93 BAB V
SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN
A. Simpulan
Berdasarkan hasil temuan penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan tentang (1) media yang digunakan dalam pembelajaran bahasa Indonesia bagi penutur asing di BIPA Unnes, (2) penggunaan media pembelajaran bahasa Indonesia bagi penutur asing di BIPA Unnes, (3) kesulitan dalam penggunaan media pembelajaran bahasa Indonesia bagi penutur asing di BIPA Unnes, (4) cara mengatasi kesulitan dalam penggunaan media pembelajaran bahasa Indonesia bagi penutur asing di BIPA Unnes.
1. Media yang digunakan dalam pembelajaran bahasa Indonesia bagi penutur asing di BIPA Unnes
Ada banyak media yang digunakan oleh pengajar dalam kegiatan pembelajaran BIPA di BIPA Unnes. Kelompok media yang digunakan dalam pembelajaran BIPA yaitu media visual, media audio, media audio visual, media manipulatif (realia), media teks, dan media orang. Media visual yang digunakan adalah denah, gambar/kartu bergambar, kartu warna, dan papan tulis (white board). Media audio yang digunakan adalah lagu. Media audio visual yang
digunakan adalah video (vlog). Media manipulatif (realia) yang digunakan adalah benda-benda di sekitar kelas dan makanan. Media teks yang digunakan adalah teks bacaan, lembar latihan soal, dan kartu kata. Media orang yang digunakan adalah orang, dapat berasal dari pengajar maupun pemelajar.
Sebelum menggunakan media pembelajaran, tentunya perlu dipersiapkan terlebih dahulu. BIPA Universitas Negeri Semarang tidak menggunakan RPS dalam pembelajaran, akan tetapi menggunakan pedoman atau panduan dari buku teks (modul) yang disusun oleh tim BIPA Unnes. Jadi, media yang digunakan dalam pembelajaran di BIPA Unnes tidak tercantum dalam dokumen berupa kurikulum maupun RPS. Pengajar dibebaskan untuk mengembangkan penggunaan media pembelajaran asalkan tetap membantu ketercapaian tujuan pembelajaran.
2. Penggunaan media pembelajaran bahasa Indonesia bagi penutur asing di BIPA Unnes
Penggunaan media pembelajaran bahasa Indonesia bagi penutur asing di BIPA Unnes telah disesuaikan dengan tujuan atau capaian pembelajaran. Media visual digunakan untuk: 1) menjelaskan rute pergi ke suatu tempat, 2) mendiskusikan tentang arah, 3) menjelaskan denah/peta perjalanan yang telah dibuat oleh pemelajar, 4) mendeskripsikan gambar, 5) mencari perbedaan dan persamaan dari dua gambar, 6) menulis cerita berdasarkan urutan gambar yang telah dipilih, dan 7) pengenalan warna. Media audio digunakan untuk kegiatan menyimak. Media audio visual digunakan untuk kegiatan menulis. Media manipulatif (realia) digunakan untuk mendeskripsikan makanan dan sesuai kebutuhan. Media teks digunakan sebagai teks bacaan untuk melatih keterampilan membaca dan berbicara, sebagai bahan latihan, dapat digunakan dalam bentuk permainan tebak kata, dan menulis pengalaman kunjungan. Media orang digunakan sesuai kebutuhan, dapat berasal dari pengajar maupun pemelajar.
Mengingat pembelajaran BIPA di Unnes tidak menggunakan RPS, pedoman utama dalam pembelajaran adalah modul. Modul disusun oleh tim pengajar BIPA Unnes. Penyusunan tidak melibatkan mahasiswa, akan tetapi mahasiswa dapat memberikan umpan balik setelah modul digunakan. Jadi, masukan yang diberikan oleh mahasiswa akan digunakan untuk perbaikan modul berikutnya. Penggunaan media pembelajaran pada dasarnya tersirat di dalam modul, tetapi biasanya hanya berupa instruksi singkat dan sederhana saja. Jadi, pengajar dibebaskan dalam mengembangkan penggunaan media dalam pembelajaran. Yang penting adalah media tersebut akan membantu tersampaikan atau tercapainya tujuan pembelajaran.
3. Kesulitan dalam penggunaan media pembelajaran bahasa Indonesia bagi penutur asing di BIPA Unnes
Kesulitan yang muncul dalam penggunaan media pembelajaran bahasa Indonesia bagi penutur asing di BIPA Unnes yaitu (1) masalah instruksi dan komunikasi, (2) manajemen waktu, terutama jika menggunakan media audio
visual, dan (3) apabila tidak menggunakan lembar latihan soal (lembar kerja) ketika mengajar.
4. Cara mengatasi kesulitan dalam penggunaan media pembelajaran bahasa Indonesia bagi penutur asing di BIPA Unnes
Cara mengatasi kesulitan yang muncul dalam penggunaan media pembelajaran bahasa Indonesia bagi penutur asing di BIPA Unnes yaitu (1) memastikan instruksi yang diberikan harus jelas, jika perlu diulang-ulang, (2) memanfaatkan kamus apabila ada kata maupun kalimat yang kurang dipahami, (3) memilih tayangan video dengan durasi yang sesuai, dan (4) selalu menyiapkan lembar kerja di dalam pembelajaran.
B. Implikasi
Pembelajaran bahasa Indonesia bagi penutur asing (BIPA) merupakan pembelajaran bahasa Indonesia yang diperuntukkan bagi orang asing. Program ini merupakan salah satu wujud internasionalisasi bahasa Indonesia. Program pembelajaran BIPA ini tidak hanya dilakukan di Indonesia, tetapi juga sudah dilaksanakan di berbagai negara yang memiliki hubungan diplomasi dengan Indonesia. Orang asing yang ingin belajar bahasa Indonesia dari waktu ke waktu semakin meningkat. Hal itu dibuktikan dengan semakin banyaknya lembaga- lembaga maupun perguruan tinggi yang membuka program BIPA, salah satunya adalah Universitas Negeri Semarang.
Universitas Negeri Semarang (Unnes) merupakan salah satu universitas negeri yang membuka program bahasa Indonesia bagi penutur asing (BIPA) bagi mahasiswa maupun tenaga kerja asing. Tidak hanya itu, BIPA Unnes juga melayani sertifikasi Uji Kompetensi Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (UKBIPA) yang diperuntukkan bagi tenaga kerja asing.
Mahasiswa yang mengikuti program BIPA di BIPA Unnes adalah mahasiswa dari program darmasiswa dan mereka yang mandiri. Darmasiswa merupakan program beasiswa yang diberikan pemerintah Indonesia kepada mahasiswa asing dari negara yang memiliki hubungan diplomatik dengan
Indonesia. Sedangkan mereka yang mandiri merupakan mahasiswa yang memang membayar secara mandiri untuk belajar bahasa Indonesia.
Pelaksanaan pembelajaran bahasa Indonesia bagi penutur asing (BIPA) terdiri atas beberapa komponen, salah satu komponennya adalah penggunaan media dalam pembelajaran. Penelitian ini berfokus pada mahasiswa yang mengikuti kelas BIPA secara langsung yang dilaksanakan di Gedung LP3 Unnes.
Hal itu dikarenakan keterbatasan waktu dan tempat yang tidak memungkinkan bagi peneliti untuk meneliti program BIPA yang diperuntukkan juga bagi tenaga kerja asing. Program BIPA bagi tenaga kerja asing tidak dilaksanakan di Unnes, melainkan di perusaan-perusahaan yang membutuhkan. Mahasiswa darmasiswa yang belajar di BIPA Unnes juga dimungkinkan untuk melanjutkan studinya di Indonesia.
Setiap penelitian pasti memiliki implikasi terhadap aspek-aspek lain yang relevan. Implikasi dari temuan penelitian ini mencakup implikasi teoretis dan implikasi praktis. Implikasi teoretis berhubungan dengan kontribusinya bagi perkembangan teori-teori dan kajian penelitian tentang media pembelajaran, dalam hal ini adalah media pembelajaran BIPA. Implikasi praktis berhubungan dengan kontribusi penelitian ini terhadap penggunaan media pembelajaran, terutama pembelajaran BIPA.
Teori-teori mengenai pembelajaran bahasa kedua, pembelajaran BIPA, media pembelajaran, dan media pembelajaran BIPA dalam penelitian ini dapat menjadi rujukan bagi pembaca. Teori-teori tersebut dapat berguna bagi pengajar yang hendak mengajarkan bahasa kedua maupun pemelajar yang hendak belajar bahasa kedua atau bahasa Indonesia. Teori-teori ini disajikan secara singkat dan padat, sehingga dapat dengan mudah dipahami oleh pembaca.
Teori mengenai pembelajaran bahasa kedua yang disajikan meliputi manfaat belajar bahasa kedua, prinsip pembelajaran bahasa kedua, metode pembelajaran bahasa kedua, dan strategi pembelajaran bahasa kedua. Teori ini dapat digunakan oleh pengajar dalam menerapkan prinsip, metode, dan strategi pembelajaran bahasa kedua atau bahasa asing.
Teori mengenai pembelajaran BIPA meliputi prinsip-prinsip pembelajaran BIPA, aspek-aspek dalam pembelajaran BIPA, dan strategi pembelajaran BIPA. Teori-teori tersebut dapat digunakan sebagai bahan kajian maupun acuan bagi pengajar BIPA.
Teori mengenai media pembelajaran meliputi memilih media pembelajaran, jenis-jenis media pembelajaran, dan media pembelajaran BIPA.
Teori-teori ini tentunya dapat digunakan oleh pengajar dalam mempersiapkan media pembelajaran yang akan digunakannya.
Penelitian ini berimplikasi pada dunia keilmuan, khususnya pada ranah penelitian kualitatif tentang media pembelajaran bahasa Indonesia bagi penutur asing. Melalui penelitian ini, dapat dilihat bahwa penggunaan media pembelajaran akan sangat membantu pelaksanaan pembelajaran. Media berperan sebagai alat bantu yang akan membantu tercapainya tujuan pembelajaran.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengajar menggunakan berbagai media dalam pembelajaran. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi, penggunaan media pembelajaran ini bertujuan agar media tersebut dapat membantu pengajar dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Meskipun dalam pembelajaran BIPA di Universitas telah disediakan modul sebagai pedoman pembelajaran, tetapi pengajar memang dituntut untuk mampu mengembangkan media pembelajaran yang lebih inovatif. Media yang disediakan dan diinstruksikan melalui modul saja terkadang belum mampu membantu pengajar untuk mencapai tujuan pembelajaran. Jadi, pengajar diharapkan dapat aktif dan kreatif dalam memilih, menggunakan, dan mengembangkan media pembelajaran.
Pengajar perlu menggunakan media pembelajaran karena itu akan meningkatkan motivasi pemelajar dan mendukung ketercapaian tujuan pembelajaran. Selain itu, pemelajar akan mengalami pengalaman belajar yang lebih maksimal. Penggunaan media di dalam pembelajaran harus dipilih dengan memperhatikan beberapa hal, yaitu (1) berada pada level berapakah pemelajar, (2) materi apa yang akan diajarkan, (3) apa tujuan pembelajaran yang hendak dicapai,
(4) pada kompetensi apa media tersebut akan digunakan, (5) ketersediaan ruang dan waktu untuk menggunakan media tersebut, dan (6) karakteristik pemelajar.
Berdasarkan hasil penelitian, penggunaan media dalam pembelajaran memiliki keuntungannya masing-masing. Pada dasarnya, penggunaan media dalam pembelajaran memberikan berbagai manfaat, di antaranya yaitu 1) mengurangi beban pengajar dalam mengajar, 2) membantu menjelaskan konsep dengan lebih baik, 3) menghadirkan sesuatu yang lebih nyata dalam pembelajaran, 4) memberikan kesempatan kepada pemelajar untuk merasakan dan mengalami pengalaman belajar yang lebih nyata, 5) merangsang pemelajar agar lebih aktif dalam pembelajaran, dan 6) menimbulkan minat dan motivasi pemelajar dalam pembelajaran.
Penelitian ini meneliti tentang media apa saja yang digunakan dalam pembelajaran. Dapat dilihat bahwa media-media tersebut benar-benar membantu dalam rangka pencapaian tujuan pembelajaran. Masing-masing media memiliki kelemahan dan kelebihannya masing-masing, sehingga pengajar perlu memperhatikan kriteria pemilihan media pembelajaran yang akan digunakan.
Pemilihan media yang tepat, akan dapat mempermudah pengajar dalam mengajarkan suatu materi dan mencapai tujuan pembelajaran.
Simpulan lain menunjukkan bahwa terdapat kesulitan yang muncul dalam penggunaan media pembelajaran, meskipun berasal dari luar faktor media itu sendiri. Kesulitan yang muncul merupakan faktor eksternal dari media yang sifatnya dapat menghambat pembelajaran. Berdasarkan hasil penelitian, kesulitan yang dihadapi adalah tentang instruksi dan komunikasi, manajemen waktu, dan penggunaan lembar kerja.
Implikasi dari hal tersebut adalah perlunya pengajar untuk berusaha mengatasi kesulitan-kesulitan tersebut. Hal itu sangat perlu dilakukan agar pembelajaran tidak menjadi terhambat dan dapat mencapai tujuan yang ingin dicapai. Kesulitan yang muncul dalam penggunaan media pembelajaran tidak hanya harus ditangani oleh pengajar saja. Pemelajar BIPA, yang umumnya berusia remaja dan dewasa, sebaiknya juga ikut berusaha mengatasi kesulitan- kesulitan yang mereka hadapi. Jadi, kewajiban untuk mengatasi kesulitan yang
muncul dalam penggunaan media pembelajaran tidak semata-mata dibebankan kepada pengajar saja, melainkan juga tugas pemelajar untuk berusaha mengatasi kesulitan yang mereka hadapi.
Jika dilhat selama penelitian berlangsung, baik pengajar maupun pemelajar BIPA di BIPA Unnes sudah cukup menyadari bahwa kesulitan yang muncul selama penggunaan media pembelajaran perlu untuk diselesaikan bersama. Bahkan, tidak hanya dalam penggunaan media saja, tetapi juga kesulitan apapun yang muncul dalam pembelajaran BIPA. Misalnya, untuk mengatasi masalah instruksi dan komunikasi, pengajar sudah berusaha untuk mengulang instruksi dan menjelaskan instruksi dengan sejelas mungkin. Namun, tentunya masih ada pemelajar yang belum dapat memahami instruksi dari pengajar.
Pemelajar pun telah berinisiatif untuk menggunakan kamus apabila memang menemukan kata atau kalimat yang belum mereka pahami.
Selain itu, berdasarkan pengamatan, pemelajar di BIPA Unnes juga tidak sungkan dalam menyampaikan keluhan maupun pertanyaannya dalam setiap pembelajaran. Keluhan tersebut dapat menjadi masukan dan bagian dari evaluasi yang perlu dilakukan oleh pengajar dan lembaga BIPA. Jadi, terciptalah suasana pembelajaran yang aktif dan menyenangkan.
Penelitian ini juga berimplikasi bagi pengajar sebagai bahan referensi sekaligus evaluasi. Berdasarkan hasil penelitian, beberapa pengajar masih kurang dapat menggunakan media pembelajaran yang inovatif, sehingga kelas menjadi monoton dan pemelajar menjadi kurang termotivasi dan mudah bosan. Pengajar juga perlu memperhatikan karakteristik pemelajar, sehingga dapat memilih dan menggunakan media pembelajaran dengan tepat. Pengajar juga perlu melakukan koordinasi sejak awal secara tim dalam lembaga dalam menyusun, memilih, dan menggunakan media pembelajaran. Hal itu sebagai bentuk persiapan menghadapi pemelajar dalam hal penggunaan media pembelajaran.
Pemelajar asing yang belajar bahasa Indonesia pada umumnya adalah orang-orang yang memang belum pernah belajar bahasa Indonesia sebelumnya atau memang sudah mempelajari sedikit sebelum mereka datang ke Indonesia.
Lembaga BIPA sebagai payung yang telah dipilih oleh para pemelajar sebagai
naungan untuk belajar bahasa Indonesia hendaknya dapat memberikan pembelajaran yang maksimal dan berkualitas bagi mereka. Tidak hanya dari segi media, namun unsur-unsur pembelajaran lainnya seperti strategi pembelajaran, metode pembelajaran, materi ajar, dan evaluasi pembelajaran, hendaknya dipersiapkan dengan baik agar tujuan pembelajaran pun dapat tercapai. Apabila menghadapi kesulitan dalam pembelajaran, baik pengajar, lembaga BIPA, maupun pemelajar sebaiknya segera dapat menangani kesulitan tersebut agar tidak mengganggu pembelajaran.
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi pengajar, pemelajar, maupun peneliti lain yang akan mengkaji pembelajaran bahasa Indonesia bagi penutur asing, khususnya pengkajian lanjutan dari penggunaan media pembelajaran BIPA. Penelitian ini juga dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kuliatas dan kuantitas penelitian dengan kajian serupa.
C. Saran
Berdasarkan simpulan dan implikasi yang telah dijelaskan di atas, dapat diberikan beberapa saran bagi lembaga BIPA, pengajar BIPA, pemelajar BIPA, dan peneliti berikutnya. Saran-saran tersebut adalah sebagai berikut.
1. Lembaga BIPA
Lembaga BIPA merupakan lembaga yang menaungi segala kebutuhan pemelajar BIPA, tidak hanya dari segi pembelajaran saja, tetapi juga biasanya menangani kebutuhan dasar pemelajar lainnya. Lembaga BIPA sebaiknya mempersiapkan segala kebutuhan pemelajar dan pembelajaran dengan baik, terutama dalam hal penggunaan media pembelajaran. Hendaknya sebelum dimulai pembelajaran, lembaga BIPA dapat menyusun rencana pembelajaran, tujuan pembelajaran, materi ajar, strategi pembelajaran, metode pembelajaran, dan media pembelajaran yang saling terintegrasi satu sama lain demi tercapainya pembelajaran yang maksimal dan berkualitas bagi pemelajar asing.
2. Pengajar BIPA
Media pembelajaran sebenarnya dapat sangat membantu dalam pembelajaran. Pengajar BIPA hendaknya berusaha lebih kreatif dalam mengembangkan dan menggunakan media pembelajaran agar tercipta pembelajaran yang aktif dan menyenangkan, serta tentunya dapat mencapai tujuan pembelajaran. Selain itu, pengajar harus memilih media yang tepat agar media tersebut benar-benar dapat membantu ketercapaian tujuan pembelajaran.
Pengajar BIPA hendaknya lebih peka untuk mengetahui kesulitan- kesulitan yang muncul, baik dalam penggunaan media pembelajaran maupun dalam komponen pembelajaran lainnya. Hal itu penting agar kesulitan yang muncul tidak menghambat ketercapaian tujuan pembelajaran.
3. Pemelajar BIPA
Pemelajar BIPA hendaknya dapat terlibat aktif di dalam pembelajaran.
Pemelajar BIPA tidak hanya berperan pasif di dalam kelas untuk menerima apa yang disampaikan oleh pengajar saja, tetapi juga harus aktif untuk mencari dan mengembangkan diri juga. Ketika muncul kesulitan yang akan menghambat pembelajaran, pemelajar BIPA juga perlu untuk berusaha mengatasinya, tidak hanya mengandalkan pengajar. Tidak hanya dalam mengatasi kesulitan yang muncul dalam pembelajaran, pemelajar hendaknya dapat memberikan masukan yang baik kepada pengajar agar pembelajaran dapat terlaksana dengan baik dan lebih maksimal.
4. Peneliti selanjutnya
Penelitian ini perlu ditindaklanjuti dengan penelitian lainnya, misalnya tentang hubungan antara penggunaan media pembelajaran dengan pemerolehan hasil belajar pemelajar. Dengan penelitian tersebut, diharapkan dapat diketahui sejauh mana pengaruh media pembelajaran terhadap pemerolehan hasil belajar pemelajar.