HUBUNGAN NILAI ASH CONTENT, SULPHUR SERTA WATER CONTENT TERHADAP PENGARUH PANAS MATAHARI DARI BAHAN BAKAR SOLAR YANG ADA DI PASARAN TUGAS AKHIR

74 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN NILAI ASH CONTENT, SULPHUR SERTA

WATER CONTENT TERHADAP PENGARUH PANAS

MATAHARI DARI BAHAN BAKAR SOLAR YANG ADA DI

PASARAN

TUGAS AKHIR

ARI DARMAWAN

NIM:140309233591

POLITEKNIK NEGERI BALIKPAPAN

JURUSAN TEKNIK MESIN

PROGRAM STUDI ALAT BERAT

2017

(2)

HUBUNGAN NILAI ASH CONTENT, SULPHUR SERTA

WATER CONTENT TERHADAP PENGARUH PANAS

MATAHARI DARI BAHAN BAKAR SOLAR YANG ADA DI

PASARAN

TUGAS AKHIR

KARYA TULIS INI DIAJUKAN SEBAGAI SALAH SATU

SYARAT UNTUK MEMPEROLEH GELAR AHLI MADYA

DARI POLITEKNIK NEGERI BALIKPAPAN

ARI DARMAWAN

NIM:140309233591

POLITEKNIK NEGERI BALIKPAPAN

JURUSAN TEKNIK MESIN

PROGRAM STUDI ALAT BERAT

2017

(3)
(4)
(5)

Karya Ilmiah ini kupersembahkan kepada

Ayahanda dan Ibunda tercinta

(alm). Muhammad Nur , Jufri dan Muji Rahayu , (almh). Dewi,

Adik tiri saya yang kusayangi

Putri,

Paman dan Bibi saya yang selalu memberikan semangat

Om Hadi dan tante Fitriani,

Sahabat terbaik

Fajar Anugrah dan Eko Krisdiantoro,

Keluarga Besar Bapak Yanto beserta Member kos Indiana Emirates

Alif Dukti Alfan,

Teman-teman kelas 3TMAB2 dan Member TMAB Gen’14,

Partner Touring dan Wi-fi

Delvin Budi Prasetya dan Sudarmaji,

Team Penyemangat

Abrianto May Prima Yudha, Alif Dukti Alfan, Rudy Galih Putra W, M. Ramadhan Prasetya dan satu Gadis Cantik yang belum bisa saya sebutkan namanya,

Dosen Pembimbing Tugas Akhir saya

Ida Bagus Dharmawan, S.T., M.,Si

Randis, S.T., M.T

(6)
(7)

ABSTRAK

Solar merupakan bahan bakar yang digunakan pada mesin diesel, beberapa sifat yang menjadi parameter kualitas solar adalah Ash Content, kandungan Sulphur serta Water Content. Akan tetapi , keadaan di tambang kenyataannya bahan bakar solar biasanya disimpan di tangki ataupun di tangki bahan bakar unit dengan terpapar sinar matahari langsung, hal ini tentu saja mempengaruhi kandungan dari parameter Ash Content, kandungan Sulphur, serta Water Content. Karena hal tersebut penulis melakukan pengujian terhadap 3 parameter yaitu Ash Content, kandungan Sulphur serta Water content dengan 5 sampel uji yaitu 1 sampel tanpa perlakuan panas dan 4 sampel dengan perlakuan panas masing-masing 2 hari, 4 hari, 6 hari dan 8 hari. Dari hasil pengujian yang telah dilaksanakan dapat diketahui bahwa kandungan Ash Content dari semua sampel dengan penjemuran panas 2 sampai 8 hari cenderung mengalami kenaikan nilai daripada sampel yang tanpa perlakuan panas, kandungan Sulphur sendiri cenderung tidak mengalami kenaikan nilai, sementara kandungan Water Content cenderung mengalami kenaikan pada saat penjemuran pertama kemudian setelah diberi penjemuran lebih lanjut nilai kandungan mengalami penurunan dan kembali mengalami peningkatan yang tidak signifikan. Semua sampel uji masih memenuhi batas aman yang ditetapkan oleh pemerintah dan efeknya terhadap pembakaran sempurna tidak terlalu signifikan mengingat bahwa nilai parameter kandungan uji masih berada di bawah batas aman yang ditetapkan.

Kata kunci : Bahan Bakar Solar , Ash Content , Water Content, Sulphur , Pembakaran Sempurna, Perlakuan Panas.

(8)

ABSTRACT

Diesel fuel is the power of the diesel engine, the characteristic quality of the diesel fuel are Ash Content, Sulphur Content and also Water Content. But, actually in the mining industry the Diesel fuel usually storage in the tank or in the fuel tank of the unit and it was exposure to the sunlight, this of course affects the content of Ash Content, Sulphur Content and Water Content parameters. Because of that the author make a test to the 3 parameters of Ash Content, Sulphur Content and Water Content with 5 sampels test, 1 sampel without heat treatment and 4 sampels with heat treatment each 2 days, 4 days, 6 days and 8 days. The result of the test it can be seen that the value of Ash Content all samples with hot treatment 2 until 8 days increase in value than the sample without heat treatment, Sulphur Content itself is not likely to increase in value, while the value of Water Content tend to increase when the first heat treatment then after being given a further heat treatment the value of content decreased and returned an increase that is not significant. All test samples still meet the safety limits set by the government and their effect on perfect combustion is not very significant considering that the value of the test content parameters is still below the prescribed safe limit.

Keywords : Diesel Fuel, Ash Content, Water Content, Sulphur Content, Combustion Perfect, Heat Treatment.

(9)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan Tugas Akhir ini.

Tugas Akhir ini disusun sebagai salah satu persyaratan untuk menyelesaikan program Diploma III pada Jurusan Teknik Mesin Program Studi Alat Berat di Politeknik Negeri Balikpapan.

Pada saat penyusunan Tugas Akhir ini penulis harus melalui hambatan dan masalah. Tetapi berkat dukungan, bantuan dan masukan-masukan dari berbagai pihak Tugas Akhir ini akhirnya dapat diselesaikan dengan baik.

Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Bapak Ramli, S.E., M.M.,sebagai Direktur Politeknik Negeri Balikpapan. 2. Bapak Ida Bagus Dharmawan, S.T., M.,Si sebagai pembimbing 1 dan Wakil

Direktur I yang telah banyak membantu, membimbing serta memberikan saran kepada kami selaku Mahasiswa dalam penyelesaian Tugas Akhir ini. 3. Bapak Randis, S.T., M.T., sebagai pembimbing 2 yang juga telah membantu, memberi masukan saran serta pengoreksian terhadap penyelesaian Tugas Akhir ini.

4. Ayah, Ibu serta Paman dan Bibi, yang selalu memberikan motivasi dan semangat baik secara langsung maupun tidak langsung dengan penuh pengertian dan kesabaran selama penyelesaian Tugas Akhir ini.

5. Rekan-rekan Mahasiswa Jurusan Teknik Mesin Alat Berat angkatan tahun 2014 khususnya rekan-rekan kelas 3TMAB2 yang memberikan semangat dan motivasi bagi penulis dalam menyelesaikan Tugas Akhir ini.

6. Keluarga Besar Bapak Yanto, yang juga memberikan banyak motivasi dan semangat bagi diri penulis sehingga terciptanya Tugas Akhir ini.

(10)
(11)

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

LEMBAR PENGESAHAN ... ii

SURAT PERNYATAAN... iii

LEMBAR PERSEMBAHAN ... iv

SURAT PERSETUJUAN PUBLIKASI ... v

ABSTRAK ... vi

ABSTRACT ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR GAMBAR ... xiii

DAFTAR TABEL ... xiv

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 2

1.3 Batasan Masalah... 2

1.4 Tujuan Penulisan ... 3

1.5 Manfaat Penulisan Tugas Akhir ... 3

1.6 Sistematika Penulisan Tugas Akhir ... 3

BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Definisi Solar ... 5 2.2 Karakteristik Solar ... 5 2.3 Syarat-syarat Solar ... 7 2.4 Kandungan Solar ... 8 2.5 Kegunaan Solar ... 8 2.6 Angka Cetane ... 8

(12)

2.8 Jenis-jenis Bahan Bakar Diesel ... 10

2.9 Tabel Nilai Cetana... 12

2.10 Dexlite ... 12

2.11 Pertamina Dex ... 13

2.12 Ash Content ... 14

2.13 Sulphur ... 14

2.14 Indeks Diesel ... 14

2.15 Emisi Gas Buang Bahan Bakar Solar ... 15

2.16 Dampak Kerusakan Bahan Bakar Solar Terhadap Mesin ... 16

2.17 Penyimpanan Bahan Bakar Solar dan Upaya Pencegahan Kontaminasi . 17 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian ... 18

3.2 Tempat dan Waktu penelitian ... 18

3.3 Teknik Pengumpulan Data ... 18

3.4 Alat dan Bahan Penelitian ... 19

3.5 Persiapan Penelitian ... 19

3.6 Pengumpulan Data ... 20

3.6.1 Data Sekunder ... 20

3.6.2 Data Sekunder ... 20

3.7 Diagram Alir Penelitian ... 20

3.7.1 Identifikasi dan Perumusan Masalah ... 21

3.7.2 Tahap Perumusan Data ... 21

3.7.3 Tahap Pengumpulan Data ... 21

3.7.4 Tahap Pengolahan Data ... 21

3.8 Jadwal Penelitian ... 22

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Pengujian ... 24

4.4.1 Data Penjemuran Bahan Bakar Solar ... 24

(13)

4.3 Pembahasan ... 34

4.3.1 Pengujian Ash Content ... 34

4.3.2 Pengujian Kandungan Sulphur ... 36

4.3.3 Pengujian Kandungan Water Content ... 38

4.4 Hubungan Parameter Pengujian terhadap Pembakaran Sempurna ... 39

4.4.1 Hubungan Ash Content dengan Pembakaran Sempurna ... 40

4.4.2 Hubungan Kandungan Sulphur dengan Pembakaran Sempurna ... 41

4.4.3 Hubungan Water Content dengan Pembakaran Sempurna ... 42

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 44

5.2 Saran ... 44

DAFTAR PUSTAKA ... 45

(14)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1.1 Grafik pemakaian Bahan Bakar per tahun ... 1

Gambar 2.1 Bahan Bakar Solar ... 5

Gambar 3.1 Flowchart Diagram Penelitian ... 20

Gambar 4.1 Sampel tanpa Perlakuan Panas ... 31

Gambar 4.2 Sampel dengan Perlakuan Panas 2 hari ... 32

Gambar 4.3 Sampel dengan Perlakuan Panas 4 hari ... 32

Gambar 4.4 Sampel dengan Perlakuan Panas 6 hari ... 33

Gambar 4.5 Sampel dengan Perlakuan Panas 8 hari ... 33

Gambar 4.6 Grafik Hasil Analisa Kandungan Ash Content ... 35

Gambar 4.7 Grafik Hasil Analisa Kandungan Sulphur ... 37

(15)

DAFTAR TABEL

. Halaman

Tabel 1.1 Konsumsi BBM bersubsidi di Indonesia 2005-2010 ... 2

Tabel 2.1 Perbandingan Typical Characteristic Solar dan Biodiesel ... 6

Tabel 2.2 Nilai Cetana masing-masing Solar ... 12

Tabel 2.3 Perbandingan Karakteristik macam-macam Solar ... 13

Tabel 3.1 Timeframe pelaksanaan penelitian... 22

Tabel 4.1 Hasil pengukuran pada sampel tanpa perlakuan panas ... 24

Tabel 4.2 Hasil pengukuran pada sampel dengan perlakuan panas 2 hari ... 25

Tabel 4.3 Hasil pengukuran pada sampel dengan perlakuan panas 4 hari ... 26

Tabel 4.4 Hasil pengukuran pada sampel dengan perlakuan panas 6 hari ... 27

Tabel 4.5 Hasil pengukuran pada sampel dengan perlakuan panas 8 hari ... 29

Tabel 4.6 Hasil Analisa Bahan Bakar Solar dengan dan tanpa perlakuan panas .. 35

Tabel 4.7 Hasil Analisa Kandungan Sulphur Bahan Bakar Solar dengan dan tanpa perlakuan panas ... 36

Tabel 4.8 Hasil Analisa Kandungan Water Content Bahan Bakar Solar dengan dan tanpa perlakuan panas ... 38

(16)

BAB I

(17)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Penggunaan Motor Diesel di kota besar menjadi sangat penting, hal ini bisa dilihat dari banyaknya jumlah kendaraan seperti bus angkutan penumpang, kendaraan niaga serta mesin-mesin industri. Kelebihannya adalah tenaga yang besar serta konsumsi bahan bakar yang rendah, kekurangannya adalah emisi gas buang yang cukup berbahaya. Penyebab dari tingginya emisi gas buang adalah kondisi mesin yang kurang terawat serta kualitas bahan bakar diesel yang digunakan.

Gambar 1.1 Grafik Pemakaian Bahan Bakar per tahun (Kompasiana, 2012)

Solar merupakan bahan bakar yang digunakan pada motor diesel, salah satu sifat yang harus dipenuhi dari bahan bakar solar adalah Cetane Number. Cetane Number adalah angka yang menunjukkan berapa besar tekanan maksimum yang bisa diberikan di dalam mesin sebelum terbakar secara spontan. Untuk menaikkan angka Cetane dari bahan bakar solar biasanya diperoleh dengan menambahkan Zat Aditif.

Menambahkan Zat Aditif ke dalam bahan bakar solar merupakan salah satu cara alternatif dalam menambah angka Cetane Number dari suatu kendaraan, oleh

297.802 374.691 383.453 388.107 379.142 388.241 394.052 10.334 11.437 39.873 16.658 55.663 44.765 56.935 8.453 9.414 10.925 15.718 25.259 31.966 31.778 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011

Grafik pemakaian bahan bakar per

tahun

(18)

karena itu pengaruh perubahan konsentrasi Zat Aditif digunakan untuk mengetahui peningkatan kemampuan kerja motor bakar Diesel yang optimum dan kadar emisi gas buang yang bisa diminimalisir.

Tabel 1.1: Konsumsi BBM Bersubsidi di Indonesia 2005-2010 (Barel) Tahun Mogas Solar Minyak

Tanah BBM Bersubsidi Jumlah Penduduk BBM Bersubsidi Per Kepala 2005 101.867.000 175.518.000 67.395.000 344.780.000 227.303.175 1,52 2006 99.458.000 164.656.000 59.412.000 323.526.000 229.918.547 1,41 2007 105.940.000 166.448.000 58.672.000 331.060.000 232.461.746 1,42 2008 114.796.000 175.148.000 46.836.000 336.780.000 234.951.154 1,43 2009 129.255.000 173.134.000 28.332.000 330.721.000 237.414.495 1,39 2010 148.575.000 174.669.000 18.093.000 341.337.000 239.870.937 1,42

Sumber: diolah dari data Kementrian dan Bank Dunia.

1.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dari tugas akhir ini adalah:

1. Bagaimana hubungan Bahan Bakar Solar dengan parameter pengujian Ash Content, Sulphur serta Water Content ?

2. Bagaimana mengetahui perbedaan kandungan Ash Content, Sulphur serta Water Content terhadap pengaruh perlakuan suhu dari bahan bakar solar yang digunakan ?

1.3 Batasan Masalah

Adapun batasan masalahnya adalah hanya melakukan penelitian atau analisa pada bahan bakar jenis solar Pertamina Dex yang dipasarkan pada peruntukan industri maupun untuk masyarakat.

(19)

1.4 Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulisan dalam penulisan tugas akhir ini adalah :

1. Mengetahui hubungan Bahan Bakar Solar dengan parameter pengujian Ash Content, Sulphur serta Water Content.

2. Mengetahui perbedaan kandungan Ash Content, Sulphur serta Water Content terhadap pengaruh perlakuan suhu dari bahan bakar solar yang digunakan.

1.5 Manfaat Penulisan Tugas Akhir

Adapun manfaat penulisan tugas akhir ini adalah:

1. Menambah pengetahuan, pengalaman serta perbandingan penelitian agar penelitian selanjutnya tidak dihadapkan masalah serupa.

2. Dapat dijadikan masukan dalam memilih solar yang baik digunakan pada mesin di alat berat.

1.6 Sistematika Penulisan Tugas Akhir

Agar mempermudah pembaca dan lebih terarah dalam membaca tugas akhir ini, maka penulis menyusun tugas akhir ini dalam 5 bab.

Adapun sistemtika penulisan tugas akhir adalah : BAB I : PENDAHULUAN

Pada bagian ini terdiri atas latar belakang, rumusan masalah, batasan masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan serta sistematika penulisan tugas akhir. BAB II : LANDASAN TEORI

Pada bagian ini terdapat uraian-uraian pendukung yang berhubungan dengan proses pengolahan data dan dalam usaha pemecahan masalah pada tugas akhir ini.

BAB III : METODOLOGI PENELITIAN

Pada bagian ini terdapat penyajian data secara sederhana penelitian dan definisi secara operasional. Penentuan sampel, jenis dan sumber data, metode pengumpulan data, serta metode analisis yang digunakan dalam penelitian.

BAB IV : HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada bagian ini diuraikan deskripsi objek penelitian analisis data dan pembahasan hasil penelitian.

(20)

BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN

Pada bagian ini disajikan kesimpulan berdasarkan hasil analisa yang merupakan jawaban dari perumusan masalah yang ada dan saran yang dapat digunakan kedepannya.

DAFTAR PUSTAKA

Memuat daftar-daftar referensi yang digunakan penulis dalam menyusun tugas akhir.

LAMPIRAN

Berisi lampiran-lampiran data-data pendukung sample pengambilan data tugas akhir.

(21)

BAB II

(22)

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Definisi Solar

Solar adalah salah satu jenis bahan bakar yang dihasilkan dari proses pengolahan minyak bumi, pada dasarnya minyak mentah dipisahkan fraksi-fraksinya pada proses destilasi sehingga dihasilkan solar dengan titik didih 250ºC sampai 300ºC. Kualitas solar dinyatakan dalam satuan bilangan Cetane (pada bensin disebut Oktan number), yaitu bilangan yang menunjukkan kemampuan solar mengalami pembakaran di dalam mesin serta kemampuan mengontrol jumlah ketukan (knocking), semakin tinggi bilangan cetane pada solar maka kualitas solar akan semakin bagus (Anjas R,2015).

Gambar 2.1 Bahan Bakar Solar (Autobild Indonesia, 2015)

2.2 Karakteristik Solar

Sebagai bahan bakar, tentunya solar memiliki karakteristik tertentu sama halnya dengan jenis bahan bakar jenis lainnya. Berikut karakteristik yang dimiliki solar:

 Tidak berwarna atau terkadang berwarna kekuning-kuningan dan berbau.

(23)

 Memiliki kandungan Sulphur yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan bensin dan kerosin.

 Memiliki flash point (titik nyala) sekitar 40ºC sampai 100ºC.

 Terbakar spontan pada temperatur 300ºC.

 Menimbulkan panas yang tinggi sekitar 10.500 kcal/kg.

 Memiliki rantai hidrokarbon C14 sampai dengan C18.

Pada umumnya solar digunakan sebagai bahan bakar kendaraan bermesin diesel ataupun peralatan-peralatan industri lainnya, agar menghasilkan pembakaran yang baik, solar memiliki syarat-syarat agar memenuhi standar yang telah ditentukan. Berikut persyaratan yang menentukan kualitas solar:

 Mudah terbakar.

 Tidak mudah mengalami pembekuan pada suhu yang dingin.

 Memiliki sifat anti knocking dan membuat mesin bekerja dengan lembut.

 Solar harus memiliki kekentalan yang memadai agar dapat disemprotkan oleh injektor di dalam mesin.

 Tetap stabil atau tidak mengalami perubahan struktur, bentuk dan warna dalam proses penyimpanan.

 Memiliki kandungan sulphur sekecil mungkin, agar tidak berdampak buruk bagi mesin kendaraan serta tidak menimbulkan polusi.(Anjas R, 2015)

Tabel 2.1. Perbandingan Typical Characteristic Solar dan Biodiesel 10

No

Karakteristik Solar Biodiesel B10

1. Angka Setana (angka untuk mengontrol bahan bakar solar dalam kemampuan untuk mencegah terjadinya knocking)

49 49,2

2. Berat Jenis pada 15ºC (kg/m3)

Menunjukkan perbandingan berat per satuan volume.

8442 8463

(24)

Pengukuran dan ketahanan fluida yang diubah baik dengan tekanan maupun tegangan.

4. Titik Nyala (ºC)

Titik temperature terendah dimana bahan bakar dapat menyala.

60 62,2

5. Karbon Residu (%massa)

Menunjukkan kadar fraksi hidrokarbon yang mempunyai titik didih lebih tinggi dari range bahan bakar.

<0,1 0,02

6. Kandungan Air (mg/kg)

Kadar air yang terkandung dalam bahan bakar dapat membentuk Kristal yang dapat menyumbat saluran bahan bakar.

76 177

(Hendriarto.Ardhita, jurnal teknologi terpadu,2015)

2.3 Syarat-syarat Solar

Solar yang diperlukan sebagai bahan bakar mesin diesel ini harus memenuhi syarat sebagai berikut:

 Mudah terbakar

Waktu tertundanya pembakaran harus pendek/singkat sehingga engine mudah dihidupkan. Solar harus dapat memungkinkan mesin bekerja lembut dengan sedikit knocking yang berakibat pada lifetime mesin itu sendiri.

 Tetap encer pada suhu dingin (tidak mudah membeku)

Solar harus tetap cair pada temperatur rendah sehingga mesin akan mudah dihidupkan dan berputar dengan halus, sehingga komponen sistem bahan bakar dan mesin memiliki jam operasi yang panjang.

 Daya pelumasan

Solar juga berfungsi sebagai pelumas untuk pompa injeksi dan nozel. Oleh karena itu harus mempunyai sifat daya pelumas yang baik dan terbebas dari kotoran-kotoran yang ada agar sistem dapat bekerja dengan baik.

(25)

 Kekentalan

Solar harus mempunyai kekentalan yang memadai sehingga dapat disemprotkan oleh injektor yang berakibat pembakaran sempurna dapat tercipta dan emisi gas buang yang dapat ditekan.

 Kandungan sulphur

Sulphur merusak pemakaian komponen mesin, dan kandungan sulphur solar harus sekecil mungkin agar mesin dapat bekerja dengan normal tanpa gejala “ngelitik” sehingga lifetime engine dapat bertahan lama.

 Stabil

Tidak berubah dalam kualitas, tidak mudah larut selama disimpan serta tidak berubah dalam komposisi dan tidak mudah bereaksi dengan bahan kimia lain.

[

2.4 Kandungan Solar

Terdiri atas senyawa Hidrokarbon dan Non-Hidrokarbon

 Senyawa Hidrokarbon: Parafinik, Naftenik, Olefin dan Aromatik.

 Senyawa Non Hidrokarbon : -Logam: Nikel, Vanadium, Besi

-Non Logam: Nitrogen, Sulfur, Oksigen.

2.5 Kegunaan Solar

 Bahan bakar untuk mesin diesel pada kendaraan bermotor seperti bus, truk, kereta api dan traktor, yang difungsikan sebagai alat transportasi maupun sebagai kendaraan niaga serta alat bantu dalam industri maupun pertanian.

 Memproduksi uap, sebagai bahan bakar dari mesin uap untuk digunakan pada instalasi pembangkit listrik.

 Mencairkan hasil perindustrian, sebagai bahan bakar dari peralatan industri sehingga proses produksi dapat tetap berjalan dan memberikan benefit bagi perusahaan.

2.6 Angka Cetane

Angka cetane atau tingkatan dari solar adalah salah satu cara untuk mengontrol bahan bakar solar dalam kemampuan untuk mencegah terjadinya knocking. Tingkatan yang lebih besar memiliki kemampuan yang lebih baik. Ada dua skala

(26)

indeks untuk mengontrol kemampuan solar untuk mencegah knocking dan mudah terbakar yaitu cetane index dan diesel index. Minimal tingkatan cetane yang dapat diterima untuk bahan bakar yang digunakan untuk mesin diesel kecepatan tinggi umumnya 40-45.

Oleh karena itu, mesin diesel perbandingan kompresinya (15:1 – 22:1) lebih tinggi daripada mesin bensin (6:1 – 12:1) dan juga mesin diesel dibuat dengan konstruksi yang jauh lebih kuat daripada mesin bensin.

2.7 Perbedaan Bahan Bakar Diesel dengan Bahan Bakar Bensin

Perbedaan antara bahan bakar diesel dengan bahan bakar bensin terletak pada proses pembakaran bahan bakar. Untuk sebuah mesin kendaraan atau alat berat yang beroperasi dengan menggunakan tenaga diesel pasti membutuhkan bahan bakar diesel yang kandungannya disesuaikan dengan jenis kendaraan atau apapun itu yang penting menggunakan mesin diesel. Pada mesin bensin pembakaran bahan bakar terjadi karena adanya loncatan api listrik yang dihasilkan oleh dua elektroda busi (spark plug), sedangkan pada mesin diesel pembakaran terjadi karena kenaikan temperatur campuran udara dan bahan bakar akibat kompresi piston hingga mencapai temperatur nyala.

Dibandingkan dengan mesin bensin, pada mesin diesel mempunyai keuntungan dan kerugian sebagai berikut :

Keuntungan :

 Mesin Diesel mempunyai efisiensi panas yang lebih besar. Hal ini berarti penggunaan bahan bakarnya lebih ekonomis daripada engine bensin.

 Mesin diesel bisa lebih lama dan tidak memerlukan electric igniter. Hal ini berarti bahwa kemungkinan kesulitan lebih kecil daripada engine bensin.

Momen pada engine diesel tidak berubah pada jenjang tingkat kecepatan yang luas. Hal ini berarti bahwa engine diesel lebih fleksibel dan lebih mudah dioperasikan daripada engine bensin, hal inilah sebabnya engine diesel digunakan pada kendaraan-kendaraan yang besar.

Kerugian :

 Tekanan pembakaran maksimum hampir dua kali mesin bensin. Hal ini berarti bahwa suara dan getaran mesin diesel lebih besar.

(27)

 Tekanan pembakarannya yang lebih tinggi, maka mesin diesel harus dibuat dari bahan yang tahan tekanan tinggi dan harus mempunyai struktur kuat. Hal ini berarti bahwa untuk daya kuda yang sama, mesin diesel jauh lebih berat daripada mesin bensin dan biaya pembuatannya menjadi lebih mahal.

 Mesin diesel memerlukan sistem injeksi bahan bakar yang presisi dan harganya lebih mahal dan memerlukan pemeliharaan yang lebih cermat dibandingkan mesin bensin.

 Mesin diesel mempunyai perbandingan kompresi yang lebih tinggi dan membutuhkan gaya yang lebih besar untuk memutarnya. Oleh karena itu, mesin diesel memerlukan alat pemutar seperti motor starter dan baterai yang berkapasitas besar.

2.8 Jenis-jenis Bahan Bakar Diesel

Bahan bakar Diesel dapat digolongkan dalam berbagai macam jenis yang dibedakan oleh kekentalan, jumlah Cetane dan sebagainya. Tetapi walaupun memiliki perbedaan, struktur utama pada bahan bakar Diesel tersebut tidak memiliki perbedaan. Berikut adalah jenis-jenisnya:

High Speed Diesel (HSD)

HSD merupakan bahan bakar jenis solar yang digunakan untuk mesin diesel yang memiliki jumlah Cetane 45. Umumnya mesin yang menggunakan bahan bakar HSD merupakan mesin sistem injeksi pompa dan elektronik injeksi. Jadi, pada dasarnya bahan bakar ini diperuntukkan untuk kendaraan bermotor dan sebagai bahan bakar peralatan industri.

Marine Fuel Oil (MFO)

MFO dihasilkan dari proses pengolahan minyak berat (residu) sehingga memiliki kekentalan yang lebih tinggi. Jenis ini sering digunakan sebagai bahan bakar langsung pada sektor industri untuk mesin-mesin diesel yang memiliki kecepatan proses yang rendah.

(28)

Industrial Diesel Oil

IDO dihasilkan dari proses penyaringan minyak mentah pada temperatur rendah, biasanya jenis ini memiliki kandungan sulfur yang tergolong rendah sehingga dapat diterima oleh medium speed diesel engine.

Biodiesel

Bahan bakar biodiesel merupakan jenis bahan bakar yang cukup baik sebagai pengganti solar yang berasal dari minyak bumi, hal ini disebabkan karena biodiesel merupakan sumber energi yang dapat diperbaharui karena berasal dari minyak nabati dan hewani, walaupun secara kimia susunan biodiesel terdiri dari campuran mono-alky ester dan rantai panjang asam lemak. Biodiesel merupakan bahan bakar yang tidak memiliki kandungan berbahaya bila terlepas ke udara, karena sangat mudah untuk terurai secara alami. Dalam proses pembakarannnya, bahan bakar jenis ini hanya menghasilkan karbon monoksida serta hidrokarbon yang relatif rendah sehingga cukup aman bagi lingkungan sekitar, hal inilah yang membuat biodiesel memenuhi persyaratan sebagai bahan bakar.

Keunggulan Biodiesel

Dengan kandungan minyak nabati, BBM menjadi ramah lingkungan. Biodiesel memiliki angka cetane 51 hingga 55 atau lebih tinggi daripada solar standar yang mempunyai angka cetane 48. Padahal makin tinggi angka cetane makin sempurna pembakaran, sehingga gas buang polutan kendaraan dapat ditekan. Kerapatan energy per volume yang diperoleh juga makin besar. Selain itu, campuran FAME menurunkan sulfur sehingga tidak lebih dari 500 ppm.

Kelemahan Biodiesel

Tidak seperti solar murni, ternyata Biodiesel memiliki kelemahan yaitu tak cocok dipakai untuk kendaraan bermotor yang memerlukan kecepatan dan daya, karena biodiesel menghasilkan tenaga yang lebih rendah dibandingkan solar murni.

(29)

Diesel Performa Tinggi

Bahan bakar ini merupakan bahan bakar yang memiliki kualitas lebih tinggi jika dibandingkan dengan jenis bahan bakar yang berasal dari petroleum lainnya. jenis bahan bakar telah mengalami proses peningkatan kualitas dari segi Cetane Number serta pengurangan kandungan sulphur sehingga telah dinjurkan bagi mesin diesel sistem injeksi commonrail. Sistem injeksi commonrail adalah sebuah tube bercabang yang terdapat di dalam mesin dengan katup injektor yang dikendalikan oleh komputer dimana masing-masing tube tersebut terdiri dari nozzle mekanis dan plunger yang dikendalikan oleh selenoid serta actuator piezoelectric. Pada solar jenis ini memiliki jumlah bilangan cetane 53 serta kandungan sulphur dibawah 300 ppm sehingga digolongkan sebagai diesel modern yang memiliki standar gas buang EURO 2.(Anjas R,2015)

2.9 Tabel Nilai Cetana

Pada umumnya kendaraan standart untuk mesin diesel biasanya membutuhkan nilai cetana 45-55

Tabel dibawah ini menguraikan nilai cetana yang berbeda tiap masing-masing tipe Diesel.

Tabel 2.2. Nilai Cetana masing-masing Solar

2.10 Dexlite

Dexlite merupakan komposisi dari campuran biodiesel atau fatty acid methyl ester (FAME) sebanyak 20% dengan zat aditif di dalamnya sehingga sulphur content mencapai 1000-1200, sedangkan solar biasa cetane number 48 mempunyai

Type Of Diesel Cetane Number

Regular Diesel 45

Premium Diesel 55

Biodiesel ( B100 ) 55

(30)

sulphur content 3500. Ini sesuai dengan kebijakan pemerintah terkait pencampuran bahan bakar nabati (BBN) pada solar.

Dexlite adalah bahan bakar minyak terbaru dari Pertamina untuk kendaraan bermesin diesel di Indonesia. Dexlite diluncurkan pada tanggal 12 April 2016 sebagai varian baru bagi konsumen yang menginginkan BBM dengan kualitas di atas Solar biasa (bersubsidi) Cetane Number minimal 48, tetapi dengan harga yang lebih murah daripada Pertamina Dex yang memiliki Cetane number minimal 53. Peluncuran Dexlite ini diharapkan dapat mengurangi subsidi solar sebesar Rp. 16 trilliun yang lebih baik digunakan untuk sektor produktif seperti infrastruktur atau subsidi langsung kepada masyarakat yang membutuhkan.(PT. Pertamina Persero, 2017).

2.11 Pertamina Dex

(singkatan dari ‘Diesel Environtment Extra’) adalah salah satu jenis BBM

produksi Pertamina yang dipergunakan untuk kendaraan bermotor dengan mesin diesel modern. Pertamina Dex memiliki kelebihan dibandingkan dengan bahan bakar untuk mesin diesel lainnya, diantaranya :

 Memiliki angka performa tinggi dengan Cetane Number minimal 53 (paling tinggi dikelasnya).

 Memiliki kandungan Sulphur paling rendah di Indonesia (max. 300 ppm) yang berfungsi untuk menghindari penyumbatan injector dan menghasilkan emisi gas buang lebih ramah lingkungan.

 Memiliki additive yang berfungsi untuk membersihkan dan juga melindungi mesin kendaraan. (Sumber: PT.Pertamina Persero,2017).

Tabel 2.3. Perbandingan Karakteristik macam-macam Solar

BioSolar Dexlite Pertamina Dex

Angka Cetane 48 Angka Cetane 51 Angka Cetane 53 Angka Sulphur 3500 PPM Angka Sulphur 1200 PPM Angka Sulphur 300 PPM

No aditif With Aditif With Aditif Harga Rp. 5,150 Harga Rp. 6,450 Harga Rp. 8,100

(31)

2.12 Ash Content

Yaitu kotoran yang berupa abu di sistem Bahan Bakar Solar, kotoran ini dapat berpengaruh terhadap mutu karena dapat mengakibatkan kegagalan dalam suatu operasi dan merusak mesin. Untuk itu makin kecil adanya kotoran di dalam Bahan Bakar Solar maka makin baik mutu bahan bakar tersebut. Standar Ash Content yang diperbolehkan dalam Bahan Bakar Solar adalah Ash Content, ASTMD 482.

2.13 Sulphur

Sulphur adalah salah satu unsur non-logam yang biasa disebut dengan belerang. Bahan ini merupakan bahan yang berwarna kuning terang, berupa padatan yang rapuh, tidak larut dalam air. Di alam terjadi sebagai unsur murni atau sebagai sulfide dan sulfat mineral. Turunan utama Sulphur adalah asam sulfat (H2SO4), salah satu elemen penting yang digunakan sebagai bahan baku industri. Sulphur juga digunakan dalam baterai, detergen, fungisida, pembuatan pupuk, korek api dan kembang api. Di dalam bahan bakar khususnya Solar, Sulphur sangat berbahaya bagi mesin Diesel. Karena semakin tinggi kadar Sulphur dalam Solar maka akan memicu kadar asam berlebih pada bahan bakar yang berakibat kerusakan pada komponen mesin, mulai dari kerak hingga saluran bahan bakar.

Kerak di saluran bahan bakar dapat mengganggu suplai Solar yang dialirkan ke dalam silinder, efek langsungnya mengganggu kinerja mesin, mulai dari penurunan performa tenaga sampai kerusakan lebih serius. Disinilah istilah pembakaran dini atau “knocking” terjadi yang bisa mengakibatkan mesin mengelitik.

Efek karena tingkat sulphur yang tinggi pada Solar tidak berhenti pada kerusakan kendaraan saja. Dalam hal polusi udara, gas sisa hasil pembakaran dari mesin bila bercampur udara akan membentuk Sulfur Dioksida (SO2). Ketika SO2 tercampur dengan uap air akan terjadi susunan asam yang membahayakan bagi tubuh.(Otomania).

2.14 Indeks Diesel

Indeks diesel adalah suatu parameter mutu penyalaan pada bahan bakar mesin diesel selain angka setana. Mutu penyalaan dari bahan bakar diesel dapat diartikan sebagai waktu yang diperlukan untuk bahan bakar agar dapat menyala di ruang

(32)

pembakaran dan diukur setelah penyalaan terjadi. Cara menentukan Indeks Diesel dari suatu bahan bakar mesin diesel dapat dihitung dengan menggunakan rumus di bawah ini:

Indeks Diesel = {Titik Anilin (oF) x API Gravity} : 100

Dari rumus diatas dapat diketahui bahwa nilai indeks diesel dipengaruhi oleh titik anilin dan berat jenisnya.

2.15 Emisi Gas Buang Bahan Bakar Solar

Polusi udara oleh gas buang dan bunyi pembakaran motor diesel merupakan gangguan terhadap lingkungan. Komponen-komponen gas buang yang membahayakan itu antara lain adalah asap hitam (angus), hidrokarbon yang tidak terbakar (UHC), karbon monoksida (CO), nitrogen oksida (NO) dan NO2. NO dan NO2 biasa disebut dengan NOx (W. Arismunandar, 2002). Namun jika dibandingkan dengan motor bensin, motor diesel tidak banyak mengandung CO dan UHC. Disamping itu, kadar NO2 sangat rendah jika dibandingkan dengan NO. jadi boleh dikatakan bahwa komponen gas buang motor diesel yang membahayakan adalah NO dan asap hitam. Bahan bakar dengan kadar belerang yang tinggi sebaiknya tidak digunakan karena akan menyebabkan adanya SO2 di dalam gas buang. Asap hitam membahayakan lingkungan karena mengeruhkan udara sehingga mengganggu pandangan, dan juga kemungkinan mengandung karsinogen. Motor diesel yang mengeluarkan asap hitam yang sekalipun mengandung partikel karbon yang tidak terbakar tetapi bukan karbon monoksida (CO), jika jelaga yang terjadi terlalu banyak maka gas buang yang keluar dari mesin akan berwarna hitam mengotori udara.

Menurut Nakoela Soenarta (1995:39), Faktor-faktor yang menyebabkan terbentuknya jelaga atau angus pada gas buang motor diesel adalah :

1. Konsentrasi oksigen sebagai syarat pembakaran kurang mencukupi. 2. Bahan bakar yang disemprotkan terlalu banyak.

3. Suhu di dalam ruang bakar terlalu tinggi.

4. Penguapan dan pencampuran bahan bakar dan udara yang ada di dalam silinder tidak dapat berlangsung sempurna.

(33)

2.16 Dampak Kerusakan Bahan Bakar Solar Terhadap Mesin

 Angka Cetana yang terlalu tinggi dapat menimbulkan efek panas berlebihan terhadap mesin sehingga komponen mesin dapat cepat rusak.

 Angka Cetana yang terlalu rendah dapat mengakibatkan gejala ngelitik atau knocking sehingga gas buang yang terbakar akan berlebihan, karena proses pembakaran dalam mesin tidak sempurna sehingga asap gas buang akan menjadi hitam pekat.

 Kandungan Sulphur yang terlalu tinggi pada bahan bakar solar saat terjadi proses pembakaran Sulphur akan teroksidasi dengan oksigen sehingga menjadi Sulphur Dioksida (SO2) dan Sulphur Trioksida (SO3). Oksida Sulphur ini bila kontak dengan air akan menyebabkan korosif dan sangat merusak terhadap logam-logam diruang bakar maupun komponen di sistem gas buang.

 Konsentrasi Ash Content yang terlalu tinggi menyebabkan penyumbatan di ujung injector, karena terbentuknya deposit sementara padatan abrasive dari senyawa ini akan mengakibatkan komponen injeksi bahan bakar menjadi aus dan filter bahan bakar menjadi tersumbat sehingga kuantitas bahan bakar yang disemprotkan menjadi menurun.

 Kandungan Air dalam jumlah banyak yang jika masuk ke dalam ruang bakar akibatnya akan mengakibatkan kerusakan pada komponen mesin seperti piston, ring piston maupun dinding silinder dan jika kandungannya melebihi dari batas yang dianjurkan akan menyebabkan efek Water Hammer.

 Penggunaan bahan bakar solar dengan kualitas buruk akan mengakibatkan kerja Fuel Filter menjadi lebih berat dampaknya akselerasi kian menurun akibat suplai bahan bakar solar ke ruang bakar berkurang, bila dibiarkan Nozzel akan tersumbat dan perlu dilakukan kalibrasi ulang.

(34)

2.17 Penyimpanan Bahan Bakar Solar dan Upaya Pencegahan Kontaminasi

 Usahakan untuk membeli Fuel pada tempat yang sudah terjamin kebersihannya.

 Pastikan wadah yang digunakan bersih dari kotoran maupun kandungan air.

 Jika suhu lingkungan sangat dingin jangan letakkan tangki di lingkungan terbuka karena akan mengakibatkan pengembunan pada tangki.

 Temperatur udara di sekitar tangki harus dijaga tetap pada suhu normal.

 Untuk tempat penyimpanan bahan bakar skala besar usahakan menggunakan breather.

 Jangan selalu membuka tutup bahan bakar jika tidak dibutuhkan.

 Tangki bahan bakar harus ditempatkan pada posisi jauh dari sumber api, percikan api, peralatan yang dapat menimbulkan panas, bahan yang mudah terbakar atau meledak.

(35)

BAB III

(36)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode eksperimen yaitu penelitian yang dilakukan melalui pengujian dengan pengumpulan data primer atau informasi yang baru dan terkait dengan kondisi nyata yang ada di lapangan dengan metode observasi dan pengujian.

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian

Tempat penelitian dilaksanakan pada Laboratorium SOS PT. Trakindo Utama Balikpapan, Kalimantan Timur. Waktu penelitian sendiri ada 2 tahap yaitu Perlakuan Panas sampel selama 8 hari terhitung mulai 11 Juli sampai dengan 18 Juli 2017, kemudian dilakukan pengujian sampel di laboratorium selama 3 hari terhitung mulai 19 Juli sampai 21 Juli 2017.

3.3 Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan saat melakukan pengujian bahan bakar di Laboratorium SOS PT. Trakindo Utama Balikpapan, Kalimantan Timur. Adapun teknik pengumpulan data adalah sebagai berikut :

1. Observasi dan analisa sample di laboratorium, yaitu pengujian dan pengamatan langsung terhadap sample uji di laboratorium. Untuk mengetahui dan memperoleh data atau informasi yang penulis butuhkan dalam penyusunan tugas akhir ini.

2. Dokumentasi, yaitu teknik pengumpulan data oleh penulis dalam bentuk pengambilan gambar atau foto yang diambil oleh penulis langsung di lapangan atau laboratorium yang menjadi tempat penelitian. Data-data dokumentasi foto akan dijadikan pedoman maupun bukti dari penelitian yang dilakukan.

(37)

3.4 Alat dan Bahan Penelitian

Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi :

 Alat :

1. Metal Analyzer ASTM D 5185 2. CCR & Ash Content tester NMC 40

3. Water Contamination Analysis ASTM D-4377 4. Gelas Ukur Kimia

Gelas ini digunakan untuk wadah dan tempat mengukur volume suatu fluida.

5. Botol sampel

Botol sampel digunakan sebagai wadah untuk penyimpanan uji sampel yang digunakan dalam penelitian.

6. Thermogun atau alat pengukur suhu

Thermogun ini digunakan saat ingin mengukur suhu sampel solar yang mengalami perlakuan panas.

 Bahan

1. Bahan Bakar Solar

Bahan bakar solar yang digunakan dalam penelitian ini adalah solar Pertamina Dex yang dijual di SPBU Pertamina kota Balikpapan. Dibagi menjadi 5 sampel :

a. Solar Pertamina Dex tanpa perlakuan panas.

b. Solar Pertamina Dex dengan perlakuan panas 2 hari. c. Solar Pertamina Dex dengan perlakuan panas 4 hari. d. Solar pertamina Dex dengan perlakuan panas 6 hari. e. Solar pertamina Dex dengan perlakuan panas 8 hari.

3.5 Persiapan Penelitian

Untuk menghindari kemungkinan gangguan maupun kekurangan yang tidak diinginkan selama proses penelitian, maka persiapan penelitian mutlak dilakukan. Persiapan penelitian ini meliputi :

1. Mempersiapkan bahan bakar solar yang akan digunakan, yaitu : bahan bakar solar Pertamina Dex dari SPBU.

(38)

2. Mempersiapkan dan mengecek kembali apakah alat yang akan digunakan masih dalam kondisi standard dan siap untuk digunakan.

3.6 Pengumpulan Data

Berdasarkan sumber data yang diperoleh dari pengujian di laboratorium SOS PT. Trakindo Utama, penelitian ini dibagi menjadi dua yaitu :

3.6.1 Data Primer

Data Primer didalam penelitian ini diperoleh dengan cara melakukan observasi penelitian dan pengamatan di laboratorium untuk menguji sample bahan bakar solar untuk didapatkan karakteristik serta spesifikasi dari bahan bakar solar itu sendiri serta dokumentasi pendukung pengujian sample.

3.6.2 Data Sekunder

Data Sekunder di dalam penelitian ini adalah sebagai pendukung dari Data Primer yaitu pengamatan saat proses metode penelitian serta hasil dari pengujian sample bahan bakar yang diteliti di laboratorium termasuk referensi yang dipakai dalam penyusunan hasil penelitian.

3.7 Diagram Alir Penelitian

(39)

Dapat dilihat dari Gambar 3.1 bahwa alur penulisan karya ilmiah ini diawali dari identifikasi masalah, tahap perumusan data, tahap pengumpulan data dan tahap pengolahan data yang diakhiri dengan kesimpulan dan saran. Sehingga dapat diharapkan penulisan karya ilmiah ini sesuai dengan yang telah direncanakan dari awal.

3.7.1 Identifikasi dan Perumusan Masalah

Dalam sebuah penelitian, identifikasi sebuah masalah merupakan tahap yang paling dini. Dalam hal ini identifikasi masalah masih pada bentuk konsep yang akan digunakan untuk menjadi dasar sebuah penelitian.

3.7.2 Tahap Perumusan Data

Pada dasarnya penelitian itu dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan data yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah. Pada tahap ini, penulis melakukan proses merumuskan suatu masalah dengan pengamatan serta pengujian di laboratorium untuk mendapatkan hasil yang diinginkan. Untuk lebih memperjelas, maka penulis juga melakukan studi literature dari buku maupun internet sebagai acuan dalam merumuskan penelitian yang sedang diamati.

3.7.3 Tahap Pengumpulan Data

Pengumpulan data dapat dilakukan dalam berbagai setting, berbagai sumber dan berbagai cara (Prof. Dr. Sugiono, 2010). Dalam penelitian ini penulis melakukan pengumpulan dari sumber data yaitu data primer dan sekunder. Dari sumber data primer penulis mengumpulkan dokumentasi pengambilan sampel bahan bakar yang akan diuji serta pada saat melakukan pengujian sampel bahan bakar di laboratorium. Sedangkan dari sumber data sekunder penulis mengumpulkan data berupa dokumen hasil penganalisaan bahan bakar yang telah diuji. Data tersebut digunakan penulis sebagai penunjang data primer.

3.7.4 Tahap Pengolahan Data

Setelah penulis mengumpulkan data dari berbagai sumber yang ada, tahap selanjutnya yaitu proses pengolahan data yang telah didapatkan. Pada tahapan ini penulis menggunakan teknik sampling. Teknik sampling merupakan teknik pengambilan data dengan berbagai cara, namun dalam penelitian ini penulis

(40)

menggunakan teknik Nonprobability Sampling dengan metode purposive sampling, yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu atau penulis sudah menentukan arah tujuan dalam penulisan ini sejak awal melakukan penelitian.

Setelah data diolah, proses selanjutnya adalah melakukan analisa terhadap data tersebut. Kegiatan dalam analisa data adalah mengelompokkan data berdasarkan variable dan jenis data,mentabulasi data berdasarkan variable, menyajikan data tiap variable dengan teliti, melakukan perhitungan untuk menjawab rumusan masalah dan melakukan perhitungan untuk menguji hipotesa yang telah diajukan (Prof. Dr. Sugiyono 2010). Untuk menganalisa data yang bersifat kuantitatif dengan penggunaan statistik, penulis melakukan analisa dengan teknik analisa data metode statistic deskriptif. Metode ini merupakan statistic yang digunakan untuk menganalisa data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul tanpa bermaksud membuat kesimpulan langsung. Yang termasuk dalam statistic deskriptif adalah penyjian data melalui tabel, grafik, diagram lingkaran, pictogram, perhitungan modus, perhitungan penyebaran data melalui perhitungan rata-rata dan standar deviasi dan perhitungan presentase (Prof. Dr. Sugiyono, 2010).

3.8Jadwal Penelitian

Dalam tugas akhir ini peneliti melakukan beberapa kegiatan seperti yang dijelaskan pada tabel 3.1.

Tabel dibawah ini menunjukkan kegiatan penulis dalam melakukan penelitian, pembuatan proposal hingga sidang tugas akhir.

Tabel 3.1 Timeframe pelaksanaan penelitian

No Kegiatan Waktu Kegiatan (2017) Fe Fe brua ri M M are t A A pril M M ei Ju Ju ni Ju Ju li agust us 1 Pembuatan Proposal 2 Sidang Proposal 3 Studi Literatur Agustus

(41)

4 Pembuatan Tugas Akhir 5 Penelitian/Pengambilan

Data

6 Pengolahan Data

7 Analisis dan Pengolahan Hasil Pengolahan Data 8 Sidang Akhir

(42)

BAB IV

(43)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengujian

Pengujian yang dilakukan dalam penelitian ini bertujuan untuk menganalisa bahan bakar solar dengan menggunakan parameter pengujian Ash Content, Sulphur serta Water Content setelah diberi perlakuan panas. Penulis melihat bahwa unit di lapangan rata-rata terkena paparan sinar matahari langsung dan oleh karena itu penulis ingin mengetahui apakah dengan perlakuan panas ini apakah dapat mempengaruhi kandungan dari 3 parameter yang diujikan. Perlakuan panas tersebut adalah melakukan penjemuran sampel bahan bakar solar selama 2 sampai 8 hari dan satu sampel tanpa perlakuan panas apapun untuk mengetahui perbedaan karakteristik parameter tiap bakar bakar solar yang diujikan.

4.1.1 Data Penjemuran Bahan Bakar Solar

Data dari sampel bahan bakar solar yang mengalami perlakuan panas 1. Sampel tanpa perlakuan panas

Tabel 4.1 Hasil pengukuran pada sampel tanpa perlakuan panas

No Tanggal Waktu

Temperatur ( °c )

Suhu Solar Suhu Lingkungan 1. 13 Juli 2017 09:00 – 11:00 28 28 11:00 – 13:00 28 29 13:00 – 15:00 28 29 15:00 – 17:00 29 29 2. 15 Juli 2017 09:00 – 11:00 28 28 11:00 – 13:00 28 27 13:00 – 15:00 27 27 15:00 – 17:00 27 26 3. 16 Juli 2017 09:00 – 11:00 28 27 11:00 – 13:00 26 27

(44)

13:00 – 15:00 27 27 15:00 – 17:00 28 27 4. 17 Juli 2017 09:00 – 11:00 27 28 11:00 – 13:00 28 28 13:00 – 15:00 28 27 15:00 – 17:00 27 27  Median Me

=

𝑛+1 2 Me = 16+1 2

=

17 2

= 8,5

Setelah diurutkan didapatkan mediannya adalah 28

 Mean 𝑋̅ =∑ 𝑋𝑖 𝑛 𝑖=1 𝑛 𝑋̅ =28 + 27 + 27 + 27 + 27 + 27 + 27 + ⋯ + 28 + 29 16 𝑋̅ =441 16 = 27,5625  Modus

Modus adalah angka yang sering muncul atau angka yang paling banyak muncul dari keseluruhan data yang ada. Angka yang sering muncul dari data di atas adalah 28.

2. Sampel dengan perlakuan panas 2 hari

Tabel 4.2 Hasil pengukuran pada sampel dengan perlakuan panas 2 hari

No Tanggal Waktu

Temperatur ( °c ) Suhu Solar Suhu

Lingkungan

1. 13 Juli 2017

09:00 – 11:00 28 28

(45)

13:00 – 15:00 33 29 15:00 – 17:00 30 29 2. 15 Juli 2017 09:00 – 11:00 39 30 11:00 – 13:00 41 34 13:00 – 15:00 42 36 15:00 – 17:00 42 36  Median Me = 𝑛+1 2 Me

=

8+1 2

=

9 2

=4,5

Setelah diurutkan didapatkan mediannya adalah 38

 Mean 𝑋̅ =∑ 𝑋𝑖 𝑛 𝑖=1 𝑛 𝑋̅ =28 + 30 + 33 + 37 + 37 + 39 + 41 + 42 + 42 16 𝑋̅ =292 16 = 36,5  Modus

Modus adalah angka yang sering muncul atau angka yang paling banyak muncul dari keseluruhan data yang ada. Angka yang sering muncul dari data di atas adalah 42.

3. Sampel dengan perlakuan panas 4 hari

Tabel 4.3 Hasil pengukuran pada sampel dengan perlakuan panas 4 hari

No Tanggal Waktu

Temperatur ( °c )

Suhu Solar Suhu Lingkungan

1. 13 Juli 2017

09:00 – 11:00 28 27

(46)

13:00 – 15:00 34 29 15:00 – 17:00 30 29 2. 15 Juli 2017 09:00 – 11:00 37 30 11:00 – 13:00 42 34 13:00 – 15:00 44 36 15:00 – 17:00 40 36 3. 16 Juli 2017 09:00 – 11:00 37 29 11:00 – 13:00 42 31 13:00 – 15:00 42 29 15:00 – 17:00 40 28 4. 17 Juli 2017 09:00 – 11:00 38 27 11:00 – 13:00 40 29 13:00 – 15:00 42 30 15:00 – 17:00 38 32  Median Me = 𝑛+1 2 Me = 16+1 2

=

17 2

= 8,5

Setelah diurutkan didapatkan mediannya adalah 39

 Mean 𝑋̅ =∑ 𝑋𝑖 𝑛 𝑖=1 𝑛 𝑋̅ =27 + 30 + 34 + 37 + 37 + ⋯ + 41 + 42 + 42 + 42 + 42 + 42 16 𝑋̅ =609 16 = 38,0625  Modus

Modus adalah angka yang sering muncul atau angka yang paling banyak muncul dari keseluruhan data yang ada. Angka yang sering muncul dari data di atas adalah 42.

(47)

4. Sampel dengan perlakuan panas 6 hari

Tabel 4.4 Hasil pengukuran pada sampel dengan perlakuan panas 6 hari

No Tanggal Waktu Temperature ( °c ) Suhu solar Suhu

lingkungan 1. 11 Juli 2017 09:00 – 11:00 33,2 28 11:00 – 13:00 34,2 29 13:00 – 15:00 34,5 30 15:00 – 17:00 33,2 29 2. 12 Juli 2017 09:00 – 11:00 34,4 30 11:00 – 13:00 35,2 32 13:00 – 15:00 36 32 15:00 – 17:00 34,7 30 3. 13 Juli 2017 09:00 – 11:00 32,1 28 11:00 – 13:00 36 32 13:00 – 15:00 37,2 32 15:00 – 17:00 34,5 30 4. 14 Juli 2017 09:00 – 11:00 35,2 32 11:00 – 13:00 37,4 32 13:00 – 15:00 34 28 15:00 – 17:00 34,5 28 5. 15 Juli 2017 09:00 – 11:00 35,3 30 11:00 – 13:00 38,6 34 13:00 – 15:00 36,6 32 15:00 – 17:00 35,1 32 6. 16 Juli 2017 09:00 – 11:00 32 29 11:00 – 13:00 34,3 29 13:00 – 15:00 34,1 31 15:00 – 17:00 33,2 30

(48)

 Median

Me =

𝑛+1 2

Me =

24+1 2

=

25 2

= 12,5

Setelah diurutkan didapatkan mediannya adalah 34,5

 Mean 𝑋̅ =∑ 𝑋𝑖 𝑛 𝑖=1 𝑛 𝑋̅ =32 + 34,2 + 34,5 + 33,2 + 34,4 + ⋯ + 32 + 34,3 + 34,1 + 33,2 24 𝑋̅ =834,5 24 = 34,77083  Modus

Modus adalah angka yang sering muncul atau angka yang paling banyak muncul dari keseluruhan data yang ada. Angka yang sering muncul dari data di atas adalah 34,5

5. Sampel dengan perlakuan panas 8 hari

Tabel 4.5 Hasil pengukuran sampel dengan perlakuan panas 8 hari

No Tanggal Waktu

Temperatur ( °c )

Suhu Solar Suhu Lingkungan 1. 11 Juli 2017 09:00 – 11:00 11:00 – 13:00 32,4 34,2 28 29 13:00 – 15:00 34,6 30 15:00 – 17:00 33,6 29 2. 12 Juli 2017 09:00 – 11:00 34,8 30 11:00 – 13:00 35,4 32

(49)

13:00 – 15:00 36,1 32 15:00 – 17:00 35,1 30 3. 13 Juli 2017 09:00 – 11:00 32,1 28 11:00 – 13:00 35,8 32 13:00 – 15:00 36,9 32 15:00 – 17:00 34,6 30 4. 14 Juli 2017 09:00 – 11:00 35,1 32 11:00 – 13:00 37 32 13:00 – 15:00 34,2 28 15:00 – 17:00 34,5 28 5. 15 Juli 2017 09:00 – 11:00 35,4 30 11:00 – 13:00 38,6 34 13:00 – 15:00 36,7 32 15:00 – 17:00 35,2 32 6. 16 Juli 2017 09:00 – 11:00 32 29 11:00 – 13:00 34,4 29 13:00 – 15:00 34,2 31 15:00 – 17:00 33,2 30 7. 17 Juli 2017 09:00 – 11:00 33,4 29 11:00 – 13:00 36 31 13:00 – 15:00 36,5 31 15:00 – 17:00 34,5 30 8. 18 Juli 2017 09:00 – 11:00 34,1 29 11:00 – 13:00 38 32 13:00 – 15:00 37,2 31 15:00 – 17:00 33,5 20

(50)

 Median 𝑀𝑒 =𝑛+1 2 𝑀𝑒 =32 + 1 2 = 33 2 = 12,5

setelah diurutkan didapatkan mediannya adalah 34,7

 Mean 𝑋̅ =∑ 𝑋𝑖 𝑛 𝑖=1 𝑛 𝑋̅ =32,4 + 34,2 + 34,6 + 33,6 + 34,48 + ⋯ + 34,1 + 38 + 37,2 + 33,5 32 𝑋̅ =1119,3 32 = 34,97813  Modus

Modus adalah angka yang sering muncul atau angka yang paling banyak muncul dari keseluruhan data yang ada. Angka yang sering muncul dari data di atas adalah 34,2.

4.2 Hasil Observasi

Pada penelitian ini sampel diberikan perlakuan panas, yaitu bahan bakar solar dijemur di bawah sinar matahari dari rentang waktu 2 sampai 8 hari untuk mengetahui perbedaan karakteristik parameter bahan bakar solar yang diujikan serta untuk mengetahui apakah terdapat perubahan warna pada sampel.

1. Foto pengambilan temperatur sampel tanpa perlakuan panas

(51)

Pada gambar di atas menunjukkan pengambilan temperatur sample (tengah) setiap 2 jam sekali untuk mengukur rata-rata temperatur dari sample uji serta temperatur lingkungan atau suhu ruangan sekitar.

2. Foto pengambilan temperatur sampel dengan perlakuan panas 2 hari

Gambar 4.2 sampel dengan perlakuan panas 2 hari

Pada gambar ini penulis mengukur temperatur sampel yang dijemur di bawah sinar matahari setiap 2 jam sekali untuk mengukur rata-rata temperatur dari sampel uji serta mengukur temperatur dari suhu lingkungan sekitar.

3. Foto pengambilan temperatur sampel dengan perlakuan panas 4 hari

Gambar 4.3 sampel dengan perlakuan panas 4 hari

Gambar di atas menunjukkan bahwa penulis sedang melakukan pengukuran temperatur pada sample uji solar dengan perlakuan panas 4 hari di bawah sinar matahari langsung untuk mengukur rata-rata temperatur dari sampel uji serta mengukur suhu lingkungan sekitar.

(52)

4. Foto hasil perlakuan panas sampel selama 6 hari

Gambar 4.4 sampel dengan perlakuan panas 6 hari

Gambar di atas menunjukkan foto sampel yang telah diberi perlakuan selama 6 hari dan dituang di gelas ukur untuk mengetahui perbedaan warna sebelum maupun sesudah dijemur.

5. Foto hasil perlakuan panas sampel selama 8 hari

Gambar 4.5 sampel dengan perlakuan panas 8 hari

Tidak berbeda dengan sampel perlakuan panas 6 hari, pada gambar di atas adalah foto sampel uji yang telah diberi perlakuan panas selama 8 hari, dituang di gelas ukur untuk mengetahui perbedaan warnanya sebelum maupun sesudah dijemur.

(53)

Dari hasil observasi dapat diambil kesimpulan bahwa, semua sampel yang akan diuji mulai dari sampel tanpa perlakuan panas maupun sampel dengan perlakuan panas mulai dari 2 hingga 8 hari tidak mengalami perubahan warna yang cukup signifikan. Lalu semua sampel dikirim ke laboratorium untuk menguji kandungan karakteristik beberapa parameter bahan bakar solar yang telah mengalami perlakuan panas tadi.

4.3 Pembahasan

Berdasarkan data yang telah diperoleh dari pegujian di laboratorium, penulis akan melakukan pembahasan pada 3 parameter pengujian. Parameter tersebut adalah untuk mengetahui perubahan beberapa sifat/ karakteristik dari parameter Ash Content , Sulphur serta Water Content dari semua sampel yang telah diujkan di laboratorium, dengan standar ketetapan Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia Direktorat Minyak dan Gas Bumi nomor 978.K/10/DJM.S/2013 sebagai syarat wajib jika suatu cairan dikatakan sebagai bahan bakar solar dan pengaruhnya terhadap pembakaran sempurna pada kendaraan bermotor.

4.3.1 Pengujian Ash Content

Bahan bakar solar yang diproduksi di Indonesia harus memiliki nilai Ash Content yang telah ditetapkan Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia Direktorat Minyak dan Gas Bumi nomor 978.K/10/DJM.S/2013. Untuk dapat mengetahui nilai suatu Ash Content dalam bahan bakar solar, maka terlebih dahulu melakukan pengujian terhadap bahan bakar solar tersebut. Untuk pengujiannya mengguanakan metode uji ASTM D482 yang digunakan sebagai acuan untuk menetukan nilai dari beberapa variable bahan bakar yang diujikan. Berdasarkan pengujian yang dilaksanakan didapatkan data yang disajikan sebagai berikut.

(54)

Tabel 4.6 Hasil analisa bahan bakar solar dengan dan tanpa perlakuan panas

No Sample Perlakuan Panas Hasil ( %w/w )

Batasan

Min Max

1. Sample 1 Tanpa perlakuan 0,001 - 0,010 2. Sample 2 Perlakuan panas 2 hari 0,002 - 0,010 3. Sample 3 Perlakuan panas 4 hari 0,002 - 0,010 4. Sample 4 Perlakuan panas 6 hari 0,002 - 0,010 5. Sample 5 Perlakuan panas 8 hari 0,002 - 0,010

Gambar 4.6 Grafik hasil analisa Ash Content

Ash content adalah jumlah ukuran dari logam yang terkandung dari bahan bakar solar. Konsentrasi yang tinggi dari bahan ini dapat menyebabkan penyumbatan di ujung injektor. Bahan logam dapat larut dan menyebabkan deposit sementara padatan abrasive akan menyebabkan peralatan injeksi bahan bakar menjadi aus dan filter menjadi tersumbat.

Berdasarkan gambar 4.6 setiap sampel bahan bakar dengan perlakuan panas yang dianalisa rata-rata tidak mengalami perubahan yang signifikan atau tidak berpengaruh terhadap kualitas bahan bakar solar itu sendiri dan masih sesuai dengan ketetapan Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik

0 0,0005 0,001 0,0015 0,002 0,0025 0,003 Tanpa perlakuan Perlakuan panas 2 hari Perlakuan panas 4 hari Perlakuan panas 6 hari Perlakuan panas 8 hari

Sample 1 Sample 2 Sample 3 Sample 4 Sample 5

(55)

Indonesia Direktorat Minyak dan Gas Bumi nomor 978.K/10/DJM.S/2013 serta Keputusan Direktur Minyak dan Gas Bumi nomor 28.K/10/DJM.T/2016 nilai Ash Content yang dijadikan standar adalah nilai Ash Content dengan satuan % m/m dan hasil analisa masih sesuai dengan batas ambang standar yang ditetapkan.

4.3.2 Pengujian Kandungan Sulphur

Kandungan Sulphur merupakan salah satu sifat penting di dalam bahan bakar, kandungannya dalam bahan bakar telah diatur oleh Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia Direktorat Minyak dan Gas Bumi nomor 978.K/10/DJM.S/2013 serta Keputusan Direktur Minyak dan Gas Bumi nomor 28.K/10/DJM.T/2016. Untuk pengujiannya menggunakan metode ASTM D5185 yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan nilai dari beberapa variable bahan bakar yang diujikan.

Berdasarkan pengujian yang dilaksanakan didapatkan data yang disajikan sebagai berikut.

Tabel 4.7 Hasil analisa kandungan Sulphur bahan bakar solar dengan dan tanpa perlakuan panas

No Sample Perlakuan Panas Hasil ( %W/W )

Batasan

Min Max

1. Sample 1 Tanpa perlakuan 0,026 - 0,25 2. Sample 2 Perlakuan panas 2 hari 0,026 - 0,25 3. Sample 3 Perlakuan panas 4 hari 0,026 - 0,25 4. Sample 4 Perlakuan panas 6 hari 0,026 - 0,25 5. Sample 5 Perlakuan panas 8 hari 0,026 - 0,25

(56)

Gambar 4.7 Grafik Hasil Analisa kandungan Sulphur

Sulphur adalah sejenis komponen belerang yang terbentuk dari bahan bakar solar hasil penyulingan pertama (staright run) sangat bergantung pada asal minyak mentah yang akan diolah. Pada umumnya, kadar Sulphur dalam bahan bakar solar adalah 50-60% dari kandungan dalam minyak mentahnya. Kandungan Sulphur yang berlebihan dalam bahan bakar solar dapat mengakibatkan terjadinya keausan pada bagian-bagian mesin. Hal ini terjadi karena adanya partikel-partikel padat yang terbentuk ketika terjadi pembakaran dan dapat juga disebabkan karena keberadaan oksida belerang seperti SO2 dan SO3.

Berdasarkan data dari tabel dan grafik di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa semua sampel mulai dari yang tanpa perlakuan panas hingga dengan sampel dengan perlakuan panas mulai dari 2 hingga 8 hari tidak mengalami kenaikan kandungan Sulphur yaitu masih berada di angka 0,026 %W/W dan masih memenuhi standar yang ditetapkan oleh Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia Direktorat Minyak dan Gas Bumi nomor 978.K/10/DJM.S/2013 serta Keputusan Direktur Minyak dan Gas Bumi nomor 28.K/10/DJM.T/2016.

4.3.3 Pengujian Kandungan Water Content

Water Content atau Kandungan Air dalam sistem bahan bakar Solar dapat menyebabkan terbentuknya Kristal yang akibatnya dapat menyumbat aliran bahan bakar. Keberadaan Air dapat menyebabkan korosi dan pertumbuhan mikro

0,0259896 0,0260442 Tanpa perlakuan Perlakuan panas 2 hari Perlakuan panas 4 hari Perlakuan panas 6 hari Perlakuan panas 8 hari

Sample 1 Sample 2 Sample 3 Sample 4 Sample 5

1. 2. 3. 4. 5.

(57)

organisme yang juga dapat menyumbat aliran bahan bakar. Sedimen Air yang terdapat di tangki bahan bakar juga dapat menyebabkan penyumbatan dan merusak komponen sistem bahan bakar serta merusak mesin.

Kandungan Air pada bahan bakar solar telah diatur ketetapannya oleh Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia Direktorat Minyak dan Gas Bumi nomor 978.K/10/DJM.S/2013 serta Keputusan Direktur Minyak dan Gas Bumi nomor 28.K/10/DJM.T/2016. Untuk pengujian Water Content sendiri menggunakan metode ASTM D1744 yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan nilai dari beberapa variable bahan bakar yang diujikan.

Berdasarkan pengujian yang dilaksanakan didapatkan data yang disajikan sebagai berikut

Tabel 4.8 Hasil analisa kandungan Water Content bahan bakar Solar dengan dan tanpa perlakuan panas

No Sample Perlakuan Panas Hasil ( mg/Kg=ppm )

Batasan

Min Max

1. Sample 1 Tanpa perlakuan 239 - 500 2. Sample 2 Perlakuan panas 2 hari 383 - 500 3. Sample 3 Perlakuan panas 4 hari 324 - 500 4. Sample 4 Perlakuan panas 6 hari 362 - 500 5. Sample 5 Perlakuan panas 8 hari 376 - 500

(58)

Gambar 4.8 Grafik hasil analisa kandungan Water Content

Berdasarkan data dari tabel dan grafik di atas dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat hasil yang berbeda dari semua sampel yang diujikan. Pada sampel 1 tanpa perlakuan panas terdapat kandungan Water Content sebanyak 239 mg/Kg=ppm , sampel 2 dengan perlakuan panas 2 hari didapatkan hasil 383 mg/Kg=ppm lebih tinggi dari semua sampel yang diujikan , sampel 3 dengan perlakuan panas 4 hari didapatkan hasil 324 mg/Kg=ppm , sampel 4 dengan perlakuan panas 6 hari didapatkan hasil 362 mg/Kg=ppm , sampel 5 dengan perlakuan panas 8 hari didapatkan hasil 376 mg/Kg=ppm. Semua sampel yang diujikan masih memenuhi syarat sebagai bahan bakar solar yang baik untuk kendaraan, karena kandungan Water Content tidak melebihi batas aman yang ditetapkan oleh Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia Direktorat Minyak dan Gas Bumi. Yang akibatnya sistem bahan bakar maupun ruang pembakaran mesin masih mampu bekerja dengan optimal.

4.4 Hubungan Parameter Pengujian Terhadap Pembakaran Sempurna

Berdasarkan dari data pembahasan di atas, penulis akan melakukan pembahasan mengenai hubungan parameter pengujian terhadap pembakaran sempurna di dalam ruang bakar kendaraan. Parameter tersebut adalah Ash Content, Kandungan Sulphur serta Water Content dari semua sampel yang telah diujikan di laboratorium.

0 50 100 150 200 250 300 350 400 450 Tanpa perlakuan Perlakuan panas 2 hari Perlakuan panas 4 hari Perlakuan panas 6 hari Perlakuan panas 8 hari

Sample 1 Sample 2 Sample 3 Sample 4 Sample 5

1. 2. 3. 4. 5.

(59)

4.4.1 Hubungan Ash Content dengan Pembakaran Sempurna

Ash Content adalah jumlah ukuran dari senyawa logam maupun debu yang terkandung dari bahan bakar solar, konsentrasi yang tinggi dari senyawa ini dapat menyebabkan penyumbatan di ujung injektor. Ash Content ini biasanya adalah sisa-sisa minyak yang tertinggal, setelah semua bagian dari minyak solar terbakar habis akan tersisa banyaknya dari senyawa logam-logam yang terdapat dari minyak residu seperti karat besi, pasir dan elemen logam lain. Ash Content dapat berasal dari minyak solar itu sendiri dan dapat bertambah banyak selama penyimpanan. Batas maksimum kandungan Ash Content agar tercipta pembakaran yang sempurna dari pertamina adalah 0,01 %m/m, jika lebih daripada itu maka dapat dipastikan untuk mencapai pembakaran sempurna akan sulit tercapai karena kandungan partikel pengotor akan menyumbat sistem bahan bakar yang akan menuju ruang bakar.

Biasanya senyawa ini diakibatkan oleh kontaminasi internal maupun eksternal, adapun kontaminasi internal diakibatkan oleh kualitas bahan bakar solar yang digunakan itu sendiri, sedangkan untuk kontaminasi eksternal biasanya diakibatkan oleh masuknya kotoran seperti partikel debu, pasir ataupun logam pada bahan bakar solar yang digunakan saat diisi ke dalam tangki kendaraan, sehingga saat partikel tersebut berada di tangki partikel tersebut ikut terbawa ke jalur suplai bahan bakar ke mesin kendaraan, partikel Ash Content dalam jumlah besar dapat menyumbat jalur fuel system, seperti Pompa , Filter , Fuel Injection Pump, Nozzle dan Injector dan sebagainya pada akhirnya akan membuat supply Fuel ke ruang bakar akan terganggu.

Senyawa logam maupun debu ini dapat larut dan menyebabkan deposit, sementara untuk padatan abrasive akan menyebabkan peralatan injeksi bahan bakar menjadi aus dan filter menjadi tersumbat yang akhirnya dapat berakibat kuantitas bahan bakar yang akan disemprotkan menjadi menurun dan pembakaran sempurna tidak akan tercapai karena perbandingan udara dan bahan bakar tidak sesuai dan akan terciptanya asap hitam yang keluar pada knalpot kendaraan.

(60)

4.4.2 Hubungan Kandungan Sulphur dengan Pembakaran Sempurna

Sulphur adalah sejenis komponen Belerang yang terbentuk dari bahan bakar solar hasil penyulingan pertama (straight run). Pada umumnya, kadar Sulphur dalam bahan bakar solar adalah 50-60% dari kandungan dalam minyak mentahnya. Sulphur dalam bahan bakar minyak dapat menyebabkan bau yang tak menyenangkan, dalam rentang waktu akan menciptakan gum dan sludge dalam penyimpanannya. Dalam pembakarannya akan menciptakan asap dan menimbulkan korosi.

Sulphur menjadi musuh utama dari mesin diesel, karena semakin tinggi senyawa Sulphur dalam kandungan solar maka akan terjadi kadar asam yang berlebih sehingga berakibat pada terjadinya keausan komponen-komponen mesin maupun kerusakan mesin.

Hal ini terjadi karena adanya partikel-partikel padat yang terbentuk ketika terjadi pembakaran sehingga akan terbentuk Kerak di silinder maupun di saluran bahan bakar, Kerak di saluran bahan bakar dapat mengganggu suplai bahan bakar solar yang dialirkan ke dalam silinder. Efek langsungnya mengganggu kinerja mesin, mulai dari penurunan tenaga sampai kerusakan lebih serius, disinilah biasanya disebut pembakaran dini atau dengan istilah Knocking terjadi yang bisa mengakibatkan mesin “mengelitik”. Pertimbangannya jika partikel bahan bakar kontak dengan udara maka bahan bakar solar akan sulit terbakar di ruang pembakaran, kondisi ini yang mengakibatkan penundaan atau jeda pada proses pembakaran yang cukup lama sehingga mengakibatkan gejala “mengelitik” pada mesin Diesel.

Batas aman kandungan Sulphur yang ditetapkan oleh PT. Pertamina untuk solar Pertamina Dex adalah 0,05 % m/m atau setara dengan 500 ppm, jika lebih daripada batas aman tersebut maka untuk mencapai pembakaran sempurna akan kurang berhasil karena kandungan Sulphur yang terlalu banyak dapat menyebabkan terbentuknya kerak dan menyumbat sistem pembakaran.

Pengabutan bahan bakar solar yang bagus dari injektor akan sangat berpengaruh pada pembakaran yang sempurna dan jika kandungan Sulphur berlebihan pada kendaraan berstandar Euro maka akan mengakibatkan terjadinya penumpukan

Figur

Memperbarui...

Related subjects :