Peluang Investasi
Sutra Alam
a. Mengenal Kupu Sutra
1. Biologis Kupu Sutra
Sebelum membahas tentang teknik beternak ulat sutra, kiranya perlu pula kita ketahui lebih dulu tentang sifat‐sifat kupu sutra. Ulat sutra sebenarnya merupakan salah satu bentuk/fase
dari rangkaian siklus hidup dari sejenis serangan kupu‐kupu. Proses pertumbuhan ulat itu
sendiri erat kaitannya dengan tata laksana pemeliharaan, maka penting untuk kita ketahui.
Kupu‐kupu dalam sistematika binatang termasuk kelas serangga (hexapoda) yang secara
umum memiliki cirri‐ciri sebagai berikut : bagian tubuhnya terdiri dari kepala, dada, dan
badan belakang; memiliki kaki sebanyak enam buah. Sifat spesifik lainnya dari bangsa
serangga adalah dalam proses hidupnya mengalami perubahan bentuk (metamorphosis)
yang bentuk fisik antara satu fase dengan fase lain amat berbeda.
Kupu‐kupu dalam hidupnya mengalami metamorphosis semprna dengan bentuk yang
berlainan sama sekali antara satu fase dengan fase lainnya. Perubahan‐perubahan tersebut
antara lain : dari telur berubah menjadi larva, kemudian menjadi kepompong, dan akhirnya
menjadi imago (bentuk dewasa), yakni berupa kupu‐kupu. Ulat yang kita pelihara adalah
tidak lain adalah bentuk lain berupa yang tumbuh hingga membentuk kepompong.
2. Ras Kupu Sutra Unggul
Dalam dunia per‐ulat sutera‐an dikenal empat jenis atau ras kupu‐kupu sutera unggul yang
memiliki produksi kokon yang sangat tinggi dan dapat menghasilkan benang sutera dengan
kualitas yang baik. Keempat ras kupu sutera tersebut adalah Ras Cina, Ras Jepang, Ras Eropa dan Ras Tropika.
Di Indonesia yang telah banyak dikembangkan adalah kupa ras Cina dan ras Jepang. Dan hasil
persilangan dari kedua ras kupu tersebut. Namun, belakangan ini hasil persilangan Ras
Jepang dengan Ras Cina justru yang banyak dikembangan. Kupu ras Cina dan Ras Jepang ini
disamping memiliki keunggulan juga memiliki beberapa kelemahan. Akan tetapi dengan
menyilangkan kedua ras tersebut, kelemahan‐kelemahannya dapat dikurangi dan sifat
unggulnya lebih menonjol :
• Untuk produknya relative lebih panjang/lama dibandingka dengan ras Cina ;
• Lebih lemah sehingga masih rentan terhadap serangan penyakit ;
• Bentuk kokoh dan tebal seperti kacang tanah ;
• Lapisan kokoh tebal, sehingga produksi kokon amat tinggi, lebih tinggi dibandingkan
dengan produk Ras Cina.
Sedangkan Kupu Ras Cina memiliki ciri‐ciri antara lain:
• Umur produksinya lebih pendek/cepat ;
• Bentuk kokon bulat ;
• Lapisan kokon tipis, sehingga produksinya lebih rendah dibandingkan dengan
produksinya dengan Ras Jepang ;
• Daya tahannya terhadap penyakit lebih baik.
b. Pemeliharaan Ulat Sutra
Sebelum pemeliharaan ulat dilakukan, segala sarana dan bahan yang diperlukan terlebih dahulu
dengan baik. Tanpa persiapan yang baik, usaha membudi dayakan ulat sutra akan mengalami
kegagalan. Sarana dan perlengkapan yang harus dipersiapkan meliputi pakan, ruangan, dan
c. Penyediaan Pakan
Pakan merupakan sarana penting dalam usaha ternak apapun. Untuk ulat sutra memerlukan
bahan pakan spesifik dan tidak banyak dipedagangkan di sembarang tempat. Karena itu, sumber pakan harus tersedia secara pasti dan kontinuitasnya terjamin.
Produksi pakan (daun murbei) yang tersedia dan jumlah alat yang akan dipelihara harus
disesuaikan. Sebelum ulat mulai dipelihara, tanaman murbei sudah harus siap dipanen daunnya, minimal sudah berumur sekitar satu tahun. Pemeliharaan satu boks ulat sutra (+/‐ 20.000 ekor) memerlukan daun murbei sekitar 1000 kg untuk setiap periode produksi. d. Penataan Ruang Pemeliharaan ulat sutera dapat dilakukan secara kecil‐kecilan dalam sala rumah tangga ataupun
secara besar‐besaran. Untuk skala rumah tangga, tempat pemeliharaan dapat dilakukan di
dalam rumah (pada kamar khusus), tetapi pada tingkat yang lebih besar hendaknya dipelihara
dalam ruangan/kandang khusus. Namun, dimanapun ulat itu dipelihara, hendaknya ruangan/
tempat pemeliharaan memenuhi persyaratan, terutama menyangkut suhu, cahaya,
kelembaban, dan ventilasi (pertikaran) udara.
e. Bahan dan Perlengkapan
Beberapa perlengkapan dan bahan yang diperlukan dalam memelihara ulat sutera antara lain adalah : • Kotak penetasan dari kayu/triplek; • Sasag (kotak pemeliharaan ulat) dari kayu; • Stand untuk sasag; • Keranjang daun; • Ember dan baskom plastik; • Lembaran/karung plastik untuk alas; • Kain untuk menyimpan daun; • Kertas parafin atau kertas minyak untuk alas ; • Sapu, sikat dan lap tangan ; • Kapur/kaporit/arang sekam ; • Sprayer untuk menyemprotkan kaporit ; • Thermometer ; • Sumpit bamboo ; • Tempat pengokonan (dari kayu, plastik, atau bambu), dsb.
Hal‐hal yang perlu diperhatikan :
Dalam kaitannya dengan pemeliharaan ulat sutera, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan
yaitu :
1. Ruangan dan semua peralatan/perlengkapan harus dibersihkan,dikeringkan, dan disemprot
dengan desinfektan (formalin/kaporit) sebelum pemeliharaan ulat sutera dimulai. Sebaiknya,
setiap fase pemeliharaan selesai, seluruh peralatan pun harus dicuci dan dibersihkan dari
bekas makanan, bulu‐bulu kokon (floss) atau debu, kemudian disemprot dengan desinfektan;
2. Peralatan yang tidak digunakan harus disimpan diruangan lain dan disusun rapi;
3. Orang‐orang yang keluar masuk ruangan pemeliharaan harus dibatasi seminimal mungkin;
4. Bila akan masuk ruangan pemeliharaan, sepatu atau sandal harus dilepas dan diganti dengan
sandal khusus yang tersedian dalam ruangan dan harus menginjak keset atau karung yang
telah dibasahi denan larutan formalin atau creolin 5%;
5. Sebelum melakukan pekerjaan dalam ruangan pemeliharaan, tangan harus dicelup dalam
larutan desinfektan (creolin/formalin/juphecol), lalu dibasuh dengan air bersih dan
dikeringkan dengan kain lap yang telah tersedia;
6. Para pekerja (pemelihara ulat) harus mengenakan baju kerja yang tetap dan selalu
disimpandiruangan kerja masing‐masing;
7. Para pekerja atau tamu tidak boleh makan, minum, atau merokok di ruang pemeliharaan;
8. Tempat pembuangan atau pembakaran sampah, baik berupa sisa‐sisa makanan atau kotoran
dari ruangan pemeliharaan maupun dari kegiatan lain, harus diusahakan sejauh mungkin dari
ruangan pemeliharaan.
f. Batik Sutra Aman Sahuri
Batik Sutera di Garut dikembangkan oleh (alm) H. Aman Sahuri, beliau rintis sejak zaman
Belanda hingga sekarang. Pada saat ini berlangsung perusahaannya diteruskan oleh para
putranya dengan mendirikan PT. Sutera Alam Aman Sahuri. Batik Sutera Garut menjadi pelopor persuteraan di tanah air hingga mendapat Piagam penghargaan Upakarti. Sutera Garut menjadi menjadi komoditas unggulan karena kualitasnya yang sangat baik. Sutera Garut dikembangkan
dengan pola tradisional dan ditenun secara manual dengan melalui ATBM(Alat Tenun Bukan
Mesin). Sutera Garut banyak dipergunakan oleh para perancang nasional terutama untuk batik halus yang menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia.
Batik sutera ini pun selain digunakan di dalam negeri juga diekspor ke beberapa Negara yaitu :
Jepang, Malaysia, Amerika Serikat dsb, dengan kafasitas eksporper bulan mencapai 4000‐5000
meter/tahun.
Perajin Sutera Alam” Aman Sahuri” bergerak dalam bidang kerajinan sutera alam yang mulai
dirintis sejak tahun 1961 pada waktu itu yang pertama kali dilakukan adalah usaha pembibitan ulat sebanyak 25 ekor pemberian dari orang Jepang.
Setelah usaha pembibitan dan pemeliharaan ulat sutera alam mengalami kemajuan hingga
mencapai puluhan ribu ekor dan mempu menghasilkan kokon maka untuk memproses menjadi benang. Sehinga dapat diproses menjadi kain melalui ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) dan alat ini mampu menghasilkan produk lain yang bermutu tinggi.
Kegiatan usaha dibidang sutera alam ini sebagian besar mempergunakan alat‐alat tradisional
sehinga dapat dioperasikan oleh semua lapisan masyarakat yang pada akhirnya bisa
menampung dan menyerap tenaga kerja yang banyak.
g. Jalur Tata Niaga
Ditinjau dari aspek agribisnis usaha ulat sutera mempunyai rantai tata niaga yang cukup
panjang, sebab produk yang dihasilkan berupa bahan baku industri sandang, sehingga dari
proses budi daya akan berlanjut dengan agroindustri berupa usaha pemintalan kokon dan
pertenunan (garmen). Di pihak lain, bibit ulat sutera hingga kini belum dapat diproduksi oleh
petani/pemelihara ulat sendiri, tetapi oleh perusahaan (BUMN) yang sudah tentu menambah
panjangnya jalur tata niaga.
Perusahaan pertenunan/garmen memproses benang sutera menjadi kain sutera, yang sebagian produksinya dipasarkan di dalam negeri dan sebagian disalurkan keeksportir untk dipasarkan di luar negeri.
Melihat kebutuhan nasional akan benang sutera yang hingga kini sebagian besar belum
terpenuhi, serta peluang pasar di luar negeri yang sangat besar, maka prospek budi daay ulat
sutera di masa mendatang akan sangat cerah. Apalagi dengan berkembangnya sektor pariwisata
yang antara lain ditandai denga meningkatnya arus kunjungan wisatawan asin yang ternyata
menberikan dampak positif terhadap perkembangan industri garmen di dalam negeri. Hal ini
h. Analisis Ekonomi Budi Daya Ulat Sutera NAMA PROYEK : Budi Daya Ulat Sutera KAPASITAS : 1 Ha LOKASI : Tarogong dan kawasan Garut Selatan LUAS LAHAN : 1 Ha Status Lahan : Tanah Perkebunan Rakyat PERKIRAAN INVESTASI Modal Tetap : Rp 8.100.000 Modal Kerja : Rp 3.039.000 Jumlah : Rp 11.139.000 KEBUTUHAN TENAGA KERJA : 1 Orang 14 Orang Jumlah 16 Orang i. Dukungan Studi j. Profabilitas Finansial 1. BEP = Rp 1.587.702 2. Payback period = 2,5 th (2 th 6 bulan) 2. NPV = Rp 4.902.000 ( estimasi rr =12 % dalam waktu 5 tahun ) 3. R = 28,4 % 4. ROI = 31,2 %(dibulatkan)