PENETAPAN KADAR BESI DALAM SEREAL MERK ”X”
MELALUI PROSEDUR PREPARASI DRY ASHING DAN WET
DIGESTION SECARA SPEKTROFOTOMETRI VISIBEL
DENGAN PEREAKSI 1,10-FENANTROLIN
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.)
Program Studi Ilmu Farmasi
Oleh :
Budiarto
NIM : 038114062
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA
2010
PENETAPAN KADAR BESI DALAM SEREAL MERK ”X”
MELALUI PROSEDUR PREPARASI DRY ASHING DAN WET
DIGESTION SECARA SPEKTROFOTOMETRI VISIBEL
DENGAN PEREAKSI 1,10-FENANTROLIN
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.)
Program Studi Ilmu Farmasi
Oleh :
Budiarto
NIM : 038114062
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA
2010
♥
Terima Kasih Tuhan
♥
♥
Keluarga,
Saudara dan
Sahabat
yang Senantiasa Mendampingi
♥
v
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala
kasih dan karunia yang selalu dilimpahkan sehingga penulis dapat menyelesaikan
skripsi yang berjudul Penetapan Kadar Besi dalam Sereal Merk ”X” melalui
prosedur preparasi Dry Ashing dan Wet Digestion secara Spektrofotometri
Visibel dengan Pereaksi 1, 10-Fenantrolina. Skripsi ini disusun guna memenuhi
salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Farmasi Program Studi Ilmu Farmasi di
Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma.
Skripsi ini dapat disusun atas dukungan, doa dan semangat dari berbagai
pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada :
1. Rita Suhadi, M.Si, Apt. selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sanata
Dharma atas kesempatan yang diberikan bagi penulis.
2. Dra. M.M. Yetty Tjandrawati, M.Si. sebagai pembimbing atas segala kesabaran,
dukungan dan bimbingan bagi penulis.
3. Christine Patramurti, M.Si. Apt. atas saran dan kritik yang membangun bagi
penulis
4. L. Wiwid Wijayanti., M.Si. atas saran, bimbingan dan dukungan yang
membangun bagi penulis.
5. Bapak Prof. Dr. Sudibyo Martono, Apt. atas saran, petunjuk dan diskusi serta
bahan-bahan yang sangat berarti selama penulisan.
6. Mas Adhityo Bimo, Mas Parlan, dan Mas Kunto atas kesediaan menemani saat
penelitian.
7. Teman-teman : Irwan, Mas Wiwid, Yulia, Nugroho-Sukma, Fajar, Alvian, Aan,
Hengky, Hermanto, Madya, Daru, Taufan, Bakri, Suvendi, Teman-teman Fak.
Farmasi USD 2003 kelas B khususnya kelompok praktikum C atas kebersamaan
dan keceriaan selama di Sanata Dharma
8. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan penulis satu persatu.
vi
Dalam kesempatan ini, penulis juga memohon maaf kepada semua pihak atas
kekurangan dan kesalahan yang mungkin dilakukan penulis. Oleh karena itu, penulis
mengharapkan masukan, saran dan kritik yang membangun.
Yogyakarta, Maret 2010
Penulis
INTISARI
Bayi di Indonesia usia 6-24 bulan merupakan populasi terbanyak dalam kasus anemia defesiensi besi. Bayi umur 6-24 bulan disarankan untuk mendapat asupan besi 7-8 mg/hari dengan mengkonsumsi makanan pendamping/tambahan. Sereal biasa dikonsumsi sebagai makanan pendamping. Penelitian ini dilakukan untuk memberikan informasi kuantitaif kadar besi yang terkandung dalam sereal makanan bayi melalui preparasi dry ashuing dan wet digestion menggunakan metode spektrofotometri visibel dengan pereaksi 1,10-fenantrolin dan untuk memberikan informasi tentang validitas metode menurut parameter akurasi, presisi, linearitas serta untuk mengetahui perbedaan bermakna atau tidak bermakna antara kedua preparasi dalam metode tersebut.
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental menggunakan metode spektrofotometri visibel. Besi dipisahkan dari sampel melalui dua prosedur preparasi yang berbeda, yakni dry ashing dan wet digestion. Kemudian, Besi yang didapatkan dari masing-masing preparasi diubah menjadi Fe2+. Fe2+ direaksikan dengan pereaksi 1,10-fenantrolin hingga membentuk kompleks [Fe(1,10-fenantrolin)3]2+ berwarna merah-oranye. Serapan maksimum kompleks ini diukur pada panjang gelombang 510 nm.
Hasil penelitian melalui prosedur dry ashing menunjukkan rata-rata kadar besi dalam sereal makanan bayi pada merek X adalah sebesar (36,1 ± 0,57) % AKG, sedangkan pada prosedur wet digestion sebesar (36,19 ± 0,65) % AKG. Berdasarkan analisis hasil penelitian nilai recovery, koefisien variasi dan linearitas, diperoleh hasil bahwa metode spektrofotometri mempunyai validitas yang baik untuk menetapkan kadar besi dalam sereal makanan bayi, serta tidak ditemukan perbedaan bermakna antara kedua prosedur.
Kata kunci : besi, sereal, dry ashing, wet digestion, 1,10-fenantrolin, spektrofotometri visibel
ABSTRACT
An Indonesian infant, who’s the age between 6 and 24 month, are identified as most at risk of being iron deficiency anemia. Infants, who are the age between 6 and 24 month, are suggested to have iron intake 7-8 mg/day. Based on that case, a research that as able to prove conformity the of iron content in infant cereal foods in the label package is needed and it is to inform about validity of the spectrophotometry method at determination of iron infant cereal food with dry ashing and wet digestion procedure using 1,10-phenanthroline reagent. Moreover, it is to inform that dry ashing and wet digestion preparation has significant different or not significant different.
This research was a experimental descriptive research using visible spectrophotometer with different procedure. Both, The iron from procedures, convert to ion Fe2+ for react with 1,10-phenanthroline to form [Fe(1,10-fenantrolin)3]2+ complex that have maximum absorbance of this complex was
measured at wavelength 510 nm.
The results of the research showed the mean of iron content in infant cereal foods by dry ashing procedure brand X was (36,1 ± 0,57) % AKG; and by wet ashing procedure brand X was (36,19 ± 0,65) % AKG. Based on the analysis result, the value of recovery, coefficient variation, and linearity showed that spectrophotometry method had a good validity to determinate iron in infant cereal foods. The results of the research also showed that dry ashing and wet digestion preparation is not significant different.
Keywords: iron, cereal, dry ashing, wet digestion, 1,10-phenanthroline, visible spectrophotometry
x
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ... ii
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii
HALAMAN PENGESAHAN ... iv
HALAMAN PERSEMBAHAN ... v
KATA PENGANTAR ... vi
HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... .... viii
INTISARI... ix
ABSTRACT... x
DAFTAR ISI... xi
DAFTAR TABEL... xv
DAFTAR GAMBAR ... xvi
DAFTAR LAMPIRAN... xvii
BAB I. PENGANTAR ... 1
A. Latar Belakang ... 1
1. Rumusan masalah ... 3
2. Keaslian penelitian ... 4
3. Manfaat penelitian... 5
B. Tujuan ... 5
BAB II. PENELAAHAN PUSTAKA... 7
A. Zat besi ... 7
B. Sereal... 8
C. Destruksi Bahan Organik dalam Analisis Anorganik ... 9
1. Dry Ashing………. 9
2. Wet Digestion………. 10
D. 1,10-Fenantrolin ... 11
E. Penetapan Kadar Besi secara Spektrofotometri Visibel ... 12
F. Spektrofotometri Visibel... 14
G. Validasi Metode Analisis ... 19
1. Akurasi ... 19
2. Presisi ... 20
3. Linearitas... 21
4. Limit Deteksi dan Limit Kuantitasi ……… ... 21
H. Landasan Teori ... 22
I. Hipotesis ... 23
BAB III. METODE PENELITIAN ... 24
A. Jenis dan Rancangan Penelitian ... 24
B. Variabel dan Definisi Operasional ... 24
1. Variabel ... 24
2. Definisi Operasional... 25
C. Bahan Penelitian... 25
xii
D. Alat Penelitian... 26
E. Tatacara Penelitian ... 26
1. Penyiapan sampel... 26
2. Pembuatan larutan stock baku Fe2+... 26
3. Pembuatan larutan intermediate baku Fe2+... 26
4. Pembuatan larutan pereaksi... 26
5. Optimasi metode ... 27
6. Penetapan kurva baku ... 28
7. Uji kualitiatif ... 28
8. Penetapan kadar ... 29
9. Pembuatan larutan stock baku Fe2+ untuk perolehan kembali ... 31
10.Perolehan kembali... 31
F. Analisis Hasil ... 32
BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 35
A. Sampel... 35
B. Optimasi Metode... 35
C. Uji Kualitatif ... 41
D. Penetapan Kadar... 41
E. Analisi Hasil... 43
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN... 49
A. Kesimpulan ... 49
B. Saran... 49
DAFTAR PUSTAKA ... 50
LAMPIRAN... 53
BIBLIOGRAFI ... 65
xiv
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel I. Zat gizi yang dianjurkan terkandung dalam produk sereal ... 8
Tabel II. Rentang kesalahan yang diijinkan pada konsentrasi analit pada matriks ... 20
Tabel III. Nilai % CV yang diijinkan pada konsentrasi analit pada matriks... 21
Tabel IV. Kurva baku konsentrasi Fe2+vs absorbansi ... 40
Tabel V. % Recovery sereal merek X dry ashing ... 43
Tabel VI. % Recovery sereal merek X wet digestion ... 44
Tabel VII. % CV dari kadar terukur recovery sereal merek X pada dry ashing... 45
Tabel VIII. % CV dari kadar terukur recovery sereal merek X pada wet digestion... 45
Tabel IX. Kadar rata-rata sereal merek X pada dryashing... 46
Tabel X. Kadar rata-rata sereal merek X pada wet digestion... 47
Tabel XI. Hasil Uji-T sample berpasangan dry ashing dan wet digestion... 48
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1. Rumus struktur 1,10-fenantrolin ... 11
Gambar 2. Tris (5- nitro-6-amino-o-fenantrolin )besi(II) ... 13
Gambar 3. Skema sederhana spektrofotometer UV-Vis berkas ganda ... 14
Gambar 4. Tingkat energi elektronik……… 17
Gambar 5. Reaksi reduksi Fe3+ oleh hidrokuinon ... ... 36
Gambar 6. Pembentukan kompleks Fe2+ dengan 1,10-fenantrolin ... 37
Gambar 7. Grafik waktu operasi kompleks Fe2+ dengan 1,10-fenantrolin... 38
Gambar 8. Grafik panjang gelombang maksimum pembentukan kompleks Fe2+ dengan 1,10-fenantrolin... 39
Gambar 9. Grafik kurva baku Fe2+vs Absorbansi... 40
xvi
xvii
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1. Komposisi dan % AKG sereal merek X ... 53
Lampiran 2. Data penimbangan baku dan konsentrasi kurva baku ... 54
Lampiran 3. Data penimbangan bobot rata-rata sampel merek X ... 57
Lampiran 4. Data penetapan kadar sampel merek X serta contoh
Perhitungannya pada dry ashing... 58
Lampiran 5. Data penetapan kadar sampel merek X pada wet digestion... 59
Lampiran 6. Data recovery sampel merek X serta contoh
perhitungannya pada dry ashing dan wet digestion... 60
Lampiran 7. Perhitungan CV dari kadar terukur recovery merek X ... 62
Lampiran 8. Data Perhitungan Limit of Detection (LOD) dan
Limit of Quantitation (LOQ)... 63
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Salah satu masalah kesehatan pada balita di Indonesia adalah Anemia
defisiensi besi. Kebutuhan zat besi meningkat saat bayi, menyebabkan resiko terjadi
anemia defisisensi besi pada kelompok ini lebih tinggi (Soediotomo, 2004). Menurut
Kep.Men.Kes. RI No : 1593/MENKES/SK/XI/2005 tentang angka kecukupan gizi
yang dianjurkan bagi bangsa Indonesia, bayi umur 6-24 bulan dianjurkan mendapat
asupan zat besi 7-8 mg/hari. Salah satu rekomendasi yang diberikan oleh
WHO/UNICEF adalah memberikan makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI)
sejak bayi berusia 6-24 bulan (Kresnawan, 2006).
Sereal merupakan suatu produk makanan yang berasal dari bahan alam dan
mengandung zat-zat yang penting untuk tubuh, sereal biasanya dikonsumsi sebagai
pengganti makanan pokok maupun sebagai makanan pelengkap (Winarno, 1993).
Sejalan dengan rekomendasi tersebut, sereal merupakan makanan pendamping air
susu ibu yang murah, mudah disajikan dan mudah diperoleh.
Sereal yang beredar di pasaran jumlahnya cukup banyak, dengan berbagai
macam merek dan rasa. Namun kandungan zat gizi dalam sereal harus memenuhi
Angka Kecukupan Gizi (AKG) untuk masing-masing zat gizi, sesuai ketentuan
pemerintah dan acuan untuk pelabelan bahan pangan menurut keputusan Kepala
Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor : HK.00.05.5.1142,
angka kecukupan gizi zat besi untuk acuan pelabelan pangan yang diperuntukkan
bagi bayi/anak usia 4-24 bulan adalah sebesar 9,0 mg.
1
Oleh karena itu, suatu metode analisis yang sesuai dibutuhkan untuk
penetapan kadar besi dalam sampel sereal. Metode analisis yang umum digunakan
untuk penetapan kadar besi antara lain titrasi redoks, spektrofotometri visible dan
spektrofotometri serapan atom (AAS). Pemilihan suatu metode analisis harus
mempertimbangkan kelemahan dan kelebihan metode yang dipilih dengan metode
lainnya. Metode titrasi redoks menggunakan peralatan yang lebih sederhana dan
lebih mudah dibandingkan dengan metode spektrofotometri, tetapi metode titrasi
bersifat subyektif pada penentuan titik akhir titrasi dan kurang sensitif. Metode
spektrofotometri serapan atom (AAS) mempunyai sensitifitas yang tinggi
dibandingkan metode titrasi dan spektrofotometri visibel tetapi kehadiran logam lain
dalam sample dapat menyebabkan interferensi. Metode spektrofotometri visibel
mempunyai sensitifitas yang cukup memadai untuk menetapkan kadar besi dalam
sample sereal makanan bayi dan dengan pengaturan pH dapat mencegah adanya
interferensi dari logam lain dalam sampel.
Berdasarkan kekurangan dan kelebihan masing-masing metode, maka metode
spektrofotometri visibel dipilih untuk menetapkan kadar besi dalam sample sereal
makanan bayi. Menurut Association of Analytical Chemists (Anonim, 1995a),
kandungan besi dalam sampel sereal dan tepung terigu dapat ditentukan melalui
prosedur preparasi dry ashing dan wet digestion dengan pereaksi 1,10-fenantrolin
secara spektrofotometri visibel. Dalam sample sereal terdapat banyak lemak dan
karbohidrat sehingga perlu dipreparasi terlebih dahulu untuk memisahkan mineral
termasuk besi dari sample. Pada preparasi dry ashing sampel sereal dipijarkan pada
3
pada prosedur wet digestion, sampel dipanaskan dengan suhu yang lebih rendah
dengan menggunakan campuran asam nitrat dan asam sulfat sehingga akan
didapatkan besi dalam larutan asam Setelah melalui tahap preparasi, besi yang ada
dalam larutan sample diubah menjadi bentuk ion besi (II) dan diatur pada pH
optimum 3,5-4,5. Ion besi (II) direaksikan dengan pereaksi 1,10-fenantrolin hingga
membentuk komplek [Fe(1,10-fenantrolin)3]2+ berwarna merah-oranye yang dapat
menyerap spektrum sinar tampak pada panjang gelombang 510 nm (Anonim, 1995a).
Penelitian ini mengacu pada metode tersebut, sehingga dari penelitian ini
diharapkan dapat memberikan informasi kesesuaian kadar besi yang terdapat dalam
sereal dan informasi validitas metode yang dilihat dari parameter akurasi, presisi dan
linearitas serta untuk melihat terdapat perbedaan bermakna atau tidak bermakna
antara preparasi dry ashing dan wet digestion pada penetapan kadar besi dalam
sample sereal makanan bayi.
1. Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, dapat dirumuskan beberapa
permasalahan sebagai berikut :
a. Apakah metode spektrofotometri visibel dengan pereaksi 1,10-fenantrolin
melalui prosedur preparai dry ashing dan wet digestion memiliki validitas yang
baik pada penetapan kadar besi ditinjau dari parameter validasi metode analisis
yang digunakan yaitu akurasi, presisi, linearitas ?
b. Apakah kadar besi rata-rata yang didapatkan pada penetapan kadar besi dengan
pereaksi 1,10-fenantrolin melalui prosedur preparasi dry ashing dan wet digestion
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
secara spektrofotometri visibel sesuai dengan kadar yang tercantum dalam label
kemasan ?
c. Apakah terdapat perbedaan bermakna atau tidak bermakna antara preparasi dry
ashing dan wet digestion pada penetapan kadar besi dalam sampel sereal
makanan bayi secara spektrofotometri visibel dengan pereaksi 1,10-fenantrolin ?
2. Keaslian penelitian
Berdasarkan pencarian informasi yang dilakukan penulis dalam lingkup
Universitas Sanata Dharma, perbandingan preparasi dry ashing dan wet digestion
pada penetapan kadar besi dalam sereal secara spektrofotometri visibel belum pernah
dilakukan. Adapun penelitian yang pernah dilakukan yang berkaitan dengan
penelitian ini adalah penetapan kadar besi dalam sereal makanan bayi secara
spektrofotometri visibel menggunakan pereaksi o-fenantrolin pernah dilakukan
sebelumnya oleh Akhirnawati, SD. (2007). Penetapan kada besi dalam susu cair ibu
hamil secara spektrofotometri visibel dengan pereaksi 1,10-fenantrolin pernah
dilakukan oleh Buntoro, RE. (2008). Penetapan kadar besi dalam kapsul anti anemia
secara spektrofotometri visibel dengan pereaksi o-fenantrolin juga pernah dilakukan
sebelumnya oleh Prabowo, Yoh. (2006) dan penetapan kadar besi dalam tablet salut
multivitamin yang dilakukan oleh Mulyo (2006). Perbedaan penelitian ini dengan
beberapa penelitian sebelumnya terletak pada tujuan penelitian, sampel dan preparasi
5
3. Manfaat penelitian
a. Manfaat praktis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada masyarakat
luas tentang kadar besi dalam sereal makanan bayi dan kesesuainnya dengan nilai
yang tercantum dalam label kemasan.
b. Manfaat metodologis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang validitas dan
perbedaan bermakna atau tidak bermakna preparasi dry ashing dan wet digestion
pada metode penetapan kadar besi dalam sereal secara spektrofotometri visibel
dengan pereaksi 1,10-fenantrolin.
B. Tujuan
Berdasarkan latar belakang dan permasalahan di atas maka penelitian ini
bertujuan :
1. Untuk memberikan informasi tentang validasi metode analisis pada kadar besi
dalam sampel sereal makanan bayi melalui preparasi dry ashing dan wet
digestion secara spektrofotometri visibel dengan pereaksi 1,10-fenantrolin.
2. Untuk memberikan informasi kesesuaian kadar besi dalam sampel sereal
makanan bayi pada melalui preparasi dry ashing dan wet digestion secara
spektrofotometri visibel dengan pereaksi 1,10-fenantrolin dengan nilai yang
tercantum pada label kemasan.
3. Untuk memberikan informasi terdapat perbedaan bermakna atau tidak bermakna
antara preparasi dry ashing dan wet digestion pada penetapan kadar besi dalam
sampel sereal makanan bayi secara spektrofotometri visibel dengan pereaksi
BAB II
PENELAAHAN PUSTAKA
A. Zat Besi
Zat besi merupakan salah satu mikromineral yang penting bagi tubuh dan
berperan dalam pembentukan sel darah merah. Zat besi dibutuhkan untuk produksi
hemoglobin, sehingga defisiensi besi akan menyebabkan terbentuknya sel darah
merah dengan kandungan hemoglobin rendah (Wardhini dan Dewoto, 2002).
Zat besi biasanya diabsorpsi di duodenum dan jejunum proksimal. Absorbsi
zat besi meningkat sebagai respon terhadap simpanan yang rendah atau kebutuhan
gizi yang meningkat (Katzung, 2001). Absorbsi zat besi lebih mudah jika berada
dalam bentuk fero (Wardhini dan Dewoto, 2002).
Zat besi disimpan terutama dalam bentuk ferritin dalam sel-sel mukosa usus
dan dalam makrofag di dalam hati, limpa dan tulang (Katzung, 2001). Pada keadaan
normal hanya 10 % dari zat besi dalam hidangan diserap mukosa usus, sedangkan
pada kondisi defisiensi, tingkat penyerapan meningkat (Sediaoetama,2004).
Tidak ada mekanisme untuk mengekskresi zat besi. Sejumlah kecil zat besi
akan hilang melalui eksfoliasi sel-sel mukosa usus ke dalam feses dan sisanya di
ekskresi ke dalam empedu, urine dan keringat(Katzung, 2001). Bila zat besi berlebih
masuk ke dalam tubuh akan mengakibatkan hemokromatosis (kelebihan besi) karena
sulit diekskresi. Kelebihan zat besi ini dapat menyebabkan kerusakan hati, pankreas
dan kemungkinan organ lainnya (Linder, 1985).
7
B. Sereal
Sereal merupakan suatu produk makanan yang berasal dari bahan alam dan
mengandung zat-zat yang penting untuk tubuh, sereal biasanya dikonsumsi sebagai
pengganti makanan pokok maupun sebagai makanan pelengkap (Winarno,1993).
Makanan pendamping ASI biasanya dibuat dari bahan serealia seperti beras, jagung,
gandum, dan sorgun yang merupakan sumber karbohidrat, dan kacang-kacangan
seperti kedelai, kacang hijau, kacang merah, kacang kapri dan jenis kacang lain yang
merupakan sumber protein (Anonim, 2003c).
Sereal banyak mengandung zat-zat gizi yang diperlukan oleh tubuh, zat-zat
penting itu meliputi vitamin, karbohidrat, protein, air, dan mineral. Berikut ini
merupakan tabel zat gizi yang dianjurkan terkandung dalam suatu produk sereal.
Tabel I. Zat gizi yang dianjurkan terkandung dalam produk sereal (DeMan,1997)
Zat gizi Kandungan (mg/100 g)
Vitamin A
Sereal untuk bayi biasanya difortifikasi dengan besi seperti ferri pirofosfat
dan juga fero fumarat yang secara organoleptis tidak berubah selama penyimpanan,
selain itu juga mudah diserap oleh tubuh (Davidsson, Kastenmayer, Szajewska,
9
C. Destruksi Bahan Organik dalam Analisis Anorganik
Jaringan pada tanaman dan hewan, cairan biologis, atau campuran organik
biasanya didekomposisi secara wet digestion dengan memanaskan asam
pengoksidasi/campuran asam atau dry ashing pada temperatur tinggi (400-700°C)
dalam suatu tungku furnance. Dalam wet digestion, asam akan mengoksidasi materi
organik menjadi karbon dioksida, air dan produk volatile lainnya, yang akan
teruapkan dan menyisakan asam anorganik. Dalam dry ashing, oksigen yang ada di
atmosfer berperan sebagai oksidan, materi organik akan terbakar habis hingga
tersisa residu anorganik. Oxidizing aids mungkin diperlukan pada dry ashing
(Christian, 2004).
1. Dry ashing.
Ashing dalam analisis kimia dapat diartikan sebagai pemanasan suatu bahan
sehingga hanya meninggalkan abu yang tidak bisa terbakar (Gaines,2002). Ashing
juga bisa diartikan sebagai penghilangan karbon, sehingga yang didapatkan berupa
abu putih. Prosedur Dry ashing secara umum, yaitu dengan menggunakan furnace
(alat kremasi) pada suhu 450-5500 C. Magnesium nitrat biasa digunakan untuk
mempercepat pengabuan. Sebelum sampel dimasukkan di furnace, sebaiknya sampel
lebih dulu dibakar menjadi arang (Gaines,2002).
Alat dengan bahan dasar porselin (cawan porselin) sangat sering digunakan
dalam pengabuan, selain murah porselin juga dapat digunakan untuk memanaskan
hingga suhu 11000 C (Gaines,2002). Penggunaan temperatur di atas 500 °C, terutama
terdapatnya chloride dalam darah atau urin dapat memungkinkan terjadinya
penguapan (Christian, 2004)
Jika materi pengoksidasi ditambahkan ke dalam sampel, maka efisiensi
pengabuan akan meningkat. Magnesium nitrat merupakan salah satu bantuan yang
sering digunakan. (Christian, 2004).
Cairan dan jaringan biologi umunya dikeringkan di atas penangas air
(waterbatt) atau dengan pemanasan sedang sebelum dimasukkan dalam furnance.
Panas furnance harus meningkat secara bertahap sampai temperatur tercapai untuk
mencegah pembakaran nyala api yang cepat dan pembentukkan busa. Setelah dry
ashing selesai, residunya dilarutkan dengan 1-2 mL HCL panas dan dipindahkan ke
dalam labu atau beaker untuk proses selanjutnya (Christian, 2004 ).
2. Wet digestion
Pada umumnya, yang termasuk asam pengoksidasi adalah asam nitrat, asam
sulfat pekat panas, dan asam perklorat pekat panas serta beberapa campurannya.
Sedangkan asam klorida, asam sulfat encer, asam perklorat encer termasuk asam
non-pengoksidasi (Dean, 1995).
Wet digestion dengan suatu campuran dari asam nitrat dan asam sulfat adalah
yang paling banyak digunakan dalam prosedur oksidasi. Pada umumnya digunakan
sedikit asam sulfat (5 ml) dengan sejumlah besar asam nitrat (25-30 ml). Asam nitrat
menghancurkan bagian dari materi organik, tetapi tidak cukup kuat untuk
menghancurkan bagian terkecil atau sisa. Penguapan terus dilakukan selama proses
digesti sampai hanya menyisakan buih putih (SO3) dan uap putih yang menguap
secara terus menerus sampai larutan jernih. Jika masih terdapat materi organik, perlu
ditambahkan asam nitrat. Semua prosedur pengerjaan harus dilakukan dalam lemari
11
D. 1,10-Fenantrolin
O-fenantrolin yang disebut juga 1,10-fenantrolin atau 4,5-fenantrolin dengan rumus
molekul C12H8N2 dan mempunyai berat molekul 180,20. komposisinya adalah
79,98% C; 4,48% H; dan 15,55% N. O-fenantrolin dibuat dari pemanasan o
-phenilenediamin dengan gliserol, nitrobenzene dan asam sulfat pekat atau dengan
cara yang sama dari 8-aminoquinoline (Anonim,1989).
N N
Gambar 1. Rumus struktur o-fenantrolin (Anonim, 1989)
O-fenantrolin berbentuk serbuk kristal dan berwarna putih, larut dalam
alkohol dan aseton, dalam 300 bagian air dan 70 bagian benzene. O-fenantrolin biasa
digunakan untuk membentuk kompleks dengan ion fero sebagai indikator sistem
redoks, yaitu titrasi garam fero, digunakan juga dalam penetapan kadar nikel,
ruthenium, perak, dan logam lain (Anonim,1989).
Larutan o-fenantrolin bila dilarutkan dalam etanol atau metanol maka larutan
akan stabil untuk beberapa bulan pada suhu -200 C, namun bila dilarutkan dalam
akuades larutan tahan hanya dalam beberapa hari (Anonim, 2003b) dan bila disimpan
di tempat yang dingin serta terlindung dari cahaya akan tahan untuk beberapa
minggu (Anonim, 1995a).
E. Penetapan Kadar Besi secara Spektrofotometri Visibel
Penetapan kadar besi dengan spektrofotometri visibel dapat dilakukan dengan
berbagai macam pereaksi antara lain yaitu :
a. O-fenantrolin
Dalam penetapan kadar besi dengan pereaksi o-fenantrolin, besi harus berada
dalam bentuk Fe2+, sehingga Fe3+ harus direduksi terlebih dulu menggunakan
hidrokuinon atau hidroksilamin hidroklorida, reduktor ini dibutuhkan untuk menjaga
Fe tetap dalam bentuk Fe2+ (Bassett, Denny, Jeffery, and Mendham, 1991).
Kompleks Fe(fenantrolin)32+ mempunyai absorbansi molar sebesar 11.100 L/mol-cm
pada panjang gelombang serapan maksimum. Nilai yang sangat besar ini
menandakan bahwa kompleks menyerap sangat kuat, kompleks ini sangat stabil dan
intensitas warnanya tidak berubah dalam waktu yang lama (Anonim, 2005c).
Kompleks Fe(fenantrolin)32+ yang berwarna merah-orange ini (Bassett, et al,
1991) dapat diukur pada panjang gelombang serapan maksimum 510 nm dan
sebaiknya dikerjakan pada pH 3,5 – 4,5, (Anonim,1995) karena merupakan pH yang
optimal untuk pembentukkan kompleks Fe(fenantrolin)32+.
b. Tiosianat
Besi (III) bereaksi dengan tiosianat untuk menghasilkan kompleks berwarna
merah tua, reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut :
Fe3+(aq) + 6SCN-(aq) → [Fe(SCN)6]3-(aq) (1)
Perak, tembaga, nikel, kobalt, titanium, uranium, molybdenum, merkuri,
seng, cadmium, dan bismuth dapat mengganggu terbentuknya kompleks ini. Fosfat,
13
membentuk komplek yang cukup stabil dengan ion besi (III). Pengaruh fosfat dan
arsenat dikurangi oleh hadirnya asam dengan konsentrasi yang cukup tinggi (Bassett,
et al, 1991).
c. 5-nitro-6-amino-o-fenantrolin (NAF)
Prinsip metode ini adalah pembentukkan kompleks antara Fe2+ dengan NAF
yang memberikan warna orange-merah dengan panjang gelombang serapan
maksimum 520 nm. Berikut ini merupakan kompleks yang terbentuk antara Fe2+
dengan 5-nitro-6-amino-o-fenantrolin
N N
H2N NO2
N N
H2N
O2N
N
N
H2N
NO2
Fe2+
Gambar 2. Tris (5- nitro-6-amino-o-fenantrolin ) besi(II) (Demirhan and Elmali,2001)
Pada penelitian yang dilakukan oleh Demirhan dan Elmali (2001) ini
dilakukan optimasi penetapan kadar besi dengan 5-nitro-6-amino-o-fenantrolin
(NAF). Menurut hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa kompleks yang
terbentuk optimum pada temperatur 200 C, operating time 210-300 menit, jumlah
reagen dengan konsentrasi 107 µg/ml adalah 5 ml dan pH 3,4-4,5.
Pada metode ini logam-logam seperti Co2+, Ni2+, dan Cu2+ diketahui sangat
mengganggu, Zn2+, Mn2+, Al3+, dan Ca2+ sedikit mengganggu, sedangkan Mg2+ sama
sekali tidak mengganggu.
F. Spektrofotometri Visibel
Spektrofotometri visibel adalah salah satu teknik analisis fisika-kimia yang
mengamati tentang interaksi atom atau molekul dengan radiasi elektromagnetik pada
panjang gelombang 380-780 nm. Spektrofotometri UV-Vis lebih banyak digunakan
untuk analisis kuantitatif daripada kualitatif karena melibatkan energi elektronik
yang cukup besar pada molekul yang dianalisis (Mulja dan Suharman, 1995).
Spektrofotometer yang sesuai untuk pengukuran di daerah spektrum
ultraviolet dan cahaya tampak terdiri dari suatu sistem optik dengan kemampuan
menghasilkan cahaya monokromatik dalam rentang panjang gelombang 200 – 800
nm dan suatu alat yang sesuai untuk menetapkan serapan (Anonim, 1995b).
Secara sederhana, komponen-komponen spektrofotometer berkas ganda dapat
dijelaskan sebagai berikut :
15
a. Sumber tenaga radiasi
Sumber radiasi yang ideal untuk pengukuran serapan harus menghasilkan
spektrum kontinyu dengan intensitas yang seragam pada keseluruhan kisaran panjang
gelombang. Sumber radiasi cahaya tampak biasanya menggunakan lampu filament
tungsten yang menghasilkan radiasi kontinu pada daerah panjang gelombang
350-2500 nm. Sumber radiasi ultraviolet banyak menggunakan lampu hydrogen dan
lampu deuterium, kedua lampu ini menghasilkan radiasi kontinu pada daerah panjang
gelombang 180-350 nm (Sastrohamidjodjo,2001).
b. Monokromator
Ada dua alat untuk mengubah radiasi yang polikromatik menjadi
monokromatik yaitu penyaring dan monokromator. Penyaring dibuat dari benda
khusus yang hanya meneruskan radiasi pada daerah panjang gelombang tertentu dan
menyerap radiasi dari panjang gelombang yang lain. Monokromator merupakan
serangkaian alat optic yang menguraikan radiasi polikromatik menjadi panjang
gelombang tunggalnya dan memisahkan panjang gelombang tersebut menjadi jalur
yang sangat sempit (Sastrohamidjodjo,2001).
c. Tempat cuplikan
Tempat cuplikan biasa disebut sel atau kuvet. Untuk daerah ultraviolet
biasanya menggunakan Quartz atau kuvet dari silica yang dilebur
(Sastrohamidjodjo,2001), sedangkan untuk daerah cahaya tampak biasanya
menggunakan Quartz atau gelas silikat (Skoog et al, 1998).
d. Detektor
Fungsi detektor adalah untuk mengubah sinyal radiasi yang diterima menjadi sinyal
elektronik. Persyaratan-persyaratan penting untuk detector adalah sensitivitas tinggi,
waktu respon pendek, stabilitas panjang dan sinyal elektronik yang mudah diperjelas.
Detektor yang digunakan dalam ultraviolet disebut detektor fotolistrik
(Sastrohamidjodjo,2001).
Absorbsi cahaya oleh suatu molekul merupakan suatu bentuk interaksi antara
gelombang cahaya (foton) dan atom/molekul. Proses absorbsi cahaya UV-Vis
berkaitan dengan promosi elektron dari satu orbital molekul dengan tingkat energi
elektronik tertentu ke orbital molekul lain dengan tingkat energi elektronik yang
lebih tinggi. Menurut Skoog (1998), ada tiga tipe transisi elektronik yaitu :
1. Transisi yang melibatkan elektron π, σ, dan n
Secara umum, ada tiga macam distribusi elektron dalam suatu senyawa
organik yaitu orbital pi (π), sigma (σ) dan elektron tidak berpasangan (n). Apabila
radiasi elektromagnetik mengenai molekul, maka akan terjadi eksitasi elektron ke
tingkat energi yang lebih tinggi yang dikenal sebagai orbital elektron antibonding
(Mulja dan Suharman, 1995).
Macam-macam transisi elektronik yang sering terjadi adalah σ→σ*, n→σ*,
17
Gambar 4. Tingkat energi elektronik ( Skoog et al, 1998)
Semakin besar energi untuk berpindah maka panjang gelombang daerah
serapan maksimum semakin rendah (Clark,1997). Hal ini dapat terlihat pada transisi
n→ σ * yang mempunyai energi lebih rendah, berada pada daerah panjang
gelombang 150-250 nm, sedangkan σ→σ* berada pada panjang gelombang serapan
maksimum 125 nm (Skoog et al, 1998).
2. Transisi yang melibatkan elektron d dan f
Transisi ini kebanyakan terjadi pada logam transisi, golongan lanthanide dan
actinide. Pada logam transisi, proses absorbsi dihasilkan dari transisi elektron 3d dan
4d, sedangkan pada golongan lanthanide dan actinide dihasilkan dari transisi elektron
4f dan 5f (Skoog et al, 1998). Ion logam dapat membentuk kompleks dengan agen
pengkompleks (ligan), karena logam transisi mempunyai orbital d yang belum penuh
(Skoog et al, 1998) sehingga elektron yang tersedia untuk membentuk ikatan lebih
banyak. Berikut ini merupakan urutan ligan berdasarkan kekuatan medan yang
ditimbulkannya I- < Br- < Cl- < F- < OH- < C2O42- ~ H2O < SCN- < NH3 <
ethylenediamine < o-fenantrolin < NO2- < CN- (Skoog et al, 1998).
3. Transisi yang melibatkan charge transfer electron
Transisi tipe ini sangat penting dalam suatu analisis, karena mempunyai
absorbansi molar yang sangat besar ( lebih dari 10.000). Oleh karena itu, kompleks
ini mempunyai sensitifitas yang tinggi. Kompleks-kompleks anorganik yang
terbentuk melalui transisi charge transfer electron biasanya disebut kompleks
charge transfer. Contoh dari kompleks ini antara lain adalah kompleks tiosianat dan
fenol dengan besi (III), kompleks o-fenantrolin dengan besi (II), kompleks
heksasianoferat(II) / heksasianoferat (III) yang bertanggung jawab atas warna
Prussian blue (Skoog et al, 1998).
Pada sebagaian besar kompleks charge transfer yang melibatkan logam,
logam bertindak sebagai penerima elektron (acceptor) dan ligan sebagai donor
elektron (Skoog et al, 1998).
Analisis dengan spektrofotometer UV-Vis melibatkan pembacaan absorban
radiasi elektromagnetik oleh molekul atau radiasi elektromagnetik yang diteruskan.
Keduanya dikenal sebagai absorban (A) tanpa satuan dan transmitan dengan satuan
persen. Hubungan antara intensitas radiasi elektromagnetik yang diserap oleh sistem
(I0) dengan intensitas radiasi yang ditransmisikan (It) dapat dijelaskan dengan
hukum Lambert-Beer, sebagai berikut :
19
Dengan T = persen transmitan; I0 = intensitas radiasi yang datang; It = intensitas
radiasi yang diteruskan; ε = daya serap molar (L.mol-1.cm-1); c = konsentrasi
(mol/L); b = panjang sel (cm); A = serapan.
c b
A a
(4)
Daya serap (a) dalam L.g-1.cm-1 adalah serapan dibagi dengan hasil perkalian
panjang sel (b) dalam cm, dan konsentrasi (c) dalam gram/L (Anonim, 1995b).
G. Validasi Metode Analisis
Kesahihan metode analisis diartikan sebagai suatu prosedur yang digunakan
untuk membuktikan bahwa metode analisis tersebut secara taat asas memberikan
hasil seperti yang diharapkan dengan kecermatan dan ketelitian yang memadai.
Pedoman-pedoman kesahihan metode analisis didukung oleh
parameter-parameter (Mulja dan Hanwar,2003).
1. Akurasi
Akurasi adalah suatu ukuran kedekatan nilai hasil percobaan dengan nilai
yang sesungguhnya. Akurasi dapat dinyatakan sebagai persen perolehan kembali
(recovery). Nilai recovery dihitung dari kadar yang dihitung dari kurva baku
dibandingkan dengan kadar teoritis dikalikan 100%.
Rentang kesalahan yang dijinkan pada setiap konsentrasi analit pada matriks
dapat dilihat pada tabel II :
Tabel II. Rentang kesalahan yang diijinkan pada setiap konsentrasi analit pada matriks (Harmita, 2004)
Analit pada matriks sampel (%) Rata-rata yang diperoleh (%)
100 98-102
≥ 10 98-102
≥ 1 97-103
≥ 0,1 95-105
0,01 90-107
0,001 90-107
0,0001 80-110
0,00001 60-115
0,0000001 40-120
Akurasi atau kecermatan hasil analisis sangat bergantung pada sebaran galat
sistematik di dalam keseluruhan tahapan analisis. Oleh karena itu, untuk
mendapatkan akurasi yang tinggi perlu dilakukan pencegahan terjadinya galat
sistematik, antara lain adalah menggunakan peralatan yang telah dikalibrasi,
menggunakan pereaksi dan pelarut yang baik, pengontrolan suhu, dan pelaksanaan
sesuai dengan prosedur (Harmita, 2004).
2. Presisi
Presisi suatu metode analisis merupakan ukuran yang menunjukkan derajat
kesesuaian antara data-data yang diperoleh dari prosedur yang sama pada sampel
homogen (Harmita, 2004). Presisi biasanya dinyatakan dengan Coefficient of
Variation (CV) atau Relative Standard Deviation (RSD) untuk sejumlah sampel yang
berbeda. Harga CV < 2% dapat dikatakan metode tersebut memberikan presisi yang
bagus, sedangkan untuk bioanalisis CV=15-20% masih dapat diterima. Koefisien
21
2004). Namun menurut AOAC performansi metode pada penetapan kadar besi
dengan metode spektrofotometri pada berbagai jenis sereal adalah sebagai berikut :
Tabel III. Nilai Coefisien Variansi (CV) yang diijinkan pada setiap konsentrasi pada matriks
Konsentrasi Analit % CV
≥ 1 % 2,5
0,1 % 5
1 ppm 16
1 ppb 32
3. Linearitas
Menurut Mulja dan Hanwar (2003) linearitas merupakan kemampuan suatu
prosedur analisis untuk mendapatkan hasil uji yang secara langsung proposional
dengan konsentrasi (jumlah) analit dalam sampel. Data linearitas dapat diterima bila
nilai koefisien korelasi (r) lebih dari 0,999.
4. Limit Deteksi dan Limit Kuantitasi
Menurut Harmita (2004) limit deteksi adalah jumlah terkecil analit dalam
sampel yang dapat dideteksi yang memberikan respon signifikan dibandingkan
blanko, pada umumnya 2-3 x respon tanggap detektor. Sedangkan limit kuantitasi
adalah suatu angka terkecil dari analit yang masih dapat memenuhi kriteria cermat
dan seksama, pada umunya 10 x tanggap detektor.
H. Landasan Teori
Penetapan kadar besi dalam sample sereal makanan bayi dapat dilakukan
dengan preparasi dry ashing dan wet digestion sebelum dilakukan pengukuran kadar
dengan spektrofotometri visible dengan pereaksi 1,10-fenantrolin. Pada preparasi dry
ashing sampel sereal dipijarkan pada suhu tinggi kemudian sisa residu (besi)
dilarutkan dalam larutan asam. Pada prosedur wet digestion, sampel dipanaskan
dengan suhu yang lebih rendah dengan menggunakan campuran asam nitrat dan
asam sulfat sehingga akan didapatkan besi dalam larutan asam. Penggunaan suhu
tinggi pada dry ashing memungkinkan untuk terjadi penguapan dari elemen dan
hilang karena penahanan dinding dari wadah. Penggunaan suhu yang lebih rendah
pada wet digestion akan terbebas dari kemungkinan kesalahan yang terjadi pada dry
ashing.
Besi yang diperoleh dari kedua prosedur di atas masih dalam bentuk Fe3+
dalam larutan asam. Oleh karena besi yang terbentuk masih dalam bentuk Fe3+, maka
besi harus direduksi terlebih dulu menggunakan hidrokuinon, setelah tereduksi
menjadi Fe2+. Kompleks ini terbentuk secara optimal pada pH 3,5-4,5 sehingga harus
ditambahkan buffer asetat atau natrium asetat untuk mempertahankan pH tetap pada
rentang tersebut. Kemudian, ditambahkan dengan pereaksi 1,10-fenantrolin yang
dapat membentuk kompleks [Fe(1,10-fenantrolin)3]2+ dapat menyerap sinar tampak
yaitu pada panjang gelombang 510 nm.
Hasil penetapan kadar yang diperoleh dari kedua prosedur diuji distribusi
23
adanya perbedaan bermakna atau tidak bermakna antara dry ashing dan wet digestion
dapat dilanjutkan dengan uji-T sampel berpasangan.
I. Hipotesis
Berdasarkan landasan teori di atas, metode spektrofotometri visibel dengan
pereaksi 1,10-fenantrolin mempunyai validitas yang baik untuk menetapkan kadar
besi dalam sereal makanan bayi dan terdapat perbedaan bermakna antara preparasi
dry ashing dan wet digestion.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis dan Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental karena kadar besi dalam
penelitian ini merupakan kadar besi yang ada pada sample yang didapatkan dari
perbedaan perlakuan antara preparasi dry ashing dan wet digestion. Kemudian, hasil
yang didapatkan tersebut ditentukan berbeda bermakna atau berbeda tidak bermakna
dengan menggunakan uji-T sample berpasangan.
B. Variabel dan Definisi Operasional
1. Variabel
a. Variabel Bebas adalah variable yang dirancang untuk diteliti
pengaruhnya terhadap variable tergantung. Dalam penelitian ini, yang menjadi
variable bebas adalah preparasi dry ashing dan wet digestion.
b. Variabel tergantung adalah titik pusat permasalahan yang merupakan
kriteria penelitian ini. Variabel tergantung dalam penelitian ini adalah kadar besi.
c. Variabel terkendali adalah variable yang diketahui atau secara teoritis
mempunyai pengaruh terhadap variable tergantung, tetapi dapat dikendalikan.
Variable terkendali dalam penelitian ini adalah merek jenis dan merek sampel sereal,
penggunaan pereaksi-pereaksi yang pro-analisis.
d. Variable takterkendali adalah variable yang diketahui atau secara
teoritis mempunyai pengaruh terhadap variable tergantung, tetapi tidak dapat
25
dikendalikan. Dalam penelitian ini yang menjadi variable takterkendali adalah
komposisi sample sereal makan bayi.
2. Definisi Operasional
a. Sampel adalah sereal makanan bayi merek X untuk bayi usia 6-24
bulan yang beredar di pasaran dengan 0,5 takaran saji tiap kemasan.
b. Metode adalah spektrofotometri visibel melalui preparasi dry ashing
dan wet digestion dengan pereaksi 1,10-fenantrolin dan penentuan kadar berdasarkan
pada pembentukan warna kompleks ion besi (II) dan 1,10-fenantrolin yang dapat
terserap pada daerah cahaya tampak.
c. Dry ashing (destruksi kering) adalah proses oksidasi sampel dengan
suhu tinggi (550° C) dalam tungku furnance (Anonim, 1995a).
d. Wet digestion (destruksi basah) adalah proses oksidasi sampel dengan
menggunakan campuran asam nitrat dan asam sulfat (Anonim, 1995a).
e. Kadar besi yang diperoleh dari hasil penetapan kadar sampel
dinyatakan dalam % AKG (Angka Kecukupan Gizi).
C. Bahan-bahan Penelitian
Tiga macam sereal yaitu merk X, pereaksi 1,10-fenantrolin (p.a. Merck®),
natrium asetat anhidrat (p.a. Merck®), asam asetat glasial (p.a.Merck®), hidrokuinon
(p.s. Merck®), Fe(NH4)2(SO4)2.6H2O (p.a Merck®), HCl (p.a Merck®), HNO3 (p.a
Merck), H2SO4 (p.a. Merck®), ethano 96 % (p.a Merck®), indikator pH (Merck®),
kalium heksasianoferat (II) 10% (p.a. Merck®), kalium tiosianat 10% (p.a. Merck®),
aquadest laboratorium Kimia Organik Universitas Sanata Dharma.
D. Alat-alat Penelitian
Spektrofotometer UV-Vis (Perkin-Elmer Lamda 20), kuvet, kertas saring,
erlenmeyer, labu ukur, Erlenmeyer, cawan porselen, hot plate, furnance (Carbolite),
Biuret, pipet tetes, pipet volume, gelas ukur, pengaduk, drupple plate, neraca analitik
makro BP 160 dan Semimikro (Scaltec SBC 22).
E. Tatacara Penelitian
1. Penyiapan sampel
Sepuluh kemasan sereal ditimbang satu per satu dan dicari bobot rata-ratanya.
Sereal yang sudah ditimbang dicampur menjadi satu hingga diperoleh sampel yang
homogen.
2. Pembuatan larutan stock baku Fe2+
Larutan stock baku Fe2+ dibuat dengan menimbang seksama lebih kurang
351,2 mg Fe(NH4)2(SO4)2.6H2O, dimasukkan ke dalam labu ukur 50 ml, dilarutkan
dengan sedikit aquadest, lalu ditambah 2 tetes HCl dan diencerkan dengan aquadest
sampai volume 50,0 ml.
3. Pembuatan larutan intermediet baku Fe2+
Larutan intermediet baku Fe2+ dibuat dengan cara memipet 1,0 ml larutan
stock baku Fe2+ kemudian diencerkan dengan sedikit aquadest ke dalam labu ukur
100 ml, lalu ditambah 2 tetes HCl dan diencerkan dengan aquadest sampai volume
100,0 ml sehingga didapatkan kadar Fe2+ sebesar 10 μg/ml.
4. Pembuatan larutan pereaksi
a. Pembuatan pereaksi 1,10-fenatrolin 0,1%. Larutan dibuat dengan
27
ml, lalu dilarutkan dengan 1,0 ml ethanol 96 % dan encerkan dengan aquadest
sampai volume 100,0 ml.
b. Pembuatan larutan buffer asetat. Larutan dibuat dengan menimbang
lebih kurang 8,3 g natrium asetat anhidrat dilarutkan dengan sedikit aquadest ke
dalam labu 100 ml, lalu ditambahkan 12,0 ml asam asetat glasial dan diencerkan
dengan aquadest sampai volume 100,0 ml.
c. Pembuatan larutan natrium asetat 2,0 M. Larutan dibuat dengan
menimbang lebih kurang 16,4 g natrium asetat anhidrat diencerkan dengan aquadest
sampai volume 100,0 ml.
d. Pembuatan larutan hidrokuinon 1%. Larutan dibuat dengan
menimbang lebih kurang 1,0 g hidrokuinon, diencerkan dengan aquadest sampai
volume 100,0 ml. Larutan pereaksi ini selalu dibuat baru dan terlindung dari cahaya.
5. Optimasi metode
a. Penentuan rentang waktu operasi atau operating time (OT). Sebanyak
4,0 ml larutan baku intermediet Fe2+ dipipet dan dimasukkan ke dalam labu ukur 25
ml. Ditambahkan 2,0 ml larutan hidrokuinon 1 %, ditambahkan larutan buffer asetat
sampai pH 3,5-4,5 dan 1,0 ml larutan 1,10-fenantrolin 0,1 %, lalu diencerkan dengan
aquadest sampai volume 25,0 ml dan digojog sampai rata. Kemudian larutan tersebut
dituang ke dalam kuvet, diukur serapan pada panjang gelombang serapan maksimum
teoritis 510 nm, tiap satu menit, selama 45 menit sampai serapannya stabil.
b. Penentuan panjang gelombang serapan maksimum (λmax). Sebanyak
3,0; 5,0; dan 7,0 ml larutan baku intermediet Fe2+ dipipet dan dimasukkan ke dalam
labu ukur 25 ml. ditambahkan 2,0 ml larutan hidrokuinon 1 %, ditambahkan larutan
buffer asetat sampai pH 3,5-4,5 dan 1,0 ml larutan 1,10-fenantrolin 0,1 %,
diencerkan dengan aquadest sampai volume 25,0 ml dan digojog sampai rata.
Masing-masing larutan tersebut diukur serapannya pada panjang gelombang 400-600
nm dalam rentang waktu operasi. Panjang gelombang serapan maksimum, ditandai
dengan serapan yang paling besar.
6. Penetapan kurva baku
Kelima seri kadar larutan baku Fe2+ dibuat dengan mengambil berturut-turut
sebanyak 3,0; 4,0; 5,0; 6,0; dan 7,0 ml dari larutan intermediate baku Fe2+,
dimasukkan ke dalam labu ukur 25 ml. Kemudian ditambahkan 2,0 ml larutan
hidrokuinon 1 %, ditambahkan larutan buffer asetat sampai mencapai pH 3,5-4,5 dan
1,0 ml larutan 1,10-fenantrolin 0,1 %, diencerkan dengan aquadest sampai volume
25,0 ml dan campur rata. Masing-masing larutan diukur serapannya setelah masuk
rentang waktu operasi pada panjang gelombang serapan maksimum. Dilakukan
pengulangan 3 kali.
7. Uji kualitatif
a. Dry ashing. Sebanyak lebih kurang 5,0 g serbuk sereal yang sudah
tercampur homogen ditimbang saksama, dimasukkan ke dalam cawan porselen.
Secara perlahan-lahan, cawan dipindahkan dan dipanaskan dalam furnace sampai
bebas karbon (abu menjadi berwarna putih) pada suhu 5500 C selama lebih kurang 2
jam. Setelah dingin, ditambahkan 5,0 ml HCl lalu diuapkan di atas hotplate dalam
lemari asam. Residu yang terbentuk dilarutkan dalam 2,0 ml HCl kemudian
29
dengan aquadest lalu filtrat disaring ke dalam labu 50 ml. Setelah dingin, diencerkan
dengan aquadest sampai volume 50,0 ml.
Larutan dipipet ke dalam drupple plate lalu ditetesi dengan pereaksi berikut ini :
i. kalium heksasianoferat (II) 10%
ii. kalium tiosianat 10%
b. Wet digestion.Sebanyak lebih kurang 5,0 g serbuk sereal yang sudah
tercampur homogen ditimbang seksama, dimasukkan ke dalam erlenmeyer 100 ml.
Kemudian, ditambah dengan 20 ml aquadest; 5 ml H2SO4, 25 ml HNO3 dan
dicampur dan diratakan dengan menggoyang perlahan-lahan. Larutan tersebut
dipanaskan secara perlahan dan hati-hati di atas hotplate sampai larutan berubah
warna menjadi jernih-kuning pucat (jika warna larutan belum jernih, tambahkan 5 ml
HNO3). Setelah dingin, 50 ml aquadest ditambahkan dan dipanaskan sampai hampir
kering. Larutan didinginkan, saring ke dalam labu ukur 50 ml, bilas erlenmeyer
dengan aquadest dan diencerkan sampai volume 50,0 ml.
Larutan dipipet dalam drupple plate lalu ditetesi dengan pereaksi berikut ini :
i. kalium heksasianoferat (II) 10%
ii. kalium tiosianat 10%
8. Penetapan kadar
a. Dry ashing. Sebanyak lebih kurang 5,0 g serbuk sereal yang sudah
tercampur homogen ditimbang saksama, dimasukkan ke dalam cawan porselen.
Secara perlahan-lahan, cawan dipindahkan dan dipanaskan dalam furnace sampai
bebas karbon (abu menjadi berwarna putih) pada suhu 5500 C selama lebih kurang 2
jam. Setelah dingin, ditambahkan 5,0 ml HCl lalu diuapkan di atas hotplate dalam
lemari asam. Residu yang terbentuk dilarutkan dalam 2,0 ml HCl kemudian
dipanaskan 5 menit di atas hotplate dengan ditutupi gelas arloji. Gelas arloji dibilas
dengan aquadest lalu filtrat disaring ke dalam labu 50 ml. Setelah dingin, diencerkan
dengan aquadest sampai volume 50,0 ml.
Larutan sampel tersebut dipipet 5,0 ml dan dimasukkan ke labu ukur 25 ml,
ditambahkan 2,0 ml hidrokuinon 1 %, ditambahkan 4,0 ml buffer asetat agar pH
mencapai 3,5-4,5, dan 1,0 ml 1,10-fenantrolin 0,1 %, diencerkan sampai volume 25,0
ml dan digojog sampai rata. Serapan diukur pada panjang gelombang maksimum
dalam rentang waktu operasi. Pengulangan dilakukan 6 kali.
b. Wet digestion. Sebanyak lebih kurang 5,0 g serbuk sereal yang sudah
tercampur homogen ditimbang seksama, dimasukkan ke dalam erlenmeyer 100 ml.
Kemudian, ditambah dengan 20 ml aquadest; 5 ml H2SO4, 25 ml HNO3 dan
dicampur dan diratakan dengan menggoyang perlahan-lahan. Larutan tersebut
dipanaskan secara perlahan dan hati-hati di atas hotplate sampai larutan berubah
warna menjadi jernih-kuning pucat (jika warna larutan belum jernih, tambahkan 5 ml
HNO3). Setelah dingin, 50 ml aquadest ditambahkan dan dipanaskan sampai hampir
kering. Larutan didinginkan, saring ke dalam labu ukur 50 ml, bilas erlenmeyer
dengan aquadest dan diencerkan sampai volume 50,0 ml.
Larutan sampel dipipet 5,0 ml dan dimasukkan ke labu ukur 25 ml.
Tambahkan 2,0 ml hidrokuinon 1 %, goyang secara perlahan-lahan selama beberapa
menit. Kemudian, ditambahkan 10,0 ml natrium asetat 2,0 M agar pH mencapai
31
Serapan diukur pada panjang gelombang maksimum dalam rentang waktu operasi.
Pengulangan dilakukakan sebanyak 6 kali.
9. Pembuatan larutan stock baku Fe2+ untuk perolehan kembali
Larutan stock baku Fe2+ dibuat dengan menimbang seksama lebih kurang
351,2 mg Fe(NH4)2(SO4)2.6H2O, dimasukkan ke dalam labu ukur 50 ml, dilarutkan
dengan sedikit aquadest, lalu ditambah 2 tetes HCl dan diencerkan dengan aquadest
sampai volumenya tepat 50,0 ml.
10.Perolehan kembali
a. Metode dry ashing. Sebanyak lebih kurang 3,0 g serbuk sereal yang
sudah tercampur homogen ditimbang saksama, dimasukkan ke dalam cawan porselen
dan ditambahkan 0,2 ml larutan stock baku Fe2+. Secara perlahan-lahan, cawan
dipindahkan dan dipanaskan dalam furnace sampai bebas karbon (abu menjadi
berwarna putih) pada suhu 5500 C selama lebih kurang 2 jam. Setelah dingin,
ditambahkan 5,0 ml HCl lalu diuapkan di atas hotplate dalam lemari asam. Residu
yang terbentuk dilarutkan dalam 2,0 ml HCl kemudian dipanaskan 5 menit di atas
hotplate dengan ditutupi gelas arloji. Gelas arloji dibilas dengan aquadest lalu filtrat
disaring ke dalam labu 50 ml. Setelah dingin, diencerkan dengan aquadest sampai
volume 50,0 ml.
Larutan sampel tersebut dipipet 5,0 ml dan dimasukkan ke labu ukur 25 ml,
ditambahkan 2,0 ml hidrokuinon 1 %, ditambahkan 4,0 ml buffer asetat agar pH
mencapai 3,5-4,5, dan 1,0 ml 1,10-fenantrolin 0,1 %, diencerkan sampai volume 25,0
ml dan digojog sampai rata. Serapan diukur pada panjang gelombang maksimum
dalam rentang waktu operasi.Pengulangan dilakukan 6 kali.
b. Metode wet digestion. Sebanyak lebih kurang 3,0 g serbuk sereal yang
sudah tercampur homogen ditimbang seksama, dimasukkan dan ditambahkan 0,2 ml
larutan stock baku Fe2+ ke dalam erlenmeyer 100 ml. Kemudian, ditambah dengan
20 ml aquadest; 5 ml H2SO4, 25 ml HNO3 dan dicampur dan diratakan dengan
menggoyang perlahan-lahan. Larutan tersebut dipanaskan secara perlahan dan
hati-hati di atas hotplate sampai berubah warna menjadi jernih-kuning pucat (jika warna
larutan belum jernih, tambahkan 5 ml HNO3). Setelah dingin, 50 ml aquadest
ditambahkan dan dipanaskan sampai hampir kering. Larutan didinginkan, saring ke
dalam labu ukur 50 ml, bilas erlenmeyer dengan aquadest dan diencerkan sampai
volume 50,0 ml.
Larutan sampel dipipet 5,0 ml dan dimasukkan ke labu ukur 25 ml.
Tambahkan 2,0 ml hidrokuinon 1 %, goyang secara perlahan-lahan selama beberapa
menit. Kemudian, ditambahkan 10,0 ml natrium asetat 2,0 M agar pH mencapai
3,5-4,5, dan 1,0 ml 1,10-fenantrolin 0,1 %, lalu diencerkan sampai volume 25,0 ml.
Serapan diukur pada panjang gelombang maksimum dalam rentang waktu operasi.
Pengulangan dilakukakan sebanyak 6 kali.
F. Analisis hasil
Analisis hasil pada penelitian ini meliputi analisis kualitatif dan analisis
kuantitatif serta analisi Statistik. Analisis kualitatif dilakukan menggunakan metode
reaksi warna yaitu uji dengan kalium heksasianoferat (II) 10% dan kalium tiosianat
10%. Analisis kuantitatif dilakukan dengan menghitung % AKG zat besi yang
33
dalam penetapan kadar besi dalam sereal ditentukan berdasarkan parameter akurasi,
presisi, linearitas, limit of detection dan limit of quantitation :
1. Akurasi
Akurasi dapat dilaporkan sebagai persen perolehan kembali (recovery).
Nilai perolehan kembali suatu metode analisis dihitung dengan rumus :
%
Presisi biasannya dinyatakan dengan Coefficient of Variation (CV) atau
Relative Standard Deviation (RSD). CV dapat dihitung dengan rumus sebagai
berikut :
Linearitas dinyatakan dalam r, dimana ≤ 0,999 dan dihitung dari analisis
regresi data kurva baku.
4. Limit Deteksi dan Limit Kuantitasi
a. Limit Deteksi / Limit of Detection (LOD)
Sl S Sb LOD 3. ( y/x)
b. Limit Kuantitasi / Limit of Quantitation (LOQ)
Sl Sb LOQ10.
Dimana Sl merupakan slope atau gradient kadar dan Sb merupakan Sx/y.
Setelah didapatkan hasil penetapan kadar besi yang terkandung dalam sampel
sereal makanan bayi digunakan uji Kolmogorov-Smirnov untuk melihat distribusi hasil
penetapan kadar normal atau tidak. Jika uji distribusi normal maka dapat dilanjutkan
uji-T sampel berpasangan untuk melihat perbedaan bermakna atau tidak bermakna antara
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. SAMPEL
Dalam penelitian ini sampel yang digunakan sebagai sampel adalah sereal
makanan bayi tahap awal mulai usia 6-24 bulan dengan merek X yang tertera
mengandung zat besi dan berbagai nutrisi untuk membantu tumbuh kembang bayi
secara optimal. Pada kemasan sereal tersebut tercantum mengandung zat besi sebesar
44 % AKG untuk setiap takaran saji. Angka Kecukupan Gizi (AKG) adalah suatu
kecukupan rata-rata gizi setiap hari bagi semua orang menurut golongan umur, jenis
kelamin, ukuran tubuh, aktifitas tubuh dan kondisi fisiologis khusus untuk mencapai
derajad kesehatan yang optimum. Dalam label kemasan sereal juga dicantumkan
bahwa setiap kemasan sereal mengandung 0,5 takaran saji, sehingga satu takaran saji
setara dengan 2 kemasan sereal. Sampel yang diambil mempunyai nomor batch sama
untuk menunjukkan bahwa sampel tersebut melalui tahap-tahap produksi yang sama.
Sebanyak 10 kemasan sereal tersebut ditimbang satu persatu dan dicampur menjadi
satu hingga homogen.. Dari penimbangan tersebut didapatkan bobot rata-rata sereal
merek X adalah 20.123,88 mg.
B. Optimasi Metode
Larutan stock baku Fe2+ dibuat dengan menimbang seksama lebih kurang
351,2 mg Fe(NH4)2(SO4)2.6H2O, dimasukkan ke dalam labu ukur 50 ml, dilarutkan
dengan sedikit aquadest, lalu ditambah 2 tetes HCl dan diencerkan dengan aquadest
sampai volume 50,0 ml. Kemudian, dari larutan stock diambil 1,0 ml dan kemudian
35
diencerkan dengan sedikit aquadest ke dalam labu ukur 100 ml, lalu ditambah 2 tetes
HCl dan diencerkan dengan aquadest sampai volume 100,0 ml sehingga didapatkan
kadar Fe2+ akhir sebesar 10 μg/ml.
Dalam optimasi metode ini, besi yang terdapat dalam larutan mungkin masih
ada yang berbentuk Fe3+ sehingga harus direduksi terlebih dulu menjadi Fe2+, karena
Fe3+ tidak bisa memberikan warna yang intens bila bereaksi dengan 1,10-fenantrolin.
Reduksi dilakukan dengan menggunakan hidrokuinon. Hidrokuinon selalu dibuat
baru dan dilindungi dari cahaya karena hidrokuinon mudah teroksidasi menjadi
kecoklatan, agar tidak mengganggu pembentukkan kompleks warna dan pengukuran
absorbansi.
Gambar 5. Reaksi reduksi Fe3+ oleh hidrokuinon (Harris, 1999)
Menurut Anonim, 1995 a., pH optimum pembentukkan kompleks
[Fe(1,10-fenantrolin)3]2+ adalah 3,5-4,5. Oleh karena itu, pada larutan tersebut ditambahkan
buffer asetat untuk mencapai pH optimum. Dalam larutan tersebut natrium asetat
akan berdisosiasi menjadi ion natrium dan ion asetat. Ion asetat yang berasal dari
natrium asetat akan meningkatkan pH larutan karena bergabung dengan ion hidrogen
berlebih yang ada dalam larutan dan membentuk asam asetat, sehingga pH
meningkat dan pH optimum tercapai, reaksinya sebagai berikut :
CH3COONa → Na+ + CH3COO- (11)
CH3COO- + H+↔ CH3COOH (12)
2Fe3++ HO OH 2Fe2+ + O O +2H+
37
Ion besi (III) yang telah mengalami reduksi menjadi besi (II) dan mencapai
pH optimum, bereaksi dengan 1,10-fenantrolin membentuk kompleks berwarna
merah-orange dan reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut :
Fe2+ + 3
1,10-fenantrolin
[Fe(1,10-fenantrolin)3] 2+
Gambar 6. Pembentukan kompleks Fe2+ dengan 1,10-fenantrolin (Harris,1999)
1. Penentuan Operating Time (OT)
Operating time atau waktu operasi adalah waktu yang dibutuhkan ion besi
(II) untuk bereaksi dengan pereaksi 1,10-fenantrolin secara sempurna membentuk
kompleks warna merah-orange, hal ini ditandai dengan absorbansi stabil dalam kurun
waktu tertentu. Pada penelitian ini, pengukuran waktu operasi dilakukan 5 menit
setelah pengenceran. Grafik waktu operasi yang dihasilkan dapat dilihat dalam pada
gambar berikut.
N N N
N Fe
N
N N
N
2+
Gambar 7. Grafik OT kompleks Fe2+ dengan 1,10-fenantrolin
Dari hasil penetuan waktu operasi salah satu kadar seri kurva baku dengan
konsentrasi 1,599 μg/mL pada panjang gelombang teoritis 510 nm dapat diketahui
bahwa kompleks [Fe(1,10-fenantrolin)3]2+ stabil 5 menit setelah pengenceran dari
menit 0 hingga 45 menit dengan absorbansi sebesar 0,365.
2. Penentuan Panjang Gelombang Absorbansi Maksimum (λmaks)
Penentuan panjang gelombang absorbansi maksimum dilakukan untuk
mengetahui panjang gelombang dimana kompleks [Fe(1,10-fenantrolin)3]2+
39
A = konsentrasi 2,7996 μg/ml; absorbansi 0,565; λmaks 510,4 nm B = konsentrasi 1,9997 μg/ml; absorbansi 0,417; λmaks 510,5 nm C = konsentrasi 1,1998 μg/ml; absorbansi 0,252; λmaks 510,4 nm
Gambar 8. Grafik λ maksimum kompleks Fe2+ dengan 1,10-fenantrolin
Penentuan panjang gelombang serapan maksimum dilakukan pada rentang
400-600 nm dengan 3 seri kadar kurva baku yaitu pada konsentrasi 1,599; 2,399; dan
2,799 μg/mL dalam waktu rentang operasi dan hasilnya dapat dilihat pada gambar di
atas. Dari hasil tersebut dapat ditetapkan bahwa panjang gelombang serapan
maksimum penelitian adalah 510,4 nm, dan panjang gelombang ini selanjutnya
digunakan untuk pengukuran kurva baku dan penetapan kadar sampel.
3. Penentuan Kurva Baku
Kurva baku dibuat dengan lima seri kadar, yaitu dengan pemipetan 3,0; 4,0;
5,0; 6,0; dan 7,0 mL dari larutan intermediate baku Fe2+, sehingga diperoleh hasil
sebagai berikut :
Tabel IV. Kurva baku konsentrasi Fe2+vs absorbansi
Replikasi I Replikasi II Replikasi III*
Kons.Fe2+
Catatan : * persamaan kurva baku yang digunakan dalam penelitian
Dilihat dari koefisien korelasi ketiga persamaan kurva baku mempunyai
korelasi yang baik karena nilainya lebih dari 0,999 (Mulja dan Hanwar, 2003). Dari
ketiga replikasi kurva baku tersebut dipilih replikasi ketiga dengan persamaan kurva
baku Y = 0,1985 X + 2,39.10-3 karena mempunyai koefisien korelasi yang paling
besar yaitu 0,9998.
41
C. Uji Kualitatif
Pada penelitian ini dilakukan uji kualitatif yang bertujuan untuk melihat ada
atau tidaknya kandungan besi dalam sampel. Uji kualitatif dilakukan menggunakan
kalium heksasianoferat (II) 10%, kalium tiosianat 10%. Hasil yang didapatkan untuk
masing-masing sampel dari kedua uji kualitatif adalah positif bahwa sampel
mengandung besi. Reaksi yang terjadi sebagai berikut :
1.
4 Fe3+ + 3[Fe(CN)6]4- → Fe4[Fe(CN)6]3↓ (5)
Biru tua
besi (III) heksasianoferat (II) berwarna biru tua. (Svehla,1979)
2.
Kalium heksasianoferat (II)
D. Penetapan Kadar
Kalium tiosianat
Fe3+ + 6SCN - → [Fe(SCN)6]-3 (6)
pewarnaan merah
dihasilkan pewarnaan merah, yang disebabkan oleh pembentukan besi (III) tiosianat
yang tak terdisosiasi.
1.
→ 550°C
Preparasi dry ashing
Sereal yang sudah tercampur homogen ditimbang seksama lebih kurang 5,0
gram dan dimasukkan ke dalam cawan porselin. Sereal dimasukkan ke dalam furnace
dan dipijarkan hingga suhu 5500 C selama kurang lebih 2 jam. Reaksi yang terjadi
adalah sebagai berikut :
Mn+ + C
uHvOwPySz + 1/2 (2u+1/2x+2z+1/4y-w)O2 M(s) + uCO2(g) + 1/2vH2O(g)+ xNO2(g)+ zSO2(g)+ 1/4yP4O10(g) (7)
Setelah pemanasan sisa sampel yang berupa residu putih didinginkan. Dari reaksi
tersebut, senyawa yang tersisa adalah senyawa anorganik (besi, tembaga,
magnesium, dll.) yang terkandung di dalam sample. Setelah dingin, residu diuapkan
dengan HCl di atas waterbath yang ditutup dengan gelas arloji.
Dalam penelitian ini, residu yang diharapkan adalah besi. Besi yang terbentuk
dilarutkan dengan HCl dan dipanaskan selama 5 menit. Reaksi yang terjadi adalah
sebagai berikut :
Fe + 2 HCl → Fe2+ + 2 Cl- + H2(g) (8)
Fe + 3 HCl → Fe3+ + 3 Cl- + 11/2 H2 (g) (9)
Larutan yang terbentuk disaring ke dalam labu 50 mL, gelas arloji dan cawan
porselen dibilas beberapa kali dengan aquadest dan disaring agar tidak ada besi yang
tertinggal dalam gelas arloji ataupun cawan porslen, begitu juga dengan kertas
saring. Setelah diencerkan hingga 50 mL, larutan digojok-gojok agar homogen.
2.
→ ↑
]
[H
Preparasi wet digestion
Sereal yang sudah tercampur homogen ditimbang seksama lebih kurang 5,0
gram. Sereal dilarutkan dengan campuran asam HNO3 dan H2SO4. Setelah beberapa
menit, campuran tersebut dipanaskan secara perlahan-lahan di atas kompor listrik
hingga sampel larut, agar tidak ada buih yang keluar. Reaksi yang terjadi adalah
sebagai berikut :
Mn+ + C
uHvOwPySz + 1/2 (2u+1/2x+2z+1/4y-w)O2 M(n+a)+(l) + uCO2(g) + 1/2vH2O(g)+ xNO2(g)+ zSO2(g)+ 1/4yP4O10(g) (10)
Lanjutkan pemanasan hingga larutan berubah menjadi jernih-kuning pucat atau tidak
ada residu. Setelah jernih, ditambahkan 50 ml aquadest dan panaskan hingga hampir
kering. Larutan yang tersisa didinginkan dan disaring ke dalam labu 50 ml.
Erlenmeyer dan kertas saring dibilas beberapa kali dengan aquadest agar tidak ada
43
E. Analisi Hasil
Dalam penelitian ini dilakukan validasi metode analisis yang bertujuan untuk
melihat apakah metode spektrofotometri visible dengan pereaksi 1,10-fenantrolin
valid digunakan untuk menetapkan kadar besi dalam sample sereal makanan bayi.
Adapun parameter validasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah akurasi,
presisi dan linearitas.
Akurasi suatu metode analisi biasanya dinyatakan dengan % recovery
terhadap sampel yang kadarnya telah diketahui (Mulja dan Suharman, 1995).
Penetapan recovery dilakukan dengan menambahkan baku dalam jumlah tertentu ke
dalam sampel dan diperlakukan seperti pada penetapan kadar, serapannya dibaca dan
dibandingkan dengan kadar teoritis yang ada dalam sampel dengan menghitungnya
dari persamaan kurva baku. Penetapan recovery dilakukan 6 kali replikasi dengan
rata-rata rentang recovery sebagai berikut :
Tabel V. % Recovery sereal merek X pada dry ashing
Replikasi % Recovery Merek X
1 98,56
2 98,90
3 99,12
4 103,39
5 98,64
6 101,77
Rentang
recovery 98,56-103,39