• Tidak ada hasil yang ditemukan

E-Book Buku Saku Klinis

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "E-Book Buku Saku Klinis"

Copied!
274
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

Pneumonia

Infeksi Saluran Kemih

Infeksi Tulang & Jaringan Lunak Kaki Diabetikum

Mionekrosis Klostridium (Gas Ganggren) Osteomielitis Meningitis Meningitis Aseptik Endokarditis Bakterialis Tuberkulosis HIV / AIDS Penyakit Lyme Nyeri Abdomen

Gangguan Esofagus & Gaster Penyakit Reflek Gastrotroensofagus (GERD)

Gastropati & Gastritis Penyakit Ulkus Peptikum Perdarahan Gastrointestinal Diare

Penyakit Divertikular Penyakit Radang Usus Iskemik Mesentrika Pankreas Akut Hepatitis

Gagal Hati Akut Sirosis

Asites

Penyakit Traktus Billiaris Nyeri Dada

Angina Piktoris

Infark Miokardium Akut

Kateter Arteri Pulmonaris (SWAN- GANZ)

Gagal Jantung Kardiomiopati

Penyakit Katup Jantung Penyakit Perikardium Diabetes Mellitus

Struma Nodosa Non Toksik Kista Tiroid

Rematoid Artritis

Artritis Deposisi Kristal

Penyakit Deposit Kalsium Pirofosfat Dihidrat

Spondiloartropati Seronegatif Artritis Infeksiosa

Sindrom Muskuloskeletal Penyakit Jaringan Ikat

Lupus Eritematosus Sistemik Vaskulitis

Krioglobulemia Amiloidosis Gagal Ginjal Akut Sindrom Hipopituitari Sindrom Hiperpituitari Gangguan Tiroid Gangguan Adrenal Gangguan Kalsium Gangguan Lipid

Geriatri & Gerontologi Indonesia Proses Menua

Psikomatis Saluran Pernafasan Salesma Akut

(3)

·

PNEUMONIA ∙ Mikrobiologi Pneumonia Keadaan klinis

Dapat dari komunitas

Etiologi

S. Pneumoniae, H. Influenzae, Mycolasma, Chamydia Legionella, M. catarrhalis, Klebsiell, batang gram negatif lainya, S. auereus, S, pyogenes, dan virus (namun tidak ada organisme yang dapat diindentifikasi pada 40%-60% kasus) Didapat di rumah sakit Batang gram negative yang meliputi

pseudomonas, klebsiella, enterobacter, serratia,acinetobacter, dan s.aureus

Gangguan kekebalan

Aspirasi

Semua yan tersebut di atas + PCP, jamur , Nocardia, mikobakterium atipikal, SMV, HSV,

Pasien rawat jalan : flora mulut ( anaerob) Pasien rawat inap atau sakit kronis: batang gram negatif dan S.auereus.

Manifestasi klinis:

‖Tipikal ‖: demam dengan onset akut, batuk produktif atau sputum purulen, konsolidasi pada foto rontgen toraks.

‖Atipikal‖: onset batuk kering yang tersembunyi, gejala ekstrapulmonal (mual, muntah, diare, nyeri kepala, mialgia, faringitis), pola interstisial dengan bercak-bercak pada foto rontgen toraks.

Walaupun perbedaan manifestasi ini digunakan secara klinis, studi menunjukann bahwa hal ini tidak dapat dipercaya untuk menentukan penyebab patogen ‖tipikal‖

(S.pneumoniae,H.influensae) vs.‖atipikal‖(mycoplasma,chamydia) Pemeriksaan diagnostik

Pewarnaan gram sputum : penggunanya masih duiperdebatkan, namun sensitivitas untuk pewarna gram yang baik adalah sebesar 85% .

Apakah sempel sputumnya baik (cont:apakah sputum atau ludah)?→ sampel sputum yang baik seharusnya mengandung sel epitel <10 sel/LPB

Apakah sempel purulen?→sampel purulen harusnya mengandung >25 PMN/LPB Kultur sputum: (sampel harusnya dibawa ke laboratorium dalam waktu 1-2 jam setelah dikumpulkan)

Kultur darah (sebelum antibiotik): + pada ~10% pasien rawat inap Foto rontgen toraks (PA dan lateral); efusi seharusnya diaspirasi! SaO2 atau PaO2

Evaluasi laboratorium lainnya : pemeriksaan darah perifer lengkap dengan hitungan jenis, elektrolit, BUN/kreatinin, glukosa, kadar fungsi hati.

(4)

Patogen aptikal : uji sebelumnya untuk mycoplasma (aglutinin dingin, sensitivitas 30- 60%

Chlamydia (titer akut dan konvalesen ), dan legionella (Ag urine, sensitivitasi <70%) sekarang diganti dengan pcr

Microbakterium tuberkulosis : sputum untuk pewarnaan tanah asam dan kultur

mikrobakterium dan pasien dalam keadaan isolasi respiratorik HIV + atau imunosupresi yang diketahui : sputum yang terinduksi unuk PCP

Virus : bilasan atau swab nasal untuk EIA tau DFA

Uji HIV apabila pasien berusia antara 15-54 tahun dan rumah sakit mendapatkan lebih besar dari 1 kasus HIV baru tiap 1000 pasien yamg pulang

Bronoskopi : pertimbangkan pasien yang mengalami ganguan kekebalan, sakit kritis, atau gagal berespons, atau jika curiga mtb atau PCP dan memerlukan sampel yang adekut, atau jika pasien telah mengalami suatu pneumonia kronis.

Skor, prognosis dan triase yang dianjurkan P.O.R.T

Kelas Skor Mortalitas Triase yang dianjurkan

I Usia <50, tanpa penyakit <1,0 % penyerta

Pasien rawat jalan II III ≤70 71-90 <1,0 % 2,8 %

Pasien rawat jalan ? pasien rawat inap singkat IV ) 91-130 >130 8,2 % 29,2 %

Pasien rawat inap ICU

Variabel Demografi

Nilai

Pria ( usia dalam tahun), wanita (usia-10), residen pada rumah perawatan (+10)

Penyakit lain Neoplasma (+30) penyakit hepar (+20),CHF(+10),CVA(+10), penyakit yang

mungkin ada Pemeriksaan

ginjal (+10)

Perubahan status mental (+20), RR>30(+20), SBP<90 (+20), suhu <35o atau 40o (+15), HR >125 (+10)

Laburatorium pH < 7,35 (+30), BUN >30 (+20), Na <130(+20), glukosa >250 (+10), Hematokrit < 30 (+10) , PaO2 < 60 atau SaO2 < 90 (+10) pleura (+10) (N.Engl j med 336 : 243, 1997

Penatalaksanaan

Skenario klinis Pedoman penatalaksanaan empiris

Pasien rawat jalan Makrolit atau doksisiklin atau

fluorokuinolon anti-pneumokokus (FQ) Dapat dari komunitas, bangsal perawatan, [Sefalosporin generasi 2/3±makrolid] atau

FQ spektrum luas

Didapat dari komunitas, bangsal perawatan, [makrolid + sefalosporingenerasi 3] +

(5)

atau FQ]

+ makrolid jika curiga legionella + vankomisin jiks curiga MRSA

Gunakan kekebalan Seperti diatas + TMP-SMX ±

Aspirasi, pasien rawat jalan Klindamisin atau [penisilin + metronidazol]

Aspirasi, pasien, rawat inap Rute terapi

Klindamisin + PQ

Pasei rawat inap sebaiknya diawali dengan antibiotik intravena penggantian rute pemberian obat dari intervena menjadi peroral dilakukan bila ada respon secara klinis dan pasien mampu menelan (biasanya dalam 3 hari)

(Apabila memungkinkan, terapi lansung tertuju pada organisme, sebaiknya digunakan panduan suseptibilitas in vitro atau pola resistensi obat setempat)

·INFEKSI SALURAN KEMIH· Definisi

Anatomi

Bawah : uritritis, sistitis (infeksi superfisialis vesika urinaria), prostatitis Atas : pielonefritis (proses inflamasi parenkim ginjal), anses ginjal Klinis

Tanpa komplikasi : sistitis pada perempuan hamil kelainan neurologis atau struktural yang mendasarinya

Komplokasi : infeksi saluran kemih atas atau setiap kasus ISK pada laki-laki, atau perempuan hamil, aau ISK dengan kelainan neurologis atau struktural yang mendasarinya

Mikrobilogis

ISK tanpa kompliksi : E. Coli (80%), proteus, klebsiella, enterokokus

ISK dengan komplikasi : E. Coli (30%) enterokokus (20%), pseudononas (20%), S. Epidermidis (15%), batang gram negatif lainya.

ISK yang berhubungan dengan kateter : jamur (30%), E . coli (25%), batang gram negatif lainya, enerokokus, S.epidermis

Uritritis : chlamydia trachomatis, Neisseria gonorrhoeae Manifestasi klinis

Sistitis : piuria urgensi, frekuesi ↑, perubahan warna/ bau urine, nyeri suprapublik; demam biasanya tidak ada.

Uretritis : mungkin mirip dengan sistitis kecuali adanya discharge uretra

prostatitis: serupa dengan sistitis kecuali gejala obstruksi orifisium uretra (cont: hestansi, aliran lemah).

Pielonefrritis : demam, menggigil, nyeri punggung atau bokong, mual, muntah, diare Abses ginjal (intrarenal atau perinefrik); serupa dengan pielonefritis kecuali demam menetap mestipun di obati dengan antibiotik.

(6)

Urinalisis : piuria + bakteriuria ± hematuria

Hidung bakteri bermakna:≥105 unit koloni/ml pada perempuan yang asimtomatik.≥103 unit koloni/ml pada laki-laki ≥102 unit koloni/ml pada pasien simtomatik atau dengan karakter piuria steril →uretritis , tuberkulosis ginjal, benda asing.

Kultur dan pewarnaan gram urine ( dari urine porsi tengah atau spesimen lansung dari katater)

Pada perempuan hamil dan pasien yang menjalanin pembedahan urologi lakukan skrining terhadap bakteriuria asimtomatik

Kultur darah : pertibangkan pada ISK dengan komplikasi

Deteksi DNA atau kultur terhadap C. Trachomatis, N.gonorrhoeae pada pasien yang kegiatan seksualnya aktif atua pada piuria steril

Spesimen urine porsi pertama dan porsi tengah, pemijatan prostat, dan spesimen urine pascapijatan prostat pada kasus-kasus kecurigaan prostatitis

CT scan abdomen untuk menyingkirkan abses pada pasien pielonefritis yang demamnya tidak turun aetelah 72 jam

Tindakan diagnostik urolohi (USG ginjal, CT abdomen, sistografi berkemih) jiks ISK berulang pada laki-laki

Penatalaksanaan ISK Skenario klinis Sistitis Uretritis Prostatitis Pielonefritis

Pedoman pelaksanaan empiris

TMP-SMX atau FQ PO selama 3 hari (tanpa komplikasi) atau selama 10-14 hari (komplikasi)

Bakteriuria asimtomatik pada perempuah hamil atau pernah mengalami pembedahan urologi sebelumnya →antibiotik selama 3 hari

Tangani untuk Neisseria dan ChlaMydia

Neisseria; seftriakson 125 mg IM x 1 atau ofloksasin 400 mg PO x 1 Chlamydia; doksisiklin 100 mg PO x 7 d atau aztromisin 1 g PO x 1 TMP-SMX atau FQ PO x 14 – 28 hari (akut) atau 6-12 minggu (kronis) Pasien rawat jalan; FQ atau amoksilin/klavulanat atau sefalosporin generasi I PO selama 14 hari

Pasien rawat inap; [ampisilin IV + gentamisin] atau ampisilin/sulbaktam atau FQ selama 14 hari

(perubahan IV→PO apabila pasien secara klinis membaik dan tidak demam selama 24-48 jam dan kemudian diselesaikan dengan pemberian selama 14 hari)

Abses ginjal Drainase + antibiotik seperti pada pielonefritis

(apabila memungkinkan, terapi langsung ditunjukan pada organisme, dapat digunakan panduan suseptibilitas in vitro dan pola resistensi obat setempat

(7)

∙ INFEKSI TULANG DAN JARINGAN LUNAk∙

Selulitas Definisi

Infeksi superfisial dan protunda pada dermis dan lemak subkutan Mikrobiologis

Streptococcus dan stphylococcus (penyebab yang lebih jaarang) Manifestasi klinis

Eritema, edema, hangat

± limfadenitis (goresan merah di proksimal) limfadenopati regional Diagnosis

sebagian besar berdasarkan diagnosis kelinik; asirasi jarum dan kultur darah memiliki hasil < 5%

Penatalaksanaan

Antibiotik (biasanya sefalosprin generasi 1 atau penisilin resisten penisilinase) + elevasi (mungkin menjadi buruk setelah memulai antibiotik karena perubahan bakteri→

pelepasen enzim inflamasi)

‖KAKI DIABETIKUM‖ Definisi

Ulkus kaki neuropatik yang mengalami infeksi

Ringan = superfisialis, tidak ada sandi atau tulang yang terkena

Mengancam jiwa atau ekstremitas = profunda, mengenai sandi dan tulang, toksisitas sistemi, atau iskemik pada ekstremitas

Mikrobiologi

Ringan : biasanya S. Aureus atau strepyokokus aerobik

Mengancam jiwa atau ekstremitas: Polymicrobial dengan aerob + anaerob Aerob: stafilokokus, enterokokus, dan batang gram negatif lainya (termasuk Psedomonas)

Anaerob: stafilokokus anaerob, Bacteriodes, Clostridium (jarang) Manifestasi klinis

Ulkus dengan eritema dan hangat di sekelilingnya ± drainase purulenta Rasa nyeri mungkin tidak ada karena neuropati

± kripitasi → gas →infeksi campuran dengan batang gram negatif dan anaerob atau infeksi Clostridium

± osteomielitis yang mendasarinya

± Toksisitas sistemik ( demam, mengigil, leukositosis, hiperglikemia) Pemeriksaan diagnosis

Apusan superfisial ulkus tidak berguna (mungkin mendeteksi secara sederhana organisme yang berkoloni di superfisia

(8)

Kultur luka (cont : kuretase pada dasar ulkus setelad debridemam) memiliki ↑ sensitivitas terhadap organisme yang menginfeksi

Kultur darah (seharusnya dilakukan pada pasien, + pada 10-15 % pasien)

Osteomielitis seharusnya selalu disingkirkan ( lihat dibawah untuk uji pencitraan

spesifik) pemeriksaan tulang ( kemampuan untuk mencapai tulang melalui ulkus/trakus) memiliki spesifisitas yang tinggi namun sensitivitasnya rendah.

Spesimen biopsi tulang paling dapat dipercaya Penatalaksanaan ( N Engl J med 331 : 854, 1994)

Tirah baring, status tanpa beban berat badan Antibiotik Berat infeksi Ringan Mengancam ekstremitas Mengancam jiwa Antibiotik Empiris

Sepalosporin generasi 1 atau penisilin resisten – penisilinase

FQ + klidamisin atau ampisilin-sulbaktam atau tikarsilin-klavulanat atau sefoksitin atau sefotetan

Imipenem atau vankomisin + aztreonam + metronidazol atau ampisilin- sulbaktam + AG

Pembedaah: dilakukan secara dini, agresif, dan debridemam bedah yang berulang, amputasi mungkin diperlukan.

FASITIS NEKROTIKANS Definisi

Infesi dan nekrisis fasia superfisialis, lemak subkutan, dan fasia profunda (nekrosis arteri dan saraf pada lemak subkutan→gangren)

Gangren Foumier: fasitis nekrotikans pada genitalia laki-laki ( digunakan oleh beberapa penulis untuk menggambarkan terkenanya perineum perempuan atau laki-laki)

Epidemiologi

↑ Resiko pada pasien diabetes, PVD, pecandu alkohol, pengguna narkoba intravena, imunosupresi, sirosis

Dapat pula mengenai individu yang sehat Mikrobiologi

Kelompok I ( dinding abdomen dan perinium): polimikroba (anaerob + anaerob fakultatif + batang gram negatif)

Kelompok II (ekstramitas) : stretococcus pyogenes ± stafilokokus Kelompok III: infeksi vibrio marine

Manifestasi klinis

Tempat infeksi yang paling sering adalah ektramitas, dinding abdomen,dan psrineum,namun dapat terjadi di mana saja

Perubahan kulit berupa selulitis dengan batas yang sangat tidak jelas, menyebar dengan cepat yg diikuti dengan tanda toksisitas sistemik + nyeri melebihi derajat selulitis yang tampak,kulit menjadi hiperestetik atau anestetik

Terbentuk bula (serosa →hemoragik); kulit jadi gelap hingga abu-abu kebiruan → gangren

Kutis ± krepitas atau udara yang terlihat secara rediografik Tanda Diagnostik

(9)

Aspirasi pada pusat nekroris; kultur darah

Pemeriksaan pencitraan: foto polos → udara pada jaringan lunak; CT scan →infeksi yang meluas, udara jaringan lunak; MRI → kontas jaringan yang paling baik

Diagnosis klinis cukup untuk mengawali eksplorasi pembedahan yang urgen Penatalaksanaan

Penanganan definitif adalah debridemam bedah dari jaringan nekrotik dan fasiotomi Antibiotik spektrum luas agar bisa mencakup flora kulit, enterokokus, enterik gram negatif; dan anaerob (cont: klidamisin + panisilin + AG)

Oksigen hiperbarik : mengkin bermanfaat untuk membatu terapi, namun sebaiknya tidak menunda penanganan pembedahan definitif

Prognosis

Secara umum fatal apabila tidak diobati; mortalisis yang dilaporkan 20-50% MIONEKROSIS KLOSTRIDIUM (GAS GANGREN) Definisi

Infeksi klostridium pada otot rangka yang mengancam jiwa dan fulminan Biasanya truma otot + luka terkontaminasi bahan yang mengandung spora klostridium

Manifestasi klinis

Masa inkubasi 6 jam hingga 2-3 hari

Onset akut dengan rasa berat atau nyeri yang intensitasnya bertambah dengan cepat disertai toksisitas sistematik yang jelas

Diskolorasi pada kulit warna perunggu dengan bula yang tegang yang mengandung cairan serosanguinosa atau cairan gelap dan daerah nekrosis

Krepitas muncul namun tidak menonjol (seperti udara dalam otot ) dan mungkin dikaburkan dengan edema yang menonjol

Pemeriksaan Dioagnosis

Pewarna gram pada discharge dapat mengandung basil gram positif yang besar dengan ujung tumpul namun sangat sedikit mengandung PMN

Bakteremia klostridium pada ~ 15%

Foto rontgen polos : gambaran diseksi udara di dalam otot Penatalaksanaan

Eksplorasi pembedahan dengan debridemam pada otot yang terkena, fasiotomi, dan amputasi bila perlu

Antibiotik: penisilin G dosis tinggi 24 MU IV bibagi tiap 2-3 jam + klindamisin 900 mg IV tiap 8 jam

Oksigen hiperbarik

OSTEMIEITIS Definisi

Infeksi pada tulang karena penyebaran hematogen atau penyebaran langsung dari fokus yang berdekatan

Mikrobiologis (N Eng J med 336: 999,1997) Hematogen : S. Aureus

(10)

Fokus berdekatan karena fraktur terbuka, bedah ortopedi, contoh : S. Aureus dan S. Epidermidis

Fokus berdekatan + insufisiensi vaskular (seperti kaki diabetikum): polimikrobial (kokus gram positif dan batang gram negatif aerob dan anaerob)

Manifestasi klinis

Lemahnya jaringan lunak di sekitar ± fistula ke kulit superfisial

Osteomielitis vertebra (manifestasi yang paling sering pada orang dewasa pada berusia diatas 50 tahun ) ; nyeri punggung dan demam

± demam, malise, dan keringat malam ( lebih sering pada penyebaran hematogen dibandingkan dari tempat yang berdekatan)

Pemeriksaan diagnostik

Identifikasi organisme penyebab merupakan kunci utama

Data kultur dari jaringan ( yang spesimennya di ambil melalui pembedahan atau biopsi jarum) bukan dari usapan ulkus atau fistula

Kultur darah ( lebih sering positif pada osteomielitis hematogenik akut) Pencitraan

Foto rentgen polos: normal pada awal penyakit, lesi litik terlihat setelah 2-6 minggu

CT scan dapat menunjukan reaksi periosteum dan kortikal serta destruksi daerah medularis

MRY: dapat mendeteksi perubahan yang sangat dini

Pencitraan radionuklir: sangat sansitif namun tidak spesifik (positif palsu bila ada peradangan jaringan lunak yang mendasarinya)

Penatalaksanaan

Antiboitik (berdasarkan pada data kultur) X 4-6 minggu

Pembedahan sebaiknya dipertimbangkan untuk hal berikut: osteomielitis vertebral piogenik ( seperti : kompresi medula spinalis, abses, epidural); atau prostesis yang terinfeksi

٠MENINGITIS٠

MENINGITIS BAKTERIAL AKUT Definisi

Infeksi bakteri pada ruang subaraknoid

Mikribiologi Meningitis pada Orang Dewasa Etiologi S. Pneumoniae (30-50%) N. maningitidis (10-35%) Keterangan

Penyebab paling sering pada orang dewasa. Cari penyebaran infeksi ( i.e,trias Osler : meningitis, pneumonia, endokarditis)

Terutama pada anak-anak dan dawasa muda; mungkin berhubungan dengan ruam berupa peteki atau purpura. Defisienisi pada pada komponen

komplemen terminal yang merupakan faktor predisposisi menigokoksemia rekuren, dan lebih jarng, meningitis

(11)

H. influenzae ( < 5% )

L.

↓ insiden pada anak-anak karena vaksin H.influenzae tipe b. Cari faktor pencetus pada orang dewasa (seperti kebocoran LCS, prosedur bedah saraf yang baru dilakukan, trauma, mastoiditis)

Terjadi pada orang tua, pecanco alkohol, atau pasian dengan keganasan, monocytogenes imunosupresi, atau kelebihan zat besi. Wabah dihungkan dengan susu yang (5-10%)

Batang

terkontaminasi, keju, kubil kol, sayuran mentah, selain yang disebutkan, sering dihubungkan dengan pleositosis poli-predominan

gram Biasanya nosokomial, pasca-tindakan, pada orang tua atau yang tanggap negatif 10%) ( 1- imunnya lemah Stafilokokus (5%) Infeksi

Terlihat pada pemasangan pirau LCS indwelling (S. Epidermidis) atau setelsh menjalani bedah saraf mengikutinya atau truma kapitis (S.auerus)

Curiga fokus paramenigeal campuran

Manifestasi Klinis Demam (95%)

Nyeri kepala, lehar kaku (85%) dan fotosensitif

Perubahan setatus mental (80%) termasuk delirium, penurunan kesadaran, konfusi, letergi, kejang

Penampakannya mungkin atipikal pada pasien tua, dengan letergi dan konfusi primer, dan tanpa demam

Pemeriksaan fisik

Kaku laher tanda kernig ( pasien supinasi dengan finggul fleksi pada 900, dan lutut fleksi pada sudut 900 positif apbila ekstansi pasif pada lutut menghasilkan tahanan); tanda Brudzinski ( pasien supinasi dan ekstremitas supinsi; positif apabila fleksi lehar pasif→fleksi lutut dan/ atau pinggul secara involuter); catatan, tanda kernig dab Bruzinski positif hanya pada lebih kurang 50% pasien

± temuan neurologik fokal ( hemiparesis, afsia, menyempitnya lapangan pandang, palsi saraf kranialis)

± Papiledema

± Raum kulit : makula-papular, peteki, atau purpura Pemeriksaan diagnostik

Punksi lumbal : pewarnaan gram pada CCS memiliki sesitivitas 60-90% dan kultur memiliki sensitivitas 70-80%

Pertimbangkan Ct scan kepala sebelum LP apabila terdapat ganguan neurologik fokal, papilledema, atau pasien koma

Temuan CSS pada meningitis

Kondisi Tampilan Tekanan (cm) WBC/mm3 Glukosa TP (mg/dl) tipe

predominan

(mg/dl)

Normal Jernih 9-18 0-5 50-75 15-40

(12)

50 40 Bakterial Berkabut 18-30 100-10,000 < 45 100-1000 PMN TB Fungal Aseptik berkabut berkabut Jernih 18-30 18-30 9-18 < 500 limfosit <300 limfosit < 300 PM → < 45 < 45 50-100 100-200 40-300 50-100 limfositr

Tekanan pembuka > 45 cm beresiko tinggi terjadinya herniasi sehingga hanya ambil CSS pada manometer dan infuskan larutan manitol 20 % (0,25-0,5 g/kg) IV selama 20-30 menit

Pemeriksaan CSS tambahan tergantung pada kecurigaan klinis : pewarnaan tahan asam dan kultur, pewarnaan preparat india, atigen kriptokokus (CRAG), kultur fubgsi, PCR ( seperti:HSV); kegunaan asai aglutinasi yang masih dipertanyakan

Kultur darah

Gambar 6-1. nomogram untuk perkiraan probabilitas meningitis bakterial (ABM) vs. Meningitis virus (AVM)

Usia th. Bulan

Probabilitas

ABM vs AVM Rasio Glukosa B

Jumlah total PMN./mm

0,05 11000

garis baca garis baca

0,10 10000 9000 8000 12 12 bl A 0,15 7000 0,20 6000 75 70 18 65 60 55 2y 5 45 10 35 6 bl 0 bl 1 peb 1 mar 1 apr 1 mei 1 jun 1 jul 1 agus 1 peb 1 jun 1 des 1 nov 1 okt 1 sep 1 agus 95 ,80 ,60 ,40 ,20 ,05 ,99 ,90 ,70 ,50 ,30 ,10 0,25 0,30 0,35 0,40 0,45 0,50 5000 4000 3000 2500 2000 1500 1000 500 15 ,01 400 30 20 0,55 300 25 22 22 A >0,60 B 100 200 50 10 5 0

( Langkah 1 tempatkan penggaris pada daris baca untuk pasien dan bulan munculnya gejala dan tandai garis potongnya dengan garis A. Langkah 2. tempatkan penggaris pada nilai untuk gulukosa dan PMN total dalam LCS dan tandai garis potongnya dengan garis B. Langkah 3. gunakan penggaris untuk menghubungkan tanda-tanda tersebut pada garis A dan B,

(13)

harrel, F E, E Jr, Drurack,D.T differentail diagnosis of acute meningitis. JAMA 262 :2700,1989.© 1989,AMA). Penatalaksanaan meningitis Skenario klinis Dewasa normal Ganguan

Pedoman penatalaksanaan empiris

Sertriakson 2 g IV setiap 12 jam atau sefotaksim 2 g IV setiap 4-6 jam + Vankomisin 1 g IV setiap 12 jam ( pada kasus pneukokokus resisten sefalosporin)

+ Apisilin 2 g IV setiap 4 jam apabila curiga Listeria

kloramfenikol + TMP/SMX + Vankomisin apabila alergi ß-laktam Apisilin + dseftazidim ± vankomisin

imun

Pirrau CSS, Vankomisin + sefazidim baru

menjalani bedah saraf, atau trauma kapitis

Antibiotik empiris sebaiknya diawali sesegera mungkin. Apabila berkanaan dengan ↑TIK, kemudian periksa kultur darah →mulai antibiotik empiris → lakukan CT scan kepala → LP (jika tidak ada kontraindikasi); hasil cairan CSS mungkin tidak mengalami perubahan apabila

didapatkan dalam waktu kurang lebih 4 jam dari pemberian antibiotik pertama kali

Kortikosterroid: tidak ada bukti yang meyakinkan untuk pengguna rutin pada orang dewasa namun, apabila TIK ↑, edema serebri, stupor atau koma, pertimbangkan pemberian

deksametason 1 g IV setiap 6 jam selama 4 hari

Profilaksi : rifampin (600 mg PO 2x1x2 hari) atau siprofloksasin (500 mg PO dosis tunggal) untuk kontak dekat pada pasien dengan meningitis meningkokus

(Apabila memungkinkan, terapi langsung terhadap organisme, dapat digunakan paduan suseptibilitas in vitro atau pola resistensiobat setempat)

Prognasis

Motartlitas di dalam rumah sakin 25% untuk menigitis yang didapat dari komunitas dan 35 % untuk meningitis nosokomial

MENINGITIS ASEPTIK Definisi

Data mikrobiologi negatif untuk bakteri, pleositosis pada CSS tanpa predominasi PMN

(14)

‖Aseptik‖ adalah istilah yang salah, hanya dipakai untuk menyatakan kecilnya

kemungkinan meningitis bakterial akut, walaupun hal ini tetap saja bisa disebabkan oleh etiologi yang enfeksius maupun yang noninfeksius.

Etiologi

Virus: eneterovirus, HIV, HSV, (tipe 2 lebih sering dari pada 1), gandongan, virus koriomeningitis limfoksitik, virus esefalitis (seperti: Eastern, wastern, St. Louis, California), adenovirus, SMV, EBV

Tuberkulosis, fungsi, spirochaeta (penyakit Lyme, sifilis, leptospirosis), riketsia, Coxiella, Ehrlichia

Meningitis bakterial dengan pengobatan yang tidak tuntas

Fukos infeksi parameningeal (seperti : abses otak, abses epidual, tromboflebitis septik pada sinus venosa duramater, atau empiema subdural)

Obat – obatan : TMP/SMX, NSAID, penisilin, isoniazid

Penyakit sistemik: SLE, sarkoidosis, sendrom Behcet, sindrom Sjogren, arthritis reumatiod

Neoplasma : tumor intrakranial (atau kista), meningitis limfomatosa atau korsinomatosa · ENDOKARTIDIS BAKTERIALIS·

Definisi

Infeksi edotelium jatung (termasuk namun tidak terbatas pada katup)

Akut (ABE): infeksi pada katup normal dengan suatu organisme virulen (seperti : S.aureus)

Sabukat (SBE): infeksi lamabat pada katup abnormal dengan organisme yang kurang virulen (seperti. S.viridans)

Kondisi pendukung

Katup abnormal: penyakit katup jantung rematik, MVP dengan MR, klasifikasi katup aorta atau bikuspid, prostesis

Resiko bakteriemia abnormal : pengguna narkoba intravena, pemasangan kateter vena indwelling

Kriteria Duke Mayor

Bakteremia yang menetap karena

Minor

Kondisi pendukung (lihat diatas) suatu organisme yang diketahui Demam

menyebabkan endokarditis Fenomena vaskural : arterial septik Terkenanya endokardium yang atau emboli paru, aneurisma mikotik, diketahui baik dari: ekokardiogram( perdarahan intrakranial, lesi janeway vegetasi, abses perforasi katup, Fenomena imun: glomerulonefritis, prostesik terbuka) atau regurgitasi nodus osler, bercak Roth, faktor katup baru yang dipatiskan

jelas dengan reumatiod Kultur darah + tidak sesuai denga kriteria mayor

(15)

Ekokardiogram + tidak sesuai dengan kriteria mayor

Diognisis definitif (kemungkinan besar) jika 2 kreteria mayor, atau 1 kreteria mayor +3 kreteria minor, atau 5 kreteria minor

(Am J med 96:200,1994)

Mikrobiologi pada endokarditis

Endokarditis katup asli (NVE) Endokarditis katup prostetik (PVE) Etiologi Bukan pengguna narkoba Pengguna narkoba intravena Awal (< 6 bulan pascaoperasi) Lanjut (>6 bulan pascaoperasi) interavena S. viridans Sterptokokus 50% 5% 10% <5% <10% <5% 35% <5% lainya Enterokokus S. aureus S.epidermidis 10% 20% 5% 8% 60% <5% <5% 15% 40% 10% 10% 20% Batang gram < 5% 10% 10% < 5% negatif lainya Kultur negatif < 5% < 5% < 5% < 5% 10% < 5% 10% < 5% Kultur negatif = steptokokus defisiensi-zat gizi, HACEK (Haemophilus Parainfluenzae dan Aphrophilus, Cardiobacterium, Eikenella, dan kingella), Bartonella, Coxiella, Chlamydia, Legionella, Brucella

Diadaptasi dari karchmer,A,W. Infective Endocarditis. In Braunwald, E., ed,. Heart Disease, ed. Ke -5,

Philadelphia: W B Saunders Company, 1997.) Manifestasi klinis

Bakterimania persisten : demam (80-90%), anoreksia, penurunan berat badan, fatigue Infeksi perivalvular atau valvular: regurgitasi katup baru, abnormalitas hamtaran, gagal jatung kongestif

Emboli septik: lesi janeway, emboli sistematik (seperti pada SSP, ginjal, lien, atau sendi) emboli paru (dengan endorditis sisi kanan) aneurisme mikotik, Ml ( embolus arteri koronaria)

Fenomena kompleks imun: Nodus Osler, artritis, glomerulonefritis, RF +, ESR ↑ Pemeriksaan fisik

HEENT : bercak roth (perdarahan retina dengan bagian tengahnya pucat ) peteki (konjungtiva, palatum)

Jantung : regurgitasi valvular ± thrill ( ruptura korda tendinea atau valvular fenestrata), prostetik bergetar, bunyi katup, gesekan perikardium. Pemeriksaan berkala terhadap bukti perubahan murmur,dsb.

(16)

Abdomen : splenomegali yang nyeri tekan Eksremitas

Lesi janeway, (tiadak nyeri, makula hermoragik pada telapak tangan dan kaki) Nodus Osler (nodul nyeri pada bantalan jari)

Hermoragik spliner proksimal bantalan kuku clubbing ( jari tubuh)

Pemeriksaan diagnosis

Kuktur darah ( sebelum melalui antibiotok) : piling sedikit 3 set ( botol aerobik dan anaerobik) dari dari tempat yang berbeda, idealnya ditempatkan paling sedikit stu jam terpisah. Periksa pengawasaqn kultur darah (paling sedikit 2 set) setelah antibiotik yang tepat mulai diberikan untuk mencatat klirens, ulangi setiap 24-28 jam sampai hasilnya negatif

Hitung darah lengkap dengan hitung jenis,LED, faktor reumatoid, BUN, kreatinin, urinalisis dan kultur urine

Elektrokardiaogram (ketika dirawat dan pada interval reguler ); untuk menilai abnormalitas hantaran yang baru.

Ekokardiogram: pertama-tama mencari TTE : pertimbangkan TEE apabila (1) TTE non-diagnostik; prostetik; atau, (3) curiga infeksi yang progresif atau invasit (seperti:bakteremia persisten atau demam, abnormalitas hantaran yang baru, pirau intrakadiak,dll)

Metode Sensitivitas

NVE PVE Abses

Transtoraksikus (TTE) Transesofagus(TEE) 50% >90% 36% 82% 28% 87% (Ches 100:352:1991; Eng J Med 324:795,1991; J Am Coll Cardiol

18;391,dan AM J Cardiol 71:201,1993 Penatalaksanaan

Cari dula data kultur

ABE→antibiotik sebaiknya dimulai tepat setelah data kultur diperoleh

SBE→apabila hemodinamika pasien stabil, antibiotik mungkin ditunda untuk pemperoleh data kultur darah yang akeuat dan lebih tepat, terutama pada kasus yang belum diberikan antibiotik

Terpi empiris yang dianjurkan

ABE katup asli:[nafsilin + gentamisin] atau [vankomisin +gentamisin] apabila prevalensi MRSA tinggi

SBE katup asli : panisilin/ampisilin + gentamisin Katup prostetik: vankomisin + gentamisin + rifampin

Atur rigmen antibiotik berdasarkan organisme penyebab dan sesitivitasnya Ulagi kultur darah 4 kali hingga pasien bebas demam

Demam mungkin tetap tinggi hingga minggu pertama setelah pemberian terapi antibiotik yang tepat

Antukoagulasi sismetik merupakan kontraindikasi relatif terhadap resiko kejadian emboli serebri hemoragik

(17)

Durasi terpi biasanya 4-6 minggu (dengan pengguna AG hanya untuk 2 minggu pertama ), kecuali pada kasus endokarditis sisi kanan tanpa komplikasi, yang pada 2 minggu terapi akan mendapatkan hasil yang berdeda

Indikasi pembedahan

Keputusan untuk memulai pembedahan sering kali sulit dan perlu melalui kolaborasi yang cermat dengan ahli bedah sejawat. Secara umum, cobalah untuk memberikan atibiotik selama mungkin dengan harapan penurunan insiden munculnya kembali infeksi pada prostesis, dan juga meningkatkan integritas struktural jaringan yang akan menerima prostesis tersebut

Emboli septik serebri sering dipertimbangkan sebagai suatau kontraindikasi untuk melakukan pembedahan segera karena tingginya resiko konversi perdarahan selama operasi bypass kardiopulmonal sema 10 -14 hari pertama

Indikasi untuk pembedahan

Gagal jatung kongestif refrakter (yaitu: walaupun ada terpi medis maksimal , setingkat ICU)

Infeksi yang refrakter atau menetap (seperti kultur darah + setelah satu minggu dengan antibiotik intravena yang sesuai)

Inveksi yang invasif (seperti abses berbentuk cicin, defek hantaran yang memburuk) Katup prostetik, terauma dengan malfungsi atau terbukanya katup atau infeksi S. Aureus

Emboli sistematik yang rekulen Infeksim jamur

Profilaksis Edokarditis Keadaan jantung

Prosedur

Regimen

Resiko tinggi: katup prostetik, riwayat endokarditis, penyakit jantung kongenital sianotik yang komplek, pirau atau saluran pulmonik sistemik yang dibuat dengan pembedahan

Resiko sedang: kebanyakan jatung kongenital lainya, penyakit katup

jantung didapat katup aorta bikuspidalis,MVP dengan kuspid yang menebal atau regurgitasi,HCM

Gigi: ekstraksi, prosedur periodontal, iplantasi, salutan akar pembersihan Pernapasan: bedah pada mukosa repiratorik, bronkoskopi rigid

Saluran cerna : skleroterapi dilatasi esofagus, ERCP dengan obstruksi kandung empedu, bedah usus atau traktus, biliaris

Saluran kemih: bedah prostat, sistoskopi, dilatasi uretral Prosedur gigi, pernapasan, atau saluran cerna

Amoksilin 2 g 1 jam sebelumnya

(klindamisin 600 mg jika alergi pinisilin) Saluran cerna/kemi + kondisi berisiko sedang

Amoksisilin 2 g 1 jam sebelumnya atau ampisilin 2 g IM/IV dalam 30 menit tindakan

(Vankomisin 1 g IV jika alergi penisilin) Saluran cerna/kemih + kondisi berisiko tinggi

ampisilin 2 g IM/IV + gentamisin 1,5 mg/kg dalam 30 menit tindakan diikuti dengan ampisilin 1 g IM/IV atau amoksisilin 1 g PO 6 jam kemudian

(18)

(vankomisin 1 g IV + gentamisin seperti diatas bila alergi penisilin) (JAMA: 277: 1794, 1997)

TUBERKULOSIS Epidemiologi

Prevalensi di amerika serikat : 10-15 juta orang: perkiraan prevalensi penyebaran diseluruh dunia 1,7 milyar orang

↑ insiden di amerika serikat antara tahun 1984 dan dan 1992 karena HIV, kemiskinan, gelandangan, imigrasi, dll

insiden populasi yang tinggi: terlahir asing, pelayanan medis yang tidak adekut, penghuni rumah perawatan/penjara, beberapa pekerja perawatan kesehatan

risiko pupulasi yang tinggi : berkontak dengan pasien yang berinfeksi, HIV + atau imunodefisiensi lainya, gagal ginjal kronis, diabetes melitus, IVDA, alkohlik, malnutrisi Mikrobiologi dan patogenesis

Penyebaran Mycobacterium tuberculosis melalui partikel kecil aerosol (seperti: nuklei droplet)

90% dari penjamu normal yang terinfeksi tidak akan pernah berlanjut menjadi penyakit yang terbukti secara klinis, 10% lagi akan berlanjut

risiko reaktivitas (setelah konversi PPD) adalah ~2 % tahun selama 2-3 tahun pertama setelah infeksi

Gambar 6.2. Patogenesis Penyakit TB

inti droplet yang mengandung kuman TB

replikasi pada lobus dependen

penyembuhan cepat

reaksi lokal penyebaran hematogen

sembuh infeksi laten penyebaran limfatik penyembuha TB progresif primer pneumonia n kalsifikasi kavitas efusi reaktivitas TB apikal limfatik tulang meningeal TB progresif apikal limfatik meningeal milier saluran cerna/kemih milier (Courtesy of Nesli Basgoz, MD,MGH)

(19)

Cara melakukan skrining : uji tuberkulin Mantoux (seperti: purified derivative atau PPD) suntikan 5-TU (0,1ml) PPD kekuatan sedang intradermal →benjolan; periksa dalam 48-72 jam

Cara menginterpretasikannya: menentukan diameter maksimal pada indurasi dengan palpasi ≥5mm +: kontak dengan pasien infeksius; rontgen toraks foto TB lama yang sudah sembuh; HIV + atau tak diketahui namun berisiko tinggi

≥10mm +: populasi berisiko tinggi atau prevalensi tinggi ≥15mm +: semus orang

negatif palsu : aplikasi yang salah, anergi.TB primer yang baru terjadi (10-25% awalnya negatif), infeksi akut non-TB, keganasan

positif palsu: pembacaan yang tidak tepat, reaksi silang dengan penyakit atipikal, dalam 2 tahun vaksinasi BCG (walaupun biasanya <10mm)

Efek booter:↑ indurasi karena penguatan imunologi yang ada melalui uji kulit

sebelumnya pada seorang individu yang pernah tersensitisasi (misalnya infeksi) uji ini bisa dari negatif menjadi positif, namun hal ini bukan berarti suatu konversi nyata akibat infeksi yng baru saja ter jadi. Uji kedua adalah kondisi dasar pasien yang benar, efek booster dapat terlihat sapai 1 tahun setelah uji kulit yang pertama kali dilakukan Manifestasi klinis

Pneumonia tuberkulosis primer: kondisi lodus interior atau media, efusi ±, kavitas ± Tuberkulosis pleura: dapat terjadi bersamaan dengan penyakit primer atau yang mengalami reaktivasi. Karena pecahnya granuloma sehingga isinya tumpah kedalam kavum pleura dan terjadi peradangan setempat, efusi paru ± efusi paru perikardium dan perikardium dan peritoneum (tuberkulosis poliseroitis)

Penyakit tuberkulosis paru reaktivasi: jaringan parut apikal + kavitasi

Tuberkulosis milialis: onset akut atau perlahan; penyebaran luas karena bersifat hematogenik biasanya pada pasien yang mengalami gangguan kekebalan, diabetes, alkoholik, atau pasien kurang gizi. Gejala konstitusional (demam, keringat malam, penurunan berat badan) menonjol penyakit paru yang lesi yang menyerupai biji padi yang kecil (2-4mm) pada foto rontgen otraks

Tuberkulosis ekstraparu: perikarditis,peritonitis, meningitis, nefritis, osteomielitis, hepatitis, limfadenitis,kutaneus

Tuberkulosis dan infeksi HIV: pasien yang terinfeksi HIV dan mengalami gangguan kekebalan lainya berisiko mengalami reaktivitas dan infeksi primer takterkontrol yang progresif. Seluruh pasien yang infeksinya HIV sebaiknya menjalani uji PPD sebagai bagian dari evaluasi dasar pemeriksaan laboratorium awal dan selanjutnya dikerjakan setiap tahunnya.

Pemeriksaan diagnosis

Pulasan tahan asam (diagnosis cepat) dan kultur (lebih sensitif dan menyebabkan uji suseptibilitas) pada sputum, lavase alveolar bronkoskopik, pleura, atau spesimen klinis lainya

PCR: sensitivitas 94-97% apabila dibandingkan dengan pulasan; sesitivitas 40-77% apabila dibandingkan dengan kultur

Terapi peventif

Singkirkan penyakit aktif dengan setiap pasien dengan tanda atau gejala yang mencurigakan sebelum memulai pemberian INH

(20)

Perlu menyesuaikan terapi berdasarkan prevalensi dalam populasi ( yang akan mempengaruhi nilai prediktif positif pada‖PPD + ‖) dan risiko infeksi yang tidak terobati pada pasien tersebut

Monitor adanya hepatitis : jika aminottransferase meningkat 5x normal atau simtomatik → hentikan obat anti-TB dan evalusi kembali

Penatalaksanaan tuberkulosis Isolasi pasien

Gunakan regimen yang terdiri dari kombinasi obat terhadap organisme yang rentan Meningkatkan kepatuhan terapi; terapi observasi secara langsung (DOT) yang hemat biaya untuk pasien dengan resiko tinggi untuk tidak patuh

Kelompok usia (tahun)

Kategori <35 ≥35

Resiko tinggi (kontak pasien yang Obati apabila PPD ≥ 5 mm terinfeksi, foto toraks abnormal, HIV +

Resiko sedang (penyakit kronis, Obati apabila PPD ≥ 10 mm imunosupresi)

Terhadapat konversi dari uji kulit Obati apabila PPD + berdasarkan pada pedoman skrining diatas sebalum (sebelum dalam 2 tahun)

Populasi insiden tinggi

(AM J Resp Crit Care 149:1359,1994

Obati apabila PPD ≥ 10 mm Obati apabila PPD ≥ 15 mm

Jangan di obati Jangan dio bati

Skenario

Mungkin sensitif INH

Foto toraks abnormal atau HIV + Kasus kontak yang resisten INH

Regimen

INH 300 mg PO 4x1 + piridoksin 50 mg 4x1 INH 300 mg PO 4x1 piridoksin 50 PO 4x1 selama 12 bulan

RIF +PZA selama 2 bulan

Kasus kontak yang diketahui atau dicurigai Tidak ada regimen yang terbukti :? PZA +ETB resisten terhadap berbagai kombinasi obat TB ? PZA+FQ

(INH=isoniasid, RIF=rifampin,PZA=pirazinamid,ETB=etambutol, FQ = fluorokuinolon) Boat-obatan Anti-tuberkulosis Obat Isoniasid (INH) Dosis 300 Efek sampaing

mg POx Hepatitis, neuropati perifer (dicegah dengan 4x1 piridoksin yang diberikan bersamaan),

sindrom menyerupai lupus

Rifampin (RIF) 600 mg PO 4x1 Diskolorasi jingga atau urine/air mata, hepatitis, gangguan saluran cerna, hipersensitivitas, demam

Pirazinamid (PZA) 25 mg/kg POx Hepatitis, hiperurisemia, anritis 4x1

(21)

Etambutol (EMB) Streptomisin (SM) Amiksin (AMK) Siprofloksasin (CIP) Skenario 15 - 25 mg/kg Neuritis optika PO x 4x1 15 mg/kg IM x Ototoksikosis, netrotoksikosis 4x1 15 mg/kg IM x Ototoksikosis, netrotoksikosis 4x1 15 mg/kg PO x 2x1 Regimen anti-tuberkulosis Regimen

TB paru ≥4% resisten INH, dalam komunitas INH+RIF+PZA+ETB sampai suseptibilitas (termasuk terbanyak di amerika serikat) diketahui apabila sensitive terhadap INH &

RIF → INH+RIF +PZA selama 2 bulan

kemudian→INH + RIF selama 4 bulan apabila resisten, lihat dikolom berikutnya

TB yang sesisten obat (INH,RIF, atau resisten Konsul ke ahli paru obat kombinasi)

TB ekstrapulmoner TB pada pasien HIV +

Konsuk ke ahli paru Konsul ke ahli paru · HIV/AIDS·

Definisi

AIDS:HIV + hitung CD4 <200/mm3 atau infeksi oportunistik atau keganaan Epidemiologi

Sekitar 1 juta warga amerika terinfeksi HIV; penyebab utama kematian pada kelompok usia 25-44 tahun

Rute: kontak seksual (penularan 0,3 % dari sesama laki-laki, 0,2 % dari laki-laki ke perempuan, dan 0,1 % dari perempuan ke laki-laki), pengguna narkoba intravena, transfusi, jarum suntik tidak steril (0,3%), vertikal (15-35%)

Sindrom retrovirus akut (ARS)

Terjadi pada sekitar 40% pasien HIV +, lebih kurang 4 minggu setelah infeksi,ELISA-, isi virus +

Manifestasi : sindrom menyerupai mononukleosis ± lesi makulopapular berwarna salmon

Pemeriksaan diagnostik

ELISA untuk Ab HIV-1: (+) 1-12 minggu setelah infeksi akut: sesitivitas dan spesifisitas 90% ; uji skrining primer

Weatern blot: (+) apabila ≥ 2 garis dari daerah berbeda genom HIV; sebagai tes konfirmasi setelah uji ELISA (+)

PCR (kandungan virus): mendeteksi RNA HIV-1 di dalam plasma; kenaikan 3-4 kali lipat (0,5-0,7 log) merupakan perubahan yang dipertimbangkan bermakna

Hitung CD4: bukan merupakan suatu uji diagnostik, mungkin HIV(+) dan hitung CD4nya normal atau mungkin memiliki hitung CD4 rendah dan bukan HIV (+); hitung CD4 pada panyakit akut mungkin bisa ↑ atau palsu ↓

(22)

Pendekatan awal pada pasien HIV (+)

Buktikan infeksi HIV (apabila pembuktian yang adeakut tidak tersedia, ulangi pemeriksaan diagnostik)

H&P (bukti infeksi oportunisik, keganasan, penyakit menular seksual), periksa seluruh pengobatan

Evaluasi laboratorium : hitung CD4, muatan virus ( gunakan asal yang sama tiap kali periksa), pemeriksaan darah tapi lengkap dengan hitungan jenis, kreatinin, uji fungsi hepar, uji kulit TB, sifilitis, toksoplasmosis, sitomegalovirus, dan serologi hepatitis, foto rontgen toraks dasar , pap smear pada wanita

Pengguna obat antiretrovirus seharusnya dilakukan atas konsultasi dengan ahli HIV sebagai rekomendasi pengobatan lanjutan dan banyak dari obat-obatan ini berpotensi menghambat atau memicu sitokrom p450, sehingga memerlukan penghentian atau penambahan obat lain.

Dibawah ini beberapa pedomannya Indikasi untuk memulai terapi

AIDS atau HIV simtometik (seperti: penyakit infeksi jamur, demam yang tidak diketahui penyebabnya)

Asimtometik) + baik muatan virus yang tinggi (>10-20000 buah/ml) atau hitung CD4 yang rendah (<500/mm3)

Regimen : grup A NA + grup B NA +PI (atau NNRTI) monoterapi dan terapi ganda tidak dianjurkan

Muatan virus seharusnya ↓ 3-4 kali lipat (0,5-0,7 log) dalam 2-8 minggu dan setelah uti penurunannya berlanjut terus; tujuannya adalah muatan virus yang tak terdeteksi dalam 6 bulan

Pemberian awal antiretrovirus bisa memperburuk sementara waktu gejala infeksi oportunistik selama beberapa minggu sebelum respons imun ↑

Apabila terapi perlu dihentikan , hentikan seluruh antiretrivirus untuk meminimilkan perkembangan resistensi

Regimen yang gagal = tidak mampu mencapai muatan virus yang tak terdeteksi, ↑ muatan virus, ↓ hitung CD4, atau deteriorasi klinis

Antiretrovirus Obat Zidovudine (AZT) Tipe NRTI Dosis tipikal 200 mg 3x1 Efek samping

Supresi sumsum tulang

(grup 300 mg 2x1 Intoleransi saluran cerna, HA,

A) insomnia, hepatitis

Stavudine (d4T) NRTI 40 mg 3x1 Neuropati perifer

Zerit (grup

A) (40 mg 2x1 jika Pankreatitis, hepatitis (jarang) BB< 60 kg)

Dinadosin (dll) NRTI 200 mg 2x1 Pankreatitis, neuropati perifer Videx Zalcitabine hivid (grup B) (ddC) NRTI (grup (125 mg 2x1 jika BB< 60 kg 0,75 md 3 x 1 intoleransi saluran cerna, hepatitis (jarang)

(23)

B) Lamivudine (3TC) epivir Nevirapine viramune NRTI (grup B) NNRTI 150 mg 2x1 (2 mg 2x1 jika BB< 50 kg 200 mg 2x1 Toksisitas minimal Hepatitis (jarang) Raum, hepatitis Menginduksi sitokrom p450

Delavirdine NNRTI 400 mg 3x1 Ruam, nyeri kepala menghambat

Rescriptor sitokrom P450

Efavirenz NNRTI 600 mg tiap 4 jam Efek,SSP, ruam, hepatitis campuran

Sustiva antara menginduksi/ menghambat

sitokrom p450 Indinavir

Crixivan

PI 800 mg 3x1 (puasa) Netrolitiasis, intoleransi saluran cerna ↑ uji fungsi hati, redistribusi lemak, menghambat sitokrom p450

Ritonavir PI 600 mg 2x1 Intoleransi saluran cerna,

Norvir (dengan makan) parestesia,↑uji fungsi hati, redistribusi lemak menghambat p450

Saquinivir PI 1200 mg 3x1 Intoleransi saluran cerna, nyeri kepala ↑ Fortovase (dengan makan) uji fungsi hati, DM, redistribusi lemak,

menghambat p450

Nelfinavir PI 1250 mg 2x1 Diare,DM, redistribusi lemak,

Viracept (dengan makan) menghambat p450

Amprenavir PI 1200 mg 2x1 Ruam, intoleransi saluran cerna,

agenerase redistribusi lemak, menghambat p450

(NRTI= nucleoside reverse transcriptase inhibitor, NNRTI= non nucleoside, RTI;PI= protease Profiklaksis infeksi oportunistik

IO Indikasi Profilaksis

Tuberculosis PPD (+) (≥ 5mm) atau INH + vitamin B6 selama 12 bulan pajanan berisiko tinggi atau RIF+PZA selama 2 bulan (lakukan pemeriksaan PPD

tiap tahun )

PCP Hitung CD4 < 100/mm3/ atau TMP-SMX SS 4x1 atau dapsone infeksi jamur atau FUO 100 mg 4x1 atau atovaquone 750 mg

2x1 mg 2x1

Toksoplasmosis Hitung CD4 < 100/ mm3/dan TMP-SMX DS 2x1 atau dapsone serologi toksoplasma (+) 100 mg pirimetamin + asam folinat MAC Hitung CD4 <75/mm3 Klaritromisin 500 mg 2x1 atau

azittromisin 1200 mg tiap minggu

KOMPLIKASI HIV/AIDS Hitung CD4 Komplikasi

(24)

<500

<200

<50-100

Gejala konstitusional

Dernitits seboroik berambut di daerah oral, sarkoma kaposi Kandidiasis vagian dan oral rekulen

Infeksi bakteri rekulen

Tuberkulosis paru dan ekstraparu HSV VZV

Pneumonia pneumcystis cariinii(PCP) taksoplasma Cryptococcus, histoplasma, coccidioides

Bartonella

Sitomegalovirus,MAC

Aspergilosis invasif; angiomatosis (bartonela diseminata) Limpoma SSp,PML

Demam

Etiologi: infeksi, limfoma, reaksi obat

Langkah kerja : pemeriksaan darah perifer lengkap, kimia darah, uji fungsi hepar, kultur darah foto toraks, urinalisis, pemeriksaan ulang obat-obatan, CT scan abdomen ? atau limfoma CD4 <200 →AG kriptokokus serum, LP,AG histoplasma pada urine, isolator mikobakterium, sitomegalovirus

Tanda/gejala paru →toraks foto, ABG, sputum untuk kultur bakteri,PCP ,BTA; bronkoskopi

Diare →feses untuk pemeriksaan leukosit feses, kultur, O&P,BTA,endoskopi Uji fungsi hepar abnormal →CT scan abdomen, biopsi hepar

Sitopenia →biopsi sumsum tulang Penyakitt kulit

Dermatitis seboroik; folikulitis eosinofilik; infeksi HSV dan VZV

Moluskum kontagiosum: papula seperti mutiara 2-5 mm dengan pusat cekung Sarkoma kaposi : lesi nodular merah-unggu tidak pucat

Aginomatosis basilaris (bartonella diseminata): papula vaskular yang rapuh Mata

Retinitis SMV (hitung CD4 < 50);terapi =gensiklovir, faskarnet, atau sidofovir Pneumocystis, toksoplasma, Histoplasma

Mulut

Ulkus aptosa

Jamur (kandidiasis oral): bercak kecil seperti dadih yang menunjukkan permukaan yang kasar apabila diangkat

Leukoplakia berambut didaerah lokal: karena EBV ;selaput (lapisan) putih yang melekat pada sisi lateral lidah

Sarkoma kaposi Jatung

Dilatasi kardiomiopati Paru

Pneumonia pneumocystis carinii (CD4 <200)

Gejala konstitusional, demam, keringat malam, dispnu saat beraktivitas barat, bentuk non produktif

(25)

Foto toraks dengan infiltrat, ↓ PaO2,↑ A-a V, ↑ LDH, pewarnaan sputum PCP (+) Rx apabila PaO2 >70: TMP-SMX PO atau [dapsone + TMP] atau [klidamisin + primakuin] atau atovaquone

Rx apabila PaO2 <70: Steroid (N engl J med 323:1444 dan 1451, 1990); TMP-SMX IV atau [klindamisin + primakuin] atau pentamidin atau trimetreksat

Pola radioografi Normal

Infiltrat interstisial difus Konsilidasi atau massa fokal Lesi kavitas

Efusi pleura

Penyebab umum PCP

PCP, TB, pneumonia fungsi diseminata dan viral, sarkoma kaposi

Pneumonia bateri atau jamur, TB, sarkoma kaposi

TB, aspergilosis dan pneumonia fungsi lainnya Pneumonia bakterial (termasuk Nocardia dan Rhodoccoccus)

TB, pneumonia jamur atau bakterial Sarkoma kaposi, limfoma

Gastrointestinal

Esofagitis: kandida, SMV, HSV,HIV, terinduksi pil

Endoskopi bagian atas jika tidak ada jamur tidak berespons terhadap terapi antifungal Enterokolitis

Bakterial (biasanya akut): salmonella, shigella Campylobacter, Yersinia, C.difficile Protozoa (biasanya kronis); giardia, Entamoeba, Cryptospora, Microsporidium, Cyclospora

Virus (SMV, adenovirus), MAC, enetropati AIDS

Peredaran saluran cerna: MAC, Sarkoma Kaposi, limfoma Proktitis : HSV, SMV, Chlamydia, gonokokus

Hepatobiliaris

Hepatitis : HBV, HCV, Sitomegallovirus, MAC, teriduksi obat

Kolangiopati AIDS: sering berhubungan dengan sitomegalovirus atau Cryptosporidium Ginjal

Nefropati AIDS, proteinuria masif, ginjal ekogenik Hematologi

Anemia: pada penyakit kronis, terkenanya sumsum tulang, keracunan obat,hemalosis Leukopenia

Trombositopenia : terkenanya sumsum tulang, ITP ↑globulin

Onkologi

Limfoma non- hohgkin; ↑ frekuensi tanpa menghiraukan hitung CD4 Limfoma SSP: hitung CD4 <50

Sarkoma kaposi: dapat terjadi pada hitung CD4 dalam jumlah beberapa pun; disebabkan karena HHV-8; biasanya terjadi pada laki-laki homoseksual Muskulokutaneus: lesi nodular merah-unggu

(26)

Saluran cerna: perdarahan saluran cerna, obstruksi, ikterus obstruktif

Penanganan: penyakit dibatasi →radiasi, krioterapi, atau vinblastin intralesi, penyakit sistematik→kemoterapi

Endokrin

Hipogonadisme

Fungsi tiroid abnormal Infusiensi adrenal Sindrom wasting Neurologik

Meningitis : cryptococcus, bakteri (termasuk listeria), virus (HSV, SMV, HIV), tuberkulosis, limfomatosa

Neurosifilis: meningitis, palsi saraf kranialis, demensia

Lesi desak ruang: akan muncul nyeri kepala, defisif lokal, atau perubahan status mental Rencana penanganan: MRI, biopsi otak stereotaktik jika dicurigai etiologinya non-

toksoplasma atau pasien gagal berespon terhadap 2 minggu pemberian terapi toksoplasmosis yang empiris

Kompleks Demensia AIDS: kehilangan memori, ganguan cara berjalan, spastisitas Mielopati: infeksi (SMV,HSV), kompresi medula spinalis (abses apidural, limfoma), vakuolar (HIV)

Neuropati perifer: HIV, SMV, demielinisasi, terinduksi obat-obatan

Etiologi Tampilan Pemeriksaan Diagnostik

Tokosoplasmosis Lesi menonjol (dapat Serologi taksoplasma (+) multipel)

Limfoma SSP Lesi menonjol (biasanya PCR CSS untuk EBV (+)

tunggal) SPECT atau PET Scan (+)

PML Lesi tidak menonjol, multipel, PCR,CSS (+) terhadap JC Lain –lain : abses bakterialis, Bervariasi Biopsi

nokardiosis, kritokokoma, atau tuberkuloma

Kompleks mycobacterium avim(MAC)

Manifestasi klinis: retinis, esofagitis, kolitis, hepatitis, neuropati Penatalaksanaan: gensiklovir, foskarnet, atau sidofovir

· PENYAKIT LYME· Mikrobiologi

Infeksi oleh spirochete Borrelia burgdorferi

Ditularkan melalui kutu (Ixodes);pejamu (host) hewan termasuk rusa dan tikus Infeksi biasanya memerlukan perlekatan kutu>36-48 jam

Epidemiologi

Penyakit lyme merupakan penyakit yang disebarkan oleh vektor, yang paling sering dijumpai, namun insidenya hanya berkisar 4 tiap 100.000 populasi

Insiden tertinggi pada bulan – bulan musim panas

(27)

Manusia berkuntak dengan kutu biasanya diladang dengan semak yang pendek dekat daerah pepohonan

Manifestasi klinis Stadium

Stadium 1 = terlokalisasi dini Minggu setelah infeksi

Manifestasi Karena efek lokal dari spoochaeta Umum: penyakit menyerupai flu

Dermatologik(~80%): erythema chonicum migrans (ECM) = menular, lesi eriematosa degan bagian tengah jernih, biasanya dijumpai di paha, ingunalis atau aksila,

ukuranya berkisar 6-38 cm, limfositoma; limfademopat i regional

Stadium 2 = penyebaran awal Akibat spirochetamia dan respons imun

minggu hingga bulan setelah Umum: fatigue, malaise, limfadenopati,HA; demam

infeksi jarang

Dermatologi: lesi anular (1-100) multipel = ECM Reumatologi: (~10%) arthalgia & mialgia migrotaris, oligartritis

Neurologi (~15%): bell‘s palsy (atau neuropati kranialis lainnya), meningitis aseptik, multipel mononeuritis (mungkin nyeri), mielitis transvera jantung (8%) blok jatung, miokarditis

Stadium 3 = menetap lama Karena infeksi kronis atau respon autoimun

bulan hingga tahun setelah Dertamologi: acrodermatitis chronica atrophicans,

terinfeksi panniculitis

Reumatologi (60%) nyeri sandi, mono-/oligoartritis pada sandi-sandi besar sinovitis

Neurologi: ensefalopati subakut, polineuropati, demensia

Pemeriksaan diagnostik

Secara umum, suatu diagnosis klinis Serologi (pada keadaan klinis yang tepat) Skrining dengan ELISA, tetapi

Positif-palsu karena penyakit spirochaeta yang lain,SLE, RA, EBV,HIV, dll

Negatif-palsu karena terapi anti biotik dini penggunaan ELISA, dapat membedakan lgM, lgA, dan lgG

Konpirmasi hasil ELISA (+) bersama dengan Western blot (↑ spesifitasnya)

Pemeriksaan CSS pada pasien dengan kecurigaan penyakit sarafmproduksi antibodi intratekal (+) apabila (CSS lgG/serum lgG)(albumin CSS/albumin serum) >1 Penatalaksanaan

Indikasi: manifestasi klinis dan serologi (+) (? Dan riwayat gigita kutuapabila berada pada daerah non-endemis)

Antibiotik: doksisiklin 100 mg PO 2x1 atau amoksilin 500 mg PO 3x1 selama 3 minggu sefriakson 2 g IV 4x1 selama 2-3 minggu dibutuhkan apabila terdapat: abnormalitas neurologik (selain Bell‘s palsy yang terdiri) blok AV drajat tinggi, artritis kronis, atau kehamilan

(28)

Vaksin: 78% ↓ pada kejadian penyakit lyme; pertibangkan pada pasien di daerah endemik dengan resiko terpanjang; dikontraindikasikan pada pasien dengan RA aktif atau artritis seronegatif

· FEVER OF UNKNOWN ORIGIN (FUO)· Definisi

Lamanya ≥ 3 minggu

Demam > 101oF atau >38,50C pada lebih dari satu insiden

Tidak ada diagnosis walupun telah dilakukan evaluasi salama 1 minggu pada pasien rawat inap secara intensif

Etiologi

Daftar penyebabnya sangat luas, namun berikut ini adalah beberapa penyebab yang lebih sering. Secara umum, akan lebih mungkin suatu manifestasi dari suatu penyakit biasa yang nyaris tidak kentara, daripada penyakit yang tidak lazim

Pada pasien yang diketahui ada keganasan : 50 % akibat infeksi (biasanya selama neutropenia) dan 50% akibat tumor itu sendiri

Pasien dengan HIV : 75 akibat infeksi, jarang karena HIV itu sendiri 5-15% kasus yang tidak terdiagnosis, kebanyakan sirna secara spontan Kategori

Infeksi

Etiologi

Tuberkulosis: penyakit ekstra paru atau diseminata dapat memiliki

gambaran rontgen foto toraks, PPD,BTA sputum yang normal; biopsi (paru, hepar, sumsum tulang) terhadap granuloma hanya menghasilkan 80-90 % pada penyakit miliar

Endokarditis: pertimbangkan organisme: HACEK, Bartonella, Legionella adan Coxiella

Abses intra-abdomen: hepatik, splenik, subfrenikus, pankreatik, perineftik, pelvik, prostatik

Osteomielitis

Sitometegalovirus, EBV, penyakit Lyme, malaria, babesiosis, amebiasia

Neoplasma Limfoma: limfadenopati, hepatosplenomegali, ↓ hematokrit atau trombosit, ↑ LDH

Karsinoma sel renal: hematuria mikroskopik, ↑ hematokrit Karsinoma sel hepar, karsinoma pankres

Miksoma pada atrium: obstuksi, embolisme, gejala konstitusional leukimia,mielodisplasia

Penykit tantung Atritis temporalis (sel Giant): nyeri kepala, nyeri kulit kepala, klaudikasio

penyambung mandibula, gangguan penglihatan, ↑ ESR

Penyakit still onset dewasa (reumatiod artritis juvenilis); demam yang bersifat sementara ruam trunkus malukar yang berwarna salmon selama demam merupakan permulaan artritis

Poliartritis nodosa RA, SLE, sarkoidosis

(29)

Pembagian

Anatomi Visera

Tempat Penjalaran Nyeri

Foregut Esofagus dan duodenum Epigastrium

Midgut Yeyunum hingga pertengahan kolon transversum Umbilikus Hindgut Pertengahan kolon transversum hingga rektum Hipogastrium

(Catatan : Nyeri karena pankreatitis dan nefrolitiasis yang pada umumnya menjalar hingga ke punggung)

Lain-lain Obat-obatan, hematom, tiroid, demam mediterania familial

Langkah kerja

Anamnesis: kontak ifeksius, perjalanan, hewan peliharaan, pekerjaan, obat-obatan, melalui pemeriksaan fisik regional, riwayat pengobatan dan pembedaan sebelumnya, riwayat tuberkulosis

Hentikan obat-obatan yang tidak diperlukan

Pemeriksaan fisik yang cermat dengan perhatian terhadap temuan kulit, limfadenopati, murmur, hepatosplenomegali, artritis

Evaluasi labolatorium

Hitung darah lengkap dengan hitungan jenis, elektrolit, BUN, kreatinin, uji fungsi hepar, LED, ANA, RF kultur darah sebanyak 3 set (stop antibiotik), urinalisis, kultur urine, PPD, antibodi heterofil, sitomegalivirus, uji antigenemia, uji HIV

Pemeriksaan pencitraan: rontgen foto toraks, CT scan abdemen (oral dan kontras IV), USG kuadran atas kanan ?, hitung leukosit yang berlabel atau gallium scan

Biopsi arteri temporalis apabila LED ↑ dan usia > 60 tahun

? biopsi sumsum tulsng atau hepar (terutama apabila AP ↑): bahkan tanpa tanda-tanda atau gejala lokal, hasil mencapai lebih dari 15 %

Penanganan

Antibiotik empiris tidak diindikasikan (kecuali pasien neutropenia)

NYERI ABDOMEN

Nyeri viseral

(30)

Gambar 3-1. etiologi nyeri abdomen berdasarkan lokasi

Gastritis

PUD (peptic ulcers disease) Pancreas Kebocoran AAA Kolelitiasis Kolesistitis Koledokolitiasis Kolangitis Hepatitis Tumor hepar

(Abdominal Aorta Aneurysm) Splenomegali Infark atau abses lien

Rupture lien Apendistis Nefrolitiasis Kehamilan ektopik Diverkulitis Kolitis Nefrolitiasis Torsi ovarium PID

GANGGUAN ESOFAGUS DAN GASTER

DISFAGIA Definisi

Kesulitan pada proses menelan dan melewatkan makanan dari esofagus ke lambung.

Etiologi

Gambar 3-2. Etiologi disfagia

Disfagia

Kesulitan makan yang padat saja

Obstruksi mekanik

Kesulitan makan baik yang cair maupun yang padat

Gangguan motilitas

Intermiten GERD kronik

progresif Progresif Intermiten GERD kronik

progresif

(31)

Pemeriksaan diagnostik

Menelan barium atau esofagogastroduodenoskopi (EGD); ± pemantauan pH esofagus atau manometri.

PENYAKIT REFLEKS GASTROENSOFAGUS (GERD) Patofisiologi

Relaksasi sementara yang berlebihan pada sfingter esofagus bawah (LES, Lower Esophageal Spincter) atau pada beberapa kasus, LES yang inkompeten.

Kerusakan mukosa esofagus karena kontak yang lama dengan asam, pepsin, garam empedu. Hiatus hemia dapat menyebabkan tonus LES dan bertindak sebagai penampung isi lambung yang mengalami refluks.

Manifestasi klinis

Heartburn, ―angina‖ atipikal; regurtasi isi lambung kurang air, disfagia

Batuk (aspirasi nokturnal kronis), asma, suara parau (peradangan plika vokalis).

Pencetus : makan yang banyak, posisi supinasi, makanan berlemak, kafein, teofilin, alkohol, rokok, penyekat kanal kalsium (CCB).

Uji diagnostik

Diagnosis sering berdasarkan pada anamnesis, mencoba mengobati dulu dengan inhibitor pompa proton.

EGD (esophagoduodenoscopy) untuk mendeteksi esofagitis, ulkus, easofagus Barret atau striktur.

Pemantauan pH esofagus ambulatoris selama 24 jam apabila diagnosisnya meragukan.

(32)

Tindakan konservatif : mencegah pencetus, meninggikan kepada saat tidur, hindari keterlambatan makan.

Medikamentosa : antasid, penyekat H, agen prokinetik (seperti : cisapride); penghambat pompa proton (PPI).

Pembedahan : fundoplikasi (sering dengan laparoskopik)

Komplikasi

Esofagus Barret (epitelisasi kolumnar dengan risiko adenokarsinoma), esofagitis, striktur.

GASTROPATI DAN GASTRITIS Gastropati akut

Etiologi : NSAID, alkohol, stres yang berhubungan dengan penyakit mukosa (penyakit kritis).

Manifestasi klinis : asimtomatik, anoreksia, mual dan muntah, nyeri epigastrium, perdarahan saluran cerna atas.

Gastritis antral kronis (―Tipe B‖) Etiologi : Infeksi H. Pylori

Manifestasi klinis : umumnya asimtomatik; tidak ada bukti yang jelas bahwa gastritis H. Pylori menyebabkan dispepsia non-ulkus; dapat berlanjut menjadi gastritis atrofi dengan risiko adenokarsinoma gaster.

Penatalaksanaan : Lihat penanganan H. Pylori

Gastritis kronis pada daerah fundus (―Tipe A‖) Etiologi : Anemia pernisiosa

Patogenesis : auto-antibodi langsung terhadap sel parietalis (sehingga kekurangan asam dan faktor intrinsik).

Manifestasi klinis : gastritis atrofi, aklorhidria, dan hipergastrenemia, anemia permisiosa, tumor karsinoid gaster dan adenokarsinoma.

(33)

PENYAKIT ULKUS PEPTIKUM Etiologi dasar

Infeksi H. Pylori (namun hanya 15-20 % dari pasien yang terinfeksi akan berkembang menjadi suatu ulkus.

NSAID

Gastrinoma dan keadaan hipersekretorius lainnya

Manifestasi klinis

Nyeri abdomen spigastrik, hilang dengan makan (gastrikum).

Perdarahan saluran cerna atas

Pemeriksaan diagnostik Uji untuk H. Pylori

makan (duodenum) atau memburuk dengan

Serologi : (sensitivitas 90 %, spesifisitas 70-80 %, titer 3-6 bulan setelah terapi efektif) urea breath test (UBT, sensitivitas dan spesifitasnya > 95%)

EGD + uji urease cepat (seperti, CLO testTM, > sensitivitas dan spesifisitas 95 %) atau biopsi dan histologi.

EGD atau UGI serial untuk mendeteksi ulkus

Penatalaksanaan

Penghentian NSAID dan rokok

PUD dan H. Pylori (+) : Antibiotik dan PPI selama 7-14 hari memiliki angka keberhasilan > 90 % (Am J Med 105 : 424, 1998) antibiotik (2 dari 3) : klaritromisin 500 mg 2 x 1,

amoksilin 1 g 2 x 1, mtronidazol 500 mg 2 x 1

Dispepsia non-ulkus : percobaan PPI atau cisapride; data yang diperdebatkan tentang manfaat eradikasi H. Pylori (N Engl J Med 339 : 1869 dan 1875, 1998; 341 : 1106, 1999).

(34)

Gambar 3-3. Langkah diagnostik dan penanganan dispepsia

Dispepsia

Darah samar di feses +, anemia, anoreksia atau muntah yang

persisten, penurunan berat badan, usia > 40 tahun

Tidak ada satupun kriteria di atas

Serologi H. Pylori

Ada salah satu dari kriteria di atas

EGD hingga radiologi PUD dan keganasan

Negatif Positif

Cisapride atau PPI Terapi antibiotik Perubahan regimen

Gejala + Tanpa gejala Tanpa gejala Gejala + Positif

(35)

PERDARAHAN GASTROINTESTINAL

Definisi

Hilangnya darah yang bisa dari berbagai tempat di intralumen dari orofaring sampai anus. Klasifikasi : atas = di atas ligamentum Treitz; bawah = di bawah ligamentum Treitz. Tanda : hematemesis = darah yang dimuntahkan atau terdapat pada muntahan (UGIB); hematokezia = buang air besar berdarah (LGIB atau UGIB yang cepat); melena = buang air besar seperti ter, berwarna hitam akibat darah dari saluran cerna (biasanya dari bagian atas saluran cerna, namun dapat di segala tempat di atas sekum).

Etiologi perdarahan saluran cerna atas

Perdarahan orofaringeal dan epistakis darah tertelan Esofagitis erosif

Pejamu yang tanggap imunnya baik : GERD / esofagus Barrett, XRT Pejamu yang tanggap imunnya lemah : CMV, HSV, kandida

Varices (10 %)

Ruptur Mallory-Weiss (7%, robekan di gastroesofagus karena mau muntah / muntah-muntah dengan glotis yang tertutup).

Gastritis / gastropati (23%, NSAID, H. Pylori, alkohol, penyakit mukosa yang berhubungan dengan stres).

Penyakit ulkus peptikum (PUD) (46%) Malformasi vaskular

Lesi Dieulafony (arteri ektatik superfisialis biasanya pada kardia dengan UGIB yang mendadak dan masif) AVM (tersendiri atau bersama sindrom Osler-Weber-Rendu) fistula aorta-enterik (tandur aorta mengikis sepertiga porsio duodenum, muncul dengan ―perdarahan luas‖) vaskulitis.

Penyakit neoplastik (esofagus atau gaster)

Penyebab lahirnya : ulserasi hiatus hernia, koagulapati, amiloidosis, penyakit jaringan penyambung.

(36)

Etiologi perdarahan saluran cerna bawah Penyakit divertikular

Angiodisplasia Penyakit neoplastik

Kolitis : infeksi, iskemik, radiasi, penyakit radang usus (UC > CD) Hemoroid

Manifestasi klinis

UGIB > LGIB : mual, muntah, hematemesis, muntah seperti warna kopi, nyeri epigastrium, reaksi vasovagal, sinkop, melena.

LGIB > IGIB : diare, tenesmus, BRBPR atau kotoran berwarna maron

Langkah penanganan Anamnesis

GIB atau kronis, jumlah serangan, serangan terakhir yang paling sering hematemesis, muntah sebelum hematemesis, hematokezia, melena, nyeri abdomen, diare, penggunaan aspirin, NSAID, atau antikoagulan, atau diketahui menderita koagulopati ketergantungan alkohol, sirosis riwayat pembedahan saluran cerna atau aorta.

Pemeriksaan fisik

Tanda vital : takikardi bila kehilangan cairan 10%; hipotensi ortostatik bila kehilangan cairan 20%; syok bila kehilangan cairan 30%, pucat, telangektasiasis (penyakit hepar alkohol atau sindrom Osleer-Weber-Rendu)

Tanda penyakit hepar kronis : ikterus, spider angiomata, ginekomastia, atrofi testis, eritema palmaris, kaput medusa.

Pemeriksaan abdomen : nyeri tekan dapat terlokalisir atau tanda-tanda di daerah peritoneum. Pemeriksaan rektum : warna kotoran, adanya hemoroid, atau fisura ani

Pemeriksaan laboratorium : Hematokrit (mungkin normal pada awal kehilangan darah akut sebelum seimbang kembali), hitung trombosit, PT, PTT, BUN / kreatinin (rasionya

UGIB karena resorpsi saluran cerna dari darah atau azotemia prerenal), uji fungsi hepar. pada

(37)

Slang Nasogastrik dapat mendiagnosis UGIB, dapat membuang isi saluran cerna (sebelum dilakukan EGD dan untuk mencegah aspirasi), lavase untuk melihat ada tidaknya perdarahan yang menetap (prognosis buruk); negatif palsu pada waktu UGIB apabila perdarahan berasal baik dari duodenum maupun intermiten.

Pemeriksaan diagnostik pada UGIB : esofagogastroduodenoskopi (EGD) (dan terapi yang potensial).

Pemeriksaan diagnostik pada LGIB (periksa UGIB sebelum mencoba untuk melokalisasi LGIB yang diperkirakan)

Perdarahan berhenti secara spontan kolonoskopi (mengidentifikasi penyebab pada > 70% kasus dan potensial untuk tindakan terapi)

Stabil namun perdarahan terus-menerus sken perdarahan (RBC berlabel 99mTc/albumin) : mendeteksi laju perdarahan yang > 0,1-1,0 ml/menit, namun sulit menentukan lokasi yang akurat.

Tidak stabil arteriografi (mendeteksi laju perdarahan yang > 0,5-1,0 ml/menit dan potensial untuk tindakan terapi (infus vasopresin intra arteri atau embolisasi) laparotomi ekspolari.

Penatalaksanaan

Penatalaksanaan akut perdarahan saluran cerna adalah resusitasi hemodinamik dengan cairan IV dan darah

Buatlah akses dengan 2 jalur intravena yang berdiameter besar (18 gauge atau lebih). Resusitasi cairan dengan salin normal atau larutab Ringer laktat

Terapi transfusi (sampel bank darah untuk tipe dan crossmarch; dapat menggunakan golongan darah O negatif jika eksanguinis).

Identifikasi dan perbaiki koagulopati (FFP untuk menormalkan PT, trombosit tetap > 50000/mm3).

Lavase slang nasogastrik

Penatalaksanaan jalan nafas bila diperlukan

Konsultasi dengan ahli bedah digestif bila diperlukan.

(38)

Etiologi Pilihan

Varises Farmakologi

Octreotide 50 gram bolus IV 50 g/jam infus (berhasil 84%, Lancet 342 : 637, 1993)

Vasopresin atau vasopresin + nitrogliserin (kurang manjur dan lebih banyak komplikasi)

Penyekat-β (non-selektif) dan nitrat apabila hemodinamik stabil

Non-Farmakologi

Skleroterapi endoskopi (berhasil 88%) atau band ligation (angka keberhasilan > 90%)

Octreotide + terapi endoskopik (angka keberhasilan > 95% ;

(N Eng J Med 333 : 555, 1995)

Tamponade balon apabila perdarahannya berat Embolisasi atau TIPS apabila terapi endoskopik gagal

(N Engl J Med 333 : 165, 1994)

PUD Farmakologi

Penghambat pompa proton (N Egl J Med 336 : 1054, 1997)

Octreotide 50 gram bolus IV 50 gram/jam infus Non-Farmakologi

Demografik : Usia > 60 tahun, komorbiditas Beratnya : darah merah segar pada aspirat NGT, stabil.

Etiologi : varises atau neoplastik

permintaan transfusi, hemodinamik tak

Munculnya ulkus (dari prognosis yang terbaik hingga terburuk) : dasarnya bersih keluar darah tanpa pembuluh yang terlihat bekuan yang melekat erat perdarahan aktif.

(39)

Terapi endoskopi (injeksi, kontak termal, laser) Angiografi mesenterika dengan infus vasopresin atau embolisasi

Reseksi gastrik apabila endoskopi dan terapi farmakologi gagal

Mallory-Weiss Biasanya berhenti secara spontan

Gastritis esofagus Penghambat pompa proton, antagonis H2 Penyakit

divertikuler

Biasanya berhenti secara spontan

Terapi endoskopi (injeksi epinefrin), vasopresin arterial atau embolisasi, pembedahan

(40)

DIARE

Keluarnya feses > 200 gram / hari ETIOLOGI

Infeksi Akut

Toksin yang belum terbentuk (seperti : ―keracunan makanan‖; berlangsung < 24 jam) : S. Aureus, C. Perfrigens, B. Cereus

Virus : Rotavirus, Norwalk Bakteri non-invasif

Menghasilkan enterotoksin (tidak ada darah atau leukosit di feses) : E. Col enterotoksigenik Vibrio cholera : menghasilkan sitotoksin (ada darah dan leukosit di feses) : E. Coli O157 : H7, C. Difficile.

Bakteri invasif (leukosit di feses dan darah (+)) : E. Coli enteroinvasif (EIEC, Salmonella, Shigella, Campylobacter, Yersinia, V. Parahemolyticus

Parasit : Giardia, E. Histolytica

Oportunistik : Crystosporidia, Isopora, Microsporidia, Cyclospora, MAC, CMV. Kronis : Giardia, E. Histolytica, C. Difficile, organisme oportunistik.

Malabsorpsi ( kesenjangan osmotik, larut-lemak)

Defisiensi garam empedu

lemak feses, diare dengan puasa, defisiensi vitamin

Pertumbuhan bakteri berlebihan (e.g., blind loop) ileum (seperti penyakit Crohn, reseksi pembedahan) Insufisiensi pankreas

Kelainan mukosa

dekonjugasi garam empedu penyakit terhentinya sirkulasi enterohepatik.

Gambar

Foto rentgen polos: normal pada awal penyakit, lesi litik terlihat setelah 2-6  minggu
Gambar 6-1. nomogram untuk perkiraan probabilitas meningitis bakterial (ABM) vs.
Gambar 6.2. Patogenesis Penyakit TB
Foto toraks abnormal atau HIV +  Kasus kontak yang resisten INH
+7

Referensi

Dokumen terkait