Read Ebook {PDF EPUB} Api Awan Asap by Korrie Layun Rampan
International Journal of Language & Literature.
Abstract The form of environmental wisdom of Benuaq Kalimantan ethnic in novel Api Awan Asap by Korrie Layun Rampan could be seen through an ecocriticism perspective. The results of ecocriticism studied of the novel showed that the form of environmental wisdom of Benuaq Kalimantan were identified in the following founded. First, solidarity with Kalimantan nature by applied regulations and procedures for cultivating forest areas called as designated areas. Second, living simply and in harmony with Kalimantan nature by used and utilizing various types of wealth in accordance with the demands of needed. Third, responsibility for the nature of Kalimantan by way of punishment for every perpetrator of the destruction of forest areas. Fourth, respect for the nature of Kalimantan by allowing agricultural land to flourish without used fertilizer. Fifth, does harm the nature of Kalimantan embodied through system of beliefs against various things that were taboo, such as belief in sacred trees and abstinence area.
Api Awan Asap.
Setting dalam sebuah novel memang bukan suatu hal yang teramat substansial dibanding isi cerita dan alur. Namun, tanpa setting, sebuah novel akan menjadi abstrak.
Dalam Api Awan Asap (AAA), setting yang dipilih pengarang adalah tanah kelahirannya, Kalimantan Timur. Kalau menurut logika, mestinya novel ini berjudul “Api Asap Awan”, sebab awan adalah butiran air atau es kecil yang terlihat mengelompok di atmosfer, yang terjadi karena bantuan debu atau asap akibat industri yang higroskopik. Agaknya, pengarang secara sadar tidak mengikuti alur seperti itu. Dengan AAA, pengarang mendeskripsikan paradoks antara kearifan tradisional masyarakat Dayak mengelola hutan di satu pihak dan tindakan pengusaha HPH dan HTI di pihak lain yang membuka hutan Kalimantan Timur dengan cara membakar lahan.
[. ]”Bau asap api menyeruak dari luar lou. Kebakaran hutan seperti momok dan hantu yang menyerang kawasan desa dan kota. Di cakrawala menggantung awan-awan asap yang datang dari berbagai arah. mendung yang menggantung, bukan mendung mengandung hujan, tapi mendung asap api yang datang dari lahan orang kaya dari kota” (hal. 34). Pembakaran hutan oleh HPH dan HTI inilah penyebab kawasan Kaltim tidak hanya berawan (cloudy), tetapi juga tertutup awan (overcast).
Karena mengenal setting , pengarang dengan amat cermat melukiskan suasana. Kita diajak mengembara, memasuki belantara di mana indigenous people (Dayak Benuaq) bermukim, menyatu dengan alam dan hidup bergantung pada alam. Di sebuah kawasan, tepi Sungai Nyawatan, penduduk membangun lou (betang, rumah panjang).
Dari lou itu, dua sahabat―Jue dan Sakatn―setelah menempuh perjalanan 300 kilometer, memasuki gua untuk mengambil sarang burung walet.
Jue yang baru sebulan menikahi Nori, putri Petinggi Jepi, bertugas masuk ke dalam gua sambil pinggangnya diikat dengan tali plastik; sementara Sakatn menunggu di luar. Karena diam-diam Sakatn juga mencintai Nori, Sakatn lalu mengerat tali plastik itu. Akibatnya, Jue tersesat dalam gua yang gulita.
Dua puluh tahun setelah peristiwa itu terjadi, tatkala malam terakhir dari delapan malam upacara perkawinan adat Sakatn-Nori, tiba-tiba Pune, putri Nori dari bibit Jue, terperosok dalam sebuah lubang aneh. Kakinya terasa dipegang orang dari bawah tanah. Orang-orang mengira yang mencekal kaki Pune adalah hantu tanah. Namun, setelah khalayak ramai-ramai menarik Pune dari longsoran tanah, tiba-tiba muncul seseorang seperti manusia purba ke permukaan tanah. Badannya putih pucat karena tak pernah kena sinar matahari, rambutnya panjang melewati tumit, dan matanya sipit. Tak ada yang bisa mengidentifikasi bahwa manusia tanah yang dikira tonoy itu adalah Jue, kecuali Nori dan Petinggi Jepi.
Adegan yang penuh suspense itu, sekadar menunjukkan salah satu kelebihan pengarang di dalam bertutur. Hal ini tentu semakin memperkuat setting dalam novel ini yang juga menekankan betapa sebenarnya orang Dayak (Benuaq) sangat memperhatikan pelestarian lingkungan hidup.
Unsur-unsur magis khas suku Benuaq juga diangkat penulis, membuat bulu kuduk berdiri. Ternyata, lubang celaka yang merongga, yang mencederai Pune, persis di situ dahulu berdiri sepokok beringin. Beringin itu ditebang, dibakar, lalu di atasnya didirikan lou (hal. 101). Kini areal sekitar pohon beringin itu dijadikan arena untuk urusan upacara.
Dengan demikian, AAA boleh disebut “jilid kedua” dari novel Korrie sebelumnya―yang juga memenangkan sayembara penulisan roman DKJ 1976 dan mengambil setting Kalimantan Timur―Upacara. Dan menurut saya, AAA dari segi mutu dan teknik penceritaan, tak kalah dibanding Upacara. Bahkan, jauh lebih dahsyat! Dan juga jauh lebih matang.
Api Awan Asap by Korrie Layun Rampan.
Suara yang datang itu sangat tibatiba dan menakutkan. Penduduk mengira dewata akan membinasakan mereka. Padahal, selanjutnya justru atasjasa putra langitlah desa tersebut maju dan makmur.
(Balai Pustaka)
Sareng garwa ingkang satuhu dipun tresnani seda ing tangahing payudan, Nyai Ageng lajeng sumingkir saking papan karamean, tindak nyepi sarta mesanggrah wonten ing satunggaling padhepokan, ing Dhukuh Serang, saprelu nglampahi semedi amesu budi.
[Pustaka Jaya, Dunia Pustaka Jaya]
Kini keduanya tampil lagi secara bersama dalam buku ini. Tentu saja bentuk ucap dan cara mengisikan materi isi sajak berbeda dari sajak-sajak yang dikumpulkan dalam kumpulan puisi berdua: “ Putih! Putih! Putih !” yang terbit 39 tahun lalu. Usia dan kematangan imajinasi telah membawa keduanya kepada bentuk dan isi puisi yang sekarang ini.
Api Awan Asap by Korrie Layun Rampan.
Juhana Juhana (1*) , Nur Qalbi (2) , Sri Arfani (3) ,
(1) Universitas Terbuka (2) Universitas Muhammadiyah Makassar (3) Universitas Bina Sarana Informatika (*) Corresponding Author.
Abstract.
Abstract. This study aims to describe the gender inequality contained in the novel Death of an Ex-Minister by Nawal el Saadawi using gender theory by Mansour Fakih (2005) which includes marginalization, subordination, stereotype, violence, and workload. The method used was descriptive qualitative. The results showed that there was gender inequality that was manifested in four forms: marginalization, subordination, stereotyping, and violence. Marginalization occurs in the form of dismissals by male superiors to female employees who were considered to often express opinions that differ from them. Subordination was indicated by the position of women who were lower than men. Whereas, stereotyping occurred with the negative attachment of a husband to his wife that because he was the one who gave food he had the right to do anything to his wife. The violence occurred in the form of physical violence by a husband against his wife and sexual violence experienced by a woman who was raped by ten men.
Keywords: Gender, Gender Inequality, the novel Death of an Ex-Minister.
Full Text:
References.
Albantani, A. M., & Madkur, A. (2017). “ Musyahadat Al Fidyu”: YouTube-Based Teaching and Learning of Arabic as Foreign Language (AFL). Dinamika Ilmu, 17(2), 291–308.
Baliamoune–Lutz, M., & McGillivray, M. (2015). The impact of gender inequality in education on income in Africa and the Middle East.
Economic Modelling, 47, 1–11. https://doi.org/10.1016/J.ECONMOD.2014.11.031.
Bauer, N. M. (2013). Rethinking stereotype reliance: Understanding the connection between female candidates and gender stereotypes. Politics and the Life Sciences, 32(01), 22–42. https://doi.org/10.2990/32_1_22.
Cooray, A., & Potrafke, N. (2011). Gender inequality in education: Political institutions or culture and religion? European Journal of Political Economy, 27(2), 268–280. https://doi.org/10.1016/J.EJPOLECO.2010.08.004.
Emzir, & Rohman, S. (2015). Teori dan Pengajaran Sastra. Jakarta: Rajawali Press.
Fakih, M. (1997). Analisis Gender & Transformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Fakih, M. (2005). Analisis Gender & Transformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Garcia-Moreno, C., & Watts, C. (2011). Violence against women: an urgent public health priority. Bulletin of the World Health Organization, 89(1), 2–2. https://doi.org/10.2471/BLT.10.085217.
Haryanti, A., & Suwana, F. (2014). The Construction of Feminism in Indonesian Film: Arisan 2! Procedia - Social and Behavioral Sciences, 155, 236–241. https://doi.org/10.1016/J.SBSPRO.2014.10.285.
Hentschel, T., Heilman, M. E., & Peus, C. V. (2019). The Multiple Dimensions of Gender Stereotypes: A Current Look at Men’s and Women’s Characterizations of Others and Themselves. Frontiers in Psychology, 10(JAN), 11. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2019.00011.
Herawati, Y. (2013). Citra Perempuan Dalam Novel Upacara, Api Awan Asap, Dan Bunga Karya Korrie Layun Rampan (Image Women in Novels Upacara, Api Awan Asap, and Bunga of Korrie Layun Rampan ). ATAVISME, 16(1), 43–56.
Hidayah, S., Subiyantoro, S., Wardhani, N., & Saddhono, K. (2019). Feminism in Javanese Culture: An Analysis of Gender Inequality in Alun Samudra Rasa Novel. In Proceedings of the Proceedings of the 1st Seminar and Workshop on Research Design, for Education, Social Science, Arts, and Humanities, SEWORD FRESSH 2019, April 27 2019, Surakarta, Central Java, Indonesia. EAI. https://doi.org/10.4108/eai.27-4- 2019.2286909.
Kaprisma, H., Studi, P., Fakultas, R., Pengetahuan Budaya, I., Indonesia, U., & Id, K. A. (2018). Representation of Women to Gender Construction: Analysis of Memoar Comparative Literature of A Women’s Doctor and My Hiroko. ELite Journal : International Journal of Education, Language, and Literature E-ISSN (Vol. 1). Retrieved from https://journal.unesa.ac.id/index.php/elite.
Krob, D. B., & Steffen, L. (2015). Religious Influence on Education and Culture: Violence Against Women as Common Sense. Procedia - Social and Behavioral Sciences, 174, 2374–2379. https://doi.org/10.1016/J.SBSPRO.2015.01.903.
Leiliyanti, E. (2009). Pola Pencapaian Kesadaran Tokoh Utama Perempuan Tertindas Dalam Novel Far From The Madding Crowd Karya Thomas hardy dan The Tenant Of Wildfell Hall Karya Anne Bronte. ATAVISME, 12(2), 113–126.
https://doi.org/10.24257/atavisme.v12i2.163.113-126.
Nurgiyantoro, B. (2009). Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjahmada University Press.
Permatasari, D. B. A. (2017). Resistensi Tokoh-Tokoh Perempuan Terhadap Patriarki Dalam Novel Garis Perempuan Karya Sanie B. Kuncoro (Resistence of Women Characters to Patriarchy in Novel Garis Perempuan by Sanie B. Kuncoro). Jentera: Jurnal Kajian Sastra, 6(2), 94–109.
Prasetyawan Purnomosidhi, N. A., & Lustyantie, N. (2018). Characterizations Of Women Widowed In The Short Story Namanya, Massa, Tarian Hamil Dan Penyair Bulan, And Norhayati (Literary Review Cross Reference). BAHTERA : Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra, 17(1), 111–122. https://doi.org/10.21009/BAHTERA.171.9.
Quyoom, S. (2017). Women Struggle: A Critical Analysis Of Woman At Point Zero And The Color Purple. People: International Journal of Social Sciences, 3(1), 890–807. https://doi.org/10.20319/pijss.2017.s31.890907.
Santosa, A. (2013). Posisi Perempuan dalam Tempurung dan Ayu Manda: Dua Novel Karya Perempuan dan LakiLaki Pengarang Bali.
ATAVISME, 16(2), 229–245. https://doi.org/10.24257/atavisme.v16i2.96.229-245.
Sultana, A. (2011). Patriarchy and Women’s Subordination: A Theoretical Analysis. The Arts Faculty Journal, (June 2010-July 2011).
NARASI PASTORAL DAN KRITIK EKOLOGI DALAM ONTOLOGI CERPEN TEMUKAN WARNA HIJAU YANG DIPRAKARSAI RENI ERINA (KAJIAN EKOKRITIK SASTRA)
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk narasi pastoral dan kritik ekologi dalam ontologi cerpen Temukan Warna Hijau yang diprakarsai oleh Reni Erina dengan menggunakan perspektif ekokritik. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif analisis. Data dalam penelitian berupa teks yang mengacu pada rumusan masalah tentang bentuk narasi pastoral dan kritik ekologi dalam ontologi cerpen Temukan Warna Hijau , sedangkan sumber data dalam penelitian ini yaitu ontologi cerpen Temukan Warna Hijau yang diprakarsasi oleh Reni Erina dan diterbitkan oleh PT Elex Media Komputindo pada tahun 2014. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik baca dan catat, sedangkan teknik analisis data dilakukan melalui tahapan identifikasi, klasifikasi, interpretasi, dan penarikan simpulan.
Instrumen dalam penelitian ini yaitu penulis yang berdasarkan pada penelitian tentang bentuk narasi pastoral dan kritik ekologi. Berdasarkan hasil penelitian, dalam ontologi cerpen Temukan Warna Hijau yang diprakarsai Reni Erina ditemukan adanya narasi pastoral (kearifan lingkungan) yang ditunjukkan para tokoh, seperti sikap kasih sayang dan kepedulian terhadap alam, sikap hormat terhadap alam, serta sikap tanggung jawab terhadap alam. Selain itu, dalam ontologi cerpen Temukan Warna Hijau yang diprakarsai Reni Erina juga ditemukan kritik ekologi dalam bentuk pencemaran ekosistem sungai, punahnya makhluk hidup dalam sebuah ekosistem, serta illegal logging .
References.
Anggarista, Randa dan Nurhadi. (2018). Representasion of Benuaq Ethnic’s Environemental Wisdom in the Novel of Api Awan Asap by Korrie Layun Rampan. International Journal of Language and Literature, 6 (1), 38-45.
Bergthaller, Hannes, et al. (2014). Mapping Common Ground: Ecocriticism, Environmental History, and the Environmental Humanities.
Environmental Humanities, 5, 261-276.
Buell, Lawrence. (2005). The Future of Enviromental Criticism: Environemntal Crisis anda Literary Imagination. USA: Blackwell Publishing.
Dewi, Novita. (2015). Manusia dan Lingkungan dalam Cerpen Indonesia Kontemporer: Analisis Ekokritik Cerpen Pilihan Kompas. Jurnal Litera, 14 (2), 376-391.
Endraswara, Suwardi. (2016). Metodologi Penelitian Ekologi Sastra: Konsep, Langkah, dan Penerapan. Yogyakarta: CAPS.
Fauzi, Ammar Akbar. (2014). Kritik Ekologi dalam Kumpulan Cerpen Kayu Naga Karya Korrie Layun Rampan Melalui Pendekatan Ekokritik.
Skripsi, tidak diterbitkan. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.
Erina, Reni. (2014). Temukan Warna Hijau. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.
Garrard, Greg. (2004). Ecocriticism: The New Critical Idiom. London and New York: Routledge.
Glotfelty, C and Harold F. (1996). The Ecocriticism Reader: Landmarks in Literary Ecology. London: University of Georgia Press.
Goldwyn, Adam J. (2015). Toward a Byzantine Ecocriticism: Witches and Nature Control in the Medieval Greek Romance. Byzantine and Modern Greek Studies, 39 (1), 66-84.
Keraf, A. S. (2010). Etika Lingkungan Hidup. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara.
Love, Glen A. (2003). Practical Ecocriticism: Literature, Biology, and The Environment. USA: University of Virginia Press.
Mahyudin, dkk. (2015). Analisis Kualitas Air dan Strategi Pengendalian Pencemaran Air Sungai Metro di Kota Kepanjen Kabupaten Malang. J- PAL, 6 (2), 105-114.
Maimunah. (2014). Perlawanan Alam terhadap Kolonialisme dalam Cerpen Pohon Jejawi Karya Budi Darma. Jurnal Litera, 13 (2), 326-337.
Puspitasari, Dinarjati Eka. (2009). Dampak Pencemaran Air Terhadap Kesehatan Lingkungan dalam Perspektif Hukum Lingkungan: Studi Kasus Sungai Code di Kelurahan Wirogunan Kecamatan Mergangsan dan Kelurahan Prawirodirjan Kecamatan Gondomanan Yogyakarta. MIMBAR HUKUM, 21 (1), 23-35.
Richard, K. (1998). Small Rooms and The Ecosystem: Environmentalism and De Lillo’s White Noise, in Kerridge, R., and Sammells, N. (eds).
London: Zed Books.
Schickling, Jared. (2011). Ecocriticism, Ecopoetics, Legibility: Among Other Things, the Objectively Signified. Literary Imagination, 13 (1), 80- 88.
Taylor, Jesse Oak. (2015). Ehere is Victorian Ecocriticism. Victorian Literature and Culture, 43, 877-894.
Wiyatmi. (2016). Conquest and Care for the Preservation of Nature and Environment in the Novel Amba by Laksmi Pamuntjak: Study Ecocriticism. Humaniora, 28 (3), 315-323.
Yahya, Hamoud., Zalina, Mohd, Zalim., & Ravichandran, Vengadasamy. (2012). Eco- Resistance in the Poetry of the Arab Poet Mahmoud Darwish. The Southeast Asian Journal of English Language Studies, 18 (1), 75-85.