• Tidak ada hasil yang ditemukan

T PKN 1402526 Chapter1

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "T PKN 1402526 Chapter1"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penelitian

Indonesia merupakan suatu negara yang sangat kaya akan keanekaragaman budaya. Hal ini dikarenakan Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa dimana masing-masing suku bangsa tersebut memiliki perbedaan dan keunikan baik dari segi bahasa daerah, adat istiadat, kebiasaan maupun berbagai hal lain yang memperkaya keanekaragaman budaya Indonesia itu sendiri. Sebagaimana pendapat Taylor (Horton & Chester, 1996) kebudayaan merupakan keseluruhan dari pengetahuan, keyakinan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, kemampuan dan kebiasaan lain yang diperoleh oleh seseorang. Menurut Rahyono, F.X. (2009, hlm 46) kebudayaan merupakan keseluruhan proses pemikiran dan hasil

usaha manusia yang dipahami dan dihayati serta menjadi milik bersama melalui proses

belajar untuk mengatasi keterbatasan manusia dalam mempertahankan dan menfasilitasi

keberadaan hidupnya. Selain itu, Koentjaraningrat (2009) menambahkan bahwa

kebudayaan memiliki beberapa wujud yang meliputi; (1) Wujud kebudayaan sebagai ide, gagasan, nilai, atau norma; (2) Wujud kebudayaan sebagai aktifitas atau pola tindakan manusia dalam masyarakat; (3) Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia. Wujud kebudayaan ini bersifat konkret karena merupakan benda-benda dari segala hasil ciptaan, karya, tindakan, aktivitas, atau perbuatan manusia dalam masyarakat. Dalam suatu kebudayaan salah satunya terdapat sebuah sistem nilai budaya.

(2)

kebudayaan itu sendiri akan berubah. Kebudayaan nasional Indonesia merupakan kebudayaan yang berakar dari bangsa Indonesia itu sendiri yaitu nilai-nilai luhur serta falsafah yang berada dalam masyarakat dan budaya yang berasal dari luar yang telah diserap dan disesuaikan dengan budaya asli bangsa. Segala bentuk budaya yang diwakili bangsa Indonesia mulai dari bahasa, kesenian, makanan, tarian, serta kepercayaan. Kebudayaan nasional dalam pandangan Ki Hajar

Dewantara adalah “puncak-puncak dari kebudayaan daerah”. Kutipan pernyataan

ini merujuk pada paham kesatuan makin dimantapkan, sehingga ketunggalikaan makin lebih dirasakan daripada kebhinekaan. Wujudnya berupa negara kesatuan, ekonomi nasional, hukum nasional, serta bahasa nasional. Definisi yang diberikan

oleh Koentjaraningrat dapat dilihat dari peryataannya: “yang khas dan bermutu

dari suku bangsa manapun asalnya, asal bisa mengidentifikasikan diri dan menimbulkan rasa bangga, itulah kebudayaan nasional”.

Dalam TAP MPR No. II Tahun 1998 menjelaskn bahwa “kebudayaan nasional berlandaskan pancasila adalah perwujudan cipta, karya, dan karsa bangsa Indonesia dan merupakan keseluruhan daya upaya manusia Indonesia untuk memberikan wawasan dan makna pada pembangunan nasional dalam segenap bidang kehidupan bangsa”. Kebudayaan nasional merupakan sesuatu hal yang penting bagi Indonesia dan merupakan salah satu unsur dalam menjaga rasa nasionalisme dalam diri kita sebagai rakyat Indonesia. Hal tersebut sesuai dengan amanat ketentuan Pasal 32 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menegaskan bahwa:

Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia serta penjelasannya antara lain menyatakan usaha kebudayaan harus menuju kearah kemajuan adab, budaya dan persatuan dengan tidak menolak bahan-bahan baru dari kebudayaan asing yang dapat memperkembangkan atau memperkaya kebudayaan bangsa sendiri, serta mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Indonesia.

(3)

kebebasan masyarakat dalam memajukan, menghormati dan memelihara nilai-nilai budaya yang tumbuh dan berkembang di masyarakat Indonesia.

Kebudayaan daerah diartikan sebagai kebudayaan yang khas yang terdapat pada wilayah tersebut. Kebudayaan daerah di Indonesia sangatlah beragam. Menurut Koentjaraningrat (2009, hlm. 67) kebudayaan daerah sama dengan konsep suku bangsa. Suatu kebudayaan tidak terlepas dari pola kegiatan masyarakat. Keragaman budaya daerah bergantung pada faktor geografis. Semakin besar wilayahnya, maka makin komplek perbedaan kebudayaan satu dengan yang lain. Jika kita melihat dari ujung pulau Sumatera sampai ke pulau Irian tercatat sekitar 300 suku bangsa dengan bahasa, adat-istiadat, dan agama yang berbeda.

Sementara itu, menurut Garna (2008, hlm. 141) budaya lokal merupakan bagian dari sebuah skema dari tingkatan budaya hierakis bukan berdasarkan baik dan buruk. Selain itu, Judistira K Garna juga mendefinisikan kebudayaan lokal adalah melengkapi kebudayaan regional, dan kebudayaan regional adalah bagian-bagian yang hakiki dalam bentukan kebudayaan nasional. Dalam pengertian yang luas, Garna (2008, hlm. 113) mengatakan bahwa kebudayaan daerah bukan hanya terungkap dari bentuk dan pernyataan rasa keindahan melalui kesenian belaka; tetapi termasuk segala bentuk, dan cara-cara berperilaku, bertindak, serta pola pikiran yang berada jauh dibelakang apa yang tampak tersebut. Wilayah Indonesia memiliki kondisi geografis dan iklim yang berbeda-beda. Misalnya wilayah pesisir pantai jawa yang beriklim tropis hingga wilayah pegunungan Jayawijaya di Provinsi Papua yang bersalju. Perbedaan iklim dan kondisi geografis tersebut berpengaruh terhadap kemajemukan budaya lokal di Indonesia.

(4)

Heryanto, J. 2004, hlm. 55) mengatakan betapa banyaknya nilai-nilai budaya bangsa kita yang runtuh selama ini. Sekarang sudah banyak diantara kita yang berpikir, beranggapan serta menentukan tujuan hidup dengan kerangka baru". Kerangka-kerangka baru dan tujuan hidup kita timbul antara lain sebagai akibat masuknya modal asing, industrialisasi, dan sebagainya. Hal ini semakin diperparah dengan adanya pengakuan budaya Indonesia oleh bangsa lain sebagai

budayanya. Lagu daerah yang berasal dari Maluku “Rasa sayang-sayange” pada

tahun 2008 serta” Reog Ponorogo” pada tahun 2007 dari Jawa Timur oleh Malaysia dan juga “Angklung” Jawa Barat juga akan dipatenkan oleh Negara tersebut. Hal ini disebabkan oleh kurang pedulinya bangsa Indonesia terhadap budayanya. Oleh sebab itu, upaya pemerintah dalam mengatasi masalah tersebut dengan mendaftarkan hak cipta budaya Indonesia supaya dunia internasional mengakui atas kepemilikan budaya Indonesia.

(5)

mayoritas dibandingkan dengan masyarakat Bonai yang mendiami Kabupaten Rokan Hilir. Berdasarkan sejarah daerah ini merupakan daerah awal perkembangan kebudayaan suku Bonai di Kecamatan Bonai Darussalam.

Masyarakat ini sulit dijangkau dan terisolasi secara sosial. Mereka hidup dari hasil pertanian ladang dan perikanan. Masyarakat Bonai ini jauh dari sentuhan pembangunan pemerintah Provinsi Riau, bahkan sebagian besar penduduk atau masyarakat Riau yang tinggal di luar dari desa mereka tersebut tidak tahu siapa mereka ini. Kalaupun ada masyarakat luar yang mengetahui mengenai suku Bonai, umumnya mereka hanya mengenal suku Bonai tersebut karena keanehan budaya dan tradisinya.

Dalam kehidupan bonai mereka hidup dengan cara berkelompok, hubungan antar mereka sangat erat baik indivudu ke individu maupun antar kelompok. Suku Bonai juga melakukan hubungan dengan suku lain tetapi hubungan yang terjadi hanya ditepi sungai Rokan dimana mereka berada. Dalam kehidupan Suku Bonai, mereka sangat menghargai kepala suku yang bisa membantu mereka dalam hal-hal kehidupan sedangkan struktur adat yang tertinggi dipegang oleh "Datuk Bendaro" dimana peran Datuk Bendaro ini yang memimpin para kepala suku. Dari penjabaran di atas, sangat jelas bahwa masyarakat Suku Bonai memiliki kebudayaan yang meliputi wujud kebudayaan berupa ide, gagasan, nilai, dan norma yang berlaku, serta sebuah unsur kebudayaan dalam melaksanakan kehidupan adatnya. Oleh sebab itu, masyarakat suku Bonai harus memajukan, menghormati, dan memelihara kebudayaan yang ada dalam kehidupan suku Bonai.

(6)

sosiologis. Pada Era globalisasi telah terjadi perubahan perubahan cepat. Dunia menjadi transparan, terasa sempit, hubungan menjadi sangat mudah dan dekat, jarak waktu seakan tidak terasa dan seakan pula tanpa batas. Perubahan yang mendunia ini akan menyebabkan pergeseran nilai-nilai budaya tersebut. Perubahan tersebut meliputi perubahan yang arus globalisasi menggeser pola hidup masyarakat dan pertumbuhan ekonomi.

Perubahan-perubahan tersebut otomatis menggeser nilai-nilai dalam masyarakat yang mengalami perubahan. Pergeseran nilai budaya adalah perubahan nilai budaya dari nilai yang kurang baik menjadi baik ataupun sebaliknya. Salah satu aspek yang bergeser dalam kehidupan masyarakat dewasa ini sistem nilai budaya yang menjadi ciri khas dari suatu keluarga tertentu. Keluarga lebih banyak dimasuki oleh budaya dari luar sehingga nilai budaya yang telah tertanam sejak dahulu kala dan merupakan warisan leluhur hampir-hampir dilupakan oleh generasi sekarang ini. Hal ini disebabkan antara lain oleh kemajuan teknologi dan pesatnya laju pembangunan yang membawa dampak perubahan dan pergeseran nilai di masyarakat. Pergeseran nilai dalam masyarakat kita perlu dilihat sebagai proses sosial. Artinya sebagai proses, belumlah sebagai akhir dari tingkatan masyarakat. Masih ada lanjutan tingkatan yang terus menjadi hingga sampai pada level terakhir.

Melalui nilai kearifan lokal merupakan upaya untuk mempertahakan sebuah budaya dalam suatu bangsa. Soebadio (Ayatrohaedi, 1986, hlm. 18-19) mengatakan local genius adalah „cultural identity, identitas budaya bangsa yang menyebabkan bangsa tersebut mampu menyerap dan mengolah kebuda yaan

asing sesuai watak dan kemampuan sendiri‟. Menurut Mack (dalam Pujiwiyana.

(7)

terdapat dalam kehidupannya agar lapisan masyarakat suku bonai turut serta melestarikan dan mempertahankan tradisi mereka yang sudah ada sejak dahulu. Oleh sebab itu, dalam upaya agar tidak terjadi pergeseran nilai – nilai kebudayaan pada Suku Bonai, salah satu bidang ilmu yang mengkaji tentang budaya daerah atau kearifan lokal yang terdapat di dalam warganegara adalah Civic Culture.

Menurut Winataputra (2012, hlm. 57) Civic Culture merupakan “budaya yang menopang kewarganegaraan yang berisikan separangkat ide-ide yang dapat diwujudkan secara efektif dalam representasi kebudayaan untuk tujuan

pembentukan identitas warganegara.” Masyarakat suku Bonai dari konsep budaya

kewarganegaraan (civic culture) merupakan bagian dari jati diri bangsa, karakter bangsa, suku bangsa, dan budaya nasional. Kebudayaan juga harus dilandaskan kepada pengetahuan warga negara mengenai budaya yang terdapat disekitarnya dan dapat mempertahankan sebuah kebudayaan dan kearifan lokal dengan membentuk sebuah jati diri dan karakter bangsa dengan mengedepankan pembentukan sebuah identitas bangsa.

Pada dasarnya, setiap warga negara yang ada di dalam sebuah negara mempunyai sebuah budaya yang berbeda-beda, sehingga diperlukan pendidikan untuk mempersatukan perbedaan-perbedaan budaya dengan cara memberikan pengetahuan mengenai budaya-budaya lokal yang terdapat dalam negaranya. Salah satu cabang ilmu yang mengkaji tentang civic culture adalah Pendidikan Kewarganegaraan. Menurut Winataputra, (2006, hlm. 58) bahwa “identitas warga negara yang bersumber dari civic culture perlu dikembangkan melalui Pendidikan Kewarganegaraan dalam berbagai bentuk dan latar belakang”. Sedangkan menurut Cogan dan Derricott, (1998, hlm. 115) Pendidikan Kewaraganegaraan juga membahas tentang perbedaan-perbedaan budaya. Pada abad 21 terdapat 8 karakteristik warga negara sebagai berikut:

1). the ability to look at and approach problems as a member of a global society, 2). the ability to work with others in a cooperative way and to take

(8)

one’s lifestyle and consumption habits to protect the environment, 7). the ability to be sensitive towards and to defend human rights (eg, rights of women, ethnic minorities, etc), and, 8). the willingness and ability to participate in politics at lokal, national and international levels. (Cogan dan Derricott, 1998, hlm. 115)

Selain daripada pembahasan di atas, Pendidikan Kewarganegaraan mempunyai objek studi yaitu warga negara dalam hubungannya dengan organisasi Sosial kemasyarakatan, ekonomi, agama, kebudayaan, dan negara. Menurut Wahab dan Sapriya, (2011, hlm. 316) dalam lokakarya metedologi pendidikan kewarganegaraan tahun 1973 dikemukakan objek studi civics adalah: (1) Tingkah laku warga negara. (2) Tipe pertumbuhan berpikir. (3) Potensi setiap diri warga Negara. (4) Hak dan kewajiban. (5) Cita-cita dan aspirasi. (6) Kesadaran (patriotisme, nasionalisme). (7) Usaha, kegiatan, partisipasi, dan tanggung jawab. Pendidikan Kewarganegaraan mempunyai peranan penting dalam mempertahankan suatu kebudayaan yang terdapat di dalam warga negara Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan adanya paradigma baru mengenai Pendidikan Kewarganegaraan yang lebih menekankan kepada budaya warga negara (civic culture).

(9)

pergeseran nilai budaya sebagai Civic Culture pada masyarakat Suku Bonai sangat penting untuk diteliti. Apabila keseluruhan permasalahan ini tidak diteliti, maka nilai-nilai kebudayaan dan kearifan lokal yang terdapat dalam masyarakat suku Bonai terkisis bersama dengan perkembangan zaman dan juga akan menyebabkan terdegradasinya salah satu kebudayaan yang terdapat di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Berdasarkan fenomena diatas, maka perlu perhatian dalam mendeskripsikan budaya suku Bonai, mengidentifikasi pergeseran nilai-nilai budaya pada masyarakat suku Bonai. Hingga pada akhirnya, penelitian ini dianggap perlu untuk dikaji dalam aspek kebudayaan dan kearifan lokal suku Bonai dalam membentuk identitas bangsa dalam rangka membentuk bangsa yang berkarakter yang memiliki nilai-nilai civic culture. Apabila tidak diteliti, maka Tradisi masyarakat suku Bonai lama kelamaan akan mulai ditinggalkan dan akan mengakibatkan kehilangan identitas, serta kehilangan nilai-nilai Kebudayaan yang terdapat di dalam kehidupan. Oleh karena itu perlunya sebuah tulisan mengenai kebudayaan Suku Bonai. Berdasarkan penjelasan di atas, maka penulis tertarik untuk meneliti tentang Pergeseran Nilai-Nilai Budaya Pada Suku Bonai Sebagai Civic Culture.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang penelitian di atas, maka fokus masalah peneliti yaitu: Pergeseran Nilai-Nilai Budaya Pada Suku Bonai Sebagai Civic Culture

Di Kecamatan Bonai Darussalam Kabupaten Rokan Hulu Provinsi Riau.

Agar penelitian ini lebih terarah dan terfokus pada pokok permasalahan, maka masalah pokok tersebut dijabarkan dalam rumusan masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana deskripsi nilai – nilai budaya yang dianggap menjadi prinsip kehidupan masyarakat suku Bonai?

2. Bagaimana pergeseran nilai-nilai yang terdapat dalam budaya masyarakat suku Bonai?

(10)

4. Bagaimana pengembangan nilai – nilai budaya suku Bonai sebagai kearifan lokal?

C. Tujuan Penenlitian 1. Tujuan Umum

Sebagaimana yang terdapat dalam rumusan masalah dalam penelitian maka secara umum penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang: “Pergeseran Nilai-Nilai Budaya Pada Suku Bonai Sebagai Civic Culture di

Kecamatan Bonai Darussalam Kabupaten Rokan Hulu Provinsi Riau.”

2. Tujuan Khusus

Berdasarkan tujuan umum di atas, peneliti menyimpulkan tujuan khusus dalam penellitian ini sebagai berikut:

a. Mendeskripsikan nilai-nilai budaya yang di anggap menjadi prinsip kehidupan masyarakat suku Bonai.

b. Mengidentifikasi pergeseran nilai-nilai yang terdapat dalam budaya masyarakat suku Bonai.

c. Mendeskripsikan nilai-nilai budaya suku Bonai di lestarikan sebagai civic culture.

d. Mendeskripsikan pengembangan nilai-nilai budaya suku Bonai sebagai kearifan lokal.

D. Manfaat dan Signifikansi Penelitian 1. Manfaat dari segi Teori

Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sumber penambahan teori, pengetahuan serta menjadi acuan peneliti untuk menggali kembali kebudayaan dan bagi Ilmuan Pendidikan Kewarganegaraan dalam Kontek

Civic Culture, serta Juga dapat dijadikan sebagai pengetahuan oleh kalangan masyarakat Bonai Darussalam, Masyarakat Riau pada khususnya dan Masyarakat Indonesia pada umumnya.

2. Manfaat dari segi Kebijakan

(11)

Nilai Budaya yang telah terjadi demi kemajuan masyarakat suku Bonai khususnya dan masyarakat suku lainnya yang ada di Indonesia.

3. Manfaat dari segi Praktik

Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat Suku Bonai dan juga Pemerintah pada umumnya untuk lebih mempertahankan kebudayaan dan juga melestarikan supaya tidak terjadi pergeseran nilai-nilai budaya yang ada pada Suku Bonai dan juga suku bangsa yang ada di Indonesia.

4. Manfaat dari segi Isu serta Aksi Sosial

Referensi

Dokumen terkait

Covid-19, pembuatan bilik disinfektan yang sudah terintegrasi dengan kartu identitas mahasiswa dan mengotomasi pengecekan suhu, penyemprotan disifektan dan Penyimpanan data

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan sebelumnya bahwa didalam Pasal 57Konvensi Hukum Laut PBB 1982 menyatakan bahwa Negara memiliki wilayah hak

Petugas Kesehatan Haji Indonesia, yang selanjutnya disingkat PKHI adalah tenaga kesehatan dan tenaga non kesehatan, termasuk tenaga strategis, yang ditugaskan oleh Menteri

Dari hasil evaluasi yang dilakukan dengan membandingkan antara peta kondisi eksisting pemanfaatan lahan di Kecamatan Mapanget untuk lahan perkebunan seluas 3010,4 ha

Purpose sampling yaitu teknik sampling yang digunakan oleh peneliti yang memiliki pertimbangan- pertimbangan tertentu dalam pengambilan sampelnya (Idrus, 2009 :

In the 2 mg Pb/L spiked culture medium in the presence of Bacillus sp., the medium pH continued to decrease from day 1 to 7, while the medium pH spiked 4 mg Pb/L decreased from day 1

Lystyani Prawesti, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Purwokerto memiliki perbedaan dengan judul penelitian yang Peneliti