• Tidak ada hasil yang ditemukan

CERITA RAKYAT DAN HIKAYAT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "CERITA RAKYAT DAN HIKAYAT"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

CERITA RAKYAT DAN HIKAYAT

Semester 2 Kelas X SMA/MA/SMK/MAK – KTSP 2006

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar

Mendengarkan dan Membaca

12. Memahami cerita rakyat yang dituturkan.

Memahami sastra Melayu Klasik

12.1 Menemukan hal-hal yang menarik tentang tokoh cerita rakyat dan latar cerita rakyat yang disampaikan secara langsung atau melalui rekaman.

12.2 Mengidentifi kasi karakteristik dan struktur unsur intrinsik sastra Melayu klasik.

12.3 Menemukan nilai-nilai yang terkandung di dalam sastra Melayu klasik.

Tujuan Pembelajaran

Setelah mempelajari materi ini, kamu diharapkan mempunyai kemampuan berikut ini.

1. Memahami konsep dasar cerita rakyat dan sastra Melayu klasik dan hikayat.

2. Menemukan hal-hal yang menarik tentang tokoh dan latar cerita rakyat.

3. Mengidentifi kasi karakteristik dan unsur intrinsik hikayat.

4. Menemukan nilai-nilai yang terkandung di dalam hikayat.

bahasa indonesia K

e l a s X

K TSP

(2)

2

A. Cerita Rakyat

1. Pengertian Cerita Rakyat

Cerita rakyat adalah salah satu karya sastra, yaitu berupa cerita yang lahir, hidup, berkembang pada beberapa generasi dalam masyarakat tradisional, dan disebarkan secara lisan di antara kolektif tertentu dalam kurun waktu yang cukup lama. Cerita rakyat merupakan ekspresi budaya suatu masyarakat yang berhubungan langsung dengan berbagai aspek, seperti nilai-nilai sosial, agama, kepercayaan, dan sejarah.

Umumnya, cerita rakyat berbentuk dongeng, seperti legenda, fabel, pelipur lara, mite, atau sage. Tokoh-tokohnya diwujudkan dalam bentuk binatang, manusia, atau dewa yang kesemuanya disifatkan, seperti manusia. Cerita rakyat sangat digemari oleh warga masyarakat karena dapat dijadikan pelipur lara dan suri teladan yang mengandung nilai- nilai dan pesan moral.

2. Karakteristik atau Ciri-Ciri Cerita Rakyat

a. Lisan, artinya cerita rakyat berkembang secara lisan dari satu generasi ke generasi yang lebih muda. Akibatnya, seringkali ceritanya mendapat variasi yang mana cerita yang sama diceritakan dalam versi yang berbeda.

b. Anonim, artinya pada sebuah cerita rakyat nama pencipta pertama kali sudah tidak diketahui sehingga cerita rakyat menjadi karya kolektif atau milik bersama.

c. Bersifat tradisional, artinya cerita rakyat hidup dalam suatu kebudayaan. Bercerita tentang daerah dengan menggunakan bahasa daerah masing-masing yang kaya akan nilai-nilai luhur.

d. Pralogis, artinya cerita rakyat tidak sesuai dengan logika atau ilmu pengetahuan.

Sebagai contoh adalah cerita Gunung Tangkuban Perahu yang terjadi dari perahu yang tertelungkup dalam Sangkuriang dan ini merupakan cerita rakyat dari Jawa Barat.

e. Klise, artinya isi cerita terdapat bentuk-bentuk klise dalam susunan dan cara pengungkapannya.

f. Fungsional, artinya cerita rakyat sebagai media pendidikan, pengajaran moral, dan hiburan.

3. Jenis-Jenis Cerita Rakyat

Cerita rakyat berbentuk dongeng, yakni cerita tentang makhluk khayali. Tokoh-tokohnya memiliki kebijaksanaan atau kekuatan untuk mengatur masalah manusia dengan segala macam cara. Selanjutnya, dongeng dibedakan atas beberapa jenis berikut.

a. Fabel, yaitu dongeng yang pendek biasanya menggunakan tokoh binatang yang berkelakuan seperti manusia serta mengandung suatu ibarat, hikmah, atau ajaran

(3)

3

budi pekerti. Sebagai contoh adalah cerita Kancil yang Cerdik dan Bayan Budiman.

b. Legenda, yaitu dongeng yang isinya tentang tokoh, peristiwa, atau tempat tertentu yang mencampurkan fakta, historis, dan mitos. Legenda dikaitkan dengan keunikan atau keajaiban alam. Legenda juga bercerita tentang asal-usul dunia tumbuh- tumbuhan, binatang, dan tempat.

1.) Cerita asal-usul dunia tumbuh-tumbuhan. Sebagai contoh adalah cerita asal- usul padi dari Dewi Sri atau cerita asal-usul tandan jagung berlubang karena ditombak oleh pohon gandung.

2.) Cerita asal-usul binatang. Sebagai contoh adalah asal-asul sapi bergelambir karena sewaktu mandi bajunya tertukar dengan baju kerbau yang besar.

3.) Cerita asal-usul terjadinya tempat. Sebagai contoh adalah nama Gunung Tengger konon diambil dari nama Rara Anteng dan Joko Seger, Gunung Tangkuban Perahu di Bandung Utara konon berasal dari perahu yang tertelungkup di tendang Sangkuriang, asal-usul Banyuwangi, Surabaya, Minangkabau, dan sebagainya.

c. Sage, yaitu dongeng yang bersifat legendaris tentang pahlawan, keluarga yang terkenal, atau petualangan yang mengagumkan. Umumnya, sage mengandung unsur-unsur sejarah. Sebagai contoh cerita Damarwulan, Terjadinya Kota Majapahit.

d. Mite, yaitu dongeng yang bertokoh makhluk yang luar biasa, dewa-dewa, atau makhluk lain yang dianggap mempunyai sifat kedewaan, mengisahkan peristiwa- peristiwa yang tidak rasional, dan sakral. Sebgai contoh adalah Cerita Gerhana, Nyi Loro Kidul, dan sebagainya.

e. Pelipur lara, yaitu dongeng yang menceritakan kebodohan atau perilaku seseorang yang penuh kejenakaan atau lelucon. Sebagai contoh adalah cerita Pak Pandir, Pak Belalang, Si Lebai Malang, Si Kabayan, dan sebagainya.

4. Menemukan Hal-Hal yang Menarik tentang Tokoh dan Latar Cerita Rakyat

Tokoh dan latar merupakan unsur intrinsik yang terdapat dalam cerita fiksi, termasuk di dalam cerita rakyat. Unsur intriksik lainnya yang terdapat dalam cerita rakyat, yaitu tema, alur, sudut pandang, amanat, penokohan, perwatakan, dan gaya bahasa.

Dalam pembelajaran kali ini, kita akan menemukan hal-hal yang menarik tentang tokoh dan latar di dalam cerita rakyat. Oleh karena itu, terlebih dahulu kita harus mengetahui konsep dasar dari tokoh, latar, dan hal-hal yang menarik dari cerita rakyat.

a. Tokoh

Tokoh adalah pelaku di dalam cerita. Dilihat dari fungsi penampilan tokoh

(4)

4

dibedakan atas dua, yaitu (1) tokoh protagonis adalah tokoh yang berkarakter baik di dalam cerita dan berfungsi menimbulkan simpati; dan (2) tokoh antagonis adalah tokoh yang berkarakter jahat dan berfungsi menimbulkan konflik atau lawan dari protagonis.

Adapun hal-hal yang menarik tentang tokoh dalam cerita rakyat adalah karakter dari tokoh dalam cerita rakyat yang bisa berupa manusia atau hewan. Ada tokoh manusia yang berkarakter bodoh, tetapi sering beruntung; atau tokoh yang berharap berlebihan, tetapi selalu kesusahan dan sebagainya. Hal yang menarik tentang tokoh hewan, misalnya tokoh buaya dapat dibodohi kancil, kura-kura memenangkan lomba adu lari dengan kancil, tokoh ikan yang berasal dari manusia. Pada hakikatnya, hal-hal yang menarik tentang tokoh bergantung persepsi pembaca.

b. Latar

Latar adalah segala tempat, waktu, dan suasana terjadinya lakuan dalam suatu cerita. Hal-hal yang menarik tentang latar dalam cerita rakyat terdiri dari tiga, yakni latar tempat, waktu, dan suasana. Hal menarik dari latar tempat, misalnya tempat- tempat yang disebutkan dalam cerita tersebut tidak ada di kehidupan nyata.

Hal yang menarik dari latar waktu, misalnya kejadian tidak bisa ditentukan waktu terjadinya cerita. Hal menarik dari latar suasana misalnya suasana yang tidak karuan antara senang, sedih, bercampur dengan ketakutan, dan sebagainya.

c. Beberapa Contoh Cerita Rakyat

Sumatra

Sabai nan Aluih

Si Pahit Lidah

Toba

Maninjau

Si Malin Kundang

Batu Menangis

Jakarta Si Pitung

Nyai Dasima Jawa Barat

Lutung Kasarung

Si Kabayan

Sangkuriang

(5)

5

Jawa Tengah

Roro Mendut

Jaka Tingkir

Roro Jongrang

Ajisaka

Jawa Timur Suramenggolo

Bali Jayaprana dan Layonsari

Desa Trunyan

5. Menemukan Hal-Hal yang Menarik tentang Tokoh dan Latar dalam Cerita Rakyat

a. Cerita Rakyat Danau Toba yang Sudah Dinaskahkan

Danau Toba

Pada zaman dahulu, hiduplah seorang pemuda tani, yatim piatu, di bagian utara Pulau Sumatra. Daerah tersebut sangatlah kering. Pemuda itu hidup dari bertani dan mendurung ikan. Hingga pada suatu hari ia mendurung sudah setengah hari ia melakukan pekerjaan itu, tetapi tak satu pun ikan didapatnya.

Akhirnya, ia pun bergegas pulang karena hari pun mulai larut malam. Namun ketika ia hendak pulang ia melihat seekor ikan yang besar dan indah, warnanya kuning emas. Ia pun menangkap ikan itu dan dengan segera ia membawa pulang ikan tersebut. Sesampainya di rumah karena sangat lapar maka ia hendak memasak ikan itu.

Akan tetapi karena indahnya ikan itu, ia pun mengurungkan niatnya untuk memasak ikan itu. Ia lebih memilih untuk memeliharanya lalu ia menaruhnya di sebuah wadah yang besar dan memberi makan. Keesokan harinya seperti biasanya ia pergi bertani ke ladangnya dan hingga tengah hari ia pun pulang ke rumah dengan tujuan hendak makan siang, tetapi alangkah terkejutnya ia, ketika melihat rumahnya, di dalam rumahnya telah tersedia masakan yang siap untuk dimakan.

Pemuda itu pun terheran-heran lalu teringat pada ikannya karena takut dicuri orang. Dengan bergegas, ia lari ke belakang untuk melihat ikan yang dipancingnya semalam. Ternyata, ikan tersebut masih berada di tempatnya. Lama ia berpikir siapa yang melakukan semua itu, tetapi karena perutnya sudah lapar, akhirnya ia pun menyantap dengan lahapnya masakan tersebut.

(6)

6

Dan kejadian ini pun terus berulang-ulang, setiap ia pulang makan, masakan tersebut telah terhidang di rumahnya. Hingga pemuda tersebut mempunyai siasat untuk mengintip siapa yang melakukan semua itu. Keesokan harinya ia pun mulai menjalankan siasatnya. Ia pun mulai bersembunyi di antara pepohonan dekat rumahnya. Lama ia menunggu, namun asap di dapur rumahnya belum juga terlihat, dan ia pun berniat untuk pulang karena telah bosan lama menunggu, tetapi begitu ia akan keluar dari persembunyiannya. Ia mulai melihat asap di dapur rumahnya dengan perlahan-lahan ia berjalan menuju ke belakang rumahnya untuk melihat siapa yang melakukan semua itu.

Alangkah terkejutnya dirinya ketika ia melihat siapa yang melakukan semua itu.

Ia melihat seorang wanita yang sangat cantik dan ayu berambut panjang. Dengan perlahan-lahan, ia memasuki rumahnya dan menangkap wanita tersebut lalu ia berkata, “Hai wanita, siapakah engkau, dan dari mana asalmu?”

Wanita itu tertunduk diam dan mulai meneteskan air mata lalu pemuda itu pun melihat ikannya tak lagi berada di dalam wadah. Ia pun bertanya pada wanita itu,

“Hai wanita, kemanakah ikan yang di dalam wadah ini?”

Wanita itu pun makin menangis tersedu-sedu, tetapi pemuda itu terus memaksa dan akhirnya wanita itu pun berkata, “Aku adalah ikan yang kau tangkap kemarin.”

Pemuda itu pun terkejut karena pemuda itu merasa telah menyakiti hati wanita itu, pemuda tersebut berkata,

“Hai, wanita maukah engkau menjadi Istriku?"

Wanita itu terkejut, dia hanya diam dan tertunduk lalu si pemuda berkata,

“Mengapakah engkau diam!”

Lalu, wanita itu pun berkata, “Aku mau menjadi istrimu, tetapi dengan satu syarat.”

“Apakah syarat itu,” balas pemuda itu dengan cepat bertanya. Wanita itu berkata,

“Kelak jika anak kita lahir dan tumbuh, janganlah pernah engkau katakan bahwa dirinya adalah anakni dekke (anaknya ikan).”

Pemuda itu pun menyetujui persyaratan itu dan bersumpah tidak akan mengatakannya lalu menikahlah mereka. Hingga mereka mempunyai anak yang berusia 6 tahunan. Anak itu sangatlah nakal dan tak pernah mendengar jika dinasihati.

Suatu hari sang ibu menyuruh anaknya untuk mengantar nasi ke ladang ke tempat ayahnya. Anak itu pun pergi mengantar nasi kepada ayahnya, tetapi di tengah perjalanan ia terasa lapar. Ia pun membuka makanan yang dibungkus untuk ayahnya dan memakan makanan itu. Setelah selesai memakannya kemudian

(7)

7

ia pun membungkusnya kembali dan melanjutkan perjalanannya ketempat sang ayah. Sesampainya di tempat sang ayah, ia memberikan bungkusan tersebut kepada sang ayah dengan sangat senang ayahnya menerimanya. Lalu, ayahnya pun duduk dan segera membuka bungkusan nasi yang dititipkan istrinya kepada anaknya. Alangkah terkejutnya ayahnya melihat isi bungkusan itu yang ada hanya tinggal tulang ikan saja.

Sang ayah pun bertanya kepada anaknya, “Hai anakku, mengapa isi bungkusan ini hanya tulang ikan belaka?”

Anaknya pun menjawab, “Di perjalanan tadi perutku terasa lapar jadi aku memakannya.”

Sang ayah pun emosi dengan kuat ia menampar pipi anaknya sambil berkata “Botul maho anakni dekke (betul lah engkau anaknya ikan).”

Sang anak pun menangis dan berlari pulang ke rumah. Sesampainya di rumah anaknya pun menanyakan apa yang dikatakan ayahnya, “Mak, olo do na di dokkon amangi, botul do au anakni dekke (mak benarnya yang dikatakan ayah itu, benarnya aku ini anaknya ikan)?”

Mendengar perkataan anaknya, ibunya pun terkejut sambil meneteskan air mata dan berkata di dalam hati, “Suamiku telah melanggar sumpahnya dan sekarang aku harus kembali ke alamku.”

Maka, langit pun mulai gelap, petir pun menyambar-nyambar, hujan badai pun mulai turun dengan derasnya. Sang anak dan ibu raib dari bekas telapak kaki mereka muncul mata air yang mengeluarkan air sederas-derasnya hingga daerah tersebut terbentuk sebuah danau, yang diberi nama Danau Tuba (Toba), yang berarti danau tak tahu belas kasih.

b. Hal-hal yang Menarik tentang Tokoh dalam Danau Toba

1.) Tokoh pemuda, seorang peladang yang yatim piatu, menangkap ikan untuk dimakan dan dapat satu ekor setelah menunggu sangat lama karena ikan hasil tangkapannya terlalu bagus tidak jadi dimasak, tetapi dipelihara.

2.) Tokoh perempuan berasal dari seekor ikan yang kemudian dipersunting sang pemuda dengan bersumpah tidak membocorkan asal asul perempuan tersebut.

3.) Anak laki-laki, seorang manusia dari hasil pernikahan manusia (ayahnya) dan ikan yang menjadi manusia (ibunya).

Catatan:

Dalam versi ini, Danau Toba berasal dati kata Tuba ‘tak tahu belas kasih’. Pada versi yang

(8)

8

lain, pemuda itu bernama Toba dan anaknya bernama Samosir. Tokoh perempuan berubah menjadi ikan kembali yang mendiami danau dari asal nama suaminya Toba dan sang anak berubah menjadi pulau Samosir yang berada di tengah Danau Toba.

c. Hal-hal yang Menarik tentang Latar dalam cerita Danau Toba 1.) Latar waktu

Tidak diketahui kapan peristiwa itu terjadi, ditandai dengan kata pada zaman dahulu.

2.) Latar tempat

Kejadian di bagian utara Pulau Sumatra (Sumatra Utara) di sebuah desa yang tidak disebutkan namanya dengan kondisi tanahnya kering. Tidak ada nama tempat menangkap ikan, sungai, danau, atau laut.

3.) Latar suasana yang menegangkan

Maka, langit pun mulai gelap, petir pun menyambar nyambar, hujan badai pun mulai turun dengan derasnya, sang anak dan ibu raib, dari bekas telapak kaki mereka muncul mata air yang mengeluarkan air sederas derasnya, hingga daerah tersebut terbentuk sebuah danau yang diberi nama Danau Tuba (Toba) yang berarti danau tak tahu belas kasih.

B. Hikayat

1. Pengertian Sastra Melayu Klasik

Sastra Melayu Klasik adalah sastra lama yang lahir pada masyarakat lama atau tradisional, yakni suatu masyarakat yang masih sederhana dan terikat oleh adat istiadat. Sastra Melayu klasik masuk ke Indonesia bersamaan dengan masuknya agama Islam pada abad ke-13. Sastra Melayu klasik termasuk bagian dari karya sastra Indonesia yang dihasilkan antara 1870–1942, yang berkembang di lingkungan masyarakat Sumatra, seperti Langkat, Tapanuli, Minangkabau, dan daerah Sumatra lainnya.

Karya sastra Melayu klasik di antaranya syair, pantun, karmina, gurindam, dan hikayat.

Pada pembelajaran kali ini, kita akan membahas tentang hikayat, mulai dari ciri-ciri, unsur intrinsik, dan nilai-nilai yang terdapat dalam hikayat.

2. Pengertian Hikayat

Hikayat berasal dari bahasa Arab hikayah ‘kisah’, yaitu jenis prosa dalam sastra Melayu lama yang berisikan cerita fiksi, riwayat, sejarah, atau kisah kerajaan. Kisah tersebut menceritakan kehebatan, kepahlawanan, kesaktian, dan keanehan orang ternama seperti raja, putera puteri raja, dan orang-orang suci. Hikayat berfungsi untuk menimbulkan jiwa kepahlawanan, mendidik, dan hiburan. Berikut beberapa contoh hikayat.

(9)

9

a. Cerita tentang masyarakat, seperti Hikayat si Miskin (Melayu) dan Hikayat Malin Dewa, Hikayat Aceh (Aceh)

b. Epos dari India, seperti Hikayat Sri Rama.

c. Dongeng-dongeng dari Jawa, seperti Hikayat Pandawa Lima dan Hikayat Panji Simirang (Jawa).

d. Cerita-cerita Islam, seperti Hikayat Nabi Bercukur dan Hikayat Raja Khaibar.

e. Sejarah dan biografi, seperti Hikayat Raja-Raja Pasai dan Hikayat Abdulla, Hikayat Abu Nawas (Arab).

3. Mengidentifikasi Karakteristik dan Unsur Intrinsik Hikayat

a. Karakteristik Hikayat

Berikut adalah karakteristik atau ciri-ciri hikayat.

1.) Istana sentris, artinya kisah-kisah tentang hal-hal yang berkisar kehidupan di lingkungan istana.

2.) Anonim, artinya tidak diketahui identitas penulis.

3.) Bersifat statis, artinya begitu-begitu saja, baik dalam bentuk maupun tema.

4.) Bersifat khayal atau fantastis 5.) Bersifat tidak logis.

6.) Banyak menggunakan kata-kata klise yang sekarang ini tidak lazim digunakan dalam komunikasi sehari-hari.

7.) Menggunakan bahasa Melayu, seperti kata-kata syahdan (selanjutnya, lalu), arkian (sesudah itu, kemudian dari itu), hatta (lalu, sudah itu lalu, maka), dan Duli (kata hormat apabila bercakap dengan raja).

b. Unsur-Unsur Intrinsik Hikayat

1.) Tema merupakan pokok penceritaan, yaitu gagasan, ide, ataupun pikiran utama di dalam karya sastra yang terungkap atau tidak. Tema dalam hikayat menyangkut masalah agama, kepercayaan, adat istiadat, pandangan hidup, pendidikan sosial, dan pencitraan.

2.) Tokoh merupakan individu rekaan yang berperan dalam cerita. Secara sederhana, tokoh disebut pelaku cerita. Tokoh dibedakan menjadi empat sebagai berikut.

Tokoh protagonis, yaitu tokoh yang memegang peran pimpinan dalam cerita atau disebut tokoh utama dan disukai pembaca karena sifat-sifatnya. Tokoh

(10)

10

protagonis terbagi atas dua, yakni tokoh utama dan tokoh pendamping.

Tokoh antagonis adalah tokoh penentang utama dari protagonis atau istilah lain dari tokoh lawan.

Tokoh tritagonis adalah tokoh di antara protagonis dan antagonis yang melerai konflik kedua tokoh tersebut. Tokoh tritagonis disebut juga tokoh pelerai.

Tokoh sampingan, yaitu tokoh yang mempunyai peranan sebagai pembantu.

3) Penokohan adalah cara pengarang menampilkan tokoh-tokoh dalam cerita sehingga dapat diketahui karakter atau sifat dari tokoh. Dengan penokohan, dapat diketahui peran tokoh dalam cerita, apakah si tokoh bersifat protagonis (tokoh baik), antagonis (tokoh jahat), atau tritagonis (tokoh bijak). Dalam hal penokohan, hikayat terdapat beberapa peristiwa yang merupakan wadah pertentangan antara tokoh yang baik dan tokoh yang jahat. Umumnya, tokoh baik yang akan memperoleh kemenangan dan tokoh jahat akan kalah.

4.) Latar (setting) adalah segala keterangan mengenai tempat, waktu, dan suasana.

Latar tempat atau ruang adalah latar yang mengacu pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan. Latar waktu adalah latar yang mengacu pada waktu terjadinya peristiwa, misalnya pukul berapa, hari apa, tanggal, bulan, dan tahun berapa, peristiwa sejarah, bahkan zaman tertentu.

Latar suasana adalah salah satu unsur intrinsik yang berkaitan dengan keadaan psikologis yang timbul dengan sendirinya bersamaan dengan jalan cerita.

Suasana menyenangkan, menyeramkan, dan menyedihkan adalah lingkungan yang berhubungan dengan aspek yang luas. Di samping itu, latar dapat berupa tempat dan waktu dimana sebuah peristiwa itu terjadi.

5.) Alur (plot) adalah jalinan peristiwa di dalam karya sastra untuk mencapai efek tertentu. Pautannya dapat diwujudkan oleh hubungan temporal (waktu) dan hubungan kausal (sebab akibat). Alur merupakan rangkaian peristiwa yang direka dan dijalin dengan saksama untuk menggerakkan jalan cerita melalui rumitan (komplikasi) ke arah klimaks dan penyelesaian. Jenis alur ada tiga, yaitu alur maju (linear), alur mundur (flashback), dan alur campuran.

6.) Amanat adalah pesan yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca. Di dalam hikayat, amanat ini biasanya tersurat.

(11)

11

Super "Solusi Quipper"

4. Menemukan Nilai-Nilai yang Terkandung dalam Hikayat

Karya sastra senantiasa mengandung nilai (value). Nilai itu dikemas dalam wujud struktur karya sastra yang secara implisit terdapat dalam alur, latar, tokoh, tema, dan amanat.

Berikut adalah nilai yang terkandung dalam karya sastra itu.

a. Nilai hedonik adalah nilai yang dapat memberikan kesenangan secara langsung kepada pembaca.

b. Nilai artistik adalah nilai yang dapat memanisfetasi suatu seni atau keterampilan dalam melakukan suatu pekerjaan.

c. Nilai kultural adalah nilai yang dapat memberikan atau mengandung hubungan yang mendalam dengan suatu masyarakat, peradaban, atau kebudayaan.

d. Nilai etis, moral, agama adalah nilai-nilai yang memberikan atau memancarkan petuah atau ajaran yang berkaitan dengan etika, moral, dan agama. Nilai-nilai termasuk nilai pendidikan.

e. Nilai praktis adalah nilai yang mengandung hal-hal praktis yang dapat diterapkan dalam kehidupan nyata sehari-hari.

Nilai-nilai dalam hikayat:

HAK EMogaNi

Hedonik-Artistik-Kultural-Etis-Moral-Agama-Nilai praktis

5. Mengidentifikasi Unsur-Unsur Intrinsik dan Nilai-Nilai yang terdapat dalam Hikayat

a. Naskah Hikayat Jaya Langkara

Hikayat Jaya Lengkara

Tersebut cerita seorang raja yang terlalu besar kerajaannya, Saeful Muluk namanya, Ajam Saukat nama kerajaannya. Adapun raja ini telah berkawin dengan Putri Sukanda Rum. Tetapi oleh karena permaisurinya tidak beranak, ia berkawin dengan Putri Sukanda Bayang-Bayang. Hatta, berapa lamanya, Puteri Sukanda Bayang-Bayang pun beranak anak kembar yang diberi nama Makdam dan Makdim. Permaisuri takut kehilangan kasih sayang raja sama sekali lalu berdoa meminta anak. Doanya dikabulkan. Hatta, berapa lamanya, ia pun beranaklah seorang anak laki-laki yang

(12)

12

terlalu baik rupanya. Anak itu ialah Jaya Langkara. Adapun semasa Jaya Langkara jadi itu, negeri pun terlalu makmur, makanan murah dan banyak pedagang yang datang pergi. Segala ahli nujum, hulubalang, dan rakyat sekalian juga mengucap syukur kepada Allah.

Syahdan raja menyuruh anaknya yang lain, Makdam dan Makdim pergi bertanyakan nasib Jaya Langkara pada seorang kadi. Kadi itu meramalkan bahwa Jaya Langkara akan menjadi raja besar yang terlalu banyak sakti dan segala raja-raja besar tiada yang dapat melawannya dan segala margasatwa juga tunduk kepadanya dengan khidmat. Mendengar ramalan yang demikian dari seorang kadi, Makdam dan Makdim pun menjadi sakitlah hatinya. Mereka berdusta kepada ayahanda mereka dengan mengatakan, jikalau Jaya Langkara ada dalam negeri, negeri akan binasa, beras padi juga akan menjadi mahal. Raja termakan fitnah ini dan membuang Jaya Langkara dengan bundanya dari negeri.

Naga Guna menyelamatkan Jaya Langkara. Bersama-sama mereka akan pergi ke negeri Peringgi. Jaya Langkara menewaskan seorang ajar-ajar dan memaksanya masuk Islam. Dengan bantuan raja jin yang sudah masuk Islam, ia membebaskan Makdam dan Makdim dari penjara. Ratna Kasina dan Ratna Dewi dikawinkan dengan Makdam. Bunga Kumkuma putih juga sudah diperolehnya.

Mangkubumi Mesir coba mengambil bunga itu dari Jaya Langkara dan ditewaskan. Jaya Langkara mengampuni dia bila mendengar sebab-sebab ia ingin mendapatkan bunga itu. Jaya Langkara pergi ke Mesir dan memohon supaya puteri Ratna Dewi dikawinkan dengan Makdim. Permohonannya diterima dengan baik oleh raja Mesir. Bersama–sama dengan Ratna Kasina, Jaya Langkara berangkat ke negeri Ajam Saukat dan menyembuhkan penyakit raja yang tak lain adalah ayahnya. Selang berapa lamanya, Jaya Langkara kembali ke hutan untuk mencari bundanya. Ratna Kasina menyusul tidak lama kemudian karena tidak tahan diganggu oleh Makdam dan Makdim yang sudah ke negeri Ajam Saukat. Karena berahi mereka akan putri Ratna Kasina, Makdam dan Makdim coba membunuh Jaya Langkara. Naga guna menyelamatkan dan membawanya bersama-sama dengan Puteri Ratna Kasina ke negeri Madinah. Raja Madinah sangat bergembira. Jaya Langkara dikawinkan dengan puteri Ratna Kasina. Raja Madinah sendiri juga berkawin dengan bunda Jaya Langkara. Hatta, berapa lamanya. Jaya Langkara pun menjadi raja, Negeri Madinah pun terlalu makmur dan besar kerajaannya. Segala raja besar pun menghantar upeti ke Madinah setiap tahun.

Sumber: immpatas.blogspot.com

(13)

13

b. Mengidentifikasi Unsur-Unsur Intrinsik dan Nilai-Nilai di dalam Hikayat Jaya Lengkara

1.) Unsur-unsur intrinsik Hikayat Jaya Lengkara

• Tema agama dengan subtema persaingan seperti petikan berikut.

Naga Guna menyelamatkan Jaya Langkara. Bersama-sama mereka akan pergi ke negeri Peringgi. Jaya Langkara menewaskan seorang ajar-ajar dan memaksanya masuk Islam. Dengan bantuan raja jin yang sudah masuk Islam, ia membebaskan Makdam dan Makdim dari penjara.

• Tokoh dan penokohan

Tokoh utama adalah Jaya Langkara (protagonis), tokoh pendamping adalah Makdam dan Makdim (antagonis), serta Naga Guna dan Raja Madinah (tritgonis). Tokoh sampingan, yakni Saiful Muluk (Raja Ajam Saukat), Putri Sukanda Rum, Putri Sukanda Bayang-Bayang, seorang Kadi (peramal), Ratna Dewi, dan Ratna Kasina.

Watak dari Makdam dan Makdim sosok protagonis terlihat seperti petikan berikut.

Mereka berdusta kepada ayahanda mereka dengan mengatakan, jikalau Jaya Langkara ada dalam negeri, negeri akan binasa, beras padi juga akan menjadi mahal. Raja termakan fitnah ini dan membuang Jaya Langkara dengan bundanya dari negeri. … Makdam dan Makdim coba membunuh Jaya Langkara.

• Latar

(1) Latar tempat di negeri Ajam Saukat, Negeri Madinah, dan hutan. Jaya Langkara berangkat ke negeri Ajam Saukat dan menyembuhkan penyakit raja yang tak lain adalah ayahnya. Selang berapa lamanya, Jaya Langkara kembali ke hutan untuk mencari bundanya. Naga guna menyelamatkan dan membawanya bersama-sama dengan Puteri Ratna Kasina ke negeri Madinah. Raja Madinah sangat bergembira.

(2) Latar suasana. Suasana kekhawatiran dan kekhusyukan seperti tergambar pada petikan berikut.

Permaisuri takut kehilangan kasih sayang raja sama sekali, lalu berdoa meminta anak. Doanya dikabulkan. Suasana menegangkan Dengan bantuan raja jin yang sudah masuk Islam, ia membebaskan Makdam dan Makdim dari penjara.

(14)

14

Suasana menggembirakan:

Hatta, berapa lamanya. Jaya Langkara pun menjadi raja, Negeri Madinah pun terlalu makmur dan besar kerajaannya. Segala raja besar pun menghantar upeti ke Madinah setiap tahun.

(3) Latar waktu, yaitu tidak diketahui kapan terjadinya setiap peristiwa.

• Alur dalam Hikayat Jaya Langkara adalah alur maju. Mulai ia dilahirkan sampai menjadi raja di Negeri Madinah.

• Amanat dari hikayat ini adalah jangan memfitnah dan termakan fitnah dan berikanlah pertolongan kepada orang yang membutuhkan. Perhatikan cuplikan yang mencerminkan amanat tersebut!

Mereka berdusta kepada ayahanda mereka dengan mengatakan, jikalau Jaya Langkara ada dalam negeri, negeri akan binasa, beras padi juga akan menjadi mahal. Raja termakan fitnah ini dan membuang Jaya Langkara dengan bundanya dari negeri.

Naga guna menyelamatkan dan membawanya bersama-sama dengan Puteri Ratna Kasina ke negeri Madinah.

2.) Menemukan Nilai-Nilai yang Terkandung di dalam Hikayat Jaya Langkara Nilai-nilai yang terdapat dalam Hikayat Jaya Langkara adalah sebagai berikut.

• Nilai agama, yaitu dalam penyebaran agama hendaknya jangan dengan cara memaksa dan jangan dengan kekerasan.

• Nilai moral, yakni setiap manusia diharapkan mempunyai moral yang baik, seperti jangan berdusta, memfitnah, dan iri hati.

• Nilai sosial, yaitu hendaknya memberikan pertolongan kepada orang yang membutuhkan dengan cara menyelamatkan nyawa orang dan memberikan pengobatan jika bisa bagi orang sakit.

(15)

15

LATIHAN SOAL

Bacalah petikan cerita rakyat berikut untuk menjawab soal nomor 1 dan 2.

Cerita Rakyat Bali: Anjing Tidak Bertanduk dan Kambing Berekor Pendek

Ada seekor anjing bersahabat dengan kambing di daerah Batur, Kintamani. Konon yang mempunyai tanduk bukan kambing, melainkan anjing. Keadaan ini membuat iri hati si Kambing.

Suatu hari agar menjadi gagah, si kambing meminjam tanduk kepada si Anjing. Si Anjing pun menyetujuinya. Ketika diminta kembali si Kambing tidak memberikannya. Akhirnya, keduanya bertengkar. Anjing berhasil menggigit ekor kambing hingga putus. Namun kambing dapat meloloskan diri. Sejak itu keturunan si Kambing punya tanduk dan ekor yang pendek, sedangkan si Anjing tidak bertanduk lagi, tetapi ekornya panjang.

1. Watak tokoh utama dalam cerita rakyat tersebut bertentangan dengan ….

A. nilai sosial B. nilai moral C. nilai estetika D. nilai etika E. nilai agama

2. Amanat yang dapat dipetik dari cerita rakyat di atas adalah ….

A. saling menolong antarsesama

B. kita tidak boleh menyalahgunakan kepercayaan yang diberikan orang C. kita harus memegang teguh amanat dari seseorang

D. orang yang menghianati teman pasti akan celaka E. setiap orang bisa berubah watak atau karakternya

Bacalah dengan saksama potongan hikayat berikut untuk menjawab soal nomor 3 dan 4.

Maka Zahid itu pun mengambil air sembahyang lalu sembahyang dua rakaat serta memohonkan nyawa akan patung itu. Maka dengan karunia Allah Ta’ala hiduplah patung itu seperti manusia dengan sempurnanya. Maka hari pun sianglah dan sengaja mereka itu pun jagalah keempatnya;

dilihatnya patung itu hidup, terlalu baik parasnya. Maka kata Serimala, “Akulah yang empunya dia, karena aku yang berbuat dia.”

(Hikayat Bayan Budiman)

(16)

16

3. Hal yang tidak diungkapkan dalam petikan hikayat di atas adalah ….

A. Zahid rajin saalat B. Zahid salat dua rakaat

C. patung hidup seperti manusia sempurna D. Serimala yang membuat patung

E. Mereka bereempat bangun kepagian

4. Watak tokoh Zahid dalam petikan hikayat di atas adalah ….

A. serakah B. sabar C. alim D. syirik E. munafik

Bacalah petikan cerita rakyat berikut untuk menjawab soal nomor 5 dan 6.

Banyak rakyat Sumedang yang sakit bahkan meninggal. Pangeran Kusumahdinata, Bupati Sumedang, terus memikirkan cara meringankan penderitaan mereka. Akhirnya, beliau memerintakan agar rakyat berhenti membuat jalan. Ini melegakan hati rakyat, sekaligus menimbulkan kegemparan di kalangan bangsawan.

Ketika Daendels melakukan peninjauan ke Sumedang, Pangeran Kusumahdinata datang menyambutnya. Pangeran menyalaminya dengan tangan kiri sementara tangan kanannya memegang hulu keris. Daendels pun memahami maksud Pangeran. Kini, jalan itu tidak dipergunakan lagi karena sudah diganti jalan baru. Walaupun begitu, jalan itu pun tetap disebut Cadas Pangeran.

5. Nilai keteladan tokoh yang dapat diambil dari cerita rakyat di atas untuk kehidupan masa kini adalah ….

A. seorang pejabat harus menuruti perintah atasannya

B. seorang pejabat tidak perlu menuruti perintah seluruh atasannya C. seorang pemimpin harus mengutamakan kepentingan rakyatnya D. setiap pemimpin harus memiliki keberanian

E. setiap pemimpin wajib membela semua rakyat tanpa kecuali

6. Jenis cerita rakyat tersebut adalah ….

A. fabel B. mite C. sage D. legenda E. pelipur lara

(17)

17

7. “Maka bermohonlah semua pendeta itu (orang pandai) pulang ke rumahnya serta sampai ke tempatnya bermufakatlah mereka. Belum lama ini dia telah membinasakan kaum- kaum kita, sekarang dia menyerahkan dirinya. Baiklah kita katakan kepadanya bahwa mimpinya itu jahat tabirnya. Sekarang kita dapatkan jalan untuk membalaskan dendam kepada raja yang aniaya itu,” kata seorang tertua di antaranya.

(Hikayat Raja Balad)

Amanat yang dapat diambil dari kutipan hikayat di atas adalah ….

A. Kita tak boleh percaya begitu saja kepada orang pandai.

B. Sebelum mengambil keputusan kita harus bermusyawarah.

C. Kita tidak boleh menganiayaterhadap orang lain.

D. Kita harus balas dendam terhadap orang lain.

E. Kita tak boleh berbohong.

Bacalah potongan cerita rakyat berikut untuk menjawab soal nomor 8 dan 9.

“Hai, Sura, mengapa kamu melanggar peraturan yang telah kita sepakati berdua? Mengapa kamu berani memasuki sungai yang merupakan bagian dari wilayah kekuasaanku,” tanya Buaya. Ikan Sura yang tak merasa bersalah tenang-tenang saja. “Aku melanggar kesepakatan?

Bukankah sungai ini berair. Bukankah aku sudah bilang bahwa aku adalah penguasa air? Nah ini, kan, ada airnya, jadi termasuk juga daerah kekuasaanku,” kata Ikan Sura.

(Cerita rakyat asal usul Kota Surabaya)

8. Jenis cerita rakyat di atas adalah ….

A. dongeng fabel B. dongeng legenda C. dongeng pelipur lara D. mite

E. sage

9. Amanat yang terdapat dalam cerita rakyat tersebut adalah ….

A. Jangan melanggar perjanjian yang sudah disepakati.

B. Pelajari perjanjian kesepakatan dengan benar.

C. Segala permasalahan dapat diselesaikan dengan jalan damai.

D. Jangan berkelahi sesama makhluk hidup.

E. Sungai dan laut harus kita pelihara dengan baik.

(18)

18

10. Syahdan, maka adalah raja di dalam negeri itu telah kembali ke rahmatullah. Maka, ia pun tiada beranak seorang jua pun. Maka, segala menteri dan hulubalangnya dan orang- orang besar dan orang-orang membicarakan, siapa juga yang dapat dijadikan raja menggantikan raja yang telah kembali ke rahmatullah itu. Maka, di dalam antara menteri yang banyak itu ada seorang menteri yang tua daripada tuan hamba sekalian itu. Maka, ia pun berkata, katanya, “Adapun hamba ini tua daripada tuan hamba sekalian itu. Jikalau ada gerangan bicara, mengapa segala saudaraku ini tiada hendak berkata?”

(UN 2008)

Isi kutipan tersebut menceritakan ….

A. Rakyat sedang berduka atas kematian rajanya.

B. Orang tua diberi hak berbicara dalam setiap pertemuan.

C. Seorang raja telah meninggal dunia dan tidak memiliki anak.

D. Para menteri dan orang besar melakukan musyawarah pemilihan raja.

E. Hak orang berpendapat untuk memecahkan masalah dalam suatu masyarakat.

Referensi

Dokumen terkait

Tetapi jika masyarakat di lingkungan tempat perempuan tinggal dapat mengharagai setiap orang, baik itu laki-laki ataupun perempuan, perempuan tersebut akan tumbuh

Peneliti lebih memilih Iklan Smartfren Andromax V3s versi “JOFIE” – Joget Selfie sebagai objek penelitian dari pada iklan Smartfren yang lain karena iklan ini

Pada kasus ini terjadi ketidaktepatan pada penggunaan antihipertensi kaptopril, dimana selain didiagnosa hipertensi pasien juga mengalami indikasi penyulit yaitu diabetes

Plot sebuah film sebagian besar dituturkan dengan pola linier dimana waktu berjalan sesuai urutan aksi peristiwa tanpa adanya interupsi waktu yang signifikan.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Kelurahan Nunbaun Sabu Kecamatan Alak dapat disimpulkan bahwa dari 55 responden yang diteliti memiliki sarana air bersih

mempunyai hubungan dinas dengan negara. Mengingat Pegawai Negeri Sipil sebagai tulang punggung pemerintah, harus ada suatu standar dan disiplin merupakan dua hal penting yamg

Download soal psikotes, Download soal psikotes dan jawabannya, download soal psikotes pdf, download soal psikotes gratis, download soal psikotes kerja pdf, download soal psikotes

Untuk mengkaji peluang dan strategi untuk meningkatkan nilai impor Indonesia ke Italia untuk produk mebel kayu, dilakukan perbandingan beberapa komponen penting dengan