JURNAL
REPRESENTASI KETIDAKADILAN DALAM FILM SAMIN VS SEMEN (Studi Tentang Semiotika Representasi Ketidakadilan Hukum, Hak Asasi,
dan Lingkungan Dalam Film Samin vs Semen)
Oleh:
AHMAD RAMZI FARHANI D1215003
PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
2017
1
REPRESENTASI KETIDAKADILAN DALAM FILM SAMIN VS SEMEN (Studi Tentang Semiotika Representasi Ketidakadilan Hukum, Hak Asasi,
dan Lingkungan Dalam Film Samin vs Semen)
Ahmad Ramzi Farhani Mahfud Anshori
Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sebelas Maret Surakarta
Abstract
Ahmad Ramzi Farhani, D1215003. Representation of Injustice in Film Samin vs Semen (Study on Semiotics Representation of Law Injustice, Human Rights and Environment in Film Samin vs Semen), Thesis, Communication Studies Program, Faculty of Social and Political Sciences, Sebelas Maret University Surakarta.
Java Island is the center of development and the most populous island in Indonesia. Many people from different regions come looking for luck. A variety of jobs and factories exist in each city. Now, Java Island is also a popular mining area for cement companies. Construction of a cement factory that is increasingly widespread no longer pay attention to the environment. Rejection also comes along with the construction of the factory. Conflict grows because of the alignments that cause injustice.
This study wanted to analyze the representation of legal injustice, human rights, and the environment. The semiotic method used for this research is Charles Peirce's. Each element of the icons, indexes, and symbols present in the semiotic method is analyzed through scenes in the film. The analysis used in this study discusses the injustices that are divided into law, human rights, and the environment.
The results of this study can be known film Samin vs Semen represents injustice law, human rights, and environment. Injustice occurs with coercive treatment, intimidation, threats, human rights, police, Indonesian military (TNI), and government must be done as the organizer and the state apparatus. While environmental injustice is under construction the factory should not be done because it is against the natural conditions in the region.
Keywords: Representation, Semiotics Charles Barthes, Injustice
2 Pendahuluan
Pembangunan berarti melakukan perubahan yang positif, tapi realitanya tidaklah demikian. Pembangunan yang dilakukan untuk kemajuan suatu wilayah juga memiliki dampak negatif baik bagi masyarakat maupun lingkungannya.
Seringkali masyarakat menjadi korban dalam pembangunan yang dilakukan pemerintah ataupun pihak swasta.
Pusat pembangunan di nusantara adalah Pulau Jawa. Orang-orang berlomba-lomba datang ke Pulau Jawa untuk mencari nafkah, untuk mengubah kondisi perekonomian, dan berbagai macam alasan yang dimiliki tiap orangnya.
Perpindahan masyarakat ini menjadikan Pulau Jawa menjadi pulau terpadat di nusantara. Berbagai macam lapangan pekerjaan, usaha, pertambangan, dan lainnya juga marak.
Saat ini Pulau Jawa merupakan tambang popular bagi perusahaan- perusahaan semen. Pembangunan pabrik semen di Pulau Jawa kian marak.
Pemerintah harus membagi pembangunan secara merata, tidak memaksakan kehendak melakukan pembangunan tanpa batas di suatu pulau saja. Jika pembangunan hanya berpusat pada satu pulau, maka dapat terjadi ketimpangan antar pulau, konflik, dan kerusakan.
Konflik yang terjadi antara pabrik semen dengan masyarakat di sekitar Pegunungan Kendeng, Jawa Tengah, terus berlanjut hingga kini. Masyarakat yang ingin menjaga tempat tinggal serta lingkungan mereka, melakukan protes sampai menempuh ke jalur hukum. Kemenangan masyarakat Kendeng di Mahkamah Agung sepertinya tidak diacuhkan oleh Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.
Sang Gubernur justru memilih untuk menerbitkan surat izin baru untuk PT Semen Indonesia. Masyarakat yang ingin mempertahankan tempat tinggal mereka dari kerusakan bukan hanya menempuh jalur hukum. Ketika hukum tak lagi di dengar oleh penguasa, mereka turun ke jalan menyuarakan pendapatnya. Masyarakat Kendeng berteriak kepada pemerintah tentang keadilan yang terabaikan.
Pemerintah, khususnya Provinsi Jawa Tengah, perlu melakukan reformasi dalam menangani pembangunan pabrik semen. Pemerintah mungkin lupa bahwa sikap- sikap kemanusiaan dan lingkungan perlu diperhatikan dalam membuat kebijakan.
3
Dalam upaya memperlihatkan bentuk ketidakadilan yang dilakukan pemerintah, salah satu cara disampaikan dengan media massa. Media massa mempunyai peranan yang sangat penting untuk menyampaikan pesan informasi kepada masyarakat tentang ketidakadilan pemerintah dalam melakukan pembangunan. Film merupakan salah satu media massa yang efektif untuk menyampaikan sebuah pesan dan mempengaruhi khalayak.
Dari hal-hal yang telah dikemukakan, peneliti tetarik untuk meneliti lebih jauh dan dalam wacana yang terkandung di dalam Film Samin vs Semen sekaligus memberikan suatu kesadaran pentingnya keadilan yang berprikemanusiaan dalam melakukan pembangunan. Permasalahannya adalah “Representasi Ketidakadilan dalam Film Samin vs Semen”.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang sudah diuraikan, maka penelitian ini dimaksudkan: Bagaimana representasi yang terkandung dalam simbol-simbol ketidakadilan yang terdapat dalam film Samin vs Semen?
Kerangka Teori 1. Komunikasi
Manusia sebagai makhluk sosial tentunya akan saling bergantung dengan orang lain. Ketergantungan secara langsung maupun tidak langsung menyebabkan terjadinya komunikasi. Menurut istilah komunikasi atau dalam bahasa Inggris communication berasal dari kata Latin communication dan bersumber dari kata communis yang berarti sama. Sama di sini maksudnya adalah memiliki makna yang sama (Effendy. 1986: 11).
Komunikasi sudah menjadi sifat alamiah manusia. Manusia dalam kesehariannya pasti melakukan komunikasi baik itu secara lisan maupun simbol. Menurut Thomas M. Scheidel yang dikutip oleh Deddy Mulyana (2005: 4) mengemukakan, orang berkomunikasi terutama untuk menyatakan dan mendukung identitas diri, untuk membangun kontak sosial dengan orang di sekitarnya, dan untuk memengaruhi orang lain untuk merasa, berpikir, atau berperilaku sebagaimana yang diinginkan. Namun tujuan utama komunikasi
4
sejatinya adalah mengendalikan lingkungan fisik dan psikologi. Adapun pengertian komunikasi yang lainnya, yaitu menurut Stephen Littlejohn yang dikutip oleh Morissan (2013: 8), komunikasi sulit untuk didefinisikan. Kata
“komunikasi” bersifat abstrak, seperti kebanyakan istilah, memiliki banyak arti.
1.1. Komunikasi Massa
Kini media massa semakin berkembang secara pesat dengan adanya teknologi internet. Media massa mempunyai peranan yang sangat penting untuk menyampaikan pesan informasi kepada masyarakat dan film merupakan salah satu media massa yang efektif untuk menyampaikan sebuah pesan dan mempengaruhi khalayak. Menurut Everett M. Rogers yang dikutip oleh Sumadiria (2014: 236-237), terdapat empat era hubungan komunikasi di masyarakat.Pertama era tulis, era media cetak, era media telekomunikasi, dan era media komunikasi interaktif. Lahirnya media interaktif saat ini adalah bergabungknya teknologi informasi berupa radio, telepon, video, komputer, dan televisi menjadi sebuah media baru bernama internet.
2. Representasi
Representasi merupakan salah satu praktek utama yang memproduksi kebudayaan dan sebuah posisi kunci dalam sesuatu yang disebut circuit of culturel (Hall, 1997:1). Lingkaran kebudayaan terdiri dari lima elemen yaitu identitas, produksi, konsumsi, regulasi, dan representasi, yang masing-masing mempunyai hubungan timbal balik satu sama lain. Secara sederhana, kebudayaan adalah tentang, shared meanings, ia merupakan sebuah proses, kesatuan praktek-praktek yang berkenaan dengan produksi dan pertukaran makna di antara anggota masyarakat atau kelompok. Dan, bahasa adalah sebuah media dimana kita dapat menangkap dan memahami hal-hal dimana di dalamnya makna diproduksi dan dipertukarkan. Bahasa mampu melakukan hal tersebut karena ia beroperasi sebagai sebuah sistem representasi, demikian juga halnya film bekerja.
5
Menurut Tim O‘Sullivan, dalam Noviani (2006) istilah representasi memiliki dua pengertian. Pertama, representasi sebagai sebuah proses sosial dari representing. Kedua, representasi sebagai ―produk‖ dari proses sosial representing. Istilah yang pertama merujuk pada prosses sedangkan yang kedua merupakan produk dari pembuatan tanda yang mengacu pada suatu makna (Noviani, 2002:61).
3. Film Sebagai Komunikasi Massa
Media kominikasi kini sangat beragam dan selalu berkembang mengikuti zamannya. Film adalah salah satu media komunikasi yang turut hadir dalam bermasyarakat. Film menjadi media massa yang mempunyai pengaruh kuat untuk khalayak karena sebuah film mampu menjangkau segala kelas dalam lapisan masyarakat. Suatu film pada dasarnya dibuat untuk ditonton secara massal (Van Gastel, 1960: 21). Film bukan hanya menyajikan sebuah cerita, tetapi bisa juga menyajikan suatu peristiwa, drama, dan sajian lainnya. Film juga dapat dijadikan sebagai hiburan bahkan sebagai alat propaganda. Dalam penggunaan lain, film juga menjadi alat bagi seniman film untuk mengutarakan gagasan, ide, lewat suatu keindahan (Marselli Sumarno, 1996: 27).
Film merupakan sebuah cermin atau jendela masyarakat di mana media massa itu berada. Nilai, norma, dan gaya hidup yang berlaku pada masyarkat akan disajikan dalam film yang diproduksi. Film juga berkuasa meneretapkan nilai-nilai budaya yang penting dan perlu diyakini oleh masyarakat, bahkan nilai-nilai yang merusak sekalipun (Deddy Mulyana, 2008: 89). Dalam pembuatan film cerita diperlukan proses pemikiran dan proses teknis. Proses pemikiran berupa pencarian ide, gagasan atau cerita yang akan dikerjakan.
Sedangkan proses teknis berupa ketrampilan artistik untuk mewujudkan segala ide, gagasan atau cerita menjadi film yang siap ditonton. Oleh karena itu suatu film terutama film cerita dapat dikatakan sebagai wahana penyebaran nilai-nilai (Effendy, 2006 : 16).
6 4. Keadilan
Keadilan merupakan hakikat yang tertuang dalam Pancasila. Setiap masyarakat memiliki hak keadilan tanpa melihat statusnya dimata negara atau hukum. Keadilan juga menjadi syarat mutlak dalam hubungan antar manusia, dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Berbicara keadilan maka rakyat kecillah yang paling menginginkan terlaksananya keadilan, karena fokus utama dari keadilan sosial adalah perhatian pada nasib masyarakat kecil atau masyarakat yang terbelakang.
4.1. Hukum
Hukum adalah norma atau aturan yang dibuat agar manusia sebagai makhluk hidup memilik tingkah laku yang tidak melanggar ketertiban umum, menghormati hak orang lain, mencegah dari pertikaian, dan sebagainya. Menurut Prof. Mr. J. Eggens dalam pidato perpisahannya pada 16 Desember 1961 sebagai Guru Besar Universitas Amsterdam dalam buku Gunawan Setiardja (1993: 149), yaitu:
“Arti hukum itu melebihi totalitas dari bagian-bagiannya, sistemnya itu melebihi suatu penyusunan, yang merangkum bagian-bagiannya terinci. Kalau demikian maka justru perumusanperumusan itu tidak dianggap sebagai bagian-bagian yang terpisah, yang masing-masing meluluh menambahkan pada apa yang telah dirumuskan, yang kedudukannya sejajar berdampingan. Kalau demikian maka perumusan-perumusan (batasan-batasan) dianggap sebagai kekhususan-kekhususan dari yang umum (hukum)”.
Jika suatu negara berpegangan dalam nilai keadilan, maka apa yang dinilai adil belum tentu sesuai dengan kepastian hukum. Selain itu, nilai kegunaan pun akan berbeda. Apabila negara memilih condong pada nilai kegunaan, maka itupun dapat menggeser nilai keadilan dan juga nilai hukum. Begitupun jika negara hanya berpegang pada nilai hukum saja, tidak akan selaras. Maka dari itu, ketiga nilai-nilai dasar ini harus dijalankan secara imbang agar dapat berjalan dengan sebagaimana fungsinya.
7 4.2. Hak Asasi Manusia
Hak asasi manusia merupakan hak yang dimiliki setiap individu.
Wacana hak asasi di Indonesia bukanlah sesuatu yang baru karena sejak sebelum kemerdekaan para pejuang dengan gigih memperjuangkan martabat kemanusiaan agar tidak lagi terjadi penindasan oleh penjajah.
Pelanggaran hak asasi manusia merupakan ancaman besar untuk suatu negara. Para ahli memiliki semacam kesepakatan dalam mendefinisikan pelanggaran hak asasi manusia itu sebagai suatu pelanggaran terhadap kewajiban negara yang lahir dari instrumen- instrumen internasional hak asasi manusia (Smith dkk, 2010: 69). Negara wajib turun tangan dalam melakukan pencegahan agar tidak terjadi pelanggaran hak asasi manusia karena itu merupakan tugas negara.
Apabila ada pelanggaran hak asasi yang dikategorikan berat, maka negara wajib untuk berupaya menyelesaikannya (Smith dkk, 2010: 71).
Hal ini penting untuk pemulihan korban dan juga tidak terjadi hal yang serupa di masa yang akan datang.
4.3. Lingkungan
Lingkungan hidup terbagi menjadi tiga, yaitu lingkungan alam, lingkungan sosial, dan lingkungan buatan (Arif Zulkifli, 2014: 12).
Lingkungan alam adalah segala sesuatu yang ada di alam diciptakan oleh Allah Swt dan bersifat alami. Sedangkan lingkungan adalah lingkungan yang dibuat secara sengaja atau tidak sengaja karena kebutuhan mereka untuk menunjang kehidupan. Contohnya adalah perkebunan, sawah, tambak, industri tekstil, dan sebagainya. Lingkungan sosial adalah tempat terjadinya interaksi sesame manusia itu sendiri. Jadi ketiganya saling berkaitan dan perlu dijaga dengan baik.
Manusia sebagai makhluk hidup yang mampu berpikir seharusnya menjaga lingkungannya. Manusia perlu menjaga ekosistem karena setiap kegiatan atau aktivitas yang bertujuan memenuhi kebutuhannya akan mempengaruhi lingkungannya, meskipun ada juga
8
permasalahanpermasalahan lingkungan yang tidak disebabkan oleh manusia.
Pencemaran lingkungan tidak hanya berpengaruh dan berakibat pada lingkungan alam saja, tetapi juga turut mempengaruhi keberlangsungan hidup makhluk hidup lainnya, tanaman, hewan, dan manusia itu sendiri. Jika lingkungan sudah tercemar melalui tanaman, maka makhluk hidup yang memakan tanaman seperti sapi, kambing, atau domba akan terpengaruh pada kondisi tubuhnya. Kalau manusia memakan daging dari hewan tersebut, maka akan membahayakan untuk kesehatannya.
5. Semiotika
Semiotika adalah ilmu yang mempelajari sebuah makna atau suatu tanda. Danesi mengatakan bahwa tugas pokok semiotika adalah mengidentifikasi, mendokumentasi, dan mengklarifikasi jenis-jenis utama tanda dan cara penggunaannya dalam aktivitas yang bersifat representatif (2010: 20). Semiotik digunakan untuk melacak makna-makna yang diangkat dengan teks berupa lambing (sign). Artinya pokok penting dalam analisis semiotik adalah pemaknaan terhadap lambing-lambang (Pawito, 2007: 156).
5.1. Charles Peirce
Istilah Semiotik yang dikemukakan pada akhir abad ke-19 oleh filosof aliran pragmatik Amerika yaitu Charles Sanders Pierce (Budiman, 1999: 107). Charles Sanders Peirce ialah seorang ahli matematika dari AS yang sangat tertarik pada persoalan lambang-lambang. Filsuf Amerika ini terkenal dengan pemikiran pragmatisnya yang menyatakan bahwa tidak ada objek. Kebermaknaannya hanya ada apabila objek atau konsep tersebut diterapkan dalam praktik.
Pierce mengemukakan sebuah tanda adalah representamen, makna, dan tanda sesungguhnya adalah apa yang diacunya (Kurniawan, 2001:
21). Dalam relasi triadic ini terdapat tiga konsep penting dalam
9
pemikiran Peirce, yaitu ikon (objek), indeks (interpretasi), dan simbol (tanda).
Tabel 1 Bagan Trikotomi Pierce (hubungan tanda dengan objeknya)
Tanda Ikon Indeks Simbol
Hubungan tanda dengan sumber acuannya
Tanda dirancang untuk
mempresentasikan sumber acuan melalui simulasi atau persamaan (artinya sumber dapat dilihat, didengar, dsb)
Tanda dirancang untuk
mengindikasikan sumber acuan atau saling
menghubungkan sumber acuan
Tanda dirancang untuk
menyandikan sumber acuan melalui
kesepakatan atau persetujuan
Ditandai dengan
Persamaan (Kesamaan)
Hubungan sebab- akibat
Konversi
Contoh Gambar, patung, Tokoh besar, dsb.
Asap/api, gejala/penyakit, bercak
merah/campak, jari yang menunjuk kata keterangan di sana, kau, dia, dsb.
Kata-kata isyarat simbol matematika, simbol sosial
Proses Dapat dilihat Dapat diperkirakan Harus dipelajari Sumber: Alex Sobur (2009: 34)
Metodologi
Jenis penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dan menggunakan pendekatan kualitatif. Metode kualitatif merujuk pada prosedur penelitian yang menghasilkan data deskripsi, temuan-temuannya tidak diperoleh melalui prosedur statistik atau bentuk hitungan lainnya. Penelitian deskripsi menggambarkan dengan jelas dan rinci, sebuah masalah yang akan diteliti kedalam sebuah kata-kata.. Dengan analisis data sedekat mungkin dengan bentuk aslinya seperti waktu dicatat.
Alasan peneliti menggunakan penelitian kualitatif, karena metode ini dapat mengkaji masalah mengenai pengungkapan makna film yang berisikan lambang atau simbol, ikon, dan indeks. Sehingga untuk menjelaskan analisis data tersebut
10
diperlukan penjelasan secara mendalam yang dapat diungkapkan menggunakan pendekatan kualitatif.
Peneliti dalam penelitian ini akan menggunakan metode analisis semiotika.
Semiotika sendiri bermaksud untuk mengidentifikasi dan memaknai lambang (sign). Model semiotika yang digunakan adalah model Charles Peirce. Semiotika sebagai ilmu pengetahuan memahami dunia sebagai suatu sistem hubungan yang berdasarkan tanda. Oleh karena itu, teori ini cocok untuk membantu menemukan makna dari simbol/tanda yang ada pada film Samin vs Semen.
Sajian dan Analisis Data
Dalam menganalisis data, penulis menunjukkan beberapa scene yang menunjukkan representasi ketidakadilan dalam film Samin vs Semen. Dalam analisisnya, penulis menggunakan metode semiotika Charles Peirce. Penulis juga mengikutsertakan unsur-unsur film berupa komunikasi verbal maupun non verbal.
Scene terpilih selanjutnya dianalisis melalui semiotika Charles Peirce, yakni ikon, indeks, dan simbol.
A. Hukum
1. Korpus Pertama
Gambar 1. Massa melakukan aksi di jalan akses menuju pabrik
Dalam korpus pertama terdapat sebuah scene menampilkan rombongan ibu-ibu duduk memenuh jalan masuk menuju pabrik, namun oleh polisi diangkat dan dilempar ke luar jalan. Perlakuan tersebut
11
merupakan tindakan koersif yang tidak seharusnya dilakukan. Pada adegan ini juga terlihat polisi yang membagikan pentungan ke anggota lain, serta polisi yang mempertanyakan kegiatan ibu-ibu serta mengancam akan menangkap dan memenjarakan dengan atas nama undang-undang.
Selain itu, tindakan koersif polisi terhadap seorang jurnalis yang meliput. Dalam gambar juga menunjukkan jurnalis tersebut dikepung beberapa orang polisi dan salah seorang diantaranya berusaha merebut alat perekam dan sambil menunjuk wajah jurnalis dengan agresif. Padahal sejak reformasi, kegiatan jurnalistik mulai dibebaskan dan diatur dalam undang-undang pers. Menurut Undang-Undang Pers Nomer 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
2. Korpus Kedua
Gambar 2. Joko Prianto
Tanda dalam korpus 2, berdasarkan pernyataan verbal yang diungkapkan oleh Joko Priyanto dapat diketahui bahwa warga yang melakukan penolakan terhadap pabrik semen mendapatkan intimidasi serta ancaman-ancaman lainnya. Dari scene ini dapat diberi suatu makna bahwa warga yang melakukan penolakan terhadap pabrik semen mendapatkan ketidakadilan dalam menyuarakan pendapatnya. Mereka diperlakukan secara tidak adil dengan ancaman kekerasan, baik fisik maupun mental.
Dalam hukum yang berlaku di Indonesia tentu saja hal ini melanggar Ketentuan Umum Hukum Pidana pasal 335 ayat 1 dan orang-orang yang mencederai hukum ini patut untuk diperiksa.
12 3. Korpus Ketiga
Gambar 3. Gunretno berinteraksi dengan dua petani Pada korpus ketiga yang ditunjukkan dengan scene ke-51 menampilkan Gunretno yang mewawancarai dua petani Tuban. Dari scene 51 yang ditampilkan tersebut dapat diberi suatu makna bahwa dalam praktek pembelian suatu lahan sangat rentan pemaksaan. Pernyataan yang dikemukakan oleh kedua petani asal Tuban bisa menggambarkannya.
Padahal hukum juga telah melarang praktek pemaksaan bagaimanapun bentuknya. Selain itu, secara tidak langsung bisa dikatakan masih banyak orang yang memanfaatkan jabatan/pekerjaannya sebagai ancaman. Seperti aparat negara yang memaksa warganya. Kejadian di Tuban yang sudah berlalu akan dijadikan pelajaran oleh Gunretno, Orang Samin, dan warga Rembang.
13 B. Hak Asasi Manusia
1. Korpus Keempat
Gambar 4. Joko Prianto
Korpus keempat pada scene ke-31 ini, diberi suatu makna bahwa seseorang mempertahankan hak hidupnya dengan cara bernegosiasi dengan pihak lain yang memiliki perbedaan pandangan dengannya. Seperti Joko Prianto yang menanyakan ke pihak pemerintah, kesejahteraan yang bagaimana yang pabrik semen berikan nantinya, padahal warga saat ini sudah merasa sejahtera dengan pertanian.
Adapun pelanggaran hak pada Undang-Undang Dasar 1945 tentang perlindungan hak asasi manusia pada pasal 28A yaitu setiap orang berhak untuk hidup serta berhak untuk mempertahankan hidup dan kehidupannya.
Pada pasal 28D ayar 1 juga disebutkan bahwa setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama dihadapan hukum. Pasal 28 I ayat 4 juga mengatur bahwa perlindungan, pemajuan, penegakan, dan pemenuhan hak asasi manusia adalah tanggung jawab negara, terutama pemerintah.
14 2. Korpus Kelima
Gambar 17. Gunretno berdiskusi dengan warga
Pada korpus kelima, scene 49 yang ditampilkan tersebut dapat diberi suatu makna bahwa warga mencoba untuk mendapatkan haknya dalam menentukan nasibnya sendiri. Pernyataan Gunretno yang mewakili warga kontra pabrik semen merupakan salah satu bentuk penggambaran yang diberikan oleh pembuat film. Menurut Rhona Smith dkk (2010; 94), hak untuk menentukan nasib sendiri merupakan hak yang istimewa karena muncul di kedua Konvenan Kembar. Berakar dari dekolonisasi, pada awalnya penentuan nasib sendiri dilihat sebagai mekanisme untuk negara agar dapat mendapatkan kemerdekannya dari kekuatan-kekuatan kolonial.
3. Korpus Keenam
Gambar 20. KTP Gunarti
15
Pada korpus keenam ini, dalam film ini bercerita Gunarti yang menunjukkan kolom agama yang kosong. Gunarti harus melewati proses debat di kecamatan agar kolom agama di KTP kosong, karena sebenarnya kolom agama orang Samin sudah boleh kosong, kalau dulu tulisan kolom agama Islam. terjadi pelanggaran hak untuk beragama dan berkeyakinan yang sesungguhnya diatur dalam Pasal 29 ayat 1 dan 2 Undang-Undang Dasar 1945 yang berbunyi:
(1) “Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa.”
(2) “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.”
C. Lingkungan
1. Korpus Ketujuh
Gambar 21. Gunarti di kandang sapi
Pada korpus ketujuh dapat diberi suatu makna bahwa wilayah pegunungan karst yang memiliki jenis tanah gamping juga memiliki vegetasi tanaman yang baik, serta memiliki ragam hewan. Warga sudah merasa cukup dengan apa yang disediakan alam semesta dari Tuhan.
Mereka tidak lagi memerlukan pabrik semen, karena mereka sudah tercukupi dengan apa yang mereka miliki. Selain itu, apabila dilakukan penambangan ini akan berdampak pada penampungan air yang ada di bukit karst.
16 2. Korpus Kedelapan
Gambar 8. Goa pegunungan karst yang menjadi mata air masyarakat.
Pada korpus kedelapan dapat diberi suatu makna bahwa wilayah pegunungan karst kendeng bukanlah wilayah yang baik untuk dijadikan lahan tambang karena cadangan air yang ada di dalam pegunungan karst dapat berkurang seperti yang dikatakan oleh San Afri. Kawasan pegunungan karst kendeng juga patut dirawat karena keindahannya alamnya.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa film Samin vs Semen merepresentasi ketidakadilan hukum, hak asasi, dan lingkungan. Ketidakadilan terjadi dengan adanya perlakuan koersif, intimidasi, ancaman, pelanggaran hak asasi pun terjadi dari pihak-pihak kepolisian, TNI, serta pemerintahan bukanlah sikap yang harus dilakukan sebagai penyelenggara dan aparatur negara.
Sedangkan ketidakadilan lingkungan memperlihatkan bahwa pembangunan pabrik tidak seharusnya dilakukan karena bertentangan dengan kondisi alam di kawasan tersebut.
DAFTAR PUSTAKA Budiman, K. (1999). Kosa Semiotika. Yogyakarta: LKIS.
Danesi, M. (2010). Pesan, Tanda, dan Makna Buku Teks Dasar Mengenal Semiotika dan Teori Komunikasi. Yogyakarta: Jalasutra .
Effendy, O. U. (1986). Dinamika Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Effendy, O. U. (2006). Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktek. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
17
Hall, Stuart. (1997). Representation Cultural Representations And Signifying Practice. The Open University: Sage Publication. Ltd.
Kurniawan. (2001). Semiologi Roland Barthes. Magelang: Yayasan Indonesiatera.
Morissan. (2013). Teori Komunikasi Individu Hingga Massa. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Mulyana, D. (2005). Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Mulyana, D. (2008). Komunikasi Massa Kontroversi, Teori, dan Aplikasi.
Bandung: Widya Padjajaran.
Noviani, Ratna. (2002). Jalan Tengah Memahami Iklan, Antara Realitas, Representasi, dan Simulasi. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Pawito. (2007). Penelitian Komunikasi Kualitatif. Yogyakarta: Pelangi Aksara.
Setiardja, G. (1993). Hak-Hak Asasi Manusia Berdasarkan Ideologi Pancasila.
Yogyakarta: Kanisius.
Smith, R. K. (2008). Hukum Hak Asasi Manusia. Yogyakarta: PUSHAM UII.
Sobur, A. (2009). Analisis Teks Media: Suatu Pengantar Untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotika, dan Analisis Framing. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Sumadiria, H. (2014). Sosiologi Komunikasi Massa. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
Sumarno, M. (1996). Dasar-Dasar Apresiasi Film. Jakarta: Gramedia.
Zulkifli, A. (2014). Dasar-Dasar Ilmu Lingkungan. Jakarta: Salemba Teknika http://jdih.pom.go.id/uud1945.pdf, Dipetik pada 18 Oktober 21.24