• Tidak ada hasil yang ditemukan

IDENTITAS BUKU. Bagian Kurikulum Bahan Ajar Pendidikan Pembentukkan Biro Kurikulum Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Polri Tahun 2019

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "IDENTITAS BUKU. Bagian Kurikulum Bahan Ajar Pendidikan Pembentukkan Biro Kurikulum Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Polri Tahun 2019"

Copied!
91
0
0

Teks penuh

(1)

PENGANTAR HIDUP KEPOLISIAN

Penyusun:

Tim Pokja lemdiklat Polri Editor:

1. Kombes Pol Dr. S.M. Handayani, M.Si.

2. AKBP Drs. J. Ebnu Suprihartono, M.M., M.Pd.

3. Pembina Dr. (c) Ekawaty K, S.H., M.Hum.

4. Penda I Dwi Hardjanti 5. Briptu Aries Adi Susanto

Bahan Ajar (Hanjar Pendidikan Polri)

Sekolah Pembentukan Perwira (SETUKPA)

Diterbitkan oleh:

Bagian Kurikulum Bahan Ajar Pendidikan Pembentukkan Biro Kurikulum

Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Polri Tahun 2019

Hak cipta dilindungi Undang-Undang

Dilarang menggandakan sebagian atau seluruh isi Bahan Ajar (Hanjar) Pendidikan Polri ini, tanpa izin tertulis dari Kalemdiklat Polri.

(2)

viii

DAFTAR ISI

Cover ... i

Sambutan Kalemdiklat Polri ... iii

Keputusan Kalemdiklat Polri ... v

Lembar Identitas ... vii

Daftar Isi ... viii

Pendahuluan ... 1

Standar Kompetensi ... 1

MODUL 1 HAKIKAT HUKUM KEPOLISIAN ... Pengantar ...2

Kompetensi Dasar ...2

Materi Pelajaran ...3

Metode Pembelajaran ... 3

Alat/Media Bahan, dan Sumber Belajar ...4

Kegiatan Pembelajaran ... 4

Tagihan/Tugas ...5

Lembar Kegiatan ...5

Bahan Bacaan ...6

1. Pengertian Hukum ... 6

2. Unsur-unsur hukum ... 6

3. Definisi hukum kepolisian ... 7

4. Beberapa pendapat pakar tentang hukum kepolisian ... 8

5. Latar belakang hukum kepolisian ... 8

6. Fungsi hukum kepolisian ... 10

(3)

PENGANTAR HUKUM KEPOLISIAN ix

7. Tujuan hukum kepolisian ... 10

Rangkuman ...11

Latihan ...11

MODUL 2 EKSISTENSI KEPOLISIAN DAN SIFAT HUKUM KEPOLISIAN ... Pengantar ...12

Kompetensi Dasar ...12

Materi Pelajaran ...13

Metode Pembelajaran ... 13

Alat/Media Bahan, dan Sumber Belajar ...14

Kegiatan Pembelajaran ... 14

Tagihan/Tugas ...15

Lembar Kegiatan ...15

Bahan Bacaan ...16

1. Kedudukan hukum kepolisian dalam hukum negara ... 16

2. Hubungan hukum kepolisian dalam hukum di Indonesia ... 17

3. Sifat hukum kepolisian hukum kepolisian ... 17

4. Tugas kepolisian dalam menjunjung tinggi HAM dan hukum negara ... 18

Rangkuman ...20

Latihan ...21

MODUL 3 SUMBER HUKUM KEPOLISIAN ... Pengantar ...22

Kompetensi Dasar ...22

Materi Pelajaran ...22

(4)

x

Metode Pembelajaran ... 23

Alat/Media Bahan, dan Sumber Belajar ...23

Kegiatan Pembelajaran ... 24

Tagihan/Tugas ...25

Lembar Kegiatan ...25

Bahan Bacaan ...25

1. Sumber hukum ...25

2. Sumber hukum kepolisian ...25

Rangkuman ...29

Latihan ...30

MODUL 4 ASAS HUKUM KEPOLISIAN DAN ASAS KEPOLISIAN ... Pengantar ...31

Kompetensi Dasar ...31

Materi Pelajaran ...31

Metode Pembelajaran ... 32

Alat/Media Bahan, dan Sumber Belajar ...32

Kegiatan Pembelajaran ... 33

Tagihan/Tugas ...34

Lembar Kegiatan ...34

Bahan Bacaan ...34

1. Definisi dan ciri-ciri asas ... 34

2. Asas-asas hukum kepolisian ... 35

3. Asas-asas kepolisian ... 36

Rangkuman ... 43

Latihan ... 44

(5)

PENGANTAR HUKUM KEPOLISIAN xi

MODUL 5 OBYEK HUKUM KEPOLISIAN ...45

Pengantar ...45

Kompetensi Dasar ...45

Materi Pelajaran ...46

Metode Pembelajaran ... 46

Alat/Media Bahan, dan Sumber Belajar ...47

Kegiatan Pembelajaran ... 47

Tagihan/Tugas ...48

Lembar Kegiatan ...48

Bahan Bacaan ...49

1. Tugas polisi sebagai esensi definisi hukum kepolisian ...49

2. Organ kepolisian sebagai esensi definisi hukum kepolisian 50 3. Hubungan antar organ dan tugas sebagai esensi definisi hukum kepolisian ...50

Rangkuman ...51

Latihan ...51

MODUL 6 KONSEPSI KEPOLISIAN ... Pengantar ...52

Kompetensi Dasar ...52

Materi Pelajaran ...53

Metode Pembelajaran ... 53

Alat/Media Bahan, dan Sumber Belajar ...54

Kegiatan Pembelajaran ... 54

Tagihan/Tugas ...55

Lembar Kegiatan ...55

(6)

xii

Bahan Bacaan ...56

1. Muatan konsepsi kepolisian ...56

2. Landasan ideal/falsafah kepolisian ...56

3. Fungsi kepolisian ... 57

4. Tujuan kepolisian ... 58

5. Peranan kepolisian ... 60

6. Susunan dan kedudukan kepolisian ...61

7. Tugas dan wewenang kepolisian ...64

8. Pembinaan fungsi kepolisian ...70

9. Hubungan-hubungan kepolisian ...72

Rangkuman ...74

Latihan ...75

MODUL 7 TANGGUNGJAWAB HUKUM ANGGOTA KEPOLSIAN ...

Pengantar ...

Kompetensi Dasar ...

Materi Pelajaran ...

Metode Pembelajaran ...

Alat/Media Bahan, dan Sumber Belajar ...

Kegiatan Pembelajaran ...

Tagihan/Tugas ...

Lembar Kegiatan ...

Bahan Bacaan ...

1. Dasar hukum tanggungjawab kepolisian ...

2. Tanggungjawab politis anggota Polri ...

3. Tanggungjawab hukum/yuridis anggota Polri ...

(7)

xiii PENGANTAR HUKUM KEPOLISIAN

4. Tanggungjawab disiplin anggota Polri ...

5. Tanggungjawab moral/etika profesi anggota Polri ...

6. Tanggungjawab HAM anggota Polri ...

Rangkuman ...

Latihan ...

(8)

MODUL PENGANTAR HUKUM KEPOLISIAN

16 JP (720 menit)

Pendahuluan

Hukum Kepolisian adalah hukum yang mengatur segala sesuatu mengenai Kepolisian. Kata pokok Kepolisian adalah Polisi yang diartikan sebagai fungsi yang menyangkut tugas dan wewenang, atau organ yang menyangkut organisasi dan administrasi. Polisi sebagai fungsi dinamakan pula Polisi dalam arti materiil sedangkan Polisi sebagai organ adalah Polisi dalam arti formal. Hukum akan mengatur fungsi Kepolisian dinamakan juga Kepolisian materiil dan hukum yang mengatur organ Kepolisian, hukum Kepolisian formal.

Istilah hukum Kepolisian dalam aspek penyelenggaraan kekuasaan Negara dimaksudkan bahwa hukum Kepolisian adalah hukum yang mengatur segala sesuatu yang bertalian dengan Polisi yakni hukum yang mengatur tentang tugas, status, organisasi dan wewenang Polisi baik sebagai fungsi maupun organ.

Standar Kompetensi

Memahami pengantar hukum kepolisian dalam pelaksanaan tugas.

(9)

PENGANTAR HUKUM KEPOLISIAN 2

MODUL

01

HAKIKAT HUKUM KEPOLISIAN

2 JP ( 90 menit)

Pengantar

Dalam modul ini dibahas tentang pengertian hukum, unsur-unsur hukum, definisi hukum kepolisian, beberapa pendapat pakar tentang hukum kepolisian, latar belakang hukum kepolisian, fungsi hukum kepolisian dan tujuan hukum kepolisian.

Tujuannya adalah agar peserta didik dapat memahami tentang materi hakikat hukum kepolisian.

Kompetensi Dasar

Memahami hakikat hukum kepolisian.

Indikator Hasil Belajar : Menjelaskan pengertian hukum 1. Menjelaskan pengertian hukum.

2. Menjelaskan unsur-unsur hukum.

3. Menjelaskan definisi hukum kepolisian.

4. Menjelaskan beberapa pendapat pakar tentang hukum kepolisian.

5. Menjelaskan latar belakang hukum kepolisian.

6. Menjelaskan fungsi hukum kepolisian.

7. Menjelaskan tujuan hukum kepolisian.

(10)

Materi Pelajaran

Pokok Bahasan

Hakikat Hukum Kepolisian.

Sub Pokok Bahasan 1. Pengertian hukum.

2. Unsur-unsur hukum.

3. Definisi hukum kepolisian.

4. Beberapa pendapat pakar tentang hukum kepolisian.

5. Latar belakang hukum kepolisian.

6. Fungsi hukum kepolisian.

7. Tujuan hukum kepolisian.

Metode Pembelajaran

1. Metode ceramah

Metode ini digunakan untuk menjelaskan materi tentang hakikat hukum kepolisian.

2. Metode tanya jawab

Metode ini digunakan untuk tanya jawab tentang materi yang telah disampaikan.

3. Metode penugasan

Metode ini digunakan untuk peserta didik membuat resume tentang materi yang telah disampaikan.

(11)

PENGANTAR HUKUM KEPOLISIAN 4

Alat /Medial, Bahan, dan Sumber Belajar

alat/media:

- White board;

- Flipchart;

- Komputer / Laptop;

- LCD;

- Proyektor;

- Lasser point.

bahan:

- Kertas Flipchart ; - Alat tulis.

sumber belajar :

- UU No. 2 Tahun 2002;

- Kelana Momo, Drs, Msi (1994),Hukum Kepolisian, PT Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta.

Kegiatan Pembelajaran

1. Tahap awal : 10 menit

Pendidik melaksanakan apersepsi dengan keiatan:

a. Pendidik memperkenalkan diri;

b. Pendidik menyampaikan tujuan pembelajaran pada modul ini;

c. Pendidik melakukan pencairan.

2. Tahap inti : 70 menit

a. Pendidik menjelaskan materi tentang hakikat Hukum Kepolisian.

b. Peserta didik memperhatikan, dan mencatat hal-hal yang penting, bertanya jika ada materi yang belum dimengerti/dipahami.

c.

Pendidik memberikan kesempatan kepada peserta didik tugas individu berupa membuat resume tentang materi yang telah diberikan.

d. Peserta didik melaksanakan tugas sesuai instruksi pendidik.

e. Pendidik meminta peserta didik mengumpulkan hasil tugas.

(12)

3. Tahap akhir : 10 menit a. Cek penguatan materi :

Pendidik memberikan ulasan secara umum terkait dengan proses pembelajaran

b. Cek penguasaan materi :

Pendidik mengecek penguasaan materi pelatihan dengan cara bertanya secara lisan dan acak kepada peserta didik.

c. Keterkaitan mata pelajaran dengan pelaksanaan tugas

Pendidik menggali manfaat yang bisa diambil dari materi pelajaran.

d. Pendidik menugaskan peserta didik untuk membuat resume.

Tagihan/Tugas

Peserta didik mengumpulkan hasil resume pada pertemuan berikutnya.

Lembar Kegiatan

Peserta didik membuat resume materi pelajaran yang telah di terima.

(13)

PENGANTAR HUKUM KEPOLISIAN 6

Bahan Bacaan

HAKIKAT HUKUM KEPOLISIAN

1. Pengertian Hukum

Setiap masyarakat memerlukan seperangkat nilai-nilai yang disepakati bersama, sebagai aturan serta acuan dalam hubungan antar warga masyarakat dengan masyarakatnya, agar terbentuk kehidupan bersama yang lestari dalam mencapai tujuan bersama. Nilai-nilai ini disebut sebagai hukum tersendiri dari perintah-perintah, kebolehan dan larangan yang wajib dipatuhi oleh segenap warga masyarakat.

Pelanggaran atas hukum akan dikenakan sanksi berupa hukuman. Kenyataannya hukum tidak selalu dipatuhi sehingga timbul kepentingan untuk mengawasi dan mencegah agar hukum tidak dilanggar. Tugas mengawasi dan mencegah agar hukum tidak dilanggar, dikenal sebagai tugas “Polisi” dan dilaksanakan oleh organ yang disebut “Polisi”. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa hukum adalah “Penata Masyarakat Normatif” yang untuk efektifnya memerlukan kewenangan penegakan hukum yaitu “polisi” sebagai “penata masyarakat efektif ”.

2. Unsur-unsur hukum

Sebagaimana telah dijelaskan dalam pengertian hukum, bahwa hukum terdiri dari Norma dan Sanksi. Norma dapat berbentuk perintah-perintah (imperare), larangan (prohibere) dan kebolehan (permitere). Bila perintah tidak dilaksanakan maka akan dikenakan sanksi (bisa berupa tindakan disiplin), bila larangan dilanggar maka juga akan dikenakan sanksi (mungkin bisa sanksi pidana), sedangkan kebolehan, pertimbangannya diserahkan kepada masing-masing individu sesuai nilai kesusilaannya. Dari beberapa perumusan tentang hukum, maka dapat diambil kesimpulan bahwa hukum meliputi beberapa unsur, yaitu :

a. Pengaturan mengenai tingkah laku manusia dalam pergaulan masyarakat .

b. Peraturan diadakan oleh badan-badan resmi yang berwajib.

c. Peraturan bersifat mengatur dan memaksa.

d. Adanya sanksi yang tegas terhadap pelanggaran peraturan tersebut.

(14)

3. Definisi Hukum kepolisian

Hukum kepolisian di Indonesia belum banyak dikenal walaupun secara substansi telah digunakan, baik dalam pelaksanaan tugas polisi sehari-hari, maupun sebagai mata kuliah di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian sejak tahun 1958. Keadaan yang demikian adalah wajar saja bila dikaitkan dengan perkembangan profesi kepolisian dan ilmu kepolisian yang juga masih taraf pemahaman dan pengenalan sesudah Indonesia merdeka pada tahun 1945.

Hukum kepolisian berkembang sejalan dengan perkembangan Ilmu kepolisian, profesi kepolisian dan ketatanegaraan.

Sebagaimana diketahui perkembangan Ilmu Kepolisian memerlukan perkayaan unsur-unsur dan konsep-konsep dari cabang Ilmu pengetahuan lain antara lain Ilmu hukum guna membantu dalam menjelaskan gejala-gejala dan pemecahan masalah yang termasuk dalam bidang tugas kepolisian.

Oleh karena itu dengan sendirinya pemahaman hukum kepolisian memerlukan pula pemahaman tentang profesi kepolisian dan ilmu kepolisian serta pemahaman ilmu hukum, karena dalam kajian dan pembahasannya saling memiliki sifat dan ciri-ciri hukum sedangkan objeknya mengikuti batasan profesi kepolisian dan ilmu kepolisian.

Dengan demikian bahasan hukum kepolisian akan berupa aspek dari profesi kepolisian dan ilmu kepolisian dan konteks ketatanegaraan serta hukum-hukum yang diperlakukan oleh polisi dalam melaksanakan tugasnya.

Di Inggris yang kenal sebagai negara penganut Anglo Saxon (Common Law), Police Law diartikan sebagai kumpulan undang-undang dan peraturan-peraturan yang diperlukan oleh polisi dalam melaksanakan tugasnya ( An arrangement of Law and Regulations for the Use Police officers)

Di Jerman yang menganut aliran Eropa Kontinental (Civil Law), Polizei Recht dianggap sebagai kumpulan hukum yang dikhususkan pada kedudukan dan wewenang polisi yang antara lain memuat sejarah polisi, hakikat polisi, dasar-dasar hukum secara umum untuk memberi kewenangan kepada polisi untuk bertindak dan wewenang bertindak secara khusus, baik terhadap orang maupun terhadap benda.

Di Negara Belanda yang juga menganut aliran Eropa Kontinental (Civil Law) Politie Recht merupakan dasar-dasar bagi tindakan polisi dan isinya sama dengan Polizei Recht di Jerman.

Di Indonesia, hukum kepolisian adalah hukum yang mengatur segala hal ikhwal kepolisian dalam lingkungan kuasa soal-soal dan kuasa tempat, termasuk juga didalamnya pengaturan

(15)

PENGANTAR HUKUM KEPOLISIAN 8 tentang hak dan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan fungsi kepolisian.

4. Beberapa pendapat pakar tentang hukum Kepolisian

a. Van Vollenhoven : Politie Recht merupakan bagian dari Administratie Recht.

b. Thorbecke (1843) dan Dela Bessecour Caan (1870) menggunakan istilah Politie Recht untuk menyebut Adminidtratie Recht.

c. Bill Drews (1927) dan Gerhard Wacke : Polizei Recht dapat dianggap sebagai bagian dari hukum admnistrasi negara yang mengatur hakekat polisi, dasar-dasar hukum secara umum untuk memberi kewenangan, kewajiban dan kekuasaan kepada polisi, juga untuk memberi kewenangan secara khusus baik terhadap orang maupun terhadap benda.

d. Cecil.CH.Moriarthy : Police Law meliputi semua peraturan dan undang-undang yang harus diketahui oleh polisi. (Anarragement of law and regulations for the use of police officers).

e. Drs. Soebroto Brotodirejo, SH. Hukum kepolisian Adalah hukum yang mengatur tentang tugas, status, organisasi dan wewenang polisi, baik secara fungsi maupun secara organ.

f. Drs. Momo Kelana, Msi. hukum kepolisian adalah hukum yang mengatur tentang tugas, status, organisasi dan wewenang badan-badan kepolisian, serta bagaimana badan-badan kepolisian tersebut melaksanakan tugas dan wewenangnya dalam lingkungan kuasa waktu, tempat, orang dan soal-soal.

5. Latar Belakang Hukum Kepolisian

a. Sebagaimana telah dijelaskan dimuka bahwa setiap masyarakat perlu hukum yang bersifat mengatur dan memaksa bentuk–bentuk hubungan warga masyarakat dalam kehidupan bersama. Hukum terdiri dari kaidah- kaidah dalam masyarakat yang diciptakan dengan harapan dapat dipatuhi oleh para warga masyarakat agar masyarakat sebagai bentuk kehidupan bersama dapat langsung lestari dan mencapai tujuan yang disepakati bersama.

b. Dalam kenyataanya ternyata hukum tidak selalu dipatuhi, bahkan selalu dijumpai pelangggaran terhadap hukum /kaidah/pertautan dalam masyarakat. Bila hal ini terjadi terus menerus dan tidak dilakukan tindakan maka akan dapat membahayakan dan merupakan ancaman bagi kelangsungan/keutuhan masyarakat.

(16)

c. Dalam keadaan yang demikian, maka dirasakan oleh masyarakat adanya kepentingan untuk mengawasi agar hukum dipatuhi, mencegah agar tidak terjadi pelanggaran hukum, dan menindak pelanggar hukum apabila telah terjadi pelanggaran. Untuk melaksanakan kepentingan tersebut, maka timbul apa yang disebut sebagai “tugas polisi”.

d. Pada masyarakat “pra negara” (masyarakat yang belum berbentuk organisasi politik seperti negara) yaitu pada masyarakat hukum adat, maka tugas mengawasi, mencegah, menindak pelanggar (tugas polisi) dilaksakan oleh setiap warga masyarakat. Namun demikian dalam perkembangannya ternyata tugas tersebut tidak lagi mampu dilaksanakan karena adanya kepentingan yang saling bertentangan diantara para warga masyarakat tersebut. Proses untuk mengatasi masalah tersebut dilakukan oleh masyarakat dengan membentuk kelompok tertentu dalam keluarga yang diberi tugas untuk melaksanakan tugas polisi, dikenal dengan istilah kin police (Polisi yang dibentuk dari bawah).

e. Dalam perkembangan masyarakat di Inggris dikenal kelompok-kelompok Kin Police , yaitu untuk kelompok 10 keluarga disebut “Tythings” dan pemimpinnya disebut

“Tythingman”. Untuk 100 keluarga disebut “Hundredman”

sedangkan untuk 1000 keluarga disebut “Shire” yang dipimpin oleh “Shirereevees” dan kemudian dikenal sebagai “Sheriff”.

f. Setelah masyarakat berkembang terbentuk organisasi politik yang bernama “Negara”, maka tugas polisi menjadi suatu bentuk kekuasaan Negara dan merupakan salah satu fungsi pemerintahan Negara yang disebut ”Fungsi Kepolisian”. Dilaksanakan oleh organ/badan yang disebut

“POLISI”

g. Tugas, wewenang dan tanggungjawab kepolisian diwadahi dalam organ kepolisian negara (di Indonesia disebut Polri) yang terdiri dari susunan pejabat pengemban fungsi kepolisian.

h. Para pejabat pengemban fungsi kepolisian tersebut adalah warga negara yang didalam hukum dan pemerintahan wajib menjunjung tinggi hukum dan pemerintahan sama dengan warga negara lainnya. Oleh karena itu, perlu ada hukum yang mengatur tentang tugas, status, organisasi, wewenang dan tanggung jawab polisi dan mengatur hak warga masyarakat untuk berpartisipasi dalam tugas kepolisian dan hak warga masyarakat untuk mengawasi polisi agar tidak terjadi tindakan sewenang-wenang, melanggar hak asasi manusia dan bentuk-bentuk penyimpangan di luar kewenangan berdasarkan hukum.

(17)

PENGANTAR HUKUM KEPOLISIAN 10 Hukum yang sedemikian itu adalah “Hukum kepolisian”.

6. Fungsi Hukum Kepolisian a. Fungsi hukum kepolisian

Dari uraian tentang latar belakang hukum kepolisian, bahwa fungsi hukum kepolisian berkait dengan dua kepentingan yaitu :

1) Kepentingan penyelenggaraan fungsi kepolisian dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan negara.

2) Kepentingan warga masyarakat sebagai warga negara yang wajib mendapat perlindungan hak- haknya baik dalam mendapatkan pelayanan kepolisian maupun hak warga masyarakat untuk mengawasi kinerja polisinya.

Untuk kepentingan yang pertama, fungsi hukum kepolisian adalah bersifat mengatur dan memaksa agar ketentuan tugas, status, organisasi, wewenang dan tanggung jawab kepolisian dilaksanakan sebagaimana mestinya dan tidak terjadi penyimpangan diluar wewenang berdasarkan hukum.

Untuk kepentingan yang kedua, fungsi hukum kepolisian bersifat mengatur dan memaksa agar masyarakat dapat menggunakan hak-haknya dalam berpartisipasi untuk melaksanakan tugas-tugas kepolisian sesuai ketentuan perundang-undangan (tidak main hakim sendiri). Selain itu hukum kepolisian juga mengatur tentang akuntabilitas penyelenggaraan tugas kepolisian kepada masyarakat/rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi negara.

7. Tujuan hukum kepolisian

Tujuan hukum kepolisian ialah agar penyelenggaraan fungsi kepolisian dalam rangka mewujudkan keamanan dalam negeri yang meliputi pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat, penegakan hukum, perlindungan, pengayoman serta pelayanan kepada masyarakat terselenggara melalui perangkat yang difahami dan ditaati, baik oleh pejabat kepolisian maupun oleh masyarakatnya, sebagai acuan membangun kemitraan masyarakat dan polisi dalam memecahkan masalah yang dihadapi bersama.

(18)

Rangkuman

1. Hukum Kepolisian adalah hukum yang mengatur segala hal ikhwal kepolisian dalam lingkungan kuasa soal-soal,orang, tempat dan waktu.

2. Unsur-unsur hukum terdiri dari :

a. Pengaturan mengenai tingkah laku manusia dalam pergaulan masyarakat .

b. Peraturan diadakan oleh badan-badan resmi yang berwajib.

c. Peraturan bersifat mengatur dan memaksa.

d. Adanya sanksi yang tegas terhadap pelanggaran peraturan tersebut.

3. Fungsi Hukum Kepolisian :

Fungsi hukum kepolisian berkait dengan dua kepentingan yaitu : a. Kepentingan penyelenggaraan fungsi kepolisian dalam

rangka penyelenggaraan pemerintahan negara.

b. Kepentingan warga masyarakat sebagai warga negara yang wajib mendapat perlindungan hak-haknya baik dalam mendapatkan pelayanan kepolisian maupun hak warga masyarakat untuk mengawasi kinerja polisinya.

4. Tujuan Hukum Kepolisian :

Agar penyelenggaran fungsi kepolisian dalam rangka mewujudkan keamanan dalam negri yang meliputi pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat, penegakan hukum dan perlindungan, pengayoman serta pelayanan kepada masyarakat terselenggara melalui perangkat yang difahami dan ditaati, baik oleh pejabat kepolisian maupun oleh masyarakatnya.

Latihan

1. Jelaskan pengertian hukum kepolisian ! 2. Jelaskan unsur-unsur hukum !

3. Jelaskan latar belakang hukum kepolisian ! 4. Sebutkan fungsi hukum kepolisian !

5. Jelaskan tujuan hukum kepolisian !

(19)

PENGANTAR HUKUM KEPOLISIAN 12

MODUL 02

EKSISTENSI KEPOLISIAN DAN SIFAT HUKUM KEPOLISIAN

2 JP ( 90 Menit )

Pengantar

Dalam modul ini dibahas tentang kedudukan hukum kepolisian dalam hukum negara, hubungan hukum kepolisian dalam hukum di Indonesia, sifat hukum kepolisian dan tugas kepolisian dalam menjunjung tinggi HAM dan hukum negara.

Tujuannya adalah agar peserta didik dapat memahami tentang eksistensi hukum kepolisian dan sifat hukum kepolisian.

Kompetensi Dasar

Memahami eksistensi hukum kepolisian dan sifat hukum kepolisian.

Indikator Hasil Belajar

1. Menjelaskan kedudukan hukum kepolisian dalam hukum negara.

2. Menjelaskan hubungan hukum kepolisian dalam hukum di Indonesia.

3. Menjelaskan sifat hukum kepolisian hukum kepolisian.

4. Menjelaskan tugas kepolisian dalam menjungjung tinggi HAM dan hukum negara.

(20)

Materi Pelajaran

Pokok Bahasan

Eksistensi hukum kepolisian dan sifat hukum kepolisian.

Sub Pokok Bahasan

1. Kedudukan hukum kepolisian dalam hukum negara.

2. Hubungan hukum kepolisian dalam hukum di Indonesia.

3. Sifat hukum kepolisian hukum kepolisian.

4. Tugas kepolisian dalam menjunjung tinggi HAM dan hukum negara.

Metode Pembelajaran

1. Metode ceramah

Metode ini digunakan untuk menjelaskan materi tentang eksistensi hukum kepolisian dan sifat hukum kepolisian.

2. Metode Tanya jawab

Metode ini digunakan untuk tanya jawab tentang materi yang telah disampaikan.

3. Metode penugasan

Metode ini digunakan untuk peserta didik membuat resume tentang materi yang telah disampaikan.

(21)

PENGANTAR HUKUM KEPOLISIAN 14

Alat /Medial, Bahan, dan Sumber Belajar

alat/media:

- White board;

- Flipchart;

- Komputer / Laptop;

- LCD;

- Proyektor;

- Lasser point.

bahan:

- Kertas Flipchart ; - Alat tulis.

sumber belajar :

- UU No. 2 Tahun 2002;

- Kelana Momo, Drs, Msi (1994),Hukum Kepolisian, PT Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta.

Kegiatan Pembelajaran

1. Tahap awal : 10 menit

Peserta didik melaksanakan refleksi yang ditugaskan oleh pendidik:

a. Peserta didik melaksankan refleksi yang ditugaskan oleh pendidik;

b. Pendidik mengaitkan materi yang sudah disampaikan dengan materi yang akan disampaikan;

c. Menyampaikan tujuan pembelajaran pada modul ini.

2. Tahap inti : 70 menit

a. Pendidik menjelaskan materi tentang eksistensi hukum kepolisian dan sifat hukum kepolisian.

b. Peserta didik memperhatikan, dan mencatat hal-hal yang penting, bertanya jika ada materi yang belum dimengerti/dipahami.

c. Pendidik memberikan kesempatan kepada peserta didik tugas individu berupa membuat resume tentang materi yang telah diberikan.

(22)

d. Peserta didik melaksanakan tugas sesuai instruksi pendidik.

e. Pendidik meminta peserta didik mengumpulkan hasil resume.

3. Tahap akhir : 10 menit a. Cek penguatan materi

Pendidik memberikan ulasan secara umum terkait dengan proses pembelajaran dan hasil diskusi.

b. Cek penguasaan materi

Pendidik mengecek penguasaan materi pelatihan dengan cara bertanya secara lisan dan acak kepada peserta didik.

c. Keterkaitan mata pelajran dengan pelaksanaan tugas

Pendidik menggali manfaat yang bisa diambil dari materi pelajaran.

d. Pendidik menugaskan peserta didik untuk membuat resume.

Tagihan/Tugas

Peserta didik mengumpulkan hasil resume pada pertemuan berikutnya.

Lembar Kegiatan

Peserta didik membuat resume materi pelajaran yang telah di terima.

(23)

PENGANTAR HUKUM KEPOLISIAN 16

Bahan Bacaan

EKSISTENSI KEPOLISIAN DAN SIFAT HUKUM KEPOLISIAN

1. Kedudukan Hukum Kepolisian dalam Hukum Negara a. Pembagian hukum menurut isinya.

Dalam ilmu hukum ada bermacam-macam pembagian ilmu hukum, diantaranya adalah pembagian hukum menurut Isinya. Menurut isinya hukum dapat dibagi dalam :

1) Hukum sipil (hukum privat) yaitu hukum yang mengatur hubungan-hubungan antara orang satu dengan orang yang lain, dengan menitik beratkan kepada kepentingan perseorangan.

2) hukum publik (hukum negara), yaitu hukum yang mengatur hubungan negara dengan alat perlengkapannya atau hubungan antara negara dengan perseorangan (warga negara).

Hukum publik dalam arti luas mencakup hukum tata negara, hukum administrasi negara, hukum pidana, dan hukum internasional. Hukum tata negara dan hukum administrasi negara disebut sebagai hukum negara. Dengan demikian hukum negara mencakup pengaturan tentang tata negara dan cara melaksanakan tugas negara (adminitrasi negara) melalui pengaturan berbagai kewenangan para pejabat negara. Fungsi kepolisian merupakan salah satu fungsi pemerintah negara sehingga rumusan tujuan, fungsi, tugas dan wewenangnya merupakan aspek hukum tata negara dalam penyelenggaraan fungsi kepolisian. Selanjutnya dalam melaksanakan tugas, pejabat kepolisian mengacu pada ketentuan tentang cara penggunaan wewenang dan tanggung jawab kepolisian yang merupakan aspek hukum administrasi negara. Dengan demikian tempat hukum kepolisian dalam hukum negara berada pada dua aspek hukum negara yaitu hukum tata negara yang bersifat statis, disebut hukum kepolisian diam (in rust) dan hukum administrasi negara yang bersifat dinamis disebut hukum kepolisian bergerak (in beweging).

b. Pendapat prof. logemann : hukum publik dalam arti sempit identik dengan hukum negara dalam arti luas yang terdiri dari :

1) Hukum negara dalam arti sempit yaitu hukum

(24)

tata negara

2) Hukum administrasi negara (hukum tata usaha negara)

c. Undang-Undang kepolisian No. 13 tahun 1961 pasal 1 ayat (2) : “Kepolisian Negara dalam melaksanakan tugasnya selalu menjunjung tinggi hak-hak asasi rakyat dan hukum negara”

d. Undang-Undang Kepolisian No.2 Th 2002 Pasal 2 :

“Fungsi Kepolisian adalah salah satu fungsi pemerintahan negara di bidang pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyrakat, penegakan hukum, perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat”

Bertitik tolak dari ketentuan undang-undang tersebut, maka hukum kepolisian dapat disimpulkan sebagai hukum negara dalam lingkungan pekerjaan polisi.

2. Hubungan Hukum Kepolisian dalam Hukum di Indonesia.

Hukum kepolisian di Indonesia merupakan hukum positif dalam arti hukum yang berlaku sebagai bagian dari hukum nasional yang positif di Indonesia. Sebagaimana diketahui dari perjalanan sejarah bangsa Indonesia yang mengalami penjajahan Belanda selama ratusan tahun, maka dibidang hukum terjadi resepsi hukum dan konkordansi, dalam arti bahwa sistem hukum yang dianut dan berlaku di Hindia Belanda meneladani hukum yang berlaku di negeri Belanda yang mengacu kepada Code Civil Prancis (Aliran Eropa Kontinental).

Pada waktu Indonesia merdeka tahun 1945, Undang-Undang Dasar RI tahun 1945, Aturan Peralihan Pasal II menyatakan bahwa : “Segala Badan Negara dan peraturan yang ada masih langsung berlaku, selama belum diadakan yang baru menurut Undang-Undang Dasar ini”. Oleh karena itu sistem hukum di Indonesia menganut aliran eropa kontinental/sistem Romawi- Jerman sehingga hukum kepolisian di Indonesia juga mengacu kepada sistem yang berlaku di Belanda (Politie Recht) dan Jerman (Polizei Recht).

3. Sifat Hukum Kepolisian

a. Sifat hukum pada umumnya :

Menurut Van Apeldoorn : Hukum bersifat mengatur dan memaksa.

Dilihat dari kekuatan sanksinya :

1) hukum yang bersifat mengatur (regelend recht) yaitu

(25)

PENGANTAR HUKUM KEPOLISIAN 18 hukum yang tujuannya hanya memberi pedoman tentang bagaimana yang sebaiknya.

2) Hukum yang bersifat memaksa (dwinged recht) yaitu hukum yang tidak dapat dikesampingkan oleh peraturan apapun juga.

b. Beberapa klasifikasi hukum lainnya.

Terdapat beberapa klasifikasi hukum lainnya antara lain, klasifikasi hukum:

1) Hukum prosedural atau hukum formal, biasa juga disebut hukum acara.

2) Hukum substantif atau hukum material.

c. Sifat hukum kepolisian

Sifat hukum kepolisian adalah mengatur dan memaksa memuat ketentuan prosedural dan substantif. Dengan demikian hukum kepolisian merupakan hukum positif dan ketentuan prosedural merupakan ketentuan yang mengatur, memberi pedoman tentang cara pelaksanaan yang sebaiknya. Dalam undang-undang kepolisian dijumpai pasal yang mengatur tugas, wewenang dan hubungan-hubungan, ketentuan yang memaksa, memberi paksaan kepada polisi untuk melaksanakan tugas dan wewenangnya sesuai ketentuan perundang- undangan dan kewajiban umumnya, bagi yang tidak mematuhinya dikenakan sanksi. (pasal yang mengatur tanggung jawab).

4. Tugas Kepolisian dalam Menjunjung Tinggi HAM dan Hukum Negara

a. Tujuan Kepolisian dan HAM.

Dalam Undang-Undang Kepolisian No. 2 Tahun 2002, Pasal 4 disebutkan bahwa : “Kepolisian Negara Repulik Indonesia bertujuan untuk mewujudkan keamanan dalam negeri yang meliputi terpeliharanya keamanan dan ketertiban masyarakat, tertib dan tegaknya hukum, terselenggaranya perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat, serta terbinanya ketentraman masyarakat dengan menjungjung tinggi hak asasi manusia”.

Selain memuat tujuan kepolisian, Pasal 4 Undang- Undang No.2 Tahun 2002 juga memuat arahan dan rambu-rambu bagi penyelenggaraan fungsi kepolisian yaitu : “dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia”.

(26)

Dalam hal ini, ”hak asasi manusia” tidak merupakan tujuan kepolisian tapi merupakan sesuatu yang harus senantiasa mewarnai dan harus diperhatikan dalam setiap gerak pelaksanaan tugas kepolisian.

b. Tugas kepolisian dan hukum Negara.

Dikaitkan dengan tujuan kepolisian dan kepentingan nasional, tugas kepolisian adalah untuk menjamin kepentingan nasional aspek keamanan negara yaitu : Kepentingan masyarakat (terpeliharanya keamanan dan ketertiban masyarakat), kepenitngan negara (menegakan hukum-hukum negara), dan kepentingan penduduk secara individual (memberi perlindungan, pengayoman, dan pelayanan). Tugas kepolisian dilaksanakan untuk tegaknya hukum negara sehingga demikian kewibawaan Negara dapat terjaga.

(27)

PENGANTAR HUKUM KEPOLISIAN 20

Rangkuman

1. Kedudukan Hukum Kepolisian dalam Hukum Negara a. Pembagian hukum menurut isinya.

1) Hukum sipil (hukum privat) yaitu hukum yang mengatur hubungan-hubungan antara orang satu dengan orang yang lain, dengan menitik beratkan kepada kepentingan perseorangan.

2) hukum publik (hukum negara), yaitu hukum yang mengatur hubungan negara dengan alat perlengkapannya atau hubungan antara negara dengan perseorangan (warga negara).

b. Pendapat prof. logemann : hukum publik dalam arti sempit identik dengan hukum negara dalam arti luas yang terdiri dari:

1) Hukum negara dalam arti sempit yaitu hukum tata negara

2) Hukum administrasi negara (hukum tata usaha negara) c. Undang-Undang Kepolisian No. 13 tahun 1961 pasal 1

ayat (2) : “Kepolisian Negara dalam melaksanakan tugasnya selalu menjungjung tunggi hak-hak asasi rakyat dan hukum negara”

d. Undang-Undang Kepolisian No.2 Th 2002 Pasal 2 : “Fungsi Kepolisian adalah salah satu fungsi pemerintahan negara di bidang pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyrakat, penegakan hukum, perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat”

2. Hubungan Hukum Kepolisian dalam Hukum di Indonesia.

Hukum kepolisian di indonesia merupakan hukum positif dalam arti hukum yang berlaku sebagai bagian dari hukum nasional yang positif di indonesia.

3. Sifat Hukum Kepolisian

a. Sifat hukum pada umumnya :

Menurut Van Apeldoorn : Hukum bersifat mengatur dan memaksa. Dilihat dari kekuatan sanksinya :

1) hukum yang bersifat mengatur (regelend recht) yaitu hukum yang tujuannya hanya memberi pedoman

(28)

tentang bagaimana yang sebaiknya.

2) Hukum yang bersifat memaksa (dwinged recht) yaitu hukum yang tidak dapat dikesampingkan oleh peraturan apapun juga.

b. Beberapa klasifikasi hukum lainnya.

Terdapat bebrapa klasifikasi hukum lainnya antara lain, klasifikasi hukum:

1) Hukum prosedural atau hukum format, biasa juga disebut hukum acara.

2) Hukum substantif atau hukum material.

c. Sifat hukum kepolisian

4. Tugas Kepolisian dalam Menjungjung Tinggi HAM dan Hukum Negara

a. Tujuan kepolisian dan HAM.

b. Tugas kepolisian dan hukum negara.

Latihan

1. Jelaskan kedudukan hukum kepolisian dalam hukum negara ! 2. Jelaskan hubungan hukum kepolisian dengan hukum di Indonesia

!

3. Sebutkan sifat hukum pada umumnya !

4. Jelaskan tugas kepolisian dalam menjunjung tinggi HAM dan hukum negara !

(29)

PENGANTAR HUKUM KEPOLISIAN 22

MODUL 03

SUMBER HUKUM KEPOLISIAN

2 JP ( 90 Menit )

Pengantar

Modul ini membahas tentang sumber hukum dan sumber hukum kepolisian.

Tujuannya adalah agar peserta didik memahami tentang sumber hukum kepolisian.

Kompetensi Dasar

Memahami sumber hukum kepolisian.

Indikator Hasil Belajar :

1. Menjelaskan sumber hukum.

2. Menjelaskan sumber hukum kepolisian.

Materi Pelajaran

Pokok Bahasan

Sumber hukum kepolisian.

Sub pokok bahasan : 1. Sumber hukum.

2. Sumber hukum kepolisian.

(30)

Metode Pembelajaran

1. Metode ceramah

Metode ini digunakan untuk menjelaskan materi tentang sumber hukum kepolisian.

2. Metode tanya jawab

Metode ini digunakan untuk tanya jawab tentang materi yang telah disampaikan.

3. Metode diskusi

Metode ini digunakan untuk melaksanakan diskusi dalam kelompok dengan materi yang sudah ditentukan.

Alat /Medial, Bahan, dan Sumber Belajar

alat/media:

- White board;

- Flipchart;

- Komputer / Laptop;

- LCD;

- Proyektor;

- Lasser point.

bahan:

- Kertas Flipchart ; - Alat tulis.

sumber belajar :

- UU No. 2 Tahun 2002;

- Kelana Momo, Drs, Msi (1994),Hukum Kepolisian, PT Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta.

(31)

PENGANTAR HUKUM KEPOLISIAN 24

Kegiatan Pembelajaran

1. Tahap awal : 10 menit

Peserta didik melaksanakan refleksi yang ditugaskan oleh pendidik :

a. Peserta didik melaksankan refleksi yang ditugaskan oleh pendidik;

b. Pendidik mengaitkan materi yang sudah disampaikan dengan materi yang akan disampaikan;

c. Menyampaikan tujuan pembelajaran pada modul ini.

2. Tahap inti : 70 menit

a. Pendidik menjelaskan materi tentang sumber hukum kepolisian.

b. Peserta didik memperhatikan, dan mencatat hal-hal yang penting, bertanya jika ada materi yang belum dimengerti/dipahami.

c. Pendidik memberikan memberikan kesempatan kepada peserta tugas individu berupa mebuat resume tentang materi yang telah diberikan.

d. Peserta didik melaksanakan tugas sesuai instruksi pendidik.

e. Pendidik meminta peserta didik mengumpulkan hasil tugas.

3. Tahap akhir : 10 menit a. Cek penguatan materi

Pendidik memberikan ulasan secara umum terkait dengan proses pembelajaran dan latihan.

b. Cek penguasaan materi

Pendidik mengecek penguasaan materi pelatihan dengan cara bertanya secara lisan dan acak kepada peserta didik.

c. Keterkaitan mata pelajran dengan pelaksanaan tugas

Pendidik menggali manfaat yang bisa diambil dari materi pelajaran.

d. Pendidik menugaskan peserta didik untuk membagi kelompok dan berdiskusi.

(32)

Tagihan/Tugas

Masing-masing kelompok memaparkan hasil diskusi kelompok dan ditanggapi oleh kelompok lain nya.

Lembar Kegiatan

1. Peserta didik dibagi menadi 5 kelompok.

2. Setiap kelompok menginventarisasi sumber hukum kepolisian pada masing-masing fungsi kepolisian dan contoh kegiatan praktik kepolisian pada setiap fungsi kepolisian.

Bahan Bacaan

SUMBER HUKUM KEPOLISIAN

1. Sumber Hukum

Dalam ilmu hukum dikenal istilah sumber hukum yang terdiri dari sumber hukum formal dan sumber hukum material

a. Sumber hukum formal yaitu sumber yang menentukan kekuatan berlakunya hukum. Dalam hal ini yang penting adalah cara terciptanya hukum dan bentuk dimana hukum dinyatakan.

b. Sumber hukum material yaitu sumber hukum yang menentukan isi kaidah hukum.

2. Sumber Hukum Kepolisian

Sebagaimana sumber hukum pada umumnya, sumber hukum kepolisian adalah undang-undang, kebiasaan praktik kepolisian, traktat, yurisprodensi dan ilmu pengetahuan.

a. Undang-undang sebagai sumber hukum kepolisian

Undang-undang sebagai bentuk hukum dinyatakan secara tertulis dan mempunyai kekuatan memaksa.

Materi hukum kepolisian tersebar dalam berbagai peraturan perundang-undangan selain dalam undang- undang yang secara khusus mengatur tentang

(33)

PENGANTAR HUKUM KEPOLISIAN 26 kepolisian. Tiap negara menentukan sumber hukum dan tata urutan peraturan perundang-undangan.

Sumber dan tata urutan perundang-undangan di Indonesia diatur dalam Undang-undang No. 12 Tahun 2011 yaitu :

1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

2) Undang-Undang/PERPU (Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang)

3) Peraturan Pemerintah 4) Peraturan Presiden 5) Peraturan Daerah

Undang-undang membuat kaidah hukum, sebagai hasil dari proses perkembangan ukuran baik buruk suatu perbuatan (kaidah-kaidah) dalam masyarakat yang terdiri dari “Kaidah kesusilaan perorangan, kaidah kesusilaan masyarakat dan kaidah hukum”.

Kaidah kesusilaan perorangan adalah kaidah yang penilaian tentang baik dan buruknya suatu perbuatan diserahkan kepada orang yang melakukan perbuatan itu sendiri dan tidak terkait dengan sekitarnya. Contoh : Perbuatan seseorang yang bertelanjang bulat sendirian dikamar tertutup, penilaian baik buruknya terserah pada orang yang melakukan perbuatan itu sendiri.

Kaidah kesusilaan masyarakat, adalah kaidah yang penilaiannya tentang baik buruknya suatu perbuatan ditentukan oleh penilaian masyarakat. Bila masyarakat menilai suatu perbuatan sebagai perbuatan yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat, maka perbuatan itu merupakan perbuatan baik yang dianjurkan untuk dilakukan (sunnah), sedangkan perbuatan yang dinilai oleh masyarakat tidak bermanfaat dan bahkan banyak mudaratnya maka perbuatan itu akan dinilai oleh masyarakat sebagai perbuatan buruk yang tercela (makruh) yang harus dihindari dan dicegah.

Kaidah kesusilaan perorangan dan kaidah masyarakat hanya mempunyai kekuatan moral sebatas “anjuran”

atau “himbauan” dan tidak mempunyai kekuatan memaksa. Oleh karena itu kaidah kesusilaan masyarakat yang ingin mempunyai kekuatan memaksa harus dikukuhkan dengan Undang-undang melalui proses pembentukan oleh Badan Pembuat Undang-undang.

Dengan demikian dapat disimpulkan pada hakikatnya undang-undang merupakan bentuk kaidah hukum sebagai pengukuhan dari kaidah kesusilaan masyarakat.

(34)

b. Kebiasaan praktik kepolisian sebagai sumber hukum kepolisian

Kebiasaan adalah perbuatan manusia yang tetap dilakukan berulang-ulang dalam hal yang sama. Dalam penyelenggaraan fungsi kepolisian juga terdapat kebiasaan perbuatan pejabat kepolisian yang selalu dilakukan berulang dalam kasus serupa. Perbuatan tersebut dinilai oleh pimpinan kepolisian sebagai perbuatan yang sebaiknya dilakukan dan dituangkan dalam petunjuk pelaksanaan tugas, sebaliknya perbuatan yang dianggap tercela dinyatakan sebagai perbuatan yang dilarang untuk dilakukan. contoh : dalam kasus kecelakaan lalu lintas, polisi selalu membuat perdamaian antara pelaku dan korban walaupun proses pidananya tetap diteruskan ke pengadilan. hal seperti ini dapat dikatakan sebagai “kebiasaan praktek kepolisian”

Contoh lain adalah, kebiasaan praktik petugas kepolisian yang mengajukan permintaan secara langsung kepada pejabat imigrasi yang berwenang ditempat pemeriksaan imigrasi dalam keadaan mendesak atau mendadak untuk mencegah atau menangkal orang yang disangka melakukan tindak pidana. Walaupun prosedurnya permintaan itu harus diajukan oleh Kapolri, tetapi kebiasaan praktek seperti itu sangat efektif dan bermanfaat sehingga kemudian dikukuhkan dalam Undang-Undang Kepolisian No. 2 Tahun 2002 Pasal 16 ayat (10 huruf j). Sebagai salah satu kewenangan Polri dalam proses pidana.

c. Traktat (treaty) / Perjanjian Internasional

Traktat merupakan suatu bentuk hubungan internasional untuk menampung kesepakatan dari pihak-pihak yang bersangkutan tentang sesuatu hal. Oleh karena itu pihak- pihak yang bersangkutan, apabila telah mengadakan perjanjian maka masing-masing terikat pada isi perjanjian itu harus mentaati dan menepatinya. (Pacta Sunt Servanda).

Perjanjian yang diadakan oleh dua negara atau lebih disebut perjanjian antar negara atau perjanjian internasional atau biasa juga disebut Traktat.

Traktat yang diadakan oleh dua negara tersebut Traktat Bilateral dan bila diadakan oleh lebih satu negara, disebut Traktat Multilateral. Selain itu ada juga yang disebut Traktat Kolektif atau Traktat Terbuka yaitu Traktat Multilateral yang kemudian diikuti pula oleh negara- negara lain yang pada mulanya tidak turut serta,

(35)

PENGANTAR HUKUM KEPOLISIAN 28 misalnya Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Kerja sama antar negara dibidang tugas kepolisian merupakan suatu kebutuhan, untuk itu Traktat menjadi sumber hukum yang mengatur kompetensi dan hubungan kerjasama tersebut, beberapa contoh antara lain : Asian-African Legal Consultative organitation An Effective International Legal Instrument Against Corruption, United Nations Convensation Sgainst Corruption, Twelve United Nations Conventions on Terrorism...dsb.

Beberapa kesulitan yang dijumpai dan dihadapi oleh Polri dalam memburu tersangka yang lari keluar negeri antara lain karena belum adanya perjanjian ekstradisi antara Indonesia dengan negara yang bersangkutan.

d. Yurisprodensi

Seorang Hakim mempunyai hak membuat peraturan sendiri untuk menyelesaikan suatu perkara. Dengan demikian, apabila undang-undang ataupun kebiasaan tidak memberi peraturan yang dapat dipakai untuk menyelesaikan perkara itu, maka hakim harus membuat peraturan sendiri. Keputusan hakim yang berisikan suatu peraturan sendiri berdasarkan kewenangannya, kemudian menjadi dasar keputusan hakim lainnya untuk mengadili perkara yang serupa, dan keputusan hakim tersebut menjadi sumber hukum bagi pengadilan.

Keputusan hakim yang demikian disebut hukum Yurisprodensi.

Yurisprodensi adalah keputusan hakim yang terdahulu yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap dan sering diikuti dan dijadikan dasar keputusan hakim mengenai masalah yang serupa.

Yang perlu diperhatikan oleh polisi adalah keputusan hakim yang relevan dengan dengan pelaksanaan tugasnya agar dijadikan pedoman bagi tindakan kepolisian dimasa yang akan datang. Dengan demikian

“Sebuah keputusan hakim” yang memuat putusan hukuman “bebas murni” bagi terdakwa harus dijadikan bahan kajian mengenai adanya kesalahan dalam pelaksanaan penyidikan yang dilakukannya. Demikian juga dengan keputusan hakim dalam gugatan pra- peradilan terhadap polisi yang ternyata polisinya dinyatakan salah, maka hal itu menjadi catatan untuk penyempurnaan petunjuk pelaksanaan tugas. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa yurisprodensi merupakan sumber hukum kepolisian.

(36)

e. Ilmu pengetahuan.

Pendapat para sarjana hukum dan pendapat pakar kepolisian, juga mempunyai pengaruh dalam pengambilan keputusan mengenai penyelenggaraan fungsi kepolisian dan mengenai pelaksanaan tugas kepolisian.

Dalam pelaksanaan penyidikan, para penyidik sering menggunakan pendapat para ahli dalam ilmu pengetahuan hukum dan kepolisian, lebih-lebih dalam peradilan dikenal apa yang disebut sebagai saksi ahli, hal itu dilakukan dalam rangka upaya obyektifitas penyidikan dan kriteria profesionalitas untuk dituangkan kedalam berkas perkara yang akan diajukan kepada penuntut umum.

Hal-hal yang diperlukan dalam pelaksanaan tugas tetapi tidak ditemukan dalam undang-undang, kebiasaan praktek kepolisian, traktat dan yurisprodensi, dapat dicari dalam ilmu pengetahuan, berupa pendapat pakar ilmu pengetahuan. Dalam praktek berupa nasihat atau fatwa dari ahli ilmu kepolisian dan/atau Saksi ahli untuk bidang tertentu.

Rangkuman

1. Sumber Hukum

Dalam ilmu hukum dikenal istilah sumber hukum yang terdiri dari sumber hukum formal dan sumber hukum meterial

a. Sumber hukum formal yaitu sumber yang menetukan kekuatan berlakunya hukum. Dalam hal ini yang penting adalah cara terciptanya hukum dan bentuk dimana hukum dinyatakan.

b. sumber hukum material yaitu sumber hukum yang menetukan isi kaidah hukum.

2. Sumber Hukum Kepolisian

Sebagaimana sumber hukum pada umumnya, sumber hukum kepolisian adalah undang-undang, kebiasaan praktek kepolisian, traktat, yurisprusensi dan ilmu pengetahuan.

a. Undang-undang sebagai sumber hukum kepolisian b. Kebiasaan Praktek kepolisian sebagai sumber kepolisian c. Traktat (treaty) / Perjanjian Internasional

d. Yurisprudensi e. Ilmu pengetahuan.

(37)

PENGANTAR HUKUM KEPOLISIAN 30

Latihan

1. Jelaskan sumber hukum !

2. Jelaskan sumber hukum kepolisian !

(38)

MODUL

04

ASAS-ASAS HUKUM KEPOLISIAN DAN ASAS KEPOLISIAN

2 JP ( 90 Menit )

Pengantar

Dalam modul ini dibahas tentang definisi dan ciri-ciri asas, asas-asas hukum Kepolisian, asas-asas Kepolisian.

Tujuannya adalah agar peserta didik dapat memahami tentang materi asas-asas hukum kepolisian dan asas-asas kepolisian.

Kompetensi Dasar

Memahami asas-asas hukum kepolisian dan asas-asas kepolisian.

indikator hasil belajar:

1. Menjelaskan definisi dan ciri-ciri asas 2. Menjelaskan asas-asas hukum kepolisian 3. Menjelaskan asas-asas kepolisian

Materi Pelajaran

Pokok bahasan

Asas-asas hukum kepolisian dan asas-asas kepolisian.

Sub pokok bahasan

1. Definisi dan ciri-ciri asas 2. Asas-asas hukum kepolisian 3. Asas-asas kepolisian

(39)

PENGANTAR HUKUM KEPOLISIAN 32

Metode Pembelajaran

1. Metode ceramah

Metode ini digunakan untuk menjelaskan materi tentang asas- asas hukum kepolisian dan asas-asas kepolisian.

2. Metode tanya jawab

Metode ini digunakan untuk Tanya jawab tentang materi yang telah disampaikan.

3. Metode penugasan

Metode ini digunakan untuk peserta didik membuat resume tentan materi yang telah disampaikan.

Alat /Medial, Bahan, dan Sumber Belajar

alat/media:

- White board;

- Flipchart;

- Komputer / Laptop;

- LCD;

- Proyektor;

- Lasser point.

bahan:

- kertas Flipchart ; - Alat tulis.

sumber belajar :

- Undang-Undang RI No. 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bersih dan Bebas Dari Korupsi, Kolusi, dan

Nepotisme.

- UU No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia;

- Kelana Momo, Drs, Msi (1994),Hukum Kepolisian, PT Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta.

(40)

Kegiatan Pembelajaran

1. Tahap awal : 10 menit

Peserta didik melaksanakan refleksi yang ditugaskan oleh pendidik :

a. Peserta didik melaksankan refleksi yang ditugaskan oleh pendidik;

b. Pendidik mengaitkan materi yang sudah disampaikan dengan materi yang akan disampaikan;

c. Menyampaikan tujuan pembelajaran pada modul ini.

2. Tahap inti : 70 menit

a. Pendidik menjelaskan materi tentang asas-asas hukum kepolisian dan asas-asas kepolisian.

b. Peserta didik memperhatikan, dan mencatat hal-hal yang penting, bertanya jika ada materi yang belum dimengerti/dipahami.

c. Pendidik memberikan memberikan kesempatan kepada peserta tugas individu berupa mebuat resume tentang materi yang telah diberikan.

d. Peserta didik melaksanakan tugas sesuai instruksi pendidik.

e. Pendidik meminta peserta didik mengumpulkan hasil tugas.

3. Tahap akhir : 10 menit a. Cek penguatan materi

Pendidik memberikan ulasan secara umum terkait dengan proses pembelajaran dan hasil diskusi.

b. Cek penguasaan materi

Pendidik mengecek penguasaan materi pelatihan dengan cara bertanya secara lisan dan acak kepada peserta didik.

c. Keterkaitan mata pelajran dengan pelaksanaan tugas

Pendidik menggali manfaat yang bisa diambil dari materi pelajaran.

d. Pendidik menugaskan peserta didik untuk membuat resume.

(41)

PENGANTAR HUKUM KEPOLISIAN 34

Tagihan /Tugas

Peserta didik mengumpulkan hasil resume pada pertemuan berikutnya.

Lembar Kegiatan

Peserta didik membuat resume materi pelajaran yang telah di terima.

Bahan Bacaan

ASAS-ASAS HUKUM KEPOLISIAN DAN ASAS KEPOLISIAN

1. Definisi dan Ciri-ciri Asas

Perkembangan hukum kepolisian sebagai hukum positif bertitik tolak dari asas-asas atau sendi-sendi pokok untuk tugas kepolisian. Asas-asas hukum kepolisian merupakan unsur yang penting dari peraturan hukum kepolisian karena :

a. Asas berprinsip atau garis pokok dari mana mengalir kaidah- kaidah atau garis hukum yang diterapkan secara langsung kepada suatu perbuatan konkrit (tindakan kepolisian) dalam masyarakat.

b. Semua peraturan kepolisian (hukum positif) dapat dikembalikan kepada asas-asas hukum kepolisian, sehingga asas merupakan landasan yang paling luas bagi lahirnya suatu peraturan dan berfungsi sebagai satu ujian untuk menilai apakah suatu kaidah itu merupakan suatu kaidah yang baik atau tidak. Dalam hal ini asas dapat dipandang sebagai sumber dimulainya sesuatu (pangkal otak).

c. Asas hukum kepolisian mengandung nilai-nilai dan tuntutan etika yang menjiwai kaidah-kaidah dalam peraturan kepolisian sebagai hukum positif

(42)

Beberapa ciri dari asas dapat dicatat antara lain : 1) Asas bersifat umum, abstrak dan bersifat hakiki.

2) Asas dapat diurai dan dijabarkan kepada hal khusus dan konkrit

3) Asas berfungsi sebagai batu ujian untuk menilai kaidah atau hukum positif.

4) Asas memiliki hirarki atau tingkatan, Semakin tinggi tingkatan asas maka sifatnya akan lebih umum dan abstsrak.

5) Asas tidak dapat diterapkan secara langsung kepada perbuatan konkrit.

2. Asas-asas Hukum Kepolisian

Sebagai salah satu fungsi pemerintahan negara, penyelenggaraan fungsi kepolisian tunduk pada hukum negara, sehingga asas yang dianut dengan sendirinya menganut asas hukum umum yang berlaku dalam penyelenggaraan pemerintahan negara dalam arti hukum nasional positif. Dengan demikian bila dalam mengahadapi masalah kepolisian berkait dengan negara lain maka hukum nasional menjadi acuan utama oleh kepolisian. Asas-asas hukum kepolisian yang dianut antara lain :

a. Asas Hukum Nasional

Yaitu seluruh perundang-undangan yang berlaku diseluruh wilayah republik Indonesia. Yang bersifat mengatur dan memaksa.

b. Asas Kodifikasi

Adalah pembukuan hukum dalam suatu kumpulan undang- undang dalam materi yang sama.

c. Asas Umum Penyelenggaraan Negara meliputi : 1) Asas kepastian hukum.

Pengertian asas kepastian hukum adalah asas dalam negara hukum yang mengutamakan landasan peraturan perundang-undangan, kepatutan, dan keadilan dalam setiap kebijakan penyelenggara negara. Maksudnya asas ini menghendaki dihormatinya hak yang telah diperoleh seseorang berdasarkan suatu keputusan badan atau pejabat administrasi negara.

(43)

PENGANTAR HUKUM KEPOLISIAN 36 2) Asas tertib penyelenggaraan negara.

Pengertian asas tertib penyelenggaraan negara adalah asas yang menjadi landasan keteraturan, keselarasan dan keseimbangan dalam pengendalian penyelenggaraan negara.

3) Asas kepentingan umum.

Pengertian asas kepentingan umum adalah asas yang mendahulukan kesejahteraan umum dengan cara yang aspiratif, akomodatif, dan selektif.

Maksudnya asas ini menghendaki pemerintah harus mengutamakan kepentingan umum terlebih dahulu.

4) Asas keterbukaan

Pengertian asas keterbukaan adalah asas yang membuka diri terhadap hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar, jujur, dan tidak diskriminatif tentang penyelenggaraan negara dengan tetap memperhatikan perlindungan atas hak asasi pribadi, golongan dan rahasia negara.

5) Asas proporsionalitas

Pengertian asas proporsionalitas adalah asas yang mengutamakan keseimbangan antara hak dan kewajiban penyelenggara negara.

6) Asas profesionalitas

Pengertian asas profesionalitas adalah asas yang mengutamakan keahlian yang berlandaskan kode etik dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

7) Asas akuntabilitas

Pengertian asas akuntabilitas adalah asas yang menentukan bahwa setiap kegiatan dan hasil akhir dari kegiatan penyelenggara negara harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat atau rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

3. Asas-asas Kepolisian

Asas kepolisian merupakan aktualisasi Hukum Kepolisian sebagai acuan dalam penyelenggaraan fungsi kepolisian pada setiap tataran fungsi sehingga dikenal apa yang disebut sebagai asas-asas kepolisian yang berlaku universal yaitu : asas legalitas, asas kewajiban umum, asas pencegahan (preventife), asas partisipasi, asas subsidiaritas dan asas opportunitas.

(44)

a. Di Inggris, asas kepolisiannya dirangkum dalam The Nine Principles of Police yang merupakan pangkal tolak dan sumber dari segala peraturan kepolisian sehingga dengan sendirinya merupakan sifat hakiki dari kepolisian Inggris dan dimuat dalam Handbook Petugas Polisi sebagai berikut :

1) sebagai alternatif dari represive maka diadakan preventif action

2) Kekuatan polisi tergantung dari publik opinion dan public approval

3) Untuk menjamin adanya public approval, perlu dijamin adanya keadaan dan kerja sama antara masyarakat dan polisi.

4) Kesediaan kerja sama dari masyarakat , akan mengurangi pemakaian kekuatan fisik

5) Untuk mendapat itikad yang baik dari masyarakat diperlukan bukti-bukti secara kontinyu dari pengabdian terhadap hukum (mutlak dan tidak berat sebelah dalam memberikan pelayanan dan bersikap bersahabat kepada siapa saja).

6) Pemakaian kekuatan fisik hanya dilakukan apabila ajakan, nasihat dan peringatan tidak mempunyai effect dan pemakaian kekuatan fisik harus secara minimal.

7) Perlu dipelihara secara terus menerus hubungan dengan masyarakat sebagai realisasi dari tradisi bahwa polisi adalah rakyat dan rakyat adalah polisi.

8) Perlu disadari bahwa tugas polisi hanya terbatas pada itu saja, tidak mencampuri tugas instansi lain.

9) Effeciency dari polisi hanya dapat dibuktikan dengan tidak adanya kejahatan dan ketidaktertiban (disorder).

b. Di Indonesia

Berbeda dengan kepolisian Inggris. Kepolisian Negara Republik Indonesia memiliki Tri Brata sebagai pedoman hidupnya, dan sekaligus juga sebagai landasan ideal filsafat kepolisian. Oleh karena itu asas Kepolisian Negara Republik Indonesia dirangkum dalam Tri Brata yang memuat nilai-nilai ideal :

1) Berbakti kepada nusa dan bangsa dengan penuh ketaqwaan terhadap tuhan yang maha esa

2) Menjunjung tinggi kebenaran keadilan dan

(45)

PENGANTAR HUKUM KEPOLISIAN 38 kemanusiaan dalam menegakkan hukum negara kesatuan republik indonesia yang berdasarkan pancasila dan undang undang dasar 1945

3) Senantiasa melindungi mengayomi dan melayani masyarakat dengan keikhlasan untuk mewujudkan keamanan dan ketertiban

Dengan demikian Tri Brata sebagai asas kepolisian Indonesia tidak saja merupakan patokan dan batu ujian bagi kaidah-kaidah kepolisian tetapi juga mengenai kehidupan kejiwaan dan organ atau lembaga polisi, sehingga mempunyai daya paksa dari dalam untuk menjauhkan pejabat polisi dari penyelewengan. Dapat juga dikatakan bahwa Tri Brata merupakan sumber dari kode etik profesi kepolisian. Selain Tri Brata yang merupakan pedoman hidup, Kepolisian Indonesia mempunyai pula

“Catur Prasatya” yang merupakan pedoman kerja kepolisian sebagai aktualisasi dari nilai Tri Brata dalam pelaksanaan tugas polisi sehari-hari yang menyatakan bahwa :

1) Meniadakan segala bentuk gangguan keamanan 2) Menjaga keselamatan jiwa raga harta benda dan hak

asasi manusia

3) Menjamin kepastian berdasarkan hukum 4) Memelihara perasaan tenteram dan damai

Nilai-nilai Tri Brata dan Catur Prasatya diaktulisasikan dalam pelaksanaan tugas, wewenang dan tanggung jawab kepolisian melalui penggunaan asas-asas kepolisian yaitu : 1) Asas legalitas

Asas legalitas menjadi ciri yang menonjol dalam menegakan supremasi hukum dan merupakan asas yang paling mendasar dalam negara hukum, terutama negara hukum formal yang menyatakan bahwa tindakan (kepolisian) harus didasarkan hanya kepada undang-undang. Perkembangan masyarakat dengan segala permasalahannya, undang-undang ternyata tidak mampu menampung segala hal baru, sehingga konsep negara hukum formal ditinggalkan dan legalitas diartikan bukan lagi sah menurut undang- undang melainkan sah menurut hukum dan sesuai dengan tujuan hukum (doelmatigheid).

Beberapa rumusan dalam undang-undang yang mencerminkan asas legalitas antara lain terdapat dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana Pasal 1 ayat (1) yang berbunyi : “ Suatu perbuatan tidak dapat dipidana, kecuali berdasarkan kekuatan ketentuan-

(46)

ketentuan perundang-undangan yang telah ada sebelumnya “.

Dari pasal tersebut dapat disimak esensi yang terkandung didalamnya yaitu asas hukum tertulis (Undang-undang) dan asas non retroaktif (tidak berlaku surut).

Asas legalitas diterapkan pada tataran fungsi kepolisian represif yustisial dalam proses pidana sesuai dengan Hukum Acara Pidana yang berlaku.

Dengan demikian asas-asas kepolisian dalam proses pidana (asas legalitas) mengacu pada ketentuan normatif yang ditentukan dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP). Dalam Undang-Undang Kepolisian No. 2 Tahun 2002 diatur dalam pasal 16 ayat (1) dan ayat (2).

2) Asas Kewajiban

Asas Kewajiban merupakan asas yang memberi wewenang untuk melakukan tindakan-tindakan selain yang disebut dalam undang-undang dengan pembatasan tertentu. Asas ini dijadikan pedoman dan patokan dalam melaksanakan tindakan yang langsung berkaitan dengan tugas pokok terutama yang menyangkut pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat. Di Belanda asas ini dinamakan

“Plichtmatigheidbeginsel“ dan di Jerman disebut

“Pflichtsmaessigkeitsprinsip” yang diartikan “memakai kewajiban hukum sebagai ukuran“. Hal itu berarti bahwa tindakan yang dilakukan harus berada dalam lingkungan jabatan yang menjadi tugas pokok dalam keadaan mendesak dan terpaksa untuk kepentingan umum, petugas kepolisian diberikan wewenang untuk bertindak menurut penilaiannya sendiri atau penilaian bebas (freies Ermessen). Asas ini biasa juga dikenal dengan isitilah “diskresi” (direction).

Asas kewajiban (diskresi) sangat diperlukan oleh petugas kepolisian di lapangan yang secara langsung menghadapi keadaan-keadaan yang memerlukan pengambilan keputusan secara cepat dalam rangka pelaksanaan kewajiban umumnya memelihara ketertiban umum, sedangkan sipetugas lapangan tidak mungkin menunggu perintah dari atasannya.

Mengenai asas kewajiban dapat ditemukan dalam ketentuan Undang-undang No. 28 tahun 1997 dan kemudian di adopsi oleh Undang-Undang No.2 tahun 2002 Pasal 18 ayat (1) yang berbunyi :

(47)

PENGANTAR HUKUM KEPOLISIAN 40

“(1) Untuk kepentingan umum, pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya dapat bertindak menurut penilaiannya sendiri”. Walaupun demikian tidak berarti bahwa petugas polisi dapat berbuat sewenang- wenang, karena ada pembatasan dan syarat-syarat yang harus diperhatikan yaitu bahwa tindakan tidak boleh bertentangan dengan undang-undang, atau setidak-tidaknya tindakan harus sesuai dengan jiwa dan tujuan undang-undang seperti diatur dalam Pasal 18 ayat (2) Undang-Undang No. 2 Tahun 2002 yang berbunyi : “(2) Pelaksanaan ketentuan sebagaiman dimaksud dalam ayat (1) hanya dapat dilakukan dalam keadaan yang sangat perlu dengan memperhatikan Peraturan serta Kode Etik Profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia”.

Dalam ilmu kepolisian diketahui adanya beberapa ukuran bagi keabsahan tindakan polisi atas dasar kewajiban umum kepolisian yaitu :

a) Tindakan harus noodzakkelijk (notwendig) artinya secara obyektif menurut pendapat umum betul- betul perlu tindakan tidak kurang dan tidak boleh lebih.

b) Zakelijk (sachlich), artinya tidak bersifat pribadi, tak terikat pada kepentingan perorangan.

Tindakan harus benar-benar diharapkan untuk kepentingan tugas kepolisian. (penilaian sendiri didasarkan pada kriteria profesi kepolisian dan bukan bersifat pribadi).

c) Doelmatig (zweckmassig), yaitu bahwa tindakan itu merupakan yang paling tepat untuk mencapai tujuan mengelakan gangguan secara sempurna.

d) Evenredig, artinya harus ada keseimbangan antara tindakan polisi (sifat keras lunaknya) atau sarana yang dipergunakan dengan sifat besar kecilnya suatu ganggguan atau berat ringannya suatu obyek yang harus ditindak.

3) Asas partisipasi

Asas Partisipasi adalah asas yang mempersyaratkan adanya peran serta masyarakat dalam tugas kepolisian. Dalam The Nine Principles of Police di inggris, dinyatakan antara lain bahwa “ kekuatan polisi tergantung dari public opinion dan public approval.

Untuk menjamin adanya public approval perlu dijamin adanya keadaan dan kerja sama antara masyarakat

Referensi

Dokumen terkait