STUDI ANALISIS TERHADAP PRAKTEK SIYASAH AL-IGHRAQ
(DUMPING) DALAM PERDAGANGAN MENURUT
PENDAPAT UMAR BIN KHATTAB
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Srata I
Dalam Ilmu Syari’ah
Oleh : SITI NUR BAITI NIM : 062311007
JURUSAN MUAMALAH
FAKULTAS SYARI’AH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
Dr. Imam Yahya, M. Ag.
Jln. Prof. Hamka km 2 Ngaliyan Semarang 50181
PERSETUJUAN PEMBIMBING
Lamp : 4 Naskah eks Hal : Naskah Skripsi
An. Sdri. Siti Nur Baiti Kepada Yth.
Dekan Fakultas Syari’ah IAIN Walisongo
Assalamu alaikum Wr.Wb
Setelah saya meneliti dan mengadakan perbaikan seperlunya, bersama ini saya kirimkan naskah skripsi Saudari :
Nama : Siti Nur Baiti Nim : 062311007 Jurusana : Muamalah
Judul Skripsi : “STUDI ANALISIS TERHADAP PRAKTEK
SIYASAH AL-IGHRAQ (DUMPING)
DALAM PERDAGANGAN MENURUT PENDAPAT UMAR BIN KHATTAB”
Dengan ini saya mohon kiranya skripsi saudara tersebut dapat segera dimunaqosahkan.Demikian harap menjadi maklum.
Wassalamu alaikum Wr.Wb
Semarang, 9 Desember 2010
Pembimbing I, Pembimbing II,
Drs. Sahidin, M. Si Suwanto, S. Ag,MM
MOTTO
"Hendaknya tidaklah berdagang di pasar kita selain orang yang telah faham (berilmu), bila tidak, niscaya ia akan memakan riba."
v
PERSEMBAHAN
Alhamdulillah segala puji syukur terucap hanya bagi Allah Tuhan semesta alam, yang telah memberikan kesempatan dan kekuatan kepada penulis menyelesaikan skripsi ini, untuk itu penulis berkenan mempersembahkan karya ini untuk mereka yang telah memberikan sesuatu yang tak ternilai harganya kepada penulis, diantaranya :
v Bapak dan Ibu yang kuhormati, terima kasih atas segala do’anya dan kasih sayangnya yang tak pernah pudar engkau berikan kepadaku meskipun kadang saya tak patuh padamu, namun saya telah menepati janjiku padamu dan tanpa mereka saya takkan setegar ini.
v Adik-adiku M. Amir Fatah dan Nadia Zulfa, terimakasih atas kehangantan canda tawanya. Patuh dan berbaktilah pada orang tua, tetap semangat dan optimis menggapai masa depan.
v Keluarga besar kakekku (Alm. Mbah Samsuri) dan (Mbah Rukayah) serta (Mbah Wastub) dan (mbah Kirah) terima kasih banyak tanpa mereka saya takkan tahu arti berbagi.
v Keluarga besar Bapak Prof. Dr. Ahmad Gunaryo dan Ibu dr. Nur Jannah serta putra-putrinya (Afis, Alin, Aan) dan mbah Uti terima kasih yang tak terhingga karena tanpa mereka mungkin saya tidak bisa bertahan dan berjuang.
v Keluarga besar Walisongo Mediasion Center (WMC) terimakasih yang terdalam atas semuanya, sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi ini. v Keluarga besar koperasi mahasiswa walisongo (Kopma Walisongo), Mas
Kuat, Ilung, Haris, Dedi, Iqbal, Fahmi, Munir, Ayya, Umi, Warsiyah, Isna, Azah dan sebagainya, senang susah di Kopma,“Bravo Kopma Walisongo” v Kawan-kawanku jurusan Muamalah (MUA dan MUB 06) untuk motivasi nya
cepat lulus, dan kawanku Ulil absoriyah, Ahmad Munif, Fathur Rahman F, untuk berbagi padaku demi suksesnya skripsi ini.
v Sahabat-sahabat ku MAN Babakan, Lebaksiu, Tegal. Leli, Erna, Iza, Inayah, Puji. Terimkasih yang terdalam atas semuanya.
v Teman-teman ku Mba Novi, Lilik, Ima, Eka, Fatma, Witi, Wirda, Ririn, Azizah, de Zuli, de Ifa, de Ana, de Muyas di pondok Inna terimakasih banyak atas kebaikanya selama berproses di Semarang.
v Dan semua pihak yang tidak dapat kusebutkan satu persatu yang telah membantu dalam kelancaran penulisan skripsi ini.
Semoga Allah membalasnya dengan kebaikan yang lebih dari apa yang mereka berikan karena penulis hanya bisa ucapkan terima kasih yang tak terhingga untuk semuanya yang telah mendukung, semoga langkah kita selalu dalam hidayah dan ridlo-Nya.
DEKLARASI
Dengan penuh kejujuran dan tanggung jawab, penulis menyatakan bahwa skripsi ini tidak berisi materi yang telah pernah ditulis orang lain atau diterbitkan. Demikian juga skripsi ini tidak berisi satupun pikiran-pikiran orang lain, kecuali informasi yang terdapat dalam referensi yang dijadikan bahan rujukan.
Semarang, 3 Januari 2011 Deklarator,
vii ABSTRAKSI
Perdagangan adalah sebuah mekanisme pertukaran barang dan jasa yang alamiah dan telah berlangsung sejak peradaban awal manusia. Islam menempatkan perdagangan pada kedudukan yang penting dalam perekonomian. Praktik ekonomi pada masa Rasulullah dan Khullafaurrasyidin menunjukan adanya peranan yang besar. Umar sangat menghargai harga yang dibentuk oleh kemampuan pasar sebagai harga yang adil. Umar menolak adanya suatu price
intervention seandainya perubahan harga terjadi karena mekanisme pasar yang
wajar.
Sedangkan yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah apa alasan Umar bin Khattab melarang praktek Siyasah Al-Ighraq (dumping) dalam perdagang dan bagaimana pandangan hukum Islam terhadap pedagang yang dengan sengaja menurunkan harga dibawah harga pasar (Siyasah Al-Ighraq).
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui alasan pendapat Umar bin Khattab melarang pratek Siyasah Al-Ighraq (dumping) dalam perdagangan dan untuk mengetahui sejauh mana hukum Islam memandang pedagangan yang dengan sengaja menurunkan harga dibawah harga pasar (Siyasah Al-Ighraq).
Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (Library Research), dan metode yang penulis gunakan adalah metode penelitian kualitatif, yaitu jenis penelitian yang data-datanya di peroleh dari data-data dokumentasi, yaitu berupa buku, Undang-undang, dan sebagainya. Adapun untuk menganalisis data penulis menggunakan analisis deskriptif analitis yaitu berusaha untuk menggambarkan dan menganalisis secara mendalam berdasarkan data yang diperoleh sedangkan model pendekatan yang digunakan adalah pendekatan sejarah dan sosial.
Adapun temuan dalam penelitian ini adalah: 1. Pendapat Umar yang melarang praktek Siyasah Al-Ighraq (dumping) dalam perdagangan, di karenakan hal tersebut dapat mengacaukan harga pasar serta berdampak pada penurunan jumlah persediyaan barang sehingga menyebabkan kegiatan ekonomi terganggu. Umar sebagai amirul mukminin sering kali berkeliling pasar untuk mengontrol setiap transaksi yang berlangsung di pasar, ketika itu Umar mendapati Hathib bin Abi Balta’tah sedang menjual kismis dengan harga dibawah harga pasar di pasar Madinah, dan Umar saat itu seraya memerintahkan kepada Hathib untuk menaikan harganya atau keluar dari pasar tersebut. 2. Menurut pandangan hukum Islam praktek Siyasah Al-Ighraq (dumping) dilarang karena dapat membahayakan umat Islam baik penjual dan pembeli. Hal ini di sebabkan karena terjadinya ketidakadilan dalam harga sehingga baik penjual atau pembeli merasa dirugikan. Oleh karena di dalam transaksi perdagangan diperlukan adanya nilai-nilai moral yang Islami, dengan demikian persaingan yang sehat (fair competion) dapat berlangsung.
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, yang telah menciptakan alam dengan segala keindahanya, atas taufiq dan hidayah-Nya maka penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini. Shalawat serta salam kami panjatkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan pengikutnya yang selalu menunggu syafaatnya.
Berkenaan dengan selesainya skripsi ini, yang berjudul : STUDI ANALISIS TERHADAP PRAKTEK SIYASAH AL-IGHRAQ (DUMPING) DALAM PERDAGANGAN MENURUT PENDAPAT UMAR BIN KHATTAB, yang disusun untuk melengkapi sebagian persyaratan untuk mencapai gelar sarjana dalam ilmu Syari’ah IAIN Walisongo Semarang.
Dalam penyusunan skripsi ini penulis banyak mendapatkan bimbingan dan saran-saran dari berbgai pihak sehingga penyusunan skripsi ini dapat terselesaikan. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih :
1. Bapak Dr. Imam Yahya, M.Ag selaku Dekan Fakultas Syari’ah IAIN Walisongo Semarang.
2. Bapak Drs. Sahidin, M.Si selaku pembimbing I, serta Bapak Suwanto, S. Ag, MM selaku pembimbing II, yang telah membimbing proses penulisan skripsi ini terima kasih atas bimbingan dan motivasinya serta saran-saranya hingga skripsi ini selesai.
ix
3. Segenap Dosen fakultas Syari’ah IAIN Walisongo Semarang beserta karyawan-karyawanya atas bekal ilmu pengetahuan sehingga penulis dapat menyelesaikan kuliah sekaligus penulisan skripsi ini.
4. Kedua orang tua kami yang tercinta, yang telah memberikan dukungan serta do’anya dan semuanya yang tak ternilai, adikku, dan sahabat-sahabatku yang selalu mendukung dan mendo’akan dalam menyelesaikan penyusunan skripsi ini.
Pada akhirnya penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini belum mencapai kesempurnaan dalam penyusunan dan penulisan, sehingga saran dan kritik yang konstruktif saya harapkan, penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.
Semarang, 3 Januari 2011
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
HALAMAN MOTTO ... iv
HALAMAN PERSEMBAHAN ... v
HALAMAN DEKLARASI ... vii
HALAMAN ABSTRAK ... viii
HALAMAN KATA PENGANTAR... ix
DAFTAR ISI ... xi
BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 5
C. Tujuan Penulisan ... 6
D. Tinjauan Pustaka ... 6
E. Metode Penelitian... 9
F. Sistematika Pembahasan... 14
BAB II : KONSEP PERDAGANGAN DALAM EKONOMI ISLAM A. Pengertian Perdagangan... 16
B. Dasar hukum jual beli dalam ekonomi Islam... 19
C. Rukun dan syarat jual beli dalam ekonomi Islam ... 22
D. Jenis-jenis Siyasah Al-Ighraq (dumping) Dalam perdagangan... 28
E. Pendapat para ulama tentang praktek Siyasah Al-Ighraq (dumping) dalam perdagangan ... 31
xi
BAB III : KONSEP PEMIKIRAN UMAR BIN AL-KHATTAB TENTANG SIYASAH AL-IGHRAQ (DUMPING) DALAM PERDAGANGAN.
A. Biogarafi singkat Umar bin Al-Khattab ... 36 B. Model perdagangan pada masa Umar bin Al-Khattab .... 49 C. Pendapat Umar bin Al-Khattab tentang perdagangan .... 57 D. Konsep pemikiran Umar Bin Al-Khattab tentang
Siyasah Al-Ighraq (dumping) dalam perdagangan ... 60
BAB IV : ANALISIS PEMIKIRAN UMAR BIN AL-KHATTAB TENTANG SIYASAH AL-IGHRAQ (DUMPING) DALAM PERDAGANGAN.
A. Analisis alasan pendapat Umar bin Khattab terhadap larangan praktek Siyasah Al-Ighraq (dumping) dalam perdagangan ... 63 B. Analisis hukum Islam terhadap larangan praktek
Siyasah Al-Ighraq (dumping) dalam perdagangan menurut pendapat Umar bin Kahttab... 70
BAB V : PENUTUP A. Kesimpulan ... 76 B. Saran-saran... 77 C. Kata penutup ... 78 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Seorang filosuf Perancis, Roger G dalam suatu seminar di Mesir berkata: “sesungguhnya dakwah Islam tidak didapatkan dengan jalan perang, perluasan kekuasaan Islam tidak didapatkan dari penjajahan akan tetapi Islam senantiasa memberikan kebebasan bagi setiap negara untuk membentuk peradaban sesuai dengan karakter mereka yang berasaskan nilai-nilai Islam.1
Ada yang cukup menarik untuk dicatat apa yang disampaikan oleh filosuf Perancis di atas. Dia mengakui adanya keistimewaan bagi syari’at Islam dalam mengatur kehidupan ekonomi, sehingga dapat menciptakan sebuah peradaban dalam perdagangan yang bersumber pada nila-nilai materiil dan spiritual untuk itu telah ditentukan beberapa ketentuan kaedah aturan yang dapat menuntun manusia dalam berdagang.
Perdagangan yang dilakukan dalam perekonomian kontemporer tidak hanya bersifat lokal namun telah berkembang menjadi perdagangan lintas regional yang dilaksanakan dengan perdagangan ekspor dan impor. Hal ini juga pernah dilakukan oleh masyarakat pada zaman dahulu yaitu unta Arab tidak hanya diperdagangkan di wilayah mereka, namun telah merambah ke Mesir, Syam, Yaman, bahkan Romawi.2
1
Abdul Sami’ Al-Mishari, Pilar-Pilar Ekonomi Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006, h. 85.
2
2
Hubungan ekonomi internasional pada masa Umar ra level yang dicapai belum sampai seperti pada masa sekarang. Akan tetapi terdapat beberapa dasar secara tekstual yang menguatkan urgensi perdagangan luar negeri dan perannya dalam mempermudah perkembangan ekonomi dan terealisasinya kehidupan yang nyaman diantaranya bahwa Allah SWT memberikan kepada Bangsa Quraisy kemampuan melakukan perdagangan dengan negara-negara tetangga.3 Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surat Quraish ayat 1-2
ÇËÈC É#ø‹¢Á9$#urs Ïä!$tGÏe±9$# 's#ômÍ‘NÎgÏÿ»s9¾Î)ÇËÈ·÷ƒt•è% É#»n=ƒ\}
Artinya : Karena kebiasaan orang-orang Qurais ( yaitu ) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas ( QS.
Quraish: 1-2)4
Hal itu karena Allah memberikan kemampuan kepada mereka dan menjadikan bagi mereka kemuliaan dan penghormatan di dalam hati manusia sehingga tidak seorang pun yang menghalangi jalan mereka ketika mengadakan perjalanan ke negeri Syam pada musim panas dan ke negeri Yaman pada musim dingin untuk berdagang dan mendatangkan makanan.5
Ketika menafsirkan firman Allah SWT tentang penciptaan bumi, dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Fushilat ayat 10 :
3
Jaribah bin Ahmad Haritsi, Fiqh Iqtishadi Li Amiril Mukminin Umar Ibn Al-Khaththab, Terj. H. Asmuni Solihan Zamakhsyari “Fikih Ekonomi Umar bin al-Khatab”, Jakarta: Khalifa, 2003, h.542-543.
4
Departemen RI, Al-Quran Dan Terjemah, Bandung : CV. Diponegoro, 2005, h. 477.
5
Ÿ@yèy_ur
$pkŽÏù
zÓÅ›ºuru‘
`ÏB
$ygÏ%öqsù
x8t•»t/ur
$pkŽÏù
u‘£‰s%ur
!$pkŽÏù
$pksEºuqø%r&
þ’Îû
Ïpyèt/ö‘r&
5Q$-ƒr&
[ä!#uqy™
tû,Î#ͬ!$¡¡=Ïj9
ÇÊÉÈ
Artinya : Dan dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di
atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya.(QS. Fushilat: 10) .6
Al-Qurtubi mengatakan :“Dia menjadikan perdagangan, pepohonan, dan kemanfaatan untuk setiap daerah, yang tidak dijadikanya selain di bumi, agar sebagian dari mereka hidup dari sebagian yang lain dengan melakukan perdagangan dan bepergian dari satu negeri ke negeri yang lain.
Hal ini menunjukkan urgensinya saling melakukan perdagangan pada tingkat dunia untuk memenuhi kebutuhan manusia dan saling melakukan pertukaran dagang dalam hal-hal yang bermanfaat. Oleh karena itu hubungan ekonomi internasional menempati posisi penting didalam ekonomi semua negara. Sebab suatu negara tidak akan mampu memproduksi seluruh kebutuhannya sendiri.
Sesungguhnya Umar telah menghimbau untuk melakukan perdagangan dari satu negeri ke negeri lain untuk memenuhi kebutuhan kaum muslimin, dan tidak menyukai perdagangan dengan tanpa melakukan pemindahan/bepergian.7 Pada saat yang sama juga dibangun pasar-pasar agar
6
Departemen RI, Op. Cit, h. 602.
7
4
tercipta suasana persaingan yang bebas. Siyasah Al-Ighraq dan menumpuk barang serta mengambil keuntungan secara berlebihan selalu dipantau.8
Pembahasan mengenai Siyasah Al-Ighraq merupakan satu pembahasan yang cukup rumit, karena masuknya faktor-faktor non ekonomi ke dalamnya. Aspek-aspek hukum, politik dan strategi dalam kebijakan ekonomi itu penting dan tidak mungkin bisa dipisahkan9
Berbanding balik dengan ihtikar, Siyasah Al-Ighraq (dumping) bertujuan meraih keuntungan dengan cara menjual barang pada tingkat harga yang lebih rendah dari pada harga yang berlaku di pasaran. Perilaku ini secara tegas dilarang dalam Islam karena dapat menimbulkan kemudharatan bagi masyarakat luas.10
Ada riwayat yang menunjukan bahwa Umar meminta pada beberapa penjual untuk menjual dengan harga pasar. Riwayat tersebut tidak menjelaskan harga yang diberlakukan oleh para penjual, apakah lebih tinggi atau lebih rendah dari harga pasar. Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki datang membawa kismis dan menaruhnya di pasar, lalu dia mulai menjual tidak dengan harga orang-orang, maka Umar berkata kepadanya, ”Juallah dengan harga pasar, atau kamu pergi dari pasar kami. Sesungguhnya kami tidak memaksamu dengan satu harga.”11
8
Sh. Muhammad Ashraf, Sistem Ekonomi Pemerintah Umar Ibn Al-Khattab, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1977, h. 57-58.
9
Monzer Kahf, Ekonomi Islam Telaah Analitik Terhadaf Fungsi Sistem Ekonomi Islam, alih bahasaMacnun Husein, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 1999, h. 105.
10
Adiwarman Azwar Karim, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, Jakarta : PT. Raja Grafindo, 2006, h. 294.
11
Larangan Umar untuk menjual lebih murah dari harga pasar mempunyai petunjuk ekonomi yang penting, karena rendahnya harga tidak selamanya baik, khususnya ketika rendahnya harga tersebut bukan akibat dari fluktuasi nyata antara persediaan dan permintaan barang, akan tetapi akibat penurunan yang disengaja dari harga pasar tanpa alasan yang bisa diterima.12
Para pedagang melakukan praktek Siyasah Al-Ighraq yang dapat menimbulkan persaingan yang tidak sehat serta dapat mengacaukan stabilitas harga pasar. Dalam hal ini, pemerintah berhak memerintahkan para pedagang tersebut untuk menaikan kembali harganya sesuai dengan harga yang berlaku di pasaran. Apabila mereka menolaknya, pemerintah berhak mengusir para pedagang tersebut dari pasar. Dari uraian di atas, penulis tertarik untuk meneliti permasalahan ini dengan judul “STUDI ANALISIS TERHADAP
PRAKTEK SIYASAH AL-IGHRAQ (DUMPING) DALAM
PERDAGANGAN MENURUT PENDAPAT UMAR BIN KHATTAB”
B. Perumusan Masalah
Sesuai dengan latar belakang yang telah dijelaskan diatas, maka dapat peneliti rumuskan beberapa masalah sebagai berikut :
1. Apa alasan pendapat Umar bin Khattab melarang praktek Siyasah
Al-Ighraq (dumping) dalam perdagangan?
2. Bagaimana pandangan hukum Islam terhadap praktek Siyasah Al-Ighraq
(dumping) dalam perdagangan?
12
6 C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Setelah merumuskan beberapa masalah tentunya ada tujuan yang harus dicapai, diantaranya:
1. Untuk mengetahui alasan pendapat Umar Bin Khattab terhadap larangan praktek Siyasah Al-Ighraq (dumping) dalam perdagangan.
2. Untuk mengetahui pandangan hukum Islam terhadap praktek Siyasah
Al-Ighraq (dumping) dalam perdagangan.
Dari uraian tersebut, diharapkan Penelitian ini dapat bermanfaat, diantaranya :
1. Mempertegas dan mengingatkan kembali peran yang semestinya dijalankan oleh sebuah pemerintah dalam rangka melindungi perekonomian masyarakat untuk mencapai keadilan ekonomi. Dimana pada masa sekarang banyak terjadi penyimpangan-penyimpangan praktek usaha dan persaingan yang tidak sehat, yang bisa menyebabkan antara lain, stabilitas perekonomian menjadi terganggu, persaingan kompetitif yang tidak sempurna, praktek monopoli yang merugikan, dan lain-lain. 2. Memberi manfaat secara teori dan aplikasi terhadap perkembangan ilmu
Ekonomi Islam di lapangan.
3. Sebagai bahan referensi dan informasi untuk penelitian lebih lanjut. D. Tinjauan Pustaka
Tinjauan pustaka ini dimaksudkan untuk mengetahui seberapa banyak orang lain yang sudah membahas permasalahan yang akan dikaji dalam skripsi ini.
Abu Zakaria Yahya bin Umar dalam kitabnya Al-Ahkam
As-Suq,(Qoiruwan, Afrika Utara, 213-289 H). Dalam kitab ini dibahas secara
komprehensip terkait dengan hukum-hukum pasar salah satunya tentang
Siayasah Al-Ighraq (politik dumping), titik tekan pada pembahasan ini
terfokus pada peran pemerintah yaitu dengan Market Intervention terhadap para pedagang di pasar apabila ditemukan pedagang yang menjual dengan sengaja menurunkan harga dari harga yang ada dipasaran, hal ini pernah dilakukan oleh Umar bin Khatab selaku kepala negara pada waktu itu.13
Begitu juga pembahasan dalam Skripsi Dody Safari Yanto, menjelaskan tentang Kebijakan Anti Dumping setelah Indonesia meratifikasi ketentuan GATT (Agreement Establishing The World Trade) membahas bagaimana permasalahan kebijakan hukum tentang anti dumping setelah Indonesia meratifikasi ketentuan GATT, harmonisasi kebijakan peraturan anti
dumping di Indonesia dengan persetujuan tentang pelaksanaan pasal 6 dari
persetujuan umum tentang tarif dan perdagangan tahun 1994. Hal tersebut merupakan wujud kepedulian pemerintah Indonesia terhadap praktek dumping dengan harapan dampak dari diberlakukanya kebijakan tersebut dapat melindungi produk dalam negeri dari serangan produk asing dan siap bersaing dengan pasar internasional dalam perdagangan dunia.
Berikutnya tesis dari Rita Erlina Pascasarjana Universitas Sumatra Utara. Menjelaskan tentang Anti dumping dalam perdagangan Internasional: sinkronisasi peraturan anti dumping Indonesia terhadap WTO anti dumping
13
8
agreement. Dijelaskan bahwa bagi pengamanan industri dalam negeri sebagai
anggota WTO dari praktek perdagangan tidak adil (Unfair Trade) yang dilakukan dalam bentuk tindakan dumping. General Agreement On Tariff And
Trade (GATT) tahun 1994 ini mengijinkan otoritas di suatu negara untuk
mengenakan bea tambahan dalam bentuk bea anti dumping terhadap produk-produk import yang diduga dijual dibawah harga normal atau dibawah harga pasar di pasar domestik negara asal barang, sehingga praktek yang demikian dapat menimbulkan kerugian bagi industri di dalam negeri dari negara tempat di pasarkan barang tersebut.
Sementara dalam makalah yang disampaikan oleh Sukarmi pada seminar implementasi peraturan anti dumping serta pengaruhnya terhadap persaingan usaha dan perdagangan internasional (Fakultas Hukum Universitas Erlangga Surabaya, 21 Juni 2008) menurutnya bahwa, proses globalisasi dalam berbagai bidang serta perkembangan teknologi dan informasi menimbulkan gejala menyatunya ekonomi semua negara dan bangsa. Terjadi hubungan saling ketergatungan dan integrasi ekonomi nasional ke dalam ekonomi global. Proses ini terjadi secara bersamaan dengan bekerjanya mekanisme pasar yang dijiwai persaingan. tindakan persaingan antar pelaku usaha tidak jarang mendorong dilakukanya persaingan curang, baik dalam bentuk harga maupun bukan harga (Price Ernor Price Competition). Dalam bentuk harga misalnya terjadi diskriminasi harga (Price Discrimition) yang
dikenal dengan istilah dumping. Dumping merupakan salah satu bentuk hambatan perdagangan yang bersifat non-tarif, berupa diskriminasi harga.14
Sedangkan skripsi dari Ahmad Fitri (2104163) Fakultas Syari’ah IAIN Walisongo Semarang peranan lembaga hisbah pada masa pemerintahan khalifah Umar bin Khattab, dalam skripsi ini di jelaskan bahwa Umar sebagai
amirul mukminin mempunyai peranan yang sangat penting yaitu sebagai
pengontrol sekaligus pengawas terhadap jalanya perekonomian pada saat itu. Secara umum pembahasan tentang Siyasah Al-Ighraq, anti dumping dan keterlibatan pemerintah sudah dijelaskan. Akan tetapi ada beberapa hal yang belum dibahas di antaranya tentang bagaimana Islam memandang dan memberikan solusi terhadap permasalahan Siyasah Al-Ighraq tersebut serta dampak yang dirasakan oleh penjual sebagai keterwakilan masyarakat secara luas dari praktek Siyasah Al-Ighraq. Dengan demikian penulis termotivasi untuk membahas tentang “Studi Analisis Terhadap Praktek Siyasah Al-Ighraq
(Dumping) Dalam Perdagangan Menurut pendapat Umar bin Khattab”, di
mana sepengetahuan penulis permasalahan tersebut belum pernah dibahas oleh peneliti terdahulu.
E. Metode Penelitian
Metode merupakan sarana untuk menemukan, merumuskan, mengolah data dan menganalisa suatu permasalahan untuk mengungkapkan suatu
14
Sukarmi, Makalah Disampaikan Pada :Seminar Implementasi Peraturan Anti Dumping Serta Pengaruhnya Terhadap Persaingan Usaha Dan Perdagangan Internasional, Fakultas Hukum Universitas Erlangga Surabaya, 21 Juni 2008.
10
kebenaran.15Pada dasarnya metode merupakan pedoman tentang cara ilmuwan mempelajari, menganalisa dan memahami suatu objek kajian yang dihadapinya secara sistematis dan dapat dipertanggungjawabkan.
Sebagai pegangan dalam penulisan skripsi dan pengolahan data untuk memperoleh hasil yang valid dan qualified, penulis menggunakan beberapa metode dalam penulisan skripsi ini, yaitu
1. Jenis Penelitian
Penulisan dan pembahasan penelitian dalam skripsi ini merupakan jenis penelitian kepustakaan (Library Research) dengan metode kualitatif, yang berarti mengkaji permasalahan dengan cara menelusuri dan mencari dan menelaah bahan berupa data dari literatur-literatur yang berhubungan dengan judul penelitian, baik yang berupa buku, artikel, dan karangan16 yang berkaitan dengan pembahasan tentang
Siyasah Al-Ighraq pada masa sahabat Umar bin Khattab.
2. Sumber Data
Penelitian yang penulis adakan termasuk dalam kategori penelitian kepustakaan. Sehingga sumber-sumber yang diperoleh sebagai bahan penelitian adalah berupa buku-buku dan literatur teks. Dengan demikian penulis menggunakan sumber data sekunder.17 Yang dimaksud sumber Data sekunder adalah data yang sudah tersedia sehingga kita
15
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian; Suatu Pendekatan Teori dan Praktek, Jakarta: Rineka Cipta, 2002, h. 194.
16
Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, Edisi Revisi, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, Cet. 24, 2007, h. 9
17
P. Joko Subagyo, Metode Penelitian dalam Teori dan Praktek, Jakarta: Rineka Cipta, Cet.3, 1999, h. 109.
tinggal mencari dan mengumpulkanya, sebagai pendukung dan penunjang yaitu buku-buku yang pada dasarnya sama dengan buku utama, namun di dalam buku penunjang ini bukan merupakan faktor penentu bagi pemikiran peneliti, terutama dalam menentukan kerangka dasar pemikiran penelitian.18 Sebagai sumber data sekunder di antaranya yaitu buku Fikih Ekonomi Umar bin Khattab, sistem ekonomi Umar bin Khattab, UU Antimonopoli No.5 Tahun 1999, media massa, media elektronik ataupun hasil-hasil penelitian lainya
3. Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik dokumentasi. Yaitu teknik pengumpulan data yang tidak langsung ditujukan pada obyek penelitian, namun melalui dokumen.19
4. Metode Analisis Data a. Metode Analisis
Setelah dikumpulkannya data-data yang diperoleh untuk kepentingan kajian ini, maka akan dianalisis dengan metode deskriptif analitis, yaitu berusaha untuk menggambarkan dan menganalisis secara mendalam berdasarkan data yang diperoleh.20
18
Muhamad, Metodologi Penelitian Ekonomi Islam, Jakarta: PT. Raja Garpindo Persada, 2008, h.103-105.
19
M. Iqbal Hasan, Pokok-pokok Metodologi Penelitian dan Aplikasinya, Jakarta: Ghalia Indonesia, Cet. Ke 1, 2002, h. 87.
20
12 b. Pendekatan
Pendekatan merupakan sudut pandang atau cara melihat dan memperlakukan sesuatu masalah yang dikaji.21 Dalam menganalisis data yang telah diperoleh dari dokumentasi teks-teks dari buku dan tulisan ilmiah, penulis menggunakan dua model pendekatan, yaitu: 1) Pendekatan Historis
Pendekatan Historis atau sejarah mengasumsikan bahwa realitas sosial yang terjadi sekarang ini sebenarnya merupakan hasil proses sejarah yang terjadi pada masa sebelumnya. Permasalahan-permasalahan perekonomian, keagamaan dan fenomena sosial pada suatu waktu mempunyai keterkaitan dengan keadaan masa sebelumya.22 Pendekatan historis digunakan oleh penulis karena dengan pendekatan ini bermanfaat untuk sebisa mungkin memasuki keadaan sebenarnya dari sebuah peristiwa. Dengan demikian diharapkan tidak akan terjadi penafsiran yang keluar dari konteks historisnya. Selain itu, pendekatan ini memiliki kelebihan, yaitu karena berbagai peristiwa dapat dilacak dan diketahui maksudnya dengan melihat sejarah kapan peritiwa itu terjadi, dimana, apa sebabnya, dan siapa yang terlibat di dalamnya.23
21
U. Maman Kh., Metodologi Penelitian Agama; Teori dan Praktik, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2006, h. 94
22
Ibid, h. 149
23
Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, Cet. Ke-8, 2003, h. 46
2) Pendekatan Sosiologis24
Pendekatan ini adalah pendekatan yang menggunakan logika-logika dan teori sosiologi25 untuk menggambarkan fenomena sosial serta pengaruhnya terhadap fenomena-fenomena lain. Perekonomian merupakan permasalahan yang mempunyai keterkaitan dengan interaksi sosial kemasyarakatan. Pendekatan sosiologis dalam penelitian ini menitikberatkan terutama pada teori pertukaran dan teori konflik.
Teori pertukaran mengasumsikan bahwa aktivitas manusia seperti perubahan dan perilaku sosial tiada lain adalah dalam rangka melakukan pertukaran yang saling menguntungkan satu sama lain, baik keuntungan materi maupun non materi. Menurut teori ini, menusia memperhitungkan untung rugi dalam transaksi sosial, dan manusia bersaing untuk memperoleh keuntungan.26 Adapun teori konflik mengasumsikan bahwa masyarakat terdiri dari beberapa individu dan kelompok yang memilki kepentingan satu sama lain. Mereka selalu bersaing untuk kepentingan tersebut.27
24
Sosiologi merupakan suatu ilmu yang mempelajari hubungan antar manusia. Objek dari ilmu sosiologi adalah masyarakat. Masyarakat adalah sekelompok individu yang mempunyai hubungan, memiliki kepentingan bersama, dan memiliki budaya. Kelompok tersebut mencakup keluarga, suku bangsa, negara, dan berbagai organisasi politik, ekonomi, sosial. Dalam ilmu sosiologi dipelajari hubungan dan pegaruh timbal balik antara aneka macam gejala sosial (seperti ekonomi dengan agama, keluarga dengan moral, hukum dengan ekonomi, ekonomi dengan politik dan lain sebagainya). Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, Edisi Baru, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2007, h. 17.
25
Dalam sosiologi terdapat beberapa logika teoretis (pendekatan) yang digunakan untuk memahami berbagai fenomena sosial, antara lain : fungsionalisme, pertukaran, interaksionalisme simbolik, konflik, teori penyadaran, dan teori ketergantungan. U. Maman Kh., Op.cit., hlm. 128
26
Ibid, h. 132.
27
14 F. Sistematika Penulisan
Sebagai langkah selanjutnya dari penyusunan skripsi ini yaitu tentang pembahasan sistematika penulisan yang terdiri dalam lima bab antara bab satu dengan bab-bab berikutnya merupakan rangkaian yang tidak dapat dipisahkan. untuk mendapatkan gambaran mengenai isi skripsi ini penulis akan menguraikan sistematika pembahasannya, yaitu
BAB I : PENDAHULUAN
Dalam bab ini akan diuraikan tentang latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penulisan, tinjauan pustaka, metode penelitian dan sistematika penulisan.
BAB II : SISTEM PERDAGANGAN DALAM EKONOMI ISLAM Dalam bab ini penulis akan menjelaskan tentang pengertian perdagangan dan dasar hukum jual beli, syarat dan rukun dalam jual beli, jenis-jenis Siyasah Al-Ighraq (dumping) dan pendapat para ulama tentang praktek Siyasah Al-Ighraq (dumping) dalam perdagangan.
BAB III : PEMIKIRAN UMAR BIN KHATTAB TENTANG SIYASAH
AL-IGHRAQ (DUMPING) DALAM PERDAGANGAN
Dalam bab ini penulis akan menguraikan tentang biogarafi Umar bin Khattab, model perdagangan, pendapat Umar bin Khattab tentang perdagangan, dan konsep pemikiran Umar bin Khattab tentang Siyasah Al-Ighraq (dumping) dalam perdagangan.
BAB IV : ANALISIS PEMIKIRAN UMAR BIN KHATTAB TENTANG
SIYASAH AL-IGHRAQ (DUMPING) DALAM
PERDAGANGAN
Bab ini merupakan analisa untuk menguraikan analisis pendapat Umar bin Khattab melarang praktek Siyasah Al-Ighraq (dumping) dalam perdagangan dan analisis hukum Islam terhadap praktek
Siyasah Al-Ighraq (dumping) dalam perdagangan.
BAB V : PENUTUP
Dalam bab ini merupakan bagian penutup memuat kesimpulan, saran-saran dan penutup.
BAB II
KONSEP PERDAGANGAN DALAM EKONOMI ISLAM A. Pengertian Perdagangan
Islam memandang kehidupan sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipilah-pilahkan, serta memandang kehidupan seseorang sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Masing-masing individu saling melengkapi dalam tatanan sosial Islam. Karena itulah secara faktual, ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammmad SAW mempunyai keunikan tersendiri, bukan saja bersifat komprehensif tetapi juga bersifat universal. Komprehensif berarti mencakup seluruh aspek kehidupan baik ritual (ibadah) maupun sosial (muamalah).Universal berarti dapat diterapkan setiap saat sampai akhir. Keuniversalan akan tampak jelas terutama dalam bidang muamalah, karena bidang muamalah bukan saja luas dan fleksibel, bahkan tidak memberikan
special treatment bagi muslim dan membedakan dari non muslim.28
Aspek ekonomi sangat penting perananya dalam meningkatkan kesejahteraan hidup manusia. Seiring dengan perkembangan waktu dan pertumbuhan masyarakat serta kemajuan dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi, maka hal ini berimbas dalam membentuk dan menjadikan perubahan terhadap pola kehidupan bermasyarakat. Tidak terkecuali dalam bidang ekonomi yang termasuk di dalamnya tentang perdagangan.
28
Haris Faulidi Asnawi, Transaksi Bisnis E-Commerce Perspektif Islam, Yogyakarta: Magistra Insani Press, 2004, h.73-74.
Perdagangan merupakan salah satu jenis usaha untuk meningkatkan kesejahteraan hidup.29
Secara etimologi Perdagangan yang intinya jual beli, berarti saling menukar. Al-bai artinya menjual, mengganti dan menukar (sesuatu dengan sesuatu yang lainya) dan asy-syira artinya beli, adalah dua kata yang dipergunakan dalam pengertian yang sama tapi sebenarnya berbeda.30 Sedangkan pengertian al-bai secara terminologi, para fuqoha menyampaikan Sdefinisi yang berbeda-beda antara lain sebagai berikut31 :
Menurut Fuqoha Hanafiyah :
Menukarkan harta dengan harta melalui tatacara tertentu, atau mempertukarkan sesuatu yang disenangi dengan sesuatu yang lain melalui tatacara tertentu yang dapat dipahami sebagai al-bai , seperti melalui ijab dan ta athi (saling menyerahkan).
Imam Nawawi dalam al-majmu menyampaikan definisi sebagai berikut :
Mempertukarkan harta dengan harta untuk tujuan pemilikan
Ibn Qodamah menyampaikan definisi sebagai berikut :
mempertukarkan harta dengan harta untuk tujuan pemilikan dan menyerahkan milik 32
29
Ibid, h.74.
30
Buchari Alma, Ajaran Islam Dalam Bisnis, Bandung : CV. Alfa Beta, 1994, h. 19-20.
31
Ghufron A. Masadi, Fiqh Muamalah Kontekstual, Jakarta: PT. Raja grafindo persada, 2002, h. 119.
32
18
Berkaitan dengan aturan dalam perdagangan, Allah SWT telah menegaskan dalam firman-Nya :
$yg•ƒr'¯»tƒ
šúïÏ%©!$#
(#qãYtB#uä
Ÿw
(#þqè=à2ù's?
Nä3s9ºuqøBr&
Mà6oY÷•t/
È@ÏÜ»t6ø9$$Î/
HwÎ)
br&
šcqä3s?
¸ot•»pgÏB
`tã
<Ú#t•s?
öNä3ZÏiB
4
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, jaganlah kamu saling memakan
harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perdagangan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu (An-Nisa : 29)33
Menurut Al-Qurtubi, at-tijarah merupakan sebutan untuk kegiatan tukar menukar barang didalamnya mencakup bentuk jual beli yang di bolehkan dan memiliki tujuan. Di jelaskan dalam surat An-nisa (29) tersebut dapat dipahami bahwa perdagangan merupakan salah satu profesi yang telah dihalalkan oleh Allah dengan syarat semua aktivitas yang dilakukan harus berlandaskan kepada suka sama suka dan bebas dari unsur riba.34
Menurut pengertian yang dikemukakan oleh Sayyid Sabiq, jual beli adalah pertukaran harta atas dasar saling rela, atau memindahkan hak milik dengan ganti yang dapat dibenarkan. Apabila uqud pertukaran (ikatan dan persetujuan) dalam perdagangan atau jual beli telah berlangsung, dengan terpenuhinya rukun dan syarat, maka konsekuensinya penjual akan memindahkan barang kepada pembeli. Demikian sebaliknya pembeli memberikan miliknya kepada penjual, sesuai dengan harga yang telah
33
Departemen RI, Op.Cit, h. 83.
34
disepakati, sehingga masing-masing dapat memanfaatkan barang miliknya menurut yang diatur oleh Islam.35
B. Dasar Hukum Jual Beli Dalam Ekonomi Islam
Telah menjadi sunnatullah bahwa manusia harus bermasyarakat, tunjang – menunjang, topang - menopang dan tolong - menolong antara satu dengan yang lainnya. Sebagai mahluk sosial, manusia menerima dan memberikan andilnya kepada orang lain. Saling bermua’malah untuk memenuhi hajat hidup dan mencapai kemajuan dalam hidupnya.
Untuk mencapai kemajuan dan tujuan hidup manusia, diperlukan dan kegotongroyongan sebagaimana di tandaskan dalam Al-Quran :
(#qçRur$yès?ur
’n?tã
ÎhŽÉ9ø9$#
3“uqø)-G9$#ur
(
Ÿwur
(#qçRur$yès?
’n?tã
ÉOøOM}$#
Èbºurô‰ãèø9$#ur
4
Artinya : Bertolong - tolonglah kalian dalam kebaikan dan taqwa, dan
janganlah kalian bertolong-tolongan dalam perbuatan dosa dan permusuhan. (Q.S. Al-Maidah: 2)36
Di antara sekian banyak aspek kerjasama dan perhubungan manusia, maka ekonomi perdagangan termasuk salah satu di antaranya. Bahkan aspek ini sangat penting peranannya dalam meningkatkan kesejahteraan hidup manusia.
Jual beli dan perdagangan memiliki permasalahan dan liku-liku yang jika dilaksanakan tanpa aturan dan norma-norma yang tepat, akan menimbulkan bencana dan kerusakan dalam masyarakat.37
35
Ibid.
36
20
Hukum asal jual-beli adalah halal dengan adanya dalil dari Al-Qur’an, sunnah, dan ijma 38 ulama. Adapun dalil dari Al-Qur’an adalah firman Allah swt :
¨@ymr&ur
ª!$#
yìø‹t7ø9$#
tP§•ymur
(#4qt/Ìh•9$#
Artinya : Dan Allah swt menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba (Al-Baqarah: 275)39
}§øŠs9
öNà6ø‹n=tã
îy$oYã_
br&
(#qäótGö;s?
WxôÒsù
`ÏiB
öNà6În/§‘
Artinya : Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki hasil
perniagaan) dari Tuhanmu (Al-Baqarah : 198)40
Dalil dari sunnah adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari riwayat Ibnu Abbas ra, dia berkata, pasar Ukadz, Mujnah, Dzul Majaz adalah pasar-pasar yang sudah ada sejak zaman jahiliah.
Diantara dalil yang menerangkan keutamaan jual-beli yang terpuji dari pekerjaannya adalah hadits riwayat Rifa’ah bin Rafi’ ra. Yaitu :
:
:
Nabi Muhammad saw. Pernah ditanya : "pekerjaan apakah yang paling
baik ? "Beliau menjawab, "pekerjaan seorang dengan tanganya sendiri
37
Hamzah Ya’qub, Kode Etik Dagang Menurut Islam, Bandung : CV, Dipenogoro, 1984, h. 13-14.
38
Ijma adalah kesempatan yang diperoleh dari hasil ijtihad, sedangkan ijtihad adalah pengerahan segala kesanggupan seorang faqih (pakar fiqh Islam) untuk memperoleh pengetahuan tentang suatu hal melului dalil agama.
39
Departemen RI,Op.Cit, h.47.
40
dan setiap jual-beli yang terpuji41" (HR Al-Bazzar dan dihukumi sahih
oleh Al-Hakim)42
Dalam riwayat At-Tirmizi Rosulullah bersabda :
)
(
"Pedagang yang jujur dan terpecaya itu sejajar (tempatnya di surga) dengan para nabi, para shadiqin dan para sahabat"43(Tarmidzi dan Ibn Majah).
Hadis riwayat Bukhari dan Muslim dimana Rosululloh SAW. Bersabda :
"Penjual dan pembeli mempunyai hak khiyar selama mereka belum berpisah." (Muttafaq’alaih)
Sedangkan dasar hukum dari ijma’ (ulama mujtahidin) tak ada khilaf padanya44. Memang dengan tegas Al-Quran menerangkan, bahwa menjual itu halal, sedang riba diharamkan.45
41
Maksud dari kata terpuji dalam hadis di atas adalah jual beli yang terhindar dari usaha tipu-menipu dan merugikan orang lain. Rahmat Syafi’i, Fiqh Mu amalah, Bandung : CV. Pustaka Setia, 2001, h. 75.
42
M. Ali Hasan, Berbagai Transaksi Dalam Islam, Jakarta : PT. Raja Grapindo Persada, 2003, h. 116.
43
Nasroun Haroun, Fiqh Mua malah, Jakarta : Gaya Media Pratama, 2007, h.114.
44
Maksudnya bahwa jual beli merupakan Kebutuhan manusia dalam mengadakan transaksi jual beli yang sangat urgen, dengan transaksi jual beli seseorang mampu untuk memiliki barang orang lain yang diinginkan tanpa melanggar batasan syariat. Oleh karena itu, praktek jual beli yang dilakukan manusia semenjak masa Rasulullah SAW hingga saat ini menunjukkan bahwa umat telah sepakat akan disyariatkannya jual beli. http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/jual-beli-dan-syarat-syaratnya.htm.
45
Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, Hukum-Hukum Fiqh Islam (tinjauan antar mazhab), Semarang : PT. Pustaka Rizki Putera, 2001, h. 328.
22
Kaum muslimin sepakat untuk membolehkan jual-beli selama tidak meninggalkan kewajiban. Apabila seseorang terlalu sibuk dengan meningggalkan kewajiban, maka tidak dibolehkan sampai dia menjalankan kewajiban ibadahnya.46
$pkš‰r'¯»tƒ
tûïÏ%©!$#
(#þqãZtB#uä
#sŒÎ)
š”ÏŠqçR
Ío4qn=¢Á=Ï9
`ÏB
ÏQöqtƒ
ÏpyèßJàfø9$#
(#öqyèó™$$sù
4’n<Î)
Ì•ø.ÏŒ
«!$#
(#râ‘sŒur
yìø‹t7ø9$#
4
öNä3Ï9ºsŒ
׎ö•yz
öNä3©9
bÎ)
óOçGYä.
tbqßJn=÷ès?
ÇÒÈ
#sŒÎ*sù
ÏMuŠÅÒè%
äo4qn=¢Á9$#
(#rã•ϱtFR$$sù
’Îû
ÇÚö‘F{$#
(#qäótGö/$#ur
`ÏB
È@ôÒsù
«!$#
(#rã•ä.øŒ$#ur
©!$#
#ZŽ•ÏWx.
ö/ä3¯=yè©9
tbqßsÎ=øÿè?
ÇÊÉÈ
Artinya : Wahai orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari juma at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung. (Al-Jumu’ah :
9-10)47
C. Rukun Dan Syarat Jual Beli Dalam Ekonomi Islam
Aktifitas perdagangan merupakan salah satu dari aspek kehidupan yang bersifat horizotal yang dimaksudkan menurut fiqh Islam dikelompokan ke dalam masalah mu amalah, yakni masalah-masalah yang berkenaan dengan hubungan antar manusia dalam kehidupan bermasyarakat. Perdagangan juga mendapatkan penekanan khusus dalam ekonomi Islam, karena keterkaitan secara langsung dengan sektor riil. Sistem ekonomi Islam memang lebih
46
Ibid, h. 143-144.
47
mengutamakan sektor riil dibandingkan dengan sektor moneter, dan transaksi jual beli memastikan keterkaitan dua sektor tersebut.48
Berkenaan dengan ini, dapat dimengerti apabila salah satu rukun jual beli dalam Islam adalah ada barang dan ada uang. Rukun jual beli tersebut adalah sesuatu yang wujud. Terpenuhi atau tidaknya atau ada dan tidaknya rukun tersebut menentukan syah tidaknya perdagangan yang dilakukan.49
Sebagai suatu alat pertukaran, jual beli mempunyai rukun dan syarat yang harus dipenuhi sehingga jual beli itu dapat dikatakan sah oleh syara’.50Rukun jual beli menurut Fuqoha’ Hanafiyah adalah ijab dan qobul yang menunjuk kepada saling menukarkan atau dalam bentuk lain yang dapat menggantinya, seperti pada kasus ta athi. Sedangkan menurut Jumhur Fuqoha rukun jual beli ada empat : pihak penjual, pihak pembeli, shighat jual beli dan obyek jual beli.51Sedangkan menurut pendapat Jumhur Ulama rukun jual beli ada tiga, yaitu : orang yang bertransaksi (penjual dan pembeli), sighat (lapal
ijab dan qobul), obyek transaksi (barang yang diperjualbelikan dan nilai
tukar/harga pengganti barang).52
1. Syarat jual beli menurut Mazhab Hanafiyah
Menurut Fuqoha Hanafiyah terdapat empat macam syarat yang harus terpenuhi dalam jual beli :
a. Syarat in aqad b. Syarat shihhah
48
Jusmaliani, Bisnis Berbasih Syari ah, Jakarta : Bumi Aksara, 2008, h. 8.
49
Ibid, h.8.
50
Haris Faulidi Asnawi, Op.Cit, h. 77.
51
Ghufron A. Masadi, Op.Cit,120-121.
52
24 c. Syarat nafadz
d. Syarat luzum
1) Syarat in aqad terdiri dari :
a) Yang berkenaan dengan ’aqid : harus cakap bertindak hukum. b) Yang berkenaan dengan akadnya sendiri : adanya persesuaian
antara ijab dan qobul dan berlagsung dalam majlis akad.
c) Yang berkenaan dengan objek jual-beli : barang nya ada, berupa mal mutaqawwim, milik sendiri dan dapat diserah terimkan ketika akad.53
2) Syarat shihhah
Syarat shihhah yang bersifat umum adalah : bahwa jual beli tersebut tidak mengandung salah satu dari enam unsur yang merusaknya, yakni :
a) Jihalah (ketidakpastian) b) Ikrah (paksaan)
c) Gharar (tipu-daya)
d) Dharar (aniaya) dan persyaratan yang merugikan pihak lain.
Adapun Syarat shihhah yang bersifat khusus adalah:
a) Penyerahan dalam hal jual-beli benda bergerak
b) Kejelasan mengenai harga pokok dalam hal ba i
al-murabahah
53
c) Terpenuhi sejumlah kriteria tertentu dalam hal bai ul-salam, tidak mengandug unsur riba dalam jual beli harta ribawi.
3) Syarat nafadz ada dua
a) Adanya unsur milkiyah atau wilayah.
b) Bendanya yang diperjualbelikan tidak mengandung hak orang lain.
4) Syarat luzum
Yakni tidak adanya hak khiyar yang memberikan pilihan kepada masing-masing pihak antara membatalkan atau meneruskan jual beli.54
2. Syarat jual beli menurut Mazhab Malikiyah
Fuqoha malikiyah merumuskan tiga macam syarat jual beli berkaitan dengan ’aqid, berkaitan dengan sighat dan syarat yang berkaitan dengan obyek jual beli.
a. Syarat yang berkaitan dengan aqid : 1) Mumayyiz
2) Cakap hukum 3) Berakal sehat 4) Pemilik barang
b. Syarat yang berkaitan dengan shighat: 1) Dilaksanakan dalam satu majlis 2) Antara ijab dan qobul tidak terputus
54
26
c. Syarat yang berkaitan dengan obyeknya : 1) Tidak dilarang oleh syara
2) Suci
3) Bermanfaat
4) Diketahui oleh aqid 5) Dapat diserahterimakan55
3. Syarat jual beli menurut Mazhab Syafi iyah a. Syarat yang berkaitan dengan ’aqid :
1) Al-rusyd, yakni baligh, berakal dan cakap hukum 2) Tidak dipaksa
3) Islam, dalam hal jual beli mushaf dan kitabhadis 4) Tidak kafir harbi dalam hal jual beli peralatan perang.
b. Fuqoha syafi’iyah merumuskan dua kelompok persyaratan yang berkaitan dengan ijab-qobul dan yang berkaitan dengan obyek jual beli.
1) Syarat yang berkaitan dengan ijab-qobul dan sighat akad a) Berupa percakapan dua pihak (khitobah)
b) Pihak pertama menyatakan barang dan harganya c) Qobul dinyatakan oleh pihak kedua (mukhatab)
d) Antara ijab dan qobul tidak terputus denga percakapan lain e) kalimat qobul tidak berubah dengan kalimat qobul yang baru f) Terdapat kessuaian antara ijab dan qobul
55
g) Shighat akad tidak digantungkan dengan sesuatu yang lain h) Tidak dibatasi dalam periode waktu tertentu.
2) Syarat yang berkaitan dengan obyek jual-beli a) harus suci
b) dapat diserah terimakan
c) dapat dimanfaatkan secara syara’
d) hak milik sendiri atau milik orang lain dengan kuasa atasnya. e) berupa materi dan sifat-sifatnya dapat dinyatakan secara
jelas.56
4. Syarat jual beli menurut Mazhab Hanabillah
Fuqoha Hanabillah merumuskan tiga kategori persyaratan yang berkaitan dengan aqid (para pihak) dan yang berkaitan dengan shighat dan yang berkaitan dengan obyek jual-beli.
a. Syarat yang berkaitan dengan para pihak
1) Al-rusyd (baligh dan berakal sehat) kecuali dalam jual-beli barang-barang yang ringan.
2) Ada kerelaan
b. Syarat yang berkaitan dengan sighat 1) Berlangsung dalam satu majlis 2) Antara ijab dan qobul tidak terputus.
3) Akadnya tidak dibatasi dengan periode waktu tertentu c. Syarat yang berkaitan dengan obyek
56
28 1) Berupa mal (harta)
2) Harta tersebut milik para pihak 3) Dapat diserahterimakan
4) Dinyatakan secara jelas oleh para pihak 5) Tidak ada halangan syara 57
D. Jenis-Jenis Siyasah Al-Ighraq (Dumping) Dalam Perdagangan
Islam sangat mengajurkan bagi para pedagang untuk arif dalam menetapkan harga bagi para pembeli. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah dan dapat dijangkau oleh para pembeli.58
Perdagangan ialah kegiatan jual beli barang dan jasa yang bertujuan memperoleh laba. Telah dijelaskan bahwa pedagang muslim tidak boleh mencari laba semaksimal mungkin, tidak menganut apa yang diajarkan oleh prinsip ekonomi barat, yaitu dengan pengorbanan yang sekecil-kecilnya mendapat untung yang sebesar-besarnya, akan tetapi harus ada batas-batasnya.59
Dalam suatu pasar bersaing tidak sempurna, suatu perusahaan terkadang melakukan kebijakan pengenaan harga yang berbeda untuk produk yang sama disetiap pasar yang berlainan. Secara umum, praktik pengenaan harga yang berbeda terhadap pembeli yang berbeda disebut diskriminasi harga
57
Ibid, h. 124.
58
Abdul Sami’ Al-Mishari, Op.Cit, h. 90.
59
(Price Discrimination). Dalam perdagangan internasional60, bentuk diskriminasi harga yang biasa dilakukan adalah dumping, yakni harga yang lebih rendah terhadap barang-barang yang diekspor daripada barang-barang yang sama yang dijual dipasar domestik. Dumping merupakan sebuah kebijakan perdagangan yang kontroversial dan secara luas dikenal sebagai sebuah praktik yang tidak fair karena menimbulkan persaingan yang tidak sehat dan merusak mekanisme pasar.61
Menurut pendapat Rahmadi Usman Dalam kamus hukum ekonomi ELIPS dumping diartikan sebagai praktik dagang yang dilakukan eksportir dengan menjual barang, jasa atau barang jasa di pasar internasional dengan harga kurang dari nilai yang wajar atau lebih rendah dari pada harga barang tersebut di negerinya sendiri atau daripada harga jual di negara lain. Dengan kata lain dumping adalah kegiatan dagang yang dilakukan produsen pengekspor yang dengan sengaja banting harga dengan cara menjual rugi atau menjual dengan harga yang lebih murah dibandingkan harga jual dalam negeri atau negara lain, dengan harapan dapat mematikan usaha pesaing di pasar yang bersangkutan. Praktik dagang yang demikian dianggap sebagai praktik dagang yang tidak sehat dan sekaligus bisa mendatangkan kerugian pelaku usaha sejenis di negara pengimpor.62
Larangan praktek dumping diatur dalam pasal 20 undang-undang
60
Perdagangan internasional adalah aktifitas perdagangan yang dilakukan dan berlangsung antar warganegara dan bangsa yang berbeda, bukan dalam individu dalam Negara. Perdagangan tersebut berlangsung antara dua Negara yang berbeda.
61
Adiwarman Azwar Karim, Op.Cit, h.294.
62
Rahmadi Usman, Hukum Persaingan Usaha Di Indonesia, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2004, h.76.
30
nomor 5 tahun 1999 yang menyatakan bahwa pelaku usaha dilarang melakukan pemasokan barang dan/jasa dengan cara melakukan jual rugi atau menetapkan harga yang sangat rendah dengan maksud untuk menyingkirkan atau mematikan usaha pesaingnya di pasar bersangkutan, sehingga dapat mengakibatkan terjadinya praktik monopoli dan / persaingan tidak sehat.63
Siyasah Al-Ighraq(dumping) adalah ekspor dari suatu komoditi dengan
harga jauh di bawah pasaran, atau penjualan komoditi ke luar negeri dengan harga jauh lebih murah dibandingkan dengan harga penjualan domestiknya.
Siyasah Al-Ighraq (dumping) diklasifikasikan menjadi tiga golongan, yaitu :
1. Siyasah Al-Ighraq (dumping) terus-menerus atau internasional price
discrimination adalah kecendrungan terus-menerus dari suatu perusahaan
monopolis domestik untuk memaksimalkan keuntunganya dengan menjual satu komoditi dengan harga yang lebih tinggi di pasaran domestik, sedangkan harga yang dipasangnya di pasar luar negeri dibuat lebih murah.
2. Siyasah Al-Ighraq (dumping) harga yang bersifat predator atau predatory
dumping praktek penjualan komoditi di bawah harga yang jauh lebih
murah ketimbang harga domestiknya. Proses dumping ini pada umumnya berlangsung sementara, namun diskriminasi harganya sangat tajam sehingga dapat mematikan produk pesaing dalam waktu singkat.
3. Siyasah Al-Ighraq (dumping) sporadis atau sporadic dumping adalah suatu komoditi di bawah harga atau penjualan komoditi itu ke luar negeri
63
dengan harga yang sedikit lebih murah daripada produk domestik, namun hanya terjadi saat ingin mengatasi surplus komoditi yang sesekali terjadi tanpa menurunkan harga domestik.64
E. Pendapat Para Ulama Tentang Siyasah Al-Ighraq (dumping) Dalam Perdagangan.
Rosulullah saw memberikan gambaran mengenai posisi perdagangan dibandingkan dengan usaha-usaha di bidang lain sebagaimana sabda beliau :
`ÏB
)
(
Perhatikanlah olehmu sekalian perdagangan, sesungguhnya di dunia perdagangan itu ada Sembilan dari sepuluh pintu rizki (HR.
Ahmad)65
Perdagangan itu wajib dibiarkan bebas, tidak boleh dibatasi siapapun, termasuk penguasa tidak boleh ikut campur dalam pembatasan kebijaksanaan perdagangan.66 Rosulullah saw bersabda :
)
(
Biarkanlah sebagian manusia memberikan rizki kepada sebagian yang lainya. (HR. Baihaqi).67
Maksudnya, Biarkanlah lalu lintas perdagangan itu bebas diatur oleh masyarakat itu. Perdagangan seperti ini menganut sistem perdagangan bebas yang sekarang menjadi issue politik paling senter di dunia internasional.68
64
Ali Yafi, Fiqih Perdagangan Bebas, Bandung : TERAJU, 2003, h. 96.
65
Abu Ahmad Bin Abi Bakar Bin Ismail Al-Baushiri, Ithafu Al-Tijarah Al- Mahmarah Bi Zawadi Almasanidi Al asyarah, Mesir, Darul Kutub, , tth, h. 77.
66
M. Thalib, Pedoman Wiraswasta Dan Manajemen Islamy, Solo: CV. Pustaka Mantiq, 1992, h. 38.
67
Imam Abi Husain Muslim Bin Hajaji, Shohih Muslim (Juz III), Indonesia, Maktabah Dahlan, 1996, h.1157.
68
32
Dari Ma mar bin Abdulloh r.a. dari Rosulullah saw kata Umar : tidaklah akan memonopoli kecuali orang jahat. 69
Maka terciptalah pasar bebas yang sehat, sedangkan praktek monopoli tidak diizinkan, persaingan tidak sehat, menjual dengan harga lebih murah untuk mematikan pedagang lain yang lebih lemah dilarang pula. Logikanya sangat sederhana: harga jual harus cukup untuk menutup ongkos produksi barang dalam kondisi produsen yang amat tidak menguntungkan. Dengan demikian, tidak ada alasan bagi produsen untuk tidak membawa produknya ke pasar70
Khalifah Umar selaku kepala negara, sangat teliti dan hati-hati mengenai pelaksanaan dan ketentuan tersebut. Umar sering kali berkeliling ke pasar-pasar. Bahkan kadang-kadang Umar memberikan teguran keras kepada para pedagang yang melanggar aturan perdagangan dengan kata-kata : “yang boleh berdagang di pasar ini hanya mereka yang memahami aturan-aturan! Barang siapa mengambil keuntungan yang tidak pantas baik secara sadar atau tidak akan dikenakan denda.71
Pada dasarnya, Islam sangat menghargai mekanisme pasar dalam perdagangan. Perhargaan tersebut berangkat dari ketentuan Allah SWT, bahwa perniagaan harus dilakukan secara baik dan dengan rasa suka sama
69
H.A Raziq dan H. Rais lathif, Shahih Muslim (Terj) Juz.2, Jakarta : Pustaka Al-Husna, 1980, h. 270.
70
SH. Muhammad Ashraf, Op.Cit, h. 58.
suka (mutual goodwill).72
Para ulama mazhab maliki berbeda pendapat tentang tentang menurunkan harga :
1. Ulama Bahdad berkata : yang dimaksud dengan menurunkan harga adalah apabila orang yang menjual dengan 5 ritel dengan 1 dirham, sedangkan masyarakat menjual nya dengan 8 ritel dengan 1 dirham.
2. Ulama Bahsrah berkata : bahwa yang disebut dumping adalah orang yang menjual 8 ritel dengan 1 dirham, sedangkan masyarakat menjual 5 ritel dengan 1 dirham.73
Dalam Islam, konsep ekonomi dan perdagangan harus dilandasi nilai-nilai dan etika yang bersumber dari nilai-nilai-nilai-nilai dasar agama yang menjunjung tinggi tentang kejujuran dan keadilan.
Barangsiapa menjual barangnya di pasar yang kualitasnya sama seperti barang penjual lainnya. Maka ia dilarangnya untuk menjual barangnya di pasar yang kualitasnya sama seperti barang penjual lainnya. Maka ia dilarangnya untuk menjual dengan harga yang lebih rendah dari harga pasar apabila hal itu akan merusak harga pasar dan membuat resah para pelaku pasar, hal tersebut harus dihindari.74
Dalam kitab Al-Muwatha Imam Malik berkata :“barangsiapa
72
Jusmaliani, Op.Cit, h. 123.
73
Abu Zakaria Yahya bin Umar dalam kitabnya Al-Ahkam As-Suq, Qoiruwan, Afrika Utara, 213-289 H.
74
Ash. Shidiq Abdurrahman Al-Gharyani, Fatwa-Fatwa Muamalah Kontemporer, Surabaya : pustaka progresif, 2004, h.32-33.
34
menurunkan harga pasar, maka hendaknya ia diusir. Kondisi ini terjadi apabila para penjual sendiri dan pada umumnya tidak melipatgandakan keuntungan. Namun apabila mereka terbiasa dengan hal itu, maka menurunkan harga dari harga pasar untuk kepentingan sendiri maka ia dipaksa untuk menyesuaikan dengan harga pasar atau diusir dari pasar.75
Islam memberikan kebebasan kepada pasar. Ia menyerahkan kepada
hukum pasar untuk memainkan peranya secara wajar, sesuai penawaran dan permintaan yang ada. Karena itu ketika harga-harga melonjak di masa rasulullah saw, para sahabat berkata, “wahai rasulullah, tentukanlah harga untuk kami”. Rasulullah saw. Menjawab,76
Sesungguhnya Allah lah yang menentukan harga, yang mencabut yang membentangkan, dan yang memberi rizeki. Saya sungguh berharap dapat bertemu Allah dalam keadaan tidak seorang pun dari kalian yang menuntut kepadaku karena kezaliman dalam masalah darah dan harta
(riwayat Abu Dawud)
Dengan hadits ini, rasulullah saw. Menegaskan bahwa intervensi yang mengganggu kebebasan pribadi seseorang tanpa adanya kondisi darurat merupakan kezaliman, dan Umar ingin bertemu Allah dalam keadaan bebas dari dampaknya.
Akan tetapi, bila di pasar telah muncul hal-hal yang tidak wajar, seperti monopoli komoditas oleh beberapa pedagang untuk
75
Imam Malik ibn Anas, Al-Muwatta , Jakarta : PT. Raja Grapindo Persada, 1999, h. 360.
76
mempermainkan harga.77 Maka pemerintah, sebagai institusi formal yang memikul tanggungjawab menciptakan kesejahteraan umum, berhak melakukan intervensi harga ketika terjadi suatu aktifitas yang membahayakan masyarakat luas, Yahya bin Umar menyatakan bahwa pemerintah tidak boleh melakukan intervensi, kecuali dalam dua hal :
1. Para pedagang tidak memperdagangkan barang dagangan tertentu yang sangat dibutuhkan masyarakat, sehingga dapat menimbulkan kemudharatan serta merusak mekanisme pasar.
2. Para pedagang melakukan praktek siyasah al-ighraq (dumping)78 yang dapat menimbulkan persaingan tidak sehat serta dapat mengacaukan stabilitas harga pasar.79
Intinya pengaturan harga diperlukan bila kondisi pasar tidak menjamin adanya keuntungan di salah satu pihak. Pemerintah harus mengatur harga, misalnya bila ada kenaikan harga barang di atas batas kemampuan masyarakat maka pemerintah melakukan pengaturan dengan melakukan operasi pasar.80 Sedangkan, bila harga terlalu turun sehingga merugikan produsen, pemerintah meningkatkan pembelian atas produk produsen tersebut dari pasar.
77
Ibid, h. 10-11.
78
Menurut Dr. Rifaat Al-Audi, peryataan Yahya bin Umar yang melarang praktek siyasah al-ighraq bukan dimaksudkan untuk mencegah harga menjadi murah. Namun pelarangan tersebut dimaksudkan untuk mencegah dampak negatifnya terhadap mekanisme pasar dan kehidupan masyarakat secara keseluruhan.
79
Adiwarman karim, Op.Cit, h.287.
80
Dengan menjual secara langsung barang-barang yang dibutuhkan masyarakat, melakukan penurunan tarif/bea impor terhadap barng-barang tertentu yang memicu cost push inflation atau memberikan harga subsidi pada barang-barang tertentu.
36 BAB III
KONSEP PEMIKIRAN UMAR BIN KHATTAB TENTANG
SIYASAH AL-IGHRAQ (DUMPING) DALAM PERDAGANGAN
A. Biografi Singkat Umar Bin Al-Khattab 1. Kelahiran dan Nasab Umar bin Khattab
Nama Lengkap Umar adalah Umar bin Khattab Ibn Nufail Ibn Abd al-‘Uzza Ibn Riyah Ibn Qurth Ibn Razah Ibn ‘Adiy Ibn Ka’ab Ibn Lu’aiy al-Qurasyiy al-‘Adawiy.81 Umar dilahirkan tiga belas tahun setelah tahun Gajah (tahun kelahiran Nabi Muhammad).82 Ini berarti Umar lebih muda tiga belas tahun dari Nabi Muhammad SAW. Sedangkan Ibunya bernama Hantamah binti Hasyim bin Mughiroh bin Abdullah bin Umar bin Makhzum.83 Nasab Umar bertemu dengan nasab Nabi Muhammad SAW pada Ka’ab Ibn Luay.84
Umar berasal dari kalangan keluarga terpandang suku ‘Adiy yang termasuk rumpun Quraisy. Umar memiliki kecerdasan yang luar biasa, bahkan dikatakan mampu memprakirakan hal-hal yang akan terjadi pada masa yang akan datang.85 Umar menjadi orang yang dipilih sebagai duta dari kabilahnya pada masa Jahiliyyah. Jika terjadi perselisihan di antara para kabilah, maka Umar lah orang yang diutus untuk melerai dan
81
Jalaluddin as-Suyuthi, Tarikh al-Kulafa , Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1988, h. 86
82
Abdul Wahhab an-Najjar, al-Khulafa’ al-Rasyidun, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Cet.2, 1990, h. 106.
83
Muhammad Ridla, Faruq Umar Ibn Khatthab, Cet. 6, Beirut: Dar Kutub al-Ilmiyyah, 1993, h. 8
84
Amru Khalid, Khulafa ur Rasul, Terj.Farur Mu’is “Jejak para Khlaifah”, Solo: Aqwam, 2007, h. 69
85
Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam, jilid 2, Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1993, h. 38
mendamaikan. Hal ini menandakan bahwa Umar memiliki kecerdasan, keadilan, serta kebijaksanaan.86
Meskipun memiliki keturunan dan nasab serta kedudukan yang terhormat di keluarganya, tetapi pada masa jahiliyyah Umar dikenal memiliki sifat yang kejam, bengis, dan suka minum minuman keras. Pada masa jahiliyyah dia menikahi banyak wanita, dan memiliki anak yang banyak. Akan tetapi sebagian besar isterinya tersebut meninggal dunia. Diantara anak-anaknya yang menonjol adalah Abdullah bin Umar dan Ummul Mukminin Hafshah. Anak-anaknya yang lain adalah Fathimah, ‘Ashim, Abdurrahman al-Akbar, Abdurrahman al-Ausath, dan Abdurrahman al-Ashghar. Setelah menjadi khalifah87, Umar juga menikah dengan Ummu Kultsum putri Ali bin Abi Thalib, dan Fatimah az-Zahra saudara Hasan dan Husain, cucu Nabi Muhammad SAW.88
2. Umar Masuk Islam
Sebelum masuk Islam, Umar dikenal sebagai salah satu tokoh yang paling menentang seruan Nabi Muhammad SAW. Umar baru masuk Islam pada tahun ke enam kenabian. Pada waktu itu Umar berusia dua puluh tujuh tahun.89 Banyak riwayat yang menerangkan tentang awal masuknya
86
Ibid. Lihat juga Jalaluddin as-Suyuthi, Loc.cit.
87
Kata “khalifah” secara bahasa berarti: wakil, pengganti atau duta. Manusia sebagai khlaifah adalah dia sebagai wakil atau duta Tuhan di muka bumi. Kata khalifah secara istilah mempunyai maksud pengganti Nabi Muhammad SAW dalam fungsinya sebagai kepala negara, baik dalam urusan agama maupun dunia. Sebutan khalifah sebgai pengganti Nabi Muhammad SAW ini dimulai Abu Bakar sebagai khalifah pertama hingga pada masa Ali bin Abi Thalib. Mulai dari masa Bani Umayyah, penggunaan kata khalifah berubah bukan lagi pengganti Nabi Muhammad SAW, tetapi pengganti Allah SAW atau khalifat Allah di muka bumi. Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam, jilid 2, Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1993, h. 35-36.
88
Amru Khalid, Op.cit., h. 70-71.
89
38
khalifah Umar bin Khattab ke Islam. Akan tetapi diantara banyak riwayat itu, yang paling terkenal adalah riwayat yang berasal dari Anas bin Malik.90 Pada suatu hari Umar mendapat berita bahwa adiknya, Fatimah beserta suaminya telah masuk Islam. Seketika itu juga Umar mendadak menjadi marah dan geram. Umar segera bertandang ke rumah adiknya. Sesampainya di sana kontan kemarahannya diluapkan pada adiknya, Umar pun menampar Fatimah dan suaminya. Di puncak kemarahannya, Umar lalu melihat sebuah lembaran yang bertuliskan ayat al-Qur’an. Menurut sebagian riwayat, ayat itu adalah permulaan surat Taha. Umar kemudian mengambil lembaran tersebut dan membaca ayat tersebut. Setelah membacanya, Umar pun merasakan damai dan tenang di hatinya. Lantas Umar ingin menemui Nabi Muhammad SAW di rumah al-Arqam. Waktu itu Nabi Muhammad SAW sedang melaksanakan dakwah secara sembunyi-sembunyi di rumah Al-Arqam. Sesampainya di sana, para sahabat yang berada di dalam rumah Al-Arqam pun menjadi ketakutan, kecuali Hamzah bin Abdul Muttalib, paman Nabi Muhammad SAW. Akan tetapi dengan tetap tenang dan berwibawa, Nabi Muhammad SAW menerima kedatangan Umar, dan dengan sikap yang ditunjukkan oleh Nabi tersebut lah Umar menjadi lunak dan takut. Nabi kemudian memerintahkan Umar untuk masuk Islam. Dan seketika itu juga Umar
90
Muhammad Ali Quthbi, al-Khulafa u al-Rasyiduna, Damaskus: Maktabah al-Ghazali, 1993, h. 77.
kemudian menyatakan masuk Islam dan mengucapkan dua kalimat syahadat.91
Masuknya Umar bin Khattab ke dalam Islam merupakan kekuatan yang sangat besar dan berharga bagi dakwah Islam. Umar memberikan masukan kepada Nabi Muhammad SAW untuk melakukan syi’ar Islam secara terang-terangan, bukan secara diam-diam seperti yang selama ini dijalankan oleh Nabi Muhammad SAW. Sehingga sejak itulah Islam disebarkan secara terang-terangan.92 Semenjak Umar masuk Islam, Nabi Muhammad SAW memberikan sebutan kepada Umar dengan julukan
“al-Faaruq” yang artinya pembeda. Karena dengan Umar lah Allah
membedakan antara yang haq dan yang bathil.93 Umar bin Khattab juga menjadi penasihat terdekat Nabi Muhammad SAW. Dan begitulah dilakukannya sepanjang umur Nabi Muhammad SAW.94
3. Umar menjadi Khalifah
Setelah Khalifah Abu Bakar memerintah selama kurang lebih dua tahun, Abu Bakar jatuh sakit. Kondisi demikian menyebabkan muncul kecemasan pada Umar apabila tidak segera menunjuk atau menentukan orang yang akan menggantikan jabatannya sebagai khalifah.95 Abu Bakar kemudian bermusyawarah dengan para sahabat guna mempertimbangkan siapa yang pantas menggantikan Abu Bakar menjadi khalifah. Abu Bakar
91
Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Op.cit., h. 125.
92
Muhammad Ridla, Op.cit., h. 18.
93
Muhammad Ali Quthbi, Op.cit., h. 83.
94
Michael H. Hart, Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah, Jakarta : Pustaka Jaya, 1982.
95
40
mengungkapkan beberapa kriteria yang harus dimiliki oleh seorang khalifah. Berdasarkan masukan-masukan yang diterima, Abu Bakar kemudian memilih Umar bin Khattab untuk menggantikannya menjadi khalifah. Abu Bakar pun lalu membuat bai’at yang berisi penunjukan Umar bin Khattab sebagai penggantinya, dan dengan demikian orang-orang mukmin harus patuh terhadapnya.96
Pengangkatan Umar bin Khattab sebagai Khalifah dengan cara demikian memang terkesan ada tendensi rekayasa dan rencana dari khalifah sebelumnya. Akan tetapi keadaan demikian tidak menimbulkan permasalahan di kalangan umat Islam waktu itu.97
Umar diangkat menjadi khalifah dengan dibai’at pada bulan Jumada al-Akhirah tahun 13 Hijriyah. Az-Zuhri berkata bahwa Umar diangkat menjadi khalifah pada hari Abu Bakar wafat, delapan hari sebelum bulan Jumada al-Akhirah.98 Umar bin Khattab memerintah umat Islam selama kurang lebih sepuluh tahun, yaitu pada tahun 634-644 Masehi. Umar bin Khattab dibunuh oleh Abu Lukluk (Fairuz), seorang budak pada saat ia akan memimpin shalat Subuh. Fairuz adalah salah seorang warga Persia yang masuk Islam setelah Persia ditaklukkan Umar. Pembunuhan ini konon dilatarbelakangi dendam pribadi Abu Lukluk (Fairuz) terhadap Umar. Fairuz merasa sakit hati atas kekalahan Persia,
96
Muhammad Ali Quthbi, Op.cit., h. 75.
97
H.M. Solikhin, Op.Cit, 2005, h. 10.
98
Jalaluddin as-Suyuthi,Tarikh al-Kulafa , Terj.Sudarmadji “Sejarah Khulafaur Rashidin: Para Penegak Islam Sepeninggal Rasulullah SAW”, Jakarta: Lintas Pustaka, 2003, h. 138.
yang saat itu merupakan negara digdaya. Peristiwa ini terjadi pada hari Rabu, 25 Dzulhijjah 23 H/644 M.99
4. Masa Pemerintahan Umar
Umar menjadi khalifah sebagai pengganti Abu Bakar tidak dihadapkan banyak sekali persoalan yang menantinya. Masalah perang dan perdamaian, banyak masyarakat yang membangkang membayar zakat, dan persoalan-persoalan sosial lainnya.100 Permasalahan-permasalahan yang timbul pada masa itu tidak lepas dari kemajemukan masyarakat bangsa Arab dan semakin luasnya daerah kekuasaan Islam.
a. Kehidupan ekonomi masyarakat
Perekonomian masyarakat Arab pada masa sebelum Islam bisa dibilang masih sederhana dan terbatas. Mayoritas aktivitas perekonomian pada saat itu adalah pada sektor pertanian, peternakan, dan perdagangan. Ketiga sektor ekonomi tersebut sangat berkaitan erat pada waktu itu. Para petani menggarap lahan pertanian mereka dengan menggunakan hewan-hewan ternak. Para pedagang juga menggunakan hewan-hewan ternak sebagai alat untuk mengangkut barang-barang dagangan mereka. Dan kadang hewan dari peternakan juga menjadi barang yang diperdagangkan.101
Sektor perdagangan bisa dibilang yang paling diutamakan oleh bangsa Arab. Dari aktivitas perdagangan, lahir kelompok-kelompok
99
http://id.wikipedia.org/wiki/umar_bin_khattab#, Jum’at, 10 desember 2010.
100
Toha Husain, as-Syaikhan, Terj. Ali Audah “Dua Tokoh Besar dalam Sejarah Islam; Abu Bakar dan Umar”, Jakarta: Dunia Pustaka Jaya, 1986, h. 141.
101