• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurusan Akuntansi Program S1 Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja, Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Jurusan Akuntansi Program S1 Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja, Indonesia"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH KESESUAIAN KOMPENSASI, ASIMETRI INFORMASI,

BUDAYA ETIS ORGANISASI DAN KOMITMEN ORGANISASI

TERHADAP KECENDERUNGAN KECURANGAN (FRAUD)

AKUNTANSI PADA KOPERASI SIMPAN PINJAM SE-KECAMATAN

BULELENG

1

Putu Crysma Virmayani ,

1

Ni Luh Gede Erni Sulindawati,

2

Anantawikrama Tungga Atmadja

Jurusan Akuntansi Program S1

Universitas Pendidikan Ganesha

Singaraja, Indonesia

e-mail: {[email protected],

[email protected],

[email protected]}@undiksha.ac.id

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh kesesuaian kompensasi, asimetri informasi, budaya etis organisasi, dan komitmen organisasi terhadap kecenderungan kecurangan (fraud) akuntansi pada koperasi simpan pinjam Se-Kecamatan Buleleng. Penelitian ini termasuk penelitian dengan pendekatan kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah koperasi simpan pinjam Se-KecamatanBuleleng yaitu 20 koperasi simpan pinjam, dengan jumlah sampel 12 koperasi simpan pinjam. Sampel dipilih menggunakan metode

purposive sampling dengan jumlah responden sebanyak 75 orang. Sumber data dalam

penelitian ini adalah data primer. Data dikumpulkan melalui penyebaran angket/kuisioner. Kuisioner disusun dengan menggunakan skala likert. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis regresi linier berganda dengan menggunakan program

statistical package for social sciences (SPSS) for windows versi 16.0.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) secara parsial kesesuaian kompensasi berpengaruh negatif terhadap kecenderungan kecurangan (fraud) akuntansi dengan nilai signifikan (0,024 < 0,05) dengan koefesien regresi sebesar (-0,185); (2) secara parsial asimetri informasi berpengaruh positif terhadap kecenderungan kecurangan (fraud) akuntansi dengan nilai signifikan (0,026 < 0,05) dengan koefesien regresi sebesar (0,591); (3) secara parsial budaya etis organisasi berpengaruh negatif terhadap kecenderungan kecurangan (fraud) akuntansi dengan nilai signifikan (0,035 < 0,05) dengan koefesien regresi sebesar (-0,183); dan (4) secara parsial komitmen organisasi berpengaruh negatif terhadap kecenderungan kecurangan (fraud) akuntansi dengan nilai signifikan (0,004 < 0,05) dengan koefesien regresi sebesar (-0,745).

Kata kunci: kesesuaian kompensasi, asimetri informasi, budaya etis organisasi, komitmen

(2)

Abstract

This study aimed at examining the effect of compensation appropriateness, information asymmetry, cultural organization ethics, and organization commitment on accounting fraud trends in savings and loans cooperatives in Buleleng district. This research employed a quantitative approach. The population in this study was savings and loans cooperatives in Buleleng district, that is, 20 savings and loans cooperatives, with samples of 12 savings and loans cooperatives. The samples were selected through purposive sampling method with the number of respondents 75 people. The data source used in this study were primary data. The data were collected through questionnaires. The questionnaire was composed through a Likert scale. The data analysis technique used in this research was multiple linear regression analysis of statistical package program for social sciences (SPSS) for Windows version 16.0. The results showed that (1) partially, compesation appropriateness negatively affected the fraud accounting trends with a significant value (0.024 <0.05) with a regression coefficient of (-0.185); (2) partially, information asymmetry positively affected the fraud accounting trends with a significant value (0.026 <0.05) with a regression coefficient value (0.591); (3) partially, organizational culture ethics negatively affected the fraud accounting trends with a significant value (0.035 <0.05) with a regression coefficient of (-0.183); and (4) partially, organizational commitment negatively affected the fraud accounting trends with a significant value (0.004 <0.05) with a regression coefficient of (-0.745).

Keywords : appropriateness of compensation, information asymmetry, organizational culture ethics, organizational commitment, and fraud accounting trends.

PENDAHULUAN

Pada umumnya permasalahan yang dihadapi oleh usaha kecil berkaitan dengan masalah kemampuan manajemen, yang salah satunya adalah masalah struktur permodalan. Dalam segi pembiayaan dan permodalan masih sulitnya UKM untuk mengakses lembaga keuangan Perbankan mengingat syarat-syarat yang ditetapkan cukup berat, yaitu: (1) permasalahan pada jaminan yang cukup terbatas, misalnya jaminan terbatas pada sertifikat property atau SK sebagai PNS sehingga pelaku usaha kecil menengah mengalami kesulitan untuk memenuhi persyaratan jaminan, (2) permasalahan pada melampirkan bukti secara tertulis besar penghasilan tetap setiap bulan dan penghasilan minimal sudah ditentukan oleh pihak Bank sehingga kredit untuk lapisan masyarakat kecil menengah tidak mudah dicairkan, dan (3) harus terbebas dari hutang pada lembaga keuangan lain untuk mencairkan kredit. Permasalahan ini menyebabkan pencairan kredit tidak segera bisa dilakukan, di sisi lain pemohon kredit memerlukan modal secepatnya.

Untuk mengatasi permasalahan permodalan pada UKM, maka hadir suatu

lembaga perkreditan, yaitu salah satunya koperasi simpan pinjam. Penyaluran atau pemberian kredit merupakan salah satu bisnis utama dan terbesar hampir pada sebagian besar lembaga keuangan termasuk koperasi simpan pinjam.

Menurut Undang - Undang Koperasi No. 25 tahun 1992 Pasal 1, koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang - seorang atau

badan hukum koperasi dengan

melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas asas kekeluargaan. Oleh karena itu, koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang - orang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan asas kekeluargaan dan bertujuan untuk menyejahterakan anggotanya. Koperasi simpan pinjam merupakan salah satu lembaga keuangan bukan bank yang bertugas memberikan pelayanan masyarakat, berupa pinjaman dan tempat penyimpanan uang bagi masyarakat. Koperasi simpan pinjam menjalankan usahanya sebagai satu - satunya yang melayani anggotanya.

(3)

Kehadiran suatu lembaga perkreditan, yaitu Koperasi simpan pinjam sangat tepat untuk menjangkau masyarakat dalam meningkatkan taraf hidupnya.

Koperasi sebagai organisasi di bidang ekonomi dan sosial sangat rawan terhadap risiko kerugian hingga koperasi menjadi non aktif. Kerawanan tersebut dapat bersumber dari unsur adanya kecenderungan dari oknum anggota koperasi yang ingin melakukan kecurangan dengan cara memanfaatkan

kelemahan manajemen koperasi.

Kecurangan merujuk pada penyajian yang salah atas suatu fakta yang dilakukan oleh suatu pihak ke pihak lain dengan tujuan membohongi dan membuat pihak lain tersebut meyakini fakta yang merugikannya. Ada banyak hal yang bisa menyebabkan kecurangan akuntansi. Hingga saat ini, ada satu model yang dapat menjelaskan terjadinya kecurangan, yakni model Segitiga Kecurangan (The Fraud Triangle) oleh Donald R. Cressey. Fraud triangle theory inilah yang digunakan dalam penentuan variabel pada penelitian ini melalui unsur - unsur Fraud Triangle, yang terdiri dari tekanan (Pressure), kesempatan (Opportunity), dan rasionalisasi (Rationalization).

Tekanan merupakan faktor yang berasal dari kondisi individu yang menyebabkan seseorang melakukan kecurangan. Tekanan dari dalam diri seseorang tersebut dapat dipengaruhi oleh lingkungan tempat bekerja. Keadilan organisasional yang berkaitan dengan bagaimana seseorang mendapatkan penghargaan atau reward berupa gaji atau kompensasi lain atas pekerjaan yang dilakukannya. Veitzhal Rivai (2011 : 741) menjelaskan bahwa kompensasi adalah sesuatu yang diterima karyawan sebagai pengganti kontribusi jasa mereka pada perusahaan. Kompensasi merupakan biaya utama atas keahlian atau pekerjaan dan kesetiaan dalam bisnis perusahaan. Dengan demikian

Kesesuaian Kompensasi adalah

kecocokan dan kepuasan karyawan / pegawai / pekerja atas apa yang diberikan instansi kepada mereka baik berupa upah

perjam maupun gaji secara periodik sebagai balasan dari pekerjaan yang telah dilaksanakan. Dimana persepsi karyawan mengenai kesesuaian kompensasi (reward) yang diberikan atas pekerjaan yang mereka kerjakan apakah sudah

sesuai dengan asas pemberian

kompensasi atau sebaliknya. Sistem kompensasi yang sesuai diharapkan dapat membuat individu merasa tercukupi sehingga individu tidak melakukan tindakan yang merugikan organisasi termasuk melakukan tindakan kecurangan akuntansi (fraud).

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Mustikasari (2013), Chandra (2015) dan Purwanti (2016) menyatakan bahwa terdapat pengaruh negatif kesesuaian kompensasi dengan kecurangan (fraud). H1 : Kesesuaian Kompensasi

berpengaruh Negatif terhadap kecenderungan kecurangan (fraud) akuntansi di Koperasi Simpan Pinjam.

Kesempatan atau opportunity

merupakan suatu kondisi yang

memungkinkan seseorang bisa

melakukan kecurangan. Faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya kondisi kecurangan karena adanya kesempatan yaitu salah satunya asimetri informasi. Menurut Martono dan Agus (2008) dalam Faramita (2011) asimetri informasi, yaitu kondisi dimana salah satu pihak dari suatu transaksi memiliki informasi lebih banyak atau lebih baik dibanding pihak lainnya. Menurut Scott (2000) dalam Kusumastuti (2012) terdapat dua macam asimetri informasi, yaitu : adverse selection dan moral hazard. Najahningrum

(2013) menyatakan bahwa apabila terjadi kesenjangan informasi antara pihak pengguna dan pihak pengelola, maka akan membuka peluang bagi pihak pengelola dana untuk melakukan kecurangan. Demikian pula, bila terjadi asimetri informasi, agen bias membuat bias atau memanipulasi laporan keuangan sehingga dapat memperbaiki kompensasi dan reputasinya, serta rasio-rasio keuangan. Kesempatan dan motivasi adalah faktor-faktor utama yang mempengaruhi terjadinya fraud, dan

(4)

dengan demikian organisasi cenderung menjadi lebih rentan terhadap fraud ketika kedua kondisi tersebut ada secara bersamaan, daripada secara individual. Penelitian oleh Darma (2014) yang

menyatakan bahwa asimetri informasi berpengaruh signifikan terhadap kecenderungan kecurangan (fraud) akuntansi. Hasil tersebut didukung oleh Mustikasari (2013), Chandra (2015) dan Purwanti (2016).

H2 : Asimetri Informasi berpengaruh positif terhadap kecenderungan kecurangan (fraud) akuntansi di Koperasi Simpan Pinjam.

Menurut Zulkarnain (2013)

rasionalisasi adalah pemikiran yang menjustifikasi tindakannya sebagai suatu perilaku yang wajar, yang secara moral dapat diterima dalam suatu masyarakat yang normal. Rasionalisasi merupakan bagian dari fraud triangle yang paling sulit diukur. Rae and Subramaniam (2008) dalam Chandra Prapnalia (2015)

menyatakan bahwa dalam suatu

lingkungan yang lebih etis, karyawan akan

cenderung mengikuti peraturan

perusahaan dan peraturan - peraturan tersebut akan menjadi perilaku secara moral dan bisa diterima.

Lingkungan etis dapat dinilai dengan adanya budaya etis dan komitmen organisasi di dalamnya. Budaya etis dapat berarti pola sikap dan perilaku yang diharapkan dari setiap individu dan kelompok anggota organisasi, yang secara keseluruhan akan membentuk budaya organisasi (organizational culture) yang sejalan dengan tujuan maupun filosofi organisasi yang bersangkutan. Robbins (2006) mendefinisikan budaya organisasi sebagai suatu persepsi bersama yang dianut oleh anggota-anggota organisasi itu yang membedakan organisasi satu dengan lainnya. Persepsi terhadap budaya organisasi didasarkan pada kondisi - kondisi yang dialami seseorang dalam organisasinya, seperti penghargaan, dukungan, dan perilaku yang diharapkan diperoleh di organisasi.

Menurut Artini (2014) dan Lestari (2015) menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang negatif dan signifikan

antara budaya etis organisasi terhadap kecenderungan kecurangan (fraud). Sedangkan menurut Chandra (2015) menyatakan bahwa tidak terdapat pengaruh negatif budaya etis terhadap kecenderungan kecurangan akuntansi di sektor pemerintahan.

H3 : Budaya Etis Organisasi berpengaruh Negatif terhadap kecenderungan kecurangan (fraud) akuntansi di Koperasi Simpan Pinjam.

Komitmen organisasi menurut Meyer dan Allen (1991) dalam Umam (2010:258) sebagai suatu konstruk psikologi yang merupakan karakteristik hubungan anggota organisasi dengan organisasinya. Komitmen organisasi merupakan suatu kesetiaan atau loyalitas pegawai terhadap instansi tempat bekerja. Suatu komitmen organisasi secara umum mengacu pada sikap - sikap dan perasaan karyawan dan dihubungkan dengan nilai - nilai serta cara perusahaan itu melakukan berbagai hal termasuk pula sikap karyawan dalam melakukan tindak kecurangan. Apabila karyawan tersebut memiliki komitmen organisasi yang tinggi maka akan semakin rendah tingkat terjadinya fraud di suatu instansi.

Menurut Najahningrum (2013) komitmen organisasi merupakan sikap mental individu berkaitan dengan tingkat keloyalannya terhadap organisasi tempat individu tersebut bekerja. Konsep komitmen dimulai dengan konsep komitmen organisasional yang didasarkan pada premis bahwa individual membentuk suatu keterikatan terhadap suatu organisasi. Komitmen organisasi dibangun atas dasar kepercayaan pegawai atas nilai - nilai organisasi, kerelaan pegawai membantu mewujudkan tujuan organisasi dan loyalitas untuk tetap menjadi anggota organisasi. Oleh karena itu, komitmen organisasi akan menimbulkan rasa ikut memiliki (sense of belonging) bagi pegawai terhadap organisasi. Menurut Ikhsan dan Iskak (2005) mengemukakan dua komponen mengenai komitmen organisasi, yaitu: komitmen afektif (affective commitment), komitmen normatif (normative commitment).

(5)

Penelitian Mustikasari (2013) menyatakan bahwa terdapat pengaruh negatif antara komitmen organisasi dengan kecurangan (fraud) di sektor pemerintahan. Menurut Chandra (2015) menyatakan bahwa tidak ada pengaruh negatif komitmen organisasi terhadap kecenderungan kecurangan (fraud) akuntansi di sektor pemerintahan. Sedangkan Purwati (2016) menyatakan bahwa komitmen organisasi tidak berpengaruh terhadap kecenderungan kecurangan (fraud) akuntansi.

H4 : Komitmen Organisasi berpengaruh negatif terhadap kecenderungan kecurangan (fraud) akuntansi di Koperasi Simpan Pinjam.

Berdasarkan uraian di atas, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kesesuaian kompensasi, asimetri informasi, budaya etis organisasi, dan komitmen organisasi terhadap kecenderungan kecurangan (fraud) akuntansi pada koperasi simpan pinjam Se-KecamatanBuleleng.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini akan dilakukan di

Koperasi Simpan Pinjam

Se-KecamatanBuleleng, dengan

menggunakan persepsi seluruh karyawan koperasi simpan pinjam sebagai objek penelitian. Penelitian ini termasuk dalam penelitian dengan pendekatan kuantitatif karena data yang digunakan berbentuk angka - angka. Dari variabel penelitian tersebut dapat ditentukan indikator, instrumen penelitian dan desain sampel yang digunakan.

Pada penelitian ini jenis data yang digunakan adalah jenis data primer yaitu berupa kuesioner. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan koperasi simpan pinjam. Sampel dalam penelitian ini dipilih dengan menggunakan metode purposive sampling, dan jumlah sampel ditentukan dengan kriteria tertentu. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebanyak 12 koperasi simpan pinjam dengan jumlah responden sebanyak 95 orang. Namun, kuisioner yang kembali dan dapat diolah sebanyak 75 orang.

Sebelum dapat melakukan analisis data Multiple Regression Analysis dengan bantuan SPSS maka terlebih dahulu dilakukan pengujian kualitas data meliputi uji validitas dan uji reliabilitas, kemudian pengujian asumsi klasik meliputi uji normalitas, uji multikolinearitas, dan uji heteroskedastisitas. Langkah selanjutnya dilakukan uji analisis koefisien regresi untuk menguji hipotesis dengan menggunakan uji analisis regresi linier berganda / analisis regresi berganda (Multiple Regression Analysis). Alasan menggunakan metode analisis regresi berganda adalah untuk mengetahui pengaruh suatu variabel bebas (variabel bebas lebih dari satu) terhadap variabel terikat. Uji analisis regresi linier berganda pada penelitian ini mengandung unsur interaksi uji koefisien determinasi R2, dan

uji parsial (uji t).

Hasil analisis data selanjutnya disajikan serta diinterpretasikan dan langkah terakhir adalah penarikan kesimpulan dan saran.

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil

Berdasarkan hasil penelitian, pada uji validitas diketahui bahwa masing-masing indikator dari variabel kesesuaian kompensasi, asimetri informasi, budaya etis organisasi, komitmen organisasi, dan kecenderungan kecurangan (fraud) akuntansi mempunyai nilai signifikansi < 0,05. Suatu instrumen penelitian dikatakan valid jika nilai rhitung ≥ rtabel (α :

n-2) yaitu nilai rtabel = 0,227. Hal ini berarti

indicator - indikator dalam variabel penelitian ini dinyatakan valid dan layak digunakan sebagai pengumpul data.

Pengujian reliabilitas ini dilakukan untuk menunjukkan sejauh mana suatu hasil pengukuran relatif konsisten. Pengujian reliabilitas terhadap seluruh item atau pertanyaan pada penelitian ini akan menggunakan rumus koefisien

cronbach alpha. Nilai cronbach alpha pada

penelitian ini akan digunakan nilai 0,6 dengan asumsi bahwa daftar pertanyaan yang diuji akan dikatakan reliabel bila nilai

cronbach ≥ 0,6 (Ghozali, 2011). Hasil

(6)

kompensasi, asimetri informasi, budaya etis organisasi, komitmen organisasi, dan kecenderungan kecurangan (fraud) akuntansi menunjukkan bahwa nilai

Cronbach Alpha > 0,60, yaitu masing -

masing sebesar 0,822; 0,601; 0,686; 0,617 dan 0,765, sehingga dapat dikatakan bahwa butir - butir pertanyaan variabel kesesuaian kompensasi, asimetri informasi, budaya etis organisasi, komitmen organisasi, dan kecenderungan kecurangan (fraud) akuntansi dalam keadaan reliabel.

Hasil uji normalitas pada penelitian ini dapat dilihat pada nilai signifikansi yang diperoleh dari uji statistik Kolmogorov

Smirnov sebesar 0,966 > 0,05, sehingga

dapat disimpulkan bahwa distribusi data menyebar secara normal sehingga model regresi memenuhi asumsi normalitas.

Uji multikolinearitas, pendeteksian multikolinearitas dalam penelitian ini dilakukan dengan metode VIF. Apabila terhadap variabel independen yang memiliki nilai tolerance yang lebih besar dari 0,10 dan nilai VIF lebih kecil dari 10, maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada multikolinearitas antar variabel bebas dalam model regresi. Hasil dari uji multikolinearitas pada penelitian ini dapat

diketahui sebagai berikut. Hasil uji multikolinearitas dengan metode VIF memperoleh nilai VIF < 10 dengan nilai VIF kesesuaian kompensasi (X1) sebesar

1,036, asimetri informasi (X2) sebesar

1,054, budaya etis organisasi (X3) sebesar

1,008, dan komitmen organisasi (X4)

sebesar 1,020, yang berarti bahwa semua

variabel bebas tidak terjadi

multikolinearitas, sehingga tidak membiaskan interpretasi hasil analisis regresi.

Hasil uji heteroskedastisitas pada penelitian ini dapat dilihat pada uji Glejser, dimana nilai signifikansi untuk keempat variabel bebas lebih besar dari 0,05 dimana untuk variabel kesesuaian kompensasi (X1) sebesar 0,212, variabel

asimetri informasi (X2) sebesar 0,848,

variabel budaya etis organisasi (X3)

sebesar 0,062, dan komitmen organisasi (X4) sebesar 0,650. Jadi dapat dinyatakan

bahwa model regresi ini tidak terdeteksi adanya heteroskedastisitas.

Hasil perhitungan dengan menggunakan program statistik komputer

SPSS Statistics 16.0 diperoleh hasil dari

analisis regresi linier berganda yang dapat dilihat pada tabel 1 di berikut ini :

Tabel 1 Analisis Regresi Linier Berganda Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients T Sig. Collinearity Statistics B Std.

Error Beta Tolerance VIF

1 (Constant) -4.643 9.390 -.494 .623

Kesesuaian_Konpensasi -.185 .171 -.116 -2.080 .024 .965 1.036

Asimetri_Informasi .591 .259 .247 2.279 .026 .948 1.054

Budaya_Etis_Organisasi -.183 .205 -.095 -2.892 .035 .992 1.008

Komitmen_Organisasi -.745 .248 -.320 -3.002 .004 .981 1.020

Dependent Variable: Kecenderungan _ Kecurangan _ Akuntansi Sumber: data yang diolah, 2016

(7)

Tabel 1 menunjukkan hasil dari analisis regresi linier berganda tersebut dapat ditulis sebagai berikut :

Y = (-4,643) + (-0,185) X1 + 0,591 X2 +

(-0,183) X3 + (-0,745) X4 + e

Pada persamaan di atas ditunjukkan pengaruh variabel independen (X) terhadap variabel dependen (Y). Adapun arti dari koefisien regresi tersebut adalah sebagai berikut (1) b0 = (-4,643)

Artinya, apabila kesesuaian kompensasi, asimetri informasi, budaya etis organisasi, dan komitmen organisasi sama dengan 0 (nol), maka kecenderungan kecurangan (fraud) akuntansi sebesar (-4,643); (2) b1 =

(-0,185) Artinya, apabila kenaikan Kesesuaian kompensasi sebesar 1, maka kecenderungan kecurangan (fraud) akuntansi menurun sebesar (-0,185) dengan asumsi variabel lain adalah konstan (ceteris

paribus); (3) b2 = 0,591 Artinya, apabila

kenaikan asimetri informasi sebesar 1, maka kecenderungan kecurangan (fraud) akuntansi naik sebesar 0,591 dengan asumsi variabel lain adalah konstan (ceteris

paribus); (4) b3 = (-0,183) Artinya, apabila

budaya etis organisasi sebesar 1, maka kecenderungan kecurangan (fraud) akuntansi menurun sebesar (-0,183) dengan asumsi variabel lain adalah konstan (ceteris

paribus); dan (5) b4 = (-0,745) Artinya,

apabila budaya etis organisasi sebesar 1, maka kecenderungan kecurangan (fraud) akuntansi menurun sebesar (-0,745) dengan asumsi variabel lain adalah konstan (ceteris

paribus).

Hasil regresi yang diperoleh pada pengujian statistik komputer R2 (Koefisien

Determinasi) sebesar 0,173 artinya variabel dependen (Y) dalam model ini dipengaruhi variabel independen sebesar 17,3% sedangkan sisanya 82,7% dipengaruhi oleh faktor lain.

Hasil perhitungan uji t dengan menggunakan program SPSS for Windows

16.0 dapat dilihat pada tabel 1. Berdasarkan

tabel tersebut dapat diketahui besarnya pengaruh masing - masing variabel bebas terhadap variabel terikat sebagai berikut : (1) Pengaruh variabel kesesuaian kompensasi (X1) terhadap kecenderungan

kecurangan (fraud) akuntansi (Y) secara parsial diperoleh nilai ttabel 1,993 dan nilai

thitung (-2,080) serta nilai signifikansi sebesar

0,024. Berdasarkan nilai thitung (-2,080) dan

nilai signifikansinya sebesar 0,024 tersebut, menunjukkan bahwa thitung negatif dan nilai

signifikansinya lebih kecil dari taraf signifikan 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa pada taraf 5%, kesesuaian kompensasi

berpengaruh negatif terhadap

kecenderungan kecurangan (fraud) akuntansi pada KSP. Hasil pengujian tersebut menunjukkan bahwa H1 diterima

dan H0 ditolak; (2) Pengaruh variabel

asimetri informasi (X2) terhadap

kecenderungan kecurangan (fraud) akuntansi (Y) secara parsial diperoleh nilai thitung 2,279 dan nilai signifikansi sebesar

0,026. Berdasarkan nilai thitung 2,279 dan

nilai signifikansinya sebesar 0,026 tersebut, menunjukkan bahwa thitung positif dan nilai

signifikansinya lebih kecil dari taraf signifikan 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa pada taraf 5%, asimetri informasi

berpengaruh positif terhadap

kecenderungan kecurangan (fraud) akuntansi pada KSP. Hasil pengujian tersebut menunjukkan bahwa H2 diterima

dan H0 ditolak; (3) Pengaruh variabel

budaya etis organisasi (X3) terhadap

kecenderungan kecurangan (fraud) akuntansi (Y) secara parsial diperoleh nilai thitung (-2,892) dan nilai signifikansi sebesar

0,035. Berdasarkan nilai thitung (-2,892) dan

nilai signifikansinya sebesar 0,035 tersebut, menunjukkan bahwa thitung negatif dan nilai

signifikansinya lebih kecil dari taraf signifikan 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa pada taraf 5%, budaya etis organisasi

berpengaruh negatif terhadap

kecenderungan kecurangan (fraud) akuntansi KSP. Hasil pengujian tersebut menunjukkan bahwa H3 diterima dan H0

ditolak, dan (4) Pengaruh variabel komitmen organisasi (X4) terhadap kecenderungan

kecurangan (fraud) akuntansi (Y) secara parsial diperoleh nilai thitung (-3,002) dan nilai

signifikansi sebesar 0,004. Berdasarkan nilai thitung (-3,002) dan nilai signifikansinya

sebesar 0,004 tersebut, menunjukkan bahwa thitung negatif dan nilai signifikansinya

lebih kecil dari taraf signifikan 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa pada taraf 5%, komitmen organisasi berpengaruh negatif terhadap kecenderungan kecurangan

(8)

(fraud) akuntansi KSP. Hasil pengujian tersebut menunjukkan bahwa H4 diterima

dan H0 ditolak.

Pembahasan

1. Pengaruh Kesesuaian Kompensasi Terhadap Kecenderungan Kecurangan (Fraud) Akuntansi

Berdasarkan hasil analisis statistik membuktikan bahwa secara parsial terdapat pengaruh negatif dari variabel Kesesuaian Kompensasi dimana t hitung (-2,080) lebih

besar dari t tabel (1,993) dan berada pada

taraf signifikan 0,024 < 0,05 dengan nilai koefesien regresi sebesar (- 0,185). Hasil pengujian tersebut menunjukkan bahwa hipotesis pertama (H1) yang menyatakan

bahwa terdapat pengaruh negatif

Kesesuaian Kompensasi terhadap

Kecenderungan kecurangan (fraud) akuntansi, artinya semakin tinggi kesesuaian kompensasi yang diberikan maka semakin rendah tingkat terjadinya kecenderungan kecurangan (fraud) akuntansi. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian kompensasi yang sesuai dapat meminimalisasi terjadinya fraud pada

koperasi simpan pinjam

Se-KecamatanBuleleng. Alasan itu diambil

dengan mempertimbangkan dan

berdasakan dari beberapa teori seperti berikut:

Veitzhal Rivai (2011 : 741) menjelaskan bahwa kompensasi adalah sesuatu yang diterima karyawan sebagai pengganti kontribusi jasa mereka pada perusahaan. Menurut Fauwzi (2011) dalam Chandra (2015), sistem kompensasi adalah sistem penghargaan financial (upah pembayaran) dirancang agar mampu menarik perhatian, mempertahankan, dan mendorong karyawan agar bekerja dengan produktif. Tujuan pemberian kompensasi

diharapkan dengan sesuainya

kompensasi dapat memenuhi kebutuhan ekonomi karyawan, meningkatkan produktivitas kerja, memajukan organisasi atau perusahaan dan untuk menciptakan keseimbangan dan keahlian.

Berdasarkan hasil kuisioner mengenai persepsi karyawan tentang kesesuaian kompensasi. Kesesuaian kompensasi pada KSP Se-Kecamatan

Buleleng diukur berdasarkan

pengembangan pribadi, penyelesaian tugas yang baik, pengakuan perusahaan atas keberhasilan dalam melaksanakan pekerjaan, pencapaian sasaran, promosi, dan kompensasi keuangan yang diukur melalui prestasi kerja.

Penelitian ini sejalan dengan Mustikasari (2013), Chandra (2015) dan Purwanti (2016) yang menyatakan terdapat pengaruh negatif kesesuaian kompensasi terhadap kecenderungan kecurangan akuntansi di sektor pemerintahan.

2. Pengaruh Asimetri Informasi Terhadap Kecenderungan Kecurangan (Fraud) Akuntansi

Berdasarkan hasil pengujian dalam penelitian ini didapatkan hasil bahwa secara parsial Asimetri Informasi

berpengaruh positif terhadap

kecenderungan kecurangan (fraud) akuntansi. Hal tersebut ditunjukkan dari thitung (2,279) lebih besar dari ttabel (1,993)

dan berada pada taraf signifikansi sebesar 0,026 < 0,05 dengan koefesien regresi sebesar (0,591). Hasil pengujian tersebut menunjukkan bahwa hipotesis kedua(H2)

Asimetri Informasi berpengaruh positif terhadap kecenderungan kecurangan (fraud) akuntansi, artinya semakin tinggi asimetri informasi maka semakin tinggi juga kecenderungan kecurangan (fraud) akuntansi. Hal ini menunjukkan bahwa adanya asimetri informasi dapat mendorong terjadinya kecenderungan kecurangan (fraud) akuntansi pada koperasi simpan pinjam Se-Kecamatan Buleleng. Alasan itu diambil dengan mempertimbangkan dan berdasakan dari teori seperti berikut:

Teori keagenan merupakan teori yang sering digunakan untuk menjelaskan kecenderungan kecurangan (fraud) akuntansi. Menurut Wilopo (2006) Asimetri informasi adalah situasi dimana terjadi ketidakselarasan informasi antara pihak yang memiliki atau menyediakan informasi dengan pihak yang membutuhkan informasi. Menurut Scott (2000) dalam Kusumastuti (2012) terdapat dua macam asimetri informasi, yaitu: Adverse selection dan

(9)

Penelitian ini sejalan dengan Darma (2014) yang menyatakan bahwa asimetri informasi berpengaruh signifikan terhadap kecenderungan kecurangan (fraud) akuntansi. Hasil tersebut didukung oleh Chandra (2015) yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh positif asimetri informasi terhadap kecenderungan kecurangan akuntansi di sektor pemerintahan.

3. Pengaruh Budaya Etis Organisasi Terhadap Kecenderungan Kecurangan (Fraud) Akuntansi

Berdasarkan hasil pengujian dalam penelitian ini didapatkan hasil bahwa secara parsial Budaya Etis Organisasi

berpengaruh negatif terhadap

kecenderungan kecurangan (fraud) akuntansi. Hal tersebut ditunjukkan dari thitung (-2.892) lebih besar dari ttabel (1,993)

dan berada pada taraf signifikansi sebesar 0,035 < 0,05 dengan Koefesien regresi (-0,183). Hasil pengujian tersebut menunjukkan bahwa hipotesis ketiga (H3)

Budaya Etis Organisasi berpengaruh negatif terhadap kecenderungan kecurangan (fraud) akuntansi, artinya semakin tinggi penerapan Budaya Etis Organisasi maka semakin rendah terjadinya kecenderungan kecurangan (fraud) akuntansi. Hal ini menunjukkan bahwa penerapa Budaya Etis Organisasi dapat meminimalisasi atau mencegah terjadinya kecenderungan kecurangan (fraud) akuntansi pada koperasi simpan pinjam Se – Kecamatan Buleleng.

Alasan itu diambil dengan

mempertimbangkan dan berdasakan dari teori seperti berikut:

Rae and Subramaniam (2008), Budaya organisasi pada intinya merupakan sebuah sistem dari nilai - nilai yang bersifat umum. Adapun nilai - nilai personal mulai dikembangkan pada saat awal kehidupan, seperti halnya kepercayaan pada umumnya, tersusun dalam sistem hirarki dengan sifat-sifat yang dapat dijelaskan dan diukur, serta konsekuensi - konsekuensi perilaku yang dapat diamati. Menjaga budaya etis melibatkan orang - orang jujur, menaati kebijakan dan kode etik, mempertahankan kebijakan yang jelas dan efektif untuk menangani fraud dan memastikan bahwa

manajemen puncak juga melakukannya. Najahningrum (2013) menyatakan bahwa apabila terjadi kesenjangan informasi antara pihak pengguna dan pihak pengelola, maka akan membuka peluang bagi pihak pengelola dana untuk melakukan kecurangan.

Penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Artini (2014) dan Lestari (2015) menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang negatif dan signifikan antara budaya etis organisasi terhadap kecenderungan kecurangan (fraud). Namun, tidak sejalan dengan penelitian Chandra (2015) menyatakan bahwa tidak terdapat pengaruh

negatif budaya etis terhadap

kecenderungan kecurangan akuntansi di sektor pemerintahan.

4. Pengaruh Komitmen Organisasi Terhadap Kecenderungan Kecurangan (Fraud) Akuntansi

Berdasarkan hasil pengujian dalam penelitian ini didapatkan hasil bahwa secara parsial Komitmen Organisasi

berpengaruh positif terhadap

kecenderungan kecurangan (fraud) akuntansi. Hal tersebut ditunjukkan dari thitung (-3,002) lebih besar dari ttabel (1,993)

dan berada pada taraf signifikansi sebesar 0,004 < 0,05 dengan koefesien regresi sebesar (-0,745). Hasil pengujian tersebut menunjukkan bahwa hipotesis keempat (H4)

Komitmen Organisasi berpengaruh negatif terhadap kecenderungan kecurangan (fraud) akuntansi, artinya semakin tinggi Komitmen Organisasi maka semakin rendah tingkat terjadinya kecenderungan kecurangan (fraud) akuntansi. Hal ini menunjukkan bahwa adanya Komitmen Organisasi dapat mencegah terjadinya kecenderungan kecurangan (fraud) akuntansi pada koperasi simpan pinjam Se-Kecamatan Buleleng. Alasan itu diambil

dengan mempertimbangkan dan

berdasakan dari teori seperti berikut:

Komitmen organisasi menurut Meyer dan Allen (1991) dalam Umam (2010:258) sebagai suatu konstruk psikologi yang merupakan karakteristik hubungan anggota organisasi dengan organisasinya. Menurut Najahningrum (2013) komitmen organisasi merupakan sikap mental individu berkaitan

(10)

dengan tingkat keloyalannya terhadap organisasi tempat individu tersebut bekerja.

Menurut Ikhsan dan Iskak (2005) mengemukakan dua komponen mengenai komitmen organisasi, yaitu: komitmen afektif (affective commitment), komitmen normatif (normative commitment). Komitmen yang tinggi menjadikan individu lebih mementingkan organisasi daripada kepentingan pribadi dan berusaha menjadikan organisasi menjadi lebih baik, dan sebaliknya.

Penelitian ini sejalan dengan Mustikasari (2013) dan Purwati (2016) menyatakan bahwa terdapat pengaruh negatif antara komitmen organisasi dengan kecurangan (fraud) di sektor pemerintahan. Namun, tidak sejalan dengan Chandra (2015) menyatakan bahwa tidak ada pengaruh negatif komitmen organisasi terhadap kecenderungan kecurangan (fraud) akuntansi di sektor pemerintahan. SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Berdasarkan analisis yang telah dilakukan pada bab sebelumnya, maka kesimpulan yang dapat ditarik dari hasil penelitian tersebut adalah (1) kesesuaian kompensasi berpengaruh negatif terhadap kecenderungan kecurangan (fraud) akuntansi dengan hasil thitung (-2.080) lebih

besar dari ttabel (1,993) dan berada pada

taraf signifikan 0,024 < 0,05 dengan nilai koefesien regresi sebesar (- 0,185); (2) asimetri informasi berpengaruh positif terhadap kecenderungan kecurangan (fraud) akuntansi dengan hasil thitung (2,279)

lebih besar dari ttabel (1,993) dan berada

pada taraf signifikansi sebesar 0,026 < 0,05 dengan koefesien regresi sebesar (0,591); (3) budaya etis organisasi berpengaruh

negatif terhadap kecenderungan

kecurangan (fraud) akuntansi dengan hasil thitung (-2,892) lebih kecil dari ttabel (1,993) dan

berada pada taraf signifikansi sebesar 0,035 < 0,05 dengan Koefesien regresi (-0,183); dan (4) komitmen organisasi

berpengaruh negatif terhadap

kecenderungan kecurangan (fraud) akuntansi dengan hasil thitung (-3,002) lebih

besar dari ttabel (1,993) dan berada pada

taraf signifikansi sebesar 0,004 < 0,05 dengan koefesien regresi sebesar (-0,745). Saran

Berdasarkan pembahasan dan kesimpulan yang diperoleh dalam penelitian ini, adapun saran-saran yang dapat diberikan untuk hasil penelitian mengenai Pengaruh kesesuaian kompensasi, asimetri informasi, budaya etis organisasi dan

komitmen organisasi terhadap

kecenderungan kecurangan (fraud) akuntansi adalah (1) bagi koperasi simpan pinjam Se-KecamatanBuleleng diharapkan bagi para pimpinan koperasi simpan pinjam untuk dapat memberikan penghargaan (reward) yang sesuai berdasarkan pengembangan diri maupun prestasi kerjanya sehingga akan tercipta situasi yang kondusif dalam koperasi simpan pinjam tersebut. Selain itu, diharapkan juga agar

koperasi simpan pinjam

Se-KecamatanBuleleng melakukan

transparansi pelaporan keuangan agar informasi yang diterima pihak pengelola dengan pihak pemakai laporan keuangan seimbang sehingga tidak terjadi asimetri informasi atau kesenjangan informasi; dan (2) bagi penelitian selanjutnya diharapkan dapat memperluas lokasi penelitian agar hasil yang di dapat lebih akurat, karena dalam penelitian ini hanya meneliti 12 koperasi simpan pinjam sedangkan sampelnya adalah 20 koperasi simpan pinjam. Menambah metode pengumpulan data seperti wawancara langsung ke responden apabila waktu penelitian memungkinkan akan hal tersebut, untuk menghindari respon bias akibat penggunaan kuesioner. Serta menambah variabel penelitian yang tidak ada dalam penelitian ini, seperti penegakan peraturan, moralitas individu, dan lain-lain.

DAFTAR PUSTAKA

Artini, Ari. 2014. Pengaruh Budaya Etis Organisasi Dan Efektivitas Pengendalian Internal Terhadap

Kecenderungan Kecurangan

Akuntansi Pada Satuan Kerja Perangkat Daerah (Skpd) Kabupaten

(11)

Jembrana. e-Journal S1 Ak Universitas Pendidikan Ganesha. Jurusan Akuntansi Program S1.

Vol.2, No.1.

Balipost. 2015. Koperasi di Kabupaten

Buleleng Bangkrut. [Online]. [http://www.balipost.com, diakses tanggal 9 September 2016].

Chandra, Prapnalia Devia. 2015.

Determinan Terjadinya

Kecenderungan Kecurangan

Akuntansi (Fraud) Pada Dinas Pemerintah Kabupaten Grobogan.

Skripsi. Universitas Negeri Semarang.

Cressey, Donald R. 1953. Others people

money, A study in the social

psychology of Embezzlement.

Montclair: Patterson Smith.

Darma, Prawira. 2014. Pengaruh Moralitas

Individu, Asimetri Informasi dan Efektivitas Pengendalian Internal

Terdapat Kecenderungan

Kecurangan (Fraud) Akuntansi (Studi Empiris pada Badan Usaha Milik Daerah Kabupaten Buleleng). Skripsi.

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja.

Faramita, Desy. 2011. Analisis Pengaruh

Asimetri Informasi terhadap

Kebijakan Deviden pada Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Indonesia

Periode 2002-2009. Skripsi.

Universitas Diponegoro, Semarang. [Diunduh 26 September 2016]. Ghozali, Imam. 2011. Aplikasi Analisis

Multivariate dengan Program SPSS.

Semarang : Badan Penerbit Universitas Diponegoro.

Ikhsan, Arfan & Muhammad Ishak. 2005.

Akuntansi Keperilakuan. Jakarta: Salemba Empat.

Kusumastuti, Nur Ratri. 2012. Analisis

Faktor-Faktor yang Berpengaruh

terhadap Kecenderungan

Kecurangan Akuntansi dan Perilaku Tidak Etis sebagai Variabel Intervening. Skripsi. Semarang :

UNDIP.

Lestari, Ayu. 2015. Pengaruh Pengendalian Internal Dan Budaya Etis Organisasi

Terhadap Kecenderungan

Kecurangan (Fraud) Pada Koperasi Simpan Pinjam Di Kecamatan Buleleng. e-journal S1 Ak Universitas

Pendidikan Ganesha. Jurusan

Akuntansi S1. Vol.3, No.1.

Mustika, Dermawati Putri. 2013. Persepsi

Pegawai Dinas Se-Kabupaten Batang tentang Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Kecurangan (Fraud).

Skripsi. Semarang : Universitas Negeri Semarang. [Diunduh 27 September 2016].

Najahningrum, Anik Fatun. 2013.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi

Kecenderungan Kecurangan (Fraud): Persepsi Pegawai Dinas Provinsi DIY. Skripsi. Universitas Negeri Semarang, Semarang. [Diunduh 26 September 2016].

Purwanti, Sri. 2016. Pengaruh Sistem

Pengendalian Internal, Kesesuaian Kompensasi, Moralitas Manajemen, Penegakan Hukum / Peraturan, Komitmen Organisasi Dan Asimetri Informasi Terhadap Kecenderungan Kecurangan Akuntansi (Fraud) (Studi

Kasus Pada Dinas Kabupaten

Kudus). Skripsi. Kudus : Universitas

Muria Kudus. [Diunduh 27 September 2016].

Rae and Subramaniam. 2008. Quality Of Internal Control Procedures Antecedents And Moderating Effect On Organisational Justice And Employee Fraud. Managerial Auditing

Journal. Vol. 23, No. 2, Hal: 104-124.

[Diunduh 26 September 2016]. Republik Indonesia. 1992. Undang-undang

(12)

Umam, Khaerul. 2010. Perilaku Organisasi

Edisi Pertama. Bandung : Pustaka

Setia.

Veithzal, Rivai. 2011. Manajemen Sumber

Daya Manusia Untuk Perusahaan.

Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada. Wilopo. 2006. Analisis Faktor-Faktor yang

Berpengaruh terhadap

Kecenderungan Kecurangan

Akuntansi : Studi pada Perusahaan Publik dan BUMD di Indonesia.

Simposium Nasional Akuntansi 9 Padang. [Melalui www.google.com].

Zulkarnain, Rifqi Mirza. 2013. Faktor

Faktor yang Mempengaruhi

Terjadinya Fraud di Sektor

Pemerintahan (Studi Kasus Pada Dinas Se - Kota Surakarta). Skripsi.

UNNES. [Diunduh tanggal 9 September 2016].

Gambar

Tabel 1 Analisis Regresi Linier Berganda  Coefficients a   Model  Unstandardized Coefficients  Standardized Coefficients  T  Sig

Referensi

Dokumen terkait

Uraian sejarah dakwah Muhammadiyah di atas pada dasarnya tidak bisa lepas dari semangat purifikasi, pembaharuan Islam dan telaah normatif Ahmad Dahlan, sebagai pendirinya..

Pada proses pembelajaran pada siklus II diperoleh ketuntasan hasil belajar yaitu 74,40 karena siswa sudah terbiasa dengan model pembelajaran inkuiri ,siswa sudah aktif

Berdasarkan evaluasi yang dilakukan pada siklus pertama, maka akan dilakukan tindakan pada pelaksanaan siklus II, langkah pelaksanaan masih sama seperti siklus I

demikian, pada kenyataannya banyak siswa yang tidak memiliki keterampilan berpidato dengan baik. Minat secara umum dapat diartikan sebagai suatu kecenderungan yang

oleh orang tua saat melakukan komunikasi dengan cara bertatapan muka langsung dengan anak ketika melakukan komunikasi dan memberikan pesan kepada anak (Pusungulaa,et al.

Tingginya rasio FDR ini, di satu sisi menunjukkan pendapatan bank yang semakin besar, tetapi menyebabkan suatu bank menjadi tidak likuid dan memberikan

Penentuan cemaran timbal dan timah dalam makanan dilakukan dengan cara menimbang 5 gram sampel buah cabe jawa dan masukkan ke dalam cawan porselen.. Ditambahkan 10 mL

Pada tahap ini, peneliti membuat perencanaan perbaikan pembelajaran berdasarkan hasil analisis pada siklus II, yaitu sebagai berikut. 1) Pada siklus ketiga peneliti tetap