PENGARUH PENGUNGKAPAN INFORMASI CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY TERHADAP EARNINGS
RESPONSE COEFFICIENT PADA PERUSAHAAN HIGH PROFILE YANG TERDAFTAR
DI BURSA EFEK INDONESIA 2010-2012
Fabita Triastuti, S.E.
Akuntansi/Fakultas Bisnis dan Ekonomika [email protected]
Abstrak - Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh pengungkapan informasi Corporate Social Responsibility (CSR) terhadap Earnings Response Coefficient (ERC). Penelitian ini menggunakan indikator Global Reporting Initiatives (GRI) dalam mengukur pengungkapan CSR perusahaan. Sampel yang digunakan adalah perusahaan high profile. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengungkapan informasi CSR mempengaruhi ERC secara postif, tetapi tidak signifikan. Hasil ini mengindikasikan bahwa pengungkapan CSR tidak mampu membantu investor dalam menginterpretasikan laba dengan lebih baik, sehingga investor tidak akan mempertimbangkan pengungkapan CSR dalam pengambilan keputusan investasi. Investor akan tetap melihat laba sebagai indikator earning power dan return di masa mendatang.
Kata kunci: Pengungkapan Corporate Social Responsibility, Earnings Response Coefficient, perusahaan high profile
PENDAHULUAN
Selama beberapa dekade terakhir ini, CSR menjadi isu penting bagi perusahaan. Isu ini berkembang ketika banyaknya masalah yang disebabkan oleh industri atau perusahaan yang memberikan dampak negatif terhadap lingkungan.
Dampak negatif ini akan berpengaruh pada citra perusahaan itu sendiri.
Perusahaan high profile sering memperoleh sorotan dari masyarakat terkait dengan isu CSR dan aktivitas operasinya yang memiliki potensi untuk bersinggungan dengan kepentingan luas. Industri ini memiliki tingkat sensitivitas yang tinggi terhadap lingkungan, risiko politis yang tinggi, atau menghadapi persaingan yang tinggi (Hackston dan Milne, 1996).
Ball dan Brown (1968), Beaver (1968), Foster (1977) dalam Palupi (2006) menyatakan bahwa laba merupakan salah satu bagian dari laporan keuangan yang mendapat banyak perhatian dan banyak penelitian membuktikan adanya hubungan yang sangat erat antara laba dengan tingkat return saham perusahaan. Dalam sebuah survei global yang dilakukan oleh The Economist Intelligence Unit menunjukkan bahwa 85% eksekutif senior dan investor dari berbagai organisasi
menjadikan CSR sebagai pertimbangan utama dalam pengambilan keputusan (Warta Ekonomi, 2006). Hal ini membuktikan bahwa sudah saatnya bagi setiap perusahaan maupun instansi untuk memperhatikan CSR. Bagi stakeholders informasi tersebut dapat menjadi dasar dalam pengambilan keputusan.
Gelb dan Zarowin (2002) menguji hubungan antara luas ungkapan sukarela dengan keinformatifan harga saham. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perusahaan yang lebih banyak melakukan pengungkapan sukarela akan memiliki ERC yang lebih besar. Dhouthett Jr. et al (2003) menguji hubungan laba dan return (ERC) dengan tingkat pengungkapan pada perusahaan asing yang memperdagangkan sahamnya di pasar modal U.S. Hasil penelitian menunjukkan bahwa high disclosure lebih mengungkapkan informasi sensitif dan kompetitif perusahaan dibandingkan low disclosure. Selain itu, hasil penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat luas pengungkapan, maka akan semakin tinggi ERC. Luo, Courtenay dan Hossain (2006) melakukan penelitian yang sama dengan kedua penelitian di atas, mengenai luas ungkapan sukarela dan ERC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perusahaan dengan tingkat pengungkapan sukarela yang lebih tinggi mengandung informasi yang lebih banyak tentang kinerja masa depan dalam return saham mereka saat ini.
Sayekti dan Wondabio (2007) menguji pengaruh tingkat pengungkapan informasi CSR dalam laporan tahunan perusahaan terhadap ERC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh negatif signifikan antara pengungkapan CSR dan ERC. Hasil ini mengindikasikan bahwa investor mengapresiasi informasi CSR yang diungkapkan perusahaan dalam laporan tahunannya untuk mengambil keputusan investasi.
Hidayati dan Murni (2009) menguji pengaruh pengungkapan CSR terhadap value relevance laba (ERC) pada perusahaan high profile. Hasilnya menunjukkan bahwa pengungkapan informasi CSR pada perusahaan high profile mampu mempengaruhi relevansi laba secara signifikan dengan bentuk interaksi negatif, artinya semakin banyak informasi yang diungkapkan perusahaan mengenai CSR maka relevansi nilai laba akan semakin menurun.
Banghøj dan Plenborg (2008) yang menguji apakah semakin luas pengungkapan sukarela dalam laporan tahunan akan mengurangi asimetri
informasi antara perusahaan dan investor di Denmark, asimetri informasi diproksi dengan hubungan return dan laba (ERC). Hasilnya menunjukkan bahwa pengungkapan sukarela dalam laporan tahunan mempengaruhi hubungan return dan laba secara positif, tetapi tidak signifikan karena investor tidak mampu menggunakan informasi sukarela dalam mengestimasi nilai perusahaan.
Adhariani (2005) menghipotesiskan adanya hubungan positif antara luas ungkapan sukarela dengan ERC. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa tingkat keluasan ungkapan sukarela dalam laporan tahunan berhubungan positif, tetapi tidak signifikan dengan ERC. Dari hasil penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa informasi laba dan pengungkapan sukarela bersifat komplementer dalam mempengaruhi imbal hasil saham.
Lev (1989) dalam Luo, Courtenay, Hossain (2006) mengatakan bahwa laba memiliki hubungan yang erat dengan return, namun hubungan tersebut secara statistik menurun dari waktu ke waktu. Dengan demikian, kegunaan dari informasi laba tersebut bagi investor sangat terbatas. Jika hubungan statistik antara informasi keuangan dengan market value menurun sejalan dengan waktu (over time), Francis dan Schipper (1999) dalam Linda dan Syam (2005) beragumen bahwa relevansi nilai dari informasi lain meningkat.
Pinasti (2004) menyatakan dari waktu ke waktu semakin banyak tersedia informasi alternatif, selain informasi akuntansi bagi investor di pasar modal.
Informasi-informasi alternatif tersebut semakin banyak digunakan oleh investor dalam penilaian perusahaan. Beralihnya investor kepada sumber-sumber informasi alternatif tersebut mengakibatkan menurunnya relevansi-nilai informasi akuntansi dari waktu ke waktu. Sebagaimana dinyatakan Rimerman (1990) dalam Pinasti (2004), beberapa kebutuhan informasi pemakai laporan keuangan yang tidak dapat dipenuhi oleh informasi akuntansi, menyebabkan investor berpaling ke informasi-informasi non-akuntansi. Salah satu informasi alternatif yang dapat digunakan investor untuk mengukur nilai perusahaan adalah informasi mengenai CSR. Jika investor memperhatikan pengungkapan informasi CSR dalam pengambilan keputusan investasi maka perhatian investor terhadap laba secara tidak langsung menurun sehingga ERC menjadi lebih kecil.
Berdasarkan latar belakang dari penelitian terdahulu, penelitian ini akan menguji apakah pengungkapan CSR mampu meningkatkan respon investor terhadap laba (ERC). Earnings Response Coefficient (ERC) ini mengukur besarnya abnormal return saham dalam merespon komponen kejutan dari laba (unexpected earning) yang dilaporkan (Scott, 2006). Target populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah semua perusahaan high profile yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2010-2012 dan telah mempublikasikan annual report selama tahun 2010-2012 secara berturut-turut, yaitu sebanyak 123 perusahaan. Pengambilan sampel ditentukan secara purposive sampling sehingga didapatkan sampel penelitian sebesar 55 perusahaan.
Respon investor terhadap laba diamati dalam window period tertentu.
Dalam penelitian ini menggunakan periode 15 bulan, karena jika terlalu pendek maka tidak dapat menunjukkan reaksi pasar yang mungkin terjadi di luar time interval, misalnya karena reaksi investor yang lambat (Lev, 1989 dalam Sayekti dan Ludovicius, 2007). Sebaliknya, jika terlalu panjang maka dapat memberikan pengukuran yang bias mengenai kontribusi informasi yang diungkapkan oleh perusahaan. Collins et al. (1989) dalam Lev (1989) dalam Sayekti dan Ludovicius (2007) menemukan bahwa yang paling optimal adalah perhitungan return dalam jangka waktu 15 bulan.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan data sekunder yang diperoleh dari laporan tahuan untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2010, 2011 dan 2012 pada perusahaan high profile yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) sebagaimana yang tercantum dalam Indonesia Capital Market Directory (ICMD).
Dari 123 perusahaan yang terdaftar tahun 2010-2012, sampel penelitian ini menggunakan 55 perusahaan. Pengambilan sampel dalam penelitian ini ditentukan secara purposive sampling.
Tabel 1. Pemilihan Sampel
Keterangan Jumlah
Total populasi high profile 123
Tidak mempublikasikan annual report selama 2010-2012 secara berturut-turut (8) Tidak mengungkapkan informasi CSR dalam
annual report 2010-2012 (25)
Tidak menerbitkan laporan keuangan dengan
satuan rupiah periode 2010-2012 (29) Tidak memiliki closing price periode 2010-2012 (5) Tidak memiliki beta saham tahun 2010-2012 (1)
Total sampel 55
Adapun perusahaan yang termasuk kategori high profile antara lain perusahaan perminyakan dan pertambangan, kimia, kertas, otomotif, agribisnis, kehutanan, tembakau dan rokok, produk makanan dan minuman, media dan komunikasi, engineering, kesehatan, transportasi, serta pariwisata (Robert, 1992 dalam Hackston dan Milne, 1996). Variabel dependen dalam penelitian ini adalah Cumulative Abnormal Return (CAR). Sedangkan Unexpected Earnings (UE) sebagai variabel independen. Pengungkapan CSR (CSRI) berfungsi sebagai variabel moderating antara UE dan CAR. Variabel persistensi laba (PERS), pertumbuhan perusahaan (PBV), struktur modal (LEV) dan BETA dalam penelitian ini sebagai variabel kontrol.
Untuk menguji pengaruh pengungkapan CSR terhadap ERC, digunakan analisis regresi linear berganda. Penelitian ini mengajukan 2 model, model pertama akan menjelaskan apakah pengungkapan CSR akan memperkuat hubungan CAR dan UE tanpa menggunakan variabel kontrol, sedangkan pada model kedua juga muguji hal sama namun dengan memasukkan variabel kontrol.
Model analisis yang digunakan dalam pengujian hipotesis adalah:
𝐶𝐴𝑅 = 𝛼0+ 𝛼1𝑈𝐸 + 𝛼2𝐶𝑆𝑅𝐼 + 𝛼3𝑈𝐸∗𝐶𝑆𝑅𝐼 + 𝜀………...…..…(1)
𝐶𝐴𝑅 = 𝛽0+ 𝛽1𝑈𝐸 + 𝛽2𝐶𝑆𝑅𝐼 + 𝛽3𝐵𝐸𝑇𝐴 + 𝛽4𝑃𝐵𝑉 + 𝛽5𝑃𝐸𝑅𝑆 + 𝛽6 𝐿𝐸𝑉 + 𝛽7𝑈𝐸∗𝐶𝑆𝑅𝐼 + 𝛽8𝑈𝐸∗𝐵𝐸𝑇𝐴 + 𝛽9𝑈𝐸∗𝑃𝐵𝑉 +
𝛽10𝑈𝐸∗𝑃𝐸𝑅𝑆 + 𝛽11𝑈𝐸∗𝐿𝐸𝑉 + 𝜀……….…..(2) Keterangan:
CAR = Cummulative Abnormal Return harian perusahaan selama periode 15 bulan mulai 1 Januari 2010 sampai dengan 31 Maret 2013
UE = Unexpected Earnings perusahaaan yang dihitung dengan menggunakan asumsi random walk.
CSRI = Corporate Social Disclosure Index, yang dihitung dengan menggunakan dummy variable.
BETA = Beta risiko yang diperoleh dari www.bloomberg.com
PBV = Price to Book Value yang digunakan untuk mengukur pertumbuhan perusahaan.
LEV = Leverage yang digunakan untuk mengukur struktur modal.
ε = error term
Instrumen pengukuran CSRI yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada indikator Global Reporting Initiatives (GRI), yang mengelompokkan informasi CSR ke dalam 6 kategori: ekonomi, lingkungan hidup, praktek tenaga kerja, Hak Asasi Manusia, kemasyarakatan, dan tanggung jawab produk. Total item pengungkapan CSR sebanyak 79 item. Checklist item pengungkapan CSR dapat dilihat pada lampiran 1. Setiap item CSR dalam instrumen penelitian diberi nilai 1 jika diungkapakan, dan nilai 0 jika tidak diungkapkan.
HASIL DAN PEMBAHASAN Deskriptif Statistik Sampel
Tabel 2. Statistika Deskriptif
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
Statistic Statistic Statistic Statistic Std. Error Statistic
CAR 165 -1.97 2.79 .1414 .05042 .64767
UE 165 -.79 2.71 .0390 .02555 .32822
CSRI 165 .04 .97 .0854 .00954 .12249
PBV 165 -.65 18.04 2.5445 .20885 2.68270
BETA 165 -.15 1.91 .9154 .02521 .32384
UE_CSRI 165 -.06 .10 .0023 .00151 .01936
UE_BETA 165 -.70 2.10 .0294 .02160 .27750
UE_PBV 165 -1.21 3.36 .0577 .02851 .36619
PERS 165 .00 1.00 .3455 .03713 .47696
LEV 165 .00 25.29 2.6305 .18079 2.32233
UE_LEV 165 -1.89 21.83 .2203 .14071 1.80740
UE_PERS 165 -.77 2.04 .0197 .01780 .22867
Valid N
(listwise) 165
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa nilai minimum CAR adalah -1,97 dan nilai maksimum adalah 2.79. Nilai abnormal return yang negatif ini berarti bahwa actual return yang dihasilkan perusahaan lebih kecil dibandingkan dengan expected return perusahaan.
Nilai minimum UE adalah -0,79. Sedangkan nilai maksimum adalah 2.71.
Nilai UE yang negatif ini mengindikasikan bahwa kinerja perusahaan tersebut lebih buruk dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan sampel lainnya karena laba aktual yang dihasilkan perusahaan lebih rendah daripada laba yang diekspektasikan. Oleh karena itu, pihak manajemen perusahaan harus lebih berhati-hati dan harus memiliki pertimbangan yang akurat dan tepat dalam menentukan target kinerjanya untuk tahun mendatang.
Nilai minimum CSRI adalah 0,04. Nilai minimum tersebut dapat mengindikasikan bahwa perusahaan tersebut hanya melakukan salah satu pengungkapan dari ketiga fokus pengungkapan utama dari GRI, yaitu sosial, lingkungan dan ekonomi. Sedangkan nilai maksimum adalah 0,97. Nilai maksimum tersebut hampir mendekati 1 yang berarti bahwa perusahaan dapat dianggap telah melakukan 3 fokus pengungkapan utama dari indikator GRI.
Dalam hasil statistik deskriptif ini, dapat dilihat nilai rata-rata CSRI adalah sebesar 0,0854. Angka ini mengalami penurunan bila dibandingkan dengan penelitian tahun 2005 yang dilakukan oleh Sayekti dan Wondabio (2007), dimana pada tahun 2005 nilai rata-rata CSRI adalah sebesar 0,201751. Hasil ini menunjukkan bahwa terjadi penurunan perhatian perusahaan terhadap pengungkapan CSR dalam laporan tahunannya. Hal ini tentu menimbulkan kontradiksi karena saat ini konsep CSR semakin berkembang dan lebih mendapat perhatian publik tetapi perusahaan justru kurang memberikan respon yang positif.
Oleh karena itu, perlu diteliti lebih lanjut alasan yang menjadi dasar pertimbangan manajemen perusahaan dalam mengungkapkan informasi aktivitas CSR-nya dalam laporan tahunan.
Persistensi laba dalam penelitian ini memiliki nilai minimum 0 dan nilai maksimum 1. Nilai minimum dari persistensi laba ini adalah milik perusahaan yang labanya permanen (persisten), sedangkan nilai maksimum adalah milik perusahaan yang labanya transitori. Semakin permanen perubahan laba dari waktu
ke waktu maka semakin tinggi koefisien laba karena kondisi ini menunjukkan bahwa laba yang diperoleh perusahaan meningkat secara terus menerus.
Nilai minimum PBV adalah -0,65. Sedangkan nilai maksimum adalah 18,04. Nilai maksimum ini menunjukkan bahwa perusahaan tersebut memiliki kemungkinan pertumbuhan yang tinggi, sedangkan perusahaan dengan nilai PBV rendah memiliki kemungkinan bertumbuh yang lebih rendah. Oleh karena itu perusahaan dengan nilai PBV yang rendah harus lebih meningkatkan kinerjanya karena para investor tentu cenderung lebih menyukai perusahaan-perusahaan dengan growth opportunities yang tinggi.
Nilai minimum BETA adalah -0,15. Sedangkan nilai maksimum adalah 1,91. Hal ini berarti bahwa tingkat pengembalian di masa mendatang untuk perusahaan yang memiliki nilai BETA yang tinggi lebih berisiko dibandingkan perusahaan lainnya. Oleh karena itu, para investor sebagai pihak yang mengharapkan tingkat return yang tinggi harus mempertimbangkan dengan hati- hati dan lebih waspada terhadap keputusan investasinya pada perusahaan dengan nilai BETA yang tinggi.
Nilai minimum LEV adalah 0,00. Sedangkan nilai maksimum adalah 25,29. Hal ini berarti perusahaan dengan rasio leverage yang tinggi memiliki utang yang lebih besar dibandingkan modal, sehingga jika terjadi peningkatan laba maka yang diuntungkan adalah debtholders.
Uji Asumsi Klasik
Untuk pengujian normalitas data, dilakukan dengan uji Kolmogrov- Smirnov. Dari nilai Asym.Sig (2-tailed) dapat dilihat bahwa dari kedua model, nilai Asym.Sig (2-tailed) > , sehingga dapat dinyatakan bahwa data berasal dari sampel yang berdistribusi normal.
Tabel 3. One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test (Model I)
Unstandardized Residual
N 165
Kolmogorov-Smirnov Z 1.192
Asymp. Sig. (2-tailed) .117
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
Tabel 4. One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test (Model II) Unstandardized Residual
N 165
Normal Parametersa,b Mean .0000000
Std. Deviation .56773030
Most Extreme Differences Absolute .093
Positive .093
Negative -.059
Kolmogorov-Smirnov Z 1.200
Asymp. Sig. (2-tailed) .112
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
Heteroskedastisitas diuji dengan menggunakan uji Glejser. Jika nilai probabilitas > 0,05 model regresi dikatakan tidak mengandung heterodskedastisitas. Hasil pengujian pada model I dan II menunjukkan adanya masalah heteroskedastisitas sehingga untuk itu perlu dilakukan metode box plot yaitu pembuangan data yang benar-benar exreme atau outlier. Setelah melakukan box plot dapat dilhat bahwa data telah terbebas dari masalah heteroskedastisitas.
Tabel 5. Uji heteroskedastisitas Model I Model
T Sig.
1 (Constant) 13.821 .000
UE -.156 .877
CSRI -.304 .762
UE_CSRI .170 .866
Tabel 6. Uji heteroskedastisitas Model II Model
t Sig.
1 (Constant) 5.182 .000
UE -.031 .975
CSRI -1.068 .287
PBV .248 .805
BETA -.083 .934
UE_CSRI -1.229 .221
UE_BETA -.550 .583
UE_PBV 1.414 .160
PERS 1.244 .216
LEV -.157 .875
UE_LEV -1.164 .246
UE_PERS 1.449 .150
a. Dependent Variable: ABS_RES2
Uji multikolinieritas merupakan indikasi adanya hubungan linear di antara variabel independen. Pengujian ini dilakukan dengan menggunakan VIF (variance inflation factor). Hasil pengujian multikolinieritas menunjukkan bahwa nilai VIF pada model I di bawah 10 (paling tinggi sebesar 3,448) dan nilai toleransi yang tinggi sehingga dinyatakan bahwa variabel independen bebas dari multikolinieritas. Sedangkan pada model II nilai VIF berkisar antara 1,044 hingga 28,496. Hal ini berarti telah terjadi kolinearitas yang sangat tinggi antar vaiabel tersebut. Menurut Pratisto (2004), multikolineritas dapat dihilangkan dengan cara menghilangkan variabel independen yang memiliki kolinearitas tinggi. Variabel yang memiliki kolinearitas tinggi adalah BETA, maka variabel yang dihilangkan adalah BETA. Setelah variabel BETA dihilangkan, nilai VIF menjadi berkisar antara 1,023 hingga 8,851. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa data yang digunakan terbebas dari multikolineritas.
Pengujian autokorelasi dilakukan dengan melihat nilai Durbin Watson, yaitu nilai dw harus berkisar 1,55 sampai 2,46 (Priyatno, 2009). Nilai Durbin Watson yang diperoleh dari pengolahan SPSS pada kedua model adalah sebesar 1,829 dan 1,641, nilai ini berada di antara 1,55 dan 2,46 sehingga dapat dinyatakan tidak terjadi autokorelasi antar variabel independen dalam model.
Analisis Regresi Berganda
Pada model I, dapat diketahui bahwa nilai signifikansi dari UE adalah 0,173, CSRI adalah 0,015, UE*CSRI adalah 0,422. Nilai signifikansi dari CSRI >
α (5%), maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada pengaruh yang signifikan antara variabel independen CSRI dengan CAR.
Hasil uji F menunjukkan bahwa pada model I menunjukkan hasil yang signifikan. Tingkat signifikansi F adalah sebesar 0,000 menunjukkan bahwa variabel independen (UE, CSRI, UE*CSRI) secara bersama-sama mempengaruhi variabel dependen (CAR).
Tabel 7. Hasil Analisis Regresi Model I
Koefisien T Sig Adj R2 F Test
(Constant) .119 2.641 .009
.103 6.870
(0.000)
UE .508 1.369 1.369
CSRI -.727 -2.456 .015
UE_CSRI 3.364 .805 .422
Pada model II dapat diketahui bahwa nilai signifikansi dari UE adalah 0,282, CSRI adalah 0,020, PBV adalah 0,802, PERS adalah 0,661, LEV adalah 0,589, UE*CSRI adalah 0,458, UE*PBV adalah 0,013, UE*PERS adalah 0,427, UE*LEV adalah 0,137. Nilai signifikansi dari UE, PBV, PERS, LEV, UE*CSRI, UE*PERS, UE*LEV > α (5%), maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada pengaruh yang signifikan antara ketujuh variabel independen tersebut dengan CAR. Nilai signifikansi dari CSRI, UE*PBV < α (5%). Jadi, yang memiliki pengaruh signifikan terhadap CAR adalah CSRI dan UE*PBV.
Hasil uji F pada model II menunjukkan tingkat signifikansi F sebesar 0,000, lebih kecil dari 0,05, sehingga model baik dan variabel independen dapat digunakan untuk memprediksi variabel dependen.
Tabel 8. Hasil Analisis Regresi Model II
Koefisien T Sig Adj R2 F Test
(Constant) .117 1.480 .141
.227 6.063
(0.000)
UE .368 1.080 .282
CSRI -.720 -2.354 .020
UE_CSRI .004 .251 .802
PBV 3.332 .744 .458
UE_PBV .488 2.513 .013
PERS .036 .440 .661
LEV -.010 -.541 .589
UE_PERS -.-72 -1.496 .137
UE_LEV -.302 .797 .427
Variabel kontrol pertumbuhan perusahaan pada model II menunjukkan nilai signifikansi t sebesar 0,013 yang berarti ada pengaruh yang signifikan antara pertumbuhan perusahaan dengan ERC. Sebaliknya dengan variabel struktur modal yang memiliki nilai signifikansi t sebesar 0,137, yang berarti tidak memberikan pengaruh signifikan. Begitu pula dengan variabel persistensi laba yang memiliki signifikansi t sebesar 0,427, yang berarti tidak memberikan pengaruh signifikan
Selanjutnya, dari hasil uji t di atas, pengungkapan informasi CSR memberikan pengaruh yang positif dan tidak signifikan terhadap ERC, baik pada model I maupun model II. Hasil ini menjawab hipotesis, yaitu tidak ada yang signifikan antara pengaruh pengungkapan informasi CSR terhadap ERC. Hasil penelitian ini menunjukkan masih kurang kuat pengaruh tingkat pengungkapan informasi CSR terhadap ERC. Luas ungkapan CSR dalam laporan tahunan tidak mampu membantu investor dalam menginterpretasikan laba dengan lebih baik.
Hal ini kemungkinan disebabkan karena informasi tersebut belum dapat dipercaya oleh investor dalam menilai persistensi laba suatu perusahaan.
Secara rata-rata, perusahaan telah melakukan pengungkapan CSR dalam laporan tahunannya, namun ternyata luasnya pengungkapan tersebut belum dapat meningkatkan respon investor terhadap laba, artinya perusahaan yang labanya kecil walaupun melakukan banyak pengungkapan CSR, tidak akan bermanfaat atau tetap mendapat respon yang buruk. Belum adanya bentuk formal dari pengungkapan aktivitas CSR perusahaan dan sifat pengungkapan CSR yang masih sukarela juga dapat menjadi penyebab kurang kuatnya pengaruh tingkat pengungkapan informasi CSR terhadap ERC.
Alasan lain untuk menjawab hasil penelitian ini adalah bahwa pengungkapan informasi CSR dalam laporan tahuanan bukan merupakan salah satu jenis pengungkapan sukarela yang digunakan investor dalam mengambil keputusan. Dari penelitian sebelumnya jenis pengungkapan sukarela yang terbukti dapat meningkatkan respon investor terhadap laba adalah investor relation disclosure dan other publication disclosure (Gelb dan Zarowin, 2002)
Dari hasil penelitian ini, pengungkapan CSR memang bukan hal yang perlu dipertimbangkan dalam keputusan investasi bagi investor karena tidak cukup memberikan informasi tentang prospek perusahaan di masa mendatang.
Investor akan melihat laba sebagai indikator earning power dan return di masa mendatang.
Pemerintah sebagai pihak yang berwenang dalam membuat peraturan harus lebih memberikan perhatian terhadap peraturan yang berhubungan dengan pengungkapan informasi CSR. Hal ini bertujuan untuk agar perusahaan yang ada di Indonesia mau menerapkan dan mengungkapkan aktivitas CSR yang dilakukannya dengan lebih serius dan konsisten. Bila pelaku pasar memberikan apresiasi yang lebih tinggi, perusahaan diharapkan akan semakin berkembang.
Pengungkapan informasi CSR dalam laporan tahunan sangatlah penting karena tidak semua orang dalam masyarakat mengetahui aktivitas CSR yang dilakukan oleh suatu perusahaan apalagi jika masyarakat tersebut bukanlah pihak yang merasakan langsung program CSR yang dilakukan tersebut. Pengungkapan tersebut diharapkan dapat membantu seluruh masyarakat agar dapat mengetahui
setiap program CSR yang dilakukan perusahaan serta diharapkan masyarakat akan mengapresiasi dan bersimpati terhadap perusahaan tersebut.
Pihak manajemen perlu menyiapkan suatu wadah yang lebih baik dan lebih luas dibandingkan laporan tahunan yang dapat digunakan untuk mengungkapkan informasi CSR perusahaan secara lebih mendetail dan spesifik misalnya melalui sustainability report.
KESIMPULAN DAN SARAN
Hasil penelitian ini membuktikan bahwa pengungkapan informasi CSR dalam laporan tahunan mempengaruhi ERC secara positif, tetapi tidak signifikan.
Luas ungkapan CSR tidak dapat membantu investor dalam menginterpretasikan laba dengan lebih baik. Investor akan tetap melihat laba sebagai indikator earning power dan return di masa mendatang untuk pengambilan keputusan investasi.
Periode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini hanya dibatasi 3 tahun yaitu pada tahun 2010, 2011 dan 2012. Diharapkan pada penelitian selanjutnya menggunakan periode yang lebih panjang (lebih dari 3 periode) sehingga dapat memberikan informasi, gambaran dan pengaruh yang lebih akurat terhadap dampak pengungkapan CSR yang baru bisa dirasakan di masa mendatang.
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini dibatasi hanya menggunakan perusahaan high profile sehingga tidak dapat digeneralisasi untuk semua jenis perusahaan di Indonesia. Selain itu, terjadinya multikolinearitas yang sangat tinggi pada variabel BETA, sehingga variabel tersebut dihilangkan dan tidak dimasukkan ke dalam model regresi. Oleh sebab itu, untuk penelitian selanjutnya dapat menambah jumlah sampel perusahaan dan juga menggunakan sampel dari seluruh jenis industri. Selain itu juga menghitung pengaruh CSR terhadap ERC pada perusahaan low profile, sehingga dapat dilihat juga apakah tipe industri berpengaruh terhadap ERC.
DAFTAR PUSTAKA
Adhariani, Desy. 2005. “Tingkat Keluasan Pengungkapan Sukarela Dalam Laporan Tahunan dan Hubungannya dengan Earning Response Coefficient
(ERC)”. Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia, Vol.2, No.1, Juli, p.24 – 57.
Balsam, S., Krishnan, J. & Yang, J.S. 2003. “Auditor Industry Specialization and Earnings Quality”. Auditing: A Journal of Practice & Theory, 22. 2, 71-97.
BanghØj, Jesper, Thomas Plenborg. 2008. “Value Relevance of Voluntary Disclosure in the Annual Report”. Accounting and Finance, 48 (2008) 159–
180.
Diana, Shinta Rahma dan Kusuma, Indra Wijaya. 2004. Pengaruh Faktor Kontekstual Terhadap Kegunaan Earnings dan Arus Kas Operasi dalam Menjelaskan Return Saham. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia Vol.7, No.1 (Januari), 74-93.
Douthett Jr., Edward B., Duchac, Jonathan E., Haw, In-Mu., Lim, Steve C. 2003.
Differential Levels of Disclosure and The Earnings-Return Association:
Evidence From Foreign Registrants in the United States. The International Journal of Accounting 38 (2003) 145-162.
Fraser, Lyn M., dan Aileen Ormiston. 2013. Understanding Financial Statement, 10th edition. New Jersey: Prentice Hall.
Gelb, D., and P. Zarowin. 2002. “Corporate Disclosure Policy and The Informativeness of Stock Prices”. Review of Accounting Studies,7, 33-52, 2002.
Ghozali, Imam. 2006. Analisis Multivariate Lanjutan dengan Program SPSS.
Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Global Reporting Initiative (GRI). 2006. Pedoman Laporan Keberlanjutan.
https://www.globalreporting.org/resourcelibrary/Bahasa-Indonesia- G3- Reporting-Guidelines.pdf (diakses pada 19 Mei 2013)
Hackston, David and Markus J. Milne, 1996. “Some Determinants of Social and Environmental Disclosure in New Zealand Companies”. Accounting, Auditing and Accountability Journal, Vol. 9 No. 1, p. 77- 100.
Hidayati, Naila Nuur dan Murni, Sri. 2009. Pengaruh Pengungkapan Corporate Social Responsibility Terhadap Earning Response Coefficient Pada Perusahaan High Profile. Jurnal Bisnis dan Akuntansi Vol.11, April 2009, 1- 18
Husnan, Suad. 2003. Dasar-Dasar Teori Portofolio dan Analisis Sekuritas, edisi ketiga. Yogyakarta: UPP AMP YKPN.
Jogiyanto. 2009. Teori Portofolio dan Analisis Investasi, edisi keenam.
Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta.
Mayangsari, Sekar. 2004. Bukti Empiris Pengaruh Spesialis asi Industri Auditor terhadap Earnings Response Coefficient. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia Vol.7, No.2 (Mei), 154-178.
Linda, dan Fazli Syam BZ. 2005. Hubungan Laba Akuntansi, Nilai Buku, dan Total Arus kas dengan Market Value: Studi Akuntansi Relevansi Nilai.
Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Vol.8, No.3, September 2005. Hlm 286- 306.
Luo, Shuqing., Courtenay, Stephen M., and Hossain, Mahmud. 2006. The Effect of Voluntary Disclosure, Ownership Structure and Propietory Cost on the Return-Future Earnings Relation. Pacific-Basin Finance Journal 14 (2006) 501-521.
Palupi, Jati Margaretta, 2006. “Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Koefisien Respon Laba: Bukti Empiris pada Bursa Efek Jakarta”. Jurnal EKUBANK. Vol. 3 Edisi November, Hal. 9-24.
Pinasti, Margani. 2004. Faktor-faktor yang Menjelaskan Variasi Relevansi-Nilai Informasi Akuntansi: Pengujian Hipotesis Informasi Alternatif. Simposium Nasional Akuntansi VII. Hlm. 738-753.
Pratisto, Arif. 2004. Cara Mudah Mengatasi Masalah Statistik dan Rancangan Percobaan dengan SPSS 12. Elex Media Komputindo, Jakarta.
Priyatno, Duwi. 2009. 5 Jam Belajar Olah Data dengan SPSS 17. Yogyakarta:
Andi.
Sayekti, Yosefa, dan Ludovicius Sensi Wondabio. 2007. Pengaruh CSR Disclosure Terhadap Earning Response Coefficient (Suatu Studi empiris Pada Perusahaan yang Terdaftar Di Bursa Efek Jakarta), Simposium Nasional Akuntansi X. Makasar 26-28 Juli 2007
Scott, W. R. 2006. Financial Accounting Theory. 4th ed. Canada: Prentice Hall Inc. Ontario.
Sugiyono. 2004. Statistika Untuk Penelitian. Bandung: CV Alfabeta.
Warta Ekonomi. 2006. “Konsep Bisnis Paling Bersinar 2006: Level Adopsinya Kian Tinggi”. Warta Ekonomi, Desember 2006, h.36-37.
LAMPIRAN 1
Checklist items pengungkapan informasi CSR
EC1
Perolehan dan distribusi nilai ekonomi langsung, meliputi pendapatan, biaya operasi, imbal jasa karyawan, donasi, dan investasi komunitas lainnya, laba ditahan, dan pembayaran kepada penyandang dana serta pemerintah.
EC2 Implikasi finansial dan risiko lainnya akibat perubahan iklim serta peluangnya bagi aktivitas organisasi.
EC3 Jaminan kewajiban organisasi terhadap program imbalan pasti.
EC4 Bantuan finansial yang signifikan dari pemerintah.
EC5 Rentang rasio standar upah terendah dibandingkan dengan upah minimum setempat pada lokasi operasi yang signifikan.
EC6 Kebijakan, praktek, dan proporsi pengeluaran untuk pemasok lokal pada lokasi operasi yang signifikan.
EC7 Prosedur penerimaan pegawai lokal dan proporsi manajemen senior lokal yang dipekerjakan pada lokasi operasi yang signifikan.
EC8 Pembangunan dan dampak dari investasi infrastruktur serta jasa yang diberikan untuk kepentingan publik secara komersial, natura, atau pro bono.
EC9 Pemahaman dan penjelasan dampak ekonomi tidak langsung yang signifikan, termasuk seberapa luas dampaknya.
EN1 Penggunaan Bahan; diperinci berdasarkan berat atau volume EN2 Persentase Penggunaan Bahan Daur Ulang
EN3 Penggunaan Energi Langsung dari Sumberdaya Energi Primer EN4 Pemakaian Energi Tidak Langsung berdasarkan Sumber Primer EN5 Penghematan Energi melalui Konservasi dan Peningkatan Efisiensi EN6
Inisiatif untuk mendapatkan produk dan jasa berbasis energi efisien atau energi yang dapat diperbarui, serta pengurangan persyaratan kebutuhan energi sebagai akibat dari inisiatif tersebut.
EN7 Inisiatif untuk mengurangi konsumsi energi tidak langsung dan pengurangan yang dicapai
EN8 Total pengambilan air per sumber
EN9 Sumber air yang terpengaruh secara signifikan akibat pengambilan air EN10 Persentase dan total volume air yang digunakan kembali dan didaur ulang
EN11
Lokasi dan Ukuran Tanah yang dimiliki, disewa, dikelola oleh organisasi pelapor yang berlokasi di dalam, atau yang berdekatan dengan daerah yang diproteksi (dilindungi?) atau daerah-daerah yang memiliki nilai keanekaragaman hayati yang tinggi di luar daerah yang diproteksi
Aspek: Dampak Ekonomi Tidak Langsung
Aspek: Material
Indikator Kinerja Ekonomi Aspek: Kinerja Ekonomi
Aspek : Kehadiran Pasar
Indikator Kinerja Lingkungan
Aspek: Energi
Aspek: Air
Aspek Biodiversitas (Keanekaragaman Hayati)
EN12
Uraian atas berbagai dampak signifikan yang diakibatkan oleh aktivitas, produk, dan jasa organisasi pelapor terhadap keanekaragaman hayati di daerah yang diproteksi (dilindungi) dan di daerah yang memiliki keanekaragaman hayati bernilai tinggi di luar daerah yang diproteksi (dilindungi)
EN13 Perlindungan dan Pemulihan Habitat
EN14 Strategi, tindakan, dan rencana mendatang untuk mengelola dampak terhadap keanekaragaman hayati
EN15
Jumlah spesies berdasarkan tingkat risiko kepunahan yang masuk dalam Daftar Merah IUCN (IUCN Red List Species) dan yang masuk dalam daftar konservasi nasional dengan habitat di daerah-daerah yang terkena dampak operasi
EN16 Jumlah emisi gas rumah kaca yang sifatnya langsung maupun tidak langsung EN17 Emisi gas rumah kaca tidak langsung lainnya diperinci berdasarkan berat EN18 Inisiatif untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan pencapaiannya EN19 Emisi bahan kimia yang merusak lapisan ozon (ozone-depleting
substances/ODS) diperinci berdasarkan berat
EN20 NOx, SOx dan emisi udara signifikan lainnya yang diperinci berdasarkan jenis EN21 Jumlah buangan air menurut kualitas dan tujuan
EN22 Jumlah berat limbah menurut jenis dan metode pembuangan EN23 Jumlah dan volume tumpahan yang signifikan
EN24
Berat limbah yang diangkut, diimpor, diekspor, atau diolah yang dianggap berbahaya menurut Lampiran Konvensi Basel I, II, III dan VIII, dan persentase limbah yang diangkut secara internasional.
EN25
Identitas, ukuran, status proteksi dan nilai keanekaragaman hayati badan air serta habitat terkait yang secara signifikan dipengaruhi oleh pembuangan dan
limpasan air organisasi pelapor.
EN26 Inisiatif untuk mengurangi dampak lingkungan produk dan jasa dan sejauh mana dampak pengurangan tersebut.
EN27 Persentase produk terjual dan bahan kemasannya yang ditarik menurut kategori.
EN28 Nilai Moneter Denda yang signifikan dan jumlah sanksi nonmoneter atas pelanggaran terhadap hukum dan regulasi lingkungan.
EN29
Dampak lingkungan yang signifikan akibat pemindahan produk dan barang- barang lain serta material yang digunakan untuk operasi perusahaan, dan tenaga kerja yang memindahkan.
EN30 Jumlah pengeluaran untuk proteksi dan investasi lingkungan menurut jenis.
LA1 Jumlah angkatan kerja menurut jenis pekerjaan, kontrak pekerjaan, dan wilayah.
LA2 Jumlah dan tingkat perputaran karyawan menurut kelompok usia, jenis kelamin, dan wilayah.
Aspek: Pekerjaan Aspek: Menyeluruh Aspek: Kepatuhan
Aspek: Pengangkutan/Transportasi
Indikator Kinerja Sosial Praktek Tenaga Kerja dan Pekerjaan yang Layak Aspek: Produk dan Jasa
Aspek: Emisi, Efluen dan Limbah
LA3 Manfaat yang disediakan bagi karyawan tetap (purna waktu) yang tidak
disediakan bagi karyawan tidak tetap (paruh waktu) menurut kegiatan pokoknya.
LA4 Persentase karyawan yang dilindungi perjanjian tawar-menawar kolektif tersebut.
LA5 Masa pemberitahuan minimal tentang perubahan kegiatan penting, termasuk apakah hal itu dijelaskan dalam perjanjian kolektif tersebut.
LA6
Persentase jumlah angkatan kerja yang resmi diwakili dalam panitia Kesehatan dan Keselamatan antara manajemen dan pekerja yang membantu memantau dan memberi nasihat untuk program keselamatan dan kesehatan jabatan.
LA7 Tingkat kecelakaan fisik, penyakit karena jabatan, hari-hari yang hilang, dan ketidakhadiran, dan jumlah kematian karena pekerjaan menurut wilayah.
LA8
Program pendidikan, pelatihan, penyuluhan/bimbingan, pencegahan,
pengendalian risiko setempat untuk membantu para karyawan, anggota keluarga dan anggota masyarakat, mengenai penyakit berat/berbahaya.
LA9 Masalah kesehatan dan keselamatan yang tercakup dalam perjanjian resmi dengan serikat karyawan.
LA10 Rata-rata jam pelatihan tiap tahun tiap karyawan menurut kategori/kelompok karyawan.
LA11
Program untuk pengaturan keterampilan dan pembelajaran sepanjang hayat yang menunjang kelangsungan pekerjaan karyawan dan membantu mereka dalam mengatur akhir karier.
LA12 Persentase karyawan yang menerima peninjauan kinerja dan pengembangan karier secara teratur.
LA13
Komposisi badan pengelola/penguasa dan perin cian karyawan tiap kategori/kelompok menurut jenis kelamin, kelompok usia, keanggotaan kelompok minoritas, dan keanekaragaman indikator lain.
LA14 Perbandingan/rasio gaji dasar pria terhadap wanita menurut kelompok / Hak Asasi Manusia
HR1
Persentase dan jumlah perjanjian investasi signifikan yang memuat klausul HAM atau telah menjalani proses skrining/ filtrasi terkait dengan aspek hak asasi manusia.
HR2 Persentase pemasok dan kontraktor signifikan yang telah menjalani proses skrining/ filtrasi atas aspek HAM
HR3
Jumlah waktu pelatihan bagi karyawan dalam hal mengenai kebijakan dan serta prosedur terkait dengan aspek HAM yang relevan dengan kegiatan organisasi, termasuk persentase karyawan yang telah menjalani pelatihan.
HR4 Jumlah kasus diskriminasi yang terjadi dan tindakan yang diambil/dilakukan.
Segala kegiatan berserikat dan berkumpul yang diteridentifikasi dapat Hak Asasi Manusia
Aspek : Praktek Investasi dan Pengadaan
Aspek: Nondiskriminasi
Aspek: Tenaga kerja / Hubungan Manajemen
Aspek: Kesehatan dan Keselamatan Jabatan
Aspek: Pelatihan dan Pendidikan
Aspek: Keberagaman dan Kesempatan Setara
Aspek: Kebebasan Berserikat dan Berunding Bersama Berkumpul
HR6
Kegiatan yang identifikasi mengandung risiko yang signifikan dapat
menimbulkan terjadinya kasus pekerja anak, dan langkah-langkah yang diambil untuk mendukung upaya penghapusan pekerja anak.
HR7 Kegiatan yang teridentifikasi mengandung risiko yang signifikan dapat menimbulkan kasus kerja paksa atau kerja wajib, dan langkah-langkah yang telah diambil untuk mendukung upaya penghapusan kerja paksa atau kerja wajib.
HR8
Persentase personel penjaga keamanan yang terlatih dalam hal kebijakan dan prosedur organisasi terkait dengan aspek HAM yang relevan dengan kegiatan organisasi
HR9 Jumlah kasus pelanggaran yang terkait dengan hak penduduk asli dan langkah- langkah yang diambil
S1
Sifat dasar, ruang lingkup, dan keefektifan setiap program dan praktek yang dilakukan untuk menilai dan mengelola dampak operasi terhadap masyarakat, baik pada saat memulai, pada saat beroperasi, dan pada saat mengakhiri.
S2 Persentase dan jumlah unit usaha yang memiliki risiko terhadap korupsi.
S3 Persentase pegawai yang dilatih dalam kebijakan dan prosedur antikorupsi.
S4 Tindakan yang diambil dalam menanggapi kejadian korupsi.
S5 Kedudukan kebijakan publik dan partisipasi dalam proses melobi dan pembuatan kebijakan publik.
S6 Nilai kontribusi finansial dan natura kepada partai politik, politisi, dan institusi terkait berdasarkan negara di mana perusahaan beroperasi.
S7 Jumlah tindakan hukum terhadap pelanggaran ketentuan antipersaingan, antitrust, dan praktek monopoli serta sanksinya.
S8 Nilai uang dari denda signifikan dan jumlah sanksi nonmoneter untuk pelanggaran hukum dan peraturan yang dilakukan.
PR1
Tahapan daur hidup di mana dampak produk dan jasa yang menyangkut kesehatan dan keamanan dinilai untuk penyempurnaan, dan persentase dari kategori produk dan jasa yang penting yang harus mengikuti prosedur tersebut PR2 Jumlah pelanggaran terhadap peraturan dan etika mengenai dampak kesehatan
dan keselamatan suatu produk dan jasa selama daur hidup, per produk.
PR3
Jenis informasi produk dan jasa yang dipersyaratkan oleh prosedur dan persentase produk dan jasa yang signifikan yang terkait dengan informasi yang dipersyaratkan tersebut.
Aspek: Korupsi
Aspek: Kelakuan Tidak Bersaing
Tanggung Jawab Produk
Aspek: Pemasangan Label bagi Produk dan Jasa Aspek: Hak Penduduk Asli
Masyarakat/Sosial
Aspek: Kebijakan Publik
Aspek: Kepatuhan
Aspek: Kesehatan dan Keamanan Pelanggan Aspek: Pekerja Anak
Aspek: Kerja Paksa dan Kerja Wajib
Aspek: Praktek/Tindakan Pengamanan
Aspek: Komunitas
PR4 Jumlah pelanggaran peraturan dan voluntary codes mengenai penyediaan informasi produk dan jasa serta pemberian label, per produk.
PR5 Praktek yang berkaitan dengan kepuasan pelanggan termasuk hasil survei yang mengukur kepuasaan pelanggan.
PR6
Program-program untuk ketaatan pada hukum, standar dan voluntary codes yang terkait dengan komunikasi pemasaran, termasuk periklanan, promosi, dan sponsorship.
PR7
Jumlah pelanggaran peraturan dan voluntary codes sukarela mengenai
komunikasi pemasaran termasuk periklanan, promosi, dan sponsorship, menurut produknya.
PR8 Jumlah keseluruhan dari pengaduan yang berdasar mengenai pelanggaran keleluasaan pribadi (privacy) pelanggan dan hilangnya data pelanggan PR9 Nilai moneter dari denda pelanggaran hukum dan peraturan mengenai
pengadaan dan penggunaan produk dan jasa Aspek: Kepatuhan
Aspek: Komunikasi Pemasaran
Aspek: Keleluasaan Pribadi (privacy) Pelanggan