BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Tempat dan Waktu Penelitian
Tempat dan waktu merupakan bagian yang penting dalam sebuah penelitian.
Sebuah penelitian pasti memiliki sasaran tempat dan waktu penelitian yang telah dipilih sesuai dengan tujuan.
3.1.1. Tempat Penelitian
Karena terdapat berbagai keterbatasan dalam diri penulis, baik itu keterbatasan waktu, tenaga dan biaya serta penulis yang merupakan peneliti pemula, maka yang menjadi sasaran dan tempat penelitian ini adalah SMP Negeri 3 Kecamatan Tanjung Kabupaten Brebes. Sekolah ini terletak di Jalan Kemurang Wetan No. 50 Desa Kemurang Wetan Kecamatan Tanjung Kabupaten Brebes Telp (0283) 877653 kode pos 52254 e-mail: [email protected].
SMP N 3 Kecamatan Tanjung dipimpin oleh Moh. Firgiyanto, S.IP., M.Pd.
kemudian pada bulan Maret 2017 pak Moh. Firgiyanto dipindah tugaskan, sehingga SMP N 3 Tanjung dipimpin oleh Budi Wahyono, S.Pd., MM. SMP N 3 Tanjung merupakan salah satu SMP Negeri yang kualitas sekolahnya baik, terlihat dari kekonsistensian jumlah murid yang mendaftar di SMP Negeri 3 Kecamatan Tanjung. SMP Negeri 3 Kecamatan Tanjung memiliki banyak prestasi akademik dan non akademik, di bidang non akademik seperti Pramuka, Paskibra, Olah Raga dan lain sebagainya. Tenaga pengajar di SMP N 3 Tanjung sekitar 45 orang.
Adapun guru mata pelajaran matematika sekitar 5 orang. SMP N 3 Tanjung sudah menerapkan kurikulum 2013 dengan pendekatan pembelajaranan student center atau pembelajaran berpusat pada siswa. Berdasarkan informasi dari guru matematika SMP N 3 Kec. Tanjung, kemampuan pemahaman konsep matematika siswa beragam, masih banyak siswa yang sering melakukan kekeliruan dalam memahami matematika. Hal tersebut menjadi alasan penulis untuk melakukan penelitian di SMP N 3 Kecamatan Tanjung.
3.1.2. Waktu Penelitian
Berdasarkan Surat Keputusan Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Institut Agama Islam Negeri Syekh Nurjati Cirebon Nomor: 2999/In.08/F.I. 1/PP.
00 9/05/2017, penelitian ini dilaksanakan pada semester genap dimulai dari tanggal
03 April sampai dengan 30 Juni 2017 yaitu dengan melakukan observasi, melakukan uji coba tes pemahaman konsep matematika siswa, melakukan pengumpulan data penelitian melalui tes GEFT (Group Embedded Figures Test) dan tes pemahaman konsep matematika siswa yang diberikan kepada siswa yang menjadi sampel penelitian.
Tabel 3.1
Jadwal Kegiatan Penelitian
No Kegiatan Penelitian
Bulan
Maret April Mei Juni
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 Tahap persiapan
2 Bimbingan instrumen
3 Tes GEFT
4 Uji coba instrumen 5 Pengambilan tes 6 Pengumpulan data 7 Analisis data 8 Penyusunan laporan
3.2. Metode dan Desain Penelitian 3.2.1. Metode Penelitian
Metode penelitian (research method) adalah suatu cara yang dilakukan untuk memperoleh suatu ilmu pengetahuan atau memecahkan suatu masalah yang menjadi topik penelitian kemudian langkah-langkahnya dilakukan secara berhati- hati dan secara sistematis (Nasehuddien & Manfaat, 2015:9). Metode penelitian tentang “Perbandingan Pemahaman konsep Matematika Siswa Ditinjau dari Gaya Kognitif antara Field Independent dengan Field Dependent” yang tepat adalah metode kuantitatif. Karena data-data yang diperoleh berupa angka-angka yang akan diolah secara matematis dan perhitungan statistik untuk mengetahui perbandingan pemahaman konsep matematika siswa ditinjau dari gaya kognitif antara field independent dengan field dependent.
Metode penelitian kuantitatif yang disoroti adalah hubungan antar variabel- variabel penelitian dan menguji hipotesis penelitian yang telah dirumuskan sebelumnya (Nasehuddien, 2011:11). Karena jenis penelitian deskripsi, maka uraiannya mengandung narasi yang mendeskripsikan hasil penelitian kemudian menguji hipotesis penelitian.
Penelitian ini menggunakan metode studi kasus untuk mengetahui perbandingan pemahaman konsep matematika siswa ditinjau dari gaya kognitif antara field independent dengan field dependent.
3.2.2. Desain Penelitian
Desain penelitian diperlukan untuk memahami permasalahan dalam penelitian dan menjawab setiap pertanyaan dalam penelitian. Desain penelitian adalah suatu rancangan kegiatan penelitian atau seluruh rangkaian rencana kegiatan penelitian yang akan dilakukan peneliti, yang dimulai dari tahap persiapan, pengumpulan data dan analisis data sampai dengan penulisan laporan penelitian (Nazir, 2011:21).
Karena dalam penelitian ini perlakuan yang diberikan kepada sampel hanya sebatas pemberian tes pemahaman konsep matematika dan tes GEFT (Group Embedded Figures Test), maka desain penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah One-Shot Case Study. One-Shot Case Study adalah model pendekatan penelitian yang hanya menggunakan satu kali pengumpulan data “satu saat”
(Sugiyono, 2008:107). Adapun desain penelitiannya dapat digambarkan sebagai berikut (Sugiyono, 2009:110):
Keterangan:
X : treatment yang diberikan (tes GEFT yang mengelompokan siswa ke dalam gaya kognitif field independent atau gaya kognitif field dependent)
O : hasil tes pemahaman konsep matematika siswa
Penelitian ini merupakan proses yang dilakukan secara bertahap. Adapun langkah-langkah yang akan dilakukan penulis dalam melakukan penelitian adalah sebagai berikut:
1. Tahap Persiapan
X O
a. Pemilihan masalah sesuai wilayah kajian yang akan diteliti.
b. Studi pendahuluan, yaitu untuk menelusuri apakah penelitian yang akan dilakukan oleh penulis sudah pernah dilakukan oleh penelitian sebelumnya dan untuk mencari teori-teori yang digunakan untuk menduung judul penelitian.
c. Menyusun proposal, penulis menyusun proposal tak lepas dari bimbingan dosen dan juga diskusi dengan teman-teman. Selanjutnya penulis mengajukan proposal ke jurusan untuk diseminarkan.
d. Seminar proposal, penulis melaksanakan seminar proposal dengan narasumber yang telah ditetapkan oleh jurusan. Kemudian hasil revisi dan ACC proposal oleh narasumber digunakan untuk pembuatan surat keterangan (SK) Penelitian dari fakultas.
e. Pembuatan surat keterangan (SK) penelitian bertujuan untuk menentukan dosen pembimbing selama penelitian dan penulisan skripsi serta pembuatan surat pengantar penelitian.
f. Menyusun instrumen penelitian.
2. Tahap Pelaksanaan
a. Survei sekolah (sasaran yang dijadikan penelitian).
b. Persiapan administrasi dan perizinan.
c. Melakukan pengumpulan data dengan pemberian tes GEFT d. Memilih kelas untuk menguji coba instrumen dan penelitian.
e. Melakukan pengumpulan data dengan wawancara terhadap guru mata pelajaran matematika kelas VII, pemberian tes pemahaman konsep matematika siswa dan dokumentasi.
3. Tahap Pengolahan Data
Pada tahap ini meliputi persiapan data, editing data, entri data, koding data, dan analisis data. Selanjutnya peneliti melakukan analisis data yang diperoleh dengan cara mengklasifikasikan data sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan.
4. Tahap Akhir Penelitian
Pada tahap ini penulis melakukan pembahasan dan menyimpulkan hasil penelitian secara deskritif dari analisis data hasil tes GEFT dan tes pemahaman konsep matematika siswa.
5. Penyusunan laporan penelitian ialah pembuatan laporan hasil penelitian (skripsi), yang meliputi:
a. Menyusun hasil penelitian.
b. Melaporkan hasil penelitian (sidang munaqosah).
3.3. Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel 3.3.1. Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi penelitian yang terdiri atas:
obyek/subyek penelitian yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik sebuah kesimpulan (Sugiyono, 2009:217). Sementara itu, Nasehuddien & Manfaat (2015:97) mengatakan bahwa populasi dapat dibagi dalam dua level, yaitu populasi target dan populasi tersedia. Populasi target adalah semua atau keseluruhan dari obyek penelitian, sedangkan populasi tersedia adalah bagian dari populasi target.
Sesuai dengan definisi populasi tersebut, maka populasi target dalam penelitian ini adalah seruruh siswa kelas VII SMP N 3 Kecamatan Tanjung Kabupaten Brebes tahun ajaran 2016/2017 yang berjumlah 317 siswa yang terbagi ke dalam delapan kelas yaitu kelas VII A sampai VII H, dengan rincian sebagaimana tertera dalam Tabel 3.2 sebagai berikut:
Tabel 3.2 Penyebaran Populasi
No Kelas Siswa Jumlah
Laki-laki Perempuan
1 VII A 20 20 40
2 VII B 20 20 40
3 VII C 20 20 40
4 VII D 20 19 39
5 VII E 18 22 40
6 VII F 20 20 40
7 VII G 19 20 39
8 VII H 19 20 39
Total 156 161 317
Sumber: TU SMP N 3 Tanjung Kabupaten Brebes 3.3.2. Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi (Sugiyono, 2009:118). Senada dengan pendapat tersebut menurut Lestari
& Yudhanegara (2015:101) sampel adalah bagian dari jumlah karakteristik yang
dimiliki oleh populasi. Sementara itu, Arikunto (2006:131) mendefinisikan sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi penelitian yang akan diteliti.
Sesuai dengan definisi sampel tersebut, maka teknik pengambilan sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah teknik cluster random sampling dan purposive sampling. Cluster random sampling merupakan teknik pengambilan anggota sampel dari populasi yang sudah ditentukan dengan mengambil sampel dari beberapa kelompok. Teknik purposive sampling adalah teknik pengambilan anggota sampel dari populasi berdasarkan pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2009:124). Teknik cluster random sampling digunakan untuk menentukan sampel dari 8 kelas dipilih 2 kelas sebagai sampel penelitian yaitu kelas VII A dan VII B karena seluruh populasi memiliki karakteristik dan kemampuan yang seragam, sedangkan teknik purposive sampling digunakan untuk menentukan sampel kelompok field independent dan field dependent, karena penentuan kelompok berdasarkan pertimbangan hasil skor total tes GEFT yang diperoleh siswa kelas VII A dan VII B. Sedangkan untuk kelas uji coba penulis memilih kelas VII D.
Tabel 3.3
Rekapitulasi Sampel Penelitian
Penelitian Kelas Jenis Kelamin Jumlah
Laki-laki Perempuan
Kelas Penelitian VII A 20 20 40
Kelas Penelitian VII B 20 20 40
Uji Coba Penelitian VII D 20 19 39
3.4. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan langkah terpenting dalam penelitian, karena tanpa data tentunya penelitian tidak akan berjalan lancar. Teknik pengumpulan data adalah langkah yang dianggap paling utama dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian ialah mendapatkan data yang relevan. Tanpa adanya teknik pengumpulan data, maka peneliti tidak akan mendapatkan data yang dianggap relevan (Sugiyono, 2009:308).
3.4.1. Instrumen Pengumpulan Data
Instrumen penelitian adalah suatu alat yang dapat digunakan untuk mengukur fenomena-fenomena alam maupun sosial yang diamati, secara spesifik semua fenomena-fenomena ini ialah variabel-variabel penelitian (Sugiyono, 2009:148).
Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah menganalisis pemahaman konsep matematika siswa ditinjau dari gaya kognitif antara field independent dengan field dependent yang menggunakan tes untuk mengukur pemahaman konsep matematika siswa dan tes GEFT untuk mengelompokan siswa berdasarkan gaya kognitif antara filed independent dan field dependent.
1. Instrumen Tes Pemahaman Konsep Matematika
Pengumpulan data untuk mengetahui tingkat pemahaman konsep matematika siswa dengan menggunakan tes. Menurut Arikunto (2011:53) mengatakan bahwa tes merupakan alat atau prosedur yang digunakan untuk mengetahui atau mengukur sesuatu dalam suasana, dengan cara dan aturan-aturan yang sudah ditentukan. Tes yang digunakan peneliti berupa soal uraian materi Segi Empat dan Segitiga. Soal tes terdiri dari 10 item soal uraian yang masing-masing digunakan untuk mengukur tingkat pemahaman konsep matematika siswa. Tes uraian tersebut berdasarkan pada indikator pemahaman konsep matematika menurut Depdiknas. Berikut ini adalah persentase kriteria penilaian instrumen tes uraian menurut Arikunto (2011:245):
Tabel 3.4
Interpretasi Instrumen Tes Skala Nilai (%) Kategori
80 – 100 Sangat Baik
66 – 79 Baik
56 – 65 Cukup Baik
40 – 55 Kurang
< 40 Sangat Kurang
Perhitungan untuk menentukan penilaian pada hasil instrumen tes yang dilakukan oleh peneliti adalah sebagai berikut:
S = 𝑅
𝑁 × 100%
Keterangan:
S = Nilai yang diharapkan R = Skor yang didapat N = Skor maksimum
Penyusunan instrumen pemahaman konsep matematika tersebut dikonsultasikan kepada dosen pembimbing skripsi, kemudian instrumen tersebut diujikan terlebih dahulu kepada siswa kelas VII D sebelum diberikan kepada responden yaitu kelas FI dan kelas FD.
2. Tes GEFT (Group Embedded Figures Tes)
Tes GEFT adalah instrumen tes standar (Grup Embedded Figures Test) yang telah dikembangkan oleh Witkin dkk (Khatib, 2011:641). Senada dengan pendapat tersebut Muh. Hasbi (2012:65) mengatakan bahwa GEFT merupakan instrumen tes perseptual hasil dari modifikasi dari Embedded Figures Test (EFT) yang dikembangkan oleh Herman A. Witkin. GEFT digunakan untuk mengidentifikasikan gaya kognitif siswa, gaya kognitif yang dimaksud adalah field independent dengan field dependent (Khodadady & Tafaghodi, 2013:142). GEFT telah divalidasi oleh Cakan (Altun & Cakan, 2006:293). Tes GEFT ini telah diukur berdasarkan tingkat reliabilitasnya oleh peneliti sebelumnya, nilai yang diperoleh dari tingkat reliabilitas Alpha Cornbach sebesar 0,84, yang berarti bahwa realibilitas tes GEFT ini sangat tinggi (Khodadady & Tafaghodi, 2013:144).
GEFT tediri dari delapan bentuk sederhana yang diberi nama abjad dari A sampai H. Tes ini dimaksudkan untuk menemukan bentuk sederhana yang tersembunyi dalam suatu pola gambar yang kompleks (Khodadady & Tafaghodi, 2013:142). Tes GEFT ini terdiri dari 3 bagian. Bagian pertama terdapat 7 butir gambar kompleks yang merupakan bagian latihan. Pada bagian kedua dan ketiga merupakan inti dari tes GEFT yang masing-masing berjumlah 9 butir (Altun &
Mehtap Cakan, 2006:293). Bagian pertama mempunyai batas waktu 2 menit untuk mengerjakannya, pada bagian ini jawaban benar tidak disertakan, sedangkan pada bagian kedua dan ketiga, sama-sama mempunyai batas waktu 5 menit untuk mengerjakannya, pada bagian ini jawaban benar diberi skor 1 untuk setiap soalnya (Khatib, 2011:641).
Skor tertinggi pada tes GEFT ini adalah 18. Skor ini yang nantinya akan mengelompokan siswa berdasarkan gaya kognitif field dependent dengan gaya kognitif field independent. Rata-rata yang diambil dari tes ini adalah 11. Apabila siswa memperoleh skor 11 atau kurang dari 11 dari tes GEFT, maka siswa tersebut dapat dikelompokan ke dalam siswa yang bergaya kognitif field dependent.
Sedangkan siswa yang memperoleh skor 12 atau diatas 11 maka siswa tersebut dapat dikelompokan ke dalam siswa yang bergaya kognitif field independent (Khodadady & Tafaghodi, 2013:142).
3.4.2. Definisi Konseptual
Berdasarkan beberapa istilah yang digunakan dalam penelitian, maka penulis merancang definisi secara konseptual sebagai berikut:
1. Variabel Pemahaman Konsep Matematika Siswa
Pemahaman konsep matematika siswa adalah kemampuan untuk menerjemahkan, menafsirkan ide abstrak dan obyek dasar yang dipelajari, kemudian dapat menerapkan ide abstrak dan obyek dasar tersebut ke dalam perhitungan matematis.
2. Variabel Gaya Kognitif Field Independent
Gaya kognitif field independent adalah gaya kognitif seseorang yang memiliki kecenderungan dalam merespon stimulus menggunakan persepsi yang dimilikinya sendiri, lebih analitis dan menganalisis pola berdasarkan komponen- komponennya.
3. Variabel Gaya Kognitif Field Dependent
Gaya kognitif field dependent adalah gaya kognitif seseorang yang mempunyai kecenderungan dalam merespon stimulus menggunakan syarat lingkungan sebagai dasar dalam persepsinya dan kecenderungan memandang suatu pola sebagai keseluruhan dan tidak memisahkan ke bagian-bagiannya.
3.4.3. Definisi Operasional
1. Variabel Pemahaman Konsep Matematika Siswa
Pemahaman konsep matematika siswa adalah nilai atau skor yang diperoleh siswa dari hasil tes pemahaman konsep matematika siswa yang berupa tes uraian untuk mengukur tingkat pemahaman konsep matematika, sehingga dapat diperoleh gambaran secara umum tentang pemahaman konsep matematika siswa.
2. Gaya Kognitif Field Independent
Gaya kognitif field independent adalah skor total tes GEFT (> 11) yang diperoleh siswa. Hasil ini bertujuan untuk memperoleh gambaran secara umum mengenai kecenderungan tipe gaya kognitif siswa berdasarkan aspek perbedaan psikologis siswa.
3. Gaya Kognitif Field Dependent
Gaya kognitif field dependent adalah skor total tes GEFT (≤ 11) yang diperoleh siswa. Hasil ini bertujuan untuk memperoleh gambaran secara umum mengenai kecenderungan tipe gaya kognitif siswa berdasarkan aspek perbedaan psikologis siswa.
3.4.4. Kisi-kisi Instrumen
Instrumen tes GEFT yang digunakan adalah instrumen yang dikembangkan oleh Witkin yang dialih bahasakan oleh Himmatul Ulya. Tes GEFT tersebut dimaksudkan untuk menemukan bentuk-bentuk sederhana yang tersembunyi dalam suatu pola atau gambar yang kompleks.
Instrumen tes pemahaman konsep matematika siswa mengacu pada 7 indikator pemahaman konsep menurut Depdiknas. Kisi-kisi tes pemahaman konsep matematika dengan materi segi empat dan segitiga selengkapnya dapat dilihat pada lampiran A.8.
3.4.5. Uji Coba Instrumen
Sebelum instrumen tes pemahaman konsep matematika siswa digunakan dalam penelitian, instrumen tersebut terlebih dahulu diujicobakan kepada siswa yang bukan merupakan siswa sampel penelitian. Instrumen tes pemahaman konsep matematika siswa berupa tes uraian yang berjumlah 14 soal materi segi empat dan segitiga berdasarkan pada 7 indikator pemahaman konsep matematika menurut Depdiknas.
Instrumen tes pemahaman konsep matematika diujicobakan kepada siswa kelas VII D pada hari Sabtu 15 April 2017. Uji coba instrumen tes pemahaman konsep matematika dilakukan untuk mengetahui sejauh mana kualitas instrumen penelitian yang akan digunakan. Instrumen tes pemahaman konsep matematika dianalisis dengan menggunakan pengujian validitas, reliabilitas, daya pembeda dan indeks kesukaran.
Berikut ini adalah pengujian analisis butir soal yang dilakukan dalam penelitian ini:
1. Uji Validitas
Salah satu ciri tes yang baik adalah memenuhi pengujian validitas. Menurut Arikunto (2011:59) mengatakan bahwa tes dikatakan valid apabila tes tersebut dapat mengukur apa yang hendak diukur atau valid. Pengujian validitas suatu instrumen ini menggunakan rumus Product Moment yaitu sebagai berikut:
𝑟𝑥𝑦 = 𝑁 (∑ 𝑋𝑖𝑌)− (𝑋𝑖)(∑ 𝑌)
√(𝑁 ∑ 𝑋𝑖2−(∑ 𝑋𝑖)2)−(𝑁 ∑ 𝑌2− (∑ 𝑌)2)
Keterangan :
rxy : Koefisien korelasi antara variabel X dan Y 𝑋𝑖 : Skor item ke-i, i = 1, 2, 3, ... , k
Y : Skor total
N : Banyaknya peserta tes 𝑟𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 = 𝑟(𝛼, 𝑑𝑘) = 𝑟(𝛼, 𝑁 − 2)
Uji coba instrumen tes yang telah dilakukan kepada 38 siswa kelas VII D sebagai kelas uji coba sehingga N = 38 dan taraf signifikan yang dipilih adalah 5%
diperoleh nilai 𝑟𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 = 𝑟(0,05, 38 − 2) = 𝑟(0,05,36) = 0,3202. Soal dikatakan valid apabila 𝑟ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 ≥ 0,3202. Berikut ini tabel klasifikasi interpretasi validitas instrumen menurut Arikunto (2011:75):
Tabel 3.5 Interpretasi Validitas
Nilai 𝒓𝒙𝒚 Kategori
0,80 ≤ 𝒓𝒙𝒚 < 1,00 Validitas sangat tinggi 0,60 ≤ 𝒓𝒙𝒚 < 0,80 Validitas tinggi
0,40 ≤ 𝒓𝒙𝒚 < 0,60 Validitas cukup 0,20 ≤ 𝒓𝒙𝒚 < 0,40 Validitas rendah 𝟎, 𝟎𝟎 ≤ 𝒓𝒙𝒚 < 0,20 Validitas sangat rendah
Perhitungan uji validitas akan lebih mudah dilakukan dengan menggunakan bantuan Ms Excel. Berikut ini rekapitulasi hasil perhitungan uji validitas instrumen dengan teknik correlations product moment menggunakan Excel:
Tabel 3.6
Rekapitulasi Hasil Uji Validitas Instrumen Tes
Item Soal 𝒓𝒙𝒚 Keputusan Kriteria Keterangan
1 0,536 Valid Cukup Dipakai
2 0,496 Valid Cukup Dipakai
3 -0,01 Invalid Sangat Rendah Tidak Dipakai
4 0,54 Valid Cukup Dipakai
5 0,085 Invalid Sangat Rendah Tidak Dipakai
6 0,269 Invalid Rendah Tidak Dipakai
7 0,539 Valid Cukup Dipakai
8 0,526 Valid Cukup Dipakai
9 0,201 Invalid Rendah Tidak Dipakai
10 0,632 Valid Tinggi Dipakai
11 0,707 Valid Tinggi Dipakai
12 0,673 Valid Tinggi Dipakai
13 0,75 Valid Tinggi Dipakai
14 0,579 Valid Cukup Dipakai
Berdasarkan perhitungan uji validitas instrumen tes pemahaman konsep matematika siswa pada materi segi empat dan segitiga dengan menggunakan Excel diperoleh bahwa dari 14 item soal uraian tes pemahaman konsep matematika siswa dinyatakan 10 item soal valid yaitu item soal nomor 1, 2, 4, 7, 8 dan 14 dengan kriteria cukup tinggi, item soal nomor 10, 11, 12 dan 13 dengan kriteria tinggi, sedangkan item soal nomor 3, 5, 6 dan 9 dinyatakan invalid yaitu item soal nomor 6 dan 9 memiliki kriteria rendah, item soal nomor 3 dan 5 memiliki kriteria sangat rendah. Item soal yang dinyatakan valid akan digunakan sebagai instrumen penelitian dan item soal yang dinyatakan invalid akan dihilangkan atau tidak digunakan sebagai instrumen penelitian, sehingga peneliti memutuskan untuk menggunakan 10 item soal pemahaman konsep matematika siswa sebagai instrumen penelitian yaitu item soal nomor 1, 2, 4, 7, 8, 10, 11, 12, 13 dan 14. Hasil uji validitas instrumen tes pemahaman konsep matematika siswa selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran B.3.
2. Uji Reliabilitas
Reliabilitas adalah konsistensi atau keajegan suatu tes (Arikunto, 2011:86).
Suatu tes dikatakan reliabel, apabila tes tersebut dapat dipercaya, konsisten atau hasil-hasil tes tersebut menunjukan ketetapan. Pengujian reliabilitas instrumen tes menggunakan rumus Alpha Cronbach (Arikunto, 2011:109) sebagai berikut:
𝑟11 = ( 𝑛
𝑛−1) (1 − ∑ 𝜎𝑏2
𝜎𝑡2 ) Keterangan:
𝑟11 = reliabilitas instrumen n = banyaknya item soal valid 𝜎𝑡2 = varians skor total
∑ 𝜎𝑏2 = jumlah varian skor butir soal
Klasifikasi interpretasi kriteria penilaian reliabilitas menurut Suharsimi Arikunto (2011:114), adalah sebagai berikut:
Tabel 3.7
Interpretasi Reliabilitas
No Nilai 𝒓𝒉𝒊𝒕𝒖𝒏𝒈 Interpretasi 1 𝑟ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 < 0,20 Sangat rendah 2 0,20 ≤ 𝑟ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 < 0,40 Rendah 3 0,40 ≤ 𝑟ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 < 0,70 Cukup 4 0,70 ≤ 𝑟ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 < 0,90 Tinggi 5 0,90 ≤ 𝑟ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 < 1,00 Sangat Tinggi
Perhitungan uji reliabilitas dengan rumus Alpha Cronbach akan lebih mudah dilakukan dengan menggunakan bantuan SPSS versi 20.0. Berikut ini rekapitulasi hasil perhitungan uji reliabilitas dengan teknik Alpha Cronbach menggunakan SPSS versi 20.0:
Tabel 3.8
Rekapitulasi Hasil Uji Reliabilitas Instrumen Tes
Item Soal 𝒓𝒉𝒊𝒕𝒖𝒏𝒈 Interpretasi
1 0,782 Tinggi
2 0,789 Tinggi
4 0,794 Tinggi
7 0,79 Tinggi
8 0,783 Tinggi
10 0,78 Tinggi
11 0,768 Tinggi
12 0,77 Tinggi
13 0,759 Tinggi
14 0,782 Tinggi
Berdasarkan hasil perhitungan uji reliabilitas instrumen tes pemahaman konsep matematika siswa pada materi segi empat dan segitiga yang menggunakan teknik Alpa Cronbach dengan bantuan program SPSS versi 20.0 diperoleh bahwa nilai 𝑟ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 sebesar 0,798 dengan interpretasi reliabilitas yang tinggi. Instrumen tes pemahaman konsep matematika siswa dapat dipercaya untuk digunakan sebagai instrumen penelitian. Adapun hasil uji reliabilitas instrumen tes pemahaman konsep matematika siswa selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran B.4.
3. Uji Daya Pembeda
Daya pembeda soal adalah kemampuan soal untuk membedakan antara siswa yang mempunyai kemampuan tinggi dengan siswa yang mempunyai kemampuan rendah (Arikunto, 2011:211). Pengujian daya pembeda item soal menggunakan rumus (Arikunto, 2011:213) sebagai berikut:
DP = 𝐵𝐴
𝐽𝐴−𝐵𝐵
𝐽𝐵
Keterangan:
DP = Daya pembeda
JA = Jumlah siswa kelompok atas JB = Jumlah siswa kelompok bawah BA = Jumlah benar kelompok atas BB = Jumlah benar kelompok bawah
Berikut ini adalah kriteria daya pembeda menurut Arikunto (2011:218).
Tabel 3.9
Kriteria Daya Pembeda
No Nilai DP Interpretasi
1 0,00 – 0,19 Jelek
2 0,20 – 0,39 Cukup
3 0,40 – 0,69 Baik
4 0,70 – 1,00 Sangat Baik
5 < 0,00 Tidak Baik
Perhitungan uji daya pembeda akan lebih mudah dilakukan dengan menggunakan bantuan program Microsoft Excel. Berikut ini rekapitulasi hasil
perhitungan uji daya pembeda instrumen tes pemahaman konsep matematika siswa pada materi segi empat dan segitiga:
Tabel 3.10
Rekapitulasi Hasil Uji Daya Pembeda Instrumen Tes Item Soal Daya Pembeda Interpretasi
1 0,275 Cukup
2 0,25 Cukup
3 0 Jelek
4 0,45 Baik
5 0,05 Jelek
6 0,075 Jelek
7 0,375 Cukup
8 0,25 Cukup
9 0,075 Jelek
10 0,225 Cukup
11 0,75 Sangat Baik
12 0,5 Baik
13 0,5 Baik
14 0,375 Cukup
Hasil perhitungan daya pembeda dengan menggunakan Ms Excel, diperoleh bahwa berdasarkan kriteria daya pembeda maka hasil menunjukan kriteria yang berbeda-beda. Sebanyak 4 soal yaitu item soal nomor 3, 5, 6 dan 9 mempunyai kriteria jelek, sebanyak 6 item soal yaitu item soal nomor 1, 2, 7, 8, 10 dan 14 mempunyai kriteria cukup, sebanyak 3 item soal yaitu item soal nomor 4, 12 dan 13 mempunyai kriteria baik dan sebanyak 1 soal yaitu nomor 11 memiliki kriteria sangat baik. Perhitungan uji daya pembeda instrumen tes pemahaman konsep matematika siswa selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran B.5.
4. Uji Indeks Kesukaran
Pengujian indeks kesukaran merupakan pengujian yang bertujuan untuk mengetahui tingkat kesukaran suatu item soal. Indeks kesukaran adalah bilangan yang menunjukan sukar atau mudahnya suatu item soal (Arikunto, 2011:207), rumus yang digunakan untuk mencari indeks kesukaran adalah sebagai berikut:
𝑃 = 𝐵
𝐽𝑆
Keterangan:
P = Indeks kesukaran
B = Skor seluruh siswa peserta tes untuk setiap butir soal JS = Jumlah skor maksimum yang mungkin diperoleh peseta tes
Indeks kesukaran dapat diinterpratasikan, interpretasi indeks kesukaran menurut Arikunto (2011:210) adalah sebagai berikut:
Tabel 3.11
Interpretasi Indeks Kesukaran No Indeks Kesukaran Interpretasi
1 < 0,00 Telalu sukar
2 0,00 ≤ IK ≤ 0,30 Soal sukar 3 0,30 < IK ≤ 0,70 Soal sedang 4 0,70 < IK ≤ 1,00 Soal mudah
Perhitungan uji indeks kesukaran akan lebih mudah dilakukan dengan menggunakan bantuan program Microsoft Excel. Berikut ini rekapitulasi hasil perhitungan uji indeks kesukaran instrumen tes pemahaman konsep matematika siswa pada materi segi empat dan segitiga:
Tabel 3.12
Rekapitulasi Hasil Uji Indeks Kesukaran Instrumen Tes Pemahaman Konsep matematika Siswa
Berdasarkan perhitungan indeks kesukaran dengan menggunakan Ms. Excel, diperoleh 6 item soal dengan kriteria mudah yaitu item soal nomor 2, 3, 5, 6, 9 dan
Item Soal Indeks Kesukaran Interpretasi
1 0,645 Sedang
2 0,743 Mudah
3 0,888 Mudah
4 0,559 Sedang
5 0,809 Mudah
6 0,835 Mudah
7 0,289 Sukar
8 0,559 Sedang
9 0,835 Mudah
10 0,855 Mudah
11 0,572 Sedang
12 0,638 Sedang
13 0,474 Sedang
14 0,395 Sedang
10, soal dengan kriteria sedang sebanyak 7 item soal yaitu item nomor 1, 4, 8, 11, 12, 13 dan 14, sedangkan soal dengan kriteria sukar hanya 1 item soal yaitu item soal nomor 7. Perhitungan uji indeks kesukaran instrumen tes pemahaman konsep matematika siswa selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran B.6.
3.4.6. Teknik Pengumpulan Data
Penelitian ini, teknik pengumpulan data menggunakan pendekatan kuantitatif, dengan menggunakan tes GEFT dan tes pemahaman konsep matematika siswa sebagai instrumen dalam teknik pengumpulan datanya. Tes GEFT adalah tes untuk mendeskripsikan gaya kognitif yang dimiliki siswa dan tes uraian pemahaman konsep matematika siswa adalah tes untuk mendeskripsikan tingkat pemahaman konsep matematika siswa.
Instrumen tes GEFT yang dikembangkan oleh Witkin telah valid dan dapat digunakan dalam penelitian ini. Sedangkan instrumen tes pemahaman konsep matematika siswa yang dibuat telah melalui serangkaian pengujian analisis butir soal setelah dilakukannya uji coba instrumen.
3.5. Teknik Analisis Data
Setelah memperoleh data-data penelitian secara lengkap, maka langkah selanjutnya adalah melakukan pengolahan data untuk menjawab perumusan masalah penelitian yang telah dirumuskan sebelumnya. Berikut ini analisis yang digunakan untuk menjawab pertanyaan penelitian.
Pertanyaan penelitian nomor 1 adalah sebaran gaya kognitif yang dimiliki siswa, untuk menjawab pertanyaan ini teknik analisis yang digunakan adalah menganalisis skor total setiap siswa. Seperti yang diketahui apabila skor total dari tes GEFT > 11 maka siswa dikatakan memiliki tipe gaya kognitif field independent dan apabila skor total tes GEFT ≤ 11, maka siswa dikatakan memiliki tipe gaya kognitif field dependent.
Pada pertanyaan 2 dan 3 dalam perumusan masalah, teknik analisis yang digunakan adalah statistik deskritif dari data-data yang diperoleh. Statistik deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikannya atau menggambarkan data yang telah diperoleh sebagaimana adanya tanpa membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi (Sugiyono, 2009:207-208). Berdasarkan data yang diperoleh, maka statistik
deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan skor responden masing-masing kelompok yaitu kelompok pertama adalah responden yang memiliki gaya kognitif field independent dan kelompok kedua adalah responden yang memiliki gaya kognitif field dependent.
Membuktikan pertanyaan penelitian nomor 4 adanya perbedaan yang signifikan pada pemahaman konsep matematika siswa ditinjau dari gaya kognitif antara field independent dengan field dependent. Langkah-langkah pengolahan data yang dilakukan peneliti adalah sebagai berikut:
3.5.1. Uji Prasyarat Analisis
Sebelum melakukan uji hipotesis pada dua sampel besar yang tidak saling berhubungan, maka perlu dilakukan uji prasyarat analisis data terlebih dahulu dengan menggunakan statistik inferensial yaitu sebagai berikut:
1. Uji Normalitas
Uji Normalitas adalah salah satu syarat prasyarat untuk memenuhi asumsi kenormalan dalam analisis data statistik parametrik (Lestari & Yudhanegara, 2015:243). Uji normalitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan program SPSS versi 20.0.
Hipotesis yang digunakan adalah sebagai berikut:
H0 : Data berdistribusi normal Ha : Data tidak berdistribusi normal
Kriteria untuk menentukan pengujian normalitas adalah sebagai berikut:
Jika nilai Sig < 0,05, maka Ha diterima Jika nilai sig ≥ 0,05, maka H0 diterima 2. Uji Homogenitas
Uji homogenitas merupakan uji prasyarat analisis data statistik parametrik pada teknik komparasional, homogenitas data memiliki makna bahwa data memiliki varians atau keragaman nilai yang sama secara statistik (Lestari &
Yudhanegara, 2015:248). Perhitungan uji homogenitas dalam penelitian ini menggunakan bantuan SPSS versi 20.0. Hipotesis yang digunakan adalah sebagai berikut:
H0 : dua kelompok data berasal dari dua sampel yang mempunyai varians sama atau homogen.
Ha : dua kelompok data berasal dari dua sampel yang mempunyai varians tidak sama atau tidak homogen.
Kriteria untuk menentukan pengujian homogenitas adalah sebagai berikut:
Jika nilai Sig < 0,05, maka Ha diterima Jika nilai sig ≥ 0,05, maka H0 diterima 3.5.2. Uji Hipotesis
Pengujian hipotesis ini digunakan untuk menjawab pertanyaan penelitian nomor 4 yaitu apakah terdapat perbedaan yang signifikan pada pemahaman konsep matematika siswa ditinjau dari gaya kognitif antara field independent dengan field dependent. Uji hipotesis dalam penelitian ini yang digunakan adalah uji-t, adapun uji-t yang digunakan adalah independent sampel t-tes atau uji-t dengan sampel bebas dengan tujuan untuk menguji ada atau tidak adanya perbedaan rata-rata dari dua kelompok sampel yang independent pada populasi (Lestari & Yudhanegara, 2015:279). Rumus yang digunakan untuk mencari 𝑡ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔(Sugiyono, 2009:273) adalah sebagai berikut:
𝑡ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 = X̅1−X̅2
√(𝑛1−1)𝑠12+(𝑛2−1)𝑠22 𝑛1+𝑛2−2 (1
𝑛1+1 𝑛2)
Keterangan:
X̅1 = Rata-rata hasil tes pemahaman konsep matematika kelas field independent X̅2 = Rata-rata hasil tes pemahaman konsep matematika kelas field dependent 𝑛1 = Jumlah sampel pada kelas field independent
𝑛2 = Jumkah sampel pada kelas field dependent 𝑠12 = Varians kelas field independent
𝑠12 = Varians kelas field dependent
Sebelum melakukan pengujian independent sampel t-tes perlu dilakukan pengujian normalitas dan pengujian homogenitas terlebih dahulu. Pengujian independent sampel t-tes dapat dipermudahkan dengan bantuan software SPSS statistic versi 20.0. Setelah data berdistribusi normal, untuk menguji homogenitas menggunakan uji Levene’s tujuannya adalah untuk mengetahui jenis varians data sama atau berbeda. Apabila sama, maka akan digunakan uji Equal variances
assumed. Sedangkan apabila berbeda, maka akan digunakan uji Equal variances not assumed.
Seanjutnya hasil 𝑡ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 dibandingkan dengan 𝑡𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙, dengan kriteria penolakan dan penerimaan sebagai berikut:
H0 ditolak jika thitung > ttabel atau −thitung < −ttabel, maka H𝑎 diterima sedangkan H0 diterima jika −thitung ≥ −ttabel atau thitung≤ ttabel, maka H𝑎 ditolak.
3.6. Hipotesis Statistik
Hipotesis Statistik berupa rumus untuk menguji hipotesis. Hipotesis statistik dapat diungkapkan dalam bentuk operasional, yang diperlukan untuk menguji pernyataan hipotesis penelitian. Hipotesis statistik dapat dinyatakan dalam bentuk hipotesis nol (H0) dan hipotesis alternatif (H𝑎) (Nasehuddien & Manfaat, 2015:67). Di sini peneliti akan melakukan penelitian tentang ” Perbandingan Pemahaman Konsep Matematika Siswa Ditinjau dari Gaya Kognitif antara Field Independent dengan Field Dependent”, maka hipotesis statistik (Sugiyono, 2009:102-103) yang diajukan adalah sebagai berikut:
H0 : 𝜇1 = 𝜇2 H𝑎 : 𝜇1 ≠ 𝜇2
Sesuai dengan hipotesis yang diajukan dengan:
H0 : Tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada pemahaman konsep matematika siswa ditinjau dari gaya kognitif antara field independent dengan field dependent.
H𝑎 : Terdapat perbedaan yang signifikan pada pemahaman konsep matematika siswa ditinjau dari gaya kognitif antara field independent dengan field dependent.
Keterangan:
𝜇1 : Rata-rata pemahaman konsep matematika siswa kelas field independent 𝜇2 : Rata-rata pemahaman konsep matematika siswa kelas field dependent