• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS SETSUZOKUJOSHI “NONI” DAN “TEMO”.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "ANALISIS SETSUZOKUJOSHI “NONI” DAN “TEMO”."

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

DAFTAR ISI

D. Tujuan Penelitian ... 4

E. Manfaat Penelitian ... 4

F. Sistematika Penulisan ... 4

BAB II LANDASAN TEORI ... 6

A. Partikel (Joshi) dalam Bahasa Jepang ... 6

1. Pengertian Joshi ... 6

B.Makna dan Jenisnya... 13

(2)

2. Jenis Makna ... 14

C. Sinonim dan Permasalahannya ... 15

D. Hasil Penelitian Terdahulu Tentang Noni dan Temo ... 19

1. Ogawa (1990) ... 19

a. Noni ... 19

b. Temo ... 20

c. Kelebihan dan kekurangan pada penelitian Ogawa ... 20

2. Tomita (1991) ... 21

a. Noni ... 21

b. Temo ... 22

c. Kelebihan dan kekurangan pada penelitian Tomita ... 24

3. Sagawa (1998) ... 25

a. Noni ... 25

b. Temo ... 29

c. Kelebihan dan kekurangan pada penelitian Sagawa ... 33

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 34

A. Metode Penelitian ... 34

B. Teknik Pengumpulan Data ... 35

C. Teknik Pengolahan Data ... 36

D. Kesimpulan/Generalisasi ... 39

BAB IV ANALISIS DATA ... 40

A. Persamaan dan Perbedaan Setsuzokujoshi Noni dan Temo dari Segi Struktur .. 40

1. Pola Kalimat Setsuzokujoshi Noni ... 40

2. Pola Kalimat Setsuzokujoshi Temo ... 44

(3)

1. Makna Setsuzokujoshi Noni ... 48

a. Gyakugenin ... 48

b. Taihi ... 50

c. Yosougai ... 51

d. Zannen na Kimochi o Arawasu ... 52

2. Makna Setsuzokujoshi Temo ... 54

a. Gyakujouken ... 54

b. Heiretsujouken ... 55

c. Gimonshi ... 56

C.Penggunaan Setsuzokujoshi Noni dan Temo ... 57

1. Penggunaan Setsuzokujoshi Noni ... 57

a. Gyakugenin ... 57

b. Taihi ... 59

c. Yosougai ... 60

d. Zannen na Kimochi o Arawasu ... 61

2. Penggunaan Setsuzokujoshi Temo ... 63

a. Gyakugenin ... 63

b. Heiretsujouken ... 65

c. Gimonshi ... 66

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 70

A. Kesimpulan ... 70

B. Saran... 71

(4)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dalam bahasa Jepang dikenal joshi atau partikel, yang menurut Hirai dalam Sudjianto (2004:181) adalah kelas kata yang termasuk ke dalam fuzokugo yang dipakai setelah suatu kata untuk menunjukkan hubungan antara kata tersebut.

Joshi berdasarkan fungsinya dibagi ke dalam 4 macam, diantaranya adalah

setsuzokujoshi. Menurut Hirai dalam Sudjianto (2004:181) setsuzokujoshi adalah

joshi yang dipakai setelah kata kerja atau ajektiva untuk melanjutkan kata-kata

yang telah ada sebelumnya terhadap kata-kata yang ada pada bagian berikutnya.

“Noni” dan “temo” tergolong ke dalam setsuzokujoshi yang bisa digunakan

untuk menyatakan alasan sebaliknya (gyakusetsuin) dari kalimat sebelumnya. Kedua setsuzokujoshi tersebut memliki kemungkinan makna yang bersinonim.

Di dalam Bunkei Jiten, “noni” biasa digunakan untuk menyatakan hal yang berlawanan (gyakugen`in), kontras (taihi), diluar perkiraan (yousougai), adanya rasa penyesalan (zannen dato iu kimochi o arawasu), dan menyatakan maksud. “Temo” digunakan untuk menunjukkan kalimat dengan “syarat berlawanan”

(gyakujouken) dan “syarat berurutan” (heiretsujouken).

Perhatikan contoh berikut.

(1) こ 仕事 病気 / 休 い (Sagawa, 1998:272)

(5)

2 <Meskipun sakit, pekerjaan ini tidak bisa ditinggalkan.>

(2) 5月 / 真夏 よう 暑い (Sagawa, 1998:472)

Go gatsu (nanoni / demo), manatsu no youni atsui.

<Meskipun bulan Mei, tapi panasnya seperti di puncak musim panas.>

“Noni” dan “temo” pada kalimat tersebut dapat diterjemahkan menjadi

“meskipun” dalam bahasa Indonesia. Dalam contoh kalimat tersebut, noni dan temo dapat saling menggantikan. Akan tetapi, masih ada makna lain dari tiap

setsuzokujoshi tersebut, yang bisa ditelaah berdasarkan konteks kalimat ataupun

dari posisinya.

Penulis telah melakukan expert judgment kepada native speaker (Mr. Marutani Toshihiro) yang menyatakan bahwa tidak terjadi perubahan makna pada kedua kalimat tersebut.

Akan tetapi, lain halnya jika teknik ganti digunakan dalam contoh kalimat berikut.

(3) 本 こ 買っ /* 同じ値段 (Sagawa, 1998:275)

Hon wa, doko de kat (temo / *tanoni) onaji nedan da,

<Beli buku dimanapun harganya sama saja.>

Penggunaan noni pada kalimat (3) tidak tepat, karena fungsi temo pada kalimat (3) adalah penegasan pada kalimat tersebut.

(6)

3 B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Makna apa saja yang terkandung dalam setsuzokujoshi noni dan temo?

2. Apa persamaan makna dan penggunaan setsuzokujoshi noni dan temo?

3. Apa perbedaan makna dan penggunaan setsuzokujoshi noni dan temo?

C. Batasan Masalah

Dari rumusan masalah di atas, agar pembahasan yang akan dilakukan tidak terlalu meluas, penelitian ini hanya akan menganalisis setsuzokujoshi noni dan temo dari segi makna dan penggunaannya berdasarkan konteks kalimat. Sehingga

noni yang mengandung makna “untuk” dan temo yang mengandung makna

“meminta izin” tidak digunakan.

D. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Untuk mengetahui makna yang terkandung dalam setsuzokujoshi noni dan temo berdasarkan konteks kalimat.

2. Untuk mengetahui persamaan makna dan penggunaan setsuzokujoshi noni dan temo.

(7)

4 E. Manfaat Penelitian

Manfaat yang ingin diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Dapat dijadikan referensi bagi pembelajar bahasa Jepang dalam memahami makna setsuzokujoshi noni dan temo.

2. Dapat dijadikan masukan bagi pengajar saat mengajarkan makna dan penggunaan setsuzokujoshi noni dan temo.

3. Dapat dijadikan acuan penelitian selanjutnya.

F. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan laporan ini adalah sebagai berikut:

Pada bab I penulis menjelaskan latar belakang masalah, rumusan masalah, batasan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metodologi penelitian, serta sistematika penulisan.

Pada bab II diuraikan mengenai teori-teori yang berhubungan dengan penelitian, yaitu mengenai joshi, makna, sinonim, dan hasil penelitian terdahulu. Teori-teori tersebut diambil dari berbagai pustaka yang relevan.

Pada bab III terdapat pengertian metode penelitian, instrumen dan sumber data penelitian, teknik pengumpulan data, serta teknik pengolahan data yang terdiri dari tahap persiapan, tahap pelaksanaan dan pelaporan.

(8)
(9)

34 BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Metode Penelitian

Dalam proses penelitian, mutlak diperlukan sebuah metode untuk menjawab masalah yang dihadapi. Metode adalah cara teratur yang digunakan untuk melaksanakan suatu pekerjaan agar tercapai hasil yang baik seperti yang dikehendaki (Kamus Umum Bahasa Indonesia). Sudaryanto (1992 : 27) mengemukakan bahwa istilah metode seringkali dianggap sinonim bagi istilah teknik, tetapi demi keseksamaan dalam penggunaan istilah, maka pembedaan

istilah metode dan teknik bukan dalam hubungan sinonimi, melainkan hiponimi. Istilah teknik selayaknya untuk menunjuk konsep yang diturunkan dari konsep yang disebut metode.

Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah metode analisis deskriptif. Istilah deskriptif itu menyarankan bahwa penelitian yang dilakukan semata-mata hanya berdasarkan pada fakta yang ada atau fenomen yang ada, sehingga yang dihasilkan berupa perian bahasa yang sifatnya seperti potret: paparan seperti adanya (Sudaryanto, 1992 : 62).

Sehingga fungsi dari metode analisis deskriptif ini adalah merekam fenomen bahasa seperti adanya.

(10)

35 dianalisis sesuai dengan teknik yang berasal dari turunan metode agih, yaitu teknik ganti.

B. Teknik Pengumpulan Data

Data yang digunakan untuk penelitian ini terdiri dari dua jenis data, yaitu jitsurei dan sakurei. Sutedi (2004 : 118) mengemukakan bahwa yang dimaksud

dengan jitsurei adalah contoh penggunaan yang berupa kalimat dalam teks kongkrit dan sakurei adalah contoh penggunaan yang dibuat oleh peneliti sendiri yang tingkat kebenarannya dapat diterima oleh umum.

Dalam penelitian kualitatif, peneliti sendiri yang bertindak sebagai instrumen, sehingga peneliti bisa menghimpun data-data kebahasaan dari penutur secara langsung, maupun sumber lainnya (Alwasilah 2002 : 116).

Sumber data penelitian ini berupa data kualitatif berupa contoh-contoh kalimat yang dipublikasikan (jitsurei). Kalimat-kalimat yang mengandung setsuzokujoshi noni dan temo diambil dari:

1. Nihongo Kyouiku Jiten (1990)

2. Bunpou no Kiso Chisiki to Sono Oshie Kata (1991) 3. Nihongo Bunkei Jiten (1998)

4. Kanzen Master 3 Kyuu Nihongo Nouryoku Shiken Mondai Taisaku (2001) 5. New Approach Intermediate Course (2004)

6. Shokkyuu Nihongo (2005) 7. Jokkyuu Dokkai (2005)

(11)

36 9. One Piece Volume 33 (2003)

10.Doraemon Plus Volume 1 & 3 (2005)

11.Asahi Shinbun. [on line]. Tersedia : http://www.asahi.com [8 Januari 2010]

12.Yomiuri Shinbun. [on line]. Tersedia : http://www.yomiuri.co.jp [9 Januari 2010]

Data dari sumber-sumber diatas penulis kumpulkan dengan cara teknik catat ortografis berupa format data dalam bentuk kartu data.

C. Teknik Pengolahan Data

Sebagaimana telah diungkapkan sebelumnya bahwa joshi hanya memiliki makna gramatikal, begitu pula dengan noni dan temo yang merupakan setsuzokujoshi.

Sesudah data dikumpulkan, penulis melanjutkannya dengan menganalisa data tersebut dengan langkah-langkah seperti yang dikemukakan oleh Sutedi (2004: 122), yaitu mengklasifikasikan setiap data yang diperoleh, membuat pasangan kata yang akan dianalisis, melakukan analisis.

Klasifikasi noni dan temo dilakukan berdasarkan makna yang dihasilkan. Klasifikasi ini merunut kepada hasil penelitian Sagawa (1998). Noni dibagi menjadi 4 jenis, yaitu gyakugen`in, taihi, yosougai, dan zannen na kimochi o arawasu. Sedangkan temo dibagi menjadi 3 jenis, yaitu gyakujouken,

heiretsujouken, dan gimonshi ~ temo.

(12)

37 adalah teknik analisis yang berupa penggantian unsur satuan lingual data. Ada dua kemungkinan yang dihasilkan oleh teknik ini, yaitu berupa tuturan yang dapat diterima (gramatikal) dan tuturan yang tidak (tidak gramatikal) (Sudaryanto, 1992 : 48).

Objek yang diganti adalah setsuzokujoshi noni dan temo. Dengan melakukan teknik ganti, maka akan diketahui mengapa suatu kata bisa digunakan dalam kalimat, sedangkan kata yang lainnya tidak (Sutedi, 2004 : 123).

Sebagaimana telah diungkapkan sebelumnya, bahwa sakurei harus memiliki tingkat kebenaran yang dapat diterima oleh umum, berikut hasil expert judgement oleh native speaker yaitu Mr. Marutani Toshihiro terhadap jitsurei yang telah dikenai oleh teknik ganti.

(117). 5月 / 真夏 う 暑い (Sagawa, 1998:473)

Go gatsu (na noni/demo), manatsu no youni atsui.

<Meskipun bulan Mei, tapi panasnya serasa dipuncak musim panas. >

(118). こ 仕事 病気 / や い

Kono shigoto wa byouki (demo/nanoni), yamenai. (Sagawa, 1998:272)

< Meskipun sakit, tapi pekerjaan ini tidak boleh berhenti. >

Pada kalimat (117) dan (118), noni dan temo dapat saling menggantikan.

Hal disebabkan oleh kala yang dibicarakan adalah 現 在’genzai’ <masa

sekarang>. Hanya saja ada perbedaan nuansa pada kalimat (118) yang memiliki arti <Meskipun sakit, tapi pekerjaan ini tidak boleh berhenti>. Jika menggunakan demo, dalam keadaan apapun pembicara tidak boleh beristirahat, dan jika

menggunakan noni, maka pembicara sebenarnya ingin beristirahat.

(13)

38 Ame (demo/nanoni) undoukai wa okonawareta.

< Meskipun hujan, kegiatan olahraga tetap dilaksanakan. >

(120). 何回聞い / 名前が覚え い (Sagawa, 1998:275)

Nankai kii (ta noni/temo) namae ga oboerarenai.

< Meskipun beberapa kali mendengar namanya, tetap saja tidak ingat. >

Pada kalimat (119) dan (120), noni dan temo dapat saling menggantikan. Hal

disebabkan oleh kala yang dibicarakan adalah 過 去’kako’ <masa lampau>.

Berbeda dengan contoh pada kalimat (118), pada kalimat (119) dan (120) tidak terjadi perubahan nuansa makna.

Pada contoh-contoh kalimat sebelumnya ditunjukkan bentuk kalimat dimana noni dan temo dapat saling menggantikan, maka pada contoh-contoh kalimat

berikut ini, akan ditunjukkan contoh kalimat dimana noni dan temo tidak dapat saling menggantikan. Perhatikan kalimat berikut.

(121). 合 格 す 思 っ い /* 不 合 格 っ (Sagawa,

1998:473)

Goukaku suru to omottei (tanoni/*temo), fugoukaku datta.

< Padahal saya pikir akan lulus, tapi ternyata tidak. >

(122). 対 来 あ 固 く 約 束 し /* (Sagawa,

1998:474)

Zettai kuru to anna ni kataku yakusoku shi (tanoni/*temo).

< Padahal sudah janji semacam itu. >

(123). 国 へ 帰 っ /* こ 人 々 親 切 忘 い う

(Sagawa, 1998:272)

Kuni e kaet (temo/*tanoni), kono hitobito no shinsetsu ni wasurenai darou.

< Meskipun sudah pulang ke negara saya, saya tidak akan melupakan

keramahan orang-orang disini. >

(124). いく お金 っ /* こ 対 放せ い

(14)

39 Ikura okane o morat (temo/*tanoni), kono e wa zettai ni hanasenai.

< Berapapun uang yang diterima, saya tidak akan melepaskan lukisan ini. >

Pada kalimat (121) dan (122), temo tidak dapat menggantikan noni. Karena, meskipun dalam keadaan lampau, tapi pada kalimat (121) dan (122), noni memiliki makna ‘penyesalan’ (zannen na kimochi o arawasu) dari segi pembicara. Dan jika dilihat dari segi struktur, noni pada kalimat (121) dan (122) terletak di akhir kalimat (bunmatsu), sedangkan temo tidak bisa ditempatkan di akhir kalimat.

Lain halnya dengan kalimat (123) dan (124), dimana penyebab dari tidak bisanya temo diganti menjadi noni adalah keadaan kala pada kedua kalimat tersebut. Hal ini disebabkan karena kala dalam kedua kalimat tersebut adalah masa mendatang (mirai).

D. Kesimpulan/Generalisasi

(15)

70 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Setelah menganalisis setsuzokujoshi noni dan temo, maka dapat ditarik

kesimpulan secara umum bahwa untuk mengetahui persamaan dan perbedaan

dari joshi tersebut kita harus memperhatikan unsur-unsur yang terkandung di

dalamnya. Kesimpulan yang lebih spesifik lagi akan diuraikan sebagai

berikut:

1. Makna Setsuzokujoshi Noni dan Temo

Tabel 5.1. Makna Setsuzokujoshi Noni dan Temo

No. Makna Noni Temo

1. Menyatakan pertentangan di dalam kalimat.

2. Menyatakan perbandingan di dalam kalimat.

3. Menyatakan suatu hal yang diluar dugaan.

4. Mengandung nuansa penyesalan.

5. Menyatakan urutan.

6. Menyatakan penegasan dengan menggunakan kata

(16)

71 2. Persamaan Setsuzokujoshi Noni dan Temo

1. Keduanya menunjukkan pertentangan didalam kalimat.

2. Keduanya digunakan sebagai kata penghubung intra kalimat.

3. Keduanya dapat digunakan dalam kala lampau dan sekarang.

3. Perbedaan Setsuzokujoshi Noni dan Temo

1. Jika noni digunakan diakhir kalimat, memiliki nuansa makna

penyesalan, sedangkan temo tidak bisa.

2. Noni dapat digunakan untuk menyatakan perbandingan yang kontras,

sementara temo tidak bisa.

3. Noni dapat digunakan untuk menyatakan sesuatu hal yang diluar

dugaan, sementara temo tidak bisa.

4. Temo dapat digunakan dalam kala mendatang, sedangkan noni tidak

bisa.

5. Temo dapat digunakan sebagai kata penghubung dalam kalimat

majemuk setara, sedangkan noni tidak bisa.

6. Temo dapat digunakan untuk menyatakan “sesuatu hal yang percuma

jika dilakukan”, sementara noni tidak bisa.

7. Temo lebih umum digunakan untuk menunjukkan hal yang bersifat

subyektif dan noni lebih umum digunakan untuk menunjukkan hal

(17)

72 B. Saran

Setiap penelitian selalu menemui masalah, begitu pula dengan

penelitian yang telah penulis lakukan. Masalah-masalah tersebut tidak bisa

penulis jawab sepenuhnya karena keterbatasan penulis. Penulis menyadari

banyak sekali kekurangan dari hasil penelitian ini, karena itu penelitian

lanjutan sangat diperlukan karena kedua joshi tersebut masing-masing masih

memiliki banyak aspek untuk diteliti.

Adapun hal-hal yang masih perlu diteliti diantaranya adalah analisis

(18)

73 DAFTAR PUSTAKA

Alwasilah, A. Chaedar & Senny Suzanna.(2005). Pokoknya Menulis! Cara Baru Menulis dengan Metode Kolaborasi. Bandung: Kiblat Buku Utama.

Alwasilah, A. Chaedar.(2006). Pokoknya Kualitatif. Jakarta: Rineka Cipta.

Chaer, Abdul.(1985). Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.

Depdiknas. (2001). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.

Fujio, Fujiko F..(2007). Doraemon Plus Volume 1. Tokyo: Shogakukan.

____________.(2005). Doraemon Plus Volume 3. Tokyo: Shogakukan.

Ogawa, Yoshio.(1990). Nihongo Kyouiku Jiten. Tokyo: Taishuukan Shoten.

Oyanagi, Noboru.(2004). New Approach Japanese Intermediate Course. Tokyo: SD.

Sagawa, Yuriko.(1998). Kyoushi to Gakushuusha no tame no Nihongo Bunkei Jiten. Tokyo: Kuroshio Shuppan.

Sudaryanto. (1993). Metode dan Aneka Teknik Analisa Bahasa. Yogyakarta: Duta

Wacana University Press.

Sudjianto, Ahmad Dahidi. (2004). Pengantar Linguistik Bahasa Jepang. Jakarta:

(19)

74 Sutedi, Dedi. (2004). Dasar – Dasar Linguistik Bahasa Jepang. Bandung:

Humaniora.

____________.(2009). Pengantar Penelitian Pendidikan Bahasa Jepang. Bandung: Tidak diterbitkan.

Tokyo Gaikokugo Daigaku Ryuugakusei Kyouiku Center. (2002). Shokkyuu

Nihongo. Tokyo: Bonjinsha.

Tomita, Takayuki. (1990). Bunpou Kiso Chisiki to Sono Oshiekata. Tokyo:

Bonjinsha.

Toriyama, Akira. (1990). Dragon Ball Volume 20. Tokyo: Shueisha.

______________. (1990). Dragon Ball Volume 21. Tokyo: Shueisha.

______________. (1990). Dragon Ball Volume 22. Tokyo: Shueisha.

______________. (1990). Dragon Ball Volume 23. Tokyo: Shueisha.

Gambar

Tabel 5.1. Makna Setsuzokujoshi Noni dan Temo

Referensi

Dokumen terkait

Pada elemen sintaksis sintaksis yang terbagi menjadi tiga bagian yaitu bentuk kalimat, koherinsi dan kata ganti, penulis menyimpulkan bahwa banyak ditemukan dalam tulisan

Kalimat tersebut menggunakan kata ganti persona saya sebagai penanda untuk menggantikan kata atau kelompok kata yang menunjuk pada orang. Pagi-pagi sekali saya

5). Kesalahan penggunaan gata ganti penghubung yang berfungsi sebagai subjek atau objek dalam kalimat terjadi pada pemilihan dan penggunaan jenis kata ganti penghubung yang tidak

Kalimat tersebut menggunakan kata ganti persona saya sebagai penanda untuk menggantikan kata atau kelompok kata yang menunjuk pada orang. Pagi-pagi sekali saya

dan objek dalam kata ganti orang pertama, kedua dan ketiga baik tunggal maupun jamak. dan kedua bahasa ini memiliki persamaan penempatan dalam kalimat yakni:

Kata Ganti diambil sebagai dasar, dihubungkan dengan kata Kerja (sebutan) dalam Kalimat dan Kalimat Pasip. Jika ada persiapan yang baik, diikuti dengan contoh-contoh yang hidup,

Maknaya sebagai kata ganti orang pertama tunggal dan tidak dibedakan menurut jenis kelamin sedangkan dalam bahasa Tidore bentuk kata ganti orang ngare, ngato, fangato dan

Contoh kesalahan di atas dapat dikatakan kesalahan pilihan kata secara gramatikal, sedangkan kalimat lainnya, kesalahan pilihan kata secara leksikal - semantis, yaitu pada kalimat 2 dan