• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBERITAAN PKI DI MAJALAH PERS MAHASISWA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PEMBERITAAN PKI DI MAJALAH PERS MAHASISWA"

Copied!
146
0
0

Teks penuh

(1)

PEMBERITAAN PKI DI MAJALAH PERS MAHASISWA

(Analisis Framing Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki Tentang Pemberitaan PKI di Majalah Lentera Nomor 3/2015 Edisi Salatiga Kota Merah)

SKRIPSI Disusun oleh:

Grace Kolin 140904194

DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2017

(2)

PEMBERITAAN PKI DI MAJALAH PERS MAHASISWA

(Analisis Framing Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki Tentang Pemberitaan PKI di Majalah Lentera Nomor 3/2015 Edisi Salatiga Kota Merah)

SKRIPSI

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Program Strata 1 (S1) pada Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu

Politik Universitas Sumatera Utara

Grace Kolin 140904194

DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2017

(3)

LEMBAR PERSETUJUAN

Skripsi ini disetujui untuk dipertahankan oleh:

Nama : Grace Kolin

NIM : 140904194

Departemen : Ilmu Komunikasi

Judul Skripsi : Pemberitaan PKI Di Majalah Pers Mahasiswa (Analisis Framing Zhongdang Pan Dan Gerald M. Kosicki Tentang Pemberitaan PKI Di Majalah Lentera Nomor 3/2015 Edisi Salatiga Kota Merah)

Medan, 12 Desember 2017 Dosen Pembimbing Ketua Departemen

Drs. Hendra Harahap, M. Si, Ph. D Dra. Dewi Kurniawati, M.Si, P. hD NIP. 196710021994031002 NIP. 19650524198903001

Dekan FISIP USU

Dr. Muryanto Amin, M. Si NIP. 197409302005011002

(4)

HALAMAN PENGESAHAN

Skripsi ini disetujui untuk dipertahankan oleh :

Nama : Grace Kolin

NIM : 140904194

Departemen : Ilmu Komunikasi

Judul Skripsi : Pemberitaan PKI Di Majalah Pers Mahasiswa (Analisis Framing Zongdang Pan Dan Gerald M. Kosicki Tentang Pemberitaan PKI Di Majalah Lentera Nomor 3/2015 Edisi Salatiga Kota Merah)

Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan penguji dan diterima sebagai bagian dari persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Sarjana Ilmu Komunikasi pada Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.

Majelis Penguji

Ketua Penguji : ( )

Penguji : ( )

Penguji Utama : ( )

Ditetapkan di : Medan

Tanggal : 12 Desember 2017 NIP.

Drs. Hendra Harahap, M.Si, Ph. D

NIP. 196710021994031002 Drs. Hendra Harahap, M.Si, Ph. D

NIP.

Drs. Hendra Harahap, M.Si, Ph. D

(5)

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS

Skripsi ini adalah hasil karya sendiri, semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk telah saya cantumkan sumbernya dengan benar. Jika di kemudian hari

saya terbukti melakukan pelanggaran (plagiat) maka saya bersedia diproses sesuai dengan hukum yang berlaku.

Nama : Grace Kolin

NIM : 140904194

Tanda Tangan :

Tanggal : 12 Desember 2017

(6)

KATA PENGANTAR

Puji syukur peneliti ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat-Nya sehingga penyusunan skripsi yang berjudul PEMBERITAAN PKI DI MAJALAH PERS MAHASISWA (Analisis Framing Zongdang Pan dan Gerald M. Kosicki Tentang Pemberitaan PKI di Majalah Lentera Nomor 3/2015 Edisi Salatiga Kota Merah) dapat diselesaikan dengan baik.

Jas Merah! (Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah!), jargon sang proklamator RI yang masih berdengung di ingatan generasi muda. Peneliti percaya, meneliti tentang sejarah bukan berarti harus mundur ke belakang. Tetapi, untuk merawat kembali ingatan dan melawan lupa.

Sebagai generasi muda, peneliti tidak ingin tercabut dari akar sejarah.

Meskipun itu artinya, peneliti harus vis a vis dengan berbagai macam versi sejarah.

Sungguh tidak etis rasanya hanya melihat sejarah dari satu perspektif. Karena itu, peneliti dituntut untuk lebih banyak mempelajari sejarah dari berbagai versi kajian dan literatur.

PKI adalah bagian “kelam" dari sejarah tanah air. Walaupun demikian, peneliti tidak bermaksud untuk mencari sensasi dengan meneliti organisasi ini. Peneliti hanya berlaku sebagai seorang pengamat dan penganalisa Majalah Lentera Nomor 3/2015 Edisi Salatiga Kota Merah.

Terima kasih yang tak terhingga tentunya peneliti sampaikan kepada dosen pembimbing peneliti, Drs. Hendra Harahap, M. Si, Ph.D yang telah mengajarkan peneliti untuk menghargai proses. Tidak untuk menekankan agar skripsi peneliti cepat siap, tetapi justru dibimbing untuk bersabar dan menghayati setiap proses yang ada.

Selain itu, selama proses menyelesaikan penyusunan skripsi ini peneliti telah banyak mendapat dukungan, semangat, nasihat dan bantuan tiada henti dari berbagai pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Untuk itu, dengan segala kerendahan

(7)

hati, peneliti ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak, khususnya:

1. Bapak. Dr. Muryanto Amin, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.

2. Ibu Dra. Dewi Kurniawati, M. Si, Ph. D selaku Ketua Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU dan Ibu Dra. Emilia Ramadhani selaku Sekretaris Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU yang begitu baik atas segala bantuan serta dukungannya yang sangat bermanfaat bagi penulis.

3. Kedua orang tua peneliti, Bapak Po Hwa dan Ibu Ng Tjin Fie serta adik perempuan peneliti, Agnes Kolin yang tidak pernah jeda memberikan semangat, dukungan dan rumah paling nyaman bernama keluarga.

4. Staf Departemen Kak Maya yang sangat banyak membantu dalam urusan administrasi.

5. Dosen P.A. saya, Kak Jo (Yovita Sabarina Sitepu, S. Sos, M. Si) yang sudah penulis anggap seperti orang tua sendiri. Terima kasih sudah menampung unek-unek penulis dan memberikan penulis banyak pencerahan selama kuliah.

6. Seluruh keluarga besar Pers Mahasiswa PIJAR atas segala ilmu, pengalaman, dan sumber inspirasi yang mendewasakan penulis. Terima kasih sudah menjadi rumah kedua penulis di kampus.

7. Lembaga Pers Mahasiswa Lentera UKSW atas idealismenya yang menginspirasi.

Pers Mahasiswa panutan dalam konten yang kritis dan berisi. Terima kasih banyak kepada Andri Setiawan yang telah berbaik hati memberikan Majalah Lentera Nomor 3/2015 edisi Salatiga Kota Merah kepada peneliti. Tidak lupa juga kepada Mas Galih dan Mas Bima, Mas Gerry atas segala bantuan dan support yang sangat berarti dalam penyusunan skripsi ini.

8. Teman-teman Tanoto Scholars Association (TSA) Medan: Marie, Gina, Devi, Nenci, Novi, Tamala, Venny, Hengki, Albert, Fahmi, Rizky, Daniel, Seriaman, Aris, dan Lina atas quality time yang berfaedah.

(8)

9. Kak Hanim, tenaga pengajar yang berjiwa muda. Penulis sangat salut sama kakak, perempuan perkasa yang kritis dan kekinian. Forever young ya kak!

10. Serta semua pihak yang mendukung penulis selama perkuliahan yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Semoga kita dirahmati Tuhan Yang Maha Esa.

Tidak ada gading yang tak retak. Atas segala kekurangan dan ketidaksempurnaan skripsi ini, penulis mengharapkan masukan, kritik, dan saran yang bersifat membangun demi perbaikan dan penyempurnaan skripsi ini. Cukup banyak kesulitan yang penulis temui dalam penulisan skripsi ini, tetapi syukurlah dapat penulis mengatasinya dengan baik. Akhir kata penulis ucapkan maaf atas segala kesalahan dan terima kasih.

Medan, 12 Desember 2017

Grace Kolin

(9)

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai civitas akademik Universitas Sumatera Utara, saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Grace Kolin

NIM : 140904194

Departemen : Ilmu Komunikasi

Fakultas : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas : Universitas Sumatera Utara

Jenis Karya : Skripsi

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Sumatera Utara Hak Bebas Royalti Non Eksklusif (Non- exclusive Royalty- Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul: PEMBERITAAN PKI DI MAJALAH PERS MAHASISWA (Analisis Framing Zongdang Pan dan Gerald M. Kosicki Tentang Pemberitaan PKI di Majalah Lentera Nomor 3/2015 Edisi Salatiga Kota Merah) beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti Noneksklusif ini Universitas Sumatera Utara berhak menyimpan, mengalihmedia/memformat-kan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat dan mempublikasikan tugas akhir saya tanpa meminta izin dari saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di : Medan

Pada Tanggal : 12 Desember 2017 Yang Menyatakan

(Grace Kolin)

(10)

ABSTRAK

Penelitian ini berjudul Pemberitaan PKI Di Majalah Pers Mahasiswa (Analisis Framing Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki Tentang Pemberitaan PKI di Majalah Lentera Nomor 3/2015 Edisi Salatiga Kota Merah). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana Pers Mahasiswa Lentera membingkai pemberitaan PKI dalam Majalah Lentera edisi Salatiga Kota Merah. Teori yang digunakan untuk mengupas penelitian ini adalah Teori Komunikasi, Teori Komunikasi Massa, Teori Konstruksi Realitas Sosial, Teori Shoemaker dan Reese, Framing, dan Konseptualisasi Berita.

Objek penelitian yang akan diteliti adalah sembilan teks berita/liputan khusus yang terdapat dalam Majalah Lentera edisi Salatiga Kota Merah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan paradigma konstruktivis. Teknik analisis yang digunakan adalah model analisis framing Zongdang Pan dan Gerald M.

Kosicki. Hasil penelitian menunjukkan bahwa main frame dari pemberitaan PKI dalam majalah tersebut cenderung netral. Enam dari sembilan berita yang dimuat dalam majalah tidak memihak maupun bertentangan dengan PKI. Keenam judul berita itu adalah Suara Tangis Dari Kebun Karet, Hingga Tengaran Banjir Darah, Mbah Jenggot, Bunyi Dor Tengah Malam, Satya Wacana di Persimpangan Kiri Jalan dan Dapat Perintah Eksekusi Dari Tentara.

Kata kunci:

Framing, Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki, Pers Mahasiswa Lentera, PKI.

(11)

ABSTRACT

This research is titled “PKI News in Student Press Magazine (Zhongdang Pan and Gerald M. Kosicki Framing Analysis about PKI News in Majalah Lentera Number 3/2015 Salatiga Kota Merah Edition)”. The purpose of this study is to know how Lentera Student Press constructed PKI in Majalah Lentera, Salatiga Kota Merah edition. The theory is use to peel this research is Communication Theory, Mass Communication Theory, Social Reality Construction Theory, Shoemaker and Reese Theory, Framing, and News Conseptualization. The object of this research is nine news text/special reportage that include in Majalah Lentera, Salatiga Kota Merah edition.

The method used in this research is a qualitative method with constructivist paradigm.

Data analysis technique in this research is framing analysis of Zhongdang Pan and Gerald M. Kosicki. The result showed that PKI news main frame in this magazine is tended to neutral. Six of nine news espoused in magazine is not support or interfere with PKI. That sixth news title is: Suara Tangis Dari Kebun Karet, Hingga Tengaran Banjir Darah, Mbah Jenggot, Bunyi Dor Tengah Malam, Satya Wacana di Persimpangan Kiri Jalan and Dapat Perintah Eksekusi Dari Tentara.

Keywords:

Framing, Zhongdang Pan and Gerald M. Kosicki, Lentera Student Press, PKI.

(12)

DAFTAR ISI

LEMBAR PERSETUJUAN LEMBAR PENGESAHAN

KATA PENGANTAR ... v

ABSTRAK ... ix

DAFTAR ISI ... xi

DAFTAR GAMBAR ... xiii

DAFTAR TABEL ... xiv

DAFTAR LAMPIRAN ... xv

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Konteks Masalah ... 1

1.2 Fokus Masalah ... 6

1.3 Tujuan Penelitian ... 6

1.4 Manfaat Penelitian ... 6

BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Paradigma Kajian ... 7

2.2 Uraian Teoritis ... 8

2.2.1 Komunikasi ... 8

2.2.2 Komunikasi Massa ... 9

2.2.3 Teori Konstruksi Realitas Sosial ... 11

2.2.4 Teori Shoemaker dan Reese ... 12

2.2.5 Framing ... 14

2.2.6 Konseptualisasi Berita ... 24

(13)

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian ... 27

3.2 Subjek Penelitian ... 27

3.3 Objek Penelitian ... 32

3.4 Kerangka Analisis ... 32

3.5 Teknik Pengumpulan Data ... 32

3.6 Teknik Analisis Data ... 34

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil ... 37

4.2 Pembahasan ... 91

BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan ... 99

5.2 Saran ... 99

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

(14)

DAFTAR GAMBAR

NO. JUDUL HALAMAN

2.2.4 Model hierarki pengaruh isi media 14

2.2.5.2 Framing Model Zhongdang Pan dan Gerald M.

Kosicki

20

3.4 Alur Kerangka Analisis 32

4.1.2.2 Pull quotes Artikel Berita 2 49

4.1.2.5 Pull quotes Artikel Berita 3 68

(15)

DAFTAR GAMBAR

NO. JUDUL HALAMAN

2.2.5.2 Perbandingan Frame Republika dan Kompas 23 4.1.1 Judul-judul Berita yang Terkait dengan PKI 37

4.1.2.1 Analisis Berita 1 38

4.1.2.2 Analisis Berita 2 44

4.1.2.3 Analisis Berita 3 50

4.1.2.4 Analisis Berita 4 55

4.1.2.5 Analisis Berita 5 61

4.1.2.6 Analisis Berita 6 67

4.1.2.7 Analisis Berita 7 71

4.1.2.8 Analisis Berita 8 78

4.1.2.9 Analisis Berita 9 85

(16)

DAFTAR GAMBAR

NO. JUDUL

1 Struktur Organisasi Pers Mahasiswa Lentera (Pada Masa Penyusunan dan Penerbitan Majalah Lentera “Salatiga Kota Merah”)

2 Artikel Berita PKI di Majalah Lentera “Salatiga Kota Merah”

3 Tabel Koherensi Berita PKI di Majalah Lentera “Salatiga Kota Merah”

4 Hasil Wawancara dengan Bima Satria Putra 5 Data Pribadi

6 Lembar Catatan Bimbingan Skripsi

(17)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Konteks Masalah

Pada tanggal 18 September 2017, isu kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI) menjadi trending topic di pemberitaan media tanah air. Isu ini bergulir ketika sejumlah massa merusak gedung Lembaga Bantuan Hukum – Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (LBH-YLBHI) di Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat. Mereka menuding LBH mengadakan acara beraroma PKI. Bertepatan dengan tanggal ini pula, surat telegram dengan kop Markas Besar TNI kepada bawahannya di daerah untuk memutar film Pengkhianatan Gerakan 30 September/Partai Komunis Indonesia (G30S/PKI) beredar (Tempo, 2017: 31). Isu ini sempat menyita perhatian publik. Menimbulkan sejumlah tanda tanya, apakah PKI akan bangkit kembali?

Partai berpaham komunis ini telah ada sejak masa penjajahan Belanda dengan nama Indische Sociaal-Democratische Vereniging (ISDV). Tanggal 23 Mei 1920, ISDV kemudian mengubah namanya menjadi PKI. Ideologi yang pro terhadap kaum proletar membuat partai palu-arit ini mudah merangkul massa dari kalangan buruh dan petani.

Pasca Peristiwa G30S, Indonesia mengalami momentum yang berpengaruh dalam sejarah. Selain mengakibatkan transisi kekuasaan, peristiwa ini juga mengakibatkan apa yang disebutkan di luar negeri sebagai “salah satu pembunuhan massal yang terbesar di dunia modern ini” (Cribb, 1991: 1). Partai yang pernah berjaya pada masa keemasannya ini mengalami anihilasi yang nyaris total dari bumi Indonesia. Anihilasi secara fisik, lewat pembantaian 1965, serta anihilasi secara metafisik, dengan dirampas hak bicaranya dalam penulisan sejarah negara ini (George Junus Aditjondro dalam Soedjono, 2006: xii).

(18)

Semenjak duduk di bangku sekolah hingga sekarang, peneliti dihadapkan pada banyak versi sejarah G30S. Setiap versi punya perspektif yang berbeda, termasuk dalam membuktikan siapa dalang dan apa motifnya.

Menurut versi resmi yang dikeluarkan oleh Buku Putih Sekretariat Negara (Setneg) RI (1994), PKI adalah dalang dari peristiwa G30S. PKI adalah pihak yang bertanggung jawab atas penculikan dan pembunuhan tujuh anggota pimpinan Angkatan Darat (AD). Seluruh korban penculikan dibawa ke Lubang Buaya, Pondok Gede dan diserahkan kepada pasukan Gatotkaca. Empat korban penculikan ditutup dengan kain merah, dengan kedua belah tangannya diikat ke belakang, serta tiga orang lainnya lagi dalam keadaan meninggal. Keempat orang yang masih hidup itu disiksa sehingga akhirnya meninggal. Selanjutnya para sukarelawan (sukwan) PKI melemparkan korban-korban itu ke dalam sumur (RI, 1994: 130).

Setelah memperoleh informasi terjadinya penculikan dan pembunuhan terhadap pimpinan AD yang disiarkan warta berita RRI Jakarta pukul 07.00 pagi, Pangkostrad Mayjen TNI Soeharto mempunyai keyakinan bahwa Gerakan 30 September adalah gerakan PKI yang bertujuan menggulingkan dan merebut kekuasaan dari Pemerintahan Republik Indonesia yang sah. Berdasarkan keyakinan itu, Pangkostrad Mayjen TNI Soeharto segera menyusun rencana untuk menumpas gerakan pengkhianatan tersebut (RI, 1994: 125).

Selama 32 tahun Presiden Soeharto berkuasa, kebenaran versi resmi ini tidak boleh diragukan meskipun keanekaragaman versi rekonstruksi peristiwa telah muncul, terutama di luar negeri. Pesan PKI sebagai dalang G30S kemudian disebarluaskan melalui buku pelajaran, buku sejarah terbitan pemerintah, dan karya sastra Indonesia. Konstruksi anti-PKI juga direproduksi dalam film Pengkhianatan G30S/PKI (1984), Djakarta 1966 (1982), Janur Kuning (1979) dan Serangan Fajar (1981).

Hingga kini, latar belakang atau detil-detil G30S sampai sekarang belum dapat dipastikan. Bahkan sifat pokok peristiwa itu belum jelas, apakah peristiwa itu merupakan sebuah kudeta (coup d’etat) dengan tujuan menggulingkan

(19)

pemerintahan Soekarno, atau apakah pemerintah sendiri terlibat dalam gerakan tersebut untuk menyingkirkan unsur-unsur yang tidak disukai? (Beise, 2004: 2).

Salah satu Pers Mahasiswa di Indonesia, Lentera mencoba mengangkat kembali peristiwa G30S dan PKI dalam Majalah Lentera Nomor 3/2015 edisi Salatiga Kota Merah. Tujuan itu tertuang dalam rubrik Editorial:

Kami tidak bermaksud untuk membuka luka lama. Tidak bermaksud pula mencari sensasi. Karena kami percaya bahwa apa yang kami lakukan adalah benar. Kami berusaha mencari fakta tentang peristiwa yang selama ini buram bagi generasi kami. (Bukan Generasi Mbah………Paragraf 4)

Pers mahasiswa dengan motto “Wadah Diskursus Sivitas Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi (Fiskom) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW)” ini kemudian menjadi kontroversi setelah beberapa hari terbit dan beredarnya edisi majalah tersebut. Dilansir dari laman Tempo.co (2016) Lentera langsung mendapat respon keras dari kepolisian, tentara, hingga Walikota Salatiga. Polisi lantas meminta supaya majalah itu ditarik kembali dari peredaran. Protes dari banyak pihak tersebut akhirnya membuat pimpinan lembaga pers mahasiswa diinterogasi pada 18 Oktober 2015. Mereka kemudian diminta menghentikan distribusi majalah itu untuk dikumpulkan lalu dibakar.

Pembredelan bukan tidak mungkin dilakukan. Pers Mahasiswa Lentera menghadapi posisi yang serba sulit. Pada akhirnya, sanksi dijatuhkan sebatas penarikan distribusi majalah. Salatiga Kota Merah tidak hanya menjadi sorotan di media massa tetapi juga meraih simpati dan pembelaan dari pers mahasiswa di Indonesia. Simpati ini berupa dukungan aksi bela Lentera yang menuntut kebebasan pers mahasiswa untuk berekspresi di era demokrasi. Mereka sangat menyesalkan penarikan Majalah Lentera hanya karena menyinggung persoalan PKI.

Dalam pernyataan resmi yang dikeluarkan Lentera dalam artikelnya yang berjudul Lentera Tetaplah Lentera di media online portallentera.wordpress.com (2017), persoalan sistem dan kebijakan yang berlaku di Lembaga Kemahasiswaan

(20)

(LK) Fiskom UKSW menjadi alasan kedua pertimbangan Lentera untuk tidak lagi berdiri dibawah naungan LK Fiskom UKSW.

Soal kebijakan yang diberikan oleh Pimpinan Fiskom. Kami sudah tidak dapat mengikuti semua kebijakan yang ditetapkannya, terlebih lagi pada janjinya untuk mengembalikan Majalah Lentera Nomor 3/2015, edisi

“Salatiga Kota Merah” yang hingga saat ini belum dipenuhi. Kami merasa dirugikan dengan adanya kejadian tersebut, karena persoalan sengketa pers tidak diselesaikan dengan mekanisme yang seharusnya dijalankan atau dengan kata lain Lentera menghendaki ‘Hak Koreksi’, bukan ‘Pembredelan’.

(Lentera Tetaplah Lentera………Paragraf 9)

Lentera akhirnya memutuskan untuk keluar dari Fiskom UKSW pada September 2017 dan berdiri sendiri sebagai organisasi ekstra-kampus. Sejalan dengan keputusan itu, motto Lentera berubah menjadi “Kritis dan Merdeka”.

Lentera bukan satu-satunya Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) pertama yang pernah tersandung dalam menjalankan pekerjaan jurnalistiknya. Selama 2014 hingga 2015, Persatuan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) mencatat ada tujuh kasus yang dialami pengelola pers mahasiswa di Indonesia (Tempo.co, 2015).

Selain itu, kasus-kasus lain juga kembali terulang pada tahun berikutnya.

Pembredelan pers kampus Koran Lintas di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon, menjadi tanjakan berat bagi perjuangan pers mahasiswa di awal tahun 2017.

Rektorat IAIN Ambon membredel Koran Lintas setelah media itu memberitakan dugaan kasus pencabulan seorang siswa oleh salah satu dosen di kampus itu (Tempo.co, 2017). Disusul pada bulan Mei, dua orang reporter LPM Bursa Obrolan Mahasiswa (BOM) Institut Teknologi Medan (ITM) ditahan oleh Kepolisian Resor Kota Besar (Polrestabes) Medan. Dua reporter tersebut sedang meliput aksi peringatan Hari Pendidikan Nasional oleh Gerakan Mahasiswa Sumatera Utara di Pintu I USU (suarausu.co, 2017). Di luar catatan PPMI dan pemberitaan media massa, masih banyak lagi kasus pers mahasiswa yang mendapat teguran dan intimidasi dari pihak kampus karena kinerja dan isi pemberitaan mereka.

(21)

Posisi pers mahasiswa sangat dilematis. Di satu sisi mereka melakukan kerja dan memenuhi kaidah jurnalistik. Di sisi lain, tidak ada payung hukum yang menaungi keberadaan mereka. Hal ini membuat mereka sangat rentan untuk diintimidasi dan dibredel. Pihak kampus yang menaungi pers mahasiswa juga belum tentu menjamin kebebasan berpendapat mereka sepenuhnya.

Berada di bawah bayang-bayang pihak kampus tentunya sulit menjadikan pers mahasiswa sebagai wadah yang mandiri dan independen. Secara tidak langsung, pihak kampus yang memiliki kuasa atas keberlangsungan hidup pers mahasiswa akan menggiring pers mahasiswa untuk bermain di ‘zona aman’.

Menanggalkan elemen kritis dan mementahkan perjuangan mereka dalam menegakkan pilar demokrasi. Tindakan Lentera yang berani memerdekakan diri merupakan contoh langkah yang taktis untuk menghadapi tekanan birokrasi kampus dan menjadi organisasi yang independen.

Alasan kenapa peneliti mengambil judul penelitian ini adalah:

1) Majalah Lentera Nomor 3/2015 edisi Salatiga Kota Merah merupakan majalah lama. Walaupun demikian, berita dalam majalah ini tetap memiliki relevansi dengan isu PKI yang sedang diangkat oleh media massa.

2) Majalah Lentera Nomor 3/2015 edisi Salatiga Kota Merah adalah karya jurnalistik dari mahasiswa. Karakteristik karya jurnalistik yang dihasilkan oleh mahasiswa memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan dengan karya jurnalistik yang dihasilkan oleh wartawan. Frame of Reference dan Field of Experience yang terbentuk di dalam diri mahasiswa selama mengikuti proses perkuliahan di kampus memengaruhi idealisme mereka dalam bersikap dan mengkonstruksi realitas.

3) Analisis framing Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki dipilih karena memiliki elemen lebih lengkap dibandingkan analisis framing lainnya. Analisis framing ini dapat mengoperasionalisasikan empat dimensi struktural teks berita (sintaksis, skrip, tematik, dan retoris) sebagai perangkat framing dalam memaknai suatu peristiwa.

(22)

4) Lentera mengangkat PKI dengan memfokuskan pada wilayah Salatiga.

Sehingga unsur local content itu menjadi nilai tambah bagi Pers Mahasiswa Lentera yang peka terhadap isu lokal.

1.2 Fokus Masalah

Bagaimana Pers Mahasiswa Lentera membingkai pemberitaan PKI dalam Majalah Lentera nomor 3/2015 edisi Salatiga Kota Merah?

1.3 Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui bagaimana Pers Mahasiswa Lentera membingkai pemberitaan PKI dalam Majalah Lentera nomor 3/2015 edisi Salatiga Kota Merah.

1.4 Manfaat Penelitian 1. Secara Akademis

Penelitian ini diharapkan mampu menambah wawasan pengetahuan dan memperluas penelitian komunikasi serta menambah pegalaman khususnya bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP USU dalam menggali perspektif sejarah PKI di media massa.

2. Secara Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap Ilmu Komunikasi. Khususnya dalam kajian framing Zhongdang Pan dan Gerald M.

Kosicki. Penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi sarana bagi peneliti untuk dapat menerapkan ilmu pemaknaan terhadap suatu peristiwa dalam pemberitaan media massa.

3. Secara Praktis

Melalui penelitian ini, peneliti semakin peka terhadap konstruksi media terhadap sejarah. Penelitian ini diharapkan menjadi masukan bagi pihak yang berkepentingan.

(23)

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.1 Paradigma Kajian

2.1.1 Paradigma Konstruktivisme

Menurut Vardiansyah (2008), paradigma adalah cara pandang seseorang terhadap diri dan lingkungannya yang akan memengaruhinya dalam berpikir (kognitif), bersikap (afektif), dan bertingkah laku (konatif). Secara sederhana, paradigma dapat diartikan sebagai kaca mata atau cara pandang untuk memahami dunia nyata. Thomas Khun sebagai salah satu pelapor penggunaan istilah paradigma ini. Paradigma atau dalam bidang keilmuan sering disebut sebagai perspektif (perspective), terkadang disebut mazhab pemikiran (school of thought) atau teori (Mulyana, 2002). Sesuai dengan paradigma ilmu pengetahuan (komunikasi) terbagi menjadi tiga yaitu paradigma positivis, paradigma konstruktivis, dan paradigma kritis (Guba dan Lincoln dalam Bungin, 2007: 237).

Dalam konteks melihat pemberitaan PKI di majalah pers mahasiswa, peneliti menggunakan analisis framing. Analisis ini termasuk ke dalam paradigma konstruktivis. Paradigma ini memiliki perspektif sendiri terhadap media dan teks berita yang dihasilkannya. Sebuah teks berita tidak bisa disamakan dengan tiruan dari realitas. Wartawan bisa jadi memiliki pandangan yang berbeda dalam mengkonstruksi peristiwa yang diwujudkan dalam teks berita.

Menurut Eriyanto (2011), pendekatan paradigma konstruksivis memiliki penilaian tersendiri seperti apa media, wartawan dan berita dilihat, yaitu:

(24)

1. Fakta/peristiwa adalah hasil konstruksi.

2. Media adalah agen konstruksi.

3. Berita bukan refleksi dari realitas. Ia hanyalah konstruksi dari realitas.

4. Berita bersifat subjektif /konstruksi atas realitas.

5. Etika, pilihan moral, dan keberpihakan wartawan adalah bagian yang integral dalam produksi berita.

6. Nilai, etika, dan pilihan moral peneliti menjadi bagian integral dalam penelitian.

7. Khalayak mempunyai penafsiran sendiri atas berita.

2.2 Uraian Teoritis 2.2.1 Komunikasi

Bila ditinjau secara etimologi, istilah komunikasi dalam Bahasa Inggris yaitu communication berasal dari Bahasa Latin communis, yang memiliki arti “sama”. Maksudnya bila seseorang mengadakan kegiatan komunikasi dengan pihak lain, maka orang tersebut berusaha untuk memiliki persamaan arti dengan pihak yang menjadi lawan komunikasinya atau meyamakan dirinya dengan yang diajaknya berkomunikasi (Lubis, 2001: 6-7). Komunikasi juga merupakan suatu proses memberi signal menurut aturan-aturan tertentu, sehingga dengan cara ini sistem dapat didirikan, dipelihara dan dirubah (Effendy, 2011: 2).

Menurut Saundra Hybels dan Richard L. Weafer dalam Liliweri (2002), komunikasi merupakan proses pertukaran informasi, gagasan, dan perasaan. Proses itu meliputi informasi yang disampaikan tidak hanya secara lisan dan tulisan, tetapi juga dengan bahasa tubuh, gaya maupun penampilan diri, atau menggunakan alat bantu di sekeliling kita untuk memperkaya sebuah pesan.

Billie J. Walhstrom mengungkapkan komunikasi adalah (1) pernyataan diri yang efektif; (2) pertukaran pesan-pesan yang tertulis,

(25)

pesan-pesan dalam percakapan, bahkan melalui percakapan, bahkan melalui imajinasi; (3) pertukaran informasi atau hiburan dengan kata-kata melalui percakapan atau dengan metode lain; (4) pengalihan informasi dari seseorang kepada orang lain; (5) pertukaran makna antar pribadi dengan sistem simbol; (6) proses pengalihan pesan melalui saluran tertentu kepada orang lain dengan efek tertentu (Liliweri, 2002: 4).

Paradigma konstruktivis melihat komunikasi sebagai produksi dan pertukaran makna. Fokus penelitian dalam paradigma ini adalah bukan bagaimana seseorang mengirimkan pesan, melainkan bagaimana masing- masing pihak dalam lalu lintas komunikasi saling memproduksi dan mempertukarkan makna. Di sini diandaikan tidak ada pesan dalam arti yang statis yang saling dipertukarkan dan disebarkan. Pesan itu sendiri dibentuk secara bersama-sama antara pengirim dan penerima atau pihak yang berkomunikasi dan dihubungkan dengan konteks sosial tempat mereka berada. Fokus dari pendekatan ini adalah bagaimana pesan politik dibuat/diciptakan oleh komunikator dan bagaimana pesan itu secara aktif ditafsirkan oleh individu sebagai penerima (Eriyanto, 2011: 46-47).

2.2.2 Komunikasi Massa

Pengertian komunikasi massa, merujuk kepada Jay Black dan Frederick C. Whitney (1988), adalah sebuah proses dimana pesan-pesan yang diproduksi secara massal/tidak sedikit itu disebarkan kepada massa penerima pesan yang luas, anonim dan heterogen (Nurudin, 2004: 11).

Komunikasi massa merupakan tipe komunikasi manusia (human communication) yang lahir bersamaan dengan mulai digunakannya alat- alat mekanik, yang mampu melipatgandakan pesan-pesan komunikasi (Wiranto, 2000: 1). Komunikasi massa juga dapat didefinisikan sebagai proses penggunaan sebuah medium massa untuk mengirim pesan kepada

(26)

audiens yang luas untuk tujuan memberi informasi, menghibur dan membujuk (Vivian, 2008: 450).

Seiring dengan bertumbuhnya media baru (new media) secara masif, proses dan karakteristik komunikasi massa mengalami perubahan.

Ketika tendensi ini cenderung meningkat, maka model baru akan diperlukan. Model tradisional yang menggambarkan penyebaran tegas antara sumber dengan penerima dan mengabaikan peran dari reaksi dan feedback khalayak tidak akan mampu menjelaskan proses komunikasi massa secara utuh (Perry, 2002: 66).

Model of New Media Usage menjadi model terkini untuk menjawab fenomena komunikasi massa yang diwarnai oleh pertumbuhan media baru. Karakteristik komunikasi massa menurut model ini di antaranya adalah (Perry, 2002: 66-67):

1. Segmen komunikasi secara cetak dan elektronik terhadap khalayak umum telah ditolak dengan lebih banyak pesan yang ditujukan pada kumpulan orang tertentu.

2. Teknologi memberikan kemudahan bagi khalayak untuk merespon media. Teknologi juga memberikan khalayak banyak kesempatan untuk berinteraksi dengan sumber media.

3. Khalayak media semakin sering membuat keputusan mereka sendiri terhadap konten daripada bergantung pada gate keeper.

Menurut Alexis S. Tan, fungsi komunikasi massa terdapat empat hal, yaitu (Hidayat, 2007: 65):

1. Memberi Informasi (to inform)

Mempelajari ancaman dan peluang, memahami lingkungan, menguji kenyataan, meraih keputusan.

(27)

2. Mendidik (to educate)

Memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang berguna memfungsikan dirinya secara efektif dalam masyarakatnya, mempelajari nilai, tingkah laku yang cocok agar diterima dalam masyarakatnya.

3. Mempersuasi (to persuade)

Memberi kepuasan mengadopsi nilai, tingkah laku, dan aturan yang cocok agar diterima dalam masyarakat.

4. Menyenangkan, memuaskan kebutuhan komunikan (to entertain) Menggembirakan, mengendorkan urat saraf, menghibur dan mengalihkan perhatian dari masalah yang dihadapi.

2.2.3 Teori Konstruksi Realitas Sosial

Teori konstruksi sosial berakar dari paradigma konstruktivis yang melihat realitas sosial sebagai konstruksi sosial yang diciptakan oleh individu. Teori ini dikemukakan oleh Peter L. Berger dan Thomas Luckmann. Sejatinya, teori ini dirumuskan sebagai suatu kajian teoritis dan sistematis mengenai sosiologi pengetahuan.

Istilah konstruksi atas realitas sosial (sosial construction of reality) yang diperkenalkan oleh kedua akademisi ini menggambarkan proses sosial melalui tindakan dan interaksinya, dimana individu menciptakan secara terus-menerus suatu realitas yang dimiliki dan dialami bersama secara subjektif (Berger dan Luckmann, 1990).

Realitas sosial yang dimaksud oleh Berger dan Luckmann ini terdiri dari realitas objektif, realitas simbolis, dan realitas subjektif. Realitas objektif adalah realitas yang terbentuk dari pengalaman di dunia objektif yang berada di luar diri individu, dan realitas ini dianggap sebagai kenyataan. Realitas simbolis merupakan ekspresi simbolis dari realitas objektif dalam berbagai bentuk. Sedangkan realitas subjektif adalah

(28)

realitas yang terbentuk sebagai proses penyerapan kembali realitas objektif dan simbolis ke dalam individu melalui proses internalisasi (Bungin, 2006: 192).

Apabila dikaitkan dalam konteks pemberitaan, maka berita bukan merupakan peristiwa atau fakta dalam arti yang riil. Ia adalah produk interaksi antara wartawan dan fakta. Dalam proses internalisasi, wartawan dilanda oleh realitas. Sementara dalam proses eksternalisasi, wartawan menceburkan dirinya untuk memaknai realitas (Eriyanto, 2011: 20).

Wartawan yang membuat berita tentang PKI, umpamanya memliki kerangka pemahaman dan konsepsi tersendiri tentang PKI ini. Dalam proses eksternalisasi, ada wartawan yang melihat PKI sebagai pelaku G30S, ada juga wartawan yang melihat PKI sebagai korban pembantaian massal.

Proses selanjutnya adalah internalisasi. Ketika wartawan berada di Lubang Buaya, atau pun kuburan massal PKI, ia melihat begitu banyak jejak peristiwa. Proses internalisasi berlangsung ketika wartawan melakukan observasi/pengamatan di lapangan. Kemudian, berita dihasilkan dari interaksi kedua proses tersebut.

2.2.4 Teori Shoemaker dan Reese

Shoemaker dan Reese (1996) mengemukakan terdapat perbedaan dalam memaknai suatu peristiwa dalam institusi media. Terdapat lima level yang memengaruhi isi sebuah media massa. Kelima level tersebut di antaranya adalah individu, rutinitas media, organisasi, ekstra media, dan ideologi.

1. Individu

Faktor individu menjadi tahap pertama dalam menentukan isi berita.

Wartawanlah yang melakukan peliputan langsung di lapangan.

(29)

Wartawan pula yang memutuskan realitas mana yang akan ditulis dalam beritanya. Realitas yang dipilihnya akan sangat bergantung pada pemaknaan peristiwa yang dipilihnya. Pemaknaan tersebut dipengaruhi oleh pendidikan, pengalaman, kesukaan, agama, gender, dan sikap wartawan tersebut terhadap peristiwa yang akan diberitakannya (Shoemaker dan Reese, 1996: 63-64).

2. Rutinitas media

Rutinitas media berarti suatu yang sudah terpola, terinstitusi, sesuatu bentuk yang diulang-ulang. Pada akhirnya membentuk suatu rutinitas yang dilakukan oleh pekerja media setiap hari (Shoemaker dan Reese, 1996: 105).

3. Struktur organisasi

Bagan struktur yang dimiliki sebuah organisasi media massa membantu menjelaskan empat pertanyaan penting, yaitu: apa peran organisasi, bagaimana organisasi terstruktur, apa saja kebijakan yang ada dan bagaimana kebijakan tersebut diimplementasikan, serta bagaimana kebijakan tersebut dijalankan (Shoemaker dan Reese, 1996: 142-144).

4. Kekuatan ekstra media

Level ini menjelaskan faktor budaya, kebutuhan khalayak, agama, dan lingkungan sosial politik tempat media itu berada pada akhirnya memengaruhi isi media tersebut. Dengan kata lain, level ini membahas mengenai sumber-sumber informasi media, pengiklan, khalayak sasaran, kontrol pemerintah, dan pasar media (Shoemaker dan Reese, 1996: 197).

5. Ideologi

Ideologi merupakan cara kita mempersepsikan dunia dan diri kita sendiri. Sebuah ideologi adalah seperangkat kerangka pikir yang menentukan cara pandang kita terhadap dunia dan bagaimana kita

(30)

harus bertindak. Level ideologi adalah level paling besar dalam model hierarki pengaruh isi media (Samuel Becker dalam Shoemaker dan Reese, 1996: 222).

Gambar 2.2.4 Model hierarki pengaruh isi media (Sumber: Shoemaker, Pamela J dan Stephen D. Reese, “Mediating The Messages: Theories of Influences on Mass Media Content”, Second

Edition, 1966, hlm. 64)

2.2.5 Framing

2.2.5.1 Pengertian Framing

Gagasan mengenai framing pertama kali dicetuskan oleh Beterson pada 1955. Mulanya, frame dimaknai sebagai struktur konseptual atau perangkat kepercayaan yang mengorganisir pandangan politik, kebijakan dan wacana serta menyediakan kategori-kategori standar untuk mengapresiasi realitas. Konsep ini kemudian dikembangkan lagi oleh Goffman pada 1974, yang mengandaikan frame sebagai kepingan-kepingan perilaku (strips of behavior) yang membimbing individu dalam membaca realitas (Sobur, 2006: 161-162).

Dalam perspektif komunikasi, analisis framing dipakai untuk membedah cara-cara atau ideologi media saat

Ideological Level Extramedia Level Organization Level Media Routines Level

Individual Level

(31)

mengkonstruksi fakta. Analisis ini mencermati strategi seleksi, penonjolan, dan pertautan fakta ke dalam berita agar lebih bermakna, lebih menarik, lebih berarti atau lebih diingat, untuk menggiring interpretasi khalayak sesuai perspektifnya.

Dengan kata lain, framing adalah pendekatan untuk mengetahui bagaimana perspektif atau cara pandang yang digunakan oleh wartawan ketika menyeleksi isu dan menulis berita. Cara pandang atau perspektif itu pada akhirnya menentukan fakta apa yang diambil, bagian mana yang ditonjolkan dan dihilangkan, serta hendak dibawa ke mana berita tersebut (Sudibyo, 1999: 23). Berita menjadi manipulatif dan bertujuan mendominasi keberadaan subjek sebagai sesuatu yang legitimate, objektif, alamiah, wajar, atau tak terelakan (Imawan, 2000: 65-73).

Framing adalah pendekatan untuk melihat bagaimana realitas dibentuk dan dikonstruksi oleh media. Proses pembentukan dan konstruksi realitas ini, hasil akhirnya adalah bagian tertentu dari realitas yang lebih menonjol dan lebih mudah tampak. Akibatnya, khalayak lebih mudah mengingat aspek-aspek yang tidak disajikan secara menonjol, bahkan tidak diberitakan, menjadi terlupakan dan sama sekali tidak diperhatikan oleh khalayak (Eriyanto, 2002: 66-77).

Melalui frame, wartawan memproses dan mengemas berbagai informasi yang tersedia dalam kategori kognitif tertentu.

Sebuah realitas bisa dibingkai dan dimaknai secara berbeda oleh media. Framing adalah pendekatan untuk mengetahui bagaimana perspektif atau cara pandang itu pada akhirnya menentukan fakta apa yang diambil, bagaimana yang ditonjolkan dan dihilangkan

(32)

serta hendak dibawa kemana berita tersebut (Nugroho, Eriyanto, Frans Surdiasis, 1999: 21).

Defenisi framing, dikemukakan beberapa tokoh, di antaranya (Eriyanto, 2002: 67-68):

1) Robert N. Entman

Proses seleksi dari berbagai aspek realitas sehingga bagian tertentu dari penelitian itu lebih menonjol dibandingkan aspek lain. Ia juga menyertakan penempatan informasi-informasi dalam konteks yang khas sehingga sisi tertentu mendapatkan alokasi lebih besar daripada sisi yang lain.

2) William A. Gamson

Cara bercerita (gugusan ide-ide) yang terorganisir sedemikian rupa dan menghadirkan konstruksi makna peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan objek suatu wacana. Cara bercerita itu dibentuk dalam sebuah kemasan (package). Kemasan itu semacam skema atau struktur pemahaman yang digunakan individu untuk mengkonstruksi makna pesan yang disampaikan, menafsirkan makna pesan yang ia terima.

3) Todd Gitlin

Strategi bagaimana realitas/dunia dibentuk, disederhanakan untuk ditampilkan kepada khalayak pembaca. Peristiwa- peristiwa ditampilkan dalam pemberitaan agar tampak menonjol dan menarik perhatian khalayak pembaca. Itu dilakukan dengan seleksi, pengulangan, penekanan, dan presentasi aspek tertentu dari realitas.

4) David E. Snow dan Robert Benford

Pemberian makna untuk menafsirkan peristiwa dari kondisi yang relevan. Frame mengorganisasikan sistem kepercayaan

(33)

dan diwujudkan dalam kata kunci tertentu, anak kalimat, citra tertentu, sumber informasi, dan kalimat tertentu.

5) Amy Binder

Skema interpretasi yang digunakan oleh individu untuk menempatkan, menafsirkan mengidentifikasi, dan melabeli peristiwa secara langsung atau tidak langsung. Frame mengorganisir peristiwa yang kompleks ke dalam bentuk pola yang mudah dipahami dan membantu individu untuk mengerti makna peristiwa.

6) Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki

Strategi komunikasi dan memproses berita. Perangkat kognisi yang digunakan dalam mengkode informasi, menafsirkan peristiwa dan dihubungkan dengan rutinitas konvensi pembentukan berita.

Sesuai dengan tiga corak paradigma ilmu pengetahuan (komunikasi), framing terbagi ke dalam tiga kategori. Kategori positivis, konstruktivis dan kritis. Ketiga-tiganya memiliki perbedaan dalam memandang realitas. Dalam konsepsi positivis realitas bersifat objektif. Ada fakta riil yang diatur oleh kaidah- kaidah tertentu yang berlaku universal. Berita adalah refleksi dan pencerminan dan realitas (mirror of reality), karena itu ia harus mencerminkan realitas yang hendak diberitakan (Hallin dan Mancini dalam Gurevitch dan Levy, 1985: 205).

Berbeda dengan konsepsi konstruktivis, realitas pada dasarnya dikonstruksi. Dalam kata-kata terkenal dari Carey, realitas bukanlah sesuatu yang terberi, seakan-akan ada, realitas sebaliknya diproduksi. Realitas yang dibentuk dalam berita

(34)

bersifat subjektif, dimana wartawan melihat realitas itu dengan perspektif dan pertimbangan subjektif (Eriyanto, 2011: 22-31).

Sementara dalam konsepsi kritis, realitas tidak mutlak namun semu. Realitas dikonstruk kekuatan sosial, politik dan ekonomi. Pandangan paradigma kritis, realitas tidak berada dalam harmoni tapi lebih dalam situasi konflik dan pergulatan sosial (Eriyanto, 2001). Reproduksi realitas (berita) yang dihasilkan oleh media massa merupakan representasi tarik ulur ideologi atau sistem nilai yang mempunyai kepentingan berbeda satu sama lain.

Media massa dalam hal ini cenderung dimonopoli oleh kelas kapitalis untuk memenuhi kepentingan dan ideologi mereka, mempertahankan status quo serta menekan kelas-kelas tertentu (Irwanto, 2013).

Edward W. Said (1981) dalam bukunya Covering Islam:

How the Media and the Expert Determine How We See the Rest of the World pernah mengkritik bagaimana Islam dibingkai oleh media Barat. Menurut Said, media barat mengidentikkan Islam dengan kegarangan, tradisional, potong tangan atau hukuman rajam yang tidak manusiawi, orang-orangnya yang culas dan teroris. Bagi sebagian orang yang tidak pernah mengunjungi atau mempelajari mengenai Timur Tengah, pandangan mereka akan dipenuhi imajinasi dan stereotipe Islam yang ditampilkan oleh media Barat.

Kritik Said sejalan dengan paradigma yang dinyatakan Peter D. Moss (1999), dimana surat kabar menawarkan definisi-definisi tertentu mengenai kehidupan manusia lewat narasinya: siapa pahlawan dan siapa penjahat; apa yang baik dan buruk bagi rakyat;

apa yang layak dan apa yang tidak layak untuk dilakukan seorang pemimpin; tindakan apa yang disebut perjuangan (demi membela

(35)

kebenaran dan keadilan) dan pemberontakan atau terorisme; isu apa yang relevan dan tidak; alasan apa yang masuk akal dan tidak;

dan solusi apa yang harus diambil dan ditinggalkan.

Terkadang tanpa sadar, ketika kita menyimak suatu wacana dalam surat kabar atau TV, kita telah digiring oleh definisi yang ditanamkan media massa tersebut. Definisi itu bisa jadi mengubah defenisi kita mengenai realitas sosial atau memperteguh asumsi yang kita miliki sebelumnya (Eriyanto, 2002: xi).

2.2.5.2 Framing Model Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki menyatakan bahwa terdapat dua konsepsi dari framing yang saling berkaitan. Pertama dalam konsepsi psikologi yaitu bagaimana seseorang memproses informasi dalam dirinya serta bagaimana seseorang mengolah sejumlah informasi dan ditunjukkan dalam skema tertentu. Kedua, konsepsi sosiologis yaitu bagaimana individu menafsirkan suatu peristiwa melalui cara pandang tertentu. Bagaimana seseorang mengklasifikasikan, mengorganisasikan, dan menafsirkan pengalaman sosialnya untuk mengerti dirinya dan realitas di luar dirinya (Eriyanto, 2002: 252-253).

Dalam pendekatan ini, perangkat framing dapat dibagi dalam empat struktur besar. Pertama, struktur sintaksis yang berhubungan dengan bagaimana wartawan menyusun peristiwa dalam bentuk susunan umum berita. Kedua, struktur skrip yang berhubungan dengan bagaimana wartawan mengisahkan dan menceritakan peristiwa ke dalam bentuk berita. Ketiga, struktur tematik yang berhubungan dengan bagaimana wartawan mengungkapkan pandangan atau peristiwa ke dalam proposisi.

Keempat, struktur retoris yang berhubungan dengan bagaimana

(36)

wartawan menekankan arti tertentu ke dalam berita. (Eriyanto, 2002:294). Keempat struktur tersebut dapat dibuat dalam bentuk gambar sebagai berikut:

Gambar 2.2.5.2 Framing Model Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki (Sumber: Eriyanto, “Analisis Framing: Konstruksi, Ideologi, dan

Politik Media”, 2011, hlm. 295)

Contoh kajian framing model ini terdapat dalam skripsi karya Gema Mawardi (2012) dan Muhammad Rifat Syauqi (2011). Gema Mawardi, mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Kekhususan Komunikasi Massa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UI mengangkat penelitian tentang “Pembingkaian Berita Media Online (Analisis Framing Berita Mundurnya Surya Paloh dari

Headline, lead, latar informasi, kutipan sumber, pernyataan penutup.

5W + 1H

Paragraf, proposisi, kalimat, hubungan antar kalimat.

Kata, idiom,

gambar/foto, grafik.

STRUKTUR PERANGKAT FRAMING UNIT YANG DIAMATI

SINTAKSIS Cara wartawan Menyusun fakta

SKRIP Cara wartawan Mengisahkan fakta

TEMATIK Cara wartawan Menulis fakta

RETORIS Cara wartawan Menekankan fakta

1. Skema Berita

2. Kelengkapan Berita

3. Detil 4. Koherensi 5. Bentuk Kalimat 6. Kata Ganti

7. Leksikon 8. Grafis 9. Metafora

(37)

Partai Golkar di mediaindonesia.com dan vivanews.com Tanggal 7 September 2011)”. Ia meneliti berita mundurnya Surya Paloh dari Partai Golkar di mediaindonesia.com dan vivanews.com.

Hasil dari penelitiannya adalah: Framing yang dilakukan mediaindonesia.com terhadap berita mundurnya Surya Paloh dari Partai Golkar sangat berpihak pada kepentingan pemilik media, sementara framing yang dilakukan vivanews.com masih menunjukkan usaha media untuk melakukan pendekatan pada objektivitas pemberitaan.

Sementara skripsi karya Muhammad Rifat Syauqi (mahasiswa jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah) mengangkat penelitian berjudul “Analisis Framing Pemberitaan Satu Tahun Pemerintahan SBY Budiono di Harian Media Indonesia”. Perbedaannya terletak pada objek yang diteliti.

Muhammad Rifat Syauqi meneliti berita satu tahun pemerintahan SBY Budiono di Harian Media Indonesia.

Hasil dari penelitian Muhammad Rifat Syauqi adalah:

Semua berita di Media Indonesia terkait satu tahun pemerintahan SBY Budiono lebih menekankan kepada evaluasi selama satu tahun pemerintahan yang dipimpin SBY Budiono. Terlihat dari berita yang disajikan, terdapat angka merah terhadap kinerja dari pemerintahan yakni di bidang hubungan internasional, kinerja ekonomi, kinerja hukum, dan kinerja politik dan kemungkinan adanya reshuffle.

Bahasa jurnalistik dan pesan dakwah terhadap pemerintahan SBY di Media Indonesia masih terdapat kata-kata yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa jurnalistik yakni tidak tunduk kepada etika seperti “mendepak” dan “penggulingan” dan secara dakwah,

(38)

kata-kata tersebut tidak sesuai dengan qoulan karimah atau perkataan yang mulia apalagi ini berita tentang seorang pemimpin di sebuah Negara.

Contoh lain kajian framing model ini juga terdapat dalam buku Politik Media Mengemas Berita karangan Eriyanto, Bimo Nugroho, dan Frans Surdiasis (2000: 60-68). Dengan judul kajian Studi Kasus Analisis Framing Isu Pengalihan Kekuasaan Dari Soeharto Ke Habibie (21 Mei 1998) Pada Harian Kompas Dan Harian Republika, ketiga penulis meneliti framing terhadap dua judul berita, Soal Pengunduran Diri H.M. Soeharto, Pakar Tata Negara: Sah dan Konstitusional (Republika) dan Dari Sisi Hukum Tata Negara: Mundurnya Soeharto Timbulkan Pro-Kontra (Kompas). Perbandingan frame Republika dan Kompas dalam kajian tersebut dapat dilihat dalam tabel berikut:

(39)

Tabel 2.2.5.2 Perbandingan Frame Republika dan Kompas

Elemen Republika Kompas

Frame Pengangkatan Habibe Konstitusional

Pengangkatan Habibie Pro- Kontra

Sintaksis Wawancara pakar hukum tata negara yang menyatakan pengangkatan konstitusional.

Republika menempatkan pendapat pakar hukum yang menilai

konstitusional di awal tulisan, baru disusul pakar hukum yang menilai inkonstitusional.

Wawancara pakar hukum yang mempunyai pandangan bertolak belakang: yang satu menilai konstitusional yang lain menilai tidak konstitusional. Kedua pendapat disertai dengan bukti dan alasan yang sama-sama kuat.

Skrip Penekanan pada aspek legalitas.

Sementara sisi moral, rasa keadilan masyarakat tidak mendapat liputan.

Penekanan pada Pasal 8 UUD 1945 (wakil presiden secara otomatis menggantikan presiden). Sementara uraian Pasal 9 (pengangkatan harus dilakukan MPR) tidak diuraikan mendapat tempat.

Baik pendapat pakar hukum yang pro maupun tidak setuju proses politik itu ditempatkan saling melengkapi, saling menanggapi dalam posisi yang setara. Pendapat satu tidak ditempatkan lebih utama dibanding pendapat lain.

Argumentasi yang pro atau tidak setuju sama-sama benarnya.

Tematik (1) Pernyataan berhenti Soeharto dan pengangkatan Habibie konstitusional; (2) Pengucapan sumpah Habibie di Istana Negara adalah sah dan konstitusional; (3) Habibie setelah mengucapkan sumpah, mempunyai wewenang sebagai presiden yang sah; (4) Perlu diadakan SI MPR untuk mengesahkan kedudukan Habibie.

(1) Pernyataan berhenti Soehato dan pengangkatan Habibie menimbulkan pro-kontra (2) Pengambilan sumpah Habibie sebagai presiden di Istana Negara menimbulkan pro-kontra di kalangan ahli hukum dan masyarakat.

Retoris Pemberian label otoritas keilmuan dari pakar yang diwawancarai, memberi bukti dan klaim yuridis (pasal-pasal dalam UUD dan UU).

Pemakaian klaim yuridis dan otoritas keilmuan untuk

mendukung gagasan pendapat.

(Sumber: Eriyanto, Bimo Nugroho, dan Frans Surdiasis, “Politik Media Mengemas Berita”, 2000, hlm. 68)

(40)

2.2.6 Konseptualisasi Berita

Berita berasal dari bahasa Sansekerta, vrit dalam bahasa Inggris disebut write, arti sebenarnya ialah terjadi. Sebagian ada yang menyebut dengan vritta, artinya kejadian atau yang telah terjadi. Vritta kemudian diserap dalam bahasa Indonesia menjadi berita berita atau warta (Djunarto dalam Syauqi, 2011:21).

Dalam mengemas peristiwa menjadi berita, ada pertimbangan nilai berita (news value). Ini adalah prosedur pertama dari bagaimana peristiwa dikonstruksi. Nilai berita menyediakan standar dan ukuran bagi wartawan dalam praktik kerja jurnalistik. Nilai berita juga memperkuat dan membenarkan wartawan kenapa peristiwa tertentu diliput sedangkan yang lain tidak; karena aspek tertentu dari peristiwa mendapat porsi halaman yang besar sementara bagian lain dari peristiwa porsi halamannya sedikit.

Secara umum, nilai berita tersebut adalah prominence, human interest, conflict/controversy, unusual, dan proximity (Eriyanto, 2002:122-125).

Prominance adalah nilai berita yang diukur dari seberapa besar atau pentingnya suatu peristiwa. Human interest adalah nilai berita yang diambil dari peristiwa yang banyak mengandung unsur haru, sedih, dan menguras emosi khalayak. Conflict/controversy adalah nilai berita yang bersumber dari peristiwa yang mengandung unsur konflik lebih potensial.

Unusual adalah nilai berita yang mengandung peristiwa yang tidak biasa atau jarang terjadi. Sementara proximity adalah nilai berita berdasarkan kedekatan jarak peristiwa, baik kedekatan secara fisik maupun emosi dengan khalayak.

Contoh fenomena relasi nilai berita dengan framing adalah kasus kopi sianida, atau sangkaan pembunuhan yang dilakukan oleh Jessica terhadap Mirna. Dosen Kriminologi UI, Iqrak Sulhin (2016) dalam artikelnya: Pembunuhan dan “Framing” Media di situs Kompas.com

(41)

menyoroti aspek human interest yang terdapat dalam pemberitaan kasus pembunuhan di media massa.

Masih mengenai dramatisasi pembunuhan, Lizzie Seal, menambahkan ‘melodrama’ adalah frame pilihan media dalam membentuk cerita, yang cenderung memainkan emosi. Pemberitaan justru mengajak publik untuk larut dalam amarah atau kebencian (Pembunuhan dan “Framing” Media………Paragraf 28).

Tidak hanya sebatas framing, Sulhin mencoba memaparkan implikasi sosial sebagai akibat konstruksi media terhadap kejahatan.

Menurut Sulhin, media perlu secara rutin memberikan pembekalan kepada reporter/jurnalis tentang bagaimana memberitakan kejahatan secara proporsional. Bila proses framing terjadi secara tidak proporsional, maka publik akan dihadapkan pada beberapa dampak. Pertama, pemberitaan dapat menciptakan perbedaan makna kejahatan di masyarakat. Kedua, amplifikasi kejahatan di media massa dapat berdampak pada munculnya ketakutan akan kejahatan (fear of crime).

Ketiga, media dapat mendramatisasi kejahatan menjadi sesuatu layaknya sinetron atau telenovela. Kasus kopi sianida dalam hal ini, berhadapan dengan dampak yang ketiga.

Media massa adalah bisnis, sehingga aspek dramatis dari sebuah peristiwa akan dilihat sebagai sesuatu yang juga penting selain substansinya. Kemasan juga penting dalam hal ini. Bila tidak dikemas menarik, siapa yang akan tertarik membaca atau menonton (Pembunuhan dan “Framing” Media………Paragraf 31).

Selain nilai berita, berita juga memiliki kategori berita. Secara umum seperti yang dicatat Tuchman (dalam Eriyanto, 2002:126), wartawan memakai lima kategori berita: hard news, soft news, spot news, developing news dan continuing news. Kategori tersebut dipakai untuk membedakan jenis isi berita dan subjek peristiwa yang menjadi berita.

Kelima kategori tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

(42)

1. Hard news

Berita mengenai peristiwa yang terjadi saat itu. Kategori berita ini sangat dibatasi oleh waktu dan aktualitas. Semakin cepat diberitakan semakin baik. Bahkan ukuran keberhasilan dari kategori berita ini adalah dari sudut kecepatannya diberitakan. Kategori berita ini dipakai untuk melihat apakah informasi itu diberikan kepada khalayak dan sejauh mana informasi tersebut cepat diterima oleh khalayak. Peristiwa yang masuk dalam kategori hard news ini bisa peristiwa yang direncanakan bisa juga peristiwa yang tidak direncanakan.

2. Soft news

Kategori berita ini berhubungan dengan kisah manusiawi (human interest). Kalau dalam hard news, peristiwa yang diberitakan adalah peristiwa yang terjadi saat itu dan dibatasi oleh waktu, maka soft news tidak. Ia bisa diberitakan kapan saja. Karena yang menjadi ukuran dalam kategori berita ini bukanlah informasi dan kecepatan ketika diterima oleh khalayak, melainkan apakah informasi yang disajikan kepada khalayak tersebut menyentuh emosi dan perasaan khalayak.

3. Spot news

Spot news adalah subklasifikasi dari berita yang berkategori hard news.

Dalam spot news, peristiwa yang akan diliput tidak bisa direncanakan.

4. Developing news

Developing news adalah subklasifikasi lain dari hard news. Baik spot news maupun developing news umumnya berhubungan dengan peristiwa yang tidak terduga. Tetapi dalam developing news dimasukkan elemen lain, peristiwa yang diberitakan adalah bagian dari rangkaian berita yang akan diteruskan keesokan atau dalan berita selanjutnya.

(43)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian

Metode penelitian adalah analisis teori atau ilmu yang membahas tentang metode dalam melakukan penelitian. Metode penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah metode penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif adalah jenis penelitian yang temuan-temuannya tidak diperoleh melalui prosedur statistik atau bentuk hitungan lainnya dengan maksud memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian (Sugiarto, 2015: 8).

3.2 Subjek Penelitian

Subjek penelitian ini adalah Pers Mahasiswa Lentera.

3.2.1 Sejarah Singkat Pers Mahasiswa Lentera

Lentera bukanlah pers mahasiswa pertama yang berdiri di Fiskom UKSW. Sebelumnya, ada pers mahasiswa terakhir, Gema Rakyat Fiskom (Grafis) yang dirintis oleh Esther Krisnawati, dosen Fiskom dan beberapa mahasiswa. Selain KBM Jurnalistik, Fiskom juga memiliki Tim Akademia yang bekerjasama dengan Harian Joglosemar Solo, dimana mahasiswa berkesempatan menulis rubrik Akademia per dua minggu. Dari tim Akademia, kemudian terpikirkan untuk mendirikan KBM Jurnalistik di Fiskom.

Jeliana Gabrella Seilatuw dan keempat kawan yang lain dari tim Akademia saat itu, Yogya Robby, Amelia Pattipeilohy, Radya Laksana, dan Franciska Desti yang kemudian membicarakan hal ini dengan Kaprodi Komunikasi, Dewi Kartika Sari. Ide ini mendapat sambutan positif dari beliau. Bertepatan dengan regenerasi LK Fiskom dan pembukaan

(44)

pengajuan proposal KBM, mereka maju untuk mempresentasikan ide ini.

Dengan banyak perbaikan disana-sini, akhirnya Lentera disahkan oleh Senat Mahasiswa Fiskom pada 28 Agustus 2013 dan dapat merekrut anggota perdananya di Orientasi Mahasiswa Baru (OMB) UKSW 2013.

Kemudian, pada tahun 2017. Lentera memutuskan untuk keluar dari LK Fiskom UKSW. Ada tiga hal yang menjadi pertimbangan Lentera untuk tidak lagi berdiri di bawah naungan LK Fiskom UKSW. Pertama, soal sumber daya manusia. Kedua, Lentera sudah tidak ingin mengikuti sistem yang berlaku di LK Fiskom UKSW. Dan yang ketiga, Lentera sudah tidak sependapat dengan kebijakan yang diberikan oleh Pimpinan Fiskom UKSW.

Hingga saat ini, atau paling tidak hingga rapat terakhir Lentera pada 3 September 2017, jumlah anggota yang hadir dan dianggap aktif hanya tersisa tujuh orang. Ini artinya, jumlah anggota yang ada di Lentera tidak memenuhi aturan dari LK Fiskom UKSW yang menetapkan bahwa jumlah anggota Kegiatan Bakat Minat (KBM) atau Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) minimal adalah 10 mahasiswa. Namun demikian, jumlah ini tidak menjadi masalah bagi Lentera dan oleh karena itu, Lentera masih menjalankan aktivitas seperti biasanya.

Persoalan jumlah Sumber Daya Manusia (SDM) sebenarnya menyangkut sistem yang diterapkan oleh LK Fiskom UKSW. Namun, persoalan sistem yang Lentera maksud sebenarnya lebih tertuju pada hal birokratis. Lentera sudah tidak ingin direpotkan dengan urusan ‘rancangan program’ yang biasanya diajukan/diminta LK Fiskom UKSW di awal periode, sekaligus Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) di akhir periode.

Selanjutnya, soal kebijakan yang diberikan oleh Pimpinan Fiskom, Lentera tidak dapat mengikuti semua kebijakan yang ditetapkannya, terlebih lagi pada janjinya untuk mengembalikan Majalah Lentera Nomor 3/2015, edisi “Salatiga Kota Merah” yang hingga saat ini belum dipenuhi.

(45)

Lentera merasa dirugikan dengan adanya kejadian tersebut, karena persoalan sengketa pers yang tidak diselesaikan dengan mekanisme yang seharusnya dijalankan. Atau dengan kata lain, Lentera menghendaki ‘Hak Koreksi’, bukan ‘Pembredelan’. Sementara itu, ada serangkaian kebijakan lain yang dianggap memberatkan kerja-kerja jurnalistik yang harus ditempuh oleh Lentera.

Ide Lentera untuk menjadi “Wadah Diskursus Sivitas Fiskom UKSW” kini telah usang. Digantikan dengan “Kritis dan Merdeka” untuk tetap menjaga prinsip kebebasan dan kritis seperti ‘Ruang Publik’ yang dicita-citakan oleh Juergen Habermas. Bersamaan dengan terbitnya pernyataan resmi Lentera Tetaplah Lentera di laman situs portallentera.wordpress.com, Lentera secara terbuka menyatakan diri sebagai organisasi mahasiswa ekstra-kampus. Dengan harapan tetap menjadi pers mahasiswa yang independen, serta tetap kritis dengan melaksanakan kerja-kerja jurnalistik sembari mengamalkan nilai-nilai

“Satya Wacana”.

3.2.2 Ideologi Pers Mahasiswa Lentera

Awalnya, Lentera dibangun dengan filosofi yang dibawa oleh nama

‘Lentera’ itu sendiri yaitu alat penerang. Setelah berjalan setahun kemudian, Lentera menemukan jati dirinya. Di masa yang modern ini tidak ada lagi yang memakai lentera. Orang-orang sudah memakai lampu neon bahkan LED. Namun, ideologi itu tetap dipertahankan dalam kebaruan idealisme Habermas yang menjadi fondasi hasil renovasi Lentera.

Wadah Diskursus Sivitas Fiskom UKSW, menjadi motto Lentera yang rindu menghadirkan ruang publik dengan prinsip bebas dan kritis ala Habermas. Dalam usahanya untuk mewujudkan idealisme tersebut, Lentera berkali-kali tersandung dan jatuh. Pada 2013, awak redaksi Lentera disidang oleh Lembaga Kemahasiswaan Fiskom karena menurunkan opini

(46)

yang menolak mekanisme pemilihan Ketua Angkatan 2013. Pada 2015, Majalah Nomor 3/2015 disita dan pimpinannya diinterogasi oleh Polres Salatiga. Alasannya karena majalah yang melaporkan pembataian simpatisan PKI di Salatiga membuat resah masyarakat Kota Salatiga. Motto itu kemudian diganti dengan “Kritis dan Merdeka” seiring dengan momentum keluarnya Lentera dari LK Fiskom UKSW pada 2017.

3.2.3 Produk Pers Mahasiswa Lentera

Sejak lahir hingga tumbuh menjadi organisasi ektra-kampus, Lentera mengeluarkan produk cetak dan online. Untuk produk cetak, Lentera menerbitkan Buletin Lentera, Majalah Lentera, Jurnal Lentera dan Antalogi Puisi. Berikut deskripsi produk cetak Lentera:

1. Buletin Lentera

Buletin Lentera merupakan bentuk publikasi oleh Kelompok Bakat Minat (KBM) Jurnalistik Lentera yang mengangkat perkembangan suatu topik atau aspek tertentu, teraktual dan terfaktual dan diterbitkan/

dipublikasikan secara teratur (berkala) pada hari Rabu setiap minggunya. Buletin Lentera yang menampilkan karya tulis jurnalistik, opini, ilmiah populer dan sastra sivitas Fiskom khususnya dan Universitas umumnya. Buletin Lentera telah berhenti terbit hingga nomor 19. Seterusnya, Lentera menerbitkan koran dwi mingguan.

2. Majalah Lentera

Majalah Lentera merupakan bentuk publikasi yang mengangkat perkembangan suatu topik atau aspek tertentu seputar isu dan kejadian di kampus. Majalah Lentera yang berisi konten-konten yang informatif, mendidik dan menghibur ini diterbitkan/ dipublikasikan secara teratur setiap empat bulan sekali atau dua kali dalam satu periode. Hingga kini, Lentera telah mencetak sebanyak empat edisi majalah dari tahun 2014 hingga 2016. Edisi itu diantaranya adalah:

(47)

▪ Nomor 1/2014 – Piye Kabare, Aku Meh Lungo

▪ Nomor 2/2015 – Jatuh Bangun Persma UKSW

▪ Nomor 3/2015 – Salatiga Kota Merah

▪ Nomor 4/2016 – Berdamai dengan Luka Lama

3. Jurnal Lentera

Jurnal Lentera adalah produk jurnal yang diterbitkan oleh LPM Lentera setiap satu tahun sekali. Jurnal Lentera menampung karya tulis ilmiah baik hasil penelitian, refleksi maupun gagasan yang kritis dan merdeka berkaitan dengan bidang ilmu sosial-humaniora.

4. Antalogi Puisi

Antologi Puisi Lentera adalah kumpulan puisi karya pelajar SMA sederajat dan mahasiswa UKSW yang dikirimkan pada Lomba Menulis Puisi Lentera setiap tahunnya menjelang Dies Natalis Fiskom UKSW.

Antologi pertama Lentera berjudul Siapa Bilang Aku Perkasa? yang diambil dari puisi terbaik tingkat pelajar dalam antologi ini.

Untuk produk online, Lentera aktif menerbitkan berita seputar kampus dan Kota Salatiga di laman situs portallentera.wordpress.com. Laman situs itu memiliki delapan rubrik yaitu:

▪ Kampus

▪ Salatiga

▪ Laporan Khusus

▪ Opini

▪ Forum

▪ Lensa (subrubrik: Foto dan Video)

▪ Ragam (subrubrik: Litera, Pelesir, Sosok, dan Bincang)

▪ Sastra (subrubrik: Puisi dan Cerpen)

(48)

3.3 Objek Penelitian

Objek penelitian yang akan diteliti adalah sembilan teks berita/liputan khusus dalam Majalah Lentera Nomor 3/2015 edisi Salatiga Kota Merah.

3.4 Kerangka Analisis

Gambar 3.4 Alur Kerangka Analisis

3.5 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang sangat penting untuk menentukan berhasil atau tidaknya suatu penelitian. Dengan adanya teknik pengumpulan data, maka peneliti akan dimudahkan untuk data yang dibutuhkan.

Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan wawancara, observasi, dan kajian literatur.

➢ Kajian literatur

Teknik pengumpulan didapat dengan cara mempelajari dan mengumpulkan data melalui literatur sumber naskah yang relevan dan mendukung penelitian, dari berbagai sumber bacaan yang dikumpulkan seperti buku-buku pengetahuan, jurnal skripsi terdahulu, situs dan karya ilmiah

TEKS REPRESENTASI

➢ PKI (PARTAI KOMUNIS INDONESIA)

➢ PERISTIWA G30S (GERAKAN 30 SEPTEMBER)

➢ PEMBANTAIAN MASSAL SIMPATISAN PKI PADA 1965 DI SALATIGA

➢ EKS-TAPOL (TAHANAN POLITIK) ANALISIS

FRAMING

Referensi

Dokumen terkait