PT Kotabesi Iron Mining ditempuh dengan jarak sekitar

253 km dari Kota Palangkaraya (Ibukota Kalimantan Tengah), melalui jalan darat

sejauh 196 km ke Kecamatan Kotabesi, kemudian dilanjutkan dengan melalui

Sungai Sampit menggunakan speed boat menuju Desa Palangan sejauh 44 km.

Dari Desa Palangan, perjalanan dilanjutkan sejauh 13 km untuk mencapai lokasi

penelitian. Informasi lebih lanjut mengenai peta kesampain daerah penelitian

tersaji pada Gambar 2.1.

(16)
(17)

2-3

2.2. Sejarah dan Struktur Organisasi

2.2.1. Sejarah PT Kotabesi Iron Mining

PT Kotabesi Iron Mining adalah perusahaan tambang yang bergerak

dibidang pembongkaran, penggalian dan penjualan bijih besi. Sedangkan untuk

pengangkutan bijih besi itu sendiri dikerjakan oleh tiga kontraktor yang

menyediakan jasa pengangkutan bijih besi dari pit menuju ke port. Ketiga

kontraktor tersebut antara lain AJK, JBL dan NJR. Meskipun begitu, PT Kotabesi

Iron Mining juga memiliki ijin pengangkutan dengan memegang Ijin

Pengangkutan Nomor: 366 Tahun 2007 Tanggal 4 September 2007.

PT Kotabesi Iron Mining sudah melakukan kegiatan produksi bijih besi

pada tahun 2004 dengan Ijin Eksploitasi Nomor: 188. 4/92/III.1/Distamben.

Tanggal 15 Mei 2004. Kemudian memperpanjang kontraknya pada Tahun 2007

dengan ijin KP Eksploitasi Nomor: 337 Tahun 2007. Tanggal 31 Juli 2007.

Sejak PT Kotabesi Iron Mining memiliki Ijin Penjualan Nomor: 367 Tahun

2007. Tanggal 4 September 2007, penjualan bijih besi ditujukan untuk PT Billy

yang kemudian dikirim ke Taiwan. Dengan target produksi 400.000 ton/bulan, PT

Kotabesi Iron Mining harus mengirimkan 3 tongkang bermuatan bijih besi per

harinya yang kemudian dipindahkan ke vessel dengan muatan 50.000 ton saat

berada di lepas pantai.

Pada Tahun 2008, PT Kotabesi Iron Mining tidak melakukan produksi bijih

besi di Desa Kenyala karena ijin produksi belum diperpanjang dari Dinas terkait,

dalam hal ini Dinas Pertambangan. Baru pada awal tahun 2013, PT Kotabesi

Iron Mining kembali melakukan produksi bahan galian bijih besi setelah Ijin

Penambangannya diperbarui.

2.2.2. Struktur Organisasi PT Kotabesi Iron Mining

Berikut ini bagan yang memperlihatkan struktur organisasi di PT Kotabesi

Iron Mining, tersaji pada gambar 2.2.

(18)

2-4

Gambar 2.2

Struktur Organisasi PT Kotabesi Iron Mining

2.3. Iklim dan Cuaca

Iklim adalah cuaca rata-rata dari suatu daerah atau tempat selama

bertahun-tahun, dimana iklim dipengaruhi oleh letak lintang, letak ketinggian

relief terhadap benua dan samudera, kondisi geografis lokal.

Cuaca adalah keadaan atmosfer pada waktu tertentu atau dalam periode

pendek ditandai dengan berbagai fenomena meteoris yaitu tekanan udara, suhu,

kelembaban dan curah hujan.

Lokasi penambangan bijih besi PT Kotabesi Iron Mining beriklim tropis

dengan suhu rata-rata 28

0

– 34

0

C, dengan 2 kali pergantian musim yaitu musim

penghujan dan musim kemarau. Keadaan iklim dan cuaca ini sangat

berpengaruh pada aktivitas kerja, baik di daerah penambangan maupun di jetty.

2.4. Keadaan Geologi

2.4.1. Geologi regional

Pada peta ini terlihat hasil plotting batas Ijin Usaha Pertambangan PT

Kotabesi Iron Mining di Desa Kenyala. Kawasan IUP perusahaan ini dengan luas

1.380Ha terletak pada Formasi Dahor (TQd), seperti terlihat pada Gambar 2.3,

Peta Geologi Regional daerah penelitan.

Kepala Teknik Tambang

Ir. Dindin Hasanudin

Site Manager

Feri Andrian

Personalia

Edy Sasongko, SE

Accounting

Toni

Produksi

Heri

(19)
(20)

2-6

Sumber: Peta Geologi Lembar Palangkaraya, 1995

Gambar 2.4

Korelasi Satuan Peta Geologi

Formasi Dahor (TQd) dengan posisi di antara Batuan Gunungapi (Trv)

yang kaya akan bijih besi, memungkinkan adanya keterdapatan bijih besi di

daerah ini. Hal ini disebabkan karena erosi yang terjadi pada Batuan Gunungapi

(Trv) mengalami transportasi ke daerah yang lebih rendah dan terendapkan,

sehingga membentuk Formasi Dahor (TQd) yang berumur Miosen Tengah

hingga Pliosen.

Pada lembar peta geologi, stratigrafi dinyatakan dalam korelasi satuan

peta seperti yang ditunjukan pada gambar 2.4. Korelasi satuan peta ini

merupakan tabel yang terdiri dari masa, zaman, kala, satuan tahun dan jenis

batuan.

Gambar 2.4 adalah korelasi satuan peta yang terdapat pada peta geologi

lembar Palangkaraya yang digunakan untuk plotting batas IUP PT Kotabesi Iron

Mining. Penjelasan rinci mengenai stratigrafi kawasan IUP perusahaan ini

meliputi Formasi Dahor (TQd) dan Batuan Gunungapi (Trv), karena kedua bagian

ini memiliki hubungan dengan keterdapatan bijih besi di daerah tersebut, seperti

yang dijelaskan pada anak sub-bab peta geologi sebelumnya.

(21)

2-7

Berikut merupakan penjelasan Sumintadipura (1976) mengenai Formasi

Batuan pada daerah ini.

 Endapan aluvium (Qa): terbentuk selama jaman Holosen (±10.000

tahun-sekarang). Satuan ini tersusun atas campuran tak terpilahkan antara kerikil,

pasir, lanau, lempung dan lumpur, yang terbentang meluas di sepanjang

dataran rendah dan wilayah pesisir di seluruh wilayah kajian.

 Formasi Dahor (TQd): Konglomerat, coklat kehitaman, agak padat, komponen

terdiri dari fragmen kuarsit dan basal, berukuran 1 sampai 3 cm, kemas

terbuka dengan matriks berukuran pasir. Konglomerat berselingan dengan

batupasir, berwarna kekuningan sampai kelabu, berbutir sedang sampai

kasar, setempat berstruktur sedimen silang siur. Batulempung warna kelabu,

agak lunak, karbonan setempat mengandung lignit, tersingkap sebagai sisipan

dalam batupasir dengan ketebalan 20-60 cm. Umur formasi ini diperkirakan

Miosen Tengah sampai Plistosen, berdasarkan korelasi dengan Formasi

Dahor di Lembar Tewah (Sumintadipura, 1976); tebalnya diperkirakan 300 m,

diendapkan di lingkungan paralik.

 Basal (Tb): dibeberapa tempat memperlihatkan struktur diabas dan ada juga

berstruktur andesit piroksen. Gejala ubahan tampak adanya klorit dan mineral

lempung.

 Batuan Gunungapi (Trv): Breksi gunungapi, kelabu kehijauan, sangat kompak,

komponen terdiri atas andesit, basal dan rijang, berdiameter 2-3 cm, setempat

kaya akan bijih besi dan limonit. Emmichoven (1939) mengelompokan satuan

ini ke dalam Kompleks Matan yang berumur Trias.

Sumber: Peta Geologi Lembar Palangkaraya, 1995

Gambar 2.5

Penampang A – A’

Pada penampang A – A’, tergambar bahwa di bagian Barat Laut dan

Tenggara peta daerah ini merupakan Batuan Gunungapi (Trv) yang terbentuk

(22)

2-8

pada kala Trias (Triassic). Batuan Gunungapi (Trv) di daerah ini memperlihatkan

adanya keterdapatan bijih besi yang dinyatakan dengan simbol (B) pada peta

geologi regional.

2.4.2. Geologi Lokal

a. Morfologi

Keadaan morfologi wilayah pengamatan pada PT Kotabesi Iron Mining yaitu

terdiri dari dua satuan morfologi diantaranya ; satuan morfologi dataran yang

mencagkup lebih kurang dari 10% daerah pengamatan yang dicirikan

dengan kemiringan lereng rata-rata antara 0

o

-3

o

, serta terdapat rawa pada

daerah ini. Satuan morfologi perbukitan bergelombang rendah mencangkup

lebih kurang 90% dari seluruh daerah pengamatan yang dicirikan oleh

kemiringan lereng berkisar antara 5

o

-10

o

dapat dilihat pada Gambar.

Sumber: Dokumentasi Penulis, 2013

Gambar 2.6

(23)

2-9

Sumber: Dokumentasi Penulis, 2013

Gambar 2.7

Keadaan Morfologi WIUP PT Kotabesi Iron Mining

b. Litologi

Berdasarkan pengamatan geologi lokal di batas IUP PT Kotabesi Iron

Mining, diperkirakan terdapat beberapa satuan batuan, yaitu sebagai berikut:

1) Satuan endapan Sedimentasi, terdiri dari gradasi bijih besi yang terdapat

adanya perselingan batu lempung.

Bijih besi kerikil, berwarna abu-abu sampai hitam, bersifat kompak

karena tersemenkan dan sebagian lagi merupakan material lepas.

Ukuran butir sekitar 0.3 – 3 cm dengan bentuk membundar tanggung.

Bijih besi bongkahan, berwarna abu-abu kecoklatan, terlihat masif

namun cukup rapuh dengan tekstur berpori sampai membentuk rongga

pada beberapa bagian.

(24)

2-10

Lempung, berwarna coklat kekuningan, bersifat agak keras, kompak,

jika basah akan bersifat liat dan plastis, pada beberapa bagian terlihat

pengkayaan mineral yang diperlihatkan dengan variasi warna merah,

hijau dan abu-abu.

Batu pasir, berselingan dengan batu lanau, struktur perlapisan sejajar

dan masif, berwarna abu-abu muda sampai abu-abu keputihan,

berbutir halus sedang, membulat tanggung, mudah hancur, berlapis.

2) Satuan batuan terobosan

Batuan Gunung Api, terbentuk dari hasil kegiatan vulkanik.

Tabel 2.2

Kolom Litologi pada PT Kotabesi Iron Mining

Sumber: PT Kotabesi Iron Mining

Simbol

Satuan Batuan

Diskripsi

o o o o o o

Bijih Besi Kerikil

1. Bijih besi kerikil, berwarna abu-abu sampai

hitam, bersifat kompak karena tersemenkan dan

sebagian lagi merupakan material lepas

o o o o o o

0 0 0 0 0 0

Bijih Besi Bongkahan

0 0 0 0 0 0

2. Bijih besi bongkahan, berwarna abu-abu

kecoklatan, terlihat masif namun cukup rapuh

dengan tekstur berpori sampai membentuk

rongga pada beberapa bagian.

0 0 0 0 0 0

0 0 0 0 0 0

0 0 0 0 0 0

3. Batu lempung, berwarna coklat kekuningan,

bersifat agak keras, kompak, jika basah akan

bersifat liat dan plastis.

_-_-_-_-_

Batu Lempung

_-_-_-_-_

_-_-_-_-_

4. Batu pasir berselingan dengan batu lanau dan

batu lempung, struktur perlapisan sejajar dan

masif.

‘-‘-‘-‘-‘-‘-‘-perselingan antara

batu lanau, batu pasir

dan batu lempung

‘-‘-‘-‘-‘-‘-‘-: ‘-‘-‘-‘-‘-‘-‘-: ‘-‘-‘-‘-‘-‘-‘-: ‘-‘-‘-‘-‘-‘-‘-: ‘-‘-‘-‘-‘-‘-‘-: ‘-‘-‘-‘-‘-‘-‘-: ‘-‘-‘-‘-‘-‘-‘-:

: : : : : : :

_-_-_-_-_

_-_-_-_-_

v v v v v v

Batuan Terobosan

5. Batuan terobosan yang merupakan hasil dari

kegiatan vulkanik.

v v v v v

v v v v v v

v v v v v

x x x x x x

x x x x x

x x x x x x

x x x x x

x x x x x x

(25)

2-11

2.5. Sistem Penambangan dan Peralatan yang Digunakan

Kegiatan penambangan PT Kotabesi Iron Mining saat ini dilakukan pada

Blok I Pit 3. Area penambangan pada batas konsesi PT Kotabesi Iron Mining

dibagi menjadi tiga, antara lain sebagai berikut:

1) Blok I terbagi menjadi tiga pit yaitu Pit 1, Pit 2 dan Pit 3 yang saat ini sedang

dilakukan kegiatan penambangan.

2) Blok II merupakan area yang menjadi objek penelitian dalam perhitungan

sumberdaya.

3) Blok III belum bisa dilakukan eksplorasi dan penambangan, karena kawasan

ini masuh berada dalam status izin perkebunan sawit.

Penambangan bijih besi di PT Kotabesi Iron Mining dilakukan dengan

tahapan sebagai berikut:

1) Land Clearing

Kegiatan land clearing menggunakan excavator dan dozer untuk

membersihkan lahan dari pepohonan dan semak belukar. Kemudian

dilanjutkan oleh 6 orang pekerja harian untuk membuang akar dan

rumput-rumput yang masih tersisa.

2) Pembongkaran dan Pemberaian

Kegiatan pembongkaran dan pemberaian menggunakan breaker agar

penggalian material bijih besi lebih mudah dilakukan.

3) Penggalian dan Pemuatan

Kegiatan penggalian dan pemuatan menggunakan backhoe yang terbagi

dalam 3 fleet.

4) Pengangkutan

Kegiatan pengangkutan bijih besi menggunakan dump truck dengan muatan

sekitar 23 ton yang mengangkut material sejauh 15 km dari pit menuju jetty.

5) Dumping Bijih Besi

Kegiatan dumping bijih besi dilakukan di dalam tongkang yang memiliki

kapasitas muatan sekitar 5000 ton.

(26)

3-1

BAB III

KAJIAN PUSTAKA

3.1. Sumberdaya dan Cadangan

Sumberdaya mineral (mineral resource) adalah endapan mineral yang

diharapkan dapat dimanfaatkan secara nyata. Sumberdaya mineral dengan

keyakinan geologi tertentu dapat berubah menjadi cadangan setelah dilakukan

pengkajian kelayakan tambang dan memenuhi kriteria layak ditambang.

Cadangan (reserve) adalah endapan mineral yang telah diketahui ukuran,

bentuk, sebaran, kuantitas dan kualitasnya dan secara ekonomis, teknis, hukum,

lingkungan dan sosial dapat ditambang pada saat perhitungan dilakukan.

(Anonim, 1998: 2)

Istilah resource (sumberdaya) diartikan sebagai komoditi mineral

potensial yang dapat dieksploitasi. Reserve (cadangan) didefinisikan sebagai

jumlah kuantitas terhitung dari bijih yang ekonomis untuk ditambang berdasarkan

segi teknologi dan kondisi ekonomi dan aspek lingkungan saat ini. Jika kita

menggunakan istilah cadangan berarti endapan mineral tersebut harus sudah

‘mineable’ (baik tambang terbuka atau tambang bawah tanah) dan ‘bankable’

(berdasarkan potensi kekayaan yang dimiliki untuk mencari modal dari bank).

(Idrus, 2007: 55)

Klasifikasi sumberdaya mineral dan cadangan berdasarkan 2 kriteria,

yaitu tingkat keyakinan geologi dan pengkajian layak tambang. Tingkat

keyakinan geologi ditentukan oleh 4 tahap eksplorasi, yaitu survei tinjau,

prospeksi, eksplorasi umum dan eksplorasi rinci. Kegiatan dari survei tinjau

sampai eksplorasi rinci menunjukan semakin rincinya penyelidikan, sehingga

tingkat keyakinan geologinya makin tinggi dan tingkat kesalahannya makin

rendah.

Sedangkan pengkajian layak tambang meliputi faktor-faktor ekonomi,

penambangan, pemasaran, lingkungan, sosial dan hukum/

perundang-undangan. Menentukan apakah sumberdaya mineral akan berubah menjadi

cadangan atau tidak. Berdasarkan pengkajian ini, bagian sumberdaya mineral

(27)

3-2

yang layak tambang berubah statusnya menjadi cadangan sedangkan yang

belum layak tambang tetap menjadi sumberdaya mineral.

Tabel 3.1

Klasifikasi Sumberdaya Mineral dan Cadangan

Sumber: Badan Standarisasi Nasional, 1998

Tingkat klas sumberdaya mineral dan cadangan dikelompokkan

berdasarkan kedua kriteria yang menjadi dasar klasifikasi. Berdasarkan kriteria

itu, jenis/klas sumberdaya mineral dan cadangan tertera dalam tabel 3.1.

1) Sumberdaya mineral

Sumberdaya mineral terdiri dari:

a) Sumberdaya mineral hipotetik

Sumberdaya mineral hipotetik (hypothetical mineral resource) adalah

sumberdaya mineral yang kuantitas dan kualitasnya diperoleh

berdasarkan perkiraan pada survei tinjau.

b) Sumberdaya mineral tereka

Sumberdaya mineral tereka (inferred mineral resource) adalah sumber

daya mineral yang kuantitas dan kualitasnya diperoleh berdasarkan

hasil tahap prospeksi.

c) Sumberdaya mineral terunjuk

Sumberdaya mineral terunjuk (indicated mineral resource) adalah

sumberdaya mineral yang kuantitas dan kualitasnya diperoleh

berdasarkan hasil tahap eksplorasi umum.

(28)

3-3

d) Sumberdaya mineral terukur

Sumberdaya mineral terukur (measured mineral resource) adalah

sumberdaya mineral yang kuantitas dan kualitasnya diperoleh

berdasarkan hasil tahap eksplorasi rinci.

2) Cadangan

Cadangan dibagi menjadi dua, yaitu:

a) Cadangan terkira

Cadangan terkira (probable reserve) adalah sumberdaya mineral

terunjuk dan sebagian sumberdaya mineral terukur yang tingkat

keyakinan geologinya masih lebih rendah, yang berdasarkan studi

kelayakan tambang semua faktor yang terkait telah terpenuhi, sehingga

penambangan dapat dilakukan secara ekonomik.

b) Cadangan terbukti

Cadangan terbukti (proved reserve) adalah sumberdaya mineral terukur

yang berdasarkan studi kelayakan tambang semua faktor yang terkait

telah terpenuhi, sehingga penambangan dapat dilakukan secara

ekonomik.

(Anonim, 1998: 6-8)

3.2. Endapan Bijih Besi

Istilah endapan (deposit) mempunyai definisi yang lebih luas dalam ilmu

geologi. Istilah tersebut dapat berarti turunnya material di dalam air (karena

gravitasi), atau prespitasi dari larutan karena perubahan kondisi kimia. Beberapa

ahli menyebut istilah cebakan, karena menganggap istilah endapan lebih

berkonotasi pada sedimentasi. Dalam konteks “endapan mineral”, endapan

diartikan sebagai konsentrasi mineral oleh proses-proses magmatik atau

hidrotermal. Kata endapan juga mempunyai arti materi menjadi padat, oleh

karena itu minyak, gas, dan panas bumi tidak termasuk ke dalam endapan

mineral. Walaupun batubara juga bersifat padat, umumnya tidak dibahas sebagai

endapan mineral, tetapi termasuk ke dalam sumber energi.

Secara umum definisi bijih (ore) adalah suatu batuan atau kumpulan

mineral, yang mengandung mineral-mineral yang bernilai ekonomis, dan dapat

diekstrak. Bijih terdiri dari mineral-mineral yang bernilai ekonomis (biasanya

(29)

3-4

mengandung logam) yang disebut sebagai mineral bijih (ore mineral,

mengandung logam) serta termasuk mineral industri (industrial mineral,

non-logam) dan mineral yang tidak bernilai ekonomis yang disebut sebagai mineral

penyerta (gangue mineral). (Hartosuwarno, ----: 4)

Kriteria geologi merupakan gejala yang mengendalikan terdapatnya

endapan mineral dan pengetahuan ini bertujuan melokalisir daerah yang

mempunyai indikasi kuat akan terdapatnya mineral. Kriteria geologi meliputi

kriteria stratigrafi, litologi, struktur, magmatogenik, geomorfologi, paleogeografi,

paleoklimat, dan historis.

Kriteria stratigrafi digunakan jika suatu endapan mineral ditemukan dalam

lapisan stratigrafi. Tugas utama dalam tahap prospeksi yaitu menentukan secara

stratigrafi kedudukan endapan mineral, seperti determinasi singkapan dan

menentukan luas horison (singkapan horison diikuti sepanjang strike dan dip),

kemudian dipetakan secara detail. Kriteria stratigrafi penting artinya untuk

mencari endapan sedimen dan endapan hipogene yang berasosiasi dengan

lapisan sedimen, seperti batubara, bijih tembaga sedimen, uranium, bauksit,

endapan placer, lempung, karbonat dan garam.

Kriteria litologi terbagi menjadi dua, pada endapan primer dan pada

endapan sekunder. Pada endapan primer, dilihat secara genetik dari komposisi

endapan mineral yang terbentuk. Pada endapan sekunder, contohnya seperti

endapan placer, litologi batuan sangat penting karena variasi litologi awal yang

tererosi akan mempengaruhi produk/akumulasi mineral berat yang terbentuk.

(Idrus, 2007: 6-7)

Proses terbentuknya bijih sangatlah kompleks. Sering lebih dari satu

proses bekerja bersama-sama. Meskipun dari satu jenis bijih, apabila terbentuk

oleh proses yang berbeda-beda, maka akan menghasilkan tipe endapan yang

berbeda-beda pula.

Berikut ini berbagai tipe endapan dari proses

pembentukannya.

1) Konsentrasi magmatik > deposit magmatik

2) Sublimasi > sublimat

3) Kontak metasomatisme > deposit kontak metasomatik

4) Konsentrasi hidrotermal > pengisian celah-celah terbuka (pertukaran ion

pada batuan)

(30)

3-5

6) Pelapukan konsentrasi residual > endapan residual

7) Metamorfisme > deposit metamorfik

8) Hidrologi > air tanah

Dalam pengendapan bijih besi, ada beberapa macam proses seperti

diferensiasi magmatik, larutan hidrotermal, proses sedimentasi dan proses

pelapukan. Kemudian kategorisasi endapan bijih besi didasarkan atas mutu,

besar cadangan dan jenis mineral ikutannya. (Nugroho, 2010: 21-22)

Dari mineral-mineral bijih besi, magnetit adalah mineral dengan

kandungan Fe paling tinggi, tetapi terdapat dalam jumlah kecil. Sementara

hematit merupakan mineral bijih utama yang dibutuhkan dalam industri besi.

Mineral-mineral pembawa besi dengan nilai ekonomis dengan susunan kimia,

kandungan Fe dan klasifikasi komersil dapat dilihat pada Tabel 3.2.

Tabel 3.2

Mineral-mineral Bijih Bernilai Ekonomis

Mineral

Susunan Kimia

Kandungan Fe

Klasifikasi Komersil

Magnetit

FeO, Fe

2

O

3

72,4 %

Magnetik atau bijih hitam

Hematit

Fe

2

O

3

70 %

Bijih merah

Limonit

Fe

2

O

3

.nH

2

O

59 – 63 %

Bijih coklat

Siderit

FeCO

3

48,2 %

Spathic, black band, clay

ironstone

Sumber: Nugroho, 2010

3.3. Bauksit

Bauksit merupakan kelompok mineral aluminium hidroksida seperti gibsit,

boehmit, diaspor. Mempunyai warna putih atau kekuningan dalam keadaan

murni, merah atau coklat apabila terkontaminasi oleh besi oksida atau bitumen.

Bauksit relatif sangat lunak (kekerasan 1-3), relatif ringan dengan berat jenis

2.3-2.7, mudah patah, tidak larut dalam air dan tidak terbakar. Bahan galian ini terjadi

dari proses pelapukan (laterisasi) batuan induk, erat kitannya dengan persebaran

granit. Boehmit didapatkan juga dalam rekahan pada batuan nepelin syenit

pegmatit, sebagai hasil proses alterasi hidrotermal dari nepelin atau feldspar.

Bijih bauksit laterit terjadi di daerah tropis dan subtropis, serta membentuk

perbukitan landai, yang memungkinkan terjadinya pelapukan yang cukup kuat.

Bauksit dapat terbentuk dari batuan yang mempunyai kadar aluminium relatif

(31)

3-6

tinggi, kadar Fe rendah dan sedikit kadar kuarsa (SiO

2

) bebas. Batuan yang

memenuhi persyaratan itu antara lain nepelin syenit dan sejenisnya yang berasal

dari batuan beku, batuan lempung/serpih. Batuan di atas akan mengalami proses

laterisasi yaitu proses yang terjadi karena pertukaran suhu secara terus menerus

sehingga batuan mengalami pelapukan. Pada musim hujan air memasuki

rekahan-rekahan dan menghanyutkan unsur yang mudah larut, sementara unsur

yang sukar larut/tidak larut tertinggal dalam batuan induk. Setelah unsur-unsur

yang mudah larut seperti Na dan K, Mg dan Ca, dihanyutkan oleh air, residu

yang tertinggal (disebut laterit) menjadi kaya akan hidroksida alumina Al(OH)

3

yang kemudian oleh proses dehidrasi akan mengeras menjadi bauksit.

(Sukandarrumidi, 1998; 152-153)

3.4. Penaksiran Cadangan

Pentingnya penaksiran cadangan dalam suatu industri pertambangan

ditunjukkan dalam beberapa alasan, yaitu sebagai berikut:

1) Memberikan hasil perhitungan kuantitas maupun kualitas (kadar) endapan.

2) Memberikan perkiraan geometri 3 dimensi dari endapan serta distribusi

ruang (spasial) dari nilainya. Hal ini penting untuk menentukan urutan/

tahapan penambangan, yang pada gilirannya akan mempengaruhi pemilihan

peralatan dan NPV (Net Present Value) dari tambang.

3) Jumlah cadangan menentukan umur tambang, hal ini penting dalam

kaitannya dengan perancangan pabrik pengolahan dan kebutuhan

infrastruktur yang lain.

4) Batas-batas kegiatan penambangan (pit limit) dibuat berdasarkan taksiran

cadangan. Faktor ini harus diperhatikan dalam menentukan lokasi

pembuangan tanah/ batuan penutup dan tailing (waste dump dan tailing

impoundment), pabrik pengolahan bijih, bengkel dan fasilitas lainnya.

Karena semua keputusan teknis di atas sangat tergantung padanya,

penaksiran cadangan merupakan salah satu tugas terpenting dan berat

tanggung jawabnya dalam mengevaluasi suatu proyek pertambangan.

Harus pula diingat bahwa penaksiran cadangan menghasilkan suatu

taksiran. Model cadangan yang dibuat adalah pendekatan dari suatu realistis,

berdasarkan data/ informasi yang dimiliki dan masih mengandung ketidakpastian.

(Nurhakim, 2008: 2-1)

(32)

3-7

3.5. Model Blok Teratur (Regular Block Model)

Model cadangan adalah cara dan sistematika estimasi cadangan suatu

endapan mineral berdasarkan metode penaksiran yang sesuai, tergantung pada

kompleksitas geometri dan penyebaran kadar. Output-nya adalah cadangan

endapan (probable atau proven reserve). Model cadangan ini dapat dilakukan

secara komputerisasi (model komputer), salah satunya model blok teratur.

Model blok teratur (regular block model), cebakan dibagi dalam blok-blok

dengan dimensi tertentu. Tiap blok memiliki atribut jenis batuan, alterasi,

mineralisasi, kadar, kode topografi dan sebagainya. (Idrus, 2007: 17)

Pemilihan model blok teratur (regular block model) sebagai metode dalam

permodelan endapan bijih didasarkan atas beberapa hal, yaitu:

1) Cebakan bijih dan daerah sekitarnya dibagi menjadi unit-unit yang lebih kecil

atau blok-blok, yang memiliki ukuran (panjang, lebar dan tinggi) tertentu.

Tinggi blok biasanya disesuaikan dengan tinggi jenjang penambangan.

2) Tiap-tiap blok memiliki atribut-atribut seperti jenis batuan

Gambar 3.1

Model Endapan Blok

(33)

3-8

3.6. Estimasi dengan Inverse Distance Weighted (IDW)

Metode ini membagi daerah yang akan dihitung cadangannya atas

blok-blok yang sama luasnya. Blok umumnya berbentuk bujur sangkar dengan

panjang sisi sekitar 1/2 - 1/3 jarak lubang bor. Cadangan dihitung dengan

menjumlahkan tonase masing-masing blok dan kadar rata-rata blok diperoleh

dengan cara perhitungan kadar dengan pembobotan tonase. (Idrus, 2007: 69)

Kadar dan ketebalan setiap blok dihitung berdasarkan data lubang bor

disekitarnya yang terdekat dengan cara pembobotan jarak terbalik (inverse

distance) atau kriging (cara geostatistik).

Sebaran data yang tidak teratur umumnya memberikan persoalan dalam

meramal suatu blok yang tidak mempunyai data yang terletak di antara blok-blok

yang mempunyai data seperti yang ditunjukkan dalam Gambar 3.2.

Gambar 3.2

Metode Pembobotan dengan Jarak Terbalik

Untuk memecahkan persoalan ini digunakan suatu metode penaksiran

yang didasarkan atas jarak conto terhadap blk tersebut. Pembobotan

berdasarkan jarak yang biasa dipakai, yaitu inverse distance (ID), inverse

(34)

3-9

Formula pembobotan jarak (distance weighting) adalah:

( )

=

( )

l

l

= 1

l

= ∑

Dimana:

Z

(v)

= kadar blok yang diestimasi

Z

(xi)

= kadar titik/ blok pada jarak xi

i

= nilai pembobotan jarak

d

i

= jarak blok yang diestimasi dengan titik bor tertentu

(35)

4-1

BAB IV

METODE PENELITIAN

4.1. Diagram Alir Penelitian

Diagram Alir penelitian yang dilakukan adalah sebagai berikut:

Mulai

Studi Literatur dan Identifikasi Masalah

Pengumpulan Data

Data Primer

 Kesampaian daerah penelitian  Conto batuan

 Data eksplorasi (test pit)

Data Sekunder  Peta dasar daerah penelitian  Peta geologi daerah penelitian  Topografi daerah penelitian  Koordinat batas IUP PT KIM  Data bor

 Data kadar

Pengolahan Data

 Menghitung statistik data tebal dan kadar bijih besi  Memodelkan lapisan bijih besi dengan metode blok regular  Memodelkan lapisan bijih besi dengan metode blok non regular

Analisa Data

 Mengestimasi tebal dan kadar bijih besi dengan metode IDS.

 Mengestimasi tebal dan kadar bijih besi dengan metode IDC.

 Menghitung jumlah sumberdaya pada setiap metode yang digunakan.

1

Tidak

(36)

4-2

4.2. Teknik Pengumpulan Data

Pada penelitian ini penulis melakukan teknik pengumpulan data dengan

beberapa metode sebagai berikut:

1. Pengambilan data lapangan yang meliputi metode deskriptif melalui studi

lapangan dan observasi dengan membuat beberapa test pit di lokasi

penelitian.

2. Metode korelasional dengan mengolah data bor yang sebelumnya telah

dikerjakan, kemudian disusun secara sistematis, faktual dan cermat.

3. Wawancara dengan mengadakan dialog langsung dengan pihak perusahaan

dan beberapa warga yang pernah terlibat langung dengan kegiatan

pemboran di lokasi ini.

4. Studi kepustakaan yaitu berdasarkan studi literatur, dimana data diperoleh

dari literatur dan hasil laporan yang sudah ada.

4.3. Teknik Analisa Data

Pada penelitian ini pengolahan data yang ada menggunakan perangkat

lunak untuk menghitung angka, membuat peta dan memodelkan block.

Sedangkan penulisan laporan menggunakan perangkat lunak untuk menulis dan

menyajikan data.

Hasil yang dicapai

 Beberapa rekomendasi model dan estimasi yang digunakan untuk perhitungan sumberdaya bijih besi di PT Kotabesi Iron Mining.

 Jumlah sumberdaya bijih besi pada area Blok II di PT Kotabesi Iron Mining.

Selesai 1

(37)

5-1

BAB V

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1. Data Penelitian

Kegiatan eksplorasi dilakukan pada beberapa titik dalam batas IUP PT

Kotabesi Iron Mining. Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik

batuan pada setiap lapisan. Oleh karena itu, penelitan di lapangan dilakukan

dengan mengamati sungai, tebing, paritan maupun bekas galian, dan membuat

test pit berukuran 2×2 meter pada lokasi yang terindikasi terdapat endapan bijih

besi.

Daerah ini secara umum memiliki lapisan bijih besi yang mulai terdapat

pada permukaan topografi wilayah ini. Dari hasil pengamatan lapangan,

dikatahui bahwa batuan pada lapisan pertama berukuran kerikil – kerakal,

kemudian pada lapisan kedua ditandai dengan ukuran butir yang lebih besar dari

lapisan pertama, yaitu berukuran berangkal – bongkah. Semakin ke bawah,

ukuran butir semakin kasar (semakin besar) sehingga menunjukan struktur

gradasi yang dicirikan oleh perubahan tekstur batuan secara perlahan-lahan dari

atas ke bawah. Lapisan pertama yaitu lapisan teratas dinamai dengan gravel dan

lapisan kedua dinamai dengan boulder.

Seperti pada lampiran A, mengenai deskripsi batuan. Diketahui bahwa

lapisan gravel dan boulder memiliki ukuran butir yang berbeda. Gravel

menunjukan gradasi bijih besi berukuran kerikil – kerakal yang materialnya

kompak dan padat, tampak seperti jenis hematit – magnetit namun kadarnya

terlampau kecil untuk jenis bijih besi ini. Sedangkan boulder memperlihatkan

gradasi bijih besi berukuran berangkal – bongkah, namun batuanya sangat rapuh

dan banyak ditemukan material berukuran lempung pada lapisan ini, tampak

seperti jenis bijih besi sulfat apabila melihat karakteristik dan nilai kadarnya.

Sehingga ditentukan nilai berat jenis bijih besi sulfat yang berkisar antara 4.8 –

5.1 ton/m

3

.

(38)

5-2

5.1.1. Data Penelitian

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data bor perusahaan

pada Blok II daerah penelitian. Data bor ini terdiri koordinat titik bor, elevasi titik

bor, tebal lapisan, kadar serta tipe batuan pada setiap titik bor. Data penelitian ini

disajikan pada Lampiran B.

5.1.2. Statistik Data

Statistik data dilakukan pada parameter tebal dan kadar dari data titik bor

di Blok II dengan beberapa metode perhitungan seperti nilai rata-rata, minimum,

maksimum dan standar deviasi dari parameter tersebut. Hasil perhitungan

statistik data digunakan sebagai batas dan acuan dalam pembuatan blok model

regular dan blok model non regular. Hasil perhitungan statistik data disajikan

pada tabel 5.1.

Tabel 5.1

Statistik Data dengan Parameter Tebal dan Kadar

Gravel Boulder Bedrock

Tebal (m) Kadar (%) Tebal (m) Kadar (%) Tebal (m)

Minimum 0.33 48.10 3.02 38.9 1.16

Maksimum 0.55 54.60 3.43 47.2 1.46

Rata-rata 0.44 52.39 3.25 44.8 1.31

Standar Deviasi 0.06 1.63 0.11 2.21 0.09

Sumber: Lampiran C

5.2. Permodelan dan Perhitungan

5.2.1. Penentuan Block Model

1. Block model regular

Block model regular adalah model yang ukuran bloknya dibuat teratur

pada permukaan lapisan. Berdasaran ketentuan ukuran blok yang dibuat 1/3 –

1/2 jarak lubang bor dengan jarak rata-rata 250 meter. Oleh karena itu,

permodelan block regular pada lapisan bijih besi berukuran 100×100 meter.

Model disajikan pada Lampiran E.

2. Block model non regular

Block model non regular adalah model yang ukuran bloknya dibuat

tidak beraturan. Variasi ukuran block yaitu 100×100 meter, 100×50 meter dan

100×25 meter. Model disajikan pada lampiran F.

(39)

5-3

5.2.2. Estimasi Inverse Distance Weighting (IDW)

1. Estimasi Inverse Distance Square (IDS)

Berdasarkan permodelan blok regular dan blok non regular didapatkan

hasil estimasi IDS dari tebal dan kadar pada lapisan gravel dan boulder.

Berikut data estimasi IDS pada masing-masing lapisan yang disajikan pada

tabel 5.2.

Tabel 5.2

Hasil Rata-rata Estimasi Inverse Distance Square

Estimasi

Jumlah

Lapisan Gravel

Lapisan Boulder

Blok

Tebal

(m)

Kadar

(%Fe)

Jumlah

Blok

Tebal

(m)

Kadar

(%Fe)

Block Regular 100x100

92.00

0.44

53

92.00

3.26

45

Block Regular 100x50

184.00

0.44

52

183.00

3.26

45

Block Regular 100x25

375.00

0.44

52

365.00

3.28

45

Block Non Regular

331.00

0.44

52

198.00

3.26

45

Sumber: Lampiran H dan Lampiran I

2. Estimasi Inverse Distance Cubic (IDC)

Berdasarkan permodelan blok regular dan blok non regular didapatkan

hasil estimasi IDC dari tebal dan kadar pada lapisan gravel dan boulder

Berikut data estimasi IDC pada masing-masing lapisan yang disajikan pada

tabel 5.3.

Tabel 5.3

Hasil Rata-rata Estimasi Inverse Distance Cubic

Estimasi

Jumlah

Lapisan Gravel

Lapisan Boulder

Blok

Tebal

(m)

Kadar

(%Fe)

Jumlah

Blok

Tebal

(m)

Kadar

(%Fe)

Block Regular 100x100

92.00

0.45

53

92.00

3.25

45

Block Regular 100x50

184.00

0.44

52

183.00

3.25

45

Block Regular 100x25

375.00

0.44

52

365.00

3.28

45

Block Non Regular

331.00

0.44

52

198.00

3.25

45

Sumber: Lampiran J dan Lampiran K

5.2.3. Cross Validation Data Aktual Kadar dengan Hasil Estimasi IDS dan IDS

Cross Validation disajikan untuk mengetahui distribusi data antara nilai

aktual dengan hasil estimasinya. Data yang dimaksud adalah data kadar Fe

aktual dengan hasil estimasi kadar Fe menggunakan IDS dan IDC.

(40)

5-4

Sumber: Lampiran H, Lampiran I dan Lampiran L

Gambar 5.1

Grafik Cross Validation Hasil Estimasi IDS

Sumber: Lampiran J, Lampiran K dan Lampiran L

Gambar 5.2

Grafik Cross Validation Hasil Estimasi IDC

35%

40%

45%

50%

55%

60%

35%

40%

45%

50%

55%

60%

Ka

da

r A

kt

ua

l (

%

Fe

)

Kadar Estimasi IDS (%Fe)

Cross Validation Kadar Aktual dengan Hasil Estimasi IDS

Kadar Lapisan Gravel

Kadar Lapisan Boulder

35%

40%

45%

50%

55%

60%

35%

40%

45%

50%

55%

60%

Ka

da

r A

kt

ua

l (

%

Fe

)

Kadar Estimasi IDC (%Fe)

Cross Validation Kadar Aktual dengan Hasil Estimasi IDC

(41)

5-5

5.2.4. Hasil Perhitungan Sumberdaya

Berdasarkan permodelan block regular dan block non regular didapatkan

sumberdaya masing-masing lapisan yang ditentukan dari perhitungan luas model

blok dikali total tebal estimasi IDS dan total tebal estimasi IDC.

Untuk mengetahui berat sumberdaya bijih besi yang terdapat di area Blok

II, maka perlu dihitung tonase batuan tersebut. Adapun berat jenis yang

digunakan dalam penentuan tonase material adalah 4.8 ton/m

3

.

Tabel 5.4

Hasil Perhitungan Sumberdaya Berdasarkan Estimasi IDS

Sumberdaya Lapisan Gravel Lapisan Boulder

Volume (m3) Tonase (Ton) Kadar (%Fe) Volume (m3) Tonase (Ton) Kadar (%Fe)

Block Regular 407,900 1,957,920 53 2,997,600 14,388,480 45

Block Non Regular 413,625 1,985,400 52 2,997,325 14,387,160 45

Sumber: Lampiran M

Tabel 5.5

Hasil Perhitungan Sumberdaya Berdasarkan Estimasi IDC

Sumberdaya Lapisan Gravel Lapisan Boulder

Volume (m3) Tonase (Ton) Kadar (%Fe) Volume (m3) Tonase (Ton) Kadar (%Fe)

Block Regular 409,500 1,965,600 53 2,993,100 14,366,880 45

Block Non Regular 414,300 1,988,640 52 2,992,875 14,365,800 45

Sumber: Lampiran M

5.2.5. Deviasi Sumberdaya pada Block Regular terhadap Block Non Regular

Berdasarkan hasil perhitungan sumberdaya, perlu diketahui deviasi

masing-masing model, agar didapatkan permodelan yang ideal untuk digunakan

pada daerah ini. Berikut ini merupakan deviasi dari perhitungan sumberdaya.

Tabel 5.6

Deviasi Sumberdaya pada Block Regular terhadap Block Non Regular

Estimasi

Block Regular

Deviasi

IDS pada Lapisan Gravel

100×100

-0.01384

IDC pada Lapisan Gravel

100×100

-0.01159

IDS pada Lapisan Boulder

100×100

0.00009

IDC pada Lapisan Boulder

100×100

0.00008

(42)

5-6

5.3. Pembahasan

Penggunaan metode block regular pada area pemboran di Blok II,

diharapkan dapat mewakali daerah pengaruh sebaran bijih besi di lokasi ini. Hal

ini dengan mempertimbangkan sebaran bijih besi yang diamati secara aktual

serta litologi batuan yang menunjukan lapisan bahan galian tersebut.

Penentuan ukuran block regular yaitu 100×100 meter, dibuat berdasarkan

1/2 - 1/3 jarak antar titik bor. Jarak rata-rata antar titik bor dalam luasan area

penelitan adalah sekitar 250 meter. Sedangkan ukuran block non regular

menggunakan ukuran blok 100×100 meter, 100×50 meter, 100×25 meter.

Pembuatan model block non regular bertujuan untuk meminimalisir terjadinya

efek salting dan dilusi yang tidak dapat diatasi oleh model block regular.

Metode estimasi digunakan untuk memperhitungkan daerah pengaruh

lubang bor yang diperkirakan terdapat endapan bijih besi namun tidak diketahui

besaran tebal dan kadar yang ada pada daerah pengaruh tersebut. Pada

penelitian ini dugunakan metode estimasi inverse distance square (IDS) dan

inverse distance cubic (IDC). Metode ini mempertimbangkan data titik

disekitarnya, dengan asumsi nilai blok akan lebih mirip dengan data titik bor yang

lebih dekat daripada yang jaraknya lebih jauh. Nilai pangkat pada estimasi

inverse distance ditunjukan dengan “square”, “cubic” dan seterusnya yang

merupakan nilai power. Semakin tinggi power pada estimasi ini maka nilai blok

yang didapat akan semakin mendekati nilai titik bor yang ada didekatnya.

Sehingga pemilihan nilai power harus dilakukan dengan cermat, karena sangat

mempengaruhi hasil interpolasinya.

Berdasarkan cross validation dapat dilihat bahwa nilai estimasi masih

mendekati data aktualnya. Namun pada beberapa titik terlihat selisih cukup

signifikan yang memperlihatkan nilai estimasi lebih tinggi dari data aktualnya. Hal

ini akan mempengaruhi jumlah sumberdaya bijih besi yang dihitung. Terlihat dari

deviasi antara Block Regular dengan Block Non Regular yang menunjukan

deviasi pada Lapisan Gravel lebih besar dibandingkan pada Lapisan Boulder.

Namun nilai deviasi masih cukup kecil, sehingga permodelan dengan Block

Model yang diestimasi dengan metode IDS dan IDC masih cukup baik untuk

(43)

6-1

BAB VI

PENUTUP

6.1. Kesimpulan

Kesimpulan yang dihasilkan dari penelitian ini adalah:

1. Lapisan bijih besi yang terdapat pada lapisan pertama tersusun atas

fragmen berukuran kerikil sampai kerakal yang tersementasi oleh oksida

besi, lapisan ini dinamakan lapisan Gravel. Lapisan berikutnya berukuran

berangkal – bongkah yang dinamakan dengan lapisan boulder.

2. Pada lapisan gravel didapatkan nilai rata-rata tebal sebesar 0.44 meter dan

kadar 52.39%. Sedangkan pada lapisan boulder nilai rata-rata tebal sebesar

3.25 meter dan kadar 44.8%.

3. Permodelan yang digunakan pada penelitian ini yaitu Model Block Regular

dan Model Block Non Regular.

4. Estimasi tebal dan kadar bijih besi pada Block Model menggunakan metode

Inverse Distance Square dan Inverse Distance Cubic.

5. Berdasarkan hasil permodelan menggunakan block model regular dan block

model non regular, yang diestimasi dengan metode IDS dan IDC, maka

didapatkan jumlah sumberdaya pada lapisan gravel berkisar 1,957,920 ton

sampai 1,988,640 ton dengan 52% kadar Fe, sedangkan pada lapisan

boulder berkisar dari 14,365,800 ton sampai 14,388,480 ton dengan 42%

kadar Fe.

6.2. Saran

Saran yang dapat penulis sampaikan adalah sebagai berikut:

1. Permodelan dengan Block Model Regular dan Block Model Non Regular

yang diestimasi dengan metode IDS dan IDC di PT Kotabesi Iron Mining

dapat dijadikan bahan lanjutan untuk perhitungan sumberdaya

menggunakan metode Geostatistika.

2. Perlu dilakukan perhitungan sumberdaya dengan metode lain pada lokasi ini

yang dapat menjadi bahan pembanding dengan hasil penelitan ini.

(44)

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 1998. Klasifikasi Sumberdaya Mineral dan Cadangan. Badan

Standarisasi Nasional: Indonesia

Hartosuwarno, Sutarto. ----. Endapan Mineral. Universitas Pembangunan

Nasional “Veteran”: Yogyakarta

Idrus, Arifudin. 2007. Eksplorasi Sumberdaya Mineral. Universitas Gadjah Mada:

Yogyakarta

Nugroho, Aris. 2010. Laterit dan Endapan Bijih. Scribd: Indonesia

Nurhakim. 2008. Bahan Kuliah Perencanaan dan Permodelan Tambang.

Universitas Lambung Mangkurat: Banjarbaru

Sukandarrumidi. 1998. Bahan Galian Industri. Universitas Gadjah Mada

University Press: Yogyakarta

Gambar

Gambar 3.1 Model Endapan Blok
Diagram Alir penelitian yang dilakukan adalah sebagai berikut:
Grafik Cross Validation Hasil Estimasi IDC35%40%45%50%55%60%35%40%45%50% 55% 60%
Tabel Lampiran C.1 Statistik Data

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil perhitungan debit banjir rancangan pada daerah wilayah Kompleks PU Ps Jumat Jakarta Selatan yang memiliki luas 257,53 ha atau 2,5753 km maka metode debit banjir

plastic, untuk menutup area kerja dari area non kerja atau melakukan implementasi metode control cube (kereta dorongan dengan penutup plastik dan penghubung tertutup pada area

Penerapan metode Fuzzy C Means dan Background Subtraction untuk tahun 2000, 2005, 2009, dan 2013 berhasil dalam melakukan perhitungan perubahan luas area hutan dan non- hutan dari

Dalam melakukan pemeriksaan ketebalan plat digunakan metode Non Destructive Test (NDT) yaitu menggunakan Ultrasonic Test Gauge, perhitungan terhadap tebal minimum

Hasil dari penelitian ini aplikasi berbasis android dimana user dapat melakukan perhitungan SPK menggunakan metode AHP, hasil dari perhitungan AHP menghasilkan nilai Resep

Pendugaan area kecil merupakan metode estimasi tidak langsung yang mengombinasikan antara data survei dengan data pendukung lain, misalnya dari data sensus sebelumnya yang

plastic, untuk menutup area kerja dari area non kerja atau melakukan implementasi metode control cube (kereta dorongan dengan penutup plastik dan penghubung tertutup pada area

Pada prinsipnya, perhitungan sumberdaya dengan menggunakan metode penampang ini adalah mengklarifikasikan cadangan pada suatu areal dengan membuat penampang –