• Tidak ada hasil yang ditemukan

TEORI MODEL PEMBELAJARAN APTITUDE TREATMENT INTERACTION, INKUIRI, KONSTRUKTIVISME DAN NUMBERED HEAD TOGETHER

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "TEORI MODEL PEMBELAJARAN APTITUDE TREATMENT INTERACTION, INKUIRI, KONSTRUKTIVISME DAN NUMBERED HEAD TOGETHER"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

TEORI MODEL PEMBELAJARAN APTITUDE TREATMENT INTERACTION, INKUIRI, KONSTRUKTIVISME DAN

NUMBERED HEAD TOGETHER

Oleh:

Herliaman Telaumbanua Guru SMP Negeri 3 Gido

Abstract

The learning model is a pattern or plan that has been planned in such a way and used to develop a curriculum, organize subject matter and provide instructions to teachers in the class. Cooperative learning is a broader concept encompassing all types of group work including forms that are more teacher-led or teacher-directed. The aptitude treatment interaction learning model is an approach that seeks to find treatments that are in accordance with the different abilities of students, namely the optimally effective treatment applied to students with different levels of ability. The Inquiry learning model (SPI) is a series of learning activities that emphasize critical and analytical thinking processes to seek and find answers to a problem in question. Constructivism Learning Model is a learning model that emphasizes students to actively form their own knowledge based on knowledge and experience. The Number Head Together learning model is a learning model that focuses on student activities in group discussions.

Keywords : Aptitude Treatment Interaction, Inquiry, Constructivsm, Number Head Together.

PENDAHULUAN

Untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan maka dalam proses pembelajaran keterlibatan siswa sangat perlu, namun kenyataanya dalam kegiatan belajar mengajar terdapat siswa yang masih pasif, hanya tahu menerima dan mendengarkan penjelasan yang disampaikan oleh guru, proses pembelajaran tersebut tidak sesuai dengan KTSP yang berlaku saat ini, yang mengakibatkan sulit tercapainya tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan, serta berdampak pada sulit tercapainya tujuan pendidikan yang kita harapkan.

Untuk itu peran guru sangat dibutuhkan dalam dunia pendidikan, salah satu diantaranya bagaimana seorang guru mampu menerapkan berbagai strategi pembelajaran dalam proses pembelajaran. Keberhasilan proses

pembelajaran merupakan hal utama yang didambakan dalam melaksanakan pendidikan di sekolah. Dalam proses pembelajaran komponen utama adalah guru dan siswa. Agar proses pembelajaran berhasil, maka guru harus membimbing siswa sedemikian rupa sehingga mereka dapat mengembangkan pengetahuannya sesuai dengan struktur pengetahuan mata pelajaran yang dipelajarinya.

OIeh karena itu, untuk dapat mencapai seperti apa yang diharapkan di atas, peran guru dalam mengelola pembelajaran di kelas mempunyai pengaruh yang sangat besar. Ini berarti strategi ataupun model pembelajaran yang akan dipilih dan digunakan oleh guru akan sangat berperan dalam ikut menentukan keberhasilan tujuan tersebut. Sehubungan dengan hal yang terurai diatas, seorang guru mempunyai

(2)

tanggung jawab yang begitu besar dalam melaksanakan pembelajaran disekolah.

Hendaknya sebagai seorang guru yang professional pelaksanaan proses pembelajaran harus didesain sedemikian rupa sehingga dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan tanpa menimbulkan rasa bosan bagi siswa. Suasana yang dimaksud hanya akan tercipta jika pembelajaran yang berlangsung berpusat pada siswa atau dalam praktiknya siswa sendirilah yang bekerja untuk mencari sumber ilmu pengetahuan ataupun mencari penyelesaian dari suatu permasalahan yang diperhadapkan.

Keaktifan siswa dalam proses pembelajaran dapat dipupuk melalui penerapan berbagai strategi, model, metode ataupun pendekatan pembelajaran kooperatif yang berpusat pada siswa Karli, dkk (2007:9).

Tentunya setiap guru yang mengajar dikelas wajib untuk menguasai penerapan model-model pembelajaran kooperatif sehingga pembelajaran yang berlangsung tidak lagi konvensional.

PEMBAHASAN

Pengertian Model Pembelajaran Model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru yang disesuaikan dengan tujuan pembelajaran dan karakteristik materi. Dengan kata lain model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, strategi dan metode. Karli, dkk (2007:10) menyatakan bahwa:

Model pembelajaran adalah gabungan dari pendekatan atau strategi serta metode yang dilakukan untuk menyampaikan suatu pembelajaran mata pelajaran pada siswa agar penyampaian dapat diterima oleh siswa dengan enjoi tetapi melibatkan aspek kognitif, aspek afektif dan aspek psikomotor syang dibutuhkan oleh siswa untuk

mengembangkan potensinya. Sejalan dengan itu Suprijono (2009:46) menyatakan bahwa “model pembelajaran dapat didefenisikan sebagai kerangka konseptual yang melukiskan prosedur sistimatis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar”. Lebih lanjut Joice dan Weil dalam Isjoni (2007:50) menyatakan bahwa: Model pembelajaran adalah suatu pola atau rencana yang sudah direncanakan sedemikian rupa dan digunakan untuk menyusun kurikulum, mengatur materi pelajaran dan memberi petunjuk kepada pengajar di kelasnya. Dengan demikian disimpulkan bahwa model pembelajaran adalah pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas.

Model Pembelajaran Kooperatif Menurut Suprijono (2009:54) bahwa, “pembelajaran kooperatif adalah konsep yang lebih luas meliputi semua jenis kerja kelompok termasuk bentuk- bentuk yang lebih dipimpin oleh guru atau diarahkan oleh guru.” Beberapa pakar lain memberi pengertian lain tentang pembelajaran kooperatif.

Sanjaya (2008:241) mengatakan bahwa,

“model pembelajaran kelompok adalah rangkaian kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa dalam kelompok- kelompok tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan.” Senada dengan itu Nurhadi (2004:112) mengemukakan bahwa, “pembelajaran kooperatif (kooperatif learning) adalah pendekatan pembelajaran yang berfokus pada penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar.” Lebih lanjut Lie (2008:12) mengatakan bahwa, “sistem pengajaran yang memberi kesempatan kepada anak didik untuk bekerjasama dengan sesama siswa dalam tugas-tugas yang terstruktur disebut sebagai sistem ‘pembelajaran

(3)

gotong royong’ atau kooperatif learning.” Dan Johnson & Johnson dalam Isjoni (2007:45) menyatakan bahwa, “cooperatif learning berarti belajar bersama-sama, saling membantu antara satu dengan yang lain dalam belajar dan memastikan setiap orang dalam kelmpok mencapai tujuan atau tugas yang telah ditentukan sebelumnya.”

Jenis-Jenis Model Pembelajaran Kooperatif Yang Dapat Diterapkan Dalam Pembelajaran

Model Pembelajaran Aptitude Treatment Interaction

Menurut Nurdin (2005:37) ”Model pembelajaran aptitude treatment interactionadalah suatu konsep atau pendekatan yang memiliki sejumlah strategi pembelajaran yang efektif digunakan untuk individu tertentu sesuai dengan kemampuannya masing- masing”. Model pembelajaran aptitude treatment interaction sebagai sebuah pendekatan yang berusaha mencari dan menemukan perlakuan-perlakuan (treatments) yang sesuai dengan perbedaan kemampuan peserta didik, yaitu perlakuan yang secara optimal efektif diterapakan untuk siswa yang berbeda tingkat kemampuannya. Hal ini menunjukkan bahwa hasil belajar yang diperoleh siswa dipengaruhi oleh kondisi pembelajaran yang dikembangkan oleh guru di dalam kelas.Dengan demikian semakin cocok model pembelajaran yang diterapkan guru dengan melihat perbedaan kemampuan siswa maka semakin optimal hasil belajar yang dicapai.

a. Tujuan Pembelajaran Aptitude Treatment Interaction

Nurdin (2005:39) menyatakan bahwa : ”Model pembelajaran aptitude treatment interaction bertujuan untuk menciptakan dan mengembangkan suatu model pembelajaran yang betul-betul peduli dan memperhatikan keterkaitan

antara kemampuan seseorang dengan pengalaman belajar atau secara khas dengan model pembelajaran”. Untuk mencapai tujuan tersebut model pembelajaran aptitude treatment interaction berupaya menemukan dan memilih sejumlah pendekatan, metode, strategi yang akan digunakan sebagai perlakuan yang tepat yaitu treatment yang sesuai dengan perbedaan kemampuan siswa. Kemudian melalui suatu interaksi guru dan siswa dikembangkan perlakuan-perlakuan tersebut dalam proses pembelajaran, sehingga dapat diciptakan optimalisasi hasil belajar.

b. Langkah-Langkah Model Pembelajaran Aptitude Treatment Interaction

1) Treatment Awal

Pemberian perlakuan (tindakan) awal terhadap siswa dengan menggunakan tes diagnostik, perlakuan pertama ini dimaksudkan untuk menentukan dan menetapkan klasifikasi kelompok siswa berdasarkan tingkat kemampuan (aptitude/ability), dan sekaligus juga untuk mengetahui potensi kemampuan masing-masing siswa dalam menghadapi informasi/pengetahuan atau kemampuan-kemampuan yang baru.

2) Pengelompokan Siswa

Pengelompokan siswa yang didasarkan pada hasil tes diagnostik.

Siswa di dalam kelas diklasifikasikan menjadi tiga kelompok yang terdiri dari siswa yang berkemampuan tinggi, sedang, dan rendah.

Menurut Human Resource Consultan

Lavanda dalam Fredes

Aprilla(2006:50) untuk mengetahui kemampuan berpikir kreatif siswa digunakan kriteria sebagai berikut:

Skor  80

Berpikir kreatif siswa tinggi 61 Skor79

Berpikir kreatif siswa sedang

(4)

Skor  60

Berpikir kreatif rendah

3) Memberikan Perlakuan (Treat- ment)

Memberikan perlakuan kepada masing-masing kelompok siswa (tinggi, sedang dan rendah) dalam bentuk proses pembelajaran.

a. Bagi Kelompok Siswa Yang Memiliki Kemampuan Tinggi Perlakuan yang diberikan adalah belajar mandiri (self-learning) dengan menggunakan modul plus yaitu belajar secara mandiri melalui modul dan buku-buku teks yang relevan. Pemilihan belajar melalui modul didasari anggapan bahwa siswa akan belajar lebih baik jika mereka dilakukan dengan cara sendiri dan terfokus langsung pada penguasaan tujuan khusus atau seluruh tujuan.

b. Bagi Kelompok Siswa Yang Memiliki kemampuan Sedang Dan Rendah

Perlakuan yang diberikan adalah pembelajaran reguler atau pembelajaran konvensional sebagai mana biasanya. Hanya saja selama penelitian dan pengembangan berlangsung secara optimal. Artinya pembelajaran semaksimal mungkin harus mengikuti petunjuk pelaksanaan kegiatan belajar mengajar.

Misalnya dengan menggunakan metode pembelajaran dan menggunakan sumber belajar yang relevan.

c. Bagi Kelompok Siswa Yang Memiliki Kemampuan Rendah Perlakuan yang diberikan adalah special treatment, yaitu berupa pembelajaran dalam bentuk re- teaching dan tutorial. Pelakuan diberikan setelah kelompok ini bersama-sama dengan kelompok

sedang mengikuti pembelajaran secara reguler. Hal ini dimaksudkan agar secara psikologis siswa berkemampuan rendah tidak merasa diperlakukan sebagai siswa nomor dua di kelas.

Re-teaching dan totorial dipilih sebagai perlakuan khusus (special treatment) untuk kelompok ini yang didasarkan pada pertimbangan bahwa siswa berkemampuan rendah lambat dan sulit dalam memahami dan menguasai bahan pelajaran. Oleh karena itu kelompok ini harus mendapat apresiasi khusus dari guru berupa bimbingan dan bantuan belajar dalam bentuk pengulangan pelajaran kembali melalui tambahan jam belajar (re- teaching) dan tutorial (tutori) sehingga dengan cara demikian mereka dapat menguasai pelajaran yang diajarkan. Seperti diketahui bahwa salah satu tujuan pengajaran atau program tutorial adalah untuk memberikan bantuan dalam pembelajaran kepada siswa yang lambat, sulit dan gagal dalam belajar agar dapat mencapai hasil belajar secara optimal. Perlakuan khusus ini diselenggarakan dalam bentuk pertemuan antara guru dan siswa pada kelompok kecil yang diliputi oleh suasana tanya jawab, diskusi dan pengulangan pelajaran kepada siswa satu per satu ( individu).

4) Achievement-Test

Setelah pembelajaran berakhir dengan menggunakan berbagai perlakuan yang diidentifikasi sebelumnya kemudian diberikan tes untuk mendapatkan tingkat keberhasilan (efektifitas) pengembangan model pembelajaran aptitude treatment interaction.

(5)

c. Pelaksanaan Kegiatan Belajar Mengajar Model Pembelajaran Aptitude Treatment Interaction

Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar menggunakan model pembelajaran aptitude treatment interaction memiliki ciri khusus yaitu siswa dibagi sesuai dengan karakteristik kemampuannya, lalu diberi pembelajaran atau perlakuan-perlakuan yang berbeda-beda. Siswa yang berkemampuan tinggi, pembelajarannya diarahkan kepada belajar secara mandiri (self-learning) dengan menggunakan modul plus dan buku paket, buku-buku teks serta sumber bacaan lainnya yang relevan. Sedangkan untuk siswa yang berkemampuan sedang dan rendah, untuk kesempatan pertama digabungkan dan diberikan pembelajaran secara konvensional (reguler teaching).

Kemudian untuk siswa yang berkemampuan rendah diberi perlakuan khusus berupa re-teaching dan tutorial melalui tambahan belajar.

Pembelajaran Self-learning yang dikembangkan pada siswa yang berkemampuan tinggi tidak banyak menuntut kinerja dan kemampuan khusus dari guru. Karena di dalam modul fase atau tahap-tahap kegiatan yang akan dilalui serta bentuk-bentuk kegiatan belajar yang akan dilakukan siswa sudah tersedia sedemikian rupa. Dengan demikian berarti pembelajaran sudah dapat berjalan dengan sendiri baik ada guru maupun tidak. Selain dari kemampuan untuk mempersiapkan modul yang perlu juga dipersiapkan dari guru adalah kemampuan dalam memberikan pengarahan, bimbingan dan dorongan agar siswa kelompok ini lebih giat lagi meningkatkan belajarnya.

Model Pembelajaran Inkuiri

Menurut Sagala (2009:89) mengatakan: “Inkuiri (menemukan) merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran kontekstual”.

Selanjutnya, Sanjaya (2009:194)

menyatakan bahwa: Model pembelajaran Inkuiri (SPI) adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran Inkuiri merupakan suatu cara yang dapat diterapkan oleh guru dalam proses pembelajaran untuk melatih dan meningkatkan kemampuan belajar siswa dalam menemukan dan mencari sendiri jawaban dari suatu permasalahan yang diajukan dengan usaha sendiri.

Ciri-ciri Strategi Pembelajaran Inkuiri (SPI)

Dalam Sanjaya (2009:196) ada beberapa hal yang menjadi ciri utama SPI sebagai berikut: (1) Inkuiri menekankan kepada aktivitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan, artinya strategi Inkuiri menempatkan siswa sebagai subjek belajar. (2) Seluruh aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri dari suatu yang dipertanyakan, sehingga diharapkan dapat menumbuhkan sikap percaya diri (self belief) (3) Tujuan dari penggunaan strategi pembelajaran Inkuiri adalah mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis, dan kritis, atau mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental.

Langkah-Langkah Pelaksanaan Strategi Pembelajaran Inkuiri (SPI)

Ada beberapa langkah-langkah strategi pembelajaran Inkuiri dalam proses pembelajaran. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan Sanjaya (2009:200-203), yaitu sebagai berikut :

(6)

1. Orientasi

Langkah orientasi adalah langkah untuk membina suasana atau iklim pembelajaran yang responsif. Pada langkah ini guru mengondisikan agar siswa melaksanakan proses pembelajaran. Beberapa hal yang dapat dilakukan dalam tahapan orinetasi ini adalah : (1) Menjelaskan topik, tujuan, dan hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa (2) Menjelaskan pokok-pokok kegiatan yang harus dialakukan oleh siswa untuk mencapai tujuan. (3) Menjelaskan pentingnya topik dan kegiatan belajar.

2. Merumuskan Masalah

Merumuskan masalah merupakan langkah membawa siswa pada suatu persoalan yang mengandung teka- teki. Persoalan yang disajikan adalah persoalan yang menantang siswa untuk berpikir memecahkan teka-teki itu. Dikatakan teka-teki dalam rumusan masalah yang ingin dikaji disebabkan masalah itu tentu ada jawabannya, dan siswa didorong untuk mencari jawaban yang tepat.

Proses mencari jawaban itulah yang sangat penting dalam strategi Inkuiri, oleh sebab itu melalui proses tersebut siswa akan memperoleh pengalaman yang sangat berharga sebagai upaya mengembangkan mental melalui proses berpikir

3. Merumuskan Hipotesis

Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang sedang dikaji. Sebagai jawaban sementara, hipotesis perlu diuji kebenarannya.

4. Mengumpulkan Data

Mengumpulkan data adalah aktivitas menjaring informasi yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan. Tugas dan peran guru dalam tahapan ini adalah mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk berpikir mencari informasi yang dibutuhkan.

5. Menguji Hipotesis

Menguji hipotesis adalah proses menentukan jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh berdasarkan pengumpulan data.

Yang penting dalam menguji hipotesis adalah mencari tingkat keyakinan siswa atas jawaban yang diberikan.

6. Merumuskan Kesimpulan

Merumuskan kesimpulan adalah proses mendeskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis. Merumuskan kesimpulan merupakan gong-nya dalam proses pembelajaran.

Model Pembelajaran Konstruktivisme

Konstruktivisme berasal dari bahasa latin “con struere” artinya menyusun atau membentuk struktur.

Konstruktivisme merupakan proses pembelajaran yang menerangkan bagaimana pengetahuan disusun dalam diri manusia. Dalam proses pembelajaran konstruktivisme, belajar dilihat sebagai penyusunan pengetahuan melalui pengalaman konkrit yang dibangun manusia sedikit demi sedikit yang hasilnya diperoleh melalui konteks yang terbatas.

Model pembelajaran kon- struktivisme menekankan siswa untuk membentuk sendiri pengetahuannya secara aktif berdasarkan pengetahuan dan pengalaman. Sanjaya (2008:262) menyatakan bahwa “konstruktivisme adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman. Lebih lanjut Nurhadi (2004:46) menyatakan bahwa: Model pembelajaran konstruktivisme menuntut peserta didik berperan aktif dalam pembelajaran mereka sendiri, karena penekanannya pada peserta didik yang aktif maka strategi pembelajarannya

(7)

merupakan pengajaran yang terpusat pada peserta didik.

Ciri-Ciri Model Pembelajaran Konstruktivisme

Dalam http://defantri.blogspot.

com menguraikan beberapa ciri model pembelajaran konstruktivisme dalam pembelajaran matematika sebagai berikut: (1) Siswa terlibat secara aktif dalam belajarnya. (2) Siswa belajar materi matematika secara bermakna. (3) Siswa belajar bagaimana belajar itu. (4) Informasi baru harus dikaitkan dengan informasi sebelumnya sehingga menyatu dengan skemata yang telah dimiliki siswa. (5) Orientasi pembelajaran adalah investigasi dan penemuan. (6) Berorientasi pada pemecahan masalah.

Prinsip-Prinsip Model Pembelajaran Konstruktivisme

Dalam

http://guru.wordpress.com menguraikan beberapa prinsip model pembelajaran konstruktivisme yang diterapkan dalam belajar mengajar adalah: (1) Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri. (2) Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru kemurid, kecuali hanya dengan keaktifan murid sendiri untuk menalar. (3) Murid aktif mengkonstruksi secara terus menerus, sehingga selalu terjadi perubahan konsep ilmiah. (4) Guru sekedar membantu menyediakan saran dan situasi agar proses konstruksi berjalan lancar. (5) Menghadapi masalah yang relevan dengan siswa. (6) Struktur pembelajaran seputar konsep utama pentingnya sebuah pertanyaan. (7) Mencari dan menilai pendapat siswa.(8) Menyesuaikan kurikulum untuk menanggapi anggapan siswa.

Tahap-Tahap Model Pembelajaran Konstruktivisme

Karli, dkk (2007:17) mengemukakan implikasi model pembelajaran konstruktivisme dalam

pembelajaran meliputi 4 (empat) tahapan yaitu: (1) Apersepsi. (2) Eksplorasi. (3) Diskusi dan penjelasan konsep. (4) Pengembangan dan aplikasi.

Adapun tingkah laku guru pada tahap pembelajaran tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

1) Apersepsi

a) Pembelajaran dimulai dengan hal-hal yang diketahui dan dipahami siswa.

b) Memotivasi siswa agar mengemukakan pengetahuan awalnya tentang materi yang akan dibahas. Bila perlu guru memancing siswa dengan memberikan pertanyaan- pertanyaan tentang fenomena yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari serta mengaitkannya dengan materi yang akan dibahas.

c) Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengomunikasikan, mengilustrasikan

pemahamannya tentang materi yang akan dibahas.

2) Eksplorasi

a) Memperkenalkan materi baru kepada siswa.

b) Mengaitkan materi dengan pengetahuan awal yang ada pada siswa.

c) Mendorong siswa menggunakan metode atau cara belajarnya sendiri agar dapat meningkatkan pemahamannya tentang materi baru yang akan dibahas.

3) Diskusi dan penjelasan konsep a) Memberikan masalah baru

kepada siswa untuk dipecahkan.

b) Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mendiskusikannya secara berkelompok.

c) Membahas hasil diskusi dan membimbing siswa dalam memperbaiki letak kesalahan.

(8)

d) Memotivasi siswa untuk membangun pemahaman atau pengetahuan baru tentang materi yang telah dipelajari.

4) Pengembangan dan aplikasi

Menciptakan iklim pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat mengaplikasikan pemahaman konseptualnya, baik melalui kegiatan atau pemunculan dan pemecahan masalah-masalah.

Model Pembelajaran Numbered Head Together (NHT)

Teknik belajar mengajar Kepala Bernomor (Numbered Heads) pertama kali dikenalkan oleh Spencer Kagan dkk (1993).

Model NHT adalah bagian dari model pembelajaran kooperatif struktural, yang menekankan pada struktur-struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa.Struktur Kagan menghendaki agar para siswa bekerja saling bergantung pada kelompok-kelompok kecil secara kooperatif.Struktur tersebut dikembangkan sebagai bahan alternatif dari sruktur kelas tradisional seperti mangacungkan tangan terlebih dahulu untuk kemudian ditunjuk oleh guru untuk menjawab pertanyaan yang telah dilontarkan.

Teknik ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling membagikan ide- ide dan mempertimbangkan jawaban yang paling tepat. Selain itu, teknik ini juga mendorong siswa untuk meningkatkan semangat kerja sama mereka. Pembelajaran dengan menggunakan metode numbered head together diawali dengan numbering(penomoran). Guru membagi kelas menjadi kelompok-kelompok kecil.

Jumlah kelompok sebaiknya mem- pertimbangkan jumlah konsep yang dipelajari.Setelah kelompok terbentuk guru mengajukan beberapa pertanyaanyang harus dijawab oleh tiap-tiap kelompok.Berikan kesempatan kepada tiap-tiap kelompok menemukan jawaban.Pada kesempatan ini tiap-tiap kelompok menyatukan kepalanya

“Heads Together” berdiskusi memikirkan jawaban atas pertanyaan dari guru. Langkah berikutnya adalah guru memanggil peserta didik yang memiliki nomor yang sama dari tiap-tiap kelompok. Mereka diberi

kesempatan memberi jawaban atas pertanyaan yang telah diterimanya dari guru.

Hal itu dilakukan terus hingga semua peserta didik dengan nomor yang sama dari masing- masing kelompok mendapatkan giliran memaparkan jawaban atas pertanyaan guru.

Berdasarkan jawaban itu guru dapat mengembangkan diskusi lebih mendalam, sehingga peserta didik dapat menemukan jawaban pertanyaan itu sebagai pengetahuan yang utuh.

Langkah-Langkah Pelaksanaan Pem- belajaran Numbered Head Together

Langkah-langkah dalam pelaksanaan numbered head together(NHT)menurut Spencer Kagan dalam Harefa (2010:101):

1. Penomoran

Penomoran adalah hal yang utama di dalam NHT, dalam tahap ini guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok atautim yang beranggotakan tiga sampai lima orang dan memberi siswa nomor sehingga setiap siswa dalam tim mempunyai nomor berbeda-beda, sesuai dengan jumlah siswa di dalam kelompok.

2. Pengajuan Pertanyaan

Langkah berikutnya adalah pengajuan pertanyaan, guru mengajukan pertanyaan kepada siswa. Pertanyaan yang diberikan dapat diambil dari materi pelajaran tertentu yang memang sedang di pelajari, dalam membuat pertanyaan usahakan dapat bervariasi dari yang spesifik hingga bersifat umum dan dengan tingkat kesulitan yang bervariasi pula.

3. Berpikir Bersama

Setelah mendapatkan pertanyaan- pertanyaan dari guru, siswa berpikir bersama untuk menemukan jawaban dan menjelaskan jawaban kepada anggota dalam timnya sehingga semua anggota mengetahui jawaban dari masing-masing pertanyaan.

4. Pemberian Jawaban

Langkah terakhir yaitu guru menyebut salah satu nomor dan setiap siswa dari tiap kelompok yang bernomor sama mengangkat tangan dan menyiapkan

(9)

jawaban untuk seluruh kelas, kemudian guru secara random memilih kelompok yang harus menjawab pertanyan tersebut, selanjutnya siswa yang nomornya disebut guru dari kelompok tersebut mengangkat tangan dan berdiri untuk menjawab pertanyaan. Kelompok lain yang bernomor sama menanggapi jawaban tersebut.

5. Kesimpulan.

Guru bersama siswa menyimpulkan jawaban akhir dari semua pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang disajikan.

Keunggulan dan Kelemahan

Pembelajaran Numbered Head Together Menurut Hamdani (2011:90) bahwa model pembelajaran numbered head together memiliki keunggulan dan kelemahan diataranya:

a. KeunggulanNumber Head Together 1) Setiap siswa menjadi siap semua.

2) Siswa dapat melakukan diskusi dengan sungguh-sungguh.

3) Siswa yang pandai dapat mengajari siswa yang kurang pandai.

b. Kelemahan Number Head Together 1) Kemungkinan nomor yang dipanggil,

dipanggil lagi oleh guru.

2) Ada kemungkinan tidak semua anggota kelompok dipanggil oleh guru.

Selain itu, model pembelajaran Number Head Together (NHT) merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif, sehingga di dalamnya juga dapat ditemukan kelebihan dan kelemahan tentangpembelajaran kooperatif.

Manfaat Pembelajaran Numbered Head Together

Ada beberapa manfaat pada model pembelajaran kooperatif tipe NHT terhadap siswa yang hasil belajar rendah yang dikemukakan oleh Lundgren dalam Ibrahim (2000:18), antara lain adalah : (1) Rasa harga diri menjadi lebih tinggi (2) Memperbaiki kehadiran (3) Penerimaan terhadap individu menjadi lebih besar (4) Perilaku mengganggu menjadi lebih kecil (5) Konflik antara pribadi berkurang (5) Pemahaman yang lebih mendalam (6) Meningkatkan

kebaikan budi, kepekaan dan toleransi (7) Hasil belajar lebih tinggi

PENUTUP

Memberhasilkan pelaksanaan proses pembelajaran merupakan tanggung jawab yang harus dipenuhi oleh setiap pendidik. Keberhasilan yang dimaksud akan dapat terwujud ketika pembelajaran yang berlasung menyenangkan bagi siswa. Kondisi ini hanya akan tercipta ketika guru tidak lagi mengajar secara konvensional melainkan seorang guru harus mampu menerapkan berbagai pendekatan, model dan strategi pembelajaran yang bervariasi demi untuk menciptakan pembelajaran yang benar-benar berpusat pada siswa.

DAFTAR RUJUKAN

1. Bistari, 2008, Kontribusi Matematika Terhadap Ilmu Exacta, (Online),

(http://defantri.blogspot.com, diakses pada 20 Agustus 2021).

2. Hamdani, 2011, Strategi Belajar Mengajar. Bandung : , Pustaka setia 3. Isjoni, 2007, Cooperative Learning

Efektivitas Pembelajaran Kelompok. Bandung : Alfabeta, 4. Karli, Hilda, dkk., 2007, Kurikulum

Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Bandung : Generasi Info Media 5. Lie, Anita, 2008, Cooperatif

Learning Mempraktekkan Cooperatif Learning di Ruang- ruang Kelas. Jakarta : Grasindo 6. Nanangwahid, 2009, Teori Belajar

Konstruktivisme, (Online), (http://guru.wordpress.com, diakses pada 20 Agustus 2021).

7. Suprijono, Agus, 2009, Cooperative Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta: Pustaka Belajar,

8. Sanjaya, Wina, 2008, Strategi Pembelajar Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta : Kencana

(10)

9. Suherman, dkk. 2001. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: JICA UPI.

10. Nurhadi, 2004, Kurikulum 2004 Pertanyaan dan Jawaban. Jakarta : PT Gramedia Widiasarana Indonesia.

11. Nurdin. 2005. Model Pembelajaran Yang Kurang Memperhatikan Keragaman Individu Siswa Dalam Krikulum Berbasis Kompetensi.

Rineka Cipta Jakarta.

Referensi

Dokumen terkait

Penetapan Inpassing Pangkat Dosen Bukan PNS yang telah menduduki Jabatan Akademik pada Perguruan Tinggi yang diselenggarakan oleh Masyarakat dengan Pangkat Pegawai Negeri

Kegiatan program kemitraan masyakakat (PKM) nelayan tradisional pesisir pantai Karang Bangket Lombok Barat ini bertujuan untuk meningkatkan jam operasional nelayan

• Bank card adalah “ kartu plastik”atau yang biasa kita sebut dengan ATM, yang dikeluarkan oleh bank yang bersangkutan kepada nasabahnya untuk dipergunakan sebagai alat pembayaran

Penyebab tingginya kadar logam berat dalam sedimen pada musim penghujan kemungkinan disebabkan oleh tingginya laju erosi pada permukaan tanah yang terbawa ke dalam badan

Sehubungan dengan akan dilaksanakannya Evaluasi Dokumen Kualifikasi dan Pembuktian Kualifikasi untuk paket pekerjaan PEMASANGAN JARINGAN INTERNET SEKOLAH, dengan ini kami undang

Dalam menentukan kualitas jaringan komunikasi data khususnya jaringan internet , terdapat dua hal penting yaitu besarnya delay dan kecepatan dari suatu paket data

Mengumpulkan data adalah aktivitas untuk menjaring informasi yang dibutuhkan dalam menguji hipotesis yang diajukan. Dalam pembelajaran inkuiri, mengumpulkan data

Persentase yang ditunjukkan untuk hasil belajar tinggi sebesar 57,1%, sedangkan persentase untuk hasil belajar rendah sebesar 42,9 % ini berarti bahwa siswa kelas V SDN Melayu