LEMBARAN DAERAH KOTA DUMAI

23  Download (0)

Full text

(1)

KOTA DUMAI

LEMBARAN DAERAH

KOTA DUMAI

Nomor : 16 Tahun 2007 Seri : A Nomor 01

PERATURAN DAERAH KOTA DUMAI NOMOR 16 TAHUN 2007

TENTANG PAJAK HOTEL

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA DUMAI,

Menimbang : a. bahwa optimalisasi penerimaan Pendapatan Asli Daerah dari sektor Pajak Daerah perlu terus dilakukan sejalan dengan perubahan paradigma dalam Pemerintahan yang berakibat pada perubahan peraturan perundang-undangan yang menjadi landasan berlakunya ketentuan tentang Pajak Daerah;

b. bahwa dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah dan Peraturan Pemerintah Nomor 65 tahun 2001 tentang Pajak Daerah, maka Peraturan Daerah Kota Dumai Nomor 06 Tahun 2000 tentang Pajak Hotel dan Restoran, perlu untuk disesuaikan dengan Peraturan PerUndang-Undangan yang berlaku;

c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, dipandang perlu menetapkan Peraturan Daerah tentang Pajak Hotel;

2. Tindakan Medik dan Terapi Sedang

- Persalinan Normal 250.000 50.000 - Operasi Gigi Tertanam 100.000 30.000 Jasa Pelayanan Medik 30 % dari biaya

tindakan per jenis pelayanan RAWAT JALAN

- Jasa Rawat jalan 2000 1.500 - Jasa Pelayanan 1000 500 PEMERIKSAAN PENUNJANG DIAGNOSTIK

1. Laboratorium Klinik

- Darah Rutin (untuk tiap jenis pemeriksaan) 1.500 750 - Urine Rutin (untuk tiap jenis pemeriksaan) 1.500 750 - Tinja Rutin 1.500 750 - Golongan Darah 5.000 3000 - Test Kehamilan 15.000 15.000 - Kimia Klinik 4.000 3.500 - Faal Hemostatik Trombosit 4.000 4.000 Rumple Leede Test 1.000 500 - Serologi

Reaksi Widal· 7.500 7.500 Pemeriksaan HBs-Ag· 5.000 5.000 Pemeriksaan Anti HBsAg 5.000 5.000 - Malaria 3.000 7.50 - Filaria 3.000 1.500 - Pemeriksaan Mikroskopik Langsung 5.000 1.500 2. Radiodiagnostik

- Rontgen Foto Thorax 15.000 15.000

(2)

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981 Nomor 76);

2. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1997 tentang Badan Penyelesaian Sengketa Pajak (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 40, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3084);

3. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3685), sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 246, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4048);

4. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1997 tentang Penagihan Pajak Dengan Surat Paksa (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 42, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3686); 5. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1999 tentang

Pembentukan Kotamadya Daerah Tingkat II Dumai (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 50, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3629);

6. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002, tentang pengadilan pajak dengan surat paksa (Lembaga Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 27, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4189) 7. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang

Pembentukan Peraturan Per Undang-Undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4048);

375 TINDAKAN MEDIK DAN TERAPI

1. Tindakan Medik dan Terapi Ringan

- Tindik Daun Telinga 5.000 2.500 - Sunat/Sirkumsisi Pria 50.000 15.000 - Sunat/Sirkumsisi Wanita 5.000 3.000

- Pemasangan 10.000 4.500

- Pencabutan Implant 50.000 4.500

- Insisi Abses 5.000 3.000

- Ekstirpasi Tumor Jinak 35.000 15.000 - Pencabutan Gigi Susu per Batang 5.000 2.500 Gigi

- Pencabutan Gigi Susu dg kompli- 7.500 kasi per Batang Gigi

- Pencabutan Gigi Tetap per Batang 15.000 4.500 Gigi

- Penambalan sementara Gigi Susu 3.000 per Batang

- Penambalan tetap Gigi Susu per 10.000 Batang

- Penambalan sementara Gigi 5.000 permanen per Batang

- Penambalan tetap Gigi permanen 17.500 5.000 per Batang

- Insisi Abses Gigi 15.000 15.000 - Perawatan Syaraf Gigi sekali 4.000 4.000 kunjungan

Jasa Pelayanan Medik 30 % dari biaya tindakan per jenis pelayanan

(3)

8. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 108, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4548);

9. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438);

10. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1983 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 6, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3258);

11. Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor Tahun 2001 Nomor 118, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4138);

12. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4578);

13. Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 165, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4593);

14. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Propinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/ Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737);

(3) Khusus bagi peserta PT. Askes diberikan pelayanan atas jaminan pihak PT. Askes sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

(4) Biaya akomodasi dikenakan perhari dan visite/konsultasi dikenakan setiap kali.

(5) Tarif pelayanan rawat inap tidak termasuk biaya alat kesehatan/bahan medis habis pakai dan obat-obatan yang tidak disediakan pemerintah.

(6) Tarif akomodasi bayi baru lahir yang dirawat gabung dikenakan sebesar 50 % (lima puluh persen) dari biaya akomodasi ibunya.

3. Ketentuan dalam Pasal 12 ayat (2) diubah dan ditambah ayat (3) dan ayat (4) sehingga berbunyi sebagai berikut :

Pasal 12

(2) Tarif pemeriksaan penunjang diagnostik dihitung berdasarkan biaya pelayanan yang diberikan.

(3) Tarif pemeriksaan penunjang diagnostik tidak termasuk biaya alat kesehatan/bahan medis habis pakai dan obat-obatan yang tidak disediakan pemerintah.

(4) Tarif pemeriksaan penunjang diagnostik yang tidak terencana besarnya adalah 1,5 kali tarif biasa.

4. Ketentuan dalam Pasal 13 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut :

Pasal 13

No. Jenis Pelayanan

TINDAKAN GAWAT DARURAT

1. Tindakan Kecil 15.000

-2. Tindakan Sedang 25.000

-3. Tindakan Besar 40.000

-Jasa Pelayanan Medik 30% dari biaya tindakan per jenis pelayanan

369 Tarif Lama Tarif

(4)

15. Keputusaan Menteri Dalam Negeri Nomor 170 Tahun 1997 tentang Pedoman Tata Cara Pemungutan Pajak Daerah; 16. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 172 Tahun 1997

tentang Kriteria Wajib Pajak yang wajib menyelenggarakan Pembukuan dan Tata Cara Pembukuan;

17. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 173 Tahun 1997 tentang Tata Cara Pemeriksaan dibidang Pajak Daerah; 18. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 43 Tahun 1999

tentang Sistem dan Prosedur Administrasi Pajak Daerah, Retribusi Daerah dan penerimaan Pendapatan Lain-lain; 19. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 27 Tahun 2002

tentang Pedoman Alokasi Biaya pemungutan Pajak Daerah;

Dengan Persetujuan Bersama

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KOTA DUMAI dan

WALIKOTA DUMAI MEMUTUSKAN :

Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG PAJAK HOTEL. BAB I

KETENTUAN UMUM Pasal 1

Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan : 1. Daerah adalah Kota Dumai.

2. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Kota Dumai. 3. Walikota adalah Walikota Dumai.

4. DPRD adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Dumai.

5. Dinas Pendapatan adalah Dinas Pendapatan Daerah Kota Dumai.

6. Kepala Dinas Pendapatan adalah Kepala Dinas Pendapatan Kota Dumai.

Dengan Persetujuan Bersama

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Dumai Dan

Walikota Dumai MEMUTUSKAN :

Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH KOTA DUMAI NOMOR 13 TAHUN 2001 TENTANG RETRIBUSI PELAYANAN KESEHATAN DAN PEMAKAIAN FASILITAS SARANA DAN PRASARANA PADA PUSKESMAS PERAWATAN, PUSKESMAS RAWAT JALAN DAN PUSKESMAS PEMBANTU DAERAH KOTA DUMAI.

Pasal I

Beberapa ketentuan dalam Peraturan Daerah Kota Dumai Nomor 13 Tahun 2001 tentang Retribusi Pelayanan Kesehatan dan Pemakaian Fasilitas Sarana dan Prasarana Pada Puskesmas Perawatan, Puskesmas Rawat Jalan dan Puskesmas Pembantu Daerah Kota Dumai di ubah sebagai berikut :

1. Ketentuan dalam Pasal 9 ayat (4) dan ayat (6) diubah sehingga berbunyi sebagai berikut :

Pasal 9

(4) Tarif karcis harian loket ditetapkan sebesar Rp. 3.000,- (tiga ribu rupiah).

(6) Bagi peserta PT. Askes, diberikan pelayan atas jaminan pihak PT. Askes sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

2. Ketentuan dalam Pasal 11 ayat (2) dan ayat (3) diubah dan ditambah ayat (4), ayat (5), dan ayat (6) sehingga berbunyi sebagai berikut :

Pasal 11

(2) Tambahan biaya visite dan konsultasi untuk penderita rawat inap Kelas III, tidak dikenakan, sedangkan Kelas II dan Kelas I dikenakan sebagai berikut :

- Kelas II : Rp. - Kelas I : Rp. - Konsultasi Spesialis : Rp.

(5)

12.000,-7. Pejabat adalah Pegawai yang diberi tugas tertentu dibidang perpajakan daerah sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku.

8. Badan adalah salah satu bentuk badan usaha yang meliputi perseroan terbatas, perseroan komanditer, perseroan lainnya, Badan Usaha Milik Negara atau Daerah dengan nama dan dalam bentuk apapun, Persekutuan, Perkumpulan, Firma, Kongsi,Koperasi, Yayasan Ketua Organisasi sejenis, lembaga dana pensiun, bentuk usaha tetap serta bentuk badan usaha lainnya.

9. Kas Daerah adalah Kas Daerah Kota Dumai.

10. Hotel adalah Bangunan yang khusus disediakan bagi orang untuk dapat menginap/istirahat, memperoleh pelayanan, dan/atau fasilitas lainnya dengan dipungut bayaran, termasuk bangunan lainnya yang menyatu, dikelola dan dimiliki oleh pihak yang sama, kecuali untuk pertokoan dan perkantoran.

11. Pengusaha Hotel adalah Perorangan atau badan hukum yang menyelenggarakan usaha hotel untuk dan atas namanya sendiri atau untuk dan atas nama pihak lain yang menjadi tanggungannya.

12. Objek Pajak Hotel adalah pelayanan yang disediakan Hotel dengan pembayaran, termasuk fasilitas Penginapan atau Fasilitas tinggal jangka pendek, Pelayanan penunjang sebagai kelengkapan fasilitas penginapan atau tinggal jangka pendek yang sifatnya memberikan kemudahan dan kenyamanan,Fasilitas olah raga dan hiburan yang disediakan khusus untuk tamu, bukan untuk umum, Jasa persewaan ruangan untuk kegiatan acara atau pertemuan.

13. Subjek Pajak Hotel adalah Orang Pribadi atau Badan yang melakukan pembayaran kepada Hotel.

14. Wajib pajak Hotel adalah Pengusaha Hotel.

15. Masa Pajak Hotel adalah jangka waktu yang lamanya 1(satu) bulan takwim.

16. Pajak Hotel yang selanjutnya disebut Pajak adalah Pungutan Daerah atas Pembayaran kepada Hotel.

17. Surat Pemberitahuan Tanda Pajak Daerah, yang disingkat SPTPD, adalah surat yang digunakan oleh wajib pajak

7. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438);

8. Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 1984 tentang Pemeliharaan Kesehatan Pegawai Negeri Sipil dan Penerima Pensiun Beserta Anggota Keluarganya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1984 Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3278); 9. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1987, tentang

Penyerahan sebagian Urusan Pemerintah dalam Bidang Kesehatan Kepada Daerah (Lembaran Negara Nomor 1987 No. 7, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3347);

10. Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2001 tentang Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 119, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4239);

11. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 79 Tahun 2005 tentang Pedoman Pembinaan Dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 165, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4593); 12. Keputusan Bersama Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam

Negeri Republik Indonesia Nomor :48/MENKES/SKB/1988 Nomor : 10 Tahun 1988

Tentang Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1987 tentang Penyerahan Sebagian Urusan Pemerintah dalam Bidang Kesehatan Kepada Daerah; 13. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 84 Tahun 1993,

tentang Bentuk Peraturan Daerah dan Peraturan Daerah Perubahan;

14. Surat Edaran Menteri Kesehatan Nomor : 1107/MENKES/E/ VII/2000 Tanggal 27 Juli 2000 tentang Kewenangan minimal yang wajib tetap dilaksanakan oleh Kabupaten/ Kota di Bidang Kesehatan;

(6)

18. Surat Setoran Pajak Daerah, yang disingkat SSPD, adalah surat yang dipergunakan oleh wajib pajak untuk melakukan pembayaran atau penyetoran pajak yang terutang ke kas daerah atau ke tempat lain yang ditetapkan oleh kepala Daerah.

19. Surat Ketetapan Pajak Daerah, yang disingkat SKPD, adalah surat keputusan yang menentukan besarnya jumlah pajak yang terutang.

20. Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar, yang disingkat SKPDKB, adalah surat keputusan yang menentukan besarnya jumlah pajak yang terutang, jumlah kredit pajak, jumlah kekurangan pembayaran pokok pajak, besarnya sanksi administrasi, dan jumlah yang harus dibayar. 21. Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan,

yang disingkat SKPDKBT,adalah surat keputusan yang menentukan tambahan atas jumlah pajak yang telah ditetapkan.

22. Surat Ketetapan Pajak Daerah Lebih Bayar, yang disingkat SKPDLB,adalah surat keputusan yang menentukan jumlah kelebihan pembayaran pajak karena jumlah kredit pajak lebih besar dari pajak yang terutang atau tidak seharusnya terutang.

23. Surat Ketetapan Pajak Daerah Nihil, yang disingkat SKPDN, adalah surat keputusan yang menentukan jumlah pajak yang terutang sama besarnya dengan jumlah kredit pajak, atau pajak tidak terutang dan tidak ada kredit pajak. 24. Surat Tagihan Pajak daerah, yang disingkat STPD, adalah

surat untuk melakukan tagihan pajak dan atau sanksi administrasi berupa bunga dan atau denda.

25. Surat Keputusan Pembetulan adalah surat keputusan untuk membetulkan kesalahan tulis, kesalahan hitung dan atau kekeliruan dalam penerapan peraturan perUndang-undangan perpajakan daerah yang terdapat dalam Surat Ketetapan Pajak Daerah, Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar, Surat Ketetapan pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan, Surat Ketetapan Pajak Daerah Lebih Bayar,Surat Ketetapan Pajak Daerah Nihil atau Surat Tagihan Pajak Daerah.

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 100 Tahun 1992, Tambahan Lembaran Negara republik Indonesia Nomor 3495);

2. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3685) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 246, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4048);

3. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1999 tentang Pembentukan Kotamadya Daerah Tingkat II Dumai (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 50, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3829);

4. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355);

5. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5489);

6. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 108, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor

(7)

Angka 3 Pasal 27 Cukup jelas Angka 4 Pasal 28 Cukup jelas Angka 5 Pasal 30 Cukup jelas Angka 6 Cukup jelas Pasal II Cukup jelas 364

(2) Objek Pajak Hotel adalah Pelayanan yang disediakan Hotel dengan dipungut bayaran,termasuk:

a. Fasilitas Penginapan atau fasilitas tinggal jangka pendek termasuk tempat kost, wisma, pondok wisata dan rumah penginapan lainnya yang sejenis;

b. Pelayanan penunjang sebagai kelengkapan fasilitas penginapan atau tinggal jangka pendek yang sifatnya memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi tamu hotel;

c. Fasilitas olah raga dan hiburan yang disediakan khusus untuk tamu Hotel, bukan untuk umum;

d. Jasa persewaan ruangan untuk kegiatan acara atau pertemuan di Hotel.

(3) Tidak termasuk Objek Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah :

a. Penyewaan rumah atau kamar, apartemen/atau fasilitas tempat tinggal lainnya yang tidak menyatu dengan Hotel;

b. Pelayanan tinggal di asrama, dan Pondok Pesantren; c. Fasilitas olah raga dan hiburan yang disediakan di hotel

yang dipergunakan oleh bukan tamu hotel dengan pembayaran;

d. Pertokoan, perkantoran, perbankan, salon yang dipergunakan oleh umum di hotel;

e. Pelayanan perjalanan wisata yang diselenggarakan oleh hotel dan dapat dimanfaatkan oleh umum.

(4) Subjek Pajak Hotel adalah Orang Pribadi atau Badan yang melakukan pembayaran kepada hotel.

(5) Wajib pajak Hotel adalah Orang Pribadi atau Badan sebagai Pemilik dan/atau Pengusaha Hotel.

BAB III

DASAR PENGENAAN DAN TARIF PAJAK Pasal 3

(1) Dasar Pengenaan Pajak adalah besarnya jumlah pembayaran yang dilakukan kepada hotel.

(8)

26. Surat Keputusan keberatan adalah surat keputusan atas keberatan terhadap surat Ketetapan Pajak Daerah, Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar, Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang bayar Tambahan, Surat Ketetapan Pajak Daerah Lebih Bayar, Surat Ketetapan Pajak Daerah Nihil atau terhadap pemotongan atau pemungutan oleh pihak ketiga yang diajukan oleh wajib pajak.

27. Putusan banding adalah putusan Badan Penyelesaian Sengketa Pajak atas banding terhadap Surat Keputusan Keberatan yang diajukan oleh wajib pajak.

28. Pembukuan adalah suatu proses pencatatan yang dilakukan secara teratur untuk mengumpulkan data dan informasi yang meliputi keadaan harta, kewajiban atau utang, modal, penghasilan dan biaya serta jumlah harga perolehan dan penyerahan barang atau jasa, yang ditutup dengan menyusun laporan keuangan berupa neraca dan perhitungan rugi laba pada setiap Tahun Pajak berakhir. 29. Pemeriksaan adalah serangkaian kegiatan untuk mencari,

mengumpulkan, dan mengolah data dan atau keterangan lainnya dalam rangka pengawasan kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan daerah berdasarkan peraturan perundang-undangan perpajakan daerah.

30. Penyidikan Tindak Pidana Dibidang Perpajakan Daerah adalah serangkaian tindakan yang dilakukan oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil, yang selanjutnya disebut Penyidik, untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tindak pidana di bidang perpajakan daerah yang terjadi serta menemukan tersangkanya.

BAB II

NAMA, OBJEK, SUBJEK DAN WAJIB PAJAK Pasal 2

(1) Dengan nama Pajak Hotel dipungut Pajak atas setiap pelayanan kepada Hotel.

380

KOTA DUMAI

LEMBARAN DAERAH

KOTA DUMAI

Nomor : 15 Tahun 2007 Seri : B Nomor 06

PERATURAN DAERAH KOTA DUMAI NOMOR 15 TAHUN 2007

TENTANG

PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH NOMOR 13 TAHUN 2001 TENTANG RETRIBUSI PELAYANAN KESEHATAN DAN PEMAKAIAN FASILITAS SARANA DAN PRASARANA PADA PUSKESMAS PERAWATAN, PUSKESMAS RAWAT JALAN DAN

PUSKESMAS PEMBANTU DAERAH KOTA DUMAI

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA DUMAI,

Menimbang : a. bahwa Peraturan Daerah Nomor 13 Tahun 2001 tentang Retribusi Pelayanan Kesehatan dan Pemakaian Fasilitas Sarana dan Prasarana Pada Puskesmas Perawatan, Puskesmas Rawat Jalan dan Puskesmas Pembantu Daerah Kota Dumai perlu diadakan perubahan pada beberapa Pasal terutama yang menyangkut Tarif Pelayanan;

b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud huruf a, perlu menetapkan Retribusi Pelayanan Kesehatan dan Pemakaian Fasilitas Sarana dan Prasarana Pada Puskesmas Perawatan, Puskesmas Rawat Jalan dan Puskesmas Pembantu Daerah Kota Dumai dengan Peraturan Daerah;

(9)

(4) Jangka waktu rekomendasi berlaku 1 (satu) tahun dan selanjutnya dapat diperbaharui.

(5) Izin dan Rekomendasi diberikan atas nama pemohon. (6) Dalam surat izin dimuat ketentuan-ketentuan yang harus

dipenuhi dan dipatuhi oleh pemegang izin.

(7) Izin dan rekomendasi tidak dapat dipindah tangankan kepada pihak lain kecuali atas persetujuan Kepala Dinas Kesehatan.

(8) Syarat-syarat dan tatacara pengalihan izin diatur lebih lanjut oleh Kepala Dinas Kesehatan.

Pasal 12

Pemegang izin sebagai mana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (4) diwajibkan :

a. Membayar retribusi izin dan rekomendasi ke kas daerah melalui bendaharawan pembantu khusus penerima Dinas Kesehatan;

b. Mematuhi segala ketentuan dan perundang–undangan yang berlaku berkaitan dengan masalah kesehatan; c. Memperpanjang izin dan membayar retribusi sesuai

dengan jadwal sebagaimana diatur dalam Pasal 11 ayat ( 3) bila si pemegang izin ingin melanjutkan usahanya; d. Melayani dan membantu petugas dalam hal kelancaran

pemeriksaan / penilaian lapangan. Pasal 13

Izin penyelenggaraan sarana pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 dapat dialihkan atau dipindah tangankan kepada pihak ketiga, apabila akan dilakukan penggantian nama / merk usaha, pengembangan sarana dan tenaga kesehatan setelah mendapat persetujuan dari kepala daerah atau pejabat yang ditunjuk.

Pasal 14

Izin penyelenggaraan pelayanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (2) dapat dicabut dinyatakan tidak berlaku serta tidak mempunyai kekuatan hukum lagi apabila :

a. Pemegang izin memperoleh izin secara tidak sah;

b. Terjadi pemindahan letak atau lokasi tempat pelayanan kesehatan;

d. Memeriksa buku-buku, catatan-catatan dan dokumen lain yang berkenaan dengan tindak pidana dibidang retribusi daerah;

e. Melakukan penggeledahan untuk mendapatkan bahan bukti pembukuan, pencatatan dan dokumen-dokumen lain, serta melakukan penyitaan terhadap bahan bukti tersebut;

f. Meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana dibidang retribusi daerah;

g. Menyuruh berhenti melarang seseorang meninggalkan ruangan atau tempat pada saat pemeriksaan sedang berlangsung dan memeriksa identitas orang dan atau dokumen yang dibawa sebagaimana dimaksud pada huruf (e);

h. Memotret seseorang yang berkaitan dengan tindak pidana retribusi daerah;

i. Memanggil orang untuk didengar keterangannya diperiksa sebagai tersangka atau saksi;

j. Menghentikan penyidikan;

k. Melakukan tindakan lain yang perlu untuk kelancaran penyidikan tindak pidana dibidang retribusi daerah menurut hukum yang dapat dipertanggung jawabkan.

(3) Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memberitahuk an dimulainya penyidik an dan menyampaikan hasil penyidikan kepada Penuntut Umum, sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana.

BAB XX

KETENTUAN PERALIHAN Pasal 32

Dengan berlakunya Peraturan Daerah ini, maka surat izin lainnya yang sejenis dengan diatur dalam peraturan daerah ini apabila :

a. Masa berlakunya belum berakhir, dinyatakan tetap berlaku sampai masa izin berakhir;

(10)

BAB IV

WILAYAH PEMUNGUTAN, MASA PAJAK, DAN CARA PENGHITUNGAN PAJAK Pasal 4

(1) Pajak terutang dipungut dalam wilayah Kota Dumai. (2) Masa Pajak adalah 1 (satu) bulan takwim setelah

pembayaran kepada Hotel dilakukan.

(3) Besarnya pajak yang terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2), dengan dasar pengenaan Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1).

BAB V

SURAT PEMBERITAHUAN PAJAK DAERAH Pasal 5

(1) Setiap Pemilik/Pengusaha Hotel wajib mengisi Surat Pemberitahuan Pajak Daerah (SPTPD).

(2) SPTPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1), harus diisi dengan jelas, benar dan lengkap serta ditanda tangani oleh Pemilik/Pengusaha atau Kuasanya, selanjutnya disampaikan kepada Walikota atau Pejabat lain yang ditunjuk selambat-lambatnya 15 (lima belas) hari setelah berakhirnya masa pajak.

(3) Bentuk formulir dan tata cara pengisian SPTPD ditetapkan dengan Peraturan Walikota.

BAB VI

TATA CARA PENETAPAN PAJAK DAN TATA CARA PEMUNGUTAN Pasal 6

(1) Berdasarkan Surat Pemberitahuan Pajak Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5, Walikota atau Pejabat lain yang ditunjuk menetapkan Pajak Terutang dengan menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Daerah (SKPD).

382

PENJELASAN ATAS

PERATURAN DAERAH KOTA DUMAI NOMOR 14 TAHUN 2007

TENTANG

PERUBAHAN PERATURAN DAERAH KOTA DUMAI NOMOR 3 TAHUN 2003 TENTANG RETRIBUSI PELAYANAN KEPELABUHANAN

I. UMUM

Pelabuhan merupakan sektor andalan bagi pemerintah Kota Dumai dalam rangka meningkatkan penerimaan pendapatan asli daerah khususnya penerimaan retribusi pelayanan kepelabuhanan.

Perubahan atas Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2003 tentang Retribusi Pelayanan Kepelabuhanan merupakan aspirasi, kondisi dan tuntutan masyarakat pengguna jasa yang terhimpun dalam DPC.INSA, perlunya dilakukan perubahan terhadap Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2003 tentang Retribusi Pelayanan Kepelabuhan khususnya yang terkait dengan tarif-tarif pelayanan jasa kepelabuhanan dan pemanduan.

II. PASAL DEMI PASAL Pasal I Angka 1 Pasal 2 Cukup jelas Angka 2 Pasal 8 Cukup jelas 363

(11)

(2) Apabila SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak atau kurang dibayar setelah lewat waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak SKPD diterima,dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan dan ditagih dengan menerbitkan STPD.

(3) SPTPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5, digunakan untuk menghitung, memperhitungkan dan menetapkan pajak sendiri yang terhutang.

Pasal 7

(1) Dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sesudah saat terhutangnya Pajak, Walikota atau Pejabat lain yang ditunjuk dapat menerbitkan:

a. Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar (SKPDKB), dalam hal :

1. Apabila berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain, Pajak yang terutang tidak dilunasi atau kurang dibayar;

2. Apabila SPTPD tidak disampaikan kepada Walikota atau Pejabat lain yang ditunjuk dalam jangka waktu yang ditentukan dan setelah ditegur secara tertulis, dan dikenakan sanksi sebesar 2% (dua persen) sebulan dihitung dari pajak kurang atau terlambat bayar untuk jangka waktu paling lama 24 (dua puluh empat ) bulan yang dihitung sejak terutangnya pajak ;

3. Apabila kewajiban mengisi SPTPD tidak di penuhi, pajak yang terutang dihitung secara jabatan dan dikenakan sanksi administrasi sebesar 25% (dua puluh lima persen) dari pokok pajak ditambah sanksi 2% (dua persen) sebulan dihitung dari pajak kurang atau terlambat bayar untuk jangka waktu paling lama 24 (dua puluh empat ) bulan yang dihitung sejak terutangnya pajak;

b. Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan, apabila ditemukan data baru dan atau data yang semula belum terungkap yang menyebabkan penambahan jumlah pajak yang terutang, dan dikenakan sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 100% (seratus persen) dari jumlah kekurangan pajak tersebut;

11. TARIF DASAR PEMBERIAN IZIN JASA KEPELABUHANAN LAINNYA

No. U R A I A N BESAR TARIF (Rp.) KETERANGAN 1. 2. 3. 4. 5. 6.

Izin Pengoperasian Pelsus Izin Reklamasi / Pengurugan :

a. s/d 5.000 m2

b. s/d 10.000 m2

c. s/d 15.000 m2

d. s/d 20.000 m2

Izin Kerja Keruk :

a. s/d 10.000 m2

b. s/d 15.000 m2

c. s/d 25.000 m2

d. s/d 50.000 m2

Izin Salvage

Izin PBA (Izin Pekerjaan Bawah Air) Pemasangan Instalasi, dll

Izin Perusahaan Bongkar Muat, Perusahaan Pelayaran, Perusahaan Pelayaran Rakyat, EMKL, JPT (Jasa Pengurusan Transportasi) dan sejenisnya.

Penetapan DLKr, DLKp

Sewa Perairan, daratan/ daratan hasil reklamasi :

a. Perairan

b. Daratan /daratan hasil reklamasi

Rp. 5.000.000,-Rp. 2.500.000,-Rp. 5.000.000,-Rp. 7.500.000,-Rp. 10.000.000,-Rp. 1.000.000,-Rp. 1.500.000,-Rp. 2.500.000,-Rp. 5.000.000,-Rp. Rp. 2.500.000,-Rp. 1.500.000,-Rp. 5.000.000,-Rp. 300,-Berkas Paket/Berkas Paket/Berkas Paket/Berkas Paket/Berkas Paket/Berkas Paket/Berkas Paket/Berkas Paket/Berkas Berkas Berkas Berkas Berkas M2/Tahun M2/Tahun 362 WALIKOTA DUMAI, dto, H. ZULKIFLI A.S

(12)

c. Surat Ketetapan Pajak Daerah Nihil, apabila jumlah pajak yang terutang sama besarnya dengan jumlah kredit pajak atau pajak tidak terutang dan tidak ada kredit pajak.

(2) Kenaikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b tidak dikenakan, apabila wajib pajak melaporkan sendiri sebelum dilakukan tindakan pemeriksaan.

Pasal 8

(1) Walikota atau Pejabat lain yang ditunjuk menerbitkan Surat Tagihan Pajak Daerah apabila:

a. pajak dalam tahun berjalan tidak atau kurang dibayar; b. dari hasil penelitian Surat Pemberitahuan Pajak Daerah

terdapat kekurangan pembayaran sebagai akibat salah tulis dan atau salah hitung;

c. wajib Pajak dikenakan sanksi administrasi berupa bunga dan atau denda.

(2) Jumlah kekurangan Pajak yang terutang dalam Surat Tagihan Pajak Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf b, ditambah dengan sanksi administrasi berupa bunga 2% (dua persen) setiap bulan untuk paling lama 15 (lima belas) bulan sejak saat terutangnya pajak. (3) Surat Ketetapan Pajak Daerah yang tidak atau kurang

dibayar setelah jatuh tempo pembayan dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2 % (dua persen) sebulan, dan ditagih melalui Surat Tagihan Pajak Daerah. (4) SKPDKB sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1)

huruf a, diterbitkan apabila ditemukan data baru atau data yang semula yang belum terungkap yang menyebabkan penamabahan jumlah pajak yang terutang, akan dikenakan sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 100% (seratus persen) dari jumlah kekurangan pajak tersebut.

Pasal 9

(1) Pemungutan Pajak tidak dapat diborongkan.

(2) Pajak dipungut berdasarkan ketetapan wajib pajak atau dibayar sendiri oleh wajib pajak.

8. TARIF RETRIBUSI KAPAL RAKYAT.

No. U R A I A N SATUAN BESAR TARIF 1. 2. 3. 4. 5. 6.

Jasa Labuh Kapal : a. Luar Negeri b. Dalam Negeri Jasa Tambat Kapal : a. Luar Negeri b. Dalam Negeri Jasa Dermaga : a. Luar Negeri b. Dalam Negeri Jasa Penumpukan Barang : a. Luar Negeri

b. Dalam Negeri Pas Penumpang Berangkat Pas Kendaraan Masuk a. Truk Besar b. Pick Up c. Sepeda Motor Per GT/ Kunjungan Per GT/ Kunjungan Per GT/ Etmal Per GT/ Etmal Per Ton/M3 Per Ton/M3 Per Ton/M3/hari Per Ton/M3/hari Perorangan/sekali berangkat Per Kendaraan/Sekali Masuk Per Kendaraan/Sekali Masuk Per Kendaraan/Sekali Masuk

US $ 0.035 Rp. 20,-US $ 0.035 Rp. 15,-Rp. 550,-Rp. 350,-Rp. 80,-Rp. 60,-Rp. 500,-Rp. 1000,-Rp. 750,-Rp. 500,-CATATAN : Jika Tagihan Jasa Labuh, Tambat dan Dermaga Kurang Dari Rp.15.000,-

maka dikenakan Retribusi minimal sebesar

(13)

No. U R A I A N KAPAL LUAR NEGERI KETERANGAN (US $.) T A R I F 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Kapal s/d 3.500 GT - Tarif Tetap - Tarif Variabel Kapal 3.501 s/d 5500 G - Tarif Tetap - Tarif Variabel Kapal 5501 s/d 8.000 GT - Tarif Tetap - Tarif Variabel Kapal 8001 s/d 12.000 GT - Tarif Tetap - Tarif Variabel Kapal 12.001 s/d 14.000 GT - Tarif Tetap - Tarif Variabel Kapal 14.001 s/d 18.000 GT - Tarif Tetap - Tarif Variabel Kapal 18.001 s/d 26.000 GT - Tarif Tetap - Tarif Variabel Kapal 26.001s/d 40.000 GT - Tarif Tetap - Tarif Variabel Kapal 40.001 s/d 75.000 GT - Tarif Tetap - Tarif Variabel Kapal di atas 75.000 GT - Tarif Tetap - Tarif Variabel

6. TARIF DASAR PELAYANAN JASA PENUNDAAN UNTUK KAPAL ANGKUTAN LAUT LUAR NEGERI DI PERAIRAN WAJIB PANDU.

$. 145.00 $. 0,004 $. 260.00 $. 0,004 $. 375.00 $. 0,004 $. 475.00 $. 0,004 $. 570.00 $. 0,004 $. 770.00 $. 0,004 $. 1,220.00 $. 0,004 $. 1,220.00 $. 0,004 $. 1,300.00 $. 0,002 $. 1,700.00 $. 0,002

Per Kapal yang ditunda/jam Per GT/Kapal yang ditunda/jam

Per Kapal yang ditunda/jam Per GT/Kapal yang ditunda/jam

Per Kapal yang ditunda/jam Per GT/Kapal yang ditunda/jam

Per Kapal yang ditunda/jam Per GT/Kapal yang ditunda/jam

Per Kapal yang ditunda/jam Per GT/Kapal yang ditunda/jam

Per Kapal yang ditunda/jam Per GT/Kapal yang ditunda/jam

Per Kapal yang ditunda/jam Per GT/Kapal yang ditunda/jam

Per Kapal yang ditunda/jam Per GT/Kapal yang ditunda/jam

Per Kapal yang ditunda/jam Per GT/Kapal yang ditunda/jam

Per Kapal yang ditunda/jam Per GT/Kapal yang ditunda/jam

360

(3) Wajib Pajak dalam memenuhi kewajiban membayar pajaknya, dengan menggunakan Surat Ketetapan Pajak Daerah (SKPD) atau Dokumen Lain yang dipersamakan.

BAB VII

TATA CARA PEMBAYARAN Pasal 10

(1) Pembayaran dilakukan oleh wajib pajak di Kas Daerah atau tempat lain yang ditunjuk Walikota sesuai waktu yang ditentukan.

(2) Apabila Pembayaran Pajak dilakukan ditempat lain yang ditunjuk maka hasil penerimaan Pajak harus disetor ke Kas Daerah selambat-lambatnya 1 (satu) kali 24 (dua puluh empat) jam.

(3) Pembayaran Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), harus dilakukan sekaligus atau lunas dengan mempergunakan Surat Setoran Pajak Daerah (SSPD).

Pasal 11

(1) Walikota dapat memberikan persetujuan kepada wajib Pajak untuk mengangsur pajak terutang dalam kurun waktu tertentu, setelah memenuhi persyaratan yang ditentukan.

(2) Angsuran pembayaran pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1), harus dilakukan secara teratur dan berturut-turut dengan dikenakan bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan dari jumlah pajak yang belum atau kurang dibayar. (3) Walikota dapat memberikan persetujuan kepada wajib

Pajak untuk menunda pembayaran pajak sampai batas waktu yang ditentukan setelah memenuhi persyaratan yang ditentukan dengan dikenakan bunga 2% (dua persen) sebulan dari jumlah pajak yang belum atau kurang bayar. (4) Persyaratan untuk dapat mengangsur dan menunda

pembayaran serta tata cara pembayaran angsuran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (4), diatur dengan Peraturan Walikota.

(14)

4. 5. 6. 7. 8. 9 10 Kapal 8001 s/d 12.000 GT - Tarif Tetap - Tarif Variabel Kapal 12.001 s/d 14.000 GT - Tarif Tetap - Tarif Variabel Kapal 14.001 s/d 18.000 GT - Tarif Tetap - Tarif Variabel Kapal 18.001 s/d 26.000 GT - Tarif Tetap - Tarif Variabel Kapal 26.001s/d 40.000 GT - Tarif Tetap - Tarif Variabel Kapal 40.001 s/d 75.000 GT - Tarif Tetap - Tarif Variabel Kapal di atas 75.000 GT - Tarif Tetap - Tarif Variabel Rp. 390.000.00,-Rp. 2.00,-Rp. 475.000.00,-Rp. 2.00,-Rp. 625.000.00,-Rp. 2.00,- Rp. 1.000.000.00,-Rp. 2.00,-Rp. 1.000.000.00,-Rp. 2.00,-Rp. 1.000.000.00,-Rp.

2.00,-Per Kapal yang ditunda/jam Per GT/Kapal yang ditunda/jam

Per Kapal yang ditunda/jam Per GT/Kapal yang ditunda/jam

Per Kapal yang ditunda/jam Per GT/Kapal yang ditunda/jam

Per Kapal yang ditunda/jam Per GT/Kapal yang ditunda/jam

Per Kapal yang ditunda/jam Per GT/Kapal yang ditunda/jam

Per Kapal yang ditunda/jam Per GT/Kapal yang ditunda/jam

Per Kapal yang ditunda/jam Per GT/Kapal yang ditunda/jam

359 Pasal 12

(1) Setiap Pembayaran Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 dan Pasal 11, diberikan Tanda bukti Pembayaran dan dicatat dalam Buku Penerimaan.

(2) Bentuk, jenis, isi, ukuran Buku Penerimaan dan Tanda Bukti Pembayaran Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1), diatur dengan Peraturan Walikota.

BAB VIII

TATA CARA PENAGIHAN PAJAK Pasal 13

(1) Surat teguran atau Surat Peringatan atau Surat lain yang sejenis sebagai awal tindakan pelaksanaan penagihan pajak dikeluarkan 7 (tujuh) hari sejak saat jatuh tempo pembayaran.

(2) Dalam Jangka Waktu 7 (tujuh) hari setelah tanggal Surat Teguran atau Surat Peringatan atau Surat lain yang sejenis, Wajib Pajak harus melunasi pajak yang terutang.

(3) Surat Teguran, Surat Peringatan atau surat lain yang sejenis sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dikeluarkan oleh Walikota atau Pejabat yang ditunjuk.

(4) Pajak yang terutang berdasarkan Ketetapan Pajak Daerah, Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar, Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan, Surat Tagihan Pajak Daerah, Surat Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan, dan Putusan Banding yang tidak atau kurang dibayar oleh wajib pajak pada waktunya, ditagih dengan Surat Paksa.

(5) Penagihan Pajak dengan Surat Paksa dilaksanakan berdasarkan Peraturan perundang-undangan yang berlaku.

(6) Surat Paksa diterbitkan segera setelah lewat 21 (dua puluh satu) hari sejak tanggal Surat Teguran atau surat Peringatan atau Surat lain yang sejenis.

(15)

LAMPIRAN : PERATURAN DAERAH KOTA DUMAI Nomor : Tahun 2007 Tanggal : 2007

Beberapa ketentuan pada angka 1, 3, 4, 7, 9 dan 10, lampiran Peraturan Daerah Kota Dumai Nomor 3 Tahun 2003 tentang Retribusi Pelayanan Kepelabuhanan tetap berlaku, sedangkan beberapa ketentuan pada angka 2, 5, 6, 8, dan 11 diubah sebagai berikut :

2. TARIF DASAR PELAYANAN JASA PEMANDUAN.

5. TARIF DASAR PELAYANAN JASA PENUNDAAN UNTUK KAPAL ANGKUTAN LAUT DALAM NEGERI DI PERAIRAN WAJIB PANDU.

358

No. U R A I A N TARIF LAMA TARIF BARU (KTR 3) KETERANGAN

1. UNTUK KAPAL ANGKUTAN DALAM NEGERI

- Tarif Tetap Rp. 35.500, Rp. 106.500,- Per GT/Gerakan - Tarif Variabel Rp. 16, Rp. 48,- Per GT/Gerakan 2. UNTUK KAPAL ANGKUTAN

LUAR NEGERI

- Tarif Tetap US $ 43,00 US $ 129,00 Per GT/Gerakan - Tarif Variabel US $ 0,02 US $ 0,06 Per GT/Gerakan

No. U R A I A N KAPAL DALAM NEGERI KETERANGAN (Rp.) T A R I F 1. 2. 3. Kapal s/d 3.500 GT - Tarif Tetap - Tarif Variabel Kapal 3.501 s/d 5500 GT - Tarif Tetap - Tarif Variabel Kapal 5501 s/d 8.000 GT - Tarif Tetap - Tarif Variabel Rp. 120.000.00,-Rp. 2.00,-Rp. 210.000.00,-Rp. 2.00,-Rp. 300.000.00,-Rp.

2.00,-Per Kapal yang ditunda/jam Per GT/Kapal yang ditunda/jam

Per Kapal yang ditunda/jam Per GT/Kapal yang ditunda/jam

Per Kapal yang ditunda/jam Per GT/Kapal yang ditunda/jam

Pasal 14

Apabila Pajak yang harus dibayar tidak dilunasi dalam jangka waktu 2 x 24 jam sesudah tanggal pemberitahuan Surat Paksa, Pejabat yang ditunjuk segera menerbitkan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan.

Pasal 15

Setelah dilakukan penyitaan dan Wajib Pajak belum juga melunasi hutang pajaknya, setelah lewat 10 (sepuluh) hari sejak tanggal pelaksanaan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan, Pejabat yang ditunjuk mengajukan permintaan penetapan tanggal pelelangan kepada Kantor Lelang Negara.

Pasal 16

Setelah Kantor Lelang Negara menetapkan hari, tanggal, jam dan tempat pelaksanaan lelang, Juru Sita memberitahukan dengan segera secara tertulis kepada Wajib Pajak.

Pasal 17

(1) Walikota atau Pejabat yang ditunjuk dapat menetapkan jadwal waktu tindakan penagihan pajak yang menyimpang dari jadwal waktu yang telah ditentukan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14, Pasal 15, dan Pasal 16, dengan memperhatikan situasi dan kondisi yang ada.

(2) Penagihan seketika dan sekaligus atas jumlah Pajak yang masih harus dibayar dilakukan oleh Pejabat dengan mengeluarkan surat Perintah Penagihan Pajak Seketika dan sekaligus.

(3) Terhadap Wajib Pajak yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Surat Perintah Penagihan Pajak Seketika dan Sekaligus sebagaimana dimaksud pada ayat (2), untuk segera dilakukan tindakan penagihan pajak dengan Surat Paksa, Surat Perintah membayar Pajak dan permintaan penetapan tanggal serta tempat pelelangan, tanpa memperhatikan tenggang waktu yang telah ditetapkan.

(16)

Pasal 18

Bentuk, jenis dan cara pengisian formulir yang dipergunakan untuk melaksanakan penagihan pajak diatur dengan Peraturan Walikota.

BAB IX

TATA CARA PEMBETULAN, PEMBATALAN, PENGURANGAN KETETAPAN, DAN PENGHAPUSAN ATAU PENGURANGAN SANKSI ADMINISTRASI

Pasal 19

(1) Walikota karena jabatan atau atas permohonan Wajib Pajak dapat :

a. membetulkan Surat Ketetapan Pajak Daerah atau Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar, atau Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan, atau Surat Tagihan Pajak Daerah yang dalam penerbitannya terdapat kesalahan tulis, kesalahan hitung dan atau kekeliruan dalam penerapan Peraturan Per Undang-Undangan perpajakan Daerah;

b. mengurangkan atau menghapuskan sanksi administrasi berupa bunga, denda dan kenaikan pajak yang terutang menurut Peraturan Per Undang-undangan Perpajakan Daerah, dalam hal sanksi tersebut dikenakan karena kekhilafan wajib pajak atau bukan karena kesalahannya;

c. mengurangkan atau membatalkan ketetapan pajak yang tidak benar.

(2) Tata cara pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi dan pengurangan atau pembatalan ketetapan pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, diatur dengan Peraturan Walikota.

BAB X

KEBERATAN DAN BANDING Pasal 20

(1) Wajib Pajak dapat mengajukan keberatan hanya kepada Walikota atau Pejabat yang ditunjuk atas suatu :

a. SKPD;

388

Pasal 30

(1) Wajib Retribusi yang tidak melaksanakan kewajibannya sehingga merugikan keuangan Daerah, diancam pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah ) dengan atau tidak merampas barang tertentu untuk Daerah.

(2) Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah pelanggaran.

6. Ketentuan pada angka 2, 5, 6, 8 dan 11 dalam lampiran Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2003 tentang Retribusi Pelayanan kepelabuhanan diubah sebagaimana tercantum pada lampiran Peraturan Daerah ini yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan.

Pasal II

Peraturan Daerah ini mulai berlaku sejak tanggal di undangkan.

Agar setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dan menempatkannya dalam Lembaran Daerah Kota Dumai.

Ditetapkan di Dumai

pada tanggal 30 Oktober 2007 WALIKOTA DUMAI,

dto, H. ZULKIFLI A.S Diundangkan di Dumai

pada tanggal 31 Oktober 2007 SEKRETARIS DAERAH KOTA DUMAI, dto,

H. WAN FAUZI EFFENDI

PEMBINA UTAMA MUDA NIP. 010055541

(17)

e. Jasa Dermaga;

f. Jasa Tiket Penumpang Kapal; g. Jasa Pas Pelabuhan;

2. Ketentuan dalam Pasal 8 ayat (1) s/d ayat (5) diubah sehingga berbunyi sebagai berikut :

Pasal 8

(1) Struktur dan besarnya tarif retribusi ditetapkan sebagaimana tercantum dalam Lampiran Peraturan Daerah ini yang merupakan bagian tidak terpisahkan.

(2) Besarnya Tarif Retribusi Kapal Rakyat ditetapkan tersendiri sebagaimana tercantum dalam lampiran Peraturan Daerah ini yang merupakan bagian yang tak terpisahkan.

(3) Kapal yang mengangkut barang untuk keperluan umum yang melakukan kegiatan di Pelabuhan khusus, dikenakan tarif Jasa Kepelabuhanan yang berlaku di Pelabuhan Umum;

(4) Perubahan selanjutnya terhadap struktur, jenis dan besarnya tarif retribusi akan ditetapkan dengan Peraturan Daerah.

3. Ketentuan dalam Pasal 27 ayat (1) dan ayat (2) di hapuskan.

4. Ketentuan BAB XIX dalam Pasal 28 dirubah dan ditambah menjadi 2 (dua) ayat sehingga berbunyi sebagai berikut :

Pasal 28

(1) Instansi pemungut dilakukan oleh penyelenggara pelabuhan atau badan yang ditunjuk untuk itu yang ditetapkan dengan Keputusan Walikota.

(2) Penyelenggara pelabuhan atau badan yang ditunjuk sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan bantuan biaya operasional yang besarnya akan ditetapkan dengan Keputusan Walikota.

5. Ketentuan dalam Pasal 30 ayat (1) dan ayat (2) diubah

b. SKPDKB; c. SKPDKBT; d. SKPDLB.

(2) Permohonan keberatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus disampaikan secara tertulis dalam bahasa Indonesia dengan alasan yang jelas paling lama 3 (tiga) bulan sejak tanggal SKPD, SKPDKB, SKPDKBT, dan SKPDLB diterima oleh Wajib Pajak, kecuali apabila Wajib Pajak dapat menunjukkan bahwa jangka waktu itu tidak dapat dipenuhi karena keadaan diluar kekuasaannya.

(3) Dalam hal Wajib Pajak mengajukan Keberatan atas Ketetapan Pajak secara Jabatan, Wajib Pajak harus dapat membuktikan ketidakbenaran Ketetapan Pajak tersebut. (4) Keberatan yang tidak memenuhi persyaratan sebagaimana

dimaksud pada ayat (2) dan (3) tidak dianggap sebagai Surat Keberatan, sehingga tidak dipertimbangkan. (5) Walikota atau Pejabat dalam jangka waktu paling lama

12 (dua belas) bulan sejak tanggal Surat Permohonan keberatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diterima, harus memberi keputusan.

(6) Keputusan Walikota atas keberatan dapat berupa menerima seluruhnya atau sebagian, menolak atau menambah besarnya pajak terutang.

(7) Apabila setelah lewat waktu 12 (dua belas) bulan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) Walikota atau Pejabat tidak memberikan keputusan, permohonan keberatan dianggap dikabulkan.

(8) Pengajuan keberatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak menunda kewajiban membayar pajak.

Pasal 21

(1) Wajib Pajak dapat mengajukan permohonan banding hanya kepada Badan Penyelesaian Sengketa Pajak dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan setelah diterimanya keputusan mengenai keberatannya yang ditetapkan oleh Walikota. (2) Permohonan diajukan dalam Bahasa Indonesia dengan

alasan yang jelas dilampiri salinan dari Surat Keputusan tersebut.

(18)

9. Peraturan Daerah Kota Dumai Nomor 13 Tahun 2002, tentang Penyidik Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Pemerintah Kota Dumai (Lembaran Daerah Kota Dumai Tahun 2002 Nomor 26 Seri D);

10. Peraturan Daerah Kota Dumai Nomor 2 Tahun 2003 tentang Kepelabuhanan di Kota Dumai (Lembaran Daerah Kota Dumai Tahun 2003 Nomor 2 Seri D);

11. Peraturan Daerah Kota Dumai Nomor 3 Tahun 2003 tentang Retribusi Pelayanan Kepelabuhanan di Kota Dumai (Lembaran Daerah Kota Dumai Tahun 2003 Nomor 2 Seri D);

12. Peraturan Daerah Kota Dumai Nomor 16 Tahun 2005 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Dinas Perhubungan Kota Dumai (Lembaran Daerah Kota Dumai Tahun 2005 Nomor 15 Seri D);

Dengan Persetujuan Bersama

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KOTA DUMAI Dan

WALIKOTA DUMAI M E M U T U S K A N :

Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG PERUBAHAN PERATURAN DAERAH KOTA DUMAI NOMOR 3 TAHUN 2003 TENTANG RETRIBUSI PELAYANAN KEPELABUHANAN.

Pasal I

Beberapa ketentuan dalam Peraturan Daerah Kota Dumai Nomor 3 Tahun 2003 tentang Retribusi Pelayanan Kepelabuhanan (Lembaran Daerah Tahun 2003 Nomor 2 Seri B) di ubah sebagai berikut :

1. Ketentuan dalam Pasal 2 ayat (2) diubah sehingga berbunyi sebagai berikut :

Pasal 2

Pelayanan jasa kepelabuhanan meliputi : a. sewa Perairan;

b. Jasa Labuh;

c. Jasa Penundaan dan Pemanduan; d. Jasa Tambat;

355 (3) Pengajuan permohonan banding tidak menunda

kewajiban membayar pajak dan pelaksanaan penagihan pajak.

Pasal 22

Apabila pengajuan keberatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 atau banding sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 dikabulkan sebagian atau seluruhnya, kelebihan pembayaran pajak dikembalikan dengan ditambah imbalan bunga sebesar 2% (dua perseratus) sebulan untuk paling lama 24 (dua puluh empat) bulan.

BAB XI

KADALUARSA PENAGIHAN Pasal 23

(1) Hak untuk melakukan penagihan pajak kadaluarsa setelah melampaui jangka waktu 5 (lima) tahun terhitung sejak saat terhutangnya pajak, kecuali apabila Wajib Pajak melakukan tindak pidana di bidang perpajakan Daerah; (2) Kadaluarsa Penagihan Pajak sebagaimana dimaksud pada

ayat (1), tertangguh apabila :

a. diterbitkan surat teguran dan surat paksa; atau

b. ada pengakuan hutang pajak dari wajib pajak baik langsung maupun tidak langsung.

Pasal 24

Pedoman tata cara penghapusan pajak yang kadaluarsa diatur lebih lanjut dengan Peraturan Walikota.

BAB XII PENGAWASAN

Pasal 25

(1) Dalam rangka pengawasan, Kepala Daerah atau Pejabat yang ditunjuk bila dipandang perlu dapat menetapkan serta menempatkan, personil dan atau peralatan (equipment) baik sistem manual maupun dengan sistem komputerisasi disetiap objek pajak Hotel.

(19)

2. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3685) sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Perubahan Undang-undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 246, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4046);

3. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1999 tentang Pembentukan Kotamadya Daerah Tingkat II Dumai (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3829);

4. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4389);

5. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 108, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4548);

6. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438);

7. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 66 Tahun 2001 tentang Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 19, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4139);

8. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 79 Tahun 2005 tentang Pedoman Pembinaan Dan Pengawasan

(2) Penetapan peralatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus disampaikan kepada wajib pajak, dalam tenggang waktu yang cukup dan seluruh biaya yang ditimbulkan sebagai akibat ditempatkannya peralatan tersebut menjadi kewajiban pemerintah daerah.

(3) Tata cara dan pelaksanaan penempatan personil dan atau peralatan dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Peraturan Walikota dengan memperlihatkan asas kepatutan, akuntabilitas serta transparansi.

Pasal 26

Pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24, adalah pengawasan dalam rangka penataan dan peralatan potensi wajib pajak riil dan tidak bersifat investigasi/ penyelidikan.

BAB XIII

KETENTUAN PEMERIKSAAN Pasal 27

(1) Walikota dan/atau Pejabat lain yang ditunjuk berwenang melakukan pemeriksaan sewaktu-waktu untuk menguji kepatuhan, pemenuhan dan kewajiban Perpajakan Daerah dalam rangka melaksanakan Peraturan Daerah ini.

(2) Pemilik/Pengusaha Hotel selaku Wajib Pajak yang diperiksa, wajib :

a. memperlihatkan atau meminjamkan buku dan atau catatan, dokumen yang menjadi dasar serta dokumen lain yang berhubungan dengan objek pajak terutang; b. memberikan kesempatan untuk memasuki tempat atau ruangan yang dianggap perlu dan memberi bantuan guna kelancaran pemeriksaan;

c. memberikan keterangan lain yang diperlukan. BAB XIV

BIAYA PEMUNGUTAN Pasal 28

(1) Dalam rangka kegiatan pemungutan Pajak Hotel diberikan biaya pemungutan diatur berdasarkan Peraturan Walikota.

(20)

KOTA DUMAI

LEMBARAN DAERAH

KOTA DUMAI

Nomor : 14 Tahun 2007 Seri : B Nomor 05

PERATURAN DAERAH KOTA DUMAI NOMOR 14 TAHUN 2007

TENTANG

PERUBAHAN PERATURAN DAERAH KOTA DUMAI NOMOR 3 TAHUN 2003 TENTANG RETRIBUSI PELAYANAN KEPELABUHANAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA DUMAI,

Menimbang : a. bahwa sesuai dengan aspirasi, kondisi dan tuntutan masyarakat yang berkembang, terutama aspirasi masyarakat pengguna jasa yang terhimpun dalam DPC. INSA, sehingga perlu dilakukan Perubahan terhadap Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2003 tentang Retribusi Pelayanan kepelabuhanan khususnya yang terkait dengan tarif-tarif pelayanan jasa kepelabuhanan dan pemanduan;

b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud huruf a, maka perlu dilakukan Perubahan Peraturan Daerah Kota Dumai Nomor 3 Tahun 2003 tentang Retribusi Pelayanan Kepelabuhanan dengan Peraturan Daerah; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1992 tentang Pelayaran

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 98, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3493);

(2) Biaya Pemungutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), digunakan untuk membiayai kegiatan penghimpunan data objek dan subjek pajak, penagihan dan pengawasan. (3) Biaya pemungutan ditetapkan sebesar 5% (lima persen)

dari Realisasi Penerimaan Pajak, yang akan dirinci dalam alokasi biaya pemungutan.

Bagian Kedua Pelaksanaan

Pasal 29

Alokasi biaya pemungutan sebagaimana dimaksud dalam pasal 28 ayat (3) ditetapkan dengan Peraturan Walikota.

BAB XV PENYIDIKAN

Pasal 30

(1) Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu dilingkungan pemerintah Kota diberi wewenang khusus sebagai Penyidik untuk melakukan penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan daerah sebagaimana dimaksud di dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Acara Hukum Pidana;

(2) Wewenang Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah :

a. menerima, mencari, mengumpulkan, dan meneliti keterangan atau laporan berkenaan dengan tindak pidana dibidang perpajakan daerah agar keterangan atau laporan tersebut menjadi lengkap dan jelas; b. meneliti, mencari, dan mengumpulkan mengenai orang

pribadi atau badan tentang kebenaran perbuatan yang dilakukan sehubungan dengan tindak pidana perpajakan daerah;

c. meminta keterangan dan bahan bukti dari orang pribadi atau badan sehubungan dengan tindak pidana perpajakan daerah;

(21)

(4) Jangka waktu rekomendasi berlaku 1 (satu) tahun dan selanjutnya dapat diperbaharui.

(5) Izin dan Rekomendasi diberikan atas nama pemohon. (6) Dalam surat izin dimuat ketentuan-ketentuan yang harus

dipenuhi dan dipatuhi oleh pemegang izin.

(7) Izin dan rekomendasi tidak dapat dipindah tangankan kepada pihak lain kecuali atas persetujuan Kepala Dinas Kesehatan.

(8) Syarat-syarat dan tatacara pengalihan izin diatur lebih lanjut oleh Kepala Dinas Kesehatan.

Pasal 12

Pemegang izin sebagai mana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (4) diwajibkan :

a. Membayar retribusi izin dan rekomendasi ke kas daerah melalui bendaharawan pembantu khusus penerima Dinas Kesehatan;

b. Mematuhi segala ketentuan dan perundang–undangan yang berlaku berkaitan dengan masalah kesehatan; c. Memperpanjang izin dan membayar retribusi sesuai

dengan jadwal sebagaimana diatur dalam Pasal 11 ayat ( 3) bila si pemegang izin ingin melanjutkan usahanya; d. Melayani dan membantu petugas dalam hal kelancaran

pemeriksaan / penilaian lapangan. Pasal 13

Izin penyelenggaraan sarana pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 dapat dialihkan atau dipindah tangankan kepada pihak ketiga, apabila akan dilakukan penggantian nama / merk usaha, pengembangan sarana dan tenaga kesehatan setelah mendapat persetujuan dari kepala daerah atau pejabat yang ditunjuk.

Pasal 14

Izin penyelenggaraan pelayanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (2) dapat dicabut dinyatakan tidak berlaku serta tidak mempunyai kekuatan hukum lagi apabila :

a. Pemegang izin memperoleh izin secara tidak sah;

b. Terjadi pemindahan letak atau lokasi tempat pelayanan kesehatan;

d. Memeriksa buku-buku, catatan-catatan dan dokumen lain yang berkenaan dengan tindak pidana dibidang retribusi daerah;

e. Melakukan penggeledahan untuk mendapatkan bahan bukti pembukuan, pencatatan dan dokumen-dokumen lain, serta melakukan penyitaan terhadap bahan bukti tersebut;

f. Meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana dibidang retribusi daerah;

g. Menyuruh berhenti melarang seseorang meninggalkan ruangan atau tempat pada saat pemeriksaan sedang berlangsung dan memeriksa identitas orang dan atau dokumen yang dibawa sebagaimana dimaksud pada huruf (e);

h. Memotret seseorang yang berkaitan dengan tindak pidana retribusi daerah;

i. Memanggil orang untuk didengar keterangannya diperiksa sebagai tersangka atau saksi;

j. Menghentikan penyidikan;

k. Melakukan tindakan lain yang perlu untuk kelancaran penyidikan tindak pidana dibidang retribusi daerah menurut hukum yang dapat dipertanggung jawabkan.

(3) Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memberitahuk an dimulainya penyidik an dan menyampaikan hasil penyidikan kepada Penuntut Umum, sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana.

BAB XX

KETENTUAN PERALIHAN Pasal 32

Dengan berlakunya Peraturan Daerah ini, maka surat izin lainnya yang sejenis dengan diatur dalam peraturan daerah ini apabila :

a. Masa berlakunya belum berakhir, dinyatakan tetap berlaku sampai masa izin berakhir;

(22)

(2) Wajib Pajak yang dengan sengaja tidak menyampaikan Surat Pemberitahuan Pajak Daerah atau mengisi dengan tidak benar atau tidak lengkap atau melampirkan keterangan yang tidak benar sehingga merugikan keuangan daerah dapat dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan atau denda paling banyak 4 (empat) kali jumlah pajak yang terutang.

Pasal 32

Tindak Pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34, tidak dituntut setelah melampaui jangka waktu 10 (sepuluh) tahun sejak saat terutangnya Pajak atau berakhirnya Masa Pajak atau berakhirnya bagian tahun Pajak yang bersangkutan.

BAB XVII KETENTUAN LAIN-LAIN

Pasal 33

(1) Dalam rangka mendorong perkembangan pendapatan daerah Walikota/Pejabat yang ditunjuk dapat melakukan kerjasama dengan asosiasi pelaku usaha.

(2) Walikota atau Pejabat yang ditunjuk dapat memberikan penghargaan kepada Wajib Pajak yang berprestasi dalam membayar pajak.

(3) Bentuk kerjasama dan pemberian penghargaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), diatur lebih lanjut dengan Peraturan Walikota.

BAB XVIII KETENTUAN PENUTUP

Pasal 34

Hal-hal yang belum diatur dalam Peraturan Daerah ini, sepanjang menyangkut teknis pelaksanaannya akan diatur dan ditetapkan lebih lanjut dalam Peraturan Walikota.

394

(2) Apabila Pembayaran Pajak dilakukan ditempat lain yang ditunjuk maka hasil penerimaan Pajak harus disetor ke Kas Daerah selambat-lambatnya 1 (satu) kali 24 (dua puluh empat) jam.

(3) Pembayaran Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), harus dilakukan sekaligus atau lunas dengan mempergunakan Surat Setoran Pajak Daerah (SSPD).

Pasal 13

(1) Walikota dapat memberikan persetujuan kepada wajib Pajak untuk mengangsur pajak terutang dalam kurun waktu tertentu, setelah memenuhi persyaratan yang ditentukan.

(2) Angsuran pembayaran pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) pasal ini, harus dilakukan secara teratur dan berturut-turut dengan dikenakan bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan dari jumlah pajak yang belum atau kurang dibayar.

(3) Walikota dapat memberikan persetujuan kepada wajib Pajak untuk menunda pembayaran pajak sampai batas waktu yang ditentukan setelah memenuhi persyaratan yang ditentukan dengan dikenakan bunga 2% (dua persen) sebulan dari jumlah pajak yang belum atau kurang bayar.

(4) Persyaratan untuk dapat mengangsur dan menunda pembayaran serta tata cara pembayaran angsuran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (3), diatur dengan Peraturan Walikota.

Pasal 14

(1) Setiap Pembayaran Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 dan Pasal 13, diberikan Tanda bukti Pembayaran dan dicatat dalam Buku Penerimaan.

(2) Bentuk, jenis, isi, ukuran Buku Penerimaan dan Tanda Bukti Pembayaran Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1), diatur dengan Peraturan Walikota.

BAB VIII

TATA CARA PENAGIHAN PAJAK Pasal 15

(1) Surat teguran atau Surat Peringatan atau Surat lain yang sejenis sebagai awal tindakan pelaksanaan penagihan pajak dikeluarkan 7 (tujuh) hari sejak saat jatuh tempo

(23)

Pasal 35

Dengan berlakunya Peraturan Daerah ini, maka Peraturan Daerah Kota Dumai Nomor 6 Tahun 2000, tentang Pajak Hotel dan Restoran (Lembaran Daerah Kota Dumai Nomor 5 Tahun 2000 ), dinyatakan tidak berlaku.

Pasal 36

Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap Orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam lembaran Daerah Kota Dumai.

Ditetapkan di Dumai

pada tanggal 10 Desember 2007 WALIKOTA DUMAI, dto,

H. ZULKIFLI A.S Diundangkan di Dumai

pada tanggal 11 Desember 2007 SEKRETARIS DAERAH KOTA DUMAI, dto,

H. WAN FAUZI EFFENDI

Pembina Utama Muda, NIP.01005541

LEMBARAN DAERAH KOTA DUMAI TAHUN 2007 NOMOR 01 SERI A b. dari hasil penelitian Surat Pemberitahuan Pajak Daerah

terdapat kekurangan pembayaran sebagai akibat salah tulis dan atau salah hitung;

c. wajib Pajak dikenakan sanksi administrasi berupa bunga dan atau denda;

(2) Jumlah kekurangan Pajak yang terutang dalam Surat Tagihan Pajak Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf b, ditambah dengan sanksi administrasi berupa bunga 2% (dua persen) setiap bulan untuk paling lama 15 (lima belas) bulan sejak saat terutangnya pajak. (3) Surat Ketetapan Pajak Daerah yang tidak atau kurang

dibayar setelah jatuh tempo pembayaran dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2 % (dua persen) sebulan, dan ditagih melalui Surat Tagihan Pajak Daerah. (4) SKPDKB sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf

b, diterbitkan apabila ditemukan data baru atau data yang semula yang belum terungkap yang menyebabkan penambahan jumlah pajak yang terutang, akan dikenakan sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 100% (seratus persen) dari jumlah kekurangan pajak tersebut.

Pasal 11

(1) Pemungutan Pajak tidak dapat diborongkan.

(2) Pajak dipungut berdasarkan ketetapan pajak atau dibayar sendiri oleh wajib pajak.

(3) Wajib Pajak dalam memenuhi kewajiban membayar pajaknya, dengan menggunakan Surat Ketetapan Pajak Daerah (SKPD) atau Dokumen Lain yang dipersamakan.

BAB VII

TATA CARA PEMBAYARAN Pasal 12

(1) Pembayaran dilakukan oleh wajib pajak di Kas Daerah atau tempat lain yang ditunjuk Walikota sesuai waktu yang ditentukan.

Figure

Updating...

References

Scan QR code by 1PDF app
for download now

Install 1PDF app in